You are on page 1of 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Proses menua (aging) merupakan suatu perubahan progresif pada organisme
yang telah mencapai kematangan intrinsic dan bersifat irreversible serta menunjukkan
adanya kemunduran sejalan dengan waktu. Proses alami yang disertai dengan adanya
penurunan kondisi fisik, psikologis maupun social akan saling berinteraksi satu sama
lain. Proses menua yang terjadi pada lansia secara linier dapat digambarkan melalui
tiga tahap yaitu,kelemahan (impairment), keterhambatan (handicap) yang akan
dialami bersamaan dengan proses kemunduran (Bondan,2009).
Hal yang pertama perawat melakukan dalam memberikan asuhan keperwatan
pada lansia adalah pengkajian. Menurut potter & Perry, (2005), pengkajian
keperawatan adalah proses sistematis dari pengumpulan, verifikasi dan komunikasi
data tentang klien. Proses keperawatan ini mencakup dua langkah yaitu pengumpulan
data dari sumber primer (klien) dan sumber sekunder (keluarga,tenaga kesehatan), dan
analisis data sebagai dasar untuk diagnose keperawatan.
Secara umum, sakit dipandang sebagai suatu kondisi yang dialami individu
yang gagal mencapai kesehatan optimum. Sakit akut adalah suatu kondisi sakit pada
individu yang berhasil ditangani oleh intervensi atau membaik seiring dengan waktu.
Sakit kronis adalah individu akan menderita sakitini sampai ia meninggal: tidak ada
pengobatan. Karena individu seringkali dapat hidup panjang dan produktif dengan
penyakit kronisnya, haruskah mereka disebut “sakit”? mungkin sebutan yang paling
tepat adalah kondisi kesehatan kronis. Banyak individu diberbagai komunitas hidup
dengan kondisi kesehatan kronis. Jika dilihat sekilas, mengidentifikasi individu
dengan kondisi kesehatan kronis adalah hal yang mudah. Namun, sebenarnya ini
adalah tugas yang berat. Bagaimanakah seharusnya. “kondisi kesehatan kronis”
didefinisikan? Elemen apa yang harus ada untuk membedakan antara kondisi
kesehatan akut dan kondisi kesehatan kronis? Dapatkah kondisi kesehatan terdiri atas
kondisi akut dan kronis? Dalam kondisi seperti apa?.
Pendekatan holistic terhadap asuhan keperwatan menolak adanya
penggolongan individual. Pendekatan holistic menekankan pada keterkaitan ini dapat
digunakan untuk menggambarkan individu dengan kondisi kesehatan kronis.
Kesehatan individu seharusnya tidak digolongkan, seperti diabetic, penderitan kanker,

1
skizofrenik, atau individu yang terinfeksi HIV. Bagaimanapun, perawat dipaksa oleh
pendekatan system pelayanan kesehatan untuk cenderung melabel dan
mengkatagorikan kesehatan individu. Dengan demikian, dalam pembahasanini, suatu
upaya dilakukan untuk menggambarkan populasi ini adalah konteks yang sangat luas.
1.2 Rumusan Masalah
Secara garis besar, masalah yang kami rumuskan adalah sebagai berikut.
1. Apa yang dimaksud dengan kondisi kritis/kritik
2. Apa saja masalah kondisi kritis pada lansia?
3. Apa saja penyebab kondisi kritis pada lansia?
4. Apa yang dimaksud dengan depresi pada lansia?
5. Bagaimana asuhan keperwatan kritikal pada lansia dengan depresi?
1.3 Tujuan
1. Tujuan Umum
a. Mengetahui apa yang dimaksud dengan kondisi kritis/kritikal
b. Mengetahui apa saja masalah kondisi kritis pada lansia
c. Mengetahui apa saja penyebab kondisi kritis pada lansia
d. Mengetahui apa itu masalah kondisi kritikal pada lansia dengan depresi.
e. Mengetahui apa saja asuhan keperawatan kritikal pada lansia dengan masalah
depresi
2. Tujuan Khusus
Tujuan Khusus dari penulisan makalah ini adalaha untuk mengetahui tugas
kelompok pada mata kuliah keperawatan komunitas.

2
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian kondisi kritis/kritikal


Kritis : Suatu kondisi yang mana pasien dalam keadaan gawat tetapi masih ada
kemungkinan untuk mempertahankan kehidupan. Kondisi kritis progresif. Kondisi
kesehatan menjadi lebih buruk atau menjadi lebih parah seiring perjalanan waktu.
Periodenya mungkin meliputi seluruh rentang kehidupan atau dalam waktu yang
lama. Selama kondisi kesehatan kronis,mungkin terdapat periode diam yang diikuti
oleh periode ekserbarsi/bertambah parahnya penyakit atau memburuk secara perlahan.
Contoh kondisi kesehatan kronis progresif adalah beberapa jenis kanker yang tumbuh
perlahan pada penderitanya dan tidak dapatdisembuhkan serta menyebabkan kematian
yang tidak terelakkan. Penyakit paru obstruktif menahun/kronis ditandai dengan
penurunan kapasitas paru yang progresif secara perlahan. Periode gagal jantung.
Diabetes militus, terutama tipe DM bergantung-insulin, menjadi progresif sehingga
lebih sulit ditanggulangi.
Ireversibel : kondisi yang tidak dapat disembuhkan. Kondisi kesehatan kronis
dapat menyebabkan kematian. Muncul kerusakan yang tidak dapat dikoreksi.
Contonya adalah kanker pancreas, yang menyebabkan defisit nutrisi. Terdapat
beberapa tipe penyakit ginjal yang pada akhirnya menyebabkan penyakit gagal ginjal
total dan dapat merusak system utama lainnya seperti system saraf pusat dan system
kardiovaskular. Penyakit paru obstruktif kronis dapat menyebabkan penurunan fungsi
paru, yang tidak dapat kembali normal/ireversibel. Skizofrenia dan penyakit hipolar
tidak dapat disembuhkan.tetapi keduanya dapat dikontrol; bagaimanapun, individu
yang pernah menderita penyakit ini dalam waktu yang lama dapat mengalami
gangguan penilaian, keterampilan social, dan aktifitas hidup sehari-hari.
Kompleks : kondisi kronis dapat memengaruhi berbagai sistem. Pengaruh dari
kondisi kesehatan kronis dapat menjangkau area yang lebih luas dibandingkan pada
saat permulaan proses. Penderita asma tidak hanya mengalami manifestasi fisik, tetapi
mereka sering kali membaasi aktifitas dalam cara-cara tertentu yang dapat
menyebabkan isolasi, sehingga dapat memengaruhi kesehatan mental dan rekresional
mereka. Depresi adalah sekuel yang sering ditimbukan oleh kondisi kesehatan kronis

3
(Davidson & Melzer-Brody, 1999). Terapi terhadap kondisi kronis mungkin
menimbulkan efek samping, seperti nyeri dan defisit nutrisi yang menjadi bagian dan
kondisinya. Diabetes melitus dapat sirkulasi menyebabkan amputasi, umumnya terjadi
pada kaki dan tungkai. Hipertensi dapat menyebabkan penyakit jantung, stroke, dan
gagal ginjal.
2.2 Masalah kondisi kritis pada lansia
1. Mudah jatuh
a. Jatuh merupakan suatu kejadian yang dilaporkan penderitan atau saksi mata
yang melihat kejadian, masalah fisik sehari-hari yang sering ditemukan pada
lansia : yang mengakibatkan seseorang mendadak terbaring /terduduk dilantai
atau tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka
( Ruben, 1996).
b. Jatuh dipengaruhi oleh berbagai factor, diantaranya factor insronsik: gangguan
gaya berjalan, kelemahan otot ekstrinsik: lantai yang licin dan tidak rata,
tersandung oleh benda-benda, penglihatan kurang karena cahaya yang kurang
oleh benda –benda, penglihatan kurang karena cahaya yang kurang terang dan
sebagainya.
2. Mudah lelah, disebabkan oleh:
a. Faktor psikologis, perasaan bosan, keletihan, depresi
b. Gangguan organisme: anemia, kurang vitamin, osteomalasia, dll
c. Pengaruh obat: sedasi, hipnotik

2.3 Beberapa penyebab kondisi kritis pada lansia :


a. Kecelakaan (Accident)
Suatu kejadian dimana terjadi interaksi berbagai factor yang datangnya
mendadak, tidak dikehendaki sehinga menimbulkan cedera (fisik, mental, sosial).
b. Cedera
Masalah kesehatan yang didapat/dialami sebagai akibat kecelakaan.
Kecelakaan dan cedera dapat diklasifikasikan menurut:
1. Tempat kejadian
 Kecelakaan lalu lintas
 Kecelakaan di lingkungan rumah tangga
 Kecelakaan di lingkungan pekerjaan

4
 Kecelakaan di tempat umum lain seperti halnya: tempat rekreasi,
perbelanjaan, taman kota, dan lainnya.
2. Mekanisme kejadian
Jatuh, terpotong, terpeleset, tercekik oleh benda asing, tersengat, terbakar baik
karena efek kimia, fisik maupun listrik atau radiasi.
3. Waktu kejadian
 Waktu perjalanan (traveling, transport time)
 waktu beraktifitas (waktu bekerja, waktu berbelanja, dll)

c. Bencana
Peristiwa atau rangkaian peritiwa yang disebabkan oleh alam dan atau manusia
yang mengakibatkan korban dan penderitaan manusia. kerugian harta benda,
kerusakan Iingkungan, kerusakan sarana dan prasarana umum serta menimbulkan
gangguan terhadap tata kehidupan dan penghidupan masyarakat dan
pembangunan nasional yang memerlukan pertolongan dan bantuan.

5
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Pengertian Depresi


Depresi adalah suatu jenis alam perasaan atau jyang disertai komponen
psikologik: rasa susah, murung, sedih, putus asa dan tidak bahagia, serta komponen
somatik : anoreksia, konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan darah dan denyut
nadi sedikit menyurun. Depresi adalah gangguan alam perasaan (mood) yang ditandai
dengan kemurungan dan kesedihan yang mendalam dan berkelanjutan sehingga
hilangnya kegairahan hidup, tidak mengalami gangguan dalam menilai realitas
(Reality Testing Ability, masih baik), kepribadian tetap utuh atau tidak mengalami
keretakan kepribadian (Splitting Of Personality), perilaku dapat terganggu tetapi
dalam batas-batas normal (Hawari Dadang,2001).
Depresi adalah suatu jenis keadaan perasaan atau emosi dengan komponen
pisikologis seperti rasa sedih, susah, mersa tidak berguna, gagal, putus asa dan
penyesalan atau berbentuk penarikan diri, kegelisahan atau agitasi(Wahyuningsih Dan
Sukamto). Depresi dapat diartikan sebagai salah satu bentuk gangguan kejiwaan pada
alam perasaan (afektif mood), yang ditandai dengan kemurungan, kelesuan, ketidak
gairahan hidup, perasaan tidak berguna, putus asa dan lain sebagainaya.
Depresi merupakan reaksi yang normal bila berlangsung dalam waktu yang
pendek dengan adanya faktor pencetusnya. Depresi merupakan gejala psikotik bila
keluhan yang bersangkutan tidak sesuai lagi dengan realitas, tidak dapat menilai
realitas dan tidak dapat dimengerti oleh orang lain.
Depresi biasanya dicetus oleh trauma fisik seperti penyakit infeksi,
pembedahan, kecelakaan, persalinan dan sebagainya, serta factor psikik seperti
kehilangan kasih saying atau harga diri dan akibat kerja keras.
Beberapa ahli mengemukakan pendapatnya tentang depresi :
1. Menurut Suryantha Chandra (2002:8)
Depresi adalah suau bentuk gangguan sauna hati yang mempengaruhi
kepribadian seseorang. Depresi juga merupakan perasaan sinonim dengan persaan
sedih, murung, kesal, tidak bahagia da menderita. Individu umumnya

6
menggunakan istilah depresi untuk pada keadaan atau suasana yang melibatkan
kesedihan, rasa kesal, tidak mempunyai harga diri dan tidak bertenaga.
2. Menurut John & James (1990:2)
Individu yang menderita depresi aktifitas fisiknya menurun, berfikir sangat
lambat, kepercayaan diri menurun, semangat dan minat hilang, kelelahan yang
sangat, insomnia atau gangguan fisik seperti sakit kepala, gangguan pencernaan,
rasa sesak didada, hingga keinginan untuk bunuh diri.
3. Menurut A. Supratiknya (1995:67)
Salah satu gejalah depresi adalah pikiran dan gerakan motorik yang serba
lamban (retardasi dan psikomotor), fungsi kognitif terganggu, jadi depresi
mencakup dua hal kesadaran yaitu menurunnya aktivitas dan perubahan suasana
hati. Perubahan perilaku orang yang depresi berbeda-beda dari yang ringan sampai
pada kesulitan-kesuitan yang mendalam disertai dengan tangisan, ekspresi
kesedihan, tubuh lungkai dan gaya gerak lambat.
4. Menurut Maramis (1998:107)
Depresi adalah suatu jenis keadaan perasaan atau emosi dengan komponen
psikologis seperti rasa sedih, rasa tidak berguna, gagal, kehilangan, putus asa, dan
penyesalan yang patologis. Depresi juga disertai dengan komponeepresi adalah
suatu jenis keadaan perasaan atau emosi dengan komponen psikologis seperti rasa
sedih, rasa tidak berguna, gagal, kehilangan, putus asa, dan penyesalan yang
patologis. Depresi juga disertai dengan komponen somatic seperti anorexia,
konstipasi tekanan darah dan nadi menurun.dengan kondisi yang demikian, depresi
dapat menyebabkan individu tidak mampu lagi berfungsi secara wajar dalam
hidupnya.
5. Menurut Mendels (Dalam Meyer, 1984:159)
Mengatakan bahwa individu mengalami depresi jika individu mengalami
gejal-gejala rasa sedih, pesimis membenci diri sendiri, kehilangan energi,
kehilangan konsentrasi, dan kehilangan motivasi. Selain itu individu juga
kehilangan energy, Mengatakan bahwa individu mengalami depresi jika individu
mengalami gejal-gejala rasa sedih, pesimis membenci diri sendiri, kehilangan
energi, kehilangan konsentrasi, dan kehilangan motivasi. Selain itu individu juga
kehilangan energy, Mengatakan bahwa individu mengalami depresi jika individu
mengalami gejal-gejala rasa sedih, pesimis membenci diri sendiri, kehilangan
energi, kehilangan konsentrasi, dan kehilangan motivasi. Selain itu individu juga

7
kehilangan energy, Mengatakan bahwa individu mengalami depresi jika individu
mengalami gejal-gejala rasa sedih, pesimis membenci diri sendiri, kehilangan
energi, kehilangan konsentrasi, dan kehilangan motivasi. Selain itu individu juga
kehilangan nafsu makan ,berat badan menurun, insomnia, kehilangan libido dan
selalu ingin menghindari orang lain.
3.2 Aspek Depresi
1. Aspek yang dimanfaatkan secara emosional
a. Perasaan kesal atau patah hati (dejected mood) : perasaan ini menggambarkan
keadaan sedih, bosan dan kesepian yang dialami individu. Keadaaan ini
bervariasi dari kesedihan sesaat hingga kesedihan yang terus-menerus.
b. Perasaan negative terhadap diri sendiri : persaan ini mungkin berhubungan
dengan perasaan sedih yang dijelaskan di atas, hanya bedanya perasaan ini
khusus ditunjukan kepada diri sendiri.
c. Hilangnya rasa puas : maksudnya ialah kehilangan kepuasan atas apa yang
dilakukan. Perasaan ini dapat terjadi pada setiap kegiatan yang dilakukan
termasuk hubungan psikososial, seperti aktivitas yang menurut adanya suatu
tanggung jawab.
d. Hilangnya keterlibatan emosional dalam melakukan pekerjaan atau hubungan
dengan orang lain: keadaan ini biasanya disertai dengan hilangnya kepuasan
diatas. Hal ini dimanifestasikan dalam aktivitas tertentu, kurangnya perhatian
atau rasa keterlibatan emosi nterhadap orang lain.
e. Kecenderungan untuk menagis diluar kemauan : gejala ini banyak dialami oleh
penderita depresi, khususnya wanita. Bahkan mereka yang tidak pernah
menangis selama bertahun-tahun dapat bercucuran air mata atau merasa ingin
menangis tetapi tidak dapat menangis.
f. Hilangnya respon terhadap humor : dalam hal ini penderita tidak kehilangan
kemampuan penderita untuk meresponhumor tersebut dengan cara yang wajar.
Penderita tidak terhibur, atau puas apabila mendengar lelucon.
2. Aspek depresi yang dimanfaatkan secara kognitif
a. Rendahnya evaluasi diri : hal ini tampak dari bagaimana penderita memandang
dirinya. Biasanya mereka menganggap rendah ciri-ciri yang sebenarnya penting,
seperti kemampuan presentasi,intelegensi, kesehatan, kekuatan, daya
tarik,popularitas, dan sumber keuangannya.

8
b. Citra tubuh yang terdistorsi : hal ini lebih sering terjadi pada wanita . mereka
merasa dirinya jelek dan tidak menarik.
c. Harapan yang negatif : penderita mengharapkan hal-hal yang terburuk dan
menolak usaha terapi yang dilakukan.
d. Menyerahkan dan mengkritik diri sendiri : hal ini muncul dalam bentuk
anggapan penderita bahwa dirinya sebagai penyebab segala kekurangannya.
e. Keragu-raguan dalam mengambil keputusan : ini merupakan karakteristik
depresi yang biasanya menjengkelkan orang lain ataupun diri penderita.
Penderita sulit untuk mengambil keputusan, memilih alternative yang ada, dan
mengubah keputusan.
3. Aspek yang dimanifestasikan secara motivasional
Meliputi pengalaman yang disadari penderita, yaitu tentang usaha, dorongan,
dan keinginan . cirri utamanya adalah sifat regresif motivasi penderita, penderita
tampaknya menarik diri dari aktifitas yang menuntut adanya suatu tangguang
jawab inisiatif bertindak atau adanya energy yang kuat.
4. Aspek depresi yang muncul sebagai gangguan fisik
Kehilangan nafsu makan, gangguan tidur, kehilangan libido, dan kelelahan yang
sangat.
5. Aspek yang dimanifestasikan secara emosional
a. Perasaan kesal atau patah hati (dejected mood) : perasaan ini menggambarkan
keadaan sedih, bosan dan kesepian yang dialami individu. Keadaan ini
bervariasi dari kesedihan sesaat hingga kesedihan yang terus-menerus.
b. Perasaan negative terhadap diri sendiri
Perasaan ini mungkin berhubungan dengan perasaan sedih yang dijelaskan di
atas, hanya bedanya perasaan ini khusus ditunjukan kepada diri sendiri.
c. Hilangnya rasa puas : maksudnya ialah kehilangan kepuasan atas apa yang
dilakukan. Perasaan ini dapat terjadi pada setiap kegiatan yang dilakukan
termasuk hubungan psikososial, seperti aktivitas yang menuntut adanya
suatutangguang jawab.
d. Hilangnya keterlibatan emosional dalam melakukan pekerjaan atau hubungan
dengan orang lain: keadaan ini biasanya disertai dengan hilangnya kepuasan
diatas. Hal ini dimanifestasikan dalam aktivitas tertentu, kurangnya perhatian
atau rasa keterlibatan emosi terhadap orang lain.

9
e. Kecenderungan untuk menangis diluar kemauan: gejala ini bnayak dialami oleh
penderita depresi, khusunya wanita. Bahkan mereka yang tidak pernah
menangis selama bertahun-tahun dapat bercucuran air mata atau merasa ingin
menangis tetapi tidak dapat menangis.
f. Hilangya respon terhadap humor : dalam hal ini penderita tidak kehilangan
kemampuan untuk mempersepsi lelucon, namun kesulitannya terletak pada
kemampuan penderita untuk merespon humor tersebut dengan cara yang wajar.
Penderita tidak terhibur, tertawa atau puas apabila mendengar lelucon.
3.3 Etiologi
Faktor penyebab timbulnya gangguan depresi pada orang usia lanjut bisa berupa :
1. Faktor biologis
Hal ini bisa berupa faktor genetis, gangguan pada otak terutama sistem
cerebrovaskular, gangguan neurotransmiter terutama aktivitas serotonin, perubahan
endokrin dll.
a) Faktor genetis
Dari segi aspek faktor genetis, menurut suatu penelitian dinyatakan bahwa gen-
gen yang berhubungan dengan risiko yang meningkatkan kerentanan untuk
timbulnya gangguan depresif. Penelitian lain melaporkan bahwa predisposisi
genetik untuk gangguan depresif mayor pada lansia dapat dimensia oleh adanya
lesi vaskular.
b) Gangguan pada otak
Antara lain yang termasuk dalam gangguan pada otak sebagai salah satu
penyebab timbulnya gangguan depresif pada lansia adalah penyakit
cerebrovaskular, yang mana gangguan ini dapat sebagai faktor predisposisi,
presipitasi atau mempertahankan gejala-gejala gangguan depresi pada lansia.
c) Gangguan neurotransmitter
Pada suatu penelitian yang dilakukan oleh Robinson, dkk., mendapatkan bahwa
konsentrasi norepinephrin dan serotonin berkurang sesuai dengan bertambahnya
usia, tetapi metabolit 5-HIAA dan enzim monoamineoksidase meningkat sesuai
pertambahan usia.
d) Pertambahan endokrin
Dalam hal ini terutama adalah keterlibatan penurunan kadar hormon estrogen
pada wanita, testoteron pada pria, dan hormon pertumbuhan pada pria dan
wanita.

10
Penurunan kadar hormon tersebut sejalan dengan perubahan fisiologis karena
pertambahan usia. Sehingga dengan bertambahnya usia, proses degenersi sel-sel
dari organ tubuh makin meningkat, termasuk diantaranya meningkatnya proses
degenerasi sel-sel organ tubuh yang memproduksi hormon tersebut makin
berkurang. Dengan penurunan kadar hormon terebut, hal ini akan
mempengaruhi produksi neurotransmitter terutama serotonin dan norepinephin.

2. Faktor psikologis
Ini bisa berupa penyimpangan perilaku, psikodinamik, dan kognitif.
a) Teori perilaku terjadinya gangguan depresif pada individu lansia oleh karena
orang-orang lansia cukup banyk mengalami peristiwa-peristiwa kehidupan yang
tidak menyenangkan atau yang cukup berat sehingga terjadinya gangguan
depresif tersebut sebagai respons perilaku terhadap stressor-stressor kehidupan
yang dialaminya tersebut.
Penelitian lain melaporkan bahwa ada kaitan terjadinya gangguan depresi pada
orang lansia, dengan sejumlah peristiwa kehidupan yng negatif yang dialami
individu usia lanjut.
b) Teori psikodinamis
Berdasarkan teori psikodinamis, terjadinya gangguan depresif pada lansia,
oleh karena pada lansia sering terjadi ketidaksanggupan untuk menyelesaikan
pencarian pemulihan sekunder dari peristiwa-peristiwa kehilangan yang tak
terkalahkan oleh individu tersebut.
c) Teori kognitif
Dalam hal ini berkaitan dengan bagaimana interpretasi seseorang terhadap
peristiwa-peristiwa kehidupan yang dialaminya. Terjadinya distorsi kognitif
pada orang lansia oleh karena pada individu lansia tersebut memiliki harapan-
harapan yang tidak relistis dan membuat generalisasi yang berlebih-lebihan
terhadap peristiwa kehidupan tertentu yang tidak menyenagkan individu
tersebut.
3. Faktor sosial
Hal ini bisa berupa hilangnya status peranan sosialnya atau hilangnya sokongan
sosial yang selama ini dimilikinya.

11
3.4 Patofisiologi
Struktur neocortical dorsal mengalami hipometabolis dan struktur limbic ventral
mengalami hipermetabolis selama dalam keadaan gangguan depresif. Selain itu jalur
fronto-striatal pada otak memediasi antisipasi yang mengarah ke efek (alam perasaan)
yang positif, dan abnormalitasnya bisa menhasilkan satu ketidaksanggupan untuk
mendorong antisipasi yang mana ini akan mempredisposisikan keadaan depresif.
Terjadiya kerusakan pada sirkuit fronto-orbital dapat menimbulkan iritabilitas,
dan pengurangan dan sensitifitas pada isyarat-isyarat sosial. Begitu pula kerusakan
cingulata anterior dapat menyebabkan apatis dan menurunnya inisiatif. Kerusakan
sirkuit dorsolateral dapat menyebabkan kesulitan dalam mengubah tempat, dalam
belajar dan generasi daftar kata. Abnormalitas perilaku-perilaku ini menyerupai
gejala-gejala pada gangguan depresif. Begitu pula hipoaktivitas korteks
prefrontodorsalateral da gyrus angularis telah dihubungkan pula dengan gangguan
psikomotor dan gangguan depresif.

3.5 Gambaran klinik

Pada lansia, gambaran klinik dari gangguan depresifnya bisa dijumpai sebagai
berikut:
1. Depresi dan dysphoria
Walaupun demikian kadang-kadang mood depresif bisa tidak dijumpai pada pasien
tersebut, oleh karena ada juga pasien yang menyangkal (denial) terhadap perasaan
demikian.
2. Menangis (tapi pada pasien pria jarang terjadi demikian)
3. Ansietas (kecemasan) dan agitasi
Pada pasien ini bisa dijumpai: pasien masih gugup waktu berkomunikasi dengan
seseorang, mudah tersinggung atau tingkah laku yang mengganggu bersama-sama
dengan gejala-gejala ansietasnya. Dan hal ini bisa dijumpai pada sekitar 80% dari
pasien lansia yang mengalami gangguan depresif.
4. Menurunnya energi dan kelelahan (fatigue)
5. Anhedoni
Disini pasien tersebut kehilangan interest terhadap sesuatu yang dulu disenanginya.
6. Retardasi fisik

12
Kondisi ini dapat menjurus pada meningkatnya kesukaran dalam aktivitas
kehidupan sehari-hari, diet yang buruk, tak mau makn, dan lain-lain.
7. Defisit kognitif
Hal ini sering terlihat pada lansia yang mengalami gangguan depresif dan kadang-
kadang bisa mencapai suastu level yang parah sehingga diduga sedang mengalami
pseudodementia. Bahkan dari suatu penelitian yang pernah dilakukan oleh Kral &
Emery pada tahun 1999, dari pasien sampel penelitiannya tersebut berkembang
menjadi penyakit Alzheimer. Gangguan kognitif yang berkaitan dengan suasana
alam perasaan depresif pada lansia dalam bentuk gangguan fungsi eksekutif,
kecepatan psikomotor, atensi dan inhibisi, serta kemampuan visiospsial. Timbulnya
gangguan defisit kognitif ini diduga disebabkan oleh penurunan fungsi dari lobus
frontalis.
8. Somatisasi
9. Hypokhondriasis
10. Insight
Gejala gangguan insight ini tingkat keparahannya bervariasi, tergantung pada
keparahan penyakitnya.
11. Suicide (bunuh diri)
Menurut suatu penelitian telah dinyatakan bahwa bunuh diri lebih sering terjadi
pada lansia dibandingkan dengan populasi umur lainnya. Dan dari segi jenis
kelamin didaptkan bahwa pria lansia lebih sering melakuka tindakan bunuh diri
dibandingkan dengan wanita yang lansia. Berkitan dengan suicide ini, selain oleh
adanya mood yang depresif, gejla suicide pada lansia bisa terkait dengan beberapa
hal antara lain: belum kawin, kesehatan fisik yang memburuk yang bersifat
subyektif, disabilitas, rasa sakit, gangguan sensori, tinggal d rumh perawatan atau
panti. Walaupun demikian ide suicide berhubungan erat dengan keparahan depresi
yang dideritanya.
12. Gejala-gejala psikotik
Ini bisa dalam bentuk gejala waham atau halusinasi. Isi wahamnya bisa berupa rasa
bersalah, cemburu, atau persekutorik.
13. Gangguan perilaku
Hal ini bisa dalam bentuk gejala-gejala sebagai berikut : penolakan untuk makan,
buang air besar dan buang air kecil yang tak terkontrol, menjerit-jerit, dan jatuh

13
teatrikalitas, tingkah laku merusak, menggigit, menggaruk-garuk atau bertengkar
dengan orang lain atau pasien lainnya.
14. Gangguan tidur, terutama late insomnia
Selain gejala-gejala yang sudah disebutkan diatas tadi dapat dikatakan bahwa
pasien gangguan depresif pada lansia sering dijumpai co-morbiditas dengan
penyakit-penyakit lain, yaitu:
a) Co-mordibitas dengan gangguan psikiatri lainnya antara lain gangguan cemas
(ansietas) dan lainnya.
b) Co-mordibitas dengan penyakit-penyakit fisik, antara lain: penyakit Alzheimer,
penyakit Parkinson, Stroke, penyakit Kardivaskular, dll.
3.6 Tanda dan gejala
Penurunan energi dan konsentrasi, gangguan tidur terutama terbangun dini hari dan
sering terbangun pada malam hari, penurunan nafsu makan, penurunan berat badan
dan keluhan somatik.
1. Suasana hati
 Sedih
 Kecewa
 Murung
 Putus asa
 Rasa cemas dan tegang
 Menangis
 Perubahan suasana hati
 Mudah tersinggung
2. Fiski
 Merasa kondisi tubuhnya menurun, mudah lelah
 Pegal-pegal
 Sakit
 Kehilangan nafsu makan
 Kehilangan berat badan
 Ganguan tidur
 Tidak bisa bersantai
 Berdebar-debar dan berkeringat
 Agitasi

14
3.7 Faktor risiko untuk perkembangan terjadinya depresi pada lansia
Hal-hal berikut ini harus dipertimbangkan untuk dikaitkan dengan perkembangan
terjadinya suatu gangguan depresif dan dapat dipakai sebagai berikut satu cara
pengenalan dan mentargetkan kelompok risiko tinggi, yaitu :
1. Penyakit fisik, erutama yang menimbulkan rasa sakit atau ketidaksanggupan,
kondisi kesehatan menurun dan tubuh lemah.
2. Merasa kesepian, atau anggota keluarga terlalu sibuk, pergaulan kurang dan
rekreasi terbatas.
3. Ada duka cita saat ini, atau peristiwa kehidupan buruk yang lain
4. Gangguan pendengaran
5. Adanya riwayat keluarga dengan ganggun depresif
6. Dementia dini
7. Penghasilan menurun
8. Ada penggunaan obat-obatan tertentu seperti: steroid, mayor transquilizer, dan
lainnya.

Selain itu, dari penelitian yang telah dilakukan didapatkan bahwa: penyebab yang
paling sering terjadinya kematian pada pasien gangguan depresif usia lanjut adalah
oleh karena kondisi kardiovaskular yang bisa berupa: stroke, myocard infarct, dan
sebagainya. Kemudia kanker merupakan penyebab kedua yang paling sering sebagai
penyebab kematian pada penderita gangguan depresif pada usia lanjut.

Faktor lain yang memberikan kontribusi timbulnya depresi tersebut adalah strategi
coping pada lansia itu sendiri yang kurang baik. Strategi coping adalah suatu bentuk
usaha yang dilakukan seseorang unutuk mengurangi atau menghilngkan tekanan-
tekanan psikologis atau stress dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah atau tugas.

3.8 Tingkat depresi lansia (menurut Depkes RI 2001)


1. Depresi ringan, yaitu suasana yang depresif, kehilangan minat, ketenangan dan
mudah elah, konsentrasi dan perhatian kurang, harga diri dan kepercayaan diri
kurang, perasaan salah dan tidak berguna, pandangan masa depan yang suram,
gagasan dan perbuatan yang membahayakan diri, tidak terganggu dan nafsu makan
kurang.
2. Episode depresi sedang, yaitu kesulitan nyata mengikuti kegiatan sosial, pekerjan
dan urusn rumah tangga.

15
3. Depresi berat tanpa gejala manik, yaitu biasanya gelisah, kehilangan harga diri dan
perasaan tidak berguna, juga keinginan bunuh diri.
Gangguan depresi dibedakan dalam depresi ringan, sedang dan berat sesuai
dengan banyak dan beratnya gejala serta dampaknya terhadap fungsi kehidupan
seseorang. Menurut ICD 10, pada gangguan depresi ada 3 gejala utama yaitu:
a. Mood terdepresi (suasana perasaan hati murung/sedih),
b. Hilang minat atau gairah,
c. Hilang tenaga dan mudah lelah, yang disertai dengan gejala lain seperti:
1) Konsentrasi menurun,
2) Harga diri menurun,
3) Perasaan bersalah,
4) Pesimis memandang masa depan,
5) Ide bunuh diri atau menyakiti diri sendiri,
6) Pola tidur berubah,
7) Nafsu makan menurun

3.9 Dampak depresi


Pada usia lanjut depresi yang berdiri sendiri maupun yang bersamaan dengan
penyakit lain hendaknya ditangani dengan sungguh-sungguh karena bila tidak diobati
dapat memperburuk perjalanan penyakit dan memperburuk prognosis.
Pada depresi dapat dijumpai hal-hal seperti dibawah ini (Mudjaddid, 2003):
a. Depresi dapat meningkatkan angka kematian pada pasien dengan penyakit
kardiovaskuler.
b. Pada depresi timbul tidak seimbangan hormonal yang dapat memperburuk
penyakit kardiovaskular (Misal: peningkatan hormone adreno
kortikotropin akan meningkatkan kadarkortisol).
c. Metabolisme serotonin yang terganggu padadepresi akan menimbulkan efek tro
mbogenesis.
d. Perubahan suasana hati (mood) berhubungandengan gangguan respons
imunitas termasuk perubahan fungsi limfosit dan penurunan jumlah limfosit.
e. Pada depresi berat terdapat penurunan aktivitas sel natural killer.
f. Pasien depresi menunjukkan kepatuhan yang buruk pada program
pengobatan maupun rehabilitasi.

16
Depresi pada lansia yang tidak ditangani dapatberlangsung bertahun-tahun
dan dihubungkan dengan kualitas hidup yang jelek, kesulitan dalam fungsi sosial
dan fisik, kepatuhan yang jelek terhadap terapi, danmeningkatnya morbiditas
dan mortalitas akibat bunuhdiri dan penyebab lainnya (Unützer, 2007). Beberapap
enelitian menunjukkan bahwa depresi pada lansia menyebabkan
peningkatan penggunaan rumah sakitdan outpatient medical services (Blazer, 2003).

3.10 Skala Pengukuran Depresi Pada Lanjut Usia


Depresi dapat mempengaruhi perilaku dan aktivitas seseorang terhadap
lingkungannya. Gejala depresi pada lansia diukur menurut tingkatan sesuai dengan
gejala yang termanifestasi. Jika dicurigai terjadi depresi, harus dilakukan pengkajian
dengan alat pengkajian yang terstandarisasi dan dapat dipercayai serta valid dan
memang dirancang untuk diujikan kepada lansia. Salah satu yang paling mudah
digunakan untuk diinterprestasikan diberbagai tempat, baik oleh peneliti maupun
praktisi klinis adalah Geriatric Depression Scale (GDS). Alat ini diperkenalkan
oleh Yesavagepada tahun 1983 dengan indikasi utama pada lanjut usia, dan memiliki
keunggulan mudah digunakan dan tidak memerlukan keterampilan khusus dari
pengguna. Instrument GDS ini memiliki sensitivitas 84 % danspecificity 95 %. Tes
reliabilitas alat ini correlates significantly of 0,85 (Burns, 1999). Alat ini terdiri dari
30 poin pertanyaan dibuat sebagai alat penapisan depresi pada lansia. GDS
menggunakan format laporan sederhana yang diisi sendiri dengan menjawab “ya”
atau “tidak” setiap pertanyaan, yang memrlukan waktu sekitar 5-10 menit untuk
menyelesaikannya. GDS merupakan alat psikomotorik dan tidak mencakup hal-hal
somatik yang tidak berhubungan dengan pengukuran mood lainnya. Skor 0-10
menunjukkan tidak ada depresi, nilai 11-20 menunjukkan depresi ringan dan skor 21-
30 termasuk depresi sedang/berat yang membutuhkan rujukan guna mendapatkan
evaluasi psikiatrik terhadap depresi secara lebih rinci, karena GDS hanya merupakan
alat penapisan.

3.11 Penatalaksanaan Depresi Pada usia Lanjut


a. Terapi fisik
1) Obat
Secara umum, semua obat antidepresan sama efektivitasnya. Pemilihan jenis
antidepresan ditentukan oleh pengalaman klinikus dan pengenalan terhadap

17
berbagai jenis antidepresan. Biasanya pengobatan dimulai dengan dosis
separuh dosis dewasa, lalu dinaikkan perlahan-lahan sampai ada perbaikan
gejala.
2) Terapi Elektrokonvulsif (ECT)
Untuk pasien depresi yang tidak bisa makan dan minum, berniat bunuh diri
atau retardasi hebat maka ECT merupakan pilihan terapi yang efektif dan
aman. ECT diberikan 1- 2 kali seminggu pada pasien rawat nginap, unilateral
untuk mengurangi confusion/memory problem.Terapi ECT diberikan sampai
ada perbaikan mood(sekitar 5 - 10 kali), dilanjutkan dengan anti depresan
untuk mencegah kekambuhan.
b. Terapi Psikologik
1) Psikoterapi
Psikoterapi individual maupun kelompok paling efektif jika dilakukan
bersama-sama dengan pemberian antidepresan. Baik pendekatan psikodinamik
maupun kognitif behavior sama keberhasilannya. Meskipun mekanisme
psikoterapi tidak sepenuhnya dimengerti, namun kecocokan antara pasien dan
terapis dalam proses terapeutik akan meredakan gejala dan membuat pasien
lebih nyaman, lebih mampu mengatasi persoalannya serta lebih percaya diri.
2) Terapi kognitif
Terapi kognitif - perilaku bertujuan mengubah pola pikir pasien yang selalu
negatif (persepsi diri, masa depan, dunia, diri tak berguna, tak mampu dan
sebagainya) ke arah pola pikir yang netral atau positif. Ternyata pasien usia
lanjut dengan depresi dapat menerima metode ini meskipun penjelasan harus
diberikan secara singkat dan terfokus. Melalui latihan-latihan, tugas-tugas dan
aktivitas tertentu terapi kognitif bertujuan merubah perilaku dan pola pikir.
3) Terapi keluarga
Problem keluarga dapat berperan dalam perkembangan penyakit depresi,
sehingga dukungan terhadap keluarga pasien sangat penting. Proses penuaan
mengubah dinamika keluarga, ada perubahan posisi dari dominan menjadi
dependen pada orang usia lanjut. Tujuan terapi terhadap keluarga pasien yang
depresi adalah untuk meredakan perasaan frustasi dan putus asa, mengubah
dan memperbaiki sikap/struktur dalam keluarga yang menghambat proses
penyembuhan pasien.
4) Penanganan Ansietas (Relaksasi)

18
Teknik yang umum dipergunakan adalah program relaksasi progresif baik
secara langsung dengan instruktur (psikolog atau terapis okupasional) atau
melalui tape recorder. Teknik ini dapat dilakukan dalam praktek umum
sehari-hari. Untuk menguasai teknik ini diperlukan kursus singkat terapi
relaksasi.
3.12 Penanganan depresi dapat dilakukan pada lansia itu sendiri, keluarga lansia dan
masyarakat, yaitu:
a. Diri Sendiri (Lansia)
1) Berfikir positif
2) Terbuka bila ada masalah
3) Menerima kondiri apa adanya
4) Ikut Kegiatan pengajian
5) Tidur yang cukup
6) Olahraga teratur
7) Optimis
8) Rajin beribadah
9) Latihan relaksasi
10) Ikut beraktivitas dan bekerja sesuai kemampuan
b. Keluarga
1) Dukung lansia tetap berkomunikasi
2) Ajak lansia berdiskuasi setiap minggu sekali
3) Mendengarkan keluahan lansia
4) Berikan bantuan ekonomi
5) Dukung kegiatan lansia
6) Ikut serta anak dan cucu merawat lansia
7) Memberikan kesempatan lansia beraktivitas sesuai dengan kemampuan
c. Masyarakat
1) Sediakan sarana posbindu untuk pelayanan kesehatan lansia
2) Siapkan tempat dan waktu latihan aktivitas lansia
3) Support group

19
BAB IV
Asuhan Keperawatan Kritikal pada Lansia dengan Depresi

4.1 Pengkajian
1. Identitas diri klien
2. Struktur keluarga : Genogram
3. Riwayat keluarga
4. Riwayat penyakit klien
Kaji ulang riwayat dan pemeriksaan fisik untuk adanya tanda dan gejala karakteristik
yang berkaitan dengan gangguan terentu yang di diagnosis.
a. Kaji adanya depresi
b. Singkirkan kemungkinan adanya depresi dengan scrining yang tepat, seperti geriatric
depresion scale.
c. Ajukan pertanyaan – pertanyaan pengkajian keperawatan
d. Wawancarai klien, pemberi asuhan atau keluarga.
5. Lakukan observasi langsung terhadap :
a. Perilaku
Bagaimana kemampuan klien mengurus diri sendiri dan melakukan aktivitas hidup
sehari hari?
1) Apakah klien menunjukan perilaku yang tidak dapat di terima secara sosial?
2) Apakah klien sering mengluyur dan mondar – mandir?
3) Apakah ia menunjukan sindrom down atau perseveration phenomena?
b. Afek
1) Apakah klien menunjukan ansietas?
2) Labilitas emosi?
3) Depresi atau apatis?
4) Iritabilitas?
5) Curiga?
6) Tidak berdaya?
7) Frustasi?
c. Respon Kognitif
1) Bagaimana tingkat orientasi klien?
2) Apakah klien mengalami kehilangan ingatan tentang hal-hal yang baru saja atau
yang sudah lama terjadi?

20
3) Sulit mengatasi masalah, mengorganisasikan atau mengabstrakan?
4) Kurang mampu membuat penilaian?
5) Terbukti mengalami afasia, agnosia atau apraksia?
6. Luangkan waktu bersama pemberi asuhan atau keluarga
a. Indentifikasi pemberian asuhan primer dan tentukan berapa lama ia sudah
menjadi pemberi asuhan di keluarga tersebut.
b. Identifikasi sistem pendukung yang ada bagi pemberi asuhan dan anggota
keluarga yang lain.
c. Identifikasi pentahuan dasar tentang perawatan klien dan sumber daya
komunitas (catat hal-hal yang perlu di ajarkan)
d. Identifikasi sistem pendukung spiritual bagi keluarga.
e. Identifikasi kekhawatiran tertentu tentang klien dan kekhawatiran pemberi
asuhan tentang dirinya sendiri.

Mengkaji Klien Lansia Dengan Depresi

1. Membina hubungan saling percaya dengan klien lansia.


Untuk melakukan pengkajian pada lansia dengan depresi, pertama-tama saudara harus
membina hubungan saling percaya dengan pasien lansia. Untuk dapat membina
hubungan saling percaya, dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut :
a. Selalu mengucapkan salam kepada pasien seperti : selamat pagi / siang / sore /
malam atau sesuai dengan konteks agama pasien.
b. Perkenalkan nama saudara (nama panggilan), termasuk menyampaikan bahwa anda
adalah perawat yang akan merawat pasien.
c. Tanyakan pula nama pasien dan nama panggilan kesukaannya.
d. Jelaskan tujuan saudara merawat pasien dan aktivitas yang akan di lakukan.
e. Jelaskan pula kapan aktivitas akan dilaksanakan dan berapa lama aktivitas tersebut.
f. Bersikap empati dengan cara :
1) Duduk bersama klien, melakukan kontak mata, beri sentuhan dan menunjukan
perhatian.
2) Berbicara lambat, sederhana dan berikan waktu klien untuk berfikir dan
menjawab.
3) Perawat mempunyai harapan bahwa klien akan lebih baik
4) Bersikap hangat, sederhana akan mengekspresikan pengharapan pada klien
5) Mengkaji pasien lansia dengan depresi

21
Untuk mengkaji pasien lansia dengan depresi, anda dapat menggunakan tehnik
mengobservasi perilaku pasien dan wawancara langsung kepada pasien dan
keluarganya. Observasi yang anda lakukan terutama untuk mengkaji data objective
depresi. Ketika mengobservasi perilaku pasien untuk tanda-tanda seperti : penampilan
tidak rapih, kusut dan dandan tidak rapih, kulit kotor (kebersihan diri kurang). Inteaksi
selama wawancara : kontak mata kurang, tampak sedih, murung, lesu, lemah,
komunikasi lambat/tidak mau berkomunikasi.

Berikut ini adalah aspek psikososial yang perlu di kaji oleh perawat : apakah
lansia mengalami kebingungan, kecemasan, menunjukan efek yang labil, datar atau
tidak sesuai, apakah lansia mempunyai ide untuk bunuh diri. Bila data tersebut anda
peroleh, data subjektif di dapatkan melalui wawancara dengan menggunakan skala
depresi pada lansia.

CATATAN PERAWATAN (CP 1A)


DATA FOKUS

No. Data Subjektif No. Data Objektif


1. Lansia tidak mampu mengutarakan 1. Proses berfikir terlambat, seolah-olah
pendapat dan malas berbicara. pikiranya kosong, konsentrasi
terganggu, tidak mempunyai minat,
tidak dapat berfikir, tidak mempunyai
daya khayal.

2. Sering mengemukakan keluhan 2. Gerakan tubuh terhambat, tubuh yang


somatic seperti : nyeri abdomen dan melengkung dan bila duduk dengan
dada, anoreksia, sakit punggung, sikap yang merosot.
pusing.
3. Merasa dirinya sudah tidak berguna 3. Ekspresi wajah murung, gaya jalan yang
lagi, tidak berarti, tidak ada tujuan lambat dengan langkah yang di seret.
hidup, meraasa putus asa dan
cenderung bunuh diri.
4. Pasien mudah tersinggung dan 4.  Kadang-kadang terjadi stupor
ketidak mampuan untuk konsentrasi.  Pasien tampak malas, lelah, tidak
nafsu makan, sukar tidur dan sering
menangis

22
CATATAN PERAWATAN (CP 1B)
ANALISA DATA

No. Data Etiologi


1. Data subjektif : Stress
- Merasa dirinya sudah
tidak berguna lagi, tidak Merasa tertekan
berarti, tidak ada tujuan
hidup, meraasa putus asa koping menghadapi
dan cenderung bunuh masalah yang kurang
diri. baik
- Pasien mudah
tersinggung dan ketidak stress yang tidak dapat
mampuan untuk dihadapi
konsentrasi.
Data objektif : Depresi
- Ekspresi wajah murung,
gaya jalan yang lambat
dengan langkah yang di
seret.
- Kadang-kadang terjadi
stupor
- Pasien tampak malas,
lelah, tidak nafsu makan,
sukar tidur dan sering
menangis
2. Data objektif : Sulit memfokuskan
- Lansia tidak mampu sesuatu
mengutarakan pendapat
dan malas berbicara. Kebingungan, sulit
- Sering mengemukakan memutuskan tindakan
keluhan somatic seperti :
nyeri abdomen dan dada, Kehilangan minat dan

23
anoreksia, sakit motivasi diri
punggung, pusing.
Data objektif : Menarik diri
- Proses berfikir terlambat,
seolah-olah pikiranya Isolasi sosial
kosong, konsentrasi
terganggu, tidak
mempunyai minat, tidak
dapat berfikir, tidak
mempunyai daya khayal.
- Gerakan tubuh
terhambat, tubuh yang
melengkung dan bila
duduk dengan sikap
yang merosot.

4.2 Diagnosa Keperawatan


1. Depresi berhubungan dengan mencederai diri.
2. Isolasi berhubungan dengan kondisi yang diderita.
4.3 Rencana Tindakan Keperawatan
1. Depresi berhubungan dengan mencederai diri.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam, lansia tidak
mencederai diri
Kriteria hasil :
a. Lansia dapat mengungkapkan perasaannya.
b. Lansia tampak lebih bahagia.
c. Lansia sudah bisa tersenyum ikhlas.
No Intervensi Rasional
1 Bina hubungan saling percaya dengan lansia Hubungan saling percaya
dapat mempermudah
dalam mencari data-data
tentang lansia
2 Lakukan interaksi dengan pasien sesering Dengan sikap sabar dan
mungkin dengan sikap empati dan dengarkan empati lansia akan
pernyataan pasien dengan sikap sabar empati merasa lebih
dan lebih banyak memakai bahasa non diperhatikan dan berguna

24
verbal. Misalnya memberikan sentuhan,
anggukan.
3 Patau dengan seksama resiko bunuh diri/ Meminimalkan
melukai diri sendiri. Jauhkan dan siman alat- terjadinya perilaku
alat yang dapat digunakan oleh pasien untuk mencederai diri
mencederai dirinya/ orang lai, ditempat yang
aman dan terkunci.

2. Isolasi sosial berhubungan dengan kondisi yang diderita.


Tujuan : setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam lansia tidak
merasa stres dan depresi.
Kriteria hasil :
a. Klien dapat meningkatkan harga diri
b. Klien dapat menggunakan dukungan sosial
c. Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat.
No Intervensi Rasional
1 Bantu untuk memahami bahwa klien dapat Membangun motivasi
mengatasi keputusannya pada lansia
2 Kaji dan kerahkan sumber-sumber internal Individu lebih percaya diri
individu
3 Bantu mengidentifikasi sumber-sumber Menumbuhkan semangat
harapan ( misalnya : hubungan antar hidup lansia klien dapat
sesame, keyakinan, hal-hal untuk menggunakan dukungan
diselesaikan) social
4 Kaji dan manfaatkan sumber-sumber Lansia tidak merasa
eksternal individu (orng-orang terdekat tim sendiri
pelayanan kesehatan, kelompok pendukung,
agama yang dianut)
5 Kaji system pendukung keyakinan (nilai, Meningkatkan nilai
pengalaman masa lalu, aktivitas keagamaan, spiritual lansia
kepercayaan agama)
6 Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 Prinsip 5 benardapat
benar ( benar pasien, obat, dosis, cara, memaksimalkan fungsi
waktu) obat secara efektif
7 Diskusikan tentang obat (nama, dosis, Klien dapat menggunakan
frekuensi, efek dan efek samping minum obat dengan benar dan
obat) tepat untuk member
pemahaman kepada lansia
tentang obat
8 Lakukan rujukan sesuai indikasi (misal : Untuk menangani secara
konseling pemuka agama) cepat dan tepat
9 Anjurkan membicarakan efek dan efek Menambah pengetahuan
samping yang dirasakan lansia tentang efek
samping obat
10 Beri reinforcement positif bila Lansia merasa dirinya
menggunakan obat dengan benar lebih berharga

25
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Gangguan depresif merupakan salah satu gangguan mental-emosional yang
cukup sering di jumpai pada orang usia lanjut. Hal ini dapat di sebabkan oleh faktor
penyebab dari gangguan depresi begitu besar kemungkinan akan di alami oleh usia
lanjut. Di lain pihak, walaupun terapi untuk gangguan depresi tersebut dilaksanakan
namun hasilnya tidaklah dapat mencapai hasil yang maksimal, mengingat kekurangan
secara fisik dan psikososial pada lansia tidaklah dapat di kembalikan seperti semula.

5.2 Saran

Asuhan keperawatan pada lansia haruslah dilakukan secara profesional dan


komperehensip, yaitu dengan memandang pada aspek bio psiko sosial spiritual pada
lansia.

26