You are on page 1of 3

1.

Apabila kaum muslimin sangat butuh untuk memilih pemimpin pusat (semacam dalam
pemilihan khalifah atau kepala negara, pen), maka pemilihan ini disyari’atkan
namun dengan syarat bahwa yang melakukan pemilihan adalah ahlul hilli wal ‘aqd (orang
yang terpandang ilmunya, yakni kumpulan para ulama) dari umat ini sedangkan bagian umat
yang lain hanya sekedar mengikuti hasil keputusan mereka. Sebagaimana hal ini pernah
terjadi di tengah-tengah para sahabat radhiyallahu ‘anhum, ketika ahlul hilli wal ‘aqd di
antara mereka memilih Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu (sebagai pengganti Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan mereka pun membai’at beliau. Bai’at ahlul hilli wal
‘aqd kepada Abu Bakr inilah yang dianggap sebagai bai’at dari seluruh umat. Begitu pula
‘Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu menyerahkan pemilihan imam sesudah beliau
kepada enam orang sahabat, yang masih hidup di antara sepuluh orang sahabat yang
dikabarkan masuk surga. Akhirnya pilihan mereka jatuh pada ‘Utsman bin ‘Affan
radhiyallahu ‘anhu, kemudian mereka pun membai’at Utsman. Bai’at mereka ini dinilai
sebagai bai’at dari seluruh umat.

2. Adapun untuk pengangkatan pemimpin di daerah (semacam dalam pemilihan gubernur,


bupati, dan lurah, -pen), maka itu wewenang kepala negara (ulil amri), dengan mengangkat
orang yang memiliki kapabilitas dan amanat serta bisa membantu pemimpin pusat untuk
menjalankan roda pemerintahan. Sebagaimana hal ini terdapat dalam firman Allah Ta’ala
(yang artinya), “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang
berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia
supaya kamu menetapkan dengan adil.” (QS. An Nisa’: 58). Ayat ini ditujukan kepada kepala
negara. Yang dimaksud amanat dalam ayat di atas adalah kekuasaan dan jabatan dalam
sebuah negara. Wewenang inilah yang Allah jadikan sebagai hak bagi kepala negara,
kemudian kepala negara tersebut menunaikannya dengan cara memilih orang
yang capable (memiliki kemampuan) dan amanat untuk menduduki jabatan tersebut. Hal ini
sebagaimana dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para khulafaur rosyidin, dan
para ulil amri kaum muslimin sesudahnya. Mereka semua memilih untuk menduduki
berbagai jabatan orang yang layak untuk mendudukinya dan menjalankannya sebagaimana
yang diharapkan.
Adapun pemilihan umum (pemilu) yang dikenal saat ini di berbagai negara, pemilihan
semacam ini bukanlah bagian dari sistem Islam dalam memilih pimpinan. Cara semacam ini
hanya akan menimbulkan kekacauan, ketamakan individu, pemihakan pada pihak-pihak
tertentu, kerakusan, lalu terjadi pula musibah dan penumpahan darah. Di samping itu tujuan
yang diinginkan pun tidak tercapai. Bahkan yang terjadi adalah tawar menawar dan jual beli
kekuasaan, juga janji-janji/kampanye dusta.
Kalau orang selama ini menyebut pemilu itu adalah singkatan dari pemilihan umum, maka kami menyebutnya
dengan sesuatu yang memilukan.Ya ! Pemilu merupakan cara memilih pemimpin yang jauh menyimpang dari
jalan Allah yang akhirnya kepiluanlah yang akan kita dapatkan.Setiap bentuk penyimpangan, baik yang kecil
maupun besar, jelas maupun samar, biasa dilakukan mayoritas maupun minoritas manusia tetaplah sebuah
penyimpangan apabila bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
Wasallam menurut bimbingan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.Sedangkan setiap bentuk penyimpangan
akan berujung kepiluan dan kesedihan.
Lalu bagaimana dan sejauh mana pemilu itu bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasul menurut
bimbingan para sahabat ? Berikut ini beberapa keterangan yang dapat menjawab pertanyaan tersebut dan
semoga bermanfaat :

1) Pemilu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam beserta para
sahabat radhiyallahu ‘anhum.
Tidak ada satu pun riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi dan para sahabat melakukan pemilu atau
pemungutan suara, padahal mereka adalah generasi terbaik umat manusia.Tidak ada satu pun kebaikan
yang murni melainkan mesti telah mereka lakukan.Kalau seandainya pemilu itu adalah sebuah kebaikan
yang murni apalagi berkaitan dengan urusan negara dan orang banyak, pasti mereka menjadi orang-
orang yang terdepan untuk menjalankannya.

Mungkin akan ada yang berkata : “Bagaimana pemilu itu mereka selenggarakan, sedangkan pada masa
itu mereka tidak membutuhkannya ?!”
Perkataan ini dapat ditanggapi bahwa beberapa peristiwa yang terjadi di masa mereka ternyata bisa saja
memberikan peluang untuk diadakan pemilu atau pemungutan suara, seperti :

a. Peristiwa penunjukan Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma oleh Nabi sebagai pemimpin jihad,
padahal Usamah masih sangat muda dan masih banyak sahabat senior dari sisi ilmu dan
pengalaman yang masih hidup saat itu.Penunjukan ini sempat menjadi pertanyaan banyak sahabat
dan akhirnya Nabi menegur mereka.Ternyata untuk menentukan pemimpin jihad dan menjawab
pertanyaan sebagian sahabat saat itu, Nabi tidak mengajak atau memerintah diadakannya
pemungutan suara.Kisah penunjukan Usamah sebagai pemimpin jihad ini disebutkan di dalam
Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.
b. Pengangkatan 4 sahabat besar mulai Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin
Affan hingga Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum ajma’in sebagai pemimpin besar (khalifah)
ternyata tidak melalui sistem pemilu yang melibatkan seluruh rakyat.Abu Bakr, Utsman dan Ali dipilih
sebagai pemimpin pada masing-masing periodenya melalui syura (diskusi ilmiah) para sahabat
besar.Adapun Umar dipilih sebagai pemimpin karena penunjukan pemimpin sebelumnya, yaitu Abu
Bakr.Seiring dengan itu, kita telah diperintah Nabi untuk mengikuti jalan para sahabat dalam
menjalankan Islam pada seluruh sendi kehidupan, termasuk sistem memilih pemimpin negara.

2) Pemilu berpatokan kepada suara terbanyak.


Patokan ini tidaklah mengherankan bila ada pada pemilu karena memang demikian wujud dari kehidupan
demokrasi.Padahal, sebuah realita yang tidak dapat kita pungkiri bahwa mayoritas masyarakat kita tidak
banyak mengetahui tentang jati diri sebenarnya pada masing-masing calon pemimpin.Mayoritas
masyarakat tidak banyak mengetahui reputasi kejujuran dan kemahiran calon pemimpin jauh sebelum
mencalonkan diri sebagai pemimpin.Bila demikian, akankah suara mereka dapat dijadikan sebagai
patokan untuk memilih pemimpin terbaik ?! Belum lagi Allah Ta’ala telah menegaskan bahwa mayoritas
manusia itu dalam keadaan tidak bersyukur, tidak mengetahui, tidak beriman, menyimpang dari jalan
Allah, membenci kebenaran atau terjatuh dalam kesyirikan melalui lebih daripada 40 ayat Al Qur’an
(sebatas hitungan kami).Bila demikian (sekali lagi), akankah suara mereka layak untuk dijadikan
sandaran untuk memilih pemimpin yang sanggup mengemban amanah kepemimpinan ?!

3) Pemilu menyamaratakan suara orang Islam dengan suara orang kafir.


Seseorang yang masih menyadari mahalnya Islam dan iman pada dirinya, tentu sama sekali tidak ridha
dirinya disamakan dengan orang kafir.Memang kita sama sekali dilarang oleh Islam untuk menzalimi
manusia, termasuk orang-orang kafir.Namun hal itu bukan berarti orang kafir itu kedudukannya sama
dengan orang Islam.Justru menyamakan kedudukan antar keduanya adalah sebuah kezaliman, sebab
Allah telah menegaskan bahwa keduanya tidaklah sama.Allah Ta’ala telah berfirman (artinya) : “Maka
apakah orang yang beriman itu sama (kedudukannya) dengan orang yang fasik ?! Tentu mereka tidaklah
sama”.(As Sajdah : 18)
Allah juga berfirman (artinya) : “Apakah orang-orang berlaku kejelekan itu menyangka bahwa Kami
(Allah) akan menjadikan mereka sama (kedudukannya) dengan orang-orang yang beriman dan beramal
shalih, baik saat mereka hidup maupun saat telah mati ?! Sungguh betapa buruknya apa yang mereka
putuskan tersebut”.(Al Jaatsiyah : 21)
Akal sehat bagaimana yang dapat menerima orang yang hidup di atas iman dan Islam itu dapat
disamakan dengan orang yang hidup di atas kekufuran ?! Kalbu lurus bagaimana yang dapat memahami
orang yang meninggal dunia di atas iman dan Islam itu dapat disamakan dengan orang yang mati di atas
kekufuran ?!

Para pembaca rahimakumullah, kita sangat khawatir pemilu dengan demokrasi sebagai payungnya tidak
hanya bertujuan mencegah kediktatoran pemimpin.Kita sangat khawatir ada tujuan ganda yang
terselubung dan Allah lebih mengetahui hakekat sebenarnya tujuan tersebut, yaitu jalan kebebasan
mengampanyekan seluruh pola pikir dan pola hidup yang bertentangan dengan Islam di negeri-negeri
yang mayoritas penduduknya adalah kaum muslimin.Kita pun sebelum itu sangat mengetahui bahwa
pemilu dengan demokrasi sebagai payungnya adalah produk pemikiran orang kafir dan ditebarkan orang-
orang Yahudi, bukan orang Islam apalagi wahyu ilahi.Sedangkan bukan rahasia lagi bahwa orang kafir
dan Yahudi itu sangat besar kebenciannya terhadap Islam dan umat Islam.Adapun terkait kediktatoran
pemimpin, maka (tanpa demokrasi dengan pemilunya pun) Islam sendiri sangat mengecam hal itu.Islam
sendiri sebenarnya telah memberikan bimbingan lengkap lagi sempurna bagaimana bersikap
menghadapi kediktatoran pemimpin.

4) Pemilu sangat membolehkan kaum wanita menjadi pemimpin bagi kaum pria.
Agama Islam telah memberikan kedudukan sangat terhormat terhadap kaum hawa.Hal ini akan diketahui
saat seseorang mempelajari Islam dengan seksama dan penuh ketulusan hati.Islam telah memberikan
posisi mulia kepada wanita sesuai dengan kodratnya, karena Islam adalah ajaran Allah yang Dia-lah
Ta’ala Dzat pencipta wanita dan tentu Dia-lah yang paling mengerti apa yang layak atau tidak layak bagi
wanita.Akankah seorang muslim lebih percaya terhadap orang kafir yang menyerukan emansipasi wanita
yang sarat dengan makar terselubung, dibanding ajaran Allah dan Rasul-Nya yang sarat dengan kasih
sayang terhadap seluruh alam semesta terkhusus kaum wanita ?! Dengan tegas, Allah telah berfirman
(artinya) : “Kaum pria itu adalah pemimpin bagi kaum wanita karena apa yang telah Allah beri kelebihan
kepada sebagian mereka atas sebagian yang lain”.(An Nisaa’ : 34)
Nabi kita lebih menegaskan lagi melalui sebuah sabda (artinya) : “Tidak akan bahagia suatu kaum yang
menyerahkan kepemimpinan mereka kepada seorang wanita”.(HR.al-Bukhari)
Mungkin saja akan ada yang berkata : “Ternyata di masa lalu jauh setelah masa Nabi, ada beberapa
wanita yang memimpin bangsanya dan rakyat merasakan ketentraman hidup, seperti Margareth Thacher
di Inggris atau Corazon Aquino di Filipina”.
Pernyataan ini dapat dijawab bahwa kebahagiaan atau kenikmatan duniawi yang dirasakan manusia
dengan melanggar syariat Islam bukanlah kebahagiaan yang hakiki dan bukan pula tanda Allah mencintai
mereka.Selain itu, kebahagiaan mana yang layak kita kagumi lebih-lebih kita contoh dari 2 negara kafir
tersebut ?!

Islam Telah Memberi Jalan Terbaik


Jangankan sistem memilih pemimpin, bahkan adab buang air kecil dan besar pun diatur oleh agama
Islam.Sekali lagi, Islam adalah agama yang lengkap dan sempurna.Tidak ada sekecil apa pun perkara
yang bermanfaat bagi manusia, melainkan telah Islam ajarkan.Tidak ada sekecil apa pun perkara yang
membahayakan manusia, melainkan telah Islam ingatkan.
Adapun sistem memilih pemimpin negara, maka salah satu sistem yang telah diterapkan para sahabat
Nabi (sebagai generasi yang paling mengerti Islam) adalah sistem syura (diskusi ilmiah) yang dilakukan
para pakar yang telah berpengalaman pada setiap bidang dan memegang kejujuran.Sedangkan rakyat
dengan keterbatasan pengetahuan mereka tentang setiap bidang pemerintahan, tentu saja tidak
berkompeten untuk memilih pemimpin.Tentu pilihan beserta alasannya yang berasal dari orang-orang
ahli dan jujur tidaklah sama dengan pilihan beserta alasannya yang berasal orang-orang yang bukan ahli
sekalipun jujur.Sistem syura seperti ini dapat diterapkan dan rakyat dapat menerimanya tatkala setiap
atau mayoritas lapisan rakyat berpegang teguh dengan ajaran Islam yang murni.Dengan demikian,
tampilnya pemimpin yang berkualitas melalui sistem yang tepat sebenarnya berangkat dari tahapan yang
sangat panjang karena berawal dari bimbingan Islam yang murni kepada seluruh lapisan masyarakat
luas.Dari masyarakat yang baiklah, akan muncul pemimpin yang baik.
Wallaahu a’lamu bish-Shawaab