You are on page 1of 9

E-Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 2, No. 1, Hal.

50-58, Juni 2010

PEMETAAN DAN ANALISIS INDEX VEGETASI MANGROVE DI PULAU


SAPARUA, MALUKU TENGAH

MAPPING AND INDEX VEGETATION ANALYSES OF MANGROVE IN


SAPARUA ISLAND, CENTRAL MOLUCCAS

Harold J. D. Waas 1) dan Bisman Nababan 2)


P P P

1)
P Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas
P

Pattimura, Ambon. Email: joppiewaas@rocketmail.com


2)
P P Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian
Bogor, Bogor

ABSTRACT
Mapping and index vegetation analyses of mangrove in coastal areas of Saparua Island,
2T

Central Moluccas was conducted using Landsat 7/ETM+ satellite data acquired in April to May
2007. The results showed that the distributions of mangrove vegetation were concentrated in the
north, south, and west of the region with the area of 218.88 ha (38.26%), 105.12 ha (18.38%),
and 248.04 ha (43.36%), respectively. Total area of mangrove vegetation in this island was
about 572.04 ha (5.72 km 2 ), or 3.49% of the island area. Vegetation indexes (NDVI) in the
P P

north, south, and west of the region were dominated by values of >0.7 (very high density).

Keyword: Mangrove, NDVI, Landsat Satellite, Saparua, Central Maluku

ABSTRAK
Pemetaan dan analisis index vegetasi hutan bakau di wilayah pesisir Pulau Saparua, Maluku
Tengah dilakukan dengan menggunakan data citra satelit Landsat 7/ETM+ aquisisi bulan April-
Mei 2007. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebaran vegetasi hutan bakau terkonsentrasi
pada wilayah pesisir utara, selatan, dan barat dengan luasan masing-masing sebesar 218,88 Ha
(38,26%), 105,12 Ha (18,38%), dan 248,04 Ha (43,36%). Luasan total vegetasi hutan bakau di
wilayah ini diperoleh sebesar 572,04 Ha (5,72 Km 2 ) atau 3,49 % dari total luas pulau. Nilai
P P

indeks vegetasi (NDVI) pada wilayah pesisir utara, selatan, dan barat didominasi dengan nilai
>0,7 (kerapatan sangat lebat).

Kata kunci: Hutan Bakau, index vegetasi, Satelit Landsat, Saparua, Maluku Tengah

I. PENDAHULUAN faktor–faktor darat dan laut (Hogarth,


1999; Tomlinson, 1986; Nontji, 1987).
Hutan bakau (mangrove) adalah Hutan bakau mempunyai fungsi
tipe hutan yang ditumbuhi dengan pohon ganda dan merupakan mata rantai yang
bakau (mangrove) yang khas terdapat di sangat penting dalam memelihara
sepanjang pantai atau muara sungai dan keseimbangan siklus biologi di suatu
dipengaruhi oleh pasang surut air laut perairan. Fungsi fisik hutan bakau yaitu
(Hogarth, 1999; Tomlinson, 1986; menjaga keseimbangan ekosistem
Nontji, 1987). Hutan bakau ini sering perairan pantai, melindungi pantai dan
juga disebut sebagai hutan pantai atau tebing sungai terhadap pengikisan atau
hutan pasut. Hutan bakau umumnya erosi pantai, menahan dan mengendapkan
tumbuh berbatasan dengan darat pada lumpur serta menyaring bahan tercemar.
jangkauan air pasang tertinggi, sehingga Fungsi lainnya adalah sebagai penghasil
ekosistem ini merupakan daerah transisi bahan organik yang merupakan sumber
yang eksistensinya juga dipengaruhi oleh makanan biota, tempat berlindung dan

50 ©Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB


Waas dan Nababan

memijah berbagai jenis udang, ikan, dan sifat optik yang hampir sama dan sulit
berbagai biota lainnya (Bosire et al., dibedahkan tetapi mengingat bakau hidup
2005; Bowen et al., 2001; Bengen, dekat dengan air laut maka biasanya
2000). antara kedua dapat dipisahkan dengan
Pulau Saparua dengan luas ± 164 memperhitungkan jarak pengaruh air laut
2
km memiliki sumberdaya hutan bakau
P P atau bahwa dalam banyak kasus antara
yang cukup potensial. Kehadirannya kedua vegetasi ini terpisah oleh lahan
memberikan andil yang besar bagi terbuka, padang lumpur, daerah
produktivitas perairan sekitarnya seperti pertambakan, atau pemukiman sehingga
Teluk Tuhaha, Teluk Saparua dan Selat memudahkan pemisahan antara
Saparua sehingga mampu menunjang keduanya. Dari pertimbangan-
keberlangsungan perikanan pole and line pertimbangan tersebut maka deteksi
di Pulau Ambon dan sekitarnya. luasan serta kerapatan bakau dapat
Penelitian-penelitian tentang dilakukan melalui satelit (Susilo, 2000).
ekosistem bakau di pulau Saparua selama Penelitian ini bertujuan untuk (1)
ini telah dilakukan oleh Pattileamonia Memetakan sebaran dan luasan vegetasi
(1998), Tahalele (2001), Sopacua (2002), bakau; dan (2) Menentukan tingkat
Souisa (2002), dan Tetelepta (2007). kerapatan atau kesehatan vegetasi bakau
Namun disadari bahwa penelitian- dengan menggunakan indeks vegetasi
penelitian tersebut lebih ditekankan pada (Normalized Difference Vegetation
aspek ekologi dan terbatas pada areal Index) di pulau Saparua.
yang sempit sementara informasi
kepadatan, sebaran dan luasan sangat II. METODOLOGI
diperlukan untuk kebutuhan teknis
seperti perencanaan dan pengelolaan 2.1. Lokasi, Bahan, dan Alat
wilayah pesisir. Penelitian
Seiring dengan perkembangan
teknologi remote sensing yang pesat, Penelitian ini dilaksanakan dengan
keberadaan ekosistem ini dapat di deteksi mengambil lokasi kawasan pesisir Pulau
dan dipetakan dengan mudah. Saparua, Kabupaten Maluku Tengah,
Penginderaan jauh vegetasi bakau Provinsi Maluku dengan batasan
didasarkan atas dua sifat penting yaitu koordinat 3°29’17”-3°37’39” LS dan
bahwa bakau memiliki klorofil dan 128°32’43”-128°43’49” BT (Gambar 1).
tumbuh di daerah pesisir. Dua hal ini Data satelit yang digunakan adalah citra
menjadi pertimbangan penting di dalam satelit Landsat 7/ETM + P108/R63 dan
mendeteksi bakau melalui satelit karena P109/R62 aquisisi bulan April - Mei
klorofil memberikan sifat optik dan 2007 yang telah terkoreksi atmosfir,
lokasinya di daerah pesisir geometrik dan radiometric. Untuk
mempermudah untuk membedakannya validasi data di lapangan digunakan alat
dengan daratan ataupun perairan. Sifat GPS Garmin 12 XL. Perangkat lunak
optik klorofil menyerap spektrum sinar ErMapper versi 7, Mapinfo versi 9, dan
merah dan memantulkan dengan kuat microsoft Excel 2007 digunakan sebagai
pada spektrum infra merah (Green et sarana perhitungan, pengolahan, dan
al., 2000). interpretasi data.
Vegetasi bakau dan vegetasi
terrestrial yang lain memang mepunyai

http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt21 51
Pemetaan Dan Analisis Index Vegetasi Mangrove Di Pulau Saparua, Maluku Tengah

Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian yang Ditunjukkan dengan Lingkaran

2.2. Metode Analisis Data NDVI < 0.0001 = tidak bervegetasi


NDVI 0.0001 – 0.1 = sangat jarang
Analisis data citra untuk penentuan NDVI 0.1 – 0.2 = vegetasi jarang
vegetasi bakau mengacu pada hasil NDVI 0.2 – 0.3 = vegetasi sedang
eksplorasi citra komposit RGB 453 NDVI 0.3 – 0.4 = vegetasi lebat
dengan input minimum dan maksimum NDVI >0.4 = vegetasi sangat
(30 & 60) transform setting dan lebat,
supervised classification (Green et al., sedangkan kesehatan vegetasi bakau
2000). Nilai kerapatan vegetasi bakau ditentukan dengan kriteria bahwa Secara
ditentukan dengan menggunakan metode teoritis nilai NDVI berkisar antara -1
ratio antara kanal infra merah dan kanal hingga +1, namun nilai indek vegetasi
merah (Green et al., 2000) dengan ini secara tipikal akan bersub domain
formula sebagai berikut: antara +0,1 hingga +0,7. Nilai yang lebih
besar dari domain ini diasosiasikan
( infrared − red ) sebagai representasi dari tingkat
NDVI = .................. (1)
(infrared + red) kesehatan vegetasi yang lebih baik
dimana: (Prahasta, 2008).
NDVI = Normalized Difference Tingkat akurasi pemetaan
Vegetation Index ditentukan dengan menggunakan Uji
Infrared = kanal 4 citra Landsat 7/ETM ketelitian klasifikasi mengacu pada Short
+ (1982) dalam Purwadi (2001) dengan
red = kanal 3 citra Landsat 7/ETM formula:
+
Nilai kerapatan vegetasi bakau MA = (Xcr pixel)/(Xcr pixel + Xo pixel
ditentukan dengan mengacu pada Kadi + Xco pixel) .......................................(2)
(1996) dalam Susilo (2000) dengan Dimana:
kriteria sebagai berikut: MA = ketelitian pemetaan (mapping
accuracy)
Xcr = jumlah kelas X yang terkoreksi

52 E-Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol.2, No.1, Juni 2010
Waas dan Nababan

Xo = jumlah kelas X yang masuk ke KH = (jumlah pixel murni semua


elas lain (omisi) kelas)/(jumlah semua pixel) ...
Xco = jumlah kelas X tambahan dari ................................................(3)
kelas lain (komisi)
Untuk lebih jelas mendapatkan
Ketelitian seluruh hasil klasifikasi (KH) gambaran tentang penelitian ini maka
diperoleh dari formula: diagram alur penelitian disajikan secara
lengkap pada Gambar 2.

Gambar 2. Diagram Alir Penelitian

III. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1 tampak bahwa hasil ketelitian


pemetaan (MA) untuk komunitas bakau
3.1. Validasi dan Akurasi Pemetaan sebesar 78% yang mengindikasikan
bahwa peta tematik vegetasi bakau yang
Validasi merupakan tahapan dihasilkan memiliki tingkat akurasi yang
penting untuk menentukan tingkat cukup memadai dan dapat dipercayai
akurasi peta yang dihasilkan. Selama tingkat kebenarannya.
penelitian telah dilakukan validasi bukan Tingkat kevalidan peta tematik
saja terhadap vegetasi bakau tetapi juga yang dihasilkan dari citra Landsat
objek laut dan daratan. Validasi vegetasi 7/ETM+ dalam penelitian ini jika
bakau dilakukan pada 54 stasiun dibandingkan dengan tingkat akurasi
sampling yang tersebar pada komunitas pemetaan beberapa sensor satelit
bakau pesisir pantai utara, selatan dan terhadap ekosistem yang sama (Tabel 2)
barat (Gambar 3). Hasil uji tingkat ternyata hasil yang diperoleh masih
ketelitian klasifikasi menggunakan berada pada nilai kisaran yang dihasilkan
matrix kesalahan (confusion matrix) oleh sensor-sensor tersebut yang
seperti disajikan pada Tabel 1. Pada umumnya berada di atas nilai 70%.

http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt21 53
Pemetaan Dan Analisis Index Vegetasi Mangrove Di Pulau Saparua, Maluku Tengah

Namun jika disimak lebih jauh tenyata paling tinggi ternyata memiliki nilai
akurasi pemetaan tidak hanya tergantung akurasi yang sama dengan penelitian ini.
dari nilai resolusi spasial citra satelit Dugaan ini selaras dengan 54 titik
yang digunakan tetapi diduga turut validasi bakau yang digunakan dalam
dipengaruhi oleh jumlah titik validasi penelitian ini belum proposional dengan
yang diambil. Hal ini tampak jelas pada luas sebaran vegetasi bakau di Pulau
citra CASI yang memiliki resolusi spasial Saparua.

Gambar 3. Stasiun Validasi Vegetasi Bakau yang Ditandai dengan Warna Merah

Tabel 1. Matriks Kesalahan klasifikasi (confusion matrix)

DATA DATA REFERENSI


KLASIFIKASI Bakau Laut Darat Total Baris Omisi Pixel MA (%)
Bakau 46 7 1 54 8 78
Laut 3 40 5 48 8 70
Darat 2 2 30 34 4 75
Total /KH 51 49 36 136 20 85
Komisi Pixel 5 9 6 20

54 E-Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol.2, No.1, Juni 2010
Waas dan Nababan

Tabel 2. Perbandingan tingkat akurasi beberapa sensor satelit

Akurasi Sensor
Tipe Habitat
ETM+ ETM+ MSS XS CASI
Bakau 78* 83** 85 81 78
Sumber : Green et al. (2000)
Ket : * Hasil penelitian 2008 (tidak dipublikasikan),
** Kalay dan Waas (2005)

3.2. Pemetaan Vegetasi Bakau antara 7 - 9 m. Total luas vegetasi bakau


pada wilayah ini adalah sebesar ±
Hasil analisis citra komposit RGB 105,120 Ha (1,051 Km 2 ).
P P

453 (straching input limit 30 & 60) dan Berbeda dengan vegetasi bakau
citra klasifikasi terselia menunjukkan pantai utara dan selatan, pada wilayah
bahwa keberadaan ekosistem ini hanya pesisir barat kehadiran vegetasi ini
ditemukan menyebar pada pesisir pantai hanya terkonsentrasi pada daerah
utara, selatan dan barat pulau Saparua pertuanan Desa Porto dengan proporsi
(Gambar 4). Kehadiran vegetasi bakau terbesar terkonsentrasi pada daerah
pada setiap wilayah pesisir sangat pesisir Sirsaoni. Jalur distribusi vegetasi
spesifik dimana proporsi terbesar bakau sepanjang wilayah ini adalah ±
kehadiran dijumpai pada daerah teluk 7,01 Km. distribusi luasan secara vertikal
yang dicirikan oleh adanya pengaruh berkisar antara 340 – 1.190 m. Daerah
aliran sungai. Wilayah pantai utara distribusi kearah selatan cukup sempit
kehadiran vegetasi bakau dijumpai berkisar antara 6 – 9 m. Total luas
menyebar sepanjang pesisir Teluk vegetasi ini adalah ± 248,04 Ha (2,48
Tuhaha mulai dari Desa Kulor sampai Km 2 ). Dari ketiga wilayah distribusi ini
P P

dengan Desa Ihamahu (± 11,8 Km). dapat diketahui bahwa total luas vegetasi
Lebar luasan secara vertikal dalam hal bakau yang hidup di daerah pesisir Pulau
ini jarak batas distribusi kehadiran Saparua adalah sebesar 572,04 Ha (5,72
vegetasi bakau di darat tegak lurus Km 2 ).
P P

sampai batas distribusinya ke arah laut Dengan perbandingan proporsi


berkisar antara 30 – 940 m. Total luas luasan yang hanya 3,49% dari total luas
vegetasi bakau pada wilayah ini adalah Pulau Saparua, namun ekosistem ini
sebesar 218 ,88 Ha (2,18 Km 2 ) .
P P mampu mensuplai perairan sekitarnya
Pada wilayah pesisir selatan dengan seresah daun dan nutrien
kehadiran ekosistem ini mendominasi sehingga mampu menopang dan
daerah teluk yaitu Teluk Haria dan Teluk mempertahankan keberlangsungan
Saparua dengan sebaran vertikal aktivitas perikanan rakyat di perairan
masing-masing berkisar antara 6 – 510 m sekitar pulau tersebut , terutama perairan
dan 6 – 470 m. Sedangkan pada pesisir sekitar Teluk : Tuhaha, Haria , Saparua
selatan (Haria pantai – Waipia) jalur dan Selat Saparua.
distribusi vegetasi bakau diperkirakan
sebesar ± 4,12 Km dengan sebaran luasan
vertikal yang sangat sempit berkisar

http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt21 55
Pemetaan Dan Analisis Index Vegetasi Mangrove Di Pulau Saparua, Maluku Tengah

Gambar 4. Peta disribusi vegetasi bakau di Pulau Saparua

3.3. Indeks Vegetasi (NDVI) lebat dengan nilai berkisar antara +0,01
hingga +0,75. Distribusi nilai kerapatan
Indeks vegetasi (NDVI) dapat sangat lebat lebih dominan (lebih luas)
merepresentasikan kerapatan (biomassa) jika dibandingkan dengan kategori
atau tingkat kehijauan dihitung sebagai lainnya dan cenderung mendominasi
rasio antara pantulan terukur dari band vegetasi bakau pada wilayah ini.
merah (R) dan band infra merah dekat Nilai kategori yang sama juga
(NIR) pada spektrum gelombang ditunjukkan oleh vegetasi bakau pada
elektromagnetik. Kedua band ini dipilih wilayah pesisir pantai selatan dengan
karena hasil ukurannya paling nilai indeks berkisar antara +0,08 hingga
dipengaruhi oleh penyerapan klorofil +0,75. Kategori kerapatan vegetasi
daun. Sinar merah (R) sangat sedikit sangat lebat pada wilayah ini dominan
dipantulkan sedangkan sinar inframerah dijumpai pada vegetasi bakau di Teluk
dekat (NIR) dipantulkan dengan kuat. Haria dan Teluk Saparua dengan luasan
Secara teoritis nilai NDVI berkisar antara yang luas sedangkan pada luasan yang
-1 hingga +1 namun nilai indek vegetasi sempit kerapatan vegetasi bervariasi
bakau secara umum berada pada kisaran dengan nilai lebih rendah terutama
antara +0,1 hingga +0,7. Nilai NDVI menyebar pada bagian pesisir pantai
yang lebih besar dari kisaran ini selatan (Gambar 5).
diasosiasikan sebagai representasi dari Distribusi nilai indeks NDVI pada
tingkat kesehatan vegetasi yang lebih vegetasi bakau pesisir pantai barat
baik (Prahasta, 2008). berkisar antara +0,01 hingga +1. Sama
Hasil penelitian ini menunjukkan halnya dengan vegetasi bakau pada
sebaran indeks vegetasi bakau Pulau pantai utara dan selatan, vegetasi bakau
Saparua dipetakan seperti tertera pada pada wilayah ini juga didominasi dengan
Gambar 5. Pada peta distribusi tampak kerapatan sangat lebat yang
bahwa nilai indeks NDVI pesisir pantai terkonsentrasi pada daerah Sirsaoni
utara dikategorikan atas kerapatan (Gambar 5).
vegetasi sangat jarang hingga sangat

56 E-Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol.2, No.1, Juni 2010
Waas dan Nababan

Gambar 5. Peta disribusi kerapatan vegetasi bakau di PulauSaparua

IV. KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA

Distribusi vegetasi bakau di Pulau Bengen, D.G. 2000. Sinopsis Ekosistem


Saparua secara umum terkonsentrasi dan Sumberdaya Alam Pesisir.
pada tiga wilayah pesisir yaitu (1) pesisir Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir
pantai utara atau sepanjang pesisir Teluk dan Lautan, Institut Pertanian
Tuhaha meliputi Desa Kulor – Ihamahu Bogor. Bogor.
sebesar 218,88 Ha (38,26%); (2) pesisir Bosire, J.O., F. Dahdouh-Guebas, L.P.
pantai selatan meliputi Teluk Haria, Jayatissa, N. Koedam, D. Lo
Teluk Saparua dan pesisir Haria pantai Seen, D. Nitto. 2005. How
hingga Tiow seluas 105,12 Ha (18,38%), Effective were Mangroves as a
dan (3) wilayah pesisir pantai barat pulau Defense Against the Recent
khususnya pada pertuanan Desa Porto Tsunami? Current Biology,
dengan luasan 248,04 Ha (43,36%). 15:443-447.
Luasan total vegetasi bakau yang Bowen, J.L., I. Valiela, and J.K. York.
dipetakan adalah sebesar 572,04 Ha (5,72 2001. Mangrove Forests: One of
Km 2 ) atau 3,49 % dari total luas pulau.
P P the World's Threatened Major
Nilai indeks vegetasi (NDVI) Tropical Environments. Bio
bakau di wilayah pesisir Pulau Saparua Science, 51:10,807–10,815.
berkisar antara +0,01 hingga +1 dimana Prahasta, E. 2008. Remote Sensing.
tingkat kerapatan hutan bakau sangat Informatika bandung.
lebat (NDVI > 0,7) mendominasi English, S., C. Wilkinson, and V. Baker.
distribusi hutan bakau di daerah ini. 1994. Survey Manual For
Tropical Marine Resources.
Australia Institute of Marine
Science,Townsville Australia.

http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt21 57
Pemetaan Dan Analisis Index Vegetasi Mangrove Di Pulau Saparua, Maluku Tengah

Green, E.P., P.J. Mumbay, A.J. Edwards, dan Pulau Saparua. Skripsi.
and C.D. Clark. 2000. Remote Fakultas Perikanan dan Ilmu
Sensing Hand Book for Tropical Kelautan Universitas Pattimura.
Coastal Management.Unesco Ambon.
Publishing. Sopacua, D.C. 2002. Kajian Komunitas
Hogarth, P.J. 1999. The Biology of Bakau Di Perairan Pantai
Mangroves. Oxford University Kampung Mahu, Pulau Saparua
Press, Oxford Kabupaten Maluku Tengah.
Kalay, D.E. and H.J.D.Waas. 2005. Skripsi. Fakultas Perikanan dan
Aplikasi Data Citra Satelit Ilmu Kelautan Universitas
Landsat 7/ETM+ untuk Pattimura. Ambon.
Menentukan Kerapatan Vegetasi Susilo, S.B. 2000. Penginderaan Jauh
Bakau di Pulau Nusalaut, Maluku Terapan. Institut Pertanian Bogor.
Tengah. Triton. Jurnal Bogor.
Manajemen Sumberdaya Tahalele, G.J.M. 2001. Kajian Komunitas
Perairan. 3(1):33–40. Bakau Di Perairan Pantai Desa
Nontji, A. 1987. Laut Nusantara. Tuhaha, Pulau Saparua. Skripsi.
Djambatan Jakarta Fakultas Perikanan dan Ilmu
Pattileamonia, M.1998. Komposisi Jenis Kelautan Universitas Pattimura.
Bakau Di Desa Haria Kecamatan Ambon.
Saparua. Skripsi. Fakultas Tetelepta, B. 2007. Komposisi Jenis
Perikanan dan Ilmu Kelautan Mangrove di Desa Porto, Pulau
Universitas Pattimura. Ambon. Saparua.Yayasan Nusa Bahari,
Purwadi, F.S.H. 2001. Interpretasi Citra Ambon (Tidak Dipublikasikan).
Digital. PT.Grasindo. Jakarta. Tomlinson, P.B. 1986. The Botany of
Souisa, B.R. 2002. Tinjauan Komunitas Mangroves. Cambridge Univer-
Bakau di Kawasan Pesisir sity Press, Cambridge.
Beberapa Lokasi Pulau Haruku

58 E-Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol.2, No.1, Juni 2010