You are on page 1of 74

PROPOSAL RISET

PERBEDAAN PERSEPSI REMAJA PUTRA DAN REMAJA


PUTRI TENTANG PERILAKU SEKS PRA NIKAH
DI SMA YAPERJASA
TAHUN 2017

DISUSUN OLEH :

SITI RAHAYU

08160100012

PROGRAM SARJANA KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INDONESIA MAJU
JAKARTA
2017
PERBEDAAN PERSEPSI REMAJA PUTRA DAN REMAJA
PUTRI TENTANG PERILAKU SEKS PRA NIKAH
DI SMA YAPERJASA
TAHUN 2017

Proposal Riset Ini Sebagai Prasyarat Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan

DISUSUN OLEH :

SITI RAHAYU

08160100012

PROGRAM ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INDONESIA MAJU
JAKARTA
2017

ii
LEMBAR PERSETUJUAN

PERBEDAAN PERSEPSI REMAJA PUTRA DAN REMAJA


PUTRI TENTANG PERILAKU SEKS PRA NIKAH
DI SMA YAPERJASA
TAHUN 2017

Telah mendapat persetujuan untuk dilkasanakan sidang proposal

Jakarta, September 2017

Pembimbing Riset

(Ns. Ruswanti, S.Kep, M.Kes, M.Kep, Sp.Kep.Mat)

iii
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang

telah memberikan Rahmat dan Petunjuk-Nya sehingga penulis dapat

menyelesaikan Skripsi ini yang berjudul “Perbedaan persepsi remaja putra dan

remaja putri tentang perilaku seks pra nikah di SMA YAPERJASA Tahun 2017”

Penulisan Proposal Skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu

persyaratan untuk kelulusan Program S-1 Keperwatan Tinggi Ilmu Kesehatan

Indonesia Maju (STIKIM).

Dalam penulisan Proposal Skripsi ini banyak memperoleh bantuan dan

dukungan dari berbagai pihak, sehingga penulisan proposal ini dapat selesai untuk

dilanjutkan kepada hasil penelitian. Untuk itu penulis mengcapkan terimakasih dan

penghargaan yang sebesar–besarnya atas kesediaan dan bimbingan serta dukungan

moral kepada penulis antara lain :

1. Dr. Dr. dr. Hafizurrachman, MPH Selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu

Kesehatan Indonesia Maju.

2. Ns. Yeni Koto, S.Kep, M.Kes selaku ketua Jurusan Keperawatan Sekolah

Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Maju (STIKIM)

3. Ns. Ruswanti, S.Kep, M.Kes, M.Kep, Sp.Kep.Mat selaku dosen pembimbing

yang telah memberikan arahan dan masukan dalam penyelesaian proposal ini.

iv
4. Segenap dosen beserta staf Program Studi Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu

Kesehatan Indonesia Maju Jakarta yang telah memberikan ilmu, bimbingan dan

arahan selama dalam pendidikan.

5. Seluruh rekan-rekan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia

Maju Jakarta yang tidak bisa disebutkan satu persatu disini serta semua

pihak yang selalu menemani penulis dalam keadaan suka maupun duka

6. Orang tua, Suami, Anak saya yang telah memberikan support dan mendoakan

kelancaran dalam penyusunan proposal penelitian ini

7. Seluruh Perawat yang tergabung dalam grup perawat Cantik di RSUD

Jagakarsa yang telah banyak memberikan masukan dan saran dalam

pembuatan proposal ini.

8. Semua pihak yang tidak sempat saya sebutkan namanya yang turut membantu

selama penyusunan proposal penelitian ini sampai selesai

Dalam penyusunan penelitian ini penulis menyadari masih jauh dari

kesempurnaan. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran untuk

perbaikan dimasa mendatang. Akhir kata semoga penelitian yang sederhana dapat

bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu keperawatan.

Jakarta, September 2017

Penulis

v
DAFTAR ISI

COVER .............................................................................................................. i
LEMBAR PERSETUJUAN ............................................................................. iii
KATA PENGANTAR ....................................................................................... iv
DAFTAR ISI...................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL ............................................................................................. xi
DAFTAR SEKEMA.......................................................................................... xii
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xiii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang................................................................... 1
B. Perumusan Masalah ........................................................... 12
C. Tujuan Penelitian ............................................................... 12
1. Tujuan Umum ............................................................... 12
2. Tujuan Khusus .............................................................. 12
D. Manfaat Penelitian ............................................................. 13
1. Manfaat Aplikatif.......................................................... 13
2. Manfaat Teoritis............................................................ 13
3. Manfaat Metodologis .................................................... 13

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

A. Teori dan Konsep Terkait .................................................. 15


1. Remaja .......................................................................... 15
a. Pengertian Ramaja ................................................. 15
b. Perkembangan Remaja dan Ciri-cirinya.................. 17
c. Tugas Perkembangan Remaja ................................ 19

vi
d. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan
Remaja.................................................................... 20
e. Aspek-aspek Perubahan pada Remaja...................... 21
2. Persepsi ......................................................................... 22
a. Pengertian Persepsi ................................................ 22
b. Teori Persepsi ........................................................ 25
c. Syarat Terjadinya Persepsi .................................... 25
d. Proses Persepsi ...................................................... 26
e. . Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi .......... 27
f. Persepsi Remaja Putra dan Putri Tentang Perilaku
Seksual Pranikah .................................................... 31
g. Sintesa Persepsi tentang Perilaku Seksual Pranikah 33
3. Perilaku Seks Pra Nikah ............................................... 34
a. Pengertian Perilaku ................................................. 34
b. Pengertian Perilaku Seks Pra Nikah ....................... 34
c. Bentuk-Bentuk Perilaku Seks ................................. 36
d. Faktor Faktor Perilaku Seksual .............................. 39
B. Penelitian Terkait............................................................... 41
C. Kerangka Teori .................................................................. 43

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

A. Kerangka Konsep Penelitian ............................................. 44


B. Hipotesis ............................................................................ 44
C. Definisi Operasional .......................................................... 45

BAB IV METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN

A. Desain Penelitian ............................................................... 46


B. Populasi dan Sampel.......................................................... 46
1. Populasi......................................................................... 46

vii
2. Sampel .......................................................................... 47
C. Kriteria Inklusi dan Ekslusi ............................................... 47
D. Tempat dan Waktu Penelitian ........................................... 47
E. Etika Penelitian .................................................................. 47
F. Alat Pengumpulan Data ..................................................... 49
G. Validitas dan Reliabilitas Instrumen ................................. 51
H. Prosedur Pengumpulan Data ............................................. 52
I. Pengolahan Data ................................................................ 53
J. Analisa Data ...................................................................... 55
K. Jadwal Kegiatan................................................................. 56

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

viii
Tabel 3.1 Definisi Operasional ................................................................. 45

Tabel 4.1 Jadual Peneltian......................................................................... 54

DAFTAR GAMBAR

ix
Skema 2.2 Kerangka teori ......................................................................... 43
Skema 3.1 Kerangka Konsep Penelitian ................................................... 44

DAFTAR LAMPIRAN

x
Lampiran 1 Kuesioner Penelitian

xi
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Remaja merupakan suatu fase perkembangan yang dinamis dalam

perkembangan kehidupan individu. Masa remaja adalah masa peralihan dari

anak-anak ke dewasa. Menurut Sarwono (2011) perubahan fisik merupakan

gejala primer dalam pertumbuhan remaja, dan perubahan psikologis muncul

akibat dari terjadinya perubahan fisik. Perubahan fisik meliputi penampilan

fisik seperti bentuk tubuh dan proporsi tubuh dan fungsi fisiologis (kematangan

organ-organ seksual). Perubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas ini

merupakan peristiwa yang paling penting, berlangsung cepat, drastis, tidak

beraturan dan terjadi pada sistem reproduksi.

Sarwono (2011) menyatakan bahwa remaja adalah suatu masa dimana

individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tandan-tanda

seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual. Individu

mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari anak-anak

menjadi dewasa, serta terjadi peralihan dari ketergatungan sosial ekonomi yang

penuh kepada keadaan yang relative mandiri.. Hal tersebut mengakibatkan

timbulnya bermacam-macam masalah, antara lain dorongan seksual. Dorongan

seksual akan menimbulkan minat yang kuat terhadap lawan jenis.

1
2

Pada masa remaja, banyak remaja mengalami perubahan baik secara

fisik maupun secara psikologis, sehingga mengakibatkan perubahan sikap dan

tingkah laku, seperti mulai memperhatikan penampilan diri, mulai tertarik

dengan lawan jenis, berusaha menarik perhatian dan muncul perasaan cinta,

yang kemudian akan timbul dorongan seksual (Adnani dan Citra, 2009).

Remaja memiliki rasa ingin tahu yang besar mengenai misteri seks.

Mereka bertanya-tanya, apakah mereka memiliki daya tarik seksual,

bagaimana caranya berperilaku sexy, dan bagaimana kehidupan seksual

mereka di masa depan (Santrock,2007). Masa remaja merupakan masa yang

penuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan oleh Bapak

Psikologi Remaja Stanley Hall pada awal abad ke-20. Pendapat Stanley Hall

pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan

(storm and stress). Permasalahan perilaku seksual merupakan salah satu dari

berbagai macam permasalahan remaja yang ada saat ini yang dapat

menjadikan badai dan tekanan bagi remaja.

Penyebab dari perilaku seks pranikah diantaranya di karenakan

kurangnya peran pengarahan dari orang tua, peran guru, dan masyarakat.

Sehingga mempengaruhi perkembangan remaja seperti di sekolah dan dalam

hubungan sosial . di tambah dengan tingkat Sipritualitas remaja yang kurang,

sehingga belum bisa membentengi diri terhadap pengaruh lingkungan yang

sangat beragam dari sikap dan perilaku yang tidak benar baik secara akidah

dan norma kesusilaan. Banyak Remaja terlibat dalam keinginan untuk

melakukan seks bebas dengan pacarnya. Dan keinginan ini berhasil


3

diwujudkan karena tidak ada orang yang betul-betul dapat memberi alasan

yang baik untuk menolak keinginan tersebut. Zaman sekarang remaja

cenderung melihat pepuasan nafsu sebagai suatu kenikmatan, tetapi

melupakan kenyataan-kenyataan yang kompleks dan menyakitkan akibat seks

itu sendiri (Torsina, 2010).

Saat ini, banyak remaja kurang mendapatkan penerangan mengenai

kesehatan reproduksi. Pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi

masih sangat rendah. Hanya 17,1% perempuan dan 10,4% laki-laki

mengetahui secara benar tentang masa subur dan resiko kehamilan (BKKBN,

2008). Sebagai akibat dari kurangnya informasi mengenai kesehatan

reproduksi, mengakibatkan resiko terjadinya Kehamilan yang Tidak

Diinginkan (KTD), abortus, dan infeksi menular seksual akan meningkat.

Masalah seksual telah menjadi problematika sosial di kalangan

masyarakat. Masalah tersebut tidak sekedar berwujud dalam satu bentuk,

tetapi ada beberapa permasalahan seperti perkembangan seksual, kesehatan

seksual, penyimpangan seksual dan sebagainya. Penyimpangan-

penyimpangan perilaku seksual yang muncul di kalangan anak yang baru

memasuki usia remaja adalah salah satu dari sekian banyak masalah

seksual. Masalah seksual pada remaja sering kali mencemaskan para orang

tua, juga pendidik, pejabat pemerintah, para ahli, dan sebagainya. Tingkah

laku yang di dorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenisnya atau

sesama jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku ini bermacam-macam, mulai dari

perasaan tertarik sampai tingkah laku berkencan, berciuman, atau


4

bersengama (Sarwono, 2011).

Gaya busana di kalangan remaja saat ini sangat memprihatinkan,

banyak remaja putri yang mengenakan baju tank top/ you can see dan dengan

rok mini/ celana ketat dan pendek yang memperlihatkan aurat mereka,

sehingga mengundang rasa penasaran remaja putra yang memang sedang masa

pubertas. Masalah lain adalah, remaja menganggap kurang gaul bila tidak

mengikuti trend, dan menganggap melakukan hubungan seksual saat ini sudah

hal yang biasa.

Dari data WHO tercatat lebih dari 32 ribu perempuan yang mengalami

KTD dalam rentang waktu 2010-2014. Jumlah tersebut menjadi salah satu

yang paling tinggi di kawasan ASEAN. Menurut data BBC indonesia bahwa

jumlah aborsi tahunan di seluruh dunia meningkat dari 50 juta per tahun antara

1990-1994 menjadi 56 juta per tahun antara 2010-2014. Peningkatan jumlah

aborsi paling banyak terlihat di negara maju sebagian didorong oleh

pertumbuhan penduduk dan oleh keinginan untuk memiliki keluarga kecil.

Perhitungan mereka menunjukkan bahwa, di saat jumlah aborsi per orang

tidak banyak berubah di negara-negara miskin, justru di negara-negara kaya

turun dari jumlah 25 menjadi 14 orang per 1.000 wanita usia reproduksi

(WHO, 2015).

Angka aborsi alias pengguguran kandungan di dunia masih tergolong

tinggi. Setiap tahun tak kurang dari 56 juta tindakan aborsi dilakukan di

seluruh dunia. Sementara itu, kasus aborsi tercatat menurun drastis dalam 25

tahun belakangan ke posisi terendah di negara-negara kaya. Namun, tidak


5

demikian di negara-negara berkembang yang lebih miskin. Sebuah studi oleh

WHO (badan kesehatan PBB) dan Guttmacher Institute juga menemukan

bahwa penerapan hukum yang ketat berpengaruh pada penurunan tingkat

aborsi, tetapi penerapan hukum tersebut lebih seperti pemaksaan.

Diperkirakan setiap tahun terjadi sekitar 56 juta tindakan aborsi di seluruh

dunia pada 2010-2014 (Tempo, 2017).

Berdasarkan data KPAI berdasarkan kasus pengaduan anak berdasarkan

klaster perlindungan anak menjelaskan bahwa anak korban pergaulan seks

bebas pada tahun 2015 sebanyak 113 kasus dan pada tahun 2016 sebanyak 157

kasus. Sedangkan untuk korban pernikahan dibawah umur pada tahun 2015

sebanyak 7 kasus dan pada tahun 2016 sebanyak 10 kasus. Dampak dari kasus

perilaku seks bebas yaitu aborsi, kasus aborsi terjadi pada tahun 2015 sebanyak

19 kasus dan pada tahun 2016 sebanyak 33 kasus (KPAI, 2016).

Kasus aborsi di Jakarta Kepolisian membongkar praktik aborsi ilegal dua

klinik di kawasan Jakarta Pusat. Kedua klinik untuk menggugurkan kandungan

ini telah beroperasi selama lima tahun dan diduga telah mengaborsi 5.400 janin.

Kasus aborsi sebelumnya pernah dibongkar Polres Jakarta Pusat di wilayah

Cempaka Putih dengan jumlah korban mencapai ratusan orang dalam kurun

waktu dua tahun. Polres Jakarta Barat juga pernah mengungkap praktik aborsi

dengan korban mencapai puluhan orang.

Dampak Ketidak mampuan remaja dalam mengendalikan dorongan

biologis mengakibatkan Kehamilan diluar pernikahan dipicu oleh sikap

sembarangan yang diperlihatkan terhadap lawan jenis, baik pria maupun


6

wanita. Remaja harus belajar mengendalikan hormon seksual mereka dan

menyadari akibat dari hubungan seks pranikah yaitu kehamilan yang terjadi

diluar pernikahan (Tinceuli, 2010).

Kehamilan remaja di luar nikah adalah kehamilan yang terjadi pada usia

antara 14-19 tahun tanpa melalui proses pernikahan. Kehamilan di luar nikah

dengan mempertahankan kehamilan dengan melihat dari resiko psikologi dan

sosial, risiko masa depan, risiko ekonomi, risiko fisik. Setiap remaja yang

mengalami kehamilan di luar nikah akan terganggu keadaan emosionalnya,

apalagi bagi yang tidak bisa menerima kehamilan tersebut karena malu

terhadap lingkungan sehingga mendorong remaja untuk menggugurkan

kandungan. Risiko menggugurkan kehamilan dengan aborsi, yaitu risiko fisik,

risiko psikis, risiko sosial (Cuman, 2009).

Dari segi kesehatan reproduksi usia remaja belum siap menerima

pembuahan hasil konsepsi, sehingga bisa mengakibatkan perdarahan, kematian

ibu, dan kecacatan pada bayi akibat tindakan ibu yang saat hamil minum obat-

obatan untuk menggugurkan bayinya. Di pihak remaja putri lebih banyak

kerugian yg harus di tanggung daripada remaja putra. Dampak ini yang belum

banyak di pikirkan oleh para remaja, mereka baru menyesal setelah terjadi

kehamilan. Bagi remaja yang masih sekolah, tentunya dampak dari perilaku

seksual yang sampai mengakibatkan kehamilan bisa meyebabkan remaja

tersebut di keluarkan dari sekolah, yang efeknya bisa membuat remaja stres,

malu pada guru, orang tua dan lingkungan.

Salah satu faktor psikologis yang mempengaruhi remaja dalam seksual


7

adalah persepsi. Istilah persepsi sering disebut juga disebut juga dengan

pandangan, gambaran atau anggapan, sebab dalam persepsi terdapat tanggapan

seseorang mengenai satu hal atau objek. Persepsi (bahasa Latin perceptio,

percipio) merupakan proses yang timbul akibat adanya stimulus atau

rangsangan yang diterima melalui lima indera sehingga seseorang dapat

menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan dan hal ini dipengaruhi pula

oleh pengalaman-pengalaman yang ada pada diri orang yang bersangkutan.

Persepsi meliputi semua sinyal dalam sistem saraf yang merupakan hasil dari

stimulasi fisik atau kimia dari organ pengindera. Misalnya penglihatan

merupakan cahaya yang mengenai retina mata, penciuman yang memakai

media molekul bau/aroma dan pendengaran yang melibatkan gelombang suara.

Persepsi bukanlah penerimaan isyarat secara pasif, tetapi dibentuk oleh

pembelajaran, ingatan, harapan dan perhatian (Yohana, Antin. 2009).

Menurut James P. Chaplin dalam Pieter (2010), persepsi adalah proses

untuk mengetahui atau mengenal objek atau kejadian objektif yang

menggunakan indera atau kesadaran dari proses-proses organis. Titchener

mengatakan bahwa persepsi adalah satu kelompok penginderaan dengan

penambahan arti-arti yang berasal dari pengalaman di masa lalu. Menurut

pandangan psikologi kontemporer, persepsi secara umum diperlakukan sebagai

satu variabel campur tangan (variabel intervening) yang tergantung pada

faktor-faktor motivasional. Maka arti dari suatu objek atau kejadian objektif

ditentukan oleh kondisi perangsang atau faktor organisme. Dengan alasan ini,

maka persepsi mengenai dunia oleh pribadi ditanggapi berbeda-beda karena


8

individu menanggapinya berdasarkan aspek-aspek situasi yang memberikan

arti khusus pada dirinya. Secara umum, persepsi adalah proses mengamati

dunia luar yang mencakup perhatian, pemahaman dan pengenalan objek-objek

atau peristiwa. Biasanya persepsi diorganisasikan ke dalam bentuk (figure),

dasar (ground), garis bentuk (garis luar, kontur) dan kejelasan.

Perilaku seksual dikalangan remaja pertama kali melakukan hubungan

seksual aktif, bervariasi antara usia 14-23 tahun dan usia terbanyak adalah

antara 17-18 tahun. Perilaku seksual pada remaja ini berakibat pada kehamilan

diluar nikah, penyakit menular seksual dan maraknya kasus aborsi (Sarwono.

S.W. 2011).

Pendapat Sarlito Wirawan Sarwono (2006: 142) menyebutkan perilaku

seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik

dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis. Keadaa ini akan banyak

menimbulkan penyimpangan perilaku seksual bagi remaja apabila tidak

dilakukan pencegahan terutama bagi remaja tunalaras yang mereka sendiri

tidak mampu untuk mengendalikan emosinya.

Berdasarkan hasil penelitian Ahmad Taufik (2013) Berbagai macam

penyebab para remaja melakukan seks pranikah mulai dari adanya dorongan

biologis atau seksual (sexual drive) yang sudah tidak dapat mereka bendung

dan dilakukan semata-mata untuk memperkokoh komitmen dalam berpacaran,

untuk memenuhi keingintahuan dan sudah merasa siap untuk melakukannya,

merasakan afeksi dari pasangan atau partner seksnya bahkan karena adanya

permasalahan dalam keluarga (brokhenhome) seperti kurangnya mendapatkan


9

kasih sayang dari orang tua. Akan tetapi dari beberapa pendapat yang

diutarakan oleh informan di atas diketahui bahwa alasan para remaja di

Kelurahan Sempaja Selatan khususnya di SMK Negeri 5 Samarinda melakukan

seks pranikah sebagian besar dikarenakan kurangnya mendapat kasih sayang

dari orang tua, kurangnya iman tidak mengingat Tuhan Yang Maha Esa,

sehingga para remaja tersebut berani melakukan perbuatan dosa seperti

perilaku seks pranikah. Juga informan mengutarakan beberapa alasan lainnya

yaitu rasa ingin tahu yang berlebih dari para remaja tersebut, sering keluar

malam (pergaulan bebas) walau tidak ada acara penting seperti berkumpul

dengan teman-teman, takut ditinggal oleh pacar mengikuti bujuk rayuan pacar,

kurangnya biaya, iri dengan teman-teman yang lebih mampu melakukan jual

diri dengan yang akrab di sapa Om-Om, sering berduaan serta tingginya nafsu,

rasa ingin tau yang berlebih, merasa ketagihan dan karena banyaknya pasangan

yang memiliki pikiran kotor serta karena bujuk rayuan gombal pacar untuk

ingin dinikahi serta kurangnya pedoman hidup terutama pada hal agama dan

keyakinan,pelampiasan rasa kecewa, salah memilih teman dalam bergaul

sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh National Health and Social Live

Survey.

Berdasarkan hasil penelitian Dwi hartanto tahun 2014 menjelaskan

bahwa persepsi remaja tentang pengertian perilaku seksual pranikah sebagian

besar adalah buruk, persepsi remaja tentang bentuk-bentuk perilaku seksual

pranikah sama antara persepsi baik dan buruk, persepsi remaja tentang

penyimpangan perilaku seksual pranikah sebagian besar adalah baik, dan


10

persepsi remaja tentang perilaku seksual pranikah pada remaja di desa

Tambaklelo Tempel Sleman Yogyakarta sebagian besar adalah baik.

Berdasarkan dua penelitian sebelumnya diatas diketahui bahwa dari

kedua penelitian diatas belum membedakan persepsi antara remaja putra

dengan remaja putri tentang perilaku seksual pranikah. Penelitian tersebut baru

meneliti persepsi remaja secara umum tentang perilaku seksual pranikah.

Olehkarena itu peneliti ingin meneliti secara spesifik persepsi antara remana

pria dengan remaja putri tentang perilaku seks pranikah.

Berdasarkan studi pendahuluan kepada siswa SMA YAPERJASA

terhadap perspepsi seksual pra nikah bahwa berdasarkan hasil wawancara

kepada siswa mereka 7 dari 10 siswa mempunyai persepsi bahwa seksual itu

dapat menyebabakan bahaya bagi dirinya misalnya jika melakukan hubungan

seksual nanti dapat terjadi kehamilan diluar nikah. berdasarkan hasil

wawancara kepada 6 dari 10 siswi disekolah mengatakan bahwa setiap laki laki

jika pacaran menginginkan untuk melakukan hubungan seksual walaupun tidak

semua untuk melakukan hubungan making love tapi dalam betuk kissing,

berpelukan serta meraba raba bagian intim wanita.

Berdasarkan fenomena tersebut diatas, maka penulis merasa tertarik

untuk meneliti yang berjudul perbedaan persepsi remaja putra dan remaja putri

tentang seks pra nikah di SMA YAPERJASA Tahun 2017.

B. Rumusan Masalah
11

Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa. dimana

individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tandan-tanda

seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual, banyak

remaja mengalami perubahan baik secara fisik maupun secara psikologis.

Remaja memiliki rasa ingin tahu yang besar mengenai misteri seks. Mereka

bertanya-tanya, apakah mereka memiliki daya tarik seksual, bagaimana

caranya berperilaku sexy, dan bagaimana kehidupan seksual mereka di masa

depan. Penyebab dari perilaku seks pranikah diantaranya di karenakan

kurangnya peran pengarahan dari orang tua, peran guru, dan masyarakat.

Banyak Remaja terlibat dalam keinginan untuk melakukan seks bebas

dengan pacarnya. Masalah seksual pada remaja sering kali mencemaskan para

orang tua, juga pendidik, pejabat pemerintah, para ahli, dan sebagainya.

Dampak Ketidak mampuan remaja dalam mengendalikan dorongan biologis

mengakibatkan Kehamilan diluar pernikahan dipicu oleh sikap sembarangan

yang diperlihatkan terhadap lawan jenis, baik pria maupun wanita.

Dari data WHO tercatat masih banyak perempuan yang mengalami KTD

terus meningkat dalam rentang waktu 2010-2014. Dan jumlah aborsi tahunan

di seluruh dunia meningkat. Berdasarkan data KPAI berdasarkan kasus

pengaduan anak berdasarkan klaster perlindungan anak menjelaskan bahwa

anak korban pergaulan seks bebas dan pernikahan dibawah umur terus

meningkat dari tahun ke tahun sehingga dampak dari kasus perilaku seks bebas

yaitu aborsi terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.


12

Berdasarkan dua penelitian sebelumnya diatas diketahui bahwa dari

kedua penelitian diatas belum membedakan persepsi antara remaja putra

dengan remaja putri tentang perilaku seksual pranikah. Penelitian tersebut baru

meneliti persepsi remaja secara umum tentang perilaku seksual pranikah.

Olehkarena itu peneliti ingin meneliti secara spesifik persepsi antara remana

pria dengan remaja putri tentang perilaku seks pranikah.

Berdasarkan masalah diatas, maka rumusan masalah pada penelitian ini

adalah apakah ada perbedaan persepsi remaja putra dan remaja putri tentang

perilaku seks pra nikah di SMA YAPERJASA Tahun 2017?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan persepsi

remaja putra dan remaja putri tentang perilaku seks pra nikah di SMA

YAPERJASA Tahun 2017.

2. Tujuan Khusus

a. Diketahui gambaran persepsi remaja putra tentang perilaku seks pra

nikah di SMA YAPERJASA Tahun 2017

b. Diketahui gambaran remaja putri tentang perilaku seks pranikah di

SMA YAPERJASA Tahun 2017.

c. Diketahui perbedaan persepsi remaja putra dan remaja putri tentang

perilaku seks pranikah di SMA YAPERJASA Tahun 2017.


13

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Aplikatif

a. Bagi Sekolah

Hasil penelitian bagi sekolah dapat dijadikan sebagai pencegahan

terhadap resiko terjadinya kehamilan diluar nikah pada remaja

perempuan.

b. Bagi STIKIM

Hasil penelitian bagi institusi pendidikan sebagai masukan untuk lebih

mengetahui sejauh mana tingkat kemampuan mahasiswa dalam

melakukan penelitian,serta dapat digunakan sebagai acuan dan bahan

perbandingan pada penelitian bagi mahasiswa angkatan selanjutnya.

2. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk memperkaya dan

mengembangkan teori-teori tentang persepsi dan perilaku siswa terhadap

kebutuhan seksual.

3. Manfaat Metodologis

Menambah bahan bacaan bagi mahasiswa untuk meningkatkan

atau menambah ilmu tentang hubungan persepsi dan perilaku siswa

terhadap kebutuhan seksual dan menambah wawasan serta pengalaman

peneliti dalam melakukan penelitian. Selain itu, penelitian ini merupakan

salah satu sarana penerapan ilmu pengetahuan yang telah didapatkan

selama mengikuti perkuliahan di Fakultas Keperawatan Sekolah Tinggi

Ilmu Kesehatan Indonesia Maju.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori dan Konsep Terkait

I. Remaja

a. Pengertian Remaja

Remaja adalah suatu masa dimana individu berkembang dari saat pertama

kali ia menunjukkan tandan-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai

kematangan seksual. Individu mengalami perkembangan psikologis dan pola

identifikasi dari anak-anak menjadi dewasa, serta terjadi peralihan dari

ketergatungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif mandiri

(Sarwono, 2011).

Masa remaja, menurut Mappiare (dalam Ali & Asrori, 2012) berlangsung

antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai

dengan 22 tahun bagi pria. Remaja yang dalam bahasa aslinya disebut adolescence,

berasal dari bahasa latin adolescere yang artinya “tumbuh untuk mencapai

kematangan”. Perkembangan lebih lanjut, istilah adolescence sesungguhnya

memiliki arti yang luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik

(Hurlock, dalam Ali & Asrori, 2012).

Fase remaja adalah merupakan segmen perkembangan individu yang sangat

penting, yang diawali matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu

bereproduksi.

14
15

WHO (World Health Organization) mendefinisikan remaja secara

konseptual, dibagi menjadi tiga kriteria yaitu biologis, psikologis dan sosial

ekonomi (Sarwono, 2012). Secara lengkap definisi tersebut berbunyi sebagai

berikut:

1) Remaja berkembang mulai dari pertama kali menunjukkan tanda-

tanda seksual sekundernya sampai mencapai kematangan seksual

2) Remaja mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi

dari kanak- kanak menjadi dewasa

3) Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi menuju keadaan

yang relatif lebih mandiri

Piaget (dalam Ali & Asrori, 2012) mengatakan bahwa secara psikologis,

remaja adalah suatu usia ketika individu menjadi terintegrasi ke dalam masyarakat

dewasa, suatu usia saat anak tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat

orang yang lebih tua melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar.

Berdasarkan definisi-definisi tersebut diatas, dapat ditarik kesimpulan

bahwa remaja adalah suatu usia ketika individu mulai menunjukkan tanda-tanda

seksual sekundernya sampai mencapai kematangan seksual, mengalami

perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa,

terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi menuju keadaan yang relatif

lebih mandiri, menjadi terintegrasi ke dalam masyarakat dewasa, serta individu

tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan

merasa sama, atau paling tidak sejajar (WHO, dalam Sarwono, 2012; Piaget, dalam

Ali & Asrori, 2012).


16

b. Perkembangan Remaja dan ciri-cirinya

Membagi usia remaja menjadi tiga fase sesuai tingkatan umur yang dilalui

oleh remaja. Menurut Sa’id, setiap fase memiliki keistimewaannya tersendiri.

Ketiga fase tingkatan umur remaja tersebut antara lain:

1) Remaja Awal (early adolescence)

Tingkatan usia remaja yang pertama adalah remaja awal. Pada tahap ini,

remaja berada pada rentang usia 12 hingga 15 tahun. Umumnya remaja

tengah berada di masa sekolah menengah pertama (SMP).

Keistimewaan yang terjadi pada fase ini adalah remaja tengah berubah

fisiknya dalam kurun waktu yang singkat. Remaja juga mulai tertarik

kepada lawan jenis dan mudah terangsang secara erotis.

2) Remaja Pertengahan (middle adolescence)

Tingkatan usia remaja selanjutnya yaitu remaja pertengahan, atau ada

pula yang menyebutnya dengan remaja madya. Pada tahap ini, remaja

berada pada rentang usia 15 hingga 18 tahun. Umumnya remaja tengah

berada pada masa sekolah menengah atas (SMA). Keistimewaan dari

fase ini adalah mulai sempurnanya perubahan fisik remaja, sehingga

fisiknya sudah menyerupai orang dewasa. Remaja yang masuk pada

tahap ini sangat mementingkan kehadiran teman dan remaja akan

senang jika banyak teman yang menyukainya.

3) Remaja Akhir (late adolescence)

Tingkatan usia terakhir pada remaja adalah remaja akhir. Pada tahap ini,

remaja telah berusia sekitar 18 hingga 21 tahun. Remaja pada usia ini
17

umumnya tengah berada pada usia pendidikan di perguruan tinggi, atau

bagi remaja yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, mereka bekerja

dan mulai membantu menafkahi anggota keluarga. Keistimewaan pada

fase ini adalah seorang remaja selain dari segi fisik sudah menjadi orang

dewasa, dalam bersikap remaja juga sudah menganut nilai-nilai orang

dewasa.

Menurut Yani Widiastuti (2009), berkaitan dengan masalah reproduksi

remaja kita sangat perlu mengenal perkembangan remaja serta ciri-cirinya.

Berdasarkan sifat atau ciri perkembangannya, masa (rentang waktu) remaja ada tiga

tahap, yaitu:

1) Masa remaja awal (10-12 tahun)

a) Tampak dan merasa lebih dekat dengan teman sebaya.

b) Tampak dan merasa ingin bebas.

c) Tampak dan merasa memang lebih banyak memperhatikan

tubuhnyadan mulai berpikir yang khayal ( abstrak)

2) Masa remaja tengah (13-15 tahun)

1) Tampak dan merasa ingin mencari identitas diri

2) Ada berkeinginan untuk berkencan atau ketertarikan pada lawan

jenis

3) Timbul perasaan cinta yang mendalam

4) Kemampuan berfikir abstrak (berkhayal) makin berkembang

5) Berkhayal yang mengenai hal-hal yang berkaitan dengan seksual

3) Masa remaja akhir (16-19 tahun)


18

1) Menampakan pengungkapan kebebasan diri

2) Dalam mencari teman sebaya lebih selektif

3) Memiliki citra (gambaran, keadaan, peranan) terhadap dirinya

4) Dapat mewujudkan perasaan cinta

5) Memliki kemampuan berfikir khayal atau abstrak

c. Tugas Perkembangan Remaja

Tugas perkembangan masa remaja difokuskan pada upaya meninggalkan

sikap dan perilaku kekanak-kanakan serta berusaha untuk mencapai kemampuan

bersikap dan berperilaku secara dewasa. Adapun tugas-tugas perkembangan masa

remaja menurut Hurlock (dalam Ali & Asrori, 2012) adalah berusaha:

1) Mampu menerima keadaan fisiknya.

2) Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa.

3) Mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang

berlainan jenis.

4) Mencapai kemandirian emosional.

5) Mencapai kemandirian ekonomi.

6) Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang sangat

diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggota masyarakat.

7) Memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan

orangtua.

8) Mengembangkan perilaku tanggung jawab sosial yang diperlukan untuk

memasuki dunia dewasa.


19

9) Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan.

10) Memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan

keluarga.

Tugas-tugas perkembangan fase remaja ini amat berkaitan dengan

perkembangan kognitifnya, yaitu fase operasional formal. Kematangan

pencapaian fase kognitif akan sangat membantu kemampuan dalam melaksanakan

tugas-tugas perkembangannya dengan baik.

d. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Remaja

Secara umum ada 2 faktor yang mempengaruhi perkembangan remaja

(Dariyo, 2011)

1) Faktor endogen (nature)

Dalam pandangan ini dinyatakan bahwa perubahan-perubahan fisik maupun

psikis dipengaruhi oleh faktor internal yang bersifat herediter yaitu yang

diturunkan oleh orangtua.

2) Faktor eksogen (murture)

Faktor eksogen menyatakan bahwa perubahan dan perkembangan individu

sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari luar diri individu itu

sendiri. Faktor ini diantaranya berupa lingkungan fisik maupun lingkungan

sosial.
20

e. Aspek-aspek Perubahan pada Remaja

Dua aspek pokok dalam perubahan pada remaja (Notoadmojo, 2007 )

1) Perubahan fisik

Masa remaja diawali dengan pertumbuhan yang sangat cepat dan

biasanya disebut pubertas. Dengan adanya perubahan yang cepat itu

terjadilah perubahan fisik yang dapat diamati seperti pertambahan tinggi

dan berat badan pada remaja atau biasa disebut “Pertumbuhan” dan

kematangan seksual sebagai hasil dari perubahan hormonal.

2) Perubahan

Masa remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan

masa dewasa. Masa transisi seringkali menghadapkan individu yang

bersangkutan pada situasi yang membingungkan, disuatu pihak ia masih

kanak-kanak dan dilain pihak ia harus bertingkah laku seperti orang

dewasa. Situasi-situasi yang menimbulkan konflik itu sering

menyebabkan tingkah laku aneh, canggung, dan kalau tidak dikontrol

bisa menimbulkan kenakalan.

Kematangan seksual remaja ditandai dengan keluarnya air mani

pertama pada laki-laki, sedangkan pada remaja wanita mengalami

menstruasi pertama. Antara remaja putra dan remaja putri kematangan

seksual terjadi dalam usia yang agak berbeda. Spermache terjadi pada

usia sekitar 13 tahun, sedangkan untuk menarche terjadi kira-kira pada

usia 11 tahun.
21

2. Persepsi

a. Pengetian Persepsi

Persepsi adalah pengalaman yang dihasilkan melalui indra penglihatan,

pendengaran, dan penciuman. Setiap orang memiliki persepsi yang berbeda

meskipun objek persepsi sama. Melalui persepsi, seseorang mampu untuk

mengetahui atau mengenal objek melalui alat pengindraan. Persepsi seseorang

sangat dipengaruhi oleh minat, kepentingan, kebiasaan yang dipelajari, bentuk, latar

belakang (background), kontur kejelasan atau kontur letak. Dengan persepsi,

individu terangsang terhadap objek-objek atau perubahan-perubahan yang disadari

sehingga memungkinkan dia merubah sifat ataupun perilaku (Pieter, 2011).

Menurut Moskowitz dan Orgel dalam Walgito (2011), menyebutkan bahwa

persepsi adalah proses pengorganisasian, penginterpretasian stimulus yang diterima

oleh individu sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan aktifitas

yang terintegrasi dalam individu. Davidoff dalam Walgito (2011), juga menegaskan

bahwa stimulus persepsi dapat datang dari dalam diri dan luar diri individu yang

bersangkutan. Bila yang dipersepsi adalah dirinya sendiri sebagai objek persepsi,

inilah yang disebut sebagai persepsi diri (self perception). Karena persepsi

merupakan aktifitas yang terintegrasi, maka seluruh apa yang ada dalam individu

seperti perasaan, pengalaman, kemampuan berpikir, kerangka acuan, dan aspek-

aspek yang ada dalam individu tersebut ikut berperan dalam persepsi tersebut.

Dalam persepsi sekalipun stimulus sama, tetapi karena pengalaman tidak sama,

kemampuan berpikir tidak sama, kerangka acuan tidak sama, adanya kemungkinan
22

hasil persepsi antara individu satu dengan individu yang lain tidak sama. Keadaan

tersebut menggambarkan bahwa setiap persepsi itu sangat bersifat individual.

Menurut Rakhmat (2008), persepsi adalah pengalaman tentang objek,

peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan

informasi dan menafsirkan pesan. Dengan demikian persepsi merupakan gambaran

arti atau interprestasi yang bersifat subjektif, artinya persepsi sangat tergantung

pada kemampuan dan keadaan diri yang bersangkutan. Dalam kamus psikologi

persepsi diartikan sebagai proses pengamatan seseorang terhadap segala sesuatu di

lingkungannya dengan menggunakan indera yang dimilikinya, sehingga menjadi

sadar terhadap segala sesuatu yang ada di lingkungan tersebut.

Persepsi adalah proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap

rangsang yang diterima oleh organisme atau individu sehingga merupakan sesuatu

yang berarti dan merupakan aktivitas yang integrated dalam diri individu (Bimo,

dalam Sunaryo, 2008).

Menurut Maramis dalam Sunaryo (2008), persepsi adalah daya mengenal

barang, kualitas atau hubungan, dan perbedaan antara hai ini melalui proses

mengamati, mengetahui, atau mengartikan setelah pancainderanya mendapat

rangsang. Dengan demikian, persepsi dapat diartikan sebagai proses diterimanya

rangsang melalui pancaindera yang didahului oleh perhatian sehingga individu

mampu mengetahui mengartikan, dan menghayati tentang hal yang diamati, baik

yang ada di luar maupun yang ada di dalam diri individu.

Walgito (2011), mengungkapkan bahwa persepsi merupakan suatu proses

pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diterima oleh


23

organisme atau individu sehingga menjadi sesuatu yang berarti dan merupakan

aktivitas yang integrated dalam diri individu. Respon sebagai akibat dari persepsi

dapat diambil oleh individu dengan berbagai macam bentuk. Stimulus mana yang

akan mendapatkan respon dari individu tergantung pada perhatian individu yang

bersangkutan. Berdasarkan hal tersebut, perasaan, kemampuan berfikir,

pengalaman-pengalaman yang dimiliki individu tidak sama, maka dalam

mempersepsi sesuatu stimulus, hasil persepsi mungkin akan berbeda antar individu

satu dengan individu lain. Setiap orang mempunyai kecenderungan dalam melihat

benda yang sama dengan cara yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut bisa

dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah pengetahuan, pengalaman dan

sudut pandangnya. Persepsi juga bertautan dengan cara pandang seseorang terhadap

suatu objek tertentu dengan cara yang berbeda-beda dengan menggunakan alat

indera yang dimiliki, kemudian berusaha untuk menafsirkannya. Persepsi baik

positif maupun negatif ibarat file yang sudah tersimpan rapi di dalam alam pikiran

bawah sadar kita. File itu akan segera muncul ketika ada stimulus yang memicunya,

ada kejadian yang membukanya. Persepsi merupakan hasil kerja otak dalam

memahami atau menilai suatu hal yang terjadi di sekitarnya.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa persepsi

adalah tanggapan atau proses penafsiran terhadap suatu oleh seseorang dengan

memberi makna dan penafsiran dalam menghasilkan sesuatu makna yang berarti.

b. Teori Persepsi
24

Menurut Edberg (2007), Health Belief Model (HBM) merupakan teori yang

paling luas digunakan. HBM dicetuskan pada tahun 1950-an berkat penelitian

psikolog sosial dari U.S Public Health Service (USPHS) yakni Godfrey

Houchbaum, Irwin Rosenstock, dan Stephen Kegeles. HBM dalam promosi

kesehatan harus memperhatikan komponen-komponen atau konstruksi yang

merupakan pengungkit bagi faktor yang mempengaruhi perilaku. Komponen-

komponen model hubungan kesehatan dengan kepercayaan (HBM) adalah:

1) Persepsi kerentanan. Derajat risiko yang dirasakan seseorang terhadap

masalah kesehatan.

2) Persepsi keparahan. Tingkat kepercayaan seseorang bahwa konsekuensi

masalah kesehatan yang akan menjadi semakin parah.

3) Persepsi manfaat. Hasil positif yang dipercaya seseorang sebagai hasil

dari tindakan.

4) Persepsi hambatan. Hasil negatif yang dipercayai sebagai hasil dari

tindakan.

5) Petunjuk untuk bertindak. Peristiwa eksternal yang memotivasi

seseorang untuk bertindak.

6) Efikasi diri. Kepercayaan seseorang akan kemampuannya dalam

melakukan tindakan.

c. Syarat Terjadinya Persepsi

Menurut Sunaryo (2008), syarat-syarat terjadinya persepsi adalah sebagai

berikut:

1) Adanya objek yang dipersepsi


25

2) Adanya perhatian yang merupakan langkah pertama sebagai suatu

persiapan dalam mengadakan persepsi.

3) Adanya alat indera/reseptor yaitu alat untuk menerima stimulus

4) Saraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus ke otak, yang

kemudian sebagai alat untuk mengadakan respon.

d. Proses Persepsi

Menurut Miftah (2008), proses terbentuknya persepsi didasari pada beberapa

tahapan, yaitu:

1) Stimulus atau Rangsangan

Terjadinya persepsi diawali ketika seseorang dihadapkan pada suatu

stimulus/rangsangan yang hadir dari lingkungannya.

2) Registrasi

Dalam proses registrasi, suatu gejala yang nampak adalah mekanisme

fisik yang berupa penginderaan dan syarat seseorang berpengaruh

melalui alat indera yang dimilikinya. Seseorang dapat mendengarkan

atau melihat informasi yang terkirim kepadanya, kemudian mendaftar

semua informasi yang terkirim kepadanya tersebut.

3) Interpretasi

Interpretasi merupakan suatu aspek kognitif dari persepsi yang sangat

penting yaitu proses memberikan arti kepada stimulus yang diterimanya.

Proses interpretasi tersebut bergantung pada cara pendalaman, motivasi

dan kepribadian seseorang.


26

Diknasari (2009), menyatakan salah satu pembentuk persepsi yaitu

perhatian, pemusatan atau kekuatan jiwa atau psikis yang tertuju pada

suatu objek. Perhatian adalah banyaknya kesadaran yang menyertai suatu

aktifitas yang dilakukan. Apabila ditinjau dari segi timbulnya perhatian,

perhatian dapat dibedakan menjadi dua yaitu:

1) Perhatian spontan

Perhatian spontan adalah perhatian yang timbul dengan

sendirinya, timbul secara spontan. Perhatian ini erat hubungannya

dengan minat individu, bila individu telah mempunyai minat terhadap

objek, maka terhadap objek biasanya timbul perhatian yang spontan,

secara otomatis perhatian itu akan timbul.

2) Perhatian tidak spontan

Perhatian tidak spontan adalah perhatian yang ditimbulkan

dengan sengaja, karena itu harus ada kemauan untuk

menimbulkannya.

e. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi

Siagian (2009), menyatakkan bahwa diri orang yang bersangkutan, sasaran

persepsi dan faktor situasi merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi

seseorang.

1) Diri orang yang bersangkutan sendiri

Apabila seseorang melihat sesuatu dan berusaha memberikan

interpretasi tentang apa yang dilihatnya itu. Dalam hal ini yang

berpengaruh adalah karakteristik individual sikap, motif, kepentingan,


27

minat, pengalaman dan pengharapan. Melalui pengalaman, seseorang bisa

mendapatkan informasi baik secara langsung maupun tidak langsung.

Langsung artinya pengalaman tertentu dialami sendiri oleh individu yang

bersangkutan dan tidak langsung artinya individu yang bersangkutan

memperoeh informasi dari buku atau sumber lain

2) Sasaran persepsi tersebut

Yang menjadi sasaran persepsi dapat berupa orang, benda atau

peristiwa, dimana sifat-sifat dari sasaran persepsi dapat mempengaruhi

persepsi orang yang melihatnya. Hal-hal lain yang ikut menentukan

persepsi seseorang adalah gerakan, suara, ukuran, tindak tanduk dan ciri-

ciri lain dari sasaran persepsi.

3) Faktor situasi

Persepsi hams dilihat secara kontekstual yang berarti dalam situasi

mana persepsi itu timbul perlu pula mendapatkan perhatian memiliki

hubungan yang bersifat timbal balik. Persepsi tentang sesuatu hal akan

mengarahkan seseorang untuk memperhatikan hal-hal tertentu.

Sebaliknya, apabila seseorang menaruh perhatian pada suatu hal tertentu

maka perhatian seseorang tersebut akan mempengaruhi persepsinya

(Satiadarma, 2001 dalam Siagian, 2009). Situasi merupakan faktor yang

turut berperan dalam penumbuhan persepsi seseorang Misalnya, seorang

anak akan menunjukkan suatu pola prilaku tertentu bila berhadapan

dengan orang tua seperti sopan, tertib dan sejenisnya, berbeda dengan

prilakunya apabila berada di tengah-tengah rekan sebayanya.


28

Menurut Notoatmojo (2010), setelah seseorang mengetahui

stimulus atau objek kesehatan, kemudian mengadakan penilaian atau

pendapat terhadap apa yang diketahui, proses selanjutnya diharapkan ia

akan melaksanakan atau mempraktekkan apa yang diketahui atau

disikapinya. Inilah yang disebut praktik kesehatan, atau dapat dikatakan

sebagai perilaku kesehatan. Oleh sebab itu indikator praktik kesehatan

ini sangat berkaitan dengan persepsi.

Arikunto dalam Ali (2008), menyatakan bahwa persepsi dipengaruhi faktor-

faktor yaitu:

1) Ciri khas objek stimulus yang memberikan nilai bagi orang yang

mempersiapkannya dan seberapa jauh objek tertentu dapat

menyenangkan bagi seseorang

2) Faktor-faktor pribadi termasuk di dalamnya ciri khas individu, seperti

taraf kecerdasan, minat, emosional dan lain sebagainya.

3) Faktor pengaruh kelompok, artinya respon orang lain di lingkungannya

dapat memberikan arah kesuatu tingkah laku

4) Faktor perbedaan latar belakang tingkah laku kultural (kebiasaan)

Menurut Sofyandi dan Garniwa (2007), ada tiga faktor yang mempengaruhi

persepsi seseorang, yaitu:

1) Pelaku Persepsi

Bila seorang individu memandang pada suatu target dan mencoba

menafsirkan apa yang dilihatnya, penafsiran itu sangat dipengaruhi oleh

karakteristikkarakteristik pribadi dari pelaku persepsi individual itu.


29

Diantara karakteristik pribadi yang lebih relevan mempengaruhi persepsi

adalah sikap, motif, kepentingan atau minat, pengalaman masa lalu, dan

pengharapan.

2) Target

Karakteristik-karakteristik dalam target yang akan diamati dapat

mempengaruhi apa yang dipersiapkan. Orang-orang yang keras suaranya

lebih mungkin untuk diperhatikan dalam suatu kelompok daripada

mereka yang pendiam. Demikian pula individu-individu yang luar biasa

menarik atau luar biasa tidak menarik. Gerakan, bunyi, ukuran, atribut-

atribut lain dari target membentuk cara seseorang memandang.

3) Situasi

Situasi adalah hal penting dalam setiap individu melihat objek-objek atau

peristiwa-peristiwa. Unsur-unsur dalam lingkungan sekitar

mempengaruhi persepsi-persepsi individu.

Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi adalah:

1) Kemampuan dan keterbatasan fisik dari alat indera dapat mempengaruhi

persepsi untuk sementara waktu ataupun permanen.

2) Kondisi lingkungan.

3) Pengalaman masa lalu, Bagaimana cara individu untuk

menginterpretasikan atau bereaksi terhadap stimulus tergantung dari

pengalaman masa lalunya


30

4) Kebutuhan dan keinginan, Ketika seorang individu membutuhkan atau

menginginkan sesuatu maka ia akan terus berfokus pada hal yang

dibutuhkan dan diinginkannya tersebut.

5) Kepercayaan, prasangka dan nilai, Individu akan lebih memperhatikan

dan menerima orang lain yang memiliki

f. Persepsi Remaja Putra dan Putri Tentang Perilaku Seksual Pra nikah

Pada masa remaja itu, terjadi suatu pertubuhan fisik yang cepat yang disertai

banyak perubahan termasuk didalamnya pertumbuhan organ – organ reproduksi

(organ seksual) sehingga tercapai kematangan yag ditunjukkn dengan kemampuan

melaksanakan fungsi reproduksi. perubahan yang terjadi pada pertumbuhan

tersebut diikuti dengan munculnya tanda-tanda sebagai berikut :

1) Pada Remaja Putra

Tanda-tanda seks primer yaitu adalah organ seks pada laki-laki gonad

atau testes.organ itu terletak di dalam skrotum. pada usia 14 tahun baru

sekitar 10% dari ukuran yang matang. setelah itu terjadilah pertumbuhan

yang pesat selama satu atau dua tahun, kemudian pertumbuhan

menurun. testes berkembang penuh pada usia 20 atau 21 tahun. sebagai

tanda bahwa fungsi organ – organ pria matang. lazimnya terjadi mimpi

basah artinya dia bermimpi mengenai hal – hal yang berkaitan dengan

hubungan seksual, sehingga mengeluarkan sperma.

Tanda- tanda seks sekunder pada laki-laki rambut yang mencolok

tumbuh pada masa remaja adalah rambut kemaluan, terjadi sekitar satu

tahun setelah testes dan penis mulai membesar. ketika rambut kemaluan
31

sudah tumbuh, maka menyusul rambut ketiak dan rambut di wajah,

sepertinya halnya kumis dan cambang. kulit menjadi lebih kasar, tidak

jernih, pori-pori membesar. kelenjar lemak di bawah kulit enjadi lebih

aktif seringkali menyebabkan jerawat karena produksi minyak

meningkat aktivitas kelenjar keringat bertambah juga bertambah

terutama bagian ketiak. Otot- otot pada remaja juga makin

bertambah besar dan kuat. lebih-lebih dilakukan latihan otot, maka

akan tampak member bentuk pada lengan, bahu dan tungkai kaki. suara

juga berubah seirama dengan tumbuhnya rambut pada kemaluan. mula-

mula agak serak kemudian volume juga meningkat dan benjolan di

dada akan muncul pada usia remaja 12-14 tahun di sekitar kelenjar susu.

setelah beberapa minggu besar dan jumlahnya menurun.

2) Pada Remaja Putri

Tanda-tanda seks primer kematangan organ reproduksi pada perempuan

adalah datangnya haid. ini adalah permulaan dari serangakai

pengeluaran darah, lendir dan jaringan sel yang hancur dari uteus secara

berkala, yang akan terjadi kira-kira setiap 28 hari. hal ini

berlangsung terus sampai menjelang masa menopause bisa terjadi pada

usia sekitar lima puluhan.

Pada wanita rambut kemaluan juga tumbuh seperti halnya remaja laki-

laki. tumbuhnya rambut kemaluan ini terjadi setelah pinggul dan

payudara mulai berkembang. bulu ketiak dan bulu pada kulit wajah

mulai tampak setelah haid. semua rambut kecuali rambut wajah mula-
32

mula lurus dan terang warnanya, kemudian menjadi lebih subur, lebih

kasar, lebih gelap dan agak keriting. pinggul pun menjadi berkembang,

membesar dan membulat. hal ini sebagai akibat mem besarnya tulang

pinggul dan berkembangnya lemak di bawah kulit. Payudara juga

membesar seiiring pinggul membesar dan puting susu juga menonjol

hal ini terjadi sesuai pula dengan berkembang dan makin

berkembang dan makin besarnya kelenjar susu sehingga payudara

menjadi lebih besar dan lebih bulat. Kulit juga menjadi lebih kasar, lebih

tebal pori-pori membesar akan tetapi berbeda dengan laki-laki kulit pada

wanita tetap lebih lembut. kelenjar lemak dan juga kelenjar keringat

menjadi lebih aktif. sumbatan kelenjar lemak dapat menyebabkan

jerawat. kelenjar keringat dan baunya menusuk sebelum dan selama

masa haid. otot semakin membesar dan kuat menjelan akhir masa

puber. akibatnya akan membentuk bahu, lengan dan tungkai kaki. suara

juga semakin merdu, suara serak jarang terjadi pada wanita (Widyastuti,

2011)

g. Sintesa Persepsi tentang Perilaku Seksual Pra nikah

Proses penerimaan, penafsiran, dan memberikan arti dari perilaku seksual

pranikah serta menginterpretasikan informasi yang diperoleh tentang perilaku

seksual pranikah berdasarkan atas pemahaman remaja itu sendiri.

3. Perilaku Seks Pra Nikah

a. Pengertian Perilaku
33

Perilaku manusia merupakan hasil segala macam pengalaman serta interaksi

manusia yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Perilaku

merupakan suatu tindakan yang mempunyai frekuensi, lama, dan tujuan khusus,

baik yang dilakukan secara sadar maupun tidak sadar (Green, dalam Notoadmodjo,

2010).

Menurut Skinner dalam Notoatmodjo (2010), seorang ahli psikologi

merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap

stimulus (rangsangan dari luar). Perilaku manusia dari segi biologis adalah tindakan

atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas

seperti berjalan, berbicara, menangis, bekerja dan sebagainya.

Notoatmodjo (2007), mengatakan bahwa perilaku adalah semua kegiatan atau

aktivitas manusia, baik yang diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati

oleh pihak luar.

Dari uraian diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa perilaku adalah

reaksi/aktivitas karena rangsangan yang dilakukan seseorang terhadap suatu hal,

baik yang dapat diamati atau tidak dapat diamati oleh orang lain.

b. Pengertian Perilaku Seks Pra Nikah

Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat

seksual, baik dengan lawan jenisnya maupun dengan sesama jenis. Soetjiningsih

(2008) mengungkapkan bahwa, perilaku seksual pranikah adalah segala tingkah

laku seksual yang didorong oleh hasrat seksual dengan lawan jenisnya dalam

keadaan belum menikah. Menurut Mu’tadin (dalam Rediekan & Respati, 2013),
34

perilaku seksual pranikah adalah perilaku seksual yang dilakukan tanpa melalui

proses pernikahan resmi menurut agama dan kepercayaan tiap-tiap individu.

Begitu pula dengan Crooks (dalam Nuandri & Widayat, 2014) yang

mendefinisikan perilaku seksual pranikah sebagai perilaku yang mengarah pada

keintiman heteroseksual yang dilakukan oleh sepasang laki-laki dan perempuan

sebelum adanya ikatan resmi (pernikahan).

Perilaku seksual pranikah adalah manifestasi dari adanya dorongan seksual

yang dapat diamati secara langsung melalui perbuatan yang tercermin dalam

tahap-tahap perilaku seksual dari tahap yang paling ringan hingga tahap yang

paling berat yang dilakukan sebelum adanya ikatan pernikahan yang sah. Perilaku

seksual pranikah adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual

dengan bentuk tingkah laku seksual yang beraneka ragam, mulai dari

berkencan, bercumbu, dan bersenggama yang dilakukan oleh dua orang, pria dan

wanita, diluar perkawinan yang sah (Sarwono, 2008). Simanjuntak (dalam

Prastawa & Lailatushifah, 2009) juga menyatakan bahwa, perilaku seksual

pranikah adalah segala macam tindakan seperti bergandengan tangan,

berciuman sampai dengan bersenggama yang dilakukan dengan adanya dorongan

hasrat seksual yang dilakukan sebelum adanya ikatan pernikahan yang sah.

Menurut Notoadmojo, perilaku manusia pada hakekatnya adalah suatu

aktivitas manusia itu sendiri, oleh karena itu perilaku manusia mempunyai

bentangan yang luas mencakup berjalan, berbicara, bereaksi dan berpakaian.

Bahkan kegiatan internal seperti berfikir, menafsirkan dan emosi juga merupakan

perilaku manusia. Untuk kepentingan kerangka analisis dapat dikatakan bahwa


35

perilaku adalah segala sesuatu yang dikerjakan oleh organisme, baik yang

dapat dianalisis secara langsung ataupun tidak langsung.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa perilaku

seksual pranikah adalah perilaku yang mengarah pada keintiman heteroseksual

yang merupakan manifestasi dari adanya dorongan seksual yang dapat diamati

secara langsung melalui perbuatan yang tercermin dalam tahap-tahap perilaku

seksual yang meliputi segala macam tindakan seksual seperti berkencan,

bergandengan tangan, berciuman, hingga bersenggama yang melibatkan dua orang

dengan jenis kelamin yang berbeda tanpa melalui proses pernikahan yang sah

menurut agama dan kepercayaan tiap-tiap individu.

c. Bentuk-Bentuk Perilaku Seks

Bentuk-bentuk tingkah laku seks ini bermacam-macam, mulai dari

perasaan tertarik sampai pada tingkah laku berkencan, bercumbu, dan

bersenggama. Obyek seksualnya bisa berupa orang lain, orang dalam khayalan

atau diri sendiri, sebagian dari tingkah laku itu memang tidak berdampak apa-

apa, terutama jika tidak ada akibat fisik atau sosial yang ditimbulkannya, tetapi pada

sebagian perilaku seks yang lain dampaknya cukup serius, seperti perasaan

bersalah, depresi, marah, misalnya pada gadis-gadis yang terpaksa menggugurkan

kandungannya.

Perilaku seksual ringan mencakup : 1) menaksir; 2) pergi berkencan, 3)

mengkhayal, 4) berpegangan tangan, 5) berciuman ringan (kening, pipi), 6)

saling memeluk,sedangkan yang termasuk kategori berat adalah : 1) Berciuman

bibir/mulut dan lidah, 2) meraba dan mencium bagian bagian sensitive seperti
36

payudara, alat kelamin, 3) menempelkan alat kelamin, 4) oral seks, 5) berhubungan

seksual (senggama) ( Tjiptaningrum, K. 2009).

Menurut Sarwono, 2011 Beberapa tahap atau pola perilaku seksual

dalam pacaran adalah:

1) Kissing (berciuman menggunakan bibir)

2) Necking (perangsangan yang dilakukan pada bagian leher dan

sekitarnya).

3) Petting (kontak seksual di antara laki-laki dan perempuan yang

berupa perabaan yang dilakukan pada seluruh bagian tubuh

terutama bagian-bagian yang sensitive, seperti payudara dan alat

kelamin).

4) Intercourse (hubungan seksual yang ditandai dengan bersatunya

alat reproduksi pria dan wanita)

Menurut Ginting, 2008 Bentuk-bentuk perilaku seksual pra nikah pada remaja

antara lain :

1) Berpelukan

Perilaku seksual berpelukan akan membuat jantung berdegup lebih cepat

dan menimbulkan rangsangan seksual pada individu

2) Cium kering

Perilaku seksual cium kering berupa sentuhan pipi dengan pipi dan

pipi dengan bibir

3) Cium basah

Aktifitas cium basah berupa sentuhan bibir dengan bibir. Dampak dari
37

cium bibir dapat menimbulkan sensasi seksual yang kuat dan

menimbulkan dorongan seksual hingga tidak terkendali, dan

apabila dilakukan terus menerus akan menimbulkan perasaan ingin

mengulanginya lagi

4) Meraba bagian tubuh yang sensitive

Merupakan suatu kegiatan meraba atau memegang bagian tubuh

yang sensitif seperti payudara, vagina dan penis

5) Petting

Merupakan keseluruhan aktifitas seksual non intercourse (hingga

menempel kan alat kelamin), dampak dari petting yaitu timbulnya

ketagihan.

6) Oral seksual

Oral seksual pada laki-laki adalah ketika seseorang menggunakan bibir,

mulut dan lidahnya pada penis dan sekitarnya, sedangkan pada wanita

melibatkan bagian di sekitar vulva yaitu labia, klitoris, dan bagian dalam

vagina.

7) Intercource atau bersenggama

Merupakan aktifitas seksual dengan memasukan alat kelamin laki-laki ke

dalam alat kelamin perempuan.

d. Faktor Faktor Perilaku Seksual

Faktor pribadi /kognitif, faktor perilaku dan faktor lingkungan dapat

berintraksi secara timbal- balik. Dengan demikian dalam pandangan Bandura,


38

lingkungan dapat memengaruhi perilaku seseorang, namun seseorang dapat

bertindak untuk mengubah lingkungan (Santrock, 2007). Faktor yang berpengaruh

pada perilaku seksual antara lain adalah faktor personal termasuk variabel

seperti pengetahuan, sikap seksual dan gender, kerentanan terhadap risiko

kesehatan reproduksi, gaya hidup, harga diri, lokus kontrol, kegiatan sosial, self

efficacy dan variabel demografi (seperti: umur pubertas, jenis kelamin, status

religiusitas, suku dan perkawinan). Faktor lingkungan termasuk variabel seperti

akses dan kontak dengan sumber, dukungan dan informasi, sosial budaya, nilai dan

norma sebagai dukungan sosial.( Suryoputro, A, dkk. (2007))

Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perilaku seks pranikah.

Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah:

1. Faktor Internal

a) Tingkat perkembangan seksual (fisik/psikologis)

b) Pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi

c) Motivasi

2. Faktor Eksternal

a) Keluarga , kurangnya komunikasi secara terbuka antara orang

tua dengan remaja dapat memperkuat munculnya perilaku yang

menyimpang

b) Pergaulan, perilaku seksual sangat dipengaruhi oleh lingkungan

pergaulannya, terutama pada masa pubertas atau remaja dimana

pengaruh teman sebaya lebih besar dibandingkan orang tuanya atau


39

anggota keluarga lain.

c) Media massa, menunjukan bahwa frekuensi menonton film

kekerasan yang disertai adegan-adegan merangsang berkolerasi

positif dengan indikator agresi seperti konflik dengan orang tua,

berkelahi, dan perilaku lain sebagai manifestasi dari dorongan

seksual yang dirasakannya.

Faktor yang menyebabkan remaja melakukan hubungan seksual pranikah

(Poltekkes Depkes, 2010 ) adalah :

1) Adanya dorongan biologis

Dorongan biologis untuk melakukan hubungan seksual merupakan

insting alamiah dari berfungsinya organ sistem reproduksi dan kerja

hormon

2) Ketidakmampuan mengendalikan dorongan biologis

Mengendalikan dorongan biologis dipengaruhi oleh nilai-nilai moral dan

keimanan seseorang. Remaja yang memiliki keimanan yang kuat tidak

akan melakukan hubungan seksual pranikah

3) Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi

Kurangnya pengetahuan atau mempunyai konsep yang salah tentang

kesehatan reproduksi

4) Adanya kesempatan untuk melakukan hubungan seksual pranikah

Terbukanya kesempatan pada remaja untuk melakukan hubungan seksual

didukung oleh hal-hal sebagai berikut :


40

a) Kesibukan orang tua yang menyebabkan kurangnya perhatian pada

anak

b) Pemberian fasilitas (termasuk uang) pada remaja secara berlebihan

c) Pergeseran nilai-nilai moral dan etika dimasyarakat dapat membuka

peluang yang mendukung hubungan seksual pranikah Misalnya

dewasa ini pasangan remaja yang menginap dihotel adalah hal yang

biasa, sehingga tidak ditanyakan akte nikah.

d) Kemiskinan.

Kemiskinan mendorong terbukanya kesempatan bagi remaja

khususnya puteri untuk melakukan hubungan seksual pranikah

B. Penelitian Terkait

1. Berdasarkan hasil penelitian Ahmad Taufik (2013) Berbagai macam

penyebab para remaja melakukan seks pranikah mulai dari adanya

dorongan biologis atau seksual (sexual drive) yang sudah tidak dapat

mereka bendung dan dilakukan semata-mata untuk memperkokoh

komitmen dalam berpacaran, untuk memenuhi keingintahuan dan

sudah merasa siap untuk melakukannya, merasakan afeksi dari

pasangan atau partner seksnya bahkan karena adanya permasalahan

dalam keluarga (brokhenhome) seperti kurangnya mendapatkan kasih

sayang dari orang tua. Akan tetapi dari beberapa pendapat yang

diutarakan oleh informan di atas diketahui bahwa alasan para remaja di

Kelurahan Sempaja Selatan khususnya di SMK Negeri 5 Samarinda


41

melakukan seks pranikah sebagian besar dikarenakan kurangnya

mendapat kasih sayang dari orang tua, kurangnya iman tidak mengingat

Tuhan Yang Maha Esa, sehingga para remaja tersebut berani

melakukan perbuatan dosa seperti perilaku seks pranikah. Juga

informan mengutarakan beberapa alasan lainnya yaitu rasa ingin tahu

yang berlebih dari para remaja tersebut, sering keluar malam (pergaulan

bebas) walau tidak ada acara penting seperti berkumpul dengan teman-

teman, takut ditinggal oleh pacar mengikuti bujuk rayuan pacar,

kurangnya biaya, iri dengan teman-teman yang lebih mampu

melakukan jual diri dengan yang akrab di sapa Om-Om, sering

berduaan serta tingginya nafsu, rasa ingin tau yang berlebih, merasa

ketagihan dan karena banyaknya pasangan yang memiliki pikiran kotor

serta karena bujuk rayuan gombal pacar untuk ingin dinikahi serta

kurangnya pedoman hidup terutama pada hal agama dan

keyakinan,pelampiasan rasa kecewa, salah memilih teman dalam

bergaul sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh National Health

and Social Live Survey.

2. Berdasarkan hasil penelitian Dwi hartanto tahun 2014 menjelaskan

bahwa persepsi remaja tentang pengertian perilaku seksual pranikah

sebagian besar adalah buruk, persepsi remaja tentang bentuk-bentuk

perilaku seksual pranikah sama antara persepsi baik dan buruk,

persepsi remaja tentang penyimpangan perilaku seksual pranikah

sebagian besar adalah baik, dan persepsi remaja tentang perilaku


42

seksual pranikah pada remaja di desa Tambaklelo Tempel Sleman

Yogyakarta sebagian besar adalah baik.

C. Kerangka Teori

Kerangka teori dalam penelitian ini sebagai berikut :

Skema 2.2. Skema Kerangka teori

Perilaku Seksual pra nikah1


1. Berpelukan
2. Cium kering
3. Cium basah Persepsi2
4. Meraba bagian tubuh
yang sensitive
5. Petting
6. Oral seksual Remaja3
7. Intercource atau
bersenggama

Putra Putri

Sumber : teori kombinasi 1Ginting, Perana. 2008; 2 Walgito (2011); 3 Sarwono,


2011
BAB III

KERANGKA KONSEP PENELITIAN, HIPOTESIS DAN


DEFINISI OPERASIONAL

A. Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara

konsep-konsep atau variable-variabel yang akan diamati atau diukur melalui

penelitian yang dimaksud. Dalam kerangka konsep penelitian ini yang

merupakan variabel independen adalah remaja putra dan remaja putri

sedangkan variabel dependen adalah Persepsi seks pra nikah.

Skema 3.1. Kerangka Konsep Penelitian

`
Remaja Putra
Persepsi Seks Pra
nikah Remaja Putra

B. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada perbedaan persepsi remaja

putra dan remaja putri tentang seks pra nikah di SMA YAPERJASA Tahun

2017.

43
44

C. Definisi Operasional

Tabel 3.1 Definisi Operasional

Definisi Alat Ukur Skala


Variabel Cara Ukur Hasil Ukur
Operasional Ukur
Remaja Masa remaja kuesioner Mengisi kuesioner 1. Remaja pria Nominal
putra dan berlangsung umur antara
remaja antara umur 12 13 tahun
putri tahun sampai sampai
dengan 21 dengan 22
tahun bagi tahun bagi
wanita dan 13 pria
tahun sampai 2. Remaja Putri
dengan 22 umur antara
tahun bagi pria. 12 tahun
sampai
dengan 21
tahun bagi
wanita
Persepsi Cara kuesioner Mengisi kuesioner 1. Baik jika Ordinal
seks pra pandangan remaja
nikah remaja dalam memiliki
menafsirkan persepsi
dan positif
memberikan 2. Kurang baik
arti dari bila remaja
persepsi memiliki
perilaku seks persepsi
pra nikah negatif
BAB IV

METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN

Metode penelitian adalah usaha untuk menjawab permasalahan, membuat

suatu yang masuk akal, memahami peraturan dan memprediksi keadaan dimasa

yang akan datang (Nursalam, 2008). Pada bagian metode penilitian ini akan

diuraikan mengenai desain penelitian, populasi penelitian, sampel penelitian,

tempat dan waktu penelitian, etika penelitian, prosedur pegumpulan data, alat

pengumpulan data, validitas dan reliabilitas instrumen, pengolahan data sampai

pada analisa data.

A. Desain Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Desain yang

digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasi yang dilakukan

dengan pendekatan cross sectional. Dimana peneliti melakukan pengukuran

hanya pada satu saat (Notoatmojo, 2012). Desain ini untuk mengetahui untuk

mengetahui perbedaan persepsi remaja putra dan remaja putri tentang seks pra

nikah di SMA YAPERJASA Tahun 2017.

B. Populasi dan Sampel

1. Populasi adalah seluruh subjek atau objek dengan karakteristik tertentu

yang akan diteliti (Hidayat, 2008). Populasi dalam penelitian ini adalah

45
46

remaja di SMA YAPERJASA berjumlah 60 siswa yang terdiri dari 30

remaja putra dan 30 remaja putri.

2. Sampel merupakan objek yang di teliti dan dianggap mewakili seluruh

populasi (Notoadmojo, 2010). Total populasi adalah teknik pengambilan

sampel dimana jumlah sampel sama dengan populasi (Sugiyono, 2007).

Jadi sampel dalam penelitian ini sebanyak 60 siswa yang terdiri dari 30

remaja putra dan 30 remaja putri.

C. Kriteria Inklusi dan Ekslusi

Kriteria sampel dalam penelitian ini adalah :

1. Kriteria Inklusi :

a. Siswa siswi remaja di SMA YAPERJASA tahun 2017

b. Kooperatif dan bersedia menjadi responden

2. Kriteria Eksklusi

a. Siswa siswi remaja di SMA YAPERJASA tahun 2017 yang sedang

sakit dan tidak masuk sekolah

b. tidak Kooperatif dan bersedia menjadi responden

D. Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian ini dilakukan di SMA YAPERJASA. Waktu

penelitian dilakukan pada bulan Juli 2017 sampai dengan September

2017.

E. Etika Penelitian

Menurut Polit & Back, 2008 menyatakan dalam melakukan penelitian,

peneliti perlu membawa rekomendasi dari institusinya untuk pihak lain dengan
47

cara mengajukan permohonan izin kepada lembaga/institusi tempat penelitian

yang dituju peneliti. Setelah mendapat persetujuan, barulah peneliti dapat

melakukan penelitian dengan menekankan etika penelitian meliputi :

1. Informed Consent

Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti

dengan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan.

Informed consent tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan

dengan tujuan subjek mengerti maksud dan tujuan penelitian serta

memahami dampaknya. Hal pertama yang dilakukan peneliti adalah

peneliti memberikan penjelasan tentang penelitian ini, dan menjelaskan

tujuan dari penelitian ini. Responden yang bersedia diminta untuk

menandatangani formulir persetujuan subjek (informed consent) yang

mengartikan bahwa ia mengerti terhadap penjelasan peneliti dan bersedia

menjadi subjek.

2. Ananomity

Ananomity (tanpa nama) merupakan pemberian jaminan dalam

pengunaan subjek penelitian dengan cara tidak mencantumkan atau

memberikan nama pada responden pada alat ukur dan hanya menuliskan

kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan

disajikan.

3. Confidentiality

Confidentiality (kerahasiaan) merupakan masalah etika dengan

memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi


48

maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang telah

dikumpulkan dijamin kerahasiaanya oleh peneliti, hanya kelompok data

tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset. Menghormati privasi dan

kerahasiaan responden (repect for privacy and confidentiality) karena

setiap orang mempunyai privasi masing-masing yang harus dijaga

kerahasiaanya. Oleh karena itu, peneliti tidak menampilkan informasi

tentang identittas subjek kepada orang lain.

4. Beneficience

Memberikan manfaat semaksimal mungkin dan resiko seminimal

mungkin. Memperhitungkan manfaat dan kerugian yang ditimbulkan

(balancing harms and benefits). Penelitian ini mempertimbangkan

manfaat yang sebesar-besarnya kepada siswa. Penelitian ini tidak

menimbulkan kerugian apapun termasuk materi pada perawat. Semua

responden setelah paham dengan tujuan penelitian ini mereka bersedia

meluangkan waktu secara sukarela.

5. Justice

Keadilan dan keterbukaan (respect for justice and inclusivness)

yaitu pada penelitian ini dilakukan secara jujur. Prinsip keadilan,

keterbukaan dan kejujuran dijaga oleh peneliti. Peneliti mengondisikan

penelitian membubuhi prinsip tersebut dengan cara menjelaskan

prosedur penelitian. Peneliti memperlakukan sama kepada semua

responden tanpa membedakan ras, etnis, agama dan lainnya.


49

F. Alat Pengumpulan Data

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan

lembaran kuesioner yang berisi pertanyaan (formulir) yang digunakan untuk

wawancara. Jenis skala pengukuran dalam kuesioner berbentuk skala likert.

Data dan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini dikumpulkan dengan

teknik pengumpulan data primer yang didapatkan secara langsung dari

responden. Kuesioner terdiri dari tiga bagian yaitu kuesioner A berisi data

demografi meliputi usia, jenis kelamin, pekerjaan orangtua, pendidikan

orantua. Kuesioner B berisikan pernyataan persepsi seks pranikah.

Tabel 4.1 Kisi Kisi Kuesioner

No. Variabel Indikator Pertanyaan No.


Pertanyaan
1 Persepsi Kissing Pacaran remaja pada saat ini bila 1
ada kesempatan dan setiap kali
Perilaku Seks bertemu selalu berciuman bibir
dengan pasangan
Pra Nikah Berciuman biasanya di lakukan di 2
tempat sepi
Dengan berciuman saya merasakan 3
sensasi tersendiri dan merupakan
hal yang wajar dalam hubungan
berpacaran
Berciuman dengan pacar atas dasar 4
suka sama suka bukan tanpa
paksaan
Berciuman biasanya atas dasar 5
dorongan hasrat seksual
Petting Remaja setiap bertemu selalu 6
bermesraan hingga peluk pelukan
jika kondisi memungkinkan
Jika kondisi memungkinkan dan 7
sepi biasanya pasangan remaja
selalu meraba bagian intim
Bermesraan dengan pasangan 8
merasa ada kepuasan tersendiri
50

Selalu melakukan hubungan petting 9


walaupun itu dilarang
Intercouse Saat berpacaran hasrat atau dorongan 10
seksual akan memuncak, sehingga
bisa terjadi hubungan seksual
Melakukan hubungan seksual 11
dengan atas dasar keinginan berdua
tanpa ada paksaan.
Melakukan hubungan seksual karena 12
karena ingin dianggap gaul dan
modern bahkan bukan hal yang tabu
saat ini.
Remaja yang melakukan hubungan 13
seksual, sudah tidak memikirkan
norma agama dan tidak memikirkan
dampak sosial yang terjadi

G. Validitas dan Reliabilitas Instrumen

1. Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau

kesahan untuk instrumen. Suatu instrumen dikatakan valid apabila

mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkapkan data

variabel yang diteliti secara tepat. Suatu pertanyaan dikatakan valid dan

dapat mengukur variabel penelitian yang dimaksud jika koefisien score

dan skala ordinal (tingkatan) yang digunakan korelasi dengan produk

moment. Uji validitas dilakukan di SMK Mulia Karya Husada Jakarta

sebanyak 30 siswa (15 siswa dan 15 siswi).


51

2. Reliabilitas

Reabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat

pengukur dapat dipercaya atau diandalkan. Hal ini menunjukkan sejauh

mana hasil pengukuran itu tetap konsisten atau tetap asas bila dilakukan

pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan

menggunakan alat ukur yang sama (Notoatmojo, 2010).

Untuk menghitung reliabilitas instrumen ini, peneliti menggunakan

metode Cronbach’s Alpha. Perhitungan uji reliabilitas ini dilakukan

dengan bantuan komputer dengan menggunakan teknik Cronbach’s

Alpha. Menurut Arikunto (2006) suatu variabel dikatakan reliabel jika

memberi nilai Cronbach’s Alpha>0,6 (konstanta).

H. Prosedur Pengumpulan Data

Prosedur dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Peneliti meminta izin kepada kepala SMA YAPERJASA tahun 2017

2. Peneliti memperkenalkan diri pada calon responden kemudian

menjelaskan maksud dan tujuan penelitian.

3. Peneliti mempersilahkan calon responden menandatangani surat

persetujuan untuk menjadi responden.

4. Peneliti menjelaskan tentang cara pengisian kuesioner

5. Peneliti akan mendampingi responden pada saat pengisian data, agar bila

ada pertanyaan yang kurang dipahami responden, peneliti dapat langsung

menjawab dan menjelaskannya.


52

6. Setelah pengisian kuesioner selesai, responden dapat langsung

menyerahkannya pada peneliti.

7. Kuesioner yang telah diisi dikumpulkan dan bila ada data yang kurang

lengkap dapat langsung dilengkapi saat itu juga.

8. Bila kuesioner yang diisi telah lengkap, peneliti meminta izin dan

mengucapkan terima kasih kepada pasien yang telah bersedia menjadi

responden dan membantu dalam penelitian.

I. Pengolahan Data

Analisa data diawali dengan pengelolahan data terlebih dahulu dengan

tujuan mengolah data menjadi informasi (Hidayat, 2007) dengan langkah

sebagai berikut:

1. Editing Data

Melakukan proses pemeriksaan di lapangan sehingga mendapat data yang

akurat untuk pengolahan data yang selanjutnya, Kegiatan yang di lakukan

adalah mengamati dan memeriksa data yang sudah terkumpul dari rekam

medik.

2. Coding Data

Proses Pemberikan kode jawaban yang akan di analisa atau di masukan

dalam pencatatan yang bertujuan menyingkat data yang didapat dengan

jalan pemberian kode-kode tertentu misalnya mengubah data berbentuk

kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan. Coding atau

pemberian kode ini sangat berguna dalam memasukkan data ( entry data).
53

3. Entry data atau Processing

Data dari masing-masing responden yang dalam bentuk “ kode ”

dimasukkan ke dalam program atau “ software ” komputer. Salah satu

paket program yang paling sering digunakan untuk “ entry data ”

penelitian adalah paket program SPSS for Windows. Dalam proses ini juga

dituntut ketelitian dari orang yang melakukan “ entry data ” ini.

4. Cleaning

Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden selesai

dimasukkan, perlu di cek kembali untuk melihat kemungkinan-

kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan dan

sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi. Proses ini

disebut dengan pembersihan data (data cleaning ).

5. Penyajian Data

Setelah dilakukan tabulasi, untuk melihat data secara ringan dan jelas

dapat disajikan melalui tulisan, tabel dan grafik. Pada penelitian ini penulis

menyajikan data dalam bentuk tekstuler dan tabuler.

a. Tekstuler

Penyajian data cara tekstuler adalah penyajian data hasil penelitian

dalam bentuk kalimat

b. Tabuler

Penyajian dalam bentuk tabel distribusi frekuensi

J. Analisa Data
54

1. Analisa univariat

Analisa univariat yaitu analisa deskriptif untuk mengetahui yang

dilakukan pada tiap-tiap variabel dari hasil penelitian sehingga

menghasilkan distribusi frekuensi dan presentase dari tiap variabel

dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

F
P = N 𝑋 100 %

Keterangan :

P = Presentase jawaban

F = Frekwensi distribusi subjectif

N = Jumlah soal

2. Analisa bivariat

Analisis bivariat ialah analisa yang dilakukan lebih dari dua

variabel. Untuk kategori uji beda rata-rata dapat dibagi jadi 2. Yaitu uji

lebih dua rata-rata dan uji dua rata-rata. Uji statistik yang akan

dilakukan dengan uji t-test yaitu Uji T independen untuk

membandingkan dua kelompok yang mempunyai subjek sama.

Pengujian statistik disini dengan menggunakan komputerisasi.

Hasil uji bivariat digunakan untuk mengetahui apakah H0 diterima

(gagal ditolak) dengan ketentuan apabila p value ≤ 0,05 maka H0

ditolak artinya ada hubungan antara variabel independen dan dependen.

Jika p value ≥ 0,05 maka H0 ditolak artinya tidak ada hubungan antara

variabel independen dan variabel dependen.

K. Jadual Penelitian
55

Tabel 4.1 Jadual Peneltian

No Kegiatan Waktu
Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb
1 Pengajuan
Judul
2 Penyusunan
Proposal
3. Seminar
Proposal
4 Melaksanak
an
Penelitian
5 Penyusunan
bab IV dan
V
6 Sidang akhir

7 Pengumpula
n Hasil
Skripsi
DAFTAR PUSTAKA

Adnani, H dan Citra, 2009.Motivasi Belajar dan Sumber-Sumber Informasi


Tentang Kesehatan Reproduksi Dengan Perilaku Seksual Remaja di SMUN
2Banguntapan Bantul. Jurnal Kesehatan Surya Medika Yogyakarta
Ahmad Taufik. 2013. Persepsi RemajaTerhadap Perilaku Seks Pranikah (Studi.
Kasus SMK Negeri 5 Samarinda)
Ali, Mohammad. dan Mohammad Asrori. 2012. Psikologi Remaja Perkembangan.
Peserta Didik. Jakarta: PT. Bumi Aksara
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta
: Rineka Cipta.
BKKBN. 2008. Anak Indonesia Rentan Pornografi. Diunduh: 12 April 2011.
http://www.bkkbn.go.id/Webs/ DetailRubrik.php?MyID=514. BKKBN.

Bina Insani. (2010). Makin Banyak Remaja Lakukan Seks Pranikah. Diambil dari
http://www.binainsani.net/admin/pdf_file diambil tanggal 25 Maret 2010
Cuman, 2009. Kehamilan Remaja di Luar Nikah.http://www.blogspot.com.14
Agustus 2017
Dariyo, Agoes (2011), Psikologi Perkembangan Anak Tiga Tahun Pertama.
Bandung : PT. Refika Aditama.

Dwi hartanto. 2014. Persepsi Remaja Tentang Seks Pranikah Di Desa Tambaklelo
Tempel Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta.(Skripsi) Fakultas Ilmu Kesehatan.
Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Edberg, Mark, 2007. Buku Ajar Kesehatan Masyarakat: Teori Sosial dan Perilaku.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

Hidayat, A. Aziz Alimul, 2008, Pengantar Konsep Dasar Keperawatan, Jakarta:


Salemba Medika

Husein Muhammad, et. all., “Fiqh Seksualitas:Risalah Islam Untuk Pemenuhan


Hak-Hak Seksualitas, (Jakarta: BKKBN, 2011

International okezone. (2008). Seks bebas remaja. Diambil dari


http://international.okezone.com/read/2008/01/10/18/74180/18/seks-bebas-
remaja-as-dan-eropa-dimulai-usia-15-tahuns pada tanggal 25 Maret 2010
KPAI.(2016). Kasus bullying di sekolah meningkat selama 2015.Artikel.
Notoatmodjo, S. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka
Cipta
Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Promosi Kesehatan: Teori dan Aplikasi. Jakarta:
Rineka Cipta.
Notoatmodjo. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
Nursalam. (2008). Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan,. Edisi 2.
Miftah. 2008. Perilaku Organisasi : Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta: Raja
Grafindo
Mohammad Ali dan Mohammad Asrori.,2012. Psikologi Remaja Perkembangan
Peserta didik. Jakarta : PT. Bumi aksara
Monks, F.J; A.M.P Knoers dan S.R. Haditono. (2002). Psikologi Perkembangan :
Pengantar dalam Berbagai Bagiannya, Edisi Keempat Belas. Yogyakarta :
Gadjah Mada University Press
Pieter, Herri Zan. Pengantar Psikologi dalam Keperawatan. Jakarta: Kencana, 2010.
Rachman W.A, 2008, Analisis Ketahanan Keluarga dalam Perilaku Seks Pranikah
Remaja (Studi Kasus di Kota Ambon), Dosen FKM Universitas Hasanuddin
Makassar, Jurnal Ilmiah Sinergi IPTEKS, LP3M Universitas Islam Makasar
Rakhmat, M.Sc.2008. Psikologi Komunikasi. Bandung. PT. RemajaRosdakarya.
Rediekan, Gianreca & Winanti Siwi Respati. 2013.Sikap Orang Tua Terhadap
Perilaku Seksual Pranikah Di Komplek XXX Tangerang. Fakultas Psikologi
Universitas Esa Unggul, Jakarta. Jurnal Psikologi 11 (1): 14
Robbins, S.P. 2008. Perilaku Manusia: Konsep Kontroversi dan Aplikasi. Jakarta:
PT. Prenhallindo.
Santrock, John W. 2007 . Psikologi Pendidikan Edisi Kedua. Jakarta : Prenada
Media Group.
Sarlito Wirawan Sarwono, (2006). Psikologi Remaja. Jakarta : Raja Grafindo
Persada
Sarwono. S.W. 2011. Psikologi Remaja. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Sarwono. 2012. Psikologi Remaja. Jakarta: PT. Raja Grafindo.
Siagian. (2009). Kiat Meningkatkan Produktivitas Kerja. Jakarta: PT.Bumi Aksara
Simanjorang, 2011. Tingginya Angka Hubungan Seks Pranikah di Kalangan
Remaja. Tersedia pada amanhttp://situs.remaja dan seksual.co.id. Diakses
padatanggal 11 November 2016.
Sofyandi dan Garniwa. 2007. Perilaku Organisasional. Edisi Pertama. Yogyakarta:
Graha Ilmu.
Soetjiningsih, 2011. Personal Abortion. Medical Journal New Jerse
Soetjiningsih, 2008. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC
Sugiyono. 2007. “Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D”. Bandung:
Alfabeta.
Sunaryo. 2008. Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta:EGC.
Tanjung, A. 2007. Free Sex No Nikah Yes. Jakarta: Amza

Tempo. WHO: Tiap Tahun, 56 Juta Janin Digugurkan diakses


https://gaya.tempo.co/read/news/2016/05/12/060770548/who-tiap-tahun-
56-juta-janin-digugurkan
Tinceuli. (2010). Perilaku remaja terhadap seksual pranikah. Tesis, Medan: Prodi
S2.USU
Walgito. (2001). Psikologi Sosial. Yogyakarta: Andi Offset

Widyastuti, Yani dkk.2009.Kesehatan Reproduksi.Yogyakarta:Fitramaya

WHO. World Health Statistics 2015: World Health Organization; 2015.


KUESIONER PENELITIAN
Kepada Yth,

Siswa / siswi

Di tempat.

Dengan Hormat

Dalam rangka penyusunan skripsi sebagai salah satu syarat meraih gelar Sarjana

Strata Satu (S1) dengan ini saya Siti Rahayu selaku mahasiswa di program studi Ilmu

Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Maju, mohon bantuan siswa/

siswi untuk mengisi kuesioner ini dan meminta kesediannya untuk memberikan jawaban

atas pertanyaan mengenai perbedaan persepsi remaja putra dan remaja putri tentang

perilaku seks pra nikah di SMA YAPERJASA Tahun 2017.

Atas bantuan dan kerjasama kepada siswa/siswi berikan, saya ucapkan terimakasih.

Hormat saya,

Siti Rahayu
KUESIONER PENELITIAN
DATA RESPONDEN

1. Inisial :

2. Jenis Kelamin : a. Laki – laki


b. Perempuan

3. Usia : ……..tahun…..bulan

4. Pekerjaan ayah : a.Pegawai

: b. wirastsasta

: c. pensiunan

5. Pekerjaan Ibu : a. Pegawai

: b. wirastsasta

: c. pensiunan

: d. Ibu rumah tangga

6. Pendidikan ayah : a. SD

: b. SMP

: c. SMA

: d. Perguruan tinggi

7. Pendidikan Ibu : a. SD

: b. SMP

: c. SMA

: d. Perguruan tinggi
KUESIONER PENELITIAN
Pernyataan Persepsi Seks Pranikah
Petunjuk Pengisian
Bacalah dengan teliti pertanyaan di bawah ini. Berilah tanda ceklist (√) pada jawaban
yang paling sesuai. Berikan jawaban dengan sejujurnya !
Keterangan:
S : Setuju
TS : Tidak Setuju

No. Pernyataan S TS
Kissing 1 2
1. Pacaran remaja pada saat ini bila ada kesempatan dan
setiap kali bertemu selalu berciuman bibir dengan
pasangan
2. Berciuman biasanya dilakukan di tempat sepi
3. Berciuman Bibir dapat merasakan sensasi tersendiri dan
merupakan hal yang wajar dalam hubungan berpacaran

4. Berciuman dengan pacar atas dasar suka sama suka


bukan tanpa paksaan
5. Berciuman biasanya atas dasar dorongan hasrat seksual
Petting
6 Remaja setiap bertemu selalu bermesraan bahkan
hingga peluk pelukan jika kondisi memungkinkan
7 Jika kondisi memungkinkan dan sepi biasanya
pasangan remaja selalu meraba bagian intim
8 meraba bagian sensitive pada tubuh pasangan
merupakan suatu sensasi yang luar biasa
9 bermesraan dengan pasangan merasa ada kepuasan
tersendiri
10 selalu melakukan hubungan petting walaupun itu
dilarang
Intercouse
11 Saat berpacaran hasrat atau dorongan seksual akan
memuncak, sehingga bisa terjadi hubungan seksual
12 Biasanya melakukan hubungan seksual dengan pacar
karena atas dasar mencintai
13 Melakukan hubungan seksual dengan pacar atas dasar
keinginan berdua tanpa ada paksaan
14 Melakukan hubungan seksual karena ingin dianggap
gaul dan modern bahkan bukan hal yang tabu saat ini
15 Remaja yang melakukan hubungan seksual sudah
tidak memikirkan norma agama dan tidak memikirkan
dampak sosial yang terjadi
KUESIONER PENELITIAN
Pernyataan Persepsi Seks Pranikah
Petunjuk Pengisian
Seks Pranikah
Petunjuk Pengisian
Bacalah dengan teliti pertanyaan di bawah ini. Berilah tanda ceklist (√) pada jawaban
yang paling sesuai. Berikan jawaban dengan sejujurnya !
Keterangan:
S : Setuju
TS : Tidak Setuju

No. Pernyataan S TS
Kissing 1 2
1. Pacaran remaja pada saat ini bila ada kesempatan dan
setiap kali bertemu selalu berciuman bibir dengan
pasangan
2. Berciuman biasanya dilakukan di tempat sepi
3. Berciuman Bibir dapat merasakan sensasi tersendiri dan
merupakan hal yang wajar dalam hubungan berpacaran

4. Berciuman dengan pacar atas dasar suka sama suka


bukan tanpa paksaan
5. Berciuman biasanya atas dasar dorongan hasrat seksual
Petting
6 Remaja setiap bertemu selalu bermesraan bahkan
hingga peluk pelukan jika kondisi memungkinkan
7 Jika kondisi memungkinkan dan sepi biasanya
pasangan remaja selalu meraba bagian intim
8 meraba bagian sensitive pada tubuh pasangan
merupakan suatu sensasi yang luar biasa
9 bermesraan dengan pasangan merasa ada kepuasan
tersendiri
10 selalu melakukan hubungan petting walaupun itu
dilarang
Intercouse
11 Saat berpacaran hasrat atau dorongan seksual akan
memuncak, sehingga bisa terjadi hubungan seksual
12 Biasanya melakukan hubungan seksual dengan pacar
karena atas dasar mencintai
13 Melakukan hubungan seksual dengan pacar atas dasar
keinginan berdua tanpa ada paksaan
14 Melakukan hubungan seksual karena ingin dianggap
gaul dan modern bahkan bukan hal yang tabu saat ini
15 Remaja yang melakukan hubungan seksual sudah
tidak memikirkan norma agama dan tidak memikirkan
dampak sosial yang terjadi
KUESIONER PENELITIAN