You are on page 1of 13

Kejadian Diabetes Melitus dengan Ulkus Diabeticum

Dian Priscilla Rantetoding

102014192/FF23

Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana

Jl. Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510 Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731

A. Anamnesis
1. Identitas pasien
Nama: ibu Tasimah
Umur: 57 tahun
Jenis kelamin: perempuan
Pekerjaan: ibu rumah tangga(membantu anak berjualan nasi uduk)
Pendidikan terakhir: tamat SD
Alamat: Gelong baru utara 1 nomor 16
Telepon: -
2. Keluhan utama: Diabetes mellitus
Keluhan tambahan: Ulkus diabeticum
Riwayat penyakit sekarang: diabetes, hipertensi, gangguan ginjal, maag
Riwayat penyakit dahulu: sudah mengalami diabetes sejak 2002 dan mulai muncul
hipertensi dan gangguan ginjal sejak 2015
Riwayat penyakit dalam keluarga: Ayahnya terkena diabetes mellitus, suami dan anak-
anaknya sehat.
Riwayat kebiasaan sosial: olahraga teratur, 1 minggu sekali senam diabetes dirumah
sakit sumber waras. Pola makan teratur makan buah-buahan sayur-sayuran dan menjaga
asupan makanannya, lauknya direbus, nasi secukupnya, menghindari makan santan,
makan gorengan dan berlemak, namun jika maag nya kambuh sering tidak napsu makan.
Sering melakukan rekreasi bersama keluarga, tidak merorok dan meminum alcohol.
Hubungan psikologis dengan keluarga: sering mengadakan arisan keluarga, dan saat
hari raya keluarga datang berkumpul.
Aktifitas sosial: tidak ada terutama karena kakinya mengalami ulkus sehingga
menyebabkan susah berjalan keluar rumah untuk bersosialisasi dengan warga sekitar
rumah.
Kegiatan kerohanian: sering ikut pengajian.
B. Keluarga
1. Riwayat biologis keluarga: 3 kakak meninggal karena diabetes mellitus pada umur
67, 69, dan 70. Jarak meninggalnya berdekatan.
a. Keadaan kesehatan sekarang: anak dan suami sehat.
b. Kebersihan perorangan: sedang.
c. Penyakit yang diderita anggota keluarga: tidak ada.
d. Penyakit keturunan: diabetes mellitus
e. Penyakit kronis/menular: tidak ada
f. Kecacatan anggota keluarga: tidak ada
g. Pola makan: baik
h. Pola istirahat: baik
i. Jumlah anggota keluarga didalam rumah: 5 orang. Ibu tasimah, Suami, 1anak
beserta 1menantu dan 1 cucu
2. Psikologi keluarga
a. Kebiasaan buruk: -
b. Pengambilan keputusan: bapak
c. Ketergantungan obat: -
d. Tempat mencari pelayanan kesehatan: ke puskesmas lalu dirujuk kerumah sakit
sumber waras
e. Pola rekreasi: baik, sering rekreasi bersama keluarga.
3. Identifikasi keadaan rumah/lingkungan
a. Jenis bangunan : permanen
b. Lantai rumah: keramik
c. Luas rumah: 30m2
d. Penerangan: kurang
e. Kebersihan: sedang
f. Ventilasi: kurang
g. Dapur: ada
h. Jamban keluarga: ada
i. Sumber air minum: air pam yang dimasak
j. Sumber pencemaran air:-
k. Pemanfaatan pekarangan: tidak ada pekarangan. Langsung jalan warga
l. Tempat pembungan sampah: ada
m. Sanitasi lingkungan: sedang
4. Spiritual keluarga
a. Ketaatan beribadah: baik
b. Keyakinan tentang kesehtan: baik
5. Keadaan sosial keluarga
a. Tingkat pendidikan: anak pertama tamat kuliah, anak kedua tamat SMA, anak
ketiga tamat kuliah
b. Hubungan antar anggota keluarga: baik
c. Hubungan dengan orang lain: baik
d. Kegiatan organisasi sosial: tidak memiliki organisasi
e. Keadaan ekonomi: sedang
6. Kultur keluarga
a. Adat yang berpengaruh: betawi
7. Daftar anggota keluarga
Istri: Tasimah = 57 thn
Suami:Marhasan = 62 thn
Anak 1: Menahasan=37thn
Anak 2:Melani=36 thn
Anak 3: Nuraini=30 thn

Pemeriksaan fisik: Tekanan darah: 120/80, pernafasan: 24x/menit, nadi: 84x/menit, suhu 36,6c.

Status gizi: tinggi badan : 153, berat badan: 48 . idealnya 47,7

Pemeriksaan penunjang: GDP: 114, GDS: 117(GDP GDS terakhir di cek tanggal 22 bulan
Juni), asam urat:10,5, kolestrol:28,5
Diagnosis:

Secara biopsikososial

Biologi: Diabetes mellitus tipe 2 dengan ulcus diabeticum

Psikologi: gangguan cemas karena kadang berpikir takut mati

Sosial: aktivitas terganggu karena kakinya terkena ulkus diabeticum sehingga sulit untuk
berjalan

Pengertian
- Diabetes Mellitus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh gangguan insulin, sehingga
mempengaruhi metabolisme gula di dalam tubuh. Ditandai dengan adanya peningkatan kadar
gula di dalam darah. Kadar gula darah puasa > 140 mg/dl dan kadar gula darah 2 jam sesuah
makan > 200 mg/dl.1
Etiologi
- Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) disebabkan oleh destruksi sel β pulau
Langerhans akibat proses autoimun. Sedangkan Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus
(NIDDM) disebabkan kegagalan relatif sel β dan resistensi insulin. Resistensi insulin adalah
turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer
dan menghambat produksi glukosa oleh hati. Sel β tidak mampu mengimbangi resistensi
insulin ini sepenuhnya, artinya terjadi defisiensi relatif dari insulin. Ketidakmampuan ini
terlihat dari berkurangnya sekresi insulin pada rangsangan glukosa, maupun pada rangsangan
glukosa bersama bahan perangsang sekresi insulin lain. Berarti sel β pankreas mengalami
desensitisasi terhadap glukosa.1
-
- Genetik atau Faktor Keturunan
Diabetes mellitus cenderung diturunkan atau diawariskan, bukan ditularkan. Anggota
keluarga penderita DM (diabetisi) memiliki kemungkinan lebih besar terserang penyakit ini
dibandingkan dengan anggota keluarga yang tidak menderita DM. Para ahli kesehatan juga
menyebutkan DM merupakan penyakit yang terpaut kromosom seks atau kelamin. Biasanya
kaum laki-laki menjadi penderita sesungguhnya, sedangkan kaum perempuan sebagai pihak
yang membawa gen untuk diwariskan kepada anak-anaknya.2
Gejala Klinis
- Keluhan yang paling sering dialami penderita adalah kesemutan, cepat lelah, luka sulit
sembuh, sering lapar, sering buang air kecil, sering haus. Ada keluhan 3 P (poliphagi,
poliuria, dan polidipsi).
- Diagnosis DM harus didasarkan atas pemeriksaan kadar glukosa darah. Dalam menentukan
diagnosis DM harus diperhatikan asal bahan darah yang diambil dan cara pemeriksaan yang
dipakai. Untuk diagnosis, pemeriksaan yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa dengan
cara enzimatik dengan bahan darah plasma vena. Untuk memastikan diagnosis DM,
pemeriksaan glukosa darah sebaiknya dilakukan di laboratorium klinik terpercaya. Namun
dapat pula dipakai whole blood.
- Pemeriksaan penyaring ditujukan pada:
1. Usia > 45 tahun,
2. BB lebih (110% BB ideal atau IMT >23kg/m2)
3. Hipertensi (140/90 mmHg)
4. Riwayat DM dalam garis keturunan
5. Riwayat abortus berulang, melahirkan bayi cacat atau BB lahir bayi > 4000 gram
6. Kolesterol HDL ≤ 35 mg/dl, atau trigliserida ≥ 250 mg/dl

Komplikasi
- Komplikasi pada diabetes pada dasarnya disebabkan oleh 2 hal:
1. Pertama, menurunnya kemampuan untuk melawan infeksi.
2. Kedua, terjadinya kerusakan pada pembuluh darah besar dan kecil. Keadaan inilah yang
akan menimbulkan berbagai masalah pada mata, otot, ginjal dan kandung kemih.
- Komplikasi akut yang terjadi pada diabetes mellitus adalah:
1. Infeksi
o Paru: pneumonia dan bronchitis
o Ginjal dan traktus urinarius: PNA, cystitis, uretritisKulit atau mukosa: dermatitis dan
vaginitis
o Jaringan lunak dan otot: selulitis, abses, gangren dan ulkus
2. Koma diabetik ketoasidosis (KAD)
3. Koma diabetik hiperosmolar (HONK)
4. Koma hipoglikemik
- Komplikasi kronik yang dapat terjadi adalah:
1. Pada mata: gejala katarak, kabur, silau, buta.
2. Pada ginjal: nefropati renal failure (udem, mual, anemia, oliguria)
3. Pada saraf: neuropati perifer, neuropati visceral, demensia
4. Pada hati: sirosis hepatis
5. Pada jantung: penyakit jantung koroner, penyakit jantung iskemik
6. Pada pembuluh darah: arterosklerosis, hipertensi
7. Pada paru-paru: tuberculosis.3

Pencegahan
- Untuk mencegah atau memperlambat timbulnya komplikasi-komplikasi ini, adalah penting:
 menjaga agar kadar glukosa (gula) dalam darah tetap normal
 tidak merokok
 berolahraga secara teratur
 memakan makanan yang seimbang, kadar lemak yang rendah, kadar garam yang rendah,
dan kadar serat yang tinggi (komplek karbohidrat)
 agar tekanan darah dan kadar kolesterol diperiksa secara teratur oleh dokter.

 Perencanaanasupan makan (nutrisi)

- Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi :


1. Karbohidrat 60 – 70%.
2. Protein 10-15%.
3. Lemak 20- 25 % (lemak jenuh < 10% dan tak jenuh 10%). Contoh lemak jenuh: mentega,
eskrim, lemak daging. Contog lemak tak jenuh: kacang tanah, minyak zaitun, minyak
kedelai, minyak jagung, dll.
4. Jumlah kandungan kolesterol disarankan < 300 mg/hari.Diusahakan lemak berasal dari
sumber asam lemak tidak jenuh (MUFA= mono unsaturated fatty acid)dan mambatasi
PUFA (poly unsaturated fatty acid ) dan asam lemak tak jenuh.
5. Jumlah kandungan serat + 25 gr/hari, diutamakan serat larut. Jumlah kalori basal perhari:
Laki – laki: 30 kal/kg BB idaman.
Wanita : 25 kal/kg BB idaman.
- Evaluasi asupan makan dan kebiasaan makan.

 Olah raga

- Berolahraga secara teratur merupakan salah satu bagian terpenting dalam pengelolaan
(manajemen) diabetes. Ini akan membantu dalam usaha untuk:
 menurunkan kadar glukosa dalam darah dengan terpakainya energi (olahraga mungkin
akan merendahkan kadar glukosa dalam darah selama 12 - 24 jam kemudian)
 menurunkan tekanan darah, kadar kolesterol dalam darah, jika sekiranya tinggi
 memperbaiki peredaran dalam tubuh
 mengurangi stres
 mengawasi berat badan

- Sebaiknya olahraga ringan hendaknya dilakukan sekurang-kurangnya 3 - 4 kali seminggu


selama kurang lebih 30 menit. Jenis olahraga yang dipilih tergantung pada umur, minat dan
kemampuan masing-masing. Beberapa saran adalah sebagai berikut: jalan kaki gerak cepat,
berenang, bersepeda, menari.

Penatalaksanaan
- Indikasi Insulin pada NIDDM adalah:
 DM dengan berat badan cepat kurus
 KAD, Asidosis Laktat, HONK
 DM yang mengalami stress berat
 Gestational DM yang tidak terkendali
 DM yang tidak berhasil dengan OHO
- Obat hipoglikemik oral yang biasa digunakan adalah:
 Sulfonilurea (SUR) : tolbutamid, klorpropamid, glibeklamid, dll. Golongan obat ini
hanya diberikan 1x/hari. Diminum 30 menit sebelum makan (lebih efektif). Efek
sampingnya bisa mual, muntah diare, dll. Selama terapi, pemeriksaan fisik dan
laboratorium harus tetap dilakukan secara teratur.
 Insuline sensitiziser: biguanid (dosis awal 2x500 mg dan diminum waktu makan),
thiazolidinedion, metglinid (diberikan beberapa kali dalam sehari karena waktu paruhnya
pendek. Obat ini diberikan sebelum makan), repaglinid. Obat golongan ini dapat
menurunkan BB pada DM obese. Pada thiazolidinedion efek klinis akan terlihat setelah 6
mgg  ada pemberian ini harus hati-hati karena dapat menyebabkan toksik pada hepar,
maka dari itu pemberiannya harus disertai rutin pemeriksaan.
 Alfa glukosidase inhibitor: acarbose dan miglitol. Obat golongan ini berbentuk tablet dan
cara makannya dengan dikunyah saat mulai makan.
 Aldose reductase inhibitor: tolserat. Obat-obat ini biasa digunakan untuk mengurangi
toksisitas oleh glukos pada jaringan tubuh (mata, ginjal, saraf).
 Dipeptidyl – Peptidase Inhibitor: sitaglipin

Dosis insulin oral atau suntikan dianjurkan dimulai dengan dosis rendah, lalu dinaikkan
perlahan, seseuai dengan hasil glukosa darah pasien. Jika pasien sudah diberikan
sulfonylurea atau metformin sampai dosis maksimal namun kadar glukosa darah belum
mencapai sasaran, dianjurkan penggunaan kombinasi sulfonilurea dengan metformin. Jika
cara ini juga belum berhasil, maka dapat dipakai kombinasi sulfonylurea dengan insulin.2

- Insulin terdapat dalam 3 bentuk dasar, masing-masing memiliki kecepatan dan lama kerja
yang berbeda:

1. Insulin kerja cepat.


Contohnya adalah insulin reguler, yang bekerja paling cepat dan paling sebentar. Insulin
ini seringkali mulai menurunkan kadar gula dalam waktu 20 menit, mencapai puncaknya
dalam waktu 2-4 jam dan bekerja selama 6-8 jam. Insulin kerja cepat seringkali
digunakan oleh penderita yang menjalani beberapa kali suntikan setiap harinya dan
disutikkan 15-20 menit sebelum makan.

2. Insulin kerja sedang.


Contohnya adalah insulin suspensi seng atau suspensi insulin isofan. Mulai bekerja dalam
waktu 1-3 jam, mencapai puncak maksimun dalam waktu 6-10 jam dan bekerja selama
18-26 jam. Insulin ini bisa disuntikkan pada pagi hari untuk memenuhi kebutuhan selama
sehari dan dapat disuntikkan pada malam hari untuk memenuhi kebutuhan sepanjang
malam.

3. Insulin kerja lambat.


Contohnya adalah insulin suspensi seng yang telah dikembangkan. Efeknya baru timbul
setelah 6 jam dan bekerja selama 28-36 jam.4

Peranan Keluarga dalam menyelesaikan masalah penderita DM

- Dokter memberitahukan kepada keluarga dan penderita DM bahwa penyakit yang diderita
bukan suatu penyakit yang menular, tapi dapat diturunkan gejalanya penyakitnya.
- Untuk pengendalian penyakitnya perlu adanya terapi secara non-famakologi dan
farmakologi. Untuk terapi farmakologi, dokter memberitahukan kepada keluarga dan
penderita DM bagaimana menggunakan dan fungsi dari obat tersebut apa. Peranan keluarga
hanya mengawasi keteraturan dan ketepatan minum obat tersebut.
- Dalam upaya melakukan pencegahan ini, diperlukan adanya dukungan dari anggota keluarga
untuk membantu tercapainya keberhasilan pengobatan pada penyakit DM ini. Peranan
keluarga dapat membantu mengatur pola makan pada penderita DM sesuai dengan anjuran
yang diberikan oleh dokter. Misalnya keluarga penderita mengurangi manis pada
masakkannya, olahraga bersama, dll.5

Penatalaksanaan penyakit dan edukasi pada kasus:

a. Promotif: menjelaskan tentang penyakit diabetes mellitus


b. Preventif: - Jaga pola makan yang baik dan teratur
- Diet rendah garam
- Olahraga teratur
- Makan makanan yang tidak digoreng dan tidak berlemak
- Kurangi makan yang manis-manis
- Hati-hati jika beraktivitas agar tidak gampak terluka
- Menghindari factor resiko: rokok, alcohol, stres
c. Kuratif
Terapi medika mentosa: insulin 3 unit/hari
Terapi non-medika mentosa:
1. Mengurangi makanan yang mengandung banyak lemak, makanan berpengawet, dan
harus memperhatikan kebiasaan makan penderita hipertensi dan diabetes mellitus
2. kontrol ke dokter dengan teratur terkait ulkus diabetikum yang dialami
3. Menghindari stress. Ciptakan suasana tenang bagi pasien.
4. Memperbaiki gaya hidup yang kurang sehat
d. Rehabilitatif: -
e. Prognosis: penyakit: dubia ad bonam
Keluarga: dubia ad bonam
Masyarakat: dubia ad bonam
f. Resume
Dari hasil pemeriksaan saat kunjungan rumah tanggal 20 Juli 2017 pasien adalah
penderita diabetes mellitus tipe 2 dengan yang sudah didiagnosis sejak tahun 2002, dan
sejak 2015 timbul komplikasi seperti hipertensi, gangguan ginjal.pasien rutin
menyuntikan insulin sendiri 3 unit perhari Pasien juga mengeluh terdapat ulkus
diabeticum pada bagian kaki sebelah kirinya yang ukurannya cukup kecil namun sudah
menghitam dan mengeluarkan pus namun sering di bersihkan oleh dokter dan sering
mengontrol ke dokter agar mencegah penyebar luasan ulkus.pasien juga mengeluh
terkadang kulitnya sering melepuh tiba-tibaPasien tersebut juga memiliki gangguan maag
yang membuat nafsu makanannya kurang.Pasien cukup memiliki pengetahuan tentang
penyakitnya sehingga melakukan pola hidup yang cukup teratur. Rumah pasien
tergolong rumah yang kurang sehat karena ukurannya tidak sesuai dengan jumlah
anggota yang ada didalamnya, dan ventilasi dan penerangan kurang, susunan ruangan
kurang rapi.untuk mengatasi penyakit diabetes mellitus nya, pasien disarankan
menggunakan insulin teratur, dan untuk mencegah penyakit bertambah berat pasien
disarankan control tekanan darah rutin, memeriksa gula darah rutin, memeriksa kolestrol
dan asam urat, ureum dan kreatinin jika perlu dan olahraga teratur serta pola makan yang
baik diperthankan dan melakukan hal-hal yang terdapat dalam perilaku hidup sehat.
Sedangkan anggota keluarga pasien memiliki resiko, namun sudah menyadarinya
sehingga keluarga pasien menjaga pola makan dan sesekali control gula darah. Untuk
mencapai kesehatan yang menyeluruh hendaknya didukung pula oleh kondisi rumah yang
sehat.

g. Lampiran

Gambar 1. Saya bersama ibu tasimah Gambar 2 . Ruang tamu ibu Tasimah

Gambar 3. Ruang tengah ibu Tasimah Gambar 4. Dapur ibu Tasimah


Gambar 4. Ruang cuci

Gambar 5. Kamar mandi Gambar 6. Teras rumah dan meja berjualan nasi uduk
Gambar 7. Tampak depan rumah

Daftar Pustaka:
1. Diabetes mellitus. Diunduh dari www.fkui.org.com, September 2008.
2. Mansjoer, Arif. Kapita selekta kedokteran. Edisi Ketiga. Jakarta:Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, 1999.
3. Price S.A., Wilson L.M. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit.
Jakarta;EGC:2006.
4. Schoen Frederick J. Robbins pathologic basic of disease. Edisi Ke-6.Saunders
Company:1999.
5. Slamet S., Sarwono W., Editor. Buku ajar ilmu penyakit dalam perhimpunan dokter
spesialis penyakit dalam Indonesia. Jilid 3. Edisi ke-3. Jakarta:Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia;2003.