You are on page 1of 29

BAB I

TINJAUAN TEORI

A. Konsep Teori Menurut Kasus Kehamilan


Kehamilan adalah pertemuan persenyawaan antara sel telur (ovum) dan sel mani
(sperma). Kehamilan lamanya 280 hari atau 40 minggu ata 10 bulan (lunar month).
Kehamilan yang berlangsung antara 23-36 minggu disebut kehamilan premature. Kehamilan
yang berlangsung antara 37-42 minggu disebut kehamilan matur. Sedangkan bila kehamilan
terjadi lebih dari 34 minggu disebut post matur. Proses kehamilan merupakan mata rantai
yang berkesinambungan dan terdiri dari:
1. Ovulasi atau pelepasan ovum
2. Terjadi imigrasi sperma dan ovum
3. Terjadi konsepsi dan pertumbuhan zigot
4. Terjadi nidasi (implantasi pada uterus)
5. Terjadi pembentukan plasenta
6. Tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm
7. Menurut usia kehamilan dibagi atas 3 triwulan (trimester) yaitu :
a. Kehamilan trimester pertama : 0-12 minggu
b. Kehamilan trimester kedua : 12-28 minggu
c. Kehamilan trimester ketiga : 28-40 minggu
(Muchtar, Rustam, Sinopsis Obstetri).

Tanda dan Gejala Kehamilan


1. Tanda-tanda persumtif
a. Aminorea (tidak dapat haid)
Wanita harus mengetahui tanggal hari pertama haid terakhir (HPHT) agar dapat ditaksir umur
kehamilan dan hari perkiraan lahir (HPL)
Cara penghitungan menggunakan rumur Naegele :
Hari + 7, bulan – 3 dan tahun + 1
b. Mual dan mutah (nausca dan vomiting)
Biasanya terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan hingga akhir trimester pertama karena
terjadi pada pagi hari maka disebut “Morning Sickness”, dan bila mual dan muntah terlalu
sering disebut hiperemesis.
c. Ngidam (ingin makanan khusus)
Ibu hamil sering meminta makanan atau minuman tertentu terutama pada bulan-bulan
trimester pertama.
d. Tidak tahan dengan bau-bauan
e. Pingsan (sinkope)
Terjadi gangguan sirkulasi kedaerah kepala (central) menyebabkan iskemia saluran saraf
pusat dan menimbulkan pingsan menghilang setelah 16 minggu.
f. Tidak ada selera makan (anoreksia)
Hanya timbul pada trimester pertama kehamilan, kemudian nafsu makan timbul kembali.
g. Lelah (fatigue)
h. Payudara membesar, tegang dan sedikit nyeri disebabkan pengaruh estrogen dan progesteron
yang merangsang duktus dan alveoli payudara, kelenjar motgomery terlihat lebih membesar.
i. Miksi sering
Kandung kemih tertekan oleh tahim yang membesar, gejala ini akan hilang pada trimester
kedua kehamilan dan pada trimester ketiga atau akhir, kehamilan akan muncul lagi karena
kandung kemih ditekan oleh kepala janin.
j. Konstipasi/Obstipasi
Karena tonus otot-otot usus menurun oleh pengaruh hormon steroid
k. Pigmentasi kulit
Karena pengaruh hormon kortikosteroid plasenta dijumpai dimuka (cloasma gravidarum)
areola payudara, leher, dan dinding perut (linea nigra : grisea)
l. Apulis : hipertrofi dari papil gusi
m. Pemekaran vena-vena (varices)
Dapat terjadi pada kaki, baris dan vulva biasanya dijumpai pada trimester III

2. Tanda-Tanda Kemungkinan Hamil


a. Perut membesar (pembesaran perut sesuai dengan usia kehamilan)
b. Uterus membesar (terjadi perubahan dalam bentuk besar, dan konsistensi dari rahim)
c. Tanda hegar (otot uterus lembek)
d. Tanda chadwick (serviks dan vagina menjadi kebiruan)
e. Broxton-Hick (kontraksi-kontraksi uterus bila dirangsang)
f. Teraba ballotement
g. Reaksi kehamilan positif
3. Tanda-Tanda Tidak Pasti Hamil
a. Amenore (tidak haid)
b. Morning sickness (mual-mual dipagi hari)
c. Sering kencing
d. Pembesaran payudara
e. Membesarnya perut
f. Pergerakan anak yang pertama (Quickening)

4. Diagnosis Banding Kehamilan


a. Hamil palsu (Pseudocyesis = kehamilan spurra) gejala hampir sama dengan kehamilan,
bahkan wanit merasakan gerakan janin. Namun pada pemeriksaan uterus tidak membesar.
Tanda-tanda kehamilan lain reaksi kehamilan negatif.
b. Mioma uteri : perut dan rahim membesar namun pada perabaan, rahim terasa padat, kadang
kala berbenjol-benjol. Tanda kehamilan negatif dan tidak dijumpai tanda-tanda kehamilan
lainnya.
c. Kista ovari : perut membesar bahkan makin bertambah besar namun pada pemeriksaan dalam
rahim teraba sebesar biasa. Reaksi kehamilan negatif, tanda-tanda kehamilan negatif juga.
d. Kandung kemih penuh dan terjadi tetensi urin : pada pemasangan kateter keluar banyak air
kencing.
e. Hematometra : uterus membesar karena terisi darah yang disebabkan himen imperforata,
stenosis vagina atau serviks.

5. Jadwal Pemeriksaan Kehamilan


Kunjungan antenatal untuk pemantauan dan pengawasan kesejahteraan ibu dan anak minimal
4 kali selama kehamilan dalam waktu :
a. Trimester I : 1 x kunjungan (sebelum 14 minggu)
b. Trimester II : 1x kunjungan (14-28 minggu)
c. Trimester III : 2 x kunjungan (28-36 minggu dan sesudah minggu ke 36)
Namun demikian dirasakan ibu hamil untuk memeriksa kehamilannya dengan jadwal sebagai
berikut :
a. Pemeriksaan pertama kali yang ideal adalah sedini mungkin ketika haidnya terlambat 1
bulan.
b. Usia kehamilan < 28 minggu (7 bulan) : 4 minggu sekali kunjungan
c. Usia kehamilan 26-36 minggu (7-9 bulan) : 2 minggu sekali kunjungan
6. Menentukan Umur Kehamilan dan BB Janin Dalam Kandungan
a. Menghitung dari tanggal haid terakhir (HPHT)
b. Ditambahkan 4,5 bulan dari waktu ibu merasa janin hidup “Feeling Life” (Quckening)
c. Menurut Spiegelberg : dengan jalan mengukur tinggu fundus uteri dari simpisis maka
diperoleh tabel :
a. 22-28 minggu 24-25 cm diatas simpisis
b. 28 minggu 26,7 cm diatas simpisis
c. 30 minggu 29,5-30 diatas simpisis
d. 32 minggu 29,5-30 diatas simpisis
e. 34 minggu 31 cm diatas simpisis
f. 36 minggu 32 cm diatas simpisis
g. 38 minggu 33 cm diatas simpisis
h. 40 minggu 37,7 diatas simpisis
d. Menurut Mac Donald : adalah modifikasi spegelbelg yaitu jarak fundus sampai simpisis
dalam cm dibagi 3,5 merupakan tuanya kehamilan dalam bulan
e. Menurut Ahlfeld : ukuran kepala bokong = panjang anak sebenarnya. Bila diukur jarak
kepala-bokong janin adalah 20 cm, maka tua kehamilan adalah 8 bulan.
f. Rumus johnson-Tausk : BB = (MD-12) x 155
BB = berat badan : MD = jarak simpisis – fundus uteri

7. Pemeriksaan Ibu Hamil


a. Anamnesa
1) Anamnesa identitas istri dan suami : nama, umur, agama, pekerjaan, alamat dan sebagainya
2) Anamnesa umum
a. Tentang keluhan-keluhan, nafsu makan, tidur, miksi, defekasi, perkawinan dan sebagainya.
b. Tentang haid kapan mendapat haid terakhir (HT). Bila hari pertama haid terakhir diketahui,
maka dapat dijabarkan taksiran tanggal persalinan memakai rumus Naegel = hari + 7, bulan –
3 dan tahun + 1
c. Tentang kehamilan, persalinan, keguguran dan kehamilan ektopik atau kehamilan mola
sebelumnya.
3) Inspeksi dan pemeriksaan fisik diagnostik
Pemeriksaan seluruh tubuh secara baik dan lege artis : tekanan darah, nadi, suhu, pernafasan,
jantung, paru-paru dan sebagainya.
4) Perkusi
Tidak begitu banyak artinya kecuali bila ada sesuatu indikasi.
5) Palpasi
Ibu hamil disuruh terlentang, kepala dan bahu sedikit lebih tinggi dengan memakai bantal.
Pemeriksa berdiri disebelah kanan ibu hamil. Dengan sikap normal lakukanlah palpasi
bimanual terutama pada pemeriksaan perut dan payudara.
a) Palpasi perut untuk menentukan:
(1) Besar dan konsistensi rahim
(2) Bagian-bagian janin, letak, presentasi
(3) Gerakan janin
(4) Kontraksi rahim Braxton-Hick dan his
b) Pemeriksaan Palpasi :
(1) Leopold 1
(a) Untuk menentukan TFU
(b) Untuk menentukan bagian teratas janin
(2) Leopold II
Menentukan letak punggung dengan satu tangan menekan disebelah kanan atau kiri perut ibu
(3) Leopold III
Menentukan bagian terbawah uterus
(4) Leopold IV
Untuk menentukan kepala sudah masuk pintu atas panggul (PAP) atau belum
6. Auskultasi
Menggunakan stetoskop monoral (stetoskop obstetrik) untuk mendengar Denyut Jantung
Janin (DJJ), cara menghitung DJJ dan DJJ normal :
a. DJJ normal 120 – 160 x /menit
b. Dari janin
1) DJJ pada bulan ke 4-5
2) Bising tali pusat
3) Gerakan tendengan janin
b. Dari Ibu
1) Bising rahim (uterine souffle)
2) Bising aorta
3) Peristaltik usus
Cara menghitung DJJ
a. Setiap menit misalnya 140 x/menit
b. Dihitung 3x5 detik secara beraturan dengan cara ini dapat diketahui teratur tidaknya contoh :
11 12 12
DJJ = 4x (11 + 12 + 13) = 136 x /menit
c. Pemeriksan dalam
1) Vagina toucher (VT)
2) Rectal toucher (RT)

Tabel hubungan tua kehamilan (bulan), besar uterus dan tinggi fundus uteri

No Akhir bulan Besar uterus Tinggu fundus uteri

1. 4 Bulan Lebih besar dari biasa Belum teraba (palpasi)

2. 8 Bulan Telur bebek Dibelakang simpisis

3. 12 Bulan Telur angsa 1-2 jari diatas simpisis

4. 16 Bulan Kepala bayi Pertengahan simpisis pusat

5. 20 Bulan Kepala dewasa 2-3 jari dibawah pusat

6. 24 Bulan Kepala dewasa Kira-kira setinggi pusat

7. 28 Bulan Kepala dewasa 2-3 jari diatas pusat

8. 32 Bulan Kepala dewasa Pertengahan pusat, procesus


xgphordeus

3 jari dibawah Px atau sampai


9. 36 Bulan Kepala dewasa setinggi Px

Sama dengan kehamilan 8


bulan namun melebar
10. 40 Bulan Kepala dewasa kesamping

B. Konsep Teori Menurut Hellen Varney


Menurut Hallen Varney ada 7 langkah dalam manajemen kebidanan yaitu :
1. Langkah 1 : Tahap Pengumpulah Data Dasar
Pada langkah pertama dikumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap dari semua
sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara
:
a. Anamnesis. Dilakukan untuk mendapatkan biodata, riwayat menstruasi, riwayat kesehatan,
riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas, bio-psiko-sosial-spiritual, serta pengetahuan klien.
b. Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital, meliputi :
1) Pemeriksaan khusus (inspeksi, palpasi, auscultasi, dan perkusi )
2) Pemeriksaan penunjang ( laboratorium, radiologi/USG, dan cacatan terbaru serta catatan
sebelumnya ).
Tahap ini merupakan langkah awal yang akan menentukan langkah berikutnya,
sehingga kelengkapan data sesuai dengan kasus yang dihadapi yang akan menentukan proses
interpretasi yang benar atau tidak dalam tahap selanjutnya. Sehingga dalam pendekatan ini
harus komprehensif meliputi data subjektif, objektif dan hasil pemeriksaan sehingga dapat
menggambarkan kondisi pasien yang sebenarnya dan valid.
Kaji ulang data yang sudah dikumpulkan apakah sudah tepat, lengkap dan akurat.

2. Langkah 2 : Interpretasi Data Dasar


Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosis atau masalah berdasarkan
interpretasi atas data-data yang telah dikumpulkan.
Data dasar yang telah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga dapat merumuskan
diagnosis dan masalah yang spesifik. Rumusan diagnosis dan masalah keduanya digunakan
karena masalah tidak dapat didefinisikan seperti diagnosis tetapi tetap membutuhkan
penanganan. Masalah sering berkaitan dengan hal-hal yang sedang dialami wanita yang
diidentifikasi oleh bidan sesuai dengan hasil pengkajian. Masalah juga sering menyertai
diagnosis.
Diagnosis kebidanan adalah diagnose yang ditegakkan bidan dalam lingkup praktek
kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnose kebidanan.
Standar nomenklatur diagnosis kebidanan :
a. Diakui dan telah disahkan oleh profesi.
b. Berhubungan langsung dengan praktek kebidanan.
c. Memiliki cirri khas kebidanan.
d. Didukung oleh clinical judgement dalam praktek kebidanan.
e. Dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan.

3. Langkah 3 : Mengidentifikasi Diagnosis atau Masalah Potensial dan Mengantisipasi


Penanganannya.
Pada langkah ini bidan mengidantifikasi masalah potensial atau diagnosis potensial
berdasarkan diagnosis atau masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan
antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan
bersiap-siap mencegah diagnosis atau masalah potensial ini menjadi benar-benar terjadi.
Langkah ini penting sekali dalam melakukan asuhan yang aman.
Pada langkah ketiga ini bidan dituntut untuk mampu mengantisipasi masalah potensial,
tidak hanya merumuskan masalah potensial yang akan terjadi tetapi juga merumuskan
tindakan antisipasi agar masalah atau diagnosis potensial tidak terjadi. Sehingga langkah ini
benar merupakan langkah yang bersifat antisipasi yang rasional atau logis.
Kaji ulang apakah diagnosis atau masalah potensial yang diidentifikasi sudah tepat.

4. Langkah 4 : Menetapkan Kebutuhan Terhadap Tindakan Segera


Mengindentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan atau tenaga
konsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan
kondisi klien.
Langkah keempat mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan. Jadi
manajemen bukan hanya selama asuhan primer periodik atau kunjungan prenatal saja tetapi
juga selama wanita tersebut bersama bidan terus menerus, misalnya pada waktu wanita
tersebut dalam persalinan.
Data baru mungkin saja dikumpulkan dan dievaluasi. Beberapa data mungkin
mengidentifikasi situasi yang gawat dimana bidan harus bertindak segera untuk kepentingan
keselamatan jiwa ibu atau anak.
Data baru mungkin saja dikumpilkan dapat menunjukkan satu situasi yang memerlukan
tindakan segera sementara yang lain harus menunggu intervensi dari seorang dokter. Situasi
lainnya tidak merupakan kegawatan tetapi memerlukan konsultasi atau kolaborasi dengan
dokter.
Demikian juga bila ditemukan tanda-tanda awal dari preeklampsia, kelainan panggul,
adanya penyakit jantung, diabetes, atau masalah medic yang serius, bidan memerlukan
konsultasi atau kolaborasi dengan dokter.
Dalam kondisi tertentu seorang wanita mungkin juga akan memerlukan konsultasi atau
kolaborasi dengan dokter atau tim kesehatan lain seperti pekerja sosial, ahli gizi atau seorang
ahli perawatan klinis bayi baru lahir. Dalam hal ini bidan harus mampu mengevaluasi
kondisi setiap klien untuk menentukan kepada siapa konsultasi dan kolaborasi yang paling
tepat dalam manajemen asuhan kebidanan.
Kaji ulang apakah tindakan segera ini benar-benar dibutuhkan.

5. Langkah 5 : Menyusun Rencana Asuhan yang Menyeluruh.


Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh ditentukan oleh langkah-langkah
sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap masalah atau diagnose
yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini informasi data yang tidak lengkap
dapat dilengkapi.
Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah terindentifikasi
dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang berkaitan tetapi juga dari kerangka pedoman
antisipasi terhadap wanita tersebut seperti apa yang diperkirakan akan terjadi berikutnya,
apakah dibutuhkan penyuluhan, konseling dan apakah perlu merujuk klien bila ada masalah-
masalah yang berkaitan dengan sosial ekonomi-kultural atau masalah psikologis. Dengan
kata lain, asuhan terhadap wanita tersebut sudah mencakup setiap hal yang berkaitan dengan
setiap aspek asuhan kesehatan. Setiap rencana asuhan haruslah disetujui oleh kedua pihak,
yaitu oleh bidan dank lien agar dapat dilaksanakan dengan efektif karena klien juga akan
melaksanakan rencana asuhan bersama klien kemudian membuat kesepakatan bersama
sebelum melaksanakannya.
Semua keputusan yang dikembangkan dalam asuhan menyeluruh ini harus rasional dan
benar-benar valid berdasarkan pengetahuan dan teori yang up to dateserta sesuai dengan
asumsi tentang apa yang akan dilakukan klien.

6. Langkah 6 : Pelaksanaan Langsung Asuhan dengan Efisien dan Aman.


Pada langkah keenam ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada
langkah kelima dilaksanakan secara efisien dan aman. Perencanaan ini bias dilakukan seluruh
oleh bidan atau sebagian lagi oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya. Walau bidan
tidak melakukannya sendiri, ia tetap memikul tanggungjawab untuk mengarahkan
pelaksanaannya, misalnya memastikan langkah-langkah tersebut benar-benar terlaksana.
Dalam situasi di mana bidan berkolaborasi dengan dokter untuk menangani klien yang
mengalami komplikasi, maka keterlibatan bidan dalam manajemen asuhan bagi klien adalah
tetap bertanggungjawab terhadap terlaksananya rencana asuhan bersama yang menyeluruh
tersebut. Manajemen yang efisien akan menyangkut waktu dan biaya serta meningkatkan
mutu dan asuhan klien.
Kaji ulang apakah semua rencana asuha telah dilaksanakan.

7. Langkah 7 : Evaluasi
Pada langkah ketujuh ini dilakukan evaluasi kefektifan dari asuhan yang sudah diberikan
meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai
kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi dalam diagnose dan masalah. Rencana tersebut
dapat dianggap efektif jika memang benar efektif dalam pelaksanaannya.
Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut efektif sedangkan sebagian belum
efektif. Mengingat bahwa proses manajemen asuhan ini merupakan suatu kegiatan yang
berkesinambungan maka perlu mengulang kembali dari awal setiap asuhan yang tidak efektif
melalui manajemen tidak efektif serta melakukan penyusaian terhadap rencana asuhan
tersebut.
Langkah-langkah proses manajemen umumnya merupakan pengkajian yang memperjelas
proses pemikiran yang mempengaruhi tindakan serta berorientasi pada proses klinis, karena
proses manajemen tersebut berlangsung di dalam situasi klinik dan dua langkah terakhir
tergantung pada klien dan situasi klinik, maka tidak mungkin proses manajemen ini
dievaluasi dalam tulisan saja.
C. Implementasi Manajemen Kebidanan Varney
1. Langkah I : Pengkajian
Adalah pengumpulan data dasar untuk mengevaluasi keadaan klien.Data yang dikumpulkan
meliputi data subjektif dan data objektif serta data penunjang (bila ada).
a. Data subjektif
Data ini bisa didapat dengan cara anamnesa yaitu tanya jawab antara klien dengan petugas
kesehatan (auto anamnesa) maupun antara petugas kesehatan dengan orang lain yang
mengetahui keadaan / kondisi klien (alo anamnesa). Anamnesa dapat dilakukan pada pertama
kali klien datang (secara lengkap) dan anamnesa selanjutnya / ulang untuk hal yang
diperlukan saja setelah melakukan review data yang lalu.
Hal – hal yang perlu dikaji dalam dat subjektif, meliputi :
1) Biodata
a) Nama klien
Dimaksudkan agar lebih mengenal klien sehingga tercipta hubungan interpersonal yang
baik, sehingga bidan lebih mudah dalam memberikan asuhannya karena klien lebih
kooperatif.
b) Umur
Untuk mengetahui apakah umur klien termasuk dalam usia produktif atau usia beresiko
tinggi untuk hamil, karena umur yang < 20 tahun atau > 35 tahun beresiko tinggi bila hamil.
c) Pendidikan
Dimaksudkan untuk mengetahui tingkat pendidikan dan tingkat intelegensi klien,
sehingga bidan bisa menyesuaikan cara pemberian Konseling, Informasi dan Edukasi (KIE)
dengan kemampuan daya tangkap klien.
d) Pekerjaan
Dimaksudkan untuk mengetahui tingkat sosial ekonomi klien yang tentunya berpengaruh
dengan kemampuan klie dalam pemenuhan kebutuhan nutrisinya.Hal ini juga dapat
membantu bidan dalam pemberian KIE tentang nutrisi ibu hamil.Selain itu juga untuk
mengetahui apakah pekerjaan yang dilakukan klien dapat mengganggu kehamilan atau tidak.
e) Suku atau bangsa
Berpengaruh pada adat istiadat atau kebiasaan sehari – hari.
f) Agama atau kepercayaan
Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui agama atau kepercayaan yang dianut klien,
sehingga bidan secara tidak langsung dapat menyesuaikan pemberian KIE yang sesuai
dengan ajaran-ajaran maupun norma-norma agama atau kepercayaan yang dianut.
g) Alamat
Ditanyakan untuk maksud mempermudah hubungan bila diperlukan bila keadaan
mendesak. Dengan diketahuinya alamat tersebut, bidan dapat mengetahui tempat tinggal
pasien/klien dan lingkunganya. Dengan tujuan untuk mempermudah menghubungi
keluarganya, menjaga kemungkinan bila ada nama ibu yang sama, untuk dijadikan saat
kunjungan rumah.
h) Penanggung jawab
Untuk mengetahui siapa yang bertanggung jawab terhadap klien, sehingga bila sewaktu –
waktu dibutuhkan bantuannya dapat segera ditemui.

2) Keluhan pasien
Perlu dikaji untuk mengetahui hal apa saja yang dikeluhkan dalam kehamilannya ini,
terutama keluhan saat pengkajian dilakukan. Keluhan-keluhan yang muncul pada ibu hamil
kembar berbeda-beda dalam tiap trimesternya, dan keluhannya khas untuk masing-masing
ibu.Keluhan juga perlu dikaji untuk mengetahui adakah tanda dan gejala yang mengarah pada
bahaya maupun ketidaknormalan (patologis).

3) Riwayat kesehatan
a) Riwayat kesehatan dahulu
Untuk mengetahui apakah dahulu ibu mempunyai penyakit yang berbahaya bagi
kehamilannya.Selain itu untuk mengetahui apakah ibu pernah menjalani operasi yang
berhubungan dengan organ reproduksinya atau tidak, karena akan berpengaruh pada
kehamilanya
b) Riwayat kesehatan sekarang
Untuk mengetahui apakah pada saat sekarang ini ibu benar-benar dalam keadaan sehat,
tidak menderita suatu penyakit kronis seperti ashma, jantung, TBC, hipertensi, ginjal, DM
dan lainnya, karena apabila ada gangguan kesehatan pada saat ibu hamil akan secara tidak
langsung berpengaruh pada kehamilannya baik itu pada diri ibu sendiri maupun
perkembangan dan pertumbuhan janin yang dikandungnya.
c) Riwayat kesehatan keluarga
Hal penting yang perlu dikaji bila ada riwayat penyakit menular dalam keluarga ibu
maupun suami (seperti hepatitis, TBC, HIV/AIDS, PMS) yang dapat menularkan kepada
anggota keluarga yang lain. Juga pelu dikaji bila ada rieayat penyakit keturunan dalam
keluarga ibu maupun suami seperti jantung, DM, ashma, hipertensi, dan lainnya, karena dapat
menurunkan kepada anggota keluarga yang lain dan dapat membahayakan apabila penyakit –
penyakit tersebut terjadi pada ibu yang sedang hamil.

4) Riwayat obstetri
a) Riwayat haid
Beberapa hal yang perlu dikaji di dalam riwayat haid meliputi umur menarche,siklus haid
(teratur atau tidak), lama haid, dysmenorrhea(ya atau tidak) dan HPHT (Haid Pertama Haid
Terakhir). Dengan diketahuinya HPHT maka bidan dapat menentukan HPLnya (Hari
Perkiraan Lahir), usia kehamilan sehingga keadaan kehamilannya dapat dipantau, terutama
untuk memantau pertambahan BB, TFU (Tinggi Fundus Uteri) dan frekuensi gerak anak,
karena hal tersebut dapat mendukung dalam penegakkan diagnose kehamilan, selain melalui
palpasi dan USG.
b) Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu
Hal ini perlu dikaji untuk mengetahui apakah ibu memiliki riwayat obstetric yang buruk
atau tidak baik dalam kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu, sehingga bila memang ibu
memiliki riwayat obstetric yang buruk maka dapat dipersiapkan tindakan-tindakan untuk
pencegahan.
c) Riwayat kehamilan sekarang
Hal-hal yang perlu dikaji di dalamnya antara lain berapa kali ibu sudah melakukan ANC,
di mana ibu memperoleh ANC, apakah ibu sudah mendapatkan imunisasi TT dan berapa kali
mendapatkannya, apakah ibu teratur minum tablet tambah darah, kalk dan vitamin yang ibu
peroleh setiap kali control, apakah ada keluhan atau komplikasi selama ibu hamil dan apakah
ibu mempunyai kebiasaan-kebiasaan mengkonsumsi obat-obatan, merokok, minum jamu dan
alcohol dan sebagainya, sehingga bidan dapat memantau perkembangan kehamilannya. Pada
kehamilan, pemeriksaan ANC harus lebih sering guna untuk mengetahui pertumbuhan dan
perkembangan janin yang dikandung.

5) Riwayat perkawinan
Dikaji untuk mengetahui sudah berapa lama klien menikah, sudah berapa kali klien
menikah, berapa umur klien dan suami pada saat menikah, sehingga dapat diketahui apakah
klien masuk dalam infertilitas sekunder atau bukan.Selain itu secara normal juga untuk
mengetahui apakah anak yang dikandungnya sah secara hokum atau anak hasil hubungan di
luar nikah karena dapat berpengaruh terhadap penerimaan ibu terhadap kehamilannya.

6) Riwayat KB
Untuk mengetahui apakah ibu sudah menjadi akseptor KB sebelum hamil atau tidak,
metode kontrasepsi yang digunakan apa dan sudah berapa lama ibu menjadi akseptor KB
serta rencana KB apa yang akan digunakan ibu (klien) setelah melahirkan.

7) Pola pemenuhan kebutuhan sehari – hari


Pola ini perlu dikaji untuk mengetahui apakah ibu sudah menunjukkan perilaku hidup
sehat dalam kehidupannya sehari – hari atau belum. Pola – pola yang dikaji di dalamnya,
meliputi :
a) Pola nutrisi
Dikaji tentang jenis makanan yang dikonsumsi klien, apakah ibu hamil (klien) sudah
makan teratur 3x sehari atau belum, apakah sudah mengkonsumsi makanan yang sesuai
dengan menu seimbang (nasi, lauk-pauk, sayur dan buah) atau belum, karena asupan nutrisi
juga akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin yang dikandungnya.
Selain makanan, berapa kali minum dalam sehari juga perlu dipertanyakan, hal ini juga
dimaksudkan untuk mencegah keadaan kekurangan cairan.
b) Pola eliminasi
Eliminasi yang dikaji adalah BAB dan BAK.BAB perlu dikaji untuk mengetahui berapa
kali ibu BAB setiap harinya dan bagaimana konsistensi warna fecesnya, biasanya pada ibu
hamil kemungkinan besar terkena sembelit karena pengaruh dari hormon progesterone dan
juga warna dari fecesnya terkadang hitam yang disebabkan oleh tablet Fe yang dikonsumsi
selama hamil.
BAK dikaji untuk mengetahui berapa kali ibu BAK setiap harinya, lancar atau tidak.
Biasanya ibu yang hamil apalagi hamil kembar akan sering BAK karena adanya penekanan
pada kandungan kencing oleh uterus (TM 1) dan oleh kepala janin (TM II-III).
c) Pola istirahat
Dikaji untuk mengetahui apakah ibu dapat beristirahat dengan cukup dan tenang setiap
harinya atau tidak, karena dapat berpengaruh terhadap kondisi kesehatannya apabila tidak
mempunyai cukup waktu untuk beristirahat.
d) Pola personal hygiene
Dikaji untuk mengetahui apakah ibu sudah menerapkan perilaku hidup sehat dalam
kehidupannya. Kebersiahan diri yang paling dan harus diperhatikan oleh ibu hamil adalah
kebersihan alat kelamin (genetalia), apabila ibu tidak menjaga genetalia akan memudahkan
masuknya kuman ke dalam kandungan.
e) Pola seksual
Dikaji untuk mengetahui apakah selama hamil ibu melakukan hubungan seksual atau
tidak, karena pada dasarnya hubungan seksual boleh dilakukan selama hamil, asal umur
kehamilan ibu cukup besar, karena hubungan seksual yang dilakukan pada saat hamil
mudaakan sangat berpengaruh terhadap kondisi janin yang dikandung.

8) Psikologi dan sosiospiritual ibu


Dikaji untuk mengetahui bagaiman penerimaan ibu terhadap kehamilannya.Dikaji
pula apakah pihak keluarga mendukung kehamilan ibu, bagaiman hubungan ibu dengan
keluarga dan masyarakat sekitar, apakah ibu mempunyai hewan peliharaan, karena hewan
peliharaan dapat menyebabkan penyakit TORCH pada ibu hamil yang dapat mengancam
janin yang dikandungnya.
b. Data objektif
1) Pemeriksaan umum, meliputi :
a) Keadaan umum
Dikaji pada saat pertama kali pasien datang.Lihat apakah pasien tampak baik atau
tampak lemah dan pucat.Hal ini penting untuk mengetahui bila ibu mengalami anemia yang
merupakan komplikasi tersering dari kehamilan.
b) Tanda-tanda vital (Vital sign)
Vital sign terpenting yang harus selalu dikaji, yaitu:
(1) Tekanan darah
Tekanan darah pada ibu hamil perlu dikaji secara teratur untuk mengetahui bila ibu
mengalami preeklamsia terutama selama trimester II dan III.Waspadai bila tekanan darah
sistolik ibu > 140 mmHg dan diastolic > 90 mmHg.

(2) Berat badan


Kenaikan berat badan yang normal pada ibu hamil yaitu 6,5 kg – 16,5 kg selama
hamil.
2) Status present
a) Kepala :
Untuk observasi bentuk, benjolan, infeksi pada kepala.Palpasi bila tampak benjolan untuk
mengetahui besar, bentuk, kekenyalan dan mobilitasnya.
b) Rambut :
Untuk mengetahui keadaan rambut, seperti hitam, lebat, tidak berbau, tidak berketombe.
c) Muka :
Untuk mengetahui bentuk muka lonjong atau bulat, ada atau tidak ada kelainan.
d) Mata :
Untuk mengetahui mata simetris atau tidak, apakah terjadi anemia atau tidak pada
conjungtiva, sklera ikterik atau tidak.
e) Hidung :
Untuk mengetahui kebersihan, ada atau tidak ada polip atau secret.
f) Telinga :
Untuk mengetahui kebersihan, ada atau tidak ada serumen di telinga.
g) Mulut :
Untuk mengetahui kebersihan dan keadaan konstruksi gigi apakah terjadi kekeroposan
atau tidak dimana hal ini menjadi indikasi adanya kekurangan kalsium atau tidak, ada
stomatitis atau tidak.
h) Leher :
Untuk mengetahui ada atau tidak ada pembesaran kelenjar getah bening, ada atau tidaknya
struma atau kelenjar gondok, dan ada atau tidaknya pembesaran vena jugularis.
i) Dada :
Observasi bentuk thorak.Misal, apakah kifosis atau tidak.
j) Payudara :
Observasi dilakukan untuk mengetahui bentuk payudara.Palpasi dilakukan untuk
mengetahui ada tidaknya benjolan, rasa sakit (oleh karena adanya infeksi).
k) Aksila :
Observasi dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya benjolan.Palpasi dilakukan untuk
mengetahui ada tidaknya rasa sakit dan tumor.
l) Abdomen :
Untuk mengetahui bentuk abdomen membujur / melintang.Ada tidaknya bekas operasi.
m) Pinggang :
Untuk mengetahui adanya nyeri tekan pada daerah ginjal.
n) Punggung :
Untuk mengetahui bentuk tulang punggung, misal apakah lordosis atau tidak.
o) Anus :
Untuk mengetahui ada atau tidak ada hemoroid.
p) Genetalia :
Untuk mengetahui kebersihan genetalia, adanya keputihan atau tidak.
q) Ekstremitas :
Atas : Obeservasi keadaan tangan terutama kelengkapan
jari tangan, kuku pucat atau sianosis, oedem atau
tidak.
Bawah : Obeservasi keadaan kaki terutama kelengkapan
jari tangan, kuku pucat atau sianosis, oedem atau
tidak, adanya varises atau tidak.
r) Kulit :
Observasi kelembaban kulit ibu dengan kembalinya turgor kulit.
3) Pemeriksaan obstetri
a) Inspeksi
(1) Muka
Dikaji apakah ada chlosma gravidarum, apakah ada oedema muka, terutama pada
trimester II dan III yang dapat mengarah pada preeklamsia, terutama bila tekanan darah ibu
tinggi.
(2) Dada
Kaji mammae ibu dan kesiapan masa laktasi yang meliputi bagaimana bentuk putting
susunya, pigmentasi pada areola mammae dan putting, bentu payudara serta apakah
kolostrum sudah keluar atau belum.
(3) Abdomen
Lihat apakah ada linea nigra dan striae. Biasanya pada kehamilan kembar, striae akan
sangat jelas terlihat karena peregangan dari kulit perut akibat perbesaran perut ibu.
(4) Vulva
Kaji apakah ada oedema, varises dan kondiloma yang nantinya dapat mengganggu
proses persalinan pervaginam, karena varises dapat pecah saat persalinan dan menimbulkan
perdarahan.
b) Palpasi leopold
(1) LI : Pada leopold I dikaji bagian janin apakah yang ada pada fundus uteri, apakah kepala
(bulat keras) atau bokong janin (bulat lunak). Pada kehamilan kembar dapat teraba dua
bagian besar janin pada fundus uteri. Tetapi bila kehamilan masih dalam Trimester I dan awal
Trimester II, leopold I hanya untuk mengetahui adanya ballottement.
(2) LII : Leopold II ini efektif digunakan bila umur kehamilan sudah menginjak usia 6 bulan,
karena bagian-bagian janin sudah mulai dapat dibedakan. Leopold II ini dilakukan untuk
mengetahui dimanakah letak punggung janin yang ditandai dengan terabanya bagian panjang,
keras, danada tahanan dan juga untuk mengetahui dimanakah letak ekstremitas janin yang
dtandai dengan terabanya bagian-bagian kecil.
(3) LIII : Dilakukan untuk mengetahui bagian terbawah janin, yaitu bulat lunak/bulat keras.
Masih bisa digoyangkan atau tidak.
(4) LIV : Dilakukan untuk mengetahui apakah bagian bawah janin sudah masuk PAP atau
belum. Apabila posisi tangan difergen berarti bagian bawah janin sudah masuk PAP dan
konvergen apabila bagian bawah janin belum masuk PAP.
c) Auskultasi
Mendengarkan DJJ menggunakan linex ataupun doppler. DJJ normal 120 – 160 x / menit.
4) Data penunjang
a) Pemeriksaan dalam
Dilakukan untuk mengetahui ukuran panggul dalam ibu dan kemungkinan jalan lahir
dapat dilewati oleh janin.
Ukuran panggul luar :
(1) Distansia spinarum : 23 – 26 cm
(2) Distansia kristarum : 26 – 29 cm
(3) Lingkar panggul : 80 – 90 cm
(4) Conjugata eksterna : 18 – 20 cm
b) Pemeriksaan Hb
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menentukan keadaan hemoglobin ibu dalam darah dan
apakah ada anemia.Kadar Hb ibu hamil normal yaitu 11 gr / dl.
c) Pemeriksaan protein urine
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui adanya protein dalam urine.Adanya protein
dalam urine, menunjukkan ibu mengalami preeklamsia.
d) Pemeriksaan USG
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menegakkan diagnosis kehamilan normal.
2. Langkah II : Identifikasi masalah diagnosa dan kebutuhan (intrepretasi data)
Dalam langkah ini data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan menjadi
diagnose spesifik yang sudah diidentifikasi. Interpretasi data diambil berdasarkan data – data
yang telah dikumpulkan pada langkah pengkajian.Susunan interpretasi data, mengacu pada
diagnosa.Diagnosa yang dapat ditegakkan adalah gravida, para, abortus, umur ibu, umur
kehamilan dan keadaan janin (jumlah, presentasi dan letak janin).Pada kasus ini diagnosa
yang dapat ditegakkan adalah gravida, para, abortus, umur ibu, umur kehamilan dengan
kehamilan normal.
Dasar – dasar dari diagnosa tersebut adalah :
a. Pernyataan klien tentang jumlah kehamilan yang dialaminya.
b. Pernyataan klien tentang jumlah persalinan yang dialaminya.
c. Pernyataan klien tentang jumlah abortus yang dialaminya.
d. Pernyataan klien tentang umurnya.
e. Pernyataan klien tentang HPHT.
f. Hasil palpasi Leopold I, yaitu hasil pengukuran TFU.
g. Hasil palpasi Leopold II, teraba satu bagian besar janin dan bagian – bagian kecil janin.
h. Hasil palpasi Leopold III, yaitu teraba bagian terendah janin.
i. Hasil palpasi Leopold IV, yaitu diketahui apakah bagian terendah janin sudah masuk PAP
atau belum.
j. Denyut jantung janin pada auskultasi.
3. Langkah III : Identifikasi diagnosa atau masalah potensial
Langkah ke- 3 ini dibuat berdasarkan keadaan ibu yang mungkin terjadi yang dapat
diketahui dari pemeriksaan objektif dan data penunjang serta yang membutuhkan tindakan
antisipasi.
4. Langkah IV : Identifikasi kebutuhan yang membutuhkan penanganan segera (antisipasi)
Langkah ke- 4 ini akan muncul bila langkah ketiga muncul. Langkah ini berupa
tindakan yang harus segera bidan lakukan maupun berkolaborasi dengan tenaga kesehatan
yang lebih kompeten karena adanya diagnose potensial.
5. Langkah V : Merencanakan asuhan yang menyeluruh
Langkah ini merupakan lanjutan dari diagnosa yang telah diidentifikasi. Rencana
asuhan yang akan diberikan harus menyeluruh. Tidak hanya meliputi apa yang sudah terlihat
dari kondisi klien atau masalah yang berkaitan tetapi juga tentang perkiraan atau
kemungkinan yang akan terjadi berikutnya.
6. Langkah VI : Pelaksanaan perencanaan
Setiap rencana yang telah dibuat oleh bidan dilaksanakan dalam langkah ini. Caranya
dengan memberitahu klien tentang apa saja yang harus klien lakukan berkaitan dengan
kehamilannya serta anjuran – anjuran apa saja yang harus dilaksanakan oleh klien. Bidan
dalam hal ini tetap memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan
pelaksanaannya.Pelaksanaan perencanaan juga dapat dilakukan secara kolaborasi apabila
bidan tidak mempunyai kewenangan dalam menangani hal – hal yang tidak normal atau
patologi.
7. Langkah VII : Evaluasi
Langkah VII ini untuk mengevaluasi hasil pelaksanaan asuhan kebidanan sesuai
dengan diagnosa yang telah diidentifikasi. Apabila dalam pelaksanaannya belum efektif,
maka akan berpengaruh pula terhadap kegiatan evaluasinya sehingga perlu mengulang
kembali dari awal setiap asuhan yang akan diberikan.

BAB II
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL NORMAL


Ny S UMUR 26 TAHUN G1P0A0 HAMIL 38 MINGGU 5 HARI
DI BPM NY. RIYANTI ACHWAN Amd.Keb
BUGEN BANGETAYU SEMARANG

Tempat Praktek : Bidan Riyanti Amd.Keb Nama Mahasiswa : Lina Fathma


Tanggal Masuk : 27 Juni 2014 Tingkat/Semester : II/IV

I. PENGKAJIAN
A. Data Subyektif
Identitas/ Biodata
Nomer RM :
Nama Ibu : Ny S Nama Suami : Tn. M
Umur : 26 tahun Umur : 29 tahun
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan/ Penghasilan : Swasta Pekerjaan : Swasta
Suku/ Bangsa : Jawa/Indonesia Suku/bangsa : Jawa/Indonesia
Agama : Islam Agama : Islam
Alamat : Tlogosari wetan Rt 10 Rw 03 Pedurungan Semarang

Anamnesa pada tanggal 27 Juli 2014 pukul 18.30 WIB


1. Alasan datang : Ibu mengatakan ingin kontrol ulang kehamilan
2. Keluhan Utama : Ibu menyatakan kenceng – kenceng sejak tadi siang pada pukul 12.00 WIB
3. Riwayat Kesehatan :
a. Riwayat kesehatan sekarang
Ibu menyatakan tidak sedang menderita penyakit menular ( HIV/AIDS, TBC, hepatitis),
menurun (DM,hipertensi, asma), menahun (jantung, ginjal)
b. Riwayat kesehatan yang lalu
Ibu menyatakan bahwa tidak pernah menderita penyakit menular seperti (HIV/AIDS, TBC,
hepatitis) menurun seperti ( hipertensi, DM,Asma) dan menahun seperti (jantung , ginjal)
c. Riwayat kesehatan keluarga

16

Ibu menyatakan bahwa dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular (
HIV/AIDS,TBC, hepatitis), menurun ( DM, hipertensi), menahun ( jantung, ginjal)
4. Riwayat perkawinan :

a. Umur waktu menikah : 24 tahun


b. Lama : 2 tahun
c. Perkawinan ke : 1
d. Jumlah anak: -
5. Riwayat menstruasi :
a. Menarche : 12 tahun Siklus : ± 28 hari
b. Lama : ±7 hari Jumlah : 2-3 x /ganti pembalut
c. Warna : Merah keluhan : tidak ada

6. Riwayat kehamilan sekarang :


a. HPHT : 01-10-2013 HPL: 08-07-2014
b. Haid bulan sebelumnya : september Lama: ±7 hari
c. Siklus : ±28 hari
d. ANC : teratur, 8x di Bidan
e. Imunisasi TT : 2x di Bidan
f. Keluhan selama hamil :
TM I : Mual, muntah , Therapy :B 6 2X1
TM II : tidak ada keluhan
TM III : tidak ada keluhan
g. Pergerakan janin selama 24 jam terahir : aktif ± 10 kali
h. BB sebelum hamil : 50 kg
7. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu :

Ham Penyulit/ Tgl Jenis Jenis Penyulit / Penolon BB Keadaa Nifa


il Ke Lahi Kelami Persalin komplika g lahi n Anak s
komplika r n Anak an si r
si Ana
k

1 Hamil ini - - - - - - - -

8. Riwayat KB :

Jenis Lama penggunaan Keluhan Alasan berhenti


Dahulu : - - - -

Rencana: belum tahu

9. Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari :

Kebutuhan Sebelum hamil Selama hamil Keluhan

Nutrisi :

 Makan 3x/hari ( nasi, 3x/hari ( nasi, sayur, lauk, Malas


sayur, lauk) buah – buahan ) makan
pada
Ibu minum setiap ± 8 gelas ( air putih, susu) trimester
 Minum saat ketika ibu 1
merasa haus

Eliminasi :

 BAK 4 – 5 x /hari, 4 – 6 x /hari, jernih -


jernih
 BAB 2 hari sekali -
1x /hari, teratur

Istirahat 7 – 8 jam /hari Siang 2 jam, malam 8 jam -

Aktifitas Ibu melakukan Ibu melakukan aktifitas -


aktifitas rumah rumah tangga
tangga

Personal Hygiene Mandi 2x /hari, Mandi 2x /hari, gosok gigi -


gosok gigi 2x 2x /hari,kramas 2 hari
/hari,kramas 2 sekali, ganti celana dalam
hari sekali, ganti 2x /hari
celana dalam 2x
/hari

Rekreasi Kadang – kadang Kadang – kadang -

Pola seksual 2 – 3 x /minggu 1 x /minggu -

10. Data Psikologis :


Ibu menyatakan bahwa ibu dan keluarganya menerima dan merasa senang dengan
kehamilannya.
11. Data Sosial, ekonomi, budaya :
a. Hewan peliharaan : ibu menyatakan tidak memiliki hewan peliharaan.
b. Lingkungan : ibu menyatakan lingkungan rumahnya bersih, nyaman dan tidak kumuh.
c. Hubungan dengan suami dan/ keluarga : ibu menyatankan hubungannya dengan keluarga
dan suami harmonis, saling menyayangi dan menerima kehadiran bayinya
d. Adat istiadat : ibu menyakan tidak ada pantangan adat istiadat dalam pengambilan keputusan
e. Pengambilan keputusan : keluarga terutama suami
f. Penghasilan : cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga
12. Data Spiritual : ibu menyatakan beragama islam menjalankan sholat 5 waktu sesuai dengan
kepercayaannya
13. Pengetahuan Ibu :
a. Tentang kehamilan : ibu mengatakan sudah mengetahui tentang kehamilannya dan
mengetahui tentang tanda bahaya kehamilan seperti: (ketuban pecah sebelum waktunya,
gerakan janin berkurang, oedema, dll)
b. Tentang senam hamil : ibu mengetahui tentang senam hamil tetapi ibu tidak melakukannya
d. Tentang persiapan persalinan : ibu sudah mempersiapkan persalinan seperti peralatan bayi

B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan umum
a. Keadaan Umum : Baik
b. Kesadaran : Composmenthis
c. Status emosional : Stabil
d. Tanda vital
1) Tensi : 110/70 mmHg BB sebelum : 50 kg
2) Nadi : 84x/ menit BB sekarang : 59 kg
3) RR : 20x/ menit TB : 146 cm
4) Suhu : 36,2º C Lila : 30 cm
e. Status present
1) Kepala : Mesochepal
a) Rambut : bersih, distribusi merata, tidak rontok dan kulit kepala tidak ketombe
b) Muka : tidak ada oedema, tidak pucat
c) Mata : conjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
d) Hidung : bersih, tidak ada polip
e) Telinga : tidak ada serumen, simetris
f) Mulut : tidak ada caries dentis, tidak stomatitis, gusi tidak berdarah, lidah bersih dan gigi
tidak berlubang
2) Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid , kelenjar limfe dan vena jugularis
3) Dada : simetris, tidak ada retraksi dinding dada
4) Mammae : simetris, tidak ada benjolan abnormal
5) Perut : tidak ada pembesaran hati dan limfa, tidak ada bekas oprasi
6) Pinggang : tidak ada nyeri tekan pada daerah ginjal, dan abdomen
7) Punggung : tulang belakang lordosis oleh karena kehamilan
8) Genetalia : bersih, tidak ada varises
9) Anus : tidak ada hemoroid
10) Ekstremitas
a) Atas : tidak ada varises, tidak oedema, tidak pucat, tugor baik, jari – jari lengkap.
b) Bawah : tidak pucat, tidak ada nyeri tekan, tidak oedema, tidak sianosis, tidak ada varises,
turgor cepat kembali, jari lengkap
2. Pemeriksaan Obstetri
a. Inspeksi
1) Wajah/muka : Tidak ada cloasma gravidarum, tidak bengkak.
2) Mammae : Simetris, kelenjar Montgomery membesar, putting verted, areola
hiperpigmentasi, kolostrum belum keluar, tidak ada benjolan abnormal
3) Abdomen : Nampak linea nigra dan strie, pembesaran sesuai usia kehamilan.
4) Genetalia : tidak ada albus
b. Palpasi
1) Leopold I : TFU 2 jari dibawah PX, bagian fundus teraba lunak, bulat, tidak ada
lentingan yaitu bokong. TFU : 31 cm
2) Leopold II : bagian kanan perut ibu teraba bagian kecil-kecil yaitu ekstremitas janin,
sedangkan bagian perut kiri teraba keras memanjang , ada tahanan yaitu punggung janin
3) Leopold III : bagian bawah janin teraba bulat keras ada lentingan dan tidak bisa di goyang
yaitu kepala
4) Leopold IV : kepala sudah masuk PAP ( devergen)
c. Mc. Donald : 31 cm
: TBJ : (31-11)x155 : 3000 gram
d. Auskultasi
DJJ :
Frekuensi : 140 kali/menit
Irama : teratur
Interval : 12-12-12
e. Perkusi (reflek patella) : (+/+)
f. Periksa Dalam : tidak dilakukan
g. UPL :
Distansia spinarum : 25 cm
Distansia cristarum : 27 cm
Conjugata externa : 19 cm
Lingkar panggul : 85 cm
3. Pemeriksaan Penunjang/ laboratorium
a. Protein urine : Negatif
b. HB : 11,5

II. INTERPRETASI DATA DASAR


Ny S umur 26 tahun G1P0A0 usia kehamilan 38 minggu 5 hari janin tunggal hidup
intra uterin letak membujur presentasi kepala sudah masuk PAP Ʉ puki
Dasar :
DS :
a. Ibu menyatakan bernama ny. S dan berumur 26 tahun
b. Ibu menyatakan hamil yang pertama, belum pernah keguguran
c. Ibu menyatakan HPHT 01 – 10 – 2013
d. Ibu menyatakan merasakan gerakan janin yang aktif
DO :
a. KU : Baik
b. Kesadaran : composmentis
c. Leopold I : TFU 2 jari di bawah PX, bagian fundus teraba lunak, bulat, tidak ada
lentingan yaitu bokong, TFU : 31 cm
d. Leopold II : bagian kanan perut ibu teraba bagian kecil-kecil yaitu ekstremitas janin,
sedangkan bagian perut kiri teraba keras memanjang , ada tahanan yaitu punggung janin.
e. Leopold III : bagian bawah janin teraba bulat keras ada lentingan dan tidak bisa di goyang
yaitu kepala
f. Leopold IV : kepala sudah masuk PAP ( devergen)
g. Mc. Donald : 31 cm
h. TBJ : ( 31-11 ) x 155 : 3000 gr
i. DJJ :
1) Frekuensi : 140 kali/menit
2) Irama : teratur
3) Kontraksi : kuat
4) Interval : 12-12-12

III. IDENTIFIKASI MASALAH/ DIAGNOSA POTENSIAL


-
IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN TINDAKAN SEGERA
-
V. PERENCANAAN
1. Beritahu ibu tentang hasil pemeriksaan bahwa ibu dalam keadaan baik.
2. Beritahukan pada ibu hasil pemeriksaan bahwa kehamilannya dalam keadaan baik, posisi
janin normal dan sudah masuk panggul.
3. Anjurkan ibu untuk banyak istirahat dan mengurangi aktifitas berat
4. Beritahu ibu tentang bahaya kehiamilan trimester III dan anjurkan ibu untuk segera
memeriksakan kandungannya ke tenaga kesehatan apabila mengalaminya
5. Beritahu ibu untuk menyiapkan persalinan dan tanda-tanda persalinan seperti kenceng-
kenceng sering semakin kuat, keluar air kawah, ada lendir darah dan dan menganjurkan ibu
segera kembali .
6. Berikan therapy tablet B12 3x1 dan FE dengan dosis 1x1 dan ajarkan cara meminumnya.
7. Anjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang 1 minggu kemudian dan sewaktu – waktu
apabila terdapat keluhan

VI. IMPLEMENTASI
1. Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan bahwa ibu dalam keadaan baik.
2. Memberitahukan pada ibu hasil pemeriksaan bahwa kehamilannya dalam keadaan baik,
posisi janin normal dan sudah masuk panggul
3. Menganjurkan ibu untuk banyak istirahat dan mengurangi aktifitas berat seperti,
menggendong, mengangkat benda – benda berat
4. Memberi tahu ibu tentang tanda bahaya trimester III antara lain perdarahan pada jalan lahir
dan pengeluarannya berbau busuk, bengkak pada ekstremitas, tekanan darah tinggi,
pandangan kabur, nyeri kepala hebat, nyeri perut bagian bawah, serta memberitahu ibu
apabila mengalaminya untuk segera periksa ke tenaga kesehatan terdekat.
5. Memberitahu ibu untuk menyiapkan persalinan dan tanda-tanda persalinan seperti kenceng-
kenceng sering semakin kuat dan berlangsung lama, keluar air kawah, ada lendir darah dan
beritahu ibu untuk segera menuju tempat persalinan yang aman yaitu bidan / dokter.
Memberitahu ibu untuk persiapan persalinan yaitu, pakaian ibu dan bayi, uang, kesiapan fisik
dan mental, pendamping persalinan, donor darah, transportasi
6. Memberikan ibu tablet B12 3x1 pada pagi hari dan FE dengan dosis 1x1 diminum sebelum
tidur dengan menggunakan air putih, tidak boleh menggunakan air teh, kopi ataupun susu
karena akan menghambat dan menggangu penyerapan.
7. Menganjurkan ibu untuk kunjungan ulang 1 minggu kemudian dan sewaktu – waktu apabila
terdapat keluhan

VII. EVALUASI
1. Ibu mengetahui tentang kondisinya saat ini
2. ibu mengetahui bahwa kehamilannya dalam keadaan baik
3. ibu bersedia untuk beristirahat yang cukup dan mengurangi aktifitas yang berat
4. Ibu sudah mengetahui tanda bahaya trimester III dan bersedia periksa ke tenaga kesehatan
terdekat apabila mengalaminya
5. ibu sudah mempersiapkan persalinannya dan sudah mengetahui tanda – tanda persalinan dan
bersedia kembali lagi apabila sudah akan mendapat tanda – tanda tersebut
6. ibu sudah mendapat tablet B12 dan FE dan sudah mengetahui dosis serta cara meminumnya
7. ibu bersedia kunjungan ulang 1 minggu kemudian dan apabila sewaktu – waktu terdapat
keluhan