You are on page 1of 1

Sejarah kerajaan Manggarai

Tahun 1907 Belanda masuk ke Manggarai dan hendak mendirikan pusat kekuasaan sipil di Todo.
Namun, karena topografinya yang kurang baik, lalu pindah ke Puni, Ruteng. Secara resmi
Belanda menaklukan Manggarai pada 1908.
Ketika Belanda mulai menguasai Manggarai, Raja Todo (1914-1924) yaitu Kraeng Tamur
dipindahkan ke Puni.

Dalam perjalanan sejarahnya, Belanda melihat Manggarai yang meliputi Wae Mokel awon (batas
timur) dan Selat Sape salen (batas barat) adalah satu kesatuan yang utuh. Tidak ada lagi Cibal,
tidak ada lagi Todo, tidak ada lagi Bajo, maka disebutlah Manggarai.

Karena itulah, pada tahun 1925, melalui suatu surat keputusan dari Belanda, Manggarai
menjadi suatu kerajaan dan diangkatlah orang Todo-Pongkor menjadi raja pertama yaitu Raja
Bagung dari Pongkor.
Kerajaan Manggarai bentukan Belanda ini terdiri atas 38 kedaluan. Bersamaan dengan
diangkatnya Raja Bagung, Belanda juga menyekolahkan Kraeng Alexander Baruk ke Manado.

Alexander Baruk adalah anak dari Kraeng Tamur, raja Todo. Tahun 1931/1932, Alexander
Baruk kemali dari sekolahnya. Lalu, kemudian diangkat menjadi raja Manggarai. Namun, karena
raja Bagung masih hidup, maka keduanya tetap raja. Raja Bagung sebagai “raja bicara”
sedangkan yang mengambil keputusan adalah Raja Baruk. Sehingga dulu ada istilah putus le
Kraeng Wunut, bete le kraeng Belek.

Kekuasaan keduanya berakhir saat keduanya meninggal dunia. Raja Bagung meninggal 1947.
Sedangkan, Raja Baruk meninggal 1949. Kemudian, keduanya diganti oleh Kraeng Langkas atau
Kraeng Constantinus Ngambut, juga dari Todo, menjadi raja hingga 1958.