You are on page 1of 22

askep hipertiroid

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kelainan tiroid merupakan kelainan endokrin tersering kedua yang ditemukan selama
kehamilan. Berbagai perubahan hormonal dan metabolik terjadi selama
kehamilan, menyebabkan perubahan kompleks pada fungsi tiroid maternal. Hipertiroid adalah
kelainan yang terjadi ketika kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid yang berlebihan dari
kebutuhan tubuh. Wanita hamil dengan eutiroid memunculkan beberapa tanda tidak spesifik
yang mirip dengan disfungsi tiroid sehingga diagnosis klinis sulit ditegakkan. Sebagai contoh,
wanita hamil dengan eutiroid dapat menunjukkan keadaan hiperdinamik seperti peningkatan
curah jantung, takikardi ringan, dan tekanan nadi yang melebar, suatu tanda-tanda yang dapat
dihubungkan dengan keadaan hipertiroid. Disfungsi tiroid autoimun umumnya menyebabkan
hipertiroidisme dan hipotiroidisme pada wanita hamil. Kelainan endokrin ini sering terjadi pada
wanita muda dan dapat mempersulit kehamilan, demikian pula sebaliknya. Penyakit Graves
terjadi sekitar lebih dari 85 % dari semua kasus hipertiroid, dimana Tiroiditis Hashimoto adalah
yang paling sering untuk kasus hipotiroidisme. Tiroiditis postpartum adalah penyakit tiroid
autoimun yang terjadi selama tahun pertama setelah melahirkan. Penyakit ini memberikan gejala
tirotoksikosis transien yang diikuti dengan hipotiroidisme yang biasanya terjadi pada 8-10%
wanita setelah bersalin.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum :
Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Endokrin untuk mengeksplorasi secara lebih
dalam tentang asuhan keperawatan pada pasien hipertiroidisme.
2. Tujuan khusus :
a. Memahami pengertian hipertiroidisme
b. Mengetahui etiologi dari hipertiroidisme
c. Mengetahui bagaimana patofisiologi dari hipertiroidisme
d. Mengetahui tanda dan gejala pada hipertiroidisme
e. Mengetahui komplikasi dari hipertiroidisme
f. Mengetahui bagaimana pemeriksaan dan penatalaksanaan medis dalam menangani kasus
hipertiroidisme.
g. Memahami asuhan keperawatan dengan diagnosa medis hipertiroidisme

C. Ruang Lingkup Penulisan


1. Pengertian Hipertiroidisme
2. Etiologi Hipertiroidisme
3. Manifestasi Klinis Hipertiroidisme
4. Patofisiologi Hipertiroidisme
5. Komplikasi Hipertiroidisme
6. Pemerikasaan Diagnostik
7. Penatalaksanaan
8. Asuhan Keperawatan dengan Diagnosa Medis Hipertiroidisme

D. Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini dengan cara mengumpulkan literatur dan
mencari di internet serta berdiskusi dengan teman kelompok maupun diluar
kelompok. Pengumpulan informasi dan data, analisis informasi dan data, penarikan kesimpulan,
serta merumuskan saran mencakup pendekatan penulisan, sumber penulisan,sasaran penulisan,
dan tahapan penulisan.

E. Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan Penulisan
C. Ruang Lingkup Penulisan
D. Metode Penulisan
E. Sistematika Penulisan.

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian
B. Etiologi
C. Manifestasi Klinis
D. Patofisiologi
E. Komplikasi
F. Pemerikasaan Diagnostik
G. Penatalaksanaan

BAB III TINJAUAN KASUS


A. Pengkajian
B. Asuhan Keperawatan
C. Jurnal

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN
Hipertiroidisme adalah keadaan dimana terjadi peningkatan hormon tiroid lebih dari yang
dibutuhkan tubuh. Tirotoksikosis merupakan istilah yang digunakan dalam manifestasi klinis
yang terjadi ketika jaringan tubuh distimulasi oleh peningkatan hormon tiroid. Angka kejadian
pada hipertiroid lebih banyak pada wanita dengan perbandingan 4:1 dan pada usia antara 20-40
tahun (Black,2009)
Hipertiroidisme adalah kadar hormon tiroid yang bersirkulasi berlebihan. Gangguan ini dapat
terjadi akibat disfungsi kelenjar tiroid hipofisis, atau hipotalamus. (Elizabeth J.Corwin:296)
Hipertiroidisme dapat didefinisikan sebagai respon jaringan-jaringan terhadap pengaruh
metabolik terhadap hormon tiroid yang berlebihan (Price & Wilson:337)
Kesimpulan menurut kelompok, Hipertiroidisme merupakan suatu keadaan dimana didapatkan
kelebihan hormon tiroid yang ditemukan bila suatu jaringan memberikan hormon tiroid
belebihan.
B. ETIOLOGI
Penyebab hipertiroid diantaranya:
1. Adenoma hipofisis
Penyakit ini merupakan tumor jinak kelenjar hipofisis dan jarang terjadi

2. Penyakit graves
Penyakit graves atau toksik goiter diffuse merupakan penyakit yang disebabkan karena
autoimun, yaitu dengan terbentuknya antibodi yang disebut thyroid-stimulating
immunoglobulin (TSI) yang mendekati sel-sel tiroid. TSI meniru tindakan TSH dan merangsang
tiroid untuk membuat hormon tiroid terlalu banyak. Penyakit ini dicirikan adanya
hipertiroidisme, pembesaran kelenjar tiroid (goiter) dan eksoftalmus (mata melotot).
3. Nodul tiroid (Tiroiditis)
Merupakan inflamasi kelenjar tiroid yang biasanya disebabkan oleh bakteri seperti streptococcus
pyogenes, staphylococcus aureus, dan pneumococcus pneumonia. Reaksi peradangan ini
menimbulkan pembesaran pada kelenjar tiroid, kerusakan sel dan peningkatan jumlah hormon
tiroid.
Tiroiditis dikelompokan menjadi tiroiditis subakut, tiroiditis postpartum, dan tiroiditis
tersembunyi.
3.1 Tiroiditis subakut
Pada tiroiditis subakut terjadi pembesaran kelenjar tiroid dan biasanya hilang dengan sendirinya
setelah beberapa bulan .
3.2 Tiroiditis postpartum
Tiroiditis postpartum terjadi sekitar 8% wanita setelah beberapa bulan melahirkan. Penyebabnya
diyakini autoimun. Seperti halnya dengan tiroiditis subakut, tiroiditis postpartum sering
mengalami hipotiroidisme sebelum kelenjar tiroid benar-benar sembuh.
3.3 Tiroiditis tersembunyi
Tiroiditis tersembunyi juga disebabkan karena autoimun dan pasien tidak mengeluh nyeri, tetapi
mungkin juga trejadi pembesaran kelenjar. Tiroiditis tersembunyi dapat mengakibatkan tiroiditis
permanen.

4. Konsumsi banyak yodium


Konsumsi yodium yang berlebihan, yang mengakibatkan peningkatan sintesis hormon tiroid.
5. Pengobatan hipotiroid
Terapi hipotiroid, pemberian obat-obatan hipotiroid untuk menstimulasi sekresi hormon tiroid.
Penggunaan yang tidak tepat menimbulkan kelebihan jumlah hormon tiroid.
6. Produksi TSH yang Abnormal
Produksi TSH kelenjar hipofisis dapat memproduksi TSH berlebihan, sehingga merangsang
tiroid mengeluarkan T3 dan T4 yang banyak.

C. MANIFESTASI KLINIS
1. Sistem kardiovaskuler
Meningkatnya heart rate, stroke volume, kardiak output, peningkatan kebutuhan oksigen otot
jantung, peningkatan vaskuler perifer resisten, tekanan darah sistole dan diastole meningkat 10-
15 mmHg, palpitasi, disritmia, kemungkinan gagal jantung, edema.
2. Sistem pernafasan
Cepat dan dalam, bernafas pendek, penurunan kapasitas paru.
3. Sistem perkemihan
Retensi cairan, menurunnya output urin.
4. Sistem gastrointestinal
Meningkatnya peristaltik usus, peningkatan nafsu makan, penurunan berat badan, diare,
peningkatan penggunaan cadangan adipose dan protein, penurunan serum lipid, peningkatan
sekresi gastrointestinal, hiponatremia, muntah dan kram abdomen.
5. Sistem muskuloskeletal
Keseimbangan protein negatif, kelemahan otot, kelelahan, tremor.
6. Sistem integumen
Berkeringat yang berlebihan, kulit lembab, merah hangat, tidak toleran panas, keadaan rambut
lurus, lembut, halus dan mungkin terjadi kerontokan rambut.
7. Sistem endokrin
Biasanya terjadi pembesaran kelenjar tiroid.
8. Sistem saraf
Meningkatnya refleks tendon dalam, tremor halus, gugup gelisah, emosi tidak stabil seperti
kecemasan, curiga tegang dan emosional.
9. Sistem reproduksi
Amenorahea, anovulasi, mens tidak teratur, menurunnya libido, impoten.
10. Eksoftalmus
Yaitu keadaan dimana bola mata menonjol ke depan seperti mau keluar. Eksoftalmus terjadi
karena adanya penimbunan karbohidrat kompleks yang menahan air dibelakang mata. Retensi
cairan ini mendorong bola mata kedepan sehingga bola mata nampak menonjol keluar rongga
orbita. Pada keadaan ini dapat terjadi kesulitan dalam menutup mata secara sempurna sehingga
mata menjadi kering, iritasi atau kelainan kornea.
Diagnosis hipertiroid dengan berdasarkan tanda dan gejala klinis dapat ditegakkan dengan
penilaian Indeks Wayne.

Gejala Angka Gejala Obyektif Ada Tidak


Subyektif
Dispneu +1 Tiroid teraba +3 -3
d’effort
Palpitasi +2 Bruit pada tiroid +2 -2
Mudah lelah +2 Eksoptalmus +2 —
Suka panas -5 Retraksi +2 —
palpebra
Suka dingin +5 Palpebra +1 —
terlambat
Keringat +3 Hiperkinesis +4 -2
banyak
Gugup +2 Telapak tangan +2 -2
lembab
Tangan basah +1 Nadi

Tangan panas -1 < 80x/menit — -3


Nafsu makan +3 > 90x/menit +3
>>
Nafsu makan -3 Fibrilasi atrium +4 —
<<
Berat badan -3
>>
Berat badan +3
<<
Nilai:
< 11 : eutiroid
11 - 18 : normal
> 19 : hipertiroid
Table 1. Indeks Wayne

D. PATOFISIOLOGI
Penyebab hipertiroidisme biasanya adalah penyakit graves, goiter toksika. Pada kebanyakan
penderita hipertiroidisme, kelenjar tiroid membesar dua sampai tiga kali dari ukuran normal,
disertai dengan banyak hiperplasia dan lipatan-lipatan sel-sel folikel ke dalam folikel, sehingga
jumlah sel-sel ini lebih meningkat beberapa kali dibandingkan dengan pembesaran kelenjar.
Juga, setiap sel meningkatkan kecepatan 5-15 kali lebih besar dari pada normal. Pada
hipertiroidisme, konsentrasi TSH plasma menurun, karena ada sesuatu yang “menyerupai” TSH,
Biasanya bahan-bahan ini adalah antibody immunoglobulin yang disebut TSI (Thyroid
Stimulating Immunoglobulin), yang berkaitan dengan reseptor yang mengikat TSH. Bahan-
bahan tersebut merangsang aktivasi CAMP dalam sel, dengan hasil akhirnya adalah
hipertiroidisme. Karena itu pada pasien hipertiroidisme konsentrasi TSI meningkat. Bahan ini
mempunyai efek perangsangan yang panjang pada kelenjar tiroid, yakni selama 12 jam, berbeda
dengan efek TSH yang hanya berlangsung satu jam. Tingginya sekresi hormon tiroid yang
disebabkan oleh TSI selanjutnya juga menekan pembentukan TSH oleh kelenjar hipofisis
anterior. Pada hipertiroidisme, kelenjar tiroid “dipaksa” mensekresikan hormon hingga diluar
batas, sehingga untuk memenuhi pesanan tersebut, sel-sel sekretori kelenjar tiroid membesar.
Peningkatan hormon tiroid menyebabkan peningkatan metabolisme, meningkatnya aktivitas
saraf simpatis. Peningkatan metabolisme rate menyebabkan peningkatan produksi panas tubuh
sehingga pasien mengeluarkan banyak keringat dan penurunan toleransi terhadap panas. Laju
metabolisme yang meningkat menimbulkan peningkatan kebutuhan metabolik, sehingga berat
badan pasien akan berkurang karena membakar cadangan energi yang tersedia. Keadaan ini
menimbulkan degradasi simpanan karbohidrat, lemak dan protein sehingga cadangan protein otot
juga berkurang.Peningkatan aktivitas saraf simpatis dapat terjadi pada sistem kardiovaskuler
yaitu dengan menstimulasi peningkatan reseptor beta adregenik, sehingga denyut nadi menjadi
lebih cepat, peningkatan cardiac output, stroke volume, aliran darah perifer serta respon terhadap
sekresi dan metabolisme hipothalamus, hipofisis dalam hormon gonad, sehingga pada individu
yang belum pubertas mengakibatkan keterlambatan dalam fungsi seksual, sedangkan pada usia
dewasa mengakibatkan penurunan libido, infertile dan menstruasi tidak teratur. Bahkan akibat
proses metabolisme yang menyimpang ini, terkadang penderita hipertiroidisme mengalami
kesulitan tidur. Efek pada kepekaan sinaps saraf yang mengandung tonus otot sebagai akibat dari
hipertiroidisme ini menyebabkan terjadinya tremor otot yang halus dengan frekuensi 10-15 kali
perdetik, sehingga penderita mengalami gemetar tangan yang abnormal. Nadi yang takikardia
atau diatas normal juga merupakan salah satu efek hormone tiroid pada system kardiovaskular.
Eksopthalamus yang terjadi merupakan reaksi inflamasi autoimun yang mengenai daerah
jaringan periorbital dan otot-otot ekstraokuler, akibatnya bola mata terdesak keluar.
Pathway Hipertiroid

Penyakit graves tiroid


Tiroiditis
Kelainan autoimun

Inflamasi Kelenjar tiroid

Hipersekresi hormon tiroid


TSH
TSI

T3,T4

METABOLISME TUBUH

HIPERAKTIVITAS SSS (SISTEM SARAF SENTRAL

Janntung berdebar, pernapasan


Pembengkakan otot ekstraokuler
Emosi labil
Produksi kalor meningkat
Nafsu makan
Aktivitas GI

Peningkatan suhu tubuh


BB
Integritas ego terganggu
Diare.produksi urin
Gangguan sirkulasi
Eksoftalmus,pelebaran fisura
Keringat banyak, lelah
Gangguan nutrisi
dehidrasi

E. KOMPLIKASI

1. Eksoftalmus
Keadaan dimana bola mata pasien menonjol keluar. Hal ini disebabkan karena
penumpukan cairan pada rongga orbita bagian belakang bola mata. Biasanya terjadi pasien
dengan penyakit graves.
2. Penyakit jantung
Terutama kardioditis dan gagal jantung. Tekanan yang berat pada jantung bisa menyebabkan
ketidakteraturan irama jantung yang bisa berakibat fatal (aritmia) dan syok.
3. Stroma tiroid (tirotoksitosis)
Pada periode akaut pasien mengalami demam tinggi, takhikardi berat, derilium dehidrasi dan
iritabilitas yang ekstrem. Keadaan ini merupakan keadaan emergensi, sehingga penanganan
harus lebih khusus. Faktor presipitasi yang berhubungan dengan tiroksikosis adalah
hipertiroidisme yang tidak terdiagnosis dan tidak tertangani, infeksi ablasi tiroid, pembedahan,
trauma, miokardiak infark, overdosis obat. Penanganan pasien dengan stroma tiroid adalah
dengan menghambat produksi hormon tiroid, menghambat konversi T4 menjadi T3 dan
menghambat efek hormon terhadap jaringan tubuh. Obat-obatan yang diberikan untuk
menghambat kerja hormon tersebut diantaranya sodium ioded intravena, glukokortokoid,
dexsamethasone dan propylthiouracil oral. Beta blokers diberikan untuk menurunkan efek
stimulasi sarap simpatik dan takikardi.
4. Krisis tiroid (thyroid storm)
Hal ini dapat berkembang secara spontan pada pasien hipertiroid yang menjalani terapi, selama
pembedahan kelenjar tiroid, atau terjadi pada pasien hipertiroid yang tidak terdiagnosis.
Akibatnya adalah pelepasan hormon tiroid dalam jumlah yang sangat besar yang menyebabkan
takikardia, agitasi, tremor, hipertermia, dan apabila tidak diobati dapat menyebabkan
kematian.

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pemeriksaan laboratorium
1.1 Serum T3, terjadi peningkatan (N: 70 – 250 ng/dl atau 1,2 – 3,4 SI unit)
T3 serum mengukur kandungan T3 bebas dan terikat, atau total T3 total, dalam serum. Sekresinya
terjadi sebagai respon terhadap sekresi TSH dan T4. Meskipun kadar T3 dan T4 serum umumnya
meningkat atau menurun secara bersama-sama, namun kadar T4 tampaknya merupakan tanda
yang akurat untuk menunjukan adanya hipertiroidisme, yang menyebabkan kenaikan kadar
T4 lebih besar daripada kadar T3.
1.2 Serum T4, terjadi peningkatan (N: 4 – 12 mcg/dl atau 51 – 154 SI unit)
Tes yang paling sering dilakukan adalah penentuan T4 serum dengan teknik radioimmunoassay
atau peningkatan kompetitif. T4 terikat terutama dengan TBG dan prealbumin : T3 terikat lebih
longgar. T4 normalnya terikat dengan protein. Setiap factor yang mengubah protein pangikat ini
juga akan mengubah kadar T4.
1.3 Indeks T4 bebas, meningkat (N: 0,8 – 2,4 ng/dl atau 10 – 31 SI unit)
1.4 T3RU, meningkat (N: 24 – 34 %)
2. TRH Stimulating test, menurun atau tidak ada respon TSH
Tes Stimulasi TRH merupakan cara langsung untuk memeriksa cadangan TSH di hipofisis dan
akan sangat berguna apabila hasil tes T3 dan T4 tidak dapat dianalisa. Pasien diminta berpuasa
pada malam harinya. Tiga puluh menit sebelum dan sesudah penyuntikan TRH secara intravena,
sampel darah diambil untuk mengukur kadar TSH. Sebelum tes dilakukan, kepada pasien harus
diingatkan bahwa penyuntikan TRH secara intravena dapat menyebabkan kemerahan pasa wajah
yang bersifat temporer, mual, atau keinginan untuk buang air kecil
3. Tiroid antibodi antiglobulin antibodi, titer antiglobulin antibodi tinggi (N: titer < 1 : 100)
4. Tirotropin reseptor antibodi (TSH-RAb), terjadi peningkatan pada penyakit graves
5. Ambilan Iodium Radioaktif
Tes ambilan iodium radioaktif dilakukan untuk mengukur kecepatan pengambilan iodium oleh
kelenjar tiroid. Kepada pasien disuntikan atau radionuklida lainnya dengan dosis tracer, dan
pengukuran pada tiroid dilakukan dengan alat pencacah skintilas (scintillation counter) yang
akan mendeteksi serta menghitung sinar gamma yang dilepaskan dari hasil penguraian dalam
kelenjar tiroid.
Tes ini mengukur proporsi dosis iodium radioaktif yang diberikan yang terdapat dalam kelenjar
tiroid pada waktu tertentu sesudah pemberiannya. Tes ambilan iodium-radioaktif merupakan
pemeriksaan sederhana dan memberikan hasil yang dapat diandalkan.Penderita hipertiroidisme
akan mengalami penumpukan dalam proporsi yang tinggi (mencapai 90% pada sebagian pasien).
6. Test penunjang lainnya
6.1 CT Scan tiroid, mengetahui posisi, ukuran dan fungsi kelenjar tiroid. Iodine radioaktif (RAI)
diberikan secara oral kemudian diukur pengambilan iodine oleh kelenjar tiroid. Normalnya tiroid
akan mengambil iodine 5 – 35 % dari dosis yang diberikan setelah 24 jam. Pada pasien
hipertiroid akan meningkat.

6.2 USG, untuk mengetahui ukuran dan komposisi dari kelenjar tiroid apakah massa atau nodule.
Pemeriksaan ini dapat membantu membedakan kelainan kistik atau solid pada tiroid. Kelainan
solid lebih sering disebabkan keganasan dibanding dengan kelainan kistik. Tetapi kelainan
kistikpun dapat disebabkan keganasan meskipun kemungkinannya lebih kecil.

7. EKG, untuk menilai kerja jantung, mengetahui adanya takhikardi, atrial fibrilasi dan perubahan
gelombang P dan T
G. PENATALAKSANAAN
1. TERAPI UMUM
1.1 Obat antitiroid
Biasanya diberikan sekitar 18-24 bulan. Contoh obatnya: propil tio urasil(PTU), karbimazol.-
Pemberian yodium radioaktif, biasa untuk pasien berumur 35 tahun/lebih atau pasien
yang hipertiroidnya kambuh setelah operasi.
Cara ini dipilih untuk pasien yang pembesaran kelenjar tiroid-nya tidak bisa disembuhkan hanya
dengan bantuan obat-obatan, untuk wanita hamil (trimester kedua), dan untuk pasien yang alergi
terhadap obat/yodium radioaktif. Sekitar 25% dari semua kasus terjadi penyembuhan spontan
dalam waktu 1 tahun.

2. FARMAKOTERAPI
Obat-obat antitiroid selain yang disebutkan di atas adalah:
2.1 Carbimazole (karbimasol)
Berkhasiat dapat mengurangi produksi hormon tiroid. Mula-mula dosisnya bisa sampai 3-8 tablet
sehari, tetapi bila sudah stabil bisa cukup 1-3 tablet saja sehari. Obat ini cukup baik untuk
penyakit hipertiroid. Efek sampingnya yang agak serius adalah turunnya produksi sel darah putih
(agranulositosis) dan gangguan pada fungsi hati. Ciri-ciri agranulositosis adalah sering sakit
tenggorokan yangtidak sembuh-sembuh dan juga mudah terkena infeksi serta
demam. Sedangkan ciri-ciri gangguan fungsi hati adalah rasa mual, muntah, dan sakit pada
perut sebelah kanan, serta timbulnya warna kuning pada bagian putih mata, kuku, dan kulit.
2.2 Kalmethasone (mengandung zat aktif deksametason)
Merupakan obat hormon kortikosteroid yang umumnya dipakai sebagai obat anti
peradangan. Obat ini dapat digunakan untuk menghilangkan peradangan di kelenjar tiroid
(thyroiditis).
2.3 Artane (dengan zat aktif triheksilfenidil)
Obat ini sebenarnya obat anti parkinson, yang dipakai untuk mengatasi gejala-gejala parkinson,
seperti gerakan badan yang kaku, tangan yang gemetar dan sebagainya. Di dalam pengobatan
hipertiroid, obat ini dipakai untuk mengobati tangan gemetar dan denyut jantung yang
meningkat. Namun penggunaan obat ini pada pasien dengan penyakit hipertiroid harus berhati-
hati, bahkan sebaiknya tidak digunakan pada pasien dengan denyut jantung yang cepat
(takikardia). Pada pasien yang denyut nadinya terlalu cepat (lebih dari 120 kali per menit) dan
tangan gemetar biasanya diberi obat lain yaitu propranolol, atenolol, ataupun verapamil.

3. TERAPI LAIN
Adapun pengobatan alternatif untuk hipertiroid adalah mengkonsumsi bekatul. Para
ahlimenemukan bahwa dalam bekatul terdapat kandungan vitamin B15, yang berkhasiat
untuk menyempurnakan proses metabolisme di dalam tubuh kita. Selain hipertiroid, vitamin B15
juga dapat digunakan untuk mengobati diabetes melitus, hipertensi, asma, kolesterol dan
gangguan aliran pembuluh darah jantung (coronair insufficiency), serta penyakit hati. Selain itu,
vitamin B15 juga dapat meningkatkan pengambilan oksigen di dalam otak, menambah sirkulasi
darah perifer dan oksigenisasi jaringan otot jantung.
BAB III
TINJAUAN KASUS

A. PENGKAJIAN
Data Demografi
1. Nama klien : Ny.Q
2. Umur : 38 Tahun
3. Diagnosa Medik : Hipertiroid
4. Tanggal Masuk : 07/12/2013
5. Alamat : Jl. Tipar Halim rt.005/06 no 60j mekarsari-cimanggis depok
6. Suku : Batak
7. Agama : Islam
8. Pekerjaan :-
9. Status perkawinan : menikah
10. Status pendidikan :-

Pemeriksaan Fisik
1. Aktivitas/istirahatat
Tanda dan gejala : insomnia, sensitivitas meningkat, otot lemah gangguan koordinasi, kelelahan
berat, atrofi otot.
2. Sirkulasi
Tanda dan gejala : disritmia (vibrilasi atrium), irama gallop, murmur, peningkatan tekanan darah
dengan tekanan nada yang berat, takikardia saat istirahat, sirkulasi kolaps, syok (krisis
tirotoksikosis palpitasi, nyeri dada (angina).
3. Eliminasi
Tanda dan gejala : urine dalam jumlah banyak, perdarahan dalam feses, diare.
4. Integritas ego
Tanda dan gejala : mengalami stress yang berat baik emosional maupun fisik, emosi labil,
(euphoria sedang sampai delirium), depresi.

5. Makanan dan cairan


Tanda dan gejala : kehilangan berat badan yang mendadak, nafsu makan meningkat makan
banyak, makannya sering, kehausan, mual dan muntah, pembesaran tiroid, goiter, edema non
pitting terutama daerah pretibial
6. Neurosensori
Tanda : bicaranya cepat dan parau, gangguan status mental dan perilaku seperti :bingung,
disorientasi, gelisah, peka rangsang, delirium, psikosis, stupor, koma, tremor halus pada tangan,
tanpa tujuan beberapa bagian tersentak-sentak, hiperaktif, reflex tendon dalam (RTD).
7. Nyeri atau kenyamanan
Gejala : nyeri orbital, fotofobia.
8. Pernafasan
Tanda : frekuensi pernafasan meningkat, takipnea, dispnea, edema paru (pada krisis
tirotoksikosis).
9. Keamanan
Gejala: tidak toleransi terhadap panas, keringat yang berlebihan, alergi terhadap iodium
(mungkin digunakan pada pemeriksaan
Tanda: suhu meningkat diatas 374oc, diaphoresis, kulit halus, hangat dan kemerahan, rambut
tipis, mengkilap dan lurus, eksoftalmus retraksi, iritasi pada konjungtiva dan berair, pruritus, lesi
eritema (sering terjadi pada pretibial) yang menjadi sangat parah.
10. Seksualitas
Tanda: penurunan libido, hipomenorea, amenorea dan impoten.
11. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : adanya riwayat keluarga yang mengalami masalah tiroid, riwayat hipotiroidisme,
terapi hormone tiroid/pengobatan antitiroid, dilakukan pembedahan tiroidektomi sebagian.

Pemeriksaan Diagnostik
1. Tes ambilan RAI : meningkat pada penyakit graves dan toksik goiter noduler, menurun pada
tiroiditis.
2. T4 dan T3 serum : meningkat
3. T4 dan T3 bebas serum : meningkat
4. TSH : tertekan dan tidak berespons pada TRH (tiroid relasing hormon)
5. Tiroglobulin : meningkat
6. Elektrolit : hiponatremia mungkin sebagai akibat dari respon adrenal atau efek dilusi terapi
cairan pengganti hipokalemia terjadi dengan sendirinya pada kehilangan melalui gastrointestinal
dan dieresis.
7. Katekolamin serum : menurun
8. Kreatinine urine : meningkat
9. EKG : fibrilasi atrium, waktu sistolik memendek, kardimegali.
10. USG dan thorak foto

B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Data Fokus
Data Subjektif (DS) Data Objektif (DO)
klien mengeluh : Pasien tampak:
 Tidak nafsu makan  Klien tampak gelisah
 Tidak tahan udara panas  Terlihat kurus
 Belakangan ini suka gelisah  Hasil testpack (-)
 BB selama sebulan turun 4 kg  Hasil pemeriksaan fisik ,kulit pasien terlihat
 Tidak Haid selama 2 bulan flushing dan ada pruritus
 Tidak bisa duduk diam  Tremor pada jari tangan
 Gatal  Ekshothalamus ( +1 )
 TD : 150/90mmHg
 Nadi :100x/menit
 Hasil lab T4 serum

Data tambahan : Data tambahan:


 Lemah  Pertumbuhan pasien tidak sesuai usia
 Letih  Lemah
 Lesu  porsi makan tidak habis

2. Analisa data
Data Fokus Masalah Etiologi
1. DS : Perubahan nutrisi Intake nutrisi
Pasien mengeluh : kurang dari yang tidak
 Tidak nafsu makan kebutuhan tubuh adekuat
 BB selama sebulan turun 4 kg
 Lemah
 Letih
 Lesu

DO :
Pasien tampak:
 Kurus
 Pertumbuhan pasien tidak sesuai usia
 Lemah
 porsi makan tidak habis
 kurus
 pucat Ansietas faktor
fisiologis:status
2. DS: metabolik
Pasien mengeluh : (stimulasi ssp),
 Belakangan ini suka gelisah efek
DO: psudokatekolamin
Pasien tampak: dari hormon tiroid
 Gelisah
 Tidak bisa duduk tenang
mekanisme
Gangguan perlindungan
3. DS : integritas jaringan mata:
Pasien mengeluh : eksoftalmus.
 gatal

DO :
Pasien tampak:
 Hasil pemeriksaan fisik ,kulit pasien terlihat
flushing hipermetabolik
 Tampak adanya ada pruritus Kelelahan dengan
 Ekshothalamus ( +1 ) peningkatan
kebutuhan energi

hipermetabolik
4. DS : dengan
Pasien mengeluh : Kelelahan peningkatan
 Tidak tahan udara panas kebutuhan energi
 Belakangan ini suka gelisah
 Tidak bisa duduk diam

DO :
Pasien tampak:
 Klien tampak gelisah kurang
pemajanan,
5. DS : mengingat,
Pasien mengeluh : Kurang kesalahan
DO : pengetahuan interpretasi
Pasien tampak: informasi, tidak
kurang pemajanan, mengingat, kesalahan mengenal sumber
interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi
informasi

3. Diagnosa
Tanggal
No. Diagnosa Keperawatan
Ditemukan Teratasi
1. Perubahan nutrisi berhubungan 11 April 2012 -
dengan intake yang tidak adekuat
2. Ansietas berhubungan dengan faktor 11 April 2012 -
fisiologis:status metabolik (stimulasi
ssp), efek psudokatekolamin dari
hormon tiroid
3. Gangguan integritas jaringan 11 April 2012 -
berhubungan dengan mekanisme
perlindungan mata: eksoftalmus.

4. Kelelahan berhubungan dengan 11 April 2012 -


hipermetabolik dengan peningkatan
kebutuhan energi.
5. Kurang pengetahuan berhubungan 11 April 2012 -
dengan kurang pemajanan, mengingat,
kesalahan interpretasi informasi, tidak
mengenal sumber informasi

4. Intervensi
Intervensi rancangan tindakan
Hari/tgl No.Dx Tujuan dan kriteria hasil
& rasional
Rabu Setelah dilakukan tindakan Mandiri :
18/04/12 keperawatan, 1. Auskultasi bising usus
diharapkankebutuhan nutrisi Rasional :
pasien dapat terpenuhi kembali Bising usus hiperaktif
dengan kriteria hasil : mencerminkan peningkatan
1. Pasien tidak lesu dan lemas motilitas lambung yang
2. Pasien makan habis satu porsi menurunkan atau mengubah
3. Berat badan pasien meningkat fungsi absorbsi
4. Pasien menjadi lebih segar dan 2. Catat dan laporkan adanya
berenergi anoreksia,kelemahan umum atau
nyeri,nyeri abdomen,munculnya
mual dan muntah
Rasional : peningkatan aktifitas
adrenergik dapatmenyebabkan
gangguan sekresi insulin atau
1 terjadi resisten yang
mengakibatkan hiperglikemia,
polidipsia,poliuria,perubahan
kecepatan dan kedalaman
perbafasan ( tanda asidosis
metabolik )
3. Pantau masukan makanan setiapa
hari dan timbang berat badan
setiap hari dan laporkan adanya
penurunan
Rasional : penurunan berat badan
terus menerus dalam keadaan
masukan kalori yang cukup
merupakan indikasi kegagalan
terhadap terapi anti tiroid
Kolaborasi :
1. Konsultasikan dengan ahli gizi
untuk memberikan diet tinggi
kalori, protein, karbohidrat dan
protein
Rasional : mungkin memerlukan
bantuan untuk menjamin
pemasukan zat zat makanan yang
adekuat dan mengidentifikasikan
makanan pengganti yang paling
sesuai
2. Berikan obat sesuai indikasi :
glukosa, vitamin B kompleks.
Insulin (dengan dosis yang kecil).
Rasional : diberikan untuk
memenuhi kalori yang diperlukan
dan mencegah atau mengobati
hipoglikemia. Dilakukan dalam
mengendalikan glukosa darah jika
kemungkinan ada peningkatan.
Rabu Setelah dilakukan tindakan Mandiri :
18/04/12 keperawatan diharapkan rasa
cemas pasien dapat berkurang 1. Observasi tingkah laku yang
sampai dengan hilang, dengan menunjukan tingkat ansietas.
kriteria hasil : Rasional :ansietas ringan dapat
1. Tidak gelisah ditunjukkan dengan peka rangsang
2. Menunjukkan perilaku yang dan insomnia. Ansietas berat yang
tenang berkembang kedalam keadaan
3. Menunjukkan wajah yang rileks panik dapat menimbulkan
perasaan terancam, teror,
ketidakmampuan untuk bicaradan
2 bergerak, berteriak-teriak /
bersumpah-sumpah.

2. Pantau respons fisik, palpitasi,


gerakan yang berulang-ulang,
hiperventilasi, insomnia.

Rasional : peningkatan
pengeluaran penyekat beta-
adrenergik pada daerah reseptor
bersamaan dengan efek-efek
kelebihan hormon tiroid
menimbulkan manifestasi klinin
dari peristiwa kelebihan
katekolamin ketika kadar epinefrin
/ norepinefrin dalam keadaan
normal.

3. Kurangi stimulasi dari luar:


tempatkan pada ruangan yang
tenang berikan kelembutan musik
yang nyaman, kurangi lampu yang
terlalu terang, kurangi jumlah
orang yang berhubungan dengan
pasien.

Rasional :

Menciptakan lingkungan yang


terapeutik menunjukan
penerimaan bahwa aktivitas
unit/personel dapat meningkatkan
ansietas pasien.

Kolaborasi :

1. Berikan obat ansietas


(transquilizer, sedatif) dan pantau
efeknya.

Rasional : dapat digunakan


bersamaan dengan pengobatan
untuk menurunkan pengaruh dari
sekresi hormon tiroid yang
berlebihan.

2. Rujuk pada sistem penyokong


sesuai dengan kebutuhan seperti
konseling, ahli agama dan
pelayanan sosial.

Rasional : terapi penyokong yang


terus menerus mungkin
dimanfaatkan/dibutuhkan pasien
atau orang terdekat jika krisis itu
menimbulkan perubahan gayaq
hidup pada pasien itu sendiri.

Rabu 3 Setelah dilakukan tindakan Mandiri :


18/04/12 keperawatan, 1. Observasi periorbital , gangguan
diharapkangangguan integritas penutup mata , lapang pandang ,
jaringandapat hilang dengan penglihatan yang sempit ,air mata
kriteria hasil : yang berlebihan. Catat adanya
1. Flushing (-) fotophobia , rasa adanya benda di
2. Tidak tampak adanya prurituslagi luar mata dan nyeri pada mata
3. Ekshothalamus (-) Rasional : manifestasi umum dari
stimulasi adrenergik yang
berlebihan berhubungan
dengantirotoksikosis yang
memerlukan intervensi pendukung
sampai revolusi krisis dapat
menghilangkan simpomatologis
2. Evaluasi ketajaman mata,
laporkan adanya pandangan yang
kabur atau pandangan ganda (
diplopia )
Rasional : otfalmatopi infiltrat
adalah akibat dari peningkatan
jaringan retro-orbita, yang
menciptakan eksoftalmus dan
infiltrasi limfosit dari otot
ekstarokuler yang menyebabkan
kelelahan.
3. Anjurkan pasien menggunakan
kaca mata gelap ketika terbangun
dan tutup dengan penutup mata
selama tidur sesuai kebutuhan
Rasional :melindungi kerusakan
kornea jika pasien tidak dapat
mentup mata dengan sempurna
karena edema atau karena fibrosis
bantalan lemak.

Kolaborasi :
1. Berikan obat sesuai indikasi :
Obat tetes mata metilselulosa,
ACTH, prednison.
Rasional : sebagai lubrikasi mata ,
diberikan untuk menurunkan
radang yang berkembang dengan
capat
2. Berikan obat sesuai indikasi obat
antitiroid
Rasional : dapat menurunkan
tanda/gejala atau mencegah
keadaan yang semakin memburuk.

Rabu Setelah dilakukan tindakan Mandiri :


18/04/12 keperawatan diharapkan pasien 1. Pantau tanda vital dan catat nadi
tidak merasa kelelahan lagi baik saat istirahat maupun saat
dengan kriteria hasil : melakukan aktivitas
1. Tidak menunjukkan kegelisahan Rasional :nadi secara luas
2. Dapat melakukan aktivitas meningkat dan bahkan saat
semampunya istirahaat, takikardia ( diatas 160
x/ menit ) mungkin akan
ditemukan
2. Catat berkembangnya takipnea,
dispnea , pucat , dan sianosis
Rasional : kebutuhan dan
konsumsi oksigen akan
ditingkatkan pada keadaan
hipermetabolik , yang merupakan
potensial akan terjadi hipoksia
saat melakukan aktifitas
4
3. Berikan/ciptakan lingkungan yang
tenang, ruangan yang dingin ,
turunkan stimulas sensori ,warna –
warna yang sejuk dan musik santai
(t enang )
Rasional :menurunkan stimulasi
yang kemungkinan besar dapat
menimbulkan agitasi, hiperaktif
dan insomnia
Kolaborasi
1. Berikan obat sesuia indikasi :
sedatif misal : phenobarbital (
luminal ) , tranquilizer misal :
klordiazepoksida ( librium )
Rasional : untuk mengatasi
keadaan (gugup) , hiperaktif dan
insomnia
Rabu Setelah dilakukan tindakan Mandiri :
18/04/12 keperawatan diharapkan
1. Tinjau ulang proses penyakit dan
5 pengetahuan pasien mengenai harapan masa datang
penyakit bertambah dengan Rasional : memberikan
kriteria hasil : pengetahuan dasar dimana pasien
1. Dapat menjelaskan mengenai dapat menentukan pilihan
penyakitnya berdasarkan informasi
2. Dapat melakukan pendidikan 2. Berikan informasi yang tepat
kesehatan yang telah didapat dengan keadaan individu
Rasional : faktor psikogenik
sering kali sangat penting dalam
memunculkan atau eksosabasi dari
penyaakit ini
3. berikan informasi tandadan gejala
dari hipertiroid dan kebutuhan kan
evaluasi secarateratur
Rasional: pasein yang
mendapatkan pengobatan
hipertiroid besar kemungkinannya
mengalami hipertiroid yang dapat
terjadi segera setelah pengobatan
atau selama 5 tahun kemudian

5. Implementasi
No.
Tgl/ jam Tindakan keperawatan dan hasil Paraf
Dx
11/03/2013 1 Catat dan laporkan adanya anoreksia,kelemahan umum atau
07.05 nyeri,nyeri abdomen,munculnya mual dan muntah.
Hasil : tidak terjadi adanya anoreksia,kelemahan umum atau
nyeri,nyeri abdomen,munculnya mual dan muntah.
08.00 2 Observasi tingkah laku yang menunjukan tingkat ansietas.

Hasil : tidak ditemukan adanya tingkah laku yang


menunjukan peningkatan ansietas.

10.00 3 Evaluasi ketajaman mata, laporkan adanya pandangan yang


kabur atau pandangan ganda ( diplopia )
Rasional : tidak terjadi adanya pandangan yang kabur atau
pandangan ganda ( diplopia )
11.00 4 Pantau tanda vital dan catat nadi baik saat istirahat maupun
saat melakukan aktivitas
Hasil :tanda-tanda vital dalam batas normal.

12.30 5 Tinjau ulang proses penyakit dan harapan masa datang


Hasil : pasien dapat menentukan pilihan berdasarkan
informasi.
6. Evaluasi
No.
Tanggal SOAP Paraf
Dx
19/04/2012 1.S : pasien mengatakan sudah tidak mual/muntah lagi.
O : berat badan naik 1 kg
A : masalah gangguan nutrisi sudah teratasi sepenuhnya
P : Intervensi yang dilakukan sudah berhasil, Intervensi
dihentikan
11/03/2013 2.S : pasien mengatakan sudah tidak gelisah lagi.
O : pasien tampak tenang
A : masalah intoleransi aktivitas sudah teratasi sepenuhnya.
P : Intervensi yang dilakukan sudah berhasil, Intervensi
dihentikan
11/03/2013 3 S : pasien mengatakan masih terasa gatal
O : pasien tampak flushing
A : masalah gangguan integritas belum teratasi sepenuhnya.
P : Intervensi dilanjutkan :
1. Observasi periorbital , gangguan penutup mata , lapang
pandang , penglihatan yang sempit ,air mata yang
berlebihan. Catat adanya fotophobia , rasa adanya benda di
luar mata dan nyeri pada mata
2. Evaluasi ketajaman mata, laporkan adanya pandangan yang
kabur atau pandangan ganda ( diplopia )
3. Pantau masukan makanan setiapa hari dan timbang berat
badan setiap hari dan laporkan adanya penurunan

11/03/2013 4 S : Pasien mengatakan sudah tidak lemas


O: Pasien tampak segar
A: masalah kelelahan sudah teratasi sepenuhnya.
P : Intervensi yang dilakukan sudah berhasil, Intervensi
dihentikan
11/03/2013 5 S : Pasien mengatakan sudah paham mengenai penyakitnya
O: Pasien tampak dapat mengambil keputusan sesuai
informasi yang didapatkan
A : masalah informasi sudah teratasi sepenuhnya.
P : Intervensi yang dilakukan sudah berhasil, Intervensi
dihentikan

C. JURNAL

GAMBARAN KELAINAN KATUP JANTUNG PADA


PASIENHIPERTIROID YANG DIEVALUASI DENGAN
METODEEKOKARDIOGRAFI DI RSUP. Dr. KARIADI SEMARANG