You are on page 1of 3

Nico

406162100

HIPERSOMNIA

Tidur didefinisikan sebagai suatu keadaan bawah sadar saat orang tersebut dapat
dibangunkan dengan pemberian rangsangan sensorik atau rangsangan lainnya.
Ganguan tidur merupakan salah satu keluhan yang paling sering ditemukan pada
penderita yang berkunjung ke praktek. Gangguan tidur dapat dialami oleh semua lapisan
masyarakat baik kaya, miskin, berpendidikan tinggi dan rendah maupun orang muda,
serta yang paling sering ditemukan pada usia lanjut. Pada orang normal, gangguan tidur
yang berkepanjangan akan mengakibatkan perubahan-perubahan pada siklus tidur
biologiknya, menurun daya tahan tubuh serta menurunkan prestasi kerja, mudah
tersinggung, depresi, kurang konsentrasi, kelelahan, yang pada akhirnya dapat
mempengaruhi keselamatan diri sendiri atau orang lain.
Berdasarkan Diagnostic And Statictical Manual of Mental Disorders edisi ke
empat (DSM-IV), gangguan tidur atau sleep disorder adalah masalah tidur yang
menyebabkan stres pribadi yang signifikan atau hendaya sosial, pekerjaan atau peran
lain. DSM-IV mengklasifikasikan gangguan tidur berdasarkan kriteria diagnostik klinik dan
perkiraan etiologi. Tiga kategori utama gangguan tidur dalam DSM-IV adalah gangguan
tidur primer. gangguan tidur yang berhubungan dengan gangguan mental lain, dan gangguan
tidur lain, khususnya gangguan tidur akibat kondisi medis umum atau yang disebabkan oleh
zat. Gangguan tidur primer terdiri atas dissomnia dan parasomnia. Dissomnia adalah suatu
kelompok gangguan tidur yang heterogen, salah satu yang termasuk dissomnia adalah
hipersomnia.
Hipersomnia adalah suatu keadaan tidur dan serangan tidur disiang hari yang berlebih
yang terjadi secara teratur atau rekuren untuk waktu singkat dan menyebabkan gangguan
fungsi sosial dan pekerjaan.
Penyebab dari hipersomnia antara lain adalah:
1. Stres. Kekhawatiran tentang pekerjaan, kesehatan sekolah, atau keluarga dapat
membuat pikiran menjadi aktif terus menerus.
2. Kecemasan dan depresi. Hal ini mungkin disebabkan ketidakseimbangan
kimia dalam otak atau karena kekhawatiran yang menyertai depresi.
3. Obat-obatan. Beberapa resep obat dapat mempengaruhi proses tidur, termasuk
beberapa antidepresan, obat jantung dan tekanan darah, obat alergi, stimulan
(seperti ritalin) dan kortikosteroid.
4. Kondisi Medis. Kondisi ini dikaitkan dengan insomnia akibat artritis, kanker,
gagal jantung, penyakit paru-paru, gastroesophageal reflux disease (GERD),
stroke, penyakit Parkinson dan penyakit Alzheimer.
5. Perubahan lingkungan atau jadwal kerja. Kelelahan akibat perjalanan jauh atau
pergeseran waktu kerja dapat menyebabkan terganggunya irama sirkadian
tubuh.
Berdasarkan buku PPDGJ-III, terdapat klasifikasi Hipersomnia Non-organik
sedangkan berdasaarkan Diagnostic And Statictical Manual of Mental Disorders
edisi ke empat (DSM-IV) terdapat hypersomnia primer.

Kriteria Hipersomnia Non-organik berdasarkan PPDGJ-III:


A. Gambaran klinis di bawah ini adalah esensial untuk diagnosis pasti :
1. Rasa kantuk pada siang hari yang berlebihan atau adanya serangan tidur/sleep
attacks (tidak disebabkan oleh jumlah tidur yang kurang), dan atau transisi yang
memanjang dari saat mulai bangun tidur sampai sadar sepenuhnya (sleep
drunkenness)
2. Gangguan tidur terjadi setiap hari selama lebih dari 1 bulan atau berulang
dengan kurun waktu yang lebih pendek, menyebabkan
penderitaan yang cukup berat dan mempengaruhi fungsi dalam sosial
dan pekerjaan
3. Tidak ada gejala tambahan “narcolepsy” (catapelxy, sleep paralysis,
hypnagonic hallucination) atau bukti klinis untuk “sleep apnoe” (nocturnal
breath cessatin, typical intermittent snoring sounds,etc)
4. Tidak ada kondisi neurologis atau medis yang menunjukkan gejala rasa kantuk
pada sang hari.

B. Bila hipersomnia hanya merupakan salah satu gejala dari gangguan jiwa lain,
misalnya gangguan afektif, maka diagnosis harus sesuai dengan gangguan
yang mendasarinya. Diagnosis hiersomnia psikogenik harus ditambahkan bila
hipersomnia merupakan keluhan yang dominan dari penderitaan dengan
gangguan jiwa lainnya.

Kriteria Hipersomnia Primer berdasarkan DSM-IV:


1. Keluhan yang menonjol adalah mengantuk berlebihan di siang hari selama
sekurangnya satu bulan (atau lebih singkat jika rekuren) seperti yang ditunjukkan
oleh episode tidur yang memanjang atau episode tidur siang hari yang
terjadi hampir setiap hari.
2. Mengantuk berlebihan di siang hari menyebabkan penderitaan yang bermakna
secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting
lain.
3. Mengantuk berlebihan di siang hari tidak dapat diterangkan oleh Insomnia dan
tidak terjadi semata-mata selam perjalan gangguan tidur lain (misalnya,
narkolepsi, gangguan tidur berhubungan pernafasan, gangguan tidur irama
sirkadian, atau parasomnia) dan tidak dapat diterangkan oleh jumlah tidur yang
tidak adekuat.
4. Gangguan tidak terjadi semata-mata selama perjalanan gangguan lain.
5. Gangguan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat
yang disalahgunakan, medikasi) atau suatu kondisi medis umum.

Penatalaksanaan Hipersomnia meliputi pendekatan antara pasien dan dokter,


konseling dan psikoterapi, sleep hygiene, serta pendekatan farmakologi. Pendekatan pasien
dan dokter bertujuan untuk mencari penyebab dasar dan pengobatan yang adekuat. Sleep
hygiene terdiri atas kebiasaan tidur dan bangun, menghindari tidur pada siang hari/sambilan,
tidak mengkonsumsi kafein pada malam hari, olahraga ringan sebelum tidur, menghindari
makan pada saat mau tidur (tetapi tidak tidur dengan perut kosong), segera bangun dari
tempat tidur bila tidak dapat tidur, hindari rasa cemas serta membuat suasana ruang tidur
yang sejuk, sepi, dan nyaman. Sekarang tidak ada terapi farmakologi khusus yang tersedia
untuk hipersomnia, pengobatan yang biasa diberikan untuk hipersomnia adalah golongan
yang bersifat stimulant SSP yang dapat mempertahankan kesadara seperti amfetamin,
metilfenidat, dan modafinil.