You are on page 1of 27

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap hari seorang ibu meninggal karena penyebab yang berkaitan
dengan kehamilan dan persalinan. Sebagian besar (60-80%) kematian ibu di
dunia disebabkan oleh perdarahan saat melahirkan, persalinan macet, sepsis,
tekanan darah tinggi pada kehamilan dan komplikasi dari aborsi yang tidak
aman (Nguyen, 2013). Di Indonesia empat penyebab utama kematian ibu
adalah : 42% kematian ibu disebabkan karena perdarahan, 13% eklamsi, 11%
komplikasi aborsi, 10% infeksi, 9% perdarahan lama dan 15 % penyebab
tidak langsung (Saifuddin, 2002).
Perdarahan merupakan penyebab tertinggi kematian ibu umumnya
terjadi pada kehamilan trimester akhir dan yang terjadi setelah anak atau
plasenta lahir. Jika tidak mendapat penanganan yang cepat dapat
mendatangkan syok dan kematian (Chalik, 1998). Perdarahan masa
kehamilan yang berbahaya umumnya bersumber pada kelainan plasenta, yang
secara klinis didiagnosa salah satunya yaitu plasenta previa.
Di Indonesia perdarahan hamil terjadi pada kira-kira 3% dari semua
persalinan. Dari data di RSCM antara tahun1971 – 1975 terjadi 2114 kasus
perdarahan hamil diantara 14824 persalinan dan persentase terbanyak
didiagnosa dengan plasenta previa. (Wiknjosastro, 2005). Sedangkan di RS
PMI pada tahun 2005, perdarahan hamil juga terjadi pada kira-kira 3% dari
semua persalinan. Dan pada saat residensi dari bulan September sampai
Desember 2005 didapat data perdarahan hamil sebanyak 21 orang dan 10
orang diantaranya disebabkan oleh plasenta previa.
Perawat berperan dalam memonitor secara berkesinambungan kondisi
ibu maupun janin serta perlunya pemberian pendidikan kesehatan mengenai
kondisi dan persiapan ibu menghadapi kemungkinan kondisi janin dan proses
persalinan yang akan dihadapi. Keberhasilan asuhan keperawatan pada ibu
hamil dengan plasenta previa sangat tergantung pada kinerja perawat yang
profesional, yang memberikan asuhan keperawatan berkualitas disertai

1
dengan kemampuan untuk mensintesa berbagai pengetahuan, konsep, dan
prinsip dari berbagai kelompok ilmu, keterampilan interpersonal dan teknikal
yang tinggi didasari oleh kode etik keperawatan.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan masalah
betapa pentingnya mengetahui tentang perdarahan tentang komplikasi pada
kehamilan yang kemungkinan dapat terjadi pada masa kehamilan seperti
perdarahan antepartum yang di sebabkan oleh plasenta previa.

C. Tujuan

1. Tujuan umum
Mahasiswa dapat mengetahui masalah tentang plasenta previa dan
asuhan kebidanan pada klien dengan plasenta previa.
2. Tujuan Khusus
Secara khusus “Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin Dengan
Plasenta Previa” ini disusun agar:
a. Mahasiswa dapat mengetahui tentang pengertian, etiologi, gejala,
patofisiologi, komplikasi, penatalaksanaan, pemeriksaan penunjang,
serta proses perawatan.
b. Mahasiswa dapat mengidentifikasi asuhan kebidanan pada klien
dengan plasenta previa.
c. Mahasiswa dapat mengidentifikasi pendidikan kesehatan yang
diperlukan pada pasien yang dirawat dengan keluhan plasenta previa.
d. Agar laporan kasus ini dapat menjadi bahan ajar bagi mahasiswa
lainnya tentang berbagai hal yang berhubungan dengan plasenta
previa.

D. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
Dapat menerapkan teori yang diperoleh dari pendidikan secara
nyata di lapangan dalam hal melaksanakan asuhan kebidanan pada Ibu
bersalin dengan plasenta previa.
2. Bagi Instansi

2
Sebagai metode untuk mengevaluasi seberapa jauh mahasiswa
nenerapkan teori yang di peroleh di bangku kuliah dan mempraktekannya
di lahan.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi rendah
sehingga menutupi sebagian/ seluruh ostium uteri internum. (prae= di
depan ; vias= jalan)(Sastrawinata, 2004). Plasenta previa merupakan
implantasi plasenta di bagian bawah sehingga menutupi ostium uteri
internum, serta menimbulkan perdarahan saat pembentukan segmen bawah
rahim
Plasenta previa adalah suatu kehamilan dimana plasenta
berimplantasi abnormal pada segmen bawah rahim (SBR), menutupi atau
tidak menutupi ostium eturi internum (OUI), sedangkan kehamilan itu
sudah viable atau mampu hidup diluar rahim, usia kehamilan > 20 minggu
dan/ berat janin >500 gram (Achadiat, 2004).

B. Klasifikasi Plasenta Previa


Klasifikasi plasenta previa menurut Melda (2013) yaitu:
1. Plasenta Previa Totalis yaitu jika seluruh pembukaan jalan lahir
tertutup jaringan plasenta
2. Plasenta Previa Parsialis yaitu jika sebagian pembukaan jalan lahir
tertutup jaringan plasenta
3. Plasenta Previa Marginalis yaitu jika tepi plasenta berada tepat pada
tepi pembukaan jalan lahir
4. Plasenta Letak Rendah yaitu jika plasenta terletak pada segmen bawah
uterus, tetapi tidak sampai menutupi pembukaan jalan lahir.

C. Manifestasi Klinis
Adapun manifestasi klinik dari plasenta previa adalah :
1. Gejala pertama yang membawa orang yang sakit ke dokter atau rumah
sakit ialah perdarahan pada kehamilan setelah 28 minggu atau pada
kehamilan lanjut (trimester 3)

4
2. Sifat perdarahannya tanpa sebab, tanpa nyeri dan berulang.
Perdarahan timbul tanpa sesab apapun.
3. Kadang-kadang perdarahan terjadi sewaktu bangun tidur, pagi hari
tanpa disadari tempat tidur sudah penuh darah. Perdarahan cenderung
berulang dengan volume yang lebih banyak dari sebelumnya sebab
dari perdarahan ialah plasenta dan pembuluh darah yang robek.
4. Sedikit atau banyaknya perdarahan tergantung pada besar dan
banyaknya pembuluh darah yang robek dan plasenta yang lepas.
(Sarwono, 2011)
5. Pada uterus tidak teraba keras dan tidak tegang.
6. Bagian terbanyak janin biasanya belum masuk pintu atas panggul dan
tidak jarang terjadi letak janin (letak lintang atau letak sungsang)
7. Janin mungkin masih hidup atau sudah mati, tergantung banyaknya
perdarahan, sebagian besar kasus, janinnya masih hidup.
Perdarahan adalah gejala primer dari plasenta previa dan terjadi
pada mayoritas (70%-80%) dari wanita-wanita dengan kondisi ini.
Perdarahan vagina setelah minggu ke 20 kehamilan adalah karakteristik
dari plasenta previa. Biasanya perdarahan tidak menyakitkan, namun ia
dapat dihubungkan dengan kontraksi-kontraksi kandungan dan nyeri perut.
Perdarahan mungkin mencakup dalam keparahan dari ringan sampai
parah.
Gejala paling khas dari plasenta previa adalah perdarahan
pervaginam (yang keluar melalui vagina) tanpa nyeri yang pada umumnya
terjadi pada akhir triwulan kedua. Ibu dengan plasenta previa pada
umumnya asimptomatik (tidak memiliki gejala) sampai terjadi perdarahan
pervaginam. Biasanya perdarahan tersebut tidak terlalu banyak dan
berwarna merah segar.
Pada umumnya perdarahan pertama terjadi tanpa faktor pencetus,
meskipun latihan fisik dan hubungan seksual dapat menjadi faktor
pencetus. Perdarahan terjadi karena pembesaran dari rahim sehingga
menyebabkan robeknya perlekatan dari plasenta dengan dinding rahim.
Koagulapati jarang terjadi pada plasenta previa. Jika didapatkan

5
kecurigaan terjadinya plasenta previa pada ibu hamil, maka pemeriksaan
Vaginal Tousche (pemeriksaaan dalam vagina) oleh dokter tidak boleh
dilakukan kecuali di meja operasi mengingat risiko perdarahan hebat yang
mungkin terjadi.

D. Penyebab
Menurut Bagian Obstetri & Ginekologi FKUPB 2012 faktor etiologi
plasenta previa termasuk :
1. Umur dan paritas.
a. Pada primigravida umur diatas 35 tahun lebih sering dari umur
dibawah 25 tahun.
b. Pada paritas lebih tinggi sering dari paritas rendah.
c. Di Indonesia menurut Toha plasenta previa banyak dijumpai pada
umur muda dan paritas kecil; hal ini disebabkan banyak wanita
Indonesia menikah pada usia muda dimana endometrium masih
belum matang (inferior).
2. Endometrium hipoplastis : kawin dan hamil umur muda
3. Endometrium bercacad pada bekas persalinan berulang-ulang, bekas
operasi, kuretase dan manual plasenta
4. Korpus luteum bereaksi lambat, dimana endometrium belum siap
menerima hasil konsepsi
5. Adanya tumor-tumor : mioma uteri, polip endometrium.
6. Kadang-kadang pada malnutrisi. (Rustam, 2013)

E. Faktor Resiko
Menurut penelitian Wardana (2007) yang menjadi faktor risiko
plasenta previa yaitu :
1. Risiko plasenta previa pada wanita dengan umur 35 tahun 2 kali lebih
besar di bandingkan dengan umur < 35
2. Risiko plasenta previa pada multigravida 1,3 kali lebih besar
dibandingkan primigravida

6
3. Risiko plasenta previa pada wanita dengan riwayat abortus 4 kali
besar di bandingkan dengan tanpa riwayat abortus
4. Riwayat seksio sesaria tidak di temukan sebagai faktor risiko
terjadinya plasenta previa

F. Komplikasi
Menurut Dutta (2004) komplikasi dapat terjadi pada ibu dan bayi
yaitu selama kehamilan pada ibu dapat menimbulkan perdarahan
antepartum yang dapat menimbulkan syok, kelainan letak pada janin
sehingga meningkatnya letak bokong dan letak lintang. Selain itu juga
dapat mengakibatkan kelahiran prematur. Selama persalinan plasenta
previa dapat menyebabkan ruptur atau robekan jalan lahir, prolaps tali
pusat, perdarahan postpartum, perdarahan intrapartum, serta dapat
menyebakan melekatnya plasenta sehingga harus dikeluarkan secara
manual atau bahkan dilakukan kuretase.
Sedangkan pada janin plasenta previa ini dapat mengakibatkan
bayi lahir dengan berat badan rendah, munculnya asfiksia, kematian
janin dalan uterus, kelainan kongenital serta cidera akibat intervensi
kelahiran.

G. Diagnosa
Apabila plasenta previa terdeteksi pada akhir tahun pertama
atau trimester
kedua, sering kali lokasi plasenta akan bergeser ketika rahim
membesar. Untuk memastikannya dapat dilakukan pemeriksaan USG,
namun bagi beberapa wanita mungkin bahkan tidak terdiagnosis
sampai persalinan, terutama dalam kasus kasus plasenta previa sebagian
(Faiz & Ananth, 2003).
Menurut Mochtar (1998) diagnosa dari plasenta previa bisa
ditegakkan
dengan adanya gejala klinis dan beberapa pemeriksaan yaitu:

7
1. Anamnesia, pada saat anamnesis dapat ditanyakan beberapa
hal yang
berkaitan dengan perdarahan antepartum seperti umur kehamilan
saat terjadinya perdarahan, apakah ada rasa nyeri, warna dan
bentuk terjadinya perdarahan, frekuensi serta banyaknya perdarahan
(Wiknjosastro, 2007)
2. Inspeksi, dapat dilihat melalui banyaknya darah yang keluar
melalui vagina,
darah beku, dan sebagainya. Apabila dijumpai perdarahan yang
banyak maka ibu
akan terlihat pucat (Mochtar, 1998).
3. Palpasi abdomen, sering dijumpai kelainan letak pada janin,
tinggi fundus
uteri yang rendah karena belum cukup bulan. Juga sering dijumpai
bahwa bagian
terbawah janin belum turun, apabila letak kepala, biasanya
kepala masih bergoyang, terapung atau mengolak di atas pintu atas
panggul (Mochtar, 1998).
4. Pemeriksaan inspekulo, dengan menggunakan spekulum secara
hati-hati
dilihat dari mana sumber perdarahan, apakah dari uterus,
ataupun terdapat kelainan pada serviks, vagina, varises pecah, dll
(Mochtar, 1998).
5. Pemeriksaan radio-isotop
a. Plasentografi jaringan lunak
b. Sitografi
c. Plasentografi indirek
d. Arteriografi
e. Amniografi
f. Radio isotop plasentografi
6. Ultrasonografi, transabdominal ultrasonografi dalam keadaan kandung
kemih yang dikosongkan akan memberikan kepastian diagnosa

8
plasenta previa. Walaupun transvaginal ultrasonografi lebih
superior untuk mendeteksi keadaan ostium uteri internum namun
sangat jarang diperlukan, karena di tangan yang tidak ahli cara
ini dapat menimbulkan perdarahan yang lebih banyak (Chalik,
2008). Penentuan lokasi plasenta secara ultrasonografis sangat
tepat dan tidak menimbulkan bahaya radiasi terhadap janin (Mochtar,
1998)
7. Pemeriksaan dalam, pemeriksaan ini merupakan senjata dan cara
paling akhir yang paling ampuh dalam bidang obstetrik untuk
diagnosa plasenta previa. Walaupun ampuh namun harus
berhati-hati karena dapat menimbulkan perdarahan yang lebih
hebat, infeksi, juga menimbulkan his yang kemudian akan
mengakibatkan partus yang prematur. Indikasi pemeriksaan
dalam pada perdarahan antepartum yaitu jika terdapat perdarahan
yang lebih dari 500 cc, perdarahan yang telah berulang, his telah
mulai dan janin sudah dapat hidup diluar janin (Mochtar, 1998). Dan
pemeriksaan dalam pada plasenta previa hanya dibenarkan jika
dilakukan dikamar operasi yang telah siap untuk melakukan
operasi dengan segera (Mose, 2004). Selain itu juga dapat
dilakukan pemeriksaan fornises dengan hati-hati. Jika tulang
kepala teraba, maka kemungkinan plasenta previa kecil. Namun jika
teraba bantalan lunak maka, kemungkinan besar plasenta previa.

H. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Inspekulo
Dengan memakai spekulum secara hati-hati dilhat dari mana
asal perdarahan, apakah dari dalam uterus atau dari kelainan serviks,
vagina, varises pecah dan lain-lain
2. Pemeriksaan Radio-Isotop
a. Plasentografi jaringan lunak yaitu membuat foto dengan sinar
rontgen lemah untuk mencoba melokalisir plasenta. Hasil foto
dibaca oleh ahli radiologi yang berpengalaman.

9
b. Sitigrafi, mula-mula kandung kemih dikosongkan, lalu
dikosongkan lau dimasukkan 40 cc larutan NaCl 12,5%. Kepala
janin ditekan ke arah pintu atas panggul lalu dibuat foto. Bila
jarak kepala dan kandung kemih berselisisih lebih dari 1 cm,
maka terdapat kemungkinan plasenta pervia.
c. Plasentografi indirek, yaitu membuat foto seri lateral dan
anteroposterior yaitu ibu dalam possisi berdiri atau duduk
setengah berdiri. Lalu foto dibaca oleh ahli radiologi bepengalaan
dengan cara menghitung jarak antara kepala-simfisis dan kepala-
promontorium.
d. Arteriografi dengan memasukkan zat kontras ke dalam arteri
femoralis karena plasenta sangat kaya akan pembuluh darah.
e. Amniografi dengan memasukkan zat kontras ke dalam rongga
amnion lalu dibuat foto dan dilihat dimana terdapat daerah
kosong dalam rongga rahim. (Amru, 2012)
3. Ultrasonografi (USG)
Penentuan lokasi plasenta secara ultrasonografis sangat tepat
dan tidak menimbulkan bahaya radiasi terhadap janin. Cara ini sudah
mulai banyak dipakai di Indonesia. Pemeriksaan ultrasound digunakan
untuk menegakan diagnosis dari placenta previa. Evaluasi ultrasound
transabdominal (menggunakan probe pada dinding perut) atau
transvaginal (dengan probe yang dimasukan kedalam vagina namun
jauh dari mulut serviks) mungkin dilakukan, tergantung pada lokasi
dari placenta.
Adakalanya kedua tipe-tipe dari pemeriksaan ultrasound adalah
perlu. Adalah penting bahwa pemeriksaan ultrasound dilakukan
sebelum pemeriksaan fisik dari pelvis pada wanita-wanita dengan
placenta previa yang dicurigai, karena pemeriksaan fisik pelvic
mungkin menjurus pada perdarahan yang lebih jauh.

10
I. Penanganan
Menurut Prof. DR. Dr. Sarwono Prawirohardjo penatalaksaannya
berupa:
1. Perdarahan dalam trimester dua atau trimester tiga harus dirawat di
rumah sakit. Pasien diminta baring dan dikalukan pemeriksaan darah
lengkap termasuk golongan darah dan faktor Rh.pada kehamilan 24
minggu sampai 34 minggu diberikan steroid dalam perawatan
antenatal untuk perawatan paru janin.
2. Jika perdarahan terjadi pada trimester dua perlu diwanti-wanti karena
perdarahan ulangan biasanya lebih banyak. Jika ada gejala
hipovelemik seperti hipotensi, pasien tersebut mungkin mengalami
perdarahan yang cukup berat, lebih berat dari pada penampakannya
secara klinis. Transfusi darah yang banyak perlu segera diberikan.
3. Pada kondisi yang terlihat stabil di dalam rawatan di luar rumah sakit,
hubungan suami istri dan tumah tangga dihindari kecuali setelah
pemeriksaan ultrasonografi ulangan dianjurkan minimal setelah 4
minggu, memperlihatkan ada migrasi plasenta menjauhi ostiun uteri
internum (OUI)
4. Perdarahan dalam trimester tiga perlu pengawasan lebih ketat dengan
istirahat baring yang lebih lama dalam rumah sakit dan dalam keadaan
yang cukup serius untuk merawatnya sampai melahirkan.
5. Pada pasien dengan riwayat secsio sesaria perlu diteliti dengan
ultrasonografi, color doppler atau MRI untuk melihat kemungkinan
adanya plasenta akreta, inkreta atau perkreta.
6. Sectio caesaria juga dilakukan apabila ada perdarahan banyak yang
menghawatirkan.
Sedangkan menurut Lyndon (2000), penatalaksaan plasenta previa
dilakukan :
1. Sikap Ekspektatif diambil bila :
a. Usia kehamilan < 36 minggu, atau berat janin < 2500 gram.
b. Pendarahan telah berhenti.
c. Anak hidup dan keadaan ibu baik.

11
Dalam hal ini klien dirawat sampai bersalin dengan :
1) Istirahat total di tempat tidur dan keadaan umum diperbaiki.
2) Permintaan izin pembedahan dan disediakan darah di bank
darah
3) Bila memungkinkan tentukan letak plasenta (amniografi, soft
tissue technic, USG dan lainnya.
Bila terjadi pendarahan ulang, lakukan pemeriksaan di dalam
meja operasi (PDMO); selanjutnya lihat sikap aktif. Jika selama
perawatan tak terjadi pendarahan ulang, dan dipastikan menderita
plasenta previa, lakukan sectio caesarea pada saat usia kehamilan > 36
minggu atau berat janin > 2500 gram. Tetapi bila letak plasenta tak
dapat dipastikan, pada saat itu lakukan PDMO ; bila ternyata plasenta
previa, lakukan sectio caesaria ; bila pembukaan belum ada dan
perdarahan baru tetap negatif sikap aktif dapat ditangguhkan lagi.
2. Sikap aktif (tindakan segera) dilakukan bila :
a. Usia kehamilan > 36 minggu atau berat > 2500 gram.
b. Perdarahan banyak, meskipun usia kehamilan > 36 minggu.
Di sini dilakukan PDMO dan pemastian letak janin; sectio
caesaria dilakukan bila ditemukan :
1) Plasenta previa totalis.
2) Plasenta previa marginalis/ lateralis pada pembukaan < 5 cm
3) Janin letak lintang, hidup (bila mati, pikirkan kemungkinan
embriotomi)
Sedangkan bila ditemukan plasenta previa lateralis/marginalis
pada pembukaan > 5 cm dengan letak janin yang memanjang, dapat
dicoba infus pitosin dan amniotomi; bila ternyata gagal setelah 6 jam
atau perdarahan tetap banyak sedang janin masih hidup, lakukan
segera sectio caesaria; bila janin telah mati lakukan pemasangan
Cunan Willet-Gausz (pada letak kepala dengan cara : Cunan Willet
dipasang pada kulit kepala janin lalu ditarik dengan beban seberat 500
gram; atau versi Braxton-Hicks (pada letak bokong atau lintang)
dengan cara : salah satu kaki janin dikeluarkan lalu ditarik dengan

12
beban 500 gram, cara ini sulit dan hanya bisa dilakukan pada
pembukaan > 4 cm. Bila dengan kedua cara itu perdarahan tetap
terjadi, lakukan sectio caesaria.
Semua pasien dengan perdarahan pervaginam pada trimester
tiga dirawat di rumah sakit tanpa periksa dalam. Bila pasien dalam
keadaan syok karena perdarahan yang banyak, harus segera perbaiki
keadaan umumnya dengan pemberian infus atau transfusi darah.
Selanjutnya penanganan plasenta previa bergantung pada
keadaan umum pasien, kadar Hb, jumlah perdarahan, umur kehamilan,
taksiran janin, jenis plasenta previa dan paritas.

J. Pencegahan
1. Lakukan perawatan pranatal secara teratur.
Sebagian besar kasus plasenta previa didiagnosis pada saat
pemeriksaan rutin. Perawatan pranatal yang teratur adalah salah satu
aspek penting untuk menjaga kehamilan yang sehat, sekalipun Anda
tidak mengalami kondisi ini. Temui bidan atau dokter kandungan
secara teratur dan jangan sampai absen. Lakukan perawatan rutin
segera setelah Anda tahu bahwa Anda hamil. Setelah itu, dokter akan
menjadwalkan pertemuan sesuai kebutuhan.

2. Temui dokter jika Anda mengalami pendarahan.


Secara umum, Anda harus menghubungi dokter jika terjadi
pendarahan vagina kapan pun selama kehamilan, karena kondisi ini
bisa berpotensi keguguran atau menunjukkan sejumlah masalah
lainnya. Jika pendarahannya berwarna merah cerah (tetapi tidak terasa
sakit) pada suatu titik di trimester kedua atau lebih, bisa jadi itu adalah
gejala plasenta previa. Pendarahan yang terkait plasenta previa bisa
ringan maupun berat, dan tidak selalu konstan. Pendarahan bisa
berhenti kemudian terjadi lagi. Jika pendarahannya berat, lebih baik
pergi ke IGD (Instalasi Gawat Darurat), jangan menunggu dokter
langganan.

13
3. Lakukan USG
Untuk memastikan kondisi plasenta previa, dokter akan
memeriksa dengan USG dan melihat lokasi plasenta. Dalam beberapa
kasus, Anda harus menjalani USG perut dan USG transvaginal. USG
transvaginal dilakukan dengan cara memasukkan transduser kecil ke
dalam vagina. Mungkin Anda juga membutuhkan MRI, tetapi
umumnya pemeriksaan ini tidak diperlukan.

4. Segera cari bantuan jika terjadi kontraksi sebelum waktunya


Seperti halnya pendarahan, kontraksi sebelum usia kandungan
mencapai sembilan bulan juga harus diperiksakan ke dokter.
Kontraksi ini bisa mengindikasikan keguguran atau masalah lain, atau
bisa juga merupakan gejala plasenta previa. Memang sulit untuk
membedakan antara kontraksi sesungguhnya dengan kontraksi
Braxton-Hicks normal (kontraksi rahim untuk mempersiapkan
persalinan yang mulai terjadi pada awal trimester kedua dan semakin
sering pada trimester ketiga) yang mungkin dirasakan oleh banyak
wanita selama kehamilan. Jangan khawatir ataupun ragu untuk
memeriksakannya ke dokter dan memastikan. Secara umum, pepatah
“lebih baik mencegah daripada mengobati” berlaku bagi kasus ini.

5. Tanyakan diagnosis spesifik


Jika dokter mendiagnosis Anda dengan plasenta previa,
tanyakan dengan lebih spesifik. Ada beberapa macam plasenta previa,
antara lain plasenta previa marginalis, plasenta previa parsialis, dan
plasenta previa totalis.
 Plasenta previa marginalis artinya plasenta melekat pada bagian
bawah rahim tetapi tidak menutupi serviks. Kasus ini umumnya
kembali normal dengan sendirinya sebelum persalinan; plasenta bisa
naik seiring dengan perkembangan kehamilan.

14
 Plasenta previa parsialis artinya plasenta menutupi sebagian serviks,
tetapi tidak seluruhnya. Banyak di antaranya juga sembuh sendiri
sebelum persalinan.
 Plasenta previa totalis menutupi seluruh bukaan serviks, membuat
persalinan normal lewat vagina menjadi tidak mungkin dilakukan.
Kasus-kasus ini umumnya tidak sembuh dengan sendirinya sebelum
persalinan.

6. Ketahui faktor risiko


Beberapa faktor bisa mempertinggi risiko Anda mengalami
plasenta previa. Misalnya, jika Anda berusia lebih dari 30 tahun atau
pernah hamil sebelumnya. Selain itu, jika Anda mengandung lebih
dari satu janin atau jika Anda memiliki jaringan parut di dalam rahim.
Anda harus berhenti merokok selama hamil karena sejumlah alasan,
termasuk karena merokok akan mempertinggi risiko Anda mengalami
kondisi ini.

7. Banyak beristirahat
Salah satu pengobatan untuk plasenta previa adalah banyak
beristirahat. Dengan kata lain, sebaiknya Anda menunda sejumlah
aktivitas berat. Anda tidak akan bisa berolahraga atau melakukan
sejumlah aktivitas normal lainnya seperti biasa. Sebaiknya Anda juga
tidak bepergian jika mengalami kondisi ini

8. Tanyakan kepada dokter apakah dia menyuruh Anda tirah baring (bed
rest).
Jika Anda tidak mengalami pendarahan hebat, dokter akan
menyuruh Anda tirah baring di rumah. Saran dokter akan bervariasi,
tergantung kasusnya. Tetapi secara umum, tirah baring itu seperti
kedengarannya: Anda berbaring hampir sepanjang waktu dan hanya
duduk atau berdiri ketika diperlukan. Namun, tirah baring juga
memiliki risiko kesehatan, yaitu Trombosis Vena Dalam, jadi

15
sekarang tirah baring lebih jarang dianjurkan daripada
sebelumnya.[16] Jika dokter menyarankan tirah baring, tanyakan
alasannya atau carilah pendapat lain.

9. Ikuti anjuran “istirahat panggul”


Istirahat panggul artinya Anda tidak boleh melakukan
aktivitas yang melibatkan area vagina. Misalnya, Anda tidak boleh
berhubungan seksual, melakukan douche (membasuh vagina dengan
cairan khusus).

10. Tanyakan kepada dokter tentang seberapa parah kondisi Anda


Jika Anda mengalami plasenta previa marginalis atau plasenta
previa parsialis, kondisi tersebut bisa sembuh sendiri. Beberapa wanita
yang menderita kasus ringan ini plasentanya sudah berpindah
menjelang persalinan

11. Pantau pendarahan yang terjadi


Risiko terbesar bagi kesehatan Anda adalah pendarahan berat
yang menyertai plasenta previa. Kadang-kadang penderita plasenta
previa mengalami pendarahan uterus (rahim) yang bisa saja fatal.
Pantau tanda-tanda pendarahan berat, baik ketika Anda berada di
rumah maupun di rumah sakit.
Jika Anda mendadak mengalami pendarahan berat, segeralah
pergi ke IGD.

16
BAB III
KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep
1. Subjektif
Merupakan data yang berhubungan / masalah dari sudut pandang
pasien. Ekspresi pasien mengenai kekhawatiran dan keluhan yang dicatat
sebagai kutipan langsung atau ringkasan yang akan berhubungan
langsung dengan diagnosis. Data subjektif menguatkan diagnose yang
akan dibuat. Tanda gejala subjektif yang diperoleh dari hasil bertanya
dari pasien, suami atau keluarga (identitas umum, keluhan, riwayat
menarche, riwayat perkawinan, riwayat kehamilan, riwayat persalinan,
riwayat KB, penyakit sekarang, riwayat penyakit keluarga, riwayat
penyakit keturunan, riwayat psikososial, pola hidup).
2. Objektif ( Data Yang Diobservasi )
Data objektif merupakan pendokumentasian hasil observasi yang
jujur, hasil pemeriksaan fisik pasien, pemeriksaan laboratorium /
pemeriksaan diagnostic lain . Menggambarkan pendokumetasian hasil
analisa dan fisik klien , hasil lab, dan test diagnostic lain yang
dirumuskan dalam data focus untuk mendukung assessment. Catatan
medis atau data fisiologis, hasil observasi yang jujur, informasi kajian
teknologi (hasil pemeriksaan laboratorium, sinar-X, rekaman CTG, USG
dll). Apa yang dapat diobservasi oleh bidan akan menjadi komponen
yang berarti di diagnose yang akan ditegakkan.
3. Analisa ( Diagnosa Kebidanan )
Analisa merupakan pendokumentasian hasil analisis dan
interpretasi (kesimpulan) dari data subjektif dan objektif. Karena keadaan
pasien yang setiap saat bisa mengalami perubahan dan akan ditemukan
informasi baru dalam data subjektif maupun objektif, maka proses

17
pengkajian data akan menjadi sangat dinamis. Analisis yang tepat dan
akurat mengikuti perkembangan data pasien akan menjamin cepat
diketahuinya perubahan pada pasien, dapat terus diikuti dan diambil
keputusan / tindakan yang tepat.
4. Penatalaksanaan (Apa yang dilakukan terhadap masalah)
Penatalaksanaan adalah membuat rencana asuhan saat ini dan yang
akan datang untuk mengusahakan tercapainya kondisi pasien yang sebaik
mungkin atau menjaga atau mempertahankan kesejahteraasnnya. Proses
ini termasuk kriteria tujuan tertentu dari kebutuhan pasien yang harus
dicapai dalam batas waktu tertentu., tindakan yang diambil harus
membantu pasien mencapai kemajuan dalam kesehatan dan harus
mendukung rencana dokter jika melakukan kolaborasi.

18
BAB IV
TINJAUAN KASUS

LAPORAN KASUS KELOMPOK IV

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. M UMUR 34 TAHUN G2P1A0 USIA


KEHAMILAN 29 MINGGU DENGAN PLASENTA PREVIA

Hari/Tanggal Pengkajian : Sabtu, 22 September 2018


Pukul : 15.00 WIB
Tempat Pengkajian : Ruang IGD Obgyn
Pengkaji : Kelompok IV

IDENTITAS PASIEN

Nama Ibu : Ny “M”


Umur : 34 Tahun
Agama : Islam
Suku / Bangsa : Sunda / Indonesia
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Alamat : Kp. Sindari sari, cinunuk
No Hp : 089698951579

IDENTITAS PENANGGUNG JAWAB

Nama Suami : Tn “S”


Umur : 34 Tahun
Agama : Islam
Suku / Bangsa : Sunda / Indonesia
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Buruh
Alamat : Kp. Sindari Sari, cinunuk
No Hp : 089698951579

19
SUBYEKTIF
a. Keluhan Utama:
1. Ibu mengatakan keluar darah merah segar dari jalan lahir sejak 2 jam yang
lalu
2. Perdarahan membasahi 1 pembalut penuh
3. Ibu mengatakan tidak merasa nyeri pada perutnya
b. Riwayat Kesehatan:
 Riwayat Kesehatan Sekarang
Ibu mengatakan tidak menderita penyakit menurun ataupun menahun
seperti hipertensi, jantung, DM.
 Riwayat Kesehatan Lalu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menurun ataupun
menahn seperti hipertensi, Jantung, Diabetes.
 Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan keluarga tidak ada yang menderita penyakit menurun
ataupun menahun, seperti hipertensi, Jantung, DM.
c. Riwayat Menstruasi
 Menarche : 12 Tahun
 Sikls : 28 hari
 Teratur/Tidak : Teratur
 Banyaknya : 2x ganti pembalut/hari
 Lamanya : 4 – 5 hari
 HPHT : 27 Februari 2018
 TP : 06 November 2018
d. Riwayat Perkawinan
 Lama Menikah : 9 Tahun
 Kawin berapa kali : 1x

20
e. Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas yang Lalu
No Tahun Tempat Umur Jenis Penolong Jenis BB/PB Hidup/mati
Lahir Bersalin Kehamilan Persalinan persalinan Kelamin

1 2010 BPM 9 bulan Normal Bidan Perempuan Hidup

2 Hamil
ini

f. Riwayat KB
Ibu mengatakan pernah menggunakan alat kontrasepsi pil selama 6 tahun
g. Riwayat Psikososial
Ibu engatakan memiliki hubungan baik dengan suami, keluarga maupun
tetangga rumah.
h. Pola Kebutuhan Sehari hari
1. Pola Nutrisi
 Makan : 3x/hari, dengan nasi, lauk, sayur
 Minum : 8x/hari, dengan air putih.
2. Pola Eliminasi
 BAB : 2x/hari, konsistensi lembek
 BAK : 5x/hari, warna kuning jernih
3. Personal Hygiene
 Mandi : 2x/hari
 Keramas: 3x/hari
4. Pola Istirahat
 Malam : ± 8 jam
 Siang : ± 1 – 2 jam
5. Pola Aktivitas
Ibu mengatakan hanya melakukan pekerjaan rumah sebelum masuk rumah
sakit.

OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Composmentis

21
Tanda-tanda Vital : TD : 100/70 mmHg
N : 80 x/menit
P : 25 x/menit
S : 36,7’C
2. Pemeriksaan Fisik
Kepala : Rambut hitam, bersih, distribusi merata, tidak ada benjolan,
tidak ada nyeri tekan
Muka : Simetris, tidak pucat
Mata : Simetris, Konjungtiva pucat, sklera putih
Telinga : Simetris, tidak ada pembengkakan, pendengaran jelas
Hidung : Bersih, Tidak ada pembengkakan polip
Mulut : Bersih, Tidak sianosis, bibir lembab , gusi tidak berdarah
Leher : Tidak ada pembengkakan kelenjar tyroid, kelenjar limfe,
vena jugularis dan kelenjar getah bening
Dada : - Inspeksi : simetris , punting susu menonjol ,areola
berwarna kecoklatan , tidak ada kerutan
- Palpasi : tidak teraba benjolan , tidak terdapat nyeri
tekan , asi tidak ada pengeluaran .
- Auskultasi : jantung ( normal )
Abdomen : Tidak ada kelainan, tidak ada luka bekas operasi
 Leopold I : TFU 3 jari diatas pusat (28 cm), fundus
teraba bulat, keras dan tidak melenting (bokong)
 Leopold II : Bagian kiri teraba panjang, keras (
punggung) dan bagian kanan perut ibu teraba bagian
kecil janin (ekstremitas )
 Lepold III : Bagian bawah perut ibu teraba lunak, bulat
dan melenting (kepala)
 Leopold IV : Kepala belum masuk PAP
 Auskultasi
- TBJ : (28-11) X 155 = 2.635gr
- DJJ : 152X/ menit teratur,kuat, punctum
maksimum dua jari dibawah pusat sebelah kanan

22
Ekstremitas :  Atas : simetris, tidak ada oedema, pergerakan normal
 Bawah : simetris, tidak ada varises, tidak ada odema,
reflek patella (+)
Genetalia : Terdapat pengeluaran darah segar, tidak ada varises, tidak
ada pembengkakan kelenjar skin dan kelenjar bartolini
Anus : Tidak ada hemoroid

3. Pemeriksaan Data Penunjang


a. USG : janin tunggal hiup , intra uterin, presentasi kepala
,Uk 29 minggu ,ketuban cukup , plasenta di korpus
posterion
b. CTG : tidak dilakukan
c. LAB :
- HB : 10,3 gr/%
- Hematokrit : 31,6 %
- Leoukosit : 11,36 juta/ul
- Erosit : 3,42 ribu/ul

ANALISA
Ny. M umur 34 tahun G2P1A0 Usia kehamilan 29 minggu,janin tunggal
hidup, intra uteri, keadaan ibu dan janin baik dengan Plasenta Previa

PENATALAKSANAAN
1. Melakukan infrom consent sebelum melakukan tindakan
Ev : ibu mengerti dan menyetujui tindakan yang akan dilakukan
2. Kolaborasi dengan dokter jaga obgyn berupa
- Cek lab
- Infus
- Memasang dower cateter
- Tindakan rawat ekspektatif
- Terapi pemataangan paru-paru janin selama 2 hari 2x6 mg secara IM

23
Ev : Kolaborasi dengan dokter jaga obgyn telah dilakukan
3. Mengobservasi keadaan pasien dan memeriksa keadaan umum, kesadaran, DJJ
dan perdarahan.
Ev : ibu dan keluarga mengetahui keadaan saat ini
K/u : Baik
Kesadaran : compos mentis
TD : 100/70 mmHg p : 25x/m
N : 80 x/m s : 36,8oC

4. Menganjurkan ibu untuk badrest total, Memberitahu ibu untuk menjaga


kebutuhan nutrisi dengan baik, Memberikan support pada ibu agar tidak
cemas
Ev : ibu bersedia untuk melakukan anjuran dari bidan
5. Menganjurkan ibu untuk menjaga personal hygiene agar tidak terjadi infeksi
Ev : ibu bersedia untuk melakukan anjuran bidan
6. Memfasilitasi ibu untuk pindah ke ruang perawatan alamanda A
Ev : ibu sudah dipindahkan keruang alamanda A

24
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Plasenta previa merupakan perdarahn antepartum yang terjadi karena
implantasi plasenta yang abnormal yaitu menutupi sebagian OUI atau
menutupi seluruh OUI, keadaan ini dapat menyebabkan anemia pada ibu dan
kekurangan oksigen pada janin yang dikandung sehingga dapat terjadi
hipoksia dan fetal distress pada janin serta syok karena kekurangan darah
pada ibu, pada keadaan pasien Ny. N segera harus dilakukan terminasi
kehamilan karena ibu mengalami perdarahan untuk menyelamatkan ibu dan
janin, tindakan terminasi kehamilan di lakukan dengan tindakan SC, karena
tidak dapat lahir pervaginam. Pasien Ny. N sudah di tangani dengan tindakan
SC dan dilakukan pemantauan kala IV serta pemberian obat-obatan sesuai
advis dokter.

B. Saran

25
Berikan penjelasan yang jelas kepada pasien dan tentang penyakitnya.
Penatalaksanaan yang efektif dan efisien pada pasien untuk mendapatkan
hasil yang maksimal dan mencegah terjadinya komplikasi. Kepada
mahasiswa atau pembaca disarankan agar dapat mengambil pelajaran dari
laporan ini sehingga apabila terdapat tanda bahaya. Maka kita dapat
melakukan tindakan yang tepat agar penyakit tersebut tidak berlanjut ke arah
yang buruk.

DAFTAR PUSTAKA

Prawirohardjo, Sarwono. 2011. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT. Bina Pustaka

Saifuddin, A.B. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Komplikasi Perinatal

Dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono

Prawirohardjo

Saputra, Lyndon. 2000. Kegawatdaruratan Medik : Pedoman Penatalaksanaan

Praktis. Jakarta : Binarupa Aksara

26
Sofian, Amru. 2012. Rustam Mochtar Sinopsis Obstetri : Obstetri Fisilogi &

Obstetri Patologi Edisi 3 Jilid I. Jakarta : EGC

Wiknjosastro, H. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono

Prawirohardjo.

27