You are on page 1of 2

ANAFILAKSIS

A. Definisi Anafilaksis

Anafilaksis merupakan reaksi alergi yang berat dan bisa mengancam nyawa dan
harus selalu ditangani sebagai hal darurat medis. Anafilaksis terjadi setelah orang
terpapar dengan alergen (biasanya makanan, serangga atau obat) yang dapat
menimbulkan alergi padanya. Tidak semua orang yang terkena alergi menghadapi bahaya
anafilaksis. www.allergy.org.au

B. Penyebab Terjadinya Anafilaksis


a. Anafilaktik (melalui IgE)
1. Antibiotik (penisilin, sefalosporin)
2. Ekstrak alergen (bisa tawon, polen)
3. Obat (glukorkotikoid, thiopental, suksinilkolin)
4. Enzim (kemopapain, tripsin)
5. Serum heterolog (antitoksin tetanus, globulin antilimfosit)
6. Protein manusia (insulin, vasopresin, serum)
b. Anafilaktoid (tidak melalui IgE)
1. Zat pelepas histamin secara langsung :
a. Obat (opiat, vankomisin, kurare)
b. Cairan hipertonik (media radiokontras, manitol)
c. Obat lain (dekstran, fluoresens)
2. Aktivasi komplemen
a. Protein manusia (imunoglobulin, dan produk darah lainnya)
b. Bahan dialisis
3. Modulasi metabolisme asam arakidonat
a. Asam asetilsalisilat
b. Antiinflamasi nonsteroid

http://het-fkunand.org/wp-content/uploads/2017/12/Penatalaksanaan-Syok-Anafilaktik-
plus-watermark.pdf

C. Gejala Anafilaksis
1) Pernapasan sulit atau berbunyi
2) Lidah membengkak
3) Tenggorokan membengkak atau menyempit
4) Sulit berbicara atau suara serak
5) Mengi atau batuk terus
6) Pening terus atau pingsan
7) Pucat dan lunglai (pada anak kecil)
Dalam beberapa kasus, anafilaksis diawali dengan gejala alergi yang kurang
berbahaya, seperti:

1. Pembengkakan wajah, bibir dan mata


2. Ruam atau bilur
3. Sakit perut, muntah (inilah pertanda anafilaksis untuk alergi serangga)

Ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi beratnya reaksi alergi, termasuk
olahraga, panas, miras dan bagi yang terkena alergi makanan, banyaknya yang dimakan
maupun cara dipersiapkan. www.allergy.org.au

D. Pencegahan
Yang terpenting setelah mengalami reaksi anafilatik yaitu mencoba untuk
mengetahui penyebab reaksi tersebut. Untuk hal ini diperlukan evaluasi yang memadai
termasuk evaluasi alergik.
Setelah penyebabnya jelas pasien diminta untuk menghindari penyebab tersebut.
Tetapi kadang – kadang hal ini tidak mungkin seperti pada sengatan tawon. Begitu pula
bila penyebabanya belum jelas. Dalam keadaan demikian pasien harus dibekali suntika
adrenalin, anti-histamin oral dan turniket. Kit atau peralatan harus dibawa kemana saja,
terutama bila pasien berpergian.
Pemakaian tanda pengenal yang ada kaitannya dengan cara menanggulangi reaksi
anafilatik sangat dianjurkan. Begitu pula keluarga atau orang yang dekat dengan pasien
sebaiknya mengetahui pa yang harus diperbuat bila reaksi tersebut terjadi sementara yang
lain mencari pertolongan dokter.
Pada reaksi anafilaktik berat yang disebabkan tawon, saat ini telah dikembangkan
allergen dari racun tawon tersebut untuk terapi hiposensitisasi. Hasil terapi hiposensitisasi
dengan racun tawon ini sangat memuaskan. Soeparman,1990, Ilmu Penyakit Dalam Jilid
II, Balai Penerbit FKUI, Jakarta