You are on page 1of 50

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Trauma adalah cedera atau rudapaksa. Trauma abdomen adalah keadaan di


mana abdomen bagian dalam atau pun luar mengalami trauma. Trauma tumpul
abdomen dapat diakibatkan oleh pukulan, benturan, ledakan, deselarasi, kompresi,
atau sabuk pengaman. Trauma tumpul abdomen sering kali ditemui pada unit gawat
darurat. Pasien dengan trauma tumpul abdomen memerlukan penatalaksanaan yang
cepat dan efisien. Pada multiple trauma, abdomen merupakan bagian yang tersering
mengalami cedera. Seorang pasien yang terlibat kecelakaan serius harus dianggap
cedera abdominal sampai terbukti lain.

Sampai saat ini cedera abdomen yang dapat di diagnosis masih merupakan
penyebab kematian yang dapat dicegah (preventable death) pada penderita dengan
dengan trauma batang tubuh (trunk). Kurangnya data mengenai riwayat kesehatan
pasien, kronologis kejadian, luka atau trauma lain yang dapat mengalihkan perhatian,
dan perubahan status mental sebagai akibat dari cedera kepala atau intoksikasi,
membuat trauma tumpul abdomen sulit untuk didiagnosis dan ditatalaksana. Pasien
dengan trauma tumpul abdomen biasanya datang dengan cedera abdominal dan
extraabdominal yang memerlukan perawatan lanjut yang rumit.

1.2. Tujuan
Tujuan penulisan referat ini adalah untuk memenuhi tugas Kepaniteraan
Klinik Departemen Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat dan
meningkatkan pemahaman penulis maupun pembaca mengenai trauma tumpul
abdomen.

1
1.3. Manfaat
Manfaat penulisan referat ini adalah untuk meningkatkan pemahaman
mengenai trauma tumpul abdomen yang berlandaskan Advanced Trauma Life
Support (ATLS) sehingga dapat diterapkan dalam menangani kasus-kasus trauma
tumpul abdomen di klinik sesuai kompetensi dokter umum.

2
BAB II
PEMBAHASAN

Trauma Tumpul Abdomen

2.1. Definisi
Trauma tumpul abdomen adalah cedera pada abdomen tanpa penetrasi ke
dalam rongga peritoneum. Trauma tumpul abdomen didefinisikan sebagai kerusakan
terhadap struktur yang terletak diantara diafragma dan pelvis yang diakibatkan oleh
luka tumpul. Trauma tumpul kadang tidak memberikan kelainan yang jelas pada
permukaan tubuh tetapi dapat mengakibatkan kontusio atau laserasi jaringan atau
organ di bawahnya.Trauma tumpul abdomen dapat menimbulkan cedera pada organ
berongga berupa perforasi atau pada organ padat berupa perdarahan.1

2.2 Anatomi
Abdomen adalah bagian tubuh yang terletak antara diaphragma di bagian atas
dan pintu masuk pelvis dibagian bawah. Untuk kepentingan klinik, biasanya abdomen
dibagi dalam sembilan regio oleh dua garis vertikal, dan dua garis horizontal.
Masing-masing garis vertikal melalui pertengahan antara spina iliaca anterior
superior dan symphisis pubis. Garis horizontal yang atas merupakan bidang
subcostalis, yang mana menghubungkan titik terbawah pinggir costa satu sama lain.
Garis horizontal yang bawah merupakan bidang intertubercularis, yang
menghubungkan tuberculum pada crista iliaca. Bidang ini terletak setinggi corpus
vertebrae lumbalis V.2

Pembagian regio pada abdomen yaitu : pada abdomen bagian atas : regio
hypochondrium kanan, regio epigastrium dan regio hypocondrium kiri. Pada
abdomen bagian tengah : regio lumbalis kanan, regio umbilicalis dan regio lumbalis
kiri. Pada abdomen bagian bawah : regio iliaca kanan, regio hypogastrium dan regio
iliaca kiri.2

3
Gambar1 : Pembagian sembilan regio abdomen

Sedangkan pembagian abdomen juga dipermudah menjadi empat kuadran


dengan menggunakan satu garis vertikal dan satu garis horisontal yang saling
berpotongan pada umbilicus. Kuadran tersebut adalah kuadran kanan atas, kuadran
kiri atas, kuadran kanan bawah dan kuadran kiri bawah.2

Gambar 2 : Pembagian abdomen menjadi empat kuadran

Dinding perut mengandung struktur muskulo-aponeurosis yang kompleks. Di


bagian belakang, struktur ini melekat pada tulang belakang, di sebelah atas pada iga,
dan di bagian bawah pada tulang panggul. Dinding perut ini terdiri atas beberapa
lapis, yaitu dari luar ke dalam, lapis kulit yang terdiri dari kutis dan subkutis; lemak
subkutan dan fasia superfisial (fasia Scarpa); kemudian ketiga otot dinding perut, m.

4
oblikus abdominis eksternus, m. oblikus abdominis internus, dan m. tranversus
abdominis; dan akhirnya lapisan preperitoneal, dan peritoneum. Otot di bagian depan
terdiri atas sepasang otot rektus abdominis dengan fasianya yang di garis tengah
dipisahkan oleh linea alba. 2

Dinding perut membentuk rongga perut yang melindungi isi rongga perut.
Perdarahan dinding perut berasal dari beberapa arah. Dari kranikaudal diperoleh
pendarahan dari cabang a.interkostales VI s/d XII dan a.epigastrika superior. Dari
kaudal, a.iliaka sirkumfleksa superfisialis, a.pudenda eksterna, dan a.epigastrica
inferior. Kekayaan vaskularisasi ini memungkinkan sayatan perut horizontal maupun
vertikal tanpa menimbulkan gangguan pendarahan. Persarafan dinding perut dilayani
secara segmental oleh n.torakalis VI s/d XII dan n.lumbalis I.2

Rongga perut (cavitas abdominalis) dibatasi oleh membran serosa yang tipis
mengkilap yang juga melipat untuk meliputi organ-organ di dalam rongga abdominal.
Lapisan membran yang membatasi dinding abdomen dinamakan peritoneum
parietale, sedangkan bagian yang meliputi organ dinamakan peritoneum viscerale. Di
sekitar dan sekeliling organ ada lapisan ganda peritoneum yang membatasi dan
menyangga organ, menjaganya agar tetap berada di tempatnya, serta membawa
pembuluh darah, pembuluh limfe, dan saraf. Bagian-bagian peritoneum sekitar
masing-masing organ diberi nama-nama khusus.2

Mesenterium ialah bangunan peritoneal yang berlapis ganda, bentuknya


seperti kipas, pangkalnya melekat pada dinding belakang perut dan ujungnya yang
mengembang melekat pada usus halus. Di antara dua lapisan membran yang
membentuk mesenterium terdapat pembuluh darah, saraf dan bangunan lainnya yang
memasok usus. Bagian mesenterium di sekitar usus besar dinamakan mesokolon.
Lapisan ganda peritoneum yang berisi lemak, menggantung seperti celemek di
sebelah atas depan usus bernama omentum majus. Bangunan ini memanjang dari tepi
lambung sebelah bawah ke dalam bagian pelvik abdomen dan kemudian melipat

5
kembali dan melekat pada colon tranversum. Ada juga membran yang lebih kecil
bernama omentum minus yang terentang antara lambung dan liver.

Gambar 3. Mesenterium

Organ dalam rongga abdomen dibagi menjadi dua, yaitu :2

2.2.1. Organ Intraperitoneal

a. Hepar

Merupakan kelenjar terbesar dan mempunyai tiga fungsi dasar, yaitu : (1)
pembentukan dan sekresi empedu yang dimasukkan ke dalam usus halus; (2)
berperan pada aktivitas metabolisme yang berhubungan dengan metabolisme
karbohidrat, lemak, dan protein; (3) menyaring darah untuk membuang bakteri dan
benda asing lain yang masuk dalam darah dari lumen usus. Hepar bersifat lunak dan
lentur dan menduduki regio hypochondrium kanan, meluas sampai regio epigastrium.
Permukaan atas hati cembung melengkung pada permukaan bawah diaphragma.
Permukaan postero-inferior atau permukaan viseral membentuk cetakan visera yang
berdekatan, permukaan ini berhubungan dengan pars abdominalis oesophagus,
lambung, duodenum, flexura coli dextra, ginjal kanan, kelenjar suprarenalis, dan
kandung empedu.

Dibagi dalam lobus kanan yang besar dan lobus kiri yang kecil, yang
dipisahkan oleh perlekatan peritonium ligamentum falciforme. Lobus kanan terbagi
menjadi lobus quadratus dan lobus caudatus oleh adanya kandung empedu, fissura

6
untuk ligamentum teres hepatis, vena cava inferior, dan fissura untuk ligamentum
venosum. Porta hepatis atau hilus hati ditemukan pada permukaan postero-inferior
dengan bagian atas ujung bebas omentum majus melekat pada pinggirnya. Hati
dikelilingi oleh capsula fibrosa yang membentuk lobulus hati. Pada ruang antara
lobulus-lobulus terdapat saluran portal, yang mengandung cabang arteri hepatica,
vena porta, dan saluran empedu (segitiga portal).2

Gambar 4. Anatomi Hepar

b. Kandung empedu (Vesica Fellia)

Vesica Fellia adalah kantong seperti buah pear yang terletak pada permukaan
viseral hati. Secara umum dibagi menjadi tiga bagian yaitu : fundus, corpus dan
collum. Fundus berbentuk bulat dan biasanya menonjol dibawah pinggir inferior hati;
dimana fundus berhubungan dengan dinding anterior abdomen setinggi ujung rawan
costa IX kanan. Corpus bersentuhan dengan permukaan viseral hati dana arahnya
keatas, belakang dan kiri. Sedangkan collum dilanjutkan sebagai ductus cysticus yang
berjalan dalam omentum minus untuk bersatu dengan sisi kanan ductus hepaticus
communis membentuk ductus choledochus.Batas anterior vesica fellia pada dinding
anterior abdomen dan bagian pertama dan kedua duodenum.Batas posterior pada
colon tranversum dan bagian pertama dan kedua duodenum.2

7
Vesica Fellia berperan sebagai reservoir empedu dengan kapasitas ± 50 ml.
Vesica Fellia mempunyai kemampuan memekatkan empedu. Untuk membantu proses
ini, maka mukosanya mempunyai lipatan-lipatan permanen yang satu sama lain
saling berhubungan seperti sarang tawon. Empedu dialirkan ke duodenum sebagai
akibat kontraksi dan pengosongan parsial kandung empedu. Mekanisme ini diawali
dengan masuknya makanan berlemak ke dalam duodenum .lemak menyebabkan
pengeluaran hormon kolesistokinin dari mukosa duodenum; hormon kemudian masuk
ke dalam darah menyebabkan kandung empedu berkontraksi. Pada saat yang
samaotot polos yang terletak pada ujung distal ductus choledochus dan ampula
relaksasi sehingga memungkinkan masuknya empedu yang kental ke dalam
duodenum. Garam-garam empedu dalam cairan empedu penting untuk emulsifikasi
lemak dalam usus halus dan membantu pencernaan serta absorbsi lemak.2

Gambar 5. Vesica fellia

c. Limpa

Merupakan massa jaringan limfoid tunggal yang terbesar dan umumnya


berbentuk oval, dan berwarna kemerahan. Terletak pada regio hypochondrium kiri,
dengan sumbu panjangnya terletak sepanjang iga X dan kutub bawahnya berjalan ke
depan sampai linea axillaris media, dan tidak dapat diraba pada pemeriksaan fisik.
Batas anterior limpa adalah lambung, cauda pankreas, flexura coli sinistra. Batas

8
posterior pada diaphragma, pleura kiri ( recessus costodiaphragmatica kiri ), paru kiri,
costa IX, X, dan XI kiri. 2

Gambar 6. Anatomi Limpa

d. Lambung

Merupakan bagian saluran pencernaan yang melebar dan mempunyai 3 fungsi


utama: (1) menyimpan makanan dengan kapasitas ± 1500 ml pada orang dewasa; (2)
mencampur makanan dengan getah lambung untuk membentuk kimus yang setengah
padat, dan (3) mengatur kecepatan pengiriman kimus ke usus halus sehingga
pencernaan dan absorbsi yang efisien dapat berlangsung.Lambung terletak pada
bagian atas abdomen, dari regio hipochondrium kiri sampai regio epigastrium dan
regio umbilikalis.Sebagian besar lambung terletak di bawah iga-iga bagian
bawah.Batas anterior lambung adalah dinding anterior abdomen, arcus costa kiri,
pleura dan paru kiri, diaphragma, dan lobus kiri hati.Sedangkan batas posterior
lambung adalah bursa omentalis, diaphragma, limpa, kelenjar suprarenal kiri, bagian
atas ginjal kiri, arteri lienalis, pankreas, mesocolon tranversum, dan colon
tranversum. Secara kasar lambung berbentuk huruf J dan mempunyai dua lubang,
ostium cardiacum dan ostium pyloricum, dua curvatura yang disebut curvatura mayor
dan minor, serta dua permukaan anterior dan posterior. Lambung dibagi menjadi
fundus, corpus dan antrum.Fundus berbentuk kubah dan menonjol ke atas terletak di
sebelah kiri ostium cardiacum.Biasanya fundus terisi gas.Sedangkan corpus adalah

9
badan dari lambung.Antrum merupakan bagian bawah dari lambung yang berbentuk
seperti tabung.Dinding ototnya membentuk sphincter pyloricum, yang berfungsi
mengatur kecepatan pengeluaran isi lambung ke duodenum.Membran mukosa
lambung tebal dan memiliki banyak pembuluh darah yang terdiri dari banyak lipatan
atau rugae.Dinding otot lambung mengandung serabut longitudinal, serabut sirkular
dan serabut oblik. Serabut longitudinal terletak paling superficial dan paling banyak
sepanjang curvatura, serabut sirkular yang lebih dalam mengelilingi fundus
lambung,dan menebal pada pylorus untuk membentuk sphincter pyloricum.
Sedangkan serabut oblik membentuk lapisan otot yang paling dalam, mengelilingi
fundus berjalan sepanjang anterior dan posterior.2

Gambar 7. Anatomi Lambung

e. Usus halus

Usus halus merupakan bagian pencernaan yang paling panjang, dibagi


menjadi 3 bagian : duodenum, jejunum, dan ileum. Fungsi utama usus halus adalah
pencernaan dan absorpsi hasil-hasil pencernaan.2

Duodenum berbentuk huruf C yang panjangnya sekitar 25 cm, melengkung


sekitar caput pankreas, dan menghubungkan lambung dengan jejunum.Di dalam
duodenum terdapat muara saluran empedu dan saluran pankreas.Sebagian duodenum

10
diliputi peritonium, dan sisanya terletak retroperitonial.Duodenum terletak pada regio
epigastrium dan regio umbilikalis. Dibagi menjadi 4 bagian :2

Bagian pertama duodenum.Panjangnya 5 cm, mulai pada pylorus dan berjalan


keatas dan ke belakang pada sisi kanan vertebra lumbalis pertama.Bagian ini terletak
pada bidang transpilorica.Batas anterior pada lobus quadratus hati dan kandung
empedu. Batas posterior pada bursa omentalis (2,5 cm pertama), arteri
gastroduodenalis, ductus choledochus dan vena porta, serta vena cava inferior. Batas
superior pada foramen epiploicum Winslow dan batas inferior pada caput pankreas.2

Bagian kedua duodenum.Panjangnya 8 cm, berjalan ke bawah di depan hilus ginjal


kanan di sebelah vertebra lumbalis kedua dan ketiga. Batas anterior pada fundus
kandung empedu dan lobus kanan hati, colon tranversum, dan lekukan- lekukan usus
halus.Batas posterior pada hilus ginjal kanan dan ureter kanan. Batas lateral pada
colon ascenden, flexura coli dextra, dan lobus kanan hati. Batas medial pada caput
pancreas.2

Bagian ketiga duodenum.Panjangnya 8 cm, berjalan horisontal ke kiri pada bidang


subcostalis, mengikuti pinggir bawah caput pankreas.Batas anterior pada pangkal
mesenterium usus halus, dan lekukan-lekukan jejunum.Batas posterior pada ureter
kanan, muskulus psoas kanan, vena cava inferior, dan aorta.Batas superior pada caput
pankreas, dan batas inferior pada lekukan-lekukan jejunum.2

Bagian keempat duodenum.Panjangnya 5 cm, berjalan ke atas dan kiri, kemudian


memutar ke depan pada perbatasan duodenum dan jejunum. Terdapat ligamentum
Treitz yang menahan junctura duodeno-jejunalis.Batas anterior pada permulaan
pangkal mesenterium dan lekukan-lekukan jejunum.Batas posterior pada pinggir kiri
aorta dan pinggir medial muskulus psoas kiri.2

11
Gambar 8. a. Anatomi Usus halus, b.Anatomi Duodenum

Jejunum dan Ileum panjangnya ± 6 m, dua perlima bagian atas merupakan


jejunum. Jejunum mulai pada junctura duodenojejunalis dan ileum berakhir pada
junctura ileocaecalis.

f. Usus besar

Usus besar dibagi dalam caecum, appendix vermiformis, colon ascenden,


colon tranversum, colon descenden, dan colon sigmoideum, rectum dan anus. Fungsi
utama usus besar adalah absorpsi air dan elektrolit dan menyimpan bahan yang tidak
dicernakan sampai dapat dikeluarkan dari tubuh sebagai feses.2

Caecum terletak pada fossa iliaca, panjang ± 6 cm, dan diliputi oleh
peritonium. Batas anterior pada lekukan-lekukan usus halus, sebagian omentum
majus, dan dinding anterior abdomen regio iliaca kanan.Batas posterior pada m. psoas
dan m. iliacus, n. femoralis, dan n. cutaneus femoralis lateralis.Batas medial pada
appendix vermiformis.2

Appendix vermiformis panjangnya 8 – 13 cm, terletak pada regio iliaca


kanan. Ujung appendix dapat ditemukan pada tempat berikut : (1) tergantung dalam
pelvis berhadapan dengan dinding kanan pelvis; (2) melekuk di belakang caecum
pada fossa retrocaecalis; (3) menonjol ke atas sepanjang pinggir lateral caecum; (4) di
depan atau di belakang bagian terminal ileum.2

12
Colon ascenden terletak pada regio iliaca kanan dengan panjang ± 13 cm.
Berjalan ke atas dari caecum sampai permukaan inferior lobus kanan hati, di mana
colon ascenden secara tajam ke kiri, membentuk flexura coli dextra, dan dilanjutkan
sebagai colon tranversum. Peritonium menutupi pinggir dan permukaan depan colon
ascenden dan menghubungkannya dengan dinding posterior abdomen. Batas anterior
pada lekukan-lekukan usus halus, omentum majus, dan dinding anterior abdomen.
Batas posterior pada m. Iliacus, crista iliaca, m. Quadratus lumborum, origo m.
Tranversus abdominis, dan kutub bawah ginjal kanan.2

Colon tranversum panjangnya ± 38 cm dan berjalan menyilang abdomen,


menduduki regio umbilikalis dan hipogastrikum.Batas anterior pada omentum majus
dan dinding anterior abdomen.Batas posterior pada bagian kedua duodenum, caput
pankreas, dan lekukan-lekukan jejunum dan ileum.2

Colon descenden terletak pada regio iliaca kiri, dengan panjang ± 25 cm.
Berjalan ke bawah dari flexura coli sinistra sampai pinggir pelvis.Batas anterior pada
lekukan-lekukan usus halus, omentum majus, dan dinding anterior abdomen. Batas
posterior pada pinggir lateral ginjal kiri, origo m. Tranversus abdominis, m.
Quadratus lumborum, crista iliaca, m. Iliacus, dan m. Psoas kiri. 2

Gambar 9. Anatomi Usus besar

13
2.2.2 Organ Retroperitoneal

a. Ginjal

Berperan penting dalam mengatur keseimbangan air dan elektrolit dalam


tubuh dan mempertahankan keseimbangan asam basa darah. Kedua ginjal berfungsi
mengekskresi sebagian besar zat sampah metabolisme dalam bentuk urin. Ginjal
berwarna coklat-kemerahan, terletak tinggi pada dinding posterior abdomen, sebagian
besar ditutupi oleh tulang iga.Ginjal kanan terletak lebih rendah dibanding ginjal kiri,
dikarenakan adanya lobus kanan hati yang besar.

Ginjal dikelilingi oleh capsula fibrosa yang melekat erat dengan cortex ginjal.
Di luar capsula fibrosa terdapat jaringan lemak yang disebut lemak perirenal. Fascia
renalis mengelilingi lemak perirenal dan meliputi ginjal dan kelenjar suprarenalis.
Fascia renalis merupakan kondensasi jaringan areolar, yang di lateral melanjutkan
diri sebagai fascia tranversus. Di belakang fascia renalis terdapat banyak lemak yang
disebut lemak pararenal.2

Batas anterior ginjal kanan pada kelenjar suprarenalis, hati, bagian kedua
duodenum, flexura coli dextra. Batas posterior pada diaphragma, recessus
costodiaphragmatica pleura, costa XII, m. Psoas, m. Quadratus lumborum, dan m.
Tranversus abdominis.Pada ginjal kiri, batas anterior pada kelenjar suprarenalis,
limpa, lambung, pankreas, flexura coli kiri, dan lekukan-lekukan jejunum. Batas
posterior pada diaphragma, recessus costodiaphragmatica pleura, costa XI, XII, m.
Psoas, m. Quadratus lumborum, dan m. Tranversus abdominis. 2

14
Gambar 10. Anatomi Ginjal

b. Ureter

Mengalirkan urin dari ginjal ke vesica urinaria, dengan didorong sepanjang


ureter oleh kontraksi peristaltik selubung otot, dibantu tekanan filtrasi glomerulus.
Panjang ureter ± 25 cm dan memiliki tiga penyempitan : (1) di mana piala ginjal
berhubungan dengan ureter;(2) waktu ureter menjadi kaku ketika melewati pinggir
pelvis;(3) waktu ureter menembus dinding vesica urinaria. Ureter keluar dari hilus
ginjal dan berjalan vertikal ke bawah di belakang peritonium parietal pada m. Psoas,
memisahkannya dari ujung processus tranversus vertebra lumbalis. Ureter masuk ke
pelvis dengan menyilang bifurcatio a. Iliaca comunis di depan articulatio sacroiliaca,
kemudian berjalan ke bawah pada dinding lateral pelvis menuju regio ischiospinalis
dan memutar menuju angulus lateral vesica urinaria.2

Pada ureter kanan, batas anterior pada duodenum, bagian terminal ileum, av.
Colica dextra, av. Iliocolica, av. Testicularis atau ovarica dextra, dan pangkal
mesenterium usus halus. Batas posterior pada m. Psoas dextra.Batas anterior ginjal
kiri pada colon sigmoideum, mesocolon sigmoideum, av. Colica sinistra, dan av.
Testicularis atau ovarica sinistra.Batas posterior pada m. Psoas sinistra.2

15
Gambar 11. Anatomi ureter

c. Pankreas

Merupakan kelenjer eksokrin dan endokrin, organ lunak berlobus yang


terletak pada dinding posterior abdomen di belakang peritonium.Bagian eksokrin
kelenjer menghasilkan sekret yang mengandung enzim yang dapat menghidrolisis
protein, lemak, dan karbohirat.Bagian endokrin kelenjer, yaitu pulau langerhans,
menghasilkan hormon insulin dan glukagon yang berperan penting dalam
metabolisme karbohidrat.Pankreas menyilang bidang transpilorica.
Dibagi menjadi empat bagian, yaitu : (1) caput pankreas berbentuki seperti cakram,
terletak pada bagian cekung duodenum. Sebagian caput meluas ke kiri di belakang
av. Mesenterica superior dan dinamakan processus uncinatus; (2) collum pancreas
merupakan bagian yang mengecil dan menghubungkan caput dengan corpus
pankreas. Terletak di depan pangkal vena porta dan pangkal arteri mesenterica
superior dari aorta; (3) corpus berjalan ke atas dan kiri menyilang garis tengah; (4)
cauda berjalan menuju ke ligamentum lienorenalis dan berhubungan dengan hilus
limpa.2

Batas anterior pankreas dari kanan ke kiri : colon tranversum, perlekatan


mesocolon tranversum, bursa omentalis, dan lambung. Sedangkan batas posterior
pankreas dari kanan ke kiri : ductus choledochus, vena porta, vena lienalis, vena cava

16
inferior, aorta, pangkal arteri mesenterica superior, m. Psoas kiri, kelenjer
suprarenalis kiri, ginjal kiri, dan hilus limpa. 2

Gambar 12. Anatomi Pankreas

2.3 Insiden

Etiologi dari trauma tumpul abdomen tergantung dari lingkungan di sekitar


institusi rumah sakit tersebut berada. Di sentral trauma metropolitan, penyebab
tersering adalah kecelakaan lalu lintas (50-75%) yang meliputi tabrakan antar
kendaraan bermotor (antara 45-50%) dan tabrakan antara kendaraan bermotor dengan
pejalan kaki.3,4 Tindakan kekerasan, jatuh dari ketinggian, dan cedera yang
berhubungan dengan pekerjaan juga sering ditemukan.
Enam hingga 25% dari insidensi trauma tumpul abdomen yang memerlukan
tindakan laparotomi eksplorasi.3,5 Organ yang terkena adalah lien (40-55%), hepar
(35-45%), dan organ retroperitoneal (15%).3

2.4 Biomekanisme Trauma Tumpul


a. Trauma kompresi
Trauma kompresi terjadi bila bagian depan dari badan berhenti bergerak,
sedangkan bagian belakang dan bagian dalam tetap bergerak ke depan. Organ-organ
terjepit dari belakang oleh bagian belakangtorakoabdominal dan kolumna vertebralis
dan di depan oleh struktur yang terjepit. Trauma abdomen menggambarkan variasi

17
khusus mekanisme trauma dan menekankan prinsip yang menyatakan bahwa keadaan
jaringan pada saat pemindahan energi mempengaruhi kerusakan jaringan. Pada
tabrakan, maka penderita akan refleks menarik napas dan menahannya dengan
menutup glotis. Kompresi abdominal mengakibatkan peningkatan tekanan abdominal
dan dapat menyebabkan ruptur diafragma dan translokasi organ-organ abdomen ke
dalam rongga toraks.Transient hepatic kongestion dengan darah sebagai akibat
tindakan valsava mendadak diikuti kompresi abdomen ini dapat menyebabkan
rupturnya hati. Keadaan serupa dapat terjadi pada usus halus bila ada usus halus yang
closed loop terjepit antara tulang belakang dan sabuk pengaman yang salah
memakainya.

b. Trauma seat belt


Sabuk pengaman yang tidak dipakai dengan benar akan menimbulkan trauma.
Agar berfungsi dengan baik, sabuk pengaman harus dipakai dibawah spina iliaka
superior dan diatas femur, tidak boleh mengendur saat tabrakan dan harus mengikat
penumpang dengan baik. Bila dipakai diatas SIAS maka hepar, lien, pankreas, usus
halus, duodenum dan ginjal akan terjepit diantara sabuk pengaman dan tulang
belakang yang dapat menimbulkan burst injury atau laserasi. Hiperfleksi vertebra
lumbalis akibat sabuk yang terlalu tinggi mengakibatkan fraktur kompresi anterior
dan vertebra lumbal.

Gambar 13 : Cedera Akibat Pemakaian Sabuk Pengaman Yang Tidak Benar2

Sumber: The Atlas of Emergency Medicine

18
c. Cedera akselerasi-deselerasi
Trauma deselerasi terjadi bila bagian yang menstabilisasi organ seperti
pedikel ginjal, ligamentum teres berhenti bergerak, sedangkan organ yang
distabilisasi seperti hepar, ginjal, limpa tetap bergerak. Shear force terjadi bila
pergerakan ini terus berlanjut, contoh pada ginjal dan limpa dengan pedikelnya, pada
haepar terjadi laserasi bagian sentral jika deselerasi lobus kanan dan kiri sekitar
ligamentum teres.

Gambar 14 : Small Bowel Bucket Handle Injury

Sumber: Advanced Trauma and Life Support

2.5 Klasifikasi
Berdasaran jenis organ yang cedera dapat dibagi dua :6
a. Pada organ padat seperti hepar dan limpa dengan gejala utama perdarahan
b. Pada organ berongga seperti usus dan saluran empedu dengan gejala utama adalah
peritonitis

Berdasarkan daerah organ yang cedera dapat dibagi dua, yaitu :


a. Organ Intraperitoneal : Ruptur Hati, Ruptur Limpa, Ruptur Usus Halus
b. Organ Retroperitoneal : Retroperitoneal abdomen terdiri dari ginjal, ureter,
pancreas, aorta, dan vena cava. Trauma pada struktur ini sulit ditegakkan diagnosis
berdasarkan pemeriksaan fisik. Evaluasi regio ini memerlukan CT scan,

19
angiografi, dan intravenous pyelogram.trauma pada daerah ini menyebabkan
ruptur Ginjal, ruptur Pankreas,ruptur Ureter

2.6 Riwayat Trauma

Riwayat trauma sangat penting untuk menilai keadaan penderita. Keterangan


ini dapat diberikan oleh penderita, penumpang lain, polisi atau petugas medis gawat
darurat di lapangan. Keterangan mengenai tanda-tanda vital, cedera yang kelihatan,
dan respon terhadap perawatan pre-hospital juga harus diberikan oleh para petugas
yang memberikan perawatan pre-hospital.3

Pada trauma tumpul abdomen terutama yang merupakan akibat dari


kecelakaan lalu lintas, petugas medis harusmenanyakan hal-hal sebagai berikut:
fatalitas dari kejadian? Tipe kendaraan dan kecepatan? Apakah kendaraan terguling,
ditabrak dari lateral, frontal dan belakang? Bagaimana kondisi penumpang lainnya?
Lokasi pasien dalam kendaraan? Tingkat keparahan rusaknya kendaraan? Deformitas
setir? Apakah korban menggunakan sabuk pengaman? Tipe sabuk pengaman?-apakah
airbag di samping dan depan korban berfungsi ketika kejadian? Apakah ada riwayat
pengunaan alkohol dan obat-obatan sebelumnya? Parahnya cedera pada pejalan kaki
bervariasi tergantung pada kecepatan dan ukuran kendaraan yang menabraknya.1,3

2.7 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada pasien-pasien trauma tumpul abdomen pada dasarnya
sama dengan trauma-trauma lainnya berupa primary survey yang cepat, resusitasi,
secondary survey dan akhirnya terapi definitif.
a. Primary survey
Selama primary survey, keadaan yang mengancam nyawa harus dikenalidan
resusitasinya dilakukan pada saat itu juga.Tindakan primary survey dilakukan secara
berurutan sesuai prioritas tapi dalam praktenya hal-hal tersebut sering dilakukan
bersamaan (simultan).

20
Airway
Yang pertama harus dinilai adalah kelancaran jalan napas berupa obstruksi
jalan napas yang dapat disebabkan oleh benda asing, fraktur tulang wajah, fraktur
mandibula, maksila atau trakea. Membebaskan jalan napas harus melindungi vertebra
servikal dengan melakukan jaw thrust. Pada pasien yang dapat berbicara dapat
dianggap bahwa jalan napas bersih dan tetap harus dinilai ulang.Pada pasien yang
masih sadar dapat memakai nasopharingeal airway, sedanglkan pada pasien yang
tidak sadar dan tidak ada gag reflex dapat menggunakan oropharingeal airway. Pasien
dengan GCS kurang dari 8 atau adanya keraguan mengenai kemampuan menjaga
airway perlunya airway definitif.
Breathing
Airway yang baik tidak menjamin ventilasi yang baik.Ventilasi yang baik
meliputi fungsi yang baik dari paru, dinding dada, dan diafragma.Buka dada pasien
untuk melihat ekspansi pernapasan.Auskultasi untuk memastikan masuknya udara ke
dalam paru.Perkusi untuk menilai adanya udara atau cairan dalam rongga
pleura.Inspeksi dan palpasi untuk melihat abnormalitas gerakan atau getaran dinding
dada. Jika ada gangguan ventilasi atau gangguan kesadaran diatasi dengan face mask,
intubasi endotrakeal yaitu nasopharingeal airway atau oropharingeal airway.
Kemudian pasang pulse oximetry untuk menilai saturasi O2yang adekuat.
Circulation
Penilaian pada tahap ini meliputi volume darah, tingkat kesadaran, warna kulit
dan nadi.
1. Volume darah
Adanya hipotensi harus dianggap disebabkan oleh hipovolemia sampai
terbukti sebaliknya.3 jenis penilaian secara cepat yang dapat memberikan gambaran
keaadaan tersebut yaitu tingkat kesadaran, warna kulit dan nadi.
2. Tingkat kesadaran
Bila volume darah menurun, perfusi otak dapat berkurang yang
mengakibatkan penurunan kesadaran.
3. Warna kulit

21
Pasien trauma yang kulitnya kemerahan, terutama pada wajah dan ekstremitas
jarang dalam keadaan hipovolemia.Sebaliknya wajah pucat keabu-abuan dan kulit
ekstremitas yang pucat sebagai tanda hipovolemia.
4. Nadi
Periksa pada nadi besar seperti arteri femoralis, arteri karotis, untuk kekuatan,
kecepatan dan irama nadi. Nadi yang tidak cepat, kuat dan teratur merupakan
normovolemia ( bila tidak minum beta bloker). Nadi yang cepat dan kecil merupakan
hipovolemia.Kecepatan nadi yang normal tidak menjamin normovolemia.Nadi yang
tidak teraur biasanya tanda gangguan jantung.Tidak ada pulsasi dari arteri besar
mengindikasikan perlunya resusitasi segera.
5. Perdarahan
Perdarahan eksternal yang tampak dihentikan dengan penekanan pada luka.
Spalk udara ( pneumatic splinting device) sebagai pengontrol perdarahan yang
tembus cahaya. Torniquet sebaiknya jangan dipakai karena merusak jaringan dan
menyebabkan iskemia distal, kecuali pada amputasi traumatik.Sedangkan pemakaian
hemostat memerlukan waktu dan dapat merusak jaringan seperti saraf dan pembuluh
darah.
Jika ada gangguan sirkulasi atau syok hipovolemia minimal pasang 2 IV line
untuk resusitasi cairan kristaloid (ringer laktat / RL) 2-3 liter.Jika tidak ada respon
diberikan tranfusi darah segolongan.Jika tidak ada darah segolongan, dapat diberikan
darah tipe O rhesus negatif atau darah tipe O rhesus positif dengan titer
rendah.Jangan memberikan vasopresor, steroid atau bikarbonas natricus.Jangan
memberikan resusitasi cairan RL atau transfusi darah secara terus menerus, karena
keadaan ini harus dilakukan resusitasi operatif untuk menghentikan perdarahan.
Sebelum resusitasi, lakukan dengan cepat pemeriksaan genitalia dan colok
dubur untuk menilai ada tidaknya tanda-tanda ruptur uretra yaitu prostat letak tinggi
atau tidak teraba. Tanda lain ruptur uretra berupa adanya darah di orifisium uretra
eksternal (metal bleeding), hematom skrotum atau di perineum. Jika tidak ada tanda-
tanda tersebut maka selama resusitasi, pasang kateter urin untuk menilai perfusi ginjal

22
dan hemodinamik pasien.Namun, jika diduga adanya ruptur uretra, jangan pasang
kateter urin tetapi lakukan uretrogram terlebih dahulu.
Nasogastric tube (NGT) dipakai untuk mengurangi distensi lambung dan
mengurangi kemungkinan muntah.Darah dalam lambung dapat disebabkan karena
traumatik karena pemasangan NGT atau perlukaan lambung.Jika ada dugaan patah
pada lamina kibrosa, NGT yang dipasang hanya bisa yang melaluui mulut untuk
mencegah masuknya NGT dalam rongga otak.
Disability
Pada tahap ini dilakukan penilaian neurologis secara cepat berupa tingkat
kesadaran, ukuran dan reaksi pupil, tanda-tanda lateralisasi dan tingkat cedera spinal.
Exposure
Pada tahap ini, pakaian pasien dibuka keseluruhan kemudian dinilai kelainan
yang tampak secara cepat.Selanjutnya selimuti pasien agar tidak hipotermi.

b. Secondary survey
Secondary survey adalah pemeriksaan kepala hingga kaki (head to toe)
termasuk anamnesis dan reevaluasi pemeriksaan tanda vital.Tahap ini baru dilakukan
setelah primary survey dan resusitasi selesai serta pasien dipastikan sudah
membaik.Jika kondisi hemodinamik pasien sudah stabil tanpa tanda-tanda peritonitis
bisa diperiksa lebih detail untuk menentukan apakah ada trauma spesifik atau apakah
selama observasi timbul tanda peritonitis atau perdarahan.
Anamnesis
Pada kasus trauma tumpul abdomen yang perlu di perhatikan adalah riwayat
trauma yakni waktu kejadian dan mekanisme kejadian, Kondisi dan penanganan awal
sebelum masuk rumah sakit
Pemeriksaan fisik
Meskipun pemeriksaan fisik merupakan langkah awal untuk evaluasi perlu
tidaknya dilakukan tindakan pembedahan, tetapi validitasnya diragukan pada trauma
tumpul abdomen. Pemeriksaan fisik ini tidak dapat diandalkan terutama bila
ditemukan adanya efek dari alkohol, obat terlarang, analgesik atau narkotik, atau

23
penurunan kesadaran.3,4,7 Selain itu juga sulitnya akses untuk palpasi organ-organ
pelvis, abdomen atas, dan retroperitoneal menyebabkan pemeriksaan fisik ini tidak
dapat diandalkan.7 Fraktur iga bawah, fraktur pelvis, dan kontusio dinding abdomen
juga dapat menyerupai tanda-tanda peritonitis. Powell et al melaporkan bahwa
pemeriksaan fisik saja hanya memiliki tingkat akurasi sebesar 65% dalam mendeteksi
ada tidaknya perdarahan intra-abdomen.4 Pemeriksaan fisik abdomen inisial
menghasilkan 16% positif palsu, 20% negatif palsu, 29% nilai perkiraan positif, dan
48% nilai perkiraan negatif untuk menentukan perlu tidaknya laparotomi eksplorasi.3
Pemeriksaan fisik pada trauma abdomen ditujukan untuk secara cepat
mengidentifikasi pasien yang membutuhkan laparotomi.Cedera abdomen sering
menyebabkan nyeri dan kejang pada dinding perut dan membuat diagnosis menjadi
sulit . Patah tulang rusuk bawah, patah tulangpanggul, atau kontusio dinding perut
dapat menyerupai tanda-tanda peritonitis. Karena manifestasi utama dari trauma
tumpul organ padatadalah perdarahan, pasien harus dipantau secara ketat selama
penilaian awal, dan adanya syok refrakter dianggap akibat perdarahan masif. Pasien
harus diperiksa dari kepala sampai kaki untuk tanda-tanda trauma tumpul dan
lukatembus. Lecet kecil atau ekimosis menunjukkan cedera intraabdominal lokal
yang signifikan. Dinding dan belakang perut harus diperiksa secara hati-hati, dan
adanyaekimosis posterior meningkatkan kemungkinan cedera retroperitoneal . Tidak
adanya bising usus berhubungan denganileus, dalam konteks unit gawat darurat,
adanya bising usus tidak sensitif untuk membedakan antara pasien yang memerlukan
laparotomy atau tidak.
Pada palpasi dapat ditemukan nyeri lokal, kejang, atau kekakuan dinding
perut. Temuan ini dan temuan rebound tenderness konsisten dengan peritonitis dan
perforasi organ berongga.Nyeri suprapubik dan panggul dapat menunjukkan patah
tulang panggul, dinilai pada pasien sadar.Pemeriksaan perineum dan meatus uretra
rutin dilakukan untuk mencari tanda-tanda fraktur panggul dan kemungkinan cedera
uretra. Kateter uretra dipasang, dan sampel urin dikirim untuk analisis adanya
hematuria mikroskopik. Jika cedera pada uretra dicurigai, urethrography retrograde (
RUG ) harus dilakukan sebelum mencoba kateterisasi.Perforasi viskus berongga

24
mungkin memerlukan beberapa jamsebelum peritonitis menjadi jelas . Perforasi
kolon atau lambung menyebabkan peritonitis lebih cepat.

1. Tingkat kesadaran dan tanda-tanda vital


2. Regio kepala
Pemeriksaan berupa konjungtiva anemis, dan tanda-tanda trauma kepala yang
terjadi bersamaan dengan trauma abdomen yaitu adanya luka dan kontusio pada kulit
kepala, fraktur, edema palbebra, benda asing dalam mata, perdarahan konjungtiva,
ukuran dan respon pupil.
3. Regio maksilofasial
Pada regio ini diperiksa untuk menilai adanya tanda-tanda trauma kepala yang
mungkin terjadi bersamaan dengan trauma abdomen yaitu fraktur tulang wajah yang
mungkin juga ada fraktur lamina kribosa.
4. Regio vertebra servikalis dan leher
Pada regio ini diperiksa untuk menilai adanya tanda-tanda trauma kepala yang
mungkin terjadi bersamaan dengan trauma abdomen.pasien dengan trauma kepala
atau trauma maksilofasial dianggap ada fraktur servikal. Maka dilakukan imobilisasi
hingga vertebra servikal diperiksa teliti dengan foto servikal.Melakukan pemeriksaan
neurologis untuk menilai defisit neurologis yang disesuaikan dengan penjalaran
persarafan servikal.
Pemeriksaan leher meliputi inspeksi adanya jejas, palpasi dan auskultasi pada
arteri karotis.
5. Regio toraks
Pemeriksaan toraks diutamakan jika ada trauma torakas yang juga terjadi
bersamaan dengan trauma abdomen.inspeksi dari depan dan belakang untuk menilai
adanya flail chest atau open pneumothorax, hematom pada dinding dada, distensi
vena jugularis. Palpasi pada setiap kosta dan klavikula untuk menilai adanya fraktur.
Auskultasi bising napas pada atas toraks untuk menentukan pneumotoraks dan bagian
posterior untuk menilai adanya hemotoraks.Bunyi jantung yang jauh disertai nadi
yang kecil mungkin disebabkan tamponade jantung.Suara napas yang menurun pada

25
auskultasi dan hipersonor pada perkusi disertai syok mengarahkan pada
pneumotoraks.

6. Regio abdomen
Inspeksi
Baju penderita harus dibuka semua. Amati adanya :
a) Hematom, seat belt sign.
b) Distensi abdomen, yang biasanya berhubungan dengan pneumoperitoneum,
dilatasi gaster, atau ileus akibat iritasi peritoneal.
c) Kebiruan pada regio flank, punggung bagian bawah ( grey turner sign)
menandakan adanya perdarahan retroperitoneal yang melibatkan ginjal,
pankreas, atau fraktur pelvis.
d) Kebiruan disekitar umbilikus (cullen sign) menandakan adanya perdarahan
pankreas.

Gambar 15 & 16: Grey Turner dan Cullen Sign.6

Auskultasi
Penurunan peristaltik usus dapat berasal dari adanya peritonitis kimiawi
karena perdarahan atau ruptur organ berongga.Cedera pada struktur yang berdekatan

26
seperti tulang iga, tulang belakang atau tulang panggul juga dapat mengakibatkan
ileus meskipun tidak ada cedera intraabdomen sehingga tidak ada peristaltik usus
bukan berarti pasti ada cedera intraabdomen.Adanya peristaltik usus pada toraks
menandakan adanya cedera pada diafragma.
Perkusi
Perkusi pada dinding abdomen menyebabkan pergerakan peritoneum dan
dapat menunjukkan peritonitis. Perkusi timpani pada kuadran atas akibat dari dilatasi
lambung akut atau bunyi redup bila ada hemoperitoneum.
Palpasi
Kecenderungan mengeraskan dinding abdomen (voluntary guarding) dapat
menyulitkan pemeriksaan. Sebaliknya, defans muskular (voluntary guarding)
merupakan tanda iritasi peritoneum.palpasi dilakukan selain menilai haltersebut juga
untuk mengetahui adanya nyeri tekan superfisial,nyeri tekan dalam. Nyeri tekan lepas
menandakan peritonitis akibat darah atau isis usus.
Pada kasus trauma tumpul ini, perlu curiga akan adanya fraktur pelvis. Oleh
karena itu, untuk menilai stabilisasi pelvis dengan cara menekankan tangan pada
tulang-tulang iliakauntuk membangkitkan gerakan abnormal atau nyeri tulang.
7. Regio penis, perineum, rektum dan vagina
Adanya darah pada meatus uretra menyebabkan dugaan kuat robeknya uretra.
Adanya ekimosis atau hematom pada inspeksi skrotum dan perineum dapat diduga
kuat robeknya uretra.

8. Rectal Toucher
Pemeriksaan rectal toucher dilakukan dan tonus sfingter ani dievaluasi.
Integritas dinding rektum, posisi dan mobilitas prostat terkait dengan cedera uretra
juga dievaluasi. Tinja harus diperiksa untuk mencari adanya darah samar.
Pada cedera uretra didapatkan adanya floating prostat (prostat melayang)
didalam suatu hematom karena tidak terfiksasi lagi pada diafragma urogenital.

27
Pasien dengan trauma abdomen, secara umum diklasifikasikan menjadi 2,
berdasarkan kondisi hemodinamik setelah resusitasi awal:
a. Hemodinamik normal
Pemeriksaan lengkap dan penatalaksanaan dapat segera direncanakan
b. Hemodinamik stabil
Pemeriksaan lebih terbatas dan ditujukan untuk menentukan apakah pasien
dapat ditangani secara non operatif, apakah angioembolisasi dapat digunakan ataukah
membutuhkan pembedahan.
c. Hemodinamik tidak stabil
Membutuhkan intervensi bedah segera untuk menghentikan perdarahan.

Laparotomi trauma merupakan langkah terakhir yang dilakukan untuk


menggambarkan cedera intra abdomen. Adakalanya sulit untuk menentukan sumber
perdarahan pada pasien dengan trauma multiple, dan apabila masih ada keraguan,
laparotomi dapat menjadi pilihan.

Pemeriksaan diagnostik pada trauma tumpul abdomen


1. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan hematokrit adalah studi darah utama nilai dalam evaluasi awal
pasien dengan trauma abdomen . Jumlah leukosit, kreatinin serum , glukosa , serum
amilase/ lipase, dan penentuan serum elektrolit sering diperoleh untuk referensi tetapi
biasanya memiliki sedikit nilai pada periode manajemen langsung, tapi sangat
penting untuk penilaian serial. Diagnosis perdarahan masif biasanya jelas dari
parameter hemodinamik, dan hematokrit hanya menegaskan diagnosis. Anemia
delusional iatrogenik umum terjadi, dengan adanya stabilitas hemodinamik,
ditoleransi dengan baik. Hematokrit serialyang mengalami penurunan terus-menerus
mengidentifikasi perdarahan yang sedang berlangsung dan membutuhkan intervensi
operasi segera. Urinalisis menegaskan kehadiran hematuria mikroskopik. Untuk
trauma tumpul, evaluasi radiografi ( biasanya dengan CT ) dari ginjal dan kandung
kemih harus dimulai pada pasien dengan gross hematuria atau hematuria mikroskopik

28
dan syok (tekanan darah sistolik < 90 mm Hg pada orang dewasa) pada setiap titik
selama pra-rumah sakit atau instalasi gawat darurat. Serum amilase tidak sensitif dan
spesifik sebagai penanda untuk cedera pankreas. Cedera pada kepala dan wajah
sering menyebabkan peningkatan konsentrasi amilase plasma. Tingkat lipase serum
tidak meningkat pada trauma wajah dan mungkin lebih spesifik daripada tingkat
amilase. Sensitivitas dan spesifisitas kadar lipase , bagaimanapun, terutama pada
periode postinjury awal masih relatif rendah.

Bilamana ada bukti awal ataupun bukti yang jelas yang menunjukan pasien
harus segera ditransfer, pemeriksaan yang memerlukan waktu banyak tidak perlu
dilakukan.Pemeriksaan sepertiini antara lain pemeriksaan rontgen foto dengan
kontras untuk gastrointestinal maupun urologi ,DPI,maupun CT scan (lihat tabel 1 ,
DPL Vs FAST Vs CT scan pada trauma tumpul).

2. Pemeriksaan Radiografi

Studi radiologis yang pernting untuk evaluasi trauma abdomen adalah rontgen
dada, uretrografi retrograde, sistografi, CT scan, USG, dan angiografi. Selain itu,
semua luka dari trauma tembus harus dievaluasi dengan radiograf polos dengan
penggunaan penanda radiodense di situs luka untuk memungkinkan evaluasi dari
lintasan rudal .Pada trauma tumpul, foto anteroposterior panggul dapat
menggambarkan patah tulang panggul yang tidak terdeteksi pada pemeriksaan
fisik.Fraktur transversal dari vertebra harus meningkatkan pencarian cedera usus
tumpul serius.

Nilai foto polos abdomen setelah trauma tumpul sangat terbatas dan tidak
secara rutin diperoleh . Nilai yang lebih besar adalah pemeriksaan CT scan, USG, dan
angiografi.CT memiliki nilai nyata dalam penilaian yang akurat tentang cedera organ
padat, terutama dari hati, ginjal, dan limpa, CT kontras memiliki akurasi yang besar
dalam penggambaran perdarahan intraabdominal. Keakuratan CT scan dalam
evaluasi cedera viskus berongga agak lebih terbatas, namun perbaikan teknolohi CT
telah menigkatkan sensitivitas CT dalam mendeteksi tanda-tanda yang lebih halus

29
dari cedera pada usus . CT juga sangat spesifik dalam evaluasi cedera retroperitoneal
dan merupakan studi diagnostik yang paling berguna dan informatif untuk pasien
dengan trauma abdomen.

Pasien dengan tanda-tanda peritonitis atau ketidakstabilan hemodinamik


setelah trauma tembus jelas bukan merupakan kandidat untukdiagnostik CT scan,
juga setiap pasien trauma dengan ketidakstabilan hemodinamik. Angiografi
dicadangkan untuk situasi tertentu, seperti yang dicurigai cedera aorta atau arteri
ginjal , atau perdarahan yang sedang berlangsung dari panggul, hati, limpa atau
cedera . Pemeriksaan ini tidak dianggap sebagai penyelidikan screening awal .

Laparoskopi telah digunakan untuk diagnosis dan mengobati pasien trauma.


Meskipun terbatas pada evaluasi diafragma pada trauma tumpul, setelah menembus
trauma laparoskopi sangat membantu bila tidak jelas apakah peritoneum
telahditembus. Pada pasien yang penetrasi peritoneal terlihat, penggunaan
laparoskopi untuk lebih mengeksplorasi rongga peritoneal dan perbaikan cedera lebih
kontroversial. Kecukupan eksplorasi perut, khususnya pemeriksaan usus dan
retroperitoneum telah dipertanyakan, dan perbaikan cedera besar melalui laparoskopy
bukan merupakan pilihan yang baik. Pada pasien dengan luka dada bagian bawah,
laparoskopi dapat mengidentifikasi baik penetrasi peritoneal dan cedera diafragma.
Cedera diafragma terisolasi atau berhubungan nonbleeding laserasi hati adalah salah
satu daerah di mana perbaikan diafragma melalui laparoskop telah terbukti
layak . Dari catatan, saat laparoskopi digunakan pada pasien dengan potensi cedera
diafragma, tekanan positif di rongga peritoneal dapat menyebabkan tension
pneumothorax jika dada tidak cukup vented .

X-ray toraks berguna untuk evaluasi trauma tumpul abdomen karena beberapa
alasan. Pertama, dapat mengidentifikasi adanya fraktur iga bawah. Bila hal tersebut
ditemukan, tingkat kecurigaan terjadinya cedera abdominal terutama cedera hepar
dan lien meningkat dan perlu dilakukan evaluasi lebih lanjut dengan CT scan
abdomen-pelvis. Kedua, dapat membantu diagnosis cedera diafragma. Pada keadaan

30
ini, x-ray toraks pertama kali adalah abnormal pada 85% kasus dan diagnostik pada
27% kasus.3 Ketiga, dapat menemukan adanya pneumoperitoneum yang terjadi akibat
perforasi hollow viscus. Sama dengan fraktur iga bawah, fraktur pelvis yang
ditemukan pada x-ray pelvis dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya cedera
intra-abdominal sehingga evaluasi lebih lanjut perlu dilakukan dengan CT scan
abdomen-pelvis. Pyelografi intravena dan sistogram retrograd merupakan tes yang
berguna dalam evaluasi penderita dengan hematuria.3,4

Pemeriksaan Focused Assessment with Sonography for Trauma (FAST) telah


diterima secara luas sebagai alat untuk evaluasi trauma abdomen. Alatnya yang
portabel sehingga dapat dilakukan di area resusitasi atau emergensi tanpa menunda
tindakan resusitasi, kecepatannya, sifatnya yang non-invasif, dan dapat dilakukan
berulang kali menyebabkan FAST merupakan studi diagnostik yang ideal. Namun
tetap didapatkan beberapa kekurangan, terutama karena ketergantungannya terhadap
jumlah koleksi cairan bebas intraperitoneal untuk mendapatkan hasil pemeriksaan
yang positif. Cedera hollow viscus dan retroperitoneal sulit dideteksi dengan
pemeriksaan ini. Mengenai keuntungan dan kerugian FAST dapat dilihat pada tabel
berikut ini.4

Tabel 1. Keuntungan dan kerugian FAST4

KEUNTUNGAN KERUGIAN
Nonivasif Hasilnya tergantung keahlian pemeriksa
Tidak menghasilkan radiasi Sulit dilakukan pada penderita obesitas
Dapat dilakukan berulang kali Terdapat interposisi dengan udara

Dapat dilakukan di area resusitasi atau Sensitifitas rendah untuk koleksi cairan
emergensi tanpa menunda tindakan bebas < 500 ml
resusitasi

31
Dapat dilakukan pada evaluasi awal Negatif palsu : cedera retroperitoneal dan
hollow viscus
Murah

Ambang minimun jumlah hemoperitoneum yang dapat terdeteksi masih


dipertanyakan. Kawaguchi et al dapat mendeteksi sampai 70 cc, sedangkan Tilir et al
mengemukakan bahwa 30 cc adalah jumlah minimum yang diperlukan untuk dapat
terdeteksi dengan USG.Mereka juga menyimpulkan strip kecil anekoik di Morison
pouch menggambarkan cairan sebanyak kurang lebih 250 cc, sementara strip selebar
0,5 dan 1 cm menggambarkan koleksi cairan sebesar 500 cc dan 1 liter. 4

Beberapa penelitian akhir-akhir ini mempertanyakan keandalan FAST pada


evaluasi trauma tumpul abdomen. Stengel et al melakukan meta-analisis dari 30
penelitian prospektif dengan kesimpulan pemeriksaan FAST memiliki sensitifitas
rendah yang tidak dapat diterima (unacceptably) untuk mendeteksi cairan intra-
peritoneal dan cedera organ padat. Mereka merekomendasikan penambahan studi
diagnostik lain dilakukan pada penderita yang secara klinis dicurigai trauma tumpul
abdomen, apapun hasil temuan pemeriksaan FAST.3 Literatur lain menunjukkan
sensitifitas berkisar antara 78-99% dan spesifisitas berkisar antara 93-100%.2,3
Rozycki et al dari studinya yang melibatkan 1540 penderita melaporkan sensitifitas
dan spesifisitas sebesar 100% pada penderita trauma tumpul abdomen.4

Ultrasound dapat digunakan sebagai alat diagnostik bedside dikamar resusitasi


,yang secara bersamaan dengan pelaksanaan beberapa prosedur diagnostik maupun
terapeutik lainnya. Indikasi pemakainya sama dengan indikasi DPL. Faktor yang
mempengaruhi penggunaannya antara lain adalah obesitas , adanya udara subkutan
ataupun bekas operasi abdomen sebelumnya. Scaning dengan ultrasound bisa dengan
cepat dilakukan untuk mendeteksi hemoperitoneum. Dicari scan dari kantung
perikard ,fossa hepatorenalis ,fossa splenorenalis ataupun cavum douglas. Sesudah
scan pertama ,30 menit berikutnya idealnya dilakukan lagi scan kedua atau scan

32
“kontrol” scan kontrol ini gunanya adalah untuk melihat pertambahan
hemoperitoneum pada pasien dengan perdarahan yang berangsur-angsur.

Indikasi dan kontraindikasi pemeriksaan CT scan abdomen dapat dilihat pada


tabel berikut ini. Kekurangannya adalah penderita yang harus dibawa ke ruangan CT
scan dan biayanya mahal dibandingkan dengan modalitas lainnya. CT scan pada
cedera organ padat digunakan untuk menentukan derajat cedera dan evaluasi
ekstravasasi kontras.4

Tabel 2. Indikasi dan kontraindikasi CT scan abdomen4

INDIKASI KONTRAINDIKASI
Hemodinamik stabil Laparotomi eksplorasi yang sudah jelas
Pemeriksaan fisik normal atau Hemodinamik tidak stabil
meragukan
Penurunan hematokrit pada Agitasi
penderita yang ditangani secara non
operatif
Trauma duodenal atau pankreas Alergi terhadap media kontras

CT abdomen dan pelvis adalah studi diagnostik utama pada trauma abdomen
dengan hemodinamik stabil. Sensitifitasnya berkisar antara 92% dan 97,6% dengan
spesifitas yang tinggi sekitar 98,7%.1 CT dapatmenyediakan informasi yang berguna
berkaitan dengan cedera organspesifik dan lebih unggul dalam hal mendiagnosis
cedera retroperitoneal dan pelvis. Namun, CT kurang sempurna dalam
mengidentifikasi cedera hollow viscus sehingga bila timbul kecurigaan terjadinya
cedera tersebut, DPL dapat dilakukan sebagai pemeriksaan tambahan.4

3. Diagnostik peritoneal lavage

Root et al pada tahun 1965 memperkenalkan DPL sebagai tes diagnostik yang
cepat, akurat, dan murah untuk deteksi perdarahan intra-peritoneal pada trauma

33
abdomen. Kerugiannya adalah bersifat invasif, risiko komplikasi dibandingkan
tindakan diagnostik non-invasif, tidak dapat mendeteksi cedera yang signifikan
(ruptur diafragma, hematom retroperitoneal, pankreas, renal, duodenal, dan vesica
urinaria), angka laparotomi non-terapetik yang tinggi, dan spesifitas yang rendah.
Dapat juga didapatkan positif palsu bila sumber perdarahan adalah imbibisi dari
hematom retroperitoneal atau dinding abdomen. Adapun indikasi dan kontraindikasi
DPL dapat dilihat pada tabel berikut ini.7

Kriteria untuk DPL positif pada trauma tumpul abdomen tercantum pada tabel
3. Pada penderita dengan hemodinamik tidak stabil, DPL positif mengindikasikan
perlunya tindakan laparotomi segera.Namun pada penderita dengan hemodinamik
stabil, kriteria DPL terlalu sensitif dan non-spesifik.Oleh karena itu, bila DPL positif
berdasarkan aspirasi darah gross atau hitung sel darah merah (SDM) pada populasi
penderita dengan hemodinamik stabil, tidak mutlak artinya diperlukan tindakan
laparotomi segera untuk menghindari dilakukannya eksplorasi yang non-terapetik.3,7

Tabel 3. Indikasi dan Kontraindikasi DPL7


INDIKASI KONTRAINDIKASI
Pemeriksaan fisik yang meragukan Mutlak : indikasi untuk laparotomi
eksplorasi sudah jelas
Syok atau hipotensi yang tidak dapat Relatif : riwayat laparotomi eksplorasi
dijelaskan sebelumnya, kehamilan, morbid obesity
Penurunan kesadaran( cedera kepala ,sirrhosis yang lanjut ,dan adanya
tertutup, obat-obatan) koagulopati sebelumnya .
Penderita dalam narkose umum
untuk prosedur ekstra abdominal
Cedera medula spinalis

ATLS juga menyebutkan indikasi DPL yaitu pasien hemodinamik tidak stabi dengan:

a. Perubahan sensorium-trauma capitis ,intoksikasi alcohol ,kecanduan obat obatan

34
b. Perubahan sensasi-trauma spinal
c. Cedera organ berdekatan-iga bawah, pelvis ,vertebra lumbalis
d. Pemeriksaan fisik diagnostik tidak jelas
e. Diperkirakan akan ada kehilangan kontak dengan pasien dalam waktu yang agak
lama-pembiusan untuk cedera extraabdominal,pemeriksaan X-ray yang lama
,mis.angiografi
f. Adanya lap-belt sign (kontusio dindingf perut) dengan kecurigaan trauma usus.

Juga diindikasikan pada pasien dengan hemodinamik stabil bila dijumpai hal seperti
diatas, dan disini tidak kita miliki fasilitas USG ataupun CT scan.

Beberapa penelitian menunjukan tingkat akurasi sebesar 98-100%, sensitifitas


sebesar 98-100%, dan spesifisitas sebesar 90-96%. Pemeriksaan CT scan abdomen-
pelvis lebih lanjut dapat meningkatkan spesifitas untuk menentukan cedera yang
memerlukan tindakan pembedahan. 7

Kriteria DPL positif pada trauma tumpul abdomen meliputi :3,7


a. sel darah merah 100.000 /mm3
b. sel darah putih lebih dari 500 /mm3
c. Adanya sisa makanan, bile, atau bakteri
d. Pewarnaan Gram positif
e. Kadar amilase > 175 IU/dL

Adanya aspirasi darah segar ,isi gastrointestinal ,sarat sayuran atau empedu
yang keluar,melalui tube DPL pada pasien dengan hemodinamik yang abnormal
menunjukan indikasi kuat untuk laparatomi . bila tidak ada darah segar (>10 cc)
ataupun cairan feces , dilakukan lavase dengan 1000 cc ringer laktat (pada anak-anak
10cc/kg) .sesudah cairan tercampur dengan cara menekan maupun melakukan log-
roll , cairan di tempung kembali dan diperiksa dilaboratorium untuk melihat isi
gastrointestinal ,serat maupun empedu.

35
4. Laparoskopi

Laparoskopi diagnostik pada trauma tumpul abdomen merupakan ilmu yang


masih dalam perkembangan dan masih terbatas penggunaannya. Bila dilakukan
secara selektif pada penderita dengan hemodinamik stabil, laparoskopi merupakan
tindakan yang aman dan secara teknis memungkinkan. Chol et al melaporkan terjadi
pengurangan angka laparotomi negatif atau non-terapetik dengan laparoskopi
diagnostik tersebut.3 Namun laparoskopi adalah tindakan yang bersifat invasif serta
mahal dan nampaknya saat ini tidak lebih unggul dari modalitas lain dalam penentuan
keputusan.4

Penatalaksanaan Non-Operatif

Merupakan pilihan pertama pada penderita dengan hemodinamik stabil.


Angka keberhasilan yang tinggi tidak tergantung pada derajat keparahan berdasarkan
CT scan, atau derajat hemoperitoneum yang terjadi.3 Keuntungan dari
penatalaksanaan non-operatif adalah menghindari terjadinya laparotomi non-terapetik
beserta komplikasinya, mengurangi kebutuhan transfusi, dan komplikasi intra-
abdominal yang lebih sedikit.1 Belum ada literatur yang menegaskan bahwa
penatalaksanaan non-operatif meningkatan risiko tidak terdiagnosisnya cedera intra-
abdominal lain yang berhubungan.3

CT abdomen merupakan studi yang paling sensitif dan spesifik dalam


mengidentifikasi dan menentukan derajat kerusakan hepar dan lien. Adanya kontras
yang bebas atau perdarahan yang sedang berlangsung merupakan indikasi untuk
angiografi dan embolisasi.3

Penatalaksanaan non-operatif meliputi observasi tanda vital, pemeriksaan


fisik, dan nilai laboratorium yang dilakukan secara serial. Bila salah satu memburuk,
maka hal tersebut merupakan indikasi untuk intervensi pembedahan. Tirah baring
total atau pembatasan aktifitas dan CT scan serial telah dibantah kegunaannya oleh

36
beberapa literatur.1 Waktu untuk kembali ke aktifitas normal tergantung pada luas
dan derajat cedera.3

Penatalaksanaan Operatif

Indikasi Laparatomi 7,10

1. Hemodinamik yang tidak stabil.


2. Adanya tanda peritoneal(peritonitis) pada pemeriksaan fisik.

Apapun mekanisme traumanya, prinsip utama pada operatif trauma adalah


pemaparan (exposure) dan hemostasis, terutama pada trauma hepar. Setelah
dilakukan mobilisasi hepar yang adekuat, laserasi simpel dapat ditangani dengan
penekanan langsung, elektrokauterisasi, koagulasi sinar argon, dan agen hemostatik
topikal.3 Teknik finger fracture dengan ligasi langsung pada pembuluh darah yang
ruptur juga dapat dilakukan.

Pada cedera yang berat akan lebih sulit untuk mencapai hemostasis. Jika
teknik yang telah disebutkan gagal, dilakukan kompresi portal triad (the Pringle
maneuver) yang akan mengontrol perdarahan yang berasal dari vena porta dan sistem
arterial hepatik. Jika manuver tersebut efektif, pada laserasi dapat dilakukan finger
fractionation dan ligasi langsung pembuluh darah yang ruptur. Setelah hemostasis
tercapai, dilakukan tampon pada laserasi dengan menggunakan flap omental. Jahitan-
dalam hepar sebaiknya tidak dilakukan lagi.3

Bila manuver Pringle tersebut gagal, perlu dicurigai adanya cedera vena
hepatik atau cedera vena cava inferior retrohepatik. Pada keadaan ini, mendapatkan
kontrol vaskuler adalah sangat menantang. Eksklusi hepatik total atau atriocaval
shunt merupakan pilihan yang tidak dapat dianggap mudah. Pada cedera seperti ini
perlu dipertimbangkan lebih dalam untuk melakukan teknik damage control, yang
meliputi abdominal packing dan penutupan abdomen sementara.3,4

37
Penggunaan angiografi pasca-bedah dan embolisasi dapat membantu. Pada
penderita dengan ekstravasasi arterial aktif, beberapa metode embolisasi dapat
membantu menghentikan sumber perdarahan. Reseksi hepar dicadangkan untuk
operasi selanjutnya ketika debridement jaringan hepar yang mati dilakukan. 3,4

2.8 Komplikasi Ruptur Organ

Peritonitis merupakan komplikasi tersering dari trauma tumpul abdomen


karena adanya ruptur pada organ. Penyebab yang paling serius dari peritonitis adalah
terjadinya suatu hubungan (viskus) ke dalam rongga peritoneal dari organ-organ
intra-abdominal (esofagus, lambung, duodenum, intestinal, colon, rektum, kandung
empedu, apendiks, dan saluran kemih), yang dapat disebabkan oleh trauma, darah
yang menginfeksi peritoneal, benda asing, obstruksi dari usus yang mengalami
strangulasi, pankreatitis, PID (Pelvic Inflammatory Disease) dan bencana vaskular
(trombosis dari mesenterium/emboli). 8

Peradangan peritoneum merupakan komplikasi berbahaya yang sering terjadi


akibat penyebaran infeksi dari organ-organ abdomen (misalnya apendisitis,
salpingitis), ruptur saluran cerna, atau dari luka tembus abdomen.Organisme yang
sering menginfeksi adalah organisme yang hidup dalam kolon pada kasus ruptur
apendiks, sedangkan stafilokokus dan stretokokus sering masuk dari luar.Pada luka
tembak atau luka tusuk tidak perlu lagi dicari tanda-tanda peritonitis karena ini
merupakan indikasi untuk segera dilakukan laparotomi eksplorasi.Namun pada
trauma tumpul seringkali diperlukan observasi dan pemeriksaan berulang karena
tanda rangsangan peritoneum bisa timbul perlahan-lahan.8

Menegakkan diagnosis peritonitis secara cepat adalah penting sekali.


Diagnosis peritonitis didapatkan dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang.Diagnosis peritonitis biasanya ditegakkan secara
klinis.Kebanyakan pasien datang dengan keluhan nyeri abdomen. Nyeri ini bisa
timbul tiba-tiba atau tersembunyi.Pada awalnya, nyeri abdomen yang timbul sifatnya

38
tumpul dan tidak spesifik (peritoneum viseral) dan kemudian infeksi berlangsung
secara progresif, menetap, nyeri hebat dan semakin terlokalisasi (peritoneum
parietale). Dalam beberapa kasus (misal: perforasi lambung, pankreatitis akut,
iskemia intestinal) nyeri abdomen akan timbul langsung secara umum/general sejak
dari awal. Mual dan muntah biasanya sering muncul pada pasien dengan peritonitis.
Muntah dapat terjadi karena gesekan organ patologi atau iritasi peritoneal sekunder.9

Pada pemeriksaan fisik, pasien dengan peritonitis, keadaan umumnya tidak


baik.Demam dengan temperatur >380C biasanya terjadi. Pasien dengan sepsis hebat
akan muncul gejala hipotermia. Takikardia disebabkan karena dilepaskannya
mediator inflamasi dan hipovolemia intravaskuler yang disebabkan karena mual dan
muntah, demam, kehilangan cairan yang banyak dari rongga abdomen.Dengan
adanya dehidrasi yang berlangsung secara progresif, pasien bisa menjadi semakin
hipotensi.Hal ini bisa menyebabkan produksi urin berkurang, dan dengan adanya
peritonitis hebat bisa berakhir dengan keadaan syok sepsis. 9

Pada pemeriksaan abdomen, pemeriksaan yang dilakukan akan sangat


menimbulkan ketidaknyamanan bagi pasien, namun pemeriksaan abdomen ini harus
dilakukan untuk menegakkan diagnosis dan terapi yang akan dilakukan. Pada
inspeksi, pemeriksa mengamati adakah jaringan parut bekas operasi menununjukkan
kemungkinan adanya adhesi, perut membuncit dengan gambaran usus atau gerakan
usus yang disebabkan oleh gangguan pasase. Pada peritonitis biasanya akan
ditemukan perut yang membuncit dan tegang atau distended.9
Minta pasien untuk menunjuk dengan satu jari area daerah yang paling terasa sakit di
abdomen, auskultasi dimulai dari arah yang berlawanan dari yang ditunjuik
pasien.Auskultasi dilakukan untuk menilai apakah terjadi penurunan suara bising
usus. Pasien dengan peritonitis umum, bising usus akan melemah atau menghilang
sama sekali, hal ini disebabkan karena peritoneal yang lumpuh sehingga
menyebabkan usus ikut lumpuh/tidak bergerak (ileus paralitik). Sedangkan pada
peritonitis lokal bising usus dapat terdengar normal.9

39
Palpasi. Peritoneum parietal dipersarafi oleh nervus somatik dan viseral yang
sangat sensitif.Bagian anterior dari peritoneum parietale adalah yang paling
sensitif.Palpasi harus selalu dilakukan di bagian lain dari abdomen yang tidak
dikeluhkan nyeri.Hal ini berguna sebagai pembanding antara bagian yang tidak nyeri
dengan bagian yang nyeri. Nyeri tekan dan defans muskular (rigidity) menunjukkan
adanya proses inflamasi yang mengenai peritoneum parietale (nyeri somatik). Defans
yang murni adalah proses refleks otot akan dirasakan pada inspirasi dan ekspirasi
berupa reaksi kontraksi otot terhadap rangsangan tekanan.Pada saat pemeriksaan
penderita peritonitis, ditemukan nyeri tekan setempat. Otot dinding perut
menunjukkan defans muskular secara refleks untuk melindungi bagian yang
meradang dan menghindari gerakan atau tekanan setempat.9

Perkusi. Nyeri ketok menunjukkan adanya iritasi pada peritoneum, adanya


udara bebas atau cairan bebas juga dapat ditentukan dengan perkusi melalui
pemeriksaan pekak hati dan shifting dullness. Pada pasien dengan peritonitis, pekak
hepar akan menghilang, dan perkusi abdomen hipertimpani karena adanya udara
bebas tadi.Pada pasien dengan keluhan nyeri perut umumnya harus dilakukan
pemeriksaan colok dubur dan pemeriksaan vaginal untuk membantu penegakan
diagnosis.Nyeri pada semua arah menunjukkan general peritonitis. 9

a. Limpa
Limpa merupakan organ yang paling sering terluka pada trauma tumpul
abdomen atau trauma toraks kiri bawah. Cedera limpa dapat disertai dengan
kerusakan organ yang lain dalam rongga abdomen seperti hepar, usus halus,
dan pankreas. Penyebab utama adalah cedera langsung atau tidak langsung
akibat kecelakaan lalu lintas, terjatuh dari tempat tinggi, dan
olahraga.Cedera limpa dapat terjadi saat kejadian hingga beberapa saat
kejadian. Hal ini diakibatkan karena adanya laserasi kecil yang
menyebabkan tamponade, atau terbentuk hematom subkapsular yang
membesar secara lambat dan kemudian pecah4,7,8.

40
Tanda dan gejala dari cedera limpa bergantung pada ada tidaknya organ
lain yang cedera, banyak sedikitnya perdarahan, dan ada tidaknya
kontaminasi dengan rongga peritoneum. Pada kasus biasanya penderita
datang dalam keadaan syok hipovolemik yang hebat akibat perdarahan.
Biasanya pasien datang dengan keluhan nyeri abdomen kuadran kiri atas
atau punggung kiri dan nyeri pada bahu kiri yang disebut tanda Kehr.4,7

Tabel 4. Klasifikasi derajat cedera limpa menurut AAST 11,14

b. Hepar
Cedera hepar merupakan cedera organ padat terbanyak setelah cedera
limpa pada kasus trauma tumpul abdomen. Adanya nyeri tekan abdomen
kuadran kanan atas, defans muskuler, dan tanda hipovolemi merupakan
tanda dari cedera hepar. Pemeriksaan FAST sangat membantu dalam
mendiagnosis cedera hepar bila pasien dengan kondisi yang tidak stabil.
Berikut ini klasifikasi derajat cedera hepar, yakni :10,12

41
Tabel 5. Klasifikasi cedera hepar menurut AAST11,14

c. Vesika Biliaris (Kantong Empedu)


Cedera kantong empedu relatif jarang terjadi. Cedera kantong empedu
berjumlah sekitar 2% dari trauma tumpul abdomen dan jarang terjadi dengan
sendirinya, biasanya berkaitan dengan organ yang lain. Mekanisme cedera
kantong empedu diakibatkan dari deselerasi, benturan pada abdomen, dan
jatuh dari tempat ketinggian.Cedera kantong empedu dapat berupa kontusio,
perforasi, atau avulsi.Biasanya diagnosis bisa dicurigai pada pasien bila
ditemukan adanya jejas dan nyeri tekan pada abdomen kuadran kanan atas,
ditemukan adanya tanda-tanda peritonitis, dan pada hasil DPL mengandung
cairan empedu. Pada pemeriksaan FAST dapat memperlihatkan adanya
penebalan dinding kantong empedu dan terdapat cairan di
pericholecystic.4,6,8,13,15

42
Tabel 6. Klasifikasi derajat cedera vesika biliaris menurut AAST11,14

d. Pankreas
Pada trauma tumpul abdomen, jaringan pankreas yang lunak dapat
mengalami cedera akibat tergencet di antara kekuatan dari arah depan dan
dasar landasan tulang belakang yang keras. Pada cedera pankreas, biasanya
pasien mengeluh nyeri daerah ulu hati, tanda rangsangan peritoneal tidak
jelas, abdomen makin kembung, kadang disertai syok akibat perdarahan
retroperitoneum.Peningkatan kadar amilase bermanfaat dalam membantu
mendiagnosis cedera pankreas. Klasifikasi cedera pankreas dibagi menjadi 5
derajat, yaitu :11,12,13

Tabel 7. Klasifikasi derajat cedera pankreas menurut AAST11,14

43
e. Gaster
Cedera gaster sangat jarang terjadi, hanya berjumlah 1% dari kasus
trauma tumpul abdomen.Mekanisme cedera gaster diakibatkan karena
deselerasi yang cepat dan kompresi eksternal yang menimbulkan
peningkatan tekanan intra abdominal. Biasanya cedera gaster berkaitan
dengan cedera organ yang lain di abdomen. Gejala dan tanda cedera gaster
adalah jejas dan nyeri tekan pada epigastrium, abdomen yang tampak
distensi, mual, muntah, dan tanda peritonitis bila terjadi perforasi dari
gaster.Pemeriksaan foto polos abdomen akan memperlihatkan gambaran
udara bebas di rongga peritoneum.15,16

Tabel 8. klasifikasi derajat cedera gaster menurut AAST 11,14

f. Duodenum
Cedera duodenum merupakan kasus yang jarang, hal ini karena
lokasinya yang terletak di retroperitoneum.Kasus cedera duodenum sekitar
2-20% dari kasus trauma tumpul abdomen.Cedera duodenum dapat terjadi
akibat penekanan duodenum terhadap tulang vertebra.Mekanisme yang
paling sering pada cedera duodenum adalah benturan langsung pada dinding
abdomen atau akibat deselerasi yang mendadak. Cedera duodenum dapat
berakibat hematom pada dinding duodenum dan bisa menyebabkan
perforasi.12,16

44
Pasien cedera duodenum datang dengan keluhan nyeri pada daerah
epigastrium dan tampak abdomen yang distensi bila terjadi
perforasi.Pemeriksaan foto polos abdomen pada cedera duodenum yang
mengalami perforasi didapatkan gambaran adanya udara di bagian
retroperitoneum, udara disekitar ginjal kanan, atau hilangnya bayangan otot
psoas.Pemeriksaan kontras gastrointestinal atas menunjukan gambaran
“pegas bergelung” (coiled-spring) khas pada duodenum.Pemeriksaan
sonografi bisa memperlihatkan “echolucencies” pada dinding
duodenum.Cedera duodenum dibagi menjadi 5 derajat. Berikut pembagian
derajat cedera duodenum menurut American Associatetion for the Surgery
of Trauma (AAST).2,5,7,9

Tabel 9. Klasifikasi derajat cedera duodenum menurut AAST11,14

g. Jejunum dan Ileum (usus halus)


Cedera tumpul usus halus merupakan kasus yang jarang terjadi sekitar
2,7 % dari semua kasus trauma tumpul abdomen. Faktor yang berperan
dalam cedera tumpul usus halus adalah peningkatan mendadak tekanan
intraalumen lokal, kompresi usus halus dengan columna vertebralis serta
deselerasi pada atau dekat titik fiksasi.Tanda dan gejala pada cedera tumpul
usus halus adalah rasa nyeri yang berkelanjutan, nyeri tekan, tanda kebiruan
pada penggunaa sabuk pengaman.Kerusakan dapat berupa robekan usus,
perforasi, kontusio memar dengan atau tanpa perforasi, terlepasnya usus dari
mesenterium, atau cedera meseterium. Untuk mengetahui adanya perforasi

45
usus dapat dilakukan pemeriksaan foto polos abdomen posisi tegak untuk
melihat adanya udara bebas di rongga peritoneum.5,8,17

Tabel 10. Klasifikasi derajat cedera usus halus menurut AAST11,14

h. Kolon (usus besar)


Cedera tumpul kolon merupakan kasus yang jarang dari kasus trauma
tumpul abdomen.Kolon transversum dan sigmoid merupakan organ
intraperitoneum sedangkan kolon ascenden dan descenden merupakan organ
retroperitoneum.Pada cedera tumpul kolon yang paling terbanyak yang
mengalami cedera adalah kolon transversum.Penyebab paling terbanyak
kasus cedera tumpul kolon adalah akibat penggunaan sabuk
pengaman.penyebab lain adalah akibat benturan, deselerasi, dan ledakan.
Gejala dan tanda pada cedera kolon adalah rasa nyeri, nyeri tekan abdomen,
pekak hepar menghilang, serta adanya tanda rangsangan peritoneal
menandakan adanya perforasi.Trauma retroperitoneum dapat mengakibatkan
nyeri dan hematom pada pinggang.Pemeriksaan rektal dapat ditemukan
adanya darah.Pemeriksaan laboratorium menunjukan leukositosis.
Pemeriksaan foto polos abdomen dengan posisi tegak, supinasi dan lateral

46
dekubitus menunjukkan udara bebas dirongga peritoneum. Klasifikasi cedera
kolon dibagi menjadi 5 derajat, yakni :13,15

Tabel 11. Klasifikasi derajat cedera kolon menurut AAST11,14

i. Ginjal
Gambaran klinis yang ditunjukan oleh pasien trauma ginjal sangat
bervariasi tergantung derajat trauma dan ada tidaknya trauma pada organ
lainnya menyertainya. Pada trauma derajat ringan mungkin hanya akan
didapatkan nyeri di daerah pinggang, terlihat jelas berupa ekimosis, dan
terdapat hematuria makroskopis. Pada trauma mayor atau ruptur pedikel
seringkali pasien datang dalam keadaan syok berat dan terdapat hematoma di
daerah pinggang yang makin lama makin membesar.Pemeriksaan sonografi
digunakan untuk mengidentifikasi adanya hematoperitoneum, adanya
kontusio parenkim ginjal atau hematoma subkapsuler serta dapat melihat
adanya robekan kapsul ginjal. Berikut ini klasifikasi derajat trauma ginjal.9

47
Gambar 12. Klasifikasi cedera renal menurut AAST11,14

2.9 Prognosis

Kadar kematian dari trauma tumpul abdomen tergantung pada cedera yang
dialami. Pasien yang mengalami cedera pada dinding facia abdominal anterior tanpa
cedera peritoneal mempunyai kadar mortaliti 0% dan kadar morbidity yang minimal
dan pasien dengan cedera kompleks multiorgan dengan hipotensi, base deficit kurang
dari -15 mEq/L HCO3, temperatur kurang dari 35ᵒC dan adanya koagulopati dapat
meningkatkan kadar mortality. 10

Faktor – faktor yang mempengaruhi mortality pada trauma tumpul abdominal


adalah:10

 Jenis kelamin perempuan


 Interval yang lama antara cedera dan operation
 Adanya syok
 Adanya cedera kranial

48
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Trauma tumpul abdomen adalah trauma yang dapat mengakibatkan kematian


sekiranya tidak dapat dikenalpasti dari awal. Pada pasien dengan cedera
intraabdominal perlu dilakukan konsultasi segera dengan ahli bedah. Bila fungsi vital
pasien bisa diperbaiki, maka evaluasi dan penanganan akan bervariasi sesuai dengan
cederanya. Semua pasien trauma tumpul dengan hemodinamik yang tidak stabil harus
segera dinilai kemungkinan perdarahan intraabdominal maupun kontaminasiGI tract
dengan melakukan DPL, ataupun FAST. Indikasi untuk laparotomi ditegakkan
melalui pemeriksaan fisik, ultrasound(US), computed tomography (CT), dan
DPT/DPL.

49
DAFTAR PUSTAKA

1. Stone, CK, 2003. Current Diagnosis & Treatment Emergency Medicine. 6th
edition. USA : The McGraw-Hill Companies, Inc.
2. Fermann, GJ, 2003. Emergency Medicine-An Approach to Clinical Problem
Solving. In: Hamilton, et al., Emergency Medicine-An Approach to Clinical
Problem Solving. 2nd edition. USA : W. B. Saunders Company.
3. Wibowo, D.S., dan Paryana, W., 2007. Dinding Abdomen. Anatomi Tubuh
Manusia. Graha Ilmu. Yogyakarta: 273-279.
4. Williams, et al., 2008. Bailey & Love’s Short Practice of Surgery. 25th edition.
UK: Edward Arnold Ltd.
5. Beauchamp, et al., 2008. Townsend: Sabiston Textbook of Surgery. 18th
edition. USA : Elvesier, Inc.
6. Brunicardi, FC, 2007. Schwartz’s Principles of Surgery. 8th edition. USA: The
McGraw-Hill Companies, Inc.
7. American College of Surgeons. Advanced Trauma Life Support Untuk Dokter
Edisi 7. Jakarta: IKABI, 2004, Bab 5; Trauma Abdomen.
8. Offner, P., 2013. Penetrating Abdominal Trauma Treatment & Management.
Available from : http://emedicine.medscape.com/article/2036859-treatment
9. Wilkinson, D.A, 2000. Primary Trauma Care. Available from :
http://www.primarytraumacare.org/wpcontent/uploads/2011/09/PTC_ENG.pdf
10. Isenhour J.L., Marx J., 2007. Advances in abdominal trauma. Emerg Med Clin
N Am 25 (2007), pg 713–733. Available from: http:// emed.theclinics.com.
11. Stanton-Maxey K.J, et al. 2011. Penetrating Abdominal Trauma. Available
from: http://emedicine.medscape.com/article/2036859-overview

50