You are on page 1of 4

ASUHAN KEPERAWATAN KRISIS TIROID

1. Pengkajian
a. Anamnesa
1) Identitas pasien
Kaji identitas klien, nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, agama, tanggal
masuk rumah sakit, diagnosa medis tentang penyakit yang diderita serta
alamat klien. Biasanya krisis tiroid terjadi pada usia sekitar 30-40 tahun
dan lebih banyak pada wanita.
2) Keluhan utama
Keluhan utama adalah keluhan yang dirasakan paling mengganggu yang
diderita pasien pada saat pengkajian. Keluhan yang biasa dirasakan oleh
pasien adalah : cepat lelah, lemas, demam, berat badan menurun, dll.
3) Riwayat penyakit sekarang
Mengungkap riwayat perjalanan penyakit yang dirasakan oleh pasien dari
keluhan yang pertama dirasakan sampai pasien mencari pertolongan. Perawat
juga mengkaji usaha apa saja yang pernah dilakukan oleh pasien untuk
meringankan keluhan yang dirasakan. Biasanya penderita krisis tiroid
mengalami takikardi, hiperpireksia, perubahan kesadaran, penurunan
BB, diare, nyeri abdomen, palpitasi, nyeri dada, edema, dispneu yang
timbul secara mendadak.
4) Riwayat penyakit dahulu.
Ada tidaknya kondisi penyakit penyerta pada pasien. Biasanya pasien
dengan krisis tiroid mempunya riwayat penyakit tiroid sebelumnya
(seperti penyakit grave), riwayat kehamilan, pembedahan (nontiroid dan
tiroidektomi), adanya cedera, juga ditanyakan kebiasaan hidup sehari-
hari mencakup aktivitas, pola makan, penggunaan obat-obat tertentu,
istirahan dan tidur.
5) Riwayat penyakit keluarga
Perlu ditanyakan riwayat penyakit yang pernah diderita oleh keluarga, karena
krisis tiroid lebih sering terjadi pada keluarga yag mempunyai riwayat
keabnormalan kelenjar tiroid.
6) Pengkajian psiko-sosio-spiritual
Perlu dikaji terkait perubahan kepribadian dan perilaku klien, perubahan
mental, kesulitan mengambil keputusan, kecemasan dan ketakutan
hospitalisasi, diagnostic test dan prosedur pembedahan, adanya
perubahan peran
7) Riwayat diet
Konsumsi yodium
b. Pemeriksaan fisik
Krisis tiroid merupakan kondisi hipermetabolik yang mengancam nyawa. Angka
mortalitas krisis tiroid sangat tinggi sehingga perlu dilakukan pengkajian cepat
untuk penanganan cepat pada gejala yaitu dengan pengkajian primer ABCD
Airway : kaji kepatenan jalan nafas dan suara nafas tambahan.
Breathing : sesak nafas, RR meningkat, dyspnea.
Circulation : TD meningkat, suhu meningkat, takikardia, gagal jantung.
Disability : agitasi, kesadaran menurun, koma.

(Review of System)
1) B1 (breath)
Pada pasien dengan krisis tiroid biasanya akan ditemukan sesak napas,
dispnea, takipnea. Peningkatan pada respirasi ini bisa diakibatkan oleh
meningkatnya laju metabolisme tubuh.
2) B2 (blood)
Peningkatan metabolisme tubuh akan menstimulasi produksi katekolamin
yang mengakibatkan peningkatan kontraktilitas jantung, denyut nadi dan
cardiac output. Ini mengakibatkan peningkatan pemakaian oksigen dan
nutrisi. Peningkatan laju metabolisme juga akan meningkatkan produksi panas
membuat dilatasi pembuluh darah sehingga pada pasien mengalami palpitasi,
nyeri dada, distritmia (vibrilasi atrium), irama gallop, murmur, TD meningkat,
takikardia saat istirahat, sirkulasi kolaps, syok (krisis tirotoksikosis).
3) B3 (brain)
Terjadi penurunan kesadaran, pasien biasanya mengalami gangguan tidur,
terdapat tremor, pusing atau pening, sakit kepala, kesemutan, kebas,
kelemahan pada otot parasetia, gangguan penglihatan, Disorientasi.
Peningkatan metabolisme di serebral mengakibatkan pasien menjadi iritabel,
penurunan perhatian, agitasi, takut. Pasien juga dapat mengalami delirium,
kejang, stupor, apatis, depresi dan bisa menyebabkan koma.
4) B4 (bladder)
Pasien mengalami poliuria, urine berwarna kuning, pada pemeriksaan urine
biasanya ditemukan pasien mengalami hipercalcemia, hiperglikemia,
hipoalbuminemia, hipoprotrombinea, dan hipocholesterolimea.
5) B5 (bowel)
Mual atau muntah,.nyeri tekan abdomen, diare, penurunan berat badan secara
drastic dalam beberapa hari/minggu.
6) B5 (bone) dan sistem integumen
Pruritus, hiperpigmentasi, alopecia, kelemahan otot dan atropi otot

c. Pemeriksaan Diagnostik
1) Pemeriksaan Laboratorium didapatkan :
a) Peningkatan kadar T3, T4 dan bentuk bebasnya, peningkatan uptakeresin
T3, dan peningkatan uptakeiodium 24 jam.
b) Penurunan kadar TSH
c) Penurunan kepekaan terhadap insulin mengakibatkan hiperglikemia
(GDA>200 mg/dl) tanpa adanya diabetes mellitus
d) Penurunan kadar lemak serum
e) Leukositosis (4500-10000 sel/mm3 ) meskipun tidak adanya infeksi
f) LDH, SGOT > 37 U/I, SGPT > 41 U/I dan bilirubin (0,25 – 1,0) meningkat
akibat dari gangguan fungsi hati.
2) Tiroid scan : Untuk mengetahui adanya pembesaran kelenjar tiroid
3) Sonogram tiroid dengan Doppler : digunakan untuk menilai ukuran kelenjar
tiroid, vaskularitas, dan nodul. Khasnya, kelenjar tiroid mensekresikan
hormon yang berlebihan akan membesar, dan aliran doppler (doppler flow)
akan meningkat.
4) EKG : Didapatkan sinus takikardia dan atrial fibrilasi. Keadaan ini cenderung
lebih sering dijumpai pada usia > 60 tahun, dan mungkin memiliki penyakit
jantung struktural sebagai penyebabnya.
5) Radiografi dada atau CT thorax tanpa kontras : Untuk melihat kemungkinan
adanya sumber infeksi sebagai pencetusnya.

2. Diagnosis Keperawatan (NANDA, 2018-2020)


a. Domain 11. Kelas 6. Hipertermia (00007) b.d Peningkatan Laju metabolisme.
b. Domain 4. Kelas 4. Penurunan Curah Jantung (00029) b.d Perubahan
frekuensi jantung.
c. Domain 2. Kelas 5. Defisiensi Volume Cairan (00027) b.d Kehilangan Volume
Cairan Aktif.
d. Domain 4. Kelas 4. Ketidakefektifan Pola Napas (00032) b.d. Hiperventilasi.