You are on page 1of 11

Laporan Pendahuluan

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT SISTEM PERNAFASAN


ASMA BRONKIALE

Oleh :
Asfan Aji Nugraha
J200140090

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN DIII


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2017

1. PENGERTIAN
Asma adalah kondisi jangka panjang yang mempengaruhi saluran napas-saluran kecil
yang mengalirkan udara masuk ke dan keluar dari paru-paru. Asma adalah penyakit inflamasi
(peradangan). Saluran napas penyandang asma biasanya menjadi merah dan meradang. Asma
sangat terkait dengan alergi. Alergi dapat memperparah asma. Namun demikian, tidak semua
penyandang asma mempunyai alergi, dan tidak semua orang yang mempunyai alergi
menyandang asma (Bull & Price, 2007).

2. ETIOLOGI
Sampai saat ini etiologi asma diketahui belum pasti , suatu hal yang menonjol pada
semua penderita asma adalah fenomena hipereaktivitas bronkus . bronkus penderita asma sangat
peka tehadap rangsangan imonologi maupun nonimumologi. Oleh karena sifat inilah, maka
serangan asma mudah terjadi ketika rangsangan baik fisik, metabolik, kimia, alergen, infeksi,
dan sebagainya. Penderita asma perlu mengetahui dan sedapat mungkin menghindari rangsangan
atau pencetus yang dapat menimbulkan asma.
Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut :
a) Genetik : Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana
cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga
dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah
terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan faktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas
saluran pernafasannya juga bisa diturunkan.
b) Alergen : Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
1) Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan
Contoh : debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan
polusi
2) Ingestan, yang masuk melalui mulut
Contoh : makanan dan obat-obatan
3) Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit
Contoh : perhiasan, logam dan jam tangan

c) Perubahan cuaca : Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi
asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma.
Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan, musim kemarau.
d) Stress : Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa
memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul harus segera
diobati penderita asma yang mengalami stress/gangguan emosi perlu diberi nasehat untuk
menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya
belum bisa diobati.
e) Lingkungan kerja : Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal
ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium hewan,
industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti.
f) Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat : Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan
jika melakukan aktifitas jasmani atau olah raga yang berat. Lari cepat paling mudah
menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah
selesai aktifitas tersebut.

3. PATOFISIOLOGI
Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot-otot polos bronkiolus yang
menyebabkan yang menyebabkan sukar bernafas . penyebab yang umum adalah hipersensitivitas
bronkiolus terhadap benda-benda asing diudara. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergididuga
dterjadi dengan cara

4. TANDA DAN GEJALA


a) Tiga gejala umum asma terdiri atas :
1) Dispnea (sesak nafas), terjadi karena pelepasan histamine dan leukotrien yang menyebabkan
kontraksi otot polos sehingga saluran nafas menjadi sempit.
2) Batuk, adalah reaksi tubuh untuk mengeluarkan hasil dari inflamasi atau benda asing yang
masuk ke saluran nafas.
3) Mengi (bengek), suara nafas tambahan yang terjadi akibat penyempitan bronkus.
b) Gambaran klinis pasien yang menderita asma
1) Gambaran objektif :
a. Sesak nafas parah dengan ekspirasi memanjang disertai wheezing.
b. Dapat disertai dengan sputum kental dan sulit dikeluarkan.
c. Bernafas dengan menggunakan otot-otot nafas tambahan.
d. Sianosis, takikardia, gelisah dan pulsus paradoksus.
e. Fase ekspirasi memanjang dengan disertai wheezing (di afek dan hilus)
2) Gambaran subjektif adalah pasien mengeluhkan sukar bernafas, sesak dan anoreksia.
3) Gambaran psikososial adalah cemas, takut, mudah tersinggung dan kurang pengetahuan pasien
terhadap situasi penyakitnya.

5. PEMERIKSAAN PENUNJANG
I.Pemeriksaan radiologi : Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada waktu
serangan menunjukkan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah
dan peleburan rongga intercostalis, serta diafragma yang menurun. Akan tetapi bila terdapat
komplikasi, maka kelainan yang didapat adalah sebagai berikut:
· Bila disertai dengan bronkhitis, maka bercak-bercak di hilus akan bertambah
· Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran radiolusen akan semakin
bertambah.
· Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrat pada paru
· Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis local
· Bila terjadi pneumonia mediastinum, pneutoraks, dan pneumoperikardium, maka dapat
dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru.
II.Pemeriksaan tes kulit : Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang
dapat menimbulkan reaksi yang positif pada asma.
III Elektrokardiografi (EKG) : Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan
dapat dibagi menjadi 3 bagian dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada empisema
paru, yaitu:
a) Perubahan aksis jantung, pada umumnya terjadi right axis deviasi dan clock wise rotation
b) Terdapat tanda-tanda hipertropi otot jantung, yakni terdapatnya RBB (Right Bundle branch
Block)
c) Tanda-tanda hipoksemia, yaitu terdapatnya sinus takikardia, SVES, dan VES atau terjadinya
depresi segmen ST negatif.
IV Scanning Paru : Dapat diketahui bahwa redistribusi udara selama serangan asma tidak
menyeluruh pada paru-paru.
V Spirometri : Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan napas reversibel. Pemeriksaan
spirometri tdak saja penting untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat
obstruksi dan efek pengobatan.

6. PENANGANAN PENATALAKSAAN PRE DAN INTRA HOSPITAL


Menurut junaidi (2011) ,tindakan pertolongan yang dapat diberikan pada penderita asma antara
lain:
a. pengobatan serangan asma akaut harus di lakukan secepat dan sedini mungkin, demi mencegah
kesesekan nafas yang lebih berat.segeralah berikan obat yang dapat menghilangkan serangan
sesak napas, seperti golongan obat yang melebarkan pipa saluran napas (bronkodilator).
b. obat yang dapat melebarkan pipa saluran nafas ini dapat di gunakan dalam bentuk hirupan. Obat
yang sering digunakan adalah obat golongan agonis beta dua. Melalui hirupan obat ini akan
langsung bekerja dipipa saluran nafas, jadi manfaatnya sudah dapat dirasakan dalam 5 -10 menit.
c. Selain itu, karena obat ini bekerja lokal ,tidak harus masuk dulu dalam pereddaran darah maka
efek sampingnya ringan.
d. Bila dengan cara tersebut serangan sesak tetap ada maka dapat ditambahkan obat golongan
steroid (prednison). Obat ini akan memperkuat kerja obat agonis beta dua sehingga biasanya
serangan biasanya serangan asma akan mereda.
e. Namun,bila stelah menggunakan kedua obat ini pun serangan masih terjadi sebaiknya penderita
segera dibawa ke unit gawat darurat terdekat.
f. Setelah diberikan obat, penderita perlu dipantau beberapa waktu lamanya untuk menilai hasil
pengobatan. Jika respon pengobatan baik penderita dapat dipulangkan dan beri penjelasan
tentang obat-obat yang harus digunakan dirumah.
Pengobatan asthma secara garis besar dibagi dalam pengobatan non farmakologik dan
pengobatan farmakologik.
1. Pengobatan non farmakologik
a) Penyuluhan: Penyuluhan ini ditujukan pada peningkatan pengetahuan klien tentang
penyakit asthma sehinggan klien secara sadar menghindari faktor-faktor pencetus, serta
menggunakan obat secara benar dan berkonsoltasi pada tim kesehatan.
b) Menghindari faktor pencetus: Klien perlu dibantu mengidentifikasi pencetus serangan
asthma yang ada pada lingkungannya, serta diajarkan cara menghindari dan mengurangi faktor
pencetus, termasuk pemasukan cairan yang cukup bagi klien.
c) Fisioterapi: Fisioterpi dapat digunakan untuk mempermudah pengeluaran mukus. Ini
dapat dilakukan dengan drainage postural, perkusi dan fibrasi dada.
2. Pengobatan farmakologik
a) Agonis beta: Bentuk aerosol bekerja sangat cepat diberika 3-4 kali semprot dan jarak
antara semprotan pertama dan kedua adalan 10 menit. Yang termasuk obat ini adalah
metaproterenol ( Alupent, metrapel ).
b) Metil Xantin: Golongan metil xantin adalan aminophilin dan teopilin, obat ini
diberikan bila golongan beta agonis tidak memberikan hasil yang memuaskan. Pada orang dewasa
diberikan 125-200 mg empatkali sehari.
c) Kortikosteroid: Jika agonis beta dan metil xantin tidak memberikan respon yang baik,
harus diberikan kortikosteroid. Steroid dalam bentuk aerosol (beclometason dipropinate) dengan
disis 800 empat kali semprot tiap hari. Karena pemberian steroid yang lama mempunyai efek
samping maka yang mendapat steroid jangka lama harus diawasi dengan ketat.
d) Kromolin: Kromolin merupakan obat pencegah asthma, khususnya anak-anak .
Dosisnya berkisar 1-2 kapsul empat kali sehari.
e) Ketotifen: Efek kerja sama dengan kromolin dengan dosis 2 x 1 mg perhari.
Keuntunganya dapat diberikan secara oral.
f) Iprutropioum bromide (Atroven): Atroven adalah antikolenergik, diberikan dalam
bentuk aerosol dan bersifat bronkodilator.

3. Pengobatan selama serangan status asthmatikus


a) Infus RL : D5 = 3 : 1 tiap 24 jam
b) Pemberian oksigen 4 liter/menit melalui nasal kanul
c) Aminophilin bolus 5 mg / kg bb diberikan pelan-pelan selama 20 menit dilanjutka
drip Rlatau D5 mentenence (20 tetes/menit) dengan dosis 20 mg/kg bb/24 jam.
d) Terbutalin 0,25 mg/6 jam secara sub kutan.
e) Dexamatason 10-20 mg/6jam secara intra vena.
f) Antibiotik spektrum luas
7. PATHWAY

8. ASUHAN KEPERAWATAN
. Pengkajian Primer
- Airway
Batuk kering/tidak produktif, wheezing yang nyaring, penggunaan otot –otot aksesoris
pernapasan ( retraksi otot interkosta)
- Breathing
Perpanjangan ekspirasi dan perpendekan periode inspirasi, dypsnea, takypnea, taktil fremitus
menurun pada palpasi, suara tambahan ronkhi, hiperresonan pada perkusi
- Circulation
Hipotensi, diaforesis, sianosis, gelisah, fatique, perubahan tingkat kesadaran, pulsus paradoxus >
10 mm
B. Pengkajian Sekunder
- Riwayat penyakit sekarang
Lama menderita asma, hal yang menimbulkan serangan, obat yang pakai tiap hari dan
saat serangan
- Riwayat penyakit sebelumnya
Riwayat alergi, batuk pilek, menderita penyakit infeksi saluran nafas bagian atas
- Riwayat perawatan keluarga
Adakah riwayat penyakit asma pada keluarga
- Riwayat sosial ekonomi
Lingkungan tempat tinggal dan bekerja, jenis pekerjaan, jenis makanan yang berhubungan
dengan alergen, hewan piaraan yang dimiliki, dan tingkat stressor.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b. d bronkospasme dan sekresi kental berlebihan
Tujuan: pasien mempertahankan jalan nafas paten
KriteriaHasil :
- Bunyi nafas bersih
- Kecepatan dan kedalaman pernafasan normal
- Tak ada dispnea
Intervensi:
- Kaji sputum terhadap warna, kekentalan dan jumlah
- Ausultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas tambahan misalnya: mengi, krekels, dan
ronchi
- Kaji kualitas dan kecepatan pernafasan
- Kaji frekuensi dispnea: gelisah, ansietas distress pernapasan, penggunan otot bantu
- Beri klien posisi pada ketinggian yang nyaman dan mengoptimalkan pernafasan : tinggikan
kepala tempat tidur 60 – 90 derajat, sokong punggung dengan bantal
- Berikan oksigen aliran rendah dengan kateter sesuai pesanan
- Pertahankan/ bantu batuk efektif dan bantu untuk fisioterapi dada
- Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hari dan berikan air hangat
- Berikan obat : epinefrin, aminofilin, antihistamin, ekspektoran, kortikosteroid adrenal
- Nebulisasi isoproterenol atau kromolin

b. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru selama serangan
akut
Tujuan: pasien mempertahankan pola nafas efektif
Kriteria hasil:
- Sesak berkurang atau hilang, RR 18-24x/menit
- Frekuensi, irama dan kedalaman pernafasan
- Tidak ada retraksi otot pernapasan
Intervensi:
- Kaji tanda dan gejala ketidakefektifan pernapasan : dispnea, penggunaan otot-otot
pernapasan
- Pantau tanda- tanda vital dan gas- gas darah arteri
- Baringkan pasien dalam posisi fowler tinggi untuk memaksimalkan ekspansi dada
- Berikan terapi oksigen sesuai pesanan
- Pertahankan patensi jalan nafas
- Berikan obat sesuai pesanan

c. Cemas b.d krisis situasi, kesulitan bernafas, takut serangan ulang


Tujuan : rasa cemas klien menjadi berkurang sampai hilang
KH:
- Klien tampak rileks
- Mengungkapkan perasaan cemas berkurang
- Tanda – tanda vital normal
Intervensi;
- Kaji tingkat kecemasan klien (ringan, sedang, berat)
- Ukur tanda-tanda vital
- Berikan dukungan emosional
- Implementasikan teknik relaksasi : petunjuk imajinasi, relaksasi otot
- Jelaskan informasi yang diperlukan klien tentang penyakitnya, perawatan dan
pengobatannya
- Ajarkan klien tehnik relaksasi (memejamkan mata, menarik nafas panjang)
- Menganjurkan klien untuk istirahat

9. DAFTAR PUSTAKA
Bull, Eleanor & David Price. (2007). Simple Guide Asma. Jakarta: Penerbit Erlangga
Musliha.(2010).keperawatan gawat darurat.yogyakarta: nuha medika
Junaidi,iskandar.(2010).pedoman pertolongan pertama yang harus dilakukan saat gawat
&darurat medis. Yogyakarta:cv andi offset
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima
Medika