You are on page 1of 5

1.

Bagaimana cara pengetahuan mengenai stunting pada ibu2 mempengaruhi

angka kejadian stunting?

Pengetahuan, sikap dan tindakan termaksud dalam perilaku. Terbentuknya perilaku

dimulai dari kognitif (pengetahuan) dalam arti subjek tahu terlebih dahulu thd

stimulus berupa materi atau objek, selanjutnya pengetahuan dan timbul respon batin

dalam bentuk sikap subjek thd objek, dan terakir berupa tindakan thd stimulus atau

objek. Namun demikian, kenyataannya stimulis yang diterima dapat langsung

menimbulkan tindakan tanpa mengetahui terlebih dahulu. Dengan kata lain tindakan

seseorang tidak harus didasari oleh pengetahuan dan sikap.

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk

terbentukannya tindakan seseorang.

Menurut Rogers (1974), sebelum seorang menadopsi perilaku baru, dalam diri

orangtersebut terjadi proses yang berurutan yaitu AIETA, yaitu:

a. Awareness (kesadaran) dimana orang tersebut menyadari dalam arti

mengetahui terlebih dahulu terdapat stimulus (objek)

b. Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut. Disini sikap

mulai timbul.

c. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tindaknya stimulus

tersebut bagi dirinya.

d. Trial, dimana subjek mulai mencoba melakukan seseorang sesuai dengan apa

yang dikehendaki oleh stimulasi

e. Adoption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan,

kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus


Apabila penerimaan baru melalui proses seperti ini, dimana didasari dengan

pengerahuan dan sikap yang positif maka perilaku tersebut dapat bersifar langgeng

(long lasting).

2. Tindakan apa yang sebaiknya dilakukan kepada ibu2 yang memiliki

pengetahuan stunting yang rendah?

Ada beberapa hal yg dapat dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan ibu terhadap

stunting. Yang paling penting adalah dilakukannya penyuluhan kepada ibu-ibu

mengenai stunting seperti apa itu stunting, penyebab stunting, dampak stunting.

Namun bukan hanya itu tetapi juga dilakukan penyuluhan yang berkaitan erat dengan

terjadinya stunting seperti penyuluhan mengenai 1000 HPK (pentingngya ASI

Eksklusif, MP-ASI, gizi seimbang), PHBS, penyakit-penyakit infeksi (diare,

kecacingan).

3. Mengapa dalam penelitian ini, menggunakan purposive sampling?

 Purposive sampling merupakan non-random sampling yaitu pengambilan sampel

yang didasarka pada suaru pertimbangan tertentu ang dibuat oleh peneliti sendiri

berdasarkan ciri/sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya, dimana teknik

ini sangat cocok untuk mengadakan studi kasus. Mula-mula peneliti

mengidentifikasi semua karakteristik populasi.

 Disini kami mengundang responden (ibu-ibu) yang secara spesifik sudah

memenuhi kriteri inklusi dan eksklusi kami, yaitu ibu-ibu yang memiliki balita

usia 0-59 bulan dan bersedia mengisi kuesioner.

4. Mengapa pendidikan ibu mempengaruhi pengetahuan ibu mengenai stunting?


Karena tingkat Pendidikan seorang akan mempengaruhi kemampuan orang untuk

membaca dan menulis. Sehingga apabila seseorang tersebut memiliki kemampuan

membaca dan menulis yang lebih baik, maka akan lebih banyak dan lebih mudah

seseorang menyerap pengetahuan -pengetahuan

5. Mengapa dalam penelitian ini digunakan total sampling?

 Total sampling yaitu jumlah yang diambil sama dengan total populasi yang

memenuhi kriteria penelitian. Dilakukan ketika kelompok sasaran kecil dan

dipisahkan oleh karakterisik yang tidak biasa & terdefinisi dengan baik.

Keuntungan:

1. Memberikan wawasan yang lebih mendalam,

2. Memberikan gambaran popuasi yang jauh lebih lengkap dari pada

parsial sampel,

3. Menghilangkan resiko pemilihan sampel yang bias yang sering kali

ditemukan,

Kesulitan dalam menyusun daftar seluruh populasi.

6. Bagaimana hubungan usia pertama kali ibu menikah dengan angka kejadian

stunting?

 Karena menurut BKKBN usia muda saat menikah (dibawah 21 tahun) dapat

mempengaruhi psikologi dari wanita itu sendiri dan secara kesehatan reproduksi,

menikah pada usia muda dapat beresiko tinggi terhadap terjadinya BBLR,

prematur dan meningkatkan AKI dan AKB.

BBLR dan premature merupakan factor resiko terjadinya stunting.


7. Apa yang sebaiknya dilakukan oleh peneliti berikutnya di desa sukahayu? Dan

mengapa?

 Sebaiknya peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian mengenai sikap dan

perilaku yang mempengaruhi kejadian stunting. Dan juga dilakukan penelitian

yang berkelanjutan dengan penelitian sebelumnya dengan sampel yang sama

guna mengetahui penyebab stunting dan dapat menurunkan angka kejadian

stunting di Desa Sukahayu, Kec. Rancakalong, Kab. Sumedang, Jawa Barat.

8. Selama penelitian, adakah masalah lain diluar angka kejadian stunting yang

menarik perhatian?

 Selama kami melakukan penelitian di Desa Sukahayu selama 3 hari, dan setelah

kami melakukan pengolahan data didapatkan hasil, ibu-ibu yang menikah pada

usia kurang dari 21 tahun masih tinggi. Hal ini menunjukan bahwa angka

pernikahan dini masih cukup tinggi di Desa Sukahayu. Seperti yang kita ketahui

bahwa pernikahan dini merupakan salah satu factor terjadinya kejadian stunting.

BACK UP Q&A

1) Mengapa hanya dilakukan pada Ibu yang memiliki balita usia 0 – 59 bulan saja?

 Karena dari proposal penelitian yang kami buat, lokasi penelitian dilakukan di

Posyandu. Dan apabila dilakukan pada semua Ibu yang memiliki balita > 59

bulan terlalu luas cakupannya.

2) Mengapa dilakukan penelitian deskriptif bukan analitik?


 Dari penelitian sebelumnya jarang kami temukan penelitian mengenai

pengetahuan stunting, melainkan penelitian mengenai gizi. Sehingga kami perlu

untuk mengetahui terlebih dahulu gambaran pengetahuan ibu mengenai stunting

sehingga untuk selanjutnya dapat dilakukan penelitian secara analitik

3) Mengapa hanya dilakukan penelitian mengenai pengetahuan yang

mempengaruhi stunting, tidak terhadap sikap ataupun perilaku yang

mempengaruhi stunting?

 Karena kami ingin memfokuskan terlebih dahulu terhadap pengetahuan ibu

mengenai stunting, dimana pengetahuan seseorang akan mempengaruhi sikap dan

perilaku seseorang. Dan dengan penelitian ini kami memberikan kesempatan bagi

peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitan mengenai sikap dan perilaku yang

mempengaruhi stunting.