You are on page 1of 16

MIXING OF POWDER AND PASTES

Pencampuran adalah proses penggabungan suatu zat dengan zat yang


lainnya. Menurut proses rekayasa industri, pencampuran adalah operasi unit yang
akan membuat bahan yang bersifat heterogen menjadi bahan yang bersifat
homogen. Pencampuran dapat didefinisikan sebagai unit proses yang bertujuan
untuk memberi perlakuan pada dua atau lebih dari dua komponen yang terpisah atau
belum tercampur, sehingga tiap partikel akan berkontakan satu sama lain. Menurut
buku yang ditulis McCabe dkk, (1993) bahwa pencampuran merupakan proses
pengocokan partikel yang tidak sama dalam suatu sistem. Pencampuran diperlukan
untuk menghasilkan distribusi dari dua atau lebih bahan dengan tujuan untuk
menghasilkan bahan yang sehomogen mungkin. Menurut ilmu kimia, pencampuran
adalah sebuah zat yang dibuat dengan menggabungkan dua zat atau lebih yang
berbeda tanpa terjadinya reaksi kimia atau bahan tidak menempel satu sama lain.
Pencampuran dapat dipisahkan menjadi komponen aslinya secara mekanis.
Pencampuran dapat bersifat homogen atau heterogen. Agitasi atau pengadukan
adalah proses terjadinya gerakan tertentu yang akan menimbulkan suatu pola aliran.
Proses agitasi akan menyebabkan terjadinya mixing atau pencampuran. Macam-
macam pencampuran berdasarkan perbedaan fase bahan yang akan dicampur yaitu
gas-gas, gas-liquid, gas-solid, solid-solid, solid-liquid, dan liquid-liquid.
Tujuan dari pencampuran adalah untuk menghasilkan suatu campuran bahan
dengan komposisi tertentu sampai terjadinya campuran yang bersifat homogen,
mempertahankan kondisi campuran selama proses kimia dan fisika agar tetap
homogen, dan menghasilkan bahan setengah jadi agar mudah diolah pada proses
selanjutnya atau menghasilkan suatu produk akhir yang baik. Tujuan lain dari
proses pencampuran adalah mengurangi ketidaksamaan atau ketidakrataan dalam
komposisi, temperaturl, atau sifat-sifat lain yang terdapat dalam suatu bahan,
sehingga akan terjadinya homogenisasi pada proses pencampuran.

1. Mixing Powder
Berdasarkan penelitian Deveswaran (2009), pada jurnal yang berjudul
Concepts and Techniques of Pharmaceutical Powder Mixing Process a Current
Update, menyatakan bahwa mixing powder merupakan proses pencampuran dua
.......
atau lebih dari bahan padat yang menghasilkan produk komersial pada suatu
industri. Proses pencampuran padat-padat akan dilakukan setelah proses sizing dan
dilakukan pada rangkaian alat yang lebih besar. Proses pengecilan dan pengisian
sering dilakukan setelah melewati proses sizing dan grinding. Pengecilan ukuran
dilakukan agar derajat pencampuran yang dihasilkan lebih tinggi dengan waktu
pencampuran singkat, dan sistem pencampuran lebih sederhana dan lebih mudah.
Grinding adalah proses terakhir dari comminution yakni pada proses
kerjanya menggunakan prinsip gabungan dari impak atau pengaruh yang kuat serta
abrasi. Grinding merupakan proses pengurangan ukuran partikel bahan dari bentuk
kasar menjadi ukuran yang lebih halus untuk menyempurnakan proses mixing yaitu
hasil pencampuran yang merata dan menghindari segregasi partikel-partikel bahan.
Sizing merupakan salah satu metode pemisahan partikel sesuai dengan
ukuran yang dikehendaki. Metode ini dilakukan untuk memisahkan fraksi-fraksi
tertentu sesuai dengan keperluan dari suatu material yang baru mengalami grinding.
Bahan dengan ukuran yang masih bisa lolos melalui saringan biasanya disebut
sebagai undersize dan partikel yang tertahan pada saringan disebut oversize.
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses mixing of powder adalah distribusi
dari ukuran partikel, kerapatan, bentuk, dan karakteristik partikel seperti muatan
elektrostatik dapat membuat pencampuran sangat sulit. Mixing of powder dapat
dilakukan dengan mencampurkan logam yang berbeda dengan bahan lainnya untuk
menghasilkan suatu sifat fisik dan mekanik yang lebih baik. Pencampuran dapat
dilakukan dengan dry mixing dan wet mixing. Pelumas atau lubricant umumnya
ditambahkan dalam proses pencampuran untuk meningkatkan sifat powders flow.
Dry mixing adalah proses pencampuran yang dilakukan tanpa menggunakan
pelarut untuk melarutkan dan dilakukan di udara luar. Metode ini dipakai jika
material yang digunakan tidak mudah mengalami oksidasi. Wet mixing adalah
pencampuran serbuk matrik dan filler dicampur terlebih dahulu dengan pelarut
polar. Metode ini dipakai apabila suatu material yang digunakan mudah mengalami
oksidasi. Tujuan dengan menggunakan pelarut adalah untuk mempermudah proses
pencampuran material yang digunakan dan melapisi permukaan material supaya
tidak berhubungan dengan udara luar sehingga mencegah terjadinya oksidasi.
Beberapa cara dalam pembuatan powder yaitu, decomposition, electrolytic
deposition, atomization of liquid metals, dan mechanical processing of solid
materials. Decomposition terjadi pada material yang berisikan elemen logam.
Material akan menguraikan elemennya jika dipanaskan pada temperatur yang
tinggi. Proses ini melibatkan dua reaktan, yaitu senyawa metal dan reducing agent.
Kedua reaktan dapat berwujud solid, liquid, atau gas. Proses atomization of liquid
metals yaitu material cair dijadikan powder dengan cara memasukkan material cair
menuju nozzle yang dialiri air bertekanan sehingga terbentuk butiran kecil.
Electrolytic deposition merupakan pembuatan serbuk dengan cara proses
elektrolisis. Proses ini akan menghasilkan serbuk yang sangat reaktif. Material hasil
electrolytic deposition perlu diberikan perlakuan khusus. Butiran yang dihasilkan
berbentuk dendtitic. Mechanical processing of solid materials adalah pembuatan
serbuk dengan cara menghancurkan material dengan ball milling. Material yang
dibuat dengan mechanical processing harus material yang mudah retak seperti
logam murni, bismut, antimony, paduan logam, brittle, dan keramik.
Ukuran partikel dan distribusi ukuran partikel sangat penting karena akan
menentukan besarnya gaya gravitasi dan inersia yang dapat menahan gerakan relatif
antar partikel terhadap gaya permukaan. Partikel serbuk harus bergerak satu sama
lain, sehingga serbuk dapat dicampur, Tiga mekanisme utama proses terjadinya
pencampuran pada serbuk yaitu konveksi, shear, dan difusi. Pencampuran konveksi
terjadi ketika ada transfer yang relatif besar pada partikel dari satu bagian menuju
bahan yang lainnya yang terjadi pada blade mixer. Jenis pencampuran ini digunakan
untuk pencampuran makroskopik dengan kecepatan yang tinggi (Kung dkk, 2009).
Kondisi yang harus di perhatikan dalam proses solid mixing yaitu, mixer
volume, mekanisme mixing dan waktu pencampuran. Mixer harus menerapkan gaya
geser yang cocok untuk meratakan proses pencampuran di setiap daerah vessel.
Pencampuran harus dilakukan pada waktu yang tepat karena semakin cepat waktu
pencampuran maka semakin sedikit daya yang digunakan, tetapi pencampuran yang
terjadi kurang maksimal karena kontak antara partikel yang dicampur tidak merata.
Viskositas dan densitas dari cairan yang akan dicampur dapat menentukan
tipe aliran yang akan dihasilkan dan juga keadan mekanisme pencampuran. Cairan
yang memiliki viskositas rendah akan menyebabkan turbulensi yang bernilai tinggi
pada saat pencampuran dan pada waktu yang sama mensirkulasikan seluruh massa
bahan. Contohnya adalah krim, salep, dan pasta memiliki viskositas tinggi, sehingga
sulit untuk dicampur menggunakan mekanisme transport bulk dan turbulensi.
Bahan-bahan tersebut kemudian dicampurkan dengan menggunakan alat
pencampuran mixer turbin yang bentuk blade datar dan menggunakan mekanisme
difusi molekuler. Karakteristik bahan solid yang sering diamati untuk proses
powder mixing yaitu distribusi ukuran butiran, bulk density, dan bentuk partikel,
jenis aliran, sifat permukaan, kandungan air dalam bahan solid, viskositas, densitas
dan sifat aglomerasi. Semakin besar kecepatan pencampuran maka semakin lama
waktu pencampuran dan semakin kecil ukuran partikel yang dicampur.
Proses pencampuran terjadi ketika partikel individu harus didistribusikan
secara berulang dalam jumlah yang besar. Partikel powder didistribusikan secara
bebas dalam jumlah besar, akan terbentuk campuran bebas yang mengalir atau tidak
mengalir bebas (kohesif) tergantung pada ukuran partikel. Partikel berdiameter
lebih besar cenderung mengalir bebas dan partikel berdiameter kecil cenderung
kohesif, karena adanya gaya antar molekul yang terkait dengan partikel individu.
Penggunaan ini termasuk powder flow analyser dan komputer.

Gambar 1. Visualisasi dari berbagai Kualitas Pencampuran


(Sumber: Deveswaran, 2009)

Proses pencampuran memiliki tiga jenis, yaitu free flowing mixtures


(campuran yang mengalir bebas), cohesive mixtures (campuran kohesif), dan
ordered (campuran yang teratur). Free flowing mixtures mempunyai karekteristik
tertentu, yakni ada kebutuhan minyak atau pelumas untuk mempermudah terjadinya
kontak antara bahan yang satu dan bahan yang lain. Salah satu kerugian dari proses
pencampuran ini adalah sulit terpisahnya komponen partikel yang sudah tercampur.
Partikel atau bahan akan dengan mudah tercampur karena adanya gaya interpartikel.
Bahan-bahan yang dicampurkan melelui proses pencampuran cohesive
mixture tidak akan menyatu dengan mudah, sehingga bahan-bahan yang akan
dicampurkan akan dipisahkan menjadi beberapa bagian terlebih dahulu. Proses
pemisahan yang terjadi pada cohesive mixture juga akan susah terjadi. Hal-hal yang
harus diperhatikan dalam suatu proses pencampuran cohesive mixture adalah
kelembaban, muatan elektrostatik, gaya van der waals dan jarak antar partikel.
Terjadi penyerapan dari partikel yang lebih besar menuju partikel yang lebih kecil
pada proses pencampuran ordered. Campuran yang terbentuk pada proses ini terjadi
karena adanya kekuatan mekanik dan kekuatan adhesi atau pelapis yang
menyebabkan bahan-bahan yang digunakan tercampur dengan sempurna.
Proses pencampuran powder sangat dipengaruhi oleh banyaknya parameter
seperti waktu pencampuran, mekanisme pencampuran, jenis mixer, dan ukuran
batch. Berbagai metode telah dikembangkan untuk mengukur kualitas campuran.
Kecenderungan variabel powder mixture untuk terpisah selama proses berlangsung,
dapat menghasilkan produk yang berkualitas buruk. Faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi terjadinya pengurangan pencampuran adalah perbedaan ukuran
suatu partikel dalam berbagai konstituen, perbedaan densitas berbagai konstituen,
interaksi drugexcipient, dan tingkat aglomerasi atau penyatuan senyawa.
Mekanisme utama untuk segregasi powder terbagi menjadi tiga, yaitu
percolation (saringan), vibration (getaran), dan transportation (pengangkutan).
Percolaction dalam packed bed of powder, gravitasi menyebabkan terjadinya suatu
partikel kecil akan bergerak ke dalam rongga antara partikel yang lebih besar,
dikarenakan adanya perbedaan ukuran partikel yang relatif lebih besar. Vibration
dalam packed bed of powder, gravitasi menyebabkan partikel kecil akan bergerak
secara bertahap ke dalam rongga yang lebih besar daripada pada proses percolaction
yang juga akan menyebabkan pemisahan partikel dengan ukuran yang berbeda.
Fenomena inilah yang menyebabkan benda-benda berat akan naik perlahan.
Selama proses transportation powder berlangsung, kecepatan partikel akan
terus dipercepat karena perbedaan lintasan partikel dengan massa yang berbeda
ukuran partikel-partikel ini akan dipisahkan selama proses transportation. Efek
serupa terjadi ketika powder seperti itu dialirkan ke atas tumpukan. Partikel yang
lebih berat akan berputar ke luar tumpukan, sementara konsentrat yang lebih kecil
berada di tengah tumpukan powder. Bentuk partikel juga berperan penting selama
proses pemisahan jenis ini berlangsung. Pencegahan khusus harus diambil selama
mencampurkan powder dengan mengurangi kecepatan transportation. Alat yang
digunakan untuk mencampurkan bahan yang berpartikel padat dapat digunakan alat
pencampuran yang lebih ringan dari pada bahan viscous. Hal ini dapat digunakan
barrel type mixer, ribbon blender, mixer tipe zig zag, dan double cone mixer.

Gambar 2. Barrel Type Mixer


(Sumber: Wiranatakusumah, 1992)

Barrel type mixer digunakan untuk pencampuran serbuk kering atau granula
dalam jumlah yang kecil. Keuntungan dari barrel type mixer adalah adanya baffle
yang berguna untuk pencampuran kering (dry mixing) dan pencampuran basah (wet
mixing). Rentang daya shearing yang luas dapat digunakan dengan agitator untuk
memperoleh pencampuran yang baik dari partikel sangat halus maupun partikel
serbuk kasar. Barrel type mixer mudah dioperasikan dan bisa digunakan untuk
produksi skala besar, tetapi kekurangan dari barrel type mixer yakni membutuhkan
ruangan yang tinggi untuk pemasangannya dan pembersihannya sulit.
Ribbon blender terdiri dari silinder horizontal yang di dalamnya dilengkapi
dengan screw berputar dan pengaduk impeller berbentuk heliks. Dua impeller yang
bergerak berlawanan diletakkan pada sumbu yang sama, yang satu menggerakkan
..
padatan perlahan kesatu arah, sedangkan bagian impeller yang lain kemudian akan
menggerakkan padatan tersebut dengan kecepatan tinggi ke arah lain. Mekanisme
pencampuran pada mixer ribbon blender adalah adanya shear (geser) oleh pisau
yang bergerak. Kecepatan shear pada alat ribbon blender yang tinggi menghasilkan
proses yang efektif dalam menghancurkan suatu gumpalan atau padatan.
Ribbon blender terdiri dari pisau (blades) yang memiliki lipatan kiri dan
kanan yang terhubung dengan pengatur kecepatan. Ribbon blender digunakan untuk
mencampur padatan yang sangat halus, massa padat yang basah, padatan yang
lengket dan plastis. Ribbon blender pada umumnya digunakan untuk pencampuran
cair-padat dan pencampuran padat-padat. Keuntungan dari mixer jenis ini adalah
memiliki baffle yang bisa meningkatkan shear, sehingga bahan-bahan yang akan
bergesekan dan hancur, namun aksi dari alat shearing mixer ini lebih rendah bila
dibandingkan dengan alat pencampuran dengan jenis planetary mixer.
Penggunaan impeller bisa dilakukan secara kontinu maupun dilakukan
secara diskontinu atau terputus-putus. Pencampuran dihasilkan oleh turbulensi yang
diinduksi oleh pengaduk yang beraksi secara berlawanan arah, sehingga tidak ada
gerakan lambat pada padat-padatan di sepanjang rongga pengaduk yang digunakan.
Ribbon blender beroperasi secara batch, yaitu dengan membuat padatan sekaligus
dan mengaduknya sampai tercampur rata. Ribbon blender adalah pencampuran
yang efektif untuk tepung-tepung yang tidak mengalir dengan sendirinya. Beberapa
unit batch memiliki kapasitas yang sangat besar sehingga mampu memuat sampai
9000 galon bahan padatan. Kebutuhan daya umumnya berukuran sedang.

Gambar 3. Ribbon Blender


(Sumber: Wiranatakusumah, 1992)
Mixer tipe zigzag digunakan untuk pencampuran serbuk atau butiran-butiran
(granula). Mixer tipe zigzag ini mudah dioperasikan dan bisa digunakan untuk
produksi di industri skala besar, tetapi kekurangan dari mixer ini membutuhkan
ruangan yang tinggi untuk pemasangannya dan pembersihannya sulit. Mixer ini
tidak cocok untuk sistem partikulat yang sangat halus atau bahan tambahan dengan
perbedaan distribusi ukuran partikel yang besar karena tidak cukup shear yang ada.

Gambar 4. Mixer Tipe Zigzag


(Sumber: Wiranatakusumah, 1992)

Double cone blender adalah alat pencampur yang terdiri dari dua kerucut
yang berputar pada porosnya, jika kerucut berputar maka bahan berupa butiran-
butiran atau granula yang berada di dalam volume kerucut akan teragitasi dan
tercampur. Jenis alat pencampur pada umumnya dilengkapi dengan alat pendingin.
Alat pendingin pada alat pencampur yaitu kneader. Kneader dapat berbentuk
sigmoid yang berputar di dalam suatu can atau vessel dengan berbagai kecepatan.
Mixer double cone blender memiliki kecepatan 30-100 rpm. Mixer ini bisa
digunakan untuk menghasilkan campuran homogen serbuk dan granul. Mixer tipe
ini memiliki jacket untuk pemanasan dan pendinginan. Double cone blender mudah
dibersihkan dan perawatannya mudah juga bisa digunakan untuk produksi skala
besar, namun mixer jenis ini tidak sesuai untuk partikel yang sangat halus dan untuk
mencampur partikel-partikel yang perbedaan ukuran partikelnya besar.
Double cone mixer merupakan alat pencampur yang cocok untuk bahan
halus dan rapuh. Penggunaan energi dalam double cone mixer pencampurannya
kecil. Kapasitas double cone mixer adalag dari 2 sampai 100.000 liter dan
muatannya bekerja secara otomatis. Keuntungan dari double cone mixer ini adalah
mudah digunakan untuk pencampuran berbahan halus, higienis dan mudah
dibersihkan. Double cone mixer ini digunakan pada perusahaan Alexanderwerk.
Double cone mixer ini digunakan untuk pencampuran atau pembuatan untuk bahan-
bahan yang memiliki viskositas tinggi. seperti tepung dan makanan kental.

Gambar 5. Double Cone Blender


(Sumber: Wiranatakusumah, 1992)

Komponen-komponen utama pada double cone mixer ini terdiri dari motor,
rotor, penyangga tangka. Motor berfungsi untuk menghasilkan tenaga penggerak.
Rotor berfungsi sebagai menghasilkan putaran dan tempat untuk bertumpunya
pengaduk, penyangga tangka berfungsi untuk menyangga tempat menyimpan
bahan. Terdapat juga komponen-komponen pendukung, yakni tombol on atau off
yang berfungsi untuk menghidupkan atau mematikan mesin, pengatur kecepatan
berfungsi untuk mengatur kecepatan putaran pengaduk, display kecepatan yang
berfungsi untuk menunjukkan kecepatan yang digunakan oleh pengaduk, lengan
pengaduk yang berfungsi untuk mengaduk bahan agar terjadi pencampuran, dan
tangki penyimpanan bahan untuk meletakkan bahan yang akan dicampurkan.

2. Mixing of Pastes
Mixing atau pencampuran merupakan proses pendistribusian secara acak
yang menyebabkan terjadinya penyebaran pada suatu bahan menuju bahan yang
lainnya, sehingga akan menghasilkan campuran yang homogen. Salah satu dari
jenis pencampuran adalah pencampuran padat-cair. Proses pencampuran pada
bahan padat-cair akan menghasilkan tiga jenis campuran, yakni suspensi kasar atau
campuran heterogen, suspensi halus atau koloid, dan larutan sejati. Suspensi kasar
(campuran heterogen) terdiri atas partikel-partikel padat yang relatif kasar dan
terdistribusi merata dalam suatu cairan. Campuran heterogen bersifat tidak stabil
dan akan terpisah jika pengadukan dihentikan. Suspensi halus (koloid) terdiri atas
partikel padatan yang sangat halus yang akan terdistribusi merata dalam cairan.
Larutan sejati terbentuk apabila padatan terlarutkan sempurna dalam suatu cairan.
Dibandingkan dengan pencampuran pada bahan dengan fase cair atau liquid,
proses pencampuran pada bahan viscous memerlukan tenaga yang lebih banyak.
Hal ini disebabkan oleh pada bahan viscous dan juga bahan dengan fase yang padat
tidak akan mungkin terbentuk aliran yang dapat memindahkan bagian yang belum
tercampur ke daerah pencampuran di sekitar pengaduk atau impeller seperti pada
pengadukan bahan dengan fase cair. Pada pencampuran bahan viscous tersebut
seluruh bahan yang akan dicampur harus dibawa menuju pengaduknya, begitu pula
dengan proses sebaliknya. Prinsip penerapan untuk mencampur bahan-bahan yang
memiliki nilai viskositasnya yang tinggi dan berbentuk viscous adalah kinerja yang
akan bergantung pada suatu kontak langsung antara material ataupun bahan-bahan
pencampur dengan bahan-bahan atau material yang akan dicampur.
Pencampuran padat-cair merupakan proses pembentukan suatu campuran
antara bahan-bahan kimia berfase padat dengan cairan yang memiliki viskositas
yang tinggi. Proses pencampuran padat-cair dapat menghasilkan campuran seperti
suspensi dan pasta. Proses pencampuran pada bahan yang viskositasnya tinggi
membutuhkan energi yang lebih banyak. Proses penyapuan (wiping), pelipatan
(folding), pelemasan (stretching), dan penekanan (compressing) akan terjadi pada
alat-alat pencampuran. Metode yang digunakan dalam proses pencampuran padat-
cair adalah metode shear mixing dan alat yang digunakan adalah shear mixer. Alat
Shear mixer dirancang untuk mengurangi ukuran partikel. Kecepatan putaran mesin
shear mixer adalah 3000-15000 rpm. Metode pencampuran shear mixing yang
terjadi pada pencampuran padat-cair memiliki efisiensi yang sangat baik.
Bahan yang akan dicampurkan harus saling dikontakkan dengan bahan yang
lain dan kemudian disatukan kembali. Proses tersebut dinamakan menguli, maka
dibuat suatu alat penguli agar proses pencampuran menjadi lebih mudah. Alat
penguli terdiri dari, penguli bak ganda, penguli spiral, penguli aduk, dan penguli
......
gilas. Penguli bak ganda berupa sebuah bejana persegi yang mempunyai bagian
bawah berbentuk sepasang setengah-silinder yang berdampingan. Proses yang
terjadi di dalam penguli bak ganda tersebut terjadi perputaran antara dua alat
pencampuran yang terletak horizontal dan umumnya berbentuk seperti huruf Z.
Alat yang terdapat pada penguli spiral terdiri atas satu atau dua alat
pencampuran yang biasanya berbentuk spiral. Penguli spiral umumnya dilengkapi
dengan komponen berupa gigi-gigi, rusuk-rusuk,dan cakram penahan. Penguli aduk
merupakan sebuah bejana vertikal yang berbentuk silinder atau kerucut, bahan
digilas dan diuli oleh satu atau dua perkakas campur yang mirip pengaduk.
Pengaduk dapat dipasangkan di dalam bejana dari sebelah atas ataupun dari bawah,
baik secara vertikal ataupun miring. Penguli aduk digunakan untuk menunjang
proses pencampuran dan digunakan untuk membangkitkan efek gaya geser yang
diperlukan serta digunakan untuk mencampur bahan dengan viskositas menengah.
Penguli gilas memiliki sejumlah rol penggilas yang disusun sejajar dengan
jarak yang berdekatan. Rol-rol tersebut akan berputar dengan kecepatan yang
berbeda secara searah atau berlawanan. Bahan yang akan masuk ke dalam proses
pencampuran akan dihancurkan secara terus menerus oleh geseran antara roda dan
kemudian akan disatukan kembali. Penguli gilas digunakan untuk mencampur
bahan-bahan yang memiliki viskositas yang tinggi atau bahan yang sangat lengket.

Gambar 6. High Shear Mixer


(Sumber: Wiranatakusumah, 1992)

High shear mixer menggunakan pemasangan rotor atau stator yang


membangkitkan kebutuhan shear yang kuat untuk bahan padat murni dalam
persiapan dressing, saus dan pasta. High shear mixer juga dapat digunakan dalam
industri makanan dan minuman untuk produksi larutan sirup, emulsi dan dispersi
minuman. Mixer jenis ini dapat beroperasi pada berbagai kondisi viskositas dari
fluida tersebut, baik fluida dengan viskositas rendah maupun tinggi. Fluida yang
memiliki viskositas yang lebih tinggi membutuhkan tambahan agitator. Tambahan
agitator tersebut berfungsi untuk memperbaiki aliran bulk, mencampurkan bahan
dengan kecepatan tinggi dan secara konstan menghindari adanya bahan-bahan
menempel pada dinding vessel, serta untuk transfer panas yang lebih baik.
Proses pencampuran pada suatu fluida membutuhkan sebuah alat untuk
menggerakkannya. Setiap proses pencampuran membutuhkan alat yang berbeda-
beda. Mesin pencampuran untuk pasta yang umumnya digunakan adalah planetary
mixer, high shear mixer, dan high viscosity batch mixing. Planetary mixer
merupakan alat pencampuran bahan viskous, seperti pasta. Prinsip penerapan untuk
mencampur bahan dengan viskositas yang tinggi dan berbentuk pasta adalah kinerja
yang tergantung pada kontak langsung antara material pencampur dengan bahan
yang akan dicampur. Dibandingkan dengan pencampuran pada bahan cair, proses
pencampuran bahan yang viskous memerlukan tenaga yang lebih banyak.

Gambar 7. Plenetary Mixer


(Sumber: Wiranatakusumah, 1992)

Tangki yang terdapat pada planetary mixer ini berukuran sekitar 5-10
galon. Planetary mixer merupakan tipe mixer yang memiliki tiga fungsi
pengadukan disesuaikan dengan tools-nya yaitu flat bitter untuk menghaluskan
bahan yang lembut, seperti butter cream, wiper untuk bahan yang lunak serta
berfungsi untuk menaikkan volume bahan yang akan dicampurkan, dan dough hook
untuk membuat bahan yang elastis, contohnya seperti adonan roti.
Planetary mixer terdiri dari wadah atau bejana yang bersifat stasioner
sedangkan pengaduk yang digunakan mempunyai gerakan melingkar sehingga
ketika berputar, pengaduk akan secara berulang mencampurkan seluruh bahan pada
bejana. Proses pencampuran berlangsung pada ruang pencampuran berada dalam
keadaan tertutup agar bahan yang sedang dicampurkan tidak sampai tumpah dari
tempat pencampuran karena proses perputaran dari pengaduk yang digunakan.
High viscosity batch mixing mempunyai prinsip kerja menggunakan dual
shaft dan triple shaft mixer dan digunakan pada industri makanan pada proses batch
dari aplikasi dari viskositas sedang sampai viskositas tinggi, yaitu seperti sirup
permen, minuman, nutraceutical, saus, pasta, mentega kacang, dan lain sebagainya.
viskositas lebih tinggi, dibutuhkan tambahan agitator untuk memperbaiki aliran
bulk, mengantarkan bahan ke alat berkecepatan tinggi dan secara konstan akan
membuang produk dari dinding vessel untuk transfer panas lebih baik.

Gambar 8. High Viscosity Batch Mixing


(Sumber: Wiranatakusumah, 1992)

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses pencampuran padat-cair


adalah bejana pengaduk dan jenis pengaduk yang digunakan. Bejana pengaduk
merupakan tangki pengaduk. Tangki pengaduk dapat berbentuk silinder terbuka
atau tertutup, disesuaikan dengan jenis reaksi yang akan digunakan. Tangki
pengaduk dibuat dari bahan isolator ataupun semi konduktor. Tangki pengaduk atau
tangki reaksi biasanya dirancang untuk mereaksikan suatu senyawa pada tekanan
diatas tekanan atmosfer, namun pada umumnya juga digunakan untuk proses lain
seperti pencampuran, pelarutan, penguapan, ekstraksi, ataupun kristalisasi.
Tangki yang digunakan untuk pertukaran panas pada umumnya dilengkapi
dengan mantel ganda yang dilas atau disambung dengan kumparan berbentuk pipa.
Kerugian panas pada tangki dapat berpengaduk dapat dicegah dengan melakukan
pengisolasian terhadap dinding tangka berpengaduk tersebut yang digunakan. Alat
pengaduk ini pada umumnya terdiri atas sumbu pengaduk dan sirip pengaduk yang
dirangkai menjadi satu kesatuan. Alat pengaduk dibuat dan dirancang sesuai dengan
keperluan pengadukan. Jenis pengaduk harus disesuaikan dengan faktor berikut ini,
yakni jenis bejana pengaduk, ukuran pengaduk, jumlah bahan yang dicampur.
Alat pengaduk yang pada umumnya sering digunakan untuk masalah
pencampuran cairan dengan padatan ataupun untuk cairan dengan cairan antara lain
adalah alat pengaduk jangkar, alat pengaduk bingkai, alat pengaduk palet, pengaduk
impeller, pengaduk propeller, alat pengaduk turbin dan pengaduk cakram gigi. Alat
pengaduk jangkar ini terdiri dari sebuah batang yang dilengkungkan sehingga
menyerupai sebuah jangkar. Kelengkungan disesuaikan dengan bentuk bejana
pengaduk. Pengaduk jangkar memiliki diameter yang besar, yakni sebesar 95% dari
diameter bejana dan berputar lambat. Pengaduk jangkar menghasilkan pengadukan
yang baik. Pengadukan tersebut berlangsung di dinding dan dasar tangki.
Pengaduk jangkar dapat digunakan untuk bahan-bahan yang sangat viskos
atau bahan-bahan dengan berat spesifik yang tinggi seperti suspensi. Pengaduk
jangkar akan terjadi proses pertukaran panas dan mencegah terjadinya pengendapan
atau pelekatan padatan pada dasar bejana. Alat pengaduk bingkai terdiri dari sebuah
bingkai persegi atau dua buah lengan jangkar yang dipasang bersusun. Pengaduk
ini mempunyai diameter 2/3 dari diameter bejana. Pengaduk bingkai berputar sangat
lambat dan dapat digunakan untuk bahan yang sangat viskos. Alat pengaduk jenis
bingkai memiliki diameter ½ kali diameter bejana. Pengaduk palet tersusun dari
sebuah bingkai atau dua pelat yang dipasang bersusun. Bagian atas dari pengaduk
palet ini berbentuk persegi dan bagian bawah berbentuk potongan miring
Alat pengaduk impeller terdiri atas tiga fan blade yang melengkung. Fan
blade umumnya berbentuk bengkok keatas sehingga sesuai dengan bentuk dasar
bejana. Pengaduk impeller mempunyai diameter sebesar 2/3 hingga ½ dari diameter
bejana dan frekuensi putarannya 100-200 rpm. Pengaduk impeller dapat
dimanfaatkan secara serba guna yakni, misalnya untuk melarutkan, mensuspensikan
atau mengemulsikan padatan dalam cairan serta juga untuk reaksi-reaksi kimia dan
proses-proses pertukaran panas. Pengaduk impeller juga dapat digunakan untuk
mengaduk bahan yang rendah viskositasnya, yakni dibawah 4000 cp.
Alat pengaduk jenis propeller ini terdiri atas dua atau tiga fan blade yang
dipasang miring. Alat pengaduk jenis propeller berputar dengan cepat. Pengaduk
propeller digunakan untuk mengaduk fluida dengan viskositas rendah yang rendah.
Alat pengaduk turbin terdiri atas sebuah cakram yang sisi bawahnya mempunyai
beberapa sudut vertikal (rotor) yang disusun secara radial. Pengaduk ini terdiri dari
sebuah cakram Pengaduk turbin lebih sering digunakan untuk bahan dengan
viskositas yang rendah. Alat pengaduk jenis propeller dapat berputar sangat cepat
dan digunakan untuk bahan-bahan encer dengan viskositas sampai 100.000 cp.
Pengaduk turbin memiliki bentuk dasar yang sama dengan pengaduk dayung
hanya saja pengaduk turbin memiliki daun yang lebih banyak dan pendek.
Pengaduk jenis ini dapat digunakan untuk bahan kering maupun basah. Pengaduk
turbin menggunakan fan blade berbentuk datar, sehingga menghasilkan aliran yang
radial. Pengaduk cakram gigi terdiri atas sebuah cakram yang keliling luarnya
dilengkapi dengan gigi-gigi bersisi tajam. Pengaduk ini berukuran 1/6 sampai ½
dari diameter tangki. Pengaduk cakram gigi dapat berputar dengan cepat dan
digunakan untuk membuat supensi dan emulsi dari yang halus sampai viscous.
Menurut Handoko (1992), prinsip penerapan untuk mencampur bahan
dengan viskositas yang tinggi dan berbentuk pasta adalah kinerja material yang
melakukan kontak dengan dengan material lainnya yang akan dicampur. Bahan
dengan viskositas tinggi dan berbentuk pasta ini menggunakan model pencampur
seperti pencampur tipe pancing, pencampur dengan pisau berbentuk z.
Kebutuhan energi yang diperlukan untuk mencampur suatu jumlah tertentu
bahan, khususnya cairan tergantung pada viskositas cairan tersebut. Kecepatan
mixer juga mempengaruhi proses pencampuran, sehingga kecepatan mixer akan
diatur sesuai dengan kebutuhan bahan yang akan digunakan. Mixer yang memiliki
kecepatan yang rendah akan digunakan untuk cairan dengan viskositas yang tinggi,
yakni bahan-bahan dengan campuran yang pekat, licin dan sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA

Deveswaran, R., dkk. 2009. Concepts and Techniques of Pharmaceutical Powder


Mixing Process a Current Update. Research J. Pharm. Vol. 2(2): 245- 249.
Handoko, Djarot. 1992. Perancangan dan Pengujian Performansi Prototipe Alat
Pengaduk Dodol. Skripsi. Bogor: FATETA IPB.
Kung, C., dkk. 2009. The Influences Of Powder Mixing Process On The Quality Of
W-Cu Composites. Canadian Society for Mechanical Engineering. Vol.
33(3): 361-375.
McCabe, W. L., dkk. 1993. Unit Operations of Chemical Engineering. New
York: McGraw-Hill Book Company.
Wiranatakusumah, Aman. 1992. Petunjuk Peralatan dan Unit Proses Industri
Pangan. Bogor: Direktoran Jendral Pendidikan Tinggi PAU IPB.