You are on page 1of 22

ANTIBIOTIK GOLONGAN LAIN

Penggolongan Antibiotik Berdasarkan Mekanisme Kerja :


 Inhibitor sintesis dinding sel bakteri, mencakup golongan Penicillin, Polypeptide dan
Cephalosporin
 Inhibitor transkripsi dan replikasi, mencakup golongan Quinolone,
 Inhibitor sintesis protein, mencakup banyak jenis antibiotik, terutama dari golongan Macrolide,
Aminoglycoside, dan Tetracycline
 Inhibitor fungsi membran sel, misalnya ionomycin, valinomycin;
 Inhibitor fungsi sel lainnya, seperti golongan sulfa atau sulfonamida,
 Antimetabolit, misalnya azaserine.

Penggolongan Antibiotik Berdasarkan Struktur Kimia :


 Aminoglikosida Diantaranya amikasin, dibekasin, gentamisin, kanamisin, neomisin, netilmisin,
paromomisin, sisomisin, streptomisin, tobramisin.
 Beta-Laktam Diantaranya golongan karbapenem (ertapenem, imipenem, meropenem),
golongan sefalosporin (sefaleksin, sefazolin, sefuroksim, sefadroksil, seftazidim), golongan beta-
laktam monosiklik, dan golongan penisilin (penisilin, amoksisilin).
 Glikopeptida Diantaranya vankomisin, teikoplanin, ramoplanin dan dekaplanin.
 Polipeptida Diantaranya golongan makrolida (eritromisin, azitromisin, klaritromisin,
roksitromisin), golongan ketolida (telitromisin), golongan tetrasiklin (doksisiklin, oksitetrasiklin,
klortetrasiklin).
 Polimiksin Diantaranya polimiksin dan kolistin.
 Kinolon (fluorokinolon) Diantaranya asam nalidiksat, siprofloksasin, ofloksasin, norfloksasin,
levofloksasin, dan trovafloksasin.
 Streptogramin Diantaranya pristinamycin, virginiamycin, mikamycin, dan kinupristin-
dalfopristin.
 Oksazolidinon Diantaranya linezolid dan AZD2563.
 Sulfonamida Diantaranya kotrimoksazol dan trimetoprim.
 Antibiotika lain yang penting, seperti kloramfenikol, klindamisin dan asam fusidat
Penggolongan Berdasarkan Spektrum Kerjanya

Spektrum luas (aktivitas luas) : Antibiotik yang bersifat aktif bekerja terhadap banyak jenis mikroba
yaitu bakteri gram positif dan gram negative. Contoh antibiotik dalam kelompok ini adalah sulfonamid,
ampisilin, sefalosforin, kloramfenikol, tetrasiklin, dan rifampisin.
Spektrum sempit (aktivitas sempit) : Antibiotik yang bersifat aktif bekerja hanya terhadap beberapa
jenis mikroba saja, bakteri gram positif atau gram negative saja. Contohnya eritromisin, klindamisin,
kanamisin, hanya bekerja terhadap mikroba gram-positif. Sedang streptomisin, gentamisin, hanya
bekerja terhadap kuman gram-negatif.

1
Penggolongan Berdasarkan Bakteri Penyebab Penyakit :
Golongan Penisilin
Dihasilkan oleh fungi Penicillinum chrysognum. Aktif terutama pada bakteri gram (+) dan beberapa
gram (-). Obat golongan ini digunakan untuk mengobati infeksi pada saluran napas bagian atas (hidung
dan tenggorokan) seperti sakit tenggorokan, untuk infeksi telinga, bronchitis kronik, pneumonia, saluran
kemih (kandung kemih dan ginjal).
Contoh obat yang termasuk dalam golongan ini antara lain : Ampisilin dan Amoksisilin. Untuk
meningkatkan ketahanan thp b-laktamase : penambahan senyawa untuk memblokir & menginaktivasi b-
laktamase. Misalnya Amoksisilin + asam klavulanat, Ampisilin + sulbaktam, Piperasilin + tazobaktam.
Efek samping : reaksi alergi, syok anafilaksis, kematian,Gangguan lambung & usus. Pada dosis amat
tinggi dapat menimbulkan reaksi nefrotoksik dan neurotoksik. Aman bagi wanita hamil & menyusui

Golongan Sefalosporin
Dihasilkan oleh jamur Cephalosporium acremonium. Spektrum kerjanya luas meliputi bakteri gram
positif dan negatif. Obat golongan ini barkaitan dengan penisilin dan digunakan untuk mengobati infeksi
saluran pernafasan bagian atas (hidung dan tenggorokan) seperti sakit tenggorokan, pneumonia, infeksi
telinga, kulit dan jaringan lunak, tulang, dan saluran kemih (kandung kemih dan ginjal).
contoh obat yang termasuk dalam golongan ini antara lain : Sefradin, Sefaklor, Sefadroksil,
Sefaleksin, E.coli, Klebsiella dan Proteus.
Penggolongan sefalosporin berdasarkan aktivitas & resistensinya terhadap b-laktamase:

Generasi I : aktif pada bakteri gram positif. Pada umumnya tidak tahan pada b laktamase. Misalnya
sefalotin, sefazolin, sefradin, sefaleksin, sefadroksil. Digunakan secara oral pada infeksi saluran kemih
ringan, infeksi saluran pernafasan yang tidak serius
Generasi II : lebih aktif terhadap kuman gram negatif. Lebih kuat terhadap blaktamase. Misalnya
sefaklor, sefamandol, sefmetazol,sefuroksim
Generasi III : lebih aktif terhadap bakteri gram negatif , meliputi Pseudomonas aeruginosa dan
bacteroides. Misalnya sefoperazone, sefotaksim, seftizoksim, sefotiam, sefiksim.Digunakan secara
parenteral,pilihan pertama untuk sifilis
Generasi IV : Sangat resisten terhadap laktamase. Misalnya sefpirome dan sefepim

Golongan Lincosamides
Dihasilkan oleh Streptomyces lincolnensis dan bersifat bakteriostatis. Obat golongan ini dicadangkan
untuk mengobati infeksi berbahaya pada pasien yang alergi terhadap penisilin atau pada kasus yang
tidak sesuai diobati dengan penisilin. Spektrum kerjanya lebih sempit dari makrolida, terutama terhadap
gram positif dan anaerob. Penggunaannya aktif terhadap Propionibacter acnes sehingga digunakan
secara topikal pada acne.
Contoh obatnya yaitu Clindamycin (klindamisin) dan Linkomycin (linkomisin).

2
Golongan Tetracycline
Diperoleh dari Streptomyces aureofaciens & Streptomyces rimosus. Obat golongan ini digunakan untuk
mengobati infeksi jenis yang sama seperti yang diobati penisilin dan juga untuk infeksi lainnya seperti
kolera, demam berbintik Rocky Mountain, syanker, konjungtivitis mata, dan amubiasis intestinal. Dokter
ahli kulit menggunakannya pula untuk mengobati beberapa jenis jerawat.
Adapun contoh obatnya yaitu : Tetrasiklin, Klortetrasiklin, Oksitetrasiklin, doksisiklin dan minosiklin.
Khasiatnya bersifat bakteriostatik , pada pemberian iv dapat dicapai kadar plasma yang bersifat
bakterisid lemah.Mekanisme kerjanya mengganggu sintesis protein kuman Spektrum kerjanya luas
kecuali thp Psudomonas & Proteus. Juga aktif terhadap Chlamydia trachomatis (penyebab penyakit
mata), leptospirae, beberapa protozoa. Penggunaannya yaitu infeksi saluran nafas, paru-paru, saluran
kemih, kulit dan mata. Namun dibatasi karena resistensinya dan efek sampingnya selama kehamilan &
pada anak kecil.

Golongan Kloramfenikol
Bersifat bakteriostatik terhadap Enterobacter & S. aureus berdasarkan perintangan sintesis polipeptida
kuman. Bersifat bakterisid terhadap S. pneumoniae, N. meningitidis & H. influenza. Obat golongan ini
digunakan untuk mengobati infeksi yang berbahaya yang tidak efektif bila diobati dengan
antibiotik yang kurang efektif. Penggunaannya secara oral, sejak thn 1970-an dilarang di negara barat
karena menyebabkan anemia aplastis. Sehingga hanya dianjurkan pada infeksi tifus (salmonella typhi)
dan meningitis (khusus akibat H. influenzae). Juga digunakan sebagai salep 3% tetes/salep mata 0,25-
1%. Contoh obatnya adalah Kloramfenikol, Turunannya yaitu tiamfenikol.

Golongan Makrolida
Bersifat bakteriostatik. Mekanisme kerjanya yaitu pengikatan reversibel pada ribosom kuman, sehingga
mengganggu sintesis protein. Penggunaannya merupakan pilihan pertama pada infeksi paru-paru.
Digunakan untuk mengobati infeksi saluran nafas bagian atas seperti infeksi tenggorokan dan infeksi
telinga, infeksi saluran nafas bagian bawah seperti pneumonia, untuk infeksi kulit dan jaringan lunak,
untuk sifilis, dan efektif untuk penyakit legionnaire (penyakit yang ditularkan oleh serdadu sewaan).
Sering pula digunakan untuk pasien yang alergi terhadap penisilin.Contoh obatnya : eritromisin,
klaritromisin, roxitromisin, azitromisin, diritromisin serta spiramisin.

Golongan Kuinolon
Berkhasiat bakterisid pada fase pertumbuhan kuman, dgn menghambat enzim DNA gyrase bakteri
sehingga menghambat sintesa DNA. Digunakan untuk mengobati sinusitis akut, infeksi saluran
pernafasan bagian bawah serta pneumonia nosokomial, infeksi kulit dan jaringan kulit, infeksi tulang
sendi, infeksi saluran kencing, Cystitis uncomplicated akut, prostates bacterial kronik, infeksi intra
abdominal complicated, demam tifoid, penyakit menular seksual, serta efektif untuk mengobati Anthrax
inhalational.
Penggolongan :
Generasi I : asam nalidiksat dan pipemidat digunakan pada ISK tanpa komplikasi

3
Generasi II : senyawa fluorkuinolon misal siprofloksasin, norfloksasin, pefloksasin,ofloksasin. Spektrum
kerja lebih luas, dan dapat digunakan untuk infeksi sistemik lain.
Zat-zat long acting : misal sparfloksasin, trovafloksasin dan grepafloksasin.Spektrum kerja sangat luas
dan meliputi gram positif.

Aminoglikosida
Dihasilkan oleh fungi Streptomyces & micromonospora.Mekanisme kerjanya : bakterisid, berpenetrasi
pada dinding bakteri dan mengikatkan diri pada ribosom dalam sel.
Contoh obatnya : streptomisin, kanamisin, gentamisin, amikasin, neomisin
Penggunaan Aminoglikosida Streptomisin & kanamisin Þ injeksi pada TBC juga pada
endocarditis,Gentamisin, amikasin bersama dengan penisilin pada infeksi dengan
Pseudomonas,Gentamisin, tobramisin, neomisin juga sering diberikan secara topikal sebagai salep atau
tetes mata/telinga,Efek samping : kerusakan pada organ pendengar dan keseimbangan serta
nefrotoksik.

Monobaktam
Dihasilkan oleh Chromobacterium violaceum Bersifat bakterisid, dengan mekanisme yang sama dengan
gol. b-laktam lainnya.Bekerja khusus pada kuman gram negatif aerob misal Pseudomonas, H.influenza
yang resisten terhadap penisilinase Contoh : aztreonam

Sulfonamide
Merupakan antibiotika spektrum luas terhadap bakteri gram positrif dan negatif. Bersifat bakteriostatik.
Mekanisme kerja : mencegah sintesis asam folat dalam bakteri yang dibutuhkan oleh bakteri untuk
membentuk DNA dan RNA bakteri.Kombinasi sulfonamida : trisulfa (sulfadiazin, sulfamerazin dan
sulfamezatin dengan perbandingan sama),Kotrimoksazol (sulfametoksazol + trimetoprim dengan
perbandingan 5:1),Sulfadoksin + pirimetamin.
Penggunaan:
Infeksi saluran kemih : kotrimoksazol
Infeksi mata : sulfasetamid
Radang usus : sulfasalazin
Malaria tropikana : fansidar.
Mencegah infeksi pada luka bakar : silver sulfadiazine.
Tifus : kotrimoksazol.
Radang paru-paru pada pasien AIDS : kotrimoxazol
Sebaiknya tidak digunakan pada kehamilan teruama trimeseter akhir : icterus, hiperbilirubinemia
Vankomisin
Dihasikan oleh Streptomyces orientalis.Bersifat bakterisid thp kuman gram positif aerob dan
anaerob.Merupakan antibiotik terakhir jika obat-obat lain tidak ampuh lagi

Penggunaan Antibiotik kombinasi :

4
Pada infeksi campuran, misalnya kombinasi obat-obat antikuman dan antifungi atau, dua antibiotik
dengan spektrum sempit (gram positif + gram negatif) untuk memperluas aktifitas terapi : Basitrasin dan
polimiksin dalam sediaan topikal.

Untuk memperoleh potensial, misalnya sulfametoksazol dengan trimetoprim (= kotrimoksazol) dan


sefsulodin dengan gentamisin pada infeksi pseudomonas. Multi drug therapy (AZT + 3TC + ritonavir )
terhadap AIDS juga menghasilkan efek sangat baik.

Untuk mengatasi resistensi, misalnya Amoksisilin + asam klavulanat yang menginaktivir enzim
penisilinase.

Untuk menghambat resistensi, khususnya pada infeksi menahun seperti tuberkulosa (rifampisin + INH +
pirazinamida ) dan kusta (dapson + klofazimin dan /atau rifampisin).

Untuk mengurangi toksisitas, misalnya trisulfa dan sitostatika, karena dosis masing-masing komponen
dapat dikurangi.

5
Klindamisin

Indikasi :
AOM, Bone and Joint, Gynecologic, Intra-abdominal,Pharyngitis and Tonsillitis,Respiratory
Tract,Septicemia,Skin and Skin Structure Infections,Anthrax,Bacterial Vaginosis,
Malaria,Pneumonia,Toxoplasmosis,Prevention of Bacterial Endocarditis,Prevention of Perinatal Group B
Streptococcal Disease.

 Mungkin bakteriostatik atau bakterisida dalam tindakan, tergantung pada konsentrasi yang
dicapai di tempat infeksi dan kerentanan organisme yang menginfeksi.
• Menghambat sintesis protein pada organisme yang rentan dengan mengikat secara reversibel
ke subunit ribosom 50S
• Klindamisin palmitat hidroklorida dan klindamisin fosfat tidak aktif sampai dihidrolisis in vivo
untuk membebaskan klindamisin.
• Spektrum aktivitas mencakup banyak bakteri aerobik gram positif, beberapa bakteri aerobik
gram negatif, dan banyak bakteri anaerob gram positif dan negatif anaktif. Tidak aktif melawan
jamur dan virus.
• Aerob Gram positif: Aktif melawan Staphylococcus aureus (termasuk strain penghasil
penisilinase), S. epidermidis (termasuk strain penghasil penisilinase), Streptococcus
pneumoniae, dan streptokokus lainnya.121, 126, 139, d Juga aktif in vitro melawan
Arcanobacterium haemolyticum110 dan Bacillus anthracis.103 Enterococci faecalis resisten.
• Aerob Gram-negatif: Aktif terhadap beberapa strain Corynebacterium diphtheriae, Haemophilus
influenzae, dan Neisseria gonorrhoeae.d N. meningitidis dan Enterobacteriaceae resisten.
• Anaerob: Aktif melawan Actinomyces, Bacteroides, Eubacterium, Fusobacterium,
Propionibacterium, Peptococcus, Peptostreptococcus, dan Veillonella.d Beberapa strain
Clostridium perfringens rentan, tetapi C. difficile dan Clostridium lainnya biasanya resisten.
• Aktif melawan Plasmodium.
• Cross resistance lengkap biasanya terjadi antara klindamisin dan lincomycin.
• Staphylococci yang resisten terhadap erythromycins dengan cepat mengembangkan resistensi
clindamycin.
Mekanisme kerja:

Situs pengikatan untuk klindamisin adalah pada subunit 50S dari ribosom bakteri yang identik dengan itu
untuk eritromisin. Klindamisin, seperti eritromisin, menekan sintesis protein dengan mengganggu
perkembangan kompleks inisiasi dan dengan reaksi translokasi aminoasil. Clindamycin menghambat
sintesa protein dengan cara mengikat pada gugus 50 S sub unit ribosomal bakteri sehingga menghambat
translokasi dari situs A ke situs P sehingga proses pemanjangan rantai polipetida terhenti.
 Klindamisin biasanya mirip dengan eritromisin dalam aktivitas in vitro melawan strain rentan
pneumokokus, S. pyogenes, dan viridans streptococci.
• Golongan S. aureus yang rentan terhadap methicillin umumnya rentan terhadap klindamisin,
tetapi strain resisten methicillin dari S. aureus dan staphylococci negatif koagulase sering
resisten.

6
• Klindamisin lebih aktif daripada eritromisin atau klaritromisin terhadap bakteri anaerob,
terutama B. fragilis.
• Spesies bakterisida lain dan anaerob lain, baik gram positif dan gram negatif, seperti Bacteroides
melaninogenicus, Peptostreptococcus, Peptococcus dan C. perfringens biasanya rentan.
• Ketahanan terhadap klindamisin pada spesies Bacteroides meningkat dengan cepat. Strain
Actinomyces israelii dan Nocardia asteroides sensitif. Spesies Chlamydia bervariasi sensitif.
• Pada dasarnya semua enterococci, organisme gram negatif aerobik dan M. pneumoniae
resisten.
• Klindamisin memiliki aktivitas yang sangat baik terhadap Corynebacterium acnes.
• Klindamisin plus primakuin dan klindamisin ditambah pirimetamin adalah rejimen lini kedua
untuk Pneumocystis jirovecipneumonia dan T. gondii encephalitis, masing-masing.
• Klindamisin berguna dalam perawatan babesiosis.

Resistensi Makrolida-Linkomisin
Resistensi makrolida-linkomisin teramati pada isolat Staphylococcus dan Streptococcus.
Resistensi ini akibat metilasi 2 adenin pada komponen 23S dari RNA 50S. Resistensi ini termediasi
plasmid dan dikode pada transposon. RNA termetilasi mengikat makrolida-linkomisin lebih lemah
daripada RNA taktermetilasi. Resistensi ini diinduksi oleh eritromisin dan clindamisin. Induksi eritromisin
lebih kuat daripada clindamisin.
Resistensi terhadap klindamisin, yang biasanya menyebakan resistensi silang terhadap makrolida, hali
itu terjadi karena (1) mutasi dari situs reseptor ribosom; (2) modifikasi reseptor oleh methylase adenin
yang diungkapkan secara konstitutif; dan (3) inaktivasi enzimatik (plasmid dimediasi adenil transferase)
dari klindamisin. Spesies aerobik gram negatif resisten bawaan karena permeabilitas membran luar yang
buruk. Ketahanan karena metilasi ribosom oleh enzim yang dikodekan erm dalam makrolida juga dapat
menghasilkan resistensi terhadap klindamisin. Ada resistensi silang hanya jika enzim terbentuk secara
konstitutif, karena klindamisin tidak menginduksi metilase. Sebaliknya, strain dengan resistensi yang
dapat diinduksi dapat mengembangkan produksi konstitutif methylase selama terapi. Oleh karena itu
penggunaan klindamisin harus dihindari dalam pengobatan infeksi berakar dalam yang disebabkan oleh
organisme yang menunjukkan fenotip resistensi yang dapat diinduksi. Deteksi fenotipe ini dapat
dilakukan dengan memperkirakan eritromisin dan klindamisin pada lempeng agar dengan rumput
organisme; penumpukan zona penghambatan antara klindamisin dan eritromisin menunjukkan
resistensi yang dapat diinduksi (ini dikenal sebagai "uji-D"). Klindamisin bukan merupakan substrat
untuk pompa penghabisan makrolida; sehingga strain yang resisten terhadap macrolides oleh
mekanisme ini rentan terhadap klindamisin. Metabolisme yang jarang berubah menyebabkan resistensi
clindamycin. Perlawanan biasanya terjadi melalui macrolide -lincosamide-streptogramin B (MLSB) jenis
resistensi yang dapat bersifat konstitutif atau diinduksi.

Resistensi
Resistensi terhadap ertromycin biasanya dikode oleh plasmid. Terdapat 3 mekanisme yang telah dikenal:
1) Penurunan permeabilitas membrane sel atau pengaliran keluar (efflux) yang aktif
2) Produksi esterase (oleh enterobacteriaceae) yang menghidrolisi makrolida

7
3) Modifikasi situs ikatan ribosom (disebut juga preoteksi ribosom) oleh mutasi kromosom atau oleh
metilase pengganti atau penginduksi makrolida.

Efek samping:

Diare dapat terjadi pada 2-20% pasien yang menerima clindamycin. Efek samping lainnya adalah mual,
muntah, kram perut, rasa metalik, blokade neuromuskular, ruam, stomatitis dan urtikaria.

Metronidazole

Sejarah
Aktivitas antibakteri Nitroimidazole pertama kali ditemukan dalam ekstrak dari Nocardia mesenterica
(Maeda
et al., 1953) dan Streptomyces eurocidicus (Osato et al., 1955). Agen aktif, yang disebut azomycin,
adalah
diidentifikasi sebagai 2-nitroimidazole (Gambar 2.3.2) (Nakamura et al., 1955), metabolit yang dihasilkan
dari arginin (paling tidak pada kedua bakteri ini) (Nakane et al., 1977). Setelah banyak upaya gagal
mensintesis molekul sederhana ini, para peneliti di Rh ^ one-Poulenc mengalihkan perhatian mereka ke
produksi dan evaluasi isomer 5-nitroimidazole sintetis yang kurang menantang, yang mengarah pada
identifikasi metronidazole sebagai agen antiprotozoal yang kuat dengan aktivitas yang lebih besar
daripada azomisin dan toksisitas yang dapat diterima
profil (Cosar and Julou, 1959). Sintesis 2-nitroimidazole tidak tercapai hingga 10 tahun kemudian,
dan kemudian hanya dalam hasil rendah (Lancini dan Lazzari, 1965). Untuk lebih lanjut tentang
penemuan nitroimidazole, lihat Anon (1978).

Indikasi
Infeksi Tulang dan Sendi, Endokarditis,Infeksi Ginekologi,Infeksi intra-abdomen,Meningitis dan Infeksi
SSP Lainnya,Infeksi Saluran Pernapasan,Keracunan Darah,Infeksi Kulit dan Struktur Kulit,
Amebiasis,Bacterial Vaginosis,Clostridium difficile terkait Diare dan colitis,Infeksi Helicobacter pylori dan
Penyakit Ulkus Duodenum,Uretritis Nongonococcal, Tetanus,Trikomoniasis,Profilaksis Perioperatif

Mekanisme kerja
Setelah berdifusi kedalam organisma, berinteraksi dengan DNA menyebabkan hilangnya struktur helix
DNA dan kerusakan untaian DNA. Hal ini lebih jauh menyebabkan hambatan pada syntesa protein dan
kematian sel organisma. (Drug Information Handbook)

Metronidazole adalah prodrug . Metronidazol tak terion selektif untuk bakteri anaerob karena
kemampuan mereka untuk mengurangi intraseluler metronidazol untuk bentuk aktifnya. Hal ini
dikurangi metronidazol kemudian mengikat DNA secara kovalen, mengganggu struktur heliks,
menghambat bakteri sintesis asam nukleat dan mengakibatkan kematian sel bakteri.

8
• Aksi bakterisida, amebicidal, dan trichomonacidal
• Un-terionisasi pada pH fisiologis dan mudah diambil oleh organisme anaerobik atau cells.Dalam
organisme atau sel rentan, metronidazole dikurangi dengan protein transpor elektron rendah redoks
potensial (misalnya, nitroreductases seperti ferredoxin); produk reduksi (s) ternyata bertanggung jawab
atas sitotoksik dan antimikroba efek obat (misalnya, gangguan DNA, penghambatan sintesis asam
nukleat).
• Memiliki efek anti-inflamasi, dan efek langsung pada neutrofil motilitas, transformasi limfosit,
dan beberapa aspek yang diperantarai sel immun.
• Spektrum aktivitas termasuk bakteri anaerob yang paling obligately dan banyak protozoa.g aktif
terhadap jamur dan virus dan sebagian besar aerobik atau bacteri fakultatif anaerob.
• Gram-positif anaerob: Clostridium, C. difficile, C. perfringens, Eubacterium, Peptococcus, dan
Peptostreptococcus.
• anaerob gram negatif: Aktif terhadap Bacteroides fragilis, B. distasonis, B. ovatus, B.
thetaiotaomicron, B. vulgatus, B. ureolyticus, Fusobacterium, Prevotella bivia, P. buccae, P. disiens, P.
intermedia, P. melaninogenica, P . oralis, Porphyromonas, dan Veillonella.
• Aktif terhadap Helicobacter pylori, 164 Entamoeba histolytica, Trichomonas vaginalis, Giardia
lamblia, dan Balantidium coli.g Kisah terutama terhadap bentuk trofozoit E. histolytica dan memiliki
aktivitas terbatas terhadap form.g encysted
• Perlawanan telah dilaporkan di beberapa Bacteroides dan T. vaginalis.

Resistensi
Bakteri patogen yang telah dilaporkan resisten terhadap metronidazole
Helicobacter pylori
Sutterella sp.
Organisme patogen yang telah dilaporkan kepekaannya terhadap obat ini menurun:
Actinomyces
Bifidobacterium
Eubacterium
Lactobacillus
Propionibacterium sp.
Meski telah dilaporkan terjadinya kegagalan pengobatan metronidazole akibat resisten kuman, namun
tingkat resistensinya masih rendah. Karena metronidazole terkenal dalam hal keamanan dan
efektifitasnya secara klinis, maka obat ini masih diandalkan di seluruh dunia untuk tata laksana infeksi
kuman anaerob.[1,

Mekanisme aksi
Beberapa mekanisme resistensi terhadap metronidazole pada bakteri anaerob telah diajukan.
Mekanisme ini berbeda di antara organisme, tetapi dasar utama untuk resistensi adalah penurunan
serapan obat atau perubahan efisiensi reduksi ( Tabel 3 ). Kedua mekanisme ini bertindak bersama;
penurunan aktivitas nitroreduktase menyebabkan penurunan serapan obat. Mekanisme lain termasuk
penghabisan aktif, inaktivasi obat, dan peningkatan perbaikan kerusakan DNA [ 10 ]. Gen resistensi

9
spesifik (nim) memberikan resistensi terhadap nitroimidazole telah diisolasi dalam genera yang berbeda
dari bakteri anaerob gram positif dan gram negatif, termasuk spesies Bacteroides [ 14 , 15 ]. Transfer
gen ini telah ditunjukkan untuk memberikan resistansi terhadap metronidazol pada penerima yang
terinfeksi dengan virus yang rentan [ 16 ]. Gen nim menyandikan reduktase alternatif yang dapat
mengubah nitroimidazole menjadi derivatif tidak beracun, sehingga menghindari efek toksik yang
menyebabkan kerusakan DNA [ 12 , 17 ]. Sejauh ini, 7 anggota gen — dari nim A sampai nim G — telah
ditemukan, meskipun deteksi varian baru menunjukkan adanya gen yang lebih tinggi dari gen-gen ini
dalam komunitas anaerobik daripada yang diperkirakan semula.Studi tentang prevalensi gen nim telah
mencatat overrepresentasi nim A di antara anaerob [ 15 ]. Gen nim biasanya ditemukan pada plasmid
salinan rendah tetapi juga telah ditemukan pada kromosom bakteri dan telah terbukti dapat dipindah-
pindah oleh proses konjugasi. Elemen pengatur khusus yang dikenal sebagai urutan penyisipan sering
dikaitkan dengan gen nim . Elemen urutan penyisipan bersifat mobile dan diduga terlibat dalam
plastisitas genom prokariota. Mereka telah ditugaskan peran dalam ekspresi beberapa gen resistensi
dalam spesies Bacteroides , termasuk untuk metronidazole, eritromisin-klindamisin, cefoxitin, dan
carbapenems.Unsur-unsur ini dapat ditemukan pada kromosom bakteri, pada plasmid, dan dalam
beberapa salinan [ 18 ].

Efek samping
Mual,Sakit kepala, Anoreksia, Mulut Kering, Rasa Logam yang tidak menyenangkan

Vankomycin

Sejarah:
Vancomycin pertama kali diisolasi pada tahun 1953 oleh Edmund Kornfeld (bekerja di Eli Lilly ) dari
sampel tanah yang dikumpulkan dari hutan pedalaman Kalimantan oleh seorang misionaris. Organisme
yang menghasilkannya akhirnya bernama Amycolatopsis orientalis . [19] Indikasi asli untuk vankomisin
adalah untuk pengobatan Staphylococcus aureus yang resisten terhadap penisilin. [19] [20]
Vancomycin tidak pernah menjadi pengobatan lini pertama untuk S. aureus karena beberapa alasan:
1. Ini memiliki bioavailabilitas oral yang buruk, jadi harus diberikan intravena untuk sebagian besar
infeksi.
2. β-Lactamase-tahan penisilin semisintetik seperti methicillin (dan
penggantinya, nafcillin dan cloxacillin ) yang kemudian dikembangkan, yang memiliki aktivitas
yang lebih baik terhadap non-MRSA staphylococci.
3. Percobaan awal digunakan lebih awal, bentuk-bentuk obat yang tidak murni ("lumpur
Mississippi"), yang ditemukan beracun bagi telinga bagian dalam dan ginjal; [70] temuan ini
menyebabkan vankomisin terdegradasi ke posisi obat terakhir. [20]

Indikasi :
 Pengobatan infeksi serius yang disebabkan oleh organisme yang rentan terhadap penicillins
(methicillin-resistant S. aureus (MRSA) dan multidrug-resistant Staphylococcus
epidermidis (MRSE)) atau pada individu dengan alergi serius terhadap penicillins.

10
 Pengobatan kolitis pseudomembran disebabkan oleh C. difficile ; khususnya, dalam kasus
kambuh atau di mana infeksi tidak responsif terhadap pengobatan metronidazol (untuk indikasi
ini, vankomisin diberikan secara oral, bukan melalui rute intravena khas)
 Untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme Gram-positif pada pasien
dengan alergi serius terhadap antimikroba beta-laktam. [13]
 Antibakteri profilaksis untuk endokarditis mengikuti prosedur tertentu pada individu
yang hipersensitif terhadappenisilin yang berisiko tinggi [13]
 Profilaksis bedah untuk prosedur utama yang melibatkan implantasi prostesis di institusi dengan
tingkat MRSA atau MRSE yang tinggi [13]
 Pada awal pengobatan sebagai antibiotik empiris untuk kemungkinan infeksi MRSA sambil
menunggu identifikasi kultur organisme yang menginfeksi
 Menghentikan perkembangan kolangitis sklerosis primer dan mencegah gejala; vankomisin tidak
menyembuhkan pasien dan keberhasilannya terbatas
 Pengobatan endophthalmitis dengan injeksi intravitreal untuk cakupan bakteri gram
positif. [14] Penggunaannya untuk mencegah kondisi ini, bagaimanapun, tidak disarankan karena
risiko efek samping. [1

Mekanisme kerja:
antibiotik ini aktif terhadap bakteri gram positif aerob dan non aerob termasuk stafilokokus yang
multiresisten.

Mekanisme kerja vankomisin yaitu menghambat pembentukkan dinding sel pad tahap kedua yaitu
menghambat sintesis fosfolipid dinding sel bakteri pada polimerisasi peptidoglikan dengan mengikat
senyawa D-Ala D-Ala terminal pada precursor pentapeptida. Hal ini mencegah tahap transglikolasi pad
atahap polimerisasi peptidoglikan sehingga struktur dinding sel diperlemah.

Glikopeptida mengganggu sintesis peptidoglikan sel-dinding sebagai akibat dari afinitas pengikatannya
untuk Urutan asam amino D-ala-D-ala yang ada dalam prekursor transpeptidation. Seperti yang Anda
ingat dari bagian pengantar, biosintesis peptidoglikan melibatkan tiga tahap utama:

i) sintesis dinding sel prekursor,


ii) transportasi prekursor melintasi membran sel oleh lipid pembawa (undecaprenyl
dalam hal ini kasus),
iii) sintesis dinding sel, yang melibatkan penggandengan prekursor ke dalam rantai
polimerik dan silang rantai ini (Skema 5.2.2).

Sebagai sel-sel eukariotik tidak memiliki dinding sel, glikopeptida adalah agen bakterisida selektif.
Glikopeptida mengandung donor ikatan hidrogen dan kelompok akseptor dan bagian aglikon
membentuk lima ikatan hidrogen ke terminal D-ala-D-ala urutan rantai prekursor pentapeptida (tiga ini
ikatan hidrogen ditunjukkan pada Gambar 5.2.2) (Barna dan Williams, 1984).

11
Dengan mengikat urutan D-ala-D-ala, glikopeptida menghambat sejumlah proses yang terlibat dalam
perakitan dinding sel, tetapi mereka tidak melakukan ini dengan langsung bertindak pada enzim
bertanggung jawab; alih-alih mereka membentuk 'lapisan pelindung' yang mencegah langkah-langkah
ini, dengan unit D-ala-D-ala ditahan di dalam celah yang dalam dari antibiotik. Salah satu langkah paling
awal dalam sintesis dinding sel melibatkan transfer transglycosylase-katalis dari peptida disakarida dari
pembawa lipid ke tumbuh rantai peptidoglikan. Meskipun terikat ke situs unit disaccharide-peptide yang
jauh dari bagian disakarida, antibiotik ini menghambat proses ini, mungkin melalui pertikaian sterik
dengan beberapa wilayah enzim transglikosilase yang terletak dekat di ruang angkasa ke terminal D-ala-
D-ala rantai peptide (Skema 5.2.3a) (Reynolds, 1989).

Langkah selanjutnya dalam pembentukan dinding sel adalah penghilangan protein-protein pengikat
penisilin yang mengikat residu terminal D-ala (oleh D-alanine carboxypeptidase). Proses ini melibatkan
pembentukan enzim asil menengah, yang kemudian diserang oleh gugus amino glycine untuk
memberikan ikatan peptida baru, dengan demikian silang rantai peptidoglikan (dikatalisis oleh
transpeptidase peptidoglikan, juga disebut PBP) (Skema 5.2.3b). Ketika antibiotik glikopeptida berikatan
dengan urutan D-ala-D-ala, mereka sekali lagi mencegah proses ini terjadi (Reynolds, 1989). Singkatnya,
sebagai hasil dari ikatan vankomisin dengan urutan D-ala-D-ala pada akhir pentapeptida. rantai
prekursor peptidoglikan, transglikosilase dan aktivitas transpeptidase dihambat dan dinding sel formasi
terganggu.

Vankomisin bekerja dengan menghambat sintesis dinding sel yang tepat pada bakteri Gram-positif.
Karena mekanisme yang berbeda dimana bakteri Gram-negatif menghasilkan dinding sel mereka dan
berbagai faktor yang terkait dengan memasuki membran luar organisme Gram-negatif , vankomisin
tidak aktif terhadap mereka (kecuali beberapa spesies Neville non- nocokoccal ). Molekul hidrofilik yang
besar mampu membentuk interaksi ikatan hidrogen dengan gugus D-alanyl-D-alanin terminal dari NAM
/ NAG-peptida. Dalam keadaan normal, ini adalah interaksi lima poin. Pengikatan vankomisin ke D-Ala-
D-Ala mencegah sintesis dinding sel dari polimer panjang N-acetylmuramic acid (NAM) dan N-
acetylglucosamine (NAG) yang membentuk tulang punggung dari dinding sel bakteri, dan mencegah
polimer tulang punggung yang berhasil terbentuk dari hubungan silang dengan satu sama lain. [50]

12
Mekanisme aksi dan resistensi vankomisin: Diagram ini hanya menunjukkan satu dari dua cara vankomisin
bekerja melawan bakteri (penghambatan dinding sel yang menghubungkan silang) dan hanya satu dari banyak
cara bakteri menjadi resisten terhadapnya.

1. Vankomisin ditambahkan ke lingkungan bakteri ketika sedang mencoba untuk mensintesis dinding sel
baru. Di sini, helai dinding sel telah disintesis, tetapi belum terhubung silang.
2. Vankomisin mengenali dan berikatan dengan dua residu D-ala pada ujung rantai peptida. Namun,
pada bakteri yang resisten, residu D-ala terakhir telah digantikan oleh D-laktat, sehingga vankomisin
tidak dapat mengikat.
3. Pada bakteri yang resisten, tautan silang berhasil dibentuk. Namun, pada bakteri yang tidak resisten,
vankomisin yang terikat pada rantai peptida menghalangi mereka berinteraksi dengan baik dengan
enzim penghubung-silang dinding sel.
4. Pada bakteri yang resisten, ikatan silang yang stabil terbentuk. Pada bakteri yang sensitif, ikatan
silang tidak dapat terbentuk dan dinding sel menjadi berantakan.

Mendapatkan resistensi
Resistensi terhadap vankomisin disebabkan oleh perubahan permeabilitas dinding sel bakteri terhadap
vakomisin atau penurunan kekuatan ikatan vankomisin terhadap reseptor. Hal tersebut dikarenakan
adanya pergantian gugus D-Alanin oleh gugus D-Laktat yang terjadi pada bakteri

Sekarang kita tahu bahwa antibiotik glikopeptida bekerja dengan secara khusus mengikat pada D-ala-D-
ala dipeptide urutan, seharusnya tidak mengherankan bahwa resistensi bakteri terhadap agen-agen ini
melibatkan modifikasi urutan ini melalui perubahan dalam aktivitas ligase (enzim yang bergabung
dengan dua asam amino untuk menghasilkan dipeptida).

Ada lima jenis resistensi glikopeptida pada enterococci tahan vankomisin (VRE), diklasifikasikan sebagai
VanA, B, C, D, dan E. Empat yang pertama ini cukup dipahami dengan baik, dan berbagi beberapa tingkat
kesamaan, jadi kita akan berkonsentrasi pada fenotipe VanA, di mana resistensi dimediasi oleh
transposon yang mengandung sembilan gen dari kluster gen vanA. Empat dari gen ini bertanggung
jawab atas proses molekuler yang menimbulkan terhadap resistensi vankomisin; VanH menghasilkan
VanH, dehidrogenase yang mengurangi piruvat menjadi D-laktat (D-lac), untuk penggabungan ke D-ala-
D-lac oleh VanA (produk dari gen vanA), ligan D-ala-D-laktat yang mensintesis ester (D-Ala-D-lac)
daripada amida (D-ala-D-ala) (Tabel 5.2.2). D-ala-D-laktat urutan menggantikan D-ala-D-ala dalam rantai
pentapeptida (rantai yang dihasilkan sekarang tidak, tentu saja, a pentapeptide). Krusial, D-ala-D-lac
memiliki pengurangan 1000 kali lipat dalam afinitas untuk vankomisin (mampu membentuk lebih sedikit
ikatan hidrogen) tetapi masih dapat diserang oleh glyNH2 dan bertindak sebagai prekursor untuk
pembentukan crosslink (Skema 5.2.4) (Malathum dan Murray, 1999). Ligan semacam itu juga diproduksi
oleh vancomycinproducing mikroorganisme (Kuzin et al., 2000).

Pembentukan prekursor peptidoglikan seperti vankomisin tidak akan cukup untuk tingkat tinggi
resistensi selama ligase normal menghasilkan urutan D-ala-D-ala (yang mana vankomisin bisa mengikat)

13
dan ini masih dimasukkan ke dalam prekursor pentapeptida. Untuk mengatasi ini, vanX menghasilkan
VanX, D, D-dipeptidase yang memotong unit D-ala-D-ala, sementara vanY menghasilkan VanY, D,
Dcarboxypeptidase yang memotong terminal D-ala dari pentapeptide (Skema 5.2.5) (Malathum dan
Murray, 1999), sehingga tidak ada sisa D-ala-D-ala untuk digunakan dalam sintesis peptidoglikan.

VRE diisolasi pada akhir 1980-an di Inggris dan sekarang telah dideteksi di seluruh dunia; mayoritas
sedang Enterococcus faecium dan tahan terhadap berbagai antibiotik. Sifat resistensi vankomisin yang
dapat ditransfer di laboratorium, dan munculnya gen resistensi vankomisin yang didapat pada organisme
lain, adalah adanya kekhawatiran perawatan kesehatan yang semakin meningkat. Sebagai contoh,
Staphylococcus aureus pertama strain dengan vankomisin berkurang kerentanan diisolasi pada tahun
1997, dan ada berbagai organisme dengan kerentanan yang berkurang, termasuk Staphylococcus aureus
resisten vankomisin (VRSA) (untuk mana mik vancomisin lebih besar dari 16 mg / L) dan
Staphylococcus aureus intermediet vankomyin (VISA) (vankomisin MIC 4-8 mg / L), di resistensi yang
setidaknya sebagian disebabkan oleh dinding sel yang menebal, menghasilkan penurunan penetrasi
vankomisin dan menurun silang peptidoglikan (Rong dan Leonard, 2010). Kelompok gen vanA kini telah
menemukan cara melalui plasmid menjadi Staphylococcus aureus resisten-metisilin (MRSA), yang
menyebabkan resistensi vankomisin (Weigel et al., 2003). MRSA yang resisten Vankomisin telah
diidentifikasi di sejumlah lokasi - pergi beberapa pilihan pengobatan yang mengkhawatirkan untuk infeksi
yang disebabkan oleh organisme patogen ini.

Evolusi resistensi mikroba terhadap vankomisin adalah masalah yang berkembang, khususnya, di dalam
fasilitas perawatan kesehatan seperti rumah sakit. Sementara alternatif baru untuk vankomisin ada,
seperti linezolid (2000) dan daptomycin (2003), Resistensi vankomisin berevolusi pada organisme
patogen yang lebih umum selama tahun 1990-an dan 2000-an, termasuk vancomycin-
intermediate Staphylococcus aureus (VISA) dan Staphylococcus aureus resisten vancomisin
(VRSA). [60] [61] Penggunaan pertanian avoparcin , antibiotik glikopeptida lain yang serupa, mungkin telah
berkontribusi terhadap evolusi organisme yang resisten terhadap vankomisin. [62] [63] [64][65]

14
Salah satu mekanisme resistensi terhadap vankomisin melibatkan perubahan pada residu asam amino
terminal dari subunit NAM / NAG-peptida, dalam kondisi normal, D -alanyl- D -alanin, yang mengikat
vankomisin. Variasi D -alanyl-laktat menghasilkan hilangnya satu interaksi ikatan hidrogen (4,
dibandingkan dengan 5 untuk D -alanyl- D- alinein) mungkin antara vankomisin dan
peptida. Hilangnya satu titik interaksi ini menghasilkan penurunan afinitas 1000 kali lipat. Variasi D -
alanyl- D-serebral menyebabkan hilangnya enam kali lipat afinitas antara vankomisin dan peptida,
mungkin karena hambatan sterik. [66]
Dalam enterococci, modifikasi ini tampaknya disebabkan oleh ekspresi enzim yang mengubah residu
terminal. Tiga varian resistensi utama telah dikarakterisasi hingga saat ini di antara
populasi Enterococcus faecium dan E. faecalis yang resisten:
 VanA - resistensi enterococcal terhadap vankomisin dan teikoplanin ; diinduksi pada paparan
agen-agen ini
 VanB - resistansi enterococcal tingkat rendah; diinduksi oleh vankomisin, tetapi strain dapat
tetap rentan terhadap teikoplanin
 VanC - paling tidak secara klinis penting; enterococci hanya resisten terhadap
vankomisin; resistensi konstitutif
Varian vankomisin telah diuji yang berikatan dengan variasi asam D-laktat yang resisten pada dinding sel
bakteri resisten vankomisin, dan juga mengikat dengan baik ke target awal (bakteri yang rentan
vankomisin). [67] [68]

Efek samping
 Reaksi obat umum yang merugikan (≥1% pasien) terkait dengan vankomisin IV meliputi: nyeri
lokal, yang mungkin berat, dan tromboflebitis .

Kerusakan pada ginjal dan pendengaran merupakan efek samping dari versi awal vankomisin,
dan ini menonjol dalam uji klinis yang dilakukan pada pertengahan 1950-an.
 Efek samping yang jarang (<0,1% pasien) meliputi: anafilaksis , nekrolisis epidermal
toksik , eritema multiforme , sindrom pria
merah , superinfeksi , trombositopenia , neutropenia , leukopenia , tinnitus , pusing dan / atau
ototoxicity , dan sindrom DRESS . [22]
 Vankomisin dapat menginduksi antibodi reaktif-trombosit pada pasien, yang
menyebabkan trombositopenia berat dan perdarahan dengan perdarahan petechial
[23]
kemerahan, ecchymoses , dan purpura basah.
 Vankomisin secara tradisional telah dianggap sebagai obat nephrotoxic dan ototoxic

15
Fosfomycin
Sejarah
Fosfomisin (awalnya dikenal sebagai fosfonomisin) ditemukan dalam upaya bersama Merck dan Co dan
Compañía Española de Penicilina y Antibióticos (CEPA) Spanyol. Ini pertama kali diisolasi dengan skrining
kultur kaldu Streptomyces fradiae yang diisolasi dari sampel tanah untuk kemampuan menyebabkan
pembentukan spheroplast oleh bakteri yang tumbuh. Penemuan ini dijelaskan dalam serangkaian
makalah yang diterbitkan pada tahun 1969. [3] CEPA mulai memproduksi fosfomisin pada skala industri
pada tahun 1971 di fasilitas Aranjuez . [4]
Indikasi:
Pengobatan penyakit menular dan inflamasi (yang disebabkan oleh organisme yang sensitif) pada
saluran kemih bagian bawah, termasuk sistitis akut bakteri, eksaserbasi bakteri berulang cystitis kronis,
sindrom urovezikalny bakteri akut, uretritis nonspesifik bakteri, bakteriuria asimtomatik besar
(kehamilan), infeksi saluran kemih pasca operasi. Pencegahan infeksi saluran kemih pada intervensi
bedah dan survei transurethral diagnostik.
Digunakan sebagai terapi profilaksis untuk infeksi pada saluran kencing dan bakteri yang resisten
terhadap banyak obat. Bakterisidal.
Mekanisme kerja:
Fosfomisin bekerja dengan cara menghambat biosintesis dinding sel bakteri dengan cara mengahambat
enzim UDP-N-Asetilglukosamin-3-enolpiruvil transferase yang juga dikenal dengan MurA. N-
Asetilglukosamin dan asam N-Asetilmuramat merupakan komponen penting dari peptidoglikan. Enzim
MurA mengkatalisis tahapan biosintesis peptidoglikan, yaitu ligase fosfoenolpiruvat pada gugus 3’
hidroksil pada UDP-N-Asetilglukosamin. Fosfomisin merupakan analog fosfoenolpiruvat yang terikat
pada MurA dan menghambat pembentukkan UDP-GlcNac-3-o-enilpiruvat dari UDP-N-Asetilglukosamin
dan fosfoenolpiruvat pada tahap pertama sintesis peptidoglikan sehingga lisis.
Fosfomisin berspektrum luas yang efektif terhadap bakteri Gram positif dan Negatif seperti E.faecalis,
E.coli, Citrobacter, dan proteus.
Resistensi
Mutasi yang menonaktifkan transporter glycerophosphate yang tidak esensial membuat bakteri resisten
terhadap fosfomisin.
Fosfomycin resistance enzymes
Enzim yang memberikan resistansi terhadap fosfomisin juga telah diidentifikasi dan dikodekan baik
secara kromosom maupun pada plasmid . [18]
Tiga enzim ketahanan fosfomisin terkait (bernama FosA, FosB, dan FosX) adalah anggota dari
superfamili glyoxalase . Enzim ini berfungsi dengan serangan nukleofilik pada karbon 1 dari fosfomisin,
yang membuka cincin epoksida dan membuat obat tidak efektif. Enzim berbeda dengan identitas
nukleofil yang digunakan dalam reaksi: glutathione untuk FosA, bacillithiol untuk FosB, [19] [20] dan air
untuk FosX. [18] Secara umum, FosA dan FosX enzim diproduksi oleh bakteri Gram-negatif, sedangkan
FosB diproduksi oleh bakteri Gram-positif. [18]
FosC menggunakan ATP dan menambahkan gugus fosfat ke fosfomisin, sehingga mengubah sifatnya dan
membuat obat tidak efektif. [21]
Ketahanan Inheren

16
Mekanisme aksi dan struktur fosfomisin adalah unik, membuat resistensi silang jarang terjadi. Namun,
beberapa mekanisme yang memberikan resistensi terhadap fosfomisin telah diidentifikasi ( 96 ).
Beberapa bakteri secara inheren resisten terhadap fosfomisin. Pertama, mutasi pada murA
menyebabkan perubahan dari sistein menjadi bakteri render aspartat (misalnya, Chlamydia spp.,
Mycobacterium tuberculosis , dan Vibrio fischeri ) resisten terhadap agen antimikroba ini ( 97 ) ( 49 , 98).
Kedua, sebuah penelitian melaporkan identifikasi jalur penyelamatan dalam sintesis peptidoglycan di
Pseudomonas putida . Dengan menggunakan jalur ini, daur ulang peptidoglikan dapat dilakukan sebagai
pengganti sintesis de novo dari UDP-MurNAc, yang merupakan prekursor peptidoglikan pertama
(produksi yang dikatalisis oleh MurA) ( 99 ). Akibatnya, target fosfomisin (MurA) tidak terlibat dalam
sintesis peptidoglikan, menghasilkan resistensi fosfomisin yang melekat. Jalur serupa baru-baru ini
dijelaskan untuk Pseudomonas aeruginosa ( 10 ).
Resistensi yang didapat
Pada umumnya bakteri yang rentan fosfomisin seperti E. coli , resistensi berkembang ketika mutasi
terjadi pada sistem penyerapan yang digunakan sebagai sarana entri fosfomisin di dalam bakteri ( 100 ).
Mutasi pada gen kromosom glpT dan uhpT , yang menyandikan transporter fosfomisin, menyebabkan
penghambatan atau penurunan fosfomisin ( 92 , 101 ). Protein yang dikodekan adalah gliserol atau
pengangkut karbohidrat yang penting untuk fungsi metabolisme atau virulensi di E. coli dan bakteri lain (
96 ). Mutasi tersebut adalah mekanisme resistensi yang paling umum pada seri yang lebih tua ( 102
).Mutasi pada cyaA dan ptsI gen (yang menghasilkan tingkat cAMP yang lebih rendah dan
downregulation transport fosfomycin) juga telah dijelaskan dan terkait dengan penurunan biosintesis
pilus dan kemampuan untuk mematuhi sel epitel ( 96 , 103 ). Mutasi pada murA menghasilkan afinitas
yang lebih rendah dari enolpyruvyl transferase untuk fosfomycinin ( 104 ), sementara overekspresi
transferase enolpyruvyl juga terbukti menghasilkan resistensi fosfomisin ( 101 ).
Efek samping
Jarang: mual, muntah, diare, ruam kulit, menghilang secara independen setelah penghapusan
fosfomisin.

Linezolid
Introductory Information
Antibacterial; synthetic oxazolidinone.1, 2, 3, 4, 5
Class: 8:12.28.24 Oxazolidinones; am900 (VA primary)
Actions and Spectrum

• Agen anti-infektif oksazolidinon sintetis yang secara struktural tidak terkait dengan obat anti-
infeksi lainnya yang tersedia secara komersial di AS.1, 2, 3, 4, 5
• Bertindak awal dalam terjemahan bakteri; berikatan dengan situs pada RNA ribosomal 23S
dari subunit 50S dan mencegah pembentukan kompleks inisiasi 70S fungsional.1, 2, 3
• Bakteriostatik terhadap enterococci dan staphylococci dan bakterisida terhadap sebagian
besar streptococci.1, 2, 4
• Aktif secara in vitro terhadap Enterococcus faecium resisten vankomisin.1,3 Meskipun tidak
diketahui secara klinis, juga aktif in vitro melawan E. faecium (strain yang rentan vankomisin)
dan E. faecalis (termasuk strain yang resisten vankomisin) .1

17
• Aktif in vitro melawan Staphylococcus aureus (termasuk strain resisten-tahan-oksisilin),
Streptococcus agalactiae (grup B streptococci), S. pneumoniae (termasuk MDRSP), dan S.
pyogenes (grup A β-hemolytic streptococci) .1 Meskipun kepentingan klinis tidak diketahui, juga
aktif in vitro terhadap S. epidermidis (termasuk strain resisten-tahan-oksikilin), S. haemolyticus,
streptokokus grup viridans, dan Pasteurella multocida.1
• Strain E. faecium, E. faecalis, dan S. aureus yang resisten telah muncul selama terapi
linezolid
• Ketahanan silang antara linezolid dan obat anti-infeksi lainnya yang tersedia secara komersial
di AS tidak mungkin karena mekanisme tindakan obat yang unik.1, 2, 3

Uses
Vancomycin-resistant Enterococcus faecium Infections
Treatment of infections caused by susceptible vancomycin-resistant Enterococcus faecium, including
infections associated with concurrent bacteremia.1, 2, 3, 4
Respiratory Tract Infections
Treatment of community-acquired pneumonia (CAP), including infections associated with concurrent
bacteremia, caused by susceptible Streptococcus pneumoniae (including multidrug-resistant S.
pneumoniae [MDRSP] resistant to ≥2 of the following anti-infectives: penicillin, second-generation
cephalosporins, macrolides, tetracycline, co-trimoxazole).1, 2, 3, 4
Skin and Skin Structure Infections
Treatment of uncomplicated skin and skin structure infections caused by susceptible S. aureus
(methicillin-susceptible [oxacillin-susceptible] strains only) or susceptible S. pyogenes (group A β-
hemolytic streptococci).1, 2, 3, 4, 10
Treatment of complicated skin and skin structure infections, including diabetic foot infections, without
concurrent osteomyelitis, caused by susceptible S. aureus (including methicillin-resistant [oxacillin-
resistant] strains), S. pyogenes, or S. agalactiae (group B streptococci).1, 2, 3, 4, 10, 26
Dosage and Administration
Administration
Administer orally or by IV infusion.1, 2, 3, 4
When clinically appropriate, IV route may be switched to oral without dosage adjustment.1, 3
Oral Administration
Administer orally without regard to meals.1
Reconstitution
Reconstitute powder for oral suspension at time of dispensing by adding the amount of water specified
on the bottle to provide a suspension containing 100 mg/5 mL.1 After tapping the bottle gently to loosen
the powder, add the water in 2 portions and agitate well after each addition.1
IV Administration
Single-use containers of linezolid injection for IV infusion should be administered without further
dilution.1 The containers should not be used in series connections, and additives should not be
introduced into the solution.1, 3
Rate of Administration
Administer by IV infusion over 30-120 minutes.1, 3

18
Dosage
Manufacturer states safety and efficacy of >28 days of linezolid treatment not evaluated in controlled
clinical trials.1
Pediatric Patients
General Dosage for Neonates <7 Days of Age
>Oral or IV
10 mg/kg every 12 hours initially; consider 10 mg/kg every 8 hours in neonates with an inadequate
response to the lower dosage.1 By 7 days of age, all neonates should receive 10 mg/kg every 8 hours.1
Vancomycin-resistant Enterococcus faecium Infections
>Oral or IV
Children 7 days through 11 years of age: 10 mg/kg every 8 hours for 14-28 days.1
Adolescents ≥12 years of age: 600 mg every 12 hours for 14-28 days.1
Respiratory Tract Infections
>Community-acquired or Nosocomial Pneumonia
Oral or IV: Children 7 days through 11 years of age: 10 mg/kg every 8 hours for 10-14 days.1
Adolescents ≥12 years of age: 600 mg every 12 hours for 10-14 days.1
Skin and Skin Structure Infections
>Uncomplicated Skin and Skin Structure Infections
Oral: Children 7 days through 4 years of age: 10 mg/kg every 8 hours for 10-14 days.1
Children 5-11 years of age: 10 mg/kg every 12 hours for 10-14 days.1
Adolescents ≥12 years of age: 600 mg every 12 hours for 10-14 days.1
>Complicated Skin and Skin Structure Infections
Oral or IV: Children 7 days through 11 years of age: 10 mg/kg every 8 hours for 10-14 days.1
Adolescents ≥12 years of age: 600 mg every 12 hours for 10-14 days.1

Adults
Vancomycin-resistant Enterococcus faecium Infections
>Oral or IV
600 mg every 12 hours for 14-28 days.1
Respiratory Tract Infections
>Community-acquired or Nosocomial Pneumonia
Oral or IV: 600 mg every 12 hours for 10-14 days.1
Skin and Skin Structure Infections
>Uncomplicated Skin and Skin Structure Infections
Oral: 400 mg every 12 hours for 10-14 days.1
>Complicated Skin and Skin Structure Infections
Oral or IV: 600 mg every 12 hours for 10-14 days.1

Specific Populations
Pregnancy
Category C.1
Lactation

19
Linezolid and its metabolites are distributed into milk in rats; not known whether distributed into human
milk.1 Use caution.1

Contraindications
• Diketahui hipersensitivitas terhadap linezolid atau bahan apa pun dalam formulasi. 1, 3
• Sebaiknya tidak digunakan pada pasien yang menerima (atau telah menerima dalam 2 minggu terakhir)
obat yang menghambat MAO A atau B (mis., Isocarboxazid, phenelzine) .1 (Lihat Obat Tertentu dalam
Interaksi.)
• Kecuali pasien dipantau untuk potensi peningkatan tekanan darah, sebaiknya tidak digunakan pada
pasien dengan hipertensi yang tidak terkontrol, pheochromocytoma, atau tirotoksikosis atau pada pasien
yang menerima agen simpatomimetik yang bekerja secara langsung atau tidak langsung (misalnya,
pseudoephedrine), agen vasopresif (misalnya, epinefrin, norepinefrin) , atau agen dopaminergik
(misalnya, dopamin, dobutamine) .1 (Lihat Obat Tertentu di bawah Interaksi.)
• Kecuali pasien diamati secara hati-hati untuk tanda dan / atau gejala sindrom serotonin, sebaiknya tidak
digunakan pada pasien dengan sindrom karsinoid dan / atau pada pasien yang menerima SSRI,
antidepresan trisiklik, reseptor serotonin 5-HT reseptor (triptans), meperidine, atau buspirone .1 (Lihat
Obat Tertentu dalam Interaksi.)

Specific Populations
Pregnancy
Category C.1
Lactation
Linezolid and its metabolites are distributed into milk in rats; not known whether distributed into human
milk.1 Use caution.1
Common Adverse Effects
GI effects (diarrhea, nausea, vomiting, constipation, localized or generalized abdominal pain), fever,
headache, insomnia, rash, dizziness, skin disorder, pharyngitis, cough, upper respiratory tract infection.1
Interactions
Specific Drugs
Drug Interaction Comments
Gentamicin: Pharmacokinetics of
linezolid and gentamicin not
affected if the drugs are used
Aminoglycosides concomitantly1, 2, 3

Gentamicin or streptomycin: In
vitro evidence of additive or
indifferent antibacterial effects1
In vitro evidence of additive or
Ampicillin
indifferent antibacterial effects1
Pharmacokinetics of linezolid and
aztreonam not affected if the
Aztreonam
drugs are used concomitantly1, 2, 3
In vitro evidence of additive or

20
indifferent antibacterial effects1
Imipenem: In vitro evidence of
Carbapenems additive or indifferent
1
antibacterial effects
Do not use linezolid in patients who are
Potential pharmacologic receiving (or have received within the last
MAO inhibitors
interaction1 2 weeks) a drug that inhibits MAO (e.g.,
isocarboxazid, phenelzine)1
Pharmacokinetic interaction
Phenytoin Dosage adjustments not required1
unlikely1
Decreased peak plasma
Mechanism of the interaction and clinical
Rifampin concentration and AUC of
importance unknown1
linezolid1
Manufacturer of linezolid states that,
unless patients are carefully observed for
signs and/or symptoms of serotonin
syndrome, do not use in patients receiving
serotonergic drugs, including SSRIs,
tricyclic antidepressants, serotonin 5-HT
receptor agonists (triptans), meperidine, or
Possible pharmacologic buspirone1
interaction with increased risk of Some clinicians suggest that linezolid be
serotonin syndrome1, 3, 4, 5, 15, 16, 17, used with caution in patients receiving
25
SSRIs;15 some suggest that SSRI therapy
Serotonergic drugs
Postmarketing case reports of should be discontinued before linezolid is
(SSRIs, tricyclic
serotonin syndrome in patients initiated and not reinitiated until 2 weeks
antidepressants,
who received linezolid after linezolid therapy is completed17
serotonin 5-HT receptor
concurrently with or shortly after Manufacturer of paroxetine states that
agonists [triptans],
discontinuation of serotonergic concomitant use of linezolid is
meperidine, buspirone)
agents, including SSRIs (e.g., contraindicated during and for 14 days
citalopram, fluoxetine, following paroxetine therapy27
paroxetine, sertraline)1, 5, 15, 16, 17, If concomitant administration of linezolid
25
and a serotonergic drug is considered
clinically appropriate, monitor closely for
signs and symptoms of serotonin
syndrome (e.g., cognitive dysfunction,
hyperpyrexia, hyperreflexia,
1
incoordination); if such signs or symptoms
occur, consider discontinuing one or both
agents;1 17 if the concomitant serotonergic

21
agent is discontinued, discontinuation
symptoms can occur1
Manufacturer of linezolid states that,
unless patients are monitored for potential
increases in BP, do not use in patients
receiving directly or indirectly acting
Potential pharmacologic sympathomimetic agents (e.g.,
interaction (enhanced pseudoephedrine), vasopressor agents
vasopressor effects) with (e.g., epinephrine, norepinephrine), or
Sympathomimetic agents
sympathomimetic agents, dopaminergic agents (e.g., dopamine,
vasopressor agents, or dobutamine)1
dopaminergic agents1 If an adrenergic agent (e.g., dopamine,
epinephrine) is used in a patient receiving
linezolid, use lower initial doses of the
adrenergic agent and titrate dosage to
achieve desired response1
In vitro evidence of additive or
Vancomycin
indifferent antibacterial effects1
No substantial effect on warfarin
Warfarin Dosage adjustments not required1
pharmacokinetics1

Stability
Storage
Oral
Tablets
25°C (may be exposed to 15-30°C).1 Protect from light.1
For Suspension
25°C (may be exposed to 15-30°C).1 Protect from light.1 After reconstitution, store at room temperature
and use within 21 days.1
Parenteral
Injection, for IV Infusion
25°C (may be exposed to 15-30°C); do not freeze.1 Protect from light.1

22