You are on page 1of 13

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadiran Allah SWT, karena penulis telah
dapat menyelesaikan makalah ini, dengan tidak ada hambatan yang berarti. Makalah
ini penulis buat dari tanggal 29 mei 2010 sampai dengan selesai.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada yang terhormat dosen
pembimbing dan rekan-rekan dikelas keperawatan IV/D yang telah banyak membantu
dalam memberi dorongan dalam menyelesaikan makalah ini.
Hasil makalah ini tentunya belum sempurna, namun bagi penulis hasil ini
sangatlah berarti terutama dapat memberikan dorongan dan sekaligus tantangan untuk
berkarya sebagai pengisi kegiatan dari aktivitas remaja yang dituntut untuk terus
berkarya dan berkreasi mengisi masa depan yang penuh tantangan. Oleh karena itu
dengan segala kerendahan hati, penulis mohon saran dan kritik demi kesempurnaan
makalah ini.

Bengkulu, 31 juni 2010

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Trakheostomi adalah tindakan membuat lubang pada dinding


depan/anterior trakea untuk bernapas. Menurut letak stoma, trakeostomi
dibedakan letak yang tinggi dan letak yang rendah dan batas letak ini adalah
cincin trakea ketiga. Sedangkan menurut waktu dilakukan tindakan maka
trakeostomi dibagi dalam: 1. trakeostomi darurat (dalam waktu yang segera
dan persiapan sarana sangat kurang), 2. trakeostomi berencana (persiapan
sarana cukup) dan dapat dilakukan secara baik.

Trakheostomi merupakan suatu prosedur operasi yang bertujuan


untuk membuat suatu jalan nafas didalam trakea servikal. Perbedaan kata –
kata yang dipergunakan dalam membedakan “ostomy” dan “otomy” tidak
begitu jelas dalam masalah ini, sebab lubang yang diciptakan cukup
bervariasi dalam ketetapan permanen atau tidaknya. Apabila kanula telah
ditempatkan, bukan hasil pembedahan yang tidak dijahit dapat menyembuh
dalam waktu satu minggu. Jika dilakukan dekanulasi (misalnya kanula
trakeostomi dilepaskan), lubang akan menutup dalam waktu yang kurang
lebih sama. Sudut luka dari trakea yang dibuka dapat dijahit pada kulit
dengan beberapa jahitan yang dapat diabsorbsi demi memfasilitasi kanulasi
dan, jika diperlukan, pada rekanulasi; alternatifnya stoma yang permanen
dapat dibuat dengan jahitan melingkar (circumferential). Kata trakeostomi
dipergunakan, dengan kesepakatan, untuk semua jenis prosedur
pembedahan ini. Perkataan tersebut dianggap sebagai sinonim dari
trakeotomi.
1.2 Tujuan

1. Tujuan umum

Untuk mempelajari tentang asuhan keperawatan pada pasien


trakheostomi.

2. Tujuan khusus

1. Untuk mengetahui konsep dasar teoritis trakeotomi dan


trakheostomi
2. Untuk mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan pada pasien
trakheostomi, yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan,
dan intervensi.
3. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien trakheostomi,
yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi,
implementasi dan evaluasi.

1.3 Manfaat Penelitian

1. Menambah pengetahuan dan wawasan bagi semua pembaca tentang


asuhan keperawatan pada klien trakheostomi.
2. Makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan keterampilan
kelompok dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien
trakheostsmi
3. Sebagai bahan informasi bagi mahasiswa praktikum dalam
penatalaksanaan trakheostomi
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Dasar Teori Trakheostomi

2.1.1 Pengertian

Trakheotomi adalah suatu prosedur pengirisan trakea.(irman sumantri,


2008)

Tracheotomy berarti untuk membagi(memotong), trakea (betang


tenggorok). Lubang dibuat disebut trakeastomi.

Trakeostomi diturunkan dari bahasa yunani dengan mengambil kata


trachea arteria (menembus arteri) dan tome (memeotong).

Trakeostomi adalah tindakan membuat lubang pada dinding depan/


anterior trakhea untuk benafas dengan membuka dinding depan/ anterior
trakea untuk mempertahankan jalan nafas agar udara dapat masuk ke paru-
paru dan memintas jalan nafas bagian atas (Adams,1997).

Trakeastomi adalah operasi pembuatan suatu lubang di trakea (irman


sumantri, 2008)

2.1.2 Faktor Pencetus

Masalah pada jalan napas adalah sumbatan. Sumbatan dapat terjadi


baik total maupun parsial. Sumbatan total terjadi karena benda asing yang
menutup jalan napas secara tiba-tiba. Sedangkan sumbatan parsial
dibedakan menjadi tiga bagian yaitu:
a. Sumbatan Karena Cairan

Setiap pasien trauma beresiko mengalami sumbatan jalan nafas


karena cairan yang disebabkan oleh darah, secret dan lain-lain.
Sumbatan karena cairan dapat mengakibatkan aspirasi yaitu masuknya
cairan asing kedalam paru-paru penderita. Upaya penanganan
sumbatan jalan nafas karena cairan adalah dengan melakukan
penghisapan atau suctioning sesegera mungkin.

b. Sumbatan Karena Pangkal Lidah

Pada penderita yang mengalami penurunan kesadaran, maka


mungkin pangkal lidah akan jatuh kebelakang dan menyumbat
hipofaring. Hal ini karena ototo-otot penyanggah lidah lemas atau
mengalami kelumpuhan. Cara mengatasi sumbatan jalan nafas karena
sumbatan pangkal lidah pada prinsinya adalah mengangkat pangkal
lidah agar tidak menyumbat jalan nafas.

c. Sumbatan Anatomis

Sumbatan anatomis disebabkan oleh penyakit saluran nafas


atau karena adanya trauma yang mengakibatkan pembekakan/ udema
pada jalan nafas (ex. Trauma inhalasi pada kebakaran). Penanganan
sumbatan karena antomis seringkali membutuhkan penanganan secara
surgical dengan membuat jalan nafas alternatif tanpa melalui mulut
atau hidung penderita.

2.1.3 Indikasi

Indikasi dari trakeostomi antara lain:


1. Mengatasi obstruksi laring
2. Mengurangi ruang rugi (dead air spase) di saluran nafas bagian atas

seperti daerah rongga mulut, sekitar lidah dan faring. Dengan


adanya stoma maka seluruh oksigen yang hirupnya akan masuk ke
dalam paru tidak ada yang tertinggal di ruang rugi itu. Hal ini
berguna pada penderita dengan kerusakan paru yang kapasitas
vitalnya berkurang.

3. Mempermudah penghisapan sekret dari bronkus dari penderita


yang tidak dapat mengeluarkan sekret secara fisiologik misalnya
pada penderita dalam keadaan koma.
4. Untuk memasang respirator (alat bantu pernafasan)
5. Untuk mengambil benda asing dari subgiotik apabila tidak
mempunyai fasilitas untuk bronkoskopi

2.1.4 Kontraindikasi

Tidak ada kontraindikasi, tetapi pada obstruksi saluran


pernapasan yang berat lebih cepat bila dilakukan krikotirotomi.

2.1.5 Fungsi Trakheostomi

Fungsi dari trakheostomi antaralain:

1. Mengurangi jumlah ruang hampa dalam traktus trakheobronkial 70


sampai 100 ml. Penurunan ruang hampa dapat berubah ubah dari
10 sampai 50% tergantung pada ruang hampa fisiologik tiap
individu
2. Mengurangi tahanan aliran udara pernafasan yang selanjutnya
mengurangi kekuatan yang diperlukan untuk memindahkan udara
sehingga mengakibatkan peningkatan regangan total dan ventilasi
alveolus yang lebih efektif. Asal lubang trakheostomi cukup besar
(paling sedikit pipa 7)
3. Proteksi terhadap aspirasi
4. Memungkinkan pasien menelan tanpa reflek apnea, yang sangat
penting pada pasien dengan gangguan pernafasan
5. Memungkinkan jalan masuk langsung ke trachea untuk
pembersihan
6. Memungkinkan pemberian obat-obatan dan humidifikasi ke
traktus.
7. Mengurangi kekuatan batuk sehingga mencegah pemindahan
secret ke perifer oleh tekanan negative intra toraks yang tinggi
pada fase inspirasi batuk yang normal

2.1.6. Jenis Tindakan Trakheostomi

a. Surgical trakeostomy

Tipe ini dapat sementara dan permanen dan dilakukan di dalam


ruang operasi. Insisi dibuat diantara cincin trakea kedua dan ketiga
sepanjang 4-5 cm.

b. Percutaneous Tracheostomy

Tipe ini hanya bersifat sementara dan dilakukan pada unit


gawat darurat. Dilakukan pembuatan lubang diantara cincing
trakea satu dan dua atau dua dan tiga. Karena lubang yang dibuat
lebih kecil, maka penyembuhan lukanya akan lebih cepat dan tidak
meninggalkan scar. Selain itu, kejadian timbulnya infeksi juga jauh
lebih kecil.
c. Mini Tracheostomi

Dilakukan insisi pada pertengahan membran krikotiroid dan


trakeostomi mini ini dimasukan menggunakan kawat dan dilator.

2.1.7 Penatalaksanaan

1. Alat Yang Diperlukan

1. Pisau
2. Pinset anatomi
3. Gunting panjang tumpul
4. Sepasang pengait tumpul
5. Klem arteri
6. Gunting kecil yang tajam
7. Kanul trakea dengan ukuran sesuai
8. Spuit untuk anastesi obat anestesi
9. Kain kassa
10. Tali pengikat kanul trachea
11. Antiseptic serta kain steril

2. Tehnik Trakheostomi

a. Pasien ditidurkan terlentang, bahu diganjal dengan bantalan kecil


sehingga memudahkan kepala untuk diekstensikan.
b. Kulit leher dibersihkan sesuai dengan prinsip aseptik dan antiseptik
dan ditutup dengan kain steril.
c. Disuntikkan obat anestetikum disuntikkan di pertengahan krikoid
dengan fossa suprasternal secara infiltrasi.
d. Sayatan kulit dapat vertikal di garis tengah leher mulai dari bawah
krikoid sampai fosa suprasternal atau jika membuat sayatan horizontal
dilakukan pada pertengahan jarak antara kartilago krikoid dengan fosa
suprasternal atau kira-kira dua jari dari bawah krikoid orang dewasa.
Sayatan jangan terlalu sempit, dibuat kira-kira lima sentimeter.
e. Jaringan subkutis dibuka dengan gunting panjang yang dibuka
(dengan bagian belakang gunting) lapis demi lapis sehingga fasia
pretrakea juga terpotong. Pada tiap lapis, perawat mengikuti dengan
menahan jaringan retractor.
f. Setelah pretrakea terpotong akan tampak trakea. Tanda trakea ialah
adanya cincin tulang rawan yang berwarna keputihan.
g. Untuk membuktikan fasia trakea ialah dengan spuit yang berisi sedikit
cairan. Bila ditusuk trakea akan timbul gelembung
h. Dengan pisau tajam, tulang rawan trakea ke tiga diinsisi, kemudian
tulang rawan dipegang dengan klem arteri dan dibuat lubang bulat
dengan bantuan gunting pendek yang tajam. Lubang dibuat sesuai
dengan kanul yang digunakan.
i. Pendarahan dirawat
j. Dimaskkan kanul trakea kedalam lubang yang dibuat, kemudian diikat
disekitar leher
k. Dibawah kanul diletakkan kain kassa untuk menampung secret yang
dibatukkan dari secret.

2.1.8 Perawatan Paska Trakeastomi

Setelah trakeastomi dilakukan :

1. Rontgen dada untuk menilai posisi tube dan melihat timbul atau
tidaknya komplikasi.
2. Antibiotic untuk menurunkan resiko timbulnya infeksi
3. Mengajari pihak keluarga dan penderita sendiri cara merawat pipa
trakeastomi.

2.1.9 Komplikasi

 Komplikasi dini yang sering terjadi:


1. Perdarahan
2. Pneumothoraks terutama pada anak-anak
3. Aspirasi
4. Henti jantung sebagai rangsangan hipoksia terhadap respirasi
5. Paralisis saraf rekuren
 Komplikasi lanjut :
1. Perdarahan lanjutan pada arteri inominata
2. Infeksi
3. fistula trakeoesofagus
4. Stenosis trakea
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Tracheotomy berarti untuk membagi(memotong), trakea


(betang tenggorok). Lubang dibuat disebut trakeastomi.

Trakeostomi diturunkan dari bahasa yunani dengan


mengambil kata trachea arteria (menembus arteri) dan tome
(memeotong).

Trakeostomi adalah tindakan membuat lubang pada dinding


depan/ anterior trakhea untuk benafas dengan membuka dinding
depan/ anterior trakea untuk mempertahankan jalan nafas agar udara
dapat masuk ke paru-paru dan memintas jalan nafas bagian atas
(Adams,1997).

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul :

1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan


dengan pemasangan kanul trakeostomi.
2. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan
hambatan fisik
3. Nyeri akut berhubungan dengan insisi bedah

Saran
Adapun saran yang penulis sampaikan adalah pelajari dengan
baik tahap-tahap dalam tindakan trakeastomi demi meningkatkan
keterampilan keperwatan anda.
DAFTAR PUSTAKA

http://kumpulanmaterikeperawatan.blogspot.com/2010/04/trakeostomi.html
http://tikagemini.blogspot.com/2009/06/trakeostomi
http://klikharry.wordpress.com/2007/07/11/trakeostomi-tracheostomy/

IKBI, System Penanggulangan Penderita Gawat Darurat Secara Terpadu Edisi 2,


1997