You are on page 1of 7

ME N U

 TERKINI

 TERPOPULER

 APPS & OS

 GADGET

 INTERNET

 HARDWARE

 BUSINESS

 GALERI
1 2 3
4 5 6 7
8 9 10 11
12 13 14
15 16 17 18
19 20 21 22
23 24 25
26 27 28 29
30 31 Januari
Februari Maret April Mei
Juni Juli Agustus September
Oktober November Desember
2018 2017 2016
2015 2014
2013 2012 2011
2010 SUBMIT

 Tekno

 e-Business

Masalah Pajak yang Membelit Google di


Indonesia
Senin, 19 September 2016 | 09:15 WIB

KOMPAS.com - Google terbelit masalah pajak di Indonesia.


Minggu lalu diberitakan, Google Indonesia menghadapi
kemungkinan penyelidikan karena terindikasi melakukan
pelanggaran pajak.

“Kami akan meningkatkan tahapan ke investigasi karena


mereka menolak diperiksa. Ini merupakan indikasi adanya
tindak pidana,” ujar Kepala Kantor Wilayah Direktorat
Jenderal Pajak Jakarta Khusus, Muhammad Hanif,
sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Reuters, Kamis
(15/9/2016).

Google Indonesia dianggap mengemplang pajak karena


belum menjadi badan usaha tetap (BUT). Dengan kata lain,
Google Indonesia belum menjadi wajib pajak.

Selama ini Gogle hanya membuat kantor perwakilan di


Indonesia, bukan kantor tetap. Oleh karena itu, transaksi
bisnis Google yang terjadi di Tanah Air tak berpengaruh pada
peningkatan pendapatan negara.

Padahal, transaksi bisnis periklanan di dunia digital (yang


merupakan ladang usaha Google) pada tahun 2015 saja
mencapai 850 juta dollar AS atau sekitar 11,6 triliun.
BACA JUGA :
 Google, Facebook, dan OTT Asing Gondol Rp 14 Triliun Keluar Indonesia
 Google Mau Diblokir, "Hacker" Curhat di Situs Kominfo?
 Google Indonesia Menolak Pemeriksaan Pajak
Polemik seputar status BUT

Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan


memastikan akan terus mengejar kewajiban perpajakan
yang belum dipenuhi secara tepat oleh perusahaan Google di
Indonesia.

"Mereka telah menolak diperiksa dan menolak ditetapkan


sebagai Bentuk Usaha Tetap (BUT), maka kita akan
melakukan langkah lebih keras," kata Hanif.

Alasannya, Google Indonesia hanya beroperasi sebagai


kantor perwakilan, bukan sebagai Badan Usaha Tetap (BUT).
Dengan demikian, Google tidak pernah dipotong PPN
maupun PPh-nya.

Juru bicara Kementerian Kominfo, Noor Iza membenarkan


bahwa keberadaan Google di Indonesia baru berupa kantor
perwakilan saja, dan hilir mudik transaksi pun dilakukan di
Singapura.

Di Indonesia, menurut Noor Iza, Google justru melarikan


uang transaksinya ke Singapura sehingga setiap transaksi
tersebut lolos dari pajak.

“Coba cek. Pool (Google) kawasan Asia Pasifik itu ke satu


negara. Google itu transaksinya diarahkan ke Google Inc
yang berada di Singapura,” ujar Noor.

“Kita berharap Google akan bisa arif dalam masalah bisnis


ini dan memberikan kesetaraan. Transaksi-transaksi jangan
di-pool di negara tertentu saja, yang (berakibat) merugikan
negara-negara yang memberikan expenditure-nya ke
Google,” ujarnya.

Noor Iza mengakui raksasa mesin pencari itu sudah


membentuk perusahaan lokal atas nama PT Google
Indonesia. Namun, hal itu tidak berarti perusahaan sudah
membentuk badan usaha tetap (BUT) dan taat pajak.

Baca: Kemenkominfo: Uang Transaksi Google di Indonesia


Lari ke Singapura

“(PT Google Indonesia) itu hal yang berbeda. BUT memang


bisa berbentuk apa saja, ini istilah dari permanent
establishment. Tapi Google Indonesia itu perusahaan, badan
hukum, bisa saja cuma sebagai perwakilan. Jadi belum tentu
BUT,” ujarnya saat dihubungi KompasTekno, Jumat
(16/9/2016).

Sebagai informasi, kantor Google Indonesia berada di


Sentral Senayan II, Jalan Asia Afrika, Jakarta. Kantor
perwakilan tersebut mulai ditempati Google sejak tahun
2013.

Menurut catatan Direktorat Jenderal Pajak, Google di


Indonesia telah terdaftar sebagai badan hukum dalam negeri
di KPP Tanah Abang III dengan status sebagai PMA sejak 15
September 2011 dan merupakan "dependent agent" dari
Google Asia Pacific Pte Ltd di Singapura.
Dengan demikian, menurut Pasal (2) ayat (5) huruf (N) UU
Pajak Penghasilan, Google seharusnya berstatus sebagai
BUT, sehingga setiap pendapatan maupun penerimaan yang
bersumber dari Indonesia berhak dikenakan pajak
penghasilan.

Tanggapan Google

Juru bicara Google Indonesia sendiri menyebutkan bahwa


selama ini pihaknya telah membayar pajak dan mengikuti
berbagai peraturan yang ditetapkan oleh Pemerintah
Indonesia. Perusahaan pun diklaim sudah berdiri sebagai
badan hukum Indonesia.

"PT Google Indonesia telah beroperasi sebagai perusahaan


Indonesia sejak tahun 2011. Kami telah dan akan terus
bekerja sama dengan Pemerintah Republik Indonesia dan
telah dengan taat membayar semua pajak yang berlaku di
Indonesia," ujar Head of Corporate Communication Google
Indonesia, Jason Tedjasukmana, saat
dihubungiKompasTekno, Jumat (16/9/2016).

Baca: Dituding Tak Bayar Pajak di Indonesia, Ini Jawaban


Google

Masalah pajak ini memang sudah menjadi perhatian


pemerintah sejak beberapa tahun belakangan.

Keberadaannya di Indonesia hanya sebagai kantor


perwakilan sehingga transaksi bisnis yang terjadi di Tanah
Air tidak berpengaruh ke pendapatan negara.

Seperti disebut di atas, transaksi bisnis periklanan di dunia


digital di Indonesia pada tahun 2015 saja mencapai 850 juta
dollar AS atau sekitar 11,6 triliun.

Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, 70


persen dari nilai itu didominasi perusahaan internet global
(OTT) yang beroperasi di Indonesia, termasuk Google.

Haruskah diblokir?
Executive Director ICT Watch, Donny B.U. turut bicara terkait
polemik pajak Google di Indonesia. Menurut Donny,
meskipun Google salah, namun pemerintah sebaiknya tak
langsung memblokirnya.

Pasalnya, Google merupakan platform yang dipakai oleh


banyak orang di Indonesia. Pemblokiran platform tersebut
bakal membuat banyak orang, terutama yang hidup dari
dunia internet, terkena imbasnya.

“(Kalau diblokir) ya pasti gak bisa pake Gmail, googling, dan


nonton YouTube. Tentu tetap harus dicarikan solusi terbaik,
yang seminim mungkin memberikan dampak merugikan bagi
masyarakat,” terang Donny saat dihubungiKompasTekno,
Jumat (16/9/2016).

Di sisi lain, pemerintah juga mesti tegas terhadap masalah


perpajakan ini. Tindak pemblokiran bisa saja diambil setelah
dilakukan berbagai upaya lain dan ternyata tidak berhasil.

Penyelidikan terhadap Google baru akan dilakukan paling


cepat pada akhir bulan September.

Bukan di Indonesia saja

Indonesia bukan satu-satunya negara yang tengah


mengincar Google agar patuh terhadap kewajiban pajak.
Setidaknya ada tiga negara lain yang sedang menguber-uber
Google agar membayar pajaknya, yakni Inggris, Perancis,
dan Italia.

Baca: Selain di Indonesia, Pajak Google Dipermasalahkan di


4 Negara Ini

Google disebut sengaja memanfaatkan celah hukum agar


bisa membayar pajak sekecil-kecilnya padahal telah meraup
pendapatan sebesar-besarnya.

Di samping Google, perusahaan OTT asing lain yang tengah


disorot oleh Pemerintah Indonesia soal pajak ini termasuk
Yahoo, Facebook, dan Twitter.