You are on page 1of 17

BAB I

PENDAHULUAN

Gangguan Bipolar, yang sering disebut dengan gangguan manik depresi, adalah suatu
gangguan mood yang dikarakterisasikan oleh adanya fluktuasi mood yang ekstrim dari euforia
menjadi depresi berat, dan diperantarai oleh periode mood yang normal (eutimik). Gangguan
bipolar merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang penting, yang terjadi hampir 2% -
4% dari populasi. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena seringnya terjadi kekambuhan dan
banyaknya dampak yang merugikan yang dapat disebabkan olehnya, dimana gangguan bipolar
mengakibatkan dampak yang berat untuk pasien, keluarga, dan masyarakat.
Penatalaksanaan gangguan bipolar biasanya menggunakan obat-obatan seperti anti
depressan ataupun antimania (mood stabilizer). Namun, terkadang, anti psikotik juga perlu
diberikan pada pasien dengan gangguan bipolar ini. Anti psikotik yang biasanya digunakan
merupakan anti psikotik generasi kedua atau yang biasa dikenal dengan antipsikotik atipikal.
Penggunaan anti psikotik atipikal ini sangat efektif sebagai monoterapi maupun kombinasi terapi
lini pertama untuk pasien dengan gangguan bipolar. Beberapa antipsikotika atipik tersebut adalah
olanzapin, risperidon, quetiapin, dan aripiprazol.
BAB II

PEMBAHASAN

1.1 DEFINISI

Gangguan bipolar (GB) merupakan gangguan jiwa yang bersifat episodik dan ditandai
oleh gejala-gejala manic, hipomanik, depresi, dan campuran, biasanya rekuren serta dapat
berlangsung seumur hidup. Setiap episode dipisahkan sekurangnya dua bulan tanpa gejala
penting mania atau hipomania. Tetapi pada beberapa individu, gejala depresi dan mania dapat
bergantian secara cepat, yang dikenal dengan rapid cycling. Episode mania yang ekstrim dapat
menunjukkan gejala-gejala psikotik seperti waham dan halusinasi. 1,2

1.2 ETIOLOGI

Penyebab gangguan bipolar multifaktor. Secara biologis dikaitkan dengan faktor genetik
dan gangguan neurotransmitter di otak. Secara psikososial dikaitkan dengan pola asuh masa
kanak-kanak, stress yang menyakitkan, stress kehidupan yang berat dan berkepanjangan, dan
banyak lagi faktor lainnya.4

a. Faktor Genetik
Penelitian keluarga telah menemukan bahwa kemungkinan menderita suatu gangguan
mood menurun saat derajat hubungan kekeluargaan melebar. Sebagai contoh, sanak
saudara derajat kedua (sepupu) lebih kecil kemungkinannya dari pada sanak saudara
derajat pertama. Penurunan gangguan bipolar juga ditunjukkan oleh fakta bahwa kira-kira
50 persen pasien Gangguan bipolar memiliki sekurangnya satu orangtua dengan suatu
Gangguan mood, paling sering Gangguan depresif berat. Jika satu orangtua menderita
gangguan bipolar, terdapat kemungkinan 25 persen bahwa anaknya menderita suatu
Gangguan mood. Jika kedua orangtua menderita Gangguan bipolar, terdapat
kemungkinan 50-75 persen anaknya menderita Gangguan mood.3
b. Faktor Biologis
Kelainan di otak juga dianggap dapat menjadi penyebab penyakit ini. Terdapat
perbedaan gambaran otak antara kelompok sehat dengan penderita bipolar. Melalui
pencitraan magnetic resonance imaging (MRI) dan positron-emission tomography (PET),
didapatkan jumlah substansia nigra dan aliran darah yang berkurang pada korteks
prefrontal subgenual. Tak hanya itu, Blumberg dkk dalam Arch Gen Psychiatry 2003 pun
menemukan volume yang kecil pada amygdale dan hippocampus. Korteks prefrontal,
amygdale, dan hippocampus merupakan bagian dari otak yang terlibat dalam respon
emosi (mood dan afek).4

c. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan yang sangat berperan pada kehidupan psikososial dari pasien dapat
menyebabkan stress yang dipicu oleh faktor lingkungan. Stress yang menyertai episode
pertama dari Gangguan bipolar dapat menyebabkan perubahan biologik otak yang
bertahan lama. Perubahan bertahan lama tersebut dapat menyebabkan perubahan keadaan
fungsional berbagai neurotransmitter dan sistem pemberian signal intraneuronal.
Perubahan mungkin termasuk hilangnya neuron dan penurunan besar dalam kontak
sinaptik. Hasil akhir perubahan tersebut adalah menyebabkan seseorang berada pada
resiko yang lebih tinggi untuk menderita Gangguan mood selanjutnya, bahkan tanpa
adanya stressor eksternal.2,3

1.3 EPIDEMIOLOGI

Gangguan bipolar adalah gangguan yang lebih jarang dibandingkan dengan gangguan
depresif berat. Prevalensi gangguan bipolar di Indonesia hanya sekitar 2% sama dengan
prevalensi skizofrenia. Prevalensi antara laki-laki dan wanita sama besar. Onset gangguan
bipolar adalah dari masa anak-anak (usia 5-6 tahun) sampai 50 tahun atau lebih. Rata-rata usia
yang terkena adalah usia 30 tahun. Gangguan bipolar cenderung mengenai semua ras.3

1.4 MANIFESTASI KLINIS

Di bawah ini adalah jenis-jenis GB sesuai dengan kriteria diagnostic yang terera dalam
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV-Text Revision (DSM-IV TR);
a. Episode manik :
- Paling sedikit satu minggu (bisa kurang, bila dirawat) pasien mengalami mood yang
elasi, ekspansif, atau iritabel.
- Pasien memiliki, secara menetap, tiga atau lebih gejala berikut (empat atau lebih bila
hanya mood iritabel) yaitu:
o Grandiositas atau percaya diri berlebihan
o Berkurangnya kebutuhan tidur
o Cepat dan banyaknya pembicaraan
o Lompatan gagasan atau pikiran berlomba
o Perhatian mudah teralih
o Peningkatan energi dan hiperaktivitas psikomotor
o Meningkatnya aktivitas bertujuan (sosial, seksual, pekerjaan dan sekolah)
o Tindakan-tindakan sembrono (ngebut, boros, investasi tanpa perhitungan yang
matang).
b. Episode depresi mayor :
- Paling sedikit dua minggu pasien mengalami lebih dari empat simtom/tanda yaitu:
o mood depresif atau hilangnya minat atau rasa senang
o menurun atau meningkatnya berat badan atau nafsu makan
o sulit atau banyak tidur
o agitasi atau retardasi psikomotor
o fatig atau berkurangnya tenaga
o menurunnya harga diri
o ide-ide tentang rasa bersalah, ragu-ragu dan menurunnya konsentrasi
o pesimis
o pikiran berulang tentang kematian, bunuh diri (dengan atau tanpa renacana)
atau tindakan bunuh diri.
- Gejala-gejala di atas menyebabkan penderitaan atau mengganggu fungsi personal,
sosial, atau pekerjaan.
c. Episode Campuran
Paling sedikit satu minggu pasien mengalami episode mania dan depresi yang terjadi
secara bersamaan. Misalnya, mood tereksitasi (lebih sering mood disforik), iritabel, marah,
serangan panik, pembicaraan cepat, agitasi, menangis, ide bunuh diri, insomnia derajat berat,
grandiositas, hiperseksualitas, waham kejar dan kadang-kadang bingung. Kadang-kadang
gejala cukup berat sehingga memerlukan perawatan untuk melindungi pasien atau orang lain,
dapat disertai gambaran psikotik, dan mengganggu fungsi personal, sosial, dan pekerjaan.
d. Episode Hipomanik
- Paling sedikit empat hari, secara menetap, pasien mengalami peningkatan mood,
ekspansif atau iritabel yang ringan, paling sedikit tiga gejala (empat gejala bila mood
iritabel) yaitu:
o grandiositas atau meningkatnya kepercayaan diri
o meningkatnya pembicaraan
o lompat gagasan atau pikiran berlomba
o perhatin mudah teralih
o meningkatnya aktivitas atau agitasi psikomotor
o pikiran menjadi lebih tajam
o daya nilai berkurang
o Tidak ada gambaran psikotik

1.5 DIAGNOSIS

Pembagian menurut PPDGJ III:7

F31 GANGGUAN AFEKTIF BIPOLAR

Manifestasi Klinis:

- Ditandai dengan episode berulang sekurangnya dua episode yang satu menunjukan
peningkatan mood, energi dan aktivitas yang jelas terganggu (mania atau hipomania), dan
pada waktu lain berupa penurunan mood, energi dan aktivitas (depresi ) dengan masa remisi
sempurna diantaranya.
- Episode manik mulai dengan tiba-tiba, berlangsung antara 2 minggu sampai 4-5 bulan (rata-
rata 6 bulan)
- Kedua episode sering kali didahului stresor, tetapi stresor tidak sesnsial untuk penegakan
diagnosis. Episode pertama bisa timbul pada usia kanak sampai tua.
- Masa remisi dan kekambuhan bervariasi, setelah usia pertengahan cenderung makin pendek
dan masa depresi makin lama.

F31.0 Gangguan afektif bipolar, episode kini hipomanik

Pedoman diagnostik pasti :

- Episode sekarang harus memenuhi kriteria hipomania (F30.0) dan


- Harus ada sekurangnya satu episode afektif lain (hipomanik, manik, depresif atau campuran
dimasa lampau)

F31.1 Gangguan afektif bipolar episode :

Pedoman diagnostik pasti:

- Episode sekarang harus memenuhi kriteria mania tanpa gejala psikotik (F30.1) dan
- Harus ada sekurangnya satu episode afektif lain (hipomanik, manik, depresif atau campuran
dimasa lampau)

F31.2 Gangguan afektif bipolar episode kini dengan gejala psikotik

Pedoman diagnostik :

- Episode sekarang harus memenuhi kriteria mania (F30.2), waham atau halusinasi dapat
ditentukan sebagai serasi atau tidak serasi dengfan mood dan
- Harus ada sekurangnya satu episode afektif lain (hipomanik, manik, depresif atau campuran
dimasa lampau)

F31.3 Gangguan afektif bipolar episode kini depresi ringan atau sedang

Pedoman diagnostik, pasti:


- Episode sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif ringan (F32.0) atau sedang
(F32.1) dan
- Harus ada sekurangnya satu episode afektif lain (hipomanik, manik, depresif atau campuran
dimasa lampau)

F31.4 Gangguan afektif bipolar episode kini depresi berat tanpa gejala psikotik

Pedoman diagnostik, pasti:

- Episode sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat tanpa gejala psikotik
(F32.2) dan
- Harus ada sekurangnya satu episode afektif lain (hipomanik, manik, depresif atau campuran
dimasa lampau)

F31.5 Gangguan afektif bipolar episode kini depresi berat dengan gejala psikotik

Pedoman diagnostik, pasti:

- Episode sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat dengan gejala
psikotik (F32.3) dan
- Harus ada sekurangnya satu episode afektif lain (hipomanik, manik, depresif atau campuran
dimasa lampau)

F31.6 Gangguan afektif bipolar, episode kini campuran

Manifestasi klinis:

Pernah sekurangnya mengalami satu episode afektif manik, hipomanik, atau campuran
dimasa lampau, sekarang sedang menunjukan gejala-gejala manik, hipomanik dan depresif yang
tercampur atau bergantian dengan cepat.

Pedoman diagnostik:

Khas gangguan bipolar, tetapi:

a. Mood depresif:
- Selama beberapa hari atau beberapa minggu disertai aktivitas berlebihan dan
kegesitan bicara, atau mood yang manik dan grandiositas disertai agitasi dan
kehilangan energi/libido.
- Gejala depresif dan gejala mania/ hipomania bergantian dengan cepat dari hari ke
hari, dari jam ke jam.
b. Tiap episode sama-sama mencolok selama sekurangnya dua minggu.

F31.7 Gangguan afektif bipolar, kini dalam remisi

Pedoman diagnostik :
Pernah mengalami sekurangnya satu episode afektif manik, hipomanik atau campuran di
masa lampau, ditambah lagi satu episode afektif manik, hipomanik, depresif atau
campuran, tetapi sekarang tidak menderita suatu gangguan afektif yang nyata dan juga
tidak menderitanya selama beberapa bulan terakhir.

F31.8 Gangguan afektif bipolar lainnya

F31.9 Gangguan afektif bipolar YTT

1.6 PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan farmakologis yang digunakan dalam gangguan bipolar antara lain:

1. Penatalaksanaan Kegawatdaruratan Agitasi Akut pada Gangguan Bipolar

Lini I - Injkesi IM Aripiprazol efektif untuk pengobatan agitasi pada pasien dengan
episode mania atau campuran akut. Dosis adalah 9,75mg/injeksi. Dosis
maksimum adalah 29,25mg/hari (tiga kali injeksi per hari dengan interval dua
jam). Berespons dalam 45-60 menit.
- Injeksi IM Olanzapin efektif untuk agitasi pada pasien dengan episode mania
atau campuran akut. Dosis 10mg/ injeksi. Dosis maksimum adalah 30mg/hari.
Berespons dalam 15-30 menit. Interval pengulangan injeksi adalah dua jam.
Sebanyak 90% pasien menerima hanya satu kali injeksi dalam 24 jam pertama.
Injeksi lorazepam 2 mg/injeksi. Dosis maksimum lorazepam 4mg/hari. Dapat
diberikan bersamaan dengan injeksi IM Aripiprazol atau Olanzapin. Jangan
dicampur dalam satu jarum suntik karena mengganggu stabilitas antipsikotika.
Lini II - Injeksi IM Haloperidol yaitu 5 mg/kali injeksi. Dapat diulang setelah 30 menit.
Dosis maksimum adalah 15 mg/hari.
- Injeksi IM Diazepam yaitu 10 mg/kali injeksi. Dapat diberikan bersamaan
dengan injeksi haloperidol IM. Jangan dicampur dalam satu jarum suntik.

2. Rekomendasi Terapi Farmakologi pada Mania Akut

Lini I Litium, divalproat, olanzapin, risperidon, quetiapin, quetiapin XR,


aripiprazol, litium atau divalproat + risperidon, litium atau divalproat
+ quetiapin, litium atau divalproat + olanzapin, litium atau divalproat
+aripiprazol
Lini II Karbamazepin, TKL*, litium + divalproat, paliperidon
Lini III Haloperidol, klorpromazin, litium atau divalproat haloperidol, litium +
karbamazepin, klozapin
Tidak Gabapentin, topiramat, lamotrigin, risperidon + karbamazepin,
direkomendasikan olanzapin + karbamazepin

Terapi Farmakologi Episode Depresi Akut Gangguan Bipolar I


1. Penatalaksanaan pada Episode Depresi Akut, GB I
Lini I Litium, lamotrigin, quetiapin, quetiapin XR, litium atau divalproat + SSRI,
olanzapin + SSRI, litium + divalproat
Lini II Quetiapin + SSRI, divalproat, litium atau divalproat + Lamotrigin
Lini III Karbamazepin, olanzapin, litium + karbamazepin, litium atau divalproat +
venlafaksin, litium + MAOI, TKL, litium atau divalproat atau AA + TCA,
litium atau divalproat atau karbamazepin + SSRI + lamotrigin,
penambahan topiramat.
Tidak Gabapentin monoterapi, aripiprazol monoterapi
direkomendasikan
2. Rekomendasi Terapi Rumatan Pada GB I
Lini I Litium, lamotrigin monoterapi, divalproat, olanzapin, quetiapin,
litium atau divalproat + quetiapin, risperidon injeksi jangka panjang
(RIJP), penambahan RIJP, aripirazol.
Lini II Karbamazepin, litium + divalproat, litium + karbamazepin, litium
atau divalproat + olanzapin, litium + risperidon, litium + lamotrigin,
olanzapin + fluoksetin
Lini III Penambahan fenitoin, penambahan olanzapin, penambahan ECT,
penambahan topiramat, penambahan asam lemak omega-3,
penambahan okskarbazepin
Tidak direkomendasikan Gabapentin, topiramat atau antidepresan monoterapi

Rekomendasi Terapi Akut Depresi, GB II

Lini I Quetiapin
Lini II Litium, lamotrigin, divalproat, litium atau divalproat + antidepresan, litium +
divalproat, antipsikotika atipik + antidepresan
Lini III Antidepresan monoterapi (terutama untuk pasien yang jarang mengalami
hipomania)

Rekomendasi Terapi Rumatan GB II

Lini I Litium, lamotrigin

Lini II Divalproat, litium atau divalproat atau antipsikotika atipik + antidepresan,


kombinasi dua dari: litium, lamotrigin, divalproat, atau antipsikotika atipik
Lini III Karbamazepin, antipsikotika atipik, ECT
Tidak Gabapentin
direkomendasikan
BAB III
PENGGUNAAN ANTIPSIKOTIK PADA GANGGUAN BIPOLAR

Obat antipsikotik atipika sekarang ini semakin penting digunakan untuk pengobatan gangguan
bipolar. Khususnya untuk gangguan bipolar episode mania, antipsikotik atipikal telah menunjukkan
keberhasilan dan umumnya dapat ditoleransi dengan baik. Pedoman praktek saat ini untuk pengobatan
gangguan bipolar episode mania telah mendukung penggunaan obat antipsikotik atipikal sebagai
monoterapi atau sebagai komponen politerapi (APA 2002).
Pada tahun 2000, olanzapine adalah antipsikotik atipikal pertama yang sah kan oleh Food and
Drug Administration (FDA) untuk gangguan bipolar episode mania. Setelah itu FDA mengesahkan
risperidone pada tahun 2003 dan 3 tambahan senyawa pada tahun 2004, quetiapine, ziprasidone, dan
aripiprazole untuk indikasi pengobatan pada gangguan bipolar episode mania.

2.1 RISPERIDON
FDA menyetujui risperidon sebagai indikasi untuk gangguan bipolar meliputi:
a. Monoterapi untuk pengobatan jangka pendek manik akut atau episode campuran terkait dengan
gangguan bipolar I dan
b. Kombinasi terapi dengan lithium atau valproate untuk pengobatan jangka pendek manik akut atau
episode campuran dikaitkan dengan gangguan bipolar I.

Farmakodinamik
Risperidon merupakan devirat dari benzisoksazol mempunyai afinitas yang tinggi terhadap
reseptor serotonin (5HT2) dan aktivitas menengah terhadap reseptor dopamine (D2), alfa 1 dan alfa 2
adrenergik dan reseptor histamine. Aktivitas antipsikosis diperkirakan melalui hambatan terhadap
reseptor serotonin dan dopamine.
Farmakokinetik
Bioavailibilitas oral sekitar 70% volume distribusi 1-2L/kg. Di plasma risperidon terikat
dengan albumin dan alfa 1 glikoprotein. Ikatann protein plasma sekitar 90%. Risperidon secara
ekstensif dimetabolisme di hati oleh enzim CYP 2D6 menjadi metabolitnya 9-hidroksiperidon.
Risperidon dan metabolitnya dieliminasi di urin dan sebagian kecil lewat feses.
Dosis
Untuk preparat oral, risperidon tersedia dalam dua bentuk sediaan yaitu tablet dan cairan.
Dosis awal yang dianjurkan adalah 2 mg/hari dan besoknya dapat dinaikkan hingga mencapai
dosis 4 mg/hari. Sebagian besar pasien membutuhkan 4-6 mg/hari. Risperidon injeksi jangka
panjang (RIJP) dapat pula digunakan untuk terapi rumatan GB. Dosis yang dianjurkan untuk
orang dewasa atau orang tua adalah 25 mg setiap dua minggu. Bila tidak berespons dengan 25
mg, dosis dapat dinaikkan menjadi 37,5 mg - 50 mg per dua minggu.

Uji Klinis Penggunaan Risperidon pada Gangguan Bipolar episode mania:


Beberapa peneliti telah melakukan uji klinis pada pasien dengan gangguan bipolar
episode mania dengan metode double-blind, random, controlled trials (RCTs) dan open-label trials
risperidone sebagai pengobatan monoterapi dan dalam kombinasi dengan mood stabilizer dengan hasil
sebagai berikut:
Table 1.1 penggunaan risperidon sebagai monoterapi dan kombinasi

Efek Samping
Berdasarkan hasil studi, terapi Risperidon pada gangguan bipolar episode mania adalah baik.
Risperidon dapat ditoleransi dengan baik apabila digunakan sebagai monoterapi maupun terapi
kombinasi dengan mood stabilizer.
Efek samping yang pernah dilaporkan adalah insomnia, agitasi, ansietas, somnolen, mual,
muntah, peningkatan berat badan, hiperprolaktinemia dan reaksi ekstrapiramidal terutama tardiv
diskinesia. Efek samping ekstrapiramidal lebih ringan disbanding antipsikosis tipikal.
Dosis dan Pemberian
Dosis Risperidon pada gangguan bipolar episode mania adalah 2-3 mg sekali sehari. Dosis
rentangnya adalah 1-6 mg/hari pada orang dewasa tanpa ada gangguan fisik. Pada orang tua, dosis awal
0,25-1mg terbagi dalam 1-2 dosis, kemudian dapat dititrasi untuk meargetkan dosis dan dosis ini
dipertahankan selama 2-3 hari, sebelum beralih ke dosis satu hari sekali. Untuk anak-anak dan remaja,
dapat digunakan dosis awal 0,5 mg dan secara bertahap dititrasi 0,5-0,3 mg/hari.

2.2 OLANZAPIN
Olanzapine merupakan antipsikotik atipikal yang diindikasikan untuk pengobatan
skizofrenia, mania akut dan pencegahan relaps dalam gangguan bipolar. Lebih baik hasilnya
dalam terapi kombinasi dengan lithium atau valproate dibandingkan dengan pemberian
monoterapi mood stabilizer itu sendiri. Olanzapine menunjukkan efek yang baik dalam
pengobatan gangguan bipolar depresi dalam kombinasi dengan fluoxetine. Olanzapin mendapat
persetujuan dari FDA untuk bipolar episode akut mania dan campuran. Selain itu, olanzapin juga
efektif untuk terapi rumatan gangguan bipolar.

Farmakodinamik
Olanzapin merupakan devirat tienobenzodiazepin, struktur kimianya mirip dengan
klozapin. Olanzapin memiliki afinitas terhadap dopamin (DA), D2, D3, D4, dan D5, serotonin 2
(5-HT2); muskarinik, histamin 1(H1), dan a1- adrenergik.
Farmakokinetik
Olanzepin diabsorbsi dengan baik setelah pemberian oral, dengan kadar plasma tercapai
setelah 4-6 jam pemberian. Metabolisme di hepar oleh enzim CYP 2D6 dan diekskresikan lewat
urin.

Uji Klinis Penggunaan Olanzapine pada Gangguan Bipolar episode mania:


Olanzapin mendapat persetujuan dari FDA untuk bipolar episode akut mania dan campuran. Selain
itu, olanzapin juga efektif untuk terapi rumatan gangguan bipolar I. indikasi ini didasarkann pada uji
klinis yang telah dilakukan. Uji klinis tersebut dirangkum dalam table sebagai berikut :
Efek Samping
Meskipun strukturnya mirip dengan klozapin, olanzapin tidak menyebabkan
granulositosis seperti klozapin. Olanzapin dapat ditoleransi dengan baik dengan efek
ekstrapiramidal terutama tradiv diskinesia yang minimal. Efek samping yang sering dilaporkan
adalah peningkatan berat badan dan gangguan metabolic yaitu intoleransi glukosa,
hiperglikemia, dan hiperlipidemia.

Dosis dan Pemberian


Olanzapin intramuskular mempunyai onset of action yang lebih cepat dibandingan
olanzapin oral. Onset of action olanzapin intramuskular terjadi sekitar 15 menit sampai 2 jam
setelah pemberian awal. Perusahaan merekomendasikan olanzapin intramuskular sebagai injeksi
tunggal 10 mg dan diperbolehkan sampai 3 kali injeksi 10 mg dalam 24 jam.

2.3 QUETIAPIN
Gangguan bipolar episode depresi lebih sulit ditangani daripada episode manic dan hipomanik.
Tidak seperti pengobatan pada pasien dengan depresi yang “unipolar” saja, antidepresan umumnya
tidak diindikasikan sebagai monoterapi pada gangguan bipolar episode depresi. Praktek saat
adalah mood stabilizer yang dimulai pertama sebagai monoterapi. Kombinasi olanzapine dan
antidepresan fluoxetine adalah pengobatan pertama yang disetujui di amerika. ntuk menerima.
Quetiapine adalah obat kedua yang disetujui untuk indikasi ini.

Farmakodinamik
Quetiapin merupakan suatu derivat dibenzotiazepin yang bekerja sebagai antagonis 5-
HT1A dan 5-HT2A, dopamin D1, D2, histamin H1 serta reseptor adrenergik 1 dan 2.
Afinitasnya rendah terhadap reseptor D2 dan relatif lebih tinggi terhadap serotonin 5-HT2A.

Farmakokinetik
Absorbsinya cepat setelah pemberian oral, kadar plasma maksimal tercapai setelah 1-2
jam pemberian. Ikatan protein sekitar 83%. Metabolismenya lewat hati oleh enzyme CYP3A4.
Ekskresi sebagian besar lewat urin dan sebagian kecil lewat fesces.

2.4 ARIPRIPAZOLE
BAB III
KESIMPULAN

Risperidone adalah obat antipsikotik atipikal dengan


keberhasilan ditunjukkan dan tolerabilitas yang relatif baik di
pengobatan pasien dengan bipolar mania akut. Arus
pedoman praktek untuk gangguan bipolar mendukung penggunaan
obat antipsikotik atipikal sebagai monoterapi atau sebagai
komponen politerapi-cotherapy. Sementara temuan dari
acak, terkontrol, uji coba monoterapi jelas
penting, dalam pengaturan klinis politerapi untuk bipolar
gangguan jauh lebih umum daripada monoterapi.
Dalam pengaturan praktek klinis, risperidone secara luas digunakan
untuk mengobati mania akut, biasanya bersama dengan tradisional
suasana hati stabilisator seperti lithium atau valproate, dan sering
kemudian digunakan sebagai bagian dari pengobatan jangka panjang
rejimen pengobatan. Seperti halnya perawatan obat, obat
seleksi idealnya melibatkan analisis demografi
faktor, termasuk riwayat keluarga dan pribadi respon
terhadap agen tertentu serta memperhatikan potensi sideeffects
dan interaksi obat. Sayangnya, seperti yang ditunjukkan
dalam review kami, kebanyakan studi terkontrol bipolar mania adalah
durasi yang relatif terbatas dan dengan populasi penelitian
yang belum tentu mewakili mayoritas klinis
populasi bipolar. Skala besar, studi multi-pusat yang
memeriksa program longitudinal gangguan bipolar dan
efektivitas pengobatan saat ini dalam populasi yang beragam
dan menggunakan semua atau sebagian tersedia perawatan seperti
Systematic Program Peningkatan Pengobatan untuk Bipolar
Gangguan studi (STEP-BD) akan menjadi masa depan penting
Sumber informasi dalam membantu dokter untuk menentukan yang terbaik
pengobatan untuk setiap pasien dengan gangguan bipolar
(Kogan et al 2004; Sachs et al 2004)