You are on page 1of 28

Tes Formatif adalah tes hasil belajar untuk mengetahui keberhasilan proses belajar mengajar

yang dilakukan oleh guru, guna memperoleh umpan balik dari upaya pengajaran yang dilakukan
oleh guru.
Tujuan : sebagai dasar untuk memperbaiki produktifitas belajar mengajar.
Contohnya: tes yang dilakukan setelah pembahasan tiap bab atau KD (kompetensi dasar).
Tes Formatif
Tes formatif adalaah tes yang diberikan kepada murid-murid pada setiap akhir program
satuan pelajaran. Fungsinya yaitu untuk mengetahui sampai dimana pencapaian hasil belajar
murid dalam penguasaan bahan atau materi pelajaran yang telah diberikan sesuai dengan tujuan
instruksional khusus yang telah dirumuskan di dalam satuan pelajaran.
Dalam penilaian formatif ini, jika tujuan-tujuan instruksional khusus telah dirumuskan
dengan tepat, distribusi tingkat kesukaran soal-soal (item tes) dan daya pembeda masing-masing
soal tidak begitu penting. Yang penting adalah bahwa setiap soal betul-betul mengukur tujuan
instruksional yang hendak dicapai yang telah dirumuskan di dalam progam satuan pelajaran.
Standar yang digunakan dalam mengolah hasil tersebut adalah standar mutlak. Dengan
menggunakan standar mutlak dimaksudkan bahwa tes ini bertujuan untuk mengetahui sejauh
mana tujuan-tujuan instruksional khusus telah dicapai oleh siswa, dan bukan untuk mengetahui
status setiap siswa dibandingkan dengan siswa-siswa lainnya dalam kelas yang sama.
Ada dua jenis pengolahan yang diperlukan di dalam penilaian formatif ini, yaitu :
1) Pengolahan untuk mendapatkan angka presentase siswa yang gagal dalam setiap soal, misalnya
:

Soal Nomer % siswa yang gagal


1 30 %
2 85 %
3 60 %
dan sebagainya dan seterusnya

Untuk soal bentuk uraian, pengertian “siswa yang gagal” di atas dapat pula diartikan sebagai
siswa yang jawabannya terhadap suatu soal dipandang kurang memuaskan..
2) Pengolahan untuk mendapatka hasil yang dicapai setipa siswa dalam tes secara keseluruhan
ditinjau dari presentase jawaban yang memuaskan, misalnya :
Hasil yang dicapai
Nama Siswa
( % jawaban yang memuaskan)
1. Iswa 90 %
2. Jamilah 60 %
3. Nurwiyatsih 75 %
dan seterusnya dan seterusnya
Sebagai contoh. Bila skor maksimum yang harus dicapai dalam suatu tes adalah 60, angka yang
dicapai Iswa dalam tes tersebut adalah :
Dengan kata lain, cara menilai tes formatif dilakukan dengan percentages correction (hasil yang
dicapai setiap siswa dihitung dari persentase jawaban yang benar).
Keteranagan :
S = niali yang diharapkan
R = jumlah skor dari item atau soal yang dijawab benar
N = skor maksimum dari tes tersebut
Tes formatif mempunyai karakteristik sebagai berikut:
· dilakukan pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar
· di lakukan secara periodik
· mencakup semua mata pelajaran yang telah di ajarkan
· bertujuan untuk mengetahui keberhasilan dan kegagalan proses belajar mengajar
· dapat di gunakan untuk memperbaiki dan menyempurnakan proses belajar mengajar.

PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN TES TULIS


1. Komponen atau Kelengkapan Sebelum Tes Terdiri Atas :
a. Buku tes, yakni lembaran atau buku yang memuat butir-butir soal yang harus dikerjakan oleh
siswa.
b. Lembaran jawaban tes, yaitu lembaran yang disediakan bagi testee untuk mengerjakan tes.
Untuk soal bentuk pilihan ganda biasanya dibuatkan lembaran nomer dan huruf a, b, c, d.
Menurut banyaknya alternatif yang disediakan.
c. Kunci jawaban tes, berisi jawaban-jawaban yang dikehendaki. Kunci jawaban ini dapat berupa
huruf-huruf yang dikehendaki. Untuk tes bentuk uraian yang dituliskan adalah kata-kata kunci
ataupun kalimat singkat untuk memberikan ancar-ancar jawaban. Ide daripada adanya kunci
jawaban ini adalah agar :
· Pemeriksaan tes dapat dilakukan oleh orang lain.
· Pemeriksaannya benar.
· Dapat dilakukan dengan mudah.
· Sedikit mungkin masuknya unsur subjektif
d. Pedoman penilaian (pedoman skoring), berisi keterangan perincian tentang skor atau angka
yang diberikan kepada siswa bagi soal-soal yang telah dikerjakan.
2. Hal-hal yang harus di lakuakn sebelum menulis soal tes tulis
sebelum menulis soal maka hal-hal yang harus di lakukan diantaranya yaitu:
· menentukan tujuan tes
· menyusun kisi-kisi soal
· penulisan soal
· pemberian skor
· pelaporan hasil tes
Contoh pedoman penilaiaan :
· Tiap soal diberi skor 1.
Jumlah skor : 1x10 = 10.
· Tiap soal diberi skor 2.
Julah skor : 2x5 = 10
· Jumlah skor 20
Skor maksimum 40

B. TES TULIS
1. Pengartian Tes Tulis
Tes secara harfiah berasal dari bahasa perancis kuno “testum” artinya piring untuk
menyisihkan logam-logam mulia. Tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan atau alat lain
yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan, kecerdasan, kemampuan, atau bakat
yang dimiliki seseorang atau kelompok.
Tes juga dapat didefinisikan sebagai himpunan pertanyaan yang harus dijawab atau
pertanyaan yang harus dipilih dengan tujuan untuk mengukur aspek perilaku tertentu dari orang
yang dikenai tes.
Tes Tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik
dalam bentuk tulisan. Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk
menulis jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda, mewarnai,
menggambar dan lain sebagainya. Tes tulis merupakan suatu tes yang menuntut siswa
memberikan jawaban secara tertulis.
Tes tertulis mempunyai dua macam yaitu yang pertama Tes obyektif (tes tertulis yang
menuntut siswa memilih jawaban yang telah disediakan atau memberikan jawaban singkat dan
terbatas), yang kedua yaitu Tes Subjektif/Essai (tes tertulis yang meminta siswa memberikan
jawaban berupa uraian atau kalimat yang panjang-panjang. Panjang pendeknya tes essai adalah
relatif, sesuai kemampuan si penjawab tes).
2. Komponen Kisi-Kisi Tes Tulis
Sebelum menulis soal tes tulis, salah satu hal yang harus dilakukan adalah menysun kisi-
kisi tes. Kisi-kisi tes atau blue print, table of specification, lay-out, plan, or frame work berfungsi
sebagai pedoman dalam penulisan soal dan perakitan tes.
Komponen kisi-kisi tes yaitu :
· Jenis sekolah/kelas/semester
· Mata pelajaran
· Kurikulum yang diacu
· Alokasi waktu
· Jumlah soal
· Bentuk soal
· Bahan-bahan pengajaran yang akan diukur
· Jenis kompetensi yang akan diukur (ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis,
evaluasi)
· Banyaknya soal yang akan disusun untuk masing-masing bahan pengajaran dan
kompetensi/aspel intelektual yang akan diukur.
· Bentuk soal
· Tingkat kesukaran masing-masing soal.
3. Langkah-Langkah Pembuatan Kisi-Kisi
Langkah-langkah pembuatan/pengisian kisi-kisi, yaitu :
· Mendaftar pokok-pokok materi yang akan diteskan (berdasarkan silabus)
· Memberikan imbangan bobot/presentase untuk masing-masing pokok materi (berdasarkan
pada luas dan tingkat kedalaman materi)
· Merinci banyaknya butir soal (proporsi jumlah item) untuk tiap-tiap materi.
· Menentukan proporsi/prosentase untuk setiap pokok aspek intelektual yang diukur bagi setiap
pokok-pokok materi (perhatikan homogenitas dan heterogenitas bahan).
· Mengisi sel-sel dalam kisi-kisi
· Pemberian nomor item.
PENYUSUNAN SOAL BENTUK TES TULIS
1. Dasar-Dasar Penyusunan Tes Tertulis
· Tes harus dapat mengukur apa-apa yang dipelajari dalam proses belajar mengajar sesuai
dengan tujuan instruksional ynag tercantum di dalam kurikulum yang berlaku.
· Tes yang tersusun benar-benar mewakili bahan yang telah dipelajari.
· Tes hendaknya disesuaikan dengan aspek-aspek tingkat belajar yang diharapkan.
· Tes hendaknya disusun sesuai dengan tujuan penggunaan tes itu sendiri, karena tes dapat
disusun untuk keperluan : pretes/postes, materi tes, tes diagnostic, tes prestasi belajar, tes
formatif, dan tes sumatif.
· Tes hendaknya dapat diguankan untuk memperbaiki proses belajar mengajar.
· Tes yang disusun mempertimbangkan proporsi tingkat kesulitan dan kesesuaiannya dengan
taraf kemampuan siswa.
· Petunjuk pengerjaan soal jelas dan sesuai dengan persoalan yang disajikan.
· Tes disusun dengan mempertimbangkan kaidah-kaidah penulisan soal pada masing-masing
jenis soal.
· Penulisan soal menggunakan bahasa yang benar.

2. Cara Penyusunan Bentuk Soal Tes Tulis


Ada dua bentuk penyusunan soal tes tertulis, yaitu:
1. Soal dengan memilih jawaban. Seperti pilihan ganda, dua pilihan (benar-salah, ya-tidak), dan
menjodohkan.
a. Pilihan Ganda (multiple choice test)
Tes pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat dan memahami.
Pilihan ganda mempunyai kelemahan, yaitu peserta didik tidak mengembangkan sendiri
jawabannya tetapi cenderung hanya memilih jawaban yang benar dan jika peserta didik tidak
mengetahui jawaban yang benar, maka peserta didik akan menerka. Hal ini menimbulkan
kecenderungan peserta didik tidak belajar untuk memahami pelajaran tetapi menghafalkan soal
dan jawabannya. Alat penilaian ini kurang dianjurkan pemakaiannya dalam penilaian kelas
karena tidak menggambarkan kemampuan peserta didik yang sesungguhnya. Keunggulan soal
bentuk pilihan ganda diantaranya adalah dapat mengukur kemampuan / perilaku secara objektif.
Contoh soal pilihan ganda :
Berilah tanda (x) huruf a, b, c, d pada jawaban yang benar!
Jika musim hujan, maka harga payung naik. Jika harga payung naik, maka Iswa tidak membeli
payung. Jadi, jika musim hujan, maka Iswa tidak membeli payung.
Penarikan kesimpulan seperti diatas disebut.......
a. silogisme c. konklusi e. Modus tollens
b. hipotesis d. modus ponens
Bentuk tes pilihan ganda (PG) ini merupakan bentuk tes objektif yang paling banyak
digunakan karena banyak sekali materi yang dapat dicekup. Bentuk-bentuk soal yang digunakan
yang ada dalam Ebtanas maupun UMPTN yaitu :
· Pilihan ganda bisa.
· Hubungan antar hal (pernyataan-SEBAB-pernyataan).
Contoh soal bentuk hubungan antarhal yang terdiri dari dua buah pertnyataan dengan kata
“sebab” di antara keduanya, sudah disajaikan sebagai contoh soal analisis.
· Kasus (dapat muncul dalam berbagai bentuk).
· Diagram, gambar, tabel, dan sebagainya.
· Asosiasi. Contoh soal bentuk asosiasi yaitu :
Petunjuk pilihan :
ü Jika (1), (2), dan (3) betul
ü Jika (1) dan (3) betul
ü Jika (2) dan (4) betul
ü Jika hanya (4) yang betul
ü Jika semuanya betul
Soal :
Ditinjau dari tata bentuk kata, maka gabungan kata yang betul diantara empat gabungan
kata berikut adalah :
(1) Perserikatan bangsa-bangsa
(2) Para alumnus
(3) Suatu pemikiran-pemikkiran
(4) Dewan gereja
Cara memilih jawaban dapat dilakukan dengan jalan :
a) Mencoren kemungkinan jawaban yang tidsk benar
b) Memberi garis bawah pada jawaban yang benar (dianggap benar)
c) Melingkari atau memberi tanda kurung pada huruf didepan jawaban yang dianggap benar.
Yang sering kita temui adalah melingkari huruf di depan jawaban yang dianggap benar.
d) Membubuhkan tanda kali (X) atau tanda (-) di dalam kotak atau tanda kurung didepan jawaban
yang yang telah disediakan.
e) Menuliskan jawaban pada tempat yang telah disediakan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tes pilihan ganda diantanyanya yaitu :
1) Instruksi pengerjaanya harus jelas, dan bila dipandang perlu baik disertai contoh
mengerjakannya.
2) Dalam pilihan ganda hanya ada “satu” jawaban yang benar. Jadi tidak mengenal tingkatan-
tingkatan benar, misalnya benar nomer satu, benar nomer dua, dan sebagainya.
3) Kalimat pokoknyan hendaknya mencakup dan sesuai dengan rangkaian manapun yang dapat
dipilih.
4) Kalimat pada tiap butir soal hendaknya sesingkat mungkin.
5) Usahakan menghindarkan penggunaan bentuk negatif dalam kalimat pokoknya.
6) Dilihat dari segi bahasanya, butir-butir soal jangan telalu sukar.
7) Susunlah agar jawaban manapun mempunyai kesesuaian tata bahasa dengan kalimat pokoknya.
8) Alternatif-alternatif yang disajikan hendaknya agak seragamdalam panjangnya, sifat uraianya
maupun taraf teknis dan agak bersifat homogen mengenai mengenai isinya dan bentuknya.
9) Hindarkan pengulangan suara atau penglangan kata pada kalimat pokok di alternatif-
alternatifnya, karena anak akan cenderung memilih alternatif yang mengandung pengulangan
tersebut. Hal ini disebabkan karena dapat diduga itulah jawaban yang benar.
10) Hindarkan menggunakan susunan kalimat dalam buku pelajaran . karena yang terungkap
mungkin bukan pengertiannya melainkan hafalannya.
11) Soal harus sesuai dengan indicator
12) Pilihan jawaban harus homogen da logis dari segi materi
13) Menggunakan bahasa baku
14) Menggunkana bahasa komunikatif, lugas dan tidak menimbulkan penafsiran ganda.
Efektifitas pengecoh di lakukan dengan menghitung peserta tes yang memilih tiap
alternatif jawaban pada masing-masing item. Kriteria pengecoh yang baik adalah apabila
pengecoh tersebut di pilih paling sedikit 5% dari peserta tes.
Cara mengolah skor pilihan ganda yaitu :
Untuk mengolah skor dalam tes pilihan ganda ini di gunakan dua macam rumus, yaitu:
a) Dengan denda, Degan rumus :
S=R-

S = skor yang di peroleh (Raw Skor)


R = jawaban yang betul
W = jawaban yang salah
n = banyaknya opinion
1 = bilanngan tetap
Contoh : murid menjawab betul 17 soal dari 20 soal. Soal bentuk multiple choise ini dengan
menggunakan opinion sebanyak 4 buah.
Skor = 17 - = 16
b) Tanpa denda, dengan rumus :
S=R

b. Soal dengan Dua Pilihan Jawaban (Benar-Salah, Ya-Tidak)


Bentuk soal dua pilihan jawaban (true-false) ini menuntut peserta tes untuk memilih dua
kemungkinan jawaban yaitu benar dan salah atau ya dan tidak. Bentuk benar salah ada dua
macam (dilihat dari segi mengerjakan/menjawab soal), yakni :
· Dengan pembetulan (with correction) yaitu siswa diminta membetulkan bila ia memilih
jawaban yang salah.
· Tampa pembetulan (without correction) yaitu siswa hanya diminta melingkari huruf B atau
tanpa memberikan jawaban yang benar.
Kaedah penulisan soal dengan dua pilihan yaitu :
a) Hindari penggunaan kata terpenting, selalu, tidak pernah, hanya sebagian besar dan kata
lainnya yang sejenis, karena dapat membingungkan peserta tes.
b) Jumlah rumusan pernyataan butir soal hendaknya relatife sama.
c) Hindari pernyataan negative! Contoh: (B-S) Haji bukan rukun islam
d) Hindari penggunaan kata yang dapat menimbulkan penafsiran ganda! Contoh: (B-S) Banyak
anak sekolah yang terlibat tawuran
e) Hindari pengambilan kalimat langsung dari buku teks, hal ini cenderung membuat peserta tes
untuk menghafal daripada memahami dan menguasai konsep.
Kebaikan tes benar salah :
· Dapat mencakup bahan yang luas dan tidak banyak memakan tempat karena biasanya
pertanyaan-pertanyaannya singkat saja.
· Mudah menyusunnya.
· Dapat digunakan berkali-kali.
· Dapat dilihat secara cepat dan objektif
· Petunjuk cara mengerjakaannya mudah dimengerti.
Kekurangan tes benar salah :
· Sering membingungkan.
· Mudah ditebak atau diduga.
· Banyak masalah yang tidak dapat dinyatakan hanya dengan dua kemungkinan benar atau salah.
· Hanya dapat mengungkap daya ingatan dan pengenlan kembali.
Contoh soal :
Mana diantara bentuk soal di bawah ini yang tepat!
B S Gunung Kelud terletak di Propinsi Jawa Timur
B S Gunung Kelud letaknya bukan di Propinsi Jawa Timur
Cara mengolah skor
a. Dengan denda
S=R-W

S = skor yang diperoleh


R = jawaban benar
W = jawaban salah
Contoh :Jumlah soal = 10 buah
Iswa menjawab betul 8 soal, maka skor yang diperoleh berlian 8 – 2 = 6
Atau menggunakan rumus kedua yaitu :
S=T-2W

Ket : T singkatan dari total (jumlah soal dalam tes)


Contoh : iswa menjawab soal yang salah sebanyak 4 soal dari 20 soal. Maka skor yang diperoleh
isawa adalah s=10-(2x2)=6
b. Tanpa denda
S=R

(untuk soal yang tidak dikerjakan nilainya 0)


c. Bentuk Soal Menjodohkan (matching)
Bentuk soal menjodohkan yaitu bentuk soal yang memasangkan kalimat satu dengan
kalimat lain yang merupakan jawaban dari kalimat tersebut (memiliki hubungan satu sama lain).
Soal bentuk menjodohkan (matching) adalah bentuk soal yang terdiri atas dua kelompok
pernyataan. Lajur sebelah kiri merupakan soal atau pernyataan, sedangkan lajur sebelah kanan
merupakan jawaban atau respon.
Kaidah penulisan soal menjodohkan adalah sebagai berikut :
· Tulislah seluruh pernyataan soal disebelah kiri!
· Tuliskan seluruh pernyataan jawaban disebelah kanan!
· Beri petunjuk yang baik berdasarkan pencocokan!
· Buat semua jawaban masuk akal!
· Jawaban harus pendek
· Pernyataan jawaban harus lebih banyak daripada pernyataan soal
Contoh soal :
Pasangkan pertanyaan di lajur kiri dengan jawaban di sebelah kanan
1. Transmigrasi ……….. a. Pindahnya penduduk antara pulau di dalam satu Negara
2. Imigrasi …………….. b. Pindahnya penduduk dari desa ke kota
c. pindahnya penduduk ke Negara lain
Cara Mengolah Skor
S=R
Skor dihitung berdasarkan jawaban yang benar saja

2. Soal dengan mensuplai-jawaban. Seperti isian atau melengkapi, jawaban singkat atau pendek,
dan soal uraian.
a. Bentuk Soal melengkapi
Soal melengkapi adalah soal yang menuntut peserta tes untuk memberikan jawaban atau
melengkapi tes berupa kata, frase, angka atau symbol.
Kaidah penulisan soal melengkapi :
· Dalam membuat pertanyaan jangan terlalu banyak kata yang dihilangkan
· Jawaban yang diinginkan benar-benar dibatasi
· Jika pernyataan memerlukan jawaban berupa angka, nyatakan dalam satuan-satuan tertentu
· Jangan mengambil langsung dari buku teks
Cara menskor bentuk soal melengkapi :
S=R

Contoh soal :
1. Piso Surit dan Sengko adalah lagu-lagu daerah dari propinsi mana?
…………..
2. Air akan membeku pada suhu ………. Derajat Fahrenheit
b. Bentuk Soal Tes Jawaban Singkat Atau Pendek
Soal bentuk jawaban singkat adalah soal yang jawabannya ditandai dengan adanya
tempat kosong yang disediakan bagi pembuat tes untuk menuliskan jawabannya sesuai dengan
petunjuk.
Kaidah Penulisan tes jawaban singkat
· Soal harus sesuai dengan indicator
· Jawaban yang benar hanya satu
· Rumusan kalimat soal harus komunikatif
· Butir soal menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
· Tidak menggunakan bhasa local
S=R
Cara menskor tes jawaban singkat atau pendek :

Contoh soal bentuk melengkapi (completion)/jawaban singkat.


umrah sering disebut dengan…………….
Presiden RI saat ini ialah………………..
Dari berbagai alat penilaian tertulis, tes memilih jawaban benar-salah, isian singkat, dan
menjodohkan merupakan alat yang hanya menilai kemampuan berpikir rendah, yaitu
kemampuan mengingat (pengetahuan).
c. Bentuk Soal Uraian
Tes tertulis bentuk uraian adalah alat penilaian yang menuntut peserta didik untuk
mengingat, memahami, dan mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal yang sudah dipelajari,
dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulis
dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Alat ini dapat menilai berbagai jenis kemampuan,
misalnya mengemukakan pendapat, berpikir logis, dan menyimpulkan. Kelemahan alat ini antara
lain cakupan materi yang ditanyakan terbatas serta sulit untuk menyusun pedoman
penskorannya.
Menulis soal uraian diperlukan ketepatan dan kelengkapan dalam merumuskan soalnya.
Berdasarkan penskorannya, tes uraian dibagi menjadi dua:
1. Soal uraian terikat, yaitu soal atau pertanyaan yang menuntut jawaban dengan
pengertian/konsep tertentu.
2. Soal uraian bebas, yaitu soal yang menuntut jawaban berupa pengertian/konsep menurut
pendapat setiap peserta tes sehingga penskorannya sukar dilakukan secara objektif.
Kaidah penulisan soal uraian:
· Mengacu pada kompetensi
· Pertanyaan harus menggunakan kata Tanya yang menuntut jawaban terurai, seperti mengapa,
jelaskan, bandingkan, hubungkan, buktikan dan hitunglah
· Petunjuk harus jelas sehingga peserta didik mudah mengerjakannya
· Dilengkapi dengan pedoman penskoran
· Hal-hal yang menyertai soal, seperti tabel, bambar, grafik, peta, atau yang sejenisnya harus
disajikan dengan jelas
· Bahasa harus komunikasi
· Rumusan kata-kata tidak boleh menimbulkan penafsiran ganda
· Menggunakan bahasa baku
Perhatikan contoh berikut
Contoh 1 soal uraikan terikat
Kompetensi dasar:
Memahami bangun segitiga
Masalah
Iswa mengatakan,”Saya dapat menggambarkan sebuah segitiga dengan dua sudutnya
siku-siku”. Setujukah kamu dengan pendapat intan? Jelaskan alasanmu!
Level Diskripsi dan contoh jawaban peserta didik
0 Jawaban yang sesuai. Tidak menggunakan bahasa Geomertri.
“Saya setuju dengan intan karena ia dapat mengerjakannya”
1 Jawaban salah, tetapi beberapa alasan dicoba dikemukakan. “Ya,
karena semua segitiga memiliki sudut siku-siku dan lawannya”.
“Ya, kita dapat membuat yang satu di atas dan yang satu di
bawah.” Sebagian dijawab benar tetapi penalarannya salah:
“Tidak, karena semua segitiga memiliki segitiga siku-siku”.
2 Jawaban benar, tetapi penalarannnya tidak lengkap atau jelas.
“Tidak, karena kita hanya dapat menempatkan satu segitiga siku-
siku pada sebuah segitiga”
“Tidak, ini mungkin persegi atau persegi panjang”.
3 Jawaban benar, tetapi penalarannya baik. Penjelasannya lebih
lengkap dari level 2, tetapi mengandalkan pada pengetahuan
kongkret atau visual daripada pengetahuan abstrak.
“Karena jika kita menempatkan 2 sudut siku-siku secara
bersama, kita memilki 3 sisi, dan sisi-sisi tersebut tidak tertutup.”
“Tidak, karena jika kita menggambarkan 2 sudut siku-siku dan
mencoba menghubungkannya, kita akan mendapatkan persegi
atau persegi panjang, dua sudut siku-siku selalu memiliki 3 sisi.”
4 Jawaban yang sempurna, peserta didik menggunakan
pengetahuan dari segitiga dan sudut.
“segitiga memiliki tiga sudut dan jumlahnya180, jika ada dua
segitiga siku-siku, maka besarnya 180, tetapi ini hanya dua
sudut.”
“Bagaimana mungkin kita memiliki dua sudut siku-siku yang
berarti sama dengan 180 karena kita hanya memiliki 2/3 dari
segitiga yang kita kerjakan?”
“Kita akanmemiliki dua sisi parallel”

S=R
Cara menskor :

Dalam menyusun instrumen penilaian tertulis perlu dipertimbangkan hal-hal berikut.


· materi, misalnya kesesuian soal dengan indikator pada kurikulum;
· konstruksi, misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas.
· bahasa, misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/ kalimat yang menimbulkan
penafsiran ganda.
3. Ciri-Ciri Tes
Tes yang baik memiliki kriteria atau ciri-ciri. Ciri-ciri tes yang baik yaitu:
a. Validitas
Jika data yang dihasilkan oleh instrumen benar dan valid, sesuai dengan kenyataan. Maka
instrumen yang digunakan tersebut juga valid. Sebuah tes disebut valid apabila tes itu dapat tepat
mengukur apa yang hendak diukur.
b. Reliabilitas
Kata reabilitas dalam bahasa Indonesia diambil dari kata reliability dalam bahasa inggris, berasal
dari kata reliable yang artinya dapat dipercaya. Jika dihubungkan dengan validitas maka validitas
adalah ketepatan sedangkan reliabilitas adalah ketetapan.
c. Objektivitas
Sebuah tes dikatakan memiliki objektivitas apabila dalam melaksanakan tes itu tidak ada faktor
subjektif yang mempengaruhi. Hal ini terutama terjadi pada sistem skoringnya. Apabila
dikaitkan dengan reliabilitas maka objektivitas menekankan ketetapan dalam hasil tes.
d. Praktikabilitas
Sebuah tes dikatakan memiliki praktikabilitas yang tinggi apabila tes tersebut bersifat praktis
(mudah dilaksanakan, mudah pemeriksaannya), mudah pengadministrasiaanya.
e. Ekonomis
Yang dimaksud dengan ekonomis disini adalah bahwa pelaksanaan tes tersebut tidak
membutuhkan ongkos/biaya yang mahal, tenaga yang banyak dan waktu yang lama.

E. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN TES TULIS


1. Kelebihan Tes tulis (Tes obyektif ) yaitu :
a. Dapat mencakup ruang lingkup materi yang luas
b. Lebih representatif mewakili isi dan luas bahan, lebih objektif, dapat dihindari campur tangan
unsur-unsur subjektif baik dari segi siswa maupun segi guru yang memeriksa
c. Lebih mudah dan cepat cara pemeriksaannya karena dapat menggunakan kunci tes bahkan alat-
alat hasil kemajuan teknologi.
d. Pemeriksaannya dapat diserahkan kepada orang lain.
e. Dalam pemeriksaannya tidak ada unsur subjektif yang mempengaruhi.
2. Kekurangan tes tulis (tes obyektif) yaitu :
a. persiapan untuk menyusunnya jauh lebih sulit daripada tes esay karena soalnya banyak dan
harus teliti untuk menghindari kelemahan-kelemahan yang lain (yang diukur cenderung aspek
kognitif tingkat rendah)
b. Soal-soalnya cenderung untuk mengungkapakan ingatan dan daya pengenalan kembali saja,
dan sukar untuk mengukur proses mental yang tinggi.
c. Banyak kesempatan untuk main untung-untungan.
d. Kerjasama antarsiswa pasa waktu mengerjakan soal tes lebih terbuka.
e. Tidak menuntut penalaran siswa.
f. Tidak membutuhkan pemikiran analistis maupun sistematis.
3. Kelibihan Tes Tulis (Tes Subjektif) yaitu :
a. Penyusunan soalnya mudah disiapkan dan disusun.
b. Tidak memberi banyak kesempatan untuk berspekulasi atau untung-untungan (menebak
jawaban).
c. Mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat serta menyusun dalan bentuk kalimat
yang bagus
d. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengutarakan maksudnya dengan gaya bahasa
dan caranya sendiri.
e. Dapat diketahui sejauh mana siswa mendalami suatu masalah yang diteskan.
f. Dapat melatih siswa berfikir logis, analistis, dan sistematis.
4. KekuranganTes Tulis (Tes Subjektif) yaitu :
a. Kadar validitas dan realibilitas rendah karena sukar diketahui segi-segi mana dari pengetahuan
siswa yang betul-betul telah dikuasai.
b. Kurang representatif dalam hal mewakili seluruh scope bahan pelajaran yang akan dites karena
soalnya hanya beberapa saja (terbatas).
c. Cara memeriksanya banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur subjektif.
d. Pemeriksaanya lebih sulit sebab membutuhkan pertimbangan individual lebih banyak dari
penilai.
e. Waktu untuk koreksinya lama dan tidak dapat diwakilkan kepada orang lain.
f. Cakupan materi terbatas atau sempit.
g. Yang diukur cenderung tingkat kecerdasan kognitif tinggi
Ket : apa yang menjadi kelebihan dalam tes objektif merupakan kelemahan dalam tes subjektif
dan sebaliknya.
Langkah-Langkah Pengembangan Tes
Eureka Pendidikan. Ada delapan langkah yang perlu ditempuh dalam mengembangkan tes hasil
belajara atau prestasi belajar, yaitu : (1) menyusun spesifikasi tes; (2) menulis soal tes;
(3)menelaah soal tes; (4) melakukan ujicoba tes; (5) menganalisis butir soal; (6) memperbaiki
tes; (7) merakit tes; (8) melaksanakan tes; (9) menafsirkan hasil tes (Mardapi, 2007: 88).
1. Menyusun Spesifikasi Tes
Langkah awal dalam mengembangkan tes adalah menetapkan spesifikasi tes yang berisis tentang
uraian yang menunjukkan keseluruhan karakteristik yang harus dimiliki suatu tes. Spesifikasi tes
akan mempermudah dalam menulis soal dan siapa saja yang menulis soal akan menghasilkan
tingkat kesulitan yang relatif sama. Penyusunan spesifikasi tes mencakup kegiatan berikut ini :
a. Menentukan Tujuan Tes
Terdapat empat macam tes yang digunakan lembaga pendidikan, yaitu tes penempatan, tes
diagnostik, tes formatif, dan tes sumatif.

Tes Penempatan

Tes ini dilakukan di awal pelajaran. Hasil tes ini digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan
yang telah dimiliki peserta didik.

Tes Diagnostik
Tes diagnostik berguna untuk mengetahui kesulitan belajar yang dihadapi peserta didik termasuk
kesalahan pemahaman konsep. Tes ini dilakukan jika diperoleh informasi bahwa sebagian besar
peserta didik gagal dalam mengikuti proses pembelajaran.

Tes Formatif

Tes formatif bertujuan untuk memperoleh masukan tentang keberhasilan pelaksanaan proses
pembelajaran. Tes ini dilakukan secara periodik sepanjang semester. Materi tes dipilih
berdasarkan tujuan pembelajaran tiap pokok bahasan atan sub pokok bahasan.

Tes Sumatif

Tes sumatif diberikan di akhir pelajaran, atau akhir semester. Hasil ini menentukan keberhasilan
belajar peserta didik untuk mata pelajaran tertentu.

soal, tes, pengembangan tes, sumatif, formatif, diagnostik

b. Menyusun Kisi- Kisi


Kisi-kisi merupakan tabel matrik yang berisi spesifikasi soal-soal yang akan dibuat. Kisi- kisi ini
merupakan acuan bagi pembuat soal sehingga siapapun yang menulis soal akan menghasilkan
soal yang isi dan tingkat kesulitannya relatif sama. Terdapat empat langkah dalam
mengembangkan kisi-kisi tes, yaitu :

Menulis tujuan umum


Membuat daftar pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang akan diujikan
Membuat indikator
Menentukan jumlah soal tiap pokok bahasan dan subpokok bahasan

c. Menentukan Bentuk Tes


Bentuk tes objektif yang sering digunakan adalah bentuk pilihan ganda, benar-salah, menjodohkan,
dan uraian objektif. Tes uraian dapat dikategorikan uraian objektif dan non-objektif. Tes uraian
yang objektif sering digunakan pada sains dan teknologi atau biadang sosial yang jawaban
soalnya sudah pasti, dan hanya satu jawaban yang benar. Tes uraian non-objektif sering
digunakan pada bidang ilmu sosial, yaitu yang jawabannya luas dan tidak hanya satu jawaban
yang benar, tergantung argumentasi peserta tes. Bentuk tes dikatakan non-objektif apabila
penilaian yang dilakukan cenderung dipengaruhi subjektivitas dari penilai.

d. Menentukan Panjang Tes


Penentuan panjang tes berdasarkan pada cakupan materi ujian dan kelelahan peserta tes. Pada
umumnya tes tertulis menggunakan waktu 90 menit sampai 150 menit, namun untuk tes jenis
praktek bisa lebih dari itu. Penentuan panjang tes berdasarkan pengalaman saat melakukan tes.
Khusus untuk tes baku penentuan waktu berdasarkan hasil uji coba. Namun tes untuk ulangan di
kelas penentuan waktu berdasarkan pengalaman dari tiap tenaga pengajar.Waktu yang
diperlukan untuk mengerjakan tes bentuk pilihan ganda adalah 2 sampai 3 menit untuk tiap butir
soal bergantung pada tingkat kesulitan soal. Untuk tes bentuk uraian tes ditententuka berdasarkan
pada kompleksitas jawaban yang dituntut.
2. Menulis Soal Tes
Penulisan soal merupakan langkah menjabarkan indikator menjadi pernyataan-pernyataan yang
karakteristiknya sesuai dengan kisi-kisi yang telah dibuat. Setiap pertanyaan perlu disusun
dengan baik sehingga jelas hal yang ditanyakan dan jelas pula jawabannya.

3. Menelaah Soal Tes


Menelaah soal perlu dilakukan untuk memperbaiki soal jika ternyata dalam pembuatannya masih
ditemukan kekurangan dan kesalahan. Telaah dilakukan oleh ahli yang secara bersama atau
individu mengoreksi soal yang telah dibuat.
4. Melakukan Ujicoba Tes
Tahap ini dilakukan untuk memperbaiki kualitas soal yang telah disusun. Data yang diperoleh adalah
data empirik, terkait reliabilitas, validitas, tingkat kesukaran, pola jawaban, efektifitas pengecoh,
daya beda, dan lain-lain.
5. Menganalisis Butir Soal
Tiap butir soal perlu dianalisis lebih lanjut. Melalui ananlisis butir ini dapat diketahui antara lain:
tingkat kesukaran butir soal, daya beda, dan juga efektifitas pengecoh
6. Memperbaiki Tes
Langkah selanjutnya adalah memperbaiki bagian soal yang belum sesuai dengan yang diharapkan
berdasarkan analisis butir soal. Beberapa butir soal mungkin sudah ada yang baik, butir soal yang
kurang baik diperbaiki kembali, sedangkan butir yang lain dapat dibuang jika tidak memenuhi
standar kualitas yang diharapkan.
7. Merakit Tes
Keseluruhan butir soal yang sudah dianalisis dan diperbaiki kemudian dirakit menjadi satu kesatuan
tes. Dalam merakit soal, hal-hal yang dapat mempengaruhi validitas soal seperti nomor urut soal,
pengelompokan butir soal, lay out, dan sebagainya juga harus diperhatikan.
8. Melaksanakan Tes
Selanjutnya, tes yang telah disusun diberikan kepada testee (orang yang ditujukan untuk
mengerjakan tes). Pelaksanaan tes memerlukan pemantauan atau pengawasan agar tes tersebut
benar-benar dikerjakan oleh testee dengan jujur dan sesuai dengan ketentuan yang telah
digariskan.
9. Menafsirkan Hasil Tes
Hasil tes menghasilkan data kuantitatif berupa skor. Skor kemudian ditafsirkan menjadi nilai,
rendah, menengah, dan tinggi. Tinggi rendahnya nilai dikaitkan dengan acuan penilaian. Ada dua
macam acuan penilaian yang sering digunakan dalam psikologi dan pendidikan, yaitu acuan
norma dan kriteria.

Referensi
Mardapi, D. (2007). Teknik penyusunan instrumen tes dan nontes. Yogyakarta: Mitra Cendikia
Press.
Tes Formatif

Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir pembahasan suatu pokok
bahasan / topik, dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh manakah suatu proses pembelajaran
telah berjalan sebagaimana yang direncanakan. Winkel menyatakan bahwa yang dimaksud
dengan evaluasi formatif adalah penggunaan tes-tes selama proses pembelajaran yang masih
berlangsung, agar siswa dan guru memperoleh informasi (feedback) mengenai kemajuan yang
telah dicapai. Sementara Tesmer menyatakan formative evaluation is a judgement of the
strengths and weakness of instruction in its developing stages, for purpose of revising the
instruction to improve its effectiveness and appeal. Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengontrol
sampai seberapa jauh siswa telah menguasai materi yang diajarkan pada pokok bahasan tersebut.
Wiersma menyatakan formative testing is done to monitor student progress over period of time.
Ukuran keberhasilan atau kemajuan siswa dalam evaluasi ini adalah penguasaan kemampuan
yang telah dirumuskan dalam rumusan tujuan (TIK) yang telah ditetapkan sebelumnya. TIK
yang akan dicapai pada setiap pembahasan suatu pokok bahasan, dirumuskan dengan mengacu
pada tingkat kematangan siswa. Artinya TIK dirumuskan dengan memperhatikan kemampuan
awal anak dan tingkat kesulitan yang wajar yang diperkiran masih sangat mungkin dijangkau/
dikuasai dengan kemampuan yang dimiliki siswa. Dengan kata lain evaluasi formatif
dilaksanakan untuk mengetahui seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai. Dari
hasil evaluasi ini akan diperoleh gambaran siapa saja yang telah berhasil dan siapa yang
dianggap belum berhasil untuk selanjutnya diambil tindakan-tindakan yang tepat. Tindak lanjut
dari evaluasi ini adalah bagi para siswa yang belum berhasil maka akan diberikan remedial, yaitu
bantuan khusus yang diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan memahami suatu pokok
bahasan tertentu. Sementara bagi siswa yang telah berhasil akan melanjutkan pada topik
berikutnya, bahkan bagi mereka yang memiliki kemampuan yang lebih akan diberikan
pengayaan, yaitu materi tambahan yang sifatnya perluasan dan pendalaman dari topik yang telah
dibahas.
Pengertian Tes
Tes secara sederhana dapat diartikan sebagai himpunan pertanyaan yang harus dijawab,
pernyataan-pernyataan yang harus dipilih/ditanggapi, atau tugas-tugas yang harus dilakukan oleh
peserta tes dengan tujuan untuk mengukur suatu aspek tertentu dari peserta tes. Dalam kaitan
dengan pembelajaran aspek tersebut adalah indikator pencapaian kompetensi. Tes berasal dari
bahasa Perancis yaitu “testum” yang berarti piring untuk menyisihkan logam mulia dari material
lain seperti pasir, batu, tanah, dan sebagainya. Kemudian diadopsi dalam psikologi dan
pendidikan untuk menjelaskan sebuah instrumen yang dikembangkan untuk dapat melihat dan
mengukur dan menemukan peserta Tes yang memenuhi criteria tertentu. Cronbach(dalam
Azwar, 2005) mendefinisikan tes sebagai “a systematic procedure for observing a person’s
behavior and describing it with the aid of a numerical scale or category system”. Sedangkan
Menurut Ebster’s Collegiate (dalam Arikunto, 1995), tes adalah serangkaian pertanyaan atau
latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensia,
kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Dalam perkembangannya
istilah tes diadobsi dalam psikologi dan pendidikan.
Tes pada dasarnya adalah alat ukur atribut psikologis yang objektif atas sampel perilaku
tertentu.
Dalam psikologi, tes dapat diklasifikasikan menjadi empat, yaitu:

a. tes yang mengukur intelegensia umum yang dirancang untuk mengukur kemampuan
umum seseorang dalam suatu tugas
b. tes yang mengukur kemampuan khusus atau tes bakat yang dibuat untuk mengungkap
kemampuan potensial dalam bidang tertentu
c. tes yang ditujukan untuk mengukur prestasi yang digunakan untuk mengungkapkan
kemampuan aktual sebagai hasil belajar
d. tes yang mengungkap aspek kepribadian (personality assesment) yang bertujuan
mengungkap karakteristik individual subjek dalam aspek yang diukur.

2.2. Jenis- Jenis Tes


Apabila kita membahas jenis-jenis tes, maka kita akan dapat mencermati dalam lima jenis atau
cara pembagian yaitu:

A. Pembagian jenis tes berdasarkan tujuan penyelenggaraan.


a. Tes Seleksi (Selection Test)
Penentuan jenis kemampuan dan tingkat penguasaan pada tes seleksi, sepenuhnya
tergantung pada kebutuhan akan kemampuan yang dibutuhkan untuk dapat mengikuti kegiatan.
Dengan demikian, berdasarkan hasil tes seleksi, seseorang dapat dinyatakan diterima atau
berhasil dan tidak diterima atau tidak lolos untuk mengikuti program kegiatan yang
direncanakan. Sebagai contoh, jika kita menyelenggarakan tes seleksi untuk pemandu wisata,
maka akan lebih baik menitikberatkan kemampuan berbicara daripada kemampuan menulis.
b. Tes Penempatan (Placement Test)
Adalah suatu keniscayaan bahwa kemampuan seseorang tidaklah bisa sama. Sekelompok
orang barangkali memiliki kemampuan lebih tinggi dari pada kelompok lainnya. Permasalahan
yang muncul adalah, bagaimanakah jika kemampuan siswa dalam satu kelas relatif beragam?
Hal ini akan bisa mempersulit jalannya proses pengajaran yang Anda lakukan. Untuk itu perlu
dilakukan tes penempatan. Tes penempatan umumnya diselenggarakan menjelang dimulainya
suatu program pengajaran, dengan maksud untuk menempatkan seseorang pada kelompok yang
sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimilikinya.

c. Tes Hasil Belajar (Achievement Test)


Brown (2004) memberikan pengertian tes hasil belajar merupakan “a test to see how far
students achieve materials addressed in a curriculum within a particular time frame”. Hasil
belajar yang diungkap lewat tes hasil belajar dapat mengacu pada hasil pengajaran secara
keseluruhan pada akhir penyelenggaraan atau pada kurun waktu tertentu. Sebagai tes yang
memfokuskan pada hasil yang telah dapat dicapai oleh suatu bentuk pengajaran, tes hasil belajar
memiliki kaitan yang erat dengan apa yang telah diajarkan (kurikulum). Kaitan itu terutama
dalam hal isi tes. Isi tes harus secara jelas mencerminkan isi pengajaran yang secara nyata telah
diselenggarakan.

d. Tes Diagnostik (Diagnostic Test)


Secara etimologis, diagnostik diambil dari bahasa Inggris “diagnostic”. Bentuk kata
kerjanya adalah “to diagnose”, yang artinya “to determine the nature of disease from observation
of symptoms”. Mendiagnosis berarti melakukan observasi terhadap penyakit tertentu, sebagai
dasar menentukan macam atau jenis penyakitnya. Jadi, tes diagnostik sengaja dirancang sebagai
alat untuk menemukan kesulitan belajar yang sedang dihadapi siswa. Hasil tes diagnostik dapat
digunakan sebagai dasar penyelenggaraan pengajaran yang lebih sesuai dengan kemampuan
siswa sebenarnya, termasuk kesulitan-kesulitan belajarnya.
Tes ini dilakukan apabila diperoleh informasi bahwa sebagian besar peserta didik gagal
dalam mengikuti proses pembelajaran pada mata pelajaran tertentu. Hasil tes diagnostik
memberikan informasi tentang konsep-konsep yang belum dipahami dan yang telah
dipahami.Oleh karenanya, tes ini berisi materi yang dirasa sulit oleh siswa, namun tingkat
kesulitan tes ini cenderung rendah.

e. Tes Uji Coba


Untuk mengetahui apakah tes yang dikembangkan bagus, perlu
serangkaian uji coba, untuk memperoleh informasi, tidak hanya tentang ciri-ciri tes yang penting,
seperti validitas, reliabilitas, tingkat kesulitan, dan tingkat pembeda, melainkan juga segi-segi
lain, seperti kecukupan waktu, kejelasan tulisan maupun perintah tes, dan lain sebagainya.
B. Jenis Tes Berdasarkan Tahapan/Waktu Penyelenggaraan
Jenis Tes Berdasarkan Tahapan/Waktu Penyelenggaraan dibagi menjadi empat,antara lain
sebagai berikut :

a. Tes Masuk (Entrance Test)


Tes masuk diselenggarakan sebelum dan menjelang suatu program pengajaran dimulai. Sama
dengan tes seleksi, tes masuk diselenggarakan untuk menentukan apakah seorang calon dapat
diterima sebagai peserta program pengajaran karena ia memiliki jenis dan kemampuan yang
dipersyaratkan. Tes masuk dirancang secara
khusus dan disesuaikan dengan tujuan program pengajaran. Semakin sesuai isi tes masuk itu
dengan tujuan pokok program pengajaran, maka akan semakin tinggi tingkat relevansi serta
efektivitas dari tes masuk tersebut.

b. Tes Formatif (Formative Test)


Tes formatif dilakukan pada saat program pengajaran sedang berlangsung (progress),
tujuannya untuk memperoleh informasi tentang jalannya pengajaran sampai tahap tertentu.
Informasi tersebut penting untuk mengetahui apakah program pengajaran berjalan sesuai dengan
format yang ditentukan sehingga dipertahankan atau program pembelajaran memerlukan
perubahan atau penyesuaian, hasilnya berguna untuk memperbaiki strategi mengajar. Tes ini
dilakukan secara periodik sepanjang rentang proses pembelajaran, materi tes dipilih berdasarkan
tujuan pembelajaran tiap pokok bahasan atau sub pokok materi. Jadi tes untuk menentukan
keberhasilan belajar dan untuk mengetahui keberhasilan proses pembelajaran.

c. Tes Sumatif (Summative Test)


Kata dari “sumatif” adalah “sum” yang berarti “total obtained by adding together items,
numbers or amounts”. Dengan demikian, tes sumatif diselenggarakan untuk mengetahui hasil
pengajaran secara keseluruhan (total). Konsekuensi dari tes yang menekankan hasil pengajaran
secara keseluruhan, maka item tes sumatif atau bahan cakupannya meliputi seluruh materi yang
telah disampaikan. Tes sumatif diberikan di akhir suatu pelajaran, atau akhir semester. Hasilnya
untuk menentukan keberhasilan belajar peserta didik. Tingkat keberhasilan dinyatakan dengan
skor atau nilai,pemberian sertifikat, dan sejenisnya.

d. Pra-tes dan Post-test


Untuk mengetahui kemampuan yang dimiliki seorang siswa di awal program pengajaran,
kadang-kadang diselenggarakan pra-tes. Hasil pra-tes digunakan untuk mengetahui tingkat
kemampuan siswa pada awal program pengajaran. Tingkat kemampuan awal ini penting untuk
menentukan sejauhmana kemajuan seorang
siswa. Kemajuan yang dicapai bisa dilihat dari perbandingan hasil pra-tes dengan hasil tes yang
diselenggarakan di akhir program pengajaran (post-test).

C. Jenis Tes Berdasarkan Cara Mengerjakan


Jenis Tes Berdasarkan Cara Mengerjakan meliputi ;

a. Tes Tertulis
Tes tertulis adalah tes yang dilakukan secara tertulis baik dalam hal soal maupun
jawabannya, namun tes yang disampaikan secara lisan dan dikerjakan secara tertulis masih
digolongkan ke dalam jenis tes tertulis. Sebaliknya, tes yang soalnya diberikan dalam bentuk
tulisan sedangkan jawabannya berbentuk lisan tidak dapat dikategorikan ke dalam bentuk tes
tertulis.

b. Tes Lisan
Pada tes lisan, baik pertanyaan maupun jawaban (response) semuanya dalam bentuk lisan.
Karenanya, tes lisan relatif tidak memiliki rambu-rambu penyelenggaraan tes yang baku, karena
itu, hasil dari tes lisan biasanya tidak menjadi informasi pokok tetapi pelengkap dari instrumen
asesmen yang lain.

c. Tes Unjuk Kerja


Pada Tes ini peserta didik diminta untuk melakukan sesuatu sebagai indicator pencapaian
kompetensi yang berupa kemampuan psikomotor.

D. Jenis Tes Berdasarkan Cara Penyusunan


Jenis Tes Berdasarkan Cara Penyusunan tes dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tes buatan guru
dan ter terstandar.

a. Tes Buatan Guru (Teacher-made Test)


Untuk melakukan tugas evaluasi itu, seorang guru harus mengembangkan alat ukur, salah
satunya tes. Tes yang dikembangkan sendiri oleh guru disebut tes buatan guru (teacher-made
test). Jadi tes buatan guru adalah tes yang dirancang dan dipersiapkan oleh guru, tetap dengan
mengacu pada karakteristik tes yang baik dan dilakukan secara cermat, untuk tetap menjamin
validitas maupun reliabilitasnya.

b. Tes Terstandar (Standardized Test)


Tes terstandar adalah tes yang dikembangkan dengan mengikuti prosedur serta prinsip
pengembangan tes secara ketat. Semua prosedur pengembangan tes dikuti sehingga ciri-ciri tes
sebagai alat ukur yang baik senantiasa dapat dipenuhi. Dengan demikian, tingkat validitas,
reliabilitas, kepraktisan, maupun daya beda sudah bukan menjadi masalah lagi.

E. Jenis Tes Berdasarkan Bentuk Jawaban


Jika kita melihat bentuk jawaban yang diberikan oleh peserta tes, kita
dapat membedakan tiga jenis tes, yaitu; tes esei, tes jawaban pendek, dan tes obyektif. Untuk
lebih jelasnya, berikut akan dibahas jenis tes berdasarkan bentuk jawaban yang meliputi :

a. Tes Esei (Essay-type Test)


Tes bentuk uraian adalah tes yang menuntut siswa mengorganisasikan gagasangagasan tentang
apa yang telah dipelajarinya dengan cara mengemukakannya dalam bentuk tulisan. Keunggulan
tes uraian, guru dapat mengukur kemampuan siswa
dalam hal mengorganisasikan pikirannya, mengemukakan pendapatnya, dan mengekspresikan
gagasan dengan menggunakan kata-kata atau kalimat sendiri. Sedang keterbatasannya adalah
cakupan materi pelajaran yang terbatas, waktu
pemeriksaan jawaban yang lama, penskorannya cenderung subyektif dan umumnya kurang
handal dalam pengukuran.

b. Tes Jawaban Pendek


Tes dapat digolongkan menjadi tes jawaban pendek jika peserta tes diminta menuangkan
jawabannya bukan dalam bentuk esei, tetapi memberikan jawaban-jawaban pendek, dalam
bentuk rangkaian kata-kata pendek, kata-kata lepas, maupun angka-angka. Termasuk ke dalam
tes jenis ini adalah tes yang mewajibkan
siswa untuk mengisi bagian yang kosong dari sebuah kalimat atau teks. Sehingga diharapkan
dapat memberikan jawabannya sesingkat mungkin.

c. Tes Objektif
Tes objektif adalah tes yang keseluruhan informasi yang diperlukan untuk menjawab tes telah
tersedia. Oleh karenanya sering pula disebut dengan istilah tes pilihan jawaban (selected
response test). Butir soal telah mengandung kemungkinan jawaban yang harus dipilih atau
dikerjakan oleh peserta tes. Menurut Subino (1987)
perbedaan yang khas bentuk soal objektif dibanding dengan soal esei adalah tugas peserta tes
(testee) dalam merespons tes. Pada tes objektif, tugas testee adalah memanipulasikan data yang
telah ada dalam butir soal. Oleh karenanya, tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya
dapat dilakukan secara objektif. Karena
sifatnya yang objektif maka penskorannya dapat dilakukan dengan bantuan mesin.
Soal ini tidak memberi peluang untuk memberikan penilaian yang bergradasi karena dia hanya
mengenal benar dan salah. Soal tes objektif sangat bermanfaat untuk mengukur hasil belajar
kognitif tingkat rendah. Hasil-hasil belajar kompleks seperti menciptakan dan
mengorganisasikan gagasan kurang cocok diukur menggunakan soal bentuk ini. Soal objektif
sangat bervariasi bentuknya. Variasi yang bisa dibuat dari soal objektif adalah benar-salah,
pilihan ganda, menjodohkan, melengkapi dan jawaban singkat.

Pengertian Evaluasi Formaitf dan Evaluasi Sumatif


Evaluasi formatif (Formatif Test) adalah suatu tes hasil belajar dimana evaluasi tersebut
mempunyai suatu tujuan untuk dapat mengetahui, sudah sejauh manakah peserta didik itu telah
terbentuk (sudah sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditentukan) setelah mereka
mengikuti suatu proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu, kemudian perlu diketahui
juga bahwa istilah formatif itu berasal dari kata form yang dapat diatikan sebagai bentuk.[1]
Dengan demikian maka evaluasi formatif merupakan suatu jenis evaluasi yang disajikan di
tengah program pengajaran yang mempunyai fungsi untuk memantau (memonitor), dimana
untuk dpat mengetahui kemauan belajar siswa dalam kesehariannya pada proses kegiatan belajar
mengajar demi memberikan suatu umpan balik, baik kepada siswa maupun seorang guru.[2]
Bisaanya di sekolah-sekolah, tes formatif itu pada umumnya ditekankan pada bahan-bahan
pelajaran yang akan diajarkan oleh seorang guru, setelah guru mengadakan atau melaksanakan
suatu tes formatif, maka alangkah baiknya ditindaklanjuti lagi jka ada bagian-bagian yang
memang belum dikuasai, maka sebelum dilanjutkan ke pokok bahasan baru terlebih dahulu
diulangi atau dijelaskan kembali bagian-bagian mana yang sekiranya belum dikuasai atau
dipahami oleh peserta didik. Dengan demikian tujuan dari evaluasi formatif adalah untuk
memperbaiki tingkat penguasaan materi dari peserta didik dan sekaligus untuk memperbaiki
dalam suatu proses pembelajaran.
Pengertian formatif juga bisa diartikam sebagai penilaian yang dilaksanakan akhir program
belajar mengajar untuk melihat tingkat keberhasilan proses belajar mengajar itu sendiri.[3]
Sedangkan yang dimaksud dengan tes sumatif adalah suatu penilaian yang pelaksanaannya itu
dilakukan pada akhir tahun atau akhir program, atau lebih spesifiknya penilaian yang dilakukan
pada akhir semester dari akhir tahun. Jadi, rujuannya adalah untuk melihat hasil yang dicapai
oleh para siswa, yaitu seberapa jauhkah tujuan-tujuan kurikuler yang berhasil dikuasai oleh para
peserta didik, dan penilaian inipun dititikberatkan pada penilaian yang berorientasi kepada
produk, bukan kepada sebuah proses.
Dan bagaimanapun , hasil yang peroleh dari tes sumatif tampaknya menjadi keputusan akhir
mengingat tidak adanya kesepakatan bagi guru untuk memperbaiki kekurangan para siswa pada
semester tersebut. Perubahan baru bisa dilakukan pada tahun berikutnya atau sekedar bahan
untuk penyempurnaan semester berikutnya.

2. Manfaat Evaluasi Formatif dan Evaluasi Sumatif


Berbicara mengenai manfaat, mak evaluasi dan evaluasi sumatif mempunyai banyak manfaat,
baik bagi siswa, guru maupuun program itu sendiri. Manfaat tersebut antara lain, yaitu yang
dikutip dari buku dasar-dasar evaluasi pendidikan :
a. Manfaat Bagi Siswa
1) Digunakan untuk mengetahui apakah siswa sudah mengevaluasi bahan program secara
menyeluruh.
2) Merupakan penguatan bagi siswa. Dengan mengetahui bahwa yang dikerjakan sudah
menghasilkan skor yang tinggi sesuai drngan yang diharapkan maka siswa merasa mendapat “
anggukan kapala ”dari guru, dan ini merupakan suatu tansa bahwa apa yang sudah dimiliki
merupakan pengetahuan yang sudah benar. Dengan demikian mak pengatahuam itu akan
bertambah membekas diingatan. Di samping itu tanda keberhasilan suatu pelajaran akan
memperbesar motivasi siswa untuk belajar lebih giat, agar dapat mempertahankan nilai yang
sudah baik itu atau memperoleh yang lebih baik lagi.
3) Usaha perabaikan, dengan umpan yang diperoleh setelah melakukan tes. Siswa mengatui
kelemahan-kelemahannya. Bahkan dengan teliti siswa mengetahui bab atau bagaimana dari
bahan yang mana yang belum dikuasainya.
4) Sebagai Diagnosa, bahan pelajaran yang sedang dipelajari oleh siswa merupakan hasil tes
formatif, siswa dengan jelas dapat mengetahui bagaimana bahan pelajaran yang masih dirasakan
sulit.[4]
b. Manfaat Bagi Guru
Dengan telah mengatahui hasil tes foramtif yang diadakan, maka guru :
1) Mengetahui sampai sejauh mana bahan-bahn yang diajarkan sudah dapat diterima oleh siswa.
Hal ini akan menentukan pola pakah guru itu harus mengganti cara menerangkan (strategi
mengajar) atau tetap dapat menggunakan cara (strategi) yang lama.
2) Mengetahui bagian-bagian mana dari bahan pelajaran yang belum menjadi milik siswa.
Apabila bagian yang belum dikuasai kebetulan merupakan bahan prasyarat bagian pelajaran
yang lain, maka bagian ini harus diterangkan lagi, dan barangkali memrlukan cara atau media
lain untuk memperjelas. Apabila bahan ini tidak diulangi, maka akan menganggu kelancaran
pemberian bahan pelajaran selanjutnya, dan siswa akan semakin tidak dapat menguasainya.
3) Dapat meramalkan sukses dan tidaknya seluruh program yang akan diberikan.[5]
c. Manfaat Bagi Program
Setelah diadakan tes maka diperoleh hasil. Dari hasil tersebut dapat diketahui :
1) Apakah program yang diberikan merupakan program yang tepat dalam arti sesuai dengan
kecakapan anak.
2) Apakah program tersebut membutuhkan pengetahuan-pengetahuan prasyarat yang belum
diperhitungkan.
3) Apakah diperlukan alat, sarana dan prasarana untuk mempertinggi hasil yang akan dicapai.
4) Apakah metode, pendekatan dan alat evaluasi yang digunakan sudah tepat.
Manfaat evaluasi sumatif :
Ada beberapa manfaat tes sumatif, dan 3 diantaranya yang terpenting adalah :
1. Untuk nenentukan nilai.
2. Untuk menentukan seorang anak dapat atau tidaknya mengikuti kelompok dalam menerima
program berikutnya. Dalam kepentingan seperti ini maka tes sumatif berfungsi sebagai tes
prediksi.
3. Untuk mengisi catatan kemajuan belajar siswa yang akan berguna bagi orang tua siswa, pihak
bimbingan dan penyuluhan di sekolah serta pihak-pihak lain apabila siswa tersebut akan pindah
ke sekolah lain, akan melanjutkan belajar atau akan memasuki lapangan kerja.

3. Perbedaan Penilaian Evaluasi Formatif dan Evaluasi Sumatif


Mengingat masih banyaknya salah pengertian di antara guru-guru tentang pengaertian formatif
dan sumatif maka perlu kiranya dijelaskan kembali pengertian penilaian formatif dan penilaian
sumatif dan perbedaan antara kedua jenis penilaian tersebut.
· Penilaian formatif adalah kegiatan penilaian yang bertujuan untuk mencari atau memperoleh
sebuah umpan balik (feed back), yang kemudian selanjutnya dari hasil penilaian tersebut dapat
digunakan untuk memperbaiki suatu proses belajar mengajar yang sedang atau yang sudah
dilaksanakan. Jadi, sebenarnya pada panilaian formatif itu tidak hanya dilakukan pada tiapa akhir
pelajaran akan tetapi bisa juga ketika proses pelajaran sedang berlangsung.[6] Misalnya, ketika
guru sedang mengajar, guru tersebut mengajukan beberapa pertanyaan-pertanyaan kepada siswa
untuk mengecek atau mendapatkan informasi apakah siswa telah memahami apa yang telah
diterangkan guru. Jika ternyata masih banyak siswa yang belum mengerti, maka tindakan guru
selanjutnya ialah menambah atau memperbaiki cara mengajarnya sehingga benaar-benar dapat
diserap oleh siswa.
Dari contoh tersebut, jelas bahwa penilaian formatif tidak hanya berbentuk tes tertulis dan hanya
pada akhir pelajaran, tetapi dapat pula berbentuk pertanyaan-pertanyaan lisan atau tugas-tugas
yang diberikan selama pelajaran berlangsung ataupun sesudah pelajaran selesai. Dalam
hubungan ini maka proses dan post-tes yang bisaa dilakukan dalam sistem pelajaran termasuk
dalam penilaian foramatif.
· Penilaian sumatif adalah penilaian yang dilakukan untuk memperoleh data atau informasi
sampai dimana penguasaan atau pencapaian belajar siswa terhadap bahan pelajaran yang telah
dipelajarinya selama jangka waktu tertentu. Adapun fungsi dan tujuannya ialah untuk
menentukan apakah dengan nilai yang diperolehnya itu siswa dapat dinyatakan lulus. Pengertian
lulus dan tidak lulus disini dapat berarti : dapat tidaknya siswa melanjutkan ke modul berikutnya,
dan dapat tidaknya seorang siswa mengikuti pelajaran pada semester berikutnya, dan dapat
tidaknya seorang siswa dinaikan ke kelas yang lebih tinggi.
Dari apa yang telah dikemukakan, jelas kiranya bahwa penilaian sumatif tidak hanya merupakan
penilaian yang dilaksanakan pada setiap akhir semester, tetapi juga dilaksanakan misalnya pada
setiap modul, setiap akhir tahun ajaran ataupun evaluasi belajar tahap akhir.
Dari uaraian diatas dapat disimpulkan perbedaan antara penilaian formatif dan penilaian sumatif
bukan terletak pada kapan atau waktu tes itu dilaksanakan, tetapi terutama pada fungsi dan
tujuan tes atau penilaian itu dilaksanakan. Jika penilaian atau tes itu berfungsi dan bertujuan
untuk memperoleh umpan balik dan selanjutnya digunakan untuk memperbaiki proses belajar-
mengajar, maka penilaian itu disebut penilaian formatif.
Tetapi jika penilaian itu berfungsi dan bertujuan untuk mendapatkan informasi sampai dimana
prestasi atau penguasaan dan pencapaian belajar siswa yang selanjutnya diperuntukan dengan
penentuan lulus tidaknya seorang siswa, maka penilaian itu disebut penilaian sumatif.
4. Perbandingan Antara Tes Formatif dan Tes Sumatif
Untuk memperoleh gambaran mengenai tes formatif dan tes sumatif secara lebih mendalam,
maka berikut ini akan disajikan perbandingan antara keduanya. Agar dapat diketahui tiap-tiap
persamaan dan perbedaannya. Dalam membandingkan, akan ditinjau dari 4 aspek, yaitu fungsi,
waktu, titik berat, atau tekanannya, alat evaluasi, cara memilih tujuan yang dievaluasi, tingkat
kesulitan soal-soal tes, cara menyekor.[7]
a. Ditinjau dari Fungsinya
- Tes formatif digunakan sebagai umpan balik bagi siswa, guru maupun program-program
untuk menilai pelaksanaan satu unit program.
- Tes sumatif digunakan untuk memberikan tanda kepada siswa bahwa telah mengikuti suatu
program, serta menentukan posisi kemampuan siswa dibandingkan dengan kawannya dalam
kelompok.
b. Ditinjau dari Waktu
- Tes formatif dilakukan selama pelajaran berlangsung untuk mengetahui kekurangan agar
pelajaran dapat berlangsung sebaik-baiknya
- Tes sumatif dilakukan pada akhir unit catur wulan, ataupun semester akhir tahun atau akhir
pendidikan.
c. Ditinjau dari Titik Berat Penilaian
- Tes formatif menekankan pada tingkah laku kognitif.
- Tes sumatif sama-sama menekankan pada tingkah laku kognitif, tetapi ada kalanya pada
tingkat psikomotor dan juga kadang-kadang pada afektif akan tetapi walaupun menekankan pada
tingkah laku kognitif, yang diukur adalah tingkatan yang lebih tinggi.

d. Ditinjau dari Segi Alat Evaluasi


- Tes formatif merupakan tes prestasi belajar yang tersusun secara baik.
- Tes sumatif merupakan tes ujian akhir.

e. Ditinjau dari Cara Memilih Tujuan yang Dievaluasi


- Tes formatif mengukur semua tujuan instruksional khusus.
- Tes sumatif mengukur tujuan instruksional umum.
f. Ditinjau dari Tingkat Kesulitan Tes
- Tes formatif belum dapat ditentukan.
- Tes sumatif. Rata-rata mempunyai tingkat kesulitan antara 0,35 – 0,70, Soal yang sangat
mudah dan soal yang sangat sukar

g. Ditinjau dari Skoring


- Tes formatif, menggunakan standar mutlak.
- Tes sumatif, kebanyakan menggunakan standar relatif tetapi dapat pula dipakai standar mutlak.

C. ANALISIS
Pada dasarnya bahwa penilaian formatif dan sumatif yang ada di sekolah-sekolah itu
sebenarnya sudah dilaksanakan oleh para guru-guru, namun pada kenyataannya sekarang kedua
penilaian tersebut itu belum terealisasi dengan baik. Mungkin disebabkan karena memang para
guru-guru itu belum bisa membedakan ataupunmengetahui benar-benar secara jelas apa penilaian
formatif dan sumatif tersebut, sehingga dalam pencapaian tujuan pendidikan belum
terlaksanakan secara maksimal. Sebenarnya kalau seorang guru bisa benar-benar mengetahui dan
memahami penilaian formatif dan sumatif, maka para siswanya akan bisa naik kelas semua,
bahkan bisa lulus ujian yang nantinya akan dapat membawa nama baik sekolah.
Dengan adanya penilaian formatif, maka seorang guru dapat mengetahui keberhasilan dirinya
dalam mengajar dan apabila para siswanya banyak yang belum menguasai materi ataupun belum
paham dengan bahan pelajaran itu maka seorang guru dapat memperbaiki cara mengajarnya.
Kemudian tes formatif juga membawa pengaruh yang sangat besar untuk tes sumatif karena
apabila tes formatif itu sudah tercapai dengan baik maka hasilnyapun akan berimbas pada
penilaian sumatif.

D. KESIMPULAN
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa penilaian formatif, dan penilaian sumatif
mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam pencapaian tujuan pendidikan yang ada di
sekolah-sekolah. Penilaian formatif berfungsi dan bertujuan untuk memperoleh umpan balik dan
selanjutnya digunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar. Sedangkan penilaian sumatif
berfungsi dan bertujuan untuk mendapatkan informasi sampai dimana prestasi atau penguasaan
dan pencapaian belajar siswa yang selanjutnya diperuntukkan bagi penentuan lulus tidaknya
seorang siswa tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, Drs. 1997. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan Jakarta : Bumi Aksara. Cet. 3.

Daryanto. 1999. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Silverius, Suke. 1991. Evaluasi Hasil Belajar Dan Umpan Balik. Jakarta : PT. Grasindo.

Sudjana, Nana. 1995. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT. Rosdakarya.

[1] Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung : PT. Rosdakarya,
1995)., h.71
[2] Suke Silverius, Evaluasi Hasil Belajar Danumpan Balik, (Jakarta : PT. Grasindo,
1991).,h.9
[3] Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung : PT. Rosdakarya,
1995)., h. 5
[4] Drs. Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Jakarta : Bumi Aksara,
cet. 3, 1997)., h. 33-34
[5] Ibid, h. 35
[6] Ibid,. h. 35-36
[7] Daryanto, Evaluasi Pendidikan (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1999), h. 47-52.