You are on page 1of 15

PANCASILA DAN KHAZANAH ISLAM NUSANTARA

Adam Perdana SH
Pengurus Cabang PMII Jakarta Timur

A. Akibat ketidakpahaman Pancasila.

Dalam setiap negara tentu membutuhkan yang namanya sebuah ideologi sebagai
satu paradigma berbangsa dan bernegara, begitupun Indonesia yang mempunyai
Pancasila sebagai ideologi sekaligus falsafah berbangsa dan bernegara. Dalam pada itu
untuk mengejewantahkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, diperlukan sebuah
pemahaman konfrehensif tentang Pancasila itu sendiri. Sebab ketidakpahaman ataupun
kesalahpamahan terhadap konsepsi Pancasila justru akan menjadi ancaman bagi
keutuhan bangsa. Sebagai contoh dapat kita jumpai saat era Orde Baru yang begitu
memberhalakan Pancasila untuk mempertahankan status quo (kekuasaan), Pancasila
mejadi tafsir tunggal yang membatasi berbagai macam hak dan kebebasan.

Dengan berbagai isu yang berkembang ditengah-tengah masyarakat Indonesia


hari ini, bahwa Pancasila dipandang sebagai barang lama yang tidak lagi dapat
memenuhi kebutuhan masyarakat. Sehingga konsekwensinya, paham-paham asing
begitu dapat mengancam keutuhan bangsa akan dianggap lebih tepat dipakai sebagai
landasan, paradigama dalam bernegara

Bahkan Indonesia dewasa ini tidak pernah lekang dari tuduhan-tuduhan terhadap
Pancasila sebagai ideologi yang melahirkan paham liberalisme, kapitalisme bahkan
telah membukakan jalan bagi masuknya ideologi terlarang yang justru akan
mengancam keselamatan Pancasila itu sendiri.

Muara dari persoalan diatas sebenarnya datang dari kurangnya penegasan


terhadap nilai-nilai pancasila sebagai ligatur, sehingga Pancasila dengan sendirinya
menjadi sedemikian statis.
Wakil Ketua MPR Evert Ernest Mangindaan dalam seminar sosialisasi 4 Pilar
MPR RI di gereja St. Leo Agung Paroki Jatiwaringin, Jakarta Timur menegaskan
bahwa Pancasila sebagai ideologi negara, pandangan hidup sebagai pemersatu, dan
Pancasila dinyatakan olehnya telah final (detik.com). Memang secara tekstual,
Pancasila dapat dikatakan telah final, namun secara konsep filosofi kehidupan tentu
belum dapat dipastikan kefinalannya. Sebab, bagaimana pun juga Pancasila sebagai
sumber dari segala sumber hukum mesti kontekstual seiring berubahnya kebiasaan
dalam masyarakat bangsa. Akan tetapi bukan berarti merubah Pancasila dengan segala
kebaruannya, melainkan sebuah upaya revitalisaisi kembali nilai-nilai Pancasila yang
terbentang pada setiap masa dan zamannya. Sehingga Pancasila tidak konservatif,
artinya dapat bermetamorfosis dengan kemoderenan Indonesia saat ini.

Berangkat dari situ, dengan mempertimbangkan kondisi faktual dewasa ini,


Pancasila membutuhkan tafsir yang sesuai dengan perkembangan zaman, terutama
dalam menangkal upaya-upaya disintegrasi bangsa.

Demikian Kwik Kian Gie (Ekonom, Penggerak Pendidikan dan Mantan Menteri
Koordinator Perekonomian) mengklaisifikasi tiga kelompok dengan pemahaman
terhadap Pancasila yang saling berlainan :

1. Kelompok yang membela Pancasila mati-matian. Mereka meyakini bahwa


Pancasila memang ampuh dalam mempersatukan bangsa Indonesia, karena
betapapun terpuruknya bangsa kita dewasa ini dalam hampir setiap aspek
kehidupan, NKRI masih ada. Namun, pemahaman yang mendalam tidak
dimiliki oleh mereka sehingga kesetiaannya pada Pancasila kurang lebih juga
mengandung unsur dogma
2. Kelompok yang menggap pancasila sebagai slogan kosong, yang tidak
bermakna, dan terutama dalam zaman globalisasi yang modern ini, Pancasila
tidak mempunya relevansi sama sekali.
3. Yang terakhir adalah kelompok yang meyakini bahwa Pancasila bukan
sekadar slogan, bukan hanyan dogma, bukan sekadar motto ataupun simbol.
Dengan mengutip pada perkataan Bung Karno: “Pancasila bukan ciptaan
atau karanganku, melainkan nilai-nilai yang aku gali dari peradaban dan
kebudayaan bangsa Indonesia sepanjang masa.

Lebih khusus lagi yang menjadi masalah paling urgen adalah pada sikap
beberapa kalangan atau kelompok yang tidak lagi yakin dengan rumusan Pancasila,
utamanya berkenaan dengan sila pertama (Ketuhanan yang maha Esa). Dimana agama
coba dibenturkan dengan Pancasila itu sendiri sebagai falsafah bernegara bangsa
Indonesia. Sebut saja Ormas HTI yang telah dinyatakan terlarang (ilegal) dengan
diundangkannya UU No 2 Tahun 2017 adalah akibat dari kephobiaan atas Pancasila
(Yasona Laoli: 2017). Memang tidak dapat dipungkiri bahwa hari ini Indonesia
sangatlah rentan, dimana roh kebinekaan coba diguncangkan dengan berbagai paham
yang masuk, selain HTI yang dimaksudkan oleh penyelenggara negara sebagai Ormas
yang dapat mengancam keutuhan bangsa, Partai Komunis Indonesia (PKI) baru-baru
ini diisukan akan bengkit kembali sering menjadi momok bagi keamanan negara. Oleh
sebab itu Pancasila dan kebhinekaan mendapat duan ancaman sekaligus oleh gerakan
ekstrim kanan (HTI) dan gerakan ekstrim kiri (PKI) (Dr. Tengku Saiful Djohan SH).

B. Kesadaran Akan Persatuan.


Selain itu untuk menyadarkan bangsa Indonesia akan pentingnya persatuan
dapat dilalui dengan jalan pemahaman sejarah yang utuh. Bahwa yang mempersatukan
Indonesia adalah pengalaman ketertindasan, pengalaman ketidakadilan yang diderita
bersama, pengalaman pelbagai kekejaman, pengalaman penghinaan bahwa orang asing
menjadi tuan-tuan dan menghisap tenaga kerja rakayat (Bung Karno “Di Bawah
Bendera Revolusi”)

Secara historis, prinsip ketiga Pancasila meletakan dasar kebangsaan sebagai


simpul persatuan Indonesia. Suatu konsepsi kebangsaan yang mengekspresikan
persatuan dalam keragaman, dan keragaman dalam persatuan (unity in diversity,
diversity in unity), yang dalam slogan negara yang dinyatakan dalam ungkapan
“bhineka tuggal ika”. Singkatnya Pancasila sebagai jalan tengah (the midle way) bagi
keberagaman agama, budaya serta adat istiadat, artinya bahwa Pancasila selain ideologi
tertutup bagi ancaman disintegrasi, juga sebagai ideologi terbuka bagi berbagai unsur
prularisme yang telah ada, dengan kata lain, macam-macam model tersebut menjadi
kekayaan tersendiri bagi Indonesia.

Dalam kaitan ini, perlu dijelaskan konsepsi dasar tentang “negara-bangsa”.


Bangsa (nation) adalah suatu “konsepsi kultural” tentang suatu komunitas politis yang
secara keseluruhan dibayangkan sebagai kerabat yang bersifat terbatas dan berdaulat
(Anderson, 1991). Bayangan tentang komunitas politis bersama ini bisa timbul karena
Kebersamaan persada historis, kesamaan mitos, kenangan sejarah, berbagai budaya
publik massa dan ekonomi bersama, kesamaan hak-hak legal, kewajiban bagi semua
anggota komunitas tersebut (Adam Smith, 1997: 02)

Adapun yang dimaksud “negara” (state) adalah sebuah “konsepsi politik”


tentang sebuah kesatuan politik yang berdaulat, yang tumbuk berdasarkan kesepakatan
atau kontrak sosial (Thomas Hobes, 1588-1679) yang meletakan individu kedalam
kerangka kewarganegaraan (citizen ship). Dalam kerangka ini, individu dipertautkan
kepada suatu unit politik (negara) dalam kedudukan yang sederajat di depan hukum.
Dengan kata lain, bangsa beroperasi atas prinsip kekariban. Sedang negara
beroperasi atas prinsip hukum dan keadilan.

Karena kita berbicara soal Indonesia, maka yang seringkali menjadi sorotan
utama adalah persoalan prularitas. Jelas tentu bahwa persoalan ini sudah menjadi
rahasia umum bagi masyarakat mulinasional, internasional maupun bangsa Indonesia
sendiri.

Yang dimaksud dengan prularitas bangsa disini adalah bahwa dalam suatu
negara memiliki bermacam suku, bahasa, agama dan budaya yang berbeda-beda.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Leo Suryadinata (1999: 150) bahwa Indonesia
adalah negara yang multietnis dan multiagama. Indonesia dikatakan sebagai bangsa
yang plural, karena Indonesia memiliki berbagai macam suku, agama, bahasa dan
budaya.

1. Sukubangsa

Suku bangsa adalah golongan sosial yang khusus, yang askriptif (ada sejak
kelahiran), yang sama coraknya dengan golongan umur dan jenis kelamin. Kekhususan
dari suku bangsa dari sebuah golongan sosial ditandai oleh ciri-cirinya yaitu : diperoleh
secara askriptif atau didapat begitu saja bersama dengan kelahirannya, muncul dalam
interaksi berdasarkan atas adanya pengakuan oleh warga suku bangsa yang
bersangkutan dan diakui oleh suku bangsa lainnya.

Di Indonesia terdapat benyak sekali sukubangsa atau kelompk etnis yang


menggunakan tidak kurang dari 300 dialek. Dari jumlah tersebut diperkirakan 50% nya
beretnis Jawa, Makasar-Bugis 3,68%, Batak 2,04%, Bali 1,88%, Aceh 1,4% dan
Tionghoa 2,8%. Dengan banyaknya sukubangsa di Indonesia, besar kemungkina sangat
rentan konflik. Sebagai contoh, pertentangan antara warga di Ambon, antara Suku
Dayak dan Madura di Kalimantan Barat dan daerah-daerah lain yang memiliki kasus
yang sama.

2. Agama
Selain isu antar suku yang disebutkan diatas, ada pula isu lain yang berdimensi
agama. Agama-agama yang ada di Indonesia : Islam, Kristen, Katolik, Kristen
Protestan, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu. Oleh sebab itu dengan banyaknya
perbedaan agama di Indonesia, maka Indonesia dapat dikatakan sebagai negara yang
rawan terhadap disintegrasi bangsa. Dan salah satu jalan yang dapat mengurangi resiko
konflik antar agama adalah perlunya diciptakan tradisi saling menghormati antara
agama-agama yang ada (Franz Magniz Suseno, 1995: 174). Menghormati berarti
mengakui secara positif dalam agama dan kepercaan lain. Berarti juga mampu belajar
satu sama lain.

Yang dipikirkan sekarang adalah bagaimana menciptakan dialog antar agama.


Barangkali dapat dikatakan bahwa obyek dialog antar agama bukan langsung
menyentuh keyakinan agama. Sebab banyak orang beranggapan bahwa perbedaan
keyakinan bukanlah obyek untuk diperdebatkan. yang mungkin kita dialogkan adalah
bagaiman memecahkan persoalan-persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat,
membongkar kesalahpahaman yang selalu terjadi dalam hubungan agama selama ini,
serta usaha untuk mewujudkan kehidupan masyarakat dengan cara yang lebih positif,
lebih sesuai dengan kaedah-kaedah moral keagamaan.

3. Kebudayaan

Kebudayaan adalah pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang isinya


adalah perangkat-perangkat, model-model pengetahuan, yang secara kolektif
digunakan oleh pendukung-pendukungnya untuk menginterpretasi dan memahami
lingkungan yang dihadapi yang digunakan sebagai referensi atau pedoman untuk
bertindak (dalam bentuk kelakuan dan benda-benda kebudayaan) sesuai dengan
lingkungan yang dihadapi (Suparlan, 1986: 1).

Namun, sebelum itu, kita mesti membedakan antara budaya dan kebudayaan dalam
ungkapan sehari-hari. Menurut E.K.M. Masinambow (1999) yang dimaksud dengan
“budaya” adalah nilai-nilai dan adat istiadat, sedangkan kebudayaan adalah suatu
kompleks gejala termasuk termasuk nilai-nilai dan adat kebiasaan yang
memperlihatkan kesatuan sistematik. Akan tetapi perbedaan budaya itu memberikan
motivasi kepada kita untuk menjadi bangsa yang bersatu dan bukan bangsa yang
terpecah-pecah akibat adanya perbedaan.

4. Bahasa
Kebijakan bahasa nasional sangat penting dalam menciptakan kesatuan
Indonesia dan identitas nasional Indonesia. Di Asia Tenggara mungkin hanya
Indonesia satu-satunya negara yang menggunakan bahasa minoritas sebagai bahsa
nasional. Bahasa nasional Indonesia dahulu dikenal sebagai bahasa Melayu, bahasa
minoritas yang berasal dari Pelembang (Sumatera) dan Bangka pada abad ke-7. Bahasa
ini kemudian dijadikan sebagai bahasa penghubung bagi berbagai kelompok etnis di
kepulauan tersebut dan menjadi bahasa untuk berkomunikasi di pasar di kalangan etnis
Indonesia dan orang asing. Bahasa ini dipergunakan dengan alasan kesederhanaan.
Sedang bahasa Jawa yang dipakai oleh kelompok etnis terbesar tidak dapat digunakan
oleh kelompok non-Jawa. Sebab bahasa Jawa dikenal sangat rumit. Lantas bahasa
Melayu tetap diterima sebagai bahasa nasional oleh para pemimpin Jawa dengan
mengemukakan progresifitas, pragmatisme dan toleransi terhadap kelompok lain.

Meskipun bahasa Indonesia (Melayu) dijadikan sebagai bahasa nasional,


bahasa etnis tetap langgeng pada setiap dialektika internal etnis. Bahkan sering kita
dapatkan pada setiap kondisi, ketika etnis Jawa bertemu sesamanya, mereka akan lebih
memilih memakai bahasa Jawa sebagai alat komusikasi, begitupun dengan Maluku,
Bugis-Makasar, Batak dan etnis lainnya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Perlu disadari juga bahwa agama, budaya, bahasa dan ras di Indonesia dengan
kompleksitasnya tidak menjadi halangan bagi terbangunnya sosialisai dan akomodasi
dari tiap-tiap entitasnya. Dan sangat jelas bahwa kompleksitas agama, budaya, bahasa
dst adalah sebuah keniscayaan. Oleh sebab pancasila dalam rumusannya menempatkan
sila persatuan Indonesia sebagai perekat antar entitas itu. Bahkan telah dikatakan
sebelumnya bahwa Pancasila tetap dapat menerima budaya-budaya asing selama tidak
menggangu stabilitas negara.
B. Pancasila dan Ketidakstabilan negara.

Suhu politik yang kian memanas di DKI Jakarta, berdampak secara luas di
negeri ini, isu-isu politik yang terjadi di arena kompetisi politik Ibu Kota, merembet ke
berbagai daerah dengan varian masing-masing, Media Sosial turut membantu
percepatan informasi dan silang komunikasi dengan segala tafsiran atas peristiwa yang
terjadi.

Namun, yang menjadi catatan penulis, menigkatnya resensi politik di Jakarta,


berdampak pada pertarungan dengan segala macam jurus politik dan isu yang
ditampilkan. Isu agama, etnis hingga ideologi diolah dengan membentuk citra maupun
menghajar opini yang dibangun kelompok lain. Atas naman politik, agama, dan
solidaritas etnis keharmonisan antarkelompok yang selama ini terjaga, menguap ke
udara. Keharmonisan tergeser oleh energi kebencian dan sikap curiga.

Dengan konstelasi politik yang ada, selayaknya kita renungkan sikap:


bagaimana kebinekaan yang menjadi ciri khas bangsa ini, dapat terjaga. Bagaimana
menguatkan kembali fondasi keharmonisan didalam kehidupan berbangsa dan
bernegara tanpa adanya saling menudiang.

Indonesia yang merdeka selama lebih dari tuju dekade, terus menghadapi terus
menghadapi berbagai tantangan untuk menjadi bangsa yang besar. Sebagai potensi
keragaman budaya, kultur dan etnis, tentu saja mengalami tantangan berat ditengah
zaman dengan arus inromasi yang membanjir dan kegersangan nalar.

Beragam kekerasan atas nama agama dan etnis, menjadi catatan panjang warga
Indonesia. Selama satu dekade ini, dari Sabang hingga Merauke, membujur luka-luka
yang terjadi karena pertikaian, egoisme politik dan keteganga kultur. Inilah tantangan
bagi pemerintahan dan relasi kebangsaan kita, ditengah zaman digital yang membuka
segala informasi sebagai ransum yang tersebar di pelbagai media.

Kasus terbaru Kiai Hakam Mubarok, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes)


Karangasem Paciran, Lamongan, Jawa Timur yang diserang pria tidak dikenal pada
Minggu (18/2/2018) . Dari kasus tersebut, sebetulnya menjadi refleksi bahwa Pancsila
belum benar-benar mengakar sebagai sebuah kesadaran akan kesatupaduan di tengah-
tengah perbedaan. Sehingga yang merasa paling benar dan kuat akan menindas atau
meneror yang lemah, maka ketika kita kembali pada pembahasan sebelumnya
mengenai penyadaran akan sejarah Indonesia, kita dapati bahwa kebinekaan Indonesia
dibangun atas dasar saling menghargai perbedaan yang ada.

C. Pancasila.

Pancasila secara historis (sejarah) berbangsa dan bernegara sebenarnya tidak di


mulai saat pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945, yang dimana juga kita kenal sebagai
Haris Kesaktian Pancasila yang setiap tahun kita peringatkan. Dengan begitu sejarah
Pancasila yang mesti kita ketahui dan kita pahami secara mendalam adalah bagaimana
jauh sebelum Indonesia merdeka, nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila itu
sendiri telah merajai ciri bangsa Indonesia. Betapa tidak, konsep Pancasila sampai hari
ini tetap relevan dan berjalan sesuai dengan perangai bangsa Indonesia. Misalnya,
Pancasila telah memberikan jawaban atas kebutuhan bangsa sebagai makhluk yang
bertuhan. Sehingga, Pancasila secara gamblang menempatkan kedudukan Tuhan secara
terhormat di sila paling pertama. Di samping itu, para pendiri bangsa juga
memerhatikan serta memikirkan bagaimana kompleksitas perbedaan agama di
Indonesia, sehingga menyebut sang pencipta dengan sebutan Tuhan (Bahasa
Nasional), yang mana dapat mewakili seluruh umat beragama di Indonesia.

Berikut kutipan dari pidato Yudi Latif tentang Pancasila :

Ke-Indonesian dapat didefinisakan sebagai keseluruhan penjumlahan dari pecahan-


pecahan identitas yang ada di Indonesia sendiri. Bahwa Indonesia merupaka
keseluruhan dari etnisitas, sosial dll. Sepertihalnya dalam hukum matematika pecahan-
pecahan itu tidak mungkin dapat dijumlahkan kecuali kita memilik bilangan penyebut
yang sama. Begitupun ke-Indonesiaan, pecahan etnik, agama, kelas-kelas sosial tidak
mungkin dapat kita jumlahkan dalam kebersamaan Indonesia, kecuali kita memiliki
penyebut yang sama, dan penyebut bersama itu bernama Pancasila. oleh karena itu,
secara ringkas dapat dikatakan bahwa Pancasila adalah satu payung ideologis untuk
inklusi sosial.

Sila petama : Pesan moralnya adalah ingin bagaimana orang dengan keragaman agama
dan keyakinan. Baik keyakinan yang lokal maupun impor disertakan dalam proses
menegara.

Sila kedua : Menyatakan bahwa, orang dari segala keragaman umat manusia, “Anak
Semua Bangsa” dalam istilah Pramoedya Ananta Toer itu juga ingin disertakan dalam
proses membangsa dan menegara.

Sila ketiga : Orang-orang dengan berlatar belakang primordial, etnis dengan segala
kearifan-kearifannya ingin disertakan didalam proses membangsa.

Sila keempat : Orang dengan latar belakang ideologis apapun ingin disertkan dalam
proses membangsa dan menegara.

Sila kelima : Orang dari kelas sosial dan status sosial apapun ingin disertakan dalam
proses membangsa dan menegara.

Jadi, tidak ada satu kelompok pun yang dibiarkan tercecer didalam proses membangsa
ini. Nah, sebagai ideolog untuk inklusi sosial, Bung Karno sebenarnya menyebut
Pancasila dalam dua istilah. Pertama, dia menyebut Pancasila sebagai filosofiche
groslag atau dasar filsafat. kedua, dia sebut sebagai weltanschaung atau satu
pandangan hidup. Dan kalau kita teliti lebih cermat pidato itu, maka kita temukan satu
kenyataan yang mengkin bisa memberi kita satu kesaran baru, bahwa ketika
menyebutkan Pancasila sebagai filosofiche groslag dalam pidato Bung Karno itu
menyebutnya hanya empat kali saja, dia bicara Pancasila sebagai sistim filsafat. Tapi
ketika dia sebutkan Pancasila sebagai satu weltanschaung, dia menyebutnya sampai
tiga puluh satu kali. Artinya dibawah sadar dia, sebenarnya dia ingin menekankan
Pancasila sebagai weltanschaung ketimbang satu sistim filsafat. Kenapa?, itu juga
seturut dengan pandangan dia bahwa sebenarnya prinsip-prinsip Pancasila itu digali
dari bumi Indonesia sendiri.

Untuk itu, kita perlu mendefinisikan dua hal diatas. Apa itu filsafat? dan apa itu
pandangan hidup?. Kalau filsafat itu sistimnya rasional, scientific, dan oleh karena itu
punya klime yang sifatnya unversal. Oleh kerana itu, Pancasila sebaga filosofiche
groslag itu adanya dilingkungan pengetahuan. Sedangkan weltanschaung sebagai
pandangan dunia atau pandangan hidup itu sifatnya justru personal, historical dan
eksistensial itu sesuatu yang hidup berkembang ditengah-tengah masyarakat dan
kemudian itu menjadi pendirian hidup. Oleh karena itu, Pancasila sebagai
weltanschaung adanya tidak dilingkungan ilmu pengetahuan, tapi adanya dilingkungan
kehidupan.

Barangkali cara kita mengembangkan Pancasila ini, ada satu kelemahan mendasar
bahwa selama ini Pancasila itu ditatarkan kemudian reduksi dalam beberapa butir ilmu
pengetahuan, dan selanjutnya dihafal dalam ingatan kita. Padahal kita tahu, bahwa
filsafat tidak pernah menjadi pandangan hidup, kecuali filsafat itu melewati satu
proses. Untuk satu filsafat atau sistim berfikir menjadi pendangan hidup, maka filsafat
itu perlu diturunkan ke Bumi menjadi pendirian hidup. Kita ditatar beratus-ratus jam
sebagai butir-butir omegar Pancasila, tetapi seberapa jauh kita gagal
mentranformasikan Pancasila sebagai satu sistem filsafat itu menjadi pendirian hidup.
Disini kita bicara persatuan Indonesia, tetapi sebagai pendirian hidup kita didikte oleh
dominan culture. Disini kita bicara tentang keadilan sosial, tetapi dalam pendirian
hidup, kita semakin memberikan ruang hidup terlalu besar kepada kekuatan-kekuatan
modal besar, sehingga pasar-pasar modern, termasuk Alfa Mart, Indomart yang
sekarang sudah sapai sudah sampai ke suku Badui, meskipun tidak badui dalam,
melainkan Badui luar.

Jadi, apa yang kita pikirkan atau apa yang kita ungkapkan dipidato-pidato tidak
menjadi pendirian hidup kita. Sehingga, sepertinya disitulah titik masalahnya. Padahal
sesungguhnya, seperti diingatkan oleh Bung Karno bahwa Pancasila tidak mungkin
sakti, kalau Pancasila itu tidak tumbuh menjadi pendirian hidup masing-masing
masyarakat, dan dia katakan, ketiak dia merumuskan Pancasila, sesungguhnya adonan-
adonan, sedimentasi nilai-nilai itu sendiri sebenarnya sudah ada didalam pandangan
hidup berbagai etini, agama yang ada di Nusanstara ini. Oleh karena itu, dia tinggal
mentransedensikan saja muatan-muatan kearifan, adat-istiadat itu diabstraksikan
keatas supaya kearifan itu tidak berhenti dilokalitasnya masing-masing. Dan nilai-nilai
yang terdapat ditiap-tiap suku bangsa yang ada di Nusantara, nilia-nilai tiap suku
bangsa, agama disistematisasikan dalam satu sistim filsafat. jadi, Pancasila dalam
proses itu menjadi satu proses induktif, bagaimana orang yang tidak kenal satu sama
lain yang punya karifannya masing-masing , tapi punya share atau saham yang kalau
kita abstraksikan, menjadi satu sistem ideologi yang bernama Pancassila.

Tapi kemudian setelah itu diabstraksikan menjadi satu sistim filsafat, Pancasila juga
mementingkan bahwa sistim filsafat ini kemudian dideduksikan, sehingga bisa
diturunkan menjadi proses pendirian dan pandangan hidup yang juga bisa disemen
diseluruh tanah air. kenapa begitu, kerana ada kalanya tidak seluruh adat-adat lokal itu
diangkat keatas. Makanya, pasal 32 UUD 1945 itu menjelaskan kapan bagaimana nilai-
nilai lokal itu bisa diabstraksikan menjadi budaya nasiona. Nah, Kalau pasalya kan :
Negara memajukan kebuyaan nasional, tapi kemudian kalau kita melihat
menjelasannya didalam konstitusi proklamasi, maka akan tanpak proses penyaringan
dari bahwa keatas. Bahwa pertama: bahwa usaha kebuyaan harus dikembangkan untuk
mempertinggi mutu kemanusiaan, keadaban dan persatuan. Jadi, nilai-nilai kearifan
dan kebudayaan sejauh bisa lolos tiga sensor itu, apakah dia mempertinggi mutu
kemanusiaan, mutu keadaban atau mutu persatuan saja.

Nilai-nilai adat yang tidak mendukung pengembangan tiga mutu tersebut tidak pantas
kita angkat menjadi satu sistem budaya nasional atau sistem filsafat nasional. Misalnya
pada suku batak : bahwakan dalam satu marga saja, misalnya marga Simanjuntak, yang
kita tahu ada Simanjuntka kepala dan ada Simanjuntak ekor. Yang dalam sistem sosial
keduanya tidak dapat disatukan dalam satu sistem sosial itu. Tentu hal seperti itu tidak
bisa diangkat menjadi budaya dan sistim pikiran nasional. Tapi sebaliknya juga, sistem
pemikiran nasional itu tidak bisa dipaksakan, sejauh itu tidak bisa dicerna dalam
kebudayaan lokal.

Sebenarnya Bung Karno mendemonstrasikan itu secara baik, bagaimana dia bahkan
ketika datang merumuskan berapa jumlah prinsip dasar kita ini dia katakan : Lima.
kalau lima tidak anda suka, Tiga. Kalau tiga juga tidak suka, Satu saja. Kita pikir
Soekarno ini sedang membual atau mengada-ada. Tapi, sesungguhnya dia manusia
yang secara sensitif mengeri tentang antropologi angka-angka dan tata nilai di
Indonesia. Kalau kita rigkas seluruh adat-adat di Nusantara, kita akan temukan pola-
pola nilai ini yang bersifat susun Lima, susun Tiga atau susun Satu. Susun Lima
misalnya di Jawa ada Mo-Limo, Pandawa Limo dan lain-lain, kita akan dapati sitem
nilai itu. Misalnya

Pancasila sebagai dasar, idologi, grand norm atau yang dikatakan Soekarno sebagai
dasar falsafah (philosofische grondslag) dan pandangan dunia (weltanschaouung)
dalam kesejarahan Indonesia telah mengisi khazanah, tidak hanya bagi bangsa
Indoneisia, tetapi juga bangsa-bangsa dunia. Betapa tidak, Pancasila sebagai penengah
(the midle way) bagi dua ideologi yang berlainan dan saling bertentangan. Seorang
filsuf Inggris, Bertrand Russel memuji konsepsi Pancasila saat pidato Soekarno di PBB
pada 30 September 1960: “Pancasila adalah sintetis kreatif antara Declaration of
American Independence (sebagai representasi dari ideologi demokrasi kapitalistik)
dengan Manifesto komunis (representasi dari ideologi komunis)”.
DAFTAR PUSTAKA

Latif Yudi: Negara Paripurna, Historitas, Rasionalitas, dan Aktualitas : PT Gramedia


Pustaka Utama, Jakarta.

Aziz Munawir: Merawat Kebhinekaan, Pancasila, Agama, dan Renungan Perdamaian:


PT Elex Media Komputindo: Jakarta 2017.

Tim Penyusun PUSLIT IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta: Pendidikan Kewargaan


(Civik Education), Demokrasi, HAM dan Masyarakat Madani: IAIN Jakarta Press:
2000.

Rahmat Imdadun: Islam Indonesia Islam Paripurna, Pergulatan islam pribumi dan
Islam Transnasional: Yayasan Omah Aksoro Indonesia: 2017.

Hariono: Ideologi Pancasila, Roh Progresif Nasionalisme Indonesia: Intrans


Publishing Malang: 2014.

http://regional.liputan6.com/read/3298894/orang-tak-dikenal-serang-kiai-di-
lamongan-pengidap-gangguan-jiwa

https://news.detik.com/berita/d-3763098/ada-yang-mau-ganti-pancasila-mpr-no-way