You are on page 1of 21

Asuhan keperawatan keperawata pada klien dislokasi

Oleh

Gustika putri cania

Lasti wahyuni

Nia nurhayati

Nurhayati astriyani

Rossy oktafia rachman

Widiana cintia

dosen pembimbing :

STIKes YARSI SUMBAR

BUKITTINGGI PROGRAM STUDI S1 Keperawtan

TAHUN AKADEMIK 2015/2016


Kata pengantar

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka kami dapat
menyelesaikan penyusunan makalah dengan judul “Asuhan keperawatan keperawata pada klien
dislokasi.

Penulisan ini merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah
mskuloskeletal.. Kami mengucapkan terima kasih , selaku dosen pembimbing dan kepada semua
pihak yang mendukung dalam pembuatan makalah ini. Dalam penulisan makalah ini kami merasa
masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan
yang kami miliki. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi
penyempurnaan pembuatan makalah ini.

Akhirnya kami sebagai penulis berharap semoga Allah memberikan pahala yang setimpal pada
mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah,
Amiin Yaa Robbal’Alamiin.s

Bukittinggi, 21 oktober 2016

Penyusun
Daftar isi
BAB I : Latar belakang ....................................................................................................

Rumusan masalah .............................................................................................

Tujuan ...............................................................................................................

BAB II : 1. Pengertian dislokasi.....................................................................................

2.klasifikasi dislokasi......................................................................................

3. eiologi dislokasi...........................................................................................

4.manifestasi dislokasi.....................................................................................

5.patofisiologi dislokasi..................................................................................

6.woc dislokasi................................................................................................

7. pemeriksaan penunjang dislokasi.................................................................

8.penetalaksanaan dislokasi................................................................................

9.komplikasi dislokasi.......................................................................................

10. Asuhan keperawatan pada klien dislokasi.....................................................

BAB III Kesimpulan...........................................................................................................

Saran.....................................................................................................................

Daftar pustaka.......................................................................................................
BAB I
LATAR BELAKANG

Negara Indonesia merupakan negara berkembang. Peningkatan mobilisasi masyarakat


/mobilitas masyarakat yang meningkat otomatisasi terjadi peningkatan penggunaan alat-alat
transportasi /kendaraan bermotor khususnya bagi masyarakat yang tinggal diperkotaan.
Sehingga bertambahnya kehidupan masyarakat didaerah perkotaan. Sehingga banyak terjadi
kecelakaan.

Selain itu kemiskinan yang dilanda oleh masyarakat Indonesia, membuat masyarakat
untuk kurang mengkonsumsi makanan bergizi sehingga banyak masyarakat Indonesia yang
cepat mengalami kerapuhan tulang karena kurang kalsium.

Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. Dislokasi
ini dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen
tulang dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk sendi). Seseorang yang tidak dapat
mengatupkan mulutnya kembali sehabis membuka mulutnya adalah karena sendi rahangnya
terlepas dari tempatnya. Dengan kata lain: sendi rahangnya telah mengalami dislokasi.

Berdasarkan data yang didapat, sekitarnya 30% pasien mengalami fraktur dislokasi,
yang bias disebabkan oleh kecelakaan dan juga oleh factor nutrisi.

RUMUSAN MASALAH
1. Apa pngertian dari dislokasi
2. Bagaimana kliasifikasi dislokasi
3. Bagimana etiologi dislokasi
4. Bagaimana manifestasi dislokasi
5. Bagaimana patofisiologi dislokasi
6. Bagaimana woc dislokasi
7. Bagaimana pemeriksaan penunjang dislokasi
8. Bagaimana penatalaksanaan dislokasi
9. Bagaimana komplikasi dislokasi
10. Bagaimana asuhan keperawatan dislokasi
TUJUAN
1. Mengtahui pengertian dari dislokasi
2. Mengtahui klasifikasi dislokasi
3. Mengtahui etiologi dislokasi
4. Mengtahui manifestasi dislokasi
5. Mengtahui patofisiologi dislokasi
6. Mengtahui woc dislokasi
7. Mengtahui pemeriksaan penunjang dislokasi
8. Mengtahui penatalaksanaan dislokasi
9. Mengtahui komplikasi dislokasi
10. Mengtahui asuhan keperawatan dislokasi
BAB II
1. pengertian dari dislokasi

Dislokasi sendi atau luksasio adalah tergesernya permukaan tulang yang membentuk
persendian terhadap tulang lain. (Sjamsuhidajat,2011. Buku Ajar lImu Bedah, edisi
3,Halaman 1046)

Dislokasi sendi adalah fragmen frakrtur saling terpisah dan menimbulkan deformitas.
(Kowalak, 2011, Buku Ajar Patofisiologi, Halaman 404).

Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. Dislokasi ini
dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen
tulang dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk sendi). Seseorang yang tidak dapat
mengatupkan mulutnya kembali sehabis membuka mulutnya adalah karena sendi rahangnya
terlepas dari tempatnya. Dengan kata lain: sendi rahangnya telah mengalami dislokasi.

Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi sendi bahu dan sendi
pinggul (paha). Karena terpeleset dari tempatnya, maka sendi itupun menjadi macet. Selain
macet, juga terasa nyeri. Sebuah sendi yang pernah mengalami dislokasi, ligamen-
ligamennya biasanya menjadi kendor. Akibatnya, sendi itu akan gampang dislokasi lagi.

Kesimpulan:

Dislokasi adalah tergesernya sendi dari mangkuk sendi yang kemudian dapat
menimbulkan deformitas.

2. klasifikasi dislokasi

Klasifikasi dislokasi menurut penyebabnya (Brunner & Suddart, 2002, KMB, edisi 8,
vol 3,Halaman 2356) adalah:

1. Dislokasi congenital, terjadi sejak lahir akibat kesalahan pertumbuhan, paling sering
terlihat pada pinggul.
2. Dislokasi spontan atau patologik, akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar
sendi. misalnya tumor, infeksi, atau osteoporosis tulang. Ini disebabkan oleh kekuatan
tulang yang berkurang
3. Dislokasi traumatic, kedaruratan ortopedi (pasokan darah, susunan saraf rusak dan
mengalami stress berat, kematian jaringan akibat anoksia) akibat oedema (karena
mengalami pengerasan). Terjadi karena trauma yang kuat sehingga dapat
mengeluarkan tulang dari jaringan disekeilingnya dan mungkin juga merusak struktur
sendi, ligamen, syaraf, dan system vaskular. Kebanyakan terjadi pada orang dewasa.
 Berdasarkan tipe kliniknya dibagi :

1. Dislokasi Akut

Umumnya terjadi pada shoulder, elbow, dan hip. Disertai nyeri akut dan
pembengkakan di sekitar sendi

2. Dislokasi Berulang.

Jika suatu trauma Dislokasi pada sendi diikuti oleh frekuensi dislokasi yang berlanjut
dengan trauma yang minimal, maka disebut dislokasi berulang. Umumnya terjadi
pada shoulder joint dan patello femoral joint.Dislokasi biasanya sering dikaitkan
dengan patah tulang / fraktur yang disebabkan oleh berpindahnya ujung tulang yang
patah oleh karena kuatnya trauma, tonus atau kontraksi otot dan tarikan.

 Berdasarkan tempat terjadinya

1. Dislokasi Sendi Rahang

Dislokasi sendi rahang dapat terjadi karena :

- Menguap atau terlalu lebar.


- Terkena pukulan keras ketika rahang sedang terbuka, akibatnya penderita
tidak dapat menutup mulutnya kembali.

2.Dislokasi Sendi Bahu

Pergeseran kaput humerus dari sendi glenohumeral, berada di anterior dan medial
glenoid (dislokasi anterior), di posterior (dislokasi posterior), dan di bawah glenoid
(dislokasi inferior).

3.Dislokasi Sendi Siku

Merupakan mekanisme cederanya biasanya jatuh pada tangan yang dapat


menimbulkan dislokasi sendi siku ke arah posterior dengan siku jelas berubah bentuk
dengan kerusakan sambungan tonjolan-tonjolan tulang siku.

4.Dislokasi Sendi Jari

Sendi jari mudah mengalami dislokasi dan bila tidak ditolong dengan segera sendi
tersebut akan menjadi kaku kelak. Sendi jari dapat mengalami dislokasi ke arah
telapak tangan atau punggung tangan.

5. Dislokasi Sendi Metacarpophalangeal dan Interphalangeal


Merupakan dislokasi yang disebabkan oleh hiperekstensi-ekstensi persendian.
6.Dislokasi Panggul

Bergesernya caput femur dari sendi panggul, berada di posterior dan atas acetabulum
(dislokasi posterior), di anterior acetabulum (dislokasi anterior), dan caput femur
menembus acetabulum (dislokasi sentra).

7.Dislokasi Patella

- Paling sering terjadi ke arah lateral.


- Reduksi dicapai dengan memberikan tekanan ke arah medial pada sisi lateral
patella sambil mengekstensikan lutut perlahan-lahan.
- Apabila dislokasi dilakukan berulang-ulang diperlukan stabilisasi secara
bedah

3. etiologi dislokasi

- Cedera olah raga


Olah raga yang biasanya menyebabkan dislokasi adalah sepak bola dan hoki,
serta olah raga yang beresiko jatuh misalnya : terperosok akibat bermain ski,
senam, volley. Pemain basket dan pemain sepak bola paling sering mengalami
dislokasi pada tangan dan jari-jari karena secara tidak sengaja menangkap bola
dari pemain lain.

- Trauma yang tidak berhubungan dengan olah raga


Benturan keras pada sendi saat kecelakaan motor biasanya menyebabkan
dislokasi

- Terjatuh
Terjatuh dari tangga atau terjatuh saat berdansa diatas lantai yang licin

- Patologis

terjadinya ‘tear’ligament dan kapsul articuler yang merupakan kompenen vital


penghubung tulang
4. manifestasi dislokasi
a) Nyeri akut
b) Perubahan kontur sendi
c) Perubahan panjang ekstremitas
d) Kehilangan mobilitas normal
e) Perubahan sumbu tulang yang mengalami dislokasi

5. patofisiologi dislokasi

Cedera akibat olahraga dikarenakan beberapa hal seperti tidak melakukan exercise
sebelum olahraga memungkinkan terjadinya dislokasi, dimana cedera olahraga
menyebabkan terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi sehingga dapat
merusak struktur sendi dan ligamen. Keadaan selanjutnya terjadinya kompresi jaringan
tulang yang terdorong ke depan sehingga merobek kapsul/menyebabkan tepi glenoid
teravulsi akibatnya tulang berpindah dari posisi normal. Keadaan tersebut dikatakan
sebagai dislokasi.

Begitu pula dengan trauma kecelakaan karena kurang kehati-hatian dalam melakukan
suatu tindakan atau saat berkendara tidak menggunakan helm dan sabuk pengaman
memungkinkan terjadi dislokasi. Trauma kecelakaan dapat kompresi jaringan tulang dari
kesatuan sendi sehingga dapat merusak struktur sendi dan ligamen. Keadaan selanjutnya
terjadinya kompres jaringan tulang yang terdorong ke depan sehingga merobek
kapsul/menyebabkan tepi glenoid teravulsi akibatnya tulang berpindah dari posisi normal
yang menyebabkan dislokasi.
6. woc dislokasi

Etiologi

Cedera olahraga Trauma Kecelakaan

Terlepasnya kompresi jaringan jar. Tulang dari kesatuan sendi

Merusak struktur sendi, ligamen

Kompresi jaringan tulang yg terdorong ke depan

Merobek kapsul/menyebabkan tepi glenoid teravulsi

Ligamen memberikan jalan

Tlg. berpindah dari posisi yg normal

Dislokasi

Radang cedera jar.lunak ekstremitas

Ketidakmampuan mengunyah spasme otot hambatan mobilitas fisik

Ketidakseimbangan nutrisi nyeri akut

kurang dari kebutuhan tubuh


7. pemeriksaan penunjang dislokasi

1. Sinar-X (Rontgen)

Pemeriksaan rontgen merupakan pemeriksaan diagnostik noninvasif untuk membantu


menegakkan diagnosa medis. Pada pasien dislokasi sendi ditemukan adanya pergeseran
sendi dari mangkuk sendi dimana tulang dan sendi berwarna putih.

2. CT scan

CT-Scan yaitu pemeriksaan sinar-X yang lebih canggih dengan bantuan komputer,
sehingga memperoleh gambar yang lebih detail dan dapat dibuat gambaran secara 3
dimensi. Pada psien dislokasi ditemukan gambar 3 dimensi dimana sendi tidak berada
pada tempatnya.

3. MRI

MRI merupakan pemeriksaan yang menggunakan gelombang magnet dan frekuensi radio
tanpa menggunakan sinar-X atau bahan radio aktif, sehingga dapat diperoleh gambaran
tubuh (terutama jaringan lunak) dengan lebih detail. Seperti halnya CT-Scan, pada
pemeriksaan MRI ditemukan adanya pergeseran sendi dari mangkuk sendi.

8. penatalaksanaan dislokasi
 Dislokasi reduksi: dikembalikan ke tempat semula dengan menggunakan anastesi jika
dislokasi berat
 Kaput tulang yang mengalami dislokasi dimanipulasi dan dikembalikan ke rongga sendi
 Sendi kemudian dimobilisasi dengan pembalut, bidai, gips atau traksi dan dijaga agar
tetap dalam posisi stabi.
 Beberapa hari sampai minggu setelah reduksi dilakukan mobilisasi halus 3-4X sehari
yang berguna untuk mengembalikan kisaran sendi
 Memberikan kenyamanan dan melindungi sendi selama masa penyembuhan

9. komplikasi dislokasi
1. Komplikasi dini
 Cedera saraf : saraf aksila dapat cedera ; pasien tidak dapat mengkerutkan otot deltoid
dan mungkin terdapat daerah kecil yang mati rasa pada otot tesebut
 Cedera pembuluh darah : Arteri aksilla dapat rusak
 Fraktur disloksi
2. Komplikasi lanjut
 Kekakuan sendi bahu:Immobilisasi yang lama dapat mengakibatkan kekakuan sendi
bahu, terutama pada pasien yang berumur 40 tahun.Terjadinya kehilangan rotasi
lateral, yang secara otomatis membatasi abduksi
 Dislokasi yang berulang:terjadi kalau labrum glenoid robek atau
 kapsul terlepas dari bagian depan leher glenoid
 Kelemahan otot
Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Identitas klien

nama :

jenis kelamin :

usia :

alamat :

agama :

bahasa yang digunakan : :

pendidikan :

pekerjaan :

no MR :

2. Keluhan utama

Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien meminta pertolongan kesehatan
adalah nyeri , kelemahan dan kelumpuhan ,ekstermitas , nyeri tekan otot , dan
deformitas pada daerah trauma ,untuk mendapatkan pengkajian yang lengkap
mengenai nyeri klien dapat menggunakan metode PQRS.

3. Riwayat kesehatan
a) Riwayat kesehatan sekarang

Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari disklokasi yang nantinya
membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi
terjadinya penyakit

b) Riwayat kesehatan dahulu


Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab dislokasi, serta penyakit
yang pernah diderita klien sebelumnya yang dapat memperparah keadaan klien
dan menghambat proses penyembuhan
c) Riyawat kesehatan keluarga
Apakah keluarga ada yang mempunyai riwat yang sama dengan klien

4. Pemeriksaan fisik
a. Keadaaan umum klien
Klien yang yang mengalami cedera pada umumnya tidak mengalami
penurunan kesadaran ,periksa adanya perubahan tanda-tanda vital ,yang
meliputi brikardia ,hipotensi dan tanda-tanda neurogenik syok.
b. Tanda tanda vital
 Suhu :
 Nadi :
 Pernafasan :
 Takanan darah :
c. B3 ( brain)
Tingkat kesedaran pada pasien yang mengalami dislokasi adalah kompos
mentis
d. Pemeriksaan fungsi selebral
Status mental :observasi penampilan ,tingkah laku gaya bicara ,ekspresi wajah
aktivitas motorik klien
e. Pemeriksaan saraf kranial
Pemeriksaan refleks .pada pemeriksaan refleks dalam ,reflecs achiles
menghilang dan refleks patela biasanya meleamh karna otot hamstring
melemah
f. B6 (Bone)
 Paralisis motorik ekstermitas terjadi apabila trauma juga mengompresi
sekrum gejala gangguan motorik juga sesuai dengan distribusi
segmental dan saraf yang terkena
 Look ,pada insfeksi parienum biasanya di dapatkan adanya pendarahan
,pembengkakakn dan deformitas
 Fell , kaji adanya derajat ketidakstabilan daerah trauma dengan palpasi
pada ramus dan simfisi fubis
 Move , disfungsi motorik yang paling umum adalah kelemahan dan
kelumpuhan pada daerah ekstermitas
5. Analisa data
No Analisa data etiologi masalah
1 DS Diskontuinitas tulang

- Biasanya klien
mengatakan nyeri saat
beraktivitas Pergeseran frakmen tulang
- Biasanya klien
mengatakan nyeri seperti
di tekan benda berat
Nyeri Nyeri
- Biasanya klien
mengatakan ada nyeri di
daerah persendian

DO

- Biasanya wajah klien


tampak meringis
- Skala nyeri 5
- Biasanya ada
pembengkakan di daerah
persendian
2 DS Adanya trauma

- Biasanya klien
mengatakan sangat lemas
- Biasanya klien Deformitas tulang
mengatakan susah
bergerak Gangguan
mobilitas fisik
- Biasanya klien
Gangguan Fungsi Gerak
mengatakan adanya
kekekauan pada sendi

DO Kerusakan mobilitas fisik

- Klien tampak lemas


- Keterbatasan mobilitas
- Klien tampak lesu
3 DS Tindakan pengobatan

- Klien biasanya bertanya


tanya tentang penyakit
nya Kurangnya Informasi
- Klien mengatakan cemas
Kurang pengetahuan
Ansietas
DO

- Klien tampak cemas


- Klien tampak pucat Konflik Interpersonal

Ansietas

4 DS Adanya Radang

- Biasanya klien
mengatkan kurang nafsu
Ketidakmampuan
makan mengunyah
- Biasanya klien
Ketidakseimbangan
mengatakan makanan
Sulit untuk mengunyah nutrisi kurang dari
yang di makan tidak enak
kebutuhan tubuh
DO
Ketidakseimbangan nutrisi
- Klien tampak lesu
kurang dari kebutuhan tubuh
- Klien tampak pucat
- Klien tampak sulit
menelan makanan
6. Diagnosa keperawatan yang muncul
a) Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas tulang
b) Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan terputusnya kontinuitas tulang
c) Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit
d) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kesulitan mengunyah atau menelan.
7. Intervensi keperawatan
Tujuaan
no Diagnosa Dan intervensi
keperawatan Kriteria hasil
Nyeri berhubungan NOC NIC
1 dengan terputusnya
kontinuitas tulang  Pain level Pain mangement
 Paincontol
- kaji kultur yang yang
 Comfort level
mempengaruhi respon
Kriteria hasil
nyeri
 Mampu mengenali - evalusi pengalaman nyeri
nyeri
masa lampau
 Malaporkan bahwa - evaluasi keefektifan
nyeri berkurang
kontrol nyeri
dengan
menggunakan - kaji tipe dan sumber
manajemen nyeri
nyeri untuk menentukan
 Menyatakan rasa intervensi
nyaman setelah
nyeri berkurang
Analgesic adminstration

- cek instruksi dokter


tentang jenis obat , dosis
dan frekuensi
- berikan analgesik tepat
waktu tertama saat nyeri
hebat
Gangguan NOC NIC
2 mobilitas fisik
 joint movement : Exercise therapy : ambulation
berhubungan
dengan terputusnya active - monitor vital sign
kontinuitas tulang
 selft care sebelum dan sesudah
 transfer perfomance latihan
- konsultasi dengan terapi
kriteria hasil:
fisik tentang rencana
 klien meningkat ambulasi
dalam aktivitas fisik - bantu klien menggunakan
 mengerti tujuan dan tongkat saat berjalan dan
peningkatan cegah terhada cedera
mobilitistik - berikan alat bantu jika
 memperagakan klien membutuhkan
penggunaan alat - ajarka lien bagaimana
bantuk mobilitas merubah posisi dan
(walker ) berikan bantuan jika di
perlukan
Ansietas NOC NIC
3 berhubungan
dengan kurangnya  Anxiety self- Anxiety reduction (enurunan
pengetahuan control kecemasan )
tentang penyakit  Anxiety level
 Coping - gunakan pendekatan yang
menenangkan
Kriteria hasil
- nyatakan dengan jelas
 Klien mampu
harapan terhadap palaku
mengidentikasi dan
mengungkan gejala pasien
cemas
- jelaskan semua prosedur
 Mengidentifikasi ,
mengungkapkan dan dan apa yang dirasakan
menujuk teknik
selama prosedur
untuk mengontrol
cemas - dorong kelurag untuk
Vital sign dalam batas
menemani anak
normal
Ketidakseimbangan NOC NIC
4
nutrisi kurang dari  Nutritional status
Nutrition management
 Nutritional status :
kebutuhan tubuh
food and flud
- kaji adanya alergi
berhubungan intake
 Nutritional status :
dengan kesulitan nutrient intake makanan
 Weigt control
mengunyah atau - anjurkan pasien untuk
menelan Kriteria hasil : menikngkatkan intake Fe
- beri subtansi gula
 Adanya peningkatan
berat badan sesuai - berikan informasi tentang
dengan tujuan
kebutuhan nutrisi
 Berat badan ideal
sesuai dengan tinggi - Monitor jumlah nutrisi
badan
dan kandungan kalori
 Mampu
mengidentifikasi
kebutuhan nutrisi Nutrition monitoring
 Tidak ada tanda
tanda malnutrisi - BB pasien dalam batas
normal
- Monitor adanya
penurunan berat badan
- monitor tipe dan jumlah
aktivitas
- monitor mual dan muntah

.
Bab III

Kesimpulan

Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. Dislokasi
ini dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen
tulang dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk sendi). Seseorang yang tidak dapat
mengatupkan mulutnya kembali sehabis membuka mulutnya adalah karena sendi rahangnya
terlepas dari tempatnya. Dengan kata lain: sendi rahangnya telah mengalami dislokasi.

Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi sendi bahu dan sendi
pinggul (paha). Karena terpeleset dari tempatnya, maka sendi itupun menjadi macet. Selain
macet, juga terasa nyeri. Sebuah sendi yang pernah mengalami dislokasi, ligamen-
ligamennya biasanya menjadi kendor. Akibatnya, sendi itu akan gampang dislokasi lagi.

Skelet atau kerangka adalah rangkaian tulang yang mendukung dan me


lindungin beberapa organ lunak, terutama dalam tengkorak dan panggul. Kerangka
juga berfungsi sebagai alat ungkit pada gerakan dan menye diakan permukaan untuk kaitan
otot-otot kerangka. Oleh karena fungsi tulang yang sangat penting bagi tubuh kita, maka telah
semestinya tulang harus di jaga agar terhindar dari trauma atau benturan yang dapat
mengakibatkan terjadinya patah tulang atau dislokasi tulang.

Dislokasi terjadi saat ligarnen rnamberikan jalan sedemikian rupa


sehinggaTulang berpindah dari posisinya yang normal di dalam sendi. Dislokasi dapat
disebabkan oleh faktor penyakit atau trauma karena dapatan (acquired) atau karena sejak
lahir (kongenital).

Saran

Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada makalah ini. Oleh karena
itu, penulis mengharapkan sekali kritik yang membangun bagi makalah ini, agar penulis
dapat berbuat lebih baik lagi di kemudian hari. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.
Daftar pustaka

Doengoes, Mariliynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC

Brunner, Suddarth, (2001) Buku Ajar Keperawatan-Medikal Bedah, Edisi 8 Volume 3, EGC :
Jakarta

Doenges, Marilynn E, dkk, (2000), Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa


Keperawatan, EGC : Jakarta.

Pamela L.swearingen , (2000) Keperawatan Medikal –Bedah .E/2, jakarta : egc

Muttaqin.A , (2008) , Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Muskuloskletal,Jakarta


:EGC

http://www.slideshare.net/ardiartana/savedfiles?s_title=askep-
dislokasi&user_login=septianraha

http://ardiartana.wordpress.com/2013/10/31/askep-dislokasi/

http://keperawatanblog.wordpress.com/2013/06/03/7/

http://ayumuliadewi13.wordpress.com/2013/03/20/askep-dislokasi/