You are on page 1of 70

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penduduk Lanjut Usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan anggota
masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan peningkatan usia harapan
hidup. Pada tahun 1980 penduduk lanjut usia baru berjumlah 7,7 juta jiwa atau 5,2 persen
dari seluruh jumlah penduduk. Pada tahun 1990 jumlah penduduk lanjut usia meningkat
menjadi 11,3 juta orang atau 8,9 persen. Jumlah ini meningkat di seluruh Indonesia menjadi
15,1 juta jiwa pada tahun 2000 atau 7,2 persen dari seluruh penduduk. Dan diperkirakan pada
tahun 2020 akan menjadi 29 juta orang atau 11,4 persen. Hal ini menunjukkan bahwa
penduduk lanjut usia meningkat secara konsisten dari waktu ke waktu. Angka harapan hidup
penduduk Indonesia berdasarkan data Biro Pusat Statistik pada tahun 1968 adalah 45,7 tahun,
pada tahun 1980 : 55.30 tahun, pada tahun 1985 : 58,19 tahun, pada tahun 1990 : 61,12 tahun,
dan tahun 1995 : 60,05 tahun serta tahun 2000 : 64.05 tahun (BPS.2000). Pertambahan
jumlah lansia Indonesia, dalam kurun waktu tahun 1990 – 2025, tergolong tercepat di dunia
(Kompas, 25 Maret 2002:10). Meningkatnya jumlah lansia akan membutuhkan perawatan
yang serius karena secara alamiah lansia itu mengalami penurunan baik dari segi fisik,
biologi maupun mentalnya (Nugroho, 2004).
Usia lanjut (USILA) merupakan tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan
manusia. Setiap orang yang dikaruniai umur panjang akan mengalami tahapan ini. Dengan
berhasilnya pelayanan kesehatan yang ditandai dengan bertambahnya usia harapan hidup
maka kesempatan menjadi usila semakin besar sehingga diperkirakan jumlah usila
semakin bertambah.Dalam Lokakarya Nasional Keperawatan di Jakarta (1983) telah
disepakati bahwa keperawatan adalah “suatu bentuk pelayanan kesehatan kepada masyarakat
yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosial-
kultural dan spiritual yang didasarkan pada pencapaian kebutuhan dasar manusia”. Dalam hal
ini asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien bersifat komprehensif, ditujukan pada
individu, keluarga dan masyarakat, baik dalam kondisi sehat dan sakit yang mencakup
seluruh kehidupan manusia.Sedangkan asuhan yang diberikan berupa bantuian-bantuan
kepada pasien karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan serta
kurangnya kemampuan dan atau kemauan dalam melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-
hari secara mandiri.

1
Pada makalah ini akan dibahas tentang dokumentasi asuhan keperawatan lanjut usia,
dimanan pendekatan yang digunakan adalah proses keperawatan yang meliputi pengkajian
(assessment), merumuskan diagnosa keperawatan (Nursing diagnosis), merencanakan
tindakan keperawatan (intervention), melaksanakan tindakan keperawatan (Implementation)
dan melakukan evaluasi (Evaluation). Serta akan menjelaskan pula tentang kebutuhan bio-
psiko-sosial-kultural dan spiritiual, dan tentang dementia pada lansia.

Sehubungan dengan masalah tersebut di atas, maka kelompok usila perlu mendapat
perhatian dan pembinaan khusus baik oleh pemerintah atau swasta maupun berbagai disiplin
ilmu termasuk keperawatan, agar para usia lanjut dapat mempertahankan kondisi
kesehatannya sehingga tetap dapat produktif, berperan aktif di masyarakat dan tetap bahagia
di usia lanjut.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah dalam makalah ini yaitu :

1. Bagaimana proses asuhan keperawatan dokumentasi pada lansia


2. Bagaimana cara mengisi format asuhan keperawatan pada lansia
3. Bio-psiko-sosial-kultural dan spiritual untuk lansia
4. Bagaimana dementia pada lansia

C. Tujuan Penulis
A. Tujuan umum
Diharapkan mahasiswa mengetahui tentang dokumentasi asuhan keperawatan pada usia
lanjut, bio-psiko-sosial-kultural dan spiritual, dan daya ingat pada lansia.

1. Tujuan khusus
2. Mahasiswa mengetahui dokumentasi asuhan keperawatan
3. Mahasiswa mengetahui bio-psiko-sosial-kultural dan spiritual pada lansia
4. Mahasiswa mengetahui dementia pada lansia

2
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Dokumentasi Asuhan Keperawatan


1. Dokumentasi
Dokumentasi secara umum merupakan suatu catatan otentik atau semua warkat asli yang
dapat dibuktikan atau dijadikan bukti dalam persoalan hukum. Sedangkan dokumentasi
keperawatan merupakan bukti pencatatan dan pelaporan yang dimiliki perawat dalam
melakukan catatan perawatan yang berguna untuk kepentingan klien, perawat, dan tim
kesehatan dalam memeberikan pelayanan kesehatan dengan dasar komunikasi yang akurat
dan lengkap secara tertulis dengan tanggung jawab perawat.

Dokumentasi keperawatan sangat penting bagi perawat dalam memberikan asuhan


keperawatan.Dokumentasi ini penting karena pelayanan keperawatan yang diberikan kepada
klien membutuhkan catatan dan pelaporan yang dapat digunakan sebagai tanggung jawab dan
tanggung gugat dari berbagai kemungkinan masalah yang dialami klien baik masalah
kepuasan maupun ketidak puasan terhadap pelayanan yang diberikan. Dokumentasi
keperawatan mempunyai beberapa kegunaan bagi perawat dan klien antara lain :

1. Sebagai alat komunikasi


Dokumentasi dalam memberikan asuhan keperawatan yang terkoordinasi dengan baik akan
menghindari atau mencegah informasi yang berulang. Kesalahan juga akan berkurang
sehingga dapat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan. Disamping itu, komunikasi juga
dapat dilakukan secara efektif dan efisien.

1. Sebagai mekanisme peratanggunggugatan


Standar dokumentasi memuat aturan atau ketentuan tentang pelaksanaan pendokumentasian.
Oleh karena itu, kualitas kebenaran standar pendokumentasian akan mudah dipertanggung
jawabkan dan dapat digunakan sebagai perlindungan atas gugatan karena sudah memilki
standar hukum.

1. Metode pengumpulan data


Dokumentasi dapat digunakan untuk melihat data – data pasien tentang kemajuan atau
perkembangan dari pasien secara objektif dan mendeteksi kecendrungan yang

3
mungkin terjadi.Dapat digunakan juga sebagai bahan penelitian, karena data –datanya otentik
dan dapat dibuktikan kebenarannya.Selain itu, dokumentasi dapat digunakan sebagai data
statistic.
1. Sarana pelayanan keperawatan secara individual
Tujuan ini merupakan integrasi dari berbagai aspek klien tentang kebutuhan terhadap
pelayanan keperawatan yang meliputi kebutuhan bio-psiko-sosial-spiritual sehingga individu
dapat merasakan manfaat dari pelayanan keperawatan.

1. Sarana evaluasi
Hasil akhir dari asuhan keperawatan yang telah didokumentasikan adalah evaluasi tentang hal
– hal yang berkaitan dengan tindakan keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan.

1. Sarana meningkatkan kerja sama antar tim kesehatan


Melalui dokumentasi, tenaga dokter, ahli gizi, fisioterapi, dan tenaga kesehatan, akan saling
kerja sama dalam memberi tindakan yang berhubungan dengan klien. Karena hanya lewat
bukti – bukti otentik dari tindakan yang telah dilaksanakan, kegiatan tersebut akan berjalan
secara professional.

1. Sarana pendidikan lanjutan


Bukti yang telah ada menuntut adanya system pendidikan yang lebih baik dan terarah sesuai
dengan program yang diinginkan klien. Khusus bagi tenaga perawat, bukti tersebut dapat
digunakan sebagai alat untuk meningkatkan pendidikan lanjutan tentang layanan keperawatan

1. Digunakan sebagai audit pelayanan keperawatan


Dokumentasi berguna untuk memantau kualitas layanan keperawatan yang telah diberikan
sehubungan dengan kompetensi dalam melaksanakan asuhan keperawatan.

2. Dokumentasi Pengkajian
Dokumentasi pengkajian merupakan catatan tentang hasil pengkajian yang dilaksanakan
untuk mengumpulkan informasi dari pasien, membuat data dasar tentang klien, dan membuat
catatan tentang respon kesehatan klien.Pengkajian adalah awal dari tahapan proses
keperawatan. Dalam mengkaji, harus memperhatikan data dasar pasien. Informasi yang
didapat dari klien ( sumber data primer ), data yang didapat dari orang lain ( data sekunder ),
catatan kesehatan klien informasi atau laporan laboratorium, tes diagnostic, keluarga dan

4
orang terdekat, atau anggota tim kesehatan merupakan pengkajian data dasar. Pengumpulan
data menggunakan berbagai metode seperti observasi ( data yang dikumpulkan berasal dari
pengamatan ), wawancara ( bertujuan mendapatkan respons dari klien dengan cara tatap
muka ), konsultasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, ataupun pemeriksaan
tambahan. Manusia mempunyai respons terhadap masalah kesehatan yang berbeda sehingga
perawat harus mengkaji respons klien terhadap masalah secara individual.Tujuan
dokumentasi pengkajian adalah :

1. Untuk mengidentifikasi berbagai kebutuhan dan respons pasien terhadap masalah yang
dapat mempengaruhi perawatan
2. Untuk konsolidasi dan organisasi informasi yang didapat dianalisis dan diidentifikasi
3. Untuk dapat dijadikan sebagai ukuran dalam mencapai/mendapatkan informasi. Dengan
kata lain, dapat dijadikan sebagai rujukan untuk ukuran dan perubahan kondisi pasien.
4. Untuk mengidentifikasi berbagai macam karakteristik serta kondisi pasien dan respons
yang akan mempengaruhi perencanaan perawatan.
5. Untuk menyediakan data yang cukup pada kebenaran hasil observasi terhadap respons
pasien.
6. Untuk menyediakan dasar pemikiran pada rencana keperawatan.
Jenis Dokumentasi Pengkajian
I. Pengkajian Awal ( Initial Assesment )

Pengkajian awal ( intial assessment ), dilakukan ketika pasien masuk kerumah sakit. Bentuk
dokumentasi biasanya merujuk pada data dasar perawatan.Selama pengkajian umum, perawat
mengidentfikasi masalah kesehatan yang dialami klien, dengan mengumpulkan data
pengkajian baik umum maupun khusus dapat memudahkan perencanaan perawat klien.

II. Pengkajian kontinu ( Ongoing Assesment )

Pengkajian kontinu merupakan pengembangan data dasar, informasi yang diperoleh dari
pasien selama pengkajian awal daan informasi tambahan ( berupa tes diagnostic dan sumber
lain ) diperlukan untuk menegakkan data.

5
III. Pengkajian ulang ( Reassesment )

Data pengkajian ulang merupkan pengkajian yang didapat dari informasi selama
evaluasi.Pengkajian ulang berarti perawat mengevaluasi kemajuan data dari masalah pasien
atau pengembangan dari data dasar sebagai informasi tambahan dari pasien.

3. Dokumentasi Diagnose Keperawatan


Diagnose keperawatan adalah keputusan klinis mengenai seeorang, keluarga, atau
masyarakat sebagai akibat dari masalah kesehatan atau proses kehidupan yang actual dan
potensial ( NANDA,1990 ), Diaognose keperawatan memberikan dasar pemilihan intervensi
yang menjadi tanggung gugat perawat. Perumusan diagnose keperawatan adalah bagaimana
diagnose keperawatan digunakan dalam proses pemecahan masalah. Melalui identifikasi,
dapat digambarkan berbagai masalah keperawatan yang membutuhkan asuhan keperawatan.
Disamping itu, dengan menentukan atau menyelidiki etiologi masalah, akan dapat dijumpai
factor yang menjadi kendala atau penyebab. Dengan menggambarkan tanda dan gejala, akan
memperkuat masalah yang ada. Dokumentasi keperawatan merupakan catatan tentang
penilaian klinis dari respons individu, keluarga, atau komunitas terhadap masalah kesehatan
atau proses kehidupan baik actual maupun potensial.
1) Kategori Diagnosa Keperawatan

Untuk memudahkan dalam mendokumentasikan proses keperawatan, harus diketahui


beberapa tipe diagnose keperawatan. Tipe diagnose keperawatan meliputi tipe actual, risiko,
kemungkinan, sehat dan sejahtera, dan sindroma.

1. Diagnose keperawatan actual


Diagnose keperawatan actual menurut NANDA adalah menyajikan keadaan klinis yang telah
divalidasikan melalui batasan karakteristik mayor yang diidentifikasi. Diagnose keperawatan
actual memiliki empat komponen diantaranya : label, definisi, batasan karakterstik, dan factor
yang berhubungan.

Label merupakan deskripsi tentang definisi diagnose dan batasan karakterstik ( Gordon, 1990
), Definisi menekankan pada kejelasan, arti yang tepat untuk diagnose, batasan karakterstik
menentukan karakteristik yang mengacu pada petunjuk, klinis, tanda subjektif, dan objektif.
Batasan ini juga mengacu pada diagnose keperawatan, yang terdiri dari batasan mayor dan

6
minor. Factor yang berhubungan merupakan etiologi atau factor penunjang.Factor ini dapat
mempengaruhi perubahan status kesehatan. Factor yang berhubungan terdiri dari empat
komponen yaitu :

 Patofisiologis ( biologis atau psikologis )


 Tindakan yang berhubungan
 Situasional ( lingkungan, personal )
 Maturasional.
Penulisan rumusan ini adalah PES ( Problem + etiologi+symtoms).

1. Diagnosa keperawatan risiko atau risiko tinggi


Menurut NANDA, diagnosa keperawatan risiko adalah keputusan klinis tentang
individu, keluarga, atau komunitas yang sangat rentan untuk mengalami masalah dibanding
individu atau kelompok lain pada situasi yang sama atau hampir sama.Diagnosa keperawatan
ini mengganti istilah diagnosa keperawatan potensial dengan menggunakan “ risiko terhadap
atau risiko tinggi terhadap ”. validasi untuk menunjang diagnosa risiko tinggi adalah factor
risiko yang meperlihatkan keadaan dimana kerentanan meningkat terhadap klien atau
kelompok dan tidak menggunakan batasan karakteristik.Penulisan rumusan diagnosa
keperawatan risiko tinggi adalah PE ( problem+etiologi )

1. Diagnosa keperawatan kemungkinan


Menurut NANDA, diagnosa keperawatan kemungkinan adalah pernyataan tentang
masalah yang diduga masih memerlukan data tambahan dengan harapan masih diperlukan
untuk memastikan adanya tanda dan gejala utama adanya factor risiko

1. Diagnosa keperawatan sejahtera


Menurut NANDA, diagnosa keperawatan sejahtera adalah ketentuan klinis mengenai
individu, kelompok, atau masyarakat dalam transisi dari tingkat kesehatan khusus ke tingkat
kesehatan yang lebih baik. Cara pembuatan diagnosa ini menggabungkan pernyataan fungsi
positif dalam masing-masing pola kesehatan fungsional sebagai alat pengkajian yang
di sahkan.Dalam menentukan diagnosa keperawatan sejahtera menunjukkan terjadi
peningkatan fungsi kesehatan menjadi fungsi yang positif. Contoh penulisan diagnosa
keperawatan sejahtera : Perilaku mencari bantuan kesehatan yang berhubungan dengan
kurang pengatahuan tentang peran sebagai orang baru ( linda jual carpenito, 1995 )

7
1. Metode dokumentasi diagnosa keperawatan
Dalam melakukan pencatatan diagnosa keperawatan digunakan pedoman
dokumentasi yaitu :

 Gunakan format PES untuk semua masalah actual dan PE untuk masalah resiko
 Catat diagnosa keperawatan yang dibuat risiko dan risiko tinggi ke dalam masalah atau
format diagnosa keperawatan
 Gunakan istilah diagnosa keperawatan yang dibuat dari daftar NANDA
 Mulai pernyataan diagnosa keperawatan dengan mengidentifikasi informasi tentang data
untuk diagnosa
 Masukan pernyataan diagnosa keperawatan kedalam daftar masalah
 Hubungkan setiap diagnosa keperawatan ketika menemukan masalah keperawatan
 Gunakan diagnosa keperawatan sebagai pedoman untuk pengkajian, perencanaan,
intervensi, dan evaluasi
4. Dokumentasi Rencana Keperawatan
Dokumentasi rencana keperawatan merupakan catatan tentang penyusunan “ rencana
tindakan keperawatan ” yang akan dilakukan. Hal ini dilakukan untuk menanggulangi
masalah dengan cara mencegah, mengurangi, dan menghilangkan masalah. Selain itu, untuk
memberikan kesempatan pada perawat, klien, keluarga, serta orang terdekat dalam
merumuskan rencana tindakan.Perencanaan adalah bagian dari fase pengorganisasian dalam
proses keperawatan yang meliputi tujuan perawatan, penetapkan pemecahan masalah, dan
menentukan tujuan perencanaan untuk mengatasi masalah pasien. Tujuan rencana
keperawatan :

 Konsolidasi dan organisasi informasi pasien sebagai sumber dokumentasi


 Sebagai alat komunikasi antara perawat dank lien
 Sebagai alat komunikasi antar anggota tim kesehatan
 Langkah dari proses keperawatan ( pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi )
yang merupakan rangkaian yang tidak dapat dipisahkan
1. a. Tipe Dokumentasi Rencana Keperawatan
Ada dua tipe dokumentasi rencana keperawatan menurut fischbach yaitu :

v Traditionally designed care plans

8
Tipe dokumentasi rencana keperawatan ini menggunakan tiga pendekatan yaitu
diagnosa keperawatan, kriteria hasil, dan intervensi keperawatan atau instruksi perawatan

v Standarlized care plan

Tipe dokumentasi rencana keperawatan ini menggunakan standar praktik keperawatan


dalam pendokumentasian yaitu :

1. Rencana perawatan di cetak berdasarkan diagnosa medic atau prosedur khusus seperti
prosedur katerisasi jantung, pembedahan, dan lain-lain. Tipe ini mengantisipasi respon
terhadap prosedur yang dilakukan
2. Rencana perawatan dibuat berdasarkan diagnosa keperawatan. Hal ini digunakan
berdasarkan pengkajian pasien yang mendukung diagnosa perawatan. Kemudian perawat
menuliskan secara lengkap etiologi dan masalah
3. Rencana perawatan dibuat dengan menggunakan standar computer. Perawat dapat
menyeleksi masalah klien dari menu yang terdapat dalam computer.
4. 5. Dokumentasi implementasi keperawatan
Dokumentasi implementasi merupakan catatan tentang tindakan yang diberikan oleh
perawat.Dokumentasi intervensi mencatat pelaksanaan rencana perawatan, pemenuhan
kriteria hasil dari tindakan keperawatan mandiri, dan tindakan kolaboratif.

Tindakan keperawatan mandiri merupakan tindakan yang dilakukan perawat tanpa


pesanan dokter.Tindakan ini telah ditetapkan oleh standar praktik keperawatan.Intervensi
keperawatan mencakup mengkaji klien, mencatat respons klien terhadap tindakan,
melaporkan status klien kepetugas jaga berikutnya, dan mencatat respons klien terhadap
asuhan keperawatan.Selain itu perawat mengajarkan klien untuk mengubah posisi tidur,
melakukan rentang gerak, mengkaji status fisik klien, dan mengkaji aktivitas hisup sehari-
hari.

Tindakan kolaboratif adalah tindakan yang dilakukan oleh perawat yang bekerja sama
dengan anggota tim kesehatan lainnya untuk mengatasi masalah klien. Tindakan ini
mencakup membahas perencanaan pulang, membahas respons pasien, merujuk klien keterapi
okupasi, memberi obat-obat nyeri sesuai dengan pesanan dokter.

9
Intervensi keperawatan ( tindakan atau implementasi ) merupakan bagian dari proses
keperawatan. Tujuan intervensi adalah mengatasi masalah yang terjadi pada
manusia.Intervensi keperawatan dicatat untuk mengkomunikasikan rencana perawatan,
mencapai tujuan, dilakukan intervensi yang tepat sesuai dengan masalah, serta tetap
melakukan pengkajian untuk evaluasi efektif terhadap perawatan.

1. Tipe intervensi keperawatan


Menurut bleich dan fischbach, tipe intervensi keperawatan dibagi menjadi dua
komponen yaitu :

1. Intervensi perawatan terpeutik


Intervensi ini memberikan pengobatan secara langsung pada masalah yang dialami
pasien, mencegah komplokasi, dan mempertahankan status kesehatan. Intervensi
keperawatan terapeutik, contohnya diagnosa keperawatan : bersihan jalan nafas tidak efektif.
Intervensi keperawatan diantaranya atur posisi pasien untuk oksigenasi, ajarkan tekhnik batuk
secara efektif, lakukan pengisapan ( suction ) pada jalan napas.

1. Intervensi surveilens
Intervensi ini menyatakan tentang survey data dengan melihat kembali data umum
dan membuktikan kebenaran data. Dengan kata lain, sifatnya tidak langsung karena
menyediakan data lebih dulu.Intervensi keperawatan surveilens :

1. Lakukan observasi tanda vital


2. Lakukan pemeriksaan status neurologis
3. Kumpulkan dan tes urine
4. Lakukan pemantauan glukosa darah
5. Lakukan pemeriksaan fisik
6. Lakukan pemantauan jantung
7. Lakukan pemantauan respirasi
8. Lakukan pemantauan masukan dan keluarkan

6. Dokumentasi Evaluasi
Dokumentasi evaluasi merupakan catatan tentang indikasi kemajuan pasien terhadap
tujuan yang dicapai.Evaluasi bertujuan untuk menilai keefektifan perawatan dan untuk

10
mengkomunikasikan status pasien dari hasil tindakan keperawatan. Evaluasi memberikan
informasi, sehingga memungkinkan revisi perawatan

Evaluasi adalah tahapan akhir dari proses keperawatan. Evaluasi menyediakan nilai
informasi mengenai pengaruh intervensi yang telah direncanakan dan merupakan
perbandingan dari hasil yang diamati dengan kriteria hasil yang telah dibuat pada tahap
perencanaan.Pernyataan evaluasi terdiri dari dua komponen yaitu data yang tercatat yang
menyatakan status kesehatan sekarang dan pernyataan konklusi yang menyatakan efek dari
tindakan yang diberikan pada pasien.

Tipe Dokumentasi Evaluasi


Terdapat dua tipe dokumentasi evaluasi yaitu evaluasi formatif yang menyatakan
evaluasi yang dilakukan pada saat memberikan intervensi dengan respons segera dan evaluasi
sumatif yang merupakan rekapitulasi dari hasil observasi dan analisis status pasien pada
waktu tertentu. Untuk dokumentasi evaluasi yang memenuhi standar, dibutuhkan
keterampilan dan pengetahuan aplikasi prinsip ukuran dan proses evaluasi. Proses ini
kemungkinan hanya dipakai jika tujuan dapat di ukur, kepekaan pada pasien tentang
kemampuan mencapai status tujuan, kesadaran tentang factor lingkungan, social dan system
pendukung memadai. Disamping itu, evaluasi juga digunakan sebagai alat ukur suatu tujuan
yang mempunyai kriteria tertentu yang membuktikan apakah tujuan tercapai, tidak tercapai,
atau tercapai sebagian.Contoh penulisan sebagai berikut.
Kriteria tujuan tercapai

Contoh : pasien dapat makan sendiri dengan menghabiskan 1 porsi pada tanggal
30/09/2013

Kriteria tujuan tercapai sebagian

Contoh : pasien dapat makan sendiri tetapi masih merasa mual setelah makan bahkan
kadang muntah

Kriteria tujuan tidak tercapai

Contoh : Pasien tidak dapat makan pada tanggal 30/09/2013

11
Kriteria hasil
Klien mampu mengeluarkan sekresi paru tanpa bantuan tanggal 30/09/2013

Tanggal 30/09/2013

Diagnosa keperawatan : Gangguan bersihan jalan napas

S : Sekarang saya mebatukkan keluar dahak dalam dada saya

O : Paru-paru bersih pada auskultasi

A : Gangguan bersihan jalan napas sudah teratasi

P : Kunjungan rumah dihentikan

( nama perawat )

12
B. Biopsiko Sosial dan Spiritual Pada Lansia
1. Ruang Lingkup Permasalahan
a. Kesehatan.
Pada umumnya disepakati bahwa kebugaran dan kesehatan mulai menurun pada usia
setengah baya. Penyakit-penyakit degeneratif mulai menampakkan diri pada usia ini. Namun
demikian kenyataan menunjukkan bahwa kebugaran dan kesehatan pada usia lanjut sangat
bervariasi. Statistik menunjukkan bahwa usia lanjut yang sakit-sakitan hanyalah sekitar 15-
25%, makin tua tentu presentase ini semakin besar.

Demikian pula usia lanjut yang tidak lagi dapat melakukan “aktivitas sehari-hari” (Activities
of Daily Living) hanya 5-15%, tergantung dari umur. Di samping faktor keturunan dan
lingkungan, nampaknya perilaku (hidup sehat) mempunyai peran yang cukup besar. Perilaku
hidup sehat harus dilakukan sebelum usia lanjut (bahkan jauh-jauh sebelumnya). Perilaku
hidup sehat, terutama adalah perilaku individu, dilandasi oleh kesadaran, keimanan dan
pengetahuan.Menjadi tua secara sehat (normal ageing, healthy ageing) bukanlah satu
kemustahilan, tapi sesuatu yang bisa diusahakan dan diperjuangkan.Seyogyanya dianut
paradigma, mencegah dan mengendalikan faktor-faktor risiko sebaik mungkin, kemudian
menunda kesakitan dan cacat selama mungkin.

b. Sosial.
Secara sosial seseorang yang memasuki usia lanjut juga akan mengalami perubahan-
perubahan. Perubahan ini akan lebih terasa bagi seseorang yang menduduki jabatan atau
pekerjaan formal. la akan merasa kehilangan semua perlakuan yang selama ini didapatkannya
seperti dihormati, diperhatikan dan diperlukan. Bagi orang-orang yang tidak mempunyai
waktu atau tidak merasa perlu untuk bergaul di luar lingkungan pekerjaannya, perasaan
kehilangan ini akan berdampak pada semangatnya, suasana hatinya dan kesehatannya. Di
dalam keluarga, peranannya-pun mulai bergeser.Anak-anaksudah “jadi orang”, mungkin
sudah punya rumah sendiri, tempat tinggalnya mungkin jauh.Rumah jadi sepi, orangtua
seperti tidak punya peran apa-apa lagi.

13
Teori Kejiwaan Sosial
1) Aktivitas atau kegiatan ( Activity Theory )

1. Ketentuan akan mengingatnya pada penurunan jumlah kegiatan secara langsung. Teori ini
menyatakan bahwa pada lanjut usia yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut
banyak dalam kegiatan social
2. Ukuran optimum ( pola hidup ) dilanjutkan pada cara hidup dari lanjut usia
3. Mempertahankan hubungan antara system social dan individu agar tetap stabil dari usia
pertengahan kelanjut usia
2) Kepribadian berlanjut ( Continuity Theory )

Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Pada teori ini menyatakan
bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia dipengaruhi oleh tipe
personality yang dimilikinya.

3) Teori Pembebasan ( Didengagement Theory )

Putusnya pergaulan atau hubungan dengan masyarakat dan kemunduran individu oleh
Cummning dan Henry 1961. Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia,
seseorang secara berangsur – angsur mulai melepaskan pergaulan sekitarnya. Keadaan ini
mengakibatkan interaksi social usia lanjut menurun, baik secara kualitas maupun kuantitas
sehingg sering terjadi kehilangan ganda ( triple loos ) yakni :

 Kehilangan peran ( loss of role )


 Hambatan kontak social ( Restrastion of Contacts and Relation ship )
 Berkurangnya komitmen ( reuced commitmen to social mores dan values )
1. c. Psikososial
Memasuki usia lanjut mungkin sekali akan berdampak kepada penghasilan. Bagi mereka
yang menduduki jabatan formal, pegawai negeri atau ABRI, pension menyebabkan
penghasilan berkurang dan hilangnya fasilitas dan kemudahan kemudahan.Bagi para
profesional, pensiun umumnya tidak terlalu menjadi masalah karena masih tetap dapat
berkarya setelah pensiun.Namun bagi “non profesional” pensiun dapat menimbulkan
goncangan ekonomi.Oleh karena itu, pensiun seyogyanya dihadapi dengan persiapan-
persiapan untuk alih profesi dengan latihan latihan keterampilan dan menambah ilmu, baik

14
dengan pengembangan hobi maupun pendidikan formal. Bagi mereka yang mencari nafkah
melalui sektor non formal, seperti petani, pedagang dan sebagainya, memasuki usialanjut
umumnya tidak akan banyak berdampak pada penghasilannya, sejauh kebugarannya tidak
terlalu cepat mengalami kemunduran dan kesehatannya tidak terganggu. Terganggunya
kesehatan berdampak seperti pisau bermata dua. Pada sisi yang satu menjadi kendala : Untuk
mencari nafkah, pada sisi lain menambah beban pengeluaran. Oleh karena itu, jaminan hari
tua, asuransi kesehatan, tabungan, dan sebagainya akan sangat membantu pada kondisi ini.
Perubahan – Perubahan Psikososial
 Pensiun
Nilai seseorang sering diukur oleh produktivitasnya dan identitas dikaitkan dengan peranan
dalam pekerjaaan, bila seseorang pension ( purna tugas ) ia akan mengalami kehilangan
antara lain :

 Kehilangan finansial ( income berkurang )


 Kehilangan status ( dulu mempunyai jabatan posisi yang cukup tinggi, lengkap segala
fasilitasnya )
 Kehilangan teman / kenalan atau relasi
 Kehilangan pekerjaan / kegiatan
d. Psikologi.
Masalah-masalah kesehatan, sosial dan ekonomi, sendiri-sendiri atau bersama-sama secara
kumulatif dapat berdampak negatif secara psikologis. Hal-hal tersebut dapat menjadi stresor,
yang kalau tidak dicerna dengan baik akan menimbulkan masalah atau menimbulkan stres
dalam berbagai manifestasinya. Sikap mental seseorang sendiri dapat
menimbulkan masalah.Usia kronologis memang tidak dapat dicegah, namun penuaan secara
biologis dapat diperlambat. Rambut yang memutih, kulit yang mulai keriput, langkah yang
tidak lincah lagi dan sebagainya, harus diterima dengan ikhlas. Namun janganlah penuaan
secara psikologis terjadi lebih cepat daripada usia kronologis. Untuk itu diperlukan sikap
mental yang positif terhadap proses penuaan. Menua tidak harus sakit-sakitan, juga tidak
harus loyo dan jompo.Kehidupan spiritual mempunyai peran yang sangat penting. Seseorang
yang mensyukuri nikmat umurnya, tentu akan memelihara umurnya dan mengisinya dengan
hal-hal yang bermanfaat, seperti kata sebuah hadis : “sebaik-baik manusia adalah yang
umurnya panjang dan baik amal perbuatannya”. Kalau mensyukuri nikmat sehat, maka akan
memelihara kesehatan kita sebaik-baiknya. Kalau silaturachmi itu memperpanjang umur, kita
sebaiknya memelihara kehidupan sosial selama mungkin.

15
e. Spiritual
Spiritualitas adalah hubungannya dengan Yang Maha Kuasa dan Maha pencipta, tergantung
dengan kepercayaan yang dianut oleh individu.Spiritual adalah kebutuhan dasar dan
pencapaian tertinggi seorang manusia dalam kehidupannya tanpa memandang suku atau asal-
usul. Kebutuhan dasar tersebut meliputi: kebutuhan fisiologis, keamanan dan keselamatan,
cinta kasih, dihargai dan aktualitas diri. Aktualitas diri merupakan sebuah tahapan Spiritual
seseorang, dimana berlimpah dengan kreativitas, intuisi, keceriaan, sukacita, kasih sayang,
kedamaian, toleransi, kerendahatian serta memiliki tujuan hidup yang jelas (Maslow 1970,
dikutip dari Prijosaksono, 2003).

Spiritual adalah keyakinan dalam hubungannya dengan Yang Maha Kuasa dan Maha
Pencipta (Hamid, 1999).Spiritual juga disebut sebagai sesuatu yang dirasakan tentang diri
sendiri dan hubungan dengan orang lain, yang dapat diwujudkan dengan sikap mengasihi
orang lain, baik dan ramah terhadap orang lain, menghormati setiap orang untuk membuat
perasaan senang seseorang. Spiritual adalah kehidupan, tidak hanya doa, mengenal dan
mengakui Tuhan (Nelson, 2002). Menurut Mickley et al (1992) menguraikan Spiritual
sebagai suatu yang multidimensi yaitu dimensi eksitensial dan dimensi agama.Dimensi
eksistensial berfokus pada tujuan dan arti kehidupan, sedangkan dimensi agama lebih
berfokus pada hubungan seseorang dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Spiritual sebagai
konsep dua dimensi, dimensi vertikal sebagai hubungan dengan Tuhan atau Yang Maha
Tinggi yang menuntun kehidupan seseorang, sedangkan dimensi horizontal adalah hubungan
dengan diri sendiri, dengan orang.

Dimensi Spiritual Pada Pasien Lansia


Menurut Koezier & Wilkinson, 1993 cit Hamid, 2000, dimensi spiritual adalah upaya untuk
mempertahankan keharmonisan atau keselarasan dengan dunia luar, berjuang untuk
menjawab atau mendapat kekuatan ketika sedang menghadapi stres emosional, penyakit fisik
atau kematian. kekuatan yang timbul diluar kekuatan manusia. Dimensi spiritual berupaya
untuk mempertahankan keharmonisan atau keselarasan dengan dunia luar, berjuang untuk
menjawab atau mendapatkan kekuatan ketika sedang menghadapi stress emosional, penyakit
fisik, atau kematian.Dimensi spiritual juga dapat menumbuhkan kekuatan yang timbul diluar
kekuatan manusia (Kozier, 2004).Spiritualitas sebagai suatu yang multidimensi, yaitu
dimensi eksistensial dan dimensi agama, Dimensi eksistensial berfokus pada tujuan dan arti
kehidupan, sedangkan dimensi agama lebih berfokus pada hubungan seseorang dengan

16
Tuhan Yang Maha Penguasa.Spirituailitas sebagai konsep dua dimensi.Dimensi vertikal
adalah hubungan dengan Tuhan atau Yang Maha Tinggi yang menuntun kehidupan
seseorang, sedangkan dimensi horizontal adalah hubungan seseorang dengan diri sendiri,
dengan orang lain dan dengan lingkungan. Terdapat hubungan yang terus menerus antara dua
dimensi tersebut (Hawari, 2002).

Perkembangan Spiritual Pada Pasien Lansia


Kelompok usia pertengahan dan lansia mempunyai lebih banyak waktu untuk kegiatan agama
dan berusaha untuk mengerti agama dan berusaha untuk mengerti nilai-nilai agama yang
diyakini oleh generasi muda. Perasaan kehilangan karena pensiun dan tidak aktif serta
menghadapi kematian orang lain (saudara, sahabat) menimbulkan rasa kesepian dan mawas
diri.Perkembangan filosofis agama yang lebih matang sering dapat membantu orang tua
untuk menghadapi kenyataan, berperan aktif dalam kehidupan dan merasa berharga serta
lebih dapat menerima kematian sebagai sesuatu yang tidak dapat ditolak atau dihindarkan
(Hamid, 2000).
Mubarak et.al (2006),perkembangan spiritual yang terjadi pada lanjut usia antara lain.
 Agama/kepercayaan semakin terintegrasi dalam kehidupan
 Lanjut usia makin matur dalam kehidupan keagamaannya, hal ini terlihat dalam berfikir
dan bertindak dalam sehari-hari. Perkembangan spiritual pada usia 70 tahun menurut
Fowler : universalizing, perkembangan yang dicapai pada tingkat ini adalah berfikir dan
bertindak dengan cara memberikan contoh cara mencintai dan keadilan.
2. Batasan Dan Pemahaman
A. a. Pendekatan Holistik
Pendekatan holistik, adalah pendekatan “secara utuh” bio-psiko-sosial ekonomi dan spiritual,
terhadap kehidupan, dengan mengingat bahwa pada hakikatnya

 Manusia adalah hamba Allah


 Manusia adalah makhluk sosial dan bagian dari alam semesta
 Manusia adalah “Kesatuan yang utuh” (an integrated whole) jasmanirohani.
Dengan cara pendekatan ini, maka gangguan pada salah satu aspek kehidupan, misalnya
gangguan kesehatan jiwa, dapat dan bahkan harus dicari sebabnya pada kemungkinan
adanya “disharmoni” salah satu atau lebih dari sisi kehidupan manusia tersebut.
b. Usia Lanjut

17
Di Indonesia batasan usia lanjut yang tercantum dalam Undang-undang No.12/1998tentang
Kesejahteraan Usia Lanjut adalah sebagai berikut : Usia lanjut adalah seorang yang telah
mencapai usia 60 tahun ke atas (Depsos,1999); batasan ini sama dengan yang dikemukakan
oleh Burnside dkk. Menurut WHO
 Elderly (64 – 74 thn)
 Old (75 – 90 thn)
 Very Old (> 90 thn)
1. c. Usia Lanjut Sehat
Usia lanjut sehat adalah usia lanjut yang dapat mempertahankan kondisi fisik dan mental
yang optimal serta tetap melakukan aktivitas sosial dan produktif. Ciri usia lanjut sehat :

 Memiliki tingkat kepuasan hidup yang relatif tinggi karena merasa hidupnya bermakna,
mampu menerima kegagalan yang dialaminya sebagai bagian dari hidupnya yang tidak
perlu disesali dan justru mengandung hikmah yang berguna bagi hidupnya.
 Memiliki integritas pribadi yang baik, berupa konsep diri yang tepat dan terdorong untuk
terus memanfaatkan potensi yang dimilikinya.
 Mampu mempertahankan sistem dukungan sosial yang berarti, berada di antara orang-
orang yang memiliki kedekatan emosi dengannya, yang memberi perhatian dan kasih
sayang yang membuat dirinya masih diperlukan dan dicintai.
 Memiliki kesehatan fisik dan mental yang baik, didukung oleh kemampuan melakukan
kebiasaan dan gaya hidup yang sehat.
 Memiliki keamanan finansial, yang memungkinkan hidup mandiri, tidak menjadi beban
orang lain, minimal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
 Pengendalian pribadi atas kehidupan sendiri, sehingga dapat menentukan nasibnya
sendiri, tidak tergantung pada orang lain. Hal ini dapat menjaga kestabilan harga dirinya.
d. Proses Penuaan
Proses penuaan pada seseorang sebenarnya sudah mulai terjadi sejak pembuahan/konsepsi
dan berlangsung sampai-pada saat kematian. Dalam perjalanannya proses tersebut akan
dipengaruhi oleh variabel-variabel :

 Kultural dan etnik


 Polesan genetik dan keturunan
 Kondisi fisiologis pada waktu konsepsi dan kelahiran
 Pertumbuhan dan maturasi

18
 Lingkungan, sistem famili dan hubungara kemaknaan lainnya.
Proses penuaan mengakibatkan terganggunya berbagai organ di dalam tubuh seperti system
gastro-intestinal, sistem genito-urinaria, sistem endokrin, sistem immunologis, sistem
serebrovaskular dan sistem saraf pusat, dsb. Perubahan yang terjadi pada otak mulai dari
tingkat molekuler, sampai pada struktur dan fungsi organ otak. Akibat dari perubahan
tersebut maka antara lain akan terjadi penurunan peredaran darah ke otak padadaerah tertentu
dan gangguan metabolisme, neurotransmiter, pembesaran ventrikel sampai akhimy a terjadi
atrofi dari otak dan berat otak mengalami pengurangan kurang lebih 7% dari berat
sebelumnya. Akibat di atas, maka fenomena yang muncul adalah perubahan struktural dan
fisiologis, seperti sulit tidur, gangguan perilaku, gangguan seksual dan gangguan kognitif.

e. Kesejahteraan Usia Lanjut


Menurut pasal 1 UU No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Usia Lajut bahwa yang
dimaksud dengan kesejahteraan adalah suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial baik
material maupun spiritual yang diliputi oleh rasa keselamatan, kesusilaan dan ketenteraman
lahir dan batin yang memungkinkan bagi setiap warga negara untuk mengadakan pemenuhan
kebutuhan jasmani, rohani dan sosial yang sebaik-baiknya bagi diri, keluarga serta
masyarakat dengan menjunjung tinggi hak dan kewajiban asasi manusia sesuai dengan
Pancasila. Kesejahteraan ini hanya dapat tercapai jika ada jaminan sosial terutama dalam
bentuk pensiun, asuransi pensiun dan asuransi kesehatan dari pemerintah ataupun swasta,
jaminan dari anak-anaknya atau keluarganya atau yang bersangkutan sendiri.Usia Lanjut
Potensial adalah usia lanjut yang masih mampu melakukan pekerjaan dan atau kegiatan yang
dapat menghasilkan barang dan atau jasa.
f. Budaya
Konsep budaya menurut Linton adalah : suatu tatanan pola perilaku yang dipelajari,
diciptakan, serta ditularkan di antara suatu anggota masyarakat tertentu. Batasan budaya
menurut Koentjaraningrat adalah : keseluruhan sistemgagasan, tindakan dan basil karya
manusia, dalam rangka kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan milik diri manusia dengan
belajar. Karakteristik budaya menurut TO. Ihromi adalah :

 Budaya diciptakan dan ditransmisikan lewat proses belajar


 Budaya dimiliki bersama oleh sekelompok manusia dan merupakan pola kelakuan umum
 Budaya merupakan mental blue print
 Penilaian terhadap budaya bersifat relative

19
 Budaya bersifat dinamis, adaptif dan integratif.
Pemahaman akan konsep budaya, membawa kita pada kesimpulan bahwa gagasan, perasaan
dan perilaku manusia dalam kehidupan sosialnya sangat dipengaruhi oleh budaya yang
berlaku di masyarakat. Demikian pula pergeseran ataupun perubahan pada tatanan budaya
dalam suatu masyarakat akan diiringi denganperubahan perilakudari individu yang hidup di
dalamnya. Budaya tercipta sebagai upaya manusia untuk beradaptasi terhadap
masalahmasalah yang timbul dari lingkungan hidupnya.Selanjutnya budaya mempengaruhi
pembentukan dan perkembangan kepribadian manusia dalam kelompoknya.Interaksi
keduanya membentuk suatu pola spesifik perilaku, proses pikir, emosi dan persepsi individu
atau kelompok dalam bereaksi terhadap tekanan-tekanan kehidupan.Dengan demikian dapat
dimengerti peranan budaya dalam masalah kesehatan jiwa.

g. Gangguan Psikologis dan Masalah Perilaku pada Usia Lanjut


Tahap memasuki usia tua ini akan dialami oleh semua orang (tak bisa dihindarkan), tetapi
kondisi fisik dan psikologis usia lanjut sangat berbeda dari satu usia lanjut dengan usia lanjut
lainnya. Kekuatan tubuh yang mulai berkurang daya penyesuaian diri, reaksi terhadap
lingkungan, daya inisiatif dan daya kreatif ini pada usia lanjut dapat menimbulkan masalah
psikologis. Kondisi menjadi tua bukan terjadi dalam waktu semalam, tetapi telah mengikuti
rentang kehidupan yang cukup lama dan dalam memandang pembentukan kepribadian
seseorang pandangan holistik dapat membantu kita lebih memahami perilaku seseorang.

Pandangan holistik ini ialah bahwa pribadi seseorang yaitu faktor biologis, psikologis, sosial
budaya, dan agama; keempat faktor inilah yang memberikan warna tertentu pada seseorang
sejak dalarn kandungan sampai usia lanjut. Dengan kata lain apa yang terjadi dan akan
dialami oleh usia lanjut tidak dapat dilepaskan dari pembentukan pengalaman masa lalu di
mana dia akan memperlihatkan wxrna kepribadian tertentu yang akan menentukan seberapa
berhasil dan tidak berhasil dalam memasuki dan menjalani usia lanjut. Misalnya seseorang
yang sebelumnya sudahmemperlihatkan kemampuan penyesuaian diri yang baik, tentunya
diharapkan dapat menjalani usia lanjut dengan lebih baik, dibandingkan dengan mereka yang
sebelumnya mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri.

Persepsi psikologis usia lanjut terhadap dirinya. Seperti yang telah diulas di muka, persepsi
seseorang tentang citra dirinya akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana dia membentuk
kepribadiannya. Seseorang dengan kepribadian yang stabil, hangat, positif dalam menentukan

20
jalan pikirannya, biasanya akan lebih baik dan mudah dalam menghadapi usia lanjutnya.
Walaupun demikian memang tidak dapat dipungkiri bahwa sikap dari masyarakat terhadap
sosial budaya ikut andil dalam menentukan persepsi citra diri usialanjut ini. Secara budaya
ada pandangan bahwa usia lanjut sudah tidak dapat didayagunakan, sudah ada keterbatasan
gerak dan pengambilan keputusan. Budaya sering kali mendudukkan mereka pada peran yang
dituakan, di sini mengandung dua pengertian, yaitu dituakan untuk tempat mencari nasihat
hidup bagi generasi yang lebih muda, atau dituakan dalam arti tidak lagi diajak
berdiskusi, berkomunikasi.Untuk selanjutnya terjadi lingkaran setan antara sikap lingkungan
dan perilaku yang diperlihatkan oleh usia lanjut dengan memasuki dan menjalani usia lanjut,
seseorang akan dituntut untuk mengadakan penyesuaian diri. Beberapa kendala yang bisa
muncul :
1. Sikap dan pandangan masyarakat terhadap usia lanjut dapat memicu munculnya
perilaku/sikap tidak berdaya tidak berguna, tidak bisa membantu apapun.
2. Keadaan yang sulit berkomunikasi disebabkan kurangnya daya pendengaran, kurangnya
kemampuan mengingat, kesulitan menangkap isi pembicaraan orang lain menyebabkan
usia lanjut akan memperlihatkan perilaka menjauh dan menjaga jarak dengan orang
sekitarnya. 8. Pola Tidur Pola tidur adalah model, bentuk atau corak tidur dalam jagka
waktu yang relatif menetap dan meliputi :
 Jadwal jatuh (masuk) tidur dan bangun
 Irama tidur
 Frekuensi tidur dalam sehari
 Mempertahankan kondisi tidur
 Kepuasan tidur.
Tidur adalah kondisi organisme yang sedang istirahat secara reguler, berulang dan
reversibel dalam keadaan mana ambang rangsang terhadap rangsangan dari luar lebih tinggi
jika dibandingkan dengan pada keadaan jaga.

C. Dementia Pada Lansia


Menurut WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) dan Asosiasi Psikogeriatrik Amerika,
Demensia adalah kehilangan kemampuan intelektual, termasuk daya ingat yang cukup parah
sehingga mengganggu fungsi sosial dan pekerjaan yang diakibatkan dari gangguan
di otak.Pikun atau istilah bahasa latin Demensia adalah kerusakan progresif dari fungsi
kognitif yang terjadi dalam kesadaran yang jernih. Demensia mempunyai banyak tanda dan
gejala terdapat disfungsi kronik dan tersebar.Gambaran utama ialah adanya kerusakan

21
menyeluruh kemampuan intelek, dengan manifestasisebagai kesulitan dalam ingatan,
perhatian, berpikir, dan penggabungan. Pikun hampir selalu beridentifikasi usia lanjut, namun
sesungguhnya pikun bisa terjadi pada semua segmen umur, yaitu saat usia muda. Proses
terjadinya pikun usia muda berbeda dengan usia tua.
Menurut Harianti (2008: 9), berdasarkan persepsi yang berkembang di masyarakat,
dengan bertambahnya usia, seseorang akan bertambah menjadi pelupa atau demensia, tidak
kreatif dan tidak bisa bekerja lagi. Hal ini tentu saja tidak benar. Demensia sebenarnya bukan
karena faktor usia orang menjadi pikun. Beberapa faktor penyebab demensia antara lain
sering mengonsumsi jenis obat tertentu, penyakit, gizi yang kurang baik dan memercayai
anggapan yang beredar bahwa usia yang menua akan membuat seseorang menjadi pelupa
atau demensia.

Ahli saraf dari Jepang, Dr Nozomi Okamoto dalam penelitian terbarunya


mengungkap bahwa kondisi kesehatan gusi yang merupakan penyebab gigi tanggal
berhubungan erat dengan risiko kepikunan.Ia menyimpulkan hal itu setelah meneliti 6.000
lansia berusai 65 tahun ke atas. Infeksi yang terjadi di gusi dapat menyebabkan senyawa
tertentu yang memicu radang yang bisa terbawa oleh aliran darah menuju tempat lain
termasuk otak, kemudian menyebabkan radang di jaringan tersebut. Radang yang terjadi di
jaringan otak dapat menyebabkan kematian sel-sel saraf yang hampir seluruhnya berpusat di
sana. Kerusakan pada saraf-saraf memori dan kognitif adalah penyebab utama terjadinya
demensia pada orang dewasa maupun lansia.
Gejala klinik demensia penting dengan mengidentifikasikan sindrom dan
penatalaksanaan klinis dari penyebabnya.Kelainan ini dapat progresif atau statis, permanen
atau tidak menetap.Tingkat pemulihan demensia dihubungkan dengan kondisi patologi
penyakit yang mendasarinya dan penggunaan pengobatan yang efektif.

Pengelompokan Demensia
1. a. Demensia yang tidak dapat pulih (Irreversible Dementia)
 Demensia Tipe Alzheimer (DTA)
 Korea Huntington
 Penyakit Parkinson
 Lain-lain
1. b. Demensia yang dapat pulih (Reversible Dementia)
 Demensia vaskuler.

22
 Hidrosefalus dengan Tekanan Normal (Normal Pressure Hydrocephalus)
1. c. Demensia menetap yang diinduksi oleh zat
 Intoksikasi obat
 Tumor Otak
 Trauma Otak
 Infeksi
 Gangguan metabolic
 Gangguan jantung, paru, hati dan ginjal.
Tanda & Gejala Demensia
 Penurunan memori (daya ingat)
 Penurunan daya orientasi
 Hendaya (impairment) intelektual
 Gangguan daya nilai (judgment)
 Gejala psikotik
 Hendaya berbahasa
Tanda Dan Gejala Demensia Stadium Dini
1. Perubahan samar-samar kepribadian
2. Hendaya (gangguan) penampilan
3. Minat berkurang
4. Depresi sering terjadi
Tanda Dan Gejala Demensia Stadium Lanjut
1. Penurunan memori (daya ingat)
2. Penurunan daya orientasi
3. Daya intelektual
4. Gangguan daya nilai
5. Gejala psikotik
6. Daya berbahasa

D. Daya Ingat (Memori) Pada Lansia


Memori atau daya ingat dan proses belajar merupakan satu kesatuan. Belajar
merupakan proses untuk memperoleh informasi atau pengetahuan baru, sedangkan memori
adalah proses penyimpanan informasi tersebut serta dapat mengingatnya kembali bila
dibutuhkan. Proses ingat-mengingat memori terdiri atas :

23
1. Encoding, di mana suatu informasi dari dunia luar akan ditera dan didistribusikan ke
beberapa unit penyimpanan di otak sebelum unit tersebut dapat mempelajari materinya.
2. Konsolidasi merupakan Retrieval adalah mengingat kembali penyimpanan informasi
tersebut yang lebih permanen bahan informasi yang telah disimpan.
3. Retrieval adalah mengingat kembali bahan informasi yang telah disimpan.
Memori terdiri atas :

1. Daya ingat sesaat (Immediate Memory) yaitu informasi yang hanya disimpan selama
beberapa detik saja :contoh, memutar nomor telpon sambil melihat nomor tersebut di
buku telpon, di mana kita
langsung lupa nomor tersebut setelah memutarnya.
2. Daya ingat jangka pendek (Short-term Memory) yaitu informasi dapat diingat setelah
beberapa menit memperhatikan dan menghafalnya contoh, memutar nomor telpon sambil
menghafalnya. Dapat bertahan dalam beberapa menit —jam.
3. Daya ingat jangka panjang (Long – term Memory) yaitu informasi masa lampau masih
dapat diingat. Ini merupakan bank memori tentang apa yang kita ketahui dari pendidikan
dan pengalaman, sebagian besar akan hilang setelah beberapa lama.
E. Masalah Daya Ingat (Memori_)
Menurut isinya daya ingat terdiri atas

 Episodic Memory tentang peristiwa dan fakta dalam hidup.


 Semantic Memory tentang pelajaran di sekolah. Semantic memory lebih diingat
ketimbang episodik.
 Procedural Memory tentang bagaimana melakukan kegiatan sehari-hari (berjalan,
bersepeda). Pada umumnya memory ini tidak mudah dilupakan.
LUPA
Adalah keadaan di mana informasi yang pernah dipelajari tidak dapat dikeluarkan
pada waktu dibutuhkan.Beberapa penyebab mudah lupa.
 Fisiologis : benign senescent forgetfulness
 Patologis : merupakan gangguan mental ringan yang masih normal pada usia lanjut.
1. Keadaan Reversibel
~ Drug induced (Single or Drug interactions): Obat-obat analgesics (NSAID), sedative
(benzodiazepine), antidepresan, alkohol, antihipertensi, antihistamin, antikonvulsan,
antibiotik, antiaritmik, antiparkinson, muscle-relaxant, logam berat dan insektisida.

24
~ Metabolik / Endo krin tuitarisme, penyakit Wilson, hipotiroidi, defisiensi Vit. B1,,B2,
B6, B12.
~ Neurologik : gegar otak, tumor, hidrosefalus tekanan normal, hematoma subdural
kronik, sifilis, meningitis kronik. depresi, gangguan Psikiatrik mood bipolar.
1. Keadaan Irreversibel / Progresif
Neurologik : penyakit Alzheimer, penyakit Lewy – body, demensia vaskular, demensia
fronto-temporal, penyakit Pick, penyakit Prion.Tahap penurunan fungsi kognitif pads usia
lanjut
Age-associated memory impairment (AAMI) atau benign senescent forgetfulness
merupakan gangguan mental ringan yang masih normal pada usia lanjut. Pada mereka
ditemukan perlambatan dalam belajar, sering membutuhkan cue pada retrieval dan
mengalami forget to remember menurut diagnostic criteria of aging – associated cognitive
decline (AACD) – Working Party of the International Psychogeriatric Association in
collaboration with the WHO.

1. Adanya laporan yang dapat dipercaya bahwa fungsi kognitifnya mulai menurun.
2. Timbulnya kemunduran tersebut terjadi bertahap minimal dalam enam bulan.
3. Dijumpai adanya gangguan pada salah satu fungsi yaitu memori dan belajar, atensi dan
konsentrasi, problem solving – abstraksi, bahasa (comprehension, mencari kata yang
tepat) dan visuospasial.
4. Pada asesmen (tes neuropsikologi dan mini mental) memberikan hasil paling sedikit 1 SD
(standar deviasi) di bawah normal.
5. Kriteria eksklusif; penyakit serebral, sistemik, depresi, anxietas, delirium, postensefalitis,
postkontusio dan pengaruh obat-zat.
AAMI disebabkan oleh beberapa keadaan yaitu
1. Proses berpikir yang lamban
2. Kesulitan memusatkan perhatian dan konsentrasi
3. Memerlukan waktu lebih lama untuk belajar sesuatu yang baru
4. Kesulitan menghindari hal yang tidak perlu (distraktor)
5. Memerlukan lebih banyak isyarat (cue) untuk me-recall (mengingat) sesuatu
6. Kurang menggunakan strategi memori yang tepat.
Kriteria Mudah Lupa (Forgetfulness)
7. Mudah lupa nama benda, nama orang dan sebagainya
8. Gangguan dalam mengingat kemb ali (Retrieval)

25
9. Gangguan dalam mengambil kembali informasi yang telah tersimpan dalam memori
(Recall = Active retrieval)
10. Memerlukan isyarat (cue) untuk retrieval
11. Lebih sering menjabarkan fungsi atau bentuk ketimbang menyebut namanya.
Tahapan Penurunan Fungsi Memori

1. Memori deklaratif episodik, yaitu mengingat kembali masalah yang berkaitan dengan
waktu dan tempat (kapan dan di mana peristiwa itu terjadi).
2. Penurunan memori deklaratif semantik (masalah yang berkaitan dengan pengetahuan dan
pengalaman).
3. Penurunan memori prosedural (keterampilan motorik yang pemah dipelajari).

F. Tes Skrining MMSE


Salah satu cara yang mudah untuk melakukan skrining terhadap kemunduran ini
adalah dengan Mini Mental State Examination (MMSE) yang merupakan suatu tes skrining
yang valid terhadap gangguan kognisi yang berkorelasi cukup baik dengan tes standard
Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS). Clock Drawing TestPertama kali penelitian
tentang Clock Drawing Test (CDT) tahun 1983.Saat itulah tes tersebut digunakan di berbagai
macam setting.Tes tersebut memerlukan kemampuan pemahaman, kemampuan visual
spasial, kemampuan merekonstruksi, konsentrasi, pengetahuan angka, ingatan visual dan
fungsi eksekutif. Meskipun tes tersebut mampu untuk menguji aspek kognitif yang luas, CDT
tidak terlalu menekankan pada aspek pengetahuan dibandingkan dengan tes lain misalnya
The abbreviated mental test score (AMTS) yang lebih pendek ataupun the Mini Mental State
Examination (MMSE) yang lebih umum. (Henderson, Scot, & Hotopf, 2007),
Inti dari tugas tes tersebut adalah aktivitas menggambar permukaan jam kemudian
menggambar jarum jam yang menunjuk pada arah tertentu sebagai simbol dari waktu.
Sejumlah variasi sudah berkembang, demikian juga variasi dari sistem penilaiannya, akan
tetapi yang disering digunakan adalah yang dikembangkan oleh Manos dan Shulman. CDT
menunjukkan korelasi yang baik dengan tes fungsi kognitif yang lain yaitu MMSE dan The
Blessed Dementia Rating Scale (Henderson, Scot, & Hotopf, 2007).
CDT mempunyai kemungkinan kelemahan terbesar karena tidak sesuai untuk orang-
orang yang mengalami gangguan penglihatan atau gangguan neurologis lengan bagian atas
seperti kelumpuhan atau tremor. Beberapa ahli berpendapat bahwa umur dan pendidikan
menyebabkan bias pada penilaian CDT, meskipun ahli lain mengatakan sebaliknya. Di sisi

26
lain, CDT mempunyai banyak keuntungan dibandingkan dengan metode skrining gangguan
kognitif yang lain yaitu tidak terpengaruh dengan suasana hati, bahasa atau budaya, selain itu
tidak membutuhkan pengetahuan yang tidak semestinya. Selain itu, CDT biasanya menarik
perhatian para penderita karena tidak terlalu lama dan mudah diterima.(Henderson, Scot, &
Hotopf, 2007).
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini memberikan gambaran mengenai pengadministrasian Clock
Drawing Test di Indonesia dan fungsinya untuk mengetahui tanda-tanda orang lanjut usia
yang mengalami demensia.
METODE Pemilihan Subjek
Subjek penelitian merupakan responden dari mahasiswa peserta mata kuliah
Psikogeriatri. Mereka mendapatkan tugas untuk mencari orang lanjut usia yang ada di sekitar
mereka untuk dites, diobservasi dan diwawancarai, Orang lanjut usia yang dipilih yang
mempunyai kriteria berumur diatas 55 tahun. Sebelumnya, mahasiswa diberikan pelatihan
selama satu hari (dalam satu kali pertemuan kuliah) untuk memberikan instruksi, aspek yang
diobservasi dan diawawancarai. Para mahasiswa yang bertugas mengambil data sudah
mempunyai bekal pengetahuan tentang orang lanjut usia, baik berkaitan dengan perubahan
fisik, kognitif, emosi dan sosialnya maupun dengan berbagai macam penyakit yang biasa di
alami orang lanjut usia tersebut. Responden yang diberikan CDT sebanyak 140 orang, tetapi
tidak seluruhnya dapat dianalisis karena ada beberapa data yang tidak ditampilkan misalnya
pendidikan, tidak ada hasil wawancara dan observasi mengenai keseharian responden.Jumlah
data yang memadai adalah 133 responden.
Instrumen Penelitian
Untuk mengambil data digunakan Clock Drawing Test dari Shulman, Gold, Cohen,
dan Zucchero (1993). Pengadministrasiannya sebagai berikut :Hartati dan Widayanti, Clock
Drawing
Instruksi

Langkah 1: Memberikan responden sehelai kertas dengan lingkaran yang seperti jam,
besarnya relatif sesuai dengan angka yang akan digambar. Ditunjukkan bagian atas dan
bawah.

27
Langkah 2: Responden diminta untuk menggambar angka-angka di lingkaran tersebut
sehingga berbentuk seperti jam dan menggambar jarum jam yang menunjuk jam ’11 lewat 10
menit’.

b) Skoring

Skoring dapat diperhatikan


pada tabel 1 berikut
ini. Skor Kesalahan Contoh-contoh

Tidak ada kesalahan sama


1 Sempurna sekali

a) kesalahan
membuat spasi angka
yang kecil

b) menggambar
angka jam di luar
lingkaran

c) membalik kertas
saat menuliskan jam
sehingga angka terbalik

d) Menggambar jari-
jari untuk menyesuaikan
angka jam
Kesalahan visual
2 spasial kecil

3 Tidak mampu a) Jarum yang


menunjuk seting jam menunjuk menit ada di

28
’11 lebih 10 menit’ angka 10
padahal saat
organsasi visual b) Menulis jam 11
spasial terlihat lebih 10 menit
sempurna atau hanya
menunjukkan c) Tidak mampu

penyimpangan yang menggambar penunjuk

kecil waktu

a) Pembuatan spasi
yang tidak akurat

b) Menghilangkan
angka

c) Perseverasi:
mengulang lingkaran atau
melanjutkan lebih 12
dengan 13, 14, 15, dst

d) Bagian kiri kanan


terbalik: angka
digambarkan
berkebalikan arah jarum
jam
Disorganisasi visual
spasial yang ringan e) Disgrapia: tidak
sehingga tidak mampu menulis angka
mungkin akan dengan akurat
menunjuk jam ’11
4 lebih 10 menit’

29
Tingkat yag parah
pada disorganisasi
tersebut seperti pada Lihat contoh dari skoring
5 skoring 4 4

a) Tidak ada usaha


sama sekali

b) Tidak ada
kemiripan dengan jam
sama sekali

c) Menulis nama atau


kata
Tidak mampu
6 merepresntasikan jam

Alat Ukur Demensia


Untuk mengetahui ada tidaknya demensia pada lansia digunakan tes Mini Mental state
Examination (tes mini mental) untuk mendeteksi adanya dantingkat kerusakanintelektual.

No. Orientasi Skor

Sebutkan : Tahun berapa sekarang 1

Musim apa (hujan/kemarau) 1

Tanggal 1

1 Bulan 1 1

30
1

1
Sebutkan dimana kita sekarang :

1
1. Negara
2. Propinsi 1
3. Kota
2 4. Rumah sakit (paling dekat dengan rumah) 1 1
5. Bagian rumah (sebutkan)

Registrasi
1

Pemeriksa menyebutkan 3 nama benda denganantara


1
1 detik waktu menyebut nama bendatersebut
(misalnya : buku, mangkok, payung).Setelah selesai, 13
suruh penderita menyebutnya.Beri angka 1 tiap
3 jawaban yang betul. Bila salah,suruh mengulang 1
sampai betul semua.

Perhatian dan Kalkulasi :

Hitungan kurang 7. Misalnya : 100-7,pendapatannya


dikurangi lagi dengan 7, demikianseterusnya sampai
5 jawaban. Jadi : ( 100 – 7 =93 – 7 = 86 – 7 = 79;
72; 65 ). Beri angka 1 bagitiap jawaban yang betul.
Tes 4 ini dapat diganti dengan tes mengeja, yaitu
4 mengeja mundur kata :kartu (utrak ). 3

5 Mengingat kembali 5

31
Tanyakan nama benda yang telah disebutkanpada
pertanyaan nomor 3. beri angka 1 bagi tiapjawaban
yang betul. 3

Bahasa

Anda tunjuk pada pensil dan arloji. Suruhpenderita


6 menyebutkan nama benda yang andatunjuk. 2 5

Suruh penderita mengulangi kalimat berikut :“tanpa


7 kalau, dan atau tetapi “. 1

Suruh penderita melakukan suruhan 3 tingkatyaitu:


8 Ambil kertas dengan tanganmu 3

32
BAB III
PEMBAHASAN

A. Contoh Formatdan Asuhan Keperawatan Pada Lansia


Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Ny.S Dengan Rematik (Osteoartritis) Di
Perumahan Villa Adi Prima Kota Sukabumi

A. Karakteristik Demografi
A. Identitas Diri Klien
Nama : Ny. S

Tempat/ tanggal lahir : Sukabumi, 10 Agustus 1936

Jenis kelamin : Perempuan

Pendidikan terakhir : SKKP/ SMP

Golda :O

Agama : Islam

Status perkawinan : Janda

Alamat : JL.NakulaNo 10sukaraja

Keluarga atau orang lain yang penting/ yang dapat di hubungi

Nama : Ny. D

Alamat : JL.NakulaNo 10sukaraja

No. telp : –

Jenis kelamin : perempuan

33
Hubungan dengan usila/klien : anak

1. Riwayat pekerjaan
Saat ini Ny.S tidak bekerja, sebelumnya Ny.S bekerja sebagai penjahit. Sumber pendapatan
Ny.S yang di dapat dari hasil kebun miliknya dan uang pensiunan suaminya masih dapat
mencukupi kebutuhan Ny.S sehari-hari.

1. Aktivitas rekreasi
Di rumah Ny.S suka masak-masak, Ny.S juga sering memasak untuk cucu-cucunya yang
tinggal dengan klien. Ny.S jarang pergi berwisata. Ny.S sering mengikuti pengajian yang
diadakan di masjid,biasanya diadakan seminggu 2 kali.

1. Riwayat keluarga
A. Saudara/ anak kandung

Nama Keadaan saat ini keterangan

Tn. I Sehat Tinggal serumah

Ny. D Sehat Tinggal serumah

Tn. E Sehat Tidak tinggal serumah

Ny. R Sehat Tidak tinggal serumah

Ny. N Sehat Tidak tinggal serumah

Ny. Y Sehat Tinggal serumah

Ny. R Sehat Tidak tinggal serumah

34
Ny. A Sehat Tidak tinggal serumah

1. Riwayat kematian dalam keluarga (1 tahun terakhir)


Dalam 1 tahun terakhir tidak ada keluarga yang meninggal

1. Kunjungan keluarga
Setiap lebaran (Idul fitri) keluarga besar Ny.S selalu berkumpul di rumah Ny. S.

B. Pola Kebiasaan Sehari-Hari


A. Nutrisi
Ny.S mengatakan makan 3x sehari 1 centong, makannya selalu habis. Setiap hari klien makan
dengan nasi, sayur dan lauk dengan menu yang berbeda. Ny.S lebih suka makan
menggunakan tangan, klien selalu mencuci tangannya sebelum makan. Ny.S mengatakan
tidak suka makan mie instan.

Ny.S mengatakan tidak ada riwayat alergi, pantangan ataupun keluhan yang berhubungan
dengan makan.

Eliminasi
à BAK dan BAB

Klien mengatakan biasanya BAK 6x/hari dengan warna putih bening,bau khas. Klien BAB
1x/ 2 hari dengan konsistensi lembek, warna kuning kecoklatan dan bau khas. Biasanya klien
BAB di pagi hari. Klien tidak mempunyai keluhan mengenai BAK ataupun BAB.

Personal hygiene
A. Mandi
Ny.S mengatakan mandi sehari 2x dengan menggunakan sabun.

Oral hygiene
Ny.S tidak menggosok gigi karena Ny.S sudah tidak mempunyai gigi.

Cuci rambut
Biasanya Ny.S membersihkan rambutnya dengan shampo 2 hari 1x.

35
Kuku dan tangan
Ny.S mengatakan memotong kukunya setiap hari jumat, Ny.S juga sering mencuci tangannya
dengan sabun.

Istirahat dan tidur


Ny.S mengatakan tidurnya tidak bisa nyenyak karena Ny.S sering terbangun di tengah
malam, merasa kepalanya pusing dan sulit untuk bisa tidur lagi. Keluarga Ny.S (anak klien)
mengatakan Ny.S sering nglindur saat tidur. Ny.S mengatakan biasa nonton tv sebelum tidur
dan biasanya Ny.S tidur malam jam 21.00-02.00dan tidur siangjam13.10-15.30

Kebiasaan mengisi waktu luang


Ny.S suka jalan-jalan ke pasar di pagi hari. Biasanya Ny.S menggunakan waktu luangnya
untuk nonton tv, memasak ataupun berkebun.

Kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan


Ny.S tidak pernah melakukan kebiasaan yang dapat menurunkan kesehatannya seperti
merokok, minum-minuman keras, Ny.S juga tidak ada ketergantunag terhadap obat-obatan.

Uraian kronologis sehari-hari

Jenis kegiatan Lama waktu setiap kegiatan

Sholat tahajud 02.10 – 04.00

Sholat subuh 04.30 – 05.00

Masak untuk sarapan 05.00 – 06.00

Membersihkan halaman dan rumah 06.00 – 08.00

Belanja 08.00 – 09.00

36
Nonton tv 09.00 – 11.00

Masak untuk makan siang 11.00 – 12.00

Sholat duhur 12.00 – 12.30

Makan siang 12.30 – 13.00

Tidur siang 13.10 – 15.30

Mandi 15.30 – 15.45

Sholat asar 16.00 – 16.20

Nonton tv 16.30 – 17.20

Persiapan sholat magrib dan isya 17.20 – 19.30

Makan malam 19.30 – 20.00

Nonton tv 20.00 – 21.00

Tidur 21.00 – 02.00

C. Status Kesehatan
A. Status kesehatan saat ini
i. Keluhan utama 1 tahun terakhir :
Ny.S mengatakan pegal-pegal pada persendian bila Ny.S merasa kecapean.

1. Gejala yang di rasakan

37
Ny.S mengatakan merasa pegal pada pundak, pinggul dan lutut.

Faktor pencetus
Ny.S mengatakan mungkin penyebabnya karena kelelahan.

Timbulnya keluhan
Ny.S mengatakan pegal-pegal timbul setelah beraktifitas berat.

Waktu timbulnya keluhan


Ny.S mengatakan timbul pegal setelah beraktifitas berat dan merasa tambah pegal lagi
setelah itu, biasanya di rasakan pada sore/ malam hari. Ny.S mengatakan terkadang tidak bisa
tidur karena nyeri.

Upaya mengatasi
Ny.S mengatakan biasanya kalau asam uratnya kambuh Ny.S memanggil tukang pijat,
Mengkonsumsi obat-obatan tradisional, Pergi ke klinik pengobatan atau dokter praktik.

Riwayat kesehatan masa lalu


A. Penyakit yang pernah di derita
Ny.S mengatakan tidak pernah punya penyakit yang serius.

Riwayat alergi
Ny.S mengatakan tidak ada riwayat alergi.

Riwayat kecelakaan
Ny.S mengatakan dulu Ny.S pernah mengalami kecelakaan motor, tapi lukanya tidak serius,
hanya lecet-lecet saja.

Riwayat di rawat di rumah sakit


Ny.S mengatakan tidak pernah di rawat di rumah sakit.

Riwayat pemakaian obat


Ny.S mengatakan tidak ketergantungan dengan obat, bila sakit, Ny.S mengkonsumsi jamu
atau membeli obat yang di beli di warung.

38
1. Pengkajian / pemeriksaan fisik (observasi, pengukran, auskultasi, perkusi, palpasi)
A. Keadaan umum (TTV) :TD 110/70 mmHg
N : 90 x / menit

RR : 20 x / menit

S : 36,5 °C

BB/TB :40 Kg / 143 cm


Mata : bentuk simetris, konjungtiva ananemis, sklera
anikterik, penglihatan klien tidak jelas (+3)

Telinga :telinga klien bersih, bentuk simetris, pendengaran


sudah agak berkurang

Mulut, gigi dan bibir : keadaan mulut baik, gigi tidak ada, bibir agak
kering.

Leher : baik, tidak ada pembesaran tiroid, Klien mengatakan leher


terasa kaku dan pegal

Dada
– Jantung

Inspeksi :Simetris, tidak ada pembesaran

Palpasi : Tidak ada nyeri tekan

Perkusi : pekak

Auskultasi : Reguler, tidak ada bunyi jantung tambahan

– Paru

Inspeksi :Simetris, tidak ada odem

39
Palpasi : Taxtil premitus sama, tidak ada nyeri tekan

Perkusi : Redup

Auskultasi : Vasikuler

Abdomen
Inspeksi :Simetris

Auskultasi : Refluks 10x /mnt

Palpasi : Tidak ada pembesaran hati, tidak ada nyeri tekan

Perkusi : Timpani

1. Fungsi reproduksi : sudah tidak bereproduksi/ tidak mengalami menstruasi


2. Kulit : kriput, warna sawo matang, tugor kulit baik
3. Ekstrimitas atas : baik, dapat di gerakkan, CRT < 3 detik.
4. Ekstrimitas bawah : baik, dapat di gerakkan, ada nyeri tekan skala 5, warna
kemerahan, akral hangat, kekuatan otot skala 4.

D. Hasil Pengkajian Khusus ( Lampiran )


A. Masalah kesehatan kronis
Berdasarkan analisa hasil, Ny.S penglihatannya sering kabur, mata berair, pendengaran sudah
berkurang, telinga sering berdenging, sering nyeri pinggang dan tulang belakang, nyeri
persendian dan bengkak, nyeri pegal pada daerah tengkuk. Masalah kesehatan Ny.Sdengan
jumlah 19 yang menunjukan bahwa Ny.Stidak ada masalah kesehatan kronis s.d masalah
kesehatan kronis ringan.

Fungsi kognitif
Berdasarkan analisa hasil, Ny.S tidak bisa menjawab pertanyaan di mana alamatnya. Dengan
jumlah kesalahan total 1 yang menunjukan bahwa fungsi intelektual Ny.Sutuh.
Status fungsional
Analisa hasil dengan jumlah17 yang menunjukan bahwa Ny.S masih bisa melakukan aktifitas
dengan mandiri seperti mandi di kamar mandi, menyiapkan pakaian dan mengenakannya,

40
memakan makanan yang telah di siapkan, memelihara kebersihan diri, dapat mengontrol
pengeluaran fases dan air kemih, berjalan tanpa alat bantu, menjalankan ibadah, melakukan
pekerjaan rumah, berbelanja, dll.

Status psikologis (skala depresi)


Ny.S mengatakan Ny.S sering merasa bosan. Dari analisa hasil dengan Jumlah 1 yang
menunjukan bahwa Ny.S Normal / tidak mengalami depresi.

Dukungan keluarga
Ny.S mengatakan selalu puas bahwa Ny.S dapat kembali pada keluarga (teman-teman) Ny.S
untuk membantu pada waktu sesuatu menyusahkan Ny.S, Ny.Sselalupuas dengan cara
keluarga (teman-teman) Ny.S membicarakan sesuatu dengan Ny.S dan mengungkapkan
masalah dengan Ny.S, Ny.Sselalu puas bahwa keluarga (teman-teman) Ny.S menerima dan
mendukung keinginan Ny.S untuk melakukan aktivitas atau arah baru, Ny.Sselalu puas
dengan cara keluarga (teman-teman) Ny.S mengekspresikan afek dan berespons terhadap
emosi-emosi Ny.S, Ny.Skadang-kadang puas dengan cara teman-teman Ny.S dan Ny.S
menyediakan waktu bersama-sama.

Dari analisa hasil APGAR yang di peroleh dari Ny.S adalah 9 yang menunjukan bahwa
fungsi sosial Ny.S normal.

E. Lingkungan tempat tinggal


A. Kebersihan dan kerapian ruangan
Keadaan rumah Ny.S bersih dan rapi, Ny.S mengatakan setiap hari membersihkan dan
merapikan rumahnya sendiri.

Penerangan dan Sirkulasi udara


Pencahayaan dan sirkulasi di rumah Ny.S cukup, dilihat dari umah Ny.S yang memiliki
jendela dan ventilasi di setiap ruangan.

Keadaan kamar mandi dan wc


Rumah Ny.S memiliki kamar mandi beralaskan kramik, lantainya licin karena sering basah .
Wc berbentuk leherangsa dan terlihat bersih.

41
Pembuangan air kotor
Rumah Ny.S memiliki pembuangan air kotor (got).

Sumber air minum


Ny.S menggunakan air minum dari tanah (air tanah).

Pembuangan sampah
Pembuangan sampah ada di belakang rumah (±10m), di bakar 2 minggu sekali

Sumber pencemaran
asap dari dapur (Ny.S masih menggunakan tungku untukmemasak)

1. Penataan halaman (kalau ada)


2. Privasi
privasi cukup baik, kamar mandi Ny.S tertutup kamar tidur Ny.S memiliki cendela dan pintu
yang mudah di tutup.

1. Risiko injury
keadaan kamar mandi licin, tidak ada tangga di rumah Ny.S.

Lampiran :
1. Masalah kesehatan kronis

Keluhan kesehatan/ gejala


yang di rasakan klien
dalam waktu 3 bulan Tidak
terakhir berkaitan dengan Selalu Sering Jarang pernah
No. fungsi-fungsi (3) (2) (1) (0)

A. Fungsi Penglihatan

V
1. Penglihatan kabur

42
V
1. Mata berair

B. Fungsi pendengaran

V
1. Pendengaran berkurang

V
1. Telinga berdenging

C. Fungsi paru-paru

1. Batuk lama disertai V


keringat malam

V
1. Sesak nafas

V
1. Berdahak/sputum

D. Fungsi jantung

V
1. Jantung berdebar-debar

V
1. Cepat lelah

V
1. Nyeri dada

E. Fungsi pencernaan

V
1. Mual/ muntah

43
V
1. Nyeri ulu hati

1. Makan & minum V


banyak (berlebihan)

1. Perubahan kebiasaan
BAK V
(mencret/sembelit)

F. Fungsi pergerakan

V
1. Nyeri kaki saat jalan

1. Nyeri pinggang dan V


tulang belakang

1. Nyeri persendian dan V


bengkak

G. Fungsi persyarafan

1. Lumpuh/kelemahan V
pada kaki atau tangan

V
1. Kehilangan rasa

V
1. Gemetar/tremor

1. Nyeri pegal pada V


daerah tengkuk

44
Fungsi saluran
H. perkemihan

V
1. BAK banyak

1. Sering BAK pada V


malam hari

1. Tidak mampu
mengontrol
pengeluaran air kemih V
(ngompol)

13 6 19
Jumlah

Analisa hasil :

Skor £ 25 : tidak ada masalah kesehatan kronis s.d masalah kesehatan kronis ringan

Skor 26 – 50 : masalah kesehatan kronis sedang

Skor ³ 51 : masalah kesehatan kronis berat

1. Fungsi kognitif
Pengkajian status kognitif dan afektif

Short Portable Mental Status Questionnaire (SPMSQ)

Skor

+ – No Pertanyaan Jawaban

V 1. Tanggal berapa hari ini? 20

45
Senin,07-
V 2. Hari apa sekarang ini? (hari, tanggal, tahun) 10- 2013

V 3. Apa nama tempat ini? Rumah

4. Berapa nomor telepon anda? –

Di mana alamat anda? (tanyakan bila klien JL.Flores


V 4a. tidak mempunyai telepon) no 28 tegal

V 5. Berapa umur anda? 76

10
Agustus
V 6. Kapan anda lahir 1946

V 7. Siapa presiden sekarang? SBY

V 8. Siapa presiden sebelumnya? Megawati

V 9. Siapa nama kecil ibu anda? Ami

30.000-
5.000=
25.000

Kurangi 3 dari 20 dan tetap pengurangan 3 35.000-


dari setiap angka baru, semua secara 20.000 =
V 10. menurun 5000

46
5000-3000
= 2000

Jumlah kesalahan total 1

Analisa hasil

Kesalahan 0-2 fungsi intelektual utuh

Kesalahan 3-4 fungsi intelektual ringan

Kesalahan 5-7 fungsi intelektual sedang

Kesalahan 8-10 fungsi intelektual berat

1. Status fungsional

Mandiri Tergantung

No Aktifitas (nilai 1) (nilai 0)

Mandi di kamar mandi (menggosok,


1. membersihkan dan mengeringkan badan) V

Menyiapkan pakaian, menggunakan dan


2. mengenakannya V

3. Memakan makanan yang telah di siapkan V

4. Memelihara kebersihan diri untuk V


penampilan diri (menyisir rambut, mencuci

47
rambut, menggosok gigi, mencukur kumis)

Buang air besar di WC (membersihkan dan


5. mengeringkan bokong) V

6. Dapat mengontrol pengeluaran fases (tinja). V

Buang air kecil di kamar mandi


(membersihkan dan mengeringkan daerah
7. kemaluan). V

8. Dapat menguntrol pegeluaran air kemih V

Berjalan di lingkungan tempat tinggal atau


keluar ruangan tanpa alat bantu seperti
9. tongkat V

Menjalankan ibadah sesuai agama dan


10. kepercayaan yang dianut V

Melakukan pekerjaan rumah seperti


merapikan tempat tidur, mencuci pakaian,
11. memasak dan membersihkan ruangan V

Berbelanja untuk kebutuhan sendiri atau


12. kebutuhan keluarga V

Mengelola keuangan (menyimpan dan


13. menggunakan uang sendiri) V

48
Menggunakan sarana transportasi umum
14. untuk bepergian V

Menyiapkan obat dan minum obat sesuai


dengan aturan (takaran obat dan waktu
15. minum obat tepat) V

Merencanakan dan mengambil keputusan


untuk kepentingan keluarga dalam hal
penggunaan uang, aktivitas social yang
dilakukan dan kebutuhan akan pelayanan
16. kesehatan. V

Melakukan aktivitas di waktu luang (kegiatan


keagamaan, social, rekreasi, olahraga dan
17. menyalurkan hobi). V

Jumlah 17

Analisa hasil :

Skor 13 – 17 : mandiri

Skor 0 – 12 : ketergantungan

1. Pengkajian status fungsional yang belum di modifikasi


A : Kemandirian dalam hal makan,kontinen, berpindah, ke ka,ar kecil, berpakaian dan mandi

1. Status psikologis
Modifikasi skala depresi geriatrik yesavage

49
Apakah Bapak/Ibu dalam satu minggu
No terakhir Jawaban

Merasa puas dengan hidup yang di


1 jalani? Ya Ya

Banyak meninggalkan kesenangan/minat


2 dan aktivitas anda? Tidak Tidak

3 Merasa bahwa kehidupan anda hampa? Tidak Tidak

4 Sering merasa bosan? Tidak Ya

5 Penuh pengharapan akan masa depan? Ya Ya

Mempunyai semangat yang baik setiap


6 waktu? Ya Ya

Di ganggu oleh pikirang-pikiran yang


7 tidak dapat di ungkapkan? Tidak Tidak

8 Merasa bahagia di sebagian besar waktu? Ya Ya

Merasa takut sesuatu akan terjadi pada


9 anda? Tidak Tidak

10 Sering kali merasa tidak berdaya ? Tidak Tidak

50
11 Sering merasa gelisah dan gugup? Tidak Tidak

Memilih tinggal di rumah daripada pergi


12 melakukan sesuatu yang bermanfaat? Tidak Tidak

Sering kali merasa khawatir akan masa


13 depan? Tidak Tidak

Merasa mempunyai lebih banyak


masalah dengan daya ingat di bandingkan
14 orang lain? Tidak Tidak

Berfikir bahwa hidup ini sangat


15 menyenangkan sekarang? Ya Ya

16 Sering kali merasa merana? Tidak Tidak

17 Merasa kurang bahagia? Tidak Tidak

18 Sangat khawatir terhadap masa lalu? Tidak Tidak

Merasakan bahwa hidup ini sangat


19 menggairahkan? Ya Ya

Merasa berat untuk memulai sesuatu hal


20 yang baru? Tidak Tidak

21 Merasa dalam keadaan penuh semangat? Ya Ya

51
Berpikir bahwa keadaan anda tidak ada
22 harapan? Tidak Tidak

Berfikir bahwa banyak orang yang lebih


23 baik daripada anda? Tidak Tidak

Seringkali menjadi kesal dengan hal yang


24 sepele? Tidak Tidak

25 Seringkali merasa ingin menangis? Tidak Tidak

26 Merasa sulit untuk berkonsentrasi? Tidak Tidak

27 Menikmati tidur? Ya Ya

Memilih menghindar dari kumpulan


28 social? Tidak Tidak

29 Mudah mengambil keputusan? Ya Ya

30 Mempunyai pikiran yang jernih? Ya Ya

Jumlah 2

Analisa hasil :

= terganggu nilai 1

= normal nilai 0

Nilai : 6 – 15 ; depresi ringan sampai sedang


52
Nilai : 16 – 30 ; depresi berat

Nilai : 0 – 5 ; normal

1. Pengkajian status sosial


Status sosal lansia dapat di ukur dengan menggunakan APGAR Keluarga. Penilaian : bila
pertanyaan-pertanyaan yang di jawab selalu (poin 2), kadang-kadang (poin 1), hampir tidak
pernah (poin 0)

APGAR Keluarga

No Fungsi Uraian Skore

Saya puas bahwa saya dapat kembali pada


keluarga (teman-teman) saya untuk membantu
1. Adaptasi pada waktu sesuatu menyusahkan saya. 2

Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman)


saya membicarakan sesuatu dengan saya dan
2. Hubungan mengungkapkan masalah dengan saya. 2

Saya puas bahwa keluarga (teman-teman) saya


menerima dan mendukung keinginan saya
3. Pertumbuhan untuk melakukan aktivitas atau arah baru. 2

Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman)


saya mengekspresikan afek dan berespons
terhadap emosi-emosi saya, seperti marah,
4. Afeksi sedih atau mencintai. 2

53
Saya puas dengan cara teman-teman saya dan
5. Pemecahan saya menyediakan waktu bersama-sama. 1

Analisa hasil :

Skor 8-10 ; fungsi sosial normal

Skor 5-7; fungsi sosial cukup

Skor 0-4 ; fungsi sosial kurang/ suka menyendiri

Analisa Data

No. Data Etiologi Masalah

Ds :
– Ny.S mengatakan

P = Pegal2 timbul setelah beraktifitas


berat.

Q = Seperti di terjerat tali.

– R = Pegal-pegal pada pundak,


pinggul dan lutut.

S = Skala 5

– T = Biasanya di rasakan pada


sore/ malam hari.

1. – Ny.S mengatakan pegal-pegal destruksi


pada persendian bila Ny.S merasa sendi Nyeri akut

54
kecapean.

– Ny.S mengatakan terkadang


tidak bisa tidur karena nyeri.

Do :
– Ny.S tampak meringis
kesakitan

– Ny.S tampak gelisah

– Ny.S tampak berhati-hati saat


bergerak.

– Kekuatan otot ekstrimitas


bawah skala 4.

– Terdapat nyeri tekan di pundak,


pinggul dan lutut.

– Warna kulit pada bets terlihat


kemerahan, akral hangat, kekuatan otot
skala 4.

Ds :
– Ny.S mengatakan tidurnya pergeseran
tidak bisa nyenyak. tahap tidur Deprivasi
2. terkait tidur
– Ny.S mengatakan biasa nonton dengan

55
tv sebelum tidur. proses
penuaan
– Ny.S mengatakan sering
terbangun tengah malam dan merasa
kepalanya pusing.

– Ny.S mengatakan bila sudah


bangun sulit untuk tidur lagi.

– Keluarga Ny.S (anak klien)


mengatakan Ny.S sering nglindur saat
tidur.

– Ny.S mengatakan tidur malam


jam 21.00-02.00dan tidur
siangjam13.10-15.30

– Ny.S mengatakan bila


beraktifitas cepat lelah.

Do :
– Ny.S tampak mengantuk
– Ny.S terlihat pucat
– Terdapat kantong mata
– Konjungtiva Ny.S terlihat
kemerahan.

Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan destruksi sendi.

2. Deprivasi tidur berhubungan dengan pergeseran tahap tidur terkait dengan


proses penuaan.

Intervensi

56
Dia
N gno
o sa Tujuan Intervensi Rasional Evaluasi

Setelah –
dilakukan 1. Kaji nyeri, Menunjuk
1. Matras kan nyeri
tindakan catat lokasi
yang hilang/
keperawatan dan
lembut/ terkontrol.
selama 3×24 intensitas
empuk,
jam (skala 0-
bantal – Terlihat
diharapkan : 10). Catat
yang rileks, dapat
faktor-
– besar tidur/beristira
faktor yang
Menunju akan hat dan
mempercep
kkan nyeri menceg berpartisipasi
at dan
hilang/ ah dalam
tanda-tanda
terkontrol. pemeli aktivitas
rasa sakit
haraan sesuai
non verbal.
Nye – Terlihat kesejaj kemampua.
ri rileks, dapat aran
akut tidur/beristir 1. Berikan tubuh –
ber ahat dan matras/kasu yang Mengikuti
hub berpartisipas r keras, tepat, program
ung i dalam bantal kecil. menem farmakologis
an aktivitas Tinggikan patkan yang
den sesuai linen stress diresepkan.
gan kemampuan. tempat tidur pada Menggabungk
dest sesuai sendi an
ruks – kebutuhan. yang keterampilan
i Mengiku sakit. relaksasi dan
1 sen ti program Pening aktivitas
. di. farmakologi gian hiburan ke
s yang linen dalam

57
diresepkan. tempat program
tidur kontrol nyeri.
– menuru
Mengga nkan
bungkan tekanan
keterampilan pada
relaksasi dan sendi
aktivitas yang
hiburan ke terinfla
dalam masi/ny
program eri.
kontrol 2. Memfo
nyeri. kuskan
kembal
i
perhati
an,
membe
rikan
stimula
si, dan
mening
katkan
rasa
percaya
1. Libatkan
diri dan
dalam
perasaa
aktivitas
n sehat.
hiburan
3. Sebagai
yang sesuai
anti
untuk
inflama
situasi
si dan
individu.
efek

58
analges
ik
ringan
dalam
mengur
angi
kekaku
an dan
1. Kolaborasi:
mening
Berikan
katkan
obat-obatan
mobilit
sesuai
as.
petunjuk.
4. Rasa
dingin
dapat
menghi
langkan
nyeri
dan
bengka
1. Berikan es k
kompres selama
dingin jika periode
dibutuhkan. akut.
5. Penggu
naan
jahe
dapat
mengur
angi
1. Anjurkan
gejala
pasien
inflama
untuk terapi
si dan

59
herbal gejala
dengan rematik
menggunak pada
an jahe pasien.
A. Memba
ntu
dalam
menentu
kan
kebutuh
an
manaje
men
nyeri
dan
keefekti
fan
program
.


Dep Setelah 1. Ciptakan Menunjuk
riva dilakukan lingkungan kantidur yang
si tindakan rasa 1. Pember dibuktikan
tidu keperawatan nyaman dan ian dengan
r selama 2×24 rileks untuk analges perasaan segar
ber jam klien. ik setelah tidur
hub diharapkan : untuk
ung klien –
an – 1. Anjurkan yang Penurunan
den Menunj pasien nyeri gejala
2 gan ukkantidur untuk dapat deprivasi tidur
. per yang minum obat memba
ges dibuktikan analgesik ntu – Kualitas

60
eran dengan sebelum klien tidur
taha perasaan tidur. tidur meningkat
p segar setelah nyenya
tidu tidur k. – Tidak
r 2. Kebias ada gangguan
terk – aan tidur.
ait Penurun sebelu
den an gejala m tidur
deprivasi 1. Bantu
gan yang
tidur kebiasaan
pros baik
klien
es dapat
– sebelum
pen membu
Kualitas tidur
uaa at
tidur misalnya
n. pkiran
meningkat mendengark
rileks.
an musik,
– Tidak membaca
ada dan berdoa.
gangguan 2. Hindari
tidur. latihan fisik 1. Latihan
yang fisik
berlebihan yang
sebelum berlebi
tidur han
dapat
menyeb
1. Ajarkan abkan
pada klien kelelah
dan an.
keluarga 2. Membe
tentang rikan
faktor yang informa
dapat si

61
menggangg kepada
u tidur. klien
A. Lingkun dan
gan keluarg
yang a
tenang tentang
dapat faktor
mening apa
katkan saja
kualitas yang
tidur dapat
klien. mengga
nggu
tidur.

Implementasi

No. Tanggl Intervensi Respon

1. Mengkaji dan
mencatat lokasi dan Ds: – Ny.S mengatakan
intensitas
P = Pegal-pegal timbul setelah
beraktifitas berat.

Q = Seperti di terjerat tali.

R = Pegal-pegal pada pundak,


pinggul dan lutut.

S = Skala nyeri berkurang


menjadi 4

Senin,07- T = di rasakan pada sore/


1. 10-2013 malam hari

62
Do: – Ny.S tampak lebih rileks

Ds : – Ny.S mengatakan terasa


pegal bila gerak.
1. Catat faktor-faktor
yang mempercepat Do : – Ny.S tampak memijat-
dan tanda-tanda rasa mijati kakinya.
sakit non verbal.

Ds: – Ny.S mengatakan


nyaman
1. Berikan
matras/kasur keras, Do: – Ny.S terlihat rileks
bantal kecil.

1. Libatkan dalam Ds: –

aktivitas hiburan
Do: – Ny.S terlihat sibuk
yang sesuai untuk
menonton tv.
situasi individu.

1. Berikan kompres
hangat jika
dibutuhkan.
Ds:- Ny.S mengatakan
nyerinya berkurang

Do:- Nyeri berkurang menjadi


skala 4
1. menganjurkan
pasien untuk
Ds : – Ny.S mengatakan

63
mengkonsumsi obat kondisinya sedikit lebih baik.
herbal dengan
menggunakan jahe. Do : –

1. Mengatur posisi Ds : – Ny.S mengatakan lebih

yang nyaman untuk nyaman miring ke kanan

tidur, tempat tidur


Do : – Ny.S tampak nyaman
yang bersih dan rapi.

1. Menganjurkan
pasien minum obat
analgesik yang di
Ds : – Ny.S mengatakan bisa
berikan dokter
tidur nyenyak
sebelum tidur.

Do :- Ny.Sminum analsik
setelah makan 3×1 hari

Ds : -Ny.S mengatakan suka


1. Membantu
nonton tv sebelum tidur
kebiasaan klien
sebelum tidur – Ny.Smengatakan selalu
misalnya membaca doa sbelum tidur
mendengarkan
musik, membaca Do : –
Senin,07- dan berdoa.
2. 10-2013

64
Ds : – Ny.S mengatakan tidak
jarang melakukan aktivitas
1. menghindari latihan yang berat sebelum tidur.
fisik yang
berlebihan sebelum Do : – Ny.S terlihat rileks.
tidur
Ds : – Ny.S dan keluarga klien
mengatakan paham terhadap
1. memberikan apa yang di sampaikan
informasi pada klien perawat.
dan keluarga tentang
faktor yang dapat – Keluarga Ny.S
mengganggu mengatakan bersedia untuk
menerapkan apa yang di
sampaikan perawat.

Do : – Ny.S tampak kooperatif

Evaluasi

No. Tanggal Diagnosa kep. Evaluasi

S:

– Ny.Smengatakan

P = Pegal2 timbul setelah


beraktifitas berat.
Nyeri kronis
Senin,07- berhubungan dengan Q = Seperti di terjerat tali.
10-2013 destruksi sendi.
1. R = Pegal-pegal pada pundak,

65
pinggul dan lutut.

S = Skala nyeri berkurang


menjadi 4

T = di rasakan pada sore/


malam hari

– Ny.Smengatakan terasa
pegal bila gerak.

– Ny.Smengatakan
nyaman

– Ny.Smengatakan
nyerinya berkurang

– Ny.S mengatakan
kondisinya sedikit lebih baik

O:

– Ny.Stampak lebih
rileks

– Ny.Stampak memijat-
mijati kakinya.

– Ny.Sterlihat rileks

– Ny.S terlihat sibuk

66
menonton tv.

– Nyeri berkurang
menjadi skala 4

A : Masalah teratasi sebagian

P : Lanjutkan intervensi

S:

– Ny.Smengatakan lebih
nyaman miring ke kanan.

– Ny.S mengatakan bisa


tidur nyeyak.

– Ny.Smengatakan suka
nonton tv sebelum tidur.

– Ny.S mengatakan
selalu membaca doa sbelum
tidur.

– Ny.Smengatakan tidak
jarang melakukan aktifitas
yang berat sebelum tidur.

Deprivasi tidur – Ny.S dan keluargaNy.S


berhubungan dengan mengatakan paham terhadap
pergeseran tahap tidur apa yang di sampaikan
Senin,07- terkait dengan proses perawat.
10-2013 penuaan.
1. – Keluarga Ny.S

67
mengatakan bersedia untuk
menerapkan apa yang di
sampaikan perawat.

O:

– Ny.S tampak nyaman

– Ny.Sdiberi analsik 3×1


hari setelah makan

– Ny.S terlihat rileks.

– Ny.S tampak kooperatif

A : Masalah teratasi sebagian

P : Lanjutkan intervensi

68
BAB IV
KESIMPULAN

Dokumentasi secara umum merupakan suatu catatan otentik atau semua warkat asli
yang dapat dijadikan dalam persoalan hokum, dan merupakan bukti pencatatan dalam
pelaporan yang dimiliki perawat dan tim kesehatan lainnya. Dokumentasi keperawatan ini
mengacu pada nursing proses yang terdiri dari pengkajian, dignosa, intervensi, implementasi,
dan evaluasi.

Lansia bukan suatu penyakit, namun merupakan tahap lanjut dari suatu proses
kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan
stress lingkungan (Pudjiasti & Utomo, 2003). Salah satu masalah yang dapat mempengaruhi
kualitas hidup lansia adalah demensia yang lebih dikenal dengan kepikunan. Untuk mencegah
demensia pada lansia tersebut, solusi yang dapat ditawarkan adalah dengan melakukan tes
MMSE, dimana tes ini sangat mudah di kerjakan dan dilakukan untuk para lansia sehari-
harinya.

Bio-Psiko-Sosial-Spiritual sangatlah penting untuk para lansia karena kebutuhan


mereka haruslah sangat terpenuhi dimana para lansia secara tidak sadar suka terganggu dan
butuh di motivasi oleh seorang perawat agar kebutuhan bio-psiko-sosial dan spiritualnya
terpenuhi.

69
DAFTAR PUSTAKA

Ag Masykur & Fathani A.B. 2008.Mathematical Intellegince. Jogjakarta: Ar ruz Media


Group.

Harvey, Robinson & Rossor. 2003. The prevalence and causes of dementia in people under
the age of 65 years. Journal Neurosurgery Psychiatry, 74: 1206-1209.

Markam, S. Latihan Vitalisasi Otak (Senam untuk Kebugaran Fisik Dan Otak).
Jakarta: Grasindo.

Nugroho. 2000.Keperawatan Gerontik.Edisi 2. Jakarta: EGC, hal.13, 19-28, 42-43.


Pudjiastuti & Utomo. 2003. Fisioterapi pada Lansia. Jakarta: EGC, hal 2-8

Santoso, H dan A. Ismail. 2009. Memahami Krisis Lanjut Usia. Jakarta: Gunung
Mulia, hal.50.
Suara Merdeka. 30 Juni, 2010. Demensia Pada Lansia. Suara Merdeka.

Volicer, L., Hurley, A.C., Mahoney, E. 1998. Behavioral symptom of dementia.

70