You are on page 1of 21

PRESENTASI KASUS

MASTOIDITIS KRONIS

Disusun oleh:
Vivi Anisa Putri
1710221021

Pembimbing
dr. M. Setiadi, Sp.THT-KL, M.Si, Med

KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN TELINGA,


HIDUNG DAN TENGGOROKAN
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH AMBARAWA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN
NASIONAL “VETERAN” JAKARTA

PERIODE 5 FEBRUARI – 10 MARET 2018


LEMBAR PENGESAHAN

Telah dipresentasikan dan disetujui presentasi kasus dengan judul

MASTOIDITIS KRONIS

Diajukan untuk memenuhi persyaratan tugas


Kepaniteraan Klinik Departemen Telinga Hidung dan Tenggorokan Rumah Sakit
Umum Daerah Ambarawa

Disusun oleh:
Vivi Anisa Putri
1710221021
FK UPN “Veteran” Jakarta

Jakarta, Februari 2018


Telah disetujui oleh:
Pembimbing,

dr. M. Setiadi, Sp.THT-KL, M.Si, Med

2
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan
karunia-Nya sehingga presentasi kasus yang membahas tentang “Mastoiditis
Kronis” ini telah diselesaikan.
Penyusun secara khusus mengucapkan terimakasih kepada dr. M. Setiadi,
Sp.THT-KL, M.Si, Med sebagai dosen pembimbing yang memberikan arahan
terhadap presentasi kasus ini.
Penulis menyadari bahwa presentasi kasus ini masih jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk
menyempurnakan presentasi kasus ini.

Jakarta, Februari 2018

Penyusun

3
BAB I
LAPORAN KASUS

I.1 ANAMNESIS
1. Identitas
Nama : An. F
Usia : 5 tahun 10 bulan
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pendidikan :-
Pekerjaan : Dibawah Umur
Alamat : Wonorejo 2/2 Pringapus

2. Keluhan Utama
Nyeri yang dirasakan pada bagian belakang telinga kiri

3. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang dengan keluhan nyeri pada bagian belakang telinga kiri
sejak 3 bulan yang lalu. Selain nyeri ibu pasien juga mengeluhkan terdapat
cairan yang keluar dari telinga kirinya yang berwarna putih kekuningan. 2
minggu sebelum masuk rumah sakit pasien mengalami demam. Pasien
tidak mengalami keluhan pada telinga kanan sehingga masih bisa
mendengar baik dengan telinga kanan.

4. Riwayat Penyakit Dahulu


Sebelumnya pasien sering mengalami pilek dan keluar cairan dari liang
telinga kiri

5. Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan serupa

4
I.2 PEMERIKSAAN FISIK
STATUS GENERALIS
1. Keadaan umum : baik
2. Kesadaran : composmentis
3. Tanda-tanda Vital
Tekanan darah :-
Nadi : 82 kali/menit, reguler
Pernafasan : 20 kali/menit
Suhu tubuh : 36,6°C

STATUS LOKALIS
Telinga
a. Preaurikula Dextra Sinistra
Tumor - -
Hematom - -
Nyeri tekan - -
Fistula - -
b. Aurikula Dextra Sinistra
Tumor - -
Hematom - -
Tragus pain - -
Antitragus pain - -
c. Retroaurikula Dextra Sinistra
Tumor - -
Hiperemis - -
Nyeri tekan - +
Fistula - -
d. MAE Dextra Sinistra
Serumen + +
Edema - -
Hiperemis - -
Otorhea - + (putih kekuningan)

5
e. Membran Timpani Dextra Sinistra
Reflex cahaya - +
Perforasi - + (perifer)
Discharge - + (putih kekuningan)
Hiperemis - -
Leher
Kelenjar getah bening : tidak teraba perbesaran KGB
Massa : tidak teraba massa

I.3 DIAGNOSIS BANDING


- Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK)
- Mastoiditis

I.4 DIAGNOSIS KERJA


Mastoiditis

I.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG


Foto mastoid
Interpretasi Foto Mastoid
Mastoiditis kronis aurikula sinistra

Gambar 1. Hasil foto mastoid

6
I.6 DIAGNOSIS
Mastoiditis kronis AS

I.7 PENGELOLAAN DAN TERAPI


- Pembersihan liang telinga dengan suction (isap lendir)
- Pemberian tatalaksana:
o Cefixime syrup 2 x 1 cth (Antibiotik)
o Tarivid tetes telinga 3 x 1 tetes (Antibiotik)
- Edukasi:
o Diedukasi kepada orangtua pasien untuk tetap menjaga
kebersihan telinga pasien dan tidak mengorek ngorek liang
telinga
o Mengkonsumsi antibiotik yang telah diberikan secara teratur
sesuai dengan petunjuk pemakaian sampai habis, agar mencegah
komplikasi
o Terus memantau agar telinga kiri untuk sementara waktu tidak
terkena air
o Datang kembali untuk kontrol, untuk melihat perkembangan
penyakit serta penyembuhan infeksi.

I.8 PROGNOSIS
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad functionam : dubia ad bonam

7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 ANATOMI TELINGA


II.1.1 Telinga Luar
Telinga luar terdiri atas daun telinga, liang telinga luar, dan membran
timpani. Telinga luar berfungsi menangkap rangsang getaran bunyi atau bunyi dari
luar. Daun telinga terdiri atas tulang rawan elastin dan kulit. Bagian-bagian daun
telinga lobula, heliks, anti heliks, tragus, dan antitragus. Liang telinga atau saluran
telinga merupakan saluran yang berbentuk seperti huruf S. Pada 1/3 bagian luar
memiliki kerangka tulang rawan dan 2/3 bagian dalam memiliki kerangka tulang
sejati.3
Saluran telinga mengandung rambut-rambut halus dan kelenjar serumen
(keringat). Rambut-rambut alus berfungsi untuk melindungi lorong telinga dari
kotoran, debu dan serangga, sementara kelenjar sebasea berfungsi menghasilkan
serumen. Serumen adalah hasil produksi kelenjar sebasea, kelenjar seruminosa,
epitel kulit yang terlepas dan partikel debu. Kelenjar sebasea terdapat pada kulit
liang telinga.4
Membran timpani berbentuk dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga
dan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga. Bagian atas disebut pars flaksida
(membran Shrapnell), sedangkan bagian bawah pars tensa (membran propria).
Bayangan penonjolan bagian bawah maleus pada membran timpani disebut sebagai
umbo.3

8
II.1.2 Telinga Tengah

Gambar 2. Anatomi Telinga

Telinga tengah digambarkan seperti sebuah kotak (kubus) dengan batas-batas


seperti berikut:
- Batas luar: membran timpani
- Batas depan : tuba eustachius yang menghubungkan daerah telinga tengah
dengan nsofaring
- Batas bawah: vena (bulbus) jugularis yang superiolateral menjadi sinus sigmoideus
dan ke tengah menjadi sinus cavernous, cabang aurikulus saraf vagus masuk telinga
tengah dari dasarnya.
- Batas belakang: aditus ad antrum yaitu lubang yang menghubungkan telinga tengah
dangan antrum mastoid.
- Batas dalam: berturut-turut dari atas ke bawah kanalis semisirkularis horizontal,
kanalis fasialis, tingkap oval, tingkap bundar dan promontorium.
- Batas atas: tegmen timpani

a. Membran Timpani
Membran timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang
teling dan terlihat terlihat oblik terhdap sumbu liang telinga. Bagian atas disebut pars

9
flaksida (membrane Shrapnell), sedangkan bagian bawah pars tensa (membrane
propria). Pars flaksida hanya berlapis dua, yaitu bagian luar ialah lanjutan epitel kulit
liang telinga dan bagian dalam dilapisi sel kubus bersilia, seperti epitel mukosa saluran
napas. Pars tensa mempunyai satu lapis lagi di tengah, yaitu lapisan yang terdiri dari
serat kolagen dan sedikitserat elastin yang berjalan radier di bagian luar dan sirkuler
pada bagian dalam.
Bayangan penonjolan bagian bawah maleus pada membrane timpani disebut
sebagai umbo. Dari umbo bermula suatu reflex cahaya..(cone of light) kearah bawah
yaitu pada pukul 7 untuk membrane timpani kiri dan pukul 5 untuk membrane timpani
kanan. Reflek cahaya adalah cahaya dari luar yang dipantulkan oleh membrane
timpani. Di membrane timpani terdapat 2 macam serabut, sirkuler dan radier. Serabut
inilah yang menyebabkan timbulnya reflex cahaya yang berupa kerucut.

Gambar 3. Anatomi Membran Timpani

Membrane timpani dibagi dalam 4 kuadran,dengan menarik garis searah


prosessus longus maleus dan garis yang tegak lurus pada garis itu di umbo,sehingga
didapatkan bagian atas depan ,atas belakang,bawah depan serta bawah belakang untuk
menyatakan letak perforasi membrane timpani.

b. Kavum Timpani
Kavum timpani terletak didalam pars petrosa dari tulang temporal, bentuknya
bikonkaf. Diameter anteroposterior atau vertikal 15 mm, sedangkan diameter
transversal 2-6 mm. Kavum timpani mempunyai 6 dinding yaitu : bagian atap, lantai,
dinding lateral, dinding medial, dinding anterior, dinding posterior. Kavum timpani
terdiri dari:

10
- Atap kavum timpani: Dibentuk tegmen timpani, memisahkan telinga tengah dari
fosa kranial dan lobus temporalis dari otak. bagian ini juga dibentuk oleh pars
petrosa tulang temporal dan sebagian lagi oleh skuama dan garis sutura
petroskuama.
- Lantai kavum timpani: Dibentuk oleh tulang yang tipis memisahkan lantai kavum
timpani dari bulbus jugularis, atau tidak ada tulang sama sekali hingga infeksi dari
kavum timpani mudah merembet ke bulbus vena jugularis.
- Dinding medial: memisahkan kavum timpani dari telinga dalam, ini juga
merupakan dinding lateral dari telinga dalam.
- Dinding posterior: Dinding posterior dekat keatap, mempunyai satu saluran disebut
aditus, yang menghubungkan kavum timpani dengan antrum mastoid melalui
epitimpanum. Dibelakang dinding posterior kavum timpani adalah fosa kranii
posterior dan sinus sigmoid.
- Dinding anterior: Dinding anterior bawah adalah lebih besar dari bagian atas dan
terdiri dari lempeng tulang yang tipis menutupi arteri karotis pada saat memasuki
tulang tengkorak dan sebelum berbelok ke anterior. Dinding ini ditembus oleh saraf
timpani karotis superior dan inferior yang membawa serabut-serabut saraf simpatis
kepleksus timpanikus dan oleh satu atau lebih cabang timpani dari arteri karotis
interna. Dinding anterior ini terutama berperan sebagai muara tuba eustachius.
- Tulang-tulang pendengaran: Malleus (hammer/martil), inkus (anvil/landasan),
stapes (stirrup / pelana)

Gambar 4. Anatomi tulang-tulang pendengaran


- Otot-otot pada kavum timpani: Terdiri dari otot tensor timpani (muskulus tensor
timpani) dan otot stapedius (muskulustapedius)
- Saraf Korda Timpani: Merupakan cabang dari nervus fasialis masuk ke kavum
timpani dari analikulus posterior yang menghubungkan dinding lateral dan

11
posterior. Korda timpani juga mengandung jaringan sekresi parasimpatetik yang
berhubungan dengan kelenjar ludah sublingual dan submandibula melalui ganglion
ubmandibular. Korda timpani memberikan serabut perasa pada 2/3 depan lidah
bagian anterior.
- Pleksus Timpanikus: Berasal dari n. timpani cabang dari nervus glosofaringeus dan
dengan nervus karotikotimpani yang berasal dari pleksus simpatetik disekitar arteri
karotis interna.
- Saraf Fasial: Meninggalkan fosa kranii posterior danmemasuki tulang temporal
melalui meatus akustikus internus bersamaan dengan N. VIII. Saraf fasial terutama
terdiri dari dua komponen yang berbeda, yaitu saraf motorik untuk otot-otot yang
berasal dari lengkung brankial kedua (faringeal) yaitu otot ekspresi wajah,
stilohioid, posterior belly m. digastrik dan m. stapedius dan saraf intermedius yang
terdiri dari saraf sensori dan sekretomotor parasimpatetis preganglionik yang
menuju ke semua glandula wajah kecuali parotis.

c. Tuba Eustachius

Gambar 5. Anatomi Tuba Eustachius

Menghubungkan rongga timpani dgn nasofaring,panjang 3,5 cm. Bagian 1/3


posterior terdapat dinding tulang dan bagian 2/3 anterior terdapat dinding tulang rawan.
Dilapisi oleh epitel silindris bertingkat bersilia dan epitel selapis silindris bersilia degan
sel goblet dekat farings. Dinding tuba biasanya kolaps,tetapi selama proses menelan
dinding tuba akan terpisah dan udara masuk ke rongga telinga tengah sehingga tekanan
udara pada kedua sisi membran timpani seimbang dengan tekanan atmosfer. Tuba
auditiva meluas dari dinding anterior cavum timpani ke bawah,depan,dan medial
sampai ke nasophaynx. Sepertiga posteriornya adalah tulang,dan dua pertiga
anteriornya dalah tulang rawan. Berhubungan dengan nasopharinx setelah berjalan

12
diatas tepi atas m. constrictor pharynges superior. Tuba auditiva berfungsi untuk
membuat seimbang tekanan udara dalam cavum timpani dengan nasopharing.

d. Prosesus Mastoideus
Tulang mastoid adalah tulang keras yang terletak di belakang telinga,
didalamnya terdapat rongga seperti sarang lebah yang berisi udara. Rongga-rongga
udara ini ( air cells ) terhubung dengan rongga besar yang disebut antrum mastoid.
Kegunaan air cells ini adalah sebagai udara cadangan yang membantu pergerakan
normal dari gendang telinga, namun demikian hubungannnya dengan rongga telinga
tengah juga bisa mengakibatkan perluasan infeksi dari telinga tengah ke tulang mastoid
yang disebut sebagai mastoiditis. Rongga mastoid berbentuk seperti bersisi tiga dengan
puncak mengarah ke kaudal. Atap mastoid adalah fosa kranii media. Dinding medial
adalah dinding lateral fosa kranii posterior. Sinus sigmoid terletak dibawah duramater
pada daerah ini. Pneumatisasi prosesus mastoideus ini dapat dibagi atas :
- Prosesus Mastoideus Kompakta (sklerotik), dimana tidak ditemui sel-sel.
- Prosesus Mastoideus Spongiosa, dimana terdapat sel-sel kecil saja.
- Prosesus Mastoideus dengan pneumatisasi yang luas, berisi sel-sel besar.

e. Antrum Mastoid
Merupaka ruangan didalam os temporal yang dilapisi mukosa dgn epitel
squamous simplex danmerupakan lanjutan dari cavum timpani. Antrum melanjut ke
cavum timpani melalui aditus ad antrum . Atap antrum mastoid adalah tegmen timpani
(berbatasan dengan fossa kranii media, bagian medialnya Canalis semisirkularis
lateralis dan posterior. Pertemuan antara tegmen dan sinus lateralis disebut sinodural
angle. Dasar antrum berbatasan dengan canalis falopii pars horisontalis. 1,2,3

II.1.3 Telinga Dalam


Telinga dalam berfungsi menerima getaran bunyi yang dihantarkan oleh
telinga tengah. Telinga dalam atau labirin terdiri atas dua bagian yaitu labirin tulang
dan labirin selaput. Dalam labirin tulang terdapat vestibulum, kanalis semisirkularis
dan koklea. Di dalam koklea inilah terdapat organ Corti yang berfungsi untuk
mengubah getaran mekanik gelombang bunyi menjadi impuls listrik yang akan
dihantarkan ke pusat pendengaran.5
Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah
lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semi-sirkularis. Ujung atau

13
puncak koklea disebut helikotrema, menghubungkan skala timpani dengan skala
vestibuli.3
Kanalis semisirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan
membentuk lingkaran yang tidak lengkap. Koklea atau rumah siput merupakan
saluran spiral dua setengah lingkaran yang menyerupai rumah siput.5 Koklea terbagi
atas tiga bagian yaitu:
1. Skala vestibuli terletak di bagian dorsal
2. Skala media terletak di bagian tengah
3. Skala timpani terletak di bagian ventral
Skala vestibuli dan skala timpani berisi perilimfe, sedangkan skala media
berisi endolimfe. Ion dan garam yang terdapat di perilimfe berbeda dengan
endolimfe. Hal ini penting untuk proses pendengaran.6,7 Antara skala satu dengan
skala yang lain dipisahkan oleh suatu membran. Ada tiga membran yaitu:
1. Membran vestibuli, memisahkan skala vestibuli dan skala media.
2. Membran tektoria, memisahkan skala media dan skala timpani.
3. Membran basilaris, memisahkan skala timpani dan skala vestibuli.
Pada membran membran basalis ini terletak organ Corti dan pada membran
basal melekat sel rambut yang terdiri dari sel rambut dalam, sel rambut luar dan
kanalis Corti, yang membentuk organ Corti.6

14
Gambar 6. Penampang koklea (gambar a) dan susunan organ Corti (gambar b)

II.2 FISIOLOGI PENDENGARAN


Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun
telinga dalam bentuk gelombang yang dihantarkan melalui udara atau tulang ke
koklea. Getaran tersebut menggetarkan membran timpani dan diteruskan ke telinga
tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan memperkuat getaran
melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran
timpani dan foramen ovale. Energi getar yang teiah diperkuat ini akan diteruskan
ke stapes yang menggerakkan foramen ovale sehingga cairan perilimfe pada skala
vestibuli bergerak.3
Getaran akibat getaran perilimfe diteruskan melalui membran Reissner yang
akan mendorong endolimfe, sehingga akan terjadi gerak relatif antara membran
basilaris dan membran tektoria. Proses ini merupakan rangsang mekanik yang
menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion
terbuka dan terjadi penglepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini
menimbulkan proses depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmiter
ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu

15
dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran (area 39 - 40) di
lobus temporalis.3

II.3 MASTOIDITIS
II.3.1 Definisi
Mastoiditis merupakan peradangan yang mengenai rongga mastoid dan
komplikasi dari otitis media. Lapisan epitel dari telinga tengah adalah sambungan
dari lapisan epitel sel-sel mastoid udara (mastoid air cells) yang melekat ditulang
temporal. Mastoiditis adalah penyakit sekunder dari otitis media yang tidak dirawat
atau perawatannya tidak adekuat. Mastoiditis dapat terjadi secara akut maupun
kronis. Pada saat belum ditemukannya antibiotik, mastoiditis merupakan penyebab
kematian pada anak-anak serta ketulian/hilangnya pendengaran pada orang dewasa.
Saat ini, terapi antibiotik ditujukan untuk pengobatan infeksi telinga tengah
sebelum berkembang menjadi mastoiditis.

II.3.2 Etiologi
Otitis media akut merupakan penyebab utama terjadinya mastoiditis,
khususnya pada anak dan balita. Berbagai jenis bakteri yang menyebabkan infeksi
tersebut adalah Streptococcus (utamanya yang group A hemolytic Streptococcus,
streptococcus pneumonia dan streptococcus Aureus) dan Haemophylus Influenza,
menyebabkan 65%-85% kasus dari keseluruhan mastoiditis akibat infeksi bakteri.
Selain itu, mastoiditis juga bisa disebabkan oleh:
- Cholesteatoma
- Tertutupnya saluran penghubung mastoid air cells (aditus ad antrum)
Faktor resiko mastoiditis :
- Cholesteatoma
- Otitis Media Akut (OMA) berulang
- Gangguan sistem imun

II.3.3 Klasifikasi
Mastoiditis dapat diklasifikasikan menjadi:
a. Acute mastoiditis: biasa terjadi pada anak-anak, sebagai komplikasi dari
otitis media akut supuratif

16
b. Chronic mastoiditis: biasanya berkaitan dengan kolesteatom dan penyakit
telinga kronis
c. Incipient mastoiditis: inflamasi yang terjadi akibat langsung di bagian
mastoid.
d. Coalescent mastoiditis: inflamasi yang terjadi akibat komplikasi dari infeksi
di organ tubuh yang lain.

II.3.4 Patofisiologi
Infeksi telinga tengah (Otitis Media)

Faktor Host : Faktor Mikroba :


 Umur < 2 tahun  Kemampuan pathogen bakteri

 Sistem Imun ↓  Lapisan pelindung bakteri

 Hygiene buruk

 Gizi buruk

OM menjadi parah atau tidak tertangani secara adekuat

Bakteri menyebar melalui mukosa antrum mastoid

Gangguan aliran secret dari aditus ad antrum ke epitimpanum

Penumpukan secret di antrum

Emfiema dan infeksi pada sel-sel mastoid

Mastoiditis

17
II.3.5 Gejala & Tanda
Beberapa gejala yang dapat ditemukan pada pasien mastoiditis ialah sebagai
berikut:
- Telinga keluar cairan (otorea) selama lebih dari tiga minggu, hal ini
menandakan bahwa pada infeksi telinga tengah sudah melibatkan organ
mastoid
- Demam
- Nyeri di bagian belakang auricular dan meningkat pada malam hari (tampak
bengkak dan hiperemis). Nyeri cenderung menetap dan berdenyut.
- Penurunan pendengaran
- Kemerahan dan nyeri pada komplek mastoid

II.3.6 Diagnosis
Dasar diagnosis dari mastoiditis selain dari anamnesis dan pemeriksaan fisik
yang menunjukkan gejala seperti di atas, maka dapat dilakukan pemeriksaan
penunjang seperti:
- Pemeriksaan darah rutin: Terjadi peningkatan limfosit, leukosit yang
mengindikasikan adanya infeksi bakteri.
- Kultur bakteri dan sensitifitas tes dari cairan purulen yang keluar dari telinga
(tympanosintesis dan miringotomi cairan): Cairan harus berasal dari telinga
tengah dan bukan dari canal telinga. Berfungsi untuk menentukan jenis
bakteri penyebab infeksi dan antibiotik yang tepat untuk terapinya.
- Pemeriksaan radiologi foto mastoid: Air cellulae mastoidea akan tampak
menghilang tertutup oleh opasitas.
- CT Scan: Sensitifitas mencapai 87%. Bukti yang menunjukkan adanya
mastoiditis adalah gambaran kekaburan (kesuraman) dari sel udara mastoid
(cloud air-cell loss).

II.3.7 Terapi
a. Miringotomi
Tindakan yang harus secepatnya dilakukan pada kasus otitis media akut,
karena bertujuan untuk mencegah terjadinya penyebaran proses infeksi ke
bagian lain.

18
b. Medikamentosa
- Antibiotik: Diawali dengan pemberian suntikan (intravena) antibiotik,
selama 24-48 jam, dilanjutkan dengan antibiotik per-oral, minimal selama
2 minggu. Antibiotik yang diberikan berdasarkan hasil kultur dan
sensitifitas. Jika pemberian antibiotik tidak berhasil, maka dilakukan
mastoidektomi. Antibiotik yang sering dipakai adalah cephalosporin karena
efektif dan efisien dalam penggunaannya serta merupakan antibiotik
sprektum luas untuk bakteri gram negatif.
- Obat-obat simptomatik; seperti analgesik, misalnya asam mefenamat dan
antipiretik, contohnya paracetamol untuk mengatasi gajala pasien.
c. Mastoidektomi
Tindakan pembedahan untuk membuang jaringan yang terinfeksi
diperlukan jika tidak ada respon terhadap pengobatan antibiotik selama
beberapa hari. Mastoidektomi radikal/total yang sederhana atau yang
dimodifikasi dengan tympanoplasty dilaksanakan untuk memulihkan
ossicles dan membran timpani sebagai suatu usaha untuk memulihkan
pendengaran. Tujuan mastoidektomi selain untuk memperbaiki
pendengaran pasien, adalah untuk menghilangkan jaringan infeksi,
menciptakan telinga yang kering dan aman. Pada mastoidektomi seluruh
jaringan yang terinfeksi harus dibuang sehingga infeksi tidak menyebar ke
sruktur atau bagian yang lain. Indikasi dilakukannya mastoidektomi adalah:
- Terdapat gangguan pendengaran derajat sedang
- Terdapat jaringan-jaringan yang irreversibel, misalnya jaringan
granulasi, kolesteatom.
- Kerusakan selulae ≥ 50%
- Ditemukannya bakteri pseudomonas pada pemeriksaan laboratorium.
Beberapa komplikasi mastoidektomi dapat timbul bila ada bagian yang
terinfeksi belum dibuang semuanya atau ketika ada kontaminasi dari
struktur atau bagian lain diluar mastoid dan telinga tengah.

19
II.3.8 Komplikasi
Komplikasi terjadi akibat adanya migrasi agen penginfeksi dari rongga
mastoid menuju jaringan tulang atau aliran darah di sekitarnya. Komplikasi tersebut
adalah:
- Ke bagian periosteum dari tulang temporal menyebabkan subperiosteal
abscess
- Meluas ke bagian posterior menyebabkan septic thrombosis di sinus lateral
- Menyerang ke bagian ujung mastoid (tip of mastoid) menyebabkan deep
neck abscess
- Komplikasi ke sistem saraf terjadi kerusakan di saraf abducens dan saraf-
syaraf kranial wajah (saraf-saraf kranial VI dan VII), menurunnya
kemampuan pasien untuk melihat ke arah samping atau lateral (saraf kranial
VI) dan menyebabkan mulut mencong, seolah-olah ke samping (saraf
kranial VII).

20
DAFTAR PUSTAKA

1. Soetirto I, Hendarmin H, Bashiruddin J. Gangguan Pendengaran (Tuli). In:


Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD, editors. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala dan Leher. 7th ed. Jakarta:
Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2017.
2. Hafil AF, Sosialisman dan Helmi. Kelainan Telinga Luar. In: Soepardi EA,
Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD, editors. Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorokan Kepala dan Leher. 7th ed. Jakarta: Badan
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2017.
3. Moller AR. Hearing: Anatomy, Physiology, and Disorders of the Auditory
System. Burlington: Elsevier Science, 2006.
4. Fox S. Human Physiology. 12 th Ed. New York: McGraw-Hill Education, 2011.
5. Guyton AC, Hall JE. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Penterjemah:
Irawati, Ramadani D, Indriyani F. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC,
2006.\
6. Alsagaff H., Saleh T., 2003. Diagnosis dan Terapi Penyakit Telinga Hidung dan
Tenggorok. Surabaya: Airlangga University Press
7. Higler, P., Adams, B., 1997. Boeis Buku ajar Penyakit THT. Ed: 6. Jakarta:
EGC
8. Soepardi, E, dkk. 2003. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok
Kepala dan Leher. Ed: 6. Jakarta: FK UI
9. Young T, 2005 Mastoiditis Article, Staff Physician, Departement of
Emmergency Medicine, Jacobi Medical Center, www.emedicine.com

21