You are on page 1of 7

ANALISIS EFEKTIVITAS PENGAWET

Nurul Aenung1 dan Mutmainnah siradjuddin2


1
Mahasiswa Fakultas Farmasi, UMI.
2
Asisten Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Farmasi, UMI
Email: nurulaenung98@gmail.com

INTISARI
Dalam kehidupan sehari – hari manusia tidak pernah lepas dari kontaminasi
mikroorganisme bahkan pada bahan pangan sekalipun. Oleh karena itu, dibuatlah
bahan pengawet baik dari bahan alami maupun sintetik. Pengawet
mikroorganisme adalah zat yang ditambahkan ke dalam suatu sediaan obat,
sediaan makanan atau sediaan kosmetik yang berguna untuk mencegah
terkontaminasinya sediaan dengan mikroorganisme. Hal ini dilakukan karena
cemaran mikroorganisme dapat merusak sediaan dan ketika dikonsumsi oleh
manusia bisa saja menyebabkan suatu penyakit. Namun, dalam hal ini pengawet
tersebut sudahkah aman digunakan untuk suatu produk atau produk yang telah
ditambahkan dengan bahan pengawet sudah aman dikonsumsi oleh manusia.
Untuk itu dilakukan pengujian untuk menentukan efektivitas pengawet terhadap
pertumbuhan mikroorganisme. Pada percobaan ini dilakukan metode
eksperimental dengan melihat dari efektivitias pengawet yang dilakukan. Dari
hasil percobaan diperoleh pada hari ke 7 tidak terdapat bakteri ataupun jamur
yang tumbuh pada medium NA dan PDA, pada hari ke 14 sampai hari ke 28 tidak
tumbuh bakteri ataupun jamur pada medium. Jadi dapat disimpulkan bahwa metil
paraben efektif menghambat pertumbuhan bakteri Eschericia coli dan pada
medium PDA tidak terdapat mikroorganisme pada cawan petri. Hal ini
membuktikan bahwa metil paraben efektif untuk mengurangi atau menghambat
jamur Candida albicans.

Kata Kunci : Pengawet, metil paraben, sediaan, NA/PDA


PENDAHULUAN
Bahan pangan atau makanan disebut rusak atau tidak layak dimakan jika
sifat-sifat bahan pangan atau makanan tersebut telah berubah. Kerusakan pangan
dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain adanya pertumbuhan dan
aktivitas mikroorganisme, kerusakan karena serangga atau binatang pengerat,
adanya aktivitas enzim dan non enzim dalam bahan makanan, dan adanya
kerusakan fisik, misalnya karena proses pembekuan, pengeringan, pemanasan,
dan tekanan5.
Mikroorganisme berbahaya yang terdapat dalam makanan kadang-
kadang dapat dideteksi jika pertumbuhan mikroorganisme tersebut menyebabkan
pertumbuhan mikroorganisme tersebut menyebabkan perubahan tertentu pada
makanan, misalnya menimbulkan bau asam, bau busuk, dan lain-lain. Akan tetapi,
tidak semua mikroorganisme menimbulkan perubahan yang mudah diketahui
sehingga sering menimbulkan masalah jika kita mengkonsumsi makanan5.
Pada prinsipnya, upaya pengawetan bahan makanan didasarkan pada 5 :
(a) pencegahan atau penghilangan kontaminasi mikroorganisme.
(b) penghambat pertumbuhan dan metabolisme organism.
(c) pembunuhan mikroorganisme kontaminan.
Pemilihan metode pengawetan makanan harus memperhatikan jenis
spora bakteri yang tahan terhadap pemanasan yang kemungkinan terdapat dalam
bahan makanan tersebut5.
Untuk menghindari dan mengurangi kemungkinan pencemaran suatu
produk oleh mikroorganisme, dilakukan proses pengawetan produk. Secara garis
besar tehnik pengawetan dapat dibagi dalam tiga golongan yaitu pengawetan
secara alami, pengawetan secara biologis dan pengawetan secara kimia.Syarat zat
pengawet adalah mampu membunuh kontaminan mikroorganisme, tidak toksik
atau menyebabkan iritasi pada pengguna, stabil dan aktif, serta selektif dan tidak
bereaksi dengan bahan4.
Pengawetan dalam bidang farmasi bertujuan untuk mencegah
pertumbuhan mikroorganisme. Pengawet antimikroorganisme adalah zat yang
ditambahkan pada sediaan obat untuk melindungi sediaan tersebut terhadap
kontaminasi mikroorganisme. Bahaya dari pencemaran mikroorganisme baik
bakteri, jamur atau khamir terdapat dimana – mana selama pembuatan,
pengemasan, penyimpanan, dan penggunaan obat, dimana manusia, lingkungan
(ruangan, udara), bahan obat dan bahan pembantu, alat – alat kerja seperti mesin –
mesin dan bahan pengemas primer merupakan sumber kontaminasi utama3.
Pengawet yang digunakan secara farmasetik dapat dibagi menjadi 5
kelompok, yaitu : (1) Fenol dan turunanya, (2) alcohol alifatik dan aromatic, (3)
Senyawa air raksa organic, (4) senyawa ammonium kuarterner dan (5) asam
karbonat3.
Hanya beberapa macam zat kimia secara hukum diterima untuk
digunakan dalam pengawetan makanan. Diantaranya yang paling efektif ialah
asam benzoat, sorbat, asetat, laktat dan propionat, kesemuanya ini adalah asam
organik. Asam sorbat dan propionat digunakan untuk menghambat pertumbuhan
kapang pada roti. Nitrat dan nitrit, yang dipergunakan untuk mengawetkan daging
(terutama untuk mengawetkan warna) bersifat menghambat pertumbuhan
beberapa bakteri anaerobik, terutama Clostridium botulinum. Kemungkinan nitrit
bersifat karsinogenik ( mengakibatkan penyakit kanker) bagi manusia
menimbulkan keragu-raguan mengenai kelangsungan penggunaanya2.
Setiap zat antimikroba dapat bersifat pengawet, meskipun demikian
semua zat antimikroba adalah zat yang beracun. Untuk melindungi konsumen
secara maksimum, pada penggunaan harus di usahakan agar pada kemasan akhir
kadar pengawet yang masih efektif lebih rendah dari kadar yang dapat
menimbulkan keracuna pada manusia1.
Untuk itu, pada percobaan kali ini akan dilakukan uji efektivitas
pengawet untuk menentukan efektivitas pengawet terhadap mikroorganisme.

METODE PRAKTIKUM
Jenis Praktikum
Jenis praktikum pada percobaan ini adalah eksperimental dimana pada
praktikum ini dengan melihat jumlah mikroorganisme yang tumbuh pada
pengawet.
Bahan dan Alat Praktikum
Adapun bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu, kapas,
medium NA (Nutrient Agar) , medium PDA (Potato Dextrosa Agar), suspensi
bakteri EC (Eschericia coli), suspense jamur CA (Candida albicans. Adapun alat
yang digunakan yaitu autoklaf, cawan petri, enkas, kapas, lampu spiritus, ose
bulat, dan vial.
Sampel Praktikum
Pada praktikum ini menggunakan pengawet metil paraben.
Variabel Praktikum
Pada praktikum ini digunakan metil paraben dengan melihat jumlah tiap
mikroba uji pada cawan petri
Cara Kerja
Masukkan sampel pengawet 1 mL kedalam vial dengan konsentrasi 0,05 %
kemudian ditambahkan medium NA dan medium PDA sebanyak 9,9 mL dan
disuspensikan bakteri dan jamur pada medium yang sesuai lalu dihomogenkan.
Setelah itu tuang kedalam masing-masing cawan petri kemudian diinkubasi
selama 1 x 24 jam pada suhu 37º diinkubator untuk bakteri dan selama 3 x 24 jam
. Dilakukan pengamatan terhadap jumlah koloni pada hari ke-1, 14, dan 28.
Analisis Hasil
Pada percobaan ini parameter yang dianalisis yaitu apakah ada cemaran
mikroorganisme yang tumbuh pada cawan petri.
Hasil Praktikum

Gambar 1. Hasil analisis efektivitas pengawet pada hari ke-14


(a) EC (Eschericia coli), (b) CA (Candida albicans.).
Gambar 2. Hasil analisis efektivitas pengawet pada hari ke-28
(b) EC (Eschericia coli), (b) CA (Candida albicans ).
Tabel 1. Pengamatan efektivitas pengawet
NO Sampel Hari ke – 0 Hari ke- 14 Hari ke-28
Bakteri fungi bakteri Fungi bakteri Fungi
1 NA / SA - - -
2 PDA / AC - - -

PEMBAHASAN

Pengawet antimikroorganisme adalah zat yang ditambahkan pada sediaan


untuk melindungi sediaan tersebut terhadap kontaminasi mikroorganisme.
Bahan pangan atau makanan disebut rusak atau tidak layak dimakan jika
sifat-sifat bahan pangan atau makanan tersebut telah berubah. Kerusakan pangan
dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain adanya pertumbuhan dan
aktivitas mikroorganisme, kerusakan karena serangga atau binatang pengerat,
adanya aktivitas enzim dan non enzim dalam bahan makanan, dan adanya
kerusakan fisik, misalnya karena proses pembekuan, pengeringan, pemanasan,
dan tekanan.
Untuk itu pada percobaan ini dilakukan pengujian untuk menentukan
efektivitas pengawet terhadap pertumbuhan mikrootganisme.
Mekanisme kerja bahan pengawet untuk merusak mikroorganisme adalah
terhadap toksisitas primernya artinya diarahkan kembali pada kerja racun sel,
yang mengembangkan pada dinding sel atau bagian-bagian sel lainnya.
Alasan penggunaan konsetrasi yang berbeda pada bahan pengawet yakni untuk
membandingkan jumlah atau banyaknya koloni bakteri yang muncul pada
pengamatan selama 28 hari tersebut. Dimana juga bergantung pada jenis
pengawet yang digunakan.
Pengamatan dilakukan selama sekali dalam seminggu, sebab batas waktu
pertumbuhan mikroorganisme atau bakteri koloni membutuhkan waktu yang agak
lama untuk terus menerus berkembang dalam suatu habitatnya. Sehingga
penampakan bakteri koloni yang nantinya akan diamati jumlahnya bisa mencapai
batas yang tak terhingga (∞).
Adapun hasil yang diperoleh pada praktikum dengan menggunakan
medium NA dan PDA serta suspensi bakteri e coli dan suspensi jamur candida
albicans dan bahan pengawet metil paraben. Diperoleh pada hari ke 7 medium
NA tidak terdapat bakteri dan medium PDA tidak ditumbuhi jamur. Pada hari ke
14 medium NA tidak tumbuh bakteri dan medium PDA tidak ditumbuhi jamur.
Sedangkan pada hari ke 28 medium NA tetap tidak terdapat bakteri yang tumbuh
dan begitupun pada medium PDA tidak terdapat jamur yang tumbuh pada capet.
Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa pengawet metil paraben efektif
digunakan sebagai pengawet sedangkan berdasarkan literatur dari Farmakope
Indonesia edisi IV suatu pengawet dikatakan berdaya saing guna bila daya hidup
mikroba setelah hari ke 14 tidak lebih dari 0,1 % dari jumlah mikroba awal
suspensi atau jumlah kematiannya 99,9 %.
KESIMPULAN
Adapun hasil yang diperoleh dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa
pengawet metil paraben efektif digunakan sebagai pengawet.
SARAN
Sebaiknya praktik lebih berhati – hati saat praktikum agar diperoleh hasil
yang lebih akurat.
DAFTAR PUSTAKA
Ditjen POM, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Depkes RI: Jakarta.
Koes, Irianto, 2006 , Mikrobiologi Menguak Dunia Mikroorganisme, Yrama
Widya: Bandung.
Natsir, Djide, 2008 , Analisis Mikrobiologi Farmasi, Universitas Hassanuddin :
Makassar.
Pratiwi, Sylvia T, 2008, Mikrobiologi Farmasi, Erlangga : Jakarta.
Radji, Maksum, 2011, Buku Ajar Mikrobiologi, Penerbit Buku Kedokteran EGC :
Jakarta