You are on page 1of 18

A.

Pengertian
Asma merupakan gangguan radang kronik saluran napas. Saluran napas

yang mengalami radang kronik bersifat hiperresponsif sehingga apabila

terangsang oleh factor risiko tertentu, jalan napas menjadi tersumbat dan aliran

udara terhambat karena konstriksi bronkus, sumbatan mukus, dan meningkatnya

proses radang (Almazini, 2012)


Asma adalah suatu keadaan di mana saluran nafas mengalami

penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang

menyebabkan peradangan, penyempitan ini bersifat sementara. Asma dapat

terjadi pada siapa saja dan dapat timbul disegala usia, tetapi umumnya asma lebih

sering terjadi pada anak-anak usia di bawah 5 tahun dan orang dewasa pada usia

sekitar 30 tahunan (Saheb, 2011)


Asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan

banyak sel dan elemennya. Inflamasi kronik menyebabkan peningkatan

hiperresponsivitas saluran napas yang menimbulkan gejala episodik berulang

berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat, batuk terutama malam hari dan

atau dini hari. Episodik tersebut berhubungan dengan obstruksi saluran napas

yang luas, bervariasi dan seringkali bersifat reversibel dengan atau tanpa

pengobatan (Boushey, 2005; Bousquet, 2008)


B. Etiologi
Adapun rangsangan atau faktor pencetus menurut Smeltzer & Bare,

2002 yang sering menimbulkan asma adalah :


1. Faktor ekstrinsik (alergik) : reaksi alergik yang disebabkan oleh

alergen atau alergen yang dikenal seperti debu, serbuk-serbuk, bulu-bulu

binatang.
2. Faktor intrinsik(non-alergik) : tidak berhubungan dengan alergen,

seperti common cold, infeksi traktus respiratorius, latihan, emosi, dan

polutan lingkungan dapat mencetuskan serangan.


3. Asma gabungan merupakan bentuk asma yang paling umum. Asma ini

mempunyai karakteristik dari bentuk alergik dan non-alergik


C. Patofisiologi
Tiga unsur yang ikut serta pada obstruksi jalan udara penderita asma

adalah spasme otot polos, edema dan inflamasi membran mukosa jalan udara,

dan eksudasi mucus intraliminal, sel-sel radang dan debris selular. Obstruksi

menyebabkan pertambahan resistensi jalan udara yang merendahkan volume

ekspresi paksa dan kecepatan aliran, penutupan prematur jalan udara, hiperinflasi

paru, bertambahnya kerja pernafasan, perubahan sifat elastik dan frekuensi

pernafasan. Walaupun jalan udara bersifat difus, obstruksi menyebabkan

perbedaaan satu bagian dengan bagian lain, ini berakibat perfusi bagian paru

tidak cukup mendapat ventilasi dan menyebabkan kelainan gas-gas darah

terutama penurunan pCO2 akibat hiperventilasi.


Pada respon alergi di saluran nafas, antibodi IgE berikatan dengan

alergen menyebabkan degranulasi sel mast. Akibat degranulasi tersebut, histamin

dilepaskan. Histamin menyebabkan konstriksi otot polos bronkiolus. Apabila

respon histamin berlebihan, maka dapat timbul spasme asmatik. Karena histamin

juga merangsang pembentukan mukkus dan meningkatkan permiabilitas kapiler,

maka juga akan terjadi kongesti dan pembengkakan ruang iterstisium paru.
Individu yang mengalami asma mungkin memiliki respon IgE yang

sensitif berlebihan terhadap sesuatu alergen atau sel-sel mast-nya terlalu mudah
mengalami degranulasi. Di manapun letak hipersensitivitas respon peradangan

tersebut, hasil akhirnya adalah bronkospasme, pembentukan mukus, edema dan

obstruksi aliran udara.


D. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala asma sendiri dapat digolongkan menjadi :
1. Asma tingkat I
Yaitu penderita asma yang secara klinis normal tanpa tanda dan gejala asma

atau keluhan khusus baik dalam pemeriksaan fisik maupun fungsi paru.

Asma akan muncul bila penderita terpapar faktor pencetus atau saat

dilakukan tes provokasi bronchial di laboratorium.


2. Asma tingkat II
Yaitu penderita asma yang secara klinis maupun pemeriksaan fisik tidak ada

kelainan, tetapi dengan tes fungsi paru nampak adanya obstruksi saluran

pernafasan. Biasanya terjadi setelah sembuh dari serangan asma.


3. Asma tingkat III
Yaitu penderita asma yang tidak memiliki keluhan tetapi pada pemeriksaan

fisik dan tes fungsi paru memiliki tanda-tanda obstruksi. Biasanya penderita

merasa tidak sakit tetapi bila pengobatan dihentikan asma akan kambuh.
4. Asma tingkat IV
Yaitu penderita asma yang sering kita jumpai di klinik atau rumah sakit yaitu

dengan keluhan sesak nafas, batuk atau nafas berbunyi.


Pada serangan asma ini dapat dilihat yang berat dengan gejala-gejala yang

makin banyak antara lain :


a. Kontraksi otot-otot bantu pernafasan, terutama sternokliedo mastoideus
b. Sianosis
c. Silent Chest
d. Gangguan kesadaran
e. Tampak lelah
f. Hiperinflasi thoraks dan takhikardi
5. Asma tingkat V
Yaitu status asmatikus yang merupakan suatu keadaan darurat medis

beberapa serangan asma yang berat bersifat refrakter sementara terhadap

pengobatan yang lazim dipakai. Karena pada dasarnya asma bersifat

reversible maka dalam kondisi apapun diusahakan untuk mengembalikan

nafas ke kondisi normal


E. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan sputum
Pada pemeriksaan sputum ditemukan :
a. Kristal –kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi

dari kristal eosinofil.


b. Terdapatnya Spiral Curschman, yakni spiral yang merupakan

silinder sel-sel cabang-cabang bronkus


c. Terdapatnya Creole yang merupakan fragmen dari epitel

bronkus
d. Terdapatnya neutrofil eosinofil
2. Pemeriksaan darah
Pada pemeriksaan darah yang rutin diharapkan eosinofil meninggi,

sedangkan leukosit dapat meninggi atau normal, walaupun terdapat

komplikasi asma
a. Gas analisa darah
Terdapat hasil aliran darah yang variabel, akan tetapi bila terdapat

peninggian PaCO2 maupun penurunan pH menunjukkan prognosis yang

buruk
b. Kadang –kadang pada darah terdapat SGOT dan LDH yang

meninggi
c. Hiponatremi 15.000/mm3 menandakan terdapat infeksi
d. Pada pemeriksaan faktor alergi terdapat IgE yang meninggi

pada waktu seranggan, dan menurun pada waktu penderita bebas dari

serangan.
e. Pemeriksaan tes kulit untuk mencari faktor alergi dengan

berbagai alergennya dapat menimbulkan reaksi yang positif pada tipe

asma atopik.
3. Foto rontgen
Pada umumnya, pemeriksaan foto rontgen pada asma normal. Pada

serangan asma, gambaran ini menunjukkan hiperinflasi paru berupa

rradiolusen yang bertambah, dan pelebaran rongga interkostal serta

diagfragma yang menurun. Akan tetapi bila terdapat komplikasi, kelainan

yang terjadi adalah:


a. Bila disertai dengan bronkhitis, bercakan hilus akan bertambah
b. Bila terdapat komplikasi emfisema (COPD) menimbulkan

gambaran yang bertambah.


c. Bila terdapat komplikasi pneumonia maka terdapat gambaran

infiltrat pada paru.


4. Pemeriksaan faal paru
a. Bila FEV1 lebih kecil dari 40%, 2/3 penderita menujukkan

penurunan tekanan sistolenya dan bila lebih rendah dari 20%, seluruh

pasien menunjukkan penurunan tekanan sistolik.


b. Terjadi penambahan volume paru yang meliputi RV hampi

terjadi pada seluruh asma, FRC selalu menurun, sedangan penurunan

TRC sering terjadi pada asma yang berat


5. Elektrokardiografi
Gambaran elektrokardiografi selama terjadi serangan asma dapat dibagi atas

tiga bagian dan disesuaikan dengan gambaran emfisema paru, yakni :


a. Perubahan aksis jantung pada umumnya terjadi deviasi aksis ke

kanan dan rotasi searah jarum jam


b. Terdapatnya tanda-tanda hipertrofi jantung, yakni tedapat

RBBB
c. Tanda-tanda hipoksemia yakni terdapat sinus takikardi, SVES,

dan VES atau terjadinya relatif ST depresi.


F. Penatalaksanaan
Pengobatan asthma secara garis besar dibagi dalam pengobatan non

farmakologik dan pengobatan farmakologik.


1. Penobatan non farmakologik
a. Penyuluhan
Penyuluhan ini ditujukan pada peningkatan pengetahuan klien tentang

penyakit asthma sehinggan klien secara sadar menghindari faktor-faktor

pencetus, serta menggunakan obat secara benar dan berkonsoltasi pada

tim kesehatan.
b. Menghindari faktor pencetus
Klien perlu dibantu mengidentifikasi pencetus serangan asthma yang

ada pada lingkungannya, serta diajarkan cara menghindari dan

mengurangi faktor pencetus, termasuk pemasukan cairan yang cukup

bagi klien.
c. Fisioterapi
Fisioterpi dapat digunakan untuk mempermudah pengeluaran mukus. Ini

dapat dilakukan dengan drainage postural, perkusi dan fibrasi dada.


2. Pengobatan farmakologik
a. Agonis beta
Bentuk aerosol bekerja sangat cepat diberika 3-4 kali semprot dan jarak

antara semprotan pertama dan kedua adalan 10 menit. Yang termasuk

obat ini adalah metaproterenol ( Alupent, metrapel ).


b. Metil Xantin
Golongan metil xantin adalan aminophilin dan teopilin, obat ini

diberikan bila golongan beta agonis tidak memberikan hasil yang

memuaskan. Pada orang dewasa diberikan 125-200 mg empatkali

sehari.
c. Kortikosteroid
Jika agonis beta dan metil xantin tidak memberikan respon yang baik,

harus diberikan kortikosteroid. Steroid dalam bentuk aerosol

( beclometason dipropinate ) dengan disis 800 empat kali semprot tiap

hari. Karena pemberian steroid yang lama mempunyai efek samping

maka yang mendapat steroid jangka lama harus diawasi dengan ketat.
d. Kromolin
Kromolin merupakan obat pencegah asthma, khususnya anak-anak .

Dosisnya berkisar 1-2 kapsul empat kali sehari.


e. Ketotifen
Efek kerja sama dengan kromolin dengan dosis 2 x 1 mg perhari.

Keuntunganya dapat diberikan secara oral.


f. Iprutropioum bromide (Atroven)
Atroven adalah antikolenergik, diberikan dalam bentuk aerosol dan

bersifat bronkodilator.
3. Pengobatan selama serangan status asthmatikus
a. Infus RL 20 tpm
b. Pemberian oksigen 4 liter/menit melalui nasal kanul
c. Aminophilin bolus 5 mg / kg bb diberikan pelan-pelan selama

20 menit dilanjutka drip Rlatau D5 mentenence (20 tetes/menit) dengan

dosis 20 mg/kg bb/24 jam.


d. Terbutalin 0,25 mg/6 jam secara sub kutan.
e. Dexamatason 10-20 mg/6jam secara intra vena.
f. Antibiotik spektrum luas.
G. Pengkajian keperawatan
1. Pengkajian Primer Asma
a. Airway
1) Peningkatan sekresi pernafasan
2) Bunyi nafas krekles, ronchi, weezing
b. Breathing
1) Distress pernafasan: pernafasan cuping hidung,

takipneu/bradipneu, retraksi.
2) Menggunakan otot aksesoris pernafasan
3) Kesulitan bernafas : diaforesis, sianosis

c. Circulation
1)Penurunan curah jantung : gelisah, latergi, takikardi
2)Sakit kepala
3)Gangguan tingkat kesadaran : ansietas, gelisah
4)Papiledema
5)Urin output meurun
d. Dissability
Mengetahui kondisi umum dengan pemeriksaan cepat status umum dan

neurologi dengan memeriksa atau cek kesadaran, reaksi pupil.


2. Pengkajian Sekunder Asma
a. Anamnesis
Anamnesis pada penderita asma sangat penting, berguna untuk

mengumpulkan berbagai informasi yang diperlukan untuk menyusun

strategi pengobatan. Gejala asma sangat bervariasi baik antar individu

maupun pada diri individu itu sendiri (pada saat berbeda), dari tidak ada

gejala sama sekali sampai kepada sesak yang hebat yang disertai

gangguan kesadaran.
Keluhan dan gejala tergantung berat ringannya pada waktu serangan.

Pada serangan asma bronkial yang ringan dan tanpa adanya komplikasi,

keluhan dan gejala tak ada yang khas. Keluhan yang paling umum

ialah : Napas berbunyi, Sesak, Batuk, yang timbul secara tiba-tiba dan

dapat hilang segera dengan spontan atau dengan pengobatan, meskipun

ada yang berlangsung terus untuk waktu yang lama.


b. Pemeriksaan Fisik
Berguna selain untuk menemukan tanda-tanda fisik yang mendukung

diagnosis asma dan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain, juga


berguna untuk mengetahui penyakit yang mungkin menyertai asma,

meliputi pemeriksaan :
1) Status kesehatan umum
Perlu dikaji tentang kesadaran klien, kecemasan, gelisah,

kelemahan suara bicara, tekanan darah nadi, frekuensi pernapasan

yang meningkatan, penggunaan otot-otot pembantu pernapasan

sianosis batuk dengan lendir dan posisi istirahat klien.


2) Integumen
Dikaji adanya permukaan yang kasar, kering, kelainan pigmentasi,

turgor kulit, kelembapan, mengelupas atau bersisik, perdarahan,

pruritus, ensim, serta adanya bekas atau tanda urtikaria atau

dermatitis pada rambut di kaji warna rambut, kelembaban dan

kusam.
3) Thorak
a) Inspeksi
Dada di inspeksi terutama postur bentuk dan kesemetrisan

adanya peningkatan diameter anteroposterior, retraksi otot-otot

Interkostalis, sifat dan irama pernafasan serta frekwensi

peranfasan.
b) Palpasi
Pada palpasi di kaji tentang kosimetrisan, ekspansi dan taktil

fremitus.
c) Perkusi
Pada perkusi didapatkan suara normal sampai hipersonor

sedangkan diafragma menjadi datar dan rendah.


d) Auskultasi.
Terdapat suara vesikuler yang meningkat disertai dengan

expirasi lebih dari 4 detik atau lebih dari 3x inspirasi, dengan

bunyi pernafasan dan Wheezing.


c. Sistem pernafasan
1) Batuk mula-mula kering tidak produktif kemudian makin keras

dan seterusnya menjadi produktif yang mula-mula encer kemudian

menjadi kental. Warna dahak jernih atau putih tetapi juga bisa

kekuningan atau kehijauan terutama kalau terjadi infeksi sekunder.


2) Frekuensi pernapasan meningkat
3) Otot-otot bantu pernapasan hipertrofi.
4) Bunyi pernapasan mungkin melemah dengan ekspirasi yang

memanjang disertai ronchi kering dan wheezing.


5) Ekspirasi lebih daripada 4 detik atau 3x lebih panjang daripada

inspirasi bahkan mungkin lebih.


6) Pada pasien yang sesaknya hebat mungkin ditemukan :
a) Hiperinflasi paru yang terlihat dengan peningkatan

diameter anteroposterior rongga dada yang pada perkusi

terdengar hipersonor.
b) Pernapasan makin cepat dan susah, ditandai dengan

pengaktifan otot-otot bantu napas (antar iga,

sternokleidomastoideus), sehingga tampak retraksi

suprasternal, supraclavikula dan sela iga serta pernapasan

cuping hidung.
c) Pada keadaan yang lebih berat dapat ditemukan

pernapasan cepat dan dangkal dengan bunyi pernapasan dan

wheezing tidak terdengar(silent chest), sianosis.


d. Sistem kardiovaskuler
1) Tekanan darah meningkat, nadi juga meningkat
2) Pada pasien yang sesaknya hebat mungkin ditemukan :
a) takhikardi makin hebat disertai dehidrasi.
b) Timbul Pulsus paradoksusdimana terjadi penurunan

tekanan darah sistolik lebih dari 10 mmHg pada waktu

inspirasi. Normal tidak lebih daripada 5 mmHg, pada asma

yang berat bisa sampai 10 mmHg atau lebih.


c) Pada keadaan yang lebih berat tekanan darah menurun,

gangguan irama jantung.


H. Pathway

Pola nafas tidak efektif


I. Fokus intervensi keperawatan

DIAGNOSA
NO NOC NIC RASIONAL
KEPERAWATAN
1. Ketidak efektifan Setelah dilakukan Kaji warna, Karakteristik sputrum
jalan nafas yang tindakan kekentalan dan dapat menunjukkan
berhubungan keperawatan selama jumlah sputum berat ringannya
dengan sekresi 3 shifh, diharapkan obstruksi
kental jalan nafas normal Instruksikan klien Batuk yang tidak
peningkatan dengan kriteria pada metode terkontrol melelahkan
produksi mukus hasil: yang tepat dalam dan inefektif serta
bronkospasme. Menentukan posisi mengontrol menimbulkan frustasi
yang nyaman batuk. Sekresi kental sulit
sehingga Ajarkan klien untuyk dikeluarkan dan
memudahkan untuk dapat menyebabkan
peningkatan menurunkan sumbatan mucus yang
pertukaran gas. viskositas sekresi dapat menimbulkan
Dapat atelektasis.
mendemontrasikan Berkurangnya suara
batuk efektif Auskultasi paru tambahan setelah
Dapat menyatakan sebelum dan tindakan menunjukan
strategi untuk sesudah tindakan keberhasilan
menurunkan Fisioterpi dada
kekentalan sekresi Lakukan merupakan strategi
Tidak ada suara fisioterapi dada untuk mengeluarkan
nafas tambahan dengan tehnik sekret.
drainage
postural,perkusi
dan fibrasi dada. Hygiene mulut yang
Dorong dan atau baik meningkatkan rasa
berikan sehat dan mencegah
perawatan mulut bau mulut

2. Ketidak efektifan Setelah dilakukan Monitor Takipnea, irama yang


pola nafas yang tindakan frekuensi, irama tidak teratur dan
berhubungan keperawatan selam dan kedalaman bernafas dangkal
dengan distensi 3 shif diharapkan pernafasan menunjukkan pola
dinding dada, dan pola nafas normal nafas yang tidak efektif
kelelahan akibat dengan kriteria Posisikan klien Posisi semi fowler akan
peningkatan kerja hasil: dada posisi semi menurunkan diafragma
pernafasan Frekuensi nafas fowler sehingga memberikan
yang efektif dan pengembangan pada
perbaikan organ paru
pertukaran gas pada Alihkan perhatian Ansietas dapat
paru individu dari menyebabkan pola
Menyatakan faktor pemikiran tentang nafas tidak efektif
penyebab dan cara keadaan ansietas
adaptif mengatasi dan ajarkan
faktor-faktor carabernafas
tersebut efektif
Minimalkan Distensi gaster dapat
distensi gaster menghambat kontraksi
diafragma
Kaji pernafasan Adanya apnea tidur
selama tidur menunjukkan pola
nafas yang tidak efektif
Yakinkan klien Rasa ragu–ragu pada
dan beri klien dapat
dukungan saat menghambat
dipsnea komunikasi terapeutik.

3. Gangguan Setelah tindakan Pantauan status Untuk mengidentifikasi


pertukaran gas keperawatan selama pernafasan tiap 4 indikasi kearah
yang berhubungan 3 shif diharapkan jam, hasil GDA, kemajuan atau
dengan retensi kebersihan klien pemasukan dan penyimpangan dari
CO2, peningkatan dapat haluaran hasil klien
sekresi, mempertahankan Tempatkan klien Posisi tegak
peningkatan pertukaran gas dan pada posisi semi memungkinkan expansi
pernafasan, dan oksigenasi adekuat fowler paru lebih baik
proses penyakit. dengan kriteria Berikan terapi
(c) Untuk memungkinkan
hasil: intravena sesuai rehidrasi yang cepat
Frekuensi nafas 16 –
anjuran dan dapat mengkaji
20 kali/menit
keadaan vascular
Frekuensi nadi 60 –
untuk pemberian obat
120 kali/menit
– obat darurat.
Warna kulit normal,
Berikan oksigen Pemberian oksigen
tidak ada dipnea dan
melalui kanula mengurangi beban otot
GDA dalam batas
nasal 4 l/mt – otot pernafasan
normal
selanjutnya
sesuaikan dengan
hasil PaO2
Berikan Pengobatan untuk
pengobatan yang mengembalikan kondisi
telah ditentukan bronkus seperti kondisi
serta amati bila sebelumnya
ada tanda –
tandatoksisitas

4 Intoleransi Setelah tindakan Monitor Mengetahui tingkat


aktivitas keperawatan selama kemempuan klien kemampuan klien
berhubungan 3 shif diharapkan untuk perawatan
dengan ketidak ADL dapat diri yang mandiri.
seimbangan antara terpenuhi dengan Monitor Membantu memenuhi
suplai dan kriteria hasil: kebutuhan klien ADL klien
kebutuhan Berpartisipasi dalam untuk alat-alat
oksigen melemah aktivitas fisik tanpa bantu untuk
disertai peningkatan kebersihan diri,
tekanan darah, nadi berpakaian,
dan RR berhias, toileting
Mampu melakukan dan makan.
aktivitas sehari hari Dorong klien Melatih kemndirian
(ADLs) secara untuk melakukan aktivitas klien
mandiri aktivitas sehari-
hari yang normal
sesuai
kemampuan yang
dimiliki.
Ajarkan klien/ Motifasi dari keluarga
keluarga untuk merupakan dorongan
mendorong yang paling penting
kemandirian,
untuk
memberikan
bantuan hanya
jika pasien tidak
mampu untuk
melakukannya.
Berikan aktivitas Melatih kinerja otot
rutin sehari- hari dalam beraktifitas
sesuai
kemampuan.
DAFTAR PUSTAKA

Corwin, E.J. 2000. Buku Saku Patofisiologi, Alih bahasa Braham. U. Jakarta :
EGC

Wilkinson, J.M, 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC
dan Kriteria Hasil NOC. Jakarta : EGC

Smeltzer, suzana& Brenda G. Bare 2001. Buku ajar keperawatan medical bedah
brunnert & sudart. Edisi 8 vol. Jakarta : EGC

Almazini, P. 2012. Bronchial Thermoplasty Pilihan Terapi Baru untuk Asma


Berat. Jakrta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Carpenito, L.J. 2000. Diagnosa Keperawatan, Aplikasi pada Praktik Klinis, edisi
6. Jakarta: EGC

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC.

GINA (Global Initiative for Asthma) 2006.; Pocket Guide for Asthma
Management and Prevension In Children. www. Dimuat dalam
www.Ginaasthma.org

Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second


Edition. New Jersey: Upper Saddle River

Linda Jual Carpenito, 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 . Jakarta:
EGC

Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta: Media
Aesculapius

Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second


Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Purnomo. 2008. Faktor Faktor Risiko Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian
Asma Bronkial Pada Anak. Semarang: Universitas Diponegoro