You are on page 1of 21

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN

GANGGUAN BRONKOPNEUMONIA

A. KONSEP DASAR MEDIS


1. PENGERTIAN
Bronchopneumonia adalah radang pada paru-paru yang
mempunyai penyebaran berbecak, teratur dalam satu area atau
lebih yang berlokasi di dalam bronki dan meluas ke parenkim
paru (Brunner dan Suddarth, 2001).
Broncopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenal
satu atau beberapa lobus paru-paru.
Bronkopneumonia adalah radang paru-paru yang di
sebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan benda-benda asing.

2. ANATOMI DAN FISIOLOGI


a. Anatomi sistem pernafasan terdiri dari:

1) Hidung: merupakan saluran udara yang pertama yang


berfungsi mengalirkan udara ke dan dari paru-paru. Dan
juga sebagai penyaring kotoran dan melembapkan serta
menghangatkan udara yang dihirupkan kedalam paru-
paru.
2) Faring atau tenggorokan: seperti tuba yang
menghubungkan hidung dan rongga mulut ke laring.
Faring dibagi menjadi tiga yaitu nasofaring, orofaring,
dan laringofaring.
3) Laring atau pangkal tenggorokan: epitel kartilago yang
menghubungkan faring dan trakea. Fungsi utama laring
adalah untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi,
melindungi jalan nafas bawah dari obstruksi benda
asing dan memudahkan batuk. Laring disebut juga
kotak suara dan terdiri dari epiglotus, glotus, kartilago
tiroid, kartilago krikoid,kartilago aritenoid dan pita
suara.
4) Trakea atau batang tenggorokan: lanjutan dari laring
yang dibentuk oleh 16-20 cincin yang dari tulang-tulang
rawan.
5) Bronkus atau cabang tenggorokan: lanjutan dari trakea
terdiri dari bronkus kiri dan bronkus kanan.
6) Paru-paru: sebuah alat tubuh yang sebagia besar terdiri
dari dari gelembung alveoli. Paru-paru dibagi menjadi 2
bagian yaitu paru-paru kanan dan paru-paru kiri dimana
paru-paru kanan terdiri dari 3 lobus dan paru-paru kiri
terdiri dari 2 lobus.
b. Fisiologi
Proses pernapasan paru merupakan pertukaran oksigen dan
karbondioksida yang terjadi pada paru-paru. Proses ini
terdiri dari 3 tahap yaitu:
1) Ventilasi: proses keluar dan masuknya oksigen dari
atmosfer kedalam alveoli atau dari alveoli ke atmosfer.
2) Difusi: pertukaran antara oksigen di alveoli dengan
kapiler paru dan carbondioksida di kapiler dengan
alveoli.
3) Transportasi gas: proses pendistribusian oksigen kapiler
ke jaringan tubuh dan carbondioksida jaringan tubuh ke
kapiler.

3. ETIOLOGI
a. Bakteri: diplococus pneumonia, pneumococus, stretococus
hemoliticus aureus, haemophilus influenza, basilus
friendlander, mycobakterium tuberculosis.
b. Virus: respiratory syntical virus, virus influenza, virus
sitomegalik
c. Jamur: citoplasma capsulatum, criptococus nepromas,
blastomices dermatides, aspergilus sp, candinda albicans,
mycoplasma pneumonia, aspirasi benda asing.
Adapun faktor lain yang mempengaruhi timbulnya
broncopneumonia yaitu:

a. Faktor predisposisi: usia/ umur dan genetik


b. Faktor pencetus: gizi buruk, BBLR, tidak mendapatkan ASI
yang memadai, imunisasi tidak lengkap, polusi udara dan
kepadatan tempat tinggal.

5. TANDA DAN GEJALA


a. Infeksi traktus respiratoris atas
b. Demam tinggi sampai kejang
c. Anak gelisah, nyeri dada n batuk
d. Pernapasan cepat
e. Adanya bunyi napas tambahan seperti ronchi dan whezing

6. KOMPLIKASI
a. Atelektasis adalah pengembangan paru-paru yang tidak
sempurna atau kolaps paru merupakan akibat kurangnya
mobilisasi atau reflek batuk hilang
b. Empisema yaitu suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah
dalam rongga pleura yang terdapat disatu tempat atau
seluruh rongga pleura.
c. Abses paru adalah pengumpulan pus dalam jaringan paru
yang meradang.
d. Infeksi sistemik
e. Endokarditis yaitu peradangan pada setiap katup
endokaridal
f. Meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak.

7. TES DIAGNOSTIK YANG MENUNJANG

a. Pemeriksaan Laboratorium
1) Pemeriksaan darah: pada kasus bronchopneumonia oleh
bakteri akan terjadi leukositosis (meningkatnya jumlah
neutrofil).
2) Pemeriksaan sputum: bahan pemeriksaan yang terbaik
diperoleh dari batuk yang spontan dan dalam. Digunakan
untuk pemeriksaan mikroskopis dan untuk kultur serta
tes sensitifitas untuk mendeteksi agen infeksius.
3) Analisa gas darah untuk mengevaluasi status oksigenasi
dan status asam basa.
4) Kultur darah untuk mendeteksi bakteremia
5) Sampel darah, sputum, dan urin untuk tes imunologi
untuk mendeteksi antigen mikroba
b. Pemeriksaan Radiologi: Rontgenogram Thoraks:
menunjukkan konsolidasi lobar yang seringkali dijumpai
pada infeksi pneumokokal atau klebsiella. Infiltrat multiple
seringkali dijumpai pada infeksi stafilokokus dan
haemofilus. Laringoskopi/ bronkoskopi untuk menentukan
apakah jalan nafas tersumbat oleh benda padat.

8. PENATALAKSANAAN MEDIS
a. Farmakologi: diberikan antibiotik misalnya penisilin G,
stretomisin, ampicilin, gentamisin.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
a. Anamnesis
Identitas: nama anak dan orangtua
b. Keluhan utama
c. Riwayat penyakit keluarga
d. Kaji TTV
e. Kaji pola aktivitas yang dilakukan anak
f. Kaji imunisasi lengkap
g. Kaji pertumbuhan dan perkembangan anak

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN

a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan


inflamasi trakeobronkial, pembentukan edema, peningkatan
produksi sputum.
b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan
membran alveolus kapiler, gangguan kapasitas pembawa
aksigen darah, ganggguan pengiriman oksigen.
c. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan proses
inflamasi dalam alveoli.
d. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan
dengan kehilangan cairan berlebih, penurunan masukan
oral.
e. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses
infeksi, anoreksia yang berhubungan dengan toksin bakteri
bau dan rasa sputum, distensi abdomen atau gas
f. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan insufisiensi
oksigen untuk aktifitas sehari-hari.

3. INTERVENSI KEPERAWATAN
a. DP : Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan
inflamasi trakeobronkial, pembentukan edema, peningkatan
produksi sputum
Tujuan: dalam waktu 3x24 jam perawatan, diharapkan:

1) Jalan nafas efektif dengan bunyi nafas bersih dan jelas


2) Pasien dapat melakukan batuk efektif untuk
mengeluarkan sekret
Hasil yang diharapkan :

1) Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi nafas


bersih/ jelas
2) Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan
jalan nafas misalnya: batuk efektif dan mengeluarkan
sekret.

Intervensi :

1) Auskultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas.


Misalnya: mengi, krekels dan ronki.
R/ Bersihan jalan nafas yang tidak efektif dapat
dimanifestasikan dengan adanya bunyi nafas adventisius

2) Kaji/ pantau frekuensi pernafasan, catat rasio inspirasi/


ekspirasi
R/ Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan
dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stres/
adanya proses infeksi akut. Pernafasan dapat melambat
dan frekuensi ekspirasi memanjang dibanding inspirasi.

3) Berikan posisi yang nyaman buat pasien, misalnya posisi


semi fowler
R/ Posisi semi fowler akan mempermudah pasien untuk
bernafas

4) Dorong/ bantu latihan nafas abdomen atau bibir


R/ Memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi
dan mengontrol dipsnea dan menurunkan jebakan udara
5) Observasi karakteristik batik, bantu tindakan untuk
memoerbaiki keefektifan upaya batuk.
R/ Batuk dapat menetap, tetapi tidak efektif. Batuk
paling efektif pada posisi duduk tinggi atau kepala di
bawah setelah perkusi dada.

6) Berikan air hangat sesuai toleransi jantung.


R/ Hidrasi menurunkan kekentalan sekret dan
mempermudah pengeluaran.

b. DP : Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan


perubahan membran alveolus kapiler, gangguan kapasitas
pembawa oksigen darah, gangguan pengiriman oksigen.
Tujuan : dalam waktu 3x24 jam perawatan diharapkan
perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA
dalam rentang normal dan tidak ada distres pernafasan.
Hasil yang diharapkan :
1) Menunjukkan adanya perbaikan ventilasi dan oksigenasi
jaringan
2) Berpartisispasi pada tindakan untuk memaksimalkan
oksigenasi
Intervensi :

1) Kaji frekuensi, kedalaman, dan kemudahan pernafasan


R/ Manifestasi distres pernafasan tergantung pada derajat
keterlibatan paru dan status kesehatan umum

2) Observasi warna kulit, membran mukosa dan kuku. Catat


adanya sianosis
R/ Sianosis menunjukkan vasokontriksi atau respon
tubuh terhadap demam/ menggigil dan terjadi
hipoksemia.

3) Kaji status mental


R/ Gelisah, mudah terangsang, bingung dapat
menunjukkan hipoksemia.

4) Awsi frekuensi jantung/ irama


R/ Takikardi biasanya ada karena akibat adanya demam/
dehidrasi.

5) Awasi suhu tubuh. Bantu tindakan kenyamanan untuk


mengurangi demam dan menggigil
R/ Demam tinggi sangat meningkatkan kebutuhan
metabolik dan kebutuhan oksigen dan mengganggu
oksigenasi seluler.

6) Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi,


nafas dalam, dan batuk efektif
R/ Tindakan ini meningkatkan inspirasi maksimal,
meningkatkan pengeluaran sekret untuk memperbaiaki
ventilasi.

7) Kolaborasi pemberian oksigen dengan benar sesuai


dengan indikasi
R/ Mempertahankan PaO2 di atas 95 %

c. DP: Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan proses


inflamasi dalam alveoli
Tujuan: dalam waktu 3x24 jam perawatan diharapkan pola
nafas efektif dengan frekuensi dan kedalaman dalam
rentang normal dan paru jelas/ bersih.
Intervensi :

1) Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan dan ekspansi dada.


R/ Kecepatan biasanya meningkat, dispnea, dan terjadi
peningkatan kerja nafas, kedalaman bervariasi, ekspansi
dada terbatas.

2) Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas


adventisius.
R/ Bunyi nafas menurun/ tidak ada bila jalan nafas
terdapat obstruksi kecil.

3) Tinggikan kepala dan bentu mengubah posisi.


R/ Duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan
memudahkan pernafasan.

4) Observasi pola batuk dan karakter sekret.


R/ Batuk biasanya mengeluarkan sputum dan
mengindikasikan adanya kelainan.

5) Bantu pasien untuk nafas dalam dan latihan batuk efektif.


R/ Dapat meningkatkan pengeluaran sputum.

6) Kolaborasi pemberian oksigen tambahan.


R/ Memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja
nafas.
7) Berikan humidifikasi tambahan
R/ Memberikan kelembaban pada membran mukosa dan
membantu pengenceran sekret untuk memudahkan
pembersihan.

8) Bantu fisioterapi dada, postural drainage


R/ Memudahkan upaya pernafasan dan meningkatkan
drainage sekret dari segmen paru ke dalam bronkus.

d. DP: Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit


berhubungan dengan kehilngan cairan berlebih, penurunan
masukan oral.
Tujuan : dalam waktu 3x24 jam perawatan klien
menunjukkan keseimbangan cairan dan elektrolit

Intervensi :

1) Kaji perubahan tanda vital, contoh :peningkatan suhu,


takikardi,, hipotensi.
R/ Untuk menunjukkan adnya kekurangan cairan
sisitemik

2) Kaji turgor kulit, kelembaban membran mukosa (bibir,


lidah).
R/ Indikator langsung keadekuatan masukan cairan

3) Catat laporan mual/ muntah.


R/ Adanya gejala ini menurunkan masukan oral

4) Pantau masukan dan haluaran urine.


R/ Memberikan informasi tentang keadekuatan volume
cairan dan kebutuhan penggantian

5) Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi.


R/ Memperbaiki ststus kesehatan

e. DP : Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder
terhadap demam dan proses infeksi, anoreksia, distensi
abdomen.
Tujuan : dalam waktu 3x24 jam perawatan diharapkan klien
menunjukkan peningkatan nafsu makan dan
mempertahankan/ meningkatkan berat badan

Intervensi :
1) Identifikasi faktor yang menimbulkan mual/ muntah.
R/ Pilihan intervensi tergantung pada penyebab masalah

2) Berikan wadah tertutup untuk sputum dan buang sesering


mungkin, bantu kebersihan mulut.
R/ Menghilangkan bahaya, rasa, bau,dari lingkungan
pasien dan dapat menurunkan mual

3) Jadwalkan pengobatan pernafasan sedikitnya 1 jam


sebelum makan.
R/ Menurunkan efek mual yang berhubungan dengan
pengobatan ini

4) Auskultasi bunyi usus, observasi/ palpasi distensi


abdomen.
R/ Bunyi usus mungkin menurun bila proses infeksi
berat, distensi abdomen terjadi sebagai akibat menelan
udara dan menunjukkan pengaruh toksin bakteri pada
saluran gastro intestinal

5) Berikan makan porsi kecil dan sering termasuk makanan


kering atau makanan yang menarik untuk pasien.
R/ Tindakan ini dapat meningkatkan masukan meskipun
nafsu makan mungkin lambat untuk kembali

6) Evaluasi status nutrisi umum, ukur berat badan dasar.


R/ Adanya kondisi kronis dapat menimbulkan malnutrisi,
rendahnya tahanan terhadap infeksi, atau lambatnya
responterhadap terapi

f. DP : Intoleransi aktifitas berhubungan dengan insufisiensi


oksigen untuk aktifitas hidup sehari-hari.
Tujuan : dalam waktu 3x24 jam perawatan diharapkan klien
meningkatan toleransi terhadap aktifitas.

Intervensi :

1) Evakuasi respon pasien terhadap aktivitas.


R/ Menetapkan kemampuan/ kebutuhan pasien dan
memudahkan pilihan intervensi

2) Berikan lingkungan yang tenang dan batasi pengunjung


selama fase akut.
R/ Menurunkan stres dan rangsangan berlebihan,
meningkatkan istirahat
3) Jelaskan pentingnya istitahat dalam rencana pengobatan
dan perlunya keseimbamgan aktivitas dan istirahat.
R/ Tirah baring dipertahankan untuk menurunkan
kebutuhan metabolik

4) Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan.


R/ Meminimalkan kelelahan dan membantu
keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.

g. DP: Hipotermia berhubungan dengan bronkopneumonia


Tujuan : dalam waktu 3x24 jam perawatan diharapkan suhu
tubuh dalam batas normal (36,5-37,50 C).
Intervensi:

1) Pantau suhu tubuh klien


R/ mengetahui keadaan klien
2) Berikan kompres hangat pada aksila dan lipatan paha
R/ untuk menurunkan panas klien
3) Kolaborasi dalam pemberian obat analgetik
R/ untuk menurunkan panas klien dan sebagai terapi
obat yang diberikan

4. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Implementasi keperawatan dilakukan berdasarkan tindakan


keperawatan yang telah diltetapkan/ dibuat.

5. EVALUASI KEPERAWATAN

Evaluasi keperawatan dilakukan dengan tidak teratasi,


teratasi sebagian atau telah teratasi.
DAFTAR PUSTAKA

Nanda International. 2010. Diagnosis Keperawatan. Jakarta:


EGC.
Taylor, C. M dan Sheila, S. R. 2010. Diagnosis Keperawatan
Dengan Rencana Asuhan. Jakarta: EGC.
Wijayaningsih, K. S. 2013. Asuhan Keperawatan Anak.
Jakarta: Buku Kesehatan.
KONSEP TUMBUH KEMBANG ANAK

1. Pertumbuhan adalah :

a. Bertambahnya jumlah dan besarnya sel seluruh bagian tubuh yang secara

kuantitatif dapat diukur (BB, TB, lingkar kepala, lingkat dada, lingkar

lengan atas).

b. Bertambah ukuran fisik dan struktur tubuh.

2. Perkembangan adalah :

a. Bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh yang dapat dicapai melalui

tumbuh, kematangan dan belajar.

b. Bertambahnya kemampuan dalam gerak kasar, gerak halus, bahasa, bicara

dan sosialisasi.

c. Perkembangan: hasil interaksi kematangan SSP dan organ tubuh yang

dipengaruhinya.

3. Ciri dan Prinsip Pertumbuhan dan Perkembangan :

a. Tumbang terjadi secara terus-menerus (kontinue)

b. Perkembangan mempunyai pola yang tetap

c. Perkembangan mempunyai tahap yang berurutan

d. Perkembangan merupakan hasil proses maturasi/kematangan dan

pembelajaran

e. Pola perkembangan dapat diramalkan.

4. Perkembangan biologis todler

a. Perubahan proporsional

Perubahan mendapat selama masa todler. Rata –rata pertambahan

berat badan adalah 1,8 sampai 2,7 kg per tahun. Berat rata-rata pada usia 2
tahun adalah 12 kg. Berat badan menjadi empat kali berat badan lahir pada

usia 2,5 tahun. Kecepatan pertambhan tinggi badan juga melambat.

Penambahan tinggi yang biasa adalah bertambah 7,5 cm per tahun dan

terutama terjadi perpanjangan tungkai dan bukan batang tubuh. Tinggi

badan rata-rata anak usia 2 tahun adalah 86,6 cm. Secara umum, tinggi

badan orang dewasa sekitar dua kali tinggi badannya sewaktu berusia 2

tahun. Pengukuran tinggi dan berat badan yang akurat selamasa masa

todler harus menunjukkan kurva pertumbuhan yang stabil yang lebih

menyerupai kurva pertumbuhan yang stabil yang lebih menyerupai anak

tangga secara alami daripada garis linear (lurus), yag merupakan

karakteristik lonjakan pertumbuhan selama masa kanak-kanak awal.

Kecepatan pertambahan lingkar kepala melambat pada akhir masa

bayi , dan lingkar kepala biasanya melambat pada akhir masa bayi, dan

lingkar kepala biasanya sama dengan lingkar dada pada usia 1 sampai 2

tahun. Total pertambahan lingkar kepala umumnya selama tahun kedua

adalah 2,5 cm. Kemudian kecepatan pertambahan melambat sampai usia 5

tahun, pertambahan tinggi badan menjadi kurang dari 1,25 cm pertahun.

Fontanela anterior menutup antara usia 12 sampai 18 bulan.

Lingkar dada terus meningkat ukurannya dan melebihi lingkar kepala

selama masa todler. Bentuknya juga berubah karena diameter transversal.

Atau lateral melebihi dimeter antero-posterior. Setelah tahun kedua lingkar

dada melebihi ukuran perut, yang selain untuk pertumbuhan ekstremitas

bawah, memberi kesan anak menjadi lebih tinggi dan langsing. Namun,

todler mempertahankan penampilan pendek-gemuk “perut gembung”


karena otot-otot perut belum berkembang dengan baik dan tungkainya

pendek. Tungkai tetap tampak sedikit melengkung selama tahun kedua

karena berat batang tubuh yang relatif besar.

b. Perubahan Sensoris

Ketajaman penglihatan 20/40 dianggap bisa diterima selama masa

todler. Penglihatan binokular sudah berkembang dengan baik dan totaldan

setiap tanda strabismus menetap memerlukan perhatian profesional sedini

mungkin untuk menghindari ambliopia presepsi yang dalam terus menerus

berkembang. Tetapi karena anak belum memiliki koordinasi motorik

bahaya yang masih terus ada adalah jatuh dari ketinggian.

Indra pendengaran, penciuman, pengecapan dan perabaan menjadi

semakin berkembang, saling terkoordinasi satu sama lain, dan

berhubungan dengan pengalaman lain. Semua indra digunakan untuk

mengeksplorasi lingkungan. Todler biasanya menginspeksi benda dengan

membaliknya, mereka mungkin akan mengecap, mencium, dan

menyentuhnya untuk beberapa kali sebelum mereka puas dengan

penyelidikannya. Mereka akan mengguncangnya untuk melihat apakah ada

timbul bunyi dan secara bersamaan menguji daya tahannya.

Contoh lain dari fungsi integral indra adalah perkembangan todler atau

kesukaan rasa tertentu. Anak lebih sulit mencoba makanan baru daripada

bayi karena mempertimbangkan juga penampilan atau baunya bukan

hanya rasanya.
c. Maturasi sistem
Sebagian besar sistem fisiologis relatif matur pada akhir masa todler.
Volume saluran pernafasan dan pertumbuhan struktur yang bersangkutan
terus bertambah selama masa kanak-kanak awal, mengurangi beberapa
faktor yang membuat anak rentan mengalami infeksi secara sering dan
serius selama masa bayi. Struktur internal telinga dan tenggorokan terus
memendek dan melurus. Dan jaringan limfoid tonsil dan adenoid terus
bertambah besar. Akibatnya, sering terjadi otitis media, tonsilitis, dan
infeksi saluran napas atas. Kecepatan respirasi dan jantung melambat dan
tekanan darah meningkat, pernapasan masih tetap berupa pernapasan
abdomen.
Dibawah kondisi variasi suhu yang moderat,todler jarang mengalami
kesulitan seperti pada bayi kecil dalam mempertahankan suhu tubuh.
Maturnya fungsi sistem ginjal membantu mempertahankan cairan pada
saat stress, mengurangi risiko dehidrasi.
Proses digestif sudah cukup lengkap pada awal masa todler. Keasaman
isi lambung terus meningkat dan memiliki fungsi protektif, karena sudah
mampu menghancurkan berbagai jenis bakteri. Kapasitas lambung
meningkat untuk memungkinkan jadwal makan tiga kali sehari yang biasa.
Salah satu perubahan sistem gastrointestinal yang paling menonjol
adalah kontrol eliminasi secara volunter. Dengan kompletnya mielinasi
korda spinalis pengontrolan sfingter anal dan uretra dapat dicapai secara
bertahap. Kemampuan fiiologis untuk mengontrol sfingter kemungkinan
terjadi antara usia 18 dan 24 bulan. Kapasitas kandung kemih juga
meningkat dengan pesat. Pada usia 14 sampai 18 bulan anak sudah
mampu menahan urine sampai 2 jam atau lebih.
Mekanisme pertahanan kulit dan darah, terutama fagositosis, jauh lebih
efisien pada todler daripada bayi. Produksi antibodi sudah berkembang
baik. Akan tetapi, banyak anak kecil memperlihatkan peningkatan flu dan
infeksi minor mendadak ketika mereka memasuki kelas prasekolah atau
situasi kelompok lain, seperti tempat penitipan anak, karena terpajan
patogen.
d. Perkembangan motorik kasar dan halus
Keterampilan motorik kasar mayor selama masa todler adalah
perkembangan lokomosi. Pada usia 12 sampai 13 bulan todler sudah dapat
berjalan sendiri dengan jarak kedua kaki melebar untuk keseimbangan
ekstra pada 18 bulan mereka berusaha lari tetapi mudah terjatuh. Antara
usia 2 dan 3 tahun, posisi tegak dengan dua kaki menunjukkan
peningkatan koordinasi dan keseimbangan. Pada usia 2 tahun todler dapat
berjalan menaiki dan menuruni tangga dan pada usia 2,5 tahun mereka
dapat melompat menggunakan kedua kaki, berdiri pada satu kaki selama
satu atau dua detik, dan melakukan beberapa langkah dengan berjinjit.
Pada akhir tahun kedua mereka dapat berdiri dengan satu kaki, berjalan
jinjit, dan menaiki tangga dengan berganti kaiki.
Perkembangan motorik halus diperlihatkan dengan meningkatnya
keterampilan deksteritas manual. Misalnya pada usia 12 bulan todler
mampu mengenggam sebuah benda yang sangat kecil tetapi tidak mampu
melepaskan sesuai keinginannya. Pada 15 bulan mereka dapat
menjatuhkan peller ke dalam botol berleher sempit. Menangkap atau
melempar benda dan menangkapnya kembali menjadi aktivitas yang
hampir obsesif pada usia sekitar 15 bulan. Pada usia 18 bulan todler dapat
melempar bola dari tangan tanpa kehilangan keseimbangan.
Penguasaan keterampilan motorik kasar dan harus jelas terbukti dalam
semua fase aktivitas anak, seperti bermain, berpakaian, pemahaman
bahasa, merespon disiplin, interaksi sosial, dan kecenderungan cedera.
Aktivitas yang dilakukan sendirian jarang terjadi lebih terkait dengan
kemampuan fisik dan mental lain untuk menghasilkan tujuan yang
dimaksud. Misalnya, todler dapat berjalan untuk mencapai lokasi baru,
melepas mainan dan memungutnya kembali atau memilih yang baru, dan
mencoret-coret untuk melihat gambar yang dihasilkan. Kemungkinan
eksplorasi, penyelidikan, dan manipulasi lingkungan dan bahayanya tidak
pernah berakhir.
5. Perkembangan Psikososial
Todler dihadapkan pada penguasaan beberapa tugas penting. Apabila
kebutuhan untuk membentuk dasar kepercayaan telah terpuaskan, mereka siap
meninggalkan ketergantungannya menjadi memiliki kontrol, mandiri, dan
otonomi. Beberapa tugas khusus yang harus dikuasai meliputi :

a. Diferensiasi diri dari orang lain, terutama ibunya


b. Toleransi terhadap perpisahan dari orang tua
c. Kemampuan untuk menunda pencapaian kepuasan
d. Pengontrolan fungsi tubuh
e. Penguasaan perilaku yang dapat diterima secara sosial
f. Komunikasi memiliki makna verbal
g. Kemampuan berinteraksi dengan orang lain dengan cara yang tidak terlalu
egosentris.
Penguasaan tujuan ini hanya dimulai selama masa akhir bayi dan masa
todler dan tugas seperti perkembangan hubungan interpersonal dengan orang
dengan orang lain mungkin belum selesai sampai masa remaja. Tetapi pondasi
penting untuk keberhasilan penyelesaian tugas perkembangan tersebut terletak
selama masa pembentukan awal ini.

Perkembangan Rasa Autonomi (Erikson)

Menurut Erikson, tugas perkembangan pada masa todler adalah menguasai


sensasi autonomi sementara mengatasi sensai ragu dan malu. Ketika bayi
memperoleh rasa percaya dalam mempercayai dan meramalkan orang tua,
lingkungan, dan interaksi dengan orang lain, mereka mulai menemukan bahwa
perilaku mereka adalah milik mereka sendiri dan perilaku tersebut memiliki
efek yang dapat diramalkan dan dipercaya pada orang lain. tetapi, meskipun
mereka menyadari keinginan dan kontrol mereka terhadap orang lain, mereka
dihadapkan dengan konflik sewaktu menunjukkan autonomi dan
meninggalkan ketergantungan kepada orang lain yang sebelumnya lebih
menyenangkan. Melakukan keinginan mereka memiliki konsekuensi negatif
yang pasti, sementara mempertahankan perilaku ketergantungan dan
kepatuhan umumnya dihargai dengan kasih sayang dan pengakuan. Namun,
ketergantungan yang terus menerus menimbulkan sensasi ragu mengenai
potensi kemampuan untuk mengontrol tindakan mereka. Keraguan ini
ditambah dengan rasa malu karena merasa adanya dorongan ingin menentang
keiginan orang lain dan ketakutan bahwa orang lain akan melebihi
kemampuan mereka sendiri dalam memanipulasi lingkungan.

Sama seperti bayi yang memiliki modalitas sosial mengenggam dan


menggigit, todler memiliki modalitas yang baru dicapai berupa memegang dan
melepas sesuatu. Memegang dan melepas jelas terlihat pada penggunaan
tangan, mulut, mata dan pada akhirnya sfingter, ketika latihan toilet dimulai.
Modalitas sosial ini diekspresikan secara konstan dalam aktivitas permainan
anak, seperti menjatuhkan atau melemparkan benda, mengambil benda dari
dalam kotak, laci atau kabinet, memegang lebih erat ketika seseorang
mengatakan, “ Tidak, jangan sentuh” ; dan memuntahkan makanan ketika
pilihan rasa makanan telah sangat kuat.

Beberapa karakteristik, terutama negativisme dan ritualisme, adalah khas


todler dalam pencarian autonomi mereka. Ketika todler berusaha
mengekspresikan keinginan mereka, mereka sering bertingkah negativisme,
respon yang selalu negatif terhadap permintaan. Kata –kata “tidak” atau
“biarkan aku” bisa merupakan satu-satunya perbendaharaan kata. Emosi bisa
diekspresikan dengan sangat kuat, biasanya dengan perubahan mood yang
cepat. Satu menit, todler bisa memusatkan diri pada pada aktivitas, dan
beberapa menit kemudian mereka bisa sangat marah karena tidak mampu
memanipulasi suatu mainan atau membuka pintu. Apabila dimarahi karena
melakukan suatu kesalahan, mereka bisa menjadi temper tantrum dan hampir
selalu cepat-cepat menarik tungkai orang tuanya agar diangkat dan dihibur.
Memhami dan menghadapi perubahan yang cepat ini sering kali sulit bagi
orang tua. Banyak orang tua mengganggap negativisme menjengkelkan dan
bukannya menangani secara konstruktif, mereka justru marah, yang semakin
mengancamanak, dalam pencarian mereka mempelajari metode berinteraksi
dengan orang lain yang dapat diterima .

Berlawanan dengan negativisme, yang sering kali mengacaukan


lingkungan, ritualisme kebutuhan untuk mempertahankan kesamaan dan
reliabilitas, memberikan rasa nyaman. Todler berani menghadapi bahaya
dengan rasa aman jika mereka tahu bahwa orang, tempat, dan rutinitas yang
telah dikenalnya dengan baik masih ada. Kita dapat dengan mudah memahami
mengapa perubahan, seperti hospitalisasi, bisa menjadi ancaman bagi anak
ini. Tanpa ritual yang nyaman, hanya ada sedikit kesempatan untuk
menggunakan autonomi. Konsekuensinya, terjadi ketergantungan dan regresi.

Erikson memfokuskan pada perkembangan ego, yang dianggap sebagai


alasan atau akal sehat, selama fase perkembangan psikosososial ini. Terjadi
pergaulatan ketika anak berusaha menghadapi impuls dari id dan berusaha
menoleransi frustasi dan mempelajari cara berinteraksi dengan lingkungan
yang dapat diterima secara sosial. Ego terbukti ketika anak mampu
menoleransi pemuasan yang tertunda.

Terjadi juga permulaan super ego atau kesadaran yang belum sempurna,
yang merupakan gabungan dari moral masyarakat dan proses akulturasi.
Dengan perkembangan ego, anak kemudian membedakan dirinya dari orang
lain dan mengembangkan perasaan percaya dalam diri mereka sendiri. Namun
pada saat mulai mengembangkan kesadaran terhadap keinginan mereka
sendiridan kemampuan untuk mencapainya, mereka juga bisa menyadari
kemampuan mereka untuk gagal. Kesadaranmengenai potensi kegagalan
selalu ada menciptakan keraguan dan rasa malu. Kesuksesan penguasaan tugas
autonomi membutuhkan upaya untuk menguasai diri sendiri pada saat
menghadapi frustasi akibat perlunya membatasi situasi dan menunda
kepuasan. Kesempatan untuk penguasaan diri muncul dalam aktivitas
permainan yang tepat, toilet training, krisis persaingan sibling, dan
keberhasilan interksi dengan orang penting lainnya.
6. Perkembangan Kognitif
Fase Sensorimotor dan Prakonseptual (Piaget)

Periode usia 12 sampai 24 bulan adalah kelanjutan dari dua tahap akhir fase
sensorimotor. Selama masa ini proses kognitif berkembang cepat dan
terkadang tampak mirip dengan pemikiran orang dewasa. Namun,
keterampilan membuat alasan masih sangat primitif dan perlu dipahami agar
dapat secara efektif menghadapi perilaku khas anak pada usia ini.

Reaksi sirkular tersier. Pada tahap kelima fase sensorimotor (usia 13 sampai
18 bulan), anak menggunakan percobaan aktif untuk mencapai tujuan yang
sebelumnya belum tercapai. Keterampilan fisik yang baru diperoleh semakin
penting untuk fungsi yang mereka berikan daripada untuk aksi mereka sendiri.
Anak menggabungkan pembelajaran reaksi sirkular sekunder yang lama
dengan keterampilan baru dan menerapkan pengetahuan gabungan tadi ke
situasi yang baru, dengan penekanan pada hasil percobaan. Dengan cara ini
dimulaialah penilaianyang rasional dan pemberian alasan intelektual.
Selamatahap ini terjadi diferensiasi lebih lanjut antaradiri sendiri dan objek.
Hal ini terlihat dengan meningkatnya kemampuan anak untuk menjauhkan diri
dari orang tua dan menoleransi periode perpisahan yang lebih lama.

Kesadaran mengenai hubungan sebab-akibat antara dua kejadian jelas terlihat.


Setelah mematikan tombol lampu, todler menyadari bahwa respon timbal
balik telah terjadi. Akan tetapi, mereka tidak mampu mentransfer pengetahuan
tersebut ke dalam situasi yang baru. Oleh karena itu, setiap kali mereka
melihat sesuatu yang tampak seperti tombol lampu, mereka harus menyelidiki
kembali fungsinya. Perilaku seperti itu memperlihatkan awal pengategorian
data ke dalam kelas dan sub kelas yang berbeda. Ada banyak sekali contoh
perilaku tipe ini saat todler terus mengeksplorasi objek yang sama setiap kali
objek tersebut munculditempat yang baru.

Karena klasifikasi objek masih belum matang, pemunculan suatu objek


menentukan fungsinya. Misalnya, jika mainan anak disimpan didalam kantong
kertas atau wadah besar, wadah mainan tersebut tidak berbeda dengan tempat
sampah atau keranjang cucian. Apabila anak ini diizinkan untuk
mengembalikan wadah mainan, anak tersebut akan melakukannya dengan
cepat terhadap wadah lain yang serupa karena dalam pikiran anak, wadah
tersebut tidak ada bedanya. Mengharap anak menilai wadah mana yang yang
diperbolehkan untuk diekplorasi dan mana yang tidak boleh tidak bisa
diterapkan pada anak kelompok usia ini. Oleh karena itu, benda terlarang,
seperti tong sampah, harus diletakkan di luar jangkauan anak.

Penemuan suatu benda sebagai benda memicu pemahaman hubungan


mengenai jarak mereka. Anak- anak mampu mengenali perbedaan bentuk dan
hubungannya satu sama lin. Misalnya, mereka dapat memasukkan kotak yang
lebih kecil kedalam kotak lain (seperti sarang) dan memasukkan benda bulat
ke dalam lubang, meskipun papan diputar, dibalik, atau dipindah. Anak juga
menyadari ruang dan hubungan tubuh mereka dengan dimensi seperti
ketinggian. Mereka akan meregang, berdiri pada tangga atau penyangga yang
rendah, dan menarik tali untuk mencapai suatu benda.

Keberadaan benda juga semakin dikenal. Meskipun mereka tetap belum


mampu menemukan benda-benda yang diambil atau dipindahkan secara diam-
diam dari bawah satu bantal ke bantal lain tanpa dilihat mereka, todler
semakin mengetahui keberadaan suatu benda di balik pintu tertutup, di dalam
laci, dan dibawah meja. Orang tua bisanya sangat menyadari pencapaian
perkembangan ini dan mengetahui bahwa kabinet di tempat tinggi yang
terkunci merupakan satu-satunya tempat yang tidak dijangkau anak.