You are on page 1of 35

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN APENDIKSITIS

A. KONSEP APENDISITIS

1. Anatomi dan Fisiologi

a. Anatomi
Appendiks merupakan organ yang berbentuk tabung dengan
panjang kira-kira 10 cm dan berpangkal pada sekum. Appendiks pertama
kali tampak saat perkembangan embriologi minggu ke delapan yaitu
bagian ujung dari protuberans sekum. Pada saat antenatal dan postnatal,
pertumbuhan dari sekum yang berlebih akan menjadi appendiks yang
akan berpindah dari medial menuju katup ileocaecal.
Pada bayi appendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkal
dan menyempit kearah ujung. Keadaan ini menjadi sebab rendahnya
insidens Apendisitis pada usia tersebut. Appendiks memiliki lumen
sempit di bagian proksimal dan melebar pada bagian distal. Pada
appendiks terdapat tiga tanea coli yang menyatu dipersambungan sekum
dan berguna untuk mendeteksi posisi appendiks. Gejala klinik Apendisitis
ditentukan oleh letak appendiks. Posisi appendiks adalah retrocaecal (di
belakang sekum) 65,28%, pelvic (panggul) 31,01%, subcaecal (di bawah
sekum) 2,26%, preileal (di depan usus halus) 1%, dan postileal (di
belakang usus halus) 0,4%, seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

Appendiks pada saluran pencernaan (Gambar 2.1)

3
Posisi Appendiks (Gambar 2.2)

b. Fisiologi
Appendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir itu
secara normal dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke
sekum. Hambatan aliran lendir di muara appendiks tampaknya berperan
pada patogenesis Apendisitis. Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan
oleh Gut Associated Lymphoid Tissue (GALT) yang terdapat disepanjang
saluran cerna termasuk appendiks ialah Imunoglobulin A (Ig-A).
Imunoglobulin ini sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi yaitu
mengontrol proliferasi bakteri, netralisasi virus, serta mencegah penetrasi
enterotoksin dan antigen intestinal lainnya. Namun, pengangkatan
appendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh sebab jumlah jaringan
sedikit sekali jika dibandingkan dengan jumlah di saluran cerna dan
seluruh tubuh. (Tsamsuhidajat & Wim de jong, 2010).

4
2. Pengertian

Appendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu


atau umbai cacing ( apendiks ). Usus buntu sebenarnya adalah sekum
(caecum). Infeksi ini bisa mengakibatkan peradangan akut sehingga
memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi yang
umumnya berbahaya. ( Wim de Jong et al, 2010). Apendisitis merupakan
inflamasi akut pada apendisitis verniformis dan merupakan penyebab paling
umum untuk bedah abdomen darurat. (Brunner&Suddarth, 2014).
Peradangan apendiks yang mengenai semua lapisan dinding
organ, dimana patogenis utamanya diduga karena obstruksi pada lumen
yang disebabkan oleh fekalit (feses keras yang terutama disebabkan oleh
serat). Patofisiologi Edisi 4 hal 448.
Usus buntu atau apendis merupakan bagian usus yang terletak
dalam pencernaan. Untuk fungsinya secara ilmiah belum diketahui secara
pasti, namun usus buntu ini terkadang banyak sekali sel-sel yang berfungsi
untuk mempertahankan atau imunitas tubuh. Dan bila bagian usus ini
mengalami infeksi akan sangat terasa sakit yang luar biasa bagi
penderitanya (Saydam Gozali, 2011).
Jadi, dari referensi diatas yang di maksud dengan apendisitis
merupakan suatu peradangan pada bagian usus (Caecum) yang disebabkan
karena ada obstruksi yang mengharuskan dilakukannya tindakan bedah.
3. Etiologi

Penyebab terjadinya apendisitis dapat terjadi karena adanya


makanan keras yang masuk ke dalam usus buntu dan tidak bisa keluar lagi.
Setelah isi usus tercemar dan usus meradang timbulah kuman-kuman yang
dapat memperparah keadaan tadi (Saydam Gozali, 2011).
Apendisitis akut merupakan infeksi bakteri. berbagai hal sebagai faktor
pencetusnya:

5
a. Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor yang diajukan sebagai
faktor pencetus disamping hyperplasia jaringan limfe, tumor apendiks
dan cacing askaris.
b. Penyebab lain penyebab apendiks karena parasit seperti E. hystolitica.
c. Penelitian Epidemiologi mengatakan peran kebiasaan makan makanan
yang rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya
apendisitis. Konstipasi akan menarik bagian intrasekal, yang berakibat
timbulnya tekanan intrasekal dan terjadi penyumbatan sehingga
meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon (R Tsamsuhidajat & Wim
De jong, 2010).
Apendisitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik tetapi
ada factor prediposisi yaitu:
a. Factor yang tersering adalah obstruksi lumen. Pada umumnya obstruksi
ini terjadi karena:
1) Hiperplasia dari folikel limfoid, ini merupakan penyebab terbanyak.
2) Adanya fekolit dalam lumen appendiks
3) Adanya benda asing seperti biji-bijian
4) Striktur lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya.
b. Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan
Streptococcus..
c. Laki-laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15-30
tahun (remaja dewasa). Ini disebabkan oleh karena peningkatan jaringan
limpoid pada masa tersebut.
d. Tergantung pada bentuk apendiks:
1) Appendiks yang terlalu panjang
2) Massa appendiks yang pendek
3) Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks
4) Kelainan katup di pangkal appendiks (Nuzulul, 2009).

6
Jadi, berdasarkan referensi diatas yang menyebabkan terjadinya
apendisitis yaitu disebabkan oleh adanya obstruksi yang diakibatkan juga
karena gaya hidup manusia yang kurang dalam mengkonsumsi makanan
tinggi serat.

4. Manisfestasi Klinis

Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang di dasari


dengan radang mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat,
disertai maupun tidak disertai rangsang peritoneum lokal. Gejala klasik
apendisitis adalah:
a. Nyeri visceral epigastrium.
b. Nafsu makan menurun.
c. Dalam beberapa jam nyeri pindah ke kanan bawah ke titik Mc Burney.
d. Kadang tidak terjadi nyeri tapi konstipasi.
e. Pada anak biasanya rewel, nafsu makan turun karena focus pada
nyerinya, muntah-muntah, lemah, latergik, pada bayi 80-90% apendisitis
terjadi perforasi (Tsamsuhidajat & Wong de jong, 2010).
Manisfestasi klinis lainya adalah:
a. Nyeri dikuadran kanan bawah disertai dengan demam ringan, dan
terkadang muntah kehilangan nafsu makan kerap dijumpai konstipasi
dapat terjadi.
b. Pada tiik Mc Burney (terletak diantara pertengahan umbilicus dan spina
anterior ileum), terasa nyeri tekan local dan kekakuan otot bagian bawah
rektus kanan.
c. Nyeri pantul dapat dijumpai lokasi apendiks menentukan kekuatan nyeri
tekan, spasme otot dan adanya diare atau konstipasi.
d. Jika apendiks pecah, nyeri lebih menyebar abdomen menjadi lebih
terdistensi akibat ileus paralitik dan kondisi memburuk.
(Brunner&Suddarth, 2014.

7
Jadi berdasarkan referensi diatas, manisfestasi yang sering
muncul pada kasus apendisitis adalah nyeri namun kadang bisa juga tanpa
nyeri namun terjadinya konstipasi. Pada anak-anak biasanya ditemukan data
yaitu nafsu makan menurun, terjadinya penurunan kesadaran hingga
terjadinya perforasi.

8
5. Pathways

Invasi&Multiplika Hipertermi Febris


si

Apendistisis Peradangan Kerusakan control


Jaringan suhu terhadap
inflamasi

Operasi Sekresi mukus berlebih pada lumen

Luka Insisi
Ansietas Apendiks Teregang

Kerusakan Jaringan Pintu masuk kuman

Ujung saraf putus


Risiko Infeksi Tekanan intraluminal lebih
Prostaglandin lepas dari tekanan vena
Kerusakan Integritas
Stimulasi Dihantarkan Jaringan Hipoxia jaringan apendiks

Spinal Cord Spasme dinding Ulcerasi


apendiks
Cotex Serebri
Nyeri Perforasi
Nyeri
dipersepsikan
Risiko Akumulasi sekret
ketidakefektifan
Defisit perawatan diri gastrointestinal Ketidakefektifan
jalan nafas
Anestesi-> Peristaltik Anoreksia
usus->Distensi
abdomen- Mual dan muntah Ketidakseimbangan
>Gangguan rasa nutrisi kurang dari
nyaman kebutuhan
Risiko kekurangan
volume cairan

9
6. Komplikasi

Komplikasi dapat terjadi apabila terjadi keterlambatan


penanganan. Faktor keterlambatan dapat terjadi dari pasien ataupun tenaga
medis. Faktor penderita dapat berasal dari pengetahuan dan biaya. Faktor
tenaga medis dapat berupa kesalahan dalam mendiagnosa, keterlambatan
mengangani maslah dan keterlambatan dalam merujuk ke rumah sakit dan
penangggulangan. Hal ini dapat memacu meningkatnya angka morbiditas
dan mortalitas. Proporsi yang sering adalah terjadi pada anak kecil dan
orang tua. Komplikasi 93% lebih sering terjadi pada anak kecil dibawah
usia 2 tahun dan 40-75%% terjadi pada orang tua. Pada anak-anak dinding
apendiks masih sangat tips, omentum lebh pendek, dan belum berkembang
secara sempurna sehingga mudah terjadi apendisitis. Sedangkan pada orang
tua, terjadi gangguan pada pembuluh darah.Adapun jenis omplikasi
diantaranya:
a. Abses
Abses merupakan peradangan appendiks yang berisi pus.
Teraba massa lunak di kuadran kanan bawah atau daerah pelvis. Massa
ini mula-mula berupa flegmon dan berkembang menjadi rongga yang
mengandung pus. Hal ini terjadi bila Apendisitis gangren atau
mikroperforasi ditutupi oleh omentum
b. Perforasi
Perforasi adalah pecahnya appendiks yang berisi pus sehingga
bakteri menyebar ke rongga perut. Perforasi jarang terjadi dalam 12 jam
pertama sejak awal sakit, tetapi meningkat tajam sesudah 24 jam.
Perforasi dapat diketahui praoperatif pada 70% kasus dengan gambaran
klinis yang timbul lebih dari 36 jam sejak sakit, panas lebih dari 38,50C,
tampak toksik, nyeri tekan seluruh perut, dan leukositosis terutama
polymorphonuclear (PMN). Perforasi, baik berupa perforasi bebas
maupun mikroperforasi dapat menyebabkan peritonitis.

10
c. Peritontis
Peritonitis adalah peradangan peritoneum, merupakan
komplikasi berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun
kronis. Bila infeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum
menyebabkan timbulnya peritonitis umum. Aktivitas peristaltik
berkurang sampai timbul ileus paralitik, usus meregang, dan hilangnya
cairan elektrolit mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi, dan
oligouria. Peritonitis disertai rasa sakit perut yang semakin hebat,
muntah, nyeri abdomen, demam, dan leukositosis. (Mansjoer, 2007)

Komplikasi menurut (Brunner&Suddarth, 2014):


a. Komplikasi utama adalah perforasi apendiks yang dapat menyebabkan
peritonitis pembentukan abses (tertampungnya materi purulen), atau
flebilitis portal.
b. Perforasi biasanya terjadi setelah 24 jam setelah awitan nyeri. Gejala
yang muncul antara lain: Demam 37,7’C, nyeri tekan atau nyeri
abdomen.
Berdasarkan penjelasan diatas, hal yang bisa mengakibatkan
keparahan/komplikasi penyakit apendisitis dikarenakan dua hal yaitu faktor
ketidaktahuan masyarakat dan keterlambatan tenaga medis dalam
menentukan tindakan sehingga dapat menyebabkan abses, perforasi dan
peritonitis.

7. Penatalaksaan

a. Penatalaksanaan Medis
1) Pembedahan (konvensional atau laparaskopi) apabila diagnose
apendisitis telah ditegakan dan harus segera dilakukan untuk
mengurangi risiko perforasi.
2) Berikan obat antibiotik dan cairan IV sampai tindakan pemebedahan
dilakukan.
3) Agen analgesik dapat diberikan setelah diagnosa ditegakan.

11
4) Operasi (apendiktomi), bila diagnosa telah ditegakan yang harus
dilakukan adalah operasi membuang apendiks (apendiktomi).
Penundaan apendiktomi dengan cara pemberian antibiotik dapat
mengakibatkan abses dan perforasi. Pada abses apendiks dilakukan
drainage. (Brunner&Suddarth, 2014).
b. Penatalaksanaan Keperawatan

1) Tujuan keperawatan mencakup upaya meredakan nyeri, mencegah


defisit volume cairan, mengatasi ansietas, mengurangi risiko infeksi
yang disebabkan oleh gangguan potensial atau aktual pada saluran
gastrointestinal, mempertahankan integritas kulit dan mencapai nutris
yang optimal.
2) Sebelum operasi, siapkan pasien untuk menjalani pembedahan, mulai
jalur Intra Vena berikan antibiotik, dan masukan selang nasogastrik
(bila terbukti ada ileus paralitik), jangan berikan laksatif.
3) Setelah operasi, posisikan pasien fowler tinggi, berikan analgetik
narkotik sesuai program, berikan cairan oral apabila dapat ditoleransi.
4) Jika drain terpasang di area insisi, pantau secara ketat adanya tanda-
tanda obstruksi usus halus, hemoragi sekunder atau abses sekunder.
(Brunner&Suddarth, 2014).
c. Penatalaksaan Keperawatan

Tatalaksana apendisitis pada kebanyakan kasus adalah


apendiktomi. Keterlambatan dalam tatalaksana dapat meningkatkan
kejadian perforasi. Teknik laparoskopi sudah terbukti menghasilkan
nyeri pasca bedah yang lebih sedikit, pemulihan yang lebih cepat dan
angka kejadian infeksi luka yang lebih rendah. Akan tetapi terdapat
peningkatan kejadian abses intra abdomen dan pemanjangan waktu
operasi. Laparoskopi itu dikerjakan untuk diagnosa dan terapi pada
pasien dengan akut abdomen, terutama pada wanita. (Rahayuningsih dan
Dermawan, 2010).

12
Jadi berdasarkan pembahasan diatas, tindakan yang dapat
dilakukan terbagi dua yaitu tindakan medis yang mengacu pada tindakan
pembedahan/apendictomy dan pemberian analgetik, dan tindakan
keperawatan yang mengacu pada pemenuhan kebutuhan klien sesuai
dengan kebutuhan klien untuk menunjang proses pemulihan.

9. Pemeriksaan Penunjang (NANDA, 2015)

a. Pemeriksaan Fisik
1) Inspeksi: Akan tampak adanya tanda pembengkakan (swelling),
rongga perut dimana dinding perut tampak mengencang (distensi).
2) Palpasi: Dibagian perut kanan bawah akan terasa nyeri (Blumbeng
Sign) yang mana merupakan kunci dari diagnosis apendsitis akut.
3) Dengan tindakan tungkai dan paha kanan ditekuk kuat / tungkai di
angkat tingi-tinggi, maka rasa nyeri akan semakin parah (Psoas Sign).
4) Kecurigaan adanya peradangan usus buntu semakin parah apabila
pemeriksaan dubur dan vagina terasa nyeri.
5) Suhu dubur atau rectal yang lebih tinggi dari suhu ketiak, lebih
menunjang lagi adanya radang usus buntu.
b. Pemeriksaan Laboratorium
Kenaikan dari sel darah putih hingga sekitar 10.000-18.000/mm3. jika
terjadi peningkatan lebih dari itu, maka kemungkinan apendiks telah
mengalami perforasi (pecah).
c. Pemeriksaan Radiologi
1) Foto polos perut dapat memperlihatkan adanya fekalit (jarang
membantu).
2) Ultrasonografi/USG
3) CT-Scan.
Berdasarkan referensi diatas, yang menjadi kunci tata laksana
penentuan diagnosa apendisitis yaitu dengan dilakukan pemeriksaan fisik
yaitu salah satunya dengan mempalpasi bagian perut bagian kanan bawah

13
akan terjadi blumbeng sign, lalu dengan memeriksa laboratorium dengan
melihat peningkatan leukosit dan pemeriksaan USG.

10. Pemeriksaan Diagnostik


a. SDP; Leukositosis diatas 12.000/mm3, Neutrofil meningkat sampai
75%,
b. Urinalisis: Normal, tetapi eritrosit/leukosit mungkin ada.
c. Foto abdomen: Dapat menyatakan adanya pergeseran, material
apendiks (fekalit), ileus terlokalisir. (Doengoes, Marilynn E, 2014).

B. Konsep Post Op Apendiktomi


1. Pengertian
Perawatan post operasi merupakan tahap lanjutan dari perawatan pre dan
intra operatif yang dimulai saat klien diterima di ruang pemulihan/pasca
anastesi dan bearkhir sampai evaluasi selanjutnya

14
2. Patofisiologi

Mual & muntah Appendiks terinflamasi

Meningkatkan tekanan
Resiko tinggi
intraluminal
kekurangan volume
cairan

Menghambat aliran limfe

Ulserasi pada dinding mukosa

Gangren dan perforasi

appendektomy

Luka post op

Resiko tinggi infeksi Nyeri akut

Kerangka 2.2 Patofisiologi post operasi appendektomy


Sumber : Smeltzer, Suzzane, C (2001)
Mansjoer (2007)

15
C. Konsep Asuhan Keperawatan Apendiktomi

1. Pengkajian
Data yang diperoleh haruslah mampu menggambarkan status
kesehatan klien ataupun masalah utama yang dialami oleh klien. Dalam
melakukan pengkajian, diperlukan teknik khusus dari seorang perawat,
terutama dalam menggali data, yaitu dengan menggunakan komunikasi yang
efektif dan teknik terapeutik. (Tarwoto & Wartonah, 2011).
Adapun pemeriksaan yang dilakukan pada kasus apendisitis
berdasarkan NANDA (North American Nursing Diagnosis Association),
2015:
a. Pemeriksaan Fisik
1) Inspeksi: Akan tampak adanya tanda pembengkakan (swelling),
rongga perut dimana dinding perut tampak mengencang (distensi).
Normal: Tidak tampak terjadinya distensi atau penegangan pada
abdomen.
2) Palpasi: Dibagian perut kanan bawah akan terasa nyeri (Blumbeng
Sign) yang mana merupakan kunci dari diagnosis apendsitis akut.
Normal: Tidak teraba atau klien tidak memberikan respon nyeri.
3) Dengan tindakan tungkai dan paha kanan ditekuk kuat / tungkai di
angkat tingi-tinggi, maka rasa nyeri akan semakin parah (Psoas Sign).
Normal: Jika dilakukan pemeriksaan ini, klien tidak akan merasa
nyeri.
4) Kecurigaan adanya peradangan usus buntu semakin parah apabila
pemeriksaan dubur dan vagina terasa nyeri.
Normal: Jika dilakukan pemeriksaan ini, klien tidak akan merasa
nyeri.
5) Suhu dubur atau rectal yang lebih tinggi dari suhu ketiak, lebih
menunjang lagi adanya radang usus buntu.
Normal: Suhu ketiak lebih tinggi dibandng dengan suhu dubur ata
vagina.

16
b. Pemeriksaan Laboratorium
Di lihat dari kenaikan leukosit 10.000-18.000/mm3, bila lebih maka
sudah terjadi perforasi.
Normal: Tidak terjadinya peningkatan leukosit melebihi batas normal.
c. Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan USG
Normal: Tidak tampak ada peradangan pada bagian Mc. Burney.
2) Foto polos
Normal: Tidak tampak ada kelainan pada organ.

2. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan diagnosa Apendiktomi yang menggunakan
pendekatan (NANDA, 2015):
a. Nyeri berhubungan dengan peradangan pada apendiks/post apendiks.
b. Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan akumulasi secret.
c. Hipertermi berhubungan dengan penyakit atau trauma insisi.
d. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
anoreksia.
e. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan Distensi abdomen.
f. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan terputusnya ujung
saraf.
g. Defisit perawatan diri berhubungan dengan adanya rasa nyeri post op.
h. Ansietas berhubungan dengan ketidaktahuan pasien terhadap
tindakan/penyakit.
i. Risiko infeksi berhubungan dengan adanya jalan masuk kuman melalui
luka insisi.
j. Risiko kekurangan cairan berhubungan dengan mual dan muntah.
k. Risiko ketidakefektifan gastrointestinal berhubungan dengan adanya
perforasi

17
3. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN (INTERVENSI BEDASARKAN NANDA, 2015)

a. Nyeri akut berhubungan dengan peradangan pada apendiks/post apendiks.

NO Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


1 Nyeri berhubungan dengan NOC: NIC
peradangan pada a. Pain level a. Pain management
apendiks/post apendiks. b. Pain Control 1. Lakukan pengkajian nyeri secara
c. Comfort level\ komperehensif termasuk lokasi,
Batasan karakteristik: Kriteria Hasil: karakteristtik, durasi, frekuensi, kualitas
a. Perubahan selera makan a. Mampu mengontrol nyeri (tahu dan faktor presipitasi
b. Perubhana tekanan darah penyebab nyeri, mampu 2. Gunakan komunikasi terapeutik untuk
c. Perubahan frekuensi menggunakan tekhnik mengetahui pengalaman nyeri pasien,
jantung nonfarmakologis, mencari 3. Observasi reaksi nonverbal dari
d. Perubahan frekuensi bantuan), ketidaknyamanan
pernapasan b. Melaporkan nyeri berkurang 4. Kaji kultur yang mempengaruhi respon
e. Diaforesis dengan menggunakan nyeri
f. Perilaku distraksi manajemen nyeri, 5. Evaluasi respon nyeri masa lampau
g. Mengekspresikan c. Mampu mengenali nyeri 6. Bantu pasien dan keluarga untuk mencari
perilaku (merengek, (skala, intensitas, frekuensi dan dan menemukan dukungan
menagis) tanda), 7. Kontrol lingkungan yang dapat
h. sikap tubuh melindungi d. Menyatakan rasa nyaman mempengaruhi nyeri seperti suhu
i. Gangguan tidur setelah nyer berkurang ruangan, pencahayaan, dan kebisingan,
j. Melaporkan nyeri secara 8. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
verbal menentukan intervensi
k. Perubahan posisi 9. Ajarkan tekhnik non farmakologis
(relaksasi genggam jari)
10. Berikan analgetik untuk mengurangi

18
nyeri
11. Tingkatkan istirahat
12. Evaluasi keefektifan control nyeri
13. Monitor penerimaan pasien tentang
mmanajemen nyeri.
b. Analgesik Admistration
1. Tentukan karakteristik, lokasi kualitas
dan derajat nyeri sebelum pemberian
obat
2. Cek instruksi dokter tentang jenis obat,
dosis dan frekuensi
3. Pilih analgesic yang diperlukan atau
kombinasi dari analgetik ketika
pemberian lebih dari satu
4. Tentukan pilihan anlgesik tergantung tipe
dan berat nyerinya
5. Tentukan anlgesik pilihan, rute
pemberian dan dosis optimal,
6. Monitor vital sign sebelum dan sesudah
pemberian anlgesik pertama kali
7. Berikan analgesic tepat waktu terutama
ketika nyeri.
8. Evaluasi efektivitas analgesic, tanda dan
gejala.

19
b. Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan akumulasi secret.

No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


2 Ketidakefektifan jalan nafas NOC NIC
berhubungan dengan a. Respiratory status: Ventilation a. Airway Suction
akumulasi secret. b. Respiratory status: Airway 1. Pastikan kebutuhan oral dan trakeal
patency suctioning
Batasan karakteristik: Kriteria Hasil: 2. Auskultasi suara nafas sebelum dan
a. Tidak ada batuk a. Mendemonstrasikan batuk sesudah suction
b. Suara nafas tambahan efektif dan suara nafas yang 3. Informasikan ada pasien dan keluarga
c. Perubahan irama nafas bersih, tidak ada sianosis dan tentang suctioning
d. Sianosis dyspneu (mampu 4. Minta klien untuk nafas dalam sebelum
e. Kesulitan berbicara mengeluarkan sputum, mampu suctioning
f. Penurunan bunyi nafas bernafas dengan mudah, tidak 5. Berikan O2 melalui nasal untuk
g. Dispnea ada pursed lips) memfasilitasi suction nasotrakeal
h. Sputum dalam jumlah b. Menunjukan jalan nafas paten 6. Gunakan alat yang steril setiap
yang berlebih (klien tidak merasa tercekik, melakukan tindakan
i. Batuk tidak efektif irama nafas, frekuensi nafas 7. Anjuran klien untuk istirahat dan nafas
j. Ortopneu dalam rentag normal, tidak ada dalam setelah kateter dikeluarkan dari
k. Gelisah suara nafas abnormal) nasotrakeal
l. Mata terbuka lebar c. Mampu mengidentifikasi dan 8. Monitor status oksigen pasien
mencegah faktor yang dapat 9. Ajarkan keluarga cara melakukan suction
menghambatjala nafas. 10. Hentikan suction dan berikan oksigen
bila pasien mengalami bradikardi
b. Airway management
1. Buka jalan nafas, gunakan tekhnik chin
lift atau jaw trust

20
2. Posisikan pasien untuk memaksimalkan
ventilasi
3. Identifikasi pasien bila perlunya
menggunakan alat bantu nafas buatan
4. Pasang mayo bila perlu
5. lakukan fisioterapi dada bila perlu
6. Keluarkan secret dengan batuk atau
suction
7. Auskultasi suara nafas
8. Lakukan suction pada mayo bila perlu
9. Berikan bronkodiator bila perlu
10. Berikan pelembab udara menggunakan
kassa basah NaCl
11. Monitor status respirasi dan status O2.

21
c. Hipertermi berhubungan dengan penyakit atau trauma insisi.
No. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria hasil Intervensi
3. Hipertermi berhubungan NOC : NIC
dengan penyakit atau Thermoregulation a. Fever Treattment
trauma insisi. 1. Monitor suhu sesering mungkin
Kriteria Hasil : 2. Monitor IWL
Batasan karakteristik : a. Suhu tubuh dalam rentang 3. Monitor warna dan suhu kulit
a. Konvulsi normal 4. Monitor tekanan darah, RR dan nadi
b. Kulit kemerahan b. Nadi dan RR dalam rentang 5. Monitor penurunan tingkat kesadaran
c. Peningkatan suhu tubuh normal 6. Monitor WBC, Hb, dan Hct
diatas kisaran normal c. Tidak ada perubahan warna 7. Monitor intake dan output
d. Kejang kulit dan tidak ada pusing 8. Berikan anti piretik
e. Takikardi 9. Berikan pengobatan untuk mengatasi
f. Takipnea demam
g. Kulit terasa hangat 10. Selimuti pasien
11. Berikan tapid sponge
12. Kolaborasi dalam pemberian cairan
intravena
13. Kompres pasien pada lipat paha dan
aksila
14. Tingkatkan sirkulasi udara
15. Berikan pengobatan untuk terjadinya
menggigil
b. Temperature regulation
1. Monitor suhu minimal 2 jam
2. Rencanakan monitor suhu secara
kontinyu
3. Monitor TD, nadi dan RR

22
4. Monitor warna dan suhu kulit
5. Monitor tanda-tanda hipertermi dan
hipotermi
6. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
7. Selimuti pasien untuk mencegah
hilangnya kehangatan tubuh
8. Ajarkan kepada pasien untuk cara
mencegah keletihan akibat panas
9. Diskusikan tentang pentingnya
pengaturan suhu dan kemungkinan efek
negatif dari kedinginan
10. Beritahukan tentang indikasi terjadinya
keletihan dan penanganan emergency
yang diperlukan
11. Berikan anti piretik jika perlu
c. Vital sign monitor
1. Monitor TD, nadi, RR dan suhu
2. Catat adanya fluktuasi tekanan darah
3. Auskultasi TD pada kedua lengan lalu
bandingkan
4. Monitor TD, nadi, RR sebelum, selama
dan sesudah aktivitas
5. Monitor kualitas dari nadi
6. Monitor frekuensi dan irama dan
pernafasan
7. Monitor suara paru

23
d. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia.

No. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


4. Ketidakseimbangan nutrisi NOC NIC
kurang dari kebutuhan a. Nutritional status a. Nutrition management
berhubungan dengan b. Nutritional status : food and 1. Kaji adanya alergi makanan
anoreksia. fluid intake 2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
c. Nutritional status : nutrient menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang
Batasan karakteristik : intake weight control. dibutuhkan pasien
a. Kram abdomen 3. Anjurkan pasien untuk
b. Nyeri abdomen Kriteria hasil : meningkatkanprotein dan vitamin C
c. Menghindari makanan a. Adanya peningkatan berat 4. Berikan substansi gula
d. Berat badan 20% atau badan sesuai dengan tujuan 5. Yakinkan diet yang dimakan mengandung
lebih dibawah berat b. Berat badan sesuai dengan tinggi serat untuk mencegah konstipasi
badan ideal tinggi badan 6. Berikan makanan yang terpilih (sudah
e. Kerapuhan kapiler c. Mampu mengidentifikasi dikonsultasikan dengan ahli gizi)
f. Diare kebutuhan nutrisi 7. Ajarkan pasien bagaimana membuat
g. Kehilangan rambut d. Tidak ada tanda-tanda mal catatan makanan harian
berlebihan nutrisi 8. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan
h. Bising usus hiperaktif e. Menunjukkan peningkatan kalori
i. Kurang makanan fungsi pengecapan dari 9. Kaji kemampuan pasien untuk
j. Kurang informasi menelan mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan
k. Kurang minat pada f. Tidak terjadi penurunan berat b. Nutrition monitoring
makanan badan yang berarti 1. BB pasien dalam batas normal
l. Penurunan berat badan 2. Monitor adanya penurunan berat badan
dengan asupan makanan 3. Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang
adekuat biasa dilakukan
m. Tonus otot menurun 4. Monitor turgor kulit

24
n. Cepat kenyang setelah 5. Monitor kulit kering dan perubahan
makan pigmentasi
o. Sariawan rongga mulut 6. Jadwalkan pengobatan dan dan tindakan
tidak dilakukan pada saat jam makan
7. Monitor mual dan muntah
8. Monitor pertumbuhan dan perkembangan
9. Monitor kemerahan, pucat dan kekeringan
jaringan konjungtiva
10. Monitor kalori dan intake nutrisi

25
e. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan Distensi abdomen.

No. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


5 Gangguan rasa nyaman NOC NIC
berhubungan dengan Distensi a. Sleep deprivation a. Anxiety reduction
abdomen. b. Comort, readlines or enchanced. 1. Gunakan pendekatan yang menenangkan
2. Nyatakan dengan jelas harapan terhadap
Batasan karakteristik : Kriteria hasil : pelaku pasien
a. Ansietas a. Mampu mengontrol kecemasan 3. Jelaskan semua prosedur dan apa yang
b. Menangis b. Status lingkungan yang nyaman dirasakan selama prosedur
c. Gangguan pola tidur c. Mengontrol nyeri 4. Pahami perspektif pasien terhadap situasi
d. Takut d. Kualitas tidur dan istirahat stres
e. Ketidakmampuan untuk adekuat 5. Temani pasien untuk memberikan
rileks e. Agresi pengendalian diri keamanan dan mengurangi takut
f. Iritabilitas f. Respon terhadap pengobatan 6. Berikan obat untuk mengurangi kecemasan
g. Merintih g. Kontrol gejala
h. Melaporkan merasa dingin h. Status kenyamanan meningkat
i. Melaprkan merasa panas i. Support sosial
j. Melaporkan perasaan j. Keinginan untuk hidup
tidak nyaman
k. Melaporkan geja distress
l. Melaporkan rasa gatal

26
f. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan terputusnya ujung saraf.

NO Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


6 Kerusakan integritas NOC NIC
jaringan berhubungan a. Tissue integrity: skin and a. Pressure ulcer prevention wound care
dengan terputusnya ujung muccous 1. Anjurkan pasien untuk memakai pakaian
saraf. b. Wound healing: Primary and longgar
secondary intention. 2. Jaga kulit agar tetap kering dan bersih
Batasan Karakteristik: 3. Mobilisasi pasien setap 2 jam sekali
a. Kerusakan jaringan Kriteria Hasil: 4. leskan lotion atau minyak/baby oil pada
(Misal: kornea, a. Perfusi jaringan normal daerah yang tertekan
membrane mukosa, b. Tidak ada tanda-tanda infeksi 5. Monitor kulit adanya kemerahan atau tidak
integument, dan c. Ketebalan dan tekstur jaringan 6. Monitor status nutrisi pasien
subkutan) normal 7. Observasi luka
b. Kerusakan jaringan d. Menunjukan pemahaman dalam 8. Ajarkan keluarga tentang luka dan
proses perbaikan kulit dan perawatan luka
mencegah terjadinya cedere 9. Cegah kontaminasi feses dan urin
e. Menunjukan proses 10. Lakukan tekhik perawatan luka dengan
penyembuhan luka prinsip steril
11. Berikan posisi yang mengurangi tekanan
pada luka
12. Hindari kerutan pada tempat
tidurMandikan pasien dengan air hangat.

27
g. Defisit perawatan diri berhubungan dengan adanya rasa nyeri post op.
NO Diagnosa Tujuan dan Kriteri Hasil Intervensi
7 Defisit perawatan diri NOC NIC
berhubungan dengan adanya a. Activity tolerenrancy a. Self Care Assistence: Bathing/Hygiene
rasa nyeri post op. b. mobility: physical impaired 1. Pertimbangkan budaya ketika
c. Self care deficit hygiene mempromosikan perawatan diri
Batasan Karakterisik: d. Sensory perception: auditory 2. Tempat handuk, deodorant dan kebutuhan
a. Ketidakmampuan dalam disturbed. mandi ditaruh disamping tempat tidur atau
mengakses kamar mandi Kriteria hasil kamar mandi.
b. Ketidakmampuan a. Perawatan diri ostomi: 3. Pertimbangkan usia pasien ketika
mengeringkan tubuh tindakan pribadi dalam memromisan perawatan diri
c. Ketidakmampuan dalam mempertahan ostomi untuk 4. Menyediakan lngkungan yang terapeutik
merasakan bagian tubuh eliminasi dengan memastikan hangat, santai, dan
d. Ketidakmampuan dalam b. Perawatan diri: aktivitas personal
merasakan hubungan perawatan fisik dan pribadi 5. Memfasilitasi alat untuk menyikat gigi
spasial secara mandiri klien
e. Ketidakmampuan dalam c. Peawatan diri mandi: mampu 6. Memfasilitasi alat yang dibutuhkan untuk
menjangkau sumber air untuk membersihkan diri mandi
f. Ketidakampuan dalam sendiri secara mandiri 7. Memfasilitasi pemeliharaan rutin yang
mengatur air mandi d. Perawatan diri hygiene biasa pasien tidur, isyarat sebelum tidur
g. Ketidkmampuan dalam e. Perawatan diri oral hygiene 8. Memberikan bantuan sampai pasien
membasuh tubuh f. kebersihan. sepenuhnya dapat mengansumsikan
perawatan diri.

28
h. Ansietas berhubungan dengan ketidaktahuan pasien terhadap tindakan/penyakit.

No. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


8 Ansietas berhubungan NOC NIC
dengan ketidaktahuan pasien a. Ansiety self-control a. Anxiety Reduction
terhadap tindakan/penyakit. b. Coping. 1. Gunakan pendekatan yang menenangkan
2. Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku
Batasan karalteristik : Kriteria hasil : pasien
a. Perilaku : a. Klien mampu mengidentifikasi 3. Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan
1. Penurunan dan mengungkapkan gejala selama prosedur
produktivitas cemas 4. Temani pasien untuk memberikan ketenangan,
2. Gerakan yang ireleven b. Mengidentifikasi, keamanan dan mengurangi rasa takut
3. Gelisah mengungkapkan dan 5. Berikan obat untuk mengurangi kecemasan.
4. Melihat sepintas menunjukkan teknik untuk
5. Insomnia mengontrol cemas
6. Kontak mata yang c. Vital sign dalam batas normal
buruk d. Postur tubuh, ekspresi wajah,
7. Mengekspresikan bahasa tubuh dan aktivitas
kekhawatir menunjukkan
8. Tampak waspada

b. Affektif :
1. Gelisah
2. Kesedihan yang
mendalam
3. Ketakutan
4. Perasaan tidak adekuat

29
5. Berfokus pada diri
sendiri
6. Peningkatan
kewaspadaan
7. Iritabilitas
8. Khawatir

c. Fisiologi :
1. Wajah tegang, tangan
tremor
2. Peningkatan keringat
3. Peningkatan
ketegangan
4. Gemetar, tremor
5. Suara bergetar

d. Simpatik
1. Anoreksia
2. Diare, mulut kering
3. Wajah merah
4. Jantung berdebar-
debar
5. Peningkatan TD

30
i. Risiko infeksi berhubungan dengan adanya jalan masuk kuman melalui luka insisi.

No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


.
9 Risiko infeksi berhubungan NOC NIC
dengan adanya jalan masuk a. Imune status a. Infection control(kontrol infeksi)
kuman melalui luka insisi. b. Knowledge : infection control 1. Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
c. Risk control. 2. Pertahankan teknik isolasi
Faktor-faktor resiko : 3. Batasi pengunjung bila perlu
1. Penyakit kronis Kriteria hasil : 4. Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan
2. Diabetes mellitus a. Klien bebas dari tanda dan 5. Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan
3. Obesitas gejala infeksi keperawatan
4. Pengetahuan yang tidak b. Mendeskripsikan proses 6. Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
cukup untuk penularan penyakit, faktor 7. Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat.
menghindari pemanjanan yang mempengaruhi penularan 8. Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
patogen serta penatalaksanaannya 9. Monitor terhadap kerentanan infeksi
5. Pertahanan tubuh primer c. Menunjukkan kemampuan 10. Batasi pengunjung
yang tidak adekuat untuk mencegah timbulnya 11. Dorong klien untuk mengonsumsi antibiotic sesuai
6. Ketidakadekuatan infeksi resep
pertahanan sekunder d. Jumlah leukosit dalam batas 12. Ajarkan pasein dan keluarga akan tanda dan gejala
7. Imunosepresi (imunitas normal infeksi
yang didapat tidak e. Menunjukkan perilakku hidup 13. Ajarkan cara menghndari infeksi
adekuat) sehat 14. Laporkan kecurigaan infeksi.
8. Penurunan haemoglobin

31
j. Risiko kekurangan cairan berhubungan dengan mual dan muntah.
No. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
10 Risiko kekurangan cairan NOC NIC
berhubungan dengan mual a. Fluid balance a. Fluid management
dan muntah. b. Hydration 1. Timbang popok atau pembalut jika memungkinkan
Batasan Karakteristik: c. Nutritional status : food and 2. Pertahankan catatan intake atau output yang akurat
a. Perubahan status mental fluid intake 3. Monitor status hidrasi (kelembaban, membran mukosa,
b. Penurunan tekanan darah nadi adekuat, tekanan darah ortostatik), jika diperlukan
c. Penurunan tekanan nadi Kriteria hasil : 4. Monitor vital sign
d. Penurunan volume nadi a. Mempertahankan urine output 5. Monitor masukan makanan/cairan dan hitung intake
e. Penurunan turgor kulit sesuai dengan usia dan BB, BJ kalori harian
f. Penurunan turgor lidah urine normal, HT normal 6. Kolaborasi cairan IV
g. Penurunan haluaran urin b. Tekanan darah, nadi, suhu 7. Monitor status nutrisi
h. Penurunan pengisian tubuh dalam batas normal 8. Berikan cairan IV pada suhu ruangan
vena c. Tidak ada tanda-tanda 9. Dorong masukan oral
i. Membran mukosa kering dehidrasi, elastisitas turgor 10. Berikan penggantian nasogastrik sesuai output
j. Kulit kering kulit baik, membran mukosa b. Hypovolemia Management
k. Peningkatan hematokrit lembab, tidak ada rasa haus 1. Monitor status cairan termasuk intake dan output cairan
yang berlebihan. 2. Pelihara IV line
3. Monitor tingkat Hb dan hematokrit
4. Monitor tanda vital
5. Monitor respon pasien terhadap penambahan cairan
6. Monitor berat badan

32
k. Risiko ketidakefektifan gastrointestinal berhubungan dengan adanya perforasi.

No. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi


Hasil
11 Risiko ketidakefektifan NOC NIC
gastrointestinal berhubungan a. Circulation status a. Tube care gastrointestinal
dengan adanya perforasi. b. Electrolite and acid 1. Monitor TTV
Faktor resiko : base balance 2. Monitor cairan dan elektrolit
a. Anemia c. Fluid balance 3. Monitor bising usus
b. Usia >60 tahun d. Hidration 4. Monitor irama jantung
c. Diabetes melitus e. Tissue perfusion : 5. Catat intake dan output secara akurat
d. Jenis kelamin wanita abdominal organs 6. Kaji tanda-tanda gangguan keseimbangan cairan
e. Varises gastroesofagus. Kriteria hasil : dan elektrolit sesuai instruksi dokter
a. Jumlah, warna, 7. Monitor diare
konsistensi, dan bau b. Bledding reduction gastrointestinal
feses dalam batas 1. Pantau tanda-tanda shock
normal 2. Ukur lngkar perut
b. Tidak ada nyeri perut 3. Memantau status cairan, termasuk inpu dan
c. Bising usus normal output
d. Tekanan systole dan 4. Hindari pemberian antikoagulan
dyastole dalam 5. Memantau studi koagulan, termasuk waktu
rentang normal protrombin
e. Gangguan mental, 6. Berikan obat (missal: vasopressin)
orientasi pengetahuan 7. Menilai status gizi pasien
dan kekuatan otot 8. Anjurkan pada keluarga atau klien menghindari
normal penggunaan obat anti inflamasi (missal: aspirin,
f. Na, K, Cl, Ca, Mg, ibuprofen)

33
dan biknat dalam batas 9. Mengkoordinasikan konseling untuk pasien dan
normal keluarga (pendetaa, pecandu alcohol)
g. Tidak ada bunyi naas c. Bowel irrigation
tambahan d. Medication administration
h. Intake output
seimbang
i. Membran mukosa
lembab

34
4. Implementasi

Implementasi merupakan tindakan yang sudah direncanakan


dalam rencana keperawatan. Tindakan mencakup tindakan mandiri dan
tindakan kolaborasi. (Tarwoto & Wartonah, 2011).
Pada tahap ini perawat menggunakan semua kemampuan yang
dimiliki dalam melaksanakan tindakan keperawatan terhadap klien baik
secara umum maupun secara khusus pada klien post appendictomy pada
pelaksanaan ini perawat melakukan fungsinya secara independen.
Interdependen dan dependen.

5. Evaluasi

Tujuan dari evaluasi adalah untuk mengetahui sejauh mana


perawatan dapat dicapai dan memberikan umpan balik terhadap asuhan
keperawatan yang diberikan. (Tarwoto & Wartonah, 2011).
Untuk menentukan masalah teratasi, teratasi sebagian, tidak
teratasi atau muncul masalah baru adalah dengan cara membandingkan
antara SOAP dengan tujuan, kriteria hasil yang telah di tetapkan. Format
evaluasi mengguanakan :
S : subjective adalah informasi yang berupa ungkapan yang didapat dari
klien setelah tindakan diperbaiki
O : objective adalah informasi yang didapat berupa hasil pengamatan,
penilaian, pengukuran, yang dilakukan oleh perawat setelah dilakukan
tindakan
A : analisa adalah membandingkan antara inormasi subjektif dan objektif
dengan tujuan dan kriteria hasil, kemudian diambil kesimpulan bahwa
masalah teratasi, masalah belum teratasi, masalah teratasi sebagian, atau
muncul masalah baru.
P : planning adalah rencana keperawatan lanjutan yang akan dilakukan
berdasarkan hasil analisa, baik itu rencana diteruskan, dimodifikasi,
dibatalkan ada masalah baru, selesai (tujuan tercapai).

35
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2013, Keperawatan Medikal Bedah: Jakarta: EGC.

Dermawan, Deden & Titik Rahayuningsih. 2010, Keparawatan Medikal Bedah


(Sistem Pencernaan): Yogyakarta: Gosyen Publishing.

Doengoes, Marilynn E, Marry frances Moorhaose. 2014, Rencana asuhan


Keperawatan: Jakarta: EGC.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2010, Metodologi Penelitian Kesehatan: Jakarta: Rineka


Cipta.

Jurnal Kesehatan Keperawatan Vol 8, No. 1, Februari 2012.

Nurarif, Amin Huda & Hardhi Kusuma. 2015, Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC: Jogja: Mediaction
Publishing.

Prasetyo, Sigit Nian. 2010, Konsep Dan Proses Keperawatan Nyeri: Yogyakarta:
Graha Ilmu.

Saydam, Gouzali, 2011. Memahami Berbagai Penyakit (Penyakit pernafasan dan


Gangguan Pencernaan): Bandung: Alfabeta.

T. Heather Herdman, Shigemi Kamitsuru ; alih bahasa, Budi Anna Keliat. 2015,
Diagnosa Keperawatan; Definisi & klasifikasi 2015=2017: Jakarta: EGC.

Tarwoto & Wartonah. 2011, Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses


Keperawatan: Jakarta: Salemba Medika.

Tsamsuhidajat & Wim De jong.2010,Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3, Jakarta:


EGC.

Pinandita, 2012. Pengaruh Teknik Relaksasi Genggam Jari Terhadap Penurunan


Intensitas Nyeri pada Pasien Post Op Laparatomi diakses pada tanggal 20
Mei 2016 dalam
http://digilib.stikesmuhgombong.ac.id/download.php?id=284)

Liana, 2008. Teknik Relaksasi Genggam Jari Terhadap Keseimbangan Emosi.


Diakses pada tanggal 20 Mei 2016 dalam
(http://www.pembelajar.com/category/kolomnis/emmy-liana-dewi)

36
Lukman, 2008, Gambaran pasien Apendisitis yang Mengalami Perforasi Di
RSUP Hasan Sadikin Bandung dalam (http://elibrary.unisba.ac.id/files/08-
6155_Fulltext_Duplikat.pdf di akses pada 26 Mei 2016)

Evarica, 2015, Pemberian Teknik Relaksasi Genggam Jari terhadap Penurunan


Intensitas Nyeri pada Pasien Post Op Apendisitis dikutip dalam
(http://digilib.stikeskusumahusada.ac.id/files/disk1/27/01-gdl-evaricawid-
1323-1-ktievar-4.pdf diakses pada tanggal 9 juni 2016)

Solihah, 2014, Pemberian Teknik Relaksasi Genggam Jari terhadap Penuruanan


Intensitas Nyeri pada pasien Post Op Lumpektomi di kutip dalam
(http://digilib.stikeskusumahusada.ac.id/files/disk1/17/01-gdl-solikhahha-
844-1-ktisoli-1.pdf diakses pada tanggal 9 juni 2016)

http://citarum.org/citarum-knowledge/pusat-database/data-tabular/data-dalam-
angka/386-dalam-angka-kab-cianjur-2008/file.html diakses pada tanggal 29
mei 2016 pukul 11.35

Anonim, 2016, Makalah perawatan pre dan post op apendiktomi di akses pada
tanggal 02 Juni 2016 pukul 12.43 dalam
(http://dokumen.tips/documents/pre-op-dan-post-op.html)

Anonim, Latar Belakang. Diakses pada tanggal 22 Juni 2016 pukul 11.22 dalam.
(http://eprints.ums.ac.id/25910/2/BAB_I.pdf)

37