You are on page 1of 15

MORFOMETRI DAS (DAERAH ALIRAN

SUNGAI I
I. TUJUAN
1. Mahasiswa dapat membatasi DAS
2. Mahasiswa dapat mendeskripsikan bentuk DAS
3. Mahasiswa dapat mengidentifikasikan sungai utama
4. Mahasiswa dapat mengetahui tingkat ordo sungai (percabangan sungai)
5. Mahasiswa dapat menentukan pola aliran yang terdapat dalam DAS tersebut
6. Mahasiswa dapat membuat profil topografi DAS

II. BAHAN DAN ALAT


1. Peta RBI
2. Kertas kalkir
3. Kertas milimeter blok
4. Penggaris
5. Alat tulis menulis

III. DASAR TEORI


DAERAH ALIRAN SUNGAI
1. Pengertian DAS
Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang secara topografi dibatasi
oelh punggung-punggung pegunungan (batas topografi) sebagai tempat menampung dan
menyimpan air hujan yang kemudian menyalurkannya (air, sedimen, dan unsur hara) ke muara
(laut) melalui sungai utama (outlet).
Das merupakan bentuk dari kumpulan berbagai jenis sungai pada suatu tempat tertentu
pada kurun waktu tertentu pula. Penamaan DAS biasanya memakai nama sungai uatma atau
sungai yang memiliki lebar dan panjang yang lebih dibanding sungai lainnya.
Wilayah daratannya tersebut dinamakan Daerah Tangkapan Air (DTA atau catchment
area) ayng merupakan suatu ekosistem dengan unsur utamanya terdiri atas sumberdaya alam
(air, tanah, dan vegetasi) dan sumberdaya manusia sebagai pemanfaat sumberdaya alam.
2. Fungsi DAS
Fungsi DAS, diantaranya:
a. Sebagai satu kesatuan bentang lahan DAS, meliputi:
 fungsi keruangan
 fungsi produksi
b. Sebagai satu kesatuan hidrologis
sebagai tempat berlangsungnya proses hidrologi untuk mengubah input menjadi output
c. Sebagai satu kesatuan ekosistem
sebagai tempat interaksi/interelasi antara komponen-komponen ekosistem
3. Ekosistem DAS
Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terdiri atas komponen-komponen yang saling
berintegrasi sehingga membentuk satu kesatuan. Komponen ekosistem terdiri dari komponen
biotik dan abiotik yang saling mempengaruhi satu sama lain.
Sifat ekosistem tergantung dari jumlah dan jenis komponen yang menyusunnya.
Sementara, besar kecilnya ekosistem bergantung pada batas dan pandangan yang diberikan
dalam ekosistem tersebut.
Manusia adalah salah satu komponen yang penting dan sangat dinamis karena dalam
menjalankan aktivitasnya seringkali mengakibatkan dampak pada salah satu komponen
lingkungan yang pada akhirnya akan mempengaruhi ekosistem secara keseluruhan. Gangguan
tersebut pada dasarnya adalah gangguan pada arus materi, energi, dan informasi antar
komponen ekosistem yang tidak seimbang (Odum, 1972).
4. Pembagian Ekosistem DAS
a. Daerah Hulu (Upperland)
 merupakan daerah konservasi
 mempunyai kerapatan drainase lebih tinggi
 daerah dengan kemiringan lereng besar (> 15%)
 bukan daerah banjir
 pengaturan pemakaian air ditentukan oleh pola drainase
 jenis vegetasi umumnya merupakan tegakan hutan
 daerah ini sangat peka terhadap kerusakan sehingga masalah utama adalah perlindungan
b. Daerah Tengah (Middle Land)
 merupakan daerah transisi antara karakteristik biogeofisik daerah hulu dan hilir
 masalah utama daerah ini adalah perlindungan dan pemanfaatan
c. Daerah Hilir (Lowerland)
 merupakan daerah pemanfaatan
 kerapatan drainase lebih kecil
 kemiringan lereng kecil sampai sangat kecil (< 8%)
 di beberapa tempat merupakan daerah banjir
 pengaturan pemakaian air ditentukan oleh bangunan irigasi
 jenis vegetasi didominasi tanaman pertanian kecuali daerah estuaria yang didominasi oleh hutan
bakau/gambut
Berdasarkan relief, dapat dibedakan sebagai bereikut:
Upland Lowland
 evaporasi sedikit  lembah lebih lebar dengan disertai
 tidak terdapat dataran banjir dataran banjir
 kemiringan lereng tinggi  kemiringan lereng lebih landai
 ketebalan tanah tipis  ketebalan tanah lebih tebal
 kelembaban tanah kecil  curah hujan rendah
 curah hujan tinggi  berpotensi besar terjadi banjir
 aliran tanah permukaan cepat

5. Pola Aliran Sungai


Pola aliran suatu sungai besar dapat terbentuk oleh sungai-sungai yang lainnya yang secara
bersama-sama mengalirkan/mengeringkan air membuat jaringan kerja drainase. Dalam suatu
DAS, sungai-sungai (baik utama maupun cabang) secara keseluruhan membentuk suatu pola
jaringan. Umumnya dipengaruhi oleh struktur geologi daerah. Pola aliran DAS tidak selalu sama
antara DAS yang satu dengan DAS yang lain bahkan dalam satu DAS dapat terbentuk beberapa
pola aliran yang dikendalikan oleh struktur geologi seperti kekar, jenis kemiringan lapisan,
lipatan, dsb.
Menurut penelitian yang dilakukan dalam skala DAS, pola aliran berpengaruh terhadap
kerapatan dalam menentukan besar debit puncak dan waktu lamanya. Arthur D. Howard telah
mengklasifikasikan pola aliran sungai dalam beberapa kategori yaiti pola dasar, modifikasi pola
dasar dan gabungan modifikasi pola dasar. Dengan demikian setiap pola mencerminkan struktur
dan proses yang mengontrolnya. Telah dikenal 8 pola dasar aliran sungai yaitu:
Dendritik
Pola berbentuk cabang/mendaun ini umumnya terbentuk pada –lapisan sedimen mendatar
sedimen-sedimen yang satu jenis, atau batuan yang mempunyai resistensi yang sama. Bentuk
pola ini menyerupai pelebaran bentuk silang pohon beringin.
Paralel
Pola yang berbentuk sejajar ini umumnya terbentuk pada daerah dengan kemiringan umum
lereng menengah sampai terjal, atau pada singkapan batuan yang lebar dan sejajar, serta miring.
Trelis
Pola berbentuk pagar ini terbentuk pada daerah batuan sedimen yang miring / terlipat / pada
daerah batuan sedimen yang terubah. Dapat juga pada daerah dengan patahan dan kekar yang
saling tegak lurus atau pada daerah dengan bukit-bukit sejajar.
Rektangular
Pola berbentuk menyudut ini hampir sama dengan trelis, hanya jumlah sungai yang lebih sedikit
/ orde sungai sedikit.
Radial
Pola yang berbentuk memencar ini muncul pada daerah dengan bentuk berhubungan atau
berbentuk kerucut, dan biasanya dijumpai pada daerah gunungapi.
Anular
Pola berbentuk cincin ini terletak di daerah sekitar bumbungan (kubah) terutama bila terdapat
perselingkuhan batuan yang lunak dan keras, sehingga sungai iuta mengalir sejajar arah lapisan,
anak-anak sungai, searah dengan kemiringan lapisan.
Multibasinal
Pola dengan banyak cekungan (pasu) ini muncul pada basement berbagai variasi dengan kondisi
geologinya. Dapat terjadi pada daerah dengan banyak cekungan akibat pelarutan, atau daerah
gunungapi sekarang. Atau pada daerah cekungan yang belum diketemukan sebab-sebabnya.
Kontorted
Pola ini muncul pada daerah sengan struktur geologi yang kompleks. Umumnya berasosiasi
dengan batuan metamorfik kompleks dengan lipatan yang intensif, intrusi, kekar, dsb.
6. Morfometri DAS
Morfometri DAS merupakan ukuran kuantitatif karakteristik DAS yang terkait dengan aspek
geomorfologi suatu daerah. Karakteristik ini terkait dengan proses pengatusan (drainase) air
hujan yang jatuh di dalam DAS. Parameter tersebut adalah luas DAS, bentuk DAS, jaringan
sungai, kerapatan aliran, pola aliran, dan gradien kecuraman sungai.
a) Luas DAS
DAS merupakan tempat pengumpulan presipitasi ke suatu sistem sungai. Luas daerah aliran
dapat diperkirakan dengan mengukur daerah tersebut pada peta topografi.
b) Bentuk DAS
Bentuk DAS mempengaruhi waktu konsentrasi air hujan yang mengalir menuju outlet. Semakin
bulat bentuk DAS berarti semakin singkat waktu konsentrasi yang diperlukan, sehingga semakin
tinggi fluktuasi banjir yang terjadi. Sebaliknya semakin lonjong bentuk DAS, waktu konsentrasi
yang diperlukan semakin lama sehingga fluktuasi banjir semakin rendah. Bentuk DAS secara
kuantitatif dapat diperkirakan dengan menggunakan nilai nisbah memanjang ('elongation
ratio'/Re) dan kebulatan ('circularity ratio'/Rc). Macam-macam benntuk Daerah Aliran Sungai:
 DAS berbentuk bulu burung
DAS ini memiliki bentuk yang sempit dan memanjang,
dimana anak-anak sunga (sub-DAS) mengalir memanjang di
sebalah kanan dan kiri sungai utama. Umumnya memiliki
debit banjir yang kecil tetapi berlangsung cukup lama karena
suplai air datang silih berganti dari masing-masing anak
sungai.
 DAS berbentuk radial
Sebaran aliran sungai
membentuk seperi kipas
atau nyaris lingkaran.
Anak-anak sungai (sub-DAS) mengalir dari segala
penjuru DAS dan tetapi terkonsentrasi pada satu
titik secara radial, akibat dari bentuk DAS yang
demikian. Debit banjir yang dihasilkan umumnya
akan sangat besar, dalam catatan, hujan terjadi
merata dan bersamaan di seluruh DAS tersebut.
 DAS berbentuk paralel
Sebuah DAS yang tersusun dari percabangan dua sub-DAS
yang cukup besar di bagian hulu, tetapi menyatu di bagain
hilirnya. Masing-masing sub-DAS tersebut dapat memiliki
karakteristik yang berbeda. Dan ketika terjadi hujan di Kedua
sub-DAS tersebut secara bersamaan, maka akan berpotensi
terjadi banjir yang relative besar
c) Jaringan sungai
Jaringan sungai dapat mempengaruhi besarnya debit aliran
sungai yang dialirkan oleh anak-anak sungainya. Parameter
ini dapat diukur secara kuantitatif dari nisbah percabangan
yaitu perbandingan antara jumlah alur sungai orde tertentu dengan orde sungai satu tingkat di
atasnya. Nilai ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nisbah percabangan berarti sungai
tersebut memiliki banyak anak-anak sungai dan fluktuasi debit yang terjadi juga semakin besar.
Orde sungai adalah posisi percabangan alur sungai di dalam urutannya terhadap induk sungai
pada suatu DAS. Semakin banyak jumlah orde sungai, semakin luas dan semakin panjang pula
alur sungainya. Orde sungai dapat ditetapkan dengan metode Horton, Strahler, Shreve, dan
Scheidegger. Namun pada umumnya metode Strahler lebih mudah untuk diterapkan
dibandingkan dengan metode yang lainnya. Berdasarkan metode Strahler,alur sungai paling
hulu yang tidak mempunyai cabang disebut dengan ordepertama (orde 1), pertemuan antara
orde pertama disebut orde kedua (orde 2), demikian seterusnya sampai pada sungai utama
ditandai dengan nomor orde yang paling besar

Gamb
ar
Tingk
at
Ordo
dalam
DAS

1. kera
pata
n
alira
n
sung
ai
Kera
patan aliran sungai menggambarkan kapasitas penyimpanan air permukaan dalam cekungan-
cekungan seperti danau, rawa dan badan sungai yang mengalir di suatu DAS. Kerapatan aliran
sungai dapat dihitung dari rasio total panjang jaringan sungai terhadap luas DAS yang
bersangkutan. Semakin tinggi tingkat kerapatan aliran sungai, berarti semakin banyak air yang
dapat tertampung di badan-badan sungai. Kerapatan aliran sungai adalah suatu angka indeks
yang menunjukkan banyaknya anak sungai di dalam suatu DAS. Indeks tersebut dapat diperoleh
dengan persamaan:

dimana:
Dd= indeks kerapatan aliran sungai (km/km )
L= jumlah panjang sungai termasuk panjang anak-anak sungai (km)
A= luas DAS (km )
Indeks kerapatan aliran sungai diklasifikasikan sebagai berikut:
 Dd: < 0.25 km/km : rendah
 Dd: 0.25 - 10 km/km : sedang
 Dd: 10 - 25 km/km : tinggi
 Dd: > 25 km/km : sangat tinggi
Berdasarkan indeks tersebut dapat dikatakan bahwa indeks kerapatan sungai menjadi kecil pada
kondisi geologi yang permeable, tetapi menjadi besar ntuk daerah yang curah hujannya tinggi.
Disamping itu, jika nilai kerapatan aliran sungai:
b. < 1 mile/mile (0.62 km/km ), maka DAS akan sering mengalamipenggenangan
c. > 5 mile/mile (3.10 km/km ), maka DAS akan sering mengalami kekeringan

IV. LANGKAH KERJA


1. Mendeliniasi sungai (baik berupa sungai perenial maupun itermitten) dan membatasi DAS
dengan melihat puncak-puncak bukit di sekitar sungai yang telah dideliniasi, kemudian
menelusurinya sesuai punggungan pegunungan yang ada.
2. Mendiskripsikan DAS
3. Menentukan sungai utama dalam DAS
4. Menentukan mengetahui tingkat ordo sungai (percabangan sungai)
5. menentukan pola aliran yang terdapat dalam DAS tersebut
6. Membuat penampang melintang dari A – B disertai dengan penggunaan lahannya.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL
1. Mendeliniasi sungai (baik berupa sungai perenial maupun itermitten) dan membatasi DAS
dengan melihat puncak-puncak bukit di sekitar sungai yang telah dideliniasi, kemudian
menelusurinya sesuai punggungan pegunungan yang ada.
Peta yang digunakan dalam praktikum acara III meliputi :
Peta RBI Lembar 1408 - 522 Ngablak
Peta RBI Lembar 1408 – 611 Ampel
2. Mendiskripsikan bentuk DAS
DAS diatas merupakan DAS Kenteng yang terdapat pada Peta RBI Lembar 1408 - 522 Ngablak
dan Lembar 1408 – 611 Ampel. DAS tersebut termasuk ke dalam bentuk DAS bulu burung. Anak
sungainya langsung mengalir ke sungai utama mempunyai debit banjir yang kecil, karena
waktu tiba banjir berbeda-beda dan banjir berlangsung agak lama.
3. Menentukan sungai utama dalam DAS
Pada DAS kenteng sungai utama bisa dilihat pada garis tidak terputus yang memiliki warna biru,
sedang garis terputus bisa di interpretasikan sebagai sungai periodik.
4. Menentukan mengetahui tingkat ordo sungai (percabangan sungai)
Pada DAS Kenteng dapat diketahui bahwa orde sungainya adalah 4. untuk lebih jelasnya
mengenai penentuan orde pada DAS tersebut dapat dilihat pada lembar yang berjudul penentuan
orde sungai.
5. Menentukan pola aliran yang terdapat dalam DAS tersebut
Jika dilihat dilihat dari pola alirannya, pada DAS Kenteng memiliki pola aliran Dendritik.
6. Membuat penampang melintang dari A – B
Berdasarkan deliniasi peta RBI sebagian wilayah Ampel dan Ngablak maka diperoleh hasil
berupa “Peta Kontur DAS Kenteng Sebagian Wilayah Ampel” (terlampir pada halaman
berikutnya)
B. PEMBAHASAN
Pada peta DAS Kenteng yang terdapat pada Peta RBI Lembar 1408 - 522 Ngablak dan
Peta RBI Lembar 1408 – 611 Ampelmempunyai pola aliran Dendritik. Pola berbentuk cabang /
mendaun ini umumnya terbentuk pada lapisan mendatar sedimen – sedimen yang satu jenis,
atau batuan yang mempunyai resistensi yang sama. Bentuk pola ini menyerupai pelebaran
bentuk silang pohon dak atau beringin.
Dalam menggambar peta DAS, kita menggunakan cara dengan mendeliniasi peta. Dalam
pembatasan DAS yang perlu diperhatikan adalah punggung gunung atau biasa disebut igir.
Pembatasan DAS dilakukan dengan penyusuran punggungan gunung. Dalam praktikum acara III
ini batas minimal dari pembatasan DAS adalah 5x16 grid.
Setelah dideliniasi batas DAS kemudian dihitung luas DAS tersebut dibuatlah penampang
melintang. Dari penampang melintang dapat diketahui bentuk sungainya adalah “V” yang
mengindikasikan sungai pada stadium Muda
Pada bagian ini, lembah sungai memiliki bentuk menyerupai huruf V. Ciri cirinya
adalah, sungai sungai dibagian hulu memiliki aliran yang sangat deras dan sungai sungainya
lumayan dalam. Hal ini di sebabkan letaknya di daerah pegunungan yang memiliki
kemiringan cukup curam.Sehingga air akan sangat cepat untuk mengalir ke bawah. Proses
yang terjadi disini adalah proses erosi. Proses erosi sendiri diakibatkan oleh aliran yang
sangat deras karena aliran ini juga akan menggerus sungai dengan sangat cepat, sehingga
lembah sungai ini membentuk huruf V. Hal ini sangat berbeda pada sungai stadium tua yang
sebagian besar berupa sungai intermitenkarena berada pada bagian hilir.
Dalam partikum acara III ini menhasilkan peta kontur dan penmapn dan ang diberi judul
“ Peta Kontur DAS Kenteng Sebagian Wilayah Ampel “ adapun pelambangan kedalam peta,
untuk masing-masing fenomena hendaknya menggunakan perlambangan yang sesuai dengan
konvensi. Semua hasil tangkapan dari analisis sebelumnya, di dalam peta dilambangkan sebagai
berikut:

: sungai

: Kontur

: Alur Lembah

: Igir

:titik ketinggian

VI. KESIMPULAN
Berdasarkar hasil dan pembahsan dari praktikum acara III “Morfometri Das (Daerah
Aliran Sungai I” maka dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu :
1. Sungai utama pada penentuan DAS adalah sungai Kentengsehingga DAS-nya diberi nama
DAS Kenteng
2. Pola aliran sungainya adalah pola aliran Dendritik
3. Pada penampang melintang dapat diketahui bahwa sungai berada pada stadium muda dan
berada pada bagian tengahlembahnya berbentuk V.
4. Bentuk DAS kenteng diketahui memiliki bentuk Bulu burung
5. Penggunaan lahannya berupa Sawah dan tegalan.

(1) kesatuan wilayah tata pengairan ditetapkan

berdasarkan wilayah sungai; (2) Wilayah sungai adalah kesatuan

wilayah tata pengairan sebagai hasil pengembangan satu atau lebih

daerah pengaliran sungai (DPS); (3) DPS adalah kesatuan wilayah

tata air yang terbentuk secara alamiah dimana air meresap dan/atau

mengalir melalui sungai dan anak-anak sungai yang bersangkutan. Bab 7 Penataan Ruang dan
Pembangu

Ada pun pengertian umum daerah aliran sungai (DAS) adalah

wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan

anak-anak sungainya, yang dibatasi oleh pemisah topografi yang berfungsi menampung air yang
berasal dari curah hujan, menyimpan

dan mengalirkannya ke danau atau laut secara alami. Dengan

pengertian DAS itu, tidak ada perbedaan antara pengertian DAS

dengan DPS. DAS dan DPS dapat disepadankan, karena keduanya

berbasis pada batas-batas alamiah/topografi. Sementara itu, wilayah

sungai (WS) merupakan wilayah pengembangan sumberdaya air

yang cakupan wilayahnya meliputi satu atau lebih DAS/DPS. Pengertian DAS/DPS berdasarkan
posisinya terhadap batas administratif

pemerintahan dalam RUU SDA didefinisikan sebagai berikut:

DAS/DPS kabupaten/kota adalah DAS/DPS yang seluruhnya

berada dalam satu wilayah kabupaten/kota;

DAS/DPS propinsi adalah DAS/DPS yang berada pada lebih dari

satu wilayah administrasi kabupaten/kota dalam satu propinsi;


DAS/DPS nasional adalah DAS/DPS yang berada pada lebih dari

satu wilayah administrasi propinsi atau bersifat lintas negara.

Ada kesepadanan DAS/DPS kabupaten/kota dan WS

kabupaten/kota, DAS/DPS propinsi dan WS propinsi, serta DAS/DPS

nasional dan WS nasional, karena cakupan wilayah sungai (WS)

dapat meliputi satu atau lebih DAS/DPS kabupaten/kota, propinsi

maupun nasional. Juga, terdapat hubungan timbal balik antara

pengaturan wilayah sungai (DAS/DPS kabupaten/kota, propinsi,

nasional) dan penataan ruang (RTRW kabupaten/kota, propinsi,

nasional). Keduanya saling mempengaruhi dan bersifat interaktif

dalam pengembangan Kegiatan osial-ekonomi suatu wilayah yang


mengukur debit air
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Salah satu fungsi dari daerah aliran sungai adalah sebagai pemasok air dengan
kuantitas dan kualitas yang baik terutama bagi orang di daerah hilir. Dan untuk menjaga agar
air yang keluar dari daerah aliran sungai tidak melebihi dari kapasitas penerimaan dihilir,
perlu dilakukan perhitungan debit air. Perhitungan debit air ini penting untuk menentukan
agar fungsi dari daerah aaliran sungai sendiri dapat berjalan dengan baik dan menguntungkan
bagi manusia dan ekosistem. Pada perhitungan debit air, kita harus menganalisa bahan apa
yang digunakan untuk membuat saluran tersebut sehingga kita tahu nilai S (kemiringan) dan
nilai n (kekasaran) yang terjadi pada saluran tersebut.
1.2.Tujuan
Mahasiswa dapat menentukan geometrik saluran dan hitung debit aliran dalam saluran
drainase atau saluran irigasi
1.3. Ruang Lingkup
1. Mengukur dimensi penampang saluran (kedalaman air, lebar saluran, ambang bebas, dan
kekasaran dinding saluran.
2. Mengukur panjang saluran (dengan bantuan speedometer)
3. Mengukur beda tinggi muka tanah (dengan bantuan goggle earth)
4. Menghitung kemiringan dasar saluran ( asumsi dari kemiringan muka tanah).
5. Menghitung kemiringan muka air
6. Mengitung luas penampang, keliling basah, jari2 hidrolis
7. Menghitug debit aliran

BAB II
STUDI LITERATUR DAN METODOLOGI

2.1. STUDI LITERATUR


Debit aliran adalah jumlah air yang mengalir dalam satuan volume per waktu.
Debit adalah satuan besaran air yang keluar dari Daerah Aliran Sungai (DAS). Satuan
debit yang digunakan adalah meter kubir per detik (m3/s). Debit aliran adalah laju
aliran air (dalam bentuk volume air) yang melewati suatu penampang melintang sungai
per satuan waktu (Asdak,2002).
Dalam praktek, sering variasi kecepatan pada tampang lintang diabaikan, dan
kecepatan aliran dianggap seragam di setiap titik pada tampang lintang yang besarnya sama
dengan kecepatan rerataV, sehingga debit aliran adalah:
Dengan :
Q =Debit Aliran (m3/s)
A = Luas Penampang (m2)
V = Kecepatan Aliran (m/s)
Metode penelitian meliputi pengukuran langsung di lapangan. Pengukuran langsung
di lapangan meliputi pengukuran lebar, tinggi air, tinggi saluran drainase, sisi miring, dan
diameter pada masing-masing saluran drainase dari yang berbentuk trapesium, persegi, dan
lingkaran. Variabel yang diamati adalah debit air pada masing-masing saluran drainase.
Debit air sungai merupakan tinggi permukaan air sungai yang terukur oleh alat ukur
permukaan air sungai ( Mulyana, 2007).
Debit adalah suatu koefesien yang menyatakan banyaknya air yang mengalir dari
suatu sumber persatuan waktu, biasanya diukur dalam satuan liter per/detik, untuk memenuhi
keutuhan air pengairan, debit air harus lebih cukup untuk disalurkan ke saluran yang telah
disiapkan (Dumiary, 1992). Pada dasarnya debit air yang dihasilkan oleh suatu sumber air
ditentukan oleh beberapa faktor - faktor yaitu :
1.Intensitas hujan
2.Penggundulan hutan
3.Pengalihan hutan
Pengukruan debit dapat dilakukan dengan berbagai macam cara yaitu (Arsyad,1989):
a. Pengukuran volume air sungai
b. Pengukuran debit dengan cara mengukur kecepatan aliran dan menentukan luas
penampang melintang sungai
c. Pengukuran dengan menggunakan bahan kimia yang dialirkan dalam sungai
d. Pengukuran debit dengan membuat bangunan pengukur debit.
Hidrograf aliran merupakan perubahan karakterisitik yang berlangsung dalam suatu
DAS oleh adanya kegiatan pengelolaan DAS dan adanya perubahan iklim lokal ( Asdak,
1995). Aliran sungai berasal dari hujan yang masuk kedalam alur sungai berupa aliran
permukaan dan aliran air dibawah permukaan,debit aliran sungai akan naik setelah terjadi
hujan yang cukup , kemudian yang turun kembali setelah hujan selesai. Grafik yang
menunjukan naik turunnya debit sungai menurut waktu disebut hidrograf, bentuk hidrograf
sungai tergantung dari sifat hujan dan sifat daerah aliran sungai ( Arsyad,2006). Terdapat
tiga kemungkinan perubahan debit sungai yaitu laju pertambahan air bawah tanah lebih kecil
dari penurunan aliran air bawah tanah normal, laju pertambahan air bawah tanah sama
dengan laju penurunannya, sehingga debit aliran menjadi konstan untuk sementara, dan laju
pertambahan air bawah tanah melebihi laju penurunan normal, sehingga terjadi kenaikan
permukaan air tanah dan debit sungai (Arsyad, 2006).
Perlu diingat bahwa distribusi kecepatan aliran di dalam aluran tidak sama arah
horizontal maupun arah vertikal. Dengan kata lain kecepatan aliran pada tepi alur tidak sama
dengan tengah alur, dan kecepatan aliran dekat permukaan air tidak sama dengan kecepatan
pada dasar alur.
Distribusi Kecepatan Aliran:
A : teoritis
B : dasar saluran kasar dan banyak tumbuhan
C : gangguan permukaan (sampah)
D : aliran cepat, aliran turbulen pada dasar
E : aliran lambat, dasar saluran halus
F : dasar saluran kasar/berbatu

2.1. METODOLOGI
1. Waktu dan Lokasi
Kegiatan pengukuran saluran drainase dilakukan pada tanggal 29 September 2011
pada pukul 11.30-12.00. Lokasi kegiatan dilakukan di sungai depan jurusan Teknik Elektro
dan sekitar Teknik Material dan Metalurgi.
2. Jenis Penelitian
Metode penelitian meliputi pengukuran langsung di lapangan. Pengukuran langsung di
lapangan meliputi pengukuran lebar, tinggi air, tinggi saluran drainase, sisi miring, dan
diameter pada masing-masing saluran drainase yang berbentuk persegi. Variabel yang
diamati adalah debit air pada masing-masing saluran drainase.
3. Alat dan Bahan
a. Rafia
b. Meteran
c. Kamera
d. Spidometer sepeda Motor
e. Stopwatch

BAB III
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

3.1. HASIL PENGAMATAN


No Perlakuan Keterangan
1. Mengukur dimensi penampang -kedalaman air = 31 cm
saluran( kedalaman air, lebar -lebar saluran = 962 cm
saluran, dan ambang bebas).
2. Mengukur panjang saluran dengan -saluran yang diamati kira-kira panjangnya
bantuan spedometer. 1 km.
3. Mengukur beda tinggi muka tanah -dari pengamatan melalui google earth
(dengan bantuan google earth) didapatkan tinggi muka tanah yaitu 3 feet
4. Menghitung kemiringan dasar -kemiringan dasar saluran yaitu 0,015 m.
saluran.
5. Menghitung kemiringan muka air. -kemiringan muka air sungai yaitu 0,15 m
6. Menghitung debit aliran. -dihitung di penghitungan.

PERHITUNGAN
53 cm
H= 31 cm

B = 962 cm

Hasil Pengamatan:
Tinggi Saluran : 53 cm = 0,53 m
Lebar Saluran : 962 cm = 9,62 m
Tinggi Air : 31 cm = 0,31 m
Kecepatan aliran : m/s
Kemiringan ( S ) : 0,015
Kekasaran ( n ) : 0, 013 det/m3
a. Keliling Basah (P)
P = B + 2h
= 9.62 m + 2 (0.31 m)
= 9.62 + 0.62
= 10.24 m

b. Luas Penampang Basah (A)


A= Bxh
= 9.62 m x 0.31 m
= 2.9822 m2

c. Jari-Jari Hidrolis (R)


R=
=
= 0.29 m

d. Debit Air (Q)


Berdasarkan penghitungan rumus :
Q= Axv
=Ax x x
= 2.9822 x x x
= 2.9822 x x 0.438126 x 0.122474
= 12.30942 m3/s

Berdasarkan penghitungan kecepatan aliran air :


Q= Axv
= 2.9822 m2 x m/s
= 0.0216101 m3/s

3.2. PEMBAHASAN
Praktikum kedua hidrolika dilaksanakan pada hari senin tanggal 26 September 2011
yaitu berjudul Geometrik Saluran dan Prediksi Debit. Dalam percobaan ini, kita mengukur
kedalaman sungai, lebar sungai, menghitung panjang saluran sungai, menghitung kemiringan
muka air dan debit aliran.
Langkah awal yang kelompok kami lakukan yaitu menentukan sungai yang akan
dijadikan objek penelitian. Kelompok kami meneliti sungai di wilayah ITS yaitu tepatnya
sungai yang berada di depan Teknik Elektro-FTI. Keadaan sungainya tidak mengalir dan
sangat kotor. Setelah menentukan sungai yang akan dijadikan objek penelitian, kita
melakukan langkah selanjutnya yaitu mengukur dimensi penampang saluran. Kedalaman air
di sungai tersebut yaitu 31cm, lebar saluran sungai yaitu 962 cm. Selanjutnya mengukur
panjang saluran dengan speedometer sepeda motor, dan didapatkan hasil bahwa panjang
sungai yang kita amati tersebut sekitar 1 km. Kemudian mengukur tinggi muka air tanah.
Pengukuran ini menggunakan google earth. Awalnya kita mencari dulu daerah sungai yang
kita amati melalui google earth, setelah sudah ketemu kita bisa melihat dibagian bawah
gambar pada sungai itu terdapat keterangan bahwa elevasi dari sungai itu adalah 3 feet. Dan
elevasi sama dengan beda tinggi muka tanah, jadi dapat diketahui bahwa beda tinggi muka
tanah tersebut adalah 3 feet. Setelah itu menghitung kemiringan dasar saluran. Kemiringan
dasar salurannya yaitu 0,015 m. Dan karena kekasaran sungai tersebut terbuat dari beton,
maka dapat diketahui bahwa nilai kekasarannya yaitu 0,013detik/ m3.
Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan, dapat dihitung debit air yang mengalir
pada sungai tersebut. Menurut hasil perhitungan yang tertera di atas, debit air berdasarkan
penghitungan menggunakan rumus adalah 12.30942 m3/s. Akan tetapi, pada saat pengukuran
di lapangan, kami menggunakan papan triplek untuk mengetahui kecepatan aliran air, dan
diketahui jarak 1 m ditempuh selama 2 menit 18 detik atau sama dengan 138 detik. Dengan
begitu, dapat disimpulkan bahwa kecepatan aliran airnya m/s. Berdasarkan penghitungan
kecepatan aliran air, debit airnya adalah 0.0216101 m3/s. Perbedaan besar debit air yang
terjadi sangat besar sekali ini, kemungkinan terjadi karena pengamatan dan pengukuran
dilakukan pada musim kemarau, dimana air yang mengalir sangat sedikit, dan cenderung
tidak mengalir (menggenang). Sehingga dapat disimpulkan bahwa debit air berdasarkan
penghitungan rumus adalah debit air ketika musim hujan, dimana air yang mengalir lebih
banyak daripada ketika musim kemarau.

BAB IV
KESIMPULAN
KESIMPULAN
Dari data di atas dapat disimpulkan :
1. Debit air pada masing-masing saluran berbeda-beda tergantung pada bentuk saluran, bahan
yang digunakan, dan ukuran salurannya.
2. Debit air pada masing-masing saluran tergantung pada musim, terutama pada saluran
drainase, karena saluran drainase digunakan untuk mengalirkan air hujan.
3. Debit air yang diperoleh berdasarkan rumus yaitu 12.30942 m3/s, dan debit air yang
diperoleh berdasarkan perhitungan kecepatan aliran yaitu 0.0216101 m3/s.
BAB V
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad S. 2006. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press : Bogor
Arsyad. 1989. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press : Bogor
Asdak C. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daera Aliran Sungai. Gadjah Mada University
Press : Yogyakarta
Giancoli, Douglas C. 2001. Fisika Jilid I (terjemahan). Jakarta : Erlangga Giancoli, Douglas
C. 2010. Fisika Jilid V (terjemahan). Jakarta : Erlangga
Halliday dan Resnick. 1991. Fisika Jilid I (terjemahan). Jakarta : Erlangga Streeter L, Victor.
1985. Mekanika Fluida. Erlangga: Jakarta.