You are on page 1of 9

Gambaran Umum Histerektomi

1. Pengertian

Histerektomi adalah pengangkatan uterus melalui pembedahan, paling umum dilakukan untuk
keganasan dan kondisi bukan keganasan tertentu (contoh endometriosis/ tumor), untuk mengontrol
perdarahan yang mengancam jiwa, dan kejadian infeksi pelvis yang tak sembuh-sembuh atau ruptur
uterus yang tak dapat diperbaiki. (Doenges, 1999)

2. Metode-metode Histerektomi

a. Histerektomi Total

Histerektomi abdominalis totalis adalah pengangkatan uterus, serviks, dan ovarium. Prosedur ini
dilakukan pada banyak kondisi selain kanker, termasuk perdarahan uterus disfungsi, endometriosis,
pertumbuhan nonmalignan dalam uterus, serviks, dan adneksa, masalah-masalah relaksasi dan prolaps
pelvis, dan cedera pada uterus yang tidak dapat diperbaiki. Kondisi malignan membutuhkan histerektomi
abdomen total dan salpingo-ooferektomi bilateral (pengangkatan tuba fallopi dan ovarium). (Smeltzer,
2001)

b. Histerektomi Radikal (Weirtheim)

Histerektomi radikal adalah pengangkatan uterus, adneksa, vagina proksimal, dan nodus limfe bilateral
melalui insisi abdomen. (Smeltzer, 2001)

c. Histerektomi Vaginal Radikal (Schauta)

Histerektomi vaginal radikal adalah pengangkatan vagina, uterus, adneksa dan vagina proksimal.
(Catatan: “Radikal“ menunjukkan bahwa suatu area ekstensif paravaginal, paraservikal, parametrial, dan
jaringan uterosakral diangkat bersama uterus). (Smeltzer, 2001)

3. Penatalaksanaan Praoperatif

Histerektomi dengan bantuan laparoskopik dilakukan oleh beberapa dokter dengan hasil yang sangat
memuaskan dan pemulihan yang cepat. Metode ini hanya digunakan untuk histerektomi vagina dan
dilakukan sebagai prosedur rawat singkat atau bedah ambulatori pada klien yang dipilih dengan sangat
hati-hati. Klien menjalani hari perawatan lebih singkat dan penurunan angka kejadian infeksi
pascaoperatif.

Persiapan dokter untuk klien yang akan menjalani histerektomi sedikit berbeda dengan klien yang akan
menjalani laparoskopi. Biasanya, setengah bagian abdomen dan region pubis serta perineal dicukur
dengan sangat cermat dan dibersihakn dengan sabun dan air (beberapa dokter bedah tidak
mengharuskan pencukuran pada klien). Traktus intestinal dan kandung kemih harus dikosongkan
sebelum klien dibawa ke ruang operasi untuk mencegah kontaminasi dan cedera yang tidak disengaja
pada kandung kemih atau traktus intestinal. Enema dan pengirigasi antiseptik biasanya diharuskan pada
malam hari sebelum hari pembedahan. Klien mendapat sedatif untuk memastikan tidur malam yang
baik. Medikasi praopeatif yang diberikan pada pagi hari pembedahan akan membantu klien rileks.
(Smeltzer, 2001)

4. Penatalaksanaan Pascaoperatif

Prinsip-prinsip umum perawatan pascaoperatif untuk bedah abdomen diterapkan, dengan perhatian
khusus diberikan pada sirkulasi perifer untuk mencegah tromboflebitis dan TVP (perhatikan varicose,
tingkatkan sirkulasi dengan latihan tungkai, dan menggunakan stoking elastik). Risiko utama adalah
infeksi dan hemoragi. Selain itu karena tempat yang dioperasi berada dekat dengan kandung kemih,
mungkin terdapat masalah berkemih, terutama setelah histerektomi vaginal.

Edema atau trauma saraf dapat menyebabkan kehilangan sementara tonus kandung kemih (atonia
kandung kemih), dan dapat digunakan kateter indwelling. Selama pembedahan, penanganan usus dan
ileus dapat mengganggu fungsi usus. (Smeltzer, 2001)

D. Gambaran Umum Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Post Histerektomi

1. Pengkajian

Pengkajian klien post histerektomi menurut Smeltzer, 2001 adalah sebagai berikut.

a. Riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan pelvis, serta pemeriksaan laboratorium
dilakukan.

b. Data pengkajian tambahan mencakup respons psikososial klien, karena keharusan menjalani
histerektomi dapat menunjukkan reaksi emosional yang kuat dan adanya ketakutan.

c. Jika histerektomi dilakukan untuk mengangkat tumor malignan, ansietas yang berhubungan dengan
ketakutan akan adanya kanker dan kematian menambah stress pada klien dan keluarganya.

d. Ansietas berasal dari beberapa faktor lingkungan yang asing, efek pembedahan pada citra tubuh dan
kemampuan reprodukitf, ketakutan dan ketidaknyamanan lainnya, serta sensitivitas dan kemungkinan
perasaan malu tentang pemajanan area genetalia dalam periode perioperatif. Konflik antara pengobatan
bedah dan keyakinan keagamaan dapat juga menyulitkan.

e. Klien sering mempunyai reaksi emosional kuat terhadap histerektomi, yang biasanya menimbulkan
perasaan personal yang kuat berhubungan dengan diagnosis, orang terdekat yang mungkin terlibat
(keluarga, pasangan), keyakinan keagamaan dan prognosis.

f. Kekhawatiran dapat timbul (seperti ketakutan tidak mempunyai anak dan efek pada feminitas), seperti
pertanyaan tentang dampak pembedahan pada hubungan seksual dan kepuasan seksual.

g. Ketika keseimbangan hormonal terganggu, seperti yang biasanya terganggu pada gangguan sistem
reproduktif, klien dapat mengalami depresi dan sensitivitas emosional yang meningkat pada orang dan
situiasi.
h. Nyeri dan ketidaknyamanan abdomen adalah hal yang umum terjadi.

i. Histerektomi secara khas menyebabkan keletihan dan kelemahan selama beberapa minggu (seperti
yang biasanya ditimbulkan oleh bedah mayor).

j. Perdarahan vaginal dan hemoragi dapat terjadi setelah histerektomi.

k. Karena posisi selama pembedahan, edema pascaoperatif, dan imobilitas, klien berisiko untuk
mengalami trombosis vena profunda dan embolus pulmonal.

l. Kemungkinan terjadi kesulitan berkemih pascaoperatif.

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan pada klien post histerektomi menurut Smeltzer, 2001 adalah sebagai berikut.

a. Ansietas berhubungan dengan diagnosis kanker, takut akan rasa nyeri, kehilangan feminitas, dan
perubahan bentuk tubuh.

b. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan seksualitas, fertilitas, dan hubungan dengan
pasangan dan keluarga.

c. Nyeri berhubungan dengan pembedahan dan terapi tambahan lainnya.

d. Kurang pengetahuan tentang aspek-aspek perioperatif histerektomi dan perawatan diri.

e. PK hemoragi.

f. PK trombosis vena profunda.

g. PK disfungsi kandung kemih.

3. Perencanaan Keperawatan

Tujuan utama dapat mencakup penghilangan ansietas, penerimaan diri setelah kehilangan uterus, tidak
ada nyeri atau ketidaknyamanan, penigkatan pengetahuan tentang persyaratan perawatan diri, dan
pencegahan komplikasi.

Perencanaan keperawatan pada klien dengan post histerektomi menurut Smeltzer, 2001 adalah sebagai
berikut.

a. Ansietas berhubungan dengan diagnosis kanker, takut akan rasa nyeri, kehilangan feminitas, dan
perubahan bentuk tubuh.

Intervensi :
1) Perawat harus menentukan apa makna pengalaman pembedahan bagi klien dan bagaimana
membantu klien dalam mengekspresikan perasaannya kepada seseorang yang dapat memahami dan
membantunya.

2) Penjelasan tentang persiapan fisik diberikan sepanjang periode praoperatif.

b. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan seksualitas, fertilitas, dan hubungan dengan
pasangan dan keluarga.

Intervensi :

1) Jelaskan pada klien bahwa ia tetap akan mempunyai vagina dan akan tetap dapat melakukan
hubungan seksual setelah abstineus sementara pascaoperatif untuk memulihkan integritas jaringan.

2) Informasikan bahwa kepuasan seksual dan orgasme dapat timbul dari stimulasi klitoris dan bukan
dari uterus, sehingga dapat memberikan efek menenangkan pada banyak wanita.

3) Dekati dan evaluasi setiap klien secara individual untuk menangani depresi dan sensitivitas
emosional yang meningkat terhadap orang dan situasi.

4) Tunjukkan minat, kekhawatiran dan keinginan untuk mendengarkan kekuatan klien, sehingga dapat
membantu kemajuan klien sepanjang pengalaman pembedahannya.

c. Nyeri berhubungan dengan pembedahan dan terapi tambahan lainnya.

Intervensi :

1) Analgesik dapat diberikan sesuai yang diresepkan untuk menghilangkan nyeri dan meningkatkan
pergerakan dan ambulasi.

2) Untuk menghilangkan ketidaknyamanan akibat distensi abdomen, selang nasogastrik dapat dipasang
sebelum klien meninggalkan ruang operasi.

3) Dalam periode pascaoperatif, cairan dan makanan dapat dipantang selama 1 atau 2 hari.

4) Jika klien mengalami distensi abdomen atau flatus, selang rektal dapat dipasang, juga pemasangan
penghangat pada abdomen dapat diberikan.

5) Apabila auskultasi abdomen mendeteksi adanya bising usus yang menandakan peristaltik, klien
dapat menerima cairan tambahan dan diet lunak.

6) Anjurkan ambulasi untuk memudahkan kembalinya peristaltik normal.

d. Kurang pengetahuan tentang aspek-aspek perioperatif histerektomi dan perawatan diri.

Intervensi :

1) Informasikan kepada klien tentang keterbatasan atau pantangan yang ada yang harus dijalani.
2) Anjurkan klien untuk melanjutkan aktivitas secara bertahap, hindarkan duduk dalam waktu yang
lama karena dengan melakukan hal ini dapat menyebabkan darah berkumpul dalam pelvis dan
meningkatkan risiko tromboflebitis.

3) Anjurkan untuk mandi shower daripada rendam duduk untuk mengurangi kemungkinan infeksi dan
menghindari cedera akibat keluar masuk bak mandi dalam posisi duduk

4) Instruksikan untuk menghindari mengejan, mengangkat, melakukan hubungan seksual atau


mengendarai kendaraan sampai dokter membolehkan ia untuk kembali melakukan aktivitas ini.

5) Laporkan adanya rabas vagina, bau yang tidak enak, perdarahan berlebihan, nyeri atau kemerahan
pada tungkai, atau kenaikan suhu tubuh.

e. PK hemoragi

Intervensi :

1) Hitung pembalut yang digunakan, kaji seberapa jauh pembalut tersebut basah oleh darah.

2) Pantau tanda- tanda vital klien.

3) Pantau balutan abdomen terhadap drainase jika tindakan bedah abdomen dilakukan.

4) Dalam persiapan untuk pemulangan dari rumah sakit, berikan pedoman mengenai pembatasan
aktivitas untuk meningkatkan penyembuhan dan untuk mencegah perdarahan pascaoperatif.

f. PK trombosis vena profunda

Intervensi :

1) Dorong dan bantu untuk mengubah posisi dengan sering, meski tekanan di bawah lutut harus
dihindari.

2) Bantu klien untuk ambulasi dini dalam periode pascaoperatif dan dorong klien melakukan latihan
pada tungkai serta kakinya ketika ia sedang di tempat tidur.

3) Kaji terhadap adanya trombosis vena profunda (nyeri pada tungkai, tanda Homan positif) dan
embolisme pulmoner (nyeri dada, takikardia, dispnea).

4) Instruksikan klien untuk menghindari duduk di kursi dalam waktu lama dengan tekanan pada lutut,
duduk dengan tungkai disilangkan, dan imobilitas.

g. PK disfungsi kandung kemih

Intervensi :

1) Pasang kateter indwelling sebelum pembedahan dan dibiarkan dalam periode singkat setelah
pembedahan.
2) Lepaskan kateter, segera setelah klien ambulasi.

3) Setelah kateter dilepas, haluaran urin dipantau dan abdomen dikaji terhadap distensi.

4) Jika klien tidak berkemih dalam waktu yang telah ditentukan, tindakan dilakukan untuk
mendorong berkemih (mis. membantu klien untuk ke kamar mandi, menyiramkan air hangat di atas
perineum). Jika klien tetap tidak dapat bekemih, maka kemungkinan diperlukan lagi pemasangan kateter.

4. Implementasi

Fase implementasi dari proses keperawatan mengikuti rumusan dari rencana keperawatan.
Implementasi untuk klien post histerektomi menurut Smeltzer, 2001 adalah sebagai berikut.

a. Menghilangkan ansietas.

b. Memperbaiki citra tubuh.

c. Menghilangkan nyeri.

d. Memberikan penyuluhan klien dan memelihara kesehatan.

e. Memantau dan menangani komplikasi potensial : hemoragi, trombosis vena profunda, dan disfungsi
kandung kemih.

5. Evaluasi

Hasil yang diharapkan untuk klien post histerektomi menurut Smeltzer, 2001 adalah sebagai berikut.

a. Mengalami penurunan ansietas.

b. Menerima perubahan-perubahan yang berhubungan dengan pembedahan.

1) Membicarakan perubahan yang dihasilkan dari pembedahan dengan pasangan.

2) Mengungkapkan pemahaman tentang gangguan yang ia alami dan rencana pengobatannya.

3) Menunjukkan kesedihan atau depresi minimal.

c. Mengalami nyeri dan ketidaknyamanan minimal.

1) Melaporkan peredaan nyeri dan ketidaknyamanan abdomen.

2) Melakukan ambulasi tanpa rasa nyeri.

d. Mengungkapkan pengetahuan dan pemahaman tentang perawatan diri.

1) Melakukan praktik nafas dalam, berbalik, dan latihan tungkai sesuai yang diinstruksikan.

2) Meningkatkan aktivitas dan ambulasi setiap hari.


3) Melaporkan masukan cairan yang adekuat dan haluaran urine yang adekuat.

4) Mengidentifikasi gejala-gejala yang dapat dilaporkan.

5) Menjadwalkan dan menepati perjanjian tindak lanjut.

e. Tidak menagalami komplikasi.

1) Mengalami perdarahan vaginal minimal dan menunjukkan tanda-tanda vital normal.

2) Melakukan ambulasi secara rutin.

3) Melaporkan tidak adanya nyeri betis dan tidak adanya kemerahan, nyeri tekan, atau pembengkakan
pada ekstremitas.

4) Melaporkan tidak adanya masalah perkemihan atau distensi abdomen.

6. Pendokumentasian

Pelaksanaan tindakan keperawatan diikuti dengan dokumentasi yang lengkap dan akurat terhadap suatu
kejadian dalam proses keperawatan. Jenis catatan keperawatan yang digunakan untuk
mendokumentasikan tindakan keperawatan adalah catatan perkembangan SOAPIE.

Data subjektif. Perkembangan didasarkan pada apa yang dirasakan, dikeluhkan, dan dikemukakan klien.

Data objektif. Perkembangan yang bisa diamati dan diukur oleh perawat.

Analisis. Kedua jenis data tersebut, baik subjektif maupun objektif, dinilai dan dianalisis, apakah
berkembang ke arah perbaikan atau kemunduran. Hasil analisis dapat menguraikan sampai di mana
masalah yang ada dapat teratasi/ adakah perkembangan masalah baru yang menimbulkan diagnosa
keperawatan baru.

:
Rencana penanganan klien, dalam hal ini didasarkan pada hasil analisis di atas yang berisi melanjutkan
rencana sebelumnya apabila keadaan atau masalah belum teratasi dan membuat rencana baru bila
rencana awal tidak efektif.

Implementasi. Tindakan yang dilakukan berdasarkan rencana.

Evaluasi. Berisi penilaian tentang sejauh mana rencana tindakan dan evaluasi telah dilaksanakan, dan
sejauh mana masalah klien teratasi. (Hidayat, 2001)

DAFTAR PUSTAKA

. Diagnosa Keperawatan NANDA NIC NOC Dilengkapi Aplikasi KasusDischarge Planning.

Bobak. 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas Edisi 4. Jakarta : EGC.

Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC.

Effendi, Nasrul. 1995. Pengantar Proses Keperawatan. Jakarta : EGC.

Hartini, (2008, 19 Oktober). Kista, Tumor,dan Kanker Berhubungan Erat Dengan Tingkat Kesuburan yang
Rendah. Diakses 9 Juni 2009 Dari http://www.berbagisehat.com/index.php?
option=com_content&view=article&id=190:kista-tumor-pada-ovarium-yang-bisa-menjadi-
kanker&catid=56:mom-a-kiddie&Itemid=71.
Hecker, Neville F. 2001. Esensial Obstetri dan Ginekologi. Jakarta : Hipokrates.

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2001. Pengantar Dokumentasi Proses Keperaawatan. Jakarta : EGC.

Kee, Joyce LeFever. 1997. Buku Saku Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik dengan Implikasi
Keperawatan. Jakarta : EGC.

Manuaba, Ida Bagus Gede. 1993. Penuntun Kepaniteraan Klinik Obstetri dan Ginekologi. Jakarta : EGC.

Nasdaldy, (2008, 3 Mei). Penanganan Kanker Ovarium. Diakses 9 Juni 2009 Dari
http://www.blogdokter.net//2008/05/30/kista-ovarium/.

Nursalam, 2001. Proses Keperawatan & Dokumentasi Keperawatan : Konsep & Praktik. Jakarta : Salemba
Medika.

Pdpersi, (2005, 15 September). Musuh Dibalik Kesempurnaan Wanita

Kista dan Kanker pada Organ Reproduksi Wanita. Diakses 9 Juni 2009 Dari http : //www.pdpersi.co.id/?
show = detailnews & kode = 990&tbl = biaswanita.

Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddart. Jakarta : EGC.

Wiknjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kandungan, Edisi 4. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
SarwonoPrawirohardjo.