You are on page 1of 5

2.

Toksikologi

Racun adalah bahan kimia atau fisika yang menghasilkan respon yang merugikan

terhadap sistem biologis organisme. Ilmu yang mempelajari tentang racun yang

disebut dengan toksikologi. Toksikologi dibagi menjadi bebrapa spesialisasi

toksikologi natra lain toksikologi klinis, toksikologi forensik dan toksikologi

lingkungan. Toksikologi klinis membahas mengenai hubungan agen toksin (racun)

terhadap penyakit yang muncul akibat rekasi agen toksin dengan tubuh. Klinisi

menggunakan teori toksikologi klinis untuk mendiagnosis dan terapi. Toksikologi

forensik digunakan untuk mengidentifikasi penyebab dan kemungkinan terjadinya

kasus keracunan terutama yang berhubungan dengan kriminalitas. Toksikologi

lingkungan merupakan toksikologi yang memperhatikan efek efek toksik polutan

lingkungan terhadap keberlangsungan hidup manusia atau organisme lain.

2.1 Toksikologi Lingkungan

Toksikologi lingkungan adalah ilmu yang mempelajari tentang efek dari bahan kimia

yang ada di lingkungan. Toksikologi lingkungan dibagi menjadi dua jenis yaitu toksikologi

lingkungan kesehatan dan ekotoksikologi. Toksikologi lingkungan kesehatan mempelajari

tentang efek merugikan zat kimia lingkungan pada kesehatan manusia, sedangkan

ekotoksikologi mempelajari tentang efek lingkungan yang terkontaminasi zat – zat kimia

(Leblanc, 2016). Toksikologi lingkungan termasuk ilmu yang mempelajari tentang zat kimia

yang potensial meracuni lingkungan sehingga menimbulkan polusi udara, air, tanah dan

makanan. Efek yang ditimbulkan tersebut dapat mempengaruhi struktur dan fungsi dari

sistem ekologi termasuk manusia sehingga akan mempengaruhi keputusan dan peraturan

lingkungan (Molnár dan Feigl, 2013). Interaksi bahan kimia dengan manusia dapat melalui

mekanisme seperti absorbsi, pengikatan protein dan biotransformasi. Risiko kemungkinan zat
kimia menimbulkan keracunan, tergantung dari besarnya dosis yang masukke dalam tubuh.

Sedangkan dosis meningkat dengan besarnya konsentrasi, lama dan seringnya pemaparan

serta cara masuknya ke dalam tubuh. Sedangkan semakin besar pemaparan terhadap zat

kimia, semakin besar pula risiko keracunan ( Endrinaldi, 2010).

Jalur utama bahan toksik dapat masuk ke dalam tubuh manusia adalah melalui saluran

pencernaan atau gastrointestinal (menelan/ingesti), paru-paru (inhalasi), kulit (topical), dan

jalur parental lainnya (selain usus/ intestinal). Bahan toksik umumnya menyebabkan efek

yang paling besar dan menghasilkan respons yang paling cepat bila diberikan melalui jalur

intravena. Efek toksik dari zat kimia dapat merusak sei, yaitu menyebabkan mutasi gen

kanker dan bila kerusakannya berat menimbulkan kematian pada sel. Sel dapat mengalami

kehilangan fungsinya, bila komponen-komponen penting dari sel (seperti protein, DNA dan

lipid pada membran) berinteraksi dengan zat-zat kimia yang bersifat toksik. Beberapa zat

kimia tertentu merupakan unsur yang sangat toksik, sekalipun dalam konsentrasi rendah

berikut adalah contohnya

a. Logam Berat

Logam berat adalah unsur yang mempunyai densitas lebih dari 5 gr/cm3. Logam-

logam berat merupakan salah satu dari bahan pencemar lingkungan, dan beberapa dari

unsur logam tersebut merupakan logam yang paling berbanaya, diantara unsur-unsur

logam berat pencemar tersebut adalahArsen (As),Timbal (Pb), Merkuri (Hg) dan

Kadmium (Cd). Sifat dari logam-logam ini adalah mempunyai afinitas yang besar dengan

sulfur (belerang). Logam-logam ini menyerang ikatan sulfida padamolekulmolekul

penting sel misalnya protein (enzim) ,sehingga enzim tidak berfungsi. Ion-ion logam

berat bisa terikat pada molekul penting membran sel yang menyebabkan terganggunya

proses transpor melalui membran sel ( Endrinaldi, 2010).


b. Pestisida

Pestisida adalah semua zat atau campuran zat yang khusus untuk memberantas atau

mencegah gangguan serangga, binatang pengerat, nematoda, cendawan, gulma, virus,

bakteri, jasad renik yang dianggap hama kecuali virus, bakteri atau jasad renik yang

terdapat pada manusia dan binatang lainnya ( Yuantari, 2011). Penggunaan pestisida

yang berlebihan akan meningkatkan biaya pengendalian, mempertinggi kematian

organisme non target serta dapat menurunkan kualitas lingkungan, hal ini dibuktikan

bahwa insektisida golongan organofosfat, karbamat dan piretroid sintesis berpengaruh

negatif terhadap musuh alami (Laba, 2010). Pajanan akut dalam dosis tinggi oleh

pestisida dapat menyebabkan keracunan pada manusia. Tanda-tanda klinis keracunan

akut pestisida golongan organopospat dan karbamat, berkaitan dengan stimulasi

kolinergik yang berlebihan seperti kelelahan, muntah-muntah, mual, diare, sakit kepala,

penglihatan kabur, salivasi, berkeringat banyak, kecemasan, gagal nafas dan gagal

jantung. Sementara keracunan kronis ditandai dengan adanya tanda-tanda kolinergik dan

penurunan aktivitas enzim kolinesterase di plasma, sel darah merah dan otak (Office of

Environmental Health Hazard, 2007).

Pajanan ringan jangka pendek, mungkin hanya menyebabkan iritasi pada selaput mata

atau kulit, namun pajanan ringan jangka panjang berpotensi menimbulkan berbagai

dampak kesehatan, seperti gangguan terhadap sistem hormon bahkan keganasan.

Pestisida merupakan bahan kimia yang tergolong sebagai endocrine disrupting chemicals

(EDCs), yaitu senyawa kimia di lingkungan yang mengganggu sintesis, sekresi,

transport, metabolisme, aksi pengikatan, dan eliminasi dari hormon-hormon dalam tubuh

yang berfungsi menjaga keseimbangan (homeostasis), reproduksi, dan proses tumbuh-

kembang (Diamanti et al., 2009). Sementara Crofton, memberikan sebutan thyroid

disrupting chemicals (TDCs), untuk bahan-bahan kimia di lingkungan yang mengganggu


struktur atau fungsi kelenjar tiroid, mengganggu system pengaturan enzim yang

berhubungan dengan keseimbangan hormontiroid, dan mengubah sirkulasi serta kadar

hormontiroid di jaringan (Crofton, 2008)

Sumber :

Laba I Wayan, 2010. Analisis Empiris Penggunaan Insektisida Menuju Pertanian

Berkelanjutan. Orasi Profesor Riset di Bogor, Pengembangan Inovasi Pertanian 3: 120-

137

Leblanc, Gerald, 2016, Basics of Environmental Toxicology, Research Gate, pp 463-

464

Diamanti-Kandarakis E, Bourguignon J, Giudice LC, Hauser R, Prins GS, Soto AM,

et al. 2009. Endocrine-disrupting chemicals. An endocrine society scientific statement.

Endocrine Reviews 30(4): 293-342

Crofton KM. 2008. Thyroid disrupting chemicals: mechanisms and mixtures.

International Journal of Andrology 31(2): 209-223.

Office of Environmental Health Hazard. 2007. Chlorpyrifos Human Data on

Developmental and Reproductive Effects.

Manahan Stanley E. 2003. Toxicological Chemistry and Biochemistry 3th Edition.USA: CRC

Press LLC

Trush Michael A. 2008. Absorption, Distribution and Excretion. John Hopkins Bloomberg

School of Public Health