You are on page 1of 34

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN KETUBAN

PECAH DINI (KPD)

A. TINJAUAN TEORITIS
1. Pengertian

Ketuban pecah dini (KPD) adalah pecahnya/rupturnya selaput amnion sebelum dimulainya
persalinan yang sebenarnya atau pecahnya selaput amnion sebelum usia kehamilannya mencapai 37
minggu dengan atau tanpa kontraksi.(mitayani,2011.buku keperawatan maternitas,hal:74)

Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda-tanda persalinan dan
ditunggu satu jam sebelum dimulainya tanda-tanda persalinan (Manuaba, 1998).
Ketuban pecah dini adalah ketuban yang pecah spontan yang terjadi pada sembarang usia kehamilan
sebelum persalinan di mulai (William,2001).

Ketuban pecah dini adalah keluarnya cairan berupa air dari vagina setelah kehamilan berusia 22
minggu sebelum proses persalinan berlangsung dan dapat terjadi pada kehamilan preterm sebelum
kehamilan 37 minggu maupun kehamilan aterm. (saifudin,2002)

Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung. Ketuban pecah
dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membrane atau meningkatnya tekanan intra
uterin atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan mambran disebabkan adanya infeksi
yang dapat berasal dari vagina serviks. (Sarwono Prawiroharjo, 2002)

Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum in partu, yaitu bila pembukaan primi kurang
dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm. (Sarwono Prawirohardjo, 2005)

2. Etiologi
Walaupun banyak publikasi tentang KPD, namun penyebabnya masih belum diketahui dan tidak
dapat ditentukan secara pasti. Beberapa laporan menyebutkan faktor-faktor yang berhubungan erat
dengan KPD, namun faktor-faktor mana yang lebih berperan sulit diketahui. Kemungkinan yang
menjadi faktor predesposisi adalah:

1. Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun asenderen dari vagina atau
infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya KPD.

2. Servik yang inkompetensia, kanalis sevikalis yang selalu terbuka oleh karena kelainan pada
servik uteri (akibat persalinan,curetage).

3. Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan (overdistensi uterus)
misalnya trauma, hidramnion gemelli. Trauma oleh beberapa ahli disepakati sebagai faktor
predisisi atau penyebab terjadinya KPD. Trauma yang didapat misalnya hubungan seksual,
pemeriksaan dalam, maupun amnosintesis menyebabakan terjadinya KPD karena biasanya
disertai infeksi.

4. Kelainan letak, misalnya sungsang, sehingga tidak ada bagian terendah yang menutupi pintu atas
panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap membran bagian bawah.

5. Faktor lain
a. Faktor golongan darah
b. Akibat golongan darah ibu dan anak yang tidak sesuai dapat menimbulkan kelemahan
bawaan termasuk kelemahan jaringan kulit ketuban.
c. Faktor disproporsi antar kepala janin dan panggul ibu.
d. Faktor multi graviditas, merokok dan perdarahan antepartum.
e. Defisiesnsi gizi dari tembaga atau asam askorbat (Vitamin C).

3. Patofisiologi

Infeksi dan inflamasi dapat menyebabkan ketuban pecah dini dengan menginduksi kontraksi uterus
dan atau kelemahan fokal kulit ketuban . Banyak mikroorganisme servikovaginal, menghasilkan
fosfolipid C yang dapat meningkatkan konsentrasi secara local asam arakidonat, dan lebih lanjut
menyebabkan pelepasan PGE2 dan PGF2 alfa dan selanjutnya menyebabkan kontraksi miometrium .
Pada infeksi juga dihasilkan produk sekresi akibat aktivitas monosit/makrofag , yaitu sitokrin,
interleukin 1 , factor nekrosis tumor dan interleukin 6. Platelet activating factor yang diproduksi oleh
paru-paru janin dan ginjal janinyang ditemukan dalam cairan amnion , secara sinergis juga
mengaktifasi pembentukan sitokin. Endotoksin yang masuk kedalam cairan amnion juga akan
merangsang sel-sel disidua untuk memproduksi sitokin dan kemudian prostaglandin yang
menyebabkan dimulainya persalinan.

4. Manifestasi Klinis
• Keluarnya air ketuban warna putih keruh, jernih, kuning, hijau atau kecoklatan
sedikit-sedikit atau sekaligus banyak
• Dapat disertai demam bila sudah ada infeksi
• Janin mudah diraba
• Pada periksa dalam selaput ketuban tidak ada, air ketuban sudah kering
• Inspeksi : Tampak air ketuban mengalir, atau selaput ketuban tidak ada air dan
ketuban sudah kering.
• Bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah cepat
merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.
(Buku asuhan patologi kebidanan, sujiyatini, 2009, hal:14)

5. Penatalaksanaan
A. Pencegahan
1. Obati infeksi gonokokus, klamidi, dan vaginosis bakterial
2. Diskusikan pengaruh merokok selama kehamilan dan dukung untuk mngurangi
atau berhenti.
3. Motivasi untuk menambah berat badan yang cukup selama hamil
4. Anjurkan pasangan agar menghentikan koitus pada trisemester akhir bila ada
faktor predisposisi.

B. Panduan mengantisipasi: jelaskan pasien yang memiliki riwayat berikut ini saat
prenatal bahwa mereka harus segera melapor bila ketuban peccah.
1. Kondisi yang menyebabkan ketuban pecah dapat mengakibatkan prolaps tali pusat
a. Letak kepala selain verteks
b. Polihdramnion
2. Herpes aktif
3. Riwayat infeksi streptokus beta hemolitiukus sebelumnya

C. Bila ketuban telah pecah


1. Anjurkan pengkajian secara saksama. Upayakan mengetahui waktu terjadinya
pecahnya ketuban
2. Bila robekan ketuban tampak kasar :
a. Saat pasien berbaring terlentang , tekan fundus untuk melihat adanya semburan
cairan dari vagina.
b. Basahai kapas asupan dengan cairan dan lakukan pulasan pada slide untuk
mengkaji ferning dibawah mikroskop.
c. Sebagian cairan diusapkan kekertas Nitrazene. Bila positif, pertimbangkan uji
diagnostik bila pasien sebelumnya tidak melakukan hubungan seksual tidak
ada perdarahan dan tidak dilakukan pemeriksaan pervagina menggunakan jeli K-Y.
3. Bila pecah ketuban dan / atau tanda kemungkinan infeksi tidak jelas, lakukan
pemeriksaan spekulum steril.
a. Kaji nilai bishop serviks (lihat Nilai Bishop, tabel 5-2).
b. Lakukan kultur serviks hanya bila ada tanda infeksi.
c. Dapatkan spesimen cairan lain dengan lidi kapas steril yang dipulaskan pada
slide untuk mengkaji ferning dibawah mikroskop.
4. Bila usia gestasi kurang dari 37 minggu atau pasien terjangkit herpes Tipe 2, rujuk ke dokter.

D. Penatalaksanaan konservatif
a. Kebanyakan persalinan dimulai dalam 24-72 jam setelah ketuban pecah.
b. Kemungkinan infeksi berkurang bila tidak ada alat yang dimasukan kevagina , kecuali
spekulum steril ; jangan melakukan pemeriksaan vagina.
c. Saat menunggu, tetap pantau pasien dengan ketat.
1. Ukur suhu tubuh empat kali sehari ; bila suhu meningkatkan secara signifikan, dan / atau
mencapai 380 C , berikan macam antibiotik dan pelahiran harus diselesaikankan.
2. Observasi rabas vagina : bau menyengat menyengat, purulen atau tampak kekuningan
menunjukan adanya infeksi.
3. Catat bila ada nyeri tekan dan iritabilitas uterus serta laporkan perubahan apa pun

E. Penatalaksaan agresif
a. Jel prostaglandin atau misoprostol (meskipun tidak disetujui penggunaannya) dapat
diberikan setelah konsultasi dengan dokter
b. Mungkin dibutuhkan rangkaian induksi pitocin bila serviks tidak berespons
c. Beberapa ahli menunggu 12 jam untuk terjadinya persalinan. Bila tidak ada tanda, mulai
pemberian pitocin
d. Berikan cairan per IV , pantau janin
e. Peningkatan resiko seksio sesaria bila induksi tidak efektif.
f. Bila pengambilan keputusan bergantung pada kelayakan serviks untuk di indikasi, kaji nilai
bishop (lihat label 5-2) setelah pemeriksaan spekulum. Bila diputuskan untuk menunggu
persalinan, tidak ada lagi pemeriksaan yang dilakukan, baik manipulasi dengan tangan
maupun spekulum, sampai persalinan dimulai atau induksi dimulai
g. Periksa hitung darah lengka bila ketuban pecah. Ulangi pemeriksaan pada hari berikutnya
sampai pelahiran atau lebih sering bila ada tanda infeksi

6. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
Cairan yang keluar dari vagina perlu di periksa warna konsentrasi,bau dan PH nya.Cairan yang keluar
dari vagina kecuali air ketuban mungkin juga urine atu secret vagina,Sekret vagina ibu hamil pH :4,5
dengan kertas nitrazin tidak berubah warna ,tetap kuning .1.a tes lakmus (tes nitrazin),jika kertas
lakmus merah berubah menjadi biru menunjukkan adanya air ketuban (alkalis).Ph air ketuban 7-7,5
darah dan infeksi vagina dapat menghaslkan tes yang positif palsu .1b. mikroskop (tes pakis ),dengan
meneteskan air ketuban pada gelas objek dan dibiarkan kering.Pemeriksaan mikroskopik
menunjukkan gambaran daun psikis.

b. Pemeriksaan ultrasonografi (USG)


Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam kavum uteri pada kasus
KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit .Namun sering terjadi kesalahan pada penderita
oligohidroamion.Walaupun pendekatan diagnosis KPD cukup banyak macam dan caranya ,namun
pada umunya KPD sudah bisa terdiagnosis dengan anamnesa dan pemeriksaan sederhana.(buku
asuhan patologi kebidanan,sujiyatini,2009,hal:16-17)

7. Komplikasi
Komplikasi paling sering terjadi pada KPD sebelum usia 37 minggu adalah sindrom distress
pernapasan,yang terjadi pada 10-40% bayi baru lahir.Risiko infeksi meningkat pada kejadian
KPD.Semua ibu hamil dengan KPD premature sebaiknya dievaluasi untuk kemungkinan terjadinya
korioamnionitis (radang pada korion dan amnion).Seklain itu kejadian prolaps atau keluarnya tali
pusar dapat terjadi pada KPD.
Risiko kecacatan dan kematian janin meningkat pada KPD Praterm.Hipoplasia paru merupakan
komplikasi fatal terjadi pada KPD praterm.Kejadiannya mencapai hampir 100% apabila KPD prater
mini terjadi pada usia kehamilan kurang dari 23 minggu.
a. Infeksi intrauterine
b. Tali pusat menumbung
c. Prematuritas
d. Distosia
BAB III
TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN

1. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian : 6 november 2012
Tanggal masuk : 6 november 2012
Tanggal pengkajian : 6 November 2012
Jam masuk : 03.00
Ruangan/kelas : VK
Diagnose medis : Ketuban Pecah Dini

a. Biodata
Nama ibu : Ny.S
Umur : 24 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Buruh
Suku/bangsa : Melayu/Indonesia
Alamat rumah : Mekarsari (MA. Jambi )
Nama suami : Tn.A
Agama : islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Suku/bangsa : Melayu/Indonesia
Alamat rumah : Mekarsari ( MA. Jambi )

b. Riwayat kesehatan
1) Alasan masuk rumah sakit
Klien masuk dengan keluhan lemah, perut terasa sakit, keluar cairan pervaginam
berwarna putih keruh ± 1 hari. klien mengatakan usia kehamilan ± 9 bulan (36 – 37 minggu).
2) Riwayat masuk sekarang
Klien mengatakan nyeri pada daerah abdomen, nyeri berkurang di saat istirahat, dan
nyeri meningkat apabila klien melakukan pergerakan atau aktivitas. Dan merupakan
kehamilan primi gravida, dengan usia kehamilan 37 minggu.
3) Riwayat kesehatan masa lalu
Klien mengatakan belum pernah mengalami kejadian seperti ini karena ini adalah
kehamilan pertama (primi gravida) selain itu klien tidak pernah mengalami penyakit kronis.
4) Riwayat haid
Menarche pada umum 14 tahun, siklus haid 28 hari, teratur lamanya 7 hari, keluar
darah haid, sebanyak 3-4 kali ganti pembalut sehari, keluhan waktu haid : nyeri dan mulas –
mulas. HPHT 16-03-2012
5) Riwayat kontasepsi
Klien mengatakn belum pernah mengguankan alat kontrasepsi sebelum nya.
6) Riwayat kehamilan
Usia kehamilan ± 9 bulan ( 36 – 37 minggu)
Gravida: 1 partus : 0 abortus :0

c. Keadaan umum
Keadaan umum : baik, kesadaran : composmentis
Tanda – tanda vital : tekanan darah : 120/90 mmHg, nadi 84x/I, pernapasan 20x/I, suhu 36 °C
d. Pemeriksaan fisik
1) Kulit
Warna kulit sawo matang, turgor kulit baik dan kekenyalan kulit baik.
2) Rambut
Rambut merta, rambut warna hitam, tidak mudah dicabut, tidak berketombe.
3) Leher
Bentuk leher simetris, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan vena jugularis
4) Mata
Konjungtiva warna merah, an anemia, sclera an ikterik.
5) Gigi dan mulut
Mukosa mulut lembab, gigi utuh, caries tidak ada, keadaan mulut bersih.
6) Dada
Simetris kiri , tidak sesak napas
7) Payudara
Bentuk payudara simetris, konsitensi kenyal, ada pembesaran, putting susu menonjol, tidak
ada pelebaran vena sekitar payudara, colostrum ada, aerola berwarna kehitaman.colostrum
keluar sejak usia kehamilan 8 bulan.
8) Ekstremitas atas dan bawah
Ekstremitas atas pada tangan kiri terpasang infus Dextrose + ½ amp piton gtt: 8 tetes/menit
sedangkan ekstremitas bawah varises oedema tidak ada.
9) Abdomen
a) Inspeksi
Bentuk perut bundar, posisi menonjol kedepan
b) Palpasi
Pada pemeriksaan secara leopold ditemukan:
opold I : Tinggi fundus Uteri ¾ antara pusat dengan procesus xypodseus atau 32 cm dari simpisis
pubis sampai procesus xypoideus.
Leopold II : Letak janin punggung kanan ( PUKA )
Leopold III : Bagian terbawah janin adalah letak kepala
opold IV : Janin belum masuk pintu atas panggul (konvergen) atau hanya sebagian kecil dari kepala
turun kedalam rongga panggul.
c) Auskultasi
Dengan mwenggunakan dopler vetal terdengar denyut jantung janin ( 136 / menit teratur )
d) Genetalia
Pada vulva terdapat oedema, tidak terdapat varises serta tidak ditemukan tanda tanda infeksi
tapi keluar cairan pervaginam berwarna putih keabu - abuan.

e. Data biologis
1) Istirahat dan tidur
Klien mnegatakan tidak biasa istirahat karena rasa mulas yang kadang – kadang hilang
timbul, dank arena air yang keluar, bokong basah, sehingga mengganggu rasa nyaman klien,
lama tidur ± 5 jam perhari selama dirawat.
2) Makan dan minum
Klien mnegatakan tidak ada keluhan dengan nafsu makan, klkien mengatakan tidak ada
makanan pantangan, minum 8-9 gelas/hari.
3) Pola eliminasi
a) BAB
Frekuensi BAB 1x/hari, konsitensi lunak, warna kuning kecoklatan
b) BAK
Frekuensi BAK 6-7 kali/hari
c) Seksual
Selama klien hamil tua sampai saat ini klien tidak pernah melakukan hubungan seksual.
f. Data psikologis
1) Status perkawinan
Klien mengatakan menikah 12 bulan, dan ini adlah pernikahan pertamanya.
2) Perilaku verbal
Klien dapat menjawab pertanyaan yang diajukan, klien sering bertanya tentang penyakitnya
3) Perilaku non verbal
Perilaku non verbal baik, tampak terkoordianasi
4) Pola komunikasi
Pola komunikasi baik, komunikasi dua arah
5) Orang yang memberi rasa aman
Klien mengatakan orang yang sangat berarti bagi dirinya adalah suaminya dan orang
tuanya.bersama suami klien merasa dilindungi.
g. Data penunjang
1) Pemeriksaan diagnostic
a) Laboratorium
Tanggal 6-11-2012
a. HB 11gr% ( wanita 12-16gr/dl)
b. Golongan darah A
b) Therapi/pengobatan
Tanggal 6-11-2012
Infus RL + ½ ampul piton gtt : 8 tetes/menit
Tanggal 6-11-2012
Amoxcan 1 cc (IV)
Oral : seloxy : 2x1 tablet / hari
Duphaston : 3x1 tablet/hari
Trosyd : salep
Buvadilon : 3x1 tablet/ hari

h. Analisa data
no Data penyebab masalah
1 Ds : klien mengatakan usia Kontraksi uterus Resiko
kehamilan 9 bln, os tinggi
mengatakan keluarnya cairan terhadap
pervaginam 18 jam sebelum infeksi
di rujuk ke rumah sakit
Do : keadaan umum lemah,
pada pemeriksaan dalam
ketuban sudah tidak ada,
pembukaan 3-4 cm
2 Ds : klien mengatakan nyeri Ketuban pecah Gangguan
pada bagian perut, klien rasa
mengatakan nyeri seperti nyaman
ditusuk-tusuk nyeri
Do : ekspresi wajah tampak
meringis ,klien menahan sakit,
keadaan umum lemah, klien
menunjukkan skala nyeri 4

3 Ds : - klien mengatakan tidak Rasa nyeri Intoleransi


dapat turun dari tempat tidur aktifitas
-klien mengatakan tidak dapat
memenuhi kebutuhan sehari-
hari
-klien merasa nyeri yang
hilang timbul
Do : -aktifitas kebutuhan
sehari-hari ibantu orang lain
-klien tidak dapat melakukan
aktifitas tanpa bantuan orang
lain.

2. Diagnosa keperawatan
a. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan ketuban pecah dini ditandai dengan
keluarnya cairan pervagina ± 18 jam, keadaan umum lemah, klien hamil ± 9 bulan, pada
pemeriksaan dalam ketuban sudah tidak ada, pembukaan 3-4 cm dengan cara tusse.
b. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus ditandai dengan klien
menyatakan nyeri pada bagian perut, ekpresi wajah meringis, klien menahan sakit, keadaan
umum lemah.
c. Inroleransi aktivitas berhubungan dengan keterbatasan mobilitas fisik di tandai dengan klien
mengatakan tidak dapat turun dari tempat tidur, klien mengatakan tidak dapat memenuhi
kebutuhan sehari-hari, aktivitas kebutuhan sehari-hari di bantu orang lain, klien tidak dapat
melakukan aktivitas tanpa bantuan orang lain, klien merasakan nyeri yang hilang timbul, air
masih keluar.
3. Perencanaan
a. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan ketuban pecah dini ditandai dengan
keluarnya cairan pervagina ± 18 jam, keadaan umum lemah, klien hamil ± 9 bulan, pada
pemeriksaan dalam ketuban sudah tidak ada, pembukaan 3-4 cm.
Tujuan : infeksi tidak terjadi
Kriteria hasil :
(1) Tidak ada tanda-tanda infeksi
(2) Keadaan umum baik
(3) Persalinan normal
Intervensi :
1) Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
2) Dengarkan denyut jantung jann dengan dopler setiap 1-4 jam
3) Jangan terlalu sering melakukan pemeriksaan pervaginam
4) Kolaborasi dengan dokter pemberian terapi
Rasionalisasi :
1) Untuk mencegah terjadinya infeksi
2) Untuk mengetahui keadaan janin didalam Rahim ibu
3) Untuk mencegah terjadinya infeksi didalam Rahim
4) Perihal pemberian obat antibiotic

b. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus ditandai dengan klien
menyatakan nyeri pada bagian perut dengan skala nyeri 7, ekspresi wajah meringis, klien
tampak menahan sakit, keadaan umum lemah.
Tujuan ; bayi lahir dengan segera
Kriteria hasil ;
1) Rasa nyeri berkurang
2) Klien tampak tenang
3) Keadaan umum baik
Intervensi ;
1) Kaji skala nyeri
2) Beritahu klien penyebab rasa nyeri
3) Atur posisi yang menyenangkan
4) Kolaborasi dengan dokter pemberian terapi
Rasionalisasi ;
1) Untuk menentukan tingkat aktivitas dan bantuan yang akan dilakukan
2) Bantuan yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan klien
3) Aktifitas bertahap untuk mencegah terjadinya kontraktur
4. implementasi (terlampir)
5. evaluasi (terlampir)

2. Pembahasan
Pada bab ini penulis membandingkan antara teori dengan kasus langsung pada klien Ny. B
serta menemukan kesenjangan pada klien yang penulis lakukan selama 3 hari dibandingkan
dengan teori yang telah penulis paparkan pada bab II.

1. Pengkajian
Pada pengkajian secara teoritis ditemukan data, resiko tinggi, infeksi, nyeri, intoleransi
akifitas. Sedangkan pengkajian pada Ny. B juga terdapat pengkajian secara teoritis, hanya
saja tidak semua data pada pengkajian yang didapatkan pada Ny. B perbedaan tersebut
penulis dapat memberikan analisa bahwa terdapat resiko tinggi trauma maternal, resiko tinggi
trauma fetal, tidak ditemukan pada klien karena klien pada waktu hamil dengan keadaan
ketuban pecah dini janin belum lahir. Pada waktu melakukan pengkajian klien belum
mengalami persalinan.

2. Diagnosa Keperawatan
Secara teoritis diagnose yang mungkin timbul pada klien ketuban pecah dini adalah:
a. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan ketuban pecahn dini
b. Resiko tinggi trauma maternal berhubungan dengan disfungsi persalinan
c. Cemas berhubungan dengan ancaman kehilangan janin
d. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus
e. Resiko tinggi dengan trauma fetal berhubungan dengan hypoxia
f. Intoleran aktifitas berhubungan dengan keterbatasan mobilitas fisik
g. Gangguan pola tidur berhubungan dengan kehamilan
Sedangkan diagnose keperawatan yang muncul pada Ny. B adalah sebagai berikut :
a. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan ketuban pecah dini
b. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus
c. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan keterbatasan mobilitas fisik
Dari ketujuh masalah yang muncu, urutan masalah adalah :
a. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan ketuban pecah dini. Karena terjadi
masalah ini berisiko terjadinya infeksi, untuk mencegah terjadinya infeksi perlu penanganan
yang baik dari perawat. Hal ini yang mendasari untuk ditegakan diagnose ini. Berdasarkan
analisa tersebut maka masalah ini menjadi prioritas pertama.
b. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus. termasuk
kedalamkebutuhan rasa nyaman dan aman. Berdasarkan analisa tersebut maka masalah ini
menjadi prioritas kedua.
c. Intoleren aktifitas berhubungan dengan keterbatasan mobilitas fisik. Karena tubuh yang
lemah, segala aktifitas pemenuhan kebutuhan diri akan tergantung pada orang lain, hal ini
yang mendasari ditegakan diagnose ini karena peran perawat dan keluarga sangat dominan
untuk membantu kebutuhan klien. Masalah ini menjadi prioritas ketiga.
Dari diagnose yang ditemukan pada Ny. B terdapat 3 diagnose keperawatan yang
sesuai dengan teoritis, sedangkan 4 diagnosa keperawatan secara teoritis tidak munculpada
klien, alas an yang dapat penulis berikan adalah :
a. Pada diagnose keperawatan resiko tinggi trauma maternal dan fetal tidak muncul karena
tidak ada data senjang yang menunjang.
b. Pada diagnose keperawatan ganggguan pola tidur tidak muncl karena klien sudah bisa tidur
setelah klien beberapa hari persalinan dapat istirahat.
Sedangkan diagnose keperawatan yang muncul pada klien tetapi tidak terdapat secara teoritis
yakni diagnose intoleran aktifitas. Diagnose ini ditegakan karena ada data senjang yang
menunjang. Sehingga perlu dilakukan intervensi.
3. Perencanaan
Masalah keperawatan yang muncul pada kasus Ny.B selanjutnya berdasarkan :
a. Kebutuhan dasrar menurut maslow
b. Derjat masalah yang timbul berdasarkan SUN (Segera, Urgen, dan Non Urgen)
c. Tingkat kebutuhan pengobatan atau prosedur medic
d. Pertimbangan kemampuan dan kemauan pasien
e. Kemungkinan masalah dapat diatasai dengan memperhatikan sarana dan prasarana yang ada
4. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan adalah realisasi dari rencana tindakan. Tidak semua rencana dapat
dilakukan karena keterbatasan sumber-sumber, sarana, prasarana, tingkat kemampuan klien
sendiri.
Adapun pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan pada klien adalah sebagai berikut :
a. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan ketuban pecah dini. Pelaksanaannya adalah
melakukan cuci tangan sebellum dan sesudah melakukan tindakan, periksa dalam dengan
memakai hand scone yang steril, mengganti perban dibawah bokong setiap dua jam sekali,
memantau vital sign, tindakan tersebut sesuai dengan konsep teoritis yang ada dan
pelaksanaannya tidak ada hambatan,
b. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus. Pelaksanaan tindakannya
adalah menganjurkan dan bantu klien untuk melakukan teknik relaksasi, mengobservasi vital
sign, memberikan analgetik jika dibutuhkan sesuai rasa yang dirasakan, tindakan ini susuai
dengan konsep dasar teoritis yang ada. Dalam melaksanakan penulis menemui hambatan,
karena tindakan tersebut mandiri dari perawat serta tidak tergantung alat-alat.
c. Intoleransi aktifitas berhubungn dengan keterbatasan mobilitas fisik. Pelaksanaannya adalah
mengobservasi tingkat kemampuan mobilitas, membantu klien dalam pemenuhan kebutuhan
sehari-hari, memotifasi keluarga untuk selalu membantu dalam pemenuhan kebutuhan klien.
5. Evaluasi
Langkah terakhir dari proses keperawatan adalah mengadakan evaluasi atau tindakan
yang telah dilakukan berikut ini hasil evaluasi untuk masing-masing diagnose:
a. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan ketuban pecah dini
Evaluasi :
Tidak ada tanda-tanda infeksi
b. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus
Evaluasi :
1) Klien mengatakan tidak nyeri lagi
2) Klien tampak lebih nyaman
c. Intoleran aktifitas berhubungan dengan keterbatasan mobilitas fisik
Evaluasi :
Klien dapat melakukan aktifitas
Lampiran II
CATATAN PERKEMBANGAN
Nama klien : Ny.B
Ruangan : VK

NO TANGGAL DIANGNOSA CATATAN PERKEMBANGAN PARAF


KEPERAWATAN
1 6 November 2012 Resiko tinggi S:-
terhadap infeksi O : - cairan pervaginam masih keluar
berhubungan - pada pemeriksaan dalam tidak
dengan ketuban teraba lagi selaput ketuban.
pecah dini A : resiko terhadap infeksi
P:
- lakukan cuci tangan sebelum dan
sesudah melakukan tindakan
- dengarkan denyut jantung janin dengan
doplet 1-4 jam
i. Hindari pemeriksaan pervaginam
Terlalu sering
ii. Ganti perban dibawah bokong tiap 24
Jam
-kolaborasi dalam pemberian antibiotik
I:
- melakukan cuci tangan sebelum dan
sesudah melakukan tindakan
- mendengarkan denyut jantung janin
dengan
doplet 1-4 jam
iii. menghindari pemeriksaan pervaginam
iv. menganti perban dibawah bokong pam
E : masalah belum teratasi
R : lanjutkan tindakan keperawatan

2 6 november 2012 Gangguan rasa S : klien mengatakan nyeri pada bagian


nyaman nyeri perut
berhubungan O : ekspresi wajah tampak meringis, klien
dengan merasa sakit, keadaan umum lemah
konstruksi uterus A : gangguan rasa nyaman nyeri
P:
- kaji tingkat nyeri
- beri tahu klien penyebab rasa nyeri
v. atur posisi yang menyenangkan
vi. kolaborasi dengan dokter pemberian
obat
I:
- mengkaji tingkat nyeri
- memberi tahu klien penyebab rasa
nyeri
vii. mengatur posisi yang menyenangkan
viii. berkolaborasi dengan dokter
pemberian obat anti biotik
E : masalah belum teratasi
R : lanjutkan tindakan keperawatan

CATATAN PERKEMBANGAN
Nama klien : Ny.B
Ruangan : VK

NO TANGGAL DIANGNOSA CATATAN PERKEMBANGAN PARAF


KEPERAWATAN
1 7 November 2012 Gangguan rasa S : klien mengatakan nyeri pada bagian
nyaman nyeri perut
berhubungan O : ekspresi wajah tampak meringis, klien
dengan konstruksi merasa sakit, keadaan umum lemah
uterus A : gangguan rasa nyaman nyeri
P:
- kaji tingkat nyeri
- beri tahu klien penyebab rasa nyeri
ix. atur posisi yang menyenangkan
x. kolaborasi dengan dokter pemberian
obat
I:
- mengkaji tingkat nyeri
- memberi tahu klien penyebab rasa
nyeri
xi. mengatur posisi yang menyenangkan
xii. berkolaborasi dengan dokter pemberi
an obat anti biotik
E : masalah belum teratasi
R : lanjutkan tindakan keperawatan
LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN
DISTOSIA BAHU

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Distosia yang secara literatur berarti persalinan yang sulit, memiliki karakteristik kemajuan
persalinan yang abnormal atau lambat. Persalinan abnormal atau lambat umum terjadi bila ada
disproporsi antara ukuran bagian terbawah janin dengan jalan lahir. Pada presentasi kepala,
distosia adalah indikasi yang paling umum saat ini untuk seksio sesaria primer. CPD
(cephalopelvic disproportion) adalah akibat dari panggul sempit, ukuran kepala janin yang besar,
atau lebih sering kombinasi dari kedua di atas. Setiap penyempitan diameter panggul yang
mengurangi kapasitas pelvis dapat mengakibatkan distosia selama persalinan. Panggul sempit
bisa terjadi pada pintu atas panggul, midpelvis, atau pintu bawah panggul, atau umumnya
kombinasi dari ketiganya. Karena CPD bisa terjadi pada tingkat pelvic inlet, outlet dan midlet,
diagnosisnya bergantung pada pengukuran ketiga hal tersebut yang dikombinasikan dengan
evaluasi ukuran kepala janin.
Persalinan normal suatu keadaan fisiologis, normal dapat berlangsung sendiri tanpa intervensi
penolong. Kelancaran persalinan tergantung 3 faktor ”P” utama yaitu kekuatan ibu (power),
keadaan jalan lahir (passage) dan keadaan janin (passanger). Faktor lainnya adalah psikologi
ibu (respon ibu), penolong saat bersalin, dan posisi ibu saat persalinan. Dengan adanya
keseimbangan atau kesesuaian antara faktor-faktor "P" tersebut, persalinan normal diharapkan
dapat berlangsung. Bila ada gangguan pada satu atau lebih faktor “P” ini, dapat terjadi kesulitan
atau gangguan pada jalannya persalinan. Distosia berpengaruh buruk bagi ibu maupun janin.
Pengenalan dini dan penanganan tepat akan menentukan prognosis ibu dan janin.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan distosia bahu?
2. Apa saja yang menjadi etiologi pada distosia bahu?
3. Apa saja yang menjadi faktor resiko pada distosia bahu?
4. Apa saja tanda dan gejala pada distosia bahu?
5. Bagaimana patofisologi pada distosia bahu?
6. Apa saja pemeriksaan penunjang pada distosia bahu?
7. Apa saja komplikasi pada distosia bahu?
8. Bagaimana penatalaksanaan pada distosia bahu?
9. Bagaimana Asuhan Keperawatan pada distosia bahu?

C. Tujuan Penulisan
1. Mahasiswa dapat mengetahui yang dimaksud dengan distosia bahu.
2. Mahasiswa dapat mengetahui etiologi pada distosia bahu.
3. Mahasiswa dapat mengetahui yang menjadi faktor resiko pada distosia bahu.
4. Mahasiswa dapat mengetahui tanda dan gejala pada distosia bahu.
5. Mahasiswa dapat memahami patofisologi pada distosia bahu.
6. Mahasiswa dapat mengetahui pemeriksaan penunjang pada distosia bahu.
7. Mahasiswa dapat mengetahui komplikasi pada distosia bahu.
8. Mahasiswa dapat memahami penatalaksanaan pada distosia bahu.
9. Mahasiswa dapat memahami Asuhan Keperawatan pada distosia bahu.

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Definisi Distosia Bahu
Distosia ialah kesulitan dalam jalannya persalinan.(Mochtar, 1989)
Distosia secara harfiah, berarti persalinan sulit, ditandai oleh kemajuan persalinan yang terlalu
lambat. Secara umum, persalinan abnormal sering terjadi jika terdapat ketidakseimbangan
ukuran antara bagian presentasi janin dan jalan lahir. Distosia merupakan akibat dari beberapa
kelainan berbeda yang dapat berdiri sendiri atau kombinasi. (Leveno, 2009).
Distosia bahu adalah tersangkutnya bahu janin dan tidak dapat dilahirkan setelah kepala janin
dilahirkan. Selain itu distosia bahu juga dapat didefinisikan sebagai ketidakmampuan melahirkan
bahu dengan mekanisme atau cara biasa. (Rusniawati, 2011)
Distosia bahu ialah kelahiran kepala janin dengan bahu anterior macet diatas sacral promontory
karena itu tidak bisa lewat masuk ke dalam panggul,atau bahu tersebut bisa lewat
promontorium,tetapi mendapat halangan dari tulang sacrum atau tulang ekor.
Distosia bahu adalah suatu keadaan diperlukannya tambahan maneuver obstetric oleh karena
dengan tarikan biasa ke arah belakangan pada kepala bayi tidak berhasil untuk melahirkan bayi.
Pada persalinan persentasi kepala,setelah kepala lahir bahu tidak dapat dilahirkan dengan cara
pertolongan biasa dan tidak didapatkan sebab lain dari kesulitan tersebut.
Insidensi distosia bahu sebesar sebesar 0,2-0,3 % dari seluruh persalinan vaginal persentasi
kepala . apabila distosia bahu didefinisikan sebagai jarak waktu antara lahirnya kepala dengan
lahirnya badan bayi lebih dari 60 detik,maka insidensitasnya menjadi 11%. (Prawirohardjo, 2011)
B. Etiologi
Distosia bahu terutama disebabkan oleh deformitas panggul,kegagalan bahu untuk ‘melipat’ ke
dalam panggul (misal : pada makrosomia).
Disebabkan oleh fase aktif dan persalinan kala II yang pendek pada multipara sehingga
penurunan kepala yang terlalu cepat menyebabkan bahu tidak melipat pada saat melalui jalan
lahir atau kepala telah melalui pintu tengah panggul setelah mengalami pemanjangan kala II
sebelah bahu berhasil melipat masuk kedalam panggul. Faktor penyebab distosia antara lain:
1. Distosia Karena Kelainan His
Kelainan his dapat berupa inersia uteri hipotonik atau inersia uteri hipertonik.
a. Inersia Uteri Hipotonik
Adalah kelainan his dengan kekuatan yang lemah/tidak adekuat untuk melakukan pembukaan
serviks atau mendorong anak keluar.
Disini kekuatan his lemah dan frekuensinya jarang. Sering dijumpai pada penderita dengan
keadaan umum kurang baik seperti anemia,uterus yang terlalu teregang misalnya akibat
hidramnion atau kehamilan kembar atau makrosomia,grandemultipara atau primipara ,serta
pada penderita dengan keadaan emosi kurang baik. Dapat terjadi pada kala pembukaan serviks,
fase laten atau fase aktif, maupun pada kala pengeluaran.

Inersia uteri hipotonik terbagi dua (Yusuf, 2010) yaitu:


1) Inersia uteri primer
Terjadi pada permulaan fase laten. Sejak awal telah terjadi his yang tidak adekuat (kelemahan
his yang timbul sejak dari permulaan persalinan), sehingga sering sulit untuk memastikan
apakah penderita telah memasuki keadaan inpartu atau belum.
2) Inersia uteri sekunder
Terjadi pada fase aktif kala I atau kala II. Permulaan his baik, kemudian pada keadaan
selanjutnya terdapat gangguan/kelainan.

Penanganan :
a) Keadaan umum penderita harus diperbaiki. Gizi selama kehamilan harus diperhatikan.
b) Penderita dipersiapkan menghadapi persalinan, dan dijelaskan tentang kemungkinan-
kemungkinan yang ada.
c) Teliti keadaan serviks,presentasi dan posisi,penurunan kepala/bokong bila sudah masuk PAP
pasien disuruh jalan,bila his timbul adekuat dapat dilakukan persalinan spontan,tetapi bila tidak
berhasil maka akan dilakukan sectio cesaria.

b. Inersia Uteri Hipertonik


Adalah kelainan his dengan kekuatan cukup besar (kadang sampai melebihi normal) namun
tidak ada koordinasi kontraksi dan bagian atas,tengah dan bawah uterus,sehingga tidak efisien
untuk membuka serviks dan mendorong bayi keluar. (Anonim, 2014)
Disebut juga sebagai incoordinate uterine action. Misalnya “tetania uteri” karena obat uterotonika
yang berlebihan. Pasien merasa kesakitan karena his yang kuat dan berlangsung hampir terus
menerus.
Penanganan:
Dilakukan pengobatan simtomatis untuk mengurangi tonus otot, nyeri, mengurangi ketakutan.
Denyut jantung janin harus terus dievaluasi. Bila dengan cara tersebut tidak berhasil , persalinan
harus diakhiri dengan sectio cesarea.

2. Distosia Karena Kelainan Letak


a. Letak Sungsang
Letak sungsang adalah janin terletak memanjang dengan kepala difundus uteri dan bokong
dibawah bagian cavum uteri.
Macam-macam Letak Sungsang:
1) Letak bokong murni (frank breech)
Letak bokong dengan kedua tungkai terangkat keatas.
2) Letak sungsang sempurna(complete breech)
Kedua kaki ada disamping bokong dan letak bokong kaki sempurna.
3) Letak sungsang tidak sempurna (incomplete breech)
Selain bokong sebagian yang terendah adalah kaki atau lutut.

Etiologi letak sungsang:


1. Fiksasi kepala pada PAP tidak baik atau tidak ada; pada panggul sempit ,hidrocefalus,
anencefalus, placenta previa,tumor.
2. Janin mudah bergerak ;pada hidramnion ,multipara,janin kecil (prematur)
3. Gemeli
4. Kelainan uterus; mioma uteri
5. Janin sudah lama mati
6. Sebab yang tidak diketahui

Diagnosis letak sungsang :


1) Pemeriksaan luar,janin letak memanjang,kepala didaerah fundus uteri
2) Pemeriksaan dalam,teraba bokong saja,atau bokong dengan satu atau dua kaki.

Syarat Partus Pervagina Pada Letak Sungsang :


1) Janin tidak terlalu besar
2) Tidak ada suspek CPD
3) Tidak ada kelainan jalan lahir
Jika berat janin 3500 g atau lebih ,terutama pada primigravida atau multipara dengan riwayat
melahirkan kurang dari 3500 g ,sectio cesarea lebih dianjurkan.

b. Prolaps Tali Pusat


Yaitu tali pusat berada disamping atau melewati bagian terendah janin setelah ketuban pecah.
Bila ketuban belum pecah disebut tali pusat (tali pusat menumbung) timbul bahaya besar ,tali
pusat terjepit pada waktu bagian janin turun dalam panggul sehingga menyebabkan asfiksia
pada janin.
Prolaps tali pusat mudah terjadi bila pada waktu ketuban pecah bagian terdepan janin masih
berada di atas PAP dan tidak seluruhnya menutup seperti yang terjadi pada persalinan ;
hidramnion, tidak ada keseimbangan antara besar kepala dan panggul,premature,kelainan letak.
Diagnosa prolaps tali pusat ditegakkan bila tampak tali pusat disamping bagian terendah janin.
Pencegahan Prolaps Tali Pusat: menghindari pecahnya ketuban secara premature akibat
tindakan kita.

Penanganan Tali Pusat terdepan (Ketuban belum pecah):


1) Usahakan agar ketuban tidak pecah
2) Ibu posisi trendelenburg
3) Posisi miring,arah berlawanan dengan posisi tali pusat
4) Reposisi tali pusat.

Penanganan Prolaps Tali Pusat :


1) Apabila janin masih hidup,janin abnormal,janin sangat kecil harapan hidup tunggu partus
spontan.
2) Pada presentasi kepala apabila pembukaan kecil,pembukaan lengkap Vacum
ekstraksi,porcef.
3) Pada letak lintang atau letak sungsang Sectio Cesaria

3. Distosia Karena Kelainan Jalan Lahir


Distosia karena kelainan jalan lahir dapat disebabkan adanya kelainan pada jaringan
keras/tulang panggul,atau kelainan pada jaringan lunak panggul.
a. Distosia karena kelainan panggul/bagian keras dapat berupa:
1) Kelainan bentuk panggul yang tidak normal gynecoid,misalnya panggul jenis Naegele,
Rachitis, Scoliosis. Kyphosis, Robert dan lain-lain.
2) Kelainan ukuran panggul
Panggul sempit (pelvic contraction) panggul disebut sempit apabila ukurannya 1-2 cm kurang
dari ukuran yang normal. (Mochtar, 1989)
Kesempitan panggul bisa pada:
a) Kesempitan pintu atas panggul Inlet dianggap sempit apabila cephalopelvis kurang dari 10 cm
atau diameter transversa kurang dari 12 cm. Diagonalis (CD) maka Inlet dianggap sempit bila
CD kurang dari 11.5 cm.
b) Kesempitan midpelvis
- Diameter interspinarum 9 cm
- Kalau diameter transversa ditambah dengan diameter sagitalis posterior kurang dari 13,5 cm
- Kesempitan midpelvis hanya dapat dipastikan dengan RO-pelvimetri
- Midpelvis contraction dapat memberi kesulitan sewaktu persalinan sesudah kepala melewati
pintu atas panggul.
c) Kesempitan outlet
Kalau diameter transversa dan diameter sagitalis posterior kurang dari 15 cm. Kesempitan
outlet,meskipun mungkin tidak menghalangi lahirnya janin,namun dapat menyebabkan rupture
perineal yang hebat. Karena arkus pubis sempit, kepala janin terpaksa melalui ruang belakang.
b. Kelainan jalan lahir lunak
Adalah kelainan serviks uteri,vagina,selaput dara dan keadaan lain pada jalan lahir yang
menghalangi lancarnya persalinan.
1) Distosia Servisis
Adalah terhalangnya kemajuan persalinan disebabkan kelainan pada servik uteri. Walaupun
harus normal dan baik, kadang-kadang permukaan serviks menjadi macet karena ada kelainan
yang menyebabkan servik tidak mau membuka.
Ada 4 jenis kelainan pada servik uteri:
- servik kaku (rigit cervix)
- servik gantung (hanging cervix)
- servik konglumer (conglumer cervix)
- edema servik
2) kelainan selaput dara dan vagina
- selaput dara yang kaku,tebal
Penanganannya: dilakukan eksisi selaput dara (hymen)
- septa vagina
- sirkuler Anteris-posterior

3) kelaianan-kelainan lainnya
- tumor-tumor jalan lahir lunak : kista vagina,polip serviks,mioma uteri,dan sebagainya.
- kandung kemih yang penuh atau batu kandung kemih yang besar.
- rectum yang penuh skibala atau tumor.
- kelainan letak serviks yang dijumpai pada mutipara dengan perut gantung .
- ginjal yang turun ke dalam rongga pelvis. Kelainan-kelainan bentuk uterus : uterus bikorvus,
uterus septus, uterus arkuatus dan sebagainya.

C. Faktor Resiko
Kelainan bentuk panggul,diabetes gestasional,kehamilan postmature,riwayat persalinan dengan
distosia bahu dan ibu yang pendek.
Faktor resiko distosia bahu:
1. Maternal
a. Kelainan anatomi panggul
b. Diabetes gestasional
c. Kehamilan pasotmatur
d. Riwayat distosia bahu
e. Tubuh ibu pendek
2. Fetal
a. Dugaan macrosomia
3. Masalah persalinan
a. Assisted vaginal delivery (forceps atau vacum)
b. Protracted active phase pada kala I persalinan
c. Protracted pada kala II persalinan
Distosia bahu sering terjadi pada persalinan dengan tindakan cunam tengah atau pada
gangguan persalinan kala I dan atau kala II yang memanjang.
D. Tanda Dan Gejala
1. Pada proses persalinan normal kepala lahir melalui gerakan ekstensi. Pada distosia bahu
kepala akan tertarik kedalam dan tidak dapat mengalami putar paksi luar yang normal.
2. Ukuran kepala dan bentuk pipi menunjukkan bahwa bayi gemuk dan besar. Begitu pula
dengan postur tubuh parturien yang biasanya juga obesitas .
3. Usaha untuk melakukan putar paksi luar, fleksilateral dan traksi ridak berhasil melahirkan
bahu.
4. Kemajuan lambat dari 7-10 cm, meskipun kontraksinya baik.
5. Kemajuan lambat dan kloning serta kelahiran kepala lambat.
6. Gelisah
7. Sesak nafas.

E. Patofisologi
Setelah keliharan kepala, akan terjadi putaran paksi luar yang menyebabkan kepala berada
pada sumbu normal dengan tulang belakang bahu pada umumnya akanberada pada sumbu
miring (oblique) di bawah ramus pubis. Dorongan pada saat meneran akan menyebabkan bahu
depan (anteriot) berada di bawah pubis, bila bahu gagal untuk mengadakan putaran
menyesuaikan dengan sumbu miring dan tetap berada pada posisi anteroposterior, pada bayi
yang besar akan terjadi benturan bahu depan terhadap simfisis sehingga bahu tidak bisa lahir
mengikuti kepala.

F. Pemeriksaan Penunjang
Adapun untuk pemeriksaan penunjang dapat dilakukan seperti sebagai berikut (Mochtar, 1989) :
a. Pemeriksaan panggul: panggul luar dan panggul dalam
b. Pemeriksaan radiologik: untuk pelvimetri dibuat 2 foto yaitu
- Foto pintu atas panggul: ibu dalam posisi setengah duduk, sehingga tabung Ro tegak lurus
atas pintu atas panggul
- Foto lateral: ibu dalam posisi berdiri, tabung Ro diarahkan horizontal pada trochanter major dari
samping
c. Pemeriksaan besarnya janin

G. Komplikasi
1. Komplikasi Maternal
a. Perdarahan pasca persalinan.
b. Pistula rectovagina.
Rectovagina pistula merupakan kondisi abnormal pada saluran antara bagian bawah usus besar
atau rectum dengan vagina.karena kondisi ini,isi usus bisa bocor melalui pistula sehingga
penderita dapat mengeluarkan gas atau tinja lewat vagina.
c. Simpisiolisis atau diathesis dengan atau tanpa transien fermonal neuropathy.
d. Robekan perineum derajat III atau IV.
e. Rupture Uteri.

2. Komplikasi Fetal
a. Brachial plexus palsy
Kelumpuhan kaki tangan bagian atas (brachial plexus palsy) disebabkan oleh luka regangan
(stretch injury) pada syaraf-syarat yang memenuhi otot-otot kaki tangan bagian atas(brachial
plexus)selama proses kelahiran.
b. Fraktura Clavicle
Fraktur clavicula bisa disebabkan oleh benturan ataupun kompressi yang berkekuatan rendah
sampai yang berkekuatan tinggi yang bisa menyebabkan terjadinyafraktur tertutup ataupun
multiple trauma.
c. Kematian Janin.
d. Hipoksia janin, dengan atau tanpa kerusakan neurololgis permanen.
e. Fraktura humerus
Fraktur humerus adalah kelainan yang terjadi pada kesalahan teknik dalam melahirkan lengan
pada presentasi puncak kepala atau letak sungsang dengan lengan membumbung ke atas.pada
keadaan ini biasanya sisi yang terkena tidak dapat diperakkan dan refleks moro pada sisi
tersebut menghilang.

Komplikasi distosia bahu :


1. Bagi janin
a. Terjadi peningkatan insiden kesakitan dan kematian intrapartum pada saat peralinan
melahirkan bahu beresiko anoreksia sehingga dapat mengakibatkan kerusakan otak.
b. Kerusakan saraf.kerusakan atau kelumpuhan pleksus brakhialis dan keretakan bahkan
sampai fraktur tulang klavikula.
2. Bagi ibu
a. Laserasi daerah perinium dan vagina yang luas.
b. Gangguan psikologis sebagai dampak dari pengalaman persalinan yang traumatic
c. Depresi jika janin cacat atau meninggal.

H. Penatalaksanaan
Penanganan umum : pada setiap persalinan, bersiaplah untuk menghadapi distosiabahu,
khususnya pada persalinan dengan bayi besar dan siapkan beberapa orang untuk membantu.
Penangananan khusus :
1. Membuat episiotomy yang cukup luas untuk mengurangi obstruksi jaringan lunak dan
memberikan ruang yang cukup untuk tindakan.
2. Meminta ibu untuk menekuk kedua tungkainya dan mendekatkan lututnya sejauh mungkin
kearah dadanya dalam posisi berbaring telentang. Meminta bantuan 2 asisten untuk menekan
fleksi kedua lutut ibu kearah dada
3. Dengan memakai sarung tangan yang telah didisinfeksi tingkat tinggi.
4. Melakukam tarikan yang kuat dan terus-meneruskearah bawah pada kepala janin untuk
menggerakkan bahu depan bawah simfisis pubis.
(catatan: hindari tindakan yang berlebihan pada kepala yang dapat mengakibatkan trauma pada)
5. Meminta seseorang asisten untuk melakukan tekanan secara simultan lebih lanjut kearah
bawah pada daerah suprapubis uuntuk membantu persalinan bahu
(catatan: jangan menekan fundus karena dapat mempengaruhi bahu lebih lanjut dan dapat
mengakibatkan repture uteri)
6. Jika bahu masih belum dapat dilahirkan
7. Pakailah sarung tangan didedesinfeksi tingkat tingg, masukan tangan kedalam vagina
8. Lakukan penekanan pada ibu yang terletak didepan dengan arah sternum bayi untuk memutar
bahu dan mengecilakn diameter bahu
9. Jika diperlukan lakukan penekanan pada bahu belakang sesuai dengan arah sternum.
10. Jika bahu masih belum dapat dilahirkan.
11. Masukan tangan ke dalam vagina
12. Lengan humerus dari lengan belakang dan dengan menjaga lengan tetap fleksi pada siku,
gerakan tangan kearah daad. Ini akan memberikan ruanagn untuk bahu depan agar dapat
bergerak dibawah simfisis pubis.
13. Jika semua tindakan di atas tetaop tidak dapat melahirkan bahu, pilihan lain.
a. Patahkan klavikula untuk mengurangi lebar bahu dan bebaskan bahu depan
b. Lakukan tarikan dengan mengait ketiak untuk mengeluarkan lenngan belakang.

Penatalaksanaan Distosia Bahu:


1. Kesigapan penolong persalinan dalam mengatasi distosia bahu sangat diperlukan.
2. Pertama kali yang harus dilakukan bila terjadi distosia bahu adalah melakukan traksi curam
bawah sambil meminta ibu untuk meneran.

3. Lakukan episiotomi.
Setelah membersihkan mulut dan hidung anak, lakukan usaha untuk membebaskan bahu
anterior dari simfsis pubis dengan berbagai maneuver :
a. Tekanan ringan pada suprapubic
b. Maneuver Mc Robert
c. Maneuver Woods
d. Persalinan bahu belakang
e. Maneuver Rubin
f. Pematahan klavikula
g. Maneuver Zavanelli
h. Kleidotomi
i. Simfsiotomi
Penjelesan :
1. Tekanan ringan pada suprapubic
Dilakukan tekanan ringan pada daerah suprapubik dan secara bersamaan dilakukan traksi
curam bawah pada kepala janin.
Tekanan ringan dilakukan oleh asisten pada daerah suprapubic saat traksi curam bawah pada
kepala janin.

2. Maneuver Mc Robert
Tehnik ini ditemukan pertama kali oleh Gonik dkk tahun 1983 dan selanjutnya William A Mc
Robert mempopulerkannya di University of Texas di Houston.
Maneuver ini terdiri dari melepaskan kaki dari penyangga dan melakukan fleksi sehingga paha
menempel pada abdomen ibu. Tindakan ini dapat menyebabkan sacrum mendatar, rotasi
simfisis pubis kearah kepala maternal dan mengurangi sudut inklinasi. Meskipun ukuran panggul
tak berubah, rotasi cephalad panggul cenderung untuk membebaskan bahu depan yang
terhimpit.

Maneuver Mc Rober
Fleksi sendi lutut dan paha serta mendekatkan paha ibu pada abdomen sebaaimana terlihat
pada (panah horisontal). Asisten melakukan tekanan suprapubic secara bersamaan (panah
vertikal). Analisa tindakan Maneuver Mc Robert dengan menggunakan x-ray. Ukuran panggul tak
berubah, namun terjadi rotasi cephalad pelvic sehingga bahu anterior terbebas dari simfisis
pubis.
3. Maneuver Woods ( “Wood crock screw maneuver” )
Dengan melakukan rotasi bahu posterior 1800 secara “crock screw” maka bahu anterior yang
terjepit pada simfisis pubis akan terbebas. Maneuver Wood. Tangan kanan penolong dibelakang
bahu posterior janin. Bahu kemudian diputar 180 derajat sehingga bahu anterior terbebas dari
tepi bawah simfisis pubis.

4. Melahirkan bahu belakang


A. Operator memasukkan tangan kedalam vagina menyusuri humerus posterior janin dan
kemudian melakukan fleksi lengan posterior atas didepan dada dengan mempertahankan posisi
fleksi siku.
B. Tangan janin dicekap dan lengan diluruskan melalui wajah janin.
C. Lengan posterior dilahirkan.
5. Maneuver Rubin
Terdiri dari 2 langkah :
a. Mengguncang bahu anak dari satu sisi ke sisi lain dengan melakukan tekanan pada abdomen
ibu, bila tidak berhasil maka dilakukan langkah berikutnya yaitu :
b. Tangan mencari bahu anak yang paling mudah untuk dijangkau dan kemudian ditekan
kedepan kearah dada anak. Tindakan ini untuk melakukan abduksi kedua bahu anak sehingga
diameter bahu mengecil dan melepaskan bahu depan dari simfisis pubis
Maneuver Rubin II
a. Diameter bahu terlihat antara kedua tanda panah
b. Bahu anak yang paling mudah dijangkau didorong kearah dada anak sehingga diameter bahu
mengecil dan membebaskan bahu anterior yang terjepit.
6. Pematahan klavikula dilakukan dengan menekan klavikula anterior kearah SP.
7. Maneuver Zavanelli : mengembalikan kepala kedalam jalan lahir dan anak dilahirkan melalui
SC. Memutar kepala anak menjadi occiput anterior atau posterior sesuai dengan PPL yang
sudah terjadi. Membuat kepala anak menjadi fleksi dan secara perlahan mendorong kepala
kedalam vagina.
8. Kleidotomi : dilakukan pada janin mati yaitu dengan cara menggunting klavikula.
9. Simfisiotomi.
Hernandez dan Wendell (1990) menyarankan untuk melakukan serangkaian tindakan emergensi
berikut ini pada kasus distosia bahu:
a. Minta bantuan – asisten , ahli anaesthesi dan ahli anaesthesi.
b. Kosongkan vesica urinaria bila penuh.
c. Lakukan episiotomi mediolateral luas.
d. Lakukan tekanan suprapubic bersamaan dengan traksi curam bawah untuk melahirkan
kepala.
e. Lakukan maneuver Mc Robert dengan bantuan 2 asisten.

Sebagian besar kasus distosia bahu dapat diatasi dengan serangkaian tindakan diatas. Bila
tidak, maka rangkaian tindakan lanjutan berikut ini harus dikerjakan :
a. Wood corkscrew maneuver
b. Persalinan bahu posterior
c. Tehnik-tehnik lain yang sudah dikemukakan diatas.
Tak ada maneuver terbaik diantara maneuver-maneuver yang sudah disebutkan diatas, namun
tindakan dengan maneuver Mc Robert sebagai pilihan utama adalah sangat beralasan.

I. Asuhan Keperawatan

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN PERSALINAN DISTOSIA BAHU

A. PENGKAJIAN
1. BIODATA
Nama : Ny. N
Umur : 26 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Suku : Jawa/Indonesia
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan Terakhir : SMU
Alamat : Jl. Pangeran Antasari, No. 69, RT.3, RW. 1, Kec. Kecubung, Kel. Satumilyar Kab.
Bojong.
No. RM : 25 18 96
Ruang Dirawat : VK
Tanggal MRS : 22 Maret 2014
Tanggal Pengkajian : 22 Maret 2014
Diagnosa Medis : Persalinan Distosia Bahu
IDENTITAS PENANGGUNG JAWAB
Nama : Tn. K
Umur : 28 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Suku : Banjar/Indonesia
Agama : Islam
Pekerjaan : Swasta
Pendidikan Terakhir : SMA
Alamat : Jl. Pangeran Antasari, No. 69, RT. 3, RW. 1, Kec. Kecubung, Kel. Satumilyar Kab.
Bojong.
Hubungan dengan klien : Suami

2. STATUS KESEHATAN
a. Keluhan
 Keluhan Utama : Nyeri karena kontraksi uterus
 Keluhan saat Pengkajian : Nyeri
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Ibu mengatakan hamil anak ketiga usia kehamilan 9 bulan, mengeluh mulas dan nyeri
dipinggang dan ibu mengatakan sudah mengeluarkan air- air sejak tanggal 22 Maret 2014 pukul
07.00 WITA. Ibu mengatakan masih merasakan gerakan janin, gerakan aktif sebanyak 20 kali
dalam 24 jam.

c. Riwayat Penyakit Keluarga


Klien tidak ada riwayat penyakit keluarga seperti DM, Hipertensi, TBC, dll.

3. KEBIASAAN SEHARI-HARI
- Makan dan minum : Ibu makan terakhir tanggal 23 Maret 2014 pukul 23.30 WITA. Ibu sering
minum dan minum terakhir 1 gelas air putih.
- Eliminasi (BAB/BAK) : BAB terakhir 1 x pada 23 Maret 2014 pukul 05.30 WITA
BAK terakhir 1 x pada 23 Maret 2014 pukul 22.30 WITA
- Istirahat/tidur : Ibu mengatakan tidur malam selama 8 jam, tidur siang 1-2 jam sehari
- Psikologis : Ibu mengatakan merasa cemas menghadapi persalinannya

B. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum : Lemah
-Kesadaran : Compos mentis
2. Tanda-tanda vital :
- TD : 120/80 mmHg
- Nadi : 78 x/menit
- Napas : 22 x/menit
- Suhu : 370C
3. TB dan BB : TB : 157 cm, BB : 68 kg.
4. Inspeksi
a. Muka : Tidak ada cloasme
- Konjungtiva : anemis.
- Sklera : an ikterik
- Pulpil : isokor , tidak ada nistagmus.
b. Mulut dan Gigi : bersih, bibir tampak pucat, tidak ada caries gigi, tidak ada stomatitis, gigi
lengkap, tidak ada gangguan menelan.
c. Leher : tidak ada pembendungan vena jugularis, kelenjar tiroid ataupun limfe yang
membengkak.
d. Dada : simetris, tidak ada benjolan yang abnormal, terdapat hyperpigmentasi pada areola
mamae dan kolostrum sudah keluar.
e. Abdomen : Pembesaran perut sesuai usia kehamilan, terdapat linea nigra dan strie
gravidarum serta tidak ada luka bekas operasi.
f. Punggung dan pinggang : terdapat tanda michales yang simetris.
g. Vulva : serviks teraba lunak, nyeri tekan, nyeri pada uteris kanan dan kiri.
h. Ekstremitas : tidak ada udema, akral; hangat, tidak ada varises.
5. Palpasi
- leopold 1 : TFU pertengahan pusat dan Px, pada fundus teraba 1 bagian yang lunak, tidak
melenting dan kurang bundar yang berarti bokong
- leopold 2 : Pada perut bagian sebekah kiri teraba ada tahanan yang lebar yang berarti
punggung dan sebelah kanan teraba bagian yang kecil- kecil yang berarti ekstrimitas
- Leopold 3 : Bagian terbawah janin teraba bulat, keras dan melenting yang berarti kepala
- Leopold 4 : Bagian yang terbawah janin sudah masuk PAP (divergen)
Mc Donald : 38 cm
TBJ : (TFU – 11) x 155
: (38 – 11) x 155
:4185 gram
6. Auskultasi
DJJ terdengar 140x/menit, punctum maximum dibawah pusat sebelah kiri
7. Perkusi
Reflek patela ada (+)
8. Pemeriksaan Dalam, pukul 24.00 WITA
- Vulva / Vagina : Blood slym
- Dinding Vagina : Teraba rugei
- Promontorium : Tidak teraba
- Portio : Lunak
- Serviks : Tipis, pembukaan 9 cm , efficement : 90 %
- Ketuban : Sudah pecah sejak pukul 01.00 WITA
- Presentasi : Kepala, UUK kiri depan
- Penurunan : Hodge III (+), 1/5
- His : Ada
- Frekuensi : 3x dalam 10 menit
- Lamanya : 20 – 40 detik

C. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Foto Ro p.a.p (22 Maret 2014)
Hasil: Ukuran bayi yang lebih besar melebihi ksempatan ukuran panggul

D. ANALISA DATA
No. Data Etiologi Masalah Keperawatan
1. DS : Pasien mengatakan nyeri di perut
DO :
- P : Nyeri karena adanya tekanan kepala janin pada serviks
- Q : seperti ada dorongan dari dalam
- R : daerah perut bagian bawah
Pasien nampak meringis menahan nyeri
- S : skala nyeri 4
- T : Sewaktu-waktu Tekanan kepala pada serviks Nyeri
2. DS : -
DO :
- TBJ : 4185 gram
- Panggul ibu sempit CPD Resiko tinggi cedera janin
E. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri b/d tekanan kepala pada servik
2. Resiko tinggi cedera janin b/d CPD.

F. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


1. Dx : nyeri b/d tekanan kepala pada servik, partus lama, kontraksi tidak efektif.
Tujuan : Kebutuhan rasa nyaman terpenuhi/ nyeri berkurang :
- Klien tidak merasakan nyeri lagi.
- Klien tampak rilek
- Kontraksi uterus efektif
- Kemajuan persalinan baik.
Intervensi Rasional
Tentukan sifat, lokasi dan durasi nyeri, kaji kontraksi uterus, hemiragic dan nyeri tekan abdomen.
Membantu dalam mendiagnosa dan memilih tindakan, penekanan kepala pada servik yang
berlangsung lama akan menyebabkan nyeri.
Kaji intensitas nyeri klien dengan skala nyeri Setiap individu mempunyai tingkat ambang nyeri
yang berbeda, denga skala dapat diketahui intensitas nyeri klien.
Kaji stress psikologis/ pasangan dan respon emosional terhadap kejadian Ansietas sebagai
respon terhadap situasi darurat dapat memperberat derajat ketidaknyamanan karena sindrom
ketegangan takut nyeri.
Berikan lingkungan yang nyaman, tenang dan aktivitas untuk mengalihkan nyeri, Bantu klien
dalam menggunakan metode relaksasi dan jelaskan prosedur Teknik relaksasi dapat
mengalihkan perhatian dan mengurangi rasa nyeri
Kuatkan dukungan social/ dukungan keluarga.
Dengan kehadiran keluarga akan membuat klien nyaman, dan dapat mengurangi tingkat
kecemasan dalam melewati persalinan, klien merasa diperhatikan dan perhatian terhadap nyeri
akan terhindari.

2. Dx : Resiko tinggi cedera janin b/d penekanan kepala pada panggul, partus lama, CPD.
Tujuan : Cedera pada janin dapat dihindari dengan kriteria Hasil :
- DJJ dalam batas normal
- Kemajuan persalinan baik
Intervensi Rasional
Lakukan manuver Leopold untuk menentukan posis janin dan presentasi Berbaring tranfersal
atau presensasi bokong memerlukan kelahiran sesarea. Abnormalitas lain seperti presentasi
wajah, dagu, dan posterior juga dapat memerlukan intervensi khusus untuk mencegah
persalinan yang lama
Dapatkan data dasar DJJ secara manual dan atau elektronik, pantau dengan sering perhatikan
variasi DJJ dan perubahan periodic pada respon terhadap kontraksi uterus. DJJ harus direntang
dari 120-160 dengan variasi rata-rata percepatan dengan variasi rata-rata, percepatan dalam
respon terhadap aktivitas maternal, gerakan janin dan kontraksi uterus.

Catat kemajuan persalinan. Persalinan lama/ disfungsional dengan perpanjangan fase laten
dapat menimbulkan masalah kelelahan ibu, stress berat, infeksi berat, haemoragi karena atonia/
rupture uterus. Menempatkan janin pada resiko lebih tinggi terhadap hipoksia dan cedera
Infeksi perineum ibu terhadap kutil vagina, lesi herpes atau rabas klamidial Penyakit hubungan
kelamin didapat oleh janin selama proses melahirkan karena itu persalinan sesaria dapat
diidentifikasi khususnya klien dengan virus herpes simplek tipe II
Catat DJJ bila ketuban pecah setiap 15 menit. Perubahan pada tekanan caitan amnion dengan
rupture atau variasi deselerasi DJJ setelah robek dapat menunjukkan kompresi tali pusat yang
menurunkan transfer oksigen kejanin
Posisi klien pada posisi punggung janin Meningkatkan perfusi plasenta/ mencegah sindrom
hipotensif telentang.

G. CATATAN PERKEMBANGAN
No. Hari/tanggal/diagnose Implementasi Evaluasi
1. Minggu, 23/03/2014
Diagnosa : Nyeri berhubungan dengan tekanan kepala pada serviks .
1. Menentukan sifat, lokasi dan durasi nyeri, kaji kontraksi uterus, hemiragic dan nyeri tekan
abdomen.
2. Mengkaji intensitas nyeri klien dengan skala nyeri
3. Mengkaji stress psikologis/ pasangan dan respon emosional terhadap kejadian
4. Memberikan lingkungan yang nyaman, tenang dan aktivitas untuk mengalihkan nyeri,
Membantu klien dalam menggunakan metode relaksasi dan menjelaskan prosedur
5. Mengkuatkan dukungan social/ dukungan keluarga.
S : pasien masih mengeluh nyeri
O:
- Wajah pasien masih tampak meringis
A : masalah belum teratasi.
P : lanjutkan intervensi.
2. Selasa, 11/03/2014
Diagnosa:
Resiko tinggi cedera janin berhubungan dengan CPD 1. Melakukan manuver Leopold untuk
menentukan posis janin dan presentasi
2. Dapatkan data dasar DJJ secara manual dan atau elektronik, pantau dengan sering
perhatikan variasi DJJ dan perubahan periodic pada respon terhadap kontraksi uterus.
3. Mencatat kemajuan persalinan.
4. Mencatat DJJ bila ketuban pecah setiap 15 menit.
5. Memposisi klien pada posisi punggung janin S :
O:
A : Masalah teratasi
P:Hentikan intervensi.

BAB III
KESIMPULAN
Distosia ialah kesulitan dalam jalannya persalinan. Distosia secara harfiah, berarti persalinan
sulit, ditandai oleh kemajuan persalinan yang terlalu lambat. Secara umum, persalinan abnormal
sering terjadi jika terdapat ketidakseimbangan ukuran antara bagian presentasi janin dan jalan
lahir. Distosia merupakan akibat dari beberapa kelainan berbeda yang dapat berdiri sendiri atau
kombinasi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Makalah Asuhan Kebidanan Distosia. 20 Maret 2014. http://makalah-asuhan-


kebidanan.blogspot.com

Gusti, Surya. Dunia Kesehatan DISTOSIA. 18 Januari 2013.


http://www.duniakeperawatan.blogspot.com

Leveno, Kenneth J. 2009. Obstetri Williams Panduan Ringkas Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran
EGC: Jakarta

Mochtar, Rustam. 1989. Sinopsis Obstetri. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta