You are on page 1of 13

ARTIKEL

Kajian Terorisme di Indonesia dan

Keterkaitannya dengan Nilai-nilai Pancasila

Diajukan guna Melengkapi

tugas mata kuliah Pendidikan Pancasila

Disusun Oleh:

Izzatul Kamila

170810301244

UNIVERSITAS JEMBER

2018
Abstrak

Indonesia dewasa ini dihadapkan dengan persoalan dan ancaman


radikalisme, terorisme, dan separatisme yang bertentangan dengan nilai-nilai
Pancasila dan UUD 1945. Namun keberadaan pancasila sebagai ideologi bangsa
dapat menjadi filter bagi masuknya berbagai ancaman dari luar kurang berhasil.
Sumber pokok kesalahan tidak terletak pada pancasila. Tak ada yang salah dengan
pancasila karena isi pancasila telah sesuai dengan nilai-niai yang ada. Kesalahan
yang sesungguhnya terletak pada penerapan pancasila sebagai ideologi bangsa.
Hal ini terjadi karena masyarakat tidak dapat menerapkan nilai-nilai pancasila
dalam kehidupan bernegara.terlebih para teroris, mereka mengerti dan memahami
nilai-nilai pancasila tetapi mereka tidak menerapkannya. Apabilai penyegaran
kembali nilai-nilai pancasila tidak segera dilakukan maka, inkonsistensi pancasila
akan bertambah parah. Hal tersebut akan berdampak pada peranan pancasila
sebagai dasar negara, pancasila tidak akan dihiraukan keberadaannya. Disadari
atau tidak fokus pembangunan dan pembentukan karakter bangsa menjadi sering
berubah arah tergantung pada para pemimpin bangsa serta ideologi dasar negara
tersebut.

Kata kunci : Konsep Terorisme, Faktor-faktor terjadinya Terorisme di


Indonesia, Dampak-dampak terorisme terhadap pertahanan Negara, Peran
Pancasila dalam Memberantas Terorisme

Abstract

Indonesia today is faced with the problems and threats of radicalism,


terrorism and separatism that are contrary to the values of Pancasila and the 1945
Constitution. But the existence of Pancasila as the nation's ideology can be a filter
for the entry of various external threats. The main source of error lies not in
Pancasila. There is nothing wrong with Pancasila because the content of Pancasila
has been in accordance with the existing values. The real mistake lies in the
application of Pancasila as the nation's ideology. This happens because the people
can not apply the values of Pancasila in the life of the state. Moreover, the
terrorists, they understand and understand the values of Pancasila but they do not
apply it. If the value of refreshing Pancasila values is not immediately done then,
the inconsistency of Pancasila will get worse. It will affect the role of Pancasila as
the basis of the state, Pancasila will not be ignored its existence. Whether or not
the focus of development and character building of the nation is changed
frequently depends on the leaders of the nation and the basic ideology of the
country.

Latar belakang

Terorisme di dunia bukanlah merupakan hal yang baru, namun menjadi


aktual terutama sejak terjadinya peristiwa World Trade Center (WTC) di New
York, Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001, yang dikenal sebagai
“September Kelabu”. Kemudian beberapa tahun yang lalu kita semua dikagetkan
dengan aksi pengemboman “LAGI” oleh sekelompok organisasi yang belum kita
ketahui.

Berbagai usaha telah dilakukan bahkan setelah terjadi Bom Bali 1


pemerintah RI membentuk suatu ketentuan Undang-undang ysng dinamakan
“Undang-undang Republik Indonesia Nomor.15 Tahun 2003 tentang Penetapan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2001 tentang
pemberantasan tindak pidana terorisme menjadi Undang-undang. Terlebih
pemerintah RI membentuk suatu kesatuan khusus yang dinamakan Detasemen
Khusus 88 atau Densus 88 yang merupakan satuan khusus kepolisisan Negara
Republik Indonesia untuk penanggulangan teroris di Indonesia.

Jika diamati aksi terorisme dilakukan secara acak, tidak mengenal


kompromi, korban bisa saja militer atau sipil, pria,wanitta, tua, muda, bahkan
anka-anak. Serta tidak memperhatikan orang tersebut kaya atau miskin, siapapun
diserang. Dapat dikatakan secara sederhana bahwa aksi-aksi terorisme
dilatarbelakangi oleh motif-motif tertentu seperti motif perang suci, motif
ekonomi, motif balas dendam, dan motif –motif berdasarkan aliran-aliran
kepercayaan tertentu. Namun patut disadari bahwa terorisme bukan suatu ideologi
atau nilai-nilai tertentu dalam ajaran agama. Terorisme hanya sekadar strategi,
instrumen atau alat untuk mencapai tujuan. Dengan kata lain tidak ada terorisme
untuk terorisme, kecuali karena motif-motif yang sulit dicerna secara nalar atau
logika atau dapat dikatakan sebagai motif-motif kegialaan (madness).

Jika dilihat dari sisi kehidupan beragama di indonesia, situasi keagamaan


di Indonesia mirip situasi keagamaan di Timur Tengah yang mempertontonkan
intoleransi dan teror. Ketika agama yang sakral sudah dicampur adukan dengan
politik yang profan memunculkan wajah keduanya jadi berbeda, maka kesakralan
dan regulitas agama menjadi ternoda dan mekanisme demokrasi politik menjadi
tak sehat. Dalam mengatasi terorisme yang semakin memprihatinkan di Indonesia.
Kita perlu menerapkan nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika ke dalam
kehidupan, baik dalam kehidupan bernegara dan kehidupan beragama. Namun
ironisnya, saat ini di Indonesia nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika
mulai tersingkirkan. Pancasila tidak dihayati dan diamalkan terutama oleh
generasi muda dalam kehidupan sehari-hari, sehingga terjadi inkonsistensi pada
nilai-nilai pancasila. Padahal seharusnya Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika dapat
dijadikan sebagai senjata dalam memberantas terorisme yang marak terjadi di
Indonesia. Tentu bangsa Indonesia tidak menghendaki tragedi bom Kampung
Melayu yang dilakukan sekelompok kecil pelaku yang disamakan seperti yang
terjadi di Suriah dan Irak yang terus di warnai aksi bom-bom bunuh diri, serta
fenomena lain yang meluas semangat intoleransi di sejumlah wilayah Indonesia
yang digaungkan oleh sekelompok ormas intoleran. Yang menjadi pertanyaan
ialah apakah saat ini Pancasila memiliki daya gempur menghadapi fenomena
tersebut?

Pembahasan

Konsep Terorisme

Menurut Kacung Marijan dikutip dari jurnal, menyatakan bahwa kata teror
disebutkan dengan istilah system de terreur yang kali pertama muncul pada tahun
1789 di dalam The Dictionnaire of The Academic Francaise (Marijan, 2003) yang
dikutip dari jurnal. Konteks revolusi Prancis melekat di dalam penggunaan istilah
tersebut. Karena itu, istilah terorisme pada saat itu memiiki konotasi positif, yakni
aksi-aksi yang dilakukan untuk menggulingkan penguasa yang lalim dan aksi-aksi
tersebut berhasil dilakukan. Namun, praktik-praktik terorisme sudah lama terjadi
sejak sekittar 66-67 sebelum Masehi, ketika kelompok ekstrem Yahudi melakukan
aksi teror, termasuk di dalamnya pembunuhan terhadap bangsa Romawi yang
melakukan pendudukan di wilayahnya (kira-kkira di wilayah yang
dipersengketakan oleh Israel dan Palestina sekarang). Sejak saat itu, aksi-aksi
terorisme di berbagai belahan dunia, yang melibatkan beragam etnik dan agama
yang terus terjadi.

Sedangkan menurut Jainuti (2006) yang dikutip dari jurnal, istilah teror
dan terorisme telah menjadi idiomilmu sosial yang sangat terkenal pada dekade
1990-an dan awal 2000-an sebagai bentuk kekerasan agama. Meskipun terorisme,
sesungguhnya bukanlah sebuah istilah baru. Namun tindakan teror telah muncul
sepanjang sejarah umat manusia. Bagaimana putra Adam, Qabil menteror Habil,
karena dinilai menjadi penghambat keinginan Qabil. Beberapa bentuk teror telah
menjadi cara yang umum ntuk mengintimidasi lawan. Orang yang percaya bahwa
dengan tindakan kekerasan, istilah ini mencerminkan makna negatif bagi mereka
yang dijuluki teroris. Dalam pengertian ini teroris disamakan dengan istilah
menyakitkan lainnya dalam khazanah bahasa politik, seperti rasis, fasis, atau
imperialis.

Terorisme merupakan salah satu dari sekian istilah dan konsep di dalam
ilmu sosial yang penuh kontroversi dan perdebatan. Hal ini tidak lepas dari fakta
bahwa upaya untuk mendefinisikan terorisme itu tidak terlepas dari berbagai
kepentingan, termasuk kepentingan ideologi dan politik. Dinilai begitu
kontroversinya, Laqueur (1987) yang dikutip dari jurnal, sampai berpendapat
bahwa sebuah definisi yang komprehensif mengenai terorisme itu tidak ada atau
tidak akan dapat ditemukan di masa mendatang. Padahal, pendefinisian mengenai
terorisme itu cukup penting, bukan hanya untuk kepentingan akademik.
Melainkan juga untuk kepentingan praktis, yakni bagaimana cara mengatasinya.
Memerangi terorisme terorganisasi, misalnya harus memiliki kejelasan apakah
organisasi yang diperangi itu termasuk teroris atau tidak. Kejelasan demikian
tentu saja harus berasal dari definisi yang jelas pula. Tanpa adanya kejeasan,
upaya untuk memerangi itu bisa berdampak kontra produktif. Sebagai sebuah
istilah bahasa, terorisme seharusnya dipahami dengan sangat hati-hati, bukan
menjadi instrumen propaganda. Oleh karena itu, penting untuk memberikan
definisi terorisme yang jelas. Dengan kejelasan definisi ini orang akan mengerti
makna sebenarnya istilah terorisme, dan kemudian merancang hukuman yang
tepat bagi para pelaku teror.

Dalam pandangan Gibbs yang dikutip Asfar dalam jurnal (2003),


munculnya kontroversi mengenai pendefinisian terorisme itu tidak terlepas dari
fakta bahwa pemberian label terhadap aksi-aksi terorisme akan merangsang
adanya kecaman-kecaman yang keras terhadap para pelakunya, oleh karena itu
upaya untuk mendefinisikannya tidak akan terlepas dari bias politik maupun
ideologi.

Sementara itu, dalam pandangan Wardaw yang dikutip dari jurnal (1989),
upaya mendefinisikan terorisme tidak terlepas dari masalah moral. Masalah moral
inilah yang berkaitan dengan realitas bahwa di dalam mendefinisikan terorisme itu
tidak terlepas dari suatu penilaian bahwa ada peristiwa-peristiwa kekerasan yang
tidak dijustifikasi disisi lain. Oleh karena itu, upaya untuk mendefinisikan
terorisme tidak terlepas dari kontrovesi.

Mereka yang terlibat terorisme memiliki pandangan yang berbeda dari


pengamat yang lain. Sementara pada akhir abad ke-19 banyak pelempar bom dari
kaum anarkis dan sosialis Rusia tidak merasa kecil hati dilabeli sebagai kaum
teroris, namun tidak demikian halnya dengan kaum teroris kontemporer. Mereka
yang disebut terakhir ini sadar akan stigma panggilan teroris dan karena itu
berusaha untuk menghindari label teroris.

Kaum teroris sering melawan balik untuk memperoleh justifikasi moral


dengan membandingkan kekerasan yang mereka lakukan dengan kekerasan yang
dilakukan oleh lawan-lawannya. Dengan perbandingan semacam ini, kaum teroris
mencoba memposisikan aksi dan tujuannya pada tingkata moral yang sama seperti
yang dilakukan oleh pemerintah yang menjadi lawannya.
Faktor terjadinya Terorisme di Indonesia

Menurut sebagian besar aktifis yang tergabung dalam kelompok Tanzim al-
Qaidah di Aceh, faktor-faktor pendorong terbentuknya radikalisme dan terorisme
di Indonesia bukanlah semata-mata untuk kepentingan individu. Sebab, apabila
dimotivasi untuk kepentingan individu, maka semestinya hal apa yang
dilakukannya dan tindakannya tidak menyakitkan baik diri sendiri maupun orang
lain. Adapun faktor-faktor yang mendorong terbentuknya terorisme :

1. Faktor Ekonomi
Faktor ekonomi merupakan motif utama bagi para terorisme dalam
menjalankan misi mereka. Keadaan yang semakin tidak menentu dan
kehidupan sehari-hari yang membuat orang untuk melakukan apa saja.
Dengan demikian pemerintah harus bekerja keras untuk merumuskan
rehabilitasi masyarakatnya. Kemiskinan yang mempengaruhi orang untuk
melakukan tindakan penyimpangan seperti ; membunuh, mengancam
orang, bunuh diri, dan sebagainya.
2. Faktor Sosial
Orang-orang yang mempunyai pikiran keras di mana terdapat kelompok
garis keras yang bersatu mendirikan Tanzim al-Qaidah Aceh. Dalam
keseharian hidup yang kita ktor jalani tedapat pranata sosial yang
membentuk pribadi kita menjadi sama. Situasi ini sangat menentukan
kepribadian seseorang dalam melakukan setiap kegiatan yang dilakukan.
Sistem sosial yang dibentuk oleh kelompok radikal atau garis keras
membuat semua orang yang mempunyai tujuan sama dengannya dapat
mudah berkomunikasi dan bergabung dalam garis keras atau radikal.
3. Faktor Ideologi
Faktor ini yang menjadikan seseorang yakin dengan apa yang
diperbuatnnya. Perbuatan yang mereka lakukan berdasarkan dengan apa
yang sudah disepakati dari awal dalam perjanjiannya. Dalam setiap
kelompok mempunyai visi dan misi masing-masing yang tidak terlepas
dengan ideologinya. Dalam hal ini terorisme yang ada di Indonesia dengan
keyakinannya yang berdasarkan jihad yang mereka miliki.
Dampak-dampak Terorisme Terhadap Pertahanan Negara

Terorisme memiliki dampak positif dan dampak negatif, antara lain :


1. Dampak Posistif Terorisme

Semua kegiatan terorisme yang merusak tatanan kesejahteraan penduduk bangsa


ini mau tidak mau sudah dirasakan pengaruhnya, baik pengaruh positif maupun
negatif. Pengaruh tersebut disadari atau tidak mulai masuk ke dalam gaya
keidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat dari seluruh rakyat Indonesia.
Aksi dan tindaka n para pelaku teror membuat rakyat takut dan mulai mewaspadai
kejahatan terorisme di dalam kehidupan nasional Indonesia.

Berbagai pegaruh positif bagi kehidupan berbangsa, bernegara, dan


bermasyarakat dari timbulnya masalah terorisme di negara ini memangah sedikit,
namun pada hakekatnya setiap masalah yang muncul negara pasti akan membawa
hikmah yang baik bagi kehidupan nasional. Adanya serangan teroris yang sering
muncul dan menghantui rakyat Indonesia dalam satu dekade terakhir membuat
masyarakat Indonesia mengerti apa sebetulnya definisi dari kata “jihad” yang
selalu menjadi alasan bagi para teroris untuk terus melakukan aksinya.
Masyarakat awampun sudah mulai mengerti bahwa jihad yang sebenarnya bukan
seperti jihad yang dilakukan oleh para teroris. Karena Islam tidak pernah
mengajarkankan pengikutnya untuk membunuh dan dalam hukum Islam
menghilangkan nyawa seseorang dengan sengaja terutama ornag yang tidak
bersalah akan sangat berat dosa yang akan didapat oleh orang tersebut.

Selain itu keamanan Negara juga mulai ditingkatkan oleh aparat militer,
semua itu dilakukan dalam rangka mengatasi maslaah teroris yang mengancam
keamanan Negara Indonesia. Semakin hari kesiapan aparat penegak hukum untuk
mengatasi masalah terorisme terus ditingkatkan. Setidaknya hal tersebut juga
menjamin sedikit rasa aman bagi masyarakat Indonesia yang resah akan adanya
aksi teroris di Negara ini.

Berhasil ditumpasnya beberapa teroris yang sudah menjadi incaran dari


kepolisian internasional juga memberikan sedikit rasa bangga terhadap rakyat
Indonesia akan prestasi yang diraih oleh aparat penegak hukum dari Negara ini.
Keberhasilan POLRI menangkap beberapa teroris bahkan membunuh beberapa
diantaranya menunjukkan bahwa kemampuan dan keterampilan terdapat
peningkatan yang cukup baik ditengah menurunnya citra polisi di mata
masyarakat Indonesia.

2. Dampak Negatif Terorisme

Pengaruh negatif yang timbul akibat adanya masalah terorisme di Indonesia


cenderung sangat banyak sekali, dari mulai nasionalisme, rasa cemas akan adanya
kejahatan terorisme, rasa saling tidak perccaya antar umat beragama, pengaruh
psikologis bagi para generasi muda yang masih memiliki emosi yang labil. Semua
pengaruh negatif tersebut secara langsung mengganggu tatanan kehidupan
berbangsa dan bernegara. Belum lagi adanya kelompok-kelompok yang ingin
mengganti ideologi yang berlandaskan Islam yang dilakukan secara sembunyi-
sembunyi.

Adanya rasa saling tidak percaya antar umat beragama yang diawali oleh aksi
dari teror yang mengatas namakan agama menjadikan citra salah satu agama
menjadi buruk di mata umat beragama lain. Dari hal tersebut yang dikhawatirkan
adalah menurunnya rasa saling menghormati antar umat beragama di Indonesia
yang selanjutnya dapat mengurangi rasa kesatuan dan persatuan dari rakyat
Indonesia. Kemudian dari segi keamanan dan kenyamanan yang terusik akibat
adanya aksi terorisme. Kita tahu bahwa Indonesia memiliki banyak tempat wisata
yang sudah terkenal bahkan sampai ke manca Negara dan kemungkinan sudah
menjadi incaran para teroris untuk melakukan aksinya, sehingga banyak para
wisatawan yang mengurungkan niatnya untuk mengunjungi tempat-tempat wisata
yang ada di Indonesia. Hal inilah yang membuat masyarakat Indonesia merasa
cemas untuk melakukan aktifitas, selain itu hal tersebut juga berpengaruh pada
pendapatan Negara dari wisatawan-wisatawan asing menjadi berkurang.

Rasa nasionalisme yang menurun akibat adanya masalah teroris terlihat


dari begitu mudahnya para pelaku bom bunuh diri yang mirisnya merupakan
sebagian besar adalah anak muda Indonesia yang mudah sekali terpengaruh oleh
doktrin-doktrin yang mengarah pada saparatisme. Begitu mudahnya mereka
terjebak dan tertipu pada “iming-iming” dari para teroris yang mendoktrin mereka
agar mereka bersedia untuk menghancurkan bangsanya sendiri. Hal ini
menunjukkan bahwasanya rasa nasionalisme mereka sangatlah rendah terhadap
Negara ini. Sehingga dapat mengganggu keyakinan penduduk lain akan
kedaulatan bangsa ini. Maka dari itu perlu penanaman nilai-nilai Pancasila sejak
dini sehingga menanamkan rasa nasionalisme dalam diri anak dapat terwujud.

Peran Pancasila dalam Memberantas Terorisme

Pancasila adalah ideologi dari negara Indonesia yang memiliki peranan


penting dalam mempersatukan rakyat Indonesia. Namun belakangan ini Pancasia
mulai pudar karena mulai sedikit orang yang mengetahui makna dari Pancasila
tersebut sehingga tidak dapat mengamalkan nilai-nilai pancasila ke dalam
kehidupan sehari-hari. Di samping itu saat ini beberapa faktor radikalis yang
mempengaruhi segelintir orang untuk mencapai tujuan tertentu tetapi dengan cara
yang salah yaitu dengan kekerasan. Disitulah sebenarnya peran Pancasila untuk
menyelesaikan masalah tersebut tidak sesederhana yang kita bayangkan. Perlu
kerja keras dan konsistensi yang cukup untuk menyegarkan kembali ideologi
pancasila. Sebab, dalam konteks saat ini ideologi Pancasila telah dihimpit oleh
berbagai ideologi alternatif lain.

Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai Pancasila harus terus dibumikan,


karena Pancasila merupakan dasar negara yang harus tertanam dan dapat
diimplementasikan dalam kehidupan sejak dini.

Makna Sila Pertama, menuntut setiap warga negara mengakui keberadaan


Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta dan tujuan akhir, baik dalam hati, tutur
kata, maupun dalam tingkah laku sehari-hari. Konsekuensinya adalah Pancasila
menuntut imat beragama dan kepercayaan untuk hidup rukun walaupun berbeda
keyakinan.

Selanjutnya pada Sila kedua yaitu Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.
Menjadi warga Indonesia yang adil dan beradab merupakan suatu keharusan.
Beradab dapat dimaknai sebagai memiliki karakter yang baik, tentunya dengan
menjadi manusia yang adil dan memiliki karakter yang baik. Degan demikian
kesejahteraan dan kenyamanan hidup rakyat Indonesia akan tercapai. Adil dapat
dimaknai dengan menempatkan segala sesuatu pda tempatnya, tidak melanggar
aturan, menjaga tingkah laku agar sesuai dengan norma, agama, adat istiadat, dan
budaya. Tidak ada budaya yang membunuh orang yang tidak bersalah itu
dihalalkan, tidak ada norma agama yang mengajarkan pengikutnya untuk
membunu. Begitu juga dengan islam, dimana salah satu prinsip hukumnya adalah
menjaga nyawa (hifdzun naf). Maka dari itu tindakan terorisme sangat
bertentangan dengan Pancasila sebagai falsafah negara dan agama Islam. Faham
inilah yang harus ditanam sejak dini agar penerus bangsa memiliki pendirian yang
kuat dalam menangkal terorisme dan radikalisme.

Bersatu menjadi warga Indonesia dengan berbagai macam budaya, etnis,


agama, kepercayaan, bahasa, pulau merupakan sebuah kewajiban. Hal ini
merupakan bunyi dari Sila ke tiga, yaitu Persatuan Indonesia. Atas nama
Indonesia, mempertahankan negara kesatuan Indonesia merupakan suatu
kewajiban. Maka menjaga dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik
Indonesia merupakan bentuk cinta terhadap tanah air.

Nilai Sila Ke empat adalah Kerakyatan Yang dipimpin Oleh Hikmat


Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Dalam konteks ke
Indonesiaan, menaati pemerintah dan perangkatnya merupaka suatu kewajiban,
begitu juga dnegan mengikuti aturan yang berlaku. Jadi, anggapan bahwa
pemerintah adalah thoghut merupakan persepsi atau faham yang sangat
bertentangan dengan agama Islam, norma, adat-istiadat Indonesia, khususnya
Pancasila.

Selanjutnya, Sila ke lima adalah Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat


Indonesia menunjukkan bahwa rakyat Indonesia harus menjadi rakyat yang adil.
Keadilan ini tidak memandang ras, agama, kepercayaan, budaya, dan lain-lain.
Dengan satu tujuan bahwa rakyat Indonesia harus menjadi rakyat yang adil,
berjiwa sosial yang tinggi, saling menerima dan menghargai, tidak diskriminasi,
toleransi, karena rakyat Indonesia memiliki hak yang sama, hak untuk hidup, hak
berkreasi dan berkarya, tanpa melihat dan membeda-bedakan warna kulit dan asal
usul sehingga menjadi rakyat yang sejahtera.
Kesimpulan

Pada hakekatnya para teroris memiliki keyakinan bahwa apa yang mereka
lakukan itu benar. Mereka mengatasnamakan agama sebagai kedok kejahatan
mereka. Padahal jika kita cermati, hal demikianlah yang dapat mengadu domba
satu agama dan agama yang lain, yang tentunya juga akan merusak citra Islam di
mata agama lain. Tentu hal demikian bukan hanya menjadi musuh bangsa, selain
itu terorisme dapat merusak pertahanan Negara sehingga jika terus dibiarkan
tanpa adanya usaha dalam memberantasnya maka Negara kita akan hancur
terutama ideologi Pancasila, karena kita tahu bahwa terorisme juga memiliki
tujuan untuk mengubah ideologi Pancasila. Dari berbagai fakta yang dijelaskan di
atas merupakan kendala tersendiri bagi bangsa Indonesia jadi musuh kita semua
sebagai umat muslim. Pertanyaanya apakah Indonesia mampu mengatasi masalah
tersebut? jawabannya ada pada diri kita sendiri, sebagai warganegara Indonesia
dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila sehingga masalah-masalah di atas dapat
diberantas keberadaannya. Sebagai generasi penerus bangsa seharusnya kita dapat
menjaga eksistensi Pancasila dengan cara mengamalkan dan mematuhi sendi-
sendi Pancasila

Saran

Dikarenakan aksi teroris tumbuh subur di Indonesia sehingga harus diusut


hingga ke akar-akarnya, maka dari itu seharusnya aparat hukum lebih tegas dan
lebih jeli dalam memberantas terorisme dan mewaspadai terhadap semua tindakan
yang menjurus pada tindakan terorisme. Selain itu perlu adanya penanaman nilai-
nilai Pancasila yang lebih kuat lagi kepada warganegara Indonesia khususnya
kepada generasi muda penerus bangsa agar tidak mudah terpengaruh oleh para
teroris yang saat ini mengincar para generasi muda dengan cara mendoktrin para
generasi muda untuk ikut serta menjadi teroris dan sehingga dapat
mengahancurkan bangsanya sendiri
Daftar Pustaka

Mubarak, Zulfi. 2012. Fenomena Terorisme di Indonesia:Kajian Aspek Teologi,


Ideologi, dan Gerakan.Malang:Jurnal Studi Masyarakat Islam. Vol 15,No.2:240-
252

Sugito, A.T. dkk. 2008. Pendidikan Pancasila. Semarang: UNNES Press

Prajarto, Nunung. 2004. Terorisme dan Media Massa: Debat Keterlibatan Media.
Yogyakarta:Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Vol 8, No.1:37-49

http://bgazacha.blogspot.com/2012/06/dampak-terorisme-terhadap-
pertahanan.html

Kusumah, Mulyana W. 2002. Terorisme dalam Perspektif Politik dan Hukum.


Jakarta:Jurnal Kriminologi Indonesia FISIP UI. Vol 2, No. 3:235-258