You are on page 1of 20

PENDAHULUAN

Penyakit Demam Tifoid (bahasa Inggris: Typhoid fever) yang biasa juga disebut typhus
atau types dalam bahasa Indonesianya, merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri
Salmonella enterica, khususnya turunannya yaitu Salmonella Typhi terutama menyerang
bagian saluran pencernaan. Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang selalu ada di
masyarakat (endemik) di Indonesia, mulai dari usia balita, anak-anak dan dewasa. Besarnya
angka pasti kasus demam tifoid di dunia sangat sulit ditentukan karena penyakit ini dikenal
mempunyai gejala dengan spektrum klinis yang sangat luas. Memperkirakan terdapat sekitar
17 juta kasus demam tifoid di seluruh dunia dengan insidensi 600.000 kasus kematian tiap
tahun. Di negara berkembang, kasus demam tifoid dilaporkan sebagai penyakit endemis
dimana 95% merupakan kasus rawat jalan sehingga insidensi yang sebenarnya adalah 15-25
kali lebih besar dari laporan rawat inap di rumah sakit. Di Indonesia demam tifoid dapat
ditemukan pada semua umur, tetapi yang paling sering pada anak besar,umur 5- 9 tahun.
Sehingga masih diperlukan adanya pengkajian mengenai demam tifoid. (WHO 2005).

TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi

Demam tifoid atau typhus abdominalis merupakan penyakit infeksi sistemik


terutama mengenai sistem retikuloendotelial, jaringan limfoid intestinal, dan kantung
empedu, yang disebabkan oleh kuman basil gram negatif Salmonella typhi maupun
Salmonella paratyphi. Demam tifoid adalah infeksi akut pada saluran pencernaan yang
disebabkan oleh Salmonella typhi (Widoyo, 2008).

Demam tifoid merupakan penyakit endemik di Indonesia. Demam tifoid adalah


penyakit demam sistemik akut generalisata yang disebabkan oleh Salmonella typhi,
biasanya menyebar melalui ingesti makanan dan air yang terkontaminasi, ditandai dengan
bakteremia berkepanjangan serta invasi oleh patogen dan multifikasinya dalam sel-sel
fagosit mononuklear pada hati, limpa, kelenjar getah bening, dan plak Peyeri di ileum
(Sudoyo, dkk. 2006).

B. Etiologi dan predisposisi

Salmonella typhi sama dengan Salmonella yang lain adalah bakteri Gram negatif,

mempunyai flagella, tidak berkapsul, tidak membentuk spora, fakultatif anaerob. Mempunyai

antigen somatic (O) yang terdiri dari oligosakarida, flagelar antigen (H) yang terdiri dari

protein dan envelope antigen (K) yang terdiri dari polisakarida. Mempunyai makromolekuler

lipopolisakarida kompleks yang membentuk lapis luar dari dinding sel dan dinamakan

endotoksin. Salmonella typhi juga dapat memperoleh plasmid faktor-R yang berkaitan dengan

resistensi terhadap multipel antibiotik. Bakteri Salmonella typhi mempunyai beberapa

komponen antigen yaitu : (Rampengan, 2008)

1. Antigen dinding sel (o) merupakan polisakarida dan bersifat spesifik grup
2. Antigen flagella (H) yg merupakan kompnen protein berada dlm flagella,bersifat spesifik
spesies.
3. Antigen virulen (Vi) merupakan polisakarida,berada di kapsul.Berhubungan dengan
daya invasif bakteri dan efektifitas vaksin. Endotoksin merupakan bagian terluar dinding
sel terdiri dari :
a. antigen O yg sdh dilepaskan
b. lipopolisakarida
c. lipid A.

Ke tiga antigen tadi di tubuh akan membentuk antibodi aglutinin.

4. Outer Membran Protein :


a. Antigen ini merupakan bagian dari dinding sel terluar
b. Fungsinya sebagai barier fisik yg mengendalikan masuknya zat dan cairan ke dlm
membran sitoplasma
c. Sebagai reseptor untuk bakteriofag & bakteriosid

C. Patofisiologi

Masuknya kuman Salmonella typhi (S. Typhi) dan Salmonella paratyphi (S.
Paratyphi) ke dalam tubuh manusia terjadi melalui makanan yang terkontaminasi kuman.
Sebagian kuman dimusnahkan dalam lambung, sebagian lolos masuk ke dalam usus dan
selanjutnya berkembang biak. Bila respon imunitas humoral mukosa (Ig A) usus kurang
baik maka kuman akan menembus sel-sel epitel (terutama sel-M) dan selanjutnya ke lamina
propia. Di lamina propia kuman berkembang biak dan difagosit oleh sel-sel fagosit terutama
oleh makrofag. Kuman dapat hidup dan berkembang biak di dalam makrofag dan
selanjutnya dibawa ke plague Peyeri ileum distal dan kemudian ke kelenjar getah bening
mesenterika. Selanjutnya melalui duktus torasikus kuman yang terdapat di dalam makrofag
ini masuk ke dalam sirkulasi darah (mengakibatkan bakteriemia pertama yang simtomatik)
dan menyebar ke seluruh organ retikuloendotelial tubuh terutama hati dan limpa. Di organ-
organ ini, kuman meninggalkan sel-sel fagosit dan kemudian berkembang biak di luar sel
atau ruang sinusoid dan selanjutnya masuk ke dalam sirkulasi darah lagi mengakibatkan
bakteriemia yang kedua kalinya dengan disertai tanda-tanda dan gejala penyakit infeksi
sistemik (Astuti, 2013).
Di dalam hati, kuman masuk ke dalam kandung empedu, berkembang biak, dan
bersama cairan empedu diekskresikan secara intermittent ke dalam lumen usus. Sebagian
kuman dikeluarkan melaui feses dan sebagian masuk lagi ke dalam sirkulasi setelah
menembus usus. Proses yang sama terulang kembali, berhubung makrofag telah teraktivasi
dan hiperaktif maka saat fagositosis kuman Salmonella terjadi pelepasan beberapa mediator
inflamasi yang selanjutnya akan menimbulkan gejala reaksi inflamasi sistemik seperti
demam, malaise, mialgia, sakit kepala, sakit perut, instabilitas vascular, gangguan mental,
dan koagulasi (Widodo, 2006).
Di dalam plague peyeri makrofag hiperaktif menimbulkan reaksi hyperplasia jaringan
(S. typhi intra makrofag menginduksi reaksi hipersensitivitas tipe lambat, hyperplasia
jaringan, dan nekrosis organ). Perdarahan saluran cerna dapat terjadi akibat erosi pembuluh
darah sekitar plague Peyeri yang sedang mengalami nekrosis dan hyperplasia akibat
akumulasi sel-sel mononuclear di dinding usus. Proses patologi jaringan limfoid ini dapat
berkembang hingga ke lapisan otot, serosa usus, dan dapat mengakibatkan perforasi
(Widodo, 2006).
Endotoksin dapat menempel di reseptor sel endotel kapiler dengan akibat timbulnya
komplikasi seperti gangguan neuropsikiatrik, kardiovaskular, pernapasan, dan gangguan
organ lainnya (Widodo, 2006).

D. Faktor Resiko

Faktor penyebab typhoid menurut Potter & Perry (2005) adalah pola makan, kebersihan

makanan, hygiene sanitasi (kualitas sumber air dan kebersihan jamban), tingkat pengetahuan

hygien perorangan (perilaku cuci tangan dan kebersihan badan), pengobatan yang belum tuntas

(Soegianto, 2006).

a. Kebersihan Makanan

Hygiene adalah ilmu yang berhubungan dengan masalah kesehatan, serta berbagai

usaha untuk mempertahankan atau untuk memperbaiki kesehatan.WHO telah menetapkan

sepuluh aturan tersebut jika diperlukan harus disesuaikan dengan kondisi setempat yakni:

(Soegianto, 2006).

1. Pilih makanan yang diolah untuk keamanan.

2. Masak makanan dengan teliti.

3. Simpan makanan matang dengan hati-hati.

4. Panaskan kembali makanan matang dengan benar.

5. Hindari kontak makanan mentah dengan makanan matang.

6. Cuci tangan dengan benar sebelum menyiapkan makanan


7. Jaga kebersihan dapur.

8. Lindungi makanan dari serangga, binatang pengerat dan binatang lain.

9. Gunakan air yang aman.

b. Hyginie Sanitasi

Hyginie adalah suatu usaha kesehatan masyarakat yang mempelajari mengenai pengaruh

kondisi lingkungan terhadap kesehatan manusia, upaya mencegah timbulnya penyakit karena

pengaruh lingkungan kesehatan serta membuat kondisi lingkungan sedemikian rupa sehingga

terjamin pemeliharaan kesehatan. Termasuk upaya melindungi, memelihara, dan

mempertinggi derajat kesehatan manusia (perorangan atau masyarakat), sedemikian rupa

sehingga berbagai faktor lingkungan yang menguntungkan tersebut tidak sampai menimbulkan

gangguan kesehatan (Azwar, 2005).

Sanitasi adala usaha kesehatan masyarakat yang menitik berat pada pengawasan terhadap

berbagai faktor yang mempengaruhi atau mungkin mempengaruhi derajat kesehatan manusia.

Lebih mengutamakan usaha pencegahan terhadap berbagai faktor lingkungan (Azwar, 2005).

Faktor-faktor yang Mempengaruhi (Determinan)

a. Faktor Host

Manusia adalah sebagai reservoir bagi kuman Salmonella thypi. Terjadinya penularan

Salmonella thypi sebagian besar melalui makanan/minuman yang tercemar oleh kuman yang

berasal dari penderita atau carrier yang biasanya keluar bersama dengan tinja atau urine. Dapat

juga terjadi trasmisi transplasental dari seorang ibu hamil yang berada dalam bakterimia kepada

bayinya. Penelitian yang dilakukan oleh Heru Laksono (2009) dengan desain case control ,

mengatakan bahwa kebiasaan jajan di luar mempunyai resiko terkena penyakit demam tifoid

pada anak 3,6 kali lebih besar dibandingkan dengan kebiasaan tidak jajan diluar (OR=3,65)

dan anak yang mempunyai kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum makan beresiko terkena
penyakit demam tifoid 2,7 lebih besar dibandingkan dengan kebiasaan mencuci tangan

sebelum makan (OR=2,7) (Heru Laksono 2009).

b. Faktor Agent

Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella thypi. Jumlah kuman yang dapat

menimbulkan infeksi adalah sebanyak 105 – 109 kuman yang tertelan melalui makanan dan

minuman yang terkontaminasi. Semakin besar jumlah Salmonella thypi yang tertelan, maka

semakin pendek masa inkubasi penyakit demam tifoid (Heru Laksono 2009).

c. Faktor Environment

Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang dijumpai secara luas di daerah tropis

terutama di daerah dengan kualitas sumber air yang tidak memadai dengan standar hygiene dan

sanitasi yang rendah. Beberapa hal yang mempercepat terjadinya penyebaran demam tifoid

adalah urbanisasi, kepadatan penduduk, sumber air minum dan standart hygiene industri

pengolahan makanan yang masih rendah (Heru Laksono 2009).

Berdasarkan hasil penelitian Lubis, R. di RSUD. Dr. Soetomo (2000) dengan desain

case control , mengatakan bahwa higiene perorangan yang kurang, mempunyai resiko terkena

penyakit demam tifoid 20,8 kali lebih besar dibandingkan dengan yang higiene perorangan

yang baik (OR=20,8) dan kualitas air minum yang tercemar berat coliform beresiko 6,4 kali

lebih besar terkena penyakit demam tifoid dibandingkan dengan yang kualitas air minumnya

tidak tercemar berat coliform (OR=6,4) (Lubis, R. di RSUD. Dr. Soetomo 2000).

2.4.2 Faktor Resiko Multi-Drug Resistant Thypoid Fever (MDR-TF)

Faktor risiko untuk pengembangan resistensi S. Typhi mencakup penggunaan

berlebihan, penyalahgunaan, dan ketidaksesuaian praktik resep antibiotik. Faktor seperti

tekanan pasien dan waktu dan diagnostik ketidakpastian adalah beberapa penyebab utama

selain sebab oleh peresepan yang irasional dari kombinasi antimikroba. Keadaan pasien yang
imunosupresif maupun malnutrisi dapat menyebabkan MDRTF, selain pengaruh daerah yang

sedang epidemik MDRTF (Zaki dan Karanda, 2013).

E. Penegakan Diagnosis

1. Anamnesis

Masa inkubasi demam tifoid berkisar antara 7-14 hari, namun dapat mencapai 3-

30 hari. Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala prodromal, yaitu perasaan

tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak bersemangat. Kemudian

menyusul gejala dan tanda klinis yang biasa ditemukan. Kemudian menyusul gejala

klinis yang biasa ditemukan, yaitu : (Zaki and Karande, 2013).

a. Demam
Pada kasus-kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu. Bersifat febris remiten
dan suhu tidak berapa tinggi. Selama minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur
meningkat setiap hari, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada
sore dan malam hari. Dalam minggu kedua, penderita terus berada dalam keadaan
demam. Dalam minggu ketiga suhu badan berangsur-angsur turun dan normal
kembali pada kahir minggu ketiga (Zaki and Karande, 2013).

b. Gangguan saluran pencernaan


Pada mulut terdapat nafas berbau tak sedap. Bibir kering dan pecah-pecah (ragaden).
Lidah ditutupi selaput putih kotor, ujung tepinya kemerahan, jarang disertai tremor.
Pada abdomen mungkin ditemukan keadaan perut kembung. Hati dan limfa
membesar disertai nyeri pada perabaan. Biasanya didapatkan konstipasi, akan tetapi
mungkin pula normal, bahkan dapat terjadi diare. (Zaki and Karande, 2013).

c. Gangguan kesadaran
Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak berapa dalam, yaitu apatis
sampai somnolen. Jarang terjadi sopor, koma dan gelisah. (Zaki and Karande,
2013).

2. Pemeriksaan Fisik
Periode inkubasi demam tifoid antara 5–40 hari dengan rata-rata antara 10–40 hari. Gejala

klinis demam tifoid sangat bervariasi, hal tersebut dapat terjadi disebabkan oleh faktor galur

Salmonella, status nutrisi dan imunologik penjamu, serta lama sakit di rumahnya. Penampilan

demam pada kasus demam tifoid mempunyai istilah khusus yaitu step-ladder temperature

chart yang ditandai dengan demam timbul insidius, kemudian naik secara bertahap tiap harinya

dan mencapai titik tertinggi pada akhir minggu pertama. Setelah itu demam akan bertahan

tinggi. Pada minggu ke-4, demam turun perlahan secara lisis. Demam lebih tinggi saat sore dan

malam hari dibandingkan dengan pagi harinya (Zaki and Karanda, 2013).

Pada minggu pertama, gejala klinisnya yaitu demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot,

anoreksia, mual, muntah, obstipasi/diare, perasaan tidak enak di perut, batuk, dan

epistaksis.Dalam minggu ke-2, gejala telah lebih jelas, yaitu berupa demam, bradikardia relatif

(peningkatan suhu 1oC tidak diikuti dengan peningkatan denyut nadi 8 kali per menit), lidah

yang berselaput, hepatomegali, splenomegali, meteroismus, ganguan mental berupa somnolen,

stupor, koma, delirium, dan psikosis. (Zaki and Karanda, 2013)

3. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium untuk membantu menegakkan diagnosis demam tifoid


dibagi dalam empat kelompok, yaitu (Prasetyo., Ismoedijanto, 2010) :
a. Pemeriksaan darah tepi
Pada penderita demam tifoid bisa didapatkan anemia, jumlah leukosit normal, bisa
menurun atau meningkat, mungkin didapatkan trombositopenia dan hitung jenis
biasanya normal atau sedikit bergeser ke kiri, mungkin didapatkan aneosinofilia dan
limfositosis relatif, terutama pada fase lanjut. Penelitian oleh beberapa ilmuwan
mendapatkan bahwa hitung jumlah dan jenis leukosit serta laju endap darah tidak
mempunyai nilai sensitivitas, spesifisitas dan nilai perkiraan yang cukup tinggi
untuk dipakai dalam membedakan antara penderita demam tifoid atau bukan, akan
tetapi adanya leukopenia dan limfositosis relatif menjadi dugaan kuat diagnosis
demam tifoid (Prasetyo., Ismoedijanto, 2010).
b. Identifikasi kuman melalui isolasi / biakan
Diagnosis pasti demam tifoid dapat ditegakkan bila ditemukan bakteri S. typhi
dalam biakan dari darah, urine, feses, sumsum tulang, cairan duodenum atau dari
rose spots. Berkaitan dengan patogenesis penyakit, maka bakteri lebih mudah
ditemukan dalam darah dan sumsum tulang pada awal penyakit, sedangkan pada
stadium berikutnya di dalam urin dan feses (Prasetyo., Ismoedijanto, 2010).
c. Identifikasi kuman melalui uji serologis
Uji serologis digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis demam tifoid
dengan mendeteksi antibodi spesifik terhadap komponen antigen S. typhi maupun
mendeteksi antigen itu sendiri. Volume darah yang diperlukan untuk uji serologis
ini adalah 1-3 mL yang diinokulasikan ke dalam tabung tanpa antikoagulan.. Metode
pemeriksaan serologis imunologis ini dikatakan mempunyai nilai penting dalam
proses diagnostik demam tifoid. Akan tetapi masih didapatkan adanya variasi yang
luas dalam sensitivitas dan spesifisitas pada deteksi antigen spesifik S. typhi oleh
karena tergantung pada jenis antigen, jenis spesimen yang diperiksa, teknik yang
dipakai untuk melacak antigen tersebut, jenis antibodi yang digunakan dalam uji
(poliklonal atau monoklonal) dan waktu pengambilan spesimen (stadium dini atau
lanjut dalam perjalanan penyakit) (Prasetyo., Ismoedijanto, 2010).
Berikut adalah macam-macam uji serologis yang dapat membantu menegakan
diagnosis demam tifoid :
1) Uji Widal
Uji Widal merupakan suatu metode serologi baku dan rutin digunakan sejak tahun
1896. Prinsip uji Widal adalah memeriksa reaksi antara antibodi aglutinin dalam
serum penderita yang telah mengalami pengenceran berbeda-beda terhadap antigen
somatik (O) dan flagela (H) yang ditambahkan dalam jumlah yang sama sehingga
terjadi aglutinasi. Pengenceran tertinggi yang masih menimbulkan aglutinasi
menunjukkan titer antibodi dalam serum. Teknik aglutinasi ini dapat dilakukan
dengan menggunakan uji hapusan (slide test) atau uji tabung (tube test). Uji
hapusan dapat dilakukan secara cepat dan digunakan dalam prosedur penapisan
sedangkan uji tabung membutuhkan teknik yang lebih rumit tetapi dapat digunakan
untuk konfirmasi hasil dari uji hapusan. Penelitian pada anak oleh Choo dkk (1990)
mendapatkan sensitivitas dan spesifisitas masing-masing sebesar 89% pada titer O
atau H >1/40 dengan nilai prediksi positif sebesar 34.2% dan nilai prediksi negatif
sebesar 99.2%.14 Beberapa penelitian pada kasus demam tifoid anak dengan hasil
biakan positif, ternyata hanya didapatkan sensitivitas uji Widal sebesar 64-74% dan
spesifisitas sebesar 76-83%. Interpretasi dari uji Widal ini harus memperhatikan
beberapa faktor antara lain sensitivitas, spesifisitas, stadium penyakit; faktor
penderita seperti status imunitas dan status gizi yang dapat mempengaruhi
pembentukan antibodi; gambaran imunologis dari masyarakat setempat (daerah
endemis atau non-endemis); faktor antigen; teknik serta reagen yang digunakan.
(Prasetyo., Ismoedijanto, 2010).
Kelemahan uji Widal yaitu rendahnya sensitivitas dan spesifisitas serta sulitnya
melakukan interpretasi hasil membatasi penggunaannya dalam penatalaksanaan
penderita demam tifoid akan tetapi hasil uji Widal yang positif akan memperkuat
dugaan pada tersangka penderita demam tifoid (penanda infeksi).3 Saat ini
walaupun telah digunakan secara luas di seluruh dunia, manfaatnya masih
diperdebatkan dan sulit dijadikan pegangan karena belum ada kesepakatan akan
nilai standar aglutinasi (cut-off point). Untuk mencari standar titer uji Widal
seharusnya ditentukan titer dasar (baseline titer) pada anak sehat di populasi
dimana pada daerah endemis seperti Indonesia akan didapatkan peningkatan titer
antibodi O dan H pada anak-anak sehat. Antigen O merupakan somatik yang
terletak di lapisan luar tubuh kuman. Struktur kimianya terdiri dari
lipopolisakarida. Antigen ini tahan terhadap pemanasan 100°C selama 2–5 jam,
alkohol dan asam yang ence1. (Prasetyo., Ismoedijanto, 2010).
a. Antigen H
Antigen H merupakan antigen yang terletak di flagela, fimbriae atau fili S. typhi
dan berstruktur kimia protein. S. typhi mempunyai antigen H phase-1 tunggal yang
juga dimiliki beberapa Salmonella lain. Antigen ini tidak aktif pada pemanasan di
atas suhu 60°C dan pada pemberian alkohol atau asam. (Prasetyo., Ismoedijanto,
2010).
b. Antigen Vi
Antigen Vi terletak di lapisan terluar S. Typhi (kapsul) yang melindungi kuman
dari fagositosisn dengan struktur kimia glikolipid, akan rusak biladipanaskan
selama 1 jam pada suhu 60°C, dengan pemberian asam dan fenol. Antigen ini
digunakan untuk mengetahui adanya karier. (Prasetyo., Ismoedijanto, 2010).
c. OuterMembrane Protein (OMP)
Antigen OMP S typhi merupakan bagian dinding sel yang terletak di luar membran
sitoplasma dan lapisan peptidoglikan yang membatasi sel terhadap lingkungan
sekitarnya. OMP ini terdiri dari 2 bagian yaitu protein porin dan protein nonporin.
Porin merupakan komponen utama OMP, terdiri atas protein OMP C, OMP D,
OMP F dan merupakan saluran hidrofilik yang berfungsi untuk difusi solut dengan
BM < 6000. Sifatnya resisten terhadap proteolisis dan denaturasi pada suhu 85–
100°C. Protein nonporin terdiri atas protein OMP A, protein a dan lipoprotein,
bersifat sensitif terhadap protease, tetapi fungsinya masih belum diketahui dengan
jelas. Beberapa peneliti menemukan antigen OMP S typhi yang sangat spesifik
yaitu antigen protein 50 kDa/52 kDa. (Prasetyo., Ismoedijanto, 2010).
2) Tes TUBEX
Tes TUBEX merupakan tes aglutinasi kompetitif semi kuantitatif yang sederhana
dan cepat (kurang lebih 2 menit) dengan menggunakan partikel yang berwarna
untuk meningkatkan sensitivitas. Spesifisitas ditingkatkan dengan menggunakan
antigen O9 yang benar-benar spesifik yang hanya ditemukan pada Salmonella
serogrup D. Tes ini sangat akurat dalam diagnosis infeksi akut karena hanya
mendeteksi adanya antibodi IgM dan tidak mendeteksi antibodi IgG dalam waktu
beberapa menit. Walaupun belum banyak penelitian yang menggunakan tes
TUBEX® ini, beberapa penelitian pendahuluan menyimpulkan bahwa tes ini
mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang lebih baik daripada uji Widal.4
Penelitian oleh Lim dkk (2002) mendapatkan hasil sensitivitas 100% dan
spesifisitas 100%.15 Penelitian lain mendapatkan sensitivitas sebesar 78% dan
spesifisitas sebesar 89%.9 Tes ini dapat menjadi pemeriksaan yang ideal, dapat
digunakan untuk pemeriksaan secara rutin karena cepat, mudah dan sederhana,
terutama di negara berkembang. (Prasetyo., Ismoedijanto, 2010).
3) Metode Enzim Immuniassay (EIA) DOT
Uji serologi ini didasarkan pada metode untuk melacak antibodi spesifik IgM dan
IgG terhadap antigen OMP 50 kD S. typhi. Deteksi terhadap IgM menunjukkan
fase awal infeksi pada demam tifoid akut sedangkan deteksi terhadap IgM dan IgG
menunjukkan demam tifoid pada fase pertengahan infeksi. Pada daerah endemis
dimana didapatkan tingkat transmisi demam tifoid yang tinggi akan terjadi
peningkatan deteksi IgG spesifik akan tetapi tidak dapat membedakan antara kasus
akut, konvalesen dan reinfeksi. Pada metode Typhidot-M® yang merupakan
modifikasi dari metode Typhidot® telah dilakukan inaktivasi dari IgG total
sehingga menghilangkan pengikatan kompetitif dan memungkinkan pengikatan
antigen terhadap Ig M spesifik. (Prasetyo., Ismoedijanto, 2010).
Uji dot EIA tidak mengadakan reaksi silang dengan salmonellosis non-tifoid bila
dibandingkan dengan Widal. Dengan demikian bila dibandingkan dengan uji
Widal, sensitivitas uji dot EIA lebih tinggi oleh karena kultur positif yang
bermakna tidak selalu diikuti dengan uji Widal positif. Dikatakan bahwa Typhidot-
M ini dapat menggantikan uji Widal bila digunakan bersama dengan kultur untuk
mendapatkan diagnosis demam tifoid akut yang cepat dan akurat. (Prasetyo.,
Ismoedijanto, 2010).
Beberapa keuntungan metode ini adalah memberikan sensitivitas dan spesifisitas
yang tinggi dengan kecil kemungkinan untuk terjadinya reaksi silang dengan
penyakit demam lain, murah (karena menggunakan antigen dan membran
nitroselulosa sedikit), tidak menggunakan alat yang khusus sehingga dapat
digunakan secara luas di tempat yang hanya mempunyai fasilitas kesehatan
sederhana dan belum tersedia sarana biakan kuman. Keuntungan lain adalah bahwa
antigen pada membran lempengan nitroselulosa yang belum ditandai dan diblok
dapat tetap stabil selama 6 bulan bila disimpan pada suhu 4°C dan bila hasil
didapatkan dalam waktu 3 jam setelah penerimaan serum pasien. (Prasetyo.,
Ismoedijanto, 2010).
4) Metode Enzime-Linked Immunirbent Assay (ELISA)
Uji Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) dipakai untuk melacak
antibodi IgG, IgM dan IgA terhadap antigen LPS O9, antibodi IgG terhadap
antigen flagella d (Hd) dan antibodi terhadap antigen Vi S. typhi. Uji ELISA yang
sering dipakai untuk mendeteksi adanya antigen S. typhi dalam spesimen klinis
adalah double antibody sandwich ELISA. Chaicumpa dkk (1992) mendapatkan
sensitivitas uji ini sebesar 95% pada sampel darah, 73% pada sampel feses dan
40% pada sampel sumsum tulang. Pada penderita yang didapatkan S. typhi pada
darahnya, uji ELISA pada sampel urine didapatkan sensitivitas 65% pada satu kali
pemeriksaan dan 95% pada pemeriksaan serial serta spesifisitas 100%.18
Penelitian oleh Fadeel dkk (2004) terhadap sampel. urine penderita demam tifoid
mendapatkan sensitivitas uji ini sebesar 100% pada deteksi antigen. Vi serta
masing-masing 44% pada deteksi antigen O9 dan antigen Hd. Pemeriksaan
terhadap antigen Vi urine ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut akan tetapi
tampaknya cukup menjanjikan, terutama bila dilakukan pada minggu pertama
sesudah panas timbul, namun juga perlu diperhitungkan adanya nilai positif juga
pada kasus dengan Brucellosis. (Prasetyo., Ismoedijanto, 2010).
5) DIPSTIK
Uji serologis dengan pemeriksaan dipstik dikembangkan di Belanda dimana dapat
mendeteksi antibodi IgM spesifik terhadap antigen LPS S. typhi dengan
menggunakan membran nitroselulosa yang mengandung antigen S. typhi sebagai
pita pendeteksi dan antibodi IgM antihuman immobilized sebagai reagen kontrol.
Pemeriksaan ini menggunakan komponen yang sudah distabilkan, tidak
memerlukan alat yang spesifik dan dapat digunakan di tempat yang tidak
mempunyai fasilitas laboratorium yang lengkap. Penelitian oleh Gasem dkk (2002)
mendapatkan sensitivitas uji ini sebesar 69.8% bila dibandingkan dengan kultur
sumsum tulang dan 86.5% bila dibandingkan dengan kultur darah dengan
spesifisitas sebesar 88.9% dan nilai prediksi positif sebesar 94.6%.20 Penelitian
lain oleh Ismail dkk (2002) terhadap 30 penderita demam tifoid mendapatkan
sensitivitas uji ini sebesar 90% dan spesifisitas sebesar 96%.21 Penelitian oleh
Hatta dkk (2002) mendapatkan rerata sensitivitas sebesar 65.3% yang makin
meningkat pada pemeriksaan serial yang menunjukkan adanya serokonversi pada
penderita demam tifoid.22 Uji ini terbukti mudah dilakukan, hasilnya cepat dan
dapat diandalkan dan mungkin lebih besar manfaatnya pada penderita yang
menunjukkan gambaran klinis tifoid dengan hasil kultur negatif atau di tempat
dimana penggunaan antibiotika tinggi dan tidak tersedia perangkat pemeriksaan
kultur secara luas. (Prasetyo., Ismoedijanto, 2010).

d. Identifikasi kuman secara molekuler


Metode lain untuk identifikasi bakteri S. typhi yang akurat adalah mendeteksi DNA
(asam nukleat) gen flagellin bakteri S. typhi dalam darah dengan teknik hibridisasi
asam nukleat atau amplifikasi DNA dengan cara polymerase chain reaction (PCR)
melalui identifikasi antigen Vi yang spesifik untuk S. typhi. Penelitian oleh Haque
dkk (1999) mendapatkan spesifisitas PCR sebesar 100% dengan sensitivitas yang
10 kali lebih baik daripada penelitian sebelumnya dimana mampu mendeteksi 1-5
bakteri/mL darah. Penelitian lain oleh Massi dkk (2003) mendapatkan sensitivitas
sebesar 63% bila dibandingkan dengan kultur darah (13.7%) dan uji Widal
(35.6%). Kendala yang sering dihadapi pada penggunaan metode PCR ini meliputi
risiko kontaminasi yang menyebabkan hasil positif palsu yang terjadi bila prosedur
teknis tidak 10 dilakukan secara cermat, adanya bahan-bahan dalam spesimen yang
bisa menghambat proses PCR (hemoglobin dan heparin dalam spesimen darah
serta bilirubin dan garam empedu dalam spesimen feses), biaya yang cukup tinggi
dan teknis yang relatif rumit. Usaha untuk melacak DNA dari spesimen klinis
masih belum memberikan hasil yang memuaskan sehingga saat ini penggunaannya
masih terbatas dalam laboratorium penelitian (Prasetyo., Ismoedijanto, 2010).

4. Macam Diagnosis Demam Thypoid

a) Suspected case : dikenali dengan adanya onset demam (≥ 37,5 ° C) Untuk ≥ 3 hari dan

seterusnya, dengan sakit kepala, sakit perut, tes negatif untuk malaria atau kegagalan untuk

respond terhadap pengobatan anti malaria, dan ≥ 2 dari berikut ini Gejala: diare, mual atau

muntah, konstipasi, atau kelelahan (Kabwama et al, 2017)

b) Probable case : kasus yang dicurigai sampel serum menghasilkan tes TUBEX® TF positif.

Sampel darah dikumpulkan dari 5 dugaan pertama kasus setiap hari dari setiap pusat perawatan

dan dirujuk ke laboratorium mikrobiologi di Medical Research untuk kultur darah. (Kabwama

et al, 2017)

c) Confirmed case : suspected case yang kultur darahnya dihasilkan S.Typhi

(Kabwama et al, 2017)

2.5.3 Diagnosis Multi-Drug Resistant Thypoid Fever (MDR TF)

Oleh karena tanda klinis yang tidak spesifik dari kasus MDRTF makaa pmeriksaan

awal oleh penderita suspek MDRTF meliputi srining dari penyakit endemis umum berupa

acute febrile illness pada wilayah tersebut, seperti malaria, DHF, leptospira maupun hepatitis

akut. Gold standard penegakan diagnosis MDR-TF adalah isolasi kultur organisme. Kultur S

thypi diberikan paparan antibiotik 1) lini pertama : chlorampenicol, ampicillin, dan golongan

Trimetrophim Sulfamathoxazole (TMP-SMZ), 2) floroquinolones 3) asal nilixidat 4) generasi


tiga cephalosporin 5) obat lain yang digunakan sebagai terapi. Kultur S Thypi kemudian

dilakukan uji sensivitasnya (Zaki dan Karanda, 2013).

Infeksi MDRTF dapat disuspek pada situasi berikut ini :

a) Gagal merespons (yaitu, tidak ada perbaikan kondisi umum, kehilangan nafsu makan,

tidak ada defensif demam, atau tidak ada pengurangan tampilan toksik) setelah lima

hingga tujuh hari pengobatan dengan antibiotik lini pertama (kloramfenikol atau

ampisilin atau trimetoprim / sulfamethoxazole) untuk demam tifoid (Zaki dan Karanda,

2013).

b) Demam tifoid berat disertai syok atau abnormal sensorium atau berpotensi mengancam

nyawa lainnya komplikasi seperti perdarahan usus dan / atau perforasi, koagulasi

intravaskular diseminata,atau miokarditis (Zaki dan Karanda, 2013).

c)Kemunduran klinis atau perkembangan komplikasi selama pengobatan antibiotik

konvensional (Zaki dan Karanda, 2013).

d) Kontak langsung dengan kasus atau selama epidemi MDRTF

(Zaki and Karanda, 2013)

F. Penatalaksanaan
1. Medikamentosa

Indikasi rawat
Klinis ringan dapat dirawat jalan dengan control poli teratur. Jika klinis disertai
hiperpireksia, muntah-muntah, intake tidak adekuat, dehidrasi, keadaan umum lemah,
maka harus di rawat inapkan.

Perawatan
Penderita harus tirah baring 5-7 hari bebas panas, kemudian secara bertahap mulai
mobilisasi.

Diet
Pemberian diet tahap awal pada penderita demam tifoid harus mengutamakan lunak,
mudah dicerna, tidak merangsang, bebas serat, dan tidak menimbulkan gas. Pemberian
makan dalam porsi kecil tetapi sering. Biasanya disajikan dalam bentuk bubur saring.

Medikamentosa
Obat terpilih untuk penderita demam tifoid adalah kloramphenikol dengan dosis
50-100 mg/kgBb/ hari maksimal 2 gr/hari. Obat diberikan sampai 7 hari bebas panas,
minimal diberikan selama 10 hari. Bila dalam 10 hari pemberian kloramphenikol panas
tidak turun maka obat diganti ampicilin 200mg/kgBb/hari diberkan secara Iv selama
10-14 hari. Demikian juga bila ditemukan Hb<8 g/dl, dan atau leukosit <2000/mm3
obat diganti dengan ampicilin.

Pada kasus berat, dapat diberi seftriakson dengan dosis 80 mg/kg BB/kali dan
diberikan sekali sehari, intravena, selama 5-7 hari.

Pada ensefalopati tifoid diberikan juga dexamethason dengan dosis awal 3


mg/kgBB/kali, dilanjutkan 1 mg/kgBB/6 jam, sebanyak 8 kali (selama 48 jam), lalu di
stop tanpa tapering off, reduksi cairan 4/5 kebutuhan, lakukan pemeriksaan elektrolit,
dan dilakukan Lumbal Punksi bila tidak terdapat kontraindikasi.

(Kementerian Kesehatan, 2006)

2. Non medikamentosa

Pencegahan demam tifoid diupayakan melalui berbagai cara: umum dan

khusus/imunisasi. Termasuk cara umum antara lain adalah peningkatan higiene dan

sanitasi karena perbaikan higiene dan sanitasi saja dapat menurunkan insidensi demam

tifoid. (Penyediaan air bersih, pembuangan dan pengelolaan sampah). Menjaga

kebersihan pribadi dan menjaga apa yang masuk mulut (diminum atau dimakan) tidak

tercemar Salmonella typhi. Pemutusan rantai transmisi juga penting yaitu pengawasan

terhadap penjual (keliling) minuman/makanan. (Kementerian Kesehatan, 2006)


Ada dua vaksin untuk mencegah demam tifoid. Yang pertama adalah vaksin yang
diinaktivasi (kuman yang mati) yang diberikan secara injeksi. Yang kedua adalah
vaksin yang dilemahkan (attenuated) yang diberikan secara oral. Ada beberapa orang
yang tidak boleh mendapatkan vaksin tifoid atau harus menunggu. Yang tidak boleh
mendapatkan vaksin tifoid diinaktivasi (per injeksi) adalah orang yang memiliki reaksi
yang berbahaya saat diberi dosis vaksin sebelumnya, maka ia tidak boleh mendapatkan
vaksin dengan dosis lainnya. Orang yang tidak boleh mendapatkan vaksin tifoid yang
dilemahkan (per oral) adalah : orang yang mengalami reaksi berbahaya saat diberi
vaksin sebelumnya maka tidak boleh mendapatkan dosis lainnya, orang yang memiliki
sistem imunitas yang lemah maka tidak boleh mendapatkan vaksin ini, mereka hanya
boleh mendapatkan vaksin tifoid yang diinaktifasi, diantara mereka adalah penderita
HIV/AIDS atau penyakit lain yang menyerang sistem imunitas, orang yang sedang
mengalami pengobatan dengan obat-obatan yang mempengaruhi sistem imunitas tubuh
semisal steroid selama 2 minggu atau lebih, penderita kanker dan orang yang
mendapatkan perawatan kanker dengan sinar X atau obat-obatan. Vaksin tifoid oral
tidak boleh diberikan dalam waktu 24 jam bersamaan dengan pemberian antibiotik
(kementrian kesehatan 2006)
Suatu vaksin, sebagaimana obat-obatan lainnya, bisa menyebabkan problem
serius seperti reaksi alergi yang parah. Resiko suatu vaksin yang menyebabkan bahaya
serius atau kematian sangatlah jarang terjadi. Problem serius dari kedua jenis vaksin
tifoid sangatlah jarang. Pada vaksin tifoid yang diinaktivasi, reaksi ringan yang dapat
terjadi adalah : demam (sekitar 1 orang per 100), sakit kepada (sekitar 3 orang per 100)
kemerahan atau pembengkakan pada lokasi injeksi (sekitar 7 orang per 100). Pada
vaksin tifoid yang dilemahkan, reaksi ringan yang dapat terjadi adalah demam atau sakit
kepada (5 orang per 100), perut tidak enak (kementrian kesehatan 2006)

G. Prognosis

Prognosis demam tifoid tergantung dari umur, keadaan umum, derajat kekebalan tubuh,

jumlah dan virulensi Salmonella, serta cepat dan tepatnya pengobatan. Angka kematian pada

anak-anak adalah 2,6% dan pada orang dewasa adalah 7,4 %. Sehingga rata-ratanya adalah

5,7%. (Brusch, 2017).


H. Komplikasi

Tempat predileksi kuman S thypi terdapat pada Patch Peyer. Terdapat hiperplasia yang

signifikan diikuti oleh ulserasi dan nekrosis pada patch Peyer. Hal ini menyebabkan

perdarahan yang signifikan akhirnya berakhir menjadi perforasi. Komplikasi ini biasanya

terjadi pada minggu ketiga atau keempat dari penyakit ini. Karena ileum terminal berlimpah

dengan patch Peyer, beberapa perforasi di ileum umum menyebabkan morbiditas tinggi dan

mortalitas tinggi (Vagholkar, 2015)..

Beberapa pasien memberikan riwayat melena sebelum onset sakit perut. Tanda pada

abdomen biasanya seperti kekakuan perut. Karena peritonitis parah, pasien mengalami

penurunan drastis dalam output urin yang akhirnya masuk ke keadaan syok septik. waktu di

mana kondisi didiagnosis dan kecepatan intervensi bedah ditawarkan menentukan hasilnya

pada pasien tersebut (Vagholkar, 2015).

Pada studi lain, komplikasi demam tifoid terlihat pada 8,16% pasien. Apendisitis,

kolitis, dan hepatitis terlihat dengan masing-masing presentase (2,04%). Ensefalopati, syok

septik, perdarahan GI, dan trombositopenia terkait infeksi terlihat dengan masing-masing

persentase (1,02%) (Modi, 2015)


DAFTAR PUSTAKA

Eng, et al. 2015. Salmonella: A review on pathogenesis, epidemiology and antibiotic

resistance. Frontiers in Life Science, 2015 Vol. 8, No. 3, 284–293,

Ganong, WF. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Jakarta: EGC.

Garna Herry, dkk. 2010. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis Edisi Kedua. Jakarta: Bagian Ilmu
Kesehatan Anak FKUI.

Yan, et al. 2016. The emergence and outbreak of multidrug-resistant typhoid fever in China.

Original Article. Emerging Microbes and Infections (2016) 5

Kabwama et al. 2017. A large and persistent outbreak of typhoid fever caused by consuming

contaminated water and street-vended beverages: Kampala, Uganda, January – June

2015. BMC Public Health. 2017; 17: 23.

Nasronudin, dkk. 2007. Penyakit Infeksi di Indonesia: Solusi Kini dan Mendatang. Jakarta: Airlangga
University Press.

Modi, Rohit. 2015. Clinical profile and treatment outcome of typhoid fever in children at a

teaching hospital, Ahmedabad, Gujarat, India. Research Article. International Journal of

Medical Science and Public Health | 2016 | Vol 5 | Issue 02

Sudoyo, AW, dkk. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 3 Edisi 4. Jakarta: FKUI.

Prasetyo, Risky Vitria., Ismoedijanto. 2010. Metode diagnostik demam tifoid pada anak. Divisi
tropik dan penyakit infeksi Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UNAIR/ RSU dr.Soetomo
Surabaya
Siswandari, wahyu. 2012. Lecture : Pemeriksaan laboratorium pada infeksi bakteri.Blok
TROPMED
Wardhani, puspa., Prihatani., Probohusodo, M.Y. 2005. Kemampuan uji tabung widal
menggunakan antigen import dan antigen lokal. ndonesian Journal of Clinical Pathology
and Medical Laboratory, Vol. 12, No. 1, Nov 2005: 31-37