You are on page 1of 11

ANALISIS KRITIS ARTIKE KE 9

Atika 180341863044- 2 NOVEMBER


Nama NIM - Kelas Tanggal
Anggraini B 2018

CREATIVE THINKING OF LOW ACADEMIC STUDENT UNDERGOING


SEARCH SOLVE CREATE AND SHARE LEARNING INTEGRATED WITH
METACOGNITIVE STRATEGY
A. Referensi
Yusnaeni. Corebima. A. Duran., Susilo, H., Zubaidah, S. 2017. Creative thinking of low
academic student undergoing search solve create and share learning integrated with
metacognitive strategy. International Journal of Instruction April 2017 Vol.10, No.2 e-
ISSN: 1308-1470 www.e-iji.net p-ISSN: 1694-609X

A. Pendahuluan

Kondisi pendidikan di Indonesia masih perlu banyak perhatian, terutama terkait dengan
sistem rekrutmen siswa di sekolah, di antara orang lain di tingkat sekolah menengah atas.
Hampir semua sekolah di Indonesia menggunakan sistem rekrutmen berdasarkan Tingkat
Kelulusan Minimum (MPL) Ujian Akhir Nasional. Rekrutmen siswa berdasarkan sistem
tersebut membuat beberapa sekolah memiliki siswa kemampuan akademik yang tinggi
(kategori sekolah atas) dan beberapa sekolah memiliki siswa kemampuan akademik yang
rendah saja. Sebagai contoh, nilai kelulusan untuk SMA Negeri 1 Bekasi adalah 35,10 -
38,40, sedangkan nilai kelulusan untuk Sekolah Menengah Atas Bumi Saleh Bekasi adalah
20,05-32,15, SMA Negeri 1 Jakarta 32,80-38,25 dan SMA Negeri 115 Jakarta 18,70-24,16
(BPS, 2015).

Polarisasi siswa yang memiliki kemampuan akademik yang tinggi atau kemampuan akademis
yang rendah di sekolah tertentu akan berdampak pada pola mengajar guru yang berbeda.
Kondisi ini terkait dengan berbagai perbedaan yang ditemukan pada siswa yang memiliki
kemampuan akademik tinggi dan mereka yang memiliki kemampuan akademik rendah. Siswa

1
kemampuan akademik yang tinggi memiliki orientasi belajar yang lebih baik dan kebiasaan
belajar (Sarwar et al., 2009), memiliki kebutuhan tinggi untuk berprestasi, memiliki harapan
untuk sukses, dan memiliki persistensi yang lebih tinggi (Jabeen & Khan, 2013), serta
menunjukkan kinerja yang lebih baik dalam menyelesaikan tugas pemecahan masalah, dan uji
konsekuensi (Suman & Umapathy, 2003; Ford & Moore, 2013). Sementara itu, siswa dengan
kemampuan akademik rendah sering dikaitkan dengan kegagalan dalam pendidikan (Marks,
2006).

Karena perbedaan yang signifikan antara siswa memiliki kemampuan akademik yang tinggi
dan mereka yang memiliki kemampuan akademis yang rendah, dan pola mengajar guru,
kesenjangan antara siswa dari kemampuan akademik yang tinggi dan kemampuan akademis
yang rendah akan lebih luas. Corebima (2007) menyatakan bahwa kesenjangan antara siswa
kemampuan akademik yang tinggi dan siswa kemampuan akademik rendah harus
dipertimbangkan, dan diharapkan bahwa kesenjangan menjadi lebih kecil dalam proses
pembelajaran dan hasil pembelajaran. Oleh karena itu, upaya untuk meminimalkan
kesenjangan antara siswa berdasarkan kemampuan akademik perlu dilakukan sehingga dapat
meningkatkan kualitas pembelajaran dan meningkatkan potensi kemampuan berpikir kreatif
siswa.

Berpikir kreatif adalah proses mental yang melibatkan proses kognitif (Beyer, 1987; Swart &
Perkinsn, 1990). Tan (2000), Hargrove (2013), dan Greenstein (2012) mengungkapkan bahwa
pemikiran kreatif adalah salah satu keterampilan berpikir tingkat tinggi yang sangat penting
untuk dikembangkan pada abad ke-21. Berpikir kreatif akan menghasilkan generasi kreatif
yang memiliki potensi untuk memecahkan masalah sosial dan lingkungan yang kompleks.
Hotaman (2008) juga mengungkapkan bahwa pemikiran kreatif adalah kemampuan membuat
hubungan antara hubungan yang tidak pernah dibuat sebelumnya dan menghasilkan
pengalaman pemikiran baru dan asli sebagai pola baru dalam skema.

Kemampuan berpikir kreatif siswa yang berbeda satu dengan lainnya membutuhkan kondisi
belajar yang melibatkan pengalaman belajar, sehingga potensi berpikir kreatif dapat
berkembang. Semua siswa dengan kemampuan akademik yang berbeda dapat
mengembangkan keterampilan berpikir kreatif mereka, jika lingkungan belajar memberikan
kesempatan untuk pengembangan keterampilan berpikir ini (Wheeler, 2002); Sternberg
(2006) menyatakan bahwa lingkungan belajar adalah sumber daya yang diperlukan untuk
berpikir kreatif.

2
Salah satu upaya untuk mengembangkan keterampilan berpikir kreatif adalah dengan
menciptakan lingkungan belajar terutama dengan melibatkan pengalaman nyata siswa dalam
belajar. Upaya ini dapat dicapai dengan menerapkan model pembelajaran yang tepat. Model
pembelajaran yang efektif dapat meminimalkan kesenjangan antara siswa kemampuan
akademik yang tinggi dan kemampuan akademis yang rendah. Memilih model pembelajaran
yang tepat akan berdampak pada peningkatan kemampuan akademis mereka. Damavandi dkk.
(2011) mengungkapkan bahwa kemampuan siswa dapat ditingkatkan dengan menciptakan
lingkungan belajar yang sesuai dengan gaya belajar siswa serta dengan menerapkan
pembelajaran yang fleksibel. Lince (2009) berpendapat bahwa berpikir kreatif sebagai
tindakan positif merupakan faktor penting dalam merangsang fungsi otak yang dapat
menunjukkan dan menciptakan gaya belajar yang baik. Oleh karena itu, pembelajaran harus
dilakukan menggunakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa, dan salah satunya
adalah model pembelajaran Search Solve Create and Share [SSCS].

SSCS adalah salah satu model pembelajaran kooperatif berdasarkan pemecahan masalah
(Awang dan Ramly 2008; Pizzini & Separdson, 1992). Chin (1997) melaporkan bahwa SSCS
melibatkan pengalaman belajar siswa dan, mengembangkan keterampilan berpikir kritis,
mempertanyakan keterampilan, berpikir dan berbagi (Baroto 2009; Irwan, 2011; Johan,
2012). Haw Chen (2013) menambahkan bahwa model SSCS membantu siswa untuk
mengembangkan kemampuan kognitif lanjutan seperti pemikiran kreatif, pemecahan masalah
dan keterampilan komunikasi.

Untuk meningkatkan kemampuan berpikir, selain menggunakan model pembelajaran, strategi


metakognitif (MS) juga dapat diimplementasikan. Strategi metakognitif mengacu pada
kesadaran memantau strategi kognitif seseorang untuk mencapai tujuan tertentu. MS
membahas cara-cara untuk meningkatkan kesadaran tentang proses berpikir dan pembelajaran
yang terjadi (Flavel, 1981). MS dalam pembelajaran termasuk merencanakan, mengamati, dan
menilai apa yang dipelajari. Menurut Costa (1984) dan Blakey dan Spence (1990), beberapa
strategi metakognitif yang dapat digunakan untuk mengembangkan keterampilan berpikir
adalah perencanaan, mempertanyakan, memilih secara sadar, mengevaluasi cara berpikir dan
bertindak, mengidentifikasi masalah, menguraikan ide-ide siswa, pemecahan masalah
kooperatif dan pemodelan. Selain strategi ini, menggarisbawahi, mencatat, meringkas, dan
pemetaan konsep pada bahan bacaan sambil belajar (Slavin, 1986), self-planning dan self-
assessmenting (Taccasu Project, 2008) adalah strategi yang dapat digunakan untuk
meningkatkan kecakapan berpikir.

3
MS yang digunakan dalam penelitian ini digarisbawahi dikategorikan sebagai strategi
pemantauan dan penilaian diri yang diklasifikasikan sebagai strategi evaluasi diri. Simsek dan
Balaban (2010) dan Weistein dan Meyer (1986) mengungkapkan bahwa menggarisbawahi
adalah salah satu strategi siswa dalam memilih ide-ide penting dari buku. Strategi
menggarisbawahi suatu bagian dapat memantau pemahaman siswa selama kegiatan membaca
dan mengoptimalkan informasi yang disajikan dalam buku. Riyadi (2012) melaporkan bahwa
menggarisbawahi dapat melibatkan siswa secara aktif dalam membangun pengetahuan
mereka. Sedangkan strategi penilaian diri adalah salah satu jenis penilaian diri siswa, di mana
para siswa diminta untuk menilai diri mereka sendiri. Menurut Spiller (2012), penilaian diri
adalah proses penilaian formatif, di mana siswa mencerminkan dan mengevaluasi kualitas
bekerja dan belajar serta mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan mereka, dan kemudian
merevisinya. Andrade dan Valtcheva (2009) dan Pintrich (2000) menyatakan bahwa penilaian
diri dalam pembelajaran dapat meningkatkan prestasi siswa dan pengaturan diri mereka.
Pengaturan diri adalah kecenderungan seseorang untuk memantau dan mengelola
pembelajaran mereka sendiri.

Beberapa penelitian yang menyelidiki efek strategi metakognitif pada kemampuan berpikir
telah dilaporkan oleh Maulana (2008), Miranda (2010). Secara umum, hasil penelitian mereka
menunjukkan bahwa penggunaan strategi metakognitif dalam pembelajaran dapat
meningkatkan kemampuan berpikir siswa. Rahimirad dan Zare-ee (2015) juga melaporkan
bahwa strategi metakognitif dalam pembelajaran dapat meningkatkan self-efficacy siswa.

Dengan integrasi model pembelajaran SSCS dan MS, siswa akademis yang rendah diharapkan
dapat meningkatkan kualitas pembelajaran mereka dan meningkatkan kemampuan berpikir
mereka, terutama kemampuan berpikir kreatif mereka. Selain itu, kesenjangan antara siswa
kemampuan akademik yang tinggi dan rendah dapat diminimalkan, dan hasil belajar dapat
meningkat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipertimbangkan oleh guru untuk
menerapkan model pembelajaran SSCS + MS untuk meningkatkan hasil belajar siswa
akademik rendah sambil menunggu sistem rekrutmen siswa baru tidak lagi berdasarkan sistem
MPL. Penelitian ini berbeda dari Suciati (2013). Dalam penelitian ini MS dilakukan dengan
menambahkan teknik menggarisbawahi dalam fase pencarian dan penilaian diri pada akhir
fase share.

B. Bahan dan Metode

4
Desain Penelitian Penelitian ini adalah penelitian quasi eksperimental yang dilakukan dengan
membandingkan efektivitas pembelajaran tradisional, SSCS, dan model pembelajaran SCCS
+ MS pada kemampuan berpikir kreatif siswa kelas sepuluh di Kupang, Indonesia. Desain
penelitian (Tabel 1) adalah pretest-posttest Nonequivalent control group design (Borg & Gall,
1983).

Penelitian Penelitian ini dilakukan di tiga sekolah, yaitu SMA 3 Kupang, negara bagian
sekolah menengah atas 4 Kupang, dan sekolah menengah Katolik dari Giovanni Kupang.
Teknik pengambilan sampel adalah total sampling berdasarkan pertimbangan bahwa hanya
tiga sekolah yang tersedia di Kupang. Tiga kelas ilmu alam kelas sepuluh pada semester
pertama masing-masing sekolah dilibatkan dalam penelitian ini. Sampel penelitian terdiri dari
siswa yang memiliki kemampuan akademik homogen berdasarkan hasil tes penempatan.
Siswa akademik yang tinggi dan mereka yang memiliki kemampuan akademis rendah diambil
sebanyak 33,3% dari masing-masing kelas sampel (Suratno, 2010). Tiga kelas diberi tes esai
yang dikembangkan oleh para peneliti untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif awal
siswa sebelum perawatan dilakukan.

Kemampuan berpikir kreatif diukur dengan tes esai, yang terdiri dari sepuluh angka.
Pengukuran skor kemampuan berpikir kreatif didasarkan pada Treffinger et al. (2002)
mengacu pada lima aspek pemikiran kreatif. Tes esai diberikan di awal (pretest) dan akhir
penelitian (post-test). Instrumen yang digunakan telah divalidasi sebelumnya oleh ahli dan
validasi empiris. Validasi ahli terdiri dari isi dan validitas konstruk. Validitas konten adalah
keakuratan instrumen dalam hal isi instrumen, yang diperkirakan sesuai dengan kurikulum.
Validitas konstruk terkait dengan konsep kontruksi atau sains yang akan diuji. Validitas
konstruk mengacu pada kesesuaian hasil dari alat ukur dengan kemampuan yang akan diukur.
Validitas empiris dilakukan pada 105 siswa SMA di Kupang, Indonesia. Keandalan tes esai
juga diperiksa. Reliabilitas mengacu pada tingkat skor tes yang bebas dari kesalahan
pengukuran atau indeks yang menunjukkan sejauh mana alat ukur dapat dipercaya atau
diandalkan. Reliabilitas instrumen adalah 0,71 yang memiliki daya pembeda sebesar 0,41-
0,61 dan tingkat kesulitan sebanyak 24,44% -60,56%.

Tiga kelas masing-masing sekolah diajarkan dengan gaya belajar yang berbeda yaitu
pembelajaran tradisional, SSCS, dan model pembelajaran SCCS + MS selama satu semester.
Materi pokok terdiri dari biodivesrsity, virus, protista dan monera. Pembelajaran tradisional
dilakukan oleh guru tanpa intervensi dari peneliti; model SSCS menggunakan sintaks menurut
Pizzini dan Separdson, (1992). Model SSCS + MS (juga menggunakan sintaks yang sama dari

5
model SSCS) dilakukan dengan menambahkan intervensi peneliti dalam bentuk teknik
underline dalam fase pencarian dan penilaian diri pada akhir fase share.

penelitian dianalisis dengan menggunakan two way ANCOVA diikuti oleh post hoc test Least
Significant Different (LSD). Semua asumsi (normalitas dan homogenitas) dari ANCOVA
telah terpenuhi. Hasil uji normalitas (t-test) yang berhubungan dengan skor pretest adalah
1,527 dan -0,715 (kesalahan standart Skewness dan standard error Kurtosis); hasil tes
normalitas (t-test) yang terkait dengan skor posttest adalah -0.284 dan -1.957 (kesalahan
standart Skewness and standart error dari Kurtosis). Di sisi lain hasil uji homogenitas yang
terkait dengan skor pretest adalah 1,192 (p = 0,314); hasil uji homogenitas yang terkait
dengan skor posttest adalah 0,934 (p = 0,460).

C. Hasil

6
D. Diskusi dan Kesimpulan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa akademik rendah
yang mengalami peningkatan model pembelajaran SSCS + MS, dan bahkan melebihi siswa
akademik yang tinggi. Ini berarti bahwa model pembelajaran SSCS + MS berpotensi dalam
menyamakan kemampuan berpikir kreatif siswa akademik rendah serta siswa akademik yang
tinggi. Hasil ini mungkin disebabkan oleh strategi metakognitif yang terlibat dalam model
pembelajaran SSCS + MS. Integrasi strategi metakognitif melengkapi keuntungan dari model
pembelajaran SSCS. MS yang diimplementasikan dalam pembelajaran SSCS (SSCS + MS)
memberikan siswa kesempatan untuk memantau pembelajaran mereka dan beradaptasi
seperlunya. Para siswa yang terampil dalam menggunakan MS mereka dapat memahami
kekuatan dan kelemahan mereka selama pembelajaran mereka. Para siswa yang sadar akan
kekuatan dan kelemahan mereka sendiri diharapkan dapat mengendalikan pembelajaran
mereka sendiri (self-regulated learning). Menurut Schunk (2008) self-regulated learning
adalah kemampuan untuk mengendalikan dan memahami lingkungan belajar kita sendiri
termasuk memilih strategi terbaik yang membantu mencapai tujuan kita. Pembelajaran
mandiri dapat membuat siswa menjadi pembelajar mandiri. Menurut Zumbrunn (2011),
kualitas siswa sebagai pelajar independen dapat dilihat dari sikap proaktif dan termotivasi
mereka untuk secara sukarela menawarkan jawaban atas pertanyaan, mencari sumber belajar
tambahan bila diperlukan, dan mudah memanipulasi lingkungan belajar.

Aktivitas kolaboratif dan pemecahan masalah yang menjadi karakteristik model pembelajaran
SSCS + MS membuat siswa akademik rendah menjadi pemikir yang sadar diri, yang dapat
dengan jelas terlihat dalam fase pencarian dan penyelesaian. Siswa dapat mengekspresikan
ide dan solusi untuk masalah yang muncul. Kreativitas siswa sangat menonjol dan beragam
dalam fase membuat meskipun mereka mengangkat masalah yang sama. Hasil ini sejalan
dengan pendapat Wheeler (2002) yang mengatakan bahwa semua siswa dengan kemampuan

7
akademik yang berbeda dapat mengembangkan kemampuan berpikir kreatif mereka, jika
lingkungan belajar memberikan kesempatan bagi pengembangan ide-ide ini. Purwanto (1997)
juga mengungkapkan bahwa kemampuan berpikir dapat dikembangkan dan diperkaya dengan
memperkaya pengalaman bermakna dalam proses pembelajaran. Dalam penelitian ini,
kolaborasi dan pemecahan masalah adalah suatu bentuk pengalaman belajar yang dapat
merangsang kemampuan berpikir kreatif siswa kemampuan akademik rendah. Kegiatan
belajar di antara siswa kemampuan akademik yang berbeda adalah potensi dalam
meningkatkan kemampuan berpikir siswa kemampuan akademik rendah. Menurut Leisema &
Wannapiroon (2014), pembelajaran kooperatif dapat sangat mendorong pengembangan
kemampuan berpikir kreatif siswa. Sementara Blakey dan Spence (1990) mengungkapkan
bahwa pemecahan masalah membuat siswa lebih mampu berpikir aktif.

Peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa kemampuan akademik rendah tidak dapat
dipisahkan dari peran strategi metakognitif yang diberikan kepada mereka. Strategi
metakognitif, terutama strategi menggarisbawahi dan menilai diri memiliki efek positif dan
lebih efektif pada siswa kemampuan akademik rendah. Memberikan garis bawah pada bagian
bacaan dapat meningkatkan interaksi langsung mereka dengan materi pelajaran, sehingga
proses belajar mereka menjadi lebih berarti. Dalam kegiatan yang menggarisbawahi, mereka
tidak hanya membaca, tetapi juga melibatkan proses berpikir, untuk menentukan ide-ide
penting dalam bahan bacaan untuk

menjadi digarisbawahi. Beberapa keuntungan dari strategi menggarisbawahi adalah untuk


membuat siswa belajar lebih intensif (Dalyono, 1997), untuk membuatnya lebih mudah untuk
menemukan informasi (Slavin, 1986) dan untuk membantu siswa untuk membangun
pengetahuan mereka sendiri (Hernowo, 2003). Pernyataan dari tiga ahli mengungkapkan efek
yang sama dalam penelitian ini, terutama untuk siswa kemampuan akademis yang rendah.

Menggarisbawahi adalah strategi pemantauan dalam pembelajaran, terutama dalam kaitannya


dengan membaca. Jika kegiatan menggarisbawahi dilanjutkan dan menjadikannya sebagai
kebiasaan bagi siswa berkemampuan akademik rendah, pembelajaran dan kemampuan
berpikir mereka diprediksi akan ditingkatkan. Dengan demikian, apa yang diungkapkan oleh
Marks (2006) bahwa kemampuan akademik siswa rendah sering dikaitkan dengan kegagalan
dalam belajar tidak akan terjadi. Selain menggarisbawahi aktivitas, aktivitas lain yang
dianggap mampu meningkatkan kualitas kemampuan akademik siswa adalah kegiatan
penilaian diri.

8
Menilai diri untuk kemampuan akademis yang rendah siswa diasumsikan kuat untuk
meningkatkan kemampuan berpikir kreatif mereka. Ini mungkin disebabkan oleh potensi
penilaian diri yang dapat menumbuhkan kesadaran diri. Pertanyaan-pertanyaan yang diangkat
dalam penilaian diri secara terus-menerus memantau kegiatan belajar mereka, dalam hal ini,
termasuk hal-hal yang akan dilakukan, hal-hal yang telah dicapai, dan hal-hal yang perlu
dilakukan siswa untuk meningkatkan proses belajar mereka. Kegiatan pemantauan ini
dianggap efektif untuk menumbuhkan kesadaran diri mereka. Kemampuan akademis yang
rendah siswa mampu melakukan introspeksi diri setelah mereka menemukan kekuatan dan
kelemahan dalam belajar, hingga akhirnya mereka berusaha untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran mereka. Hariyati (2007) menyatakan bahwa penilaian diri adalah proses di
mana siswa memiliki tanggung jawab untuk menilai dan merefleksikan hasil belajar mereka
sendiri. Kartikawati (2013) melaporkan bahwa penilaian diri dapat meningkatkan self-
regulation siswa. Self-menilai membantu untuk meningkatkan pemahaman siswa dan prestasi
akademik siswa (Duckworth et al., 2009). Menilai diri juga dapat memotivasi siswa dengan
keragaman kesiapan, pengalaman dan latar belakang dalam pembelajaran (Spiller, 2012).

Kemandirian dan kesadaran diri dalam mempelajari kemampuan akademik siswa yang rendah
yang tumbuh melalui strategi metakognitif dalam model pembelajaran SSCS + MS dapat
memotivasi mereka untuk menjadi pembelajar mandiri. Keberhasilan siswa kemampuan
akademis rendah untuk menjadi pembelajar mandiri tergantung pada bagaimana mereka
merencanakan, mengendalikan, dan mengevaluasi pemikiran mereka menjadi lebih baik.
Yusnaeni (2015) menegaskan bahwa pembelajar mandiri menyadari kekuatan dan kelemahan
mereka dalam belajar dan mencoba membuat diri mereka berguna dengan menggali potensi
mereka. Pintrick (2000) menambahkan bahwa pembelajar mandiri aktif dan konstruktif;
mereka mencoba memantau, mengatur, mengendalikan, dan memotivasi perilaku mereka.

Pembelajaran mandiri membantu siswa meningkatkan kemampuan berpikir mereka termasuk


berpikir kreatif. Menurut Shanon dan College (2008), mengajarkan strategi metakognitif
kepada siswa dapat membantu mereka untuk mengarahkan pembelajaran mereka sendiri
dengan lebih sukses. Selanjutnya, Hargrove (2007) mengungkapkan bahwa menggunakan
beberapa strategi metakognitif dapat membantu mengembangkan kemampuan berpikir siswa,
untuk membangun keterampilan metakognitif mereka serta pemikiran kreatif mereka. Ibe
(2009) dan Carin (1993) juga menambahkan bahwa strategi metakognitif dalam pembelajaran
dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan kesadaran belajar mereka, memberikan

9
kesempatan untuk belajar bagaimana memahami dan memecahkan masalah, dan untuk
menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif mereka.

Sampai saat ini, perhatian utama pembelajaran di kelas adalah bagaimana memotivasi siswa
kemampuan akademik rendah untuk bersikap proaktif dan terlibat dalam proses pembelajaran.
Penyediaan pengalaman belajar dalam model pembelajaran SSCS + MS diyakini memiliki
potensi untuk mempertajam mental dan untuk meningkatkan motivasi siswa kemampuan
akademik rendah. Di kelas yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran SSCS +
MS, siswa kemampuan akademik rendah menunjukkan perubahan dan kemajuan dalam
pembelajaran. Siswa kemampuan akademik rendah berpartisipasi lebih aktif dalam kelompok
dan menunjukkan kepercayaan diri yang lebih. Keyakinan ini diasumsikan sebagai hasil dari
strategi metakognitif yang telah dilaksanakan. Strategi metakognitif membuat mereka sadar
akan kelemahan mereka. Namun, kelemahan mereka dapat diatasi dan diperbaiki, sehingga
menghasilkan peningkatan kualitas pembelajaran mereka.

Menurut de Boer et al. (2013), strategi metakognitif bermanfaat bagi siswa kemampuan
akademik yang tinggi dan siswa kemampuan akademis yang rendah. Perbedaan efektivitas
antara siswa dengan tingkat kemampuan yang berbeda cukup tinggi. Penelitian ini
menunjukkan bahwa kemampuan akademik siswa rendah sangat termotivasi dengan
penerapan model pembelajaran SSCS + MS; siswa kemampuan akademik rendah mungkin
menunjukkan kemampuan berpikir kreatif mereka. Strategi mengajar guru dan gaya belajar
siswa memiliki peran yang sangat besar dalam menjadikan siswa sebagai seorang pemikir
yang sadar diri dan menjadikan mereka sebagai pembelajar mandiri. Menurut Corebima
(2009), pelajar independen dapat diberdayakan atau dilatih melalui strategi atau usaha khusus.
Lebih lanjut dijelaskan juga bahwa penerapan strategi pembelajaran seperti strategi
pengaturan diri dapat melatih siswa untuk berbicara kepada diri mereka sendiri dan untuk
membuat mereka terus memantau dan mengatur perilaku mereka. Oleh karena itu, dalam
penelitian ini kemampuan akademik rendah siswa dapat berkembang menjadi pembelajar
mandiri dan memiliki dampak pada peningkatan kemampuan berpikir kreatif mereka ketika
lingkungan belajar mereka dimotivasi oleh model pembelajaran SSCS + MS. Hasil penelitian
ini mendukung temuan Chiu (1998) bahwa strategi metakognitif efektif untuk siswa
kemampuan akademik rendah dan berbeda dengan Hattie et al. (1996).

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pembelajaran di kelas perlu mempertimbangkan
perbedaan kemampuan akademik siswa untuk mengetahui keefektifan model pembelajaran

10
yang digunakan, karena dalam penelitian ini, kemampuan akademik siswa rendah belajar
lebih efektif dengan SSCS. + Model pembelajaran MS.

Dengan demikian, seperti Sidi (2001) dan Corebima (2007) mengatakan, perbedaan
kemampuan akademis perlu dipertimbangkan dalam pembelajaran, sehingga kesenjangan
dalam proses pembelajaran dan hasil belajar dapat diminimalkan. Hasil penelitian ini juga
mendukung pernyataan Sajedi & Shafizadeh (2015), Pintrich (2002), dan Al-Habaishi (2012)
yang menyatakan bahwa strategi pengajaran guru memiliki korelasi positif dan signifikan
dengan kinerja akademik siswa.

Hasil penelitian ini sangat bermanfaat untuk diterapkan di sekolah atau kelas, karena
mayoritas siswa adalah siswa dengan kemampuan akademik rendah. Bahkan, masih banyak
sekolah di Indonesia yang sebagian besar siswanya memiliki kemampuan akademis yang
rendah. Dengan menerapkan model pembelajaran SSCS + MS di kelas, diharapkan bahwa
kesenjangan antara sekolah-sekolah dari berbagai tingkat kemampuan dapat diminimalkan.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran SSCS + MS


memiliki potensi untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dari kemampuan akademis
yang rendah melebihi kemampuan siswa akademik yang tinggi. Peningkatan kemampuan
berpikir kreatif siswa akademik rendah dalam model pembelajaran SSCS + MS adalah
36,18% lebih tinggi daripada kemampuan akademik siswa yang tinggi. Model pembelajaran
SSCS + MS meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas karena dapat menumbuhkan
kesadaran belajar dan kesadaran berpikir dari siswa kemampuan akademis yang rendah.
Model pembelajaran SSCS + MS sangat berguna untuk diterapkan di sekolah karena sebagian
besar siswa adalah siswa dengan kemampuan akademik rendah.

11