You are on page 1of 37

REFERAT

OPTIMALISASI BUKU KIA UNTUK OPTIMALISASI TUMBUH KEMBANG


ANAK

Sofyan Hardi

G4A016062

Pembimbing:

dr. Agus Fitrianto, Sp.A

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK


RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
PURWOKERTO

2017
LEMBAR PENGESAHAN

REFERAT
OPTIMALISASI BUKU KIA UNTUK OPTIMALISASI TUMBUH KEMBANG
ANAK

Diajukan untuk memenuhi syarat mengikuti ujian Kepaniteraan Klinik


di bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

Disusun oleh:
Sofyan Hardi
G4A016062

Telah disetujui dan dipresentasikan


Pada tanggal: Oktober 2017

Mengetahui,
Dosen Pembimbing,

dr. Agus Fitrianto, Sp.A

2
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan
nikmat dan karuniaNya, sehingga dapat menyelesaikan tugas referat ini. Referat yang
berjudul “Optimalisasi buku KIA untuk optimalisasi tumbuh kembang anak” ini
merupakan salah satu syarat ujian kepanitraan klinik dokter muda SMF Ilmu
Kesehatan Anak RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada dr. Agus Fitrianto, Sp.A
sebagai pembimbing atas bimbingan, saran, dan kritik yang membangun dalam
penyusunan tugas referat ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan referat ini masih belum
sempurna serta banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu, penulis tetap
mengharapkan saran dan kritik membangun dari pembimbing serta seluruh pihak.

Purwokerto, Oktober 2017

Penulis

3
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kurangnya pengetahuan ibu tentang penggunaan buku Kesehatan Ibu
dan anak (KIA) yakni masih dianggap hanya sebagai buku pencatatan
kesehatan bagi petugas kesehatan menjadi kendala dalam pembentukan
perilaku kesehatan ibu hamil tentang pentingya melakukan periksa kehamilan
secara rutin, memahami tanda bahaya kehamilan secara dini, pentingnya
minum tablet Fe secara teratur, serta perawatan kesehatan sehari–hari1.
Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) merupakan alat komunikasi dan
media informasi yang penting bagi tenaga kesehatan, ibu hamil, keluarga dan
masyarakat, yang berfungsi sebagai alat untuk mengetahui status kesehatan
ibu hamil, dokumentasi, deteksi dini adanya resiko, konseling, serta untuk
memantau tumbuh kembang balita. Peningkatan implementasi buku KIA
didukung oleh pemerintah pusat sebagai salah satu program untuk
meningkatkan kesehatan Ibu dan Anak, menuntun petugas kesehatan
memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak sesuai standart, melakukan
dokumentasi secara baik dan benar, serta merupakan satu satunya bukti yang
dipegang ibu sebagai dokumentasi status kesehatanya selama hamil, bersalin,
nifas, imunisasi dan tumbuh kembang balita, sehingga mempermudah ibu dan
keluarga serta petugas kesehatan mengetahui riwayat kesehatan ibu dan anak2.
Anak memiliki suatu ciri yang khas yaitu selalu tumbuh dan
berkembang sejak konsepsi sampai berakhirnya masa remaja. Hal ini yang
membedakan anak dengan dewasa. Anak bukan dewasa kecil. Anak
menunjukkan ciri-ciri pertumbuhan dan perkembangan yang sesuai dengan
usianya3. Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita.
Karena pada masa ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan
menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada masa ini perkembangan
kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial, kesadaran emosional dan
inteligensia berjalan sangat cepat. Perkembangan psiko-sosial sangat

4
dipengaruhi lingkungan dan interaksi antara anak dengan orang tuanya.
Perkembangan anak akan optimal bila interaksi sosial diusahakan sesuai
dengan kebutuhan anak pada berbagai tahap perkembangan.
Buku KIA digunakan sebagai media promosi kesehatan dan
dokumentasi tumbuh kembang anak. Hasil Penelitian Sistiarani (2014), ada
hubungan yang signifikan antara kelengkapan buku KIA dengan pengetahuan
ibu5. Hasil penelitian Yanagisawa (2014), menyatakan bahwa konsisten dalam
penggunaan dan penyebaran serta promosi buku KIA sebagaimana fungsi dan
kelebihanya dapat meningkatkan pengetahuan, perilaku ibu hamil serta
meningkatkan persalinan normal dan aman serta meningkatkan kesehatan
anak di Cambodia6.

5
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Tumbuh Kembang


Tumbuh kembang adalah proses kontinyu sejak konsepsi hingga dewasa, yang
dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan. Sejak lahir perkembangan anak
berkaitan dengan keadaan fisik dan kesehatannya. Perkembangan kemampuan,
terutama motorik sangatlah pesat. Perbedaan sangat terlihat walaupun 2-3 bulan saja.
Cir-ciri pertumbuhan dan perkembangan antara lain sebagai berikut7:
1. Pertumbuhan
a. Perubahan ukuran
Perubahan ini terlihat secara jelas pada pertumbuhan fisik yang
dengan bertambahnya umur anak terjadi pula penambahan berat badan,
tinggi badan, lingkar kepala, dan lain-lain.
b. Perubahan proporsi
Tubuh memperlihatkan perubahan proporsi selain bertambahnya
ukuran badan. Tubuh anak memperlihatkan perbedaan proporsi bila
dibandingkan tubuh orang dewasa. Pada bayi baru lahir titik pusat terdapat
pada umbilikus sedangkan pada orang dewasa titik pusat tubuh setinggi
simfisis pubis.
c. Hilangnya ciri-ciri lama
Selama proses pertumbuhan terdapat hal-hal yang terjadi secara
perlahan sseperti menghilangnya kelenjar timus, lepasnya gigi susu, dan
hilangnya refleks primitif.
d. Timbulnya ciri ciri baru
Timbulnya ciri baru akibat pematangan fungsi organ. Perubahan fisik
yang penting selama pertumbuhan adalah munculnya gigi tetap dan
munculnya tanda-tanda seks sekunder seperti tumbuhnya rambut pubis dan
aksila, tumbuhnya buah dada pada wanita, dan lain-lain.

6
2. Perkembangan
a. Perkembangan melibatkan perubahan
Perkembangan terjadi bersama pertumbuhan disertai dengan
perubahan fungsi. Perubahan-perubahan ini meliputi perubahan ukuran
tubuh secara umum, perubahan proporsi tubuh, dan timbulnya ciri baru
akibat pematangan tubuh.
b. Perkembangan awal menentukan pertumbuhan selanjutnya
Seseorang tidak akan melewati satu tahap perkembangan sebelum ia
melewati tahap sebelumnya. Perkembangan awal pada anak merupakan
masa kritis yang akan menentukan perkembangan selanjutnya.
c. Perkembangan mempunyai pola yang tetap
1) Perkembangan terjadi lebih dahulu pada daerah kepala baru menuju
kaudal. Pola ini disebut pola sefalokaudal.
2) Perkembangan terjadi lebih dulu di daerah proksimal baru kemudian ke
distal seperti jari-jari yang mempunyai kemampuan dalam gerakan
halus. Pola ini disebut dengan proksimodistal.
d. Perkembangan memiliki tahap yang berurutan
Tahap ini dilalui seorang anak mengikuti pola yang teratur dan
berurutan. Tahap tersebut tidak bisa menjadi terbalik misal anak terlebih
dahulu mampu membuat lingkaran sebelum gambar kotak, berdiri sebelum
berjalan, dan lain-lain.
e. Perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda
Perkembangan berlangsung dengan kecepatan yang berbeda. Kaki
dan tangan berkembang pesat pada saat remaja, sedangkan bagian tubuh
yang lain mungkin berkembang pesat pada masa lainnya.
f. Perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan
Saat pertumbuhan berlangsung dengan cepat, perkembangan pun
mengikuti hal tersebut. Perkembangan pada tingkat mental, daya ingat, daya
menalar sesuatu, asosiasi, dan lain-lain juga terjadi secara cepat.

7
Tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan antara lain7:
1. Masa prenatal atau masa intrauterin
a. Masa Embrio
Masa embrio terjadi sejak konsepsi sampai umur kehamilan 8
minggu.
b. Masa fetus
Masa fetus berlangsung sejak minggu ke 9 kehamilan hingga bayi
lahir.
1) Masa fetus dini, sejak usia 9 minggu sampai dengan trimester kedua
kehidupan intrauterin. Masa ini terjadi percepatan pertumbuhan dan
organogenesis.
2) Masa fetus lanjut, pada trimester akhir pertumbuhan berlangsung pesat
dan adanya perkembangan fungsi organ-organ. Pada masa ini terjadi
transfer imunoglobilin-G (IgG) dari ibu ke plasenta janin.
2. Masa postnatal
a. Masa neonatal (0-28) hari
Terjadi adaptasi terhadap lingkungan dan terjadi perubahan sirkulasi
darah, serta mulainya fungsi-fungsi organ tubuh lainnya.
b. Masa bayi
1) Masa bayi dini (1-12 bulan)
2) Masa bayi akhir (1-2 tahun)
c. Masa pra sekolah (2-6 tahun)
d. Masa sekolah atau masa pubertas ( wanita: 6-10 tahun, laki-laki: 8-12 tahun)
e. Masa remaja (Wanita: 10-18 tahun, laki-laki: 12-20 tahun)

B. Posyandu
1. Pengertian Posyandu
Posyandu adalah pusat kegiatan masyarakat dimana masyarakat dapat
sekaligus memperoleh pelayanan Keluarga Berencana (KB) dan kesehatan antara
lain: gizi, imunisasi, Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan penanggulangan diare.

8
Definisi lain Posyandu adalah salah satu bentuk Upaya Kesehatan
Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari,
oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan
kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan
kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk
mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi8.
2. Tujuan Posyandu
Tujuan penyelenggaraan posyandu adalah untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan bayi, balita, ibu dan pasangan usia subur. Posyandu
direncanakan dan dikembangkan oleh kader bersama Kepala Desa dan Lembaga
Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) serta penyelenggaraannya dilakukan oleh
kader yang terlatih dibidang KB-Kes, berasal dari PKK, tokoh masyarakat,
pemuda dengan bimbingan tim pembina LKMD tingkat kecamatan. Kader adalah
anggota masyarakat yang dipilih dari dan oleh masyarakat setempat yang
disetujui oleh LKMD dengan syarat; mau dan mampu bekerja secara sukarela,
dapat membaca dan menulis huruf latin dan mempunyai cukup waktu untuk
bekerja bagi masyarakat8.
Posyandu dapat melayani semua anggota masyarakat, terutama ibu hamil,
ibu menyusui, bayi dan anak balita serta Pasangan Usia Subur (PUS). Biasanya
dilaksanakan satu kali sebulan ditempat yang mudah didatangi oleh masyarakat
dan ditentukan masyarakat sendiri8.
3. Kegiatan Posyadu
Kegiatan Posyandu terdiri dari kegiatan utama dan kegiatan pengembangan atau
pilihan, yaitu8,9:
a. Kegiatan utama8,9
1) Kesehatan Ibu dan Anak
a) Ibu hamil
b) Ibu nifas dan menyusui
c) Bayi dan anak balita

9
2) Keluarga Berencana
Pelayanan KB di Posyandu yang diselenggarakan oleh kader adalah
pemberian pil dan kondom. Bila ada petugas keehatan maka dapat
dilayani KB suntik dan konseling KB.
3) Imunisasi
Pelayanan imunisasi di Posyandu hanya dilaksanakan bila ada petugas
kesehatan Puskesmas. Jenis pelayanan imunisasi yang diberikan yang
sesuai program, baik untuk bayi, balita maupun untuk ibu hamil, yaitu :
BCG, DPT, hepatitis B, campak, polio, dan tetanus toxoid.
4) Gizi
Pelayanan gizi di Posyandu dilakukan oleh kader. Bentuk pelayanannya
meliputi penimbangan berat badan, deteksi dini gangguan pertumbuhan,
penyuluhan gizi, pemberian PMT, pemberian vitamin A dan pemberian
sirup besi (Fe). Untuk ibu hamil dan ibu nifas diberikan tablet besi dan
yodium untuk daerah endemis gondok.
5) Pencegahan dan Penanggulangan Diare
Pelayanan diare di Posyandu dilakukan antara lain dengan penyuluhan
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Penanggulangan diare antara
lain dengan cara penyuluhan tentang diare dan pemberian oralit atau
larutan gula garam.
b. Kegiatan pengembagan8,9
Dalam keadaan tertentu Posyandu dapat menambah kegiatan baru,
misalnya: perbaikan kesehatan lingkungan, pemberantasan penyakit menular
dan berbagai program pembangunan masyarakat desa lainnya. Posyandu
demikian disebut dengan Posyandu Plus. Penambahan kegiatan baru tersebut
dapat dilakukan bila cakupan kegiatan utamanya di atas 50%, serta
tersedianya sumberdaya yang mendukung.

10
Kegiatan bulanan di Posyandu mengikuti pola keterpaduan KB-
Kesehatan dengan sistem lima meja :
1) Kegiatan Di MEJA 1
a) Pendaftaran Balita
i. Balita didaftar dalam formulir pencatatan balita
ii. Bila anak sudah memiliki KMS, berarti bulan lalu anak sudah
ditimbang. Minta KMSnya, namanya dicatat pada secarik
kertas. Kertas ini diselipkan di KMS, kemudian ibu balita
diminta membawa anaknya menuju tempat penimbangan.
iii. Bila anak belum punya KMS, berarti baru bulan ini ikut
penimbangan atau KMS lamanya hilang. Ambil KMS baru,
kolomnya diisi secara lengkap, nama anak dicatat pada
secarik kertas. Secarik kertas ini diselipkan di KMS,
kemudian ibu balita diminta membawa anaknya ke tempat
penimbangan.
b) Pendaftaran ibu hamil
i. Ibu hamil didaftar dalam formulir catatan untuk ibu hamil.
ii. Ibu hamil yang tidak membawa balita diminta langsung
menuju ke meja 4 untuk mendapat pelayanan gizi oleh kader
serta pelayanan oleh petugas kesehatan di meja 5.
iii. Ibu yang belum menjadi peserta KB dicatat namanya pada
secarik kertas, dan ibu menyerahkan kertas itu langsung
kepada petugas kesehatan di meja 5.
2) Kegiatan di MEJA 2
a) Penimbangan anak dan balita, hasil penimbangan berat anak dicatat
pada secarik kertas yang terselip di KMS. Selipkan kertas ini
kembali ke dalam KMS.
b) Selesai ditimbang, ibu dan anaknya dipersilakan menu meja 3, meja
pencatatan.

11
3) Kegiatan di MEJA 3
a) Buka KMS balita yang bersangkutan.
b) Pindahkan hasil penimbangan anak dari secarik kertas ke KMSnya.
c) Pada penimbangan pertama, isilah semua kolom yang tersedia pada
KMS.
d) Bila ada Kartu Kelahiran, catatlah bulan lahir anak dari kartu
tersebut.
e) Bila tidak ada Kartu Kelahiran tetapi ibu ingat, catatlah bulan lahir
anak sesuai ingatan ibunya.
f) Bila ibu tidak ingat dan hanya tahu umur anaknya yang sekarang,
perkirakan bulan lahir anak dan catat.
4) Kegiatan di MEJA 4
a) Penyuluhan untuk semua orang tua balita. Mintalah KMS anak,
perhatikan umur dan hasil penimbangan pada bulan ini. Kemudian
ibu balita diberi penyuluhan.
b) Penyuluhan untuk semua ibu hamil. Anjurkan juga agar ibu
memeriksakan kehamilannya sebanyak minimal 5 kali selama
kehamilan pada petugas kesehatan atau bidan
c) Penyuluhan untuk semua ibu menyusui mengenai pentingnya ASI,
kapsul iodium/garam iodium dan vitamin A.
5) Kegiatan di MEJA 5
Kegiatan di meja 5 adalah kegiatan pelayanan kesehatan dan
pelayanan KB, imunisasi serta pemberian oralit. Kegiatan ini dipimpin
dan dilaksanakan oleh petugas kesehatan dari Puskesmas.

C. Buku Kesehatan Ibu dan Anak


Buku KIA merupakan alat untuk mendeteksi secara dini adanya gangguan
atau masalah kesehatan ibu dan anak serta sebagai alat komunikasi dan penyuluhan
bagi ibu, keluarga dan masyarakat mengenai pelayanan, kesehatan ibu dan anak

12
termasuk rujukannya dan paket (standar) pelayanan KIA, gizi, imunisasi, dan tumbuh
kembang balita10.
Salah satu tujuan program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) adalah
meningkatkan kemandirian keluarga dalam memelihara kesehatan ibu dan anak.
Dalam keluarga, ibu dan anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap
berbagai masalah kesehatan seperti kesakitan dan gangguan gizi yang seringkali
berakhir dengan kecacatan atau kematian. Dalam mewujudkan kemandirian keluarga
dalam memelihara kesehatan ibu dan anak maka salah satu upaya program adalah
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga melalui penggunaan Buku
Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA)5.
Manfaat Buku KIA secara umum adalah ibu dan anak mempunyai catatan
kesehatan yang lengkap, sejak ibu hamil sampai anaknya berumur lima tahun
sedangkan manfaat buku KIA secara khusus ialah (1) untuk mencatat dan memantau
kesehatan ibu dan anak (2) alat komunikasi dan penyuluhan yang dilengkapi dengan
informasi penting bagi ibu, keluarga dan masyarakat tentang kesehatan, gizi dan
paket (standar) pelayanan KIA (3) alat untuk mendeteksi secara dini adanya
gangguan atau masalah kesehatan ibu dan anak (4) catatan pelayanan gizi dan
kesehatan ibu dan anak termasuk rujukannnya10.
Buku KIA diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman
masyarakat tentang kesehatan ibu dan anak. Buku KIA juga sebagai catatan
kesehatan ibu dan anak, alat monitor kesehatan dan alat komunikasi antara tenaga
kesehatan dengan pasien11. Outline buku KIA terdiri dari10:
1. Bagi ibu
a. Identitas keluarga
b. Ibu hamil: pemeriksaan kehamilan rutin, persiapan melahirkan, perawatan
sehari-hari, anjuran makan untuk ibu hamil dan tanda-tanda bahaya pada
kehamilan.
c. Ibu bersalin: tanda-tanda ibu akan melahirkan dan proses melahirkan.
d. Ibu nifas: cara perawatan bayi, perawatan ibu nifas, tanda bahaya dan
penyakit saat ibu nifas.

13
e. Keluarga berencana (KB)
f. Catatan pelayanan kesehatan ibu: catatan kesehatan ibu hamil, bersalin, nifas
dan keterangan melahirkan.
2. Bagi anak
a. Identitas anak.
b. Bayi baru lahir dan anak: tanda bayi sehat, cara merawat bayi baru lahir,
imunisasi dan jadwal imunisasi
c. Balita: cara perawatan sehari-hari anak balita, perawatan anak sakit, cara
pemberian makan anak, cara merangsang pertumbuhan anak, cara membuat
makanan tambahan pengganti ASI.
d. Catatan pelayanan kesehatan anak: pemeriksaan neonatal, pemberian
imunisasi, pemberian vitamin A, anjuran pemberian rangsangan
perkembangan dan nasihat pemberian makan.
e. Catatan penyakit dan masalah perkembangan.

D. Optimalisasi buku KIA terhadap pertumbuhan anak


Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran-ukuran tubuh, baik fisik (anatomi)
maupun struktural dalam arti sebagian atau keseluruhan. Deteksi pertumbuhan
merupakan kegiatan rutin yang dilakukan guna memantau dan menentukan
pertumbuhan seorang anak baik dilihat dari segi medis maupun statistik10.
Berdasarkan penelitian, ukuran antropometri saat lahir berpengaruh terhadap
kecerdasan anak di kemudian hari. Semakin panjang, semakin berat dan semakin
besar lingkar kepala, tetapi masih dalam rentan normal, berhubungan dengan semakin
tingginya nilai IQ anak usia 8-12 tahun. Untuk melakukan penilaian pertumbuhan
bayi dan balita, diperlukan pengukuran antropometri secara berkala agar dapat
mengetahui pertumbuhan yang terjadi. Pengukuran yang dilakukan satu kali hanya
memnunjukkan ukuran pada saat itu dan tidak memberikan informasi perubahan yang
terjadi, apakah terjadi peningkatan atau penurunan10.

14
Buku KIA mempunyai manfaat untuk mencapai derajat pertumbuhan anak
yang optimal yaitu sebagai alat pencatan keseluruhan kondisi dan status kesehatan
anak dimulai saat bayi lahir hingga anak berusia 5 tahun10.
Terdapat lima arah garis pertumbuhan12:
a. Tumbuh kejar atau Catch-Up Growth (N1)
Arah garis pertumbuhan melebihi arah garis baku
b. Tumbuh Normal (N2)
Arah garis pertumbuhan sejajar atau berimpit dengan arah garis baku
c. Growth Faltering (T1)
Arah garis pertumbuhan kurang dari arah garis baku atau pertumbuhan
kurang dari yang diharapkan
d. Flat Growhth (T2)
Arah garis pertumbuhan datar atau berat badan tetap
e. Loss of Growth (T3)
Arah garis pertumbuhan menurun dari arah garis baku

15
Gambar 2.1. Grafik Kartu menuju sehat

Pengukuran pertumbuhan pada KMS berbeda antara bayi lahir prematur


dengan bayi cukup bulan. Khusus untuk bayi prematur, pengukuran pertumbuhan
menggunakan grafik fenton. Selain itu, dikenal juga istilah-istilah yang digunakan
untuk menghitung usia bayi prematur untuk mengetahui perkembangannya
dibandingkan dengan bayi cukup bulan13,14,15.
1. Usia Gestasi (umur kehamilan) saat bayi dilahirkan, dihitung berdasarkan
minggu dan hari
a. Usia ini dihitung dari hari pertama haid terakhir ibunya sampai hari
dilahirkan
b. Usia kehamilan saat ini sering ditentukan melalui pemeriksaan pengamatan
pertumbuhan melalui USG. Pemeriksaan ini harus dilakukan pada
trisemester I kehamilan, dipantau dan dihitung terus sampai lahir.
c. Saat bayi lahir, usia kehamilan (usia gestasi), dapat di konfirmasi dengan
pemeriksaan New Ballard Score.

16
Contoh : Usia kehamilan 30 minggu 3 hari, daripada disebutkan 7-8 bulan.
Jika bayi lahir pada usia kehamilan 30 minggu, maka Usia Gestasi adalah 30
Minggu.
2. Usia kronologis
Sering juga disebut usia kalender, yaitu usia sejak dilahirkan sampai saat ini
3. Usia Pasca Menstruasi
Usia pasca menstruasi = [usia gestasi] + [usia kronologis]
= 30 minggu + [5 bulan 1 hari]
= 30 minggu + [21 minggu 4 hari]
= 51 minggu 4 hari
4. Usia Koreksi
(usia gestasi + usia kronologis) – 40 minggu
Contoh : Bayi lahir 33 minggu, saat ini usia kronologis/usia kalender 60 hari (8
minggu 4 hari).
Maka usia koreksinya : 33 + 8 minggu 4 hari – 40 minggu = 1 minggu 4 hari
Kemampuan bayi prematur disejajarkan dengan bayi cukup bulan berdasarkan
usia koreksi. Usia koreksi ini diperhitungkan hanya sampai 2 tahun saja. Pengukuran
arah pertumbuhan bayi prematur, laki-laki, dan perempuan dipisah agar memudahkan
pengukuran perkembangan anak16.

17
Gambar 2.2. Grafik fenton

Pemantauan status gizi dengan menggunakan tabel standar antropometri


penilaian status gizi balita sesuai dengan indeks kategori dan ambang batas (SD)
status gizi10,12.
1. Penentuan umur bayi/balita
Tentukan umur anak dengan cara sebagai berikut “Umur anak dihitung dalam
bulan penuh”: contoh umur 2 bulan 29 hari dihitung sebagai umur 2 bulan
(Petunjuk sesuai dengan SK Menkes no. 1995/Menkes/SK/XII/2010)12.
2. Lingkar Kepala Anak (LIKA)
Menurut Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia No.: 003/Rek/PP
IDAI/I/2014 tentang Pemantauan Ukuran Lingkar Kepala dan Ubun-Ubun Besar,
pengukuran lingkar kepala dan ubun-ubun besar perlu dilakukan untuk menilai
pertumbuhan dan ukuran otak anak12.

18
a. Pemantauan lingkar kepala
1. Lingkar kepala anak diukur dengan menggunakan grafik lingkar kepala
Nelhaus (1968).
2. Grafik bayi laki-laki cukup bulan dimulai dengan ukuran 32-38 cm,
sedangkan grafik bayi perempuan cukup bulan dimulai dari ukuran 31-
37 cm.
3. Lingkar kepala di bawah -2 SD disebut mikrosefali dan bila ukurannya
di atas +2 SD disebut makrosefali.
4. Lingkar kepala diukur setiap bulan pada tahun pertama, setiap 3 bulan
pada tahun ke dua, dan setiap 6 bulan pada usia 3 sampai 5 tahun.
b. Pemantuan ubun-ubun besar
1. Pengukuran ubun-ubun besar juga memegang peranan penting.
2. Ukuran ubun-ubun besar normal pada bayi baru lahir cukup bulan
adalah 2 cm x 2 cm, dengan permukaan agak cekung.
3. Ukuran ubun-ubun besar ini dapat membesar dalam 3 bulan pertama,
kemudian akan mengecil dan menutup dengan bertambahnya umur bayi.
4. Ukuran ubun-ubun besar yang sangat kecil atau lebih besar dari 4 cm
harus dicurigai adanya gangguan perkembangan jaringan otak selama
kehamilan.
5. Ubun-ubun besar bayi normal umumnya telah menutup pada usia 19
bulan.
6. Ubun-ubun besar bayi normal sekitar 90-95% telah menutup pada usia
19 bulan. Jika di bawah usia itu sudah menutup disebut
Craniosynostosis. Biasanya gangguan ini disertai dengan ukuran lingkar
kepala yang kecil. Sebaliknya bila ubun-ubun terlambat menutup bisa
disebabkan karena hidrosefalus, sindroma down, kekurangan hormon
tiroid dan berbagi penyakit lainnya
Pengukuran lingkar kepala anak digunakan untuk mengetahui pertumbuhan
otak anak. Biasanya besar tengkorak mengikuti perkembangan otak, sehingga bila
terjadi hambatan pada perkembangan tengkorak maka perkembangan otak juga akan

19
terhambat. Pengukuran LIKA dapat dilakukan dengan menggunakan pita sentimeter,
ukuran LIKA perlu diperhatikan sesuai jenis kelamin. Jadwal pemantauan LIKA pada
bayi biasanya dilakukan pada umur 8-30 hari, 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan, dan 12 bulan.
Pada anak balita dilakukan pada umur 18 bulan, 24 bulan, 3 tahun, 4 tahun, dan 5
tahun10.

Gambar 2.3. Grafik lingkar kepala laki-laki dan perempuan

3. Berat Badan (BB)


Salah satu tanda anak sehat adalah berat badan naik sesuai garis
pertumbuhan, mengikuti pita hijau di KMS atau naik ke pita warna diatasnya.
Berat badan BBL normal adalah 2500-4000 gr. Penurunan fisiologis 5-10%
selama 10 hari pertama. Pengukuran berat badan secara rutin sangat penting
dilakukan untuk mengetahui arah petumbuhan seorang anak. Setiap bulan anak
menimbang di puskesmas untuk di data di lembar KMS dan dibuat garis
pertumbuhan untuk mengetahui arah pertumbuhan anak10,12.

20
Gambar 2.3. Grafik berat badan laki-laki menurut panjang badan

Gambar 2.4. Grafik berat badan perempuan menurut panjang badan

4. Panjang Badan (PB)


Istilah panjang badan digunakan untuk mengukur tinggi badan pada anak yang
belum bisa berdiri. Pada masa tahun pertama kehidupan memiliki karakteristik
pertumbuhan fisik serta perkembangan sosial yang cepat. Pengukuran
antropometri membutuhkan nilai panjang badan untuk mengetahui status gizi
anak10,12.

21
Gambar 2.5. Grafik Tinggi badan laki-laki menurut umur

Gambar 2.6. Grafik tinggi badan perempuan menurut umur

E. Optimalisasi buku KIA terhadap perkembangan anak


Dalam optimalisasi perkembangan anak, buku KIA memberikan panduan
pemberian stimulasi yang dapat dilakukan oleh ibu dan anggota keluaga lainnya

22
untuk merangsang kemampuan dan tumbuh kembang anak sesuai umurnya. Bawa
anak ke tenaga kesehatan, fasilitas kesehatan, pos Pendidikan Anak Usia Dini
Holistik Integratif (PAUD HI) untuk mendapatkan pelayanan Stimulasi Deteksi dan
Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK)10,12.
Stimulasi yang dapat diberikan oleh orang tua maupun anggota keluarga lain
saat di rumah sesuai dengan umur anak misalnya
1. Stimulasi pada anak umur 0-3 bulan
a. Sering memeluk dan menimang bayi dengan penuh kasih sayang
b. Gantung benda berwarna cerah yang bergerak dan bisa dilihat bayi
c. Tatap mata bayi dan ajak tersenyum, bicara dan bernyanyi
d. Perdengarkan musik /suara kepada bayi
e. Mulai tiga bulan, bawa bayi ke luar rumah memperkenalkan lingkungan
sekitar
2. Stimulasi pada anak usia 3-6 bulan
a. Sering telungkupkan bayi
b. Gerakkan benda ke kiri dan ke kanan, di depan matanya.
c. Perdengarkan berbagai bunyi-bunyian
d. Beri mainan benda yang besar dan berwarna
3. Stimulasi pada anak usia 6-12 bulan
a. Ajari bayi duduk
b. Ajak main ci-luk-ba
c. Ajari memegang dan makan biskuit
d. Ajari memegang benda kecil dengan 2 jari
e. Ajari berdiri dan berjalan dengan berpegangan
f. Ajak bicara sesering mungkin
g. Latih mengucapkan ma… ma… pa… pa…
h. Beri mainan yang aman dipukul-pukul
4. Stimulasi pada anak usia 1-2 tahun
a. Ajari berjalan di undakan/tangga
b. Ajak bersihkan meja dan menyapu

23
c. Ajak membereskan mainan
d. Ajari mencoret-coret di kertas
e. Ajari menyebut bagian tubuhnya
f. Bacakan cerita anak
g. Ajak bernyanyi
h. Ajak bermain dengan teman
i. Berikan pujian kalau ia berhasil melakukan sesuatu
j. Ajari anak untuk bergerak bebas dalam pengawasan
k. Orang tua membimbing agar anak mematuhi aturan permainan
l. Biasakan menggunakan perkataan santun
5. Stimulasi pada anak usia 2-3 tahun
a. Ajari berpakaian sendiri
b. Ajak melihat buku bergambar
c. Bacakan cerita anak
d. Ajari makan di piring sendiri
e. Ajari cuci tangan
f. Ajari buang air besar dan kecil ditempatnya
g. Ajari anak untuk menghormati orang lain
h. Ajari anak untuk beribadah
i. Bawa anak ke PAUD
6. Stimulasi pada anak usia 3-5 tahun
a. Ajak anak mulai melibatkan diri dalam kegiatan bersama
b. Ajarkan anak tentang perbedaan jenis kelamin
c. Ajarkan anak untuk menjaga alat kelaminnya
d. Latih anak tidur terpisah dari orang tua dan anak yang berbeda jenis kelamin
e. Biasakan anak untuk berkata jujur, berterima kasih, dan meminta maaf
f. Figur ayah sebagai contoh bagi anak laki-laki dan figur ibu sebagai contoh
bagi anak perempuan
g. Kembangkan kreativitas anak dan kemampuan bergaul

24
7. Stimulasi anak usia 5-6 tahun
a. Ajari anak bermain sepeda
b. Bantu anak mengerti urutan kegiatan, contoh mencuci tangan
c. Minta anak menceritakan apa yang dilakukannya
d. Ajari anak melempar dan menangkap bola dengan dua tangan
e. Ajari anak mengenai warna, huruf, angka, dan benda-benda yang ada di
sekitar
f. Ajak anak untuk membantu dalam melakukan pekerjaan rumah seperti
menyiapkan bahan makanan
g. Ajari anak konsep waktu, seperti tahun, bulan, hari, jam.
Selain itu buku KIA juga berperan penting dalam mencatat bertambah atau
berhentinya kemampuan seorang anak. Jenis perkembangan anak yang dipantau dan
distimulasi meliputi kemampuan gerak, berbicara dan kecerdasan serta kemampuan
bergaul dan kemandiria anak. Untuk memantau perkembangan anak mulai dari lahir
sampai dengan usia 5 tahun, Ibu dan kader perlu mengisi kolom pemantauan
perkembangan anak setiap bidang kemampuan sesuai usia anak10,12.
1. Kemampuan anak usia 1 bulan
a. Menatap ke ibu
b. Mengeluarka suara o… o…
c. Tersenyum
d. Menggerakan kaki dan tangan
2. Kemampuan anak usia 3 bulan
a. Mengangkat kepala tegak ketika terngkurap
b. Tertawa
c. Menggerakan kepala ke kiri dan ke kanan
d. Membalas tersenyum ketika diajak bicara/tersenyum
e. Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh
3. Kemampuan anak usia 6 bulan
a. Berbalik dari telungkup ke telentang
b. Mempertahankan posisi kepala tetap tegak

25
c. Meraih benda yang ada didekatnya
d. Menirukan bunyi
e. Menggenggam mainan
f. Tersenyum ketika melihat mainan/gambar yang menarik
4. Kemampuan anak usia 9 bulan
a. Merambat
b. Mengucapkan ma… ma… pa… pa…
c. Meraih benda sebesar kancing
d. Mencari benda/mainan yang dijatuhkan
e. Bermain tepuk tangan atau ci-luk-ba
f. Makan kue/biskuit sendiri
5. Kemampuan anak usia 12 bulan
a. Berdiri dan berjalan berpegangan
b. Memegang benda kecil
c. Meniru kata sederhana seperti ma… ma… pa… pa…
d. Mengenal anggota keluarga
e. Takut pada orang yang belum dikenal
f. Menunjuk apa yang diinginkan tanpa menangis/merengek
6. Kemampuan anak usia 2 tahun
a. Naik tangga dan berlari-lari
b. Mencoret-coret pensil pada kertas
c. Dapat menunjuk 1 atau lebih bagian tubuhnya
d. Menyebut 3-6 kata yang mempunyai arti, seperti bola, piring, dan
sebagainya
e. Memegang cangkir sendiri
f. Belajar minum-minum sendiri
7. Kemampuan anak usia 3 tahun
a. Mengayuh sepeda roda tiga
b. Berdiri di atas satu kaki tanpa berpegangan
c. Bicara dengan baik menggunakan 2 kata

26
d. Mengenal 2-4 warna
e. Menyebut nama, umur, dan tempat
f. Menggambar garis lurus
g. Bermain dengan teman
h. Melepas pakaiannya sendiri
i. Mengenakan baju sendiri
8. Kemampuan anak usia 5 tahun
a. Melompat-lompat 1 kaki, menari, dan berjala lurus
b. Menggambar orang 3 bagian (kepala, badan, tangan/kaki)
c. Menggambar tanda silang dan lingkaran
d. Menangkap bola kecil dengan kedua tangan
e. Menjawab pertanyaan dengan kata-kata yang benar
f. Menyebut angka, menghitung jari
g. Bicaranya mudah dimengerti
h. Berpakaian sendiri tanpa dibantu
i. Mengancing baju atau pakaian boneka
j. Menggososk gigi tanpa bantuan
9. Kemampuan anak usia 6 tahun
a. Berjalan lurus
b. Berdiri dengan 1 kaki selama 11 detik
c. Menggambar 6 bagian (contoh: menggambar orang lengkap: kepala, badan,
2 tangan, dan 2 kaki)
d. Menangkap bola kecil dengan kedua tangan
e. Menggambar segiempat
f. Mengerti arti lawan kata
g. Mengenal angka, bisa menghitung 5-10
h. Mengenal warna
i. Mengikuti aturan permainan
j. Berpakaian sendiri tanpa dibantu

27
Dalam mengoptimalisasi perkembangan anak, perlu dilakukan pengisian
kuisioner terkait deteksi dini penyimpangan perkembangan pada anak sesuai usia
agar dapat dilakukan intervensi sedini mungkin. Beberapa kuisioner yang dapat diisi
adalah10,12
1. Kuisioner Pra-Skrining Perkembangan (KPSP)
Tujuan skrining/pemeriksaan perkembangan anak menggunakan KPSP
adalah untuk mengetahui perkembangan anak normal atau ada penyimpangan.
Jadwal skrining/pemeriksaan KPSP rutin adalah pada umur 3, 6, 9, 12, 15, 18,
21, 24, 30,36, 42, 48, 54, 60, 66 dan 72 bulan. Jika anak belum mencapai umur
skrining tersebut, minta ibu datang kembali pada umur skrining yang terdekat
untuk pemeriksaan rutin. Misalnya bayi umur 7 bulan, diminta kembali untuk
skrining KPSP pada umur 9 bulan. Apabila orang tua datang dengan keluhan
anaknya mempunyai masalah tumbuh kembang, sedangkan umur anak bukan
umur skrining maka pemeriksaan menggunakan KPSP untuk umur skrining
terdekat yang Iebih muda12.
Alat instrumen yang digunakan adalah Formulir KPSP menurut umur.
Formulir ini berisi 9-10 pertanyaan tentang kemampuan perkembangan yang
telah dicapai anak. Sasaran KPSP anak umur 0-72 bulan. Alat bantu pemeriksaan
berupa: pensil, kertas, bola sebesar bola tenis, kerincingan, kubus berukuran sisi
25 cm sebanyak 6 buah, kismis, kacang tanah, potongan biskuit kecil berukuran
0.5 - 1 cm12.
Cara menggunakan KPSP12:
a. Pada waktu pemeriksaan/skrining, anak harus dibawa.
b. Tentukan umur anak dengan menanyakan tanggal bulan dan umur anak lebih
16 hari dibulatkan menjadi 1 bulan.
c. Setelah menentukan umur anak, pilih KPSP yang sesuai
d. KPSP terdini ada 2 macam pertanyaan, yaitu:
1) Pertanyaan yang dijawab oleh ibu/pengasuh anak, contoh: dapatkah bayi
makan kue sendiri

28
2) Perintah kepada ibu/pengasuh anak atau petugas untuk melaksanakan
tugas yang tertulis pada KPSP. Contoh: Pada posisi bayi anda telentang,
tariklah bayi pada pergelangan tangannya secara perlahan-lahan ke
posisi duduk.
e. Jelaskan kepada orangtua agar tidak ragu-ragu atau takut menjawab, oleh
karena itu pastikan ibu/pengasuh anak mengerti apa yang ditanyakan
kepadanya.
f. Tanyakan pertanyaan tersebut secara berurutan, satu persatu. Setiap
pertanyaan hanya ada 1 jawaban, Ya atau Tidak. Catat jawaban tersebut pada
formulir.
g. Ajukan pertanyaan yang berikutnya setelah ibu/pengasuh anak menjawab
pertanyaan terdahulu.
h. Teliti kembali apakah semua pertanyaan telah dijawab.
Interpretasi hasil KPSP:
a. Hitunglah berapa jumlah jawaban Ya.
b. Jawaban Ya, bila ibu/pengasuh anak menjawab: anak bisa atau pernah atau
sering atau kadang-kadang melakukannya.
c. Jawaban Tidak, bila ibu/pengasuh anak menjawab: anak belum pernah
melakukan atau tidak pernah atau ibu/pengasuh anak tidak tahu.
d. Jumlah jawaban ‘Ya’ = 9 atau 10, perkembangan anak sesuai dengan tahap
perkembangannya (S).
e. Jumlah jawaban ‘Ya’ = 7 atau 8, perkembangan anak meragukan (M).
f. Jumlah jawaban ‘Ya’ = 6 atau kurang, kemungkinan ada penyimpangan (P).
g. Untuk jawaban ‘Tidak‘, perlu dirinci jumlah jawaban tidak menurut jenis
keterlambatan (gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, sosialisasi dan
kemandirian).
Intervensi yang dapat dilakukan12:
a. Bila perkembangan anak sesuai umur (S), lakukan tindakan berikut:
1) Beri pujian kepada ibu karena telah mengasuh anaknya dengan baik.
2) Teruskan pola asuh anak sesuai dengan tahap perkembangan anak.

29
3) Beri stimulasi perkembangan anak setiap saat, sesering mungkin, sesuai
dengan umur dan kesiapan anak.
4) Ikutkan anak pada kegiatan penimbangan dan pelayanan kesehatan di
posyandu secara teratur sebulan 1 kali dan setiap ada kegiatan Bina
Keluarga Balita (BKB). Jika anak sudah memasuki usia pra-sekolah
(36-72 bulan), anak dapat diikutkan pada kegiatan di Pusat Pendidikan
Anak Dini Usia (PADU), Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak.
5) Lakukan pemeriksaan/Skrining rutin menggunakan KPSP setiap 3 bulan
pada anak berumur kurang dari 24 bulan dan setiap 6 bulan pada anak
umur 24 sampai 72 bulan.
b. Bila perkembangan anak meragukan (M), lakukan tindakan berikut:
1) Beri petunjuk pada ibu agar melakukan stimulasi perkembangan pada
anak lebih sering lagi, setiap saat dan sesering mungkln.
2) Ajarkan ibu cara melakukan intervensi stimulasi perkembangan anak
untuk mengatasi penyimpangan/mengejar ketertinggalannya.
3) Lakukan pemeriksaan kesehatan untuk mencari kemungkinan adanya
penyakit yang menyebabkan penyimpangan perkembangannya.
4) Lakukan penilaian ulang KPSP 2 minggu kemudian dengan
menggunakan daftar KPSP yang sesuai dengan umur anak.
5) Jika hasil KPSP ulang jawaban ‘Ya’ tetap 7 atau 8 maka kemungkinan
ada penyimpangan (P).
c. Bila tahapan perkembangan terjadi penyimpangan (P). lakukan tindakan
berikut:
Rujukan ke Rumah Sakit dengan menuliskan jenis dan jumlah
penyimpangan perkembangan (gerak kasar, gerak halus, bicara & bahasa,
sosialisasi dan kemandirian)
2. Tes Daya Dengar (TDD)
Tujuan tes daya dengar adalah untuk menemukan gangguan pendengaran
sejak dini, agar dapat segera ditindaklanjuti untuk meningkatkan kemampuan
daya dengar dan bicara anak. Jadwal TDD adalah setiap 3 bulan pada bayi umur

30
kurang dan 12 bulan dan setiap 6 bulan pada anak umur 12 bulan keatas.
Alat/sarana yang diperlukan adalah: (1) Instrumen TDD menurut umur anak; (2)
Gambar binatang (ayam, anjing, kucing), manusia; dan (3) Mainan (boneka,
kubus, sendok, cangkir, bola) 12.
Cara melakukan TDD12:
b. Tanyakan tanggal, bulan dan tahun anak lahir, hitung umur anak dalam
bulan.
c. Pilih daftar pertanyaan TDD yang sesuai dengan umur anak.
d. Pada anak umur kurang dari 24 bulan:
1) Semua pertanyaan harus dijawab oleh orangtua/pengasuh anak. Tidak
usah ragu-ragu atau takut menjawab, karena tidak untuk mencari siapa
yang salah.
2) Bacakan pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, satu persatu
berurutan.
3) Tunggu jawaban dan orangtua/pengasuh anak.
a) Jawaban YA jika menurut orangtua/pengasuh, anak dapat
melakukannya dalam satu bulan terakhir.
b) Jawaban TIDAK jika menurut orangtua/pengasuh anak tidak
pernah/tidak tahu atau tak dapat melakukannya dalam satu bulan
terakhir.
e. Pertanyaan-pertanyaan berupa perintah melalui orangtua/pengasuh untuk
dikerjakan oleh anak.
1) Amati kemampuan anak dalam melakukan perintah orangtua/pengasuh.
2) Jawaban YA jika anak dapat melakukan perintah orangtua/pengasuh.
3) Jawaban TIDAK jika anak tidak dapat atau tidak mau melakukan
perintah orangtua/pengasuh.
Interpretasi hasil TDD10:
a. Bila ada satu atau lebih jawaban TIDAK, kemungkinan anak mengalami
gangguan pendengaran.

31
b. Catat dalam Buku KIA atau kartu kohort bayi/balita atau status/catatan
medik anak, jenis kelainan.
Intervensi yang dapat dilakukan10:
a. Tindak lanjut sesuai dengan buku pedoman yang ada.
b. Rujuk ke RS bila tidak dapat ditanggulangi
3. Tes Daya Lihat (TDL)
Tujuan tes daya lihat adalah untuk mendeteksi secara dini kelainan daya
lihat agar segera dapat dilakukan tindakan lanjutan sehingga kesempatan untuk
memperoleh ketajaman daya lihat menjadi lebih besar. Jadwal tes daya lihat
dilakukan setiap 6 bulan pada anak usia pra-sekolah umur 36 sampai 72 bulan.
Alat/sarana yang diperlukan adalah (1) Ruangan yang bersih, tenang dengan
penyinaran yang baik; (2) Dua buah kursi, 1 untuk anak dan 1 untuk pemeriksa;
(3) Poster ‘E’ untuk digantung dan kartu ‘E’ untuk dipegang anak; dan (4) Alat
penunjuk.
Cara melakukan tes daya lihat12:
a. Pilih suatu ruangan yang bersih dan tenang, dengan penyinaran yang baik.
b. Gantungkan poster ‘E’ setinggi mata anak pada posisi duduk.
c. Letakkan sebuah kursi sejauh 3 m dan poster ‘E’, menghadap ke poster ‘E’.
d. Letakkan sebuah kursi lainnya di samping poster ‘E’ untuk pemeriksa.
e. Pemeriksa memberikan kartu ‘E’ pada anak.. Latih anak dalam mengarahkan
kartu ‘E’ menghadap atas, bawah, kiri dan kanan; sesuai yang ditunjuk pada
poster ‘E’ oleh pemeriksa. Beri pujian setiap kali anak mau melakukannya.
Lakukan hal ini sampai anak dapat mengarahkan kartu ‘E’dengan benar.
f. Selanjutnya, anak diminta menutup sebelah matanya dengan buku/kertas.
g. Dengan alàt penunjuk, tunjuk huruf ‘E’ pada poster, satu persatu, mulai baris
pertama sampai baris keempat atau baris ‘E’ terkecil yang masih dapat
dilihat.
h. Puji anak setiap kali dapat mencocokkan posisi kartu ‘E’ yang dipegangnya
dengan huruf ‘E’ pada poster. ..
i. Ulangi pemeriksaan tersebut pada mata satunya dengan cara yang sama.

32
j. Tulis baris ‘E’ terkecil yang masih dapat dilihat, pada kertas yang telah
disediakan: mata kanan ……. mata kiri : ……....
Interpretasi10:
Anak pra-sekolah umumnya tidak mengalami kesulitan melihat sampai
baris ketiga padaposter ‘E’. Bila kedua matan anak tidak dapat melihat baris
ketiga poster ‘E’, artinya tidak dapat mencocokkan arah kartu ‘E’ yang
dipegangnya dengan arah ‘E’ pada baris ketiga yang ditunjuk oleh pemeriksa,
kemungkinan anak mengalami gangguan daya lihat.
Intervensi yang dapat dilakukan12:
Bila kemungkinan anak mengalami gangguan daya lihat, minta anak
datang lagi untuk pemeriksaan ulang. Bila pada pemeriksaan berikutnya, anak
tidak dapat melihat sampai baris yang sama, atau tidak dapat melihat baris yang
sama dengan kedua matanya, rujuk ke Rumah Sakit dengan menuliskan mata
yang mengalami gangguan (kanan, kiri atau keduanya).
4. Deteksi Dini Penyimpangan Emosional
Deteksi dini penyimpangan mental emosional adalah
kegiatan/pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya masalah mental
emosional autisme dan gangguan pemusatan perhatian serta hiperaktivitas pada
anak, agar dapat segera dilakukan tindakani ntervensi. Bila penyimpangan mental
emosional terlambat diketahui, maka intervensinya akan lebih sulit dan hal ini
akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak12.
Ada beberapa jenis alat yang digunakan untuk mendeteksi secara dini
adanya penyimpangan mental emosional pada anak, yaitu:
a. Kuesioner Masalah Mental Emosional (KMME) bagi anak umur 36 bulan
sampai 72 bulan.
b. Ceklis autis anak pra-sekolah (Checklist for Autism in Toddlers/CHAT) bagi
anak umur 18 bulan sampal 36 bulan. Diagnosis mengacu pada kriteria
diagnosis yang terdapat dalam DSM V atau bisa juga mengacu pada
Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa III.

33
c. Formulir deteksi dini Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas
(GPPH) menggunakan Abreviated Conner Rating Scale bagi anak umur 36
bulan ke atas.

34
III. KESIMPULAN

1. Periode pertumbuhan dan perkembangan anak yang paling penting adalah


masa balita.
2. Buku Kesehatan Ibu dan Anak merupakan alat untuk mendeteksi secara dini
adanya gangguan atau masalah kesehatan ibu dan anak.
3. Optimalisasi pertumbuhan anak dengan memantau grafik pertumbuhan, berat
badan, panjang badan, dan lingkar kepala anak.
4. Optimalisasi perkembangan anak dengan stimulasi anak sesuai dengan usia
anak dan mengetahui kemampuan anak sesuai usianya, serta deteksi dini
penyimpangan emosional.

35
DAFTAR PUSTAKA

1. Depkes RI. 2005. Pedoman pelayanan antenatal. Jakarta: Departemen Kesehatan


Republik Indonesia.
2. Kemenkes RI. 2015. Profil kesehatan indonesia 2014. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
3. Yuliana, N.S., et al. 2007. Metode Pengembangan Kognitif. Jakarta: Penerbit
UT.
4. Kania, N. 2006. Stimulasi tumbuh kembang anak untuk mencapai tumbuh
kembang yang optimal. Available URL: http://pustaka.unpad.ac.id/. Diakses pada
tanggal 15 Oktober 2017.
5. Sistiarani, C., Gamelia E., dan Hariyadi B. 2014 Analisis Kualitas Penggunaan
Buku Kesehatan Ibu Anak. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 10(1): 14-20.
6. Yanagisawa, S. Ayako S, Hisato I, Midori U, dkk. 2015. Effect Of A Maternal
And Child Health Handbook On Maternal Knowledge And Behavior :
Acommunity Based Controled Trial In Rural Cambodia. Health Policy And
Planning.
7. Narendra, Moersintowarti B, dkk., 2002. Tumbuh Kembang Anak dan Remaja, Buku
Ajar I, Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta : Penerbit Buku Sagung Seto pp. 7-8,
13-9.
8. Depkes RI. Pedoman Umum Pengelolaan Posyandu. Jakarta, 2006.
9. Depkes RI. Modul Surveilans KIA : Peningkatan Kapasitas Agen Perubahan dan
Pelaksanaan Program Kesehatan Ibu dan Anak. Dirjen Bina Kesehatan
Masyarakat, Jakarta, 2007.
10. Depkes RI. 2015. Buku Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta: Depkes dan JICA.
11. Hasanbasri dan Ernoviana. 2006. Pemanfaatan Buku Kesehatan Ibu dan Anak di.
Dinas Kesehatan Kota Sawahlunto. Yogyakarta: KMPK Universitas.
12. Marsuki, H. 2014. Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak. Sulawesi: Poltekes
Makasar.

36
13. American Academy of Pediatrics. Age terminology during the perinatal period.
Pediatrics. 2004;114:1362-4.
14. Clark RH, Olsen IE, Spitzer AR. Assessment of neonatal growth in prematurely
born infants. Clin Perinatol. 2014;41:295-307.
15. Sjarif DR, Rohsiswatmo R, Rundjan L, Yuliarti K. Panduan berbasis bukti:
Asuhan nutrisi untuk bayi prematur. Jakarta: Departemen Ilmu Kesehatan Anak
FKUI-RSCM; 2016
16. Fenton TR, Nasser R, Eliasziw M, Kim JH, Bilan D, Sauve R. Validating the
weight gain of preterm infants between the reference growth curve of the fetus
and the term infant. BMC Pediatr. 2013;13(1):92.

37