You are on page 1of 11

BAB I

TINJAUAN TEORI

A. Teori secara Psikologis Retardasi Mental


1. Definisi
Menurut International Stastistical Classification of Diseases and Related
HealthProblem (ICD-10), retardasi mental adalah suatu keadaan perkembangan
mental yang terhenti atau tidak lengkap, yang terutama ditandai oleh adanya
keterbatasan (impairment) keterampilan (kecakapan, skills) selama masa
perkembangan, sehingga berpengaruh pada semua tingkat inteligensia yaitu
kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial. Retardasi mental dapat terjadi
dengan atau tanpa gangguan jiwa atau gangguan fisik lainnya. Prevalensi dari
gangguan jiwa lainnya sekurang-kurangnya tiga sampai empat lipat pada
populasi ini dibanding dengan populasi umum (Lumbantobing, 2006).
Retardasi mental adalah suatu keadaaan dengan ciri-ciri, yaitu disabilitas
yang ditandai dengan suatu limitasi/keterbatasan yang bermakna baik dalam
fungsi intelektual maupun perilaku adaptif yang diekspresikan dalam
keterampilan konseptual, sosial dan praktis. Keadaan ini terjadi sebelum usia 18
tahun (Kusumawardhani, 2013).
Retardasi mental bukan merupakan suatu penyakit, melainkan hasil
patologik di dalam otak yang menggambarkan keterbatasanintelektualitas dan
fungsi adaptif. Retardasi mental dapat terjadi dengan atautanpa gangguan jiwa
atau gangguan fisik lainnya (Salmiah, 2010).

2. Etiologi
Adanya disfungsi otak merupakan dasar dari retardasi mental. Untuk
mengetahui adanya retardasi mental perlu anamnesis yang baik, pemeriksaan
fisik dan laboratorium. Penyebab dari retardasi mental sangat kompleks dan
multifaktorial. Walaupun begitu terdapat beberapa faktor yang potensial
berperanan dalam terjadinya retardasi mental seperti yang dinyatakan oleh Taft
LT (1983) dan Shonkoff JP (1992) dibawah ini.

a. Organik

1
1) Faktor prekonsepsi: kelainan kromosom (trisomi 21/down syndrome
dan abnormalitas single gene (penyakit-penyakit metabolik, kelainan neuro-
cutaneos, dll.)

2) Faktor prenatal: kelainan petumbuhan otak selama kehamilan (infeksi, zat


teratogen dan toxin, disfungsi plasenta)

3) Faktor perinatal:prematuritas,perdarahan intrakranial,asphyxianeonatorum,


Meningitis,Kelainan metabolik: hipoglikemia,hiperbilirubinemia,dll.

4) Faktor postnatal:infeksi, trauma, gangguan metabolik/hipoglikemia,


malnutrisi, CVA (cerebrovascularaccident) Anoksia, misalnya tenggelam.

b. Non Organik

1) Kemiskinan dan keluarga tidak harmonis

2) Sosial kultural

3) Interaksi anak kurang

4) Penelantaran anak

3. Faktor Lain
Keturunan; pengaruh lingkungan dan kelainan mental lain (15-20% ; AAP,
1984)

4. Klasifikasi
Menurut nilai IQ-nya, maka intelegensi seseorang dapat digolongkan
sebagai berikut (dikutip dari Swaiman 1989):

Nilai IQ :

a. Sangat superior 130 atau lebih

b. Superior 120-129

c. Diatas rata-rata 110-119

d. Rata-rata 90-110

e. Dibawah rata-rata 80-89

2
f. Retardasi mental borderline 70-79

g. Retardasi mental ringan (mampu didik) 52-69

h. Retardasi mental sedang (mampu latih ) 36-51

i. Retardasi mental berat 20-35

j. Retardasi mental sangat berat dibawah 20

Yang disebut retardasi mental apabila IQ dibawah 70, retardasi mental tipe
ringan masih mampu didik, retardasi mental tipe sedang mampu latih, sedangkan
retardasi mental tipe berat dan sangat berat memerlukan pengawasan dan
bimbingan seumur hidupnya. Bila ditinjau dari gejalanya, maka Melly
Budhiman membagi:

1) Tipe klinik

Ada retardasi mental tipe klinik ini mudah dideteksi sejak dini, karena
kelainan fisik maupun mentalnya cukup berat. Penyebabnya sering kelainan
organik. Kebanyakan anak ini perlu perawatan yang terus menerus dan kelainan
ini dapat terjadi pada kelas sosial tinggi ataupun yang rendah. Orang tua dari anak
yang menderita retardasi mental tipe klinik ini cepat mencari pertolongan oleh
karena mereka melihat sendiri kelainan pada anaknya

2) Tipe sosiobudaya

Biasanya baru diketahui setelah anak masuk sekolah dan ternyata tidak dapat
mengikuti pelajaran. Penampilannya seperti anak normal, sehingga disebut juga
retardasi enam jam. Karena begitu rnereka keluar sekolah, mereka dapat bermain
seperti anak-anak yang normal lainnya. Tipe ini kebanyakan berasal dari
golongan sosial ekonomi rendah. Para orang tua dari anak tipe ini tidak melihat
adanya kelainan pada anaknya, mereka mengetahui kalau anaknya retardasi dari
gurunya atau dari psikolog, karena anaknya gagal beberapa kali tidak naik kelas.
Pada umumnya anak tipe ini mempunyai taraf IQ golongan borderline dan
retardasi mental ringan.

Klasifikasi Menurut Page:

3
a) Idiot (IQ dibawah 20; umur mental dibawah 3 tahun)

b) Imbisil (IQ antara 20-50, umur mental 3-7,5 tahun)

c) Moron ( IQ 50-70, umur mental 7,5-10,5 tahun)

Tabel Derajat Retradasi Mental

Derajat Usia Prasekolah Usia Sekolah Usia Dewasa


IQ
RM (0-5 tahun) (0-21 tahun) (>21 tahun)

Sangat berat <20 Retradasi jelas Beberapa Perkembangan


perkembangan motorik dan bicara
motorik dapat sangat terbatas
berespon namun
terbatas

Berat 20-23 Perkembangan motorik yang Dapat bicara atau Dapat berperan
miskin berkomunikasi sebagian dalam

namun latuhan pemeliharaan diri

kejujuran tidak sendiri dibawah

bermanfaat pengawasan ketat

Sedang 35-49 Dapat berbicara atau belajar Latihan dalam Dapat bekerja
berkomunikasi, ditangani keterampilan sendiri tanpa
dengan pengawasan sedang social dan dilatih namun

pekerjaan dapat perlu pengawasan

bermanfaat, dapat terutama jika


pergi sendiri berada dalam

ketempat yang stress

telah dikenal

Ringan 50-69 Dapat mengembangkan Dapat belajar


Biasanya dapat
keterampilan social dan keterampilan
mencapai
keterampilan

4
komunikasi, retradasi akademik sampai sosial dan
minimal ± kelas 6 SD kejujuran namun
perlu bantuan
terutama bila stres

5. Manifestasi Klinik
Ada beberapa ciri atau tanda-tanda dari disabilitas pada anak-anak. Tandanya
mungkin muncul selama masa kanak-kanak, atau mungkin tidak terlihat sampai
anak mencapai usia sekolah. Hal ini sering tergantung pada tingkat
keparahannya. Beberapa tanda yang paling sering adalah:
a. Keterlambatan dalam berguling, duduk, merangkak, atau berjalan.
b. Lambat atau mengalami masalah dengan berbicara/berbahasa.
c. Keterlambatan dalam menguasai hal-hal seperti toilet training, berpakaian,
dan makan sendiri.
d. Kesulitan untuk mengingat sesuatu.
e. Ketidakmampuan untuk menghubungkan antara tindakan dan
konsekuensinya.
f. Adanya masalah perilaku seperti mengamuk yang meledak-ledak.
g. Kesulitan dengan pemecahan masalah atau berpikir logis.
h. Kurangnya rasa ingin tahu

Pada anak-anak dengan keterbelakangan intelektual berat atau mendalam,


mungkin ada masalah kesehatan lain juga. Masalah-masalah ini mungkin
termasuk kejang, gangguan mental, cacat motorik, masalah penglihatan, atau
masalah pendengaran. Seseorang dengan keadaan seperti ini akan sering
memiliki beberapa masalah perilaku seperti :

a. Sikapnya agresi.
b. Ketergantungan.
c. Penarikan dari kegiatan atau lingkungan sosial.
d. Perilaku mencari perhatian.
e. Depresi selama masa anak dan remaja.
f. Kurangnya kontrol impuls.

5
g. Pasif.
h. Kecenderungan melukai diri.
i. Sikap keras kepala.
j. Rendah diri.
k. Rendahnya toleransi terhadap frustasi.
l. Gangguan psikotik.
m. Kesulitan dalam perhatian.

Tanda-tanda fisik dapat berupa perawakan pendek dan gambaran wajah yang
terbelakang. Namun, tanda-tanda fisik ini tidak selalu hadir ada.

Gejala retardasi mental menurut tipenya antara lain :

a. Retardasi mental ringan


- merupakan bagian terbesar dari retardasi mental
- termasuk tipe sosial budaya
- diagnosis dibuat setelah anak beberapa kali tidak naik kelas
- mampu didik artinya dapat baca tulis bahkan bisa sampai kelas 4-6 SD
dan keterampilan
- kurang mampu menghadapi stress
b. Retardasi mental sedang
- 12 % dari seluruh retardasi mental
- hanya dapat sampai kelas 2 SD
- dapat mengusai keterampilan
- kurang mampu menghadapi stress
- kurang mandiri
c. Retardasi mental berat
- 7 % dari seluruh retardasi mental
- diagnosis mudah ditegakkan secara dini
- anak sejak awal sudah terdapat keterlambatan perkembangan motorik
dan bahasa
- dapat dilatih hygiene dasar dan kemampuan bicara sederhana
d. Retardasi mental sangat berat
- 1 % dari seluruh retardasi mental

6
- diagnosis dini mudah dibuat
- gejala mental dan fisik sangat jelas
- kemampuan bahasa sangat minimal
- seluruh hidup tergantung pada orang

6. Patofisiologi
Retardasi mental merujuk pada keterbatasan nyata fungsi hidup sehari-
hari. Retardasi mental ini termasuk kelemahan atau ketidakmampuan kognitif
yang muncul pada masa kanak-kanak (sebelum usia 18 tahun) yang ditandai
dengan fungsi kecerdasan di bawah normal (IQ 70 sampai 75 atau kurang) dan
disertai keterbatasan-keterbatasan lain pada sedikitnya dua area fungsi adaftif:
berbicara dan berbahasa, kemampuan/ketrampilan merawat diri,
kerumahtanggaan, ketrampilan sosial, penggunaan sarana-sarana komunitas,
pengarahan diri, kesehatan dan keamanan, akademik fungsional, bersantai dan
bekerja. Penyebab retardasi mental bisa digolongkan kedalam prenatal,
perinatal dan pasca natal. Diagnosis retardasi mental ditetapkan secara dini pada
masa kanak-kanak.

7. Clinical Pathway
Prenatal

Retardasi Mental Perinatal

Pasca natal

Ketidakmampuan kognitif

(IQ <70-75)

Berbicara berbahasa ketrampilan merawat

Gangguan pertumbuhan Gangguan komunikasi Kurang perawatan


diri dan perkembangan

7
8. Komplikasi
a. Serebral palcy
b. Gangguan kejang
c. Gangguan kejiwaan
d. Gangguan konsentrasi /hiperaktif
e. Defisit komunikasi
f. Konstipasi

9. Penatalaksanaan Medis
Terapi terbaik adalah pencegahan primer, sekunder dan tersier.
a. Pencegahan primer adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan
atau menurunkan kondisi yang menyebabkan gangguan. Tindakan tersebut
termasuk pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran
masyarakat umum, usaha terus menerus dari profesional bidang kesehatan
untuk menjaga dan memperbaharui kebijakan kesehatan masyarakat, aturan
untuk memberikan pelayanan kesehatan maternal dan anak yang optimal, dan
eredekasi gangguan yang diketahui disertai kerusakan system saraf pusat.
Konseling keluarga dan genetic dapat membantu.
b. Tujuan pencegahan sekunder adalah untuk mempersingkat perjalanan
penyakit.
c. Sedangkan pencegahan tersier bertujuan untuk menekan kecacatan yang
terjadi. Dalam pelaksanaanya kedua jenis pencegahan ini dilakukan
bersamaan, yang meliputi pendidikan untuk anak: terapi perilaku, kognitif
dan psikodinamika; pendidikan keluarga; dan intervensi farmakologi.
Pendidikan untuk anak harus merupakan program yang lengkap dan
mencakup latihan keterampilan adaptif, sosialn, dan kejuruan. Satu hal yang
penting dalam mendidik keluarga tentang cara meningkatkan kopetensi dan
harga diri sambil mempertahankan harapan yang realistic.
Untuk mengatasi perilaku agresif dan melukai diri sendiri dapat
digunakan naltrekson. Untuk gerakan motorik stereotopik dapat dipakai
antipsikotik seperti haloperidol dan klorpromazin. Perilaku kemarahan
eksplosif dapat diatasi dengan penghambat beta seperti propranolol dan
buspiron. Adapun untuk gangguan deficit atensi atau hiperktivitas dapat
digunakan metilpenidat.

8
B. Tinjauan Masalah Keperawatan Ketidakefektifan Koping
1. Definisi
Ketidakefektifan Koping adalah ketidakmampuan untuk membentuk
penilaian valid tentang stresor, ktidakadekuatan pilihan respons yang dilakukan ,
dan/ atau ketidakmampuan untuk menggunakan sumber daya yang tersedia.
(Herdman,T.Heather.2012.hal;451)
Koping individu inefektif adalah kerusakan perilaku adaptif dan
kemampuan untuk memecahkan masalah pada seseorang dalam memenuhi
tuntutan-tuntutan dan peran-peran kehidupan.(Townsend,Mary C.hal;374)
Koping individu inefektif adalah keadaan dimana seorang individu
mengalami atau beresiko mengalami suatu ketidakmampuan dalam menangani
stressor internal atau lingkungan dengan adekuat karena ketidakadekuatan
sumber-sumber (fisik, psikologis, perilaku dan atau kognitif) (Carpenito,Lynda
Juall.:79)
2. Penyebab
a. Krisis maturasi
b. krisis situasional
c. Sistem pendukung yang tidak memadai
d. Harga diri rendah
e. Kelainan fungsi dan sistem keluarga
f. Lingkungan yang tidak terorganisir dan semrawut
g. Penganiayaan dan pengabaian anak (Ademal 2012).
3. Tanda dan Gejala
a. Mengingkari masalah
b. Harga diri rendah
c. Penolakan
d. Perasaan malu dan bersalah
e. Perasaan tidak berdaya
f. klien mengatakan bila mempunyai masalah sering dipendam dalam hati
tampak diam
g. klien jarang berkomunikasi dengan teman satu ruangan
4. Tindakan Keperawatan
Mekanisme Koping
a. Koping jangka pendek

9
Mekanisme koping jangka pendek yang sering dilakukan antara lain:
1) Kegiatan yang dilakukan untuk lari sementara dari krisis, misalnya
pemakaian obat-obatan, kerja keras, nonton tv terus menerus.
2) Kegiatan mengganti identitas sementara misalnya ikut kelompok social,
keagamaan, dan politik.
3) Kegiatan yang memberi dukungan sementara seperti mengikuti suatu
kompetisi atau kontes popularitas.
4) Kegiatan mencoba menghilangkan anti identitas sementara, seperti
penyalahgunaan obat-obatan ( Ade Herman, 2011: 144 )
b. Koping jangka panjang
Jika mekanisme koping jangka pendek tidak memberi hasil, maka mekanisme
jangka panjang dapat dilakukan, antara lain:
1) Menutup identitas, dimana klien terlalu cepat mengadopsi identitas yang
disenangi dari orang-orang yang berarti tanpa mengindahkan hasrat,
aspirasi atau potensi diri sendiri.
2) Identitas negative merupakan rintangan terhadap nilai dan harapan
masyarakat. Remaja mungkin akan menjadi individu antisocial, hal ini
disebabkan karena ia merasa tidak memiliki identitas yang positif. ( Ade
Herman, 2011: 144 )
c. Mekanisme pertahanan ego
Mekanisme pertahanan ego yang sering dilakukan antara lain fantasi,
regresi, disasosiasi, isolasi, proyeksi, mengalihkan marah berbalik pada diri
sendiri dan orang lain.dalam keadaan berat dapat terjadi deviasi perilaku dan
kegagalan penyesuaian seperti:, bunuh diri, penggunaan zat berbahaya, dan
penganiayaan.( Ade Herman, 2011: 144 )

10
DAFTAR PUSTAKA

1. Alimin, Z. Dkk.2013. Pnedidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Jurusan


Pendidikan Khusus, FIP UPI.
2. Carpenito, Lynda Juall.2000.Buku Saku Diangnosa Keperawatan.Jakarta:EGC
3. Haris, Abdul.2006, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus.Bandung: Alfabeta.
4. Herdman, T.H.2012. Nursing Diagnosa : Definisi and Clasification 2012-2014.
Philadelphia : NANDA Internasional
5. Kusumawati dan Hartono . 2010 . Buku Ajar Keperawatan Jiwa . Jakarta :
Salemba Medika
6. Magungong, Frieda.(2009). Psikologi dan Pendidikan Anak Berkebutuhan
Khusus (1st ed). Depok: LPSP3 UI.
7. Nasir, Abdul dan Muhith, Abdul,(2011). Dasar-Dasar Keperawatan Jiwa:
Pengantar dan Teori. Jakarta:Salemba Medika

11