You are on page 1of 135

Serial Fiqh Kemenangan dan Kejayaan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah (1)

Penulis: DR. Ali Muhammad As-Slaaby

Penterjemah: Abu Ahmad

Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kita memohon pertolongan kepada-Nya dan
memohon ampun, kita berlindung kepada-Nya dari kejahatan jiwa-jiwa kita dan keburukan
perbuatan kita, barangsiapa yang diberikan petunjuk oleh-Nya maka tidak akan tersesat
baginya, dan barangsiapa yang disesatkan maka tidak ada hidayah baginya, saya bersaksi
bahwa tidak ada tuhan selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya dan aku
bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.

Allah berfirman :“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar
takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan
beragama Islam”. (Ali Imron : 102)

Dan Allah berfirman : “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah
menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari
pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan
bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta
satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu
menjaga dan Mengawasi kamu. (An-Nisa : 1)

Dan Allah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan
Katakanlah perkataan yang benar, Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu
dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya,
Maka Sesungguhnya ia Telah mendapat kemenangan yang besar. (Al-Ahzab : 70-71)

Tema tentang “Fiqh kemenangan dan kejayaan dalam Al-Quran al-karim dan sunnah an-
nabawiyah“ sangat membutuhkan pembahasan yang rinci dan mendalam, karena
pambahasan ini sangat penting dan urgen dalam kehidupan modern saat ini.

Bahwa umat saat ini sedang melintasi masa krisis yang mengenaskan sepanjang sejarahnya,
sehingga membutuhkan pemahaman fiqh agar dapat tergambar tujuan dan misi hidupnya
dan berusaha mewujudkan cita-citanya sesuai dengan sunnah Allah yang terjadi pada setiap
umat, masyarakat, bangsa dan Negara.

Setelah mempelajari dan menelaah Al-Quran Al-Karim, ditemukan di dalamnya bahwa pilar-
pilar fiqh kemenangan dan kejayaan sangatlah jelas termaktub dalam kitabullah, tinggal
bagaimana kita dapat menyatukannya, menyusunnya dan mengurainya serta menjelaskannya
kepada umat ketika sehingga memberikan pengaruh yang positif dan berusaha
menerapkannya dalam setiap sisi kehidupan mereka.

Bahwa tercapainya umat islam saat ini menuju kemangan dan kejayaan bukanlah perkara
yang mudah, namun juga bukan sesuatu yang mustahil, sekalipun ada usaha penyempitan
yang bagitu dahsyat dan perang yang terus menerus atas Islam dan umat Islam, namun
banyak dari kalangan umat islam yang melihat bahwa kejayaan agama Allah berada pada dua
busur yang sama atau dekat sekali, sekalipun musuh-musuh memandang bahwa kejayaan
Islam sangatlah jauh bahkan mustahil, namun seorang muslim harus percaya pada janji Allah
bahwa bumi ini akan diwariskan kepada hamba-Nya yang shalih. Bahwa ini bukanlah mimpi
dan angan-angan belaka, namun merupakan pintu tsiqoh kepada Allah dan yakin akan janji-
Nya.

Banyak dari kalangan ulama Islam dan para penuntut ilmu begitu antusias membuat buku
dalam berbagai bidang keilmuan; umum dan agama yang berkaitan dengan kemenangan dan
kejayaan umat, sebagaimana mereka juga menjelaskan penyakit yang menimpa umat,
persekongkolan yang dilakukan oleh yahudi dan nasrani serta musuh Islam, menjelaskan
bahaya invasi yang dilakukan oleh musuh Islam secara bertubi-tubi yang menggunakan
berbagai bentuk dan trik untuk menghancurkan umat Islam, memutus cita-cita yang terpatri
dalam dada mereka, meyebarkan ruh kekalahan -black campaign- dalam jiwa mereka
sehingga tidak mampu kembali mengangkat kepala mereka untuk berjuang, tidak kokoh
dalam azimah, hingga menjadi lemah dan hina, dan pada akhirnya mencapai titik kelemahan
dan putus asa, terpecah belah ditengah umat Islam yang satu yang selalu diperebutkan oleh
umat lain sebagaimana halnya mereka berebut makanan dari pinggannya.

Namun banyak kalangan ulama yang telah menyampaikan melalui khutbah-khutbah dan
ceramah mereka akan permasalahan umat ini, kerusakan yang terjadi disekitarnya dengan
bentuk menyebarkan keputus asaan dan menutup pintu cita-cita dihadapan generasi umat
yang memliki kecemburuan yang tinggi, sehingga menyebarlah ruh kekalahan dalam barisan
mereka, dan tidak heran banyak yang mengatakan : Apa yang dapat kita lakukan ? Islam dan
kaum muslimin telah hilang!..mereka hanya terpaku pada kenangan masa lalu dan
mendendangkan kemuliaan mereka namun tidak bisa berbuat apa-apa ketika musuh Islam
saat melakukan agresi, menjajah dan memporak porandakan bumi yang telah ditaklukkan
oleh umat terdahulu.

Dengan demikian kita temukan bahwa perkara ini sangatlah besar, permasalahan yang
sangat penting. Bahwa umat saat ini sangat membutuhkan sesuatu yang dapat
mengembalikan kepercayaan diri dan tsiqoh yang tinggi kepada Allah, percaya kepada
manhaj-Nya yang lurus, membutuhkan sesuatu yang dapat membangkitkan kembali
keimanan yang ada dalam hati mereka, mengarahkan mereka untuk mencari sebab-sebab
kejayaan dan syarat-syaratnya, menjelaskan tab’iat jalan Islam dan bagaimana berjalan di
dalamnya, serta menjelaskan karakter-karakternya agar dapat memahami bagaimana
memulai kerja? dan kemana akan berjalan?

Bahwa tema “Fiqh kemenangan dan kejayaan dalam Al-Quran” sangatlah besar sekali, karena
dalam Al-Quran banyak kita temukan macam-macam kejayaan, sebagaimana firman Allah :
“Dan demikian pulalah kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi
(Mesir), dan agar kami ajarkan kepadanya ta’bir mimpi. dan Allah berkuasa terhadap
urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya”. (Yusuf : 21) Dan firman
Allah : “Dan Demikianlah kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (Dia
berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. kami
melimpahkan rahmat kami kepada siapa yang kami kehendaki dan kami tidak menyia-
nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”. (Yusuf : 56)
Jika kita telaah pada dua ayat diatas maka akan kita temukan bahwa ayat pertama
mengisyaratkan akan kejayaan yang parsial terhadap nabi Yusuf AS, dan pada ayat kedua
menunjukkan akan hak kejayaan secara kesuluruhan.

Sebagaimana juga kita temukan bahwa Al-Quran telah mengisyaratkan sebab-sebab kejayaan
secara maknawi (spiritual) dan maadi (materiil) seperti firman Allah : “Dan siapkanlah untuk
menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang
ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu)…(Al-Anfal : 60) dan Al-Quran
mengisyaratkan syarat-syarat kejayaan dalam firman Allah : “Dan Allah Telah berjanji kepada
orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa
dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia
Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan
meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-
benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman
sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun
dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah
orang-orang yang fasik”. (An-Nuur : 55)

Begitupan Al-Quran telah mengisyaratkan tahapan-tahapan kejayaan dalam kisah Bani Israil
sejak zaman nabi Musa AS hingga zaman keemasan nabi Daud dan Sulaiman AS.
Al-Quran juga mengisyaratkan tujuan kejayaan dalam firman Allah SWT : “(yaitu) orang-
orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan
sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan
yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan”.(Al-Hajj : 41), sebagaimana juga
disebutkan dalam sejarah para shalihin dari para nabi dan utusan Allah dan sifat-sifat yang
menjadi karakter mereka yang telah dikaruniakan Allah seperti nabi Yusuf AS. Allah berfirman
: “Kami melimpahkan rahmat kami kepada siapa yang kami kehendaki dan kami tidak
menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”. (Yusuf : 56)

Dan seperti nabi Sulaiman AS, dalam firman Allah : “Kemudian kami tundukkan kepadanya
angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakiNya, Dan (Kami
tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam, Dan
syaitan yang lain yang terikat dalam belenggu. Inilah anugerah Kami; Maka berikanlah
(kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) dengan tiada pertanggungan
jawab. Dan Sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi kami dan tempat
kembali yang baik”. (Shaad : 36-40)

Al-Quran juga menyebutkan kejayaan Allah yang dipersembahkan kepada Dzulkarnain, sifat-
sifat rabbaninya dan tasyakkurnya terhadap nikmat kejayaan, Allah berfirman :
“Sesungguhnya kami Telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan kami Telah
memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu” (Al-Kahfi : 84) dan firman
Allah : “Dzulkarnain berkata: “Apa yang Telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku
terhadapnya adalah lebih baik, Maka tolonglah Aku dengan kekuatan (manusia dan alat-
alat), agar Aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka”. (Al-Kahfi : 95)

Al-Quran juga menyebutkan sifat-sifat generasi penerus kejayaan, Allah berfirman : “Allah
mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap
orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan
Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela”. (Al-Maidah : 54)
Begitupun kisah nabi Muhammad saw dalam menerapkan kerja fiqh kejayaan, dengan
mempelajari dan menelaah sirah nabi secara teliti dan mendetail. Sejarah para khulfa
rasyidin, karena zaman mereka merupakan madrasah yang sangat penting dalam penerapan
fiqh ini. Sebagaimana teradapat juga gerakan-gerakan Islam yang memberikan pengaruh
yang sangat besar pada periode dua abad yang lampau yang mewariskan karakter yang
sangat jelas akan fiqh kejayaan yang telah diwariskan oleh gerakan-gerakan Islam modern
sambil berusaha menampakkan fiqh kejayaan dan metode-metode reformasi dan perubahan
yang dijadikan model dalam usaha mengembalikan kejayaan islam pada masa sekarang ini.

Insya Allah akan kita lanjutkan pembahasan berikutnya tentang makna fiqh, makna
kemenangan dan kejayaan.

Serial Fiqh Kemenangan dan Kejayaan Dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah (2)

Makna Kejayaan Dalam Islam

Makna kejayaan secara bahasa

kata kejayaan adalah arti dari kata bahasa arab At-Tamkin, yaitu bentuk masdar (kata jadian)
dari kata “makkana” yang terdiri dari tiga huruf (mim, kaf dan nun) dan darinya terbentuk
kata “Amkanahu’ yang berarti memberikan kedudukan seseorang dari sesuatu, dan
menempatkan fulan dari sesuatu, dan fulan tidak “yumkinuhu” (memungkinkan) untuk
bangkit yaitu tidak memiliki kemampuan atasnya.[1]

Dan dari kata kata “al-makinnah” (memiliki kedudukan) berarti kejayaan; orang arab berkata:
Sesungguhnya bani fulan memiliki kedudukan akan jabatan atau juga kata “tamakkana”.
(memiliki posisi)[2]. Orang arab menamakan tempat (sarang burung) dengan
makinnah,karena burung berkedudukan didalamnya. [3]

Dan kata al-makanah menurut orang arab adalah kedudukan dalam kerajaan, pluralnya
adalah makanaat, tidak dipluralkan dalam bentuk taksir, sungguh dia telah memiliki
kedudukan maka mantaplah dia dalam posisi tersebut (makin), pluralnya mukna, dan kata
numakkina – tamakkan, sedangkan kata al-mutamakkin adalah bagian dari nama : yang
menerima ketinggian dan kedudukan serta kekuasaan. [4]

Maka kata Tamkin (kejayaan) secara bahasa adalah kekuasaan dan kedudukan (raja). Allah
telah mengisyaratkan dalam firman-Nya tentang Dzul Qornain : “Sesungguhnya Kami telah
memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya
jalan (untuk mencapai) segala sesuatu”. (Al-kahfi : 84)

Maknanya adalah bahwa Allah telah memberikan kedudukan dan kekuasan kepada hamba
yang shalih di muka bumi, memberikan kekuasaan yang kuat, memberikan kemudahan
kepadanya segala sarana yang mendukung kekuasaannya, memberikan segala potensi yang
dapat digunakan untuk memperkokoh dan melanggengkan kekuasaannya.

Hal ini juga telah diisyaratkan kisah nabi Yusuf bin Ya’qub tentang karunia Allah berupa
kekuasaan kepada nya, Allah berfirman : “Dan Demikianlah kami memberi kedudukan
kepada Yusuf di negeri Mesir; (Dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki
di bumi Mesir itu. kami melimpahkan rahmat kami kepada siapa yang kami kehendaki dan
kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.Dan Sesungguhnya
pahala di akhirat itu lebih baik, bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa”.
(Yusuf : 56-57)

Makna Tamkin (Kejayaan) menurut istilah

kata tamkin menurut istilah ulama adalah mempelajari berbagai macam kedudukan
(kekuasaan), syarat-syaratnya, sebab-sebabnya, tahapan-tahapannya, tujuan-tujuannya dan
rintangan yang akan dihadapinya serta pilar-pilar kembalinya umat menuju
kedudukan,kekuasaan dan kedudukan dimuka bumi ini.

Syaikh DR. Abdul Halim berkata : “Yaitu tujuan utama dari setiap bentuk kerja dalam Islam,
dakwah dalam berbagai bentuk tahapannya, tujuan dan sarananya, gerakan yang menuntut
kerja keras dan kesungguhan, tandzim dan segala sesuatu yang menjadi tujuan dan misi
dakwah dan gerakan, begitupun tarbiyah dengan segala orientasinya, ragamnya, tujuan dan
sarananya, karena tidak ada perbedaan dalam tujuan mulia dan besar pada setiap orang
yang bekerja karena Islam, walaupun programnya berbeda –dengan syarat program yang
dicanangkan bersumber dari Al-Quran al-karim dan sunnah muthohharoh, dan bukan
perbuatan yang dibenci Allah- tidak bisa berbeda bahwa kejayaan (kedudukan) untuk agama
Allah adalah tujuan utama dalam setiap kerja Islam. [5] agar kekuasaan atas agama Islam
lebih tinggi dan unggul dari seluruh agama lainnya, system hukum agama ini dengan sistem
buatan manusia lainnya, kejayaan ini mendahului posisi jabatan, kerajaan dan kedudukan,
dan yang mengiringi keamanan (ketentraman) setelah ketakutan. [6]

Sementera itu Ust. Muhammad As-Sayyid Muhammad Yusuf berkata : “Yaitu mempelajari
sebab-sebab yang menyebabkan hilang kejayaan (kekuasaan) dalam umat Islam, pilar-pilar
yang dapat mengembalikan umat dari kekuasaan tersebut, rintangan-rintangan yang akan
dihadapi dalam usaha mendapatkan kekuasaan, mempelajari tabiat jalan menuju kejayaan,
begitupun berita gembira (basyarat) yang ada dalam jalan ini, dan seluruhnya terdapat
dalam Al-Quran dan juga hadits nabi Muhammad SAW. [7]

Fathi Yakan berkata : “Jalan menuju kemenangan, memiliki potensi kekuatan, meraih
kekuasaan dan kedudukan, mencari dukungan umat, penolong dan pengikut setia, yaitu
bagian dari ragam kesucian dimuka bumi dan kedudukan yang tinggi. [8]

Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya kami menolong rasul-rasul kami dan orang-orang
yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)”.
(Ghafir : 51) dan Allah SWT juga berfirman : “Dan Sesungguhnya kami Telah mengutus
sebelum kamu beberapa orang Rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan
membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu kami melakukan pembalasan terhadap
orang-orang yang berdosa. Dan kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang
beriman”. (Ar-ruum : 47) Allah juga berfirman: “Hai orang-orang mukmin, jika kamu
menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.
(Muhammad : 7) Allah juga berfirman : “Dan Sesungguhnya Telah tetap janji kami kepada
hamba-hamba kami yang menjadi rasul, (yaitu) Sesungguhnya mereka Itulah yang pasti
mendapat pertolongan. Dan Sesungguhnya tentara Kami. Itulah yang pasti menang”. (As-
shffaat : 171-173)
Ayat diatas dan yang serupa dengannya menunjukkan akan pertolongan Allah dan janji Allah
dalam memperkokoh orang-orang yang beriman jika berusaha menegakkan dakwah dan
mengemban amanat yang sulit; baik sang da’i adalah seorang rasul (utusan) yang mulia atau
salah seorang yang beriman, dan keteguhan, kemenangan dan kejayaan ini diberikan dalam
kehidupan dunia sebelum akhirat.

Kita temukan dalam Al-Quran dan sunnah nabi saw, bahwa diantara para nabi ada yang
dibunuh oleh orang-orang kafir seperti nabi Yahya dan Zakaria AS, dan selain keduanya, dan
diantara mereka ada yang kaumnya berusaha membunuhnya namun Allah melindungi dan
menyelamatkannya seperti nabi Muhammad saw dan nabi Isa AS, dan seperti nabi Ibrahim
AS yang meninggalkan kaum dan keluarganya berhijrah ke negeri Syam.

Sebagaiman juga kita temukan pula orang-orang yang beriman sepanjang masa dan waktu
yang menghadapi banyak siksaan yang pedih, diantara mereka ada yang diceburkan ke dalam
lubang yang penuh api yang membara dan membakar, ada yang dibunuh dengan perlahan,
namun tetap sabar di jalan Allah mengharap ridla Allah dan tidak mendendam, dan ada
diantara mereka juga yang hidup penuh dengan penuh kesengsaraan, siksaan dan tekanan,
sehingga ada yang bertanya: Dimanakah janji Allah berupa kemenagan, kebahagiaan dan
kekuasaan? Padahal mereka telah diusir, dibunuh dan disiksa? [9]

As-syahid Sayyid Qutb berkata : “Syaitan telah masuk ke dalam jiwa setiap orang dari tempat
masuk ini, dan berusaha mempengaruhi kerja manusia: sesungguhnya manusia diukur dari
phenomena ini, sehingga mereka lalai akan banyak nilai dan hakikat hidup di dunia.

Manusia mengukur dengan masa yang pendek dan tempat yang terbatas, dan sempit,
adapun ukuran yang menyeluruh, membentang dalam berbagai permasalahan dan dalam
lingkup yang luas baik masa ataupun waktu, tidak terbatas pada masa kemasa, dan bukan
pada satu tempat ke tempat yang lain, dan jika kita memandangnya dengan iman dan
keyakinan maka akan menjadi sarana memberikan kemenangan tanpa ada keraguan di
dalamnya. Apalagi Kemenangan terhadap masalah keimanan adalah merupakan
kemenangan sejati, dan tidaklah pemiliki qadhiyah ini kecuali dapat mengokohkan eksistensi
internal dan ekternal, dan adapun yang pertama kali yang dituntut dari keimanan mereka
adalah menafikan, menyembunyikan kemudian menampakkannya ketika diperlukan untuk
meraih kemenangan dzahir.

Sebagian manusia ada yang sempit dalam memahami makna kemenangan dan
kejayaan yang hanya pada gambaran tertentu dan terkbatas, dan pendek wawasan mereka,
padahal bentuk kemenangan banyak modelnya, walaupun kadang memiliki kesamaan
dengan sebagian lainnya dengan bentuk kekalahan jika pandangannya adalah pendek…
Ibrahim AS diceburkan ke dalam api namun tidak surut keimanan dan dakwahnya…apakah ini
merupakan sikap kemenangan atau kekalahan? Tidak ada yang ragu tentunya – dalam logika
akidah- bahwa sikap tersebut merupakan puncak kemenangan ketika di ceburkan kedalam
api yang panas, dan merupakan kemenangan kedua saat beliau selamat dari api tersebut, ini
merupakan gambaran dan yang lain juga merupakan gambaran dan keduanya sangatlah jauh
dari gambaran kemenangan.. walaupun pada hakikatnya sangatlah dekat).

Betapa banyak yang syahid namun tidak mendapatkan kemenangan dalam mempertahankan
akidahnya dan dakwahnya walaupun hidup seribu tahun lamanya, sebagaimana juga ada
yang mendapatkan kemenganan dengan kesyahidannya, tidak mampu memberikan hati yang
bersih dari nilai-nilai yang besar dan memotivasi beribu-ribu generasi kepada kerja
besar, melalui ceramah seperti ceramahnya yang terakhir ditulis dengan tulisan darahnya
sendiri, sehingga tetap menjadi pemicu dan penggerak terhadap anak-anak dan cucu-cucu,
bahkan terhadap sebuahlangkah sejarah sepanjang generasi. [11]

Sesungguhnya ada berbagai kondisi yang dapat menyempurnakan kemenangan dalam


bentuknya yang jelas dan dekat: jika memiliki hubungan dengan bentuk yang kekal dan tetap,
seperti Nabi Muhammad saw yang telah mendapatkan kemenangan dalam perjalanan
hidupnya, karena kemenangan ini memiliki hubungan yang erat dengan tegaknya aqidah
dengan hakikatnya yang sempurna di muka bumi ini, akidah ini tidak sempurna secara penuh
kecuali dengan menguasai kehidupan jamaah dan mengendalikan mereka semua, dimulai
dari individu menuju daulah, sehingga Allah berkehendak memberikan kemenangan kepada
pemilik akidah dalam hidupnya, lalumewujudkan akidah ini dalam bentuknya yang
sempurna, meninggalkan ketetapan realitas sejarah yang terbatas.

Sesunngguhnya kemenangan dan kejayaan bagi orang yang beriman memiliki banyak jenis
dan bentuk, diantara: menyampaikan risalah, dikalahkannya musuh dan tegaknya daulah.

Insya Allah pada bagian berikut akan dijelaskan jenis dan bentuk kemenangan… Wallahu
a’lam.

1. lihat: Mukhtar As-shohah, Abu Muhammad Ar-Razi, hal. 635


2. Lihat Lisanul Arab, jil. 13, fasal nun, bab makkana, hal. 414
3. Ibid
4. Ibid, hal. 415
5. Lihat: Fiqh Al-Mas’uliyah, Hal. 538
6. Lihat: Fiqh Dakwah Ilallah, jil. 2, hal. 713-714
7. At-tamkin Lil Ummah al-islamiyah fi Douil Quran Al-karim, hal. 13
8. Lihat: Majalah Al-Mujtama, edisi 1249, 6 Muharram 1418 H/13 Mai 1997
9. Lihat: Haqiqat Al-Intishar, Hal. 13-14
10. Lihat: Fi Dzilalil Quran, Jil. 5, Hal. 3086
11. Ibid.
12. Ibid.

Serial Fiqh Kemenangan dan Kejayaan Dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah (3):
Macam-macam Kejayaan; Kejayaan Dalam Menyampaikan Risalah dan Amanah
(Kisah Ashabul Ukhdud)

Kisah seorang pemuda yang berhadapan dengan raja kafir merupakan kisah yang nyata
akan pertolomgam Allah SWT terhadap para duat dalam menyampaikan risalah dan
menunaikan amanah.

Rasulullah saw bersabda: “Umat sebelum kalian, dikisahkan ada seorang raja yang memiliki
tukang sihir, ketika tukang sihir lanjut usia, dirinya berkata kepada sang raja : sesungguhnya
saya telah lanjut usia dan akan datang ajalku, maka berikanlah kepada saya seorang anak
muda agar aku dapat mengajarkan dan mewariskan sihirku, maka diberikanlah kepadanya
anak muda dan kemudian diajarkan ilmu sihir, namun antara anak muda dan penyihir ada
seorang rahib sehingga anak muda tersebut mendatanginya dan mendengarkan ucapannya
yang menakjubkan, disaat anak muda mendatangi tukang sihir selalu dipukul, lalu sang
rahibpun bertanya : ada apa dengan dirimu? Akhirnya diapun mengadukan peristiwa yang
dialaminya kepada sang rahib, lalu dia berkata : jika penyihir ingin memukulmu maka
katakanlah : aku telah terkurung oleh keluargaku, dan jika keluargamu ingin memukulmu
maka katakanlah : aku telah terkurung oleh penyihir.

Dan suatu ketika, pada suatu perjalanan dia melihat binatang (beruang) besar yang
menakutkan yang telah mengurung sekelompok manusia sehingga mereka tidak mampu
keluar darinya, diapun berkata : pada hari ini aku ingin melihat apakah yang diajarkan oleh
rahib atau yang diajarkan penyihir yang lebih aku cintai, lalu diapun mengambil batu dan
melemparkannya ke binatang tersebut sambil berkata : “Ya Allah jika ajaran yang diberikan
oleh sang rahib yang Engkau ridloi dan cintai daripada ajaran penyihir maka bunuhlah
binatang tersebut hingga manusia dapat bebas darinya! Lalu diapun melemparkan batu
tersebut dan berhasil terbunuh, sehingga manusia pun dapat melewatinya. Dan peristiwa
tersebut diberitakan kepada sang rahib, lalu dia berkata : wahai anakku engkau lebih utama
dariku, dan engkau kelak akan menghadapi suatu cobaan, dan jika engkau menghadapi
cobaan janganlah sebut namaku; sang anak muda tersebut memiliki keahlian dapat
menyembuhkan penyakit buta dan kusta dan segala penyakit lainnya atas izin Allah.

Suatu ketika saudaranya raja mengalami buta, dan ketika mendengar akan pemuda yang
dapat menyembuhkan penyakit maka diminta untuk mendatanginya dan akan diberikan
banyak hadiah, lalu berkata : obatilah aku, dia berkata : saya tidak bisa menyembuhkan
penyakit apapun, namun yang menyembuhkan adalah Allah yang Maha Perkasa dan Maha
Agung, jika anda beriman kepada Allah maka aku akan berdoa kepada Allah untuk
kesembuhanmu, maka diapun beriman dan mendoakannya lalu sembuh dari penyakit buta,
kemudian dia datang kepada sang raja dan duduk bersamanya, lalu rajapun berkata kepada
orang tersebut : Wahai fulan siapa yang mengembalikan penglihatanmu? Diapun berkata :
Tuhanku. Rajapun berkata : Saya? Dia berkata : Bukan, tapi Tuhanku dan Tuhanmu juga. Raja
berkata: apakah kamu punya Tuhan selainku? Dia berkata : Ya, Tuhan saya adalah Allah dan
Tuhan anda juga Allah. Akhirnya rajapun menyiksanya sehingga dia menyebutkan anak muda
yang mengajarinya. Lalu dipanggillah anak muda tersebut. Rajapun berkata : Wahai anakku,
dari sihirmu kamu dapat menyembuhkan penyakit buta dan kusta dan penyakit lainnya?
Diapun berkata: Aku sama sekali tidak dapat menyembuhkan namun yang menyembuhkan
adalah Allah. Raja berkata : Aku? Dia berkata : bukan. Raja berkata: apakah kamu mempunyai
Tuhan selainku? Dia berkata: Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah, lalu Rajapun menyiksanya
dan terus menyiksanya sehingga dia menunjukkan tempat sang rahib, maka rahibpun
dipanggilnya. Raja berkata : Kembalilah pada agamamu yang lama! Namun rahib tidak
mengabulkannya sehingga dirinya disiksa dengan gergaji besi dikepalanya sehingga dirinya
terbelah menjadi dua.

Dan kemudian raja berkata kepada anak muda: kembalilah pada agamamu! diapun
menolaknya sehingga dirinya dibawa kegunung ini dan ini, raja berkata kepada pasukannya :
jika kalian telah sampai dan anak muda kembali pada agamanya maka kembalilah. Namun
jika tidak, maka lemparkanlah ke dalam jurang! Kemudian mereka pergi dan ketika sampai ke
puncak gunung. Anak muda itu berkata : “Ya Allah selamatkanlah diriku dari mereka sesuai
Kehendak-Mu, maka gunungpun mengeluarkan angin yang kencang sehingga mereka
terbawa oleh angin dan terjerumus kedalam jurang, namun anak muda tersebut selamat dan
mendapati dirinya tidak luka. Lalu beliau datang lagi kepada raja. Rajapun berkata : apa yang
telah dilakukan oleh sahabatmu. Dia berkata : Allah telah telah menyelematkanku dari
mereka. Rajapun marah dan menyuruh pasukan yang lain untuk membawanya ke tengah
lautan. Raja berkata : kalian harus membawanya ke tengah lautan hingga dia mau kembali
kepada agama lama, namun jika tidak mau maka tenggelamkanlah, maka merekapun
mengarungi lautan, lalu anak muda tersebut berkata : Ya Allah selamatkanlah aku dari
mereka dengan apa yang Engkau Kehendaki! Maka merekapun akhirnya tenggelam kecuali
anak muda tersebut. Lalu anak muda itupun kembali lagi kepada raja. Rajapun berkata : apa
yang dilakukan sahabat-sahabatmu? Allah telah menyelamatkan aku dari mereka. Kemudian
pemuda itu berkata kepada raja: engkau tidak akan mampu membunuhku hingga engkau
mau melakukan apa yang aku perintahkan, maka jika engkau melakukan apa yang aku
perintahkan maka engkau pasti dapat membunuhku, jika tidak maka engkau tidak akan
membunuhku. Raja berkata : apa perintahmu? Raja berkata : Engkau kumpulkan manusia
dalam satu tempat dan engkau salib aku pada tiang, kemudian lemparkan panah kepadaku
sambil berkata : Dengan nama Allah Tuhan anak muda, jika engkau melakukannya maka
engkau akan dapat membunuhku, maka rajapun melakukannya dan meletakkan
panah kemudian melemparkannya sambil berkata : Dengan nama Allah Tuhan anak muda,
maka panahpun jatuh dekat dengan dirinya lalu anak muda itu meletakkan tangannya
ketempat panah kemudian mati, seketika itu pula orang-orang yang hadir berkata : Kami
beriman kepada Tuhan anak muda itu.

Maka dikatakan kepada raja : tahukah anda apa yang anda takutkan? Sungguh apa yang telah
anda lakukan membuat manusia seluruhnya telah beriman kepada Allah, maka rajapun
memerintahkan untuk mengumpulkan besi yang didalamnya ada parit, kemudian besi
tersebut dibakar, kemudian raja berkata : barangsiapa yang kembali kepada agamanya maka
biarkan dia hidup, jika tidak maka masukkan mereka ke dalam api.

Lalu Rasul bersabda : mereka ada yang kembali dan ada pula yang bertahan, dan diantara
mereka ada seorang wanita membawa anak yang sedang menyusu, namun sang ibu tidak
tega membawa anaknya ke dalam api, hingga sang bayi berkata kepadanya : “Bersabarlah
ibuku, karena engkau berada dalam kebenaran”. [1]

sang pemuda telah mendapatkan kemenangan dengan aqidahnya dihadapan sang raja yang
dzalim, manhaj rabbaninya telah kokoh di dalam jiwa umat manusia yang berada di bawah
kekuasaan raja yang musyrik dan kejam, mereka teguh dalam aqidah dan berkorban dengan
jiwa demi mempertahankan keimanan, sehingga umat memahami salah satu nilai dari nilai-
nilai kemenangan.

Sayyid Qutb berkata : “Secara kasat mata tampak para pelaku kedzaliman mendapatkan
kemenangan dan mampu mengalahkan keimanan, padahal keimanan yang telah mencapai
puncaknya dalam tubuh dan jiwa kelompok yang baik, mulia, teguh nan tinggi, tidak ada
bandingan dan persamaannya dalam perang yang terjadi antara keimanan dan kedzaliman.

Secara kasat mata tampak penghabisan yang mengenaskan dan menyakitkan, namun Al-
Qur’an mengajarkan sesuatu yang lain, menyingkap hakikat yang berbeda. Bahwa kehidupan
dan berbagai hal yang menyelimutinya dari kenikmatan dan kesedihan, kecintaan dan
keharaman bukan nilai terbesar dalam timbangan, bukan pula sebagai barang yang terhitung
sebagai keuntungan dan kerugian, karena kemenangan tidak terbatas pada kemenangan
yang nyata. Karena itu kisah diatas merupakan salah satu gambaran dari berbagai gambaran
kemenangan yang banyak.
Bahwa setiap manusia pasti akan mati, dan penyebab kematiannya berbeda-beda, namun
sebagian manusia ada yang tidak mendapatkan kemenangan, tidak mendapatkan derajat
yang tinggi, tidak medapatkan kemerdekaan bahkan tidak mampu bergerak mencapai
puncak kemuliaan kecuali atas izin Alah dan kehendak-Nya terhadap satu kelompok yang
mulia dari hamba-hamba-Nya.

Manusia seluruhnya akan mati namun masing-masing mereka ada perbedaan dalam
menggapai kemuliaan, karena kemuliaan ada ditangan Allah.

Dalam kehidupan manusia jika kita mau melihatnya dari generasi ke generasi, maka akan kita
dapatkan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk dapat selamat dalam kehidupan
mereka dari kekalahan karena keimanan mereka, namun betapa banyak orang yang
mengalami kerugian dan betapa banyak umat manusia yang mangalami kesengsaraan.

Betapa banyak mereka mengalami kerugian karena mereka telah membunuh nilai yang besar
ini, makna kehidupan tanpa akidah, kehidupan tanpa kebebasan, bahkan mereka kehilangan
nilai-nilai sehingga para oelaku kedzaliman mampu mengalahkan ruh-ruh mereka setelah
terlebih dahulu menguasai fisik mereka.

Allah berfirman : “Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan Karena
orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” (Al-
Buruj:8) hakikat yang harus direnungi oleh orang yang beriman yang menyeru kepada Allah
disetiap tempat dan generasi.

Bahwa pertempuran antara orang-orang beriman dan musuh-musuhnya adalah merupakan


perang akidah, bukan karena yang lain. Bahwa musuh-musuh tidak akan dendam kecuali
karena keimanan, dan tidak membenci mereka kecuali karena akidah yang terpatri dalam
lubuk hati mereka. [2]

Bagi siapa yang merenungi kisah pemuda diatas, maka akan diperoleh pelajaran, bahwa sang
pemuda telah mendapatkan kemenangan karena akidah dan manhajnya, begitupun sang
rahib yang begitu teguh mempertahankan prinsip akidahnya sekalipun jiwanya terancam dan
menjadi korban serta hancur, adapun orang yang buta telah mendapatkan dua kemenangan,
kemenangan saat berada dalam kekuasaan dan hidup dilingkungan raja, memiliki jabatan dan
kekuasaan, dan kemenangan kedua saat dirinya berlepas dari kekufuran menuju akidah dan
iman.

Sang rahib dan orang yang buta telah mendapatkan kekekalan akan nilai-nilai yang agung dan
kemenangan yang hakiki, jauh dari takwil dan tafsir bebas yang menutupi banyak orang
karena kelemahan mereka dan tertutup oleh tirai yang mengitari mereka dengan alasan
mereka telah melakukan itu semua untuk agama.

sang pemudapun cerdik dan cerdas, disaat dirinya memiliki kesempatan yang besar dalam
menyebarkan risalah Tuhannya, diambilnya kesempatan tersebut dengan baik dan
merealisasikan nilai-nilai agung dalam pemahaman nasr dan kejayaan.

sang pemuda dengan pemahamannya yang kuat, daya pandangannya yang jauh ke
depan dan menggunakan berbagai cara untuk memenangkan agama dan aqidahnya, serta
mengeluarkan umatnya dari kesesatan menuju hidayah, dari kekufuran menuju keimanan,
mendapatkan kemenangan saat dirinya sepakat mengambil keputusan ketimbang lari dari
kenyataan, melewati berbagai ringtangan, mengalahkan hawa nafsu, kenikmatan dan
kesenangan hidup di dunia. Mendapatkan kemenangan atas raja yang dzalim dan arogan,
yang telah Allah butakan mata hatinya, sehingga membakar kerajaan melalui tangannya,
yang buta bukanlah matanya namun yang buta adalah hati yang ada di dalam dada. Pemuda
yang cerdas ketika mengatur untuk menghancurkan raja yang kafir dan mengatur jalan
mendapatkan syahadah di jalan Allah SWT.

Sungguh kemenangan yang mulia dalam peperangan antara kufur dan keimanan guna
mempertahankan akidah, dirinya telah mengorbankan diri di jalan Allah hingga dengan cara
itu seluruh umat berbondong beriman kepada Tuhan pemuda tersebut. sungguh hal tersebut
merupakan konsep yang jeli, eksekusi yang cerdas, ide yang bersih dan kemenangan dan
kesuksesan yang menakjubkan.

sang pemuda mendapatkan kemenangannya saat dirinya dijadikan oleh Allah sebagai
tauladan oleh umat setelahnya, selalu diingat dan dikenang dengan baik dihadapan lisan
orang-orang yang beriman, dan Allah juga menjadikannya sebagai lisan kebenaran dan
kejujuran untuk umat setelahnya. Kemenangan yang telah berdatangan dan sampai hingga
akarnya saat seluruh umat beralih kepada agama yang hak dan menuju Tuhan sang pemuda,
mereka beriman kepada Allah yang Maha Esa, kufur terhadap thagut, sehingga memuncak
rasa gila sang raja, hilang akalnya kemudian menggunakan segala cara dan upaya melakukan
teror dan penyiksaan, guna mempertahankan dan melanggengkan kewibawaan dan
kekuasaannya serta untuk memperbudak manusia untuknya.

Karena itulah sang raja yang dzalim membuat parit yang diisi dengan api membara, lalu
menyuruh para tentaranya dan pasukannya untuk menceburkan mereka yang beriman.
Namun dari itu semua secara mengejutkan, walaupun yang lemah tetap lemah, lari orang
yang ingin lari. Jika telah kita dapatkan langkah dan keberanian, hal itulah yang mendorong
ke dalam api neraka dan itu tidak asing, karena iman yang merasuk dalam jiwa mereka
mampu membangkitkan keberanian dan keteguhan, mereka telah mendapatkan inspirasi
dari sang pemuda, seakan mereka telah mendapatkan kenikmatan dalam mengorbankan ruh
dan jiwa mereka dalam mempertahankan akidah dan agama mereka.

Iman yang hakiki menjadikan umat yang asing dan beriman mampu menghancurkan
kedzaliman yang berkepanjangan dalam hidup mereka, tahun-tahun panjang yang
memperbudak mereka oleh penguasa dzalim, walaupun waktu yang pendek yang diiringi
dengan keimanan yang terpatri dalam jiwa dan pengetahuan akan hakikat manhaj rabbani
seperti halnya yang diimani oleh umat yang sejahtera dengan beriman kepada Tuhan
pemuda tersebut, seakan mereka mengenal manhaj dan hidup di dalamnya sebagaimana
yang dialami oleh sang rahib sepanjang hayatnya, atau terbina sebagaimana terbinanya sang
pemuda oleh sang rahib.

Hakikat keimanan ketika bercampur dengan kejernihan hati dan merasuk dalam ruh akan
menghasilkan sesuatu yang menakjubkan. kemenangan yang diraih umat yang beriman
kepada Tuhan pemuda adalah kemenangan bersama yang membawa berkah menunjukkan
akan kesucian aqidah, kejelasan manhaj, kebersihan jalan dan kefahaman hakikat
kemenangan.

Kita tidak akan mendapatkan dalam Al-Quran dan As-sunnah yang menyebutkan
kemenangna kedzaliman, bagaimana akhir dari kehidupan mereka di dunia, dan segala puji
bagi Allah yang memiliki hikmah yang telah menyembunyikan hakikat tersebut kepada kita.
[3].

Memang, terdapat pula dalam akhir kisah mereka seruan kepada mereka dan peringatan:
“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin
laki-laki dan perempuan Kemudian mereka tidak bertaubat, Maka bagi mereka azab
Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar”. (Al-Buruj : 10)

Al-Hasan Al-Bashri berkata : “Lihatlah akan kemuliaan dan kedermawanan ini. mereka telah
membunuh para wali Allah, namun Allah tetap menyeru mereka untuk bertaubat dan mohon
ampun”. [5]

Bahwa akhir dari peristiwa ini menyiratkan makna akan makna-makna kemenangan, siapa
yang mendapatkan kemenangan? yang telah menolong akidah dan agama Tuhannya, namun
dibakar selama beberapa menit, kemudian berpindah pada surga yang penuh dengan
kenikmatan, atau demikian yang memberikan kenikmatan beberapa hari di dunia kemudian
tempat kembalinya –jika tidak mau bertaubat- adalah azab jahannam dan azab yang
membakar?

Apakah ada bandingannya dari api yang membakar pertama dan api yang membakar
kedua??… Api yang membakar di dunia dan api yang membakar di akhirat? sungguh yang
demikian adalah perpindahan yang sangat jauh, orang-orang yang beriman yang terbakar di
dunia, maka mereka mendapatkan “Ganjaran di surga yang mengalir dibawahnya sungai-
sungai” (Al-BUruj : 11) diberitahukan hasil yang tidak diragukan dan diperdebatkan :
“Demikianlah ganjaran yang besar”. bukankah yang demikian adalah kemenangan? ini
adalah di alam akhirat, adapun di dunia manhajnya telah terpatri dalam hati manusia yang
tampak secara jelas.

___________________________________________

[1] Muslim, kitab Zuhud wa raqaiq, bab ashabul ukhdud, no 3005, jil. 3 hal. 2299

[2] Lihat: Ma’alim fi Thariq, fasal; hadza huwa thariq, hal. 173

[3] Lihat: Hakikat Intishar, hal. 13-14

[4] Tafsir Ibnu Katsir, jil. 4, hal. 496

Serial Fiqh Kemenangan dan Kejayaan Dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah (3):
Macam-macam Kejayaan; Kejayaan Dalam Menyampaikan Risalah dan Amanah
(Kejayaah Rasulullah SAW Dalam Menyampaikan Risalah)

“Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan
Kitab-Kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada
(penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya”. (Al-
An’am:92)
Setelah nabi saw melakukan persiapan yang matang untuk membina para sahabat,
membangun pondasi yang kuat atas dasar akidah, akhlak, amniah (kerahasiaan) dan tandzim
(sistem), dan setelah menempuh fase sembunyi-sembunyi sehingga mencapai keberhasilan
yang gemilang, Allah menurunkan firman-Nya :

“Dan berikanlah peringatan kepada keluarga dekat” (As-syuara : 214)

Rasulullah saw segera keluar rumah dan mendaki ke puncak gunung shafa dan menyeru
“wahai penduduk pagi negeri…!! sehingga berkumpullah orang-orang Quraisy. nabi berseru :
wahai anak fulan, wahai anak keturunan Abdul Mutthalib, apa pendapat kalian jika aku
kabarkan bahwa ada pasukan berkuda berada di belakang gunung ini, apakah kalian
mempercayai saya”? mereka menjawab: kami tidak pernah mendapatkan sedikitpun dalam
dirimu kedustaan. nabi berkata lagi : “sesungguhnya saya datang membawa peringatan atas
kalian bahwa dihadapan saya ada azab yang sangat keras”. Lalu Abu Lahab berkata : sungguh
celaka engkau, apakah dengan maksud ini engkau kumpulkan kami? kemudian dia bangkit
dan pergi hingga turun surat :

“Celakalah kedua tangan Abu Lahab dan celaka”. (Al-Masad : 1)

Rasulullah saw memulai dakwah dengan memberikan peringatan kepada keuarganya


yang terdekat, karena saat itu Arab cenderung hidup berkelompok atau ber-kabilah. Sehingga
dimulainya dakwah kepada keluarga, diharapkan dapat membantunya untuk menjadi
penolong, pendukung dan pelindungnya. Sebagaimana juga dakwah di Mekkah harus
memberikan pengaruh khusus terhadap negeri tersebut karena merupakan pusat
peribadatan –aktifitas agama- yang sedang terancam, dan mengubahnya menjadi agama
Islam yang bersih dan memberikan imej positif dan pengaruh yang besar terhadap umat
pada berbagai kabilah, suku dan kelompok yang ada. Walaupun hal ini tidak berarti bahwa
risalah Islam dalam awal perjalanannya terbatas pada suku Quraisy saja. Namun, seperti
yang dijelaskan dalam Al-Quran, islam memulai dakwah kepada Quraisy hanya sebagai
langkah awal dalam merealisasikan risalahnya yang universal.[1]

Walaupun hasil pertama yang didapat langsung terhadap langkah ini adalah penentangan
dan permusuhan terhadap nabi saw dan para sahabatnya oleh suku Quraisy, pendustaan,
makar dan tipu daya yang tersistem, sehingga kaum yang ada di kota Mekkah mulai
membicarakan perseteruan tersebut di setiap pojok dan tempat yang ada, hal ini juga
menjadi keuntungan tersendiri bagi dakwah islam, menjadi saham yang besar dan positif
akan kerasnya dan alotnya permusuhan Quraisy terhadap dakwah Islam, sehingga -secara
tidak langsung- tersebar pula, mulai berkurangnya citra buruk terhadap dakwah, karena tidak
semua manusia menerima tuduhan orang-orang Quraisy, bahkan ada diantara mereka,
secara sembunyi-sembunyi mengikuti mereka dan mencari kebenaran berita tersebut lalu
mendapat keberuntungan dan hidayah.

Adapun sarana yang digunakan pada masa itu adalah lisan, sehingga setiap orang dapat
mendengarnya; antara orang yang tinggi derajatnya hingga orang hina dapat mendengar
akan berita yang dibawa oleh nabi Muhammad saw, sehingga hal tersebut menjadi buah
bibir disetiap sudut dan tempat, dan Rasulullah saw akhirnya mulai berusaha menghalau
jalan yang merintangi dakwah dengan cara lain; yaitu berfikir untuk berpindah tempat
menuju lahan dakwah yang baru.
Hal ini dapat kita lihat pada penjabaran dakwah beliau ke setiap suku dan keluar ke kota Thaif
serta ke Habsyah.

Orang yang pertama mendapatkan dakwah nabi saw adalah suku Quraisy dan penduduk kota
Mekkah khususnya keluarga nabi saw yang terdekat, mereka mendapatkan dakwah dari
mimbar Nabi dengan jelas dan disampaikan akan peringatan akan azab Allah dan siksa jika
mereka tidak beriman terhadap apa yang dibawanya. [2]

Namun suku Quraisy menolak memenuhi dan mengikuti kebenaran yang sudah nyata, sikap
mereka sama dengan sikap umat terdahulu terhadap para rasul mereka, memerangi dakwah
yang -menurut mereka- telah menelanjangi realita dan kehidupan jahili mereka, mencela
sesembahan mereka serta memutus angan-angan mereka; seperti pendapat, ideology dan
wawasan mereka tentang kehidupan, manusia dan alam, bahkan mereka menggunakan
berbagai sarana dan usaha untuk menghentikan dakwah tersebut, membungkam suara
dakwah dan mengekang dan membatasi langkah penyebarannya.

Kemudian -dengan melihat kondisi seperti itu- nabi saw mulai berfikir untuk keluar dari kota
Mekkah dan berdakwah di tempat lain sehingga mampu merealisasikan beberapa tujuan
diantaranya :

1. Mencari tempat yang aman bagi kaum muslimin, sehingga terhindar dari siksaan orang-
orang kafir quraisy dan fitnah mereka, dan tidak mudah dijangkau dan dikuasai.

2. Mencari lingkungan yang mau menerima dakwah dengan lapang dada, disaat para kafir
quraisy menolak dan memusuhinya, dan dari laingkungan ini diharapkan menjadi titik tolak
dan cikal bakal tersebarnya dakwah ke segala penjuru, sebagai realisasi perintah Allah untuk
menyampaikan dakwah keseluruh dunia. [3]

Karena itu hijrahnya kaum muslimin ke Habsyah yang pertama pada bulan rajab tahun kelima
dari kenabian berjumlah 11 orang laki-laki dan 4 wanita keluar dengan berjalan kaki menuju
tepi laut lalu menyebrang menggunakan kapal.

Ummu Salamah –istri nabi saw salah seorang wanita yang ikut berhijrah pertama ke
Habsyah- mengkisahkan situasi dan kondisi yang dialami oleh para sahabat yang melakukan
hijrah, dia berkata : “ketika kota Mekkah menjadi sempit bagi kami dan para sahabat Rasul
saw banyak yang disiksa dan difitnah, mereka melihat begitu beratnya penderitaan yang
dialami dalam berpegang teguh terhadap agama yang mereka anut sementara Rasulullah
saw sendiri tidak mampu menolong mereka, karena beliau sendiri juga mengalami hal serupa
yang datang dari kaumnya dan pamannya sendiri, tidak bisa membarikan sesuatu yang dapat
mengobati penderitaan mereka, sehingga Rasulullah saw bersabda kepada mereka:
“sesungguhnya di negeri Habsyah ada seorang raja yang tidak pernah melakukan kedzaliman
kepada siapapun, pergilah kalian ke negerinya hingga Allah membukakan jalan keluar bagi
kalian terhadap penderitaan yang menimpa kalian”. Maka kamipun keluar dan
berkumpul lalu pergi dari rumah terbaik menuju tetangga terbaik, demi keamanan agama
kami dan tidak takut akan kedzaliman.” ([4])

Hijrahnya kaum muslimin ke negeri Habsyah memiliki tinjauan strategis dari sisi politik,
informasi dan dakwah, dan pilihan nabi saw ke negeri Habsyah juga memiliki tujuan strategis
dan wawasan yang luas; karena “beliau melihat apa yang dapat diambil dari sisi internal dan
eksternal; menyelamatkan dakwah dari ancaman, sehingga mendapatkan akarnya yang
meluas di jazirah Arab antara orang beriman yang kokoh keimanannya dan orang kafir yang
keras kepala dan kuat pertentangannya dan berusaha menguasai dan mengalahkannya,
kedengkian yang sangat keras terhadap dakwah dan para pengikutnya”.

Nabi saw melihat bahwa di luar jazirah arab, terdapat seorang raja Persia yang telah
dibutakan oleh api, dan raja Romawi yang telah memperhamba raja dan dunia, adapun di
Habsyah masih ada secercah harapan dari kebenaran risalah nabi Isa AS, di dalamnya
terdapat seorang raja yang tidak mendzalimi rakyatnya dan orang lain yang berada di
negerinya.

Hal ini menunjukkan akan perhatian Rasulullah saw terhadap apa yang terjadi dan kondisi di
luar jazirah Arab dan pengetahuan beliau terhadap negeri-negeri yang berada diluar dan
karakter setiap Negara tersebut. [5]

Adapun hijrah merupakan salah satu sarana dari berbagai sarana transformasi dalam islam;
karena keluarnya kaum muslimin dari negeri mereka pada masa awal pembentukan menjadi
pertanyaan besar di tengah masyarakat yang penuh dengan kedustaan, kedengkian dan
pengelabuan agama yang baru, mereka keluar meninggalkan tanda tanya dalam fikiran
manusia: apa yang membuat mereka keluar meninggalkan negeri, harta dan keluarga
mereka? Sungguh ini merupakan perkara yang besar!!?

Adapun para transformer Islam pertama telah berhasil mencapai negeri Habsyah dengan
konsep yang bijak dan sistem yang terarah untuk menyebarkan dakwah Islam dan
mengumumkannya di setiap tempat mereka berada, dengan membawa surat dari Rasulullah
saw untuk Najasyi yang mengarahkan akan kebaikan umat Islam dan menyerunya kepada
Islam. [6]

Demikianlah, kita melihat bahwa pemilihan waktu dan tempat bukan tiba-tiba dan hanya
sekedar lari dari siksa saja, namun dalam usaha memelihara dan menjaga suatu
kelompok yang dapat dilestarikan di kota Mekkah tanpa siksaan yang merusak dan
menghancurkan. [7]

Para transformer pertama Islam seperti duta yang ada pada saat ini, yang memiliki tujuan
khusus yaitu syi’ar “TIdak ada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah”, berusaha
dengan sungguh-sungguh untuk menyebarkannya, dan melindungi kaum lemah dari
penindasan pemuka Quraisy, mempertahankan keterasingan moral mereka, memelihara
agama mereka, membuka lahan baru untuk berdakwah kepada Allah, menghindar dari
kekejian kafir Qruraisy kepada mereka yang menandaskan akan sikap keras mereka terhdap
dakwah, dan mengajak menjadikan para penduduk Habsyah untuk mendahului Quraisy
dalam melindungi mereka dari pengusiran dan penghinaan sehingga yang tadinya hina
menajdi mulia, yang tadinya lemah dan asing menjadi kuat dan dikenal. Semua itu
merupakan pengaruh positif, sehingga tidak ditemukan didalamnya pengaruh negative
kecuali sedikit, diantara pengaruhnya adalah; bahwa perlindungan raja dan penduruk
Habsyah terhadap kaum muslimin dari kedengkian kafir Quraisy, membuat semakin
bertambah kedengkian, makar dan permusuhan mereka terhadap islam dan kaum muslimin.
[8]

Dan ketika terdengar isu oleh kaum muslimin bahwa orang-orang Qurasiy telah masuk Islam
dan berhenti dalam menyiksa Nabi saw, mereka mulai kembali ke kota Mekkah, namun
ternyata sebaliknya, bahkan kondisinya lebih dari itu sehingga Nabi saw mengijinkan mereka
kembali untuk berhijrah kedua kalinya, dan akhinya sebanyak 100 orang dari kaum laki-laki
dan wanita melakukan Hijrah dan menetap disana dengan aman dan damai [9].

Ibnu Ishaq [10] menceritakan tentang dorongan hijrah yang kedua, beliau berkata : “ketika
bertambah ujian dan fitnah yang dialami oleh sahabat Rasulullah saw, dan inilah fitnah
terakhir yang menjadikan mereka keluar dan hijrah menuju negeri Habsyah” [11].

Quraisypun tidak tinggal diam. Setelah mendengar berita hijrahnya


para pengikut Muhammad ke Habsyah, mereka juga mengutus Amru bin Al-Ash dan Abdullah
bin Abi Rabi’ah ke Habsyah sambil membawa hadiah untuk diserahkan kepada raja Najasyi
dan para kaisar disana, lalu keduanya berjumpa dengan raja Najasyi dan meminta untuk
mendeportasi orang-orang Mekkah dari kalangan muslimin yang hijrah kepadanya. Saat itu
najasyi tidak segera memutuskan namun memanggil salah seorang diantara mereka dan
bertanya tentang agama mereka yaitu Ja’far bin Abi Thalib. Maka Ja’far bin Abi Thalib berkata
: “Wahai raja, sebelumnya kami adalah umat/kaum yang musyrik, kami menyembah berhala
dan memakan bangkai, berbuat dzalim kepada tetangga, menghalalkan yang haram,
sebagian kami dengan yang lainnya saling membunuh dan menumpahkan darah, tidak
menghalalkan sesuatu yang dihalalkan dan tidak mengharamkan sesuatu yang diharamkan,
namun setelah Allah mengutus seorang nabi dari jiwa kami sendiri, kami mengetahui
kepribadian baliau yang selalu menepati janji, jujur dan amanah, lalu beliau menyeru kami
untuk menyembah Allah semata dan tidak men-syirikkannya, menyambung tali silaturrahim,
berbuat baik kepada tetangga, melakukan shalat dan puasa serta tidak menyembah kepada
selain-Nya”

Setelah mendengar keterangan tersebut raja Najasyi berkata : Apakah ada bukti terhadap
kebenaran yang engkau bawa? Karena sang nabi telah mengajak dan menyeru kepada para
pemimpinnya dan menyuruh mereka untuk menyebarkan lembaran-lembaran. Maka
Ja’farpun berkata : betul, kami membawanya. Raja berkata : apakah dia berperang untuk
mempertahankan apa yang dibawanya. Maka beliaupun membacakan awal surat “kaf ha ya
ain shad” [12] (surat Maryam) maka Najasyipun menangis sehingga membasahi jenggotnya,
begitpun para uskup juga menangis sehingga membasahai lembaran-lembaran mereka
kemudian berkata : sungguh ucapan itu keluar dari lentera yang dibawa oleh nabi Isa..maka
pergilah kalian dengan petunjuk menuju hidayah.

Ketika utusan Quraisy merasa gagal dalam usaha mendeportasi mereka, pada hari berikutnya
Amru bin al-ash melakukan manuver kembali terhadap sikap kaum muslimin tentang nabi Isa
AS, dia berkata kepada Najasyi : wahai raja, mereka telah berkata tentang nabi Isa dengan
ucapan yang mulia, maka Najasyipun mengutus seseorang untuk menanyakan perihal
tersebut, maka utusan tersebut bertanya tentang hal tersebut, maka Ja’far berkata
kepadanya : “kami menganggap nabi Isa adalah hamba Allah dan utusan Allah, kalimat dan
ruhnya ditiupkan kepada Maryam yang suci dan ahli ibadah.

Najasyipun berkata : “Tidak ada selain itu tentang nabi seperti yang anda ucapkan.” Maka
Najasyipun memberikan jaminan keamanan kepada kaum muslimin sehingga mereka dapat
tinggal disana menjadi sebaik-baik tetangga di tempat yang sebaik-baiknya seperti yang
dikisahkan oleh Ummu Salamah RA. [13]

Usaha Quraisy mengutus orang untuk mendeportasi kaum muslimin yang hijrah ke negeri
Habsyah menunjukkan pengetahuan mereka akan bahaya jika kaum muslimin mampu
mendapatkan tempat yang memberikan jaminan keamanan mereka di dalamnya, negeri
Habsyah mayoritas penduduknya Nasrani sementara rajanya dikenal adil, dan letaknyapun
berdekatan dengan kota Mekkah. Hal ini -disinyalir- merupakan bahaya yang akan
mengancam posisi Quraisy pada masa mendatang.

Hal ini juga membuka front baru bagi Quraisy yang dapat mengalahkan mereka secara
maknawi (spiritual), politik dan informasi dihadapan kaum muslimin yang mematikan,
ancaman yang akan menimpa mereka dikemudian hari melalui retorika yang rapi dalam
menyampaikan dakwah dan risalah Allah.

Adapun pemimpin perang politik, dakwah dan akidah ini adalah Ja’far bin Abi Thalib, sosok
yang memiliki kejujuran dalam berbicara, fasih lisannya, kuat argumentasinya sehingga
Najasyi terpengaruh dengan ucapannya dan gagal keinginan makar kafir Quraisy serta
tampak keabsahan iman dalam wajah Najasyi.

Ja’far mampu melawan argumentasi Quraisy dalam propaganda yang menyesatkan dengan
begitu detail, objektif, jujur, otentik disertai dengan data dan sumber yang hakiki. Beliau
menyampaikan apa yang didapat dan didengar dari Nabi saw sebagai jawaban dari setiap
pertanyaan yang diajukan Najasyi tentang nabi Isa AS tanpa ada kebohongan, tipu daya
ataupun nifak, tampak diwajah Najasyi cahaya keimanan yang jujur dan benar tanpa diikuti
rekayasa kemudian berkata kepada para muhajirin : “Pergilah kalian, kalian bebas hidup di
bumi saya dan mendapat jaminan keamanan, barangsiapa yang mencela kalian maka atasnya
wajib membayar denda –hal ini diulang tiga kali-, saya tidak suka ada yang memberikan
kepada saya dibelakang hadiah emas kemudian saya menyiksa salah seorang diantara kalian.
Kembalikanlah hadiah tersebut kepada pemiliknya karena saya tidak membutuhkan itu, demi
Allah saya tidak mengambil uang suap, jika ada ketaatan manusia kepada saya maka sayapun
harus taat dalam urusan mereka di dalamnya.

Sungguh tampak jelas, antara hati yang telah dipenuhi oleh kedengkian dan kemarahan
terhadap islam dan kaum munajirin yang teleh mendapatkan ketentraman dalam beribadah
dan menyebarkan agama dengan hikmah dan mauidzah hasanah. Najasyi raja negeri
Habsyah yang beriman kepada Nasrani dengah benar, sehingga dakwah mendapatkan
pendukung baru dan bertambah luas daerah dakwah kaum muslimin serta mendapatkan
kesuksesan dalam pertempuran politik dan propaganda, dakwah dengan taufik dan izin Allah
SWT. [14]

Saat itu, kaum muslimin tinggal di Habsyah hingga Islam eksis di kotaMadinah, lalu sebagian
dari mereka ada yang ikut hijrah ke Madinah sementara Ja’far dan sebagian lainnya tetap
tinggal disana hingga kemenangan atas khaibar diraih pada tahun 7 H. [15]

Rasulullah saw tetap berusaha memperluas kerja dakwahnya; sehingga beliau keluar menuju
Thaif dan menyampaikan islam kepada para pemuka warga Thaif, namun mereka
menolaknya dan bahkan mereka memperlakukan Rasul dengan buruk dan tidak ramah, maka
Rasulullash saw pun bersegera meninggalkan mereka. Lalu Rasulullah saw kembali ke kota
Mekkah hendak meneruskan tugas dakwahnya disana; menyampaikan risalah, menunaikan
amanah dan menasihati umat, dan beliau tidak masuk kota Mekkah kecuali dengan planning
atau telaah yang detail dan rapi terhadap segala kondisi dan situasi yang terjadi saat itu,
bahkan beliau selalu mempelajari dahulu model dan konsep tahapan yang akan datang.
Beliau melihat dengan penglihatannya yang mendalam dan pandangannya yang jauh ke
depan untuk berkomunikasi dengan Mutham bin Adi, pemuka suku Bani Naufal bin Abdi
Manaf dan memintanya untuk berdiskusi, maka pemuka suku tersebut menerima ajakan
Nabi. Kemudian beliau bersama Zaid bin Haritsah masuk dalam penjagaan ketat dari Bani
Naufal yang berada disampingnya dengan pedang menghunus, sementara Rasulullah
melakukan ibadah shalat di Masjid haram, mereka menjaganya hingga Rasulullah saw
menyaksikan bahwa mereka telah masuk rumahnya.

Adapun Bani Naufal merupakan kelompok yang kuat ditengah masyarakat Quraisy yang
memiliki urf dan taqlid yang disucikan, maka Rausulullah saw memanfaatkan undang-undang
yang ada saat itu dan mendiskusikannya dengan penuh ketelitian, hati-hati dan strategi yang
jitu demi kemaslahatan dakwah. [16]

Demikianlah saat Rasulullah saw memasuki kota Mekkah setelah pulang dari kota Thaif, lalu
memulai kembali dakwahnya hingga datang waktu musim haji: menjelaskan tentang Islam,
meminta mereka akan dukungan dan bantuan hingga tercapai kalam Allah, dan kadang
Rasulullah saw bergerak pada saat datang musim niaga dan musim haji yang didalamnya
berkumpul banyak suku, bahwa Rasulullah membawa bendera dakwah dari Alah guna
melindunginya agar leluasa dalam penyampaian dakwah Allah kepada manusia, dan dari
dukungannya maka akan tampak usaha keras dalam menegakkan kekuasaan terhadap
dakwah, memberikan dukungan terhadap dirinya dan para pengikutnya,
mendapat perlindungan dan keamanan, sehingga dengan itu semua memungkinkan dakwah
dapat bergerak dengan leluasa di muka bumi.

Dan merupakan taufik Allah SWT terhadap dakwah, bahwa dijadikannya kota Madinah
Munawwaroh sebagai tempat untuk hidup pada kondisi tertentu, dan dijadikan sebagai
ladang dawkah Islam yang sangat potensial, sehingga bersatu beberapa unsur yang tidak
terdapat pada selainnya :

1. Adanya pertikaian dan peperangan yang terjadi antara dua suku di Madinah: Al-Aus dan
Al-Khazraj, keduanya selalu melakukan peperangan yang sengit dari hari ke hari, dan hal ini
terus berlangsung yang oleh para pemuka dua mengikuti para sekutu mereka di kota Mekkah
dan Thaif dan kota lainnya yang menjadi batu penghalang jalan dakwah, kecuali setelah lahir
para genarasi baru yang siap menerima kebenaran dan ditambah dengan tidak adanya
pemuka suku setelahnya yang disegani oleh semua suku dan menerima segala titahnya.
Sehingga mereka membutuhkan seseorang yang bisa membimbing dan melindungi mereka
di bawah kepemimpinannya, maka pada saat itulah Allah membangkitkan nabi Muhammad
saw yang datang dengan berhijrah kepada mereka, beliau hadir setelah banyak dari para
pemimpin mereka yang gugur akibat peperangan yang terjadi. Rasulullah saw hadir ditengah
mereka dengan membawa hidayah dan petunjuk, sehingga mereka mau menerima dan
masuk ke dalam agama Islam [17].

Berdampingannya mereka dengan yahudi yang membuat mereka menyadari –walaupun


sepele- dengan perkara wahyu langit, apalagi berita yang disampaikan oleh para para
sebelumnya, mereka –dalam kehidupan bermasyarakat- selalu menunggu
akan petunjuk tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari, tidak seperti suku Quraisy yang
tidak ada di tengah mereka ahlu kitab, tujuannya adalah mendengarkan berita tentang
wahyu Allah.
Dan ketika Allah berkehendak menyempurnakan kemenangannya, dipilihkan enam orang
dari warga madinah untuk Nabi saw yang dipertemukan dengan mereka di Aqobah –aqobah
Mina- maka Rasulpun menyampaikan kepada mereka al-islam, lalu mereka kembali ke
Madinah dan menyebarkan apa yang mereka terima dari nabi saw di Mekkah[18], inilah titik
awal kemenangan dan kejayaan Islam sebagaimana yang banyak disebutkan oleh para ahli
sejarah[19].

Madinah menjadi titik awal yang baik dalam penyebaran Islam, padahal yahudi sering
mengancam dengan akan datangnya Nabi yang pada saatnya nanti akan membunuh suku
Aus dan Khazraj seperti dibunuhnya kaum Ad dan kaum Irm. Sementara itu Arab merupakan
kaum yang cerdas dan bersahaja yang memiliki pancaran cahaya kebenaran diantara mereka,
seakan ini merupakan petunjuk akan kemenangan dan kejayaan dakhwa, sehingga para
utusan sebelumnya mampu dan berhasil menyampaikan risalah dan menunaikan amanah.

Ketika datang tahun dan musim haji berikutnya hadir utusan yang berjumlah dua kali lipat
dari jumlah sebelumnya -12 orang laki-laki dari warga madinah yang telah beriman-
mereka melakukan baiat bersama nabi saw untuk tidak melakukan syirik kepada Allah
dengan sesuatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak melakukan perbuatan yang
dzalim dan dusta dari yang mereka buat-buat baik dihadapan atau dibawah kaki mereka,
tidak melakukan maksiat dalam suatu kebaikan. Baiat ini dikenal dengan baiat aqobah
pertama.

Dari Ubadah bin Shamit ra ia berkata: “Saya merupakan salah seorang dari para naqib yang
berbaiat kepada Rasulullah saw, dia berkata lagi : kami berbaiat untuk tidak melakukan syirik
kepada Allah swt dengan sesuatu apapun, tidak berzina, tidak mencuri, tidak membunuh
jiwa yang telah diharamkan Allah kecuali dengan cara yang hak, tidak merampas, tidak
bermaksiat, karena surga sebagai ganjarannya jika kami melakukan itu semua, namun jika
kami menyimpang dari itu semua maka keputusannya ada di tangan Allah” [20].

Rasulullah saw lalu mengutus bersama para peserta baiat Mus’ab bin Umair untuk
mengajarkan mereka agama dan membacakan ayat Al-Quran, sehingga pada saat itu yang
pandai membaca Al-Quran diangkat menjadi imam dalam shalat. [21]

Rasulullah saw telah memilih seseorang dengan kepribadiannya, dan dengan kondisi yang
terjadi di madinah pada sisi lain, dimana Mus’ab bin Umair selain beliau hafal Al-Quran, juga
memiliki kecerdasan, kepribadian yang tenang, akhlak yang baik dan bijaksana, ditambah
dengan kekuatan imannya serta kesemangatannya terhadap agama, karena itu beliau
mampu selama beberapa bulan menyebarkan islam di rumah-rumah yang ada di kota
Madinah dan mendapatkan dukungan dari para pemuka dan pemimpin yang ada disana;
seperti Sa’ad bin Mu’adz dan Asid bin Hudlair, keduanya masuk Islam dan diikuti oleh banyak
kaumnya untuk memeluk agama Islam. [22]

Da’wah Mus’ab di Madinah sangat tepat dan mencapai sasaran dan target, beliau
memberikan penjelasan tentang ajaran-ajaran islam, sebagai agama baru dari mereka,
mengajarkan Al-Quran karim dan Tafsirnya, memperat tali ukhuwah islamiyah antar
kelompok dan suku –dari satu sisi-, dan antara nabi saw dengan sahabatnya di kota Makkah
Al-Mukarramah, guna mendapatkan tempat yang aman terhadap da’wah Islam. Sementara
itu peran informasi dan arahan yang dilakukan oleh Mus’ab di kota Madinah juga memiliki
pengaruh yang besar untuk mengubah kondisi tahapan setelahnya, kota Madinah terbuka
dan futuh dengan Al-Quran dan da’wah dan menjadikan kaumnya memilki loyalitas yang
tinggi; baik yang berasal dari kaum Aus dan Khazraj terhadap aqidah islam dan syariat Islam
sehingga dibentuklah kelompok utusan untuk mengadakan ba’iat aqobah kedua bersama
nabi saw, sebagai langkah untuk memindahkan dakwah kepada fase yang baru dan tahapan
yang berbeda.

Melalui kisah yang kita pelajari tadi dapat kita lihat, bahwa melalui pembinaan individu
muslim yang siap mengemban taklif dakwah dan berkorban untuknya, akan mampu
melebarkan sayap dakwah ke berbagai penjuru dan tempat; seperti dakwah Ja’far di
Habsyah, yang memiliki peranan dalam menyampaikan da’wah dan menunaikan amanah di
bumi Habsyah, dan Mus’ab bin Umair yang telah membuka kota Madinah dengan sendirinya
sehingga banyak dari penduduk Madinah yang masuk Islam.

Bahwa Nabi saw dalam fase Makkah ini telah menyampaikan risalah dan menunaikan
amanah dangan cara yang terbaik dan -tentunya- berkat bantuan dari Allah, dukungan dan
pertolongan-Nya sehingga da’wah tetap eksis.

Dengan itu pula banyak para juru da’wah dari masa kemasa yang berjalan mengikuti manhaj
nabi saw dalam menyampaikan da’wah dan menunaikan amanah, Allah memberikan
kejayaan kepada mereka sehingga mereka dengan mudah menunaikan kewajiban mereka
dalam berda’wah seperti : Imam Ahmad bin Hambal, Ibnu Taimiyah, al-Iz bin Abdussalam,
Muhammad bin Abdul Wahab di Jazirah arab, Muhammad bin Ali As-sanusi di Libya, Said
Nursi di Turki, Abdul Hamid bin Badies, Hasan Al-banna di Mesir dan yang lainnya. Diantara
mereka ada yang syahid di jalan da’wah, sehingga tampak setelah kematian mereka
menyebarnya cahaya Islam di tengah kegelapan jahili masa kini, dalam sejarah hidup mereka
diketahui bahwa kehidupan para salaf dan khalaf akan perlindungan Allah dan penjagaan-
Nya, pemeliharaan dan tatsbitnya (peneguhan-Nya) untuk mereka dalam ujian dan cobaan,
Allah menggerakkan manusia agar mau mendengar seuran dan dakwah para ulama dan
nasiahtnya, mereka adalah para qiyadah yang hidup untuk akidah dan agama dan mati di
jalan Allah SWT.

___________________________________

[1]. Dirasah fi sirah nabawiyah, DR. Imaduddin Khalil, hal. 124-125

[2]. Lihat Al-Ghuraba al-awwalun, Salman Al-audah, hal. 167

[3]. Ibid

[4]. Ibnu Hisyam, jil. 1, hal. 334

[5]. Lihat: Al-Wufud al-i’lamiyah fil asr al-makky, Ali Sultan, hal. 111

[6]. Ibid. hal 114

[7]. Ibid. hal 115

[8]. Lihat: Al-Ghurab Al-awwalun, hal. 117

[9]. Ibid. hal 169


[10]. Beliau adalah Muhammad bin Ishaq bin Yasar, pengarang kitab sirah. Lihat: Siyar A’alam
nubala, jil. 7, hal. 34

[11] As-siyar wal maghazi, Ibnu Ishaq, hal 213, tahqiq suhail zakkar

[12]. Surat Maryam

[13]. Lihat: Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam

[14]. Lihat: Al-wufud fil ahdi al-makki, hal 123

[15]. As-sirah an-nabawiyah as-shahihah, DR. Akram Dhiya Al-Umri, jil. 1, hal. 176

[16]. Lihat: Usulul fikri al-siyasi fil qur’an al-karim, DR. At-tijani, hal. 172-180.

[17]. kitab al-manaqib, Al-Bukhari, manaqib Al-anshar, jil. 4, hal. 267, no. 7777

[18]. Lihat: Ibnu Hisyam, jil. 1, hal. 430

[19]. Ibid

[20]. Muslim, kitab al-hudud, bab. kitab al-hudud kafarat li ahliha, jil. 3, hal. 1333, no. 1079

[21]. Lihat: Sirah Ibnu Hisyam, jil. 1, hal. 431

[22]. Ibid

Serial Fiqh Kemenangan dan Kejayaan Dalam Al-Queran dan Sunnah Nabawiyah (3):
Macam-macam Kejayaan; Kejayaan Dalam Menyampaikan Risalah dan Amanah
(Ashabul Qoryah)

Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya kami menolong rasul-rasul kami dan orang-orang yang
beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)”. (Ghafir :
51) dan Allah SWT juga berfirman : “Dan Sesungguhnya kami Telah mengutus sebelum kamu
beberapa orang Rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa
keterangan-keterangan (yang cukup), lalu kami melakukan pembalasan terhadap orang-
orang yang berdosa. Dan kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman”.
(Ar-Ruum : 47) Allah juga berfirman: “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama)
Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (Muhammad : 7)
Allah juga berfirman : “Dan Sesungguhnya Telah tetap janji kami kepada hamba-hamba kami
yang menjadi rasul, (yaitu) Sesungguhnya mereka Itulah yang pasti mendapat pertolongan.
Dan Sesungguhnya tentara Kami. Itulah yang pasti menang”. (As-shffaat : 171-173)

Ayat-ayat diatas dan yang serupa dengannya menunjukkan akan pertolongan Allah dan
inayah-Nya dalam memperkokoh orang-orang yang beriman jika berusaha menegakkan
dakwah dan mengemban amanat yang sulit ini dijalaninya; baik sang da’i adalah seorang
rasul (utusan) yang mulia atau seorang da’i yang beriman. Keteguhan, kemenangan dan
kejayaan ini diberikan dalam kehidupan dunia sebelum akhirat.

Kita temukan dalam Al-Quran dan sunnah nabi saw, bahwa diantara para nabi ada yang
dibunuh oleh orang-orang kafir seperti nabi Yahya dan Zakaria AS, dan selain keduanya, dan
diantara mereka ada yang kaumnya berusaha membunuhnya namun Allah melindungi dan
menyelamatkannya seperti nabi Muhammad saw dan nabi Isa AS, dan seperti nabi Ibrahim
AS yang meninggalkan kaum dan keluarganya berhijrah ke negeri Syam, dan kita temukan
pula orang-orang yang beriman sepanjang masa dan waktu yang menghadapi banyak siksaan
yang pedih; diantara mereka ada yang diceburkan ke dalam lubang yang penuh dengan api
membakar dan ada juga yang dibunuh, namun mereka tetap sabar dijalan Allah mengharap
ridla Allah dan tidak mendendam, bahkan ada diantara mereka juga yang hidup penuh
dengan kesengsaraan, siksaan dan tekanan. Sehingga dari kondisi itu ada yang bertanya-
tanya; Dimanakah janji Allah berupa kemenangan, kebahagiaan dan kekuasaan? Padahal
mereka telah diusir, dibunuh dan disiksa? [1]

As-syahid Sayyid Qutb berkata : “Syaitan telah masuk kedalam jiwa dari berbagai tempat
masuk, dan berusaha mempengaruhi kerja manusia: sesungguhnya manusia diukur dari
phenomena ini, mereka lalai akan banyak nilai dan hakikat dalam perhitungan. Manusia
mengukur dengan masa yang pendek dan tempat yang terbatas, ukuran manusia yang
sempit, adapun ukuran yang menyeluruh, membentang dalam berbagai permasalahan dalam
lingkup yang luas; baik masa ataupun waktu, tidak terbatas pada masa kemasa, dan bukan
pada tempat ke tempat yang lain, jika kita memandang pada permasalahan iman dan
keyakinan maka kita akan mendapatinya memberikan kemenangan tanpa ada keraguan.
Kemanangan pada masalah keimanan adalah kemenangan pemiliknya, dan tidaklah pemilik
qadhiyah ini terpokus pada eksistensi internal dan ekternal saja, namun pertama kali yang
dituntut dari keimanan mereka adalah menafikan, menyembunyikan kemudian
menampakkannya.

Manusia juga sempit dalam memahami makna kemenangan dalam gambaran yang tertentu
dan terkonsep, pendek wawasan mereka, padahal bentuk kemanangan banyak modelnya,
kadang memiliki kesamaan dengan sebagian lainnya dengan bentuk kekalahan jika
pandangannya adalah pendek… Ibrahim AS diceburkan ke dalam api namun tidak surut
keimanan dan dakwahnya…apakah ini merupakan sikap kemenangan atau kekalahan? Tidak
ada yang ragu tentunya – dalam logika akidah- bahwa sikap tersebut merupakan puncak
kemenangan ketika diceburkan kedalam api yang panas. Dan merupakan kemenangan kedua
saat beliau selamat dari api tersebut, ini merupakan gambaran dan yang lain juga merupakan
gambaran. Dan keduanya sangatlah jauh dari gambaran kemenangan.. walaupun pada
hakikatnya sangatlah dekat). [2]

(Betapa banyak yang syahid tidak menikmati dan merasakan nikmatnya kemanangan dalam
mempertahankan akidahnya dan dakwahnya walaupun hidup seribu tahun lamanya, namun
ia mendapatkan kemenanganan dengan kesyahidannya, dan mampu memberikan gejolak
hati dari nilai-nilai yang besar dan memotivasi beribu-ribu generasi kepada kerja besar,
sehingga tetap menjadi pemicu dan penggerak terhadap anak-anak dan cucu-cucu, bahkan
terhadap sebuah langkah sejarah sepanjang generasi dan masa.

(Sesungguhnya ada berbagai kondisi yang dapat menyempurnakan kemenangan dalam


bentuknya yang jelas dan dekat; jika memiliki hubungan dengan bentuk yang kekal dan tetap;
Nabi Muhammad saw telah mendapatkan kemenangan dalam perjalanan hidupnya, karena
kemenangan ini memiliki hubungan yang erat akan tegaknya aqidah dengan hakikatnya yang
sempurna dimuka bumi ini. Bahwa akidah ini tidak sempurna secara penuh kecuali dengan
menguasai kehidupan jamaah dan mengendalikan mereka semua, dimulai dari individu
menuju daulah, sehingga Allah berkehendak memberikan kemenangan kepada pemilik
akidah dalam hidupnya, agar dapat mewujudkan akidah ini dalam bentuknya yang sempurna,
meninggalkan ketetapan realitas sejarah yang terbatas, karena itu kemenangan erat
kaitannya dengan bentuk yang lain yang berjauhan, bentuk yang terbatas dengan bentuk
yang nyata sesuai dengan ketentuan Allah dan tarbiyah-Nya).

Sesunngguhnya kemenangan dan kejayaan begi orang yang beriman memiliki banyak jenis
dan bentuk, diantaranya adalah:

1. Kemenangan menyampaikan risalah dan amanah

2. Dikalahkannya musuh-musuh Allah

3. Tegaknya daulah Islamiyah di bumi persada

Inilah yang coba kita akan bahas dalam serial fiqh kemenangan dan kejayaan dalam Al-Quran
dan Sunnah Nabawiyah.

1. MENYAMPAIKAN RISALAH DAN AMANAH

Diantara ragam kejayaan yang disebutkan dalam Al-Quran Al-Karim adalah kejayaan Allah
terhadap para duat dalam menyampaikan risalah dan menunaikan amanah yang disambut
dengan baik oleh umat lain, hal tersebut seperti disebutkan dalam Al-Quran dalam berbagai
contoh berikut :

a. ASHABUL QORYAH

Allah berfirman :
“Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-
utusan datang kepada mereka. (yaitu) ketika kami mengutus kepada mereka dua orang
utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; Kemudian kami kuatkan dengan (utusan) yang
ketiga, Maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang di utus
kepadamu”. Mereka menjawab: “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah
yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta
belaka”. Mereka berkata: “Tuhan kami mengetahui bahwa Sesungguhnya kami adalah orang
yang diutus kepada kamu”. Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah
Allah) dengan jelas”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang Karena kamu,
Sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu
dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami”. (Yasin: 13-18)

Bagi yang menelaah secara mendalam ayat diatas akan tampak jelas beberapa nilai
kemenangan dan kejayaan yang telah diwujudkan oleh para rasul karena itu mereka telah
meraih kemenangan dengan nyata dan pasti. Sementara ashabul qoryah (penduduk negeri)
mendapatkan kerugian. Karena itu makna kemenangan tampak dalam hakikat berikut:
1. Kejayaan Allah kepada para rasul karena telah mampu menyampaikan risalah dan tidak
menyerah dengan syubhat yang dilancarkan oleh penduduk negeri dan ancaman mereka,
misi mereka adalah “Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah)
dengan jelas” (Yasin : 17) Barangsiapa yang telah mampu menunaikan kewajiban yang telah
dibebankan kepadanya maka sesungguhnya ia telah mendapatkan kemenangan,
keberuntungan dan kesuksesan.

2. Bahwa dipenuhinya seruan dakwah oleh salah seorang penduduk negeri dan dukungannya
terhadap dakwah tauhid dengan terang-terangan merupakan kemenangan dan kesuksesan
baginya dan bagi para rasul, walaupun kebanyakan penduduk negeri meolaknya dengan
keras terhadapnya kerena mereka merasa dihinakan olehnya, dan penghinaan mereka itu
merupakan kemenangan bagi para rasul.

3. Bahwa syahidnya seseorang yang datang dari kota yang jauh guna menolongnya dan
dakwah tauhid memberikan bekas yang mendalam dalam hati manusia merupakan nilai yang
sangat besar, memotivasi beribu generasi kepada kerja besar, dengan ceramah seperti
ceramahnya terakhir kali yang ditulis dengan darahnya, menjadi pemicu dan penggerak
pemilik keimanan sepenjang masa dan zaman semenjak diturunkannya Al-Quran Al-Karim
hingga diwariskannya bumi ini kepada siapa yang dikehendaki, dan terbunuhnya seseorang di
jalan dakwah tauhid merupakan penyebab mendapat kemenangan abadi dengan
dimasukkan kedalam surga. Allah berfirman : “Katakanlah: masuklah kamu kedalam surge”.
(Yasin : 26).

Allah telah memberikan kejayaan tauhid dalam hatinya hingga membuatnya semangat
memberikan petunjuk kepada kaumnya, tidak membawa sedikitpun dengki dan kebencian
terhadap siksaan bahkan pembunuhan yang dilakukan oleh kaumnya.

Ini merupakan kemenangan yang sangat agung yang terdapat dalam jiwa manusia. “Ia
berkata: “Alangkah baiknya sekiranya kaumku Mengetahui. Apa yang menyebabkan Tuhanku
memberi ampun kepadaku dan menjadikan Aku termasuk orang-orang yang dimuliakan”.
(Yasin : 26-27)

4. Bahwa sampainya dakwah ketempat yang paling jauh dari pusat kota menandakan usaha
yang gigih yang dilakukan oleh para rasul dan menunjukkan nilai-nilai yang agung dari
kejujuran, keikhlasan yang terpatri dalam jiwa mereka demi tersampaikannya dakwah.

5. Bahwa kemenangan-kemenangan para rasul dan da’i yang datang dari ujung kota
menyebabkan kehancuran kaum yang telah mendustakan dakwah para rasul. Allah berfirman
: “Dan kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukanpun
dari langit dan tidak layak kami menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan
satu teriakan suara saja; Maka tiba-tiba mereka semuanya mati”. (Yasin : 28-29)

Para duat kepada Allah sangat membutuhkan penelaahan terhadap kisah ashabul qoryah,
merenungkan dan memikirkan orintasinya dan nilai akhirnya. Saya ingin menelisik salah
seorang yang telah terpatri dihatinya keimanan, apa yang dilakukan dengan keimanan yang
agung tersebut.

Assyahid Sayyid Qutb mencoba menjelaskan dengan rinci contoh yang baik dari seorang yang
beriman yang menyeru dakwah rasul, membersihkan dirinya sebagai pilihan, dia berkata :
“Ini merupakan penerimaan fitrah yang bersih terhadap dakwah yang benar dan lurus, di
dalamnya ada kejujuran, kesederhanaan, kebebasan, istiqomah pengetahuan dan menerima
ritme yang kuat terhadap kebenaran yang nyata.

Seseorang yang mendengar dakwah dan memenuhi apa yang ada di dalamnya petunjuk
kebenaran dan logika apa yang diucapkan kepada kaumnya dan ketika merasakan hakikat
keimanan menggerakkan dalam hatinya hingga tidak berdiam diri, tidak berpangku tangan
dengan keyakinannya. Dirinya melihat kesesatan, kekufuran dan kefasikan di sekitarnya dan
berusaha dengan kebenaran yang mantap dalam hatinya, tergerak dalam perasaannya untuk
memberantasnya, walaupun mereka yang ada disekelilingnya mendustakan, mengingkari,
mengancam dan mengintimidasi.

Maka datanglah seseorang dari jauh diujung kota yang berusaha untuk menunaikan
kewajibannya untuk berdakwah kepada kaumnya akan kebenaran, usaha menghentikan
kedzaliman dan meluruskan permusuhan mereka yang keji, dengan menghancurkan dan
membunuh para rasul.

Tampak jelas bahwa orang yang beriman tersebut tidak memiliki jabatan dan kedudukan,
tidak memiliki izzah (kekuatan/posisi) ditengah kaumnya ataupun pendukung dari
keluarganya, namun karena akidah yang hidup dalam hatinya, mendorongnya dan
membawanya dari jauh menuju ujung kota. [5]

Imam Al-Fakhrurrozi berusaha menjelaskan hakikat diatas dengan beberapa makna yang
agung yang menunjukkan kejayaan dakwah tauhid dalam hati seseorang yang jujur dan
ikhlas…saya nukilkan kepada pembaca nilai-nilai tersebut:

1. Hubungan orang yang beriman dengan yang sebelumnya dari ayat-ayat kisah memiliki dua
bagian:

> Bahwa hal tersebut merupakan penjelasan; bahwa para nabi dan rasul datang membawa
risalah yang nyata, sehingga berimanlah orang yang mau berusaha, karena itu makna firman
Allah : “Datang dari ujung kota” balaghoh yang menakjubkan, menunjukkan bahwa
peringatan para rasul menembus ujung kota yang sangat jauh.

>> Bahwa diceritakannya kisah seseorang yang beriman kepada para rasul merupakan
hiburan bagi hati para sahabat Rasulullah saw dan meneguhkan dakwah mereka,
sebagaimana juga disebutkannya tiga orang nabi sebagai hiburan bagi nabi Muhammad saw.

2. Disebutkannya kata “Rajulun” dalam bentuk nakirah memiliki dua faedah dan hikmah;

> Untuk menunjukkan kemuliaan dirinya yaitu lelaki yang sempurna dalam kelelakiannya.

>> Tampaknya kebenaran dari sisi para rasul sehingga berimannya seorang lelaki dari banyak
lelaki yang mereka tidak mengenalnya, sehingga tidak dikatakan bahwa mereka telah
bersekongkol.

3. Kata : “Yas’a” memberikan tabshir (kejelian) dan petunjuk bagi orang yang beriman, agar
menjadi nasihat, gigih dalam kerja mereka, berusaha keras dan mengikuti jejak orang yang
datang disebutkan dalam ayat “datang dan berusaha”.
4. Dalam firman Allah : “Ya qaumi” menunjukkan ungkapan yang lembut, bermakna kasih
sayang orang tersebut kepada mereka dan menunjukkan tidak ada keinginan suatu apapun
dari mereka kecuali kebaikan.

5. Firman Allah : “Ittabi’u al-mursalin” (Ikutilah para rasul), seruan darinya untuk mengikuti
para rasul, dia tidak mengatakan “ikutilah aku” seperti seruan salah seorang dari keluarga
Fir’aun dalam surat Ghafir, karena dirinya datang dari tempat yang jauh “ujung kota” tidak
ada hubungan dan kedekatan diantara mereka, sehingga dia mengajak untuk mengikuti para
rasul yang memberikan petunjuk dan menjelaskan jalan yang lurus.

Disebutkannya secara berbarengan dalam firman Allah : “Ittabu’u al-Mursalin” antara nasihat
dalam perkataannya “Ikutilah” dan keimanan “para rasul” dan mendahulukan nasihat
daripada keimanan karena lebih mengena dalam suatu nasihat.

6. Dalam firmannya : “Ikutilah seseorang yang tidak menginginkan dari kalian ganjaran dan
mereka membawa petunjuk” memiliki makna yang lembut, menggunakan uslub (gaya
bahasa) yang baik dalam berdialog, etika berdebat dan etika memberikan kepuasan,
sehingga memberikan kepada kepuasan yang lengkap, seakan dia berkata :sekiranya mereka
bukan para rasul atau pembawa petunjuk namun mereka diberikan hidayah dan memahami
jalan menuju jalan lurus yang mengarah kepada kebenaran, mereka juga tidak meminta
kalian ganjaran atau harta, mereka hanya meminta kalian mengikuti mereka dan memenuhi
seruan mereka.

7. Firman Allah “Dan mengapakah saya tidak menyembah Dzat yang telah menciptakan
aku?” pertanyaan dalam bentuk pengingkaran, didalamnya ada isyarat bahwa perkara ini
merupakan seruan beribadah kepada Allah semata, sementara yang tidak menyembah Allah
hendaknya menyebutkan sebab yang menghalangi dirinya untuk beribadah, sementara saya
tidak mendapatkan sesuatu yang menghalangi untuk beribadah kepada Allah. Dan dalam
firman Allah yang sama memiliki kelembutan lain, tidak melakukan dialog kepadanya
kaumnya dengan membicarakan akan dirinya.

Hikmahnya adalah bahwa dirinya tidak menyembunyikan akan keadaan dirinya, karena itu
dirinya tidak meminta alasan dari seorangpun karena dirinya tahu akan kondisinya. yang
disebutkan berbarengan dengan firman Allah : “Dan mengapakah aku tidak menyembah Dzat
yang telah menciptakan Aku” dua sisi yang memiliki saling keterkaitan dengan iman kepada
Allah.

8. Tidak ada penghalang yang mencegah dirinya untuk beriman kepada Allah dalam firman-
Nya : “Mengapakah aku tidak menyembah Dzat yang …” menyebutkan alasan dirinya
mengajak kepada keimanan, yaitu firman Allah “Dzat yang telah menciptakan aku”, Allah
adalah pencipta, pemilik dan pemberi nikmat, kewajiban hamba adalah menyembah-Nya
dan bersyukur kepada-Nya.

Didahulukannya kata tidak ada halangan dari keimanan sebagai dalil akan seruannya untuk
beriman, dan dalam perkataannya; “Mengapakah aku tidak menyembah Dzat yang telah
menciptakan Aku” dan tidak mengatakan “yang telah menciptakan kalian” karena memiliki
tujuan lebih penting dari ungkapan lain.

9. Dan firman “yang telah menciptakan aku” bukan “menciptakan kalian” karena dia
berbicara tentang dirinya sendiri bukan diri mereka, dan juga untuk menyesuaikan ungkapan
firman Allah “dan mengapakah aku tidak menyembah, karena menyandarkan ibadah kepada
dirinya sehingga cocok dengan menyandarkan penciptaan kepada dirinya.

10. Firman Allah “dan kepada-Nya semua akan kembali” mengandung perasaan cemas dan
harap dalam beribadah kepada Allah, maka dari setiap ada tempat kembali dan berada ada
perasaan takut dan harap.

Ada hikmah yang lembut ketika menoleh firman Allah : “dan kepada-Nya akan dikembalikan”
untuk menjelaskan perbedaan antara dirinya dengan mereka tempat kembali kepada Allah,
kembalinya mereka kepada Allah tidak seperti kembalinya mereka sebagaimana biasa
mereka lakukan.

11. Dan firman Allah “apakah pantas jika aku menjadikan selain-Nya tuhan-tuhan” petunjuk
akan kesempurnaan tauhid. firman Allah sebelumnya ”dan mengapakah aku tidak
menyembah Dzat yang telah menciptakan Aku dan kepada-Nya (semuanya) akan
dikembalikan”. petunjuk akan wujud Allah, sementara firman Allah “apakah pantas aku
menjadikan selain-Nya tuhan-tuhan” petunjuk akan penafian syirik dan tidak beribadah
kepada selain-Nya.

12. Dan Firman Allah “dari selainnya tuhan-tuhan” petunjuk yang lembut, kerendahan
menjadi tujuan firman ini, bahwa dirinya menetapkan Allah sebagai satu-satunya pencipta
yang berhak disembah, dan semua yang selain Allah adalah rendah dan hina, termasuk
ciptaan Allah yang lemah dan butuh kepada Allah, dan berharap kepada-Nya; karena
seluruhnya harus beridabah kepada-Nya, karena mereka semua “dari selain Allah adalah
hina” bagaimana bisa diantara mereka menjadi tuhan-tuhan?!

13. Dan firman Allah “sesungguhnya aku beriman kepada Tuhan kalian” menyampaikan
kepada semua orang, baik dari para rasul atau penduduk kota, namun yang pertama kali
dituju adalah penduduk kota guna memastikan kepada mereka bahwa Tuhan mereka adalah
Esa.

14. Dan firman Allah : “Maka dengarkanlah Aku” petunjuk akan posisi dirinya sebagai
penyampai dan pemikir, karena sebagai penyampai (pembicara) memahami bahwa
dihadapannya ada jamaah yang mendengarkannya, karena itu dia berfikir, sebagaimana juga
dia bermaksud agar mereka mendengarkan apa yang akan disampaikan guna meluruskan
dan menunjukkan hujjah atas mereka, seakan dia berkata kepada mereka : Sesungguhnya
saya telah menyampaikan kepada kalian apa yang telah saya lakukan, agar kalian tidak
mengatakan sesuatu yang tersembunyi dan samar dan sekiranya saya menampakkan perkara
anda maka kami akan mengikuti anda”.

Maksud dari perkataan “maka dengarkanlah” bukan sekedar mendengarkan namun


menerima seruan dakwah dan memenuhi seruan kebenaran dan masuk dalam keimanan. [6]

Bahwa manhaj yang unik ini disertai dengan kebenaran dakwah dan keikhlasan, semangat
dalam memberikan petunjuk, keberanian, tersusunnya fikrah, logika yang kuat dapat
mengembalikan akan keteguhan iman yang sejati dalam hati seorang laki-laki yang rabbani,
sebagaimana para rasul yang mampu menyatukan pada kelompok keimanan dan kafilah
dakwah seperti seorang laki-laki yang ikhlas sebagai petunjuk akan kemenangan Allah bagi
mereka dan kejayaan dakwah mereka dan menampakkan hujjah mereka.
Bahwa dakwah kepada Allah akan diterima bagi siapa yang memiliki kejantanan, ada
perbedaan antara rujulah dan dzukurah, kata dzukurah ada lawan kata dari unutsah (wanita)
karena itu pasangan suami istri adalah laki-laki dan wanita.

Kata dzukurah adalah sifat jasadiyah badaniyah tidak yang lainnya, sementara rujulah
menunjukkan kekuatan, kemampuan, keberanian dan keteguhan, menunjukkan sifat internal
jiwa seseorang, keistimewaan diri dan akhlak mulia.

Untuk itulah banyak disebutkan kata rujulah dalam bentuk pujian seperti firman Allah : “dan
datanglah seorang laki-laki dengan semangat dan berkata wahai Musa sesungguhnya raja…”
(Al-Qashas : 20)

15. Dan firman Allah :”dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan semangat dan
berkata wahai kaum ikutilah para rasul” (Yasin : 20) Dan firman Allah : dan berkatalah
seorang laki-laki yang beriman dari kalangan keluarga Fir’aun yang menyembunyika
keimanannya”. (Ghafir : 28). Dan firman Allah : “diantara orang yang beriman ada lelaki yang
benar dengan apa yang mereka janjikan kepada Allah diantara mereka ada yang menemui
ajal dan diantara mereka ada yang menunggu dan sedikitpun tidak ada yang diganti”. (AL-
Ahzab : 23). Allah berfirman : “ Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang Telah
diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan
waktu petang, Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli
dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat.
mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (An-
Nuur : 36-37) Dan firman Allah : “didalamnya ada lelaki yang cinta akan kesucian diri, dan
Allah cinta kepada orang yang bersuci”. (At-taubah : 108)

Bahwa langkah laki-laki yang beriman merupakan sikap keimanan yang agung, dan
menunjukkan bahwa kehidupan membutuhkan akan sikap, bahwa seorang laki-laki dilihat
dari sikapnya bukan umurnya, orang tersebut telah beriman pada waktu genting penuh ujian,
fitnah dan siksaan, mereka mengikuti para rasul sementara mereka dalam keadaan lemah,
menghalau kekuatan materi yang besar, memproklamirkan keimanan den mengajak untuk
mendengarkannya, padahal dirinya tahu akan bahaya yang akan dihadapi, akan mendapat
siksaan dan celaan, hal ini menunjukkan sikapnya yang terpatri dalam ruh mereka, beriman
dan memproklamirkan keimanannya dan siap menanggung beban dari sikapnya tersebut. [7]

Sesungguhnya mereka yang berusaha melakukan kejayaan terhadap syariat Allah dalam
kehidupan manusia harus memiliki sifat-sifat kejantanan dan berusaha menyatukan dan
merangkul orang-orang yang memiliki sifat-sifat yang terpuji ini kedalam barisan mereka.

Karena sesungguhnya lelaki yang rabbani dapat menjadi tauladan dan guru yang tampil
dalam kancah dakwah, yang mengikuti para duat dalam prilaku mereka pada sisi kebenaran,
komitmen untuknya dan menyeru kepadanya, ungkapan kerja salah seorang dari mereka
adalah “Sesungguhnya saya beriman kepada Tuhan kalian maka dengarkanlah aku”.

Bahwa kemenangan manhaj Allah dan kejayaan untuknya serta mengenalkannya kepada
manusia membutuhkan sosok yang mampu mengangkat suara mereka hingga didengar oleh
orang lain.
Bahwa indahnya kehidupan dan kecantikannya yang menawan serta rasa manisnya yang lezat
akan dapat diraih dengan membela kebenaran dan menghancurkan kebatilan dalam
bentengnya.

Bahwa sikap keimanan yang sejati adalah mengharap ridha Allah akan mengangkat
kemuliaan para duat di dunia dan diakhirat.

Sikap inilah yang selalu mendapatkan keberuntungan, yang mendorong insan mu’min akan
hidupnya, umurnya dan dunianya, ia merupakan pemberian, karunia, anugrah dan
keutamaan yang telah diberikan oleh Allah berupa surga dan kenikmatan abadi dan kekal
selamanya sehingga menjadi keberuntungan yang besar dan berlimpah serta kemengangan
yang agung.

Para pemilik keimanan mampu menyembunyikan dan mengendalikan kemarahan mereka,


berusaha tidak mengetahui dan bersabar dalam berdakwah dihadapan para pelaku
kejahatan, kedzaliman sambil berusaha membersihkan mereka, menghindar dari mencela
terhadap musuh. Bagaimana pendapat anda jika seorang rabbani bercita-cita pada kebaikan
namun berusaha dibunuh, didzalimi karena mereka adalah para penyembah berhala yang
kufur. [8]

Masuk ke dalam surga karena syahid merupakan bagian dari kejayaan, sementara itu
menguasai dan mengalahkan para musyrikin yang keras terhadap para duat adalah bagian
dari kemenangan wali Allah.
——————————————————————————–

[1] Lihat: Hakikat an-nasr, hal. 13-14


[2] Lihat: Fi dzilal Al-Quran, jil. 5, hal. 3086
[3] Ibid
[4] Ibid
[5] Ibid, hal. 2962-2963
[6] Lihat: Tafsir Ar-Razi, Mafatihul ghaib, Jil. 26, hal. 54-60
[7] Lihat: Ma’a Qishash As-Sabiqin, Al-Khalidi, jil. 7, hal. 256
[8] Ibid, jil. 7, hal. 260

Serial Fiqh Kemenangan dan Kejayaan Dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah (4):
Kehancuran Orang-orang Kafir dan Keselamatan dan Kemenangan Orang-orang
Beriman Dalam Peperangan (Kisah Kemenangan Nabi Nuh AS)

Pendahuluan

Kisah nabi Nuh merupakan contoh yang otentik untuk dijadikan dalil dalam beberapa contoh
ragam kejayaan; antara kehancuran orangporang kafir dan keselamatan orang-orang
beriman, kisah nabi Nuh bersama kaumnya merupakan manhaj yang agung bagi para duat
karena kisahnya penuh dengan pelajaran dan ibrah, diantaranya :

1. Nabi Nuh merupakan nabi pertama yang diutus oleh Allah SWT kepada manusia, dan
setiap yang pertama pasti memiliki ciri dan keistimewaan khusus.
2. Panjangnya waktu yang dibutuhkan oleh nabi Nuh dalam berdakwah kepada kaumnya
yaitu selama 950 tahun.

3. Nabi Nuh AS merupakan salah satu dari 5 nabi yang termasuk dalam Ulul Azmi seperti
yang disebutkan dalam Al-Quran.

4. Nama Nabi Nuh banyak disebut dalam Al-Quran hingga mencapai 43 tahun dalam 29 surat
yang terdapat dalam Al-Quran, berarti melebihi ¼ dari Al-Quran dari jumlah nama-nama
surat dalam Al-Quran.

Adapun kisah nabi Musa bersama Fir’aun merupakan petunjuk akan latennya pertentangan
antara kebenaran dan kebatilan, hidayah dan kesesatan, iman dan kekufuran, cahaya dan
kegelapan, kekejaman yang dilakukan oleh Fir’aun yang angkuh, sombong, suka
memperbudak manusia, menindas dan menjadikan mereka sebagai pelayan, terhina dan
tertindas, dan bagaimana Allah berkehendak terhadap Bani Israil untuk mengembalikan
kemerdekaan mereka yang terampas dan kehormatan yang tercabik-cabik, kemuliaan dan
kesucian yang terhinakan dan hilang. Maka bagi yang berhadapan dengan Allah pasti akan
lemah dan hancur, gagal dan terkalahkan, musuh-musuh Allah dimanapun mereka berada
akan mengalami kehancuran dan kerugian serta kehinaan, dan telah jelas bagi kita
bagaimana ancaman Allah terhadap Fir’aun dan kemenangan bagi Nabi Musa dan kaumnya.

Adapun kisah Thalut, merupakan fase yang berlalu pada masa bani Israil, setelah mereka
terjerumus dalam kemaksiatan, menyimpang dari manhaj Allah dan kekuasaan Allah
terhadap musuh dan menimpa bani Israil pada kehinaan dan kehancuran, kepahitan yang
menyakitkan, dan kekalahan yang besar, mereka menginginkan perubahan peristiwa yang
menghinakan, mengubah kenistaan menjadi kehormatan, kekalahan menjadi kemenangan.

Mereka memahami bahwa jalan menuju itu adalah jihad dan qital (berjuang), sehingga
mereka meminta dari nabi mereka untuk memilih seorang raja menjadi pemimpin mereka,
mengarahkan mereka pada kemuliaan dan kemenangan, berjuang melawan musuh di jalan
Allah, dan pilihan jatuh pada Thalut untuk membimbing mereka pada kemenangan,
kemuliaan dan kemerdekaan, namun sekelompok dari mereka menolak dengan berkata :
“Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan
pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” (Al-
Baqoroh : 247) maka dijelaskan oleh nabi mereka bahwa Allah telah memilihkan mereka
thalut, dan Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui, dan Allah telah membekalinya
kelebihan ilmu dan kekuatan badan, dan pada akhirnya Thalut menerima kepemimpinan atas
Bani Israil.

Dan kisah Thalut bersama bani Israil merupakan kisah dalam Al-Quran yang sangat
menakjubkan dalam menerangkan sunnah-sunnah Allah menuju kebangkitan umat dalam
kehinaan dan tertindas, apa ciri dan sifat-sifat yang dituntut terhadap pemimpin untuk
memperbaiki kondisi, pekerjaan besar untuk memperkokoh dan membangkitkan bangsa
menuju tempat yang tinggi, sesuai dengan manhaj rabbani dan sarana amaliyah dan
tarbawiyah yang mendalam atas nilai-nilai ketaatan, keteguhan, pengorbanan dan
penebusan jiwa demi akidah yang benar.

Begitupun dalam sirah nabi saw kita dapatkan contoh dari kejayaan –kemenangan atas
musuh- yang jelas; yaitu setelah nabi saw hijrah ke Madinah dan menstabilkan kondisi,
suasana dan posisi, menyiapkan kekuatan untuk berjihad sehingga terwujud misi-misinya
yang dekat maupun yang jauh, yang disandarkan pada Allah, melakukan sebab-sebab yang
diperintahkan Allah (bertawakkal), sehingga memberikan kepada kita pelajaran tentang
perang yang begitu indah, hikmah yang agung dalam bagaimana mewujudkan kemenangan
atas musuh dan kejayaan agama Allah.

Diawali dengan perang secara sirriyah, lalu perang dzahirah hingga terwujud misi-
misinya, dan berhasil melakukan pengepungan atas kedzaliman, kekufuran dan kesesatan
sehingga dapat penaklukkan kota Mekkah, menyatukan Jazirah arab, menghancurkan
berhala-berhala yang berada di setiap sudut Ka’bah, memerangi Yahudi yang telah
melanggar perjanjian, melakukan invasi kepada para raja dengan menyeru mereka kepada
Islam, sehingga meninggalkan pada kita bangunan yang kokoh.

Setelah itu beralih pada masa khulafa ar-rasyidin dalam memperluas penaklukan Islam ke
bagian barat dan timur, para generasi yang mampu mengemban amanah risalah dan
menunaikan tugas dengan baik, sehingga dapat kita lihat bahwa sejarah Islam penuh dengan
berbagai macam kejayaan.

Begitupun pada masa Sholahuddin, dimana perang Hathin dan penaklukkan al-Quds berada
ditangannya, pada masa Yusuf bin Tasyfin pada perang Az-zalaqoh, pada masa Muhammad
Al-Fatih terjadi penaklukkan Konstantinopel.

Adapun pada masa sekarang peristiwa jihad antara Rusia dan Afganistan berakhir dengan
kekelahan orang-orang kafir, perang antara Islam dan Nasrani di selatan Sudan membuka
untuk kaum muslimin pintu-pintu jihad, kemenangan, kejayaan dan kemuliaan, pergumulan
antara Yahudi dan kaum muslimin di Palestina, begitulah yang selalu kita dapati
akan pertolongan Allah terhadap penganut tauhid dan iman di sepanjang masa dan zaman.

1. Kisah kemenangan nabi Nuh dan kehancuran kaumnya

Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya kami Telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia
berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.”
Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), Aku takut kamu akan ditimpa azab hari
yang besar (kiamat)”. (Al-A’raf : 59)

Bahwa tsawabit dakwah nabi Nuh AS adalah menyeru untuk beribadah kepada Allah dan
meng-Esakan-Nya, dan memberikan peringatan jika tidak mau istijabah (menerima) untuk
bertauhid.

Namun kaumnya tetap tidak mau menerima seruannya bahkan mereka malah sombong,
angkuh dan kekeh dengan pendirian mereka, Allah SWT berfirman : “Dan bacakanlah kepada
mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia Berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, jika
terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat
Allah, Maka kepada Allah-lah Aku bertawakal, Karena itu bulatkanlah keputusanmu dan
(kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah
keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu
memberi tangguh kepadaku”. (Yunus : 71) dan pada surat Hud juga dijelaskan dialog yang
panjang antara nabi Nuh dengan kaumnya, memberikan agenda, mendebat mereka dan
memberikan alasan serta menjelaskan jalan petunjuk, sehingga kaumnya mau menerima
dakwahnya, namun : “Mereka Berkata “Hai Nuh, Sesungguhnya kamu Telah berbantah
dengan kami, dan kamu Telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, Maka
datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk
orang-orang yang benar”. (Huud : 32) lalu menjelaskan akhir dari perkara mereka : “Dan
diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu,
kecuali orang yang Telah beriman (saja), Karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang
apa yang selalu mereka kerjakan. Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk
wahyu kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim
itu; Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan”. (Huud : 36-37)

Nabi Nuh menjalankan dakwahnya dengan sabar dan tabah untuk mengajak kaumnya
beribadah kepada Allah ta’ala, menggunakan seluruh retorika dan teori dakwah yang
beragam, berusaha mengajak mereka pada hidayah dan menyembah Allah, Allah berfirman :
“Nuh berkata: “Ya Tuhanku Sesungguhnya Aku Telah menyeru kaumku malam dan siang,
Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan Sesungguhnya
setiap kali Aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka
memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya)
dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian
Sesungguhnya Aku Telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan”.
(Nuh : 5-8)

Bersamaan dengan usaha yang agung ini dan kesabaran serta ketabahan yang tidak pernah
lekang serta usaha yang gigih pantang mundur, namun mereka menolak dan tidak mau
menerima dakwahnya : “Mereka berkata: “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal
yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?”.(As-Syu’ara : 111) “Mereka berkata:
“Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti Hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk
orang-orang yang dirajam”.(As-syuara : 116).

Tidak ada yang mau beriman kecuali hanya sedikit sekali dari kaumnya bahkan istrinya dan
salah satu dari anaknya yang akhirnya tenggelam bersama orang-orang yang kufur juga
ingkar kepada dakwahnya. Allah berfirman : “Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth
sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. keduanya berada di bawah pengawasan dua
orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat
kepada suaminya (masing-masing), Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka
sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam
Jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)”. (At-tahrim : 10) dan Allah
berfirman : “Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya
anakku termasuk keluargaku, dan Sesungguhnya janji Engkau Itulah yang benar. dan Engkau
adalah hakim yang seadil-adilnya.” (Huud : 45)

Dan Allah berfirman : “Hingga apabila perintah kami datang dan dapur] Telah memancarkan
air, kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang
sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang Telah terdahulu ketetapan
terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.” dan tidak beriman bersama
dengan Nuh itu kecuali sedikit”. (Huud : 40). Dan pada akhir kisahnya dan akhir perjalanan
dakwah serta setelah tidak ada tanggapan dari kaum nabi Nuh akan dakwahnya, nabi Nuh
berkata seperti yang dikisahkan Allah dalam Al-Quran Al-Karim : “Nuh berkata: “Ya Tuhanku,
Sesungguhnya kaumku Telah mendustakan aku; Maka itu adakanlah suatu Keputusan
antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah Aku dan orang-orang yang mukmin
besertaku”. (As-Syu’ara : 117-118). Dan Allah berfirman : “Maka dia mengadu kepada
Tuhannya: “Bahwasanya Aku Ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu
menangkanlah (aku).” (Al-Qomar : 10) dan Allah berfirman : “Nuh berkata: “Ya Tuhanku,
janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.
Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan
hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma’siat lagi
sangat kafir”. (Nuh : 26-27)

Akhirnya Allah mengabulkan do’a nabi Nuh, dan nabi Nuh sangat tepat menggunakan senjata
yang ampuh yang banyak dilalaikan oleh para aktivis dakwah. Allah berfirman : “Maka dia
mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya Aku Ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab
itu menangkanlah (aku).” Maka kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air
yang tercurah. Dan kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, Maka bertemu- lah
air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh Telah ditetapkan. Dan kami angkut Nuh ke atas
(bahtera) yang terbuat dari papan dan paku, Yang berlayar dengan pemeliharaan kami
sebagai belasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh). Dan Sesungguhnya Telah kami
jadikan kapal itu sebagai pelajaran, Maka Adakah orang yang mau mengambil pelajaran?
(Al-Qomar : 10-15). Tidak lebih dari 10 abad, namun hasilnya :

1. Hanya sedikit yang beriman terhadap dakwahnya.

2. Istri dan salah satu anaknya juga tidak beriman pada keduanya adalah orang terdekat
padanya, namun dirinyalah yang menang dan bahkan merupakan kemenangan terbesar. Hal
itu tercermin pada sifat-sifat berikut :

a. Kesabaran dan keteguhannya sepanjang hidupnya, tidak pernah bosan dengan


usahanya terhadap prilaku kaumnya –sekalipun demikian kerasnya- atau sikap ejekan dan
hinaan mereka terhadapnya. Allah SWT berfiman : “Dan mulailah Nuh membuat bahtera.
dan Setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. berkatalah
Nuh: “Jika kamu mengejek Kami, Maka Sesungguhnya Kami (pun) mengejekmu sebagaimana
kamu sekalian mengejek (kami)”. (Huud : 38)

b. Perlindungan Allah SWT untuknya dari tipu daya dan makar mereka. “Mereka berkata:
“Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti Hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan Termasuk
orang-orang yang dirajam”. (As-Syuara: 116), dan Nabi Nuh tidak pernah berhenti untuk
mengajak mereka bertauhid dan merealisasikan makna ibadah kepada Allah sekalipun
mereka tidak mampu melakukan itu semua.

c. Kehancuran kaumnya yang telah mendustakan nabi Nuh dengan ditenggelamkan :


“Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan Dia dan orang-orang yang
bersamanya dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-
ayat kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya)”. (Al-A’raf : 64)

d. Nabi Nuh dan orang-orang yang beriman dengannya diselamatkan : “Dan Kami telah
menyelamatkannya dan orang-orang yang beriman kepadanya untuk naik ke perahu”. (Al-
A’raf : 64). “Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku. Yang
berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai belasan bagi orang-orang yang diingkari
(Nuh)”. (Al-Qomar : 13-14)

e. Sesungguhnya kisah kemenangan nabi Nuh dan kebinasaan kaumnya merupakan ibrah
(pelajaran). Dan Allah menjadikan nabi Nuh yang memiliki lisan yang jujur dihadapan orang
lain. “Dan Sesungguhnya telah Kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran, Maka Adakah orang
yang mau mengambil pelajaran? (Al-Qomar : 15) “(yaitu) anak cucu dari orang-orang yang
Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya Dia adalah hamba (Allah) yang banyak
bersyukur”. (Al-Isra : 3) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam”. (As-Shofaat :
79) “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran
melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)” (Ali Imron : 33)

Demikianlah tampak jelas hakikat kemenangan dari kisah nabi Nuh AS, bahwa sesungguhnya
kaum nabi Nuh pada masanya tidak berada pada kesederhanaan, namun mereka ingkar
kepada Allah dan membangkang terhadap rasul-Nya, dan sedikit sekali orang yang mau
beriman kepadanya, guna menjaga manhaj yang telah dikisahkan bahwa nabi Nuh akan
meninggal sekalipun mereka tetap hidup. “Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka
tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan
melahirkan selain anak yang berbuat ma’siat lagi sangat kafir”. (Nuh : 27)

Akhirnya mereka dibinasakan sekalipun jumlah mereka banyak daripada jumlah orang yang
membawa kebenaran dan mempertahankannya. Allah SWT telah menghancurkan kekufuran
dan kedzaliman, dan memberikan kedudukan dan keteguhan kepada mereka yang beriman
kepada tauhid dan iman, sehingga menjadi orang yang sederhana dan tunduk pada ke Esaan
Allah dan mampu mewujudkan nilai-nilai ibadah dalam kehidupan mereka. [1].

Allah berfirman : “(yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh”.
(Al-Isra : 3) Imam At-Thobari berkata : “Dan yang demikian menjelaskan bahwa seluruh yang
ada di muka bumi ini berasal dari Adam orang-orang yang dibawa oleh Allah dalam perahu”.
Dan imam Qatadah berkata : “Seluruh manusia adalah dari keturunan orang yang diberikan
keselamatan dalam perahu tersebut. Imam mujahid berkata : anak-anak laki dan perempuan
mereka dan nabi Nuh AS”. Allah juga berfirman : “Mereka itu adalah orang-orang yang telah
diberi nikmat oleh Allah, Yaitu Para Nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang
Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang
telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha
Pemurah kepada mereka, Maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis”.
(Maryam : 58) [2]

Sesungguhnya kejayaan yang hakiki, kemenangan yang besar dan kehormatan yang mulia
adalah saat mendapatkan ketenangan pada manhaj Allah, Tuhan semesta alam dari jiwa-jiwa
orang-orang yang beriman, sekalipun mereka sedikit, pelajaran yang dipetik “bukanlah
dengan banyaknya orang yang beriman dan para pengikut kebenaran, namun terletak
kesucian manhaj rabbani yang diyakini oleh mereka baik secara individu atau banyak orang,
karena itu sekalipun sedikit atau lebih, dan tidak mencapai 13 orang jumlahnya yang mampu
memahami makna tauhid yang sebenarnya, merealisasikan makna ubudiyah kepada Allah,
menghancurkan semua penduduk bumi untuk melindungi mereka dan terhadap manhaj
yang mereka terapkan dan mereka emban, selama ada bahya dan ancaman yang dapat
membinasakan mereka, karena itu yang hancur adalah manhaj yang mereka bawa :
“Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan
hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma’siat lagi
sangat kafir”. (Nuh : 27)

Sesungguhnya kehancuran orang-orang kafir dan kemenangan orang-orang yang beriman


serta keselamtan manhaj robbani yang mereka teguh terhadapnya dan terhadap apa yang
mereka korbankan dalam bentuk kesabaran dan keteguhan adalah merupakan bagian dari
kejayaan yang Allah karuniakan kepada hamba-Nya yang di Kehendaki.

Dan sesungguhnya Allah SWT telah memberikan kejayaan kepada nabi Nuh AS dan mereka
yang beriman kepadanya di muka bumi ini, urusan langit mudah lepas, dan air dengan
mudah meluap di muka bumi hingga menyamakan –tingginya- sebesar gunung Judi, sebagai
kejayaan akan bahtera keimanan dan para pengikutnya.

___________________________________________

[1] Lihat: Hakikat Al-Intishar, DR. Nasir Al-Umr, hal. 38-39

[2]. Lihat: Tafsir At-thobari, jil. 8, hal. 215

Serial Fiqh Kemenangan dan Kejayaan Dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah (4):
Kehancuran Orang-orang Kafir dan Keselamatan dan Kemenangan Orang-orang
Beriman Dalam Peperangan (Kisah Rasulullah saw Dengan Kaumnya)

Sesungguhnya kemenangan ahlul iman atas orang-orang kafir dalam berbagai peperangan
juga tampak dalam sirah nabi saw, pada masa khulafa Ar-rasyidun dan dalam sejarah umat
Islam yang mulia ini.

Bahwa Nabi saw setelah mampu bertahan di kota Madinah segera membuat strategi untuk
berjihad, memotivasi sahabat dan mengajarkan mereka seni berperang, dan mengutus
mereka melakukan saraya (penyergapan) pada malam hari dan ututsan-utusan kecil lainnya,
guna mempersempit gerak perniagaan dan perdagangan orang-orang Quraisy, mengajarkan
kepada kabilah-kabilah musyrik akan etika dan agar musuh-musuh Islam menyadari
akan eksistensi umat dan negara Islam, dan juga agar membuat gentar dan takut para mata-
mata musuh, serta menggerakkan para sahabat untuk melakukan tugas yang telah mereka
untuk tunggu setelah Allah mengizinkan mereka berperang, maka Nabi saw mengutus
beberapa kelompok utusan dan saraya yang berhasil mewujudkan beberapa tujuan startaegi
penting, diantaranya :

Pembelajran :

Sehingga kaum muslimin memahami medan yang ada di Madinah yang menuju Mekkah,
khususnya jalan ke arah perniagaan Quraisy di Jazirah dan memahami pengenalan terhadap
kabilah-kabilah lokal dan melakukan perdamaian dengan sebagiannya.

Blokade Ekonomi :

Melakukan blokade ekonomi terhadap Quraisy dan menghadang mereka jalan ke tempat
perniagaan di Syam, melakukan penghadangan blokade ekonomi yang terdapat di Madinah
dari beberapa kabilah yaitu dengan melakukan koalisi dengan mereka dan memerangi
sebagian lainnya, dan secara tiba-tiba seluruhnya khawatir akan bahaya berdirinya Negara
Islam, dan Nabi saw menyadari akan kondisi tersebut dan bergerak cepat yang tidak sempat
di dengar dan disadari oleh kaum musyrikin akan bahaya yang mengancam mereka kecuali
secara tiba-tiba dan mencerai beraikan pasukan serta membuat hati mereka ketakutan dan
gentar, menurut mereka serangan lebih kuat dari sarana pertahanan sekalipun.

Sungguh gerakan saraya dan utusan menegaskan bahwa kaum muslimin telah menjadi kuat
dan menjadi kelompok yang diperhitungkan oleh kaum musyrikin Quraisy dan kabilah-
kabilah yang bertetangga dengannya, dan memaksa sebagian kabilah melakukan perdamaian
dan perjanjian dengan kaum muslim. Hal ini merupakan bagian dari tujuan yang diinginkan
dilakukannya saraya dan utusan.

Bahwa peperangan Nabi saw melawan kaum musyrikin dan kemenangan yang diraih oleh
mereka merupakan bagian dari tamkin (kejayaan), dan diantara peperangan tersebut
adalah : Perang Badr, perang Khandaq.

1. Dan dalam perang Badr Allah menjelaskan bahwa hakikat kemenangan adalah dari Allah
swt. Allah berfirman : “Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar.
Padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah, karena itu bertakwalah kepada
Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya”. (Ali Imron : 123)

- Sesungguhnya Allah menjelaskan bahwa hakikat kemenangan tidak akan terjadi kecuali dari
sisi Allah swt bukan dari yang lainnya, dan kata “al-aziz” adalah yang memiliki kekuatan yang
tidak ada bandingannya [1], sementara kata “Al-Hakim” adalah bijaksana terhadap segala apa
yang disyariatkan Allah berupa perang dengan orang-orang kafir walaupun Allah memiliki
kemampuan yang lebih untuk menghancurkan dan membinasakan dengan kekuatan yang
dimiliki-Nya [2].

- Adapun intisari dari kedua ayat tersebut diatas adalah mengajarkan kepada kaum muslimin
untuk berpegang teguh hanya kepada Allah saja, dan menyerahkan segala urusan kepada-
Nya merupakan bagian penegasan bahwa kemenangan hanya datang dari Allah SWT bukan
dari malaikat atau yang lainnya, walaupun sebab-sebab untuk meraih kemenangan harus
dilakukan namun mereka tidak boleh terpedaya dengan hal tersebut, kecuali mereka harus
bersandar pada Sang Pencipta sebab-sebab dan sarana-sarana sehingga dapat meraih
kemenangan karena pertolongan dan taufik dari Allah swt.

- Kemudian Allah juga menjelaskan bagian dari karunia-Nya kepada orang-orang beriman
bahwa kemenangan yang diraih pada perang Badr, memerangi orang-orang musyrik dan
lemparan Nabi saw dengan debu pada saat perang badr pada hakikatnya adalah karena
taufik dari Allah, karunia dan pertolongan-Nya, dan pada ayat tersebut Al-Quran
membimbing umat Islam dan mengajarkan kepada mereka untuk selalu bersandar hanya
kepada Allah juga. Allah berfirman :

“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang
membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-
lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk
memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik.
Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (Al-Anfal : 17)

- Ketika Allah menjelaskan bahwa kemenangan datang dari sisi-Nya, Allah juga menjelaskan
beberapa hikmah dari kemenangan tersebut. Allah berfirman :
“(Allah menolong kamu dalam perang Badar dan memberi bala bantuan itu) untuk
membinasakan segolongan orang-orang yang kafir, atau untuk menjadikan mereka hina, lalu
mereka kembali dengan tiada memperoleh apa-apa. Tak ada sedikitpun campur tanganmu
dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka
karena Sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim”. (Ali Imron : 127-128)

- Allah juga memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk selalu mengingat nikmat
yang besar tersebut; yaitu nikmat kemenangan dalam perang Badr, tidak lupa bagaimana
kondisi mereka sebelum meraih kemenangan. Allah berfirman : “Dan ingatlah (hai Para
muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu
takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, Maka Allah memberi kamu tempat
menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya
kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur”. (Al-Anfal : 26)

Adapun hasil yang dicapai dari kemenangan umat Islam sangatlah besar, dan diantara hasil
tersebut adalah :

a. Lemahnya kondisi kaum musyrikin dan jatuhnya kewibawaan mereka dihadapan kabilah-
kabilah di jazirah arab.

b. Tampak adanya kekuatan baru di jazirah Arab yang sangat diperhitungkan oleh semua
elemen.

c. Muncul penyakit kemunafikan di kota Madinah yang nyata setelah perang Badr, yang
bertujuan menyakiti umat Islam dari dalam.

d. Yahudi mulai menampakkan permusuhan terhadap umat Islam setelah perang Badr karena
hasad dan dzalim, dan yang pertama kali menampakkan permusuhannya adalah Bani
Qainuqa.

e. Menjadi titik awal peperangan laten antara umat Islam dan musyrikin Quraisy yang tidak
berakhir kecuali futuh Mekkah.

f. Mulai banyak kelompok yang memberanikan diri masuk Islam dan menjadikan kota
Madinah fase baru dalam perang menggunakan senjata.

g. Allah memberikan keistimewaan kepada ahlu Badr dari kalangan sahabat dengan
ampunan dan kemuliaan dan dengan adanya kehadiran malaikat.

2. Adapun perang Khandaq Al-Quran juga menyebutkan beberapa perkara penting,


diantaranya :

a. Mengingatkan umat Islam akan nikmat Allah yang begitu banyak : “Hai orang-orang yang
beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang
kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang
tidak dapat kamu melihatnya. dan adalah Allah Maha melihat akan apa yang kamu
kerjakan”. (Al-Ahzab : 9)

b. Gambaran yang menakjubkan terhadap apa yang menimpa umat Islam dari pasukan
sekutu yang ingin menyerang umat Islam. “ (yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas
dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak
sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam
purbasangka”. (Al-Ahzab : 10)

c. Mengungkap niat orang-orang munfaik yang jahat, akhlak yang tercela, jiwa yang pengecut
dan usaha mereka yang bathil serta pemutusan perjanjian Yahudi terhadap Nabi dan kaum
muslimin. Allah berfirman : “Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang
yang berpenyakit dalam hatinya berkata :”Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada
Kami melainkan tipu daya”. (Al-Ahzab : 12)

d. Memotivasi orang-orang beriman disepanjang zaman dan tempat untuk selalu


mentauladani Rasulullah saw; baik dalam ucapan, perbuatan, jihad dan segala tindak
tanduknya, sesuai dengan firman Allah : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu
suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (Al-Ahzab : 21)

e. Pujian Allah kepada orang-orang beriman atas sikap mereka yang suci dan mulia saat
menghadapi pasukan ahzab yang besar dengan keimanan dan kejujuran dan memenuhi
panggilan Allah swt. Allah berfirman : “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang
yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada
yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak
merobah (janjinya). (Al-Ahzab : 23)

f. Menjelasknan akan salah satu dari sunnah Allah yang tidak pernah berubah dan mengalami
perubahan sepanjang jaman, yaitu akibat dari perang adalah kemenangan untuk orang
beriman dan kekalahan atas musuh. Allah berfirman : “Dan Allah menghalau orang-orang
yang kafir itu yang Keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh
Keuntungan apapun. dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. dan
adalah Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa”. (Al-Ahzab : 25)

g. Karunia Allah yang tidak terhingga yang diberikan kepada hamba yang beriman merupakan
kemenangan atas bani Quraidzah yang berada di dalam benteng yang kuat tanpa melakukan
perang, yaitu dengan ditimpakan kepada mereka ketakutan dalam hati bani Quraidzah
sehingga turun keputusan Allah dan Rasul-Nya atas mereka. Allah berfirman : “Dan Dia
menurunkan orang-orang ahli kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan
yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memesukkan rasa takut ke dalam
hati mereka. sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. dan
Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan
(begitu pula) tanah yang belum kamu injak dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala
sesuatu”. (Al-Ahzab : 26-27)

h. Dan perang ahzab merupakan salah satu perang yang sangat penting yang terjadi antara
orang-orang beriman dengan musuh mereka, adapun hasil yang dapat dipetik dari perang
tersebut adalah :

- Kemenangan kaum muslimin dan kekalahan musuh sehingga mereka terpecah dan pulang
dalam keadaan malu dan marah, sementara angan-angan mereka telah sirna untuk bisa
mengalahkan kaum muslimin.
- Situasi mulai berubah dan berpihak untuk kaum muslimin, sehingga berganti posisi dari
yang tadinya hanya mempertahankan diri menjadi penyerang, seperti yang diungkapkan oleh
nabi saw setelah itu :

“Sekarang kita yang akan memerangi mereka dan mereka tidak akan mampu lagi
memerangi kita, dan kita akan menginvasi mereka”.

- Perang khandaq menyingkap keburukan orang-orang yahudi bani Quraidzah dan


kedengkian mereka terhadap kaum muslimin yang selalu memantau dan memata-matai
mereka, dan mereka juga telah melanggar perjanjian dengan Nabi saw pada saat kondisi
yang sangat genting dan sulit.

- Perang ahzab juga menyingkap hakikat sebenarnya akan kebenaran dan keteguhan iman
kaum muslimin dan hakikat orang-orang munafik dan orang-orang Yahudi bani Quraidzah,
adanya ujian dalam perang ahzab menjadi filter bagi kaum mulsimin dan menampakkan
hakikat yang sebenarnya akan sifat orang-orang munafik dan Yahudi.

- Adapun perang Bani Quraidzah merupakan hasil dari perang ahzab, dengan melakukan
perhitungan kepada Yahudi bani Quraidzah yang telah melanggar perjanjian bersama Nabi
saw pada saat kondisi yang genting dan sulit.

Peperangan melawan para murtadin

Setelah Rasulullah saw wafat banyak dari kalangan muslim Arab yang murtad (keluar dari
Islam), dan tampak kemunafikan begitu luas, dan orang-orang yang murtad pada saat itu
terbagi pada dua bagian :

Bagian pertama :

Murtad dari agama dan mengindahkan millah (kepercayaan). Dan kelompok ini terbagi pada
dua bagian :

Kelompok pertama :

Mereka yang meninggalkan agama hanya sekali, yaitu Bani Tha’I dan Asad, dan yang
mengikuti mereka seperti bani Ghotofan, bani Abbas, bani Dzabyan dan bani Fazaroh yang
mengikuti Tulaihah bin Khuwailid al-asadi dan yang mengaku nabi pada Bani Asad, Banu
Hanifah yang mengikuti Musailamah al-kadzab, penduduk Yaman yang mengikuti Al-Aswad
Al-Ansi dan banyak lagi yang lainnya, mereka murtad dari agama Islam dan mencela Tuhan
serta mengikuti orang yang mengaku nabi di Jazirah tersebut, diantara mereka ada yang
meninggalkan shalat dan zakat serta kembali ke jaman jahiliyah.

Kelompok kedua :

Kelomok yang memisahkan antara kewajiban shalat dan kewajiban zakat, mengingkari
kewajiban zakat dan kewajiban menunaikannya, mereka adalah sebagian dari Bani Tamim
yang diketuai oleh Malik bin Nuwairah, dan banu Hawazin serta yang lainnya.
Pada kelompok ini terjadi banyak perbedaan dalam mensikapinya, namun Abu Bakar
berpendapat dan akhirnya disetujui oleh para sahabat lainnya untuk memerangi mereka
yang telah murtad dan tidak mau membayar zakat [4].

Lalu Abu Bakar melancarkan perang kepada mereka dan terjadilah perang yang sengit yang
terjadi di jazirah arab, dan akhirnya Abu Bakar dan para sahabat berhasil mengalahkan
pasukan yang murtad. Dan pada perang tersebut menghasilkan beberapa point penting;
diantaranya :

a. pentingnya kaidah yang kuat dan kokoh dalam kehidupan masyarakat Islam. Bahwa perang
riddah menegaskan masih adanya tambang emas yang asli dan kuat, terbentuk darinya
kaidah yang kuat di Madinah yang tidak rapuh atau palsu, atau lemah namun tetap kuat dan
kokoh, selalu sadar dan memahami akan hakikat dirinya dan tempat kembalinya, memahami
akan bahaya yang mengancam sekitarnya, merencanakan dengan penuh perhatian dan
kesadaran penuh dalam mengahadapi berbagai kesuliatan, karena itulah yang seharusnya
dimiliki orang beriman yang mampu menghilangkan hambatan-hambatan dan kesulitan-
kesulitan yang ada dihadapannya seperti yang terjadi dan dialami oleh Abu Bakar As-shidiq
saat menjadi khalifah, sehingga beliau perlu memimpin pasukan langsung guna memelihara
negara, dan memperkokoh send-sendinya sepeninggalnya Rasulullah saw.

Dan kaidah ini memberikan pengaruh yang besar dalam memobilisasi pasukan untuk
menghadapi dan memerangi pasukan riddah, dan memiliki peran positif dalam mengajarkan
dan mengarahkan umat yang ada disekitarnya… khususnya dalam menjaga dan memelihara
eksistensi umat dan berusaha mempertahankan dan mengembangkannya, berkorban
dengan tenaga dan harta.

Boleh jadi sikap mereka dalam memerangi pasukan riddah khususnya perang Yamamah
memberikan pengaruh yang sangat besar terutama dalam menjaga stabilitas Negara dan
eksistensinya dan menguji keimanan kaum Muhajirin dan Ashar, keteguhan serta kesabaran
mereka, karena perang yang dilakukan oleh pasukan Muhajirin dan Anshar begitu sengit
sehingga Allah memuliakan mereka dengan kemenangan atas musuh mereka oleh karena
kejujuran, keikhlasan dan keteguhan mereka.

b. Tampak kerapuhan kekuatan jahat orang-orang Yahudi dan Nasrani serta atheis yang
menutupi diri mereka dengan berbagai syiar dan slogan bohong dihadapan kekokohan tauhid
dan hakikat paradigma yang bersih dan suci serta kepemimpinan yang bijak. Dan
memberikan pengaruh pada kita akan peristiwa yang besar dalam bagaimana berinteraksi
dengan para murtadin dan hukum-hukumnya, berinteraksi dengan golongan yang keluar dari
Islam.

c. Kekhalifahan Islam yang dipimpin oleh Abu Bakar As-shiddiq mampu menjadikan jazirah
Arab sebagai qaidah titik tolak menaklukkan dunia secara luas, dan menjadikan jazirah Arab
sebagai mata air yang memancarakan air Islam sehingga sampai ke seluruh pelosok bumi
melalui para rijal (generasi, pahlawan) yang memiliki semangat hidup berjuang, dan
memberikan pengalaman yang beragam dalam berbagai sisi kehidupan baik tarbiyah, ta’lim,
jihad dan menegakkan syariat Allah yang syamil (komprehenship) untuk memberikan
jaminan kebahagiaan dan kesejahteraan kepada seluruh manusia dimana saja mereka
berada.
d. Menjadikan Jazirah Arab berada dibawah satu kendali (nidzam) dan kepemimpinan yang
satu setelah menjalani sejarah panjang akan kehancuran, perpecahan dan keberserakan oleh
karena pertikaian antara kabilah dan ketamakan individual serta perseteruan keluarga,
dan terwujud makna umat atas dasar akidah, fikrah dan manhaj robbani, dan teradopsi
kabilah-kabilah dalam eksistensi umat yang memiliki fikrah yang satu dan qiyadah yang satu,
dan menjadi bagian dari eksistensi yang memiliki keteguhan.

e. Perang riddah merupakan persiapan robbani terhadap penaklukan-penaklukan Islam yang


memiliki ciri khas dan kemampuan yang handal, terpancar seluruh potensi dan tersingkap
kepemimpinan lapangan, serta seni kepemimpinan yang mahir dalam uslub (retorika)
dan teori perang, bahkan tampak keahlian prajurit yang yang jujur, taat, disiplin dan siap
siaga yang memahmi untuk apa mereka berperang, mengerahkan segala kekuatan yang
menyadari untuk apa berkorban dan berjuang, sehingga pelaksanaannyapun sangat
maksimal dan agung [5].

f. Abu Bakar As-Shiddiq melakukan pembagian administrasi dan taktik setelah


kemenangannya dalam perang riddah untuk Negara Islam atas nidzam kewilayahan yaitu
Mekkah yang gubernurnya adalah Itab bin Asid, Thaif gubernurnya adalah Utsman bin Abil
Ash, Shan’a gubernurnya Al-Muhajir bin Abi Umayyah, Hadr Maut walinya adalah Ziyad bin
Labid, Khawlan walinya adalah Ya’la bin Umayyah, Zabid dan Raqa’ walinya adalah Abu Musa
Al-Asy’ari. Adapun Jundul Yaman walinya adalah Mu’adz bin Jabal, Nahran walinya adalah
Jarir bin Abdullah, Jarsy walinya adalah Abdullah bin Nur, Bahrain walinya adalah Al-‘Ala bin
Al-Hadrami, Amman walinya adalah Hudzaifah bin Al-Qol’ani dan Al-Yamamah walinya adalah
Sulaith bin Qais [6].

Penaklukan-penaklukan Islam

Setelah memenangi perang riddah pasukan Islam yang di komandani Abu Bakar As-Shiddiq
bergerak melakukan penaklukan dan penyebaran Islam ke seluruh pelosok dunia, sehingga
terjadi perang Iraq yang dipimpin oleh Khalid bin Walid dan Al-Mutsanna bin Haritsah,
perang Romawi yang dipimpin oleh Abu Ubaidah bin Jarrah.

Dan setelah Abu bakar As-Shiddiq wafat khilafah dipimpin oleh Umar bin Khattab yang pada
zamannya berhasil mencapai kemenangan demi kemenangan oleh pasukan Islam; seperti
pada perang Romawi di Yarmuk, Parsia di Madain, serta menaklukkan Imperium Romawi di
negeri Syam dan Imperium kekaisaran di negeri Persia oleh para duat Islam yang membawa
dan menghadirkan kepada umat manusia agama Islam yang diridloi Allah untuk hamba-
hamba-Nya.

Umat Islam setelahnya akhirnya berjalan mengikuti petunjuk para pendahulu mereka dalam
berbagai peperangan melawan musuh-musuh Islam, sehingga melahirkan sejarah gemilnag
kepada kita akan kemenangan-kemenangan Islam terhadap pasukan Nasrani, seperti dalam
perang Az-Zalaqoh pada tahun 479 H yang dipimpin oleh Yusuf bin Kasyfin yang akhirnya
menjadi pemimpin Negara Al-Murabithin, dan kemenangan mereka pada pasukan Nasrani
dalam perang Hathin tahun 583 H, dan begitupun setelahnya menaklukkan Al-Quds yang
dipimpin oleh Sholahuddin Al-Ayyubi.. dan kemenangan kaum muslimin terhadap musuh
dapat diraih ketika mereka melakukan sebab-sebab kejayaan, syarat-syarat dan sunnah-
sunnahnya yang tidak hanya sekedar teori, klise dan mujamalah saja, namun bagian dari
tamkin (kejayaan) ini selalu diperbaharui ketika terwujud pada umat sifat-sifat generasi
tamkin; baik pada individu umat ataupun para pemimpinnya.

_______________________________

[1]. Lihat: Tafsir Ibnu Katsir, jil. 1. hal. 411

[2]. Ibid. jil. 2, hal. 303

[3]. Al-Bukhari, kitab Al-Maghazi, Bab Ghazwah Al-Khandaq, jil. 5, hal. 58, no. 4109

[4]. Lihat: Al-Hikmah Fid Dakwah Ilallah, hal. 220

[5]. Lihat: Tarikh Shadrul Islam, hal. 141-145

[6]. Itmam Al-Wafa Fi Siratil Khulafa, Syaikh Muhammad Al-Khudari, hal. 59-60

Serial Fiqh Kemenangan dan Kejayaan Dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah (4):
Kehancuran Orang-orang Kafir dan Keselamatan dan Kemenangan Orang-orang
Beriman Dalam Peperangan (Kisah Kemenangan Nabi Musa AS)

Allah SWT berfirman :

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu
dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang
mewarisi (bumi). Dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami
perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang se- lalu mereka
khawatirkan dari mereka itu”. (Al-Qashas : 5-6)

Dalam kisahnya Fir’aun telah banyak melakukan pembangkangan, kesombongan dan


berlebih-lebihan di muka bumi, menghinakan kaum Bani Israil, membunuh anak-anak,
melecehkan para wanita secara dzalim, angkuh dan sombong. Dan dengan hikmah-Nya,
kehendak-Nya dan kekuasaan-Nya Allah SWT ingin memberikan kepada Bani Israil anugrah
dan menjadikan mereka pemimpin dan pewaris negeri setelah Fir’aun. Memberikan kejayaan
kepada mereka setelah kehinaan dan diskriminasi, Allah mengancam kepada Fir’aun dan
Hamman serta pasukannya dan memperlihatkan kepada mereka ancaman yang dapat
membuat mereka takut akan kehilangan kerajaan mereka terhadap salah seorang dari bani
Israil. [1]

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata : “Fir’aun telah menguasai Bani Israil, raja yang
diktator dan kejam, memperlakukan mereka dengan hina dan pekerjaan yang dina, memaksa
mereka untuk bekerja siang dan malam pada pekejaan yang selalu dipantau, bersamaan
dengan itu anak-anak mereka dibunuh dan wanitanya diperlakukan tidak senonoh dan keji,
karena khawatir hadirnya seorang anak seperti yang diramalkan oleh para ahli sihir,
sehingga mengakibatkan kehancuran dan kehilangan kerajaan dari tangan mereka. Orang-
orang qibti (Egyptian) telah mendapatkan berita ini dari apa yang mereka pelajari dan
dapatkan dari ucapan Ibrahim AS saat memasuki negara Mesir dan berlangsung bersama
kediktatorannya saat mengambil Sarah untuk dijadikan sebagai Istri, lalu Allah melindunginya
dan menjaganya dari kekejamannya dan kediktatorannya, maka Nabi Ibrahim diberikan kabar
gembira bahwa akan lahir dari keluarganya keturunan yang akan menghancurkan negeri
Mesir di tangannya, orang-orang qibti menyampaikan perihal ini kepada Fir’aun, sehingga
Fir’aunpun kaget dan memerintahkan untuk membunuh seluruh anak laki-laki yang baru
lahir, namun peringatan tersebut tidak bermanfaat bagi Fir’aun, karena Kehendak Allah jika
telah datang tidak bisa ditunda, dan setiap ketentuan Allah sudah tertulis dalam kitab-Nya.

Fir’aun dengan kekuasaannya dan kekuatannya ingin selamat dari Musa, namun tidak
memberikan manfaat sama sekali dihadapan kekuasaan Raja yang Maha Agung yang tidak
mampu seorangpun menandingi-Nya dan mengalahkan Kekuasaan-Nya, bahkan setiap
ketentuan-Nya pasti terlaksana dan telah tertulis dalam kitab-Nya bahwa kehancuran Fir’aun
ada ditangan nabi Musa, bahkan anak ini yang terlahir di tengah ribuan anak yang dibunuh
namun kelahirannya dan tumbuh kembangnya berada di pangkuan Fir’aun dan di rumahnya,
makannya dari makanan miliknya, mendapatkan bimbingan dan pelajaran darinya, padahal
kehancuran dan kebinasaan dirinya dan pasukannya berada di tangannya, agar Fir’aun
menyadari bahwa Tuhan pemilik langit yang tinggi adalah Dzat yang Maha Pemaksa dan
Maha perkasa yang Agung, Maha Kuat dan Maha Keras segala sesuatu yang di Kehendaki
pasti terjadi dan yang tidak di Kehendaki tidak akan terjadi”. [2]

Al-Biqo’iy berkata : Makna “wa numakkina” adalah memberikan kejayaan di muka bumi
seluruhnya terutama bumi Mesir dan Syam, dengan membinasakan musuh-musuh mereka
dan mendukung mereka dengan kalim (firman) Allah, kemudian para nabi semua dengan
menguasai mereka terhadap yang lainnya, dan memberikan dukungan melalui Malaikat dan
menampakkan keajaiban-keajaiban, dan kata kejayaan disebutkan bersamaan dengan
mengalahkan kediktatoran; memberikan penjelasan bahwa Allah lebih unggul dari yang
lainnya” [3].

Syaikh Muhammad Al-Amin dalam tafsir firman Allah: “ Dan Kami hendak memberi karunia
kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka
pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi) (Al-Qashash : 5)
berkata ; kata yang ada dalam firman Allah : “ Telah sempurnalah Perkataan Tuhanmu yang
baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. dan Kami hancurkan apa
yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka”. (Al-A’raf : 137)
dan tidak dijelaskan disini sebab yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, atau penguasa
dalam kebaikan dan berdakwah kepadanya pada dua perkataan yang jelas, dan tidak
dijelaskan pula sesuatu yang menjadikan mereka sebagai pewaris, namun yang dijelaskan
secara keseluruhan di tempat yang lain, dijelaskan sebab-sebab yang menjadikan mereka
sebagai pemimpin, yaitu dalam firman Allah : “Dan Kami jadikan di antara mereka itu
pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar.
Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami”.(As-sajdah : 24) karena itu sabar dan keyakinan
adalah dua penyebab. Kemudian setelah itu mejelaskan sebab yang menyebabkan mereka
menjadi pewaris : “Maka Kami keluarkan Fir’aun dan kaumnya dari taman-taman dan mata
air. Dan (dari) perbendaharaan dan kedudukan yang mulia. Demikianlah halnya dan Kami
anugerahkan semuanya (Itu) kepada Bani Israil. (As-syu’ara : 57-59)

Muhammad Thohir bin Asyur berkata : “Sesungguhnya mensifatkan Fir’aun dengan sifat yang
menunjukkan akan kerasnya kerusakan yang dilakukan manusia “Sesungguhnya Fir’aun
termasuk orang yang melakukan kerusakan”. (Al-Qashash : 4), disebutkan penegasan
kerusakan yang dilakukan oleh Fir’aun, karena perbuatannya banyak menimbulkan
kerusakan-kerusakan besar diantaranya :
Kerusakan pertama :

Kesombongan dan kediktatoran; Karena keduanya merupakan kerusakan jiwa yang sangat
berbahaya yang dapat melahirkan darinya kerusakan yang banyak mulai dari menghina dan
merendahkan manusia, menafikan hak-hak, interaksi yang jahat dan selalu menyebarkan
permusuhan, khususnya, jika mereka menjadi penguasa atau pemimpin akan
memperlakukan manusia dengan keras seperti menebarkan rasa takut oleh kekuasaan dan
kediktatorannya, sifat tersebut merupakan induk dari segala kerusakan.

Kerusakan kedua:

Menjadikan bangsa keturunannya sebagian mereka sahabat dan yang lainnya musuh;
sehingga melahirkan ditengah mereka kerusakan yang lebih besar yaitu kedengkian, hasad,
kebencian dan adu domba.

Kerusakan ketiga:

Menjadikan kelompok yang berada dibawah kekuasaannya dalam kehinaan, diskriminasi


dan kerendahan, menyiksa dan memperlakukan mereka secara kejam serta melarang mereka
mendapatkan hak-haknya dan menjadikan mereka sebagai budak untuk mereka.

Kerusakan keempat:

Berusaha melakukan pembunuhan pada bayi-bayi yang baru lahir dari kelompok musuh
sehingga tidak ada dari golongan Bani Israil kekuatan dari kalangan laki-laki dan menjadi
penguasa di muka bumi secara khusus.

Kerusakan kelima:

Melakukan pelecehan dan penistaan terhadap wanita atau membiarkan wanita-wanita kecil
hidup sehingga ketika dewasa menjadi pelacur karena mereka tidak mempunyai suami.
“Bahwa kaum Fir’aun menghinakan mereka dan melarang mereka untuk menikah sehingga
tidak memiliki bagian dari para lelaki kecuali hanya untuk melampiaskan nafsu syahwat,
sehingga lahir kerusakan baru dari kalangan wanita hingga mencapai pada penyembelihan
anak-anak laki”. [4]

Dan ketika Fir’aun merasa angkuh dan takabbur serta memperlakukan secara keji terhadap
Bani Israil, adalah merupakan kehendak Allah yang menginginkan dari Bani Israil menjadi
umat yang besar, mendendam kepada Fir’aun dan bala tentaranya. Allah berfirman : “Dan
Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan
hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi
(bumi). Dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami
perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang se- lalu mereka
khawatirkan dari mereka itu”. (Al-Qashash : 5-6)

Kata “Nuridu” dengan shighat mudari’ (kata kerja sekarang dan akan datang) dalam
menceritakan kehendak yang telah berlalu untuk menggambarkan waktu yang sedang
berlangsung; karena makna bahwa Fir’aun melakukan kedzaliman atas mereka dan Allah
menginginkan pada waktu itu menghancurkan perbuatannya dan menjadikan mereka umat
yang besar.
Dan kata “istadh’afu” menjadi alasan bahwa Allah Maha Kasih terhadap hamba-Nya,
menolong orang-orang yang lemah dan memberikan anugrah pada empat perkara yang di
athofkan pada kata kerja “Namunna” sebagai athof khusus atas yang umum; yaitu
menjadikan mereka pemimpin, menjadikan mereka pewaris, kejayaan untuk mereka di muka
bumi dan menjadikan kehancuran kerajaan Fir’aun melalui tangan mereka dalam berbagai
nikmat yang banyak dan berlimpah. [5]

Sesungguhnya Allah dari sunnah-Nya yang berlaku dalam suatu umat, bangsa, masyarakat
dan Negara jika Allah ber-Kehendak maka digerakkan kepadanya sebab-sebabnya, diberikan
sedikit demi sedikit secara berangsur tidak sekaligus, ketika sampai kedzaliman pada
puncaknya dan kelemahan pada titik terendah maka pada saat itulah Allah memberikan
kejayaan kepada Bani Israil, lalu dimulailah kisah kejayaan dengan pelaksanaan kehendak
Allah melalui anak yang disusui dan dibina oleh Fir’aun : “Dan Kami ilhamkan kepada ibu
Musa; “Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya Maka jatuhkanlah Dia ke
sungai (Nil). dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena
Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan men- jadikannya (salah
seorang) dari Para rasul”. (Al-Qashash : 7)

Tampak jelas dalam ayat Allah diatas bahwa Allah SWT mengilhamkan kepada ibu Nabi Musa
AS untuk mengasuhnya dan menyusuinya jika khawatir atasnya, maka dia harus
membuangnya ke sungai, dan Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai
kesanggupannya, karena itu para pelaku kebenaran hendaknya berjuang sekuat tenaga,
sekalipun jumlah mereka sedikit namun Allah akan memberikan keberkahan di dalamnya,
memberikan suatu sebab menuju kejayaan bagi agama dan keluarganya.

Bahwa sunnatullah yang telah ditentukan pasti akan terwujud terhadap orang yang beriman
hingga mereka tidak boleh menunda dalam mengambil sebab-sebab yang diberikan, maka
demikian pula usaha keras yang dilakukan oleh Ibu Nabi Musa dalam menjaga nabi Musa,
padahal yang merekayasa perlindungan dan kemenangan adalah Allah SWT yang Maha
Agung dan Mulia, dan bisa saja nabi Musa mendapatkan perlindungan dan perawatan tanpa
sebab; namun Allah melalui sunnah-NYa menginginkan sesuatu yaitu menggerakkan dengan
sebab-sebab, dengan memberikan di dalam hati Istri Fir’aun kecintaan kepada nabi Musa
sehingga menjadi sebab keselamatannya dari penyembelihan, Allah telah meneguhkan
dalam hatinya kecintaan kepada nabi Musa dan memberikan kekuatan untuk berdiskusi,
berdebat dan alasan yang memuaskan Fir’aun sehingga membiarkan istrinya untuk
memeliharanya.

Dapat kita saksikan pada ayat-ayat tersebut kasih sayang Allah terhadap ibu Nabi Musa
dengan memberikan ilham kepadanya akan keselamatan anaknya, dan diberikannya kabar
gembira dengan dikembalikannya nabi Musa kepadanya, yang sekiranya bukan Allah maka
ibunya akan terus dirundung kesedihan, dengan hal tersebut tampak jelas bagi kita bahwa
kasih sayang Allah pasti akan diberikan kepada para wali Allah yang tidak dapat diperkirakan
oleh akal, tidak bisa diungkapkan oleh lisan, dengan memperhatikan kabar gembira tersebut,
ibunya dapat menyusui anaknya secara terang-terangan dan dapat memberikan ketenangan
dan kekuatan iman dalam hati ibu nabi Musa AS. [6]

Sesungguhnya Allah telah memberikan keteguhan cinta kepada Musa dari hati istri raja
Fir’aun sehingga menjadi sebab memungkinkannya Musa mendapatkan susu dari ibunya dan
diperlihara olehnya dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Pada ayat diatas dapat kita saksikan petunjuk yang sangat penting; bahwa setiap hamba jika
menyadari bahwa ketentuan dan takdir Allah adalah benar, dan janji Allah pasti ditepati dan
merupakan suatu keharusan, maka Dia tidak akan menghiraukan pada perbuatan yang
bermanfaat, karena sebab-sebab dan usaha yang ada di dalamnya merupakan takdir Allah,
Allah terlah memberikan janji kepada ibu Nabi Musa akan mengembalikan kepadanya yaitu
saat ditemukan oleh keluarga Firaun yang merupakan sebab diutusnya saudara
perempuannya untuk megikuti dan melihat apa yang terjadi dan menjadi sebab lain akan
janji Allah SWT. [7]

Demikianlah isyarat yang disebutkan Quran akan firman-Nya : “Ikutilah dia” Maka
kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya”. (Al-Qashash : 11)
hingga menggunakan sebab-sebab, waspada dan perhatian dengan tarbiyah amniyah yang
tinggi khususnya terhadap umat yang berusaha untuk membersihkan kedzaliman, kekejaman
dan keangkuhan para penguasa yang kejam, bahkan dari sebab-sebab keberhasilan berbagai
gerakan yang menginginkan kemerdekaan bangsanya dari belenggu pemerintah orang-orang
yang dzalim adalah keberhasilannya dalam menjaga rahasia.

Dapat kita lihat pada ayat tersebut bahwa umat yang lemah, walaupun berada dalam titik
yang lemah tidak boleh terkuasai oleh kemalasan untuk mendapatkan hak-haknya, tidak
boleh berputus asa untuk meningkatkan diri mencapai puncak, khususnya jika mereka dalam
keadaan terdzalimi, sebagaimana Allah telah menyelamatkan Bani Israil karena disaat lemah
dan diperbudak oleh Fir’aun dan antek-anteknya, dengan memberikan kejayaan dimuka bumi
dan kerajaan di negeri mereka.[8]

Dan diantara janji Allah terhadap nabi Musa AS adalah diasuhnya beliau di Istana Fir’aun
dengan berbagai kemewahan dan kebesaran kerajaan dan kekuasaan di dalamnya, tumbuh
sebagaimana tumbuhnya para anak-anak kerajaan, sehingga dengan demikian
menghilangkan dari hati Nabi Musa perasaan canggung dan takut terhadap kerajaan dan
orang-orang kaya, tidak ada rasa takut pada nabi Musa yang berada di dalam keluarga
Fir’aun, dan akhirnya kembali menjadi jati dirinya menuju nabi Ya’qub AS, yaitu saat dirinya
beranjak dewasa dan Allah memberikan kepadanya karunia berupa hikmah dan ilmu, karena
beliua termasuk orang yang muhsinin, yang mana pada suatu hari, pada waktu siang
terdapat dua orang yang berkelahi salah satunya berasal dari kaumnya sendiri dan yang lain
dari kaum Fir’aun, lalu orang yang berasal dari kaumnya meminta untuk menolongnya, maka
nabi Musapun masuk dan memukul orang mesir tersebut hingga mati. hal ini menunjukkan
bahwa nabi Musa adalah orang yang kuat dan sangat marah, dan jug amenunjukkan dalam
dirinya perasaan sempit dan terdzalimi terhadap Fir’uan dan kaumnya; namun walaupun
demikian nabi Musa tidak berkehendak membunuh orang tersebut, karena itulah dia
menyesal dan memohon ampun kepada Allah. “Ini adalah perbuatan syaitan. Sesungguhnya
syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya). (Al-Qashah : 15)
kemudian belim menghadap Allah memohon ampunan dan maaf-Nya : “Musa berkata: “Ya
Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerah- kan kepadaKu, aku sekali-kali tiada akan
menjadi penolong bagi orang- orang yang berdosa”. (Al-Qashash : 17)

kejadian tersebut membuat Nabi Musa khawatir dan merasa diawasi saat tinggal di
negerinya, dan disaat terjadi pertengkaran kedua kaumnya sendiri dan kelompk Fir’aun, nabi
hendak turut campur untuk melerai pertengkaran, namu beliau mendapati celaan dari
kaumnya dengan mengatakan “Sungguh engkau berada dalam kesesatan yang nyata” (Al-
Qashash : 18), dia mengatakan itu karena menduga nabi Musa akan memukulnya dan
memperlakukannya seperti peristiwa sebelumnya, maka diarahkanlah kepada nabi pada
tuduhan padahal sebenarnya dia tidak bersalah : “Kamu tidak bermaksud melainkan hendak
menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini), dan Tiadalah kamu hendak
menjadi salah seorang dari orang-orang yang Mengadakan perdamaian”. (Al-Qashash : 19)

namun nabi Musa melihat bahwa pertengkaran dengan dua sisi tidak meberikan manfaat
terhadap kaumnya, karena itu dia disifati dari orang yang segolongan dengannya dengan
kesesatan ; maksudnya adalah dengan perkelahian dan pertengkaran yang tiada henti-
hentinya, permusuhan yang tidak memberikan manfaat kecuali hanya membangkitkan
dendam terhadap bani Israil sementara untuk melakukan revolusi mereka tidak mampu,
untuk melakukan pergerakan yang membuahkan hasil sangat lemah sehingga tidak
memberikan nilai positif terhadap pertikaian seperti itu bahkan akan menjadi mudharat dan
tidak memberikan manfaat dan faidah sama sekali.[9]

Ini adalah merupakan pelajaran yang mendalam pelajaran yang sangat mendalam yang dapat
memberikan manfaat bagi para aktivis yang berusaha mendirikan agama Allah; mereka harus
menghindari diri dari pertengkaran dua sisi dan menyatukan barisan dan kekuatas pada saat
kondisi keimanan meningkat namun bendera kekufuran dan kedzaliman berkibar.

berita pembunuhan yang dilakukan nabi Musa terhadap seorang tetwarga Mesir akhirnya
tersebar dan menjadikan warga Fir’aun berkumpul untuk membalas apa yang dilakukan Nabi
Musa, dan juga tersiar bahwa Nabi Musa berusaha melakukan revolusi memerangi
kedzaliman dan mengangkat kaum Bani Israil sehingga ditetapkan untuk menangkapnya.

dari sini datanglah peran seseorang yang memiliki empati terhadap kebenaran dan keadilan
yang dibawa oleh nabi Musa AS, sehingga dia bersegera memberikan peringatan dan
menasihatinya, dan dari sini pula di dapati petunjuk Quran akan perhatiannya terhadap
kehatia-hatian di dalam kekuasaan Fir’aun dan mengambil manfaat dari informasi yang dilalui
oleh para duat dalam harakah mereka yang diberkahi. Allah berfirman : “Dan datanglah
seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: “Hai Musa, Sesungguhnya
pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah
(dari kota ini) Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu”.
(Al-Qashash : 20)

Allah telah memberikan keselamatan kepada nabi Musa melalui informasi yang bermanfaat
tersebut dan menetapkan diri untuk hijrah dari negeri Fir’aun.

hal ini juga merupakan petunjuk Quran bagi mereka yang takut terhadap ancaman
pembunuhan tanpa a;asan yang benar, tidak menyerahkan dirinya pada kehancuran dan
pasrah, namun sebisa mungkin menghindar dari tempat tersebut semampunya seperti yang
dilakukan oleh nabi Musa AS, sebagaimana juga di dalamnya ada arahan rabbani untuk
mengambil salah satu dari dua mafsadah (keburukan) dengan mencari yang lebih ringan dari
keduanya, untuk menghindar yang lebih besar dan lebih berbahaya, Nabi Musamemiliki dua
pilihan; antara tetap tinggal di Mesir namun dirinya akan terancam dibunuh, atau pergi
meninggalkan ke Mesir ke negeri yang jauh yang tidak diketahui oleh orang lain, walaupun
dirinya tidak memiliki petunjuk atau arah jalan yang akan ditempuh, namun dia berharap
mendapatkan keselamatan. [10] Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut
menunggu-nunggu dengan khawatir, Dia berdoa: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-
orang yang zalim itu”. dan tatkala ia menghadap kejurusan negeri Mad-yan ia berdoa (lagi):
“Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar”. (Al-Qashash : 21-22) dapat
kita saksikan karakter nabi Musa yang sendirian terusir berjalan di tengah pada pasir menuju
kota Madyan bagian selatan Syam dan Utara Hijaz, jarak yang begitu luas, jauh penuh dengan
pasir, tidak memiliki bekal dan persiapan, beliau pargi sambil ketakutan dan merasa diawasi,
keluar karena merasa khawatir dan gelisah atas adanya peringatan dan nasihat dari seorang
lelaki demi mendapatkan keselamatan dan petunjuk dari Allah. “”Mudah-mudahan Tuhanku
memimpinku ke jalan yang benar”. (Al-Qashash : 22)

Nabi Musa menempuh perjalanan yang panjang dibawah perlindungan dan taujih, mendapat
tuntunan dan pengalaman, sebelum menerima wahyu dari Allah dan kenabian (pengalaman
akan pertolongan, kecintaan dan petunjuk, pengalaman melakukan perasaan menyesal,
perasaan terbebani dan permohonan ampun, pengalaman perasaan takut, terusir dan
khawatir, perasaan terasing, hidup sendirian dan terisolir, pengalaman melakukan khidmah
dan menggembala kambing setelah mengalami kehidupan yang singkat serta tidak
terlewatkan pengalaman yang besar dari berbagai pengalaman-pengalaman yang kecil,
perasaan yang terus berkecamuk, kekhawatiran dan ketakutan, pemahaman dan
pengetahuan yang berharga terhadap segala karunia Allah disaat umurnya cukup menerima
ilmu dan hikmah, karena risalah merupakan tugas yang berat dan brsar yang memiliki ragam
rintangan dan cobaan, sehingga membutuhkan bekal yang banyak, pengalaman yang
memadai dan pegetahuan dan cita rasa dalam realita kehidupan yang nyata, disamping ada
bimbingan Allah secara langsung berupa wahyu dan arahan dalam diri dan hatinya”. [11]

Bahwa Allah berkehendak untuk membimbing nabi Musa dengan berbagai peristiwa
sebelum menerima risalah, dan kerenanya dia masuk dalam ketentuan Allah untuk berada di
tengah komunitas penggembala, agar dapat merasakan akan nikmat menjadi penggembala
kambing untuk mendapatkan makanan dan tempat tinggal (ketenteraman) setelah
mengalami ketakutan, kelaparan, pengusiran dan kesulitan.

Beliau hidup di tengah kesederhanaan dalam akhlak, tradisi dan hidup, yang kesemua itu
merupakan latihan baginya akan tugas dakwah yang akan diembannya kelak.

Bahwa pengalaman maidaniyah (lapangan) lebih kuat pengaruhnya dan lebih banyak
manfaatnya dalam membimbing jiwa manusia ketimbang membaca buku, majalah dan surat
kabar, ketimbang mengikuti nadwah (seminar-seminar), halaqoh yang tenang jauh dari ujian,
cobaan dan kesulitan.

Dan bangsa yang terbina atas tradisi kehinaan, kenistaan dan kekerasaan akan
menghilangkan sisi kekuatan berfikir dan mengatur, dan hanya bisa menunggu hadirnya
seseorang yang memimpinnya menuju kebebasan, kemuliaan dan jati diri yang sebenarnya.

Dan Al-Quran al-Karim merupakan pelarajan yang begitu berharga terhadap suatu
perubahan yang dilakukan oleh para nabi dan Rasul, yang berusaha membebaskan umatnya
dari kedzaliman, kejahatan dan kelaliman, meraih tangan-tangan mereka untuk melakukan
perubahan-perubahan dan bagaimana caranya keluar dari kelemahan dan lingkungan
kedzaliman serta belenggu perbudakan menuju kekuatan dan cahaya kebebasan serta
peribadatan kepada Dzat yang Esa yang Maha Kuasa Pemberi Balasan.

Bahwa pengalaman nabi Musa dalam mereformasi umatnya merupakan pengalaman yang
sangat berharga; bahwa beliau berhadapan –saat itu- dengan dakwah yang dipenuhi
keberkahan seorang raja yang paling kuat saat itu, memiliki singgasana yang paling maju dan
megah, memiliki kerajaan yang kokoh, peradaban tertua dan paling keras dalam
memperbudak manusia dan paling angkuh di muka bumi.

Saat itulah waktu yang tepat untuk menyelamatkan bani Israil dari kedzaliman, tekanan,
penghinaan dan kedzaliman, setelah beliau berhasil menuntaskan tugasnya di kota Madyan
dan berazam menunaikan tugas robbani dengan risalah robbaniyah dan kebangkitan umat
yang lemah dan dihinakan melalui wahyu Tuhan semesta alam kepada nabi Musa al-kalim,
dan membekalinya dengan berbagai macam mukijizat yang jelas di depan mata dan disertai
dengan bukti-bukti konkrit dan petunjuk yang jelas.

Beliau diperintahkan untuk pergi menuju kaum yang fasiq dengan hujjah yang kuat
dihadapan kerajaan Fir’aun dan menyelamatkan bani Israil dari kedzaliman penghambaan
dan kedzaliman umat lain serta kebengisan Fir’aun hingga mendapatkan kebebasan dalam
beribadah, dan nabi Musa tidak ragu-ragu untuk meminta pertolongan kepada Tuhannya,
pelindungnya dan tempat harapan akan ridha-Nya.

Sayyid berkata : sungguh Allah mengabulkan permohonannya dan memberikan kekuatan


melalui kehadiran saudaranya, sehingga menambah kemantapan akan kabar gembira dan
ketentraman, Allah berfirman : “Dan kami berikan pada kalian –berdua- kekuatan”. (Al-
Qashash : 35) dan mereka tidak pernah pergi menghadapi Fir’aun dengan tangan kosong,
namun memiliki bekal dengan kekuatan yang tidak ada dimiliki oleh siapapun dimuka bumi
yang merasa dirinya lebih kuat, tidak melakukan keurasakan dalam melakukan perubahan
“Maka mereka tidak dapat mencapaimu; (berangkatlah kamu berdua) dengan membawa
mukjizat Kami”. (Al-Qashash : 35), dan disekitar kalian berdua ada kekuatan Allah yang akan
menjadi benteng dan tameng, sekalipun kabar gembira tersebut pada keunggulan suatu
kebenaran, Karena kemenangan terhadap ayat-ayat Allah akan mengalahkan kedzaliman, dan
hal tersebut merupakan senjata satu-satunya yang paling kuat dan sebagai perangkat
kemenangan dan kekuasaan “ (berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami,
kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang akan menang”. (Al-Qashash : 35) [12]

Nabi Musa AS bergembira dalam menunaikan perintah Tuhannya, dan Allah SWT
memberikan dukungan berupa mu’jizat dan memberikan kekuatan untuk menyampaikan
kebenaran dihadapan Fir’aun yang kejam dan diktator, menyampaikan dengan menggunakan
hujjah dan bukti-bukti nyata, dalil-dalil akan kebenaran risalahnya dan akhirnya Fir’aun dan
kaumnya ditimpa dalam tahun yang panjang, kekurangan buah-buahan, diuji oleh Allah
berupa penyakit, angin taufan, belalang, kutu, katak dan darah dan lain-lainnya.

Namun penguasa-penguasa yang keji dan keras tetap tidak beriman; namun malah menuduh
nabi Musa sebagai penyihir dan memutuskan mengajak para penyihir lainnya untuk
berhadapan pembawa kebenaran yang dikomandani oleh utusan Allah, Nabi Musa AS.

Akhirnya dua kelompok berkumpul pada waktu dan tempat yang telah ditentukan,
pertempuran dimulai, para penyihir melemparkan kebohongan dan tipu daya mereka
kemudian nabi Musa menggungguli kebatilan mereka dengan kebenaran yang nyata, dengan
melemparkan tongkat yang berubah menjadi ular hidup lalu mengalahkan kedustaan
mereka.

Allah berfirman : “Dan Kami wahyukan kepada Musa: “Lemparkanlah tongkatmu!”. Maka
sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan. karena itu nyatalah yang
benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan
jadilah mereka orang-orang yang hina. (Al-A’raf : 117-119)

Shohibu dzilal berkata : (Sesungguhnya kebatilan menyebar dan mempengaruhi mata dan
menggetarkan hati serta mengkhayalkan pada banyak orang bahwa dialah yang akan
menang, dialah penakluk, dialah yang paling benar. Namun tidaklah demikian kecuali
berhadapan dengan kebenaran yang nyata dan kuat sehingga … dan padam seperti lampu
yang redup, namun kebenaran akan tampak dan kuat timbangannya, kokoh pondasinya dan
dalam akar-akarnya, dan ungkapan Quran disini menyampaikan akan naungan-Nya yaitu
pengggambaran kebenaran yang nyata dan memiliki bobok “maka tampaklah kebenaran”
dan teguh, tetap dan pergi yang selainnya dan tidak memiliki keseimbangan dalam
waujudnya “dan batillah apa yang mereka lakukan”, kebatilan dan pelakunya terkalahkan,
mereka terhinakan, kerdil serta malu setelah merasa bangga yang membelalakkan mata
“akhirnya mereka terkalahkan dan menjadi terhina”. Namun kejutan belum berakhir dan
kesaksian masih mengiringi kejutan besar “para penyihir tersungkur sambil bersujud, dan
mereka berkata : “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, Tuhan Musa dan Harun”. (Al-
A’raf : 120-122).

Demikianlah drama kebenaran yang masuk dalam hati, cahaya al-haq di dalam perasaan, dan
sentuhan kebenaran yang merasuk ke dalam jiwa yang menggerakkannya untuk menerima
kebenaran, cahaya dan keyakinan”.[13]

Namun Fir’aun marah atas keimanan para penyihir, geram dan dingin, karena mereka
beriman tanpa seizinnya “apakah kalian beriman tanpa seizinku” (Al-A’raf : 122), seakan
mereka harus izin lebih dahulu dalam menerima suatu kebenaran, seakan jiwa mereka tidak
memiliki kekuatan, meminta izin ketika parasaan dan jiwa mereka sadar akan kebenaran dan
tidak memiliki kekuatan sedikitpun, namun thagut tetaplah jahil tidak memiliki kemampuan,
dan pada saat yang sama dirinya merasa angkuh, sombong dan terpedaya.

Kejadian tersebut menjadi goncangan mendadak terhadap kerajaan yang sedang terancam
dan kekuasaan yang goyah, permasalahannya adalah jelas, bahwa dakwah nabi Musa kepada
Tuhan semesta alam menjadi suatu kegelisahan dan ketakutan tersendiri, karena tidak ada
kekekalan dan kelanggengan terhadap hukum thagut dihadapan dakwah kepada Tuhan
semesta alam, para penyihir yang pada hakikat berdiri dihadapan kerajaan mereka diatas
kekuatan Rububiyah Allah terhadap manusia melalui syariatnya, meluruskan jiwa-jiwa
mereka dari tuhan-tuhan selain Allah; mensyariatkan undang-undang kepada manusia
semau mereka, menyembah manusia sesuai apa yang mereka syariatkan, karena keduanya
merupakan dua metode yang selamanya tidak akan bertemu, dua agama yang tidak akan
bisa menyatu, atau dua tuhan yang tidak akan bisa disamakan. Karena itulah Fir’aun
memberikan ancaman yang keji dan menakutkan : “Maka kelak kamu akan mengetahui
(akibat perbuatanmu ini); Demi, Sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu
dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib
kamu semuanya.” (Al-A’raf : 123-124)

Yang demikian merupakan siksaan, pengelabuan dan pembuat gentar yang biasa dijadikan
sarana para thagut dalam menghalangi kebenaran yang tidak mampu mereka kalahkan
dengan hujjah dan bukti-bukti nyata, tampak kebatilan dihadapan kebenaran yang gamblang.
Namun jiwa kemanusiaan disaat meningkat didalamnya nilai keimanan maka akan meningkat
pula kekuatan dirinya dan kekuatan bumi sehingga mampu mengalahkan segala ancaman
yang akan di dapat dan dilakukan oleh para thagut, unggul di dalamnya aqidah atas
kehidupan yang abstrak, lenyap dihadapan kehidupan yang fana dihadapan kehidupan yang
kekal dan abadi, mereka tidak menanyakan bagaimana akan terjadi dan akan dialami, apa
yang akan diambil dan ditolak,kerugian apa yang akan di dapat dan apa keuntungannya, apa
yang akan diterima di dalam jalan yang sulit, penuh duri dan pengorbanan; karena sinar
cahaya yagn terang ada dihadapannya sehingga tidak mampu lagi melihat yang lainnya di
jalan tersebut.[14]

“Ahli-ahli sihir itu menjawab: “Sesungguhnya kepada Tuhanlah Kami kembali. Dan kamu tidak
menyalahkan Kami, melainkan karena Kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan Kami
ketika ayat-ayat itu datang kepada kami”. (mereka berdoa): “Ya Tuhan Kami, Limpahkanlah
kesabaran kepada Kami dan wafatkanlah Kami dalam Keadaan berserah diri (kepada-Mu)”.
(Al-A’raf : 125-126), nabi Musa telah memberikan dalil-dalil yang kuat dan bukti-bukti yang
nyata terhadap Fir’aun yang dzalim dan sombong, beliau juga meminta untuk dibebaskan
bani Israil pergi bersamanya, namun Fir’aun mencegahnya dan bahkan merekayasa
melakukan tipu daya terhadap nabi Musa dan kaumnya, sehingga membuat keimanan para
penyihir lebih mantap dan kokoh di hati mereka dan mengikrarkan diri dengan penuh
ketegaran terhadap segala ancaman yang akan ditimpakan kepada mereka : “Mereka
berkata: “Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata
(mukjizat), yang telah datang kepada Kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami;
Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat
memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja”. (Thoha : 72)

Dan keputusan para penyihir tersebut membuat Fir’aun semakin geram dan marah dan
menghukum mereka dengan menyalib tubuh mereka di batang pohon korma dan memotong
tangan-tangan dan kaki-kaki mereka secara silang, lalu para pemuka dari kaum Fir’aun
bermusyawarah dan pada akhirnya ditetapkan akan azab dan siksaan yang berlipat ganda,
dan mengancam kepada rakyat yang lemah yang mulai diliputi cahaya kebenaran, kebebasan,
kemuliaan dan tauhid yang benar.

Namun Nabi Musa tetap melakukan dialog dengan Fir’aun yang dzalim dan para ahli sihirnya,
dan usahanya untuk melakukan perbaikan kondisi dari atas, sehingga dapat tercapai
perubahan secara menyeluruh, namun usahanya gagal karena tembok kerajaan Fir’aun tidak
mudah ditembus, bahkan sama sekali tidak goyah, bergerak dan bergeser, bahkan saat
setelah nabi Musa berhasil mengalahkan peperangan secara aqidah, fikrah dan politik, saat
tongkatnya yang berubah menjadi ulat melahap tali-tali para penyihir, sehingga pada
akhirnya beliau harus melakukan cara baru bagaimana mengeluarkan bani Israil dari penjara
penindasan, cara baru untuk dapat merdeka dan terbebas dari cengkraman Fir’aun; jika
melakukan konfrontasi maka artinya kehancuran (akan terkalahkan) namun jika lari dan gagal
maka merupakan kehancuran pula.

Jadi harus berani melewati jalan panjang menembus padang pasir sehingga tidak mudah
dikejar oleh mereka dan sampai pada bumi yang dijanjikan. Segala usaha yang dilakukan oleh
nabi Musa ini adalah merupakan bahagian dari usaha untuk menyelamatkan kaumnya dari
kehinaan, siksaan dan perbudakan, dan hal tersebut tidak akan mungkin berhasil jika tidak
ada taufik (petunjuk) Allah SWT dan mukjizat dapat membelah lautan, menenggelamkan
Fir’aun dan pasukannya sementara mereka terus mengejar orang-orang yang kabur. [15]
Adapun pengaruhnya secara politik dan social serta dampak lingkungan eksternal dan
internal adalah pengaruh dalam mengambil cara hijrah sirriyah nabi Musa dan kaumnya, dan
juga bangsa yang tertindas: mengerahkan segal potensi, kekuatan dan tenaga serta yakin
akan kemenangan Allah pasti datang selama masih menyembah Allah yang berjalan diatas
manhaj-Nya, syariat-Nya dan agama-Nya yang lurus, dan pada saat itu telah sampai waktu
kehancuran Fir’aun yang terlaknsa dan keselamatan nabi Musa beserta kaumnya yang
beriman.

Allah berfirman : “Dan Kami wahyukan (perintahkan) kepada Musa: “Pergilah di malam hari
dengan membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israil), karena Sesungguhnya kamu sekalian akan
disusuli”. Kemudian Fir’aun mengirimkan orang yang mengumpulkan (tentaranya) ke kota-
kota. (Fir’aun berkata): “Sesungguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar golongan kecil, dan
Sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan amarah kita, dan Sesungguhnya
kita benar-benar golongan yang selalu berjaga-jaga”. Maka Kami keluarkan Fir’aun dan
kaumnya dari taman-taman dan mata air, Dan (dari) perbendaharaan dan kedudukan yang
mulia. Demikianlah halnya dan Kami anugerahkan semuanya (Itu) kepada Bani Israil. Maka
Fir’aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit. Maka setelah
kedua golongan itu saling melihat, berkatalah Pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita
benar-benar akan tersusul”. Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; Sesungguhnya
Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. lalu Kami wahyukan
kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-
tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang
lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami
tenggelamkan golongan yang lain itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
merupakan suatu tanda yang besar (mukjizat) dan tetapi adalah kebanyakan mereka tidak
beriman. Dan Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha
Penyayang” (As-Syu’ara : 52-68)

Ayat-ayat diatas menegaskan kepada kita akan sunnatullah yang telah berlalu dan berjalan di
setiap umat, bangsa dan umat; yaitu sunnah kemenangan dan keselamatan orang-orang
yang beriman yang benar dan beriman kepada para pemimpinnya, mengakui akan risalah
para nabi dan para rasul, dan kehancuran dan kebinasaan orang-orang kafir yang
mendustakan mereka. Sebagaimana tampak dari sunnah yang lainnya bahwa sunnah istidraj
dan bagaimana Allah menghancurkan Fir’aun dan pasukannnya dan menghinakan mereka
bahkan mencabut ingatan mereka karena mereka mengikuti nabi Musa dan kaumnya, kita
bersama rasul dalam firman Allah SWT : “Sekali-kali tidak, karena bersamaku ada Tuhan yang
akan memberikan petunjuk kepadaku”. Disini memberikan petnjuk yang sangat penting yaitu
bahwa para Rasul adalah manusia yang paling tsiqoh terhadap kemenangan yang diberikan
Allah dan janji-Nya, jika disaat umat merasa terjepit dan sulit terhadap janji Allah berupa
kemenangan dan kemudahan maka para nabi dan rasul merupaan manusia yang paling
tsiqoh dan yakin akan kemenangan dan pembelaan Allah.

Bahwa Fir’aun yang dzalim berusaha menolak untuk tunduk terhadap ayat-ayat dan
kehendak Allah, dan terus menyombongkan diri dan dzalim bahkan semakin beringas
sehingga pada akhirnya secara perlahan dijauhkan dari singgasananya, kerajaannya, istana
dan kekuasaannya, dan dirinya termasuk orang yang tenggelam, dan dirinya bersama
kaumnya menjadi pelajaran yang berharga. Adapun para bintang dari kaum yang tertindas
dapat meraih puncaknya, namun setelah beberapa tahun setelahnya mereka mengalami
kehinaan dan kedzaliman dan kelemahan iman masih begitu melekat dalam tubuh bani Israil,
namun demikian kemenangan besar yang diraih oleh nabi Musa atas orang-orang yang
dzalim dan hina merupakan bagian dari tamkin (kejayaan) yang disebutkan dalam Al-Quran
Al-Karim, dan menjali satu langkah menuju kejayaan yang sempurna dan kemenangan yang
besar yang terjadi pada masa nabi Daud dan Nbai Sulaiman AS.

___________________________________

[1]. Lihat: Tafsri At-Tobariri, Jil. 11 hal. 28-29

[2]. Lihat: Tafsir Ibnu Katsir, jil. 3, hal 392

[3]. Tafsir Al-Biqo’i, jil. 5 hal. 464-465

[4]. Tafsir At-tahrir wa at-tanwir, juz. 20 hal. 68-70

[5]. Ibid

[6]. Lihat: Tafsir As-Sa’di, Jil. 8, hal. 366

[7]. Ibid, hal. 367-368

[8]. Ibid, hal. 367-368

[9]. Lihat: Qishash ar-rahman fi Dzilal Al-Qur’an, Ahmad Faiz, Jil. 3 hal 64

[10]. Lihat tafsir As-Sa’di, jil. 8 hal. 638

[11]. Ibid, jil. 3, hal. 64

[12]. Fi Dzilal Al-Quran, jil. 5 hal 2693

[13]. Ibid. jil. 3 hal 1350

[14]. Ibid. jil 3, hal. 1351-1352

[15]. Lihat: fi nazhariyyat at-taghyir, Munir Syafiq, hal. 1

Serial Fiqh Kemenangan dan Kejayaan Dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah (5):
Berpartisipasi Dalam Pemerintahan

PENDAHULUAN

Sesungguhnya kepemimpinan ahlu tauhid dan iman terhadap berbagai jabatan


pemerintahan di tengah negara yang tidak beriman merupakan bagian dari tamkin
(kejayaan), dan Al-Quran telah menunjukkan contoh tersebut dalam kisah nabi Yusuf as,
Allah berfirman : “Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir);
Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan”. (Yusuf : 55)
Nabi Yusuf menyampaikan permintaan ini kepada raja Mesir yang musyrik karena aqidah dan
dakwahnya, serta keinginan menghadirkan yang terbaik bagi manusia, nabi Yusuf bergerak
sesuai dengan kapasitas dan kondisi yang terjadi pada saat itu dan memanfaatkan
kesempatan yang diberikan untuknya.

Jalan yang ditempuh oleh nabi Yusuf ini menunjukkan kepada kita akan adanya banyak jalan
dalam berdakwah dan menyebarkan Islam, mengajak masyarakat kepada Iman dengan
berbagai cara dan jalan, selama cara dan jalan ini tidak terdapat di dalamnya benturan antara
prinsip yang dibawanya; karena hukum hanya milik Allah dan penghambaan mutlak banyak
untuk yang Maha Esa dan Maha Pemberi Balasan dan antara kepemimpinan satu
departeman (kedudukan), untuk membentuk masyarakat lebih dekat pada dakwah Allah, hal
tersebut tidak diragukan lagi bahwa Yusuf as menyebarkan dakwah tauhid saat mendekam di
dalam penjara, sebagaimana pada dirinya berada dalam kekangan suatu hukum yang zhalim.

Sesungguhnya masuknya nabi Yusuf as dalam pemerintahan menjadi sandaran terhadap


gerakan-gerakan Islam modern saat ini yang memandang dan berpendapat boleh
bermusyarakah dalam berbagai pemerintahan jahiliyah, jika musyarakah tersebut memiliki
kemaslahatan yang besar atau mampu menolak kemungkaran dan kejahatan yang merebak
terjadi di tengah masyarakat, karena hal tersebut tidak akan terwujud dan dapat merubah
keadaan secara mutlak dan mengakar kecuali dengan melakukan musyarakah, dan pendapat
ini disampaikan melalui ijtihad para ulama dan pemegang kekuasaan dalam gerakan-gerakan
Islam kontemporer.

Namun permasalahan ini juga tidak lepas dari pertentangan oleh sebagian ulama lain yang
membahas bahwa musyarakah dalam hukum dan pemerintahan yang berhukum pada selain
syariat Allah, dan menganggap permasalahan musyarakah dalam hukum merupakan
permasalahan aqidah, dan yang membahas permasalahan ini dari sisi syar’iyah dan
semangat sejarah yang menilai bahwa masalah peran di bawah siyasah syar’iyah pada
jamaah yang rasyidah yang berusaha mengaplikasikan syariat Allah dan tamkin terhadap
agamanya; karena itu kita akan coba membahas dan diskusikan tema ini secara ilmiyah dan
jauh dari kesimpang siuran dan cela, karena tujuan kita adalah mencapai apa yang dicintai
dan diridhai Allah.

PEMBAHASAN PERTAMA

DALIL-DALIL YANG MELARANG DAN MEMBOLEHKAN MUSYARAKAH DALAM


PEMERINTAHAN

Pertama:

Dalil-dalil yang melarang musyarakah dalam pemerintahan

Orang-orang yang berpendapat melarang orang-orang Islam masuk dalam musyarakah dalam
pemerintahan berdasarkan dalil-dalil berikut :

1. Nash-nash Al-Quran yang menyebutkan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa
yang telah diturunkan Allah maka termasuk orang-orang kafir, dzalim dan fasik

Allah SWT berfirman : “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan
Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Al-Maidah : 44) “Barangsiapa tidak
memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-
orang yang zalim.” (Al-Maidah : 45) “Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa
yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. “ (Al-Maidah : 47)

2. Bahwa hukum (keputusan) hanyalah milik Allah semata : “Keputusan itu hanyalah
kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah
agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Yusuf : 40)

3. Allah melarang orang-orang yang beriman untuk berhukum pada selain syariat Allah, dan
menjadikan hal tersebut sarana menafikan keimanan : “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada
hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang
mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan
terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-
NIsa : 65)

4. Musyarakah dalam pemerintahan yang tidak Islami terdapat banyak kerusakan, karena
orang yang tidak berhukum pada syariat Allah pada hakikat telah menentang perintah Allah,
dan melawan hukum-hukumnya : “Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah
memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Yusuf : 40) “ Janganlah ia mempersekutukan
seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (Al-Kahfi : 110).

5. Seorang muslim yang bermusyarakah pada pemerintahan yang tidak Islami sangat
bertolak belakang dengan prinsip, karena seorang muslim dituntut untuk berjihad guna
menegakkan hukum Allah dan mengingkari (melawan) dengan gigih dan sungguh-sungguh
atas hukum selain yang diturunkan Allah, maka bagaimana mungkin seorang muslim dapat
tinggal dan bersekutu di tempat (pemerintahan) yang tidak berhukum pada selain apa yang
diturunkan Allah.

6. Bahwa ketaatan para pejabat pemerintah terhadap apa yang mereka syariatkan yang
bertentangan dengan perintah adalah taat kepada tuhan-tuhan selain Allah, sebagaimana
yang difirmankan Allah : “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka
sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam,
Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”.(At-Taubah : 31)

7. Diantara kerusakan yang terjadi dalam musyarakah adalah bahwa sebagian para pejabat
kadang menjadikan orang-orang yang loyal dari orang-orang muslim yang salih sebagai
hiasan dan klise terhadap pemerintahan mereka, dan menyembunyikannya terhadap orang-
orang tidak faham dan awam, sehingga mereka akan berkata : “Kalau kami berada dalam
kebatilan maka tidak mungkin si Fulan mau bermusyarakah dalam pemerintahan kami, dan
bahkan akan menambah tanah menjadi basah ketika mereka melegalkan melalui menteri
yang muslim terhadap undang-undang yang keji dan jahat, dan setelah mereka berhasil
mewujudkan keinginan dan misi mereka maka seorang muslim yang salih tadi akan
dihempaskan begitu saja.

8. Dalam musyarakah pada pemerintahan yang tidak Islami berarti tunduk pada orang-orang
yang dzalim, padahal Allah telah memperingatkan untuk tidak tunduk pada mereka : “Dan
janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim[740] yang menyebabkan kamu
disentuh api neraka”. (Huud : 113)
9. Bisa jadi dengan bermusyarakah menjadi sebab panjangnya umur pemerintahan yang
dzalim yang tidak berhukum pada apa yang diturunkan Allah. [1]

Kedua :

Dalil-dalil yang membolehkan musyarakah

Mereka berkata bahwa asalnya adalah tidak dibolehkannya bermusyarakah, namun ada
beberapa kondisi yang mengecualikannya sehingga syariat membolehkannya bermusyarakah
di dalam pemerintahan yang tidak Islami. Dan mereka memberikan dalil seperti yang
dilakukan oleh nabi Yusuf yang masuk dalam pemerintahan (menjadi pejabat dalam
kementrian) :

Bagian pertama:

Bahwa nabi Yusuf memangku jabatan yang direstui oleh raja dan sesuai dengan
keinginannya, hal ini menunjukkan bahwa hal tersebut merupakan permintaan nabi
Yusuf kepada raja untuk diberikan jabatan : “Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan
negara (Mesir)”. (Yusuf : 55)

Nash tersebut menjelaskan dengan tegas bahwa raja yang memiliki kekuasaan, dan ayat
tersebut juga menjelaskan bahwa nabi Yusuf meminta jabatan pada pemerintahan (kerajaan)
tersebut, dan dia tidak meminta untuk diisolir dan permintaan tersebut bukanlah untuk
dirinya sendiri.

Sayyid Qutb berkata : “Nabi Yusuf tidaklah meminta jabatan untuk dirinya sendiri, dan dia
memandang bahwa raja akan mengabulkan permintaannya, karena itu dia meminta untuk
diberikan jabatan sebagai bendaharawan Negara, karena dirinya merasa akan mampu
melaksanakan pilihannya tersebut jika disetujui guna memgemban amanah tugas yang berat
dan melelahkan, memiliki tugas yang berat dalam kondisi dan waktu yang genting (krisis),
untuk menjadi penanggung jawab dalam memberikan makan secara sempurna kepada
umat”. [2]

Ibnu Taimiyah berpendapat : “Bahwa mujtama’ yang kafir ini harus memiliki kebiasaan dan
sunnah dalam memanaj harta dan mengaturnya dibawah kekuasaan raja, keluarga, tentara
dan para pengikut setianya, dan tidak berjalan sesuai prilaku yang dilakukan oleh para nabi
dan keadilan mereka, dan bisa jadi –saat itu- Nabi Yusuf tidak bisa melakukan segala apa
yang diinginkan, seperti apa yang dia fahami terhadap agama Allah sementara umat tidak
mau menerima begitu saja, namun beliau dapat melakukan hal yang mungkin dari keadilan
dan ihsannya, dan mendapatkan jabatan untuk memuliakan orang-orang beriman dari
keluarganya yang tidak mungkin didapat kecuali denganya- hal ini semuanya terangkum
dalam firman Allah : “Bertaqwalah kepada Allah semampu kalian”. (At-Taghabun : 16) [3]

Namun orang-orang yang melarang membantah terhadap dalil yang digunakan pendapat
orang yang membolehkan dengan penerimaan nabi Yusuf akan jabatan, mereka berkata :
“Bahwa syariat kita tidak membolehkan memangku jabaran dibawah naungan pemimpin
yang tidak muslim, namun nabi Yusuf memangku jabatan yang merupakan syariat sebelum
kita, dan syariat sebelum kita bukanlah syariat kita jika bertolak belakang dengan syariat kita
saat ini.
Namun orang-orang yang membolehkan membantahan sanggahan tersebut dengan
beberapa pandangan :

Pertama : bahwa syariat kita dan syariat nabi Yusuf bahkan syariat para nabi seluruhnya
sesuai dengan ketentuan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Nabi Yusuf menetapkan pada lawan bicaranya dua orang pemuda yang masuk penjara bahwa
hukum hanyalah milik Allah semata : “Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah
memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Yusuf : 40)

Sayyid Qutb menjelaskan ayat diatas : “Bahwa hukum tidaklah sah kecuali milik Allah, Dialah
Allah yang berhak memutuskan dengan keputusan ilahiyah, karena keputusan hanyalah milik
Allah dan barangsiapa yang mengaku-ngaku akan kememilikan di dalamnya maka pada
hakikatnya dirinya telah menantang Allah SWT yang lebih berhak memiliki uluhiyah.

Dan nabi Yusuf as yang memahami hukum yang ditetapkan dalam berbgai agama ini adalah
yang memangku jabatan raja Mesir, dan dia berkata kepada raja : “Jadikanlah aku sebagai
bendaharawan Negara”. (Yusuf : 55)

Beliau memangku jabatan ini padahal dia juga mengetahui system dan undang-undang yang
berlaku tidak mungkin dirubah baik siang ataupun malam “Tiadalah patut Yusuf menghukum
saudaranya menurut undang-undang Raja”. (Yusuf : 76)

Sayyid Qutb dalam kitab dzilalnya berkata : “Sesungguhnya kemenangan ini menentukan
arah kalimah agama dalam satu bentuk –tema- dengan ketentuan yang detail, yaitu suatu
sistem pemerintahan dan syariatnya, karena sistem pemerintahan dan syariatnya ketika
menjadikan hukuman pencuri adalah sebagai ganjaran atas pencuri” [4].

Jika nabi Yusuf memahami bahwa dalam system hukum adalah sama dengan pemahaman
yang telah ditentukan dalam syariat kita seperti menjabat di kementrian, maka kami
berkeyakinan bahwa kedudukan tersebut memiliki dua perkara penting :

1. Bahwa menduduki jabatan menteri tidak bertentangan dengan akidahnya, bahwa hukum –
keputusan- hanyalah milik Allah semata.

2. Nabi Yusuf tidak keliru saat menerima jabatan, karena dia adalah seorang nabi yang
ma’shum.

Bagian kedua :

Adapun yang menunjukkan adanya penafian dan membatalkan syubhat ini adalah firman
Allah SWT bahwa nabi Yusuf menerima jabatan adalah bagian dari rahmat dan nikmat bukan
sebagai azab dan bencana “ Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir);
Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan”. Dan
Demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh)
pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami
kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang
berbuat baik”. (Yusuf : 55-56)
Allah menegaskan bahwa Yusuf menerima jabatan menteri adalah bagian dari tamkin di
muka bumi, bagian dari rahmat dan sebagai ganjaran di dunia yang disegerakan serta
ganjaran yang akan datang lebih utama dan lebih besar “Dan Sesungguhnya pahala di
akhirat itu lebih baik, bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa”. (Yusuf : 57)

Dan nabi Yusuf juga menjelaskan bahwa dirinya menerima jabatan merupakan bagian dari
nikmat dari Allah bukan bencana : “Ya Tuhanku, Sesungguhnya Engkau telah
menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku
sebahagian ta’bir mimpi. (ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di
dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam Keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan
orang-orang yang saleh”. (Yusuf : 101)

Bagian ketiga :

Nash-nash yang disebutkan yang menunjukkan bahwa jabatan bukanlah khusus pada diri
nabi Yusuf saja namun dalam bentuk yang umum : “Kami melimpahkan rahmat Kami kepada
siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang
berbuat baik”. (Yusuf : 56)

Karena itu bagi siapa yang menganggap bahwa jabatan tersebut hanyalah khusus pada nabi
Yusuf saja dan bukan pada yang lainnya hendaklah memberikan dalilnya, karena dasar dalam
sejarah para nabi dan rasul adalah agar dapat dijadikan tauladan dan panutan, dan
bagaimana jika datang nash-nash Qur’aniyah yang menafikan yang khusus terhadap yang
umum” [5].

Pandangan para mufassir terhadap masalah ini :

Imam Qurtubi menukil ungkapan sebagian ulama : “Dibolehkan seseorang yang memiliki
keahlian meminta jabatan sehingga dirinya memahami sesuatu yang diserahkan kepadanya
dalam perbuatan yang tidak bertentangan dengan syariat, melakukan perbaikan sesuai yang
dikehendaki, adapun jika perbuatannya sesuai dengan pilihan orang yang dzalim, syahwat
dan kedzalimannya maka hal tersebut tidak diperbolehkan. Al-Qurtubi juga menukil
pendapat suatu kaum yang mengatakan bahwa jabatan khusus untuk nabi Yusuf bukan untuk
yang lainnya, namun beliau lebih memilih pendapat pertama” [6].

Imam Al-Alusi berpendapat bahwa permintaan nabi Yusuf pada suatu jabatan juga
diperbolehkan pada yang lainnya, jika yang meminta memiliki kemampuan melakukan tindak
keadilan dan menunaikan hukum-hukum syariat, sekalipun berada di tangan orang yang
dzalim dan kafir, namun imam Al-Alusi berpendapat bisa jadi sebagai kewajiban untuk
memintanya jika berkaitan dengan jabatan dan lain-lainnya [7].

As-Syaukani berkata : “Ayat diatas menunjukkan dibolehkannya memangku jabatan


dihadapan penguasa yang dzalim bahkan kafir sekalipun jika memiliki keyakinan dirinya
mampu menegakkan kebenaran[8].

Dari ungkapan-ungkapan diatas menjadi dalil yang kuat dibolehkannya musyarakah dalam
pemerintahan dan mengikuti pemilu.

___________________________________
[1]. Lihat: hukmu al-musyarakat fi al-wizaroh wal majalis an-niyabiyyah, hal. 29,32

[2]. Fi zhilalil Qur’an, 12/2005

[3]. Majmu’ Fatawa syaikhul Islam, 20/56-57

[4]. Fi zhilalil Qur’an, 13/2020

[5]. Lihat: hukmu al-musyarakat fi al-wizaroh wal majalis an-niyabiyyah, hal. 29,32

[6]. Tafsir Al-Qurtubi, 7.215

[7]. Tafsir Al-Alusi, 13/5

[8]. Fathul Qadhir, 3/35

Serial Fiqh Kemenangan dan Kejayaan Dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah (5):
Kesaksian Sejarah Dibolehkannya Musyarakah

Pada sebagian Negara dunia Islam para pendukung gerakan Islam berhasil masuk pada
sebagian jabatan pemerintahan melalui pemilu, kepentingan umum dan koalisi yang mereka
lakukan pada sebagian lembaga dan partai politik, bahkan langkah-langkah yang berani ini
mampu mengobarkan banyak diskusi dan pertentangan di kalangan internal gerakan-gerakan
Islam dan begitupula dari kalangan eksternalnya. Karena itu kami berusaha menjabarkan
permasalahan ini pada beberapa pengalaman yang terjadi diantaranya : gerakan Islam Di
Yordania, di Yaman, dan di Turki. Yang mana gerakan-gerakan tersebut telah mampu
memperhitungkan kaidah-kaidah syar’iyyah dan prinsip-prinsip maslahah dan mafsadahnya,
berusaha dengan gigih untuk komitmen dengan kaidah-kaidah dharurat (urgen), untuk
kemaslahatan amal Islam dan kemaslahatan kaum muslimin di berbagai Negara lainnya, jika
terdapat maslahat yang sebenarnya atau dalam melakukan musyarakah dalam pemerintahan
kembali pada manfaat umum terhadap kaum muslimin, atau dapat mencegah kerusakan
yang lebih besar, mudharat laten yang selalu mengintai mereka atau mengancam eksistensi
mereka maka musyarakah dalam kondisi ini menjadi suatu kewajiban yang tidak boleh
ditinggalkan.

Harakah-harakah yang penuh berkah ini telah berhasil masuk dalam lingkungan
pemerintahan, sesuai dengan syarat-syarat yang jelas, maslahat yang terang, kondisi darurat
yang berada dihadapan, strategi yang terencana dan komitmen dengan kaidah-kaidah
syar’iyah saat melakukan aksi. Sekalipun jabatan atan kekuasaan bukan sebagai tujuan yang
ingin dicapai namun yang diinginkan adalah melakukan penyesesuaian dengan keinginan
pada prinsip-prinsip, keinginan bangsa, keinginan harakah, keinginan berbagai elemen
kekuatan umat atau keinginan melakukan kemerdekaan negeri dan mengembalikan Negara
pada jati dirinya.

Harakah-harakah ini telah berhasil melakukan musyarakah dalam pemerintahan dengan cara-
cara legal (syar’i) mendapatkan dukungan langsung dari rakyat dalam bentuk pemilu, dan
mereka melakukan itu semua sebagai sarana pembelajaran politik, sosial, ekonomi dan
keamanan serta yang lainnya sebelum masuk pada pemerintahan, sehingga mendapat
keyakinan bahwa keberadaan mereka di kursi kekuasaan lebih utama untuk Islam dan kaum
muslimin daripada melakukan pertentangan (oposisi).

Pertama :

Gerakan (harakah) Islam di Yordania

Kondisi harakah islam di Yordania berbeda dengan kebanyakan harakah yang ada di berbagai
Negara dunia Islam, karena Yordania memiliki keistimewaan tersendiri dari yang lainnya;
adanya kebebasan dan peluang amal siyasi (praktek politik) yang cukup besar, karena itu, kita
dapatkan harakah Islam disana melakukan kompetisi dan memiliki kondisi alami yang
memadai dalam kancah politik, dakwah, sosial, tarbiyah dan ta’lim.

Dan sejarah terbentuknya harakah Islam di Yordani terjadi pada tahun 1946 yang merupakan
tahun berhasilnya Yordani mendapatkan kemerdekaan dan berusaha sejak berdirinya
harakah tersebut memperluas jaringan dengan menghidupkan kehidupan islam di tengah
masyarakat Yordania, bahkan memfokuskan diri pada sektor tarbiyah dan ta’lim melalui
pembangunan regenerasi Islam secara intens, maka dibentuklah lembaga-lembaga khusus di
pemerintahan yang bertugas melaksanakan bidang ini dan memberikan saham secara aktif
dalam mendukungnya.

Begitupun harakah di Yordania memiliki ciri tersendiri; kondisi interaksi yang baik antara
harakah dengan pemerintah (system), sehingga menjadi sarana kebebasan secara nisbi
terhadap aktivitas dan kerja Islam, bahkan berusaha dengan gigih sebagaimana yang
dilakukan pemerintah untuk menjaga dan memelihara unsur-unsur integerasi yang positif ini
[1].

Unsur-unsur integrasi antara harakah dan system pemerintahan:

· Pemahaman harakah untuk mendudukkan Negara dan mengekplorasi potensinya dan daya
dukungnya dalam menopang ekonomi eksternal, yang demikian itu menghindarkan
negara dari kendala pemerintah yang tidak memiliki kemampuan dan daya saing dengannya,
Yordania merupakan Negara kecil yang terbentuk dibawah naungan pemetatan negeri-negeri
Arab sesuai dengan strategi dan konsep musuh bertujuan untuk melemahkan eksistensinya
dan mencegahnya dari melakukan neo kebagkitan (revolusi).

· Harakah memahami bahwa Yordania tidak memiliki unsur-unsur dan pilar-pilar Negara
Islam, karena itu pemerintah merasa tentram dan tenang bahwa tujuan harakah adalah tidak
lain kecuali melakukan perubahan dengan system Negara Islam di Yordania.

· Harakah ini dianggap sebagai unsur pelaku stabilitas terhadap system yang berlawanan dan
terhadap berbagai usaha kudeta atasnya oleh karena adanya kekuatan masyarakat yang
menyebar hingga ke bawah (grassroot) di berbagai sektor masyarakat Yordania, dan harakah
pun memiliki sikap kepahlawanan pada era pertengahan tahun 50-an melawan demonstasi
kekuatan kiri yang berusaha menjatuhkan pemerintah dan menggantinya dengan rezim
marxisme, yang mungkin ini menjadi saksi bagi Yordania akan spionisme yang terjadi
terhadap suatu Negara yang berada dibawah pemerintahan sosialis yang berusaha
mengendalilkan dan menguasai berbagai bentuk dan model kehidupan Islam di berbagai
Negara.

· Harakah menunggu akan adanya system yang tegak yang memberikan kebaikan bagi Negara
Yoradania dari berbagai system yang ditawarkan oleh kelompok kiri dan partai-partai yang
menguasai distrik dan bahkan mengendalikan harakah Islam yang ada disana.

· Harakah menolak ektrimisme dan mengecam aksi teroris, dan bahkan tidak merekomendir
perubahan yang dilakukan dengan cara revolusi, kecuali dengan cara elegan dan dibangun
atas dasar iqna (memberikan kepuasan) dan bertahap dalam melakukan perbaikan, hal
tersebut dianggap sebagai sarana diterimanya harakah dihadapan pemerintah.

· Elastisitas dalam menghadapi krisis antara harakah dan system, baik karena harakah segera
menguasai keadaan atau sistem, karena dalam dua kondisi tersebut bertolak belakang
dengan system dan harakah yang elastis dihadapan sebagian kelompok dengan sebagian
lainnya dengan menghilangkan kekhawatiran dan menundukkan sedikit badai yang dihadapi.

· Adanya tawazunitas (keseimbangan) dalam manhaj harakah antara tsawabit (yang tetap)
dan mutaghayyirat (yang berubah) dan tuntutan-tuntutannya terhadap batasan-batasan
teritori Negara Yordania.

· Tuntutan harakah Islam merupakan tuntutan perbaikan yang mencakup berbagai sisi
kehidupan, dan bersandarkan pada dasar-dasar keislaman, dan tuntutan ini merupakan
puncak pengkondisian yang tidak bisa dikalahkan oleh adanya ancaman penguasa (system)
dan yang tidak dibentuk oleh sarana alternative lainnya, karena suatu system tidak akan
mampu melihat sisi ancaman yang ada didalamnya secara kontinyu dan permanen [2].

Demikianlah beberapa unsur integrasi antara harakah Islam dengan Negara dan
pemerintahan di Yordania, pada selanjutnya merupakan hal yang alami harakah Islam
memberikan pengalaman yang berbeda dalam melakukan musyarakah dengan
pemerintahan.

Musyarakah dalam pemerintahan

Harakah islamiyah muncul sebagai kekuatan politik besar dalam kencah perpolitikan di
Yordania; yaitu pada tahun 1989, saat ditetapkannya musyarakath dalam pemilu legislative,
sebagai pengaruh dari keputusan raja Husain –raja Yordania saat itu- dimulainya pelaksanaan
demokrasi di Yordania, dan pelaksanaan pemilu dalam nuansa demokrasi bebas (liberal),
dengan ketentuan clean program, dan dengan kerja nyata tanpa ada intervensi dari lembaga
resmi Negara.

Akhirnya harakah Islamiyah berhasil mengikuti pemilu, dan memiliki ciri khas tersendiri dan
melalui cara yang tersusun rapi dan terprogram yang tidak pernah terjadi sama sekali dalam
perpolitikan di Yordania, hal tersebut dikarenakan kemampuan tandzim (organisasi) yang
rapi, dan merupakan cermin kemunculan umat Islam di Yordania yang haus dengan
dimulainya kehidupan yang Islami, dan saat itu harakah Islam di Yordania merupakan satu-
satunya lembaga yang mengumumkan calon yang ikut bertarung berjumlah 27 nama calon,
yang meminta dari umat untuk memberikan dukungan suara kepada mereka semua, adapun
sosialisasi program-programnya dengan menggunakan buku-buku kecil (buku saku) yang
dibagikan dan disebar diseluruh pelosok daerah, ditambah dengan agenda pemilu dengan
menampilkan nama dan gambar-gambar calon.

Akhirnya harakah Islam berhasil memenangkan pemilu dengan meraih 22 kursi parlemen
dari 80 kursi parlemen yang tersedia, sebagaimana juga meraih 10 kursi dari kalangan islam
independen, hal itu dikarenakan calon dari harakah Islam menjadi lembaga terbesar yang
berada di dalam parlemen Yordania, sehingga perdana menteri yang ditunjuk oleh raja
diperintahkan untuk membentuk pemerintahan, dan setelah melakukan perundingan yang
berlangsung antara perdana menteri dan kelompok harakah terbesar dalam parlemen, dan
pada suatu saat al-harakah mengundurkan diri untuk bermusyarakah dalam pemerintahan,
karena perdana tidak mau mengabulkan permintaan harakah dengan memberikan 7 kursi
menteri untuk harakah termasuk di dalamnya kursi menteri pendidikan.

Dan dalam pergerakan politik lain, harakah islam mampu masuk dalam perundingan dengan
perdana menteri berkaitan dengan pemberian tsiqoh (kepercayaan) terhadap
pemerintahannya, dengan memberikan 14 syarat sebagai imbalan dari pemberian tsiqoh
tersebut, dan diantara syarat tersebut adalah pemerintah berjanji –dengan penuh
keikhlasan- menerapkan syariat Islam dalam bidang pendidikan, ekonomi dan komunikasi.
Dan inilah kali pertama yang dilakukan harakah Islam dalam kancah politik, dan mulailah dari
kebanyakan orang yang mengira sebelum tajribah (eksperimen) ini terdapat kemustahilan
musyarakah islam dengan apa yang dinamakan pemerintah yang tidak Islami, dengan
berinteraksi melalui kekuatan politik yang berkembang, dan membuka umat Islam ruang
kerja baru, yang sebelumnya tidak dirasakan untuk bergelut dalam kerja politik.

Dan dalam perkembangan selanjutnya harakah islamiyah melakukan lompatan politik yang
lain, dengan melakukan kesepakatan pada team kerajaan untuk membuat perjanjian negeri
yang diumumkan oleh raja sendiri dan anggota intinya, dan perjanjian tersebut sebagai
ikatan sosial yang bersatu dalam berbagai macam politik dan kelompok yang beragam di
Yordania, dan menutup seluruh sisi politik, sosial, ekonimi dan kebudayaan.

Dan harakah Islamiyah telah melakukan ketetapan dalam musyarakah proyek ini, dengan
pertimbangan urgensi pertemuan, dialog dan diskusi dengan berbagai lemabga politik lain di
negeri terrsebut, bertukar fikiran dengannya seputar permasalahan penting yang terdapat
dalam perjanjian tersebut ([3]).

Tampak dari kepemimpinan harapan kekuatan yang besar dalam mengatur dialog dan
memobilisasi perundingan yang disaksikan oleh para pemain politik dengan kemampuan
politik mereka yang tinggi, dan para petinggi harakah begitu cemerlang dalam mewujudkan
apa yang mampu mereka lakukan terhadap misi dan tujuan untuk kemaslahatan arus Islam di
Yordania, dan mampu mencegah dirinya untuk masuk dalam kursi kementrian
(pemerintahan) disaat kemaslahatan prinsip yang mereka bawa terhalangi, dan bahkan maju
dengan gagah berani untuk menerima jabatan (kursi kementrian) saat memiliki kemaslahatan
di dalamnya, dan pada akhirnya harakah menerima 5 jabatan kementrian; yaitu menteri
pendidikan, menteri pembangunan masyarakat, menteri kehakiman, menteri kesehatan dan
menteri agama.

Setelah musyarakah berjalan 6 bulan, perang teluk berakhir, mulailah fase baru dari
perkembangan politik yang berkaitan dengan apa yang dinamakan dengan muktamar
perdamaian, dan harakah Islam telah memberikan peringatan kepada perdana menteri jika
pemerintah membuka berbagai saluran untuk melakukan perundingan dengan
Israel, sehingga para wakil dari harakah islam akan mengundurkan diri dengan segera.

Namun pemerintah tidak bergeming dengan pengunduran diri mereka, dan tetap
menghamparkan tanah untuk melakukan persiapan-persiapan fase baru, fase muktamar
perdamaian di Madrid, dan pemerintahan baru begitu berambisi untuk melakukan peran
penting tersebut, berusaha sejak awal pembentukannya mendapatkan kepercayaan bersama
dengan anggota parlemen dari partai Islam, dan bersama mereka sejumlah anggota dewan
lain dalam majlis dewan yang menutupi kepercayaan darinya, dengan menjelaskan bahwa
mereka tidak akan memberikan kepercayaan kepada pemerintahan manapun yang ingin
melakukan perundingan dengan Israel dalam agenda kerjanya, kecuali pemerintah mendapat
kepercayaan namun mayoritas mendukung keputusan pemerintah, karena yang memberikan
suara mendukung ide pemerintah sebanyak 47 dari 80 anggota parlemen, sekalipun perdana
menteri baru sepanjang jabatannya menafikan komitmennya untuk melakukan perundingan
perdamaian dengan Yahudi, namun pemerintah tetap tidak bergeming dan setelah berjalan 2
bulan pembentukan, parlemen mengumumkan pembentukan utusan khusus untuk
melakukan proses perdamaian, sehingga membuat partai Islam segera melakukan
pertemuan darurat dengan partai-partai kecil lain di parlemen, dan mengumpulkan tanda
tangan dari 48 anggota yang ditujukan ke MA sebagai mosi tidak percaya, setelah sebagian
dari mereka pada waktu sebelumnya menyetujui keputusan, dan ketika datang waktu
pelaksanaan pengambilan keputusan yang baru dalam majlis parlemen tidak ada pilihan lain
bagi MA kecuali pengunduran diri, sehingga harus dibentuk MA lain yang tidak memiliki
kecendrungan pada harakah Islam dan memberikan kepercayaan kepadanya, namun
tugasnya adalah memimpin musyarakah Yordania dalam proses perdamian [4].

Prestasi yang dicapai dalam musyarakah

Harakah islam di Yordania selama mengikuti musyarakah telah mendapatkan banyak


pengalaman, eksperimen yang beragam dan menjadi harakah yang realistis, mampu selama
tajribah tersebut perkembangan potensi dan pelaksanaan tugas dengan baik, memberikan
banyak model yang mampu membersihkan akal para penentangnya terhadap fikrah yang
telah diterapkan oleh harakah islamiyah, sebgaimana yang dilakukan oleh sekelompok
jamaah dari kalangan ektrimis, fanatis dan radikal.

Dan diantara prestasi yang diraih oleh harakah dalam bermusyarakah adalah :

1. Pembentukan wacana yang bersih terhadap harakah, menghilangkan keraguan dan


kekhawatiran yang ditakutkan oleh sebagian kelompok, karena banyak dari kalangan warga
dan masyarakat dalam berbagai acara menyampaikan akan kepuasan mereka terhadap
harakah Islam seperti istiqomah, bersih, lurus, sebabgai gerakan yang bertanggungjawab dan
penuh kesadaran, menghormati pendapat orang lain, sehingga tampak elastisitas dan
kemampuan dalam memanaj dan dialog dengan berbagai macam partai, pemerintahan dan
politik, sehingga dengan itu semua menghilangkan barer (garis pemisah) individu yang
memisahkan antara harakah Islam dengan yang lainnya.

2. Para anggota parlemen dari harakah Islam memiliki kehadiran yang aktif dan kerja yang
baik dalam berbagai lembaga khusus, seperti lembaga kemerdekaan, lembaga keuangan,
lembaga perundang-undangan, lembaga pemantau parlemen. Tugas yang mereka lakukan
dalam berbagai bidang dan lembaga lainnya menggambarkan akan kerja keras dan keuletan,
objektif dan adil, hati-hati dalam berbagai permasalahan tekhnis dan khusus, dan tentunya
kerja mereka mendapat apresiasi positif dari lembaga-lembaga resmi dan media.

3. Prestasi dalam mengesahkan beberapa undang-undang penting, merevisinya yang sesuai


dengan kemaslahatan umum dan hak-hak warga Negara dan sesuai dengan syariat Islam,
seperti undang-undang kepartaian, undang-undang pertahanan, undang-undang khusus
terkait dengan pendadilan tinggi negeri, undang-undang pengadilan keamanan Negara,
undang-undang lembaga niqobiyah (persatuan ahli), undang-undang ketenagakerjaan,
undang-undang ekspor impor, undang-undang pembatalan hukum-hukum urf Dan undang-
undang kepemudaan serta undang-undang tentang minuman khamr.

4. Mampu memberikan pendapat dan sikap yang islami dalam berbagai kondisi dan keadaan,
dan memotivasi pemerintah untuk komitmen dengannya atau menghormati dan
menghargainya, atau paling tidak mendengarnya dengan baik.

5. Melakukan koordinasi dan kerja sama dengan agenda politik yang beragam, baik
pemerintahan, perpolitikan dan tim ahli, sehingga dapat berkhidmah secara baik terhadap
umat dan Negara, menjamin pelaksanaan program harakah Islam dan mewujudkan misi-
misinya, dan diantara permasalahan yang berhasil dikoordinasikan adalah tema persamaan
yang bersih, sikap terharap krisis di teluk, permasalahan pengadilan terhadap pelaku
kerusakan, mempertahankan kebebasan, dan undang-undang kepartaian dan undang-
undang keamanan Negara.

6. Mengawasi kinerja pimpinan parlemen dan ketua lembaga di dalam parlemen tersebut,
sebagai prestasi dalam memberikan pengaruh para anggota parlemen harakah dan
kemampuan dalam melakukan koordinasi dan lobi.

7. Memberikan saham (partisipasi positif) dalam membentuk partai front al-amal islami,
proyek yang menjadi program unggulan dalam memberikan pamahaman kepada masyarakat
dan pendukungnya dari berbagai kelompok serta memperluas jaringan kerja Islami.

8. Memberikan kontribusi dalam mengembalikan hak kepada pemiliknya, seperti


memberikan hak kepada para pekerja yang dipecat, mengeluarkan para warga yang
dipenjara, memberikan jaminan kebebasan dalam bepergian dan berkenderaan, kebebasan
berpendapat dan beropini, membatasi intervensi anggota keamanan dalam melaksanakan
tugas dan berbagai club dan lembaga-lembaga. Walaupun prestasi ini berada berada di
bawah standar yang umum namun jika dibandingkan dengan kondisi sebelum era parlemen
bahkan kondisi yang terjadi di berbagai Negara Arab lainnya merupakan prestasi yang bagus
dan menjadi program yang stimulan.

9. Meringankan kondisi yang labil dan saling bermusuhan dengan pemerintah, melindungi
harakah dari usaha-usaha adu domba dan menariknya pada benturan dengan pemerintah
yang tidak memberikan manfaat kecuali musuh-musuh harakah dan musuh Negara.

10. Mengembangkan hubungan dengan para dewan atau gubernur di berbagai daerah dan
wilayah; baik pemerintah daerah dan kepolisian daerah, bekerjasama dengan mereka dalam
berbagai aktivitas dan khidmah serta penyelesaian masalah.

11. Mendukung qadhiyah Palestina dan berusaha sekuat tenaga untuk mendorong
pemerintah berkomitmen untuk tidak membiarkan hak-hak warga Palestina terampas, baik
dalam tingkat lokal, yang mana para anggota parlemen harakah berusaha
menghubungkannya dengan keputusan dewan terhadap apa yang dialami oleh warga Gaza
dan memberikan kartu penduduk kepada warga yang tinggal di Yordania, diiringi dengan
mutabaah (pemantauan) warga yang kembali dari teluk untuk membantu dan mendapatkan
hak mereka.

12. Mendukung qadhaya Islam lainnya, seperti qadhaya yang terjadi di Afghanistan , Bosnia
dan Herzegovina dan yang lainnya.

13. Aktif dalam memantau kondisi diberbagai daerah atau negara Arab dan Islam dengan
mengirim ucapan-ucapan dan mengikuti pertemuan-pertemuan dan berpartisipasi dalam
berbagai kegiatan dan pertemuan, dan maktab (kantor) parlemen harakah telah
mengeluarkan sepuluh bayanat dan ucapan dalam berbagai munasabah, dan para anggota
dewan juga mengikuti secara kontinyu dalam berbagai utusan parlemen ke berbagai Negara
Arab dan Islam serta Negara-negara lainnya.

14. Memberantas tindakan kecuranan dalam manajemen pemerintahan dan keuangan,


mengkritisi kinerja menteri dan pemerintah serta petinggi lainnya, memantau pelaksanaan
lembaga-lembaga Negara dalam merealisasikan kemaslahatan dan manfaat untuk warga,
melindungi Negara dan lembaga-lembaga lainnya dari pengabaian, kecurangan dan
kerusakan.

15. Menyebarkan fikrah dan dakwah serta khidmah terhadap qadhaya Islam, memberikan
kemudahan dalam tugas tersebut terhadap para petugas dan melindungi mereka,
mengefektifkan lembaga-lembaga Islam sehingga menjadi opini Islam yang positif terhadap
sikap yang yang benar melalui berbagai sarana sosialisasi dan tablig.

16. Para anggota dewan harakah Islam banyak memberikan kontribusi dalam mewujudkan
proyek-proyek dan lembaga-lembaga umum, seperti : Kuliah syariah di Universitas Yarmuk,
ditambah dengan permintaan untuk membuka sekolah-sekolah, jalan-jalan umum dan pusat-
pusat kesehatan, menambah sarana pembangkit listrik, air dan telepon di berbagai kota dan
propinsi.

17. Penerimaan warga yang kembali dan warga asli dan berusaha memenuhi hajat mereka
dan berdiri bersama dengan warga dalam berbagai qadhaya dan permasalahan yang sulit
bagi mereka untuk menyelesaikannya bersama para pejabat pemerintah dan menuntut
pemerintah untuk merealisasikan berbagai agenda, dan selalu berhubungan secara aktif
untuk membantu warga dan menunaikan tugas dalam menyelesaikan masalah, dan
membatasi kenaikan harga dan meringankan pajak [5].

Inilah sebagian prestasi yang diraih oleh harakah.

Tuntutan-tuntutan harakah dalam amal siyasi (kerja politik).

Sesungguhnya harakah Islam di Yordania memahami betul kondisi yang berlaku di


semenanjung Arab dan dunia Islam, memahami keterbatasan-keterbatasan potensi yang
dimiliki Yordania dalam suasana yang kritis dan dalam melakukan pembenahan secara
nasional; karena harakah Islam melakukan teori tadarruj (tahapan) dalam melakukan proses
perbaikan, dengan keyakinan bahwa perbaikan melalui pencarian akar masalah terhadap
kondisi memiliki konsideran dalam melakukan perubahan kondisi kekinian yang terjadi di
suatu negeri secara keseluruhan, bukan hanya Negara Yordania saja, dan menunaikan
kewajiban dakwah kepada Allah dan melakukan Islah sesuai dengan kemampuan. Dan
harakah Islam berusaha dengan sungguh-sungguh mewujudkan sebagian misi penting dalam
tahapan ini, diantaranya:

1. Mewujudkan keadilan, kebebasan dan persamaan diantara sesama warga Negara.

2. Memurnikan semangat demokrasi dan menjamin kebebasan warga dalam pemilu.

3. Membentuk pemerintahan yang bersih, bertanggungjawab, ikhlas dan adil serta memiliki
kemampuan dan keahlian untuk memimpin berbagai urusan masyarakat Yordania, komitmen
dengan penuntasan berbagai macam pelanggaran, kerusakan dan demoralisasi dengan
berbagai bentuknya, dan dengan memposisikan orang yang cocok dalam jabatan sesuai
dengan kapabilitas dan profesioanlitasnya, melakukan keputusan yang tepat
terhadap prinsip-prinsip yang pundamental dan memberikan haknya dalam memberikan
tugas dan kewajiban.

4. Memerangi sukuisme dan paternalisme, dan focus pada persatuan Negara dan
memperkokoh front internal yang ada dalam negara.

5. Membela dan mendukung hak-hak warga dan menolak pelecehan dan kedzaliman.

6. Menolak permusuhan dan mendukung gerakan-gerakan kemerdekaan melawan


kekuasaan penjajahan terhadap bangsa.

7. Berusaha membentuk front persatuan antara Negara-negara Arab dan Islam, dan
mendirikan lembaga-lembaga penjaminan negara-negara Arab dan Islam dalam sektor
ekonomi, politik dan kebudayaan agar dapat tercapai pada tingkat kesempurnaan antara
Negara-negara arab dan Islam.

_________________________________

[1]. Lihat: Musyarakah al-islamiyyin fi as-sulthah, Azzam At-tamimi, hal. 102

[2]. Ibid. hal. 103-104

[3]. Ibid. hal. 105-106

[4]. Ibid. hal. 106-107

[5]. Ibid. hal. 107 hingga hal 111, ringkasan dari apa yang disampaikan oleh ust. Abdullah
Al-’Akayilah tentang tajribah al-harakah al-islamiyah di Yordania.

Serial Fiqh Kemenangan dan Kejayaan Dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah (5):
Harakah Islam di Turki (1)

Hadirnya kekuatan harakah Islam di Turki, disaat partai-partai politik di Turki bergantung
pada dukungan yang besar dalam pemilihan umum-pemilihan umum terhadap jamaah Islam
hingga pada tingkat -kami memandangnya- bahwa partai-partai besar agendanya adalah
sekularisme, namun sikap tersebut berubah pada program ini.
Dari partai-partai ini misalnya pertama Partai As-Sya’b Al-Jumhuri (republic kebangsaan),
partai yang didirikan oleh Mustafa Kamal pada tahun 1922, yang telah memberikan jargon
sebagai partai berkarakteristik sekularis di Turki hingga meninggalnya pendiri partai tersebut
pada tahun 1938. Partai ini telah melakukan rangkaian pengesahan undang-undang yang
diterapkan dengan keras terhadap umat Islam di Turki, tujuannya adalah menjadikan
undang-undang sekularis di negara Turki. Ada 6 prinsip yang dibuat dan diserukan oleh
Mustafa Kamal terhadap warga Turki, dan menjadikannya sebagai prinsip perundang-
udangan di negara tersebut. 6 prinsip ini disebutkan diantaranya adalah bahwa Turki adalah
Negara kerakyatan dan sekularis, sya’biyah, dauliyah dan islahiyah (kebaikan).

Partai As-Sya’b Al-Jumhuri mulai merubah orientasinya sejak Turki masuk pada era multi
partai, apalagi setelah perang dunia kedua partai-partai mulai menunjukkan kekuatannya,
sehingga partai ini bersepakat mendirikan kuliyah tentang ketuhanan dan ma’had ulum al-
islamiyah di Ankara.

Yang kedua adalah Partai Demokrasi yang berafiliasi pada jamaah Islam dalam pemilu 14
April 1950, menyatakan bahwa sebab utama pendirian partai adalah kemenangan partai As-
Sya’b Al-Jumhuri, ditambah dengan adanya konstalasi partai-partai lain pada jamaah
tersebut, seperti Partai Al-‘Adalah (keadilan) pada dekade antara tahun 1961 sampai tahun
1980.

Yang ketiga adalah Partai At-Thariq Al-mustaqim (jalan lurus), yang merupakan perpanjangan
tangan dari Partai Al-‘Adalah, karena menggantungkan kekuatannya pada opini umum umat
Islam terutama pada tahun 80 an .

Adapun yang keempat adalah Partai Al-Amal al-Qoumi (buruh nasional) yang dipimpin oleh
Albi Orselan Turkys yang menggunakan gelombang kekuatan Islam dan tidak memiliki
keterkaitan dengan rezim sekularis, dan mulai tampak melakukan pendekatan dengan opini
umum umat Islam, dan syiar (jargon) partai ini dalam pemilu 1987 adalah “Daliluna Al-
Qur’an, wa hadfuna At-touran” (petunjuk kami adalah Al-Quran dan tujuan kami adalah
kekuasaan”[1]

Namun dari bentuk dan ragam tersebut, diketahui bahwa al-amal Islam yang sistemik mulai
tampak di permukaan setelah munculnya Partai As-Salamah Al-Wathani.

Sementara itu harakah Islam di Turki sebelum munculnya Partai As-Salamah Al-Wathani
terdiri dari:

1. Kelompok kesufian yang condong pada harakah al-kamaliyah, merekalah yang menjaga
turats (peninggalan klasik) Islam dengan pemahaman khusus mereka, memobilisasi hafalan
Al-Quran secara sembunyi-sembunyi, dan tujuan dari harakah ini adalah memelihara ibadah-
ibadah Islam dalam diri dan jiwa warga Turki secara umum, dan pada sisi ini mereka
melakukan pembentukan lembaga sosial untuk membantu para pelajar di sekolah-sekolah
para imam dan khotib, guna memperbanyak jumlah mereka, memenuhi kekurangan yang
terjadi karena banyak ulama dan duat yang hilang akibat terjadinya benturan dengan partai
al-kamaliyah.

2. Gerakan imam al-muslih al-kabir Sa’id An-Nursi yang dikenal dengan gerakan An-Nuur,
yang mana gerakan ini terpokus pada dakwah (menyeru) untuk beriman kepada Allah dan
hari akhir, memerangi penyakit materialisme yang kafir dan perhatian terhadap pembinaan
generasi serta menjauhi para pengikutnya terjun dalam politik praktis [2].

Namun, ketika Turki mencapai tingkat kebebasan, kondisi ini memberikan kesempatan
kepada para umat Islam fanatik dan yang memiliki keimanan yang kokoh untuk maju dan
menyadari akan pentingnya terjun dalam ranah politik, sehingga dengan demikian mereka
sepakat untuk mendirikan Partai yang mereka beri nama dengan Partai An-Nidzam Al-
Watoni yaitu pada bulan Kanun ats-tsani tahun 1970, yang waktu di ketuai oleh Yunus Arif,
dan dukunganpun banyak berdatangan terhadap partai ini; baik dari kalangan para pedagang
kecil, para karyawan dan ulama. Akhirnya dalam jangka waktu yang singkat partai ini meluas,
dan mulai menunjukkan sinyal ancaman terhadap partai lain terutama partai-partai sekular.
Sehingga dalam sebuah beritanya salah satu partai lain menyatakan: “Pada hari ini; umat kita
yang besar, yang merupakan kepanjangan dari prajurit para penakluk yang dengan kekuatan
mereka memaksa pasukun salib untuk hengkang sejak 1000 tahun yang lalu, dan yang telah
menaklukkan Istanbul pada 500 tahun yang lalu, merekalah yang telah mengetuk pintu-pintu
rumah kami sejak 400 tahun yang lalu, dan turun dalam melakukan perang untuk menggapai
kemerdekaan sejak 50 tahun yang lalu, umat yang kokoh yang pada berusaha untuk bangkit
dari keterpurukannya, memperbaiki janjinya dan mengembalikan kekuatannya bersama
dengan partai yang bersih “Partai An-Nizham Al-Wathani”.

Program partai ini adalah berusaha mengembalikan umat pada kemuliaannya, umat yang
memiliki prestasi besar dari sisi akhlak dan nilai-nilai mulia, ditambah lagi dengan prestasi
sejarah yang gemilang, prestasi yang menjadi contoh bagi masa kini yang dilakoni oleh para
pemuda yang sadar dan memiliki keimanan terhadap permasalahannya dan permasalahan
negerinya”. [3]

Dan partai ini menghadirkan program konkret dalam lingkup ideologi yang mungkin dapat
direalisasikan dan diterapkan, yaitu antara lain:

1. Menyatukan lembaga-lembaga penting di Turki yang saat itu masih banyak yang dipegang
oleh Barat bukan oleh kalangan nasional, sebuah permasalahan yang nyata namun wajib
untuk diambil kembali lembaga-lembaga ini kepada pemiliknya.

2. Masyarakat hidup selama 40 tahun yang lalu sementara kekuatan eksternal melakukan
intervensi yang berusaha menjauhkan mereka dari orbitnya yang sebenarnya kepada orbit
yang asing, sehingga masyarakat mengalami ruang lingkup yang sempit dan kepenatan yang
dahsyat, dan harus ada usaha untuk mengembalikan masyarakat pada tabiat dan orbit
yang sebenarnya (fitrah Allah) sehingga urusan mereka menjadi lurus dan akidah mereka
menjadi bersih.

3. Bahwa penisbatan jargon kekinian seperti aliran kanan, aliran kiri dan aliran tengah
merupakan ciptaan aliran masuniah dan zionis, keduanya adalah merupakan lembaga yang
memiliki tujuan satu yaitu mensimpangkan Turki dari garis peradaban yang sebenarnya yang
telah berumur 1000 tahun, dan karena itu harus ada usaha menghapus nama-nama asing
tersebut dan kembali pada garisnya yang asli yang dapat menyatukan antara masa yang
lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

4. Bahwa partai ini tidak seperti partai lainnya, karena seluruh partai –selain partai ini- berdiri
diatas dasar kekuasan dan nafsu menguasai pemerintahan, sedangkan kami berdiri diatas
dasar yang baru, yaitu mencari dan mengharap ridha Allah dan bekerja untuk umat dan
negara.

5. Bahwa system pendidikan di Turki telah mengalami kerusakan dan keterpurukan


akibat ulah dari sekelompok kecil dari orang-orang yang dengki; kelompok salibis dan Yahudi,
dalam tatanan yang tidak sesuai dengan keinginan umat, sehingga -akibat kerusakan
tersebut- menjatuhkan berbagai sendi-sendi dan nilai-nilai spiritual, akhlak dan agama, dan
juga tujuannya adalah memisahkan Negara Turki dari kegemilangan Islam yang dicapai
pada masa lalu dan menjauhkan negara dari agama dan nilai-nilai yang suci. Dan dengan cara
inilah mereka mampu membunuh para generasi muda dan menghancurkan negeri, hingga
berlalu 50 tahun yang lalu, dan kami selalu mendengar bahwa Turki merupakan bagian dari
Eropa, dan bahwa kebangkitan dapat terjadi dengan cara memisahkan negara dengan agama
seperti yang telah diraih oleh barat. Mereka lupa bahwa Islam berbeda dengan doktrin geraja
dan negaranya para pendeta.

6. Pada saat Negara melarang pendistribusian buku-buku kepada ma’had-ma’had tinggi Islam
dan berusaha menutup ma’had-ma’had I’dad imam dan khutaba serta sekolah-sekolah
pendidikan Al-Qur’an, sejuta umat lainnya (sekular) menginfakkan uangnya untuk acara-
acara drama dan teater, untuk para artis dan aktris, dan membeli minuman-minuman yang
dibagi-bagi pada acara hura-hura. Dan Pada saat Negara berjibaku melarang para pelajar
wanita mengenakan jilbab yang menutup kepala mereka, buku-buku tentang kependetaan
dipelajari dan ditelaah di setiap tempat tanpa ada pemantauan dan gejolak sedikitpun, hal ini
dimaksudkan bahwa partai ini menegaskan akan usahanya untuk mengembalikan umat
kepada Islam yang sebenarnya. [4]

7. Bahwa Yahudi dan kelompok sekular di Turki tidak akan mampu membendung suara para
pemuda yang bergerak dengan penuh semangat dan gigih, karena yang menggerakkannya
iman yang teguh dan Islam yang kaffah, dan memahami pentingnya mengembalikan rakyat
Turki kepada Islam, karena itu tentara Turki para bulan Azar tahun 1971 bergerak
menghadang partai ini, karena adanya benturan dengan partai buruh dan mengubah
permasalahan partai ini ke mahkamah dusturiyah (konstitusi) yang dikeluarkan sebagai
bentuk keputusan yang zhalim untuk membubarkan partai pada tanggal 21 Maret 1971. [5]

Adapun tuduhan yang dikeluarkan oleh kepolisian Negara terhadap partai adalah sebagai
berikut:

1. Bahwa prinsip-prinsip yang dimiliki oleh partai ini dan gerak-geriknya bertentangan dengan
undang-undang di Turki.

2. Bahwa partai memiliki agenda rahasia yaitu ingin menghapus sistem sekular di Turki, dan
mendirikan pemerintahan Islam.

3. Bahwa partai ini berusaha menghancurkan seluruh dasar-dasar dan undang-udang


perekonomian, sosial dan hukum yang telah dibangun oleh Negara Turki sekular.

4. Bahwa partai ini berusaha melakukan pertentangan terhadap prinsip-prinsip ajaran At-
taturk.

5. Partai ini selalu melakukan berbagai demonstrasi keagamaan.


Sebagaimana pula datang dalam undang-undang dan keputusan hukum negara bahwa setiap
orang tidak berhak melakukan aktivitas kepartaian dan bekerja untuk kemaslahatan partai
politik lain, atau mendirikan partai baru apapun, atau mencalonkan diri sendiri secara
independen dalam pemilihan umum yang akan datang selama 5 tahun. Dan ini tentuntya
antara pendirian partai dan menutupnya selama 16 bulan saja[6].

Namun disaat kondisi yang hangat dan perseteruan yang sengit antara Islam dan sekularis di
Turki seorang mujahid besar yang bernama Najamuddin Erbakan, yang berusaha melawan
rezim sekularis melalui debat terbuka; maka pada tanggal 2 Agustus 1972 sebelum didirikan
partai As-salamah Al-watani, Erbakan berbicara dihadapan majlis Nasional; “Dalam
pandangan kami bahwa yang paling terang dan penting sekali adalah kebersamaan untuk
menjadikan undang-undang sebagai undang-undang yang demokratis, jadi harus ada materi
undang-undang yang sesuai sebelum ada pembatasan gerak dan hak-hak untuk berideologi
dan berkayakinan, dan hal yang demikian dapat dilakukan dengan menghadirkan sisi sosial
untuk menerapkan kondisi dan yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip utama
undang-undang, dan pada kondisi inilah, setiap orang berhak berbicara tentang eksistensi
ideology kebebasan dan berkeyakinan, dan bahwasannya negara kita hanya berhak
menghadirkan dan menumbuh kembangkannya, dan karena itu pula hendaknya negara
menempatkan posisinya yang tepat terhadap kebudayaan negara-negara yang ada di dunia”.
([7])

Erbakan berpendapat bahwa system demokrasi belum tentu demokratis tanpa adanya
jaminan pemberian hak dan kebebasan berfikir dan berkeyakinan, dan yang dimaksud dibalik
itu adalah kebebasan yang paripurna untuk menggunakan penyebaran ideologi
Islam. Namun ungkapan ditafsirkan oleh dua Koran “Jomhorit” dan “Melliot” yang beraliran
sekular secara salah dengan menyebutkan bahwa keterangan dan ucapan Erbakan adalah
sebagai tameng dia untuk menggunakan agama mencapai tujuan-tujuan politik. [8]

Namun Erbakan kembali menyerang balik, dan memanfaatkan celah-celah yang ada dalam
undang-undang di Turki, dan membantah atas serangan media masa secular yang
ditujukan kepada yang membantah keterangan-ketarangan beliau sebelumnya, dia berkata:
“Bahwa istilah-istilah nasionalisme, demokrasi, sekularisme dan sosialisme, dan yang
digunakan oleh setiap pejabat negara, dan berdasarkan pada fasal kedua dari undang-
undang di Turki, bahwa itu semua dapat dijelaskan bahwa materi ini tidak cocok
dipergunakan dan ditafsirkan sebagai suatu penentangan dalam harakah, dan pada sisi ini
dan dengan bentuk yang khusus istilah nasionalisme yang membutuhkan penjelasan, dan ini
dimaksudkan bahwa yang demikan pada pembatasan; dengan cara menghormati seluruh
nilai-nilai ruhiyah terhadap nasionalisme kami; baik dari sisi sejarah dan taklid” [9].

Erbakan juga menambahkan : “Agama adalah keyakinan mendasar dan sistem ideologi bagi
setiap individu, dan hal ini berarti mengakui akan hak kebebasan dan eksistensi diri,
mengakui akan hak-hak berkeyakinan bagi individu, dan bahwa pengharaman terhadap
individu dari dasar-dasar ini berarti melawan dan bertentangan dengan ruh dan prinsip-
prinsip asasi undang-undang, khususnya alinea 1, dari fasal 19 dan fasal 20″ [10].

Bersambung insya Allah


________________________________
[1]. Al-Harakat Al-Islamiyah al-haditsah fi Turkiya, DR. Ahmad An-Nuaimyi, hal. 184-187
[2]. Lihat: Al-Ma’alim Ar-Raisiyah lil usus at-tarikhiyah wal fikriyah lihizbi salamah, Abdul
Hamid Harb, hal. 435 dan nadwah ittijahat al-fikri al-islami al-mu’ashir, Al-Bahrain, 22-
25/2/1985.
[3]. Lihat: Al-Harakat Al-Islamiyah al-haditsah fi Turkiya, hal. 126
[4]. Ibid. hal. 127
[5]. Ibid. hal. 127Â
[6]. Ibid. hal. 185-186
[7]. Ibid. hal. 128
[8]. Ibid. hal. 128
[9]. Ibid. hal. 128
[10]. Al-Ma’alim Ar-Raisiyah lil usus at-tarikhiyah wal fikriyah lihizbisalamah, hal. 435

Serial Fiqh Kemenangan dan Kejayaan Dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah (5):
Harakah Islam di Turki (2)

2. Partai As-Salamah Al-Wathani

Setelah tenang suasana kekerasan dan kecemasan politik dalam negeri Turki dari bentuk-
bentuk hukum urf, Erbakan melakukan persaingan dengan partai An-Nizham Al-Watani
dengan mendirikan partai baru yang dinamakan dengan partai As-Salamah Al-Wathani, dan
partai ini dalam jangka waktu yang singkat -tidak kurang dari 8 bulan-, mampu melakukan
tanzhim kepengurusan di daerah hingga merambah ke 67 propinsi, dan Erbakan
menyampaikan bahwa keberhasilan partainya dalam waktu yang singkat tersebut adalah
kembali pada perasaan opini umum di setiap daerah terhadap partai yang menyerukan akan
pentingnya akhlak keagamaan dan kondisi spiritual.

Dan dengan asas inilah partai menegaskan bahwa diantara program-programnya adalah:
“Membangun kesatuan bangsa yang dibangun atas dasar nilai-nilai mulia dan akhlak,
memperhatikan nilai-nilia spiritual bagi setiap insan sebagaimana yang termaktub dalam
nash undang-undang fasal 10 dan 14, yang keduanya menegaskan akan nilai-nilai spiritual
bagi setiap insan sesuai dengan akhlak dan prilaku yang mulia” [1].

Inti program kerja partai As-Salamah

Ketika partai As-Salamah merasa percaya diri akan kekuatannya, dan sudah menjadi bagian
dari kehidupan politik di Turki, para pengurus partai menetapkan untuk melakukan invasi
media secara terstruktur seperti yang dilakukan oleh para sekularis di Turki, dan mereka
menjelaskan kepada umat bahwa ruang lingkup politik di Turki yang baru bertentangan
dengan prinsip-prinsip politik Islam, karena Islam selalu mengedepankan persatuan
kekuasaan politik dan agama dibawah kekuasaan agama, dan ini berarti bahwa sekularis dan
system sekularis bertentangan dengan Islam, syariah dan agama, terkhusus lagi pada tahap
penerapannya di Turki, karena sekularis di design untuk kemaslahatan zindiqah[2]. Beliau
menambahkan: “Bahwa, adalah merupakan pengkhianatan dan kedustaan terhadap
orang yang mengatakan bahwa agama dan politik adalah dua sisi yang berbeda, karena umat
Islam tidak bisa memisahkan antara urusan dunia dan urusan langit (agama), dan sungguh
sangat jelas dinyatakan bahwa syariat bukan hak insan, namun jika meletakkan suatu
undang-undang atau mengklaim bahwa telah melakukan demikian, maka pada hakikatnya
pengetahuan yang dimiliki merupakan suatu kesalahan. Karena pada hakikatnya pembuat
undang-undang adalah Dzat yang telah Menciptakan manusia itu sendiri, dan Allah telah
menciptakan manusia sesuai dengan undang-undang ini, adapun undang-undang
konvensional buatan manusia tidak sesuai dengan undang-undang Allah dan tabiat manusia
itu sendiri adalah batil, dan sesungguhnya Islam adalah system yang salih (sesuai) untuk
segala zaman dan tempat, bahwa Islam merupakan bentuk kesatuan dari agama dan
negara, sedangkan Al-Qur’an tidak diturunkan untuk sekedar dibaca di tempat pekuburan
dan makam-makam, atau pada waktu tertentu pada tempat-tempat ibadah, namun Al-Quran
diturunkan untuk dijadikan hukum dan minhajul hayah” [3].

Perjalanan sang mujahid besar Erbakan tidaklah selalu mulus, namun selalu menemui jalan
yang sulit dan terjal dalam memerangi sekularisme walaupun dengan hujjah (dalil) dan
burhan (bukti) yang jelas, bahwa pendapat dan opininya merupakan cahaya kebenaran, dan
beliau menegaskan bahwa Islam dapat masuk dalam berbagai sisi kehidupan dan sebagai
satu-satunya syarat dalam mendirikan negara Islam. Dan pada sisi ini Erbakan berkata:
“Sebelum segala sesuatunya, adalah wajib menjadikan Islam sebagai dasar negara saat
mendirikan daulah, namun jika tidak demikian, maka agama Islam berada dalam bahaya” [4].

Sesungguhnya pada tahun 1973 partai As-Salamah Al-Wathani tidak berusaha mengambil
sikap menyerang langsung terhadap demokrasi, namun mereka mengungkapkan
perasaannya yang sebenarnya pada tahun 1980, diawali dengan melakukan kritik terhadap
demokrasi ala barat, dengan menegaskan bahwa demokrasi yang demikian sesunggunya
bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam[5].

Dan pada sisi ini partai As-salamah menegaskan bahwa “Demokrasi merupakan konspirasi
barat untuk menggiring umat pada kebodohan yang sesuai dengan uslub (cara) barat dan
Kristen, sehingga yang demikian merupakan bentuk konfrontasi terbuka antara Kristen
melawan Islam, oleh karena itu wajib bagi kita menerapkan undang-undang ilahiyah
(syariah) , karena tidak mungkin bagi manusia memiliki undang-undang yang dapat
diterapkannya kecuali dengan syariat Islam” [6].

Sebagaimana juga sudut pandang partai As-Salamah Al-Watani terhadap kapitalisme dan
sosialisme, dalam makalah yang disampaikan oleh Najib Fadhil disebutkan:

“Kami memberikan kunci penyelesain masalah ini pada dua bagian;

pertama; dengan cara Islam dalam menyelesaikan masalah,

kedua; mungkin dengan cara membukukannya seperti system warisan yang tidak sampai
kepada penyelesaian. Dan kedua bagian ini tidak hanya bergantung pada ajaran-ajaran
ilahiyah dan bertentangan dengan diri manusia namun juga bergantung pada undang-
undang buatan manusia seperti komunisme, kepitalisme, sosialisme dan demokrasi, dan
penegasan tersebut juga sempurna karena Allah telah memerintahkan kita untuk berhukum
sesuai dengan ajaran Al-Qur’an al-karim, bukan sekedar pendapat kami sendiri, jika umat
berhukum sesuai dengan system polling, maka tidak membutuhkan ayat-ayat Allah” [7].

Adapun yang berhubungan dengan sikap partai terhadap pasukan Amerika, dengan tegas
partai tersebut menentang keberadaan pasukan Amerika di bumi Turki, sebagaimana partai
juga menentang pasukan Amerika yang menggunakan faslitas negara Turki untuk melakukan
perang terhadap negara-negara di Timur Tengah, dan pada akhir tahun 1979 partai ini
mengkritik kebijakan pemerintah Demereil oleh karena kian bertambahnya aktivitas militer
Amerika di Turki, yaitu dengan menggunakan hak angket di majlis parlemen Turki yang di
dalamnya meminta untuk meninjau ulang kebijakan presiden Demereil terhadap aktivitas
militer Amerika tersebut, dalilnya adalah adanya pendaratan dua pesawat tempur di bandara
Malqa, yang membawa 180 personil militer Amerika beserta perangkat perang
modern, sebagai penegasan bahwa hal ini merupakan suatu ancaman besar bagi stabilitas
keamaan di daerah tersebut.

Pada hakikatnya partai ini bisa membentuk opini umum untuk menentang barat dan
Amerika; yaitu melalui permasalahan yang terjadi di Cyprus, yang mana Erbakan memiliki
peran utama dalam memberikan kepuasan terhadap panglima-panglima militer dengan
menurunkan kekuatannya di Jazirah tersebut, karena beliau telah memegang tampuk
kepemimpinan sejak hilangnya Ajwed ketika berkunjung ke Eropa utara.

Dalam kepemimpinan Erbakan partai ini mampu menggagalkan seluruh rencara dan produk
Yunani di laut lepas Eijah, dan dalam kesempatan tersebut Erbakan berkata: “Kita akan
bergerak sesuai dengan asas keadilan dan kebenaran untuk menyepakati dasar-dasar yang
ditentukan oleh benua Eropa Raya” [8].

Adapun yang berhubungan dengan pasar bebas Eropa Erbakan berkata: “bahwa Turki tidak
bisa ikut campur terhadap pasar bebas negara-negara barat, namun lebih cenderung pada
pasar bebas di negara-negara timur, karena Turki merupakan negara terbelakang jika
dibanding dengan negara-negara barat, namun bisa sebagai negara maju jika dibanding
dengan negara-negara Timur, dan jika Turki masuk pada pasar besar tersebut dalam kondisi
yang terjadi hari ini, maka hal itu bisa disebut dengan suatu tindak penjajahan” [9].

Partai As-Salamah memiliki pengaruh yang besar di jalan-jalan Turki dan berusaha
mengembalikan semangat umat Islam di Turki, mereka turun dengan membawa dalil-dalil
dan bukti-bukti Islam terhadap kedustaan rezim sosialisme dan kapitalisme. Sedangkan
pemimpinnya Najmuddin Erbakan berbicara dengan penuh kemuliaan Islam,
memberikan penjelasan kepada masyarakat Turki akan bahaya penyimpangan terhadap
manhaj Allah dan mengarahkan serangannya kepada musuh-musuh Islam. Dan pada sisi ini,
Najmuddin Erbakan memberikan pelurusan bagi kita semua akan dua rezim sosialis dan
kapitalis.

Adapun yang berhubungan dengan yang pertama Erbakan berkata: “Bahwa –sosialis-
mengancam kebebasan, membahayakan eksistensi masyarakat, dan hanya focus pada
sumber-sumber asing” [10]. Adapun yang berhubungan dengan yang kedua: “Bahwa
ideology kapitalis merupakan rezim yang berdiri diatas system riba, sumbernya adalah barat
juga. Adapun partai As-Salamah berjalan di atas jalan dengan mengangkat bendera akhlak
dan keaslian Islam.

Bahwasannya rezim kapitalis dan sosialis tidak hanya terbatas pada bidang ekonimi saja
namun juga melakukan ekspansi pada sisi materi dalam melakukan usaha menjatuhkan
akhlak dan spiritual umat, dan keduanya terus bertambah pada sisi materi bersamaan
dengan menurunnya kebudayaan dan akhlak manusia” [11].

Tujuan partai As-Salamah melakukan itu semua adalah untuk memberikan pemamahan
kepada warga “Turki Raya” dan berusaha untuk memegang teguh akan kegemilangan masa
lalu Utsmani al-majid dan menjelaskan kepada manusia pentingnya komitmen kepada Islam
dan mengikuti politik yang mengarahkan pada tujuan jangka panjang dalam menghapus
prinsip-prinsip dan ajaran Ataturk sekular, dan pada saat yang besamaan mengajak umat
untuk tidak bekerja sama dengan unsur-unsur yang tidak Islami di Turki, serta menghadang
laju komunisme secara tegas dan keras. Begitupun partai menegaskan akan cara yang utama
untuk menyebarkan prinsip-prinsip Islam yaitu memberikan kehidupan yang merdeka bagi
seluruh warga Turki.

Erbakan juga mengajak akan pentingnya pegembangan hubungan Turki dengan dunia Islam
dalam berbagai lini dan sisi, dia berkata: “Dan hubungan ini bukan hanya berbentuk life style
saja, namun harus merupakan hubungan erat dan efektif serta konstruktif dan
berkesinambungan, karena jumlah negara dalam dunia Islam saat ini mencapai 50 negara
dan penduduknya mencapai satu milyar jiwa, dan negara-negara ini merupakan sarana
positif dan alami sehingga mampu meningkatkan produktivitas kita” [12].

Dan atas dasar ini Erbakan mengkritik Zionisme dan Masunianisme, seperti dalam
ungkapannya disebutkan: “bahwa zionis dan masuniah berupaya memisahkan Turki dari
dunia Islam, konspirasi yang terus menerus, bergerak sejak 5 abad yang lalu; yaitu sejak
ditaklukkan Sultan Muhammad Fatih menaklukkan constantinopel dan bergerak
menaklukkan negara Romawi, pertentangan ini terus terjadi selama 100 tahun terakhir,
sehingga menjadi sebuah konsep yang direncanakan sebelumnya, namun pada tahun 1839,
sehingga kekuatan ini mampu memberikan pengaruh besar dalam tubuh negara sekuler, dan
mulai masuk undang-undang konvensional yang jauh dari nilai-niali Islam melalui lembaga-
lembaga Yahudi masuniah, dan membagi program Yahudi di Turki pada 3 tahap yang memiliki
tenggang waktu selama 30 tahun, yaitu sebagai aplikasi dari ideology Lithuid dan Hertzel
untuk meruntuhkan negara Islam di Turki, adapun tahap kedua, berjalan selama 20 tahun,
tujuannya untuk menjauhkan Turki dari Islam, kemudian mendirikan partai al-ittihad wat
taraqi (partai persatuan dan kemajuan), yang memiliki hubungan dengan Yahudi dan Masuni,
dan karena itulah mampu menjatuhkan Sultan Abdul Hamid, dan mulai menjauhkan Turki
dari komunitas Islam dan mengucilkannya dengan berbagai macam cara. Intinya adalah
bahwa sekularisasi bertujuan membatasi gerak kaum muslimin dalam kehidupan mereka
[13].

Dan akhirnya partai As-Salamah Al-watani ketika mengikuti pemilu pada tahun
1973 memperoleh 11 % jumlah suara dengan jumlah penduduk 24,1 juta jiwa yang boleh
mengikuti pemilu, sehingga dengan hasil tersebut partai ini mampu mendapat 45 kursi di
parlemen[14].

Setelah selesai pelaksanaan pemilu pada tahun 1973 Erbakan mengungkapkan: “Bahwa kami
akan mengembalikan masa Rasulullah saw, dan mengumumkan bahwa syi’ar partainya
adalah al-miftah (kunci), dan ini menjadi bagian partai untuk membuka jalan yang tertutup di
hadapannya, dan menjadi kunci bagi seluruh pemerintahan koalisi” [15].

Adapun hasil dari pemilu tersebut, terbentuk pertama kalinya pemerintahan koalisi;
bersatunya partai As-Sya’b Al-Jumhuri dan partai As-Salamah Al-watani, yaitu pada tanggal
25 kanun At-tsani tahun 1974, dan melakukan pembagian kursi menteri; 18 menteri dari
partai As-Sya’b Al-Jumhuri dan 7 menteri dari partai As-Salamah.

Dan atas karunia Allah dan usaha yang keras dari partai As-Salamah yang dipimpin oleh
Erbakan, peranan Turki -dan untuk yang pertama kali pada tahun 1974- dapat mengikuti
Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT), dan berhasil dipilih dari menteri dalam negeri Turki sebagai
ketua, yang berasal dari partai As-Salamah.
Bahwa aktivitas partai As-salamah al-watani sejak tahun 70 an dalam melakukan
penggembosan dan pengeroposan akan fenomena sekularisme di Turki mencapai sukses;
yaitu dengan menyebarkan sebagian symbol dan fenomena Islam di Turki, khususnya pada
bulan Ramadhan, adanya perluasan gerak dan aktivitas Islam di sekolah-sekolah Islam,
dibolehkan pelaksanaan pelatihan untuk para imam dan khotib, sehingga menjadikan
sekolah-sekolah tersebut menjadi terkenal. Dan sekitar 10 persen dari 50.000 pelajar pada
tingkat SMU dari unsure wanita.

Pada hakikatnya suara Islam dalam pemilu diperoleh antara 10 % -15 %, sehingga para
sekularis menganggap bahwa peroleh ini sebagai sebuah ancaman akan eksistensi mereka di
Turki [16].

Dan dengan adanya pengaruh dari partai As-salamah al-watani, serta para pelajar An-Nuur di
Turki terbit buku kepermukaan bumi silsilah “alfu kitab” (seribu kitab) yang penebitannya di
dukung oleh menteri pendidikan. Buku silsilah tersebut mecakup tentang kebudayaan Turki
dengan symbol Islam, dan partai As-Salamah menjadikannya sebagai sarana untuk
memperdalam pemahaman Islam di majlis parlemen Turki raya, dan menyerang media-
media Islam Turki Kamal Ataturk dan menyebutnya sebagai Dajjal. Dan pada akhirnya
partai mampu melakukan tekanan atas dirjen urusan agama sehigga terbit bayanat pada
tahun 1973 yang menegaskan di dalamnya seruan kepada wanita Turki untuk berhijab.

Dan ketika Erbakan melakukan safari ke Saudi Arabia tahun 1974, -yang waktu itu beliau
menjabat sebagai wakil perdana menteri- memulai kunjungannya ke Ka’bah, dan dalam
risalah yang ditulis untuk raja disebutkan: “Bahwa pemahaman bangsa dan para hujjaj
terhadap syariat akan tegak berdiri di daerah timur dan tenggara dengan ketetapan yang
kalian berikan untuk Turki merupakan suatu perkara yang sangat penting, dan bahwasannya
dukungan kalian terhadap sikap kami di Turki akan membuka Turki pada fase baru dalam
dunia Islam, dan bantuan kalian terhadap kami pada sisi ini akan menjadi dukungan pada
fase ini” [17]. Akhirnya Erbakan mampu menerapkan undang-undang di parlemen yang
membolehkan orang-orang Turki melakukan safar melalui darat untuk menunaikan ibadah
haji, yang sebelumnya dilarang[18].

Adapun langkah-langkah yang dilakukan partai As-salamah al-watani di tengah masyarakat


Turki sangatlah berani, karena itu tentara Turki sebagai khadim (pelayan) rezim sekularis di
Turki tidak mampu lagi menahan diri terhadap kerja-kerja yang terpuji tersebut, sehingga
mereka melakukan kudeta bersama partai lain dengan alasan kebebasan politik; yaitu pada
tanggal 12 Eilul tahun 1980, dan kudeta ini berimbas pada munculnya demonstrasi besar-
besaran, terutama di kota Konya pada tanggal 6 Eilul, para demonstran menyeru didirikannya
negara Islam, dan para pendukung partai As-salamah juga mengecam dan mencela terhadap
setiap orang yang mengimani Ataturk dan lembaga kemiliterannya, para demonstran datang
dari berbagai penjuru daerah dan menyerukan syiar-syiar agama, dan juga menuntut
penggunaan syariat Islam dalam setiap interaksi politik dalam negeri [19].

Para demonstran juga mengkritisi kondisi Al-Quds, menyeru untuk memutuskan hubungan
bilateral dengan Israel, dan mengajak Israel memberikan kebebasan pada Al-Quds,
sebagaimana Erbakan juga mengajak para demonstran untuk mengawali perseteruan dengan
zionis, karena ini merupakan trik palsi barat sehingga menjadi hukum di Turki, dan para
demonstran juga menulis syiar-syiar dengan bahasa arab, sebagaimana mereka juga
melakukan pembakaran bendera zionis, Amerika serta Uni Soviet, mereka menyeru dengan
syiar “Mati untuk Yahudi” terutama di kota Konya yang banyak terdapat kelompok Yahudi
dengan jumlah hingga 20.000 jiwa, dan para demonstran juga menyerukan syi’ar “Telah
datang peran undang-undang agama dan berakhir masa yang membelenggu, syariat atau
mati, bahwa negara yang kafir harus hancur, Qur’an adalah dustur kami, kami menginginkan
negara Islam tanpa batas dan tanpa perbedaan tingkatan”. [20]

Adapun setelah peristiwa tersebut masa partai As-salamah al-watani kian meningkat, oleh
karena partai ini tetap komitemn dengan permasalahan-permasalahan Islam secara terang-
terangan khususnya pada dua tahun belakangan 1979 dan tahun 1980, dan memaksa partai
Jumhuri dan partai ‘Adalah (keadilan) untuk menerima partai As-salamah al-watani, dan
mengikuti arahan-arahan Islam, terutama dalam masalah bantuan ekonomi dari berbagai
negara Islam dan kebutuhan yang banyak terhadap minyak.

Namun militer Turki tidak merasa malu setelah melakukan kudeta militer dan mereka
berkata bahwa sebab turut campurnya militer terhadap permasalahan ini adalah untuk
menghentikan kemajuan Islam di Turki.

Para pelaku kudeta mengambil keputusan pelarangan terhadap seluruh partai dan menahan
pimpinan partainya dan mengajukannya ke pengadilan, dan merupakan hal yang alami partai
As-Salamah al-wathani dihadapkan dengan pengadilan dan tuduhan yang beragam, terutama
terhadap pimpinan partainya Erbakan dan teman-temannya yang berjihad bersamanya.
Adapun tuduhan-tuduhan yang ditujukan kepadanya bermuara pada semangat partai
tersebut yang ingin mengembalikan negara Islam di Turki dan membersihkan ideology
sekuler dan prinsip-prinsip kamaliyah, secara arogan, Turki sekuler mengumumkan berbagai
kejahatan dalam lisan jendral Efran; bahwa dia memiliki kekuatan (pasukan) yang mampu
memotong lidah setiap orang yang mengecam dan mencela Ataturk [21].

Namun sebelumnya, Partai As-Salamah al-wathani mampu masuk dalam pemerintahan dan
berhasil melakukan beberapa perubahan pada etika politik dalam negeri Turki, diantaranya
adalah: dikumandangkannya -kembali- azan dengan berbahasa arab di masjid-masjid,
diwajibkannya tilawah Qur’an di setiap stasiun televisi dan radio, yang mana sejak
kedatangan bapak pelaku kerusakan Kamal Ataturk dan memegang tampuk kekuasaan yang
mengharamkan itu semua.

Erbakan bersama dengan partainya menjadi model dari berbagai gerakan harakah Islam
modern di Turki, dan memberikan pengaruh pada gerakan-gerakan di tengah komunitas
umat Islam, tarekat sufi dan aktifitas tradisional, begitupun menjadi pemicu arus Islam
tradisional dari mereka yang membelanya, berdiri disisinya dan memberikan dukungan
kepadanya, namun akhirnya pengadilan militer yang zhalim pada tahun 1983 menjatuhkan
hukuman penjara terhadap mujahid Erbakan selama 4 tahun beserta 22 orang dari anggota
partai As-Salamah Al-Watani selama 3 setengah tahun [22].

Militer Turki terus melakukan penangkapan terhadap orang-orang yang mencela dan
mencaci Atatutk dan yang menyebarkan syiar-syiat yang berbau Islam, dan komandan militer
Efran mengumumkan dalam invasinya yang ditujukan kepada orang-orang Islam dengan
kekuatan bersenjata “Bahwa tujuan mereka adalah mencapai tingkatan tertinggi dalam
kekuatan bersenjata, apa yang akan terjadi jika mereka -umat Islam- menguasai pasukan
bersenjata?” [23] Dan dia menambahkan : “bisa jadi mereka akan mengubah negara pada
bentuk dan rezim yang mereka inginkan, apakah ini merupakan kegiatan keagamaan atau
pengkhianatan? [24]”

Setelah itu kepala angkatan bersenjata Turki mulai mencari solusi terhadap permasalahan
politik di Turki walaupun mendapat tekanan dari Eropa yang menuduh negara Turki telah
melakukan pelanggaran HAM dan harus mengembalikan system pemerintahan pada sistem
demokrasi yang baru, maka dibentuklah lajnah baru untuk membuat undang-undang negara
Turki dengan memberikan kepada Presiden Turki hak penuh menjalankan kondisi darurat.

Akhirnya parlemen memberikan solusi dan menyeru untuk melakukan pemilu ulang, dan
dengan cara itu kaum sekularis berhasil menghentikan usaha umat Islam yang terus giat
ingin menghapus undang-undang sekularis, merevisi undang-undang di bawah pimpinan dan
pantauan militer yang memiliki hak untuk menguasai sebagian proses politik di Turki.

Namun, setelah diumumkannya undang-undang baru pada tahun 1982, banyak


bermunculan, terutama partai-partai Islam; diantaranya muncul partai Refah, yang
merupakan perpanjangan secara alami akan ideology As-Salamah al-wathani, dan mulai
menampakkan unsur-unsur islamnya terhadap partai baru yang siap melakukan perlawanan
terhadap tentara dan tekanan atasnya, karena telah melakukan pelarangan terhadap partai
tersebut untuk masuk dalam pemilu tahun 1983, namun ketika berhasil mengikuti pemilu
partai Refah baru bisa mendapat 5 % jumlah suara [25].

Dan setelah itu, partai Refah masih ikut serta dalam pemilu selanjutnya pada tahun 1987 dan
mendapat 7.06 % jumlah suara [26].

Akhirnya jamaah Islam mulai terfokus pada partai Refah, dan menjadikannya
sebagai partai alternatif gerakan Islam di setiap kota di Turki, bahkan hingga ke propinsi-
propinsi besar dan pedesaan yang jauh dari perkotaan, dan akhirnya harakah Islam mampu
bergerak bersamaan dengan pergantian kekuasaan terutama yang bersinggungan dengan
Islam di Turki, apalagi kebanyakan dari pimpinan partai –partai al-wathan al-um- berasal dari
kalangan Islam yang terkenal di Turki, dan mulai masuk kader-kader pemimpin utama dari
partai As-salamah kepada partai Al-Wathan al-um yang berhasil meraih suara terbesar pada
tahun 1983, dan pemerintah mulai berani mengizinkan aktifias-aktifitas Islam di masjid-
masjid dan sekolah-sekolah keagamaan, sedangkan menteri negara (Kazhim Akshawi) urusan
pelayanan masyarakat memiliki perhatian khusus terhadap urusan-urusan agama, sehingga
diadakan daurah-daurah ta’lim Al-Quran al-karim, yang mana pada tahun 80 an berjumlah
200 daurah resmi dan pada tahun 1987 mencapai 300 daurah, bermunculan aliran-aliran
keagamaan, begitupun Kazhim Akshawi mendirikan beberapa lembaga-lembaga keagamaan
dan bank-bank Islam seperti bank wakaf yang merupakan salah satu pusat penting pemasok
amunisi terhadap gerakan-gerakan Islam di Turki [27].

Sedangkan partai Refah terus melancarkan jihadnya dan gerak yang seimbang di tengah
masyarakat muslim Turki yang masih memiliki kenangan terhadap kerja partai As-salamah,
dan yang mampu mengembalikan masyarakat Turki akan eksistensinya dan kehadiran Islam.
Begitupun partai Refah yang merupakan perpanjangan tangan dari partai As-salamah pada
bulan Maret tahun 1984 mampu melebarkan sayapnya hingga menjadi partai penting dan
besar di Turki, dan atas kemenangannya pada desember tahun 1995 sebagai partai terbesar
di negeri tersebut, dan meraih kekuasaan setelah melakukan koalisi pemerintahan dengan
partai At-thariq al-qawim pada bulan Juni tahun 1996 [28], sedangkan mujahid besar
Najamuddin Erbakan menjadi perdana menteri Turki dan banyak melakukan perbaikan-
perbaikan yang menakjubkan di bidang ekonomi, sehingga dapat menaikkan pendapatan
dalam waktu yang singkat, dan hadir menjadi penggerak meningkatnya saham terhadap
dakwah untuk mendirikan pasar Islam terbesar dan menolak masuknya Turki pada pasar
terbuka Eropa. begitu pula seruan untuk mendirikan persatuan umat Islam dan majlis Islam
terpadu. Sedangkan para pimpinan dari partai Refah di daerah-daerah dan tingkat pusat
mulai melakukan kerja yang menakjubkan dan mereka terkenal dengan sosok yang bersih
dan suci, mampu membersihkan negeri dan juga mampu bekerja sesuai dengan rencana.
Adapun lembaga-lembaga yang ada di partai tersebut mulai melakukan pengajuan dan
perbaikan terhadap prasarana umum untuk warga dan berinteraksi secara baik dengan
masyarakat Turki bersama dengan partai Refah, sehingga banyak dari lembaga-lembaga
lain memberikan suara mereka kepada partai refah yang dikenal aktif menghadirkan
lapangan pekerjaan setelah meninggalkan kecurangan dan kerusakan kemudian kembali
kepada Allah dengan bertaubat dan mohon ampun.

Begitpun para pimpinan Refah dan yang memimpin kota Istanbul mampu menyelesaikan
permasalahan ibu Kota dengan baik, bahkan dapat melipat gandakan pendapatan daerah
setelah beberapa lama selalu mengeluh minimnya pendapatan akibat adanya korupsi.

Namun Yahudi dan sekularis tetap tidak senang dengan usaha yang mereka lakukan dan
terhadap pendapatan besar yang diraih oleh gerakan Islam di Turki, sehingga mereka
mendorong tentara melakukan tekanan kembali terhadap partai-partai lain untuk
membatalkan koalisi antara partai At-tariq al-qowim dengan partai Refah. Hal ini
memberikan peluang terhadap partai sekularis ektrimis yang didukung oleh kekuatan militer
dan para ekonom sekuler untuk mengajukan partai Refah ke mahkamah konstitusi dan
memutuskan untuk membubarkan partai Refah dan menyita harta kekayaannya pada tahun
1997, namun umat Islam di Turki tetap berjibaku melakukan perlawanan dengan Yahudi dan
para sekularis serta musuh-musuh Islam dengan penuh keberanian dan kecerdasan. Dan saya
–penulis red- memiliki keyakinan yang mantap dan tidak ada keraguan di dalamnya bahwa
harakah Islam di Turki akan terus bergerak hingga mencapai pada kekuasaan dan
menerapkan syariat Islam, insya Allah, karena petunjuk-petunjuk dan tanda-tandanya
menunjukkan hal demikian.

Terakhir saya ingin ungkapkan bahwa tajribah Islam di Turki dalam dialog dengan mujahid
besar yang telah menggoyahkan singgasana sekularis di Turki; prof. Najamuddin Erbakan
bersama wartawan muslim terkenal, saat ditanya oleh seorang wartawan muslim terkenal;
beliau berkata: Bahwa musyarakah dalam proses pemilu merupakan perkara yang tidak
dibolehkan dari sisi syariah, dan ia merupakan saham dalam memperkokoh rezim jahili yang
bersandar pada uslub ini… maka sang mujahid besarpun membantah ungkapan tersebut: dia
berkata: jadi apa yang harus kita lakukan..? bukankah dengan kemampuan ini kita dapat
merealisasikan pendapatan besar dalam bentuk kebebasan individu dan umum…. kita
mampu mendirikan ratusan sekolah-sekolah Islam, meningkatkan suara kita di parlemen
untuk bisa merevisi undang-undang yang menghadang kebebasan beragama,
mengembalikan kepada manusia ketsiqohan terhadap diri mereka dan agama mereka,
mengepung segala bentuk kejahatan sehingga hampir hilang dari negeri kita, tanpa sarana
yang dapat diangkat dari tingkat pelaksanaan secara menyeluruh; individu dan jamaah ini,
dan mampu mendorong seluruhnya memberikan tanggungjawab mereka dalam
mengembalikan pembangunan..? [29]
Bahwa tajribah gerakan Islam di Sudan, di Yordania, di Yaman dan di Turki merupakan
tajribah mumpuni yang penuh dengan pelajaran dan ibrah, dn tentunya harakah-harakah ini
tidak melakukan hal-hal yang berlebihan terhadap tsawabit dalam agama; namun
merupakan suatu komitmen, bukan kepura-puraan atau basa basi di dalam perkara syariah;
bahkan dapat mampu menekan pemerintahannya dan merivisi undang-undangnya seperti
yang terjadi di Turki. Dan agenda dan kerja besar yang dilakukan oleh berbagai gerakan Islam
di negerinya bersama dengan pemerintahnya merupakan salah satu bentuk dari bentuk-
bentuk tamkkin (kejayaan) terhadap agama ini.

___________________________

[1]. Lihat: Al-Harakah Al-Islamiyah al-haditsah fi Turkiya. DR. An-Nuaimy, hal. 130

[2]. Ibid. hal. 131

[3]. Ibid. hal. 132

[4]. Ibid.

[5]. Ibid. hal. 135

[6]. Ibid. hal. 135

[7]. Ibid. hal. 135

[8]. Al-Ahzab Asiyasiyah fi Turkiya, Husain Fadhil Kazhim, hal. 192

[9]. Al-Harakah Al-Islamiyah al-haditsah fi Turkiya. DR. An-Nuaimy, hal. 137

[10]. Yaqizhatul Islam fi Turkiya, Anwar Al-Jundi, hal. 29-30

[11]. Ibid

[12]. Ibid

[13]. As-shohwah Al-Islamiyah muntalaq al-asholah wa i’adatu bina’i al-ummah ala thariq
Allah, Al-Jundi, hal. 117

[14]. Lihat: Al-Harakah Al-Islamiyah al-haditsah fi Turkiya. DR. An-Nuaimy, hal. 142

[15]. Ibid. hal. 143

[16]. Ibid, hal. 145

[17]. Ibid, hal. 145

[18]. Al-Harakah Al-Islamiyah al-haditsah fi Turkiya. Muhammad Mustafa, hal. 207

[19]. Lihat: Al-Harakah Al-Islamiyah al-haditsah fi Turkiya. DR. An-Nuaimy, hal. 147
[20]. Ibid, hal. 151

[21]. Ibid, hal. 152

[22]. Ibid, hal. 156

[23]. Ibid, hal. 165

[24]. Ibid, hal. 151

[25]. Ibid, hal. 179

[26]. Ibid, hal. 179

[27]. Ibid, hal. 179

[28]. Lihat: Tahaddiyat siyasiyyah tuwajihu al-harakah al-islamiyah, Mustafa At-Thohan, hal.
118

[29]. Ibid. hal. 87

Serial Fiqh Kemenangan dan Kejayaan Dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah (5):
Harakah Islam di Yaman

Sebagian orang mungkin mengira bahwa musyarakah harakah Islam di Yaman dalam
pemerintahan tidak pernah ada kecuali setelah pemilu parlemen yang berlangsung pada
tanggal 27 April 1993, padahal hakikatnya adalah bahwa harakah Islam mulai perannya
dalam musyarakah sejak lama dan berada dalam berbagai macam bentuk dan cara yang
beragam sesuai dengan kondisi dan tahapannya, sekalipun pada tahun terakhir peran politik
harakah Islam di Yaman muncul bersamaan dengan keputusan harakah dalam
bermusyarakah; yaitu pada pemilu april tahun 1993, kemudian musyarakah dalam
pemerintahan tampak aksiomatik dalam kemampun gerakan politik yang bergelut dengan
pertikaian politik dengan keahlian yang kuat, kemampuan yang mumpuni, sterategi yang
bagus, manajemen yang rapi dan system yang kuat.

Bukanlah program amal siyasi bagi koalisi partai di Yaman untuk melakukan perbaikan kecuali
lahir dari kerja keras sebelumnya, dilakukan bertahun-tahun dengan kerja keras dan jihad
yang terus menerus, sehungga tampak wawasan yang luas, shibghoh yang syar’i, ideologi
yang sistemik dan berperadaban sejak hari pertama terjadi revolusi pada tahun 1962 yang
berhasil menghancurkan system imamiyah dan menghadirkan system sosialis dan
menjadikan system tersebut sesuai dengan perkembangan zaman dan masa, sehingga
muncul dalam bentuknya yang terakhir untuk melakukan persatuan dan perbaikan.

Ada beberapa faktor yang mendukung pertumbuhan harakah siyasiyah dan tandzim (gerakan
politik dan ideologi) bersamaan dengan bertambahnya umat secara seimbang, adapun
diantara factor-faktor tersebut adalah :

1. Terbebasnya Yaman Utara dari penjajahan asing.


2. Ketegasan rezim sosialis terhadap kepemimpinan syariah Islam dan menjadikannya
sebagai sumber bagi seluruh undang-undang.

3. Adanya peluang diterimanya amal siyasi yang dapat memberikan manfaat bagi harakah
dalam meningkatkan dan mengembangkan potensinya dan mengekplorasi kemampuannya
serta memerikan arahan sehingga tercapai tujuan yang diinginkan.

4. Dibolehkannya kepemilikan senjata terhada rakyat untuk menjaga dan melindungi diri dan
kebebasannya; sehingga pemerintah sekularis tidak mampu menundukkannya dan
mengkebiri kebebasannya serta mengintervesi hak-haknya; dan hal tersebut tidak
berseberangan dengan harakah Islam dalam bentuk persatuan dan system sepanjang masa,
mulai dari setelah revolusi hingga hari ini terhadap berbagai cobaan dan ujian yang besar
atau tindakan keji seperti penjara, pembunuhan, pengusiran dan tindakan-tindakan lainnya.
[1]

5. Munculnya sayap militer sosialis di selatan Yaman dan hadirnya partai marxis dalam rezim
pemerintahan di Yaman selatan, sehingga memunculkan kemaslahatan bersama antara
pemerintah selatan dan harakah Islam bersamaan dengan bermunculannya banyak
pemimpin yang mumpuni dalam harakah yang mampu mengambil posisi yang
strategis terhadap revisi undang-undang untuk kemaslahatan Islam di Yaman. Dan banyak
lagi factor-faktor lainnya.

Adapun usaha jihad yang dipimpin oleh as-syahid Muhammad Mahmud Az-Zubairi, sebagai
penggerak (muassis) harakah Islam di Yaman, dan menganggap sosoknya sebagai salah satu
sosok negarawan bersejarah dan kontemporer, dan setelah beliau meninggal syahid,
kekuatan politik yang ada menjadi bersatu dan menyebut beliau sebagai “bapak
kemerdekaan”.

Dan harakah Islam juga telah banyak ikut serta melakukan musyarakah politik sebelum
terjadi persatuan, sebagaimana anggotanya juga banyak yang ikut dalam majlis syura pada
tahun 1971 dan berusaha melaksanakan tugas dan perannya dengan baik, sekalipun
jumlahnya sedikit namun banyak memberikan pengaruh dalam menentukan undang-undang
yang seluruhnya bersumber dari syariat Islam.[2]

Dan harakah Islam di Yaman banyak memberikan perhatian pada bidang pendidikan
dan pengajaran bahkan memberikan perhatian secara khusus terhadap keduanya, sehingga
dapat memberikan kontribusi positif dalam mempersiapkan manhaj (metode) pendidikan
pada berbagai bidang dan jenjang pendidikan.

Bahwa strategi manhaj tarbiyah begitu banyak, sehingga harakah Islam banyak
memunculkan para ulama terkenal –dari madzhab az-zaidi dan Syafi’i- untuk membuat
manhaj-manhaj pendidikan dan pengajaran dalam benntuk wawasan persatuan dan
komprehenshipitas melebihi panatisme madzhab, sehingga disepakati tersusunnya manhaj
fiqh dan hadits yang bersumber dari dalil yang benar, tanpa ada yang cenderung pada satu
kelompok atau ta’asshub pada salah satu madzhab, dan diantara karunia Allah terhadap
penduduk Yaman adalah adanya usaha yang bagus yang mampu membentuk generasi yang
mumpuni hingga sekarang dengan memiliki wawasan fiqh yang integral melebihi hasasiyah
(perasaan) dan pertikaian yang diwarisi sepanjang sejarah dan menghindarkan negeri dari
pahitnya pertikaian madzhab secara efektif dan terarah.
- Dan dengan adanya wawasan persatuan dan integralitas yang sama, akhirnya harakah
islamiyah dapat memberikan kontribusi positif, terutama dalam menyusun hukum yang
berdasarkan syariah Islam, memiliki keistimewaan yang unik, terutama pada saat dipimpin
oleh seorang jaksa Abdul Karim Al-Arsy yang mengetuai anggota DPR di Yaman pada periode
dari tahun 1978 hingga tahun 1988 dengan melakukan kegiatan yang terus menerus dan
kerja keras yang gigih sehingga pada saat itu disebut dengan masa emas dan menjadikan
kejaksaan di Yaman pada saat itu memiliki komitmen yang tinggi dengan wawasan syar’iyyah
yang integral. Dan dengan cara inilah, pada dua tingkatan pendidikan dan undang-undang
memberikan pengaruh yang efektif dan besar dalam mengokohkan sendi-sendi persatuan
bangsa di Negara Yaman.

- Harakah Islam di Yaman juga memberikan perhatian yang besar terhadap


bidang kebudayaan dan taujihat terhadap warga Yaman, memberikan arahan kepada kerja
yang terprogram. Dan diantara hasil yang tampak dari kerja tersebut adalah berdirinya kantor
taujih dan irsyad yang dibentuk sesuai dengan undang-undang pada masa pemerintahan al-
marhum Ibrahim Al-Hamdi dan dipimpin secara berturut-turut oleh Syaikh Abdul Karim Az-
Zindani dan Jaksa Yahya Al-Fasil. Dan dalam undang-undang ditetapkan bahwa jabatan
tersebut setingkat dengan menteri, dan wakilnya setingkat dengan wakil menteri, dan wakil
keduanya setingkat dengan wakil departemen. Sementara itu aktivitas dan program kerja
maktab irsyad dan taujih sangat banyak sementara pengaruhnya terhadap bangsa dan warga
Yaman sangat besar, sehingga dengan adanya kafilah taujih dan dakwah mampu
menembus ke tengah kabilah-kabilah, pedesaan, perkotaan, dan mampu memberikan
manfaat akan kerja keras dan kegigihan terhadap dakwah oleh beberapa ulama besar dan
pemikir dunia Islam seperti DR. Yusuf Al-Qardlawi, dan syaikh Muhammad Al-Ghazali, DR. At-
Turabi, Ust. Yusuf Al-Adzim, Ust. Hasan Ayyub, DR. As-Showaf, DR. Ahmad Al-Asal dan banyak
lagi ulama lainnya. Dan maktab irsyad dan taujih juga berhasil memperbaharui kesadaran
bangsa terhadap qadhiyah umat Islam baik qadhiyah fikriyah, politik, sosial dan qadhiyah-
qadhiyah lainnya.

- Sebagaimana Harakah Islam juga memiliki perhatian dalam mendirikan ma’ahid ilmiyah
(pusat-pusat pendidikan) yang di dalamnya terdapat pelajar yang mendapatkan pendidikan
tentang manhaj tarbiyah dan ta’lim (pengajaran) yang integral ditambah dengan
kemampuan mereka pada bidang syariah dan bahasa arab, dengan tujuan memberikan bekal
kepada mereka akan potensi terbesar dari ilmu-ilmu tarbiyah dan pengetahuan. Dan hal
tersebut dibentuk sejak awal terjadinya revolusi pada tahun 1962 seperti ma’ahid ahliyah
(swasta), dan kemudian pada tahun 70 an menjadi ma’ahid yang memiliki administrasi
khusus dibawah naungan departemen tarbiyah dan ta’lim, dan setelah itu berkembang
mengikuti lembaga tertinggi, walaupun posisinya tetap berada dibawah departemen tarbiyah
dan ta’lim, dan pada tahun 1980 dikeluarkan undang-undang pembentukan oleh majlis DPR
yang diketuai oleh Ali Abdullah Shalih dengan melakukan penyatuan pada satu perangkat
yang disebut dengan al-haiah al’ammah lil ma’ahid al-ilmiyah (lembaga umum ma’had
ilmiyah) secara indpenden dan perangkat seni yang independen pula, dan diketuai oleh
penanggung jawab yang setara dengan menteri.

Dan sejak saat itu kepemimpinannya dipegang oleh tiga orang yang memiliki kepribadian
Islami yang salih dan terkenal seperti Jaksa Yahya Al-Fasil (1980-1985), kemudian ust. Ahmad
Abdullah Al-Hijri (1985-1988) dan Ir. Ahmad Al-Inisi (1988-1990), namun sejak terbentuknya
persatuan di Yaman tidak pernah ada lagi pengangkatan ketua hingga sekarang; bahkan
administrasinya diambil alih oleh wakil hai’ah (lembaga) dan bidang seni, hal tersebut karena
terjadinya perbedaan politis sejak pembentukannya hingga perjalanan lembaga, karena
partai sosialis di Yaman bersikeras melakukan merger lembaga sehingga berada dibawah
naungan departemen tarbiyah dan ta’lim, sementara hijb tajammu’ wal Islah (partai
persatuan dan islah) menolak usulan tersebut, sehingga mu’tamar sya’bi al-am (muktamar
kebangsaan umum) terhenti dan tidak memiliki sikap yang antara dua kelompok tersebut,
padahal ma’ahid ilmiyah tersebut telah memberikan peran yang besar dalam bidang tarbiyah
dan ta’lim, dan memberikan pengaruh yang positif terhadap rakyat dan bangsa, sehingga
ma’had tersebut meluas hingga mencapai 500 cabgan ma’had pada tingkat kenegaraan dan
mencapai 300 ribu pelajar laki-laki dan perempuan.

Lembaga ma’ahid tersebut terdapat sekolah bidang administrasi umum, sekolah tahfidz Al-
Quran al-karim dan ratusan sekolah yang memiliki lebih dari 80 ribu siswa; laki-laki dan
perempuan, sekalipun sikap partai sosialis yang kalah terhadap ma’ahid dan madrasah
tahfidz quran, namun mereka bersikeras saat pengambilan keputusan namun tidak mampu
mencegah penerimaan warga dari berbagai propinsi di Selatan dan Timur yang dikuasai oleh
partai sosialis, bahkan mendapatkan desakan dibukanya ma’ahid ilmiyah dan sekolah tahfidz
Quran di berbagai tempat dan 6 propinsi.

- Dan dalam bidang politik harakah Islam masuk pada lajnah (tim) dialog kenegaraan yang
dibentuk oleh presiden Abdullah Shaleh pada tahun 1980 yang terdiri dari 50 tokoh Yaman,
yang berperan di dalamnya sebagian besar kekuatan politik termasuk harakah Islam, dan tim
tersebut terus bertahan selama 2 tahun yang bertugas melakukan dialog kenegaraan dan
kebangsaan untuk membuat formulasi terhadap proyek perjanjian nasional seperti yang
telah disepakati pada saat muktamar nasional pada satu tahun sebelumnya dan menjadikan
perjanjian tersebut sebagai petunjuk teoritis dan ideologis bagi bangsa Yaman dan
pemimpinnya, dan sekitar 2 tahun dari perancangan dan pembahasan, tim dialog nasional
mendapatkan formulasi proyek perjanjian yang sesuai dengan model Islam, kemudian hasil
formulasi tersebut dipaparkan kepada rakyat melalui quisioner yang diikuti oleh ratusan ribu
warga yang berpartisipasi dalam memberikan usulan, tanggapan dan sanggahan terhadap
formulasi yang diajukan, mereka meminta beberapa revisi yang sebagian besarnya mengarah
pada arahan yang disampaikan oleh harakah Islam, sehingga formulasi tersebut dilakukan
revisi kembali sesuai dengan hasil quisioner, kemudian setelaj diserahkan kepada majlis sya’bi
yang diadakan pada tanggal 24 Agustus tahun 1982 untuk ditetapkan formulasi akhir untuk
amandemen nasional, dan sidang juga menetapkan kelangsungan muktamar nasional umum
sebagai formulasi kerja politik dan persatuan kekuatan Negara dan memantau praktek
penerapan amandemen nasional, lalu muktamar tersebut memilih Abdullah Shalih sebagai
sekjennya, sebagaimana tim tetap (pusat) juga memilih 50 orang sebagai anggotanya,
setengah dari mereka berasal dari kalangan muslim, dan tim tetap tersebut akhirnya memilih
memilih DR. Ahmad Al-Ashbahi (harakah Islam) sebagai wakil sekjen, dan Abdul Salam Al-
Ansi (harakah Islam) dan Abdul Hamid Al-Hadi (Nasionalis) sebagai pembantu wakil sekjen.

Para politisi islam memberikan kontribusi pada dua tingkatan; tandzim dan fikri dalam
memurnikan kaidah-kaidah muktamar sya’bi nasional, yang menjadi awal formulasi politik
yang mengakui kekuatan politik secara praktek tanpa propaganda akan eksistensinya dengan
bentuk yang resmi. [3]

Inilah beberapa fenomena utama dalam peran serta harakah Islam pada amal siyasi di tingkat
Negara sebelum tajribah secara integral.
A. Pengalaman memobilisasi persatuan.

Bahwa pengalaman harakah Islam setelah adanya persatuan memiliki perselisihan yang
sangat besar dari sebelumnya, yaitu perselisihan tentang rahasia perpindahan dari amal sirri
(rahasia) kepada amal jahir (terang-terangan), dan pada perubahan system pemerintahan di
Yaman menjadi demokrasi dan pluralitas.

Bahwa pembentukan persatuan di Yaman untuk perbaikan merupakan perpindahan bentuk


secara signifikan yang memberikan tidak hanya pengaruh besar terhadap harakah Islam saja;
namun mencakup sendi-sendi yang ada di Yaman secara keseluruhan, maka dengan
munculnya partai baru yang memiliki grass roat yang kokoh dan kuat menjadikan landasan
utama politik di Yaman berpindah kepada fase keseimbangan, dan kebanyakan dari mereka
enggan melakukan merger kepada dua partai besar (partai muktamar dan sosialis)
sebagai usaha untuk memobilisasi amal siyasi terhadap partai baru, dan partai islah
merupakan partai oposisi yang kuat dan memliki pengaruh yang besar selama bertahun-
tahun dari sejak tanggal 22 Mei 1990 hingga 27 April 1993.

Tampak peran harakah Al-Islah dan pengaruhnya dalam melakukan oposisi saat melakukan
referendum undang-undang Negara yang berlangsung selama 3 bulan, yaitu dari bulan
Februari hingga bulan Mei tahun 1991, saat itu harakah al-islah berpendapat keharusan
melakukan sebagian revisi terhadap undang-undang sebelum referendum, hal itu disebabkan
banyaknya pasal-pasal yang bertolak belakang, disamping adanya kesamar-samaran yang
terjadi disebagian fasal-fasal lainnya, dan undang-undang tersebut dibuat oleh tim pada
fatrah (masa) antara bulan Maret 1979 hingga bulan Desember tahun 1981, yaitu ketika
posisi militer komunis memiliki kekuatan penuh sehingga menyebabkan adanya dua system
pemerintahan yang mengarah pada formulasi kesepakatan dan talfiq untuk menghilangkan
perbedaan antara keduanya, dan yang demikian mengakibatkan hawa system politik menjadi
samar, sehingga tidak ada contoh nash yang jelas terhadap system ta’addudiyah (multi
partai), begitupula dengan adanya hawa system perekonomian, system yang tidak islami dan
tidak juga kapitalis, dan tidak ada nash dalam undang-undang yang memisahkan antara dua
kekuatan tersebut, dan tidak ada pula yang mengarahkan secara damai terhadap
pemerintah.

Para aktivis Islam juga mengkritik undang-undang oleh karena terdapat banyak celah yang
mengarah pada penyimpangan, sementara mereka (sosialis) tidak rela menjadikan syariat
Islam sebagai sumber utama udang-undang; bahkan mereka meminta untuk dijadikan
sumber satu-satunya terhadap undang-undang, karena itu harakah al-islah menetapkan
untuk menjadi pemimpin oposisi rakyat secara luas terhadap undang-undang, dan akhirnya
sebanyak 20 partai lain dari beragam model keislaman, nasional dan liberal ikut bersamanya.
Sehingga invasi oposisi terjadi, diawali dengan mengadakan muhadharah, nadwah-nadwah,
teatrikal seni dan drama-drama kerakyatan sebagaimana yang disepakati oleh mereka, dan
pada saat yang bersamaan harakah islah mulai mengumpulkan tanda tangan dari para warga
yang menuntut dilakukannya revisi undang-undang, hingga pada saat itu warga yang
menanda tangani mencapai 2.5 juta dari berbagai Negara bagian.

Dan invasi ini mencapai puncaknya hingga mencapai satu juta umat yang dikomandani oleh
harakah Islam di dalam ibu kota Yaman, yang diiringi oleh banyak warga dari berbagai kota
lain yang berjalan menuju kantor kepresidenan menuntut revisi undang-udang, akhirnya
majlis hakim mengeluarkan keterangan politiknya yang berisi beberapa inti tuntutan harakah
al-islah, diantaranya:

1. Komitmen bahwa syariat Islam merupakan satu-satunya sumber undang-undang dan


menghapus undang-undang yang bertentangan dengannya.

2. Mengembalikan hak-hak dan kepemilikan yang diambil oleh rezim komunis kepada para
pemiliknya yang sah.

3. Komitmen terhadap sistem demokrasi yang dilaksanakan berdasarkan multi partai dan
pelaksanakan pemerintahan secara damai.

4. Komitmen terhadap revisi undang-undang sebagai pengaruh dari awal pelaksanaan sidang
anggota parlemen terpilih setelah berakhir masa peralihan.

Setelah pengumuman tersebut harakah Islam dan partai-partai oposisi lainnya menyambut
baik dan mereka kemudian meminta dijadikan sebagai bagian dari undang-undang dan
referendum atasnya sehingga mampu memberikan kekuatan dustur (aturan-aturan) dan
undang-undang, dan jika pemerintah tidak mengabulkan permintaan tersebut maka para
ulama syariah akan mengeluarkan fatwa kewajiban untuk memutuskan referendum terhadap
undang-undang, dan akhirnya ketika pelaksanaan referendum diabaikan oleh karena
sambutan masyarakat yang lemah pada saat dua hari pelaksanaan referendum yang
dilakukan yaitu pada masa tanggal 16-17 Mei 1991.

Dan disaat terjadi gelombang oposisi, harakah al-islah memberikan saham secara aktif dalam
memformulasi inti undang-undang yang dikeluarkan pada fatrah peralihan, seperti undang-
undang tentang kepartaian dan system perpolitikan, undang-undang pers, undang-undang
aturan membawa senjata, undang-undang pemerintahan daerah, undang-undang
perekonomian dan undang-undang pemilu [4].

Opini dari arga Yaman terhadap harakah Al-islah bahwa keberlangsungan kondisi
sebagaimana yang terjadi, sementara dua partai penguasa telah melakukan monopoli (partai
muktamar dan partai sosialis) yang merasa berhak mengatur berbagai urusan Negara dan
rakyat, sehingga akan dapat mendorong Negara pada kehancuran yang menyeluruh, karena
itu masuknya harakah Al-Islah sebagai bagian dari pemerintah dapat mewujudkan bentuk
keseimbangan politik dalam negeri, sebagaimana ikut sertanya harakah al-islah memberikan
pengalaman yang unik pada dunia arab dan Islam pada pembentukan koalisi pemerintahan
yang merangkul kelompok kanan yang dikuasai oleh partai muktamar sya’bi al-am, dan
kelompok kiri yang dikuasai oleh partai sosialis, serta kelompok tengah yang dilakoni oleh
harakah Al-Islah, sebagaimana pula peran serta al-islah dalam pemerintahan meminalisir
tajamnya pertikaian ektrim yang terjadi pada masa awal pemerintahan, khususnya di
beberapa daerah dan propinsi di selatan dan di timur yang banyak dikuasai oleh orang-orang
sosialis sebelum bersatu sebagai reaksi terhadap ke-ekstriman mereka.

Dan diantara manfaat yang dihasilkan dari peran serta harakah al-islah dalam pemerintahan
adalah;

1. Memberikan kesempatan kepada para kader untuk memiliki keahlian dan pelatihan dalam
memobiliasi pemerintahan, membuat keputusan, menguasai perangkat dalam memanaj
kekuasaan, rahasia-rahasianya dan inti-intinya.
2. Memberikan kesempatan melakukan kebaikan sebagai contoh yang baik dalam
bentuk ketelitian dalam prestasi, tangan yang bersih, hati yang suci, konsep yang ilmiyah dan
memerangi kerusakan yang menyeluruh terhadap berbagai sarana dan prasana Negara.

Dan setelah pelaksanaan berbagai pemilu, Harakah Al-islah mampu menduduki posisi kedua
setelah berhasil mendapatkan 63 kursi, sementara partai komunis 56 kursi dan partai
muktamar 127 kursi, independen 7 kursi, dan utusan 7 kursi, sementara al-wahdawi dan an-
nasiri 1 kursi, an-nasiri ad-demokrasi 1 kursi, tashih an-nashiri 1 kursi serta partai al-haq 2
kursi, dan berhasilnya perolehan harakah pada posisi kedua menegaskan akan keseriusannya
dalam pemerintahan, sehingga presiden Abdullah Salih Ali Abdullah Salih dan wakilnya Ali
Salim Al-Baidh mengajak untuk melakukan pertemuan bersama dengan Syaikh Abdullah bin
Husan Al-Ahmar, pemimpin harakah al-islah, yang akhirnya ketiga pemimpin tersebut
bersepakat membentuk pemerintahan koalisi dengan membagi kursi jabatan pada tiga partai
koalisi.

Adapun kepemimpinan Negara berada di tangan partai muktamar, kepemimpinan parlemen


dipegang oleh harakah Al-islah sementara jabatan pemerintahan di tangan partai sosialis.

Perundingan dimuai dengan pembentukan pemerintahan baru, dan membagi porsi jabatan;
yaitu partai muktamar mendapat 14 porsi dan diberikan salah satunya dari kelompok
independen, partai sosialis mendapat 9 porsi diantaranya porsi jabatan perdana menteri,
wakil perdana menteri dan 7 jabatan menteri, sementara itu harakah al-islah 6 porsi
diantaranya jabatan wakil perdana menteri yang dipegang langsung oleh sekjen harakah al-
islah Ustadz Abdul Wahab Al-Anasi, dan 5 porsi lainnya pada jabatan kementrian yaitu dalam
negeri yang dipegang oleh Ustadz Muhammad Hasan Dimaj, menteri industry dan
perdagangan yang dipegang oleh Abdurrahman Bafadhal, menteri kesehatan yang dipegang
oleh Najib Ghanim, dan menteri wakaf (menteri agama) dan irsyad, yang dipegang oleh
Ghalib Al-Qurasyi, serta menteri urusan parlemen yang dipegang oleh ustadz Abdus salam
Khalid.

Namun setelah berjalan beberapa bulan experiment harakah al-islah dalam partisipasi di
pemerintahan hingga terjadi krisis politik dalam negeri yang berakhir dengan perang antara
pasukan pemerintah dengan pasukan yang loyal degnan partai kanan sosialis yang telah
mengumumkan dari satu pihak pemisahan diri bagian selatan dari utara, dan setelah berjalan
dua bulan dari perang berdarah (hingga korban yang terbunuh saat itu berjumlah 7000
orang), pasukan pemerintah berhasil masuk menguasai pasukan perlawanan setelah jatuh
dua kota al-makala dan And, sementara para pemimpin sosialis lari keluar negeri.

Adapun peran harakah al-islah dalam memelihara persatuan Yaman sangat besar, sehingga
bangsa Yaman yang mendukung persatuan dan membenci perpecahan pada pemerintahan
yang sah dan dua paratai besar harakah al-islah dan muktamar, dan akhirnya mereka mampu
dengan karunia Allah dan karena kegigihan mereka menghapus partai sosialis komunis dari
pemerintahan setelah melakukan tindakan makar di muka bumi.

Dan pada akhirnya dua partai sekutu dalam pemerintahan, dan meninggalkan peran serta
harakah al-islah dalam pemerintahan memiliki pengaruh positif pada tingkat bangsa, dan
mendapatkan harapan kemampuan melakukan perubahan secara baik, sehingga posisi Al-
Islah menjadi bersih sepenjang masa sebelum koalisi dan setelahnya, masyarakat memahami
dari berbagai eksperimen sebelum koalisi bahwa para menteri dan pejabat (gubernur) yang
berhasil dan ikhlas dalam kerja mereka adalah orang-orang yang memiliki loyalitas pada
gerakan Islam secara tanzhim, ideology dan prilaku, dan warga Yaman juga tidak lupa akan
keberhasilan harakah Islam terhadap pendidikan dan gotong royong serta keberhasilan
dalam berbagai sisi undang-undang dan tsaqofah dan irsyad, dan setelah pemilu tahun 1997,
harakah al-islah menjadi gerakan oposisi yang kuat dan memberikan contoh yang
menakjubkan dalam gerakan oposisi damai yang bersih dan jauh dari intervensi, dusta,
kepalsuan dan tipuan [5].

Bahwa eksperimen harakah al-islah dalam proses politik dianggap eksperimen yang matang
dan kontemporer pada dunia Islam.

________________________________

[1]. Lihat: Musyarakah Al-Islamiyyin fi as-sultah, hal. 152

[2]. Ibid. hal. 155

[3]. Ibid. hal. 158-159

[4]. Ibid. hal. 161-162

[5]. Lihat: Al-Bahtsu al-ladzi a’addahu Nasr Toha Musthafa fi musyarakah al-islamiyyin fi as-
sulthah, hal. 141-170

Serial Fiqh Kemenangan dan Kejayaan Dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah (6):
Mendirikan Daulah; Kisah Dzul Qornain (1)

Fiqh Tamkin Pada Diri Dzul Qornain

Siapakah yang dimaksud dengan Dzul Qornain?

Para ulama berbeda pendapat pada sebutan Dzul Qornain; namanya, nasabnya, masa
hidupnya dan sebab diberikan julukan dengan Dzul Qornain. Terdapat perbedaan pendapat
dan ucapan mereka dalam memberikan dalil seputar nama Dzul Qornain, dan sebagian
mereka ada yang bersandarkan pada Israiliyat, khurafat dan dongeng serta cerita-cerita
bohong belaka.

Dan ketika terbit buku-buku yang berbicara tentang Dzul Qornain [1], muncul hasil yang tidak
mungkin kita katakan tepat penentuan pribadi Dzul Qornain, dan dalam menentukan 3 kali
perjalanan yang dilaluinya seperti yang disampaikan oleh Al-Qur’an, dan begitupun dengan
bendungan yang beliau bangun di permukaan bumi yang menjadi benteng yang kuat dan
kokoh.

Bahwa Al-Qur’an dan sunnah nabawiyah yang suci tidak menjelaskan secara rinci akan kisah
tersebut, dan karena keduanya tidak menyampaikan informasi secara rinci maka tidak ada
petunjuk yang menugatkan akan keabsahan penentuan nama Dzul Qornain dan hal-hal yang
terkait dengannya secara tepat.

Karena itu apa yang disebutkan oleh para mufassirin, ahli sejarah dan ulama-ulama lainnya
tentang hal ini merupakan praduga belaka yang tidak berdasarkan pada keyakinan[2].

Diantara mereka ada yang berpendapat berkata bahwa nama asli Dzul Qornain adalah
Alexander Al-Maqdoni Al-Yunani, dikarenakan negeri yang dikuasainya begitu luas dan
terbentang dari arah timur hingga arah barat. Sebagian lain ada yang mengatakan bahwa
nama beliau adalah Qorsy Al-Ikhminy, sesuai dengan kesepakatan para ahli sejarah oleh
karena kebersihan dan kelaikan sejarah hidup beliau terhadap bangsa dan kerajaan yang
dikuasainya. Sementara itu sebagian lainnya ada yang mengatakan bahwa beliau adalah Abu
Karb, Syamr bin Amru Al-Hamiri. Ustadz Muhammad Khair Ramadhan Yusuf mendebat
pendapat-pendapat sebelumnya dan menghasilkan kesimpulan bahwa Dzul Qornain bukan
dari salah satu dari 3 orang yang disebutkan, sebagaimana beliau juga mengkritisi pendapat
sebelumnya secara ilmiyah dan kuat, sehingga sampai pada kesimpulan bahwa: “Dzul
Qornain yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Quran dan dipuji oleh-Nya karena keimanan,
kebaikan dan keadilannya, yang termaktub dalam satu surat yang agung, ayat-ayat yang
penuh mukjizat dan mulia, kisah sejarah yang jarang namun penuh dengan pelajaran dan
ibrah, lengkap dengan nasihat-nasihat, prinsip-prinsip dan hikmah-hikmah.

Bahwa yang demkian merupakan ilmu yang sangat berharga, Allah telah mengekalkannya di
dalam kitabnya sehingga berhak mendapatkan julukan al-Quran, dan saya tidak berkeinginan
menyebutkan selain ini namun karena saya tidak mendapatkan siapa yang layak ditetapkan
sebagai karakter Dzul Qornain seperti yang disebutkan dalam sejarah dan seperti yang
disebutkan dalam Al-Qur’an; bahwa beliau adalah sosok yang selalu berjalan mengitari bumi,
sosok yang shalih dan adil, sosok yang khusyu’ dalam beribadah kepada Tuhannya, sosok
yang patuh terhadap perintah Allah, sosok yang selalu menebarkan kebaikan di tengah umat
manusia, dan sosok yang memiliki kerajaan dari pangkal hingga ujung dunia, sosok yang
tidak membuat dirinya terpedaya oleh karena harta, jabatan, kekuasaan, kekuatan dan
pemerintahannya namun beliau tetap berdzikir oleh karunia dan rahmat Tuhannya, penuh
harap dan cemas menghadapi hari akhir sehingga dapat bertemu dan menikmati
ganjarannya kelak dihadapan Allah oleh karena perbuatannya dalam berbuat adil.

Cukuplah bagi kita menyebutkan bahwa sosok Dzul Qornain adalah sosok yang agung seperti
yang diceritakan dalam sejarah, yang demikian merupakan pengetahuan dalam keadilan dan
kebaikannya, kepemimpinan dan pemerintahannya yang shalih di sepanjang zaman dan
bahkan hingga Allah mewariskan bumi ini dan apa yang ada di dalamnya kepada orang-orang
beriman [3].

Bahwa Al-Qur’an memberikan perhatian dalam menyebutkan nilai-nilai yang benar dalam
sejarah perjalanan hidup Dzul Qornain, begitupun dalam perbuatan dan perkataannya;
seperti:

1. Kekuasaan dan jabatan serta kejayaan di muka bumi yang selayaknya menjadi sarana
untuk menunaikan syariat Allah di dunia dan menegakkan keadilan di tengah umat dan
memberikan kemudahan bagi orang-orang yang beriman, dan mempersempit ruang lingkup
orang-orang yang melakukan tindak kezhaliman dan permusuhan, serta mencegah
penyebaran kerusakan dan kezhaliman dan melindungi kaum lemah dan kekejaman orang-
orang yang suka melakukan kerusakan.

2. Memiliki pasukan yang kuat dan pengalaman seni yang tinggi; baik sisi militer, sisi
pembangunan dan sisi ekonomi terdapat pada sosok Dzul Qornain, begitupun dengan
ketenangan dan keamanan kota tempat dirinya berkuasa, terbukanya kekayaan
dihadapannya dan diberikan seluruhnya untuk kemaslahatan bangsa; yang semua itu tidak
menjadikan dirinya terpedaya, sombong, kejam dan kerdil; namun beliau tetap sosok pribadi
yang beriman dan suci serta jauh dari kehidupan glamour dunia.

4. Perhatian beliau dalam mengambil sebab-sebab tercapainya tujuan dan misi yang
berusaha ingin dicapainya, sebagaimana yang diberikan oleh Allah kepadanya berbagai
sarana yang banyak.

5. Bahwa dalam Al-Qur’an kisah Dzul Qornain dan kisah-kisahnya lalinnya, selalu terfokus
pada bagiamana dapat memberikan pelajaran, ibrah, hikmah-hikmah dan sunnah-sunnah,
dan tidak selalu tidak terfokus pada permasalahan yang tidak bermanfaat. Karena itu dalam
kisah Dzul Qornain banyak kita temukan hal-hal yang samar yang tidak penting bagi
pembaca, seperti: siapakah Dzul Qornain sebenarnya? Apa karakternya? Bagaimana
kehidupannya? kapan masa hidupnya? Negara mana yang dikuasainya, peperangan yang
dilakukannya, negeri-negeri yang ditaklukkannya, perjalanan pertama beliau ke arah barat
dan penentuan lokasi yang dicapainya serta penentuan tempat yang memiliki sumber
kekayaan? Dan bagaimana beliau menahan matahari yang tenggelam di dalamya, asal Ya’juj
dan Ma’juj, sejarah hidup mereka, lokasi tempat tinggal mereka secara pasti. Dan lain-
lainnya??? [4].

Karakteristik Tamkin (Kejayaan) Dalam Diri Dzul Qornain

A. Undang-undangnya yang adil

Bahwa manhaj yang digunakan oleh Dzul Qornain sebagai pemimpin yang beriman adalah
komitmennya dengan nilai-nilia keadilan yang mutlak dalam berbagai kondisi dan situasi
serta gerak, karena itu beliau berjalan di tengah manusia, umat dan bangsa yang
dipimpinnya dengan keadilan, sehingga beliau berinteraksi dengan kaum yang dikalahkan
dalam peperangan tidak dengan cara zhalim, jahat, keras dan paksaan namun beliau
memperlakukannya dengan manhaj Robbani :

“Berkata Dzulkarnain: “Adapun orang yang aniaya, Maka Kami kelak akan mengazabnya,
kemudian Dia kembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang
tidak ada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Maka baginya
pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan Kami titahkan kepadanya (perintah) yang
mudah dari perintah-perintah kami“. (Al-Kahfi:87-88)

Manhaj robbani yang digunakan ini menunjukkan akan keimanan dan ketaqwannya,
kecerdasan dan kepandaiannya, keadilan dan kasih sayangnya; karena manusia yang dikuasai
tidak dalam satu tingkatan, tidak dalam satu karakter sehingga tidak boleh diperlakukan
dengan sama; diantara mereka ada yang beriman dan diantara mereka yang kafir dan
diantara mereka juga ada yang thalih (zhalim). Maka apakah harus disamakan dalam
memperlakukannya diantara mereka semua??.
Dzul qornain berkata: Adapun orang yang zhalim dan kafir maka kami akan menyiksanya
sesuai dengan kezhaliman dan kekufurannya, dan siksaan ini sebagai balasan untuknya di
dunia; dan kami berlaku adil dalam mengazabnya di dunia kemudian semuanya dikembalikan
kepada Allah untuk mendapatkan siksa di akhirat.

Bahwa orang yang zhalim dan kejam serta kafir dalam undang-undang Dzul qornain akan
mendapat azab dua kali; pertama di dunia dan kedua di akhirat pada hari kiamat;
yaitu mendapatkan azab dari Allah dengan siksaan yang pedih.

Adapun orang yang beriman dan shalih, maka mereka adalah orang yang dekat dengan Dzul
qornain, mendapatkan balasan yang baik, diberikan tempat yang terbaik serta mendapatkan
berbagai fasilitas dan kemudahan-kemudahan, perlindungan dan kasih sayang.

Adapun timbangan keadilan yang digunakan oleh Dzul Qornain dalam kepemimpinannya di
tengah umat adalah taqwa, iman dan amal shalih, dan selalu memantau kondisi umat secara
baik.

B. manhaj Tarbawi Di Tengah Umat

Sesungguhnya Allah telah mewajibkan penerapan hukum dunia bagi siapa yang melakukan
tindak kejahatan di tengah masyarakat, dan memberikan tugas kepada para ahlu iman yang
berkuasa dan mendapatkan kejayaan di muka bumi untuk berambisi menerapkan hukuman
kepada orang yang melakukan kerusakan dan kezhaliman sehingga kehidupan di dunia ini
menjadi lurus dan tentram.

Bahwa Dzul qornain memberikan kepada seluruh penanggungjawab, pemimpin, atau


penguasa akan manhaj asasi (fundamental) dan cara nyata untuk membina umat pada jalan
lurus dan istiqomah yang berusaha bekerja denganya untuk mewujudkan ubudiyah yang
sempurna kepada Allah SWT.

Sayyid Qutb berkata: “inilah undang-undang seorang pemimpun yang shalih; seorang
mukmin yang shalih hendaknya mendapatkan kehormatan dan kemudahan serta ganjaran
yang baik dari seorang pemimpin, sedangkan orang yang zhalim dan bertindak memusuhi
harus mendapatkan azab dan siksaan..dan ketika orang yang baik dalam jamaah
mendapatkan balasan yang baik oleh karena kebaikannya atau mendapatkan tempat yang
mulia, fasilitas dan kemudahan, sedangkan orang-orang yang suka melakukan kejahatan akan
mendapatkan balasan atas tindakan kejahatannya serta mendapatkan kehinaan dan
keterasingan. Sehingga dengan itu semua kondisi umat dan negara akan berbalik menuju
kebaikan dan produktifitas, adapun jika seorang pemimpin bimbang, sementara orang-orang
jahat dan zhalim melakukan pendekatan kepada seorang pemimpin dan ingin menguasai
negara, sedangkan orang-orang yang berbuat baik dijauhi dan bahkan diperangi, maka pada
saat itu pula kekuasaan yang ada di tangan sang pemimpin akan berubah menjadi pecut
penyiksa dan alat pelaku kerusakan, dan pada akhirnya kehidupan jamaah, negara dan
bangsa berada pada kerusakan dan kegaduhan [5].

Bahwa tarbiyah amaliyah terhadap pemimpin yang baik akan menjadi motivasi bagi orang
yang melakukan kebaikan untuk terus melakukan kebaikan dan bahkan mampu
mengekplorasi potensi kebaikannya untuk terus bertambah dan meningkat serta merasakan
adanya penghargaan dan penghormatan, dan menjadikan orang-orang yang suka melakukan
kajahatan sebagai pecut sehingga mau meninggalkan kejahatannya dan mau bekerja
memperluas ruang lingkup kebaikan dan ihsan di tengah masyarakat serta mempersempit
ruang lingkup kejahatan hingga pada batas yang sesuai dengan undang-udang pembalasan
dan hukuman yang bergantung pada Dzat yang Maha Pemberi Balasan.

C. Perhatiannya Terhadap Ilmu-ilmu Material dan Memfungsikannya Untuk Kebaikan

Dari ayat-ayat Qur’an dapat kita temukan bahwa Dzul Qarnain memfungsikan berbagai ilmu
pengetahuan dalam memimpin negaranya yang kuat, dan diantara perhatiannya terhadap
ilmu-ilmu tersebut adalah:

1. Ilmu Geografi; karena Dzul Qornain memahami betul letak dan posisi bumi yang ada
dihadapannya, luasnya dan jalan-jalannya, lembah-lembahnya, gunung-gunungnya, dan
bukit-bukitnya, karena itulah beliau mampu memfungsikan ilmu ini dalam pergerakannya
bersama pasukan menuju daerah bagian timur dan bagian barat, utara dan selatan, dan
tampak bahwa beliau dan pasukannya memiliki spesialisasi pada bidang ini [6].

2. Beliau memiliki pengalaman dan pengetahun terhadap banyak ilmu yang terdapat pada
masa hidupnya, dan hal tersebut menunjukkan akan kebolehannya dalam melakukan
pelayanan, memahami spesialisasinya, dan kegigihannya untuk menggunakan dan
mengambil manfaat darinya; beliau menjadikan bahan tambang dalam bentuk yang terbaik
saat itu, dan memfungsikan potensi-potensi lain untuk jalan kebaikan

“Berilah aku potongan-potongan besi”. hingga apabila besi itu telah sama rata dengan
kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: “Tiuplah (api itu)”. hingga apabila besi
itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang
mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu”. (Al-Kahfi:96)

Dzul Qornain memerintahkan untuk diberikan kepadanya besi yang besar dan beliau
menyatukannya satu persatu sehingga berada diantara dua sisi gunung, kemudian beliau
berkata lagi kepada pegawainya: tiupkanlah dengan api pada potongan-potongan besi yang
terbentuk diantara dua sisi tersebut [7]. Dan ketika selesai beliau memerintahkan kembali
kepada ahli tembaga untuk mencairkannya sambil berkata: datangkanlah kepada saya
tembaga yang sudah cair agar dapat saya tumpahkan keatas besi tersebut sehingga menjadi
lebih kuat dan lebih kokoh, dan hal tersebut merupakan tekhnologi baru yang digunakan
sehingga dapat membuat besi menjadi kuat. Dan dengan itu dapat ditemukan bahwa dengan
menambah tembaga pada besi maka akan lebih memperkuat dan membuat kokoh besi
tersebut [8].

3. Beliau juga realistis dalam mengurus dan mengukur berbagai perkara yang dihadapinya;
karena beliau mampu mengukur besarnya bahaya yang akan dihadapi, mengukur apa yang
dibutuhkan dalam melakukan penyelesaian, sehingga beliau tidak menggunakan batu dalam
membuat jembatan, begitupun dengan tanah dan lain-lainya, sehingga tidak mudah hancur
hanya karena benturan sedikit atau karena adanya serangan pertama. Karena itu, berbagai
usaha yang dilakukan oleh musuh selalu mendapatkan kegagalan ketika berusaha
mengalahkan Dzul Qornain :

“Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya”. (Al-
Kahfi:97)
Yaitu bahwa mereka -musuh- tidak mampu mendakinya karena tinggi dan licin, dan mereka
juga tidak mampu melobanginya karena begitu kuat, keras dan kokoh [9].

Sebagaimana juga Dzul Qornain juga memiliki pengetahuan tentang ilmu gaib yang dibawa
oleh syariah, karenanya beliau tidak menjadikan takdir sebagai alat untuk bermalas-malasan
dan duduk-duduk saja, namun beliau tetap membuat tembok yang kuat dan tinggi dan
bersungguh-sungguh dan bekerja keras dalam membangunnya, padahal beliau juga
menyadari bahwa hal tersebut ada batasnya dan akan hancur kembali pada saat yang tidak
diketahui kecuali Allah SWT.

____________________________________

[1]. Lihat: Dzul Qornain al-qoid al-faih al-hakim al-shalih, Muhammad Khari Ramadhan, hal.
247

[2]. Lihat: Ma’a qishah as-sabiqin fil qur’an lil Khalidi, hal. 254-255

[3]. Dzul Qornain al-qoid al-faih al-hakim al-shalih, jil. 6, hal. 247-249

[4]. Lihat: Ma’a qishah as-sabiqin fil qur’an lil Khalidi, jil. 6, hal. 242, 244

[5]. Fi zhilal Al-Qur’an, jil. 4, hal. 2291

[6]. Lihat: AL-Hakim wa at-tahakum fi khitab al-wahyu, jil. 2, hal. 624

[7]. Lihat: Fi zhilal Al-Qur’an, jil. 4, hal. 2293

[8]. Ruhul Ma’ani, jil. 16, hal. 40

[9]. Fathul Qadir, jil. 3, hal. 313

Serial Fiqh Kemenangan dan Kejayaan Dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah (6):
Mendirikan Daulah; Kisah Dzul Qornain (2)

Akhlak Kepemimpinan Dzul Qornain

Bahwa syakhsiyah Dzul Qornain memiliki keistimewaan dalam budi pekerti dan akhlaknya
yang tinggi yang dapat membantunya dalam mewujudkan risalah dakwah dan jihad dalam
kehidupan. Dan diantara inti dari akhlak tersebut adalah:

a. Sabar; Bahwa beliau memiliki kesabaran dalam melakukan perjalanan hidup dan
perjuangan yang berat serta berdakwah kepada Allah untuk mengajak manusia menyembah
kepada Al-Khaliq; seperti kegigihan beliau dalam melakukan invasi yang diembannya yang
membutuhkan keseriusan dan kesungguhan dalam membuat tandzim, berpindah-pindah,
bergerak dan memberikan jaminan terbaik kepada masyarakat. Karena itu pekerjaan yang
dilakukannya membutuhkan pasukan yang besar, akal yang cerdas, semangat yang bergelora,
kesabaran yang besar, persiapan yang matang dan sebab-sebab atau sarana-sarana tertentu
yang membawanya pada kemenangan dan kejayaan[1].
b. Bahwa Dzul Qornian memiliki kewibawaan dan kesehajaan: hal tersebut dapat dirasakan
oleh seseorang pada saat pertama kali melihatnya, sehingga tidak salah menyangka saat
meyakini bahwa dirinya adalah bukan raja yang zhalim dan keras. Seperti ketika
beliau berada pada dua tempat dan mendapatkan suatu kaum yang lemah, mereka dapat
merasakan akan kesehajaannya, dan mendapatkan di dalam dirinya akan keikhlasan daripada
kezhaliman dan kekuatan yang realistis atas mereka sehingga dengan itu mereka bersegera
memberikan bantuan; sehingga tidak ada seorangpun yang menyangka bahwa
dirinya bukanlah seorang perusak seperti yang lainnya, dan dalam dirinya memiliki kekuatan
dan bekal yang tidak sebanding dengan yang lainnya. [2]

c. Keberanian: bahwa beliau juga memiliki kekuatan hati nun tegar, tidak pernah merasa
lemah terhadap beban yang besar dan tanggungjawab yang berat, jika hal tersebut tertuju
pada ridha Allah. Karena apa yang dilakukan dalam membangun benteng merupakan
pekerjaan yang sangat besar dan karena kaum yang melakukan kerusakan mungkin saja
dapat melakukan tindakan merusak kepadanya dan kepada pasukannya, namun beliau
melakukan sesuatu yang baru yang tidak pernah terlintas dan terjadi sebelumnya [3].

d. Kepribadian yang seimbang: karena beliau tidak berlebihan dalam mengeksplorasi


keberaniannya atas kebijaksanaannya, tidak berkurang kegigihannya atas kasih sayangnya,
begitupun dengan keberaniannya atas kelembutannya dan keadilannya, dan bukanlah dunia
seluruhnya –yang telah ditundukkan untuknya- cukup untuk memujinya kecuali karena
ketawadhuannya, kebersihan hatinya dan kesucian jiwanya.

e. Banyak bersyukur: karena beliau adalah sosok yang hatinya hidup dan lekat dengan Allah
SWT, sehingga beliau tidak pernah mabuk oleh kemenangan yang diraih dan indahnya
kekuasaan setelah berhasil menundukkan orang-orang yang sombong dan para perusak,
namun beliau tetap bersyukur kepada Allah [4] sambil berkata: “Ini adalah rahamat dari
Tuhanku”. (Al-Kahfi:98)

f. Hidup sederhana dan tidak berlebihan: karena beliau merasa cukup dengan kondisi hidup
sederhana, dan selalu menghindar terhadap harta yang tidak dibutuhkan dan perhiasan yang
tidak bermanfaat; Karena itu, ketika kaum yang lemah mengadu kepadanya akan perbuatan
merusaka dilakukan oleh kaum yang zhalim dan membawakan kepadanya hadiah yang
banyak jika berhasil menyelesaikan permasalahannya, beliau menolak pemberian tersebut;
namun beliau membantunya dengan dengan ikhlas dan sederhana, melalui agama dan
kebaikan, sambil berkata : “Sesungguhnya yang telah Allah berikan kepadaku dari kerajaan
dan kejayaan lebih baik bagiku dari harta yang akan kalian kumpulkan dan apa yang saya
miliki lebih baik dari harta yang kalian usahakan” [5].

Sesungguhnya kunci keperibadian Dzul Qornain terwujud dalam keimanannya kepada Allah
dan siap menghadapi hari akhir, kecintaannya terhadap keimanan dan kebenciannya
terhadap kekufuran dan kemaksiatan dan kecintaannya yang begitu dalam terhadap dakwah
kepada Allah. Dan keimanan beliau kepada Allah dan hari akhir tampak jelas dalam
kepribadian Dzul Qornain saat Allah berfirman tentangnya:

“Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik”. (Al-
Kahfi:95)

Dan Allah juga berfirman:


“Adapun orang yang aniaya, Maka Kami kelak akan mengazabnya, kemudian Dia
kembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada
taranya”. (Al-Kahfi:87)

Dan firman-Nya:

“Maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji
Tuhanku itu adalah benar”. (Al-Kahfi:98)

Demikianlah bukti-bukti yang menjelaskan bahwa beliau adalah sosok yang beriman kepada
Allah dan beriman kepada hari akhir. Dan intisari dari itu semua adalah:

- Bahwa terhadap pemimpin bukan saja sekedar keberanian, berhasil dalam melakukan
penaklukan dan mewujudkan kemakmuran, jika tidak bersatu dalam dirinya keimanan
kepada Allah dan hari akhir. Karena banyak para pemimpin yang berhasil
melakukan kemajuan duniawi, namun tidak dianggap sebagai orang besar, karena itulah Al-
Quran tidak menyebut mereka sebagai orang yang melakukan kebaikan, namun disebtukan
sebagai pemimpin yang berhasil memakmurkan dunia namun -disisi lain- menghancurkan
agama dan melakukan kerusakan terhadapnya, seperti yang dilakukan oleh Fir’aun, Hamman,
Namrud dan yang lainnya.

- Bahwa keseimbangan yang menakjubkan dan kesehajaan dalam pribadi Dzul Qornain;
sebabnya adalah keimanan kepada Allah dan hari akhir, karena itulah kekuatan yang
dimilikinya tidak digunakan untuk menyimpang dari berbuat adil, kekuasaannya tidak
menghilangkan jiwanya akan rasa kasih sayangnya, kekayaannya tidak melunturkan dirinya
akan ketawadhuannya sehingga berhak mendapatkan ta’yid (dukungan) Allah dan
pertolongan-Nya; dan karena itu pula Allah memberikan kemuliaan dengan memberikan
sebab-sebab tamkin dan kemenangan, yang merupakan karunia dari Allah atas hamba-Nya
yang Salih, maka diberikan juga kepadanya kemampuan dan kekuatan mengurus
negara secara baik dan profesional, dengan memiliki system yang rapi, wawasan yang luas,
prajurit yang banyak, kewibawaan dan kesehajaan yang menakjubkan[6].

Sebagaimana Allah juga memberikan kepadanya kemuliaan dengan banyaknya pembantu


dan pasukan serta kekuatan sehingga membuat rasa takut dan gentar di dalam diri musuh,
memudahkan perjalanan hidup atasnya, memahami akan kondisi bumi dan menguasainya
baik darat maupun lautan [7], dan kejayaannya dalam memiliki kerajaan di Timur dan Barat,
dan semua itu tidak diberikan kepada orang yang biasa, dan tidak mungkin dapat diwujudkan
dan diraih oleh seorang pemimpin sekalipun memiliki kekuatan, kedigdayaan dan kecerdasan
yang lebih kecuali jika mendapatkan dukungan dari Allah; karena dengan dukungan itulah
yang menjadikan kemenangan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, dan hal tersebut
menunjukkan akan perhatian dan kebesaran Allah :

“Dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu”. (Al-
Kahfi:84)

Maksudnya adalah Allah membentangkannya dengan seluruh apa yang diinginkan dari
berbagai tugas kerajaan, dan tujuan-tujuan yang berhubungan dengan kekuasaannya,
dibekali dengan ilmu menguasai negara dan karakter-karakternya, memahami bahasa kaum
yang ditaklukkannya; karena beliau tidak memerangi suatu kaum kecuali dia mengetahui
bahasa kaum tersebut [8].
Allah telah memberikan kepadanya berbagai macam jalan untuk mencapai segala sesuatu,
sehingga terlintas dalam fikiran orang yang mendengar atau yang membacanya, akan
berbagai bentuk tamkin untuknya di muka bumi, dan sebab-sebabnya adalah ilmu,
pengetahuan dan konsep sunnah suatu umat dan bangsa yang kadang naik dan kadang
turun, dan ilmu dalam mengorganisir jiwa; baik individu maupun jamaah; berupa tahdzib
(pembinaan), tarbiyah dan intidzam (kedisiplinan). Allah telah memberikan kepadanya
berbagai macam kekuatan; baik dari senjata dan pasukan, benteng dan kemenangan;
berbagai macam kemakmuran; konsep tata kota, membelah jalan dan mengembangkan
pertanian dan lain sebagainya. Allah memberikan kepadanya berbagai macam tamkin yang
hanya layak untuk sosok robbani [9]. Allah berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah
memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu”. (Al-Kahfi:84)

Bahwa perlindungan Allah terhadap Dzul Qornain sangatlah besar oleh karena keimanannya
kepada-Nya yang begitu kuat, dan kesiapan dirinya menghadapi yaumul akhir, karena itulah
Allah membukakan baginya taufik sesuai dengan apa yang diusahakan olehnya dari berbagai
tujuan dan misi yang mulia.

Dzul qornain mengerahkan segala potensinya untuk berdakwah dengan mengajak manusia
beribadah kepada Allah, sehingga Allah menyatukan antara penaklukan dan kemenangan
yang agung dengan menggunakan tajamnya pedang dan penaklukan hati dengan keimanan
dan ihsan. Karena itulah, ketika beliau berhasil menguasai suatu umat atau bangsa, maka
dirinya mengajak mereka pada kebenaran dan keimanan kepada Allah sebelum tertimpa atas
mereka balasan atau ganjaran. Beliau juga bersemangat dalam melakukan pekerjaan
perbaikan pada setiap negara atau kota yang berhasil ditaklukkannya, berusaha
membentangkan kekuasaan secara baik dan benar, dan menegakkan keadilan dimuka bumi;
timur dan barat, beliau juga memiliki loyalitas yang tinggi dan kecintaan pada ahlu al-iman
sebagaimana dirinya juga selalu memusuhi orang-orang yang melakukan tindak kekufuran
[10].

___________________________________

[1]. Lihat: Al-Hukmu wa at-tahakum fi khitab al-wahyi, jil. 2, hal. 624

[2]. Ibid.

[3]. Ibid.

[4]. Ibid. jil. 2, hal. 627

[5]. Ibid. jil. 2, hal. 625

[6]. Lihat: Ruhul Ma’ani, jil. 16, hal. 30

[7]. Lihat: Al-Bahrul Muhith, jil. 6, hal. 159

[8]. Lihat: Ruhul Ma’ani, jil. 16, hal. 31

[9]. Lihat: Mabahits fi Tafsir Al-Maudhu’i, Mustafa Muslim, hal. 304


[10]. Lihat: Al-Hukmu wa at-tahakum fi khitab al-wahyi, jil. 2, hal. 623

Serial Fiqh Kemenangan dan Kejayaan Dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah (6):
Mendirikan Daulah; Kisah Dzul Qornain (3)

B. kepandaiannya dalam memotivasi semangat kerja kepada umat

Bahwa harakah Dzul Qornain dalam dakwah dan jihad sudah menjadi bagian dari hidupnya
sehingga membuat dirinya menyatu dengan bangsa dan umat. Dan Al-Qur’an menceritakan
akan perjalanan imaniyah dalam 3 rihlah; yaitu:

1. Rihlah Pertama

Al-Qur’an tidak menceritakan tentang awal kali perjalanan Dzul Qornain dalam berdakwah,
namun hanya menyebutkan akhir dari apa yang telah dicapai dalam dakwahnya; yaitu pada
terbenamnya matahari, dan pada saat itu Dzul Qornain bertemu dengan suatu kaum, lalu
melakukan sesuatu di tengah mereka dengan penuh keadilan dan kebaikan, Allah berfirman:
“berkata Dzulkarnain:

“Adapun orang yang aniaya, Maka Kami kelak akan mengazabnya, kemudian Dia
kembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada
taranya”. (Al-Kahfi:87)

Bahwa yang demikian merupakan bentuk keadilan yang mewarisi pada tamkin dalam
kepemimpinan dan kekuasaan, sehingga dalam hati dan jiwa manusia ada rasa cinta dan
penghormatan terhadap pemimpin yang berbuat adil, dan pada sisi lain memasukan rasa
gentar dan takut dalam hati para pelaku kerusakan dan kezhaliman. Karena itu seorang
mu’min yang lurus akan mendapatkan kemuliaan, kecintaan dan kedekatan dari seorang
pemimpin, sehingga mendapatkan perlindungan dari kekuatannya, tentram
dari kemuliaannya, terjamin eksistensinya dari ketsiqohannya terhadapnya, merasakan
perlindungan terhadap kepentingannya serta kemudahan dalam berbagai urusannya.

Adapun orang-orang yang memusuhi dan melampaui batas ketentuan, yang menyimpang
dan suka melakukan kerusakan di muka bumi, maka akan mendapatkan siksaan yang keras
dari seorang pemimpin dalam kehidupannya di dunia, kemudian –setelah itu- diserahkan
semua urusannya pada hari kiamat mendapatkan azab yang lebih pedih dan lebih keras dari
apa yang telah diterimanya di dunia.

Tidak ditentukan kaum yang dijadikan tempat bagi Dzul Qornain menerapkan politik yang
bijak ini, sebagaimana tidak disebutkan juga masanya dan hasil yang dicapai darinya, seakan
permasalahan yang diangkat adalah hasil dari sejarah yang adil tersebut, prinsip-prinsip yang
suci, peradaban robbani, kemajuan, kebahagiaan dan ketentraman, karena itu tidak perlu
disebutkan hal tersebut dan cukup menceritakan sejarahnya akan kegemilangan yang telah
dicapai saat itu saja [1].

2. Rihlah Kedua

Yaitu rihlah (perjalanan) menuju arah timur hingga sampai pada tempat yang tampak oleh
kasat mata bahwa matahari terbit di belakang ufuq, dan tidak disebutkan dalam kisah ini,
apakah lautan atau daratan? Namun diketahui bahwa kaum yang berada di tempat terbit
matahari adalah tempat yang terbuka sehingga tidak menghalangi terbitnya matahari seperti
gunung-gunung yang tinggi atau pohon-pohon yang lebat. Syaikh Muhammad Mutawalli
Sya’rawi berpendapat bahwa maksud dari firman Allah :

“Yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya)
matahari itu”. (Al-Kahfi:90)

Adalah negeri qutb yang mana matahari di dalamnya berada selama 6 bulan, dan tidak
tenggelam selama bulan-bulan tersebut, tidak ada kegelapan yang menutupi cayaha
matahari di tempat-tempat tersebut [2].

Jika diperhatikan kegamblangan kerja politik Dzul Qornain pada bangsa yang diberikan
kekuasaan di dalamnya; undang-undang yang diaplikasikan pada rihlah ke arah barat, tidak di
ulangi kembali hal tersebut saat rihlah ke arah timur; karena ia merupakan manhaj
kehidupan dan undang-undang negara yang harus sesuai dengan kondisi dan strategi pada
suatu tempat dan umat, sehingga harus komitemn dengan kondisinya; dimana dirinya berada
dan kemana dirinya pergi [3].

3. Rihlah ketiga

Perjalanan ini berbeda dengan dua perjalanan sebelumnya, oleh karena kondisi alam, gaya
interaksi dengan manusia dan penduduk tempat tersebut, dan sesuai dengan pekerjaan yang
mereka lakukan di dalamnya; yaitu tidak hanya aktif dalam aktivitas jihad untuk melawan dan
menghancurkan kekuatan jahat dan pelaku kerusakan; namun dengan melakukan
pembangunan dan pemakmuran yang menakjubkan; bahwa kondisi alamnya memiliki jalan
yang mudah, adapun penduduknya –oleh karena kondisi alamnya demikian memberikan
pengaruh pada tabiat dan gaya interaksi mereka terhadap sesama dan orang lain- terdapat
tidak ada diantara saling memahami dan berbicara di antara mereka tidak mampu
mengungkapkan apa yang ada dalam dirinya, dan tidak bisa memahami apa yang diucapkan
oleh orang lain selain dari penduduknya sendiri

“Dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti
pembicaraan”. (Al-Kahfi:93)

Bisa jadi karena adanya perbedaan gaya bicara dan interaksi –sebagaimana yang kami
sebutkan sebelumnya- atau karena keterbelakangan peradaban dan kesederhanaan dalam
adat, konsep dan istilah, maka, sehingga ketika ada kekuatan zhalim yang ingin menyerang
mereka, tidak punya daya dan kuasa untuk menghadapinya. Dan ketika mereka mendapati
adanya kekuatan dalam negara yang dikuasai oleh Dzul Qornain, keadilan dan perjalanan
hidupnya yang baik –keadilan dalam kekuasaan sehingga dapat menaklukkan hati sebelum
menaklukkan pasukan dan negeri- mereka segera meminta pertolongan kepadanya; meminta
perlindungan darinya serangan kelompok yang selalu melakukan kerusakan dan perang; yaitu
kabilah Ya’juj dan Ma’juj yang ingin menyerang mereka melalui jalan antara dua gunung yang
saling berhadapan; dari jalan yang sempit yang ada diantara keduanya.

Dalam kondisi demikian; Dzul Qornain membuat benteng diantara kedua gunung tersebut.
Dan tentunya penyelesaian qadhiyah yang dilakukan oleh Dzul Qornain adalah melakukan
islah dan menghancurkan tindak kerusakan dan kejahatan, menerapkan hukum secara adil di
tengah umat manusia, tidak berambisi mengumpulkan harta atau mendapatkan sanjungan
yang tinggi serta kedudukan yang mulia mulia di muka bumi dengan keberhasilan
menundukkan bangsa; karena itu beliau menolak upah atau imbalan yang
mereka kumpulkan untuk mereka berikan kepada Dzul Qornain setelah berhasil membuat
benteng dan mengalahkan Ya’juj dan Ma’juj. Karena yang dilakukan adalah secara suka rela
dalam membuat benteng yang pada akhirnya mereka juga secara rela membantunya dengan
mengerahkan seluruh tenaga mereka; dari Dzul Qornain terdapat pengalaman, rancangan
dan konsep yang baik, sementara dari kaum ada kekuatan kerja dan kesemangatan, material
yang lengkap yang terdapat di negeri tersebut untuk digunakan sebagai sarana
pembangunan benteng [4].

Dan dari sini dapat kita ambil kesimpulan bahwa kaum yang disebutkan dalam Al-Qur’an
memiliki beberapa karakter, diantaranya:

1. Mereka adalah kaum yang terbelakang; yaitu “suatu kaum yang hampir tidak mengerti
pembicaraan” hal tersebut bisa berarti mereka tidak bisa memahami bahasa orang lain dari
kaum lainnya, karena mereka tidak bisa berinteraksi dengan mereka dan tidak pernah
belajar, dan mereka terkungkung oleh bahasa mereka sendiri. Atau karena bicara mereka
tidak memberikan manfaat bagi orang lain, oleh karena mereka tidak memahami dan tidak
bisa berinteraksi secara baik, dan tidak berusaha saling memahami apa yang diucapkan
orang lain dan juga tidak mau bekerja oleh karena kekeringan dan kekerasan adat mereka
atau karena kebodohan dan keterbelakangan budaya mereka.

2. Mereka adalah kaum yang lemah; karena itulah mereka tidak mampu menghadang
serangan yang ingin dilakukan oleh pasukan Ya’juj dan Ma’juj, berdiri tegak di hadapan
mereka dan mencegah kerusakan yang mereka lakukan.

3. Mereka adalah kaum yang tidak mampu mempertahankan negeri mereka, melakukan
perlawanan serangan pasukan musuh, karena itulah mereka meminta kekuatan lain dari luar;
kekuatan Dzul Qornain dengan meminta darinya menyelesaikan masalah dan memberikan
bantuan mempertahankan negeri mereka.

4. Mereka adalah kaum yang culas dan malas, tidak mau berusaha dan juga tidak mau
berkreasi dalam bekerja, karena itulah mereka menyerahkan permasalahan kepada Dzul
Qornaun dan mewakili segala urusannya, sementara mereka siap untuk membayar apa yang
dikerjakan dengan harta yang dimiliki [5].

Adapun fiqh Dzul Qornain dalam berinteraksi dengan umat atau bangsa-bangsa yang lemah
adalah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memindahkan mereka dari kebodohan,
keterbelakangan, kemalasan dan kelemahan akan ilmu, kemajuan, kesesungguhan dan
kekuatan. Sehingga beliau sendiri yang menangani proyek secara ruh jamaah, dirinya ikut
serta bersama mereka. Hal tersebut seperti yang disebutkan dalam bentuk dhamir al-
mutakallim (kata ganti orang pertama) yang bertemu dalam rangkaian yang beriringan
dengan kata ganti orang kedua dalam nazham (dealektika) Al-Qur’an Al-Karim yang indah,
sehingga menunjukkan akan adanya jiwa yang semangat, gigih dan saling tolong menolong.
[6]

“Dzulkarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya
adalah lebih baik, Maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku
membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi”.
hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah
Dzulkarnain: “Tiuplah (api itu)”. hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api,
diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku tuangkan ke atas besi
panas itu”. (Al-Kahfi:95-96)

Dzul Qornain memiliki perhatian penuh terhadap kemaslahatan manusia, memberikan


nasihat kepada mereka terhadap sesuatu yang memberikan manfaat. Karena itulah, beliau
meminta bantuan tenaga yang bertujaun untuk menggiatkan mereka dan mengangkat moral
mereka.

Dan diantara nasihatnya dan keikhlasannya untuk umat adalah bahwa Dzul Qornain
memberikan bantuan dan khidmah lebih banyak dari apa yang mereka minta [7]; bahwa
mereka meminta dibuatkan tembok yang memisahkan antara mereka dengan para pelaku
pengrusakan, adapun Dzul Qornain berjanji untuk membuatkan kepada mereka rodman;
benteng penghalang dan hijab (tembok) yang kuat, dan hal tersebut lebih besar bentuknya
dan manfaatnya daripada sad (benteng biasa) dan lebih kokoh, dia menjanjikan lebih dari
apa yang mereka harapkan [8].

Dzul Qornain tidak mengambil harta orang-orang lemah namun beliau tetap mengajarkan
kepada mereka berbagai aktifitas yang bermanfaat, kegiatan, kerja dan usaha. Beliau berkata
kepada mereka: “Maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku
membuatkan dinding antara kamu dan mereka”. (Al-Kahfi:95)

Bahwa ungkapan Al-Qurna ini merupakan karakter yang gamblang dalam rangka
memobilisasi dan memotivasi semangat kerja dan menyatukan potensi yang mereka miliki,
serta mengekplorasi kemampuan dan kekuatan yang ada dalam jiwa mereka.

Karena itu; pemimpin yang bijak adalah pemimpin yang mampu mengeksplorasi potensi
masyarakat dan mengarahkannya menuju kesempurnaan guna mewujudkan kebaikan dan
tujuan yang diidam-idamkan.

Bahwa seluruh masyarakat pasti memiliki ragam kemampuan dalam berbagai sisi yang
bermacam-macam; baik pemikiran, harta, konsep dan system dan kekuatan materi, lalu hadir
peranan pemimpin robbani di tengah umat untuk mengikat mereka pada rencana, konsep
dan administrasi antara kecendrungan dan potensi dan mengarahkannya menuju kebaikan
umat dan kemuliaannya.

Bahwa umat Islam -saat ini- juga penuh dengan keahlian yang hilang dan potensi yang
terabaikan, harta yang teracuhkan, waktu yang terbuang, pemuda yang kebingungan, umat
yang menunggu pemimpinnya diberbagai kota, negara atau daerah, sehingga dengan
demikian, perlu kiranya mengambil kaidah Dzul Qornain dalam menyatukan, mengurusi dan
tolong menolong, serta memerangi kebodohan, kemalasan dan keterbelakangan. “Maka
bantulah aku dengan potensi yang kalian miliki”.

bersambung…

_____________________________________

[1]. Lihat: Mabahits fi tafsir maudhu’i, hal. 305

[2]. Al-Qisshash Al-Qur’ani fi Suratil Kahfi, hal. 87


[3]. Lihat: Mabahits fi tafsir maudhu’i, hal. 306

[4]. Ibid, hal. 307.

[5]. Lihat: Ma’a Qishash As-Sabiqin, jil. 2, hal. 338

[6]. Lihat: Al-Hukmu wa at-tahakum fi khitab Al-wahyi, jil. 2, hal. 627

[7]. Lihat: Ahkam Al-Qur’an, Abu Bakar bin Al-Arabi, jil. 3, hal. 243

[8]. Lihat: Ruhul Ma’ani, jill. 16, hal. 40

Serial Fiqh Kemenangan dan Kejayaan Dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah (6):
Mendirikan Daulah; Kisah Dzul Qornain (4)

C. Dzulqornain mencegah kezhaliman

Dalam perjalanan yang dilakukan oleh Dzulqornain dan mendapati kaum yang lemah dan
sedang terancam kehancuran kerena akan adanya pasukan Ya’juj dan Ma’juj yang ingin
menyerang mereka. Dan ketika Dzulqornain berada di tengah mereka, beliau tidak bersikap
memelihara dihadapan rakyat yang lemah, namun beliau mewariskan sebab-sebab kekuatan
sehingga mereka mampu melakukan perlawanan dihadapan para pelaku pengrusakan, dan
Dzul Qornain tetap bertahan bersama mereka sampai Ya’juj dan Ma’juj menyerang kaum
tersebut, dan pada akhirnya mereka berhasil melakukan perlawanan dan mengalahkan
mereka. Dari kisah ini, Allah ingin memberikan pelajaran kepada kita bahwa seorang
pemimpin atau raja tidak hanya bekerja untuk melawan serangan musuh, namun berusaha
juga mencegah terjadinya kezhaliman.

Bagaimana cara Dzulqornain mencegah kezhaliman?

Bahwa Dzulqornain tidak datang dengan membawa balatentara untuk melindungi kaum yang
lemah terssebut sekalipun beliau memiliki kemampuan untuk itu, namun beliau meminta
dari mereka bergotong royong dalam membantu mereka melakukan perlindungan diri dan
mengajarkan seni melindungi diri serta memberikan pengalaman dan pelatihan diri untuk
bekerja dengan sungguh-sungguh dan bermanfaat dengan bersama-sama membuat
benteng; sebagai sarana yang ampuh untuk melindungi diri dan melakukan perbaikan jika
yang dianggap tepat.

Dan Dzulqornain menolak menganggap kaum yang lemah sebagai pemalas. Syaikh Mutawalli
Sya’rawi berkata: “Hal demikian memberikan kita perhatian bahwa Allah SWT memberikan
kemampuan, dan poetnsi yang besar pada setiap orang.. kemampuan yang tidak bisa dimiliki
kecuali karena kehendak Allah dengan berbagai sarana yang membantu dalam menunaikan
tugas dan pekerjaan, adapun yang dimaksud potensi diri yaitu kekuatan jiwa yang terdapat
dalam diri sehingga melahirkan kemampuan untuk bekerja, dan kebanyakan dari kita tidak
sadar adanya kemampuan diri, tidak sadar bahwa dalam dirinya memiliki kekuatan yang
mampu untuk bekerja dan pekerjaan yang banyak, potensi ini tidak mau difungsikan secara
maksimal padahal dirinya memiliki kekuatan dan kelebihan seperti kemampuan
memindahkan sesuatu dari satu tempat ke tempat yang lain…dan melakukan pekerjaan yang
banyak dan bermanfaat.

Potensi inilah yang yang sering diabaikan oleh manusia dalam jumlah yang sangat besar,
tidak difungsikan secara maksimal, padahal setiap orang pasti bisa melakukan berbagai
pekerjaan, dan dihadapannya terdapat banyak sarana yang dapat dilakukan oleh potensi
yang dimiliki; namun hal tersebut tidak disadari dan tidak difungsikan secara baik; dirinya
memiliki potensi untuk berfikir, jika dilatih terus dengan ilmu pengetahuan maka akan
membuka banyak pintu untuk mendapatkan rizki; namun dirinya telah dirasuki rasa malas
untuk berfikir dan tidak difungsikan untuk dikembangkan dan ditumbuhkan.

Apa yang dilakukan oleh Dzulqornain?

Beliau tidak meminta bantuan terhadap balatentaranya yang besar dan juga terhadap
penduduk lainnya. Namun beliau meminta dari kaum itu sendiri yang saat itu lemah, beliau
meminta kepada mereka untuk menghadirkan kepadanya besi lalu membangun benteng
hingga dapat mencapai dua puncak gunung, kemudian beliau membuat pancang besi dan
mengisinya dengan tembaga sehingga menjadi benteng yang sangat kuat dan kokoh.

Jadi yang dilakukan oleh Dzulqornain adalah memfungsikan potensi dari kaum yang lemah,
yang akan diserang oleh Ya’juj dan Ma’juj; yaitu dengan mengajarkan kepada mereka
bagaimana memfungsikan potensi yang mereka miliki dan bagaimana membangun benteng;
dengan cara mengajak mereka ikut serta dalam membuatnya dan mendirikannya, sehingga
ada peran serta dan kontribusi dalam membangun benteng tersebut, dan Dzulqornain hanya
membantu dalam hal pengalaman dan ilmunya saja sehingga mereka memiliki rasa tsiqoh
dalam diri mereka; bahwa mereka memiliki kemampuan melindungi diri, dan belajar
terhadap sesuatu yang dapat membantu dan melindungi mereka.

Dan Islam melarang kita untuk membiasakan manusia pada kemalasan atau memberikan
uang atau sesuatu tanpa pekerjaan, karena yang demikian akan merusak jiwa umat, karena
setiap manusia yang diberikan upah sebelum bekerja maka akan terbiasa nrimo dan
selamanya tidak akan mampu melakukan pekerjaan secara baik [1].

Bahwa Dzulqornain melakukan tugas sebagai pemimpin yang menguasai negeri, sehingga
memperkuat orang-orang yang lemah dan menjadikannya memiliki kemampuan untuk diri
dari serangan musuh dan tidak bergantung pada perlindungan orang lain, dan juga tidak
membiarkan manusia bermalas-malasan; namun berusaha mengubah mereka menjadi
orang-orang yang sungguh-sungguh dan giat dalam bekerja [2].

Demikianlah waqfah penting dan pelajaran berharga dan urgen bagi setiap umat, khususnya
pada zaman kita saat ini, karena -uma saat ini- sedang menghadapi krisis dan bahaya yang
mengancam yang lebih keras dan lebih buruk dari serangan Ya’juj dan Ma’juj, bahaya
kekufuran dan pertentangan dari Yahudi dan Nashara, yang berusaha menghancurkan
bangunan umat dan melepaskannya dari jati diri mereka; yaitu aqidah dan islamnya. Dan
membuatnya menjadi lemah dan terkungkung tangannya dihadapan makar tersebut, yang
selalu meminta bantuan, meminta diingkari dan mengadu kepada Perserikatan Bangsa-
Bangsa (PBB) dan menyeru untuk melakukan muktamar internasional.

Bahwa Al-Quran Al-Karim selalu mengajarkan dan memberikan petunjuk kepada kita menuju
keselamatan yaitu perintah untuk selalu komitmen dengan manhaj Allah dan menjadikan
jalan yang baik dan benar serta sungguh-sungguh baik dalam berjihad, berperang,
mengerahkan kekuatan dan menggunakan ilmu yang mutakhir sehingga umat berhak
mendapatkan rahmat Allah. Dan umat hendaknya meninggalkan angan-angan dan mimpi
yang menipu, hendaknya aktif dalam kerja, mengerahkan potensi, berjihad dan menggapai
syahadah. Seperti halnya kaum yang lemah, lalu mau bergerak melakukan pekerjaan dengan
pimpinan Dzulqornain maka mereka mendapatkan tujuan yang mereka cita-citakan,
keinginan yang mereka idamkan.

Karena itu mari coba kita melihat lebih detail apa yang dilakukan oleh Dzulqornain setelah
berhasil membangun benteng.

Dzulqornain melihat kearah benteng yang dapat melindungi umat dari serangan musuh, lalu
beliau berkata: “Ini adalah rahmat dari Tuhanku” (Al-Kahfi:98); ungkapan yang indah dan
penuh dengan kebaikan, dan memiliki banyak makna:

1. Sayyid Qutb berkata: “Dzulqornain melihat pekerjaan besar yang telah berhasil
dirampungkannya, namun tidak membuatnya sombong dan angkuh, dan bahkan tidak
membuatnya mabuk kepayang oleh kekuatan dan ilmu yang dimiliki, namun beliau ingat
kepada Allah dan bersyukur kepada-Nya, serta mengembalikan segala pekerjaan yang
dilakukannya kepada yang telah memberikan kekuatan tersebut” [3].

2. Dzulqornain ingat Tuhannya saat berhasil menyelesaikan tugasnya, hal ini mengajarkan
kepada kita bagaimana seharusnya kita harus selalu ingat kepada Allah. Dan diantara bentuk
terbesar dari dzikir adalah ketika mendapatkan taufik dalam melaksanakan pekerjaan,
sehingga merasakan adanya kekuatan yang diberikan Allah, lalu tawadhu dan tunduk serta
berdzikir dan bersyukur.

3. Bahwa pembuatan benteng merupakan rahmat dari Allah, dan Dzulqornain memfungsikan
ilmu yang telah diajarkan oleh Allah kepadanya, dan memanfaatkan kedudukan dan
kerajaannya yang telah dianugrahkan Allah kepadanya dengan baik; yaitu dipergunakan
untuk membantu umat dan memberikan kebaikan di dalamnya, mencegah tindakan refresif
dan permusuhan. Dan ilmu yang dimiliki merupakan rahmat dari Tuhannya dan
memfungsikannya secara baik juga merupakan rahmat dari-Nya.

4. Bahwa suatu kaum sedang terancam oleh adanya serangan dan agresi dari Ya’juj dan
Ma’juj, sehingga terancam eksistensi mereka oleh adanya kerusakan yang dilakukan oleh
para agresor, sementara tidak ada yang dapat melindungi mereka kecuali Allah melalui
sarana pembangunan benteng, karena itu benteng tersebut merupakan rahmat dari Allah,
sehingga menjadi penyelamat mereka atas izin Allah, sekiranya tidak sempurna
pembangunan benteng tersebut dan sekiranya kaum tersebut tidak mengadu dan tidak
melakukan apa-apa tanpa ada kerja, usaha dan gerak maka tidak mungkin mampu
menyelamatkan diri dari bahaya yang mengancam, karena itu, keselamatan tidak akan dapat
diraih kecuali dengan kerja dan usaha yang berkesinambungan, saling bergotong royong dan
dan tunduk terhadap syariat Allah dibelakang pemimpin robbani [4].

5. Allah berfirman: “Maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya
hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar”. Dzulqornain –setelah berhasil
membangun benteng dan menyadari itu semua merupakan rahmat Allah- mengumumkan
akan keyakinan yang diimaninya bahwa gunung, benteng dan penghalang yang telah
dibangunnya kelak akan hancur jika telah datang masanya sesuai dengan janji Allah yang
tidak pernah meleset.

___________________________________________________________

[1]. Al-Qishash Al-Qur’ani fi Suratil Kahfi, hal. 93-94

[2]. Ibid. hal. 95

[3]. Fi Zhilalil Qur’an, jil. 4, hal. 2293

[4]. Lihat: Ma’a Qishash As-sabiqin, jil. 2 hal. 350

Serial Fiqh Kemenangan dan Kejayaan Dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah (6):
Mendirikan Daulah; Kisah Dzul Qornain (5)

D. Makna Peradaban; Pelajaran dan Ibrah Darinya.

a. Makna Peradaban

Bahwa Allah SWT telah menampakkan dari sirah seorang raja dan pemimpin terbaik [1]
(Dzulqornain) akan makna peradaban dan menjadikannya sebagai pelajaran bagi setiap
orang yang ingin menjadi pemimpin secara benar dan adil di tengah seluruh umat manusia.

Al-Quran memberikan petunjuk kepada hamba-hamba-Nya inti peradaban robbani yang


dibangun diatas dasar syariat Allah dan tahkim-Nya kepada umat. Adapun inti dari pelajaran
tesebut adalah iman, adil, kerja. Ketiga hakikat tersebut karakteristik yang harus dimiliki oleh
setiap orang, terutama seorang pemimpin sehingga mampu istiqomah dalam menunaikan
urusan dan permasalahan umat, memiliki keyakinan terhadap kebenaran yang dalam jiwa,
materi, kehormatan, agama dan akal mereka.

Karena itu beriman kepada Allah dengan yakin akan menjadikan seorang pemimpin
bersungguh-sungguh dalam menunaikan perintah dan syariat yang bersumber dari manhaj
Allah; yang tidak ada di dalamnya keraguan dan pertentangan, yang tidak di lebih-lebihkan
dan dikurangi, tidak secara ektrim dan juga tidak kering, jauh dari hawa nafsu, tidak berlaku
zhalim, tidak sombong dan juga tidak memutuskan suatu keputusan terhadap urusan umat
dan kesejahteraan mereka secara tidak adil dan tanpa arah yang benar. Sedangkan
berbuat merupakan suatu keniscayaan dalam perjalanan hidup menuju keselamatan,
memberikan keamanan dan ketentraman kepada seluruh makhluk hidup yang ada di muka
bumi ini, ada ketsiqohan antara pemimpin dan yang dipimpin, qoid dan maqud, hakim dan
mahkum, dan juga kerjasama dan tolong menolong sehingga mampu memperluas lingkar
kemakmuran dan konsep peradaban yang sesuai dengan manhaj Allah SWT.

Dzulqornain telah membangun peradaban robbani yang berpedoman pada iman, ilmu,
keadilan dan kebaikan yang bertujuan untuk kemaslahatan umat manusia dimana saja
berada dan kapan saja beliau singgah. Sehingga beliau mampu membangun peradaban dunia
dengan keimanan, kebaikan dan kemenangan. Bekerja dalam rangka menghilangkan
pengaruh materi yang memperdaya, dan berusaha menghancurkan sepak terjang kekufuran,
kemusyrikan dan kejahatan.

Sebagaimana beliau juga giat melakukan tarbiyah (pembinaan) terhadap balatentara dan
pengikutnya pada kebaikan dan kebenaran, dan memerangi sifat negatif dan buruk yang
terdapat dalam jiwa mereka; seperti kejahatan, kezhaliman, permusuhan dan kediktatoran
dan berusaha menjauhkan mereka dari prilaku mementingkan diri sendiri yang dapat
berakibat pada runtuhnya akhlak mulia sehingga berakibat pada hancurnya sendi-sendi
kehidupan manusia.

Bahwa peradaban robbani sangat universal dan siap memberikan kontribusi pembangunan
pada setiap saat, yang di dalamnya harus ada komitmen terhadap manhaj robbani dan
hukum-hukumnya. Karena di dalam manhaj robbani dan hukum-hukumnya terdapat
berbagai kebaikan yang bersumber pada nilai-nilai dan unsur-unsur spiritual; baik aqidah,
ruhiyah, akhlaqiyah, amaliyah dan ibda’iyah (inovasi), dan yang bersumber dari nilai-nilai dan
unsur-unsur material; yang mencakup pada kemajuan dan kemakmuran, industri, pertanian
dan perdagangan, dan yang berasal dari nilai-nilai dan unsur-unsur tanzhimiyah (struktural)
dan tasyri’iyah (undang-undang) yang mengatur kehidupan individu, masyarakat dan negara.
Dan semua itu memiliki keterikatan yang erat dengan peradaban sehingga menghasilkan
peradaban robbani dan mukminah, yang hadir untuk memberikan kemaslahatan kepada
umat dan memberikan petunjuk lurus yang tersebar kepada semua umat dan membangun
rijal (generasi) pada asas akal dan akhlak, fikrah (ideologi) yang shahihah (benar) dan
tashawwur (wawasan) yang salimah (bersih) sebelum melakukan melakukan pembangunan
infrastruktur, mempercantik kota dan industry persenjataan.

Peradaban Robbani dengan keintegralannya, keseimbangannya dan keserasiannya yang


dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmani, akal dan ruh, memiliki keistimewaan dan
ciri khas tersendiri, sehingga muncul pada puncak kemuliaan, memberikan kesejahteraan
kepada manusia dan membentuk syakhsiah (pribadi) robbaniyah yang siap mengemban
amanah tanggungjawab peradaban.

Bahwa sejarah perjalanan hidup Dzul Qornain dalam kepemimpinannya merupakan


sejarah peradaban robbani yang unik bagi manusia pada masa hidupnya, dan memberikan
gambaran yang gamblang akan perjalan hidup manusia yang kuat, beriman dan berilmu,
yang mampu mengemban amanah, menjalankan dan melaksanakannya dengan baik
sehingga mampu menguasai berbagai potensi yang dimiliki oleh suatu negara, prajurit dan
pengikutnya, menguasai berbagai ilmu, sarana dan sebab-sebabnya untuk meng-Agungkan
syariat Allah, menegakkan agama-Nya, melayani umat dan meninggikan kalimat (agama)
Allah, mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya, dan dari beribadah kepada
manusia dan materi menuju ibadah kepada Allah semata [2].

Dan hal tersebut juga telah dilakukan dan diterapkan oleh Rasulullah saw dan para
sahabatnya –khususnya para khulafa rasyidun- setelahnya, melintasi jalan petunjuk dan
arahan yang sama seperti yang digariskan oleh Al-Qur’an. Bahwa mereka telah menerapkan
firman Allah SWT:

“(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya
mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan
mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan”.
Bahwa dengan iman yang bersih dan kokoh, amal yang salih, sirah yang lurus, tujuan-tujuan
yang baik, dakwah kepada Allah yang benar serta memfungsikan segala potensi yang
diberikan secara baik; yaitu ilmu dan hikmah, maka akan mampu menjadikan peradaban
robbani memiliki pondasi yang kokoh; seperti akidah yang benar yang terpancar darinya nilai-
nilai, prinsip-prinsip serta akhlak Robbani yang dapat memberikan kebahagiaan kepada
seluruh umat baik di dunia maupun di akhirat.

Bahwa peradaban insan yang mulia akan mampu diwujudkan dengan baik ketika berada
dalam naungan agama Islam, dan dengan demikian kita mengetahui bahwa peradaban
robbani adalah: “Berkesesuainnya aktivitas manusia untuk jamaah yang satu menuju khilafah
Allah di muka bumi disepanjang jaman, dan sesuai dengan konsep Islam tentang kehidupan,
bumi dan manusia”. [3]

Dan pemahaman ini harus terus tersosialisasi sehingga dapat bersatu pada bagian-
bagiannya berbagai halaqoh peradaban robbani yang beragam yang telah muncul sejak awal
kehidupan sejarah, sepanjang perjalanan para nabi dan rasul serta orang-orang beriman,
bahkan tersosialisasi pada halaqoh masa awal Islam; yaitu pada masa nabi saw dan berbagai
perisitwa yang mengiringinnya.

Demikian awal peradaban robbani menjadi peradaban global, yang telah memberikan
petunjuk dalam berbagai interaksi umat dan bangsa sehingga tetap berada dibawah syariat
Allah SWT, dan menerima para penerusnya dari seluruh umat manusia di dunia; baik yang
berwarna hitam, kuning langsat, dan putih, sesuai dengan manhaj robbani dan hukum-
hukumnya. Berusaha memberikan pelayanan yang maksimal kepada umat manusia dan
memberikan kebahagiaan kepada mereka hingga seluruh negeri yang terbentang di seluruh
penjuru dunia, sehingga berada dalam satu peradaban kauniyah yang mulia dibawah
naungan keagungan Allah SWT, mensucikan pundamentalnya kepada Dzat Pencipta, Dzat
Yang Maha Mengetahui, dan Dzat Pemelihara seluruh ciptaan-Nya [4].

Allah berfirman:

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak
ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti
tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”. (Al-
Isra:44)

Dan jika kita renungkan dan tadabburkan firman Allah:

”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati
kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (Al-Isra:1-3)

Maka, akan kita dapatkan contoh makna peradaban robbaniyah dengan nilai-nilai, makna
dan unsur-unsurnya yang robbani, surat diatas menerangkan dan mewahyukan kepada
tentang unsur-unsur peradaban yang dijelaskan secara jelas dan gamblang:

Bahwa manusia, merupakan satu kesatuan dan bagian suatu perkumpulan, dan sifat
perkumpulan yang baik dan tidak merugi seperti diterangkan dalam surat Al-Asr adalah
orang-orang yang beriman dan beramal solih, yang mencakup pada berbagai interaksi
sosial secara berkesinambungan melalui kerja, praktek, dan eksekusi terhadap nilai-nilai dan
pemahaman; nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati
supaya menetapi kesabaran.

Karena itu, terabaikannya nilai kerja, praktek dan eksekusi tersebut terhadap nilai-nilai dan
prinsip-prinsip yang ada maka berakibat pada terabaikanya peradaban robbani dan
menjadikannya pada kondisi stagnan dan jalan ditempat dan pada akhirnya berakibat pada
kemunduran dan kemandekan [5].

Bahwa Dzul Qornain telah memberikan kontribusi dalam merekayasa kehidupan manusia
diatas prinsip-prinsip akidah, akhlak dan manhaj robbani. Dan tentunya tidak berlebihan
jika kami sampaikan bahwa Dzul Qornain telah memberikan kepada kita rambu-rambu yang
jelas dalam berinteraksi dengan jiwa umat dan menggerakkannya pada keiamanan, ilmu,
kerja, keadilan, ishlah (perbaikan) dan imarah (kemakmuran).

Pelajaran, ibrah dan hikmah yang dapat dipetik dari kisah Dzul Qornain.

Bahwa kisah Dzul Qornain memiliki banyak pelajaran, hukum, adab, nilai-nilai dan faedah-
faedah yang banyak, diantaranya adalah:

1. Allah mengangkat derajat sebagian manusia dengan sebagian lainnya, dan memberinya
rezki kepada siapa yang di-Kehendaki tanpa perhitungan; baik rizki berupa kedudukan
(raja/pemimpin) dan harta, karena Allah pemilik segalanya, dan tiada tuhan selain-Nya.

2. Isyarat untuk melakukan sesuatu karena adanya sebab-sebab, dan harus berdiri dibelakang
sunnah Allah dalam melakukan berbagai aktivitas dan kerja, dan memiliki keyakinan bahwa
dengan melakukan kerja secara sungguh-sungguh akan berbuah pada kemenangan dan
keberuntungan. Dan apa yang dikisahkan Allah kepada kita tentang sirah Dzul Qornain
merupakan contoh akan usaha beliau yang sungguh-sungguh di muka bumi dari timur hingga
barat, dari arah kanan dan kiri, dan tidak pernah bosan melakukannya, perasaan
mendapatkan kenikmatan saat berhasil melaksanakan tugas dan menghadang berbagai
rintangan, melintasi jalan dan lautan kemudian menembus hingga ujung dunia, tidak pernah
berhenti dan merasa lelah; merupakan pelajaran yang sangat besar dan berharga bagi siapa
saja yang memiliki akal.

3. Memfungsikan keinginan dan azimah untuk menghilangkan berbagai rintangan. Sekalipun


sebab-sebab yang dihadapi tidak mudah dan sulit, maka tidak selayaknya berpangku tangan
dan tidak memiliki usaha yang maksimal, dengan alasan malas dan menyerah dengan
kondisi, namun selayaknya tetap memiliki semangat untuk merasakan pahit dan
manisnya suatu kerja keras dan usaha, terutama saat melakukan istirahat dan masa tenang.

4. Wajib bersegera melakukan kerja untuk meraih puncak tertinggi.

5. Bahwa kemampuan mengalahkan musuh dan menguasai mereka tidak seharusnya


membuat seseorang mabuk kepayang dengan kenikmatan dan kekuasaan sehingga
terjerumus pada kemaksiatan dan kehinaan, menarik dirinya kepada arus penghambaan
harta dan jabatan dan keterpurukan pada kehidupan duniawi serta memperlakukan orang
yang dikalahkan sebagai budak dan tawanan, namun hendaknya harus memperlakukan
orang yang baik dengan kebaikannya dan orang yang jahat dengan kadar kejahatannya.
6. Bahwa seorang raja jika ada yang mengadu kepadanya adanya tindak kejahatan, maka
harus segera berusaha dengan kemampuannya memberikan rasa tenang dan keamanan
untuk mempertahankan negeri yang dicintai dari berbagai tindak kejahatan tersebut,
menjamin akan adanya kebebasan, kemerdekaan dan tamaddun (kelanggengan) dari
kehancuran dan kerusakan, sebagai kewajiban menolak kezhaliman dan menegakkan
keadilan di seluruh dunia.

7. Seorang raja hendaknya memiliki sifat amanah dan berhati-hati dalam mengelola harta
warganya, zuhd dalam mengambil upah sesuai tugas yang dikerjakannya, sehingga dengan
demikian menjaga kehormatannya dan menambah kecintaan warga terhadap dirinya.

8. Selalu mengingat akan nikmat Allah jika telah selesai menunaikan tugas.

9. Memperkokoh dan memperkuat benteng sesuai dengan dasar keilmuan dan studi
lapangansecara benar, sehingga dapat memberikan manfaat yang banyak sepanjang masa
dan waktu.

10. Seorang pemimpin atau raja hendak aktif dalam mengikuti kerja yang dilakukan
oleh warga dan rakyatnya, memantau sendiri aktivitas yang sedang dilakukan sehingga
menambah semangat orang yang sedang bekerja.

11. Mengingatkan orang lain dan memberikan pemahaman kepada mereka buah dari
pekerjaan yang dilakukan, sehingga merasakan adanya rahmat Allah SWT di dalamnya.

12. Menghadirkan adanya Allah ditengah mereka, dan memberikan perasaan bahwa
kenikmatan dunia akan sirna dan hilang sesuai dengan kehendak Allah.

13. Mengajarkan untuk selalu memuji dan menginggalkan atsar yang baik. Sebagaimana yang
kita dapatkan bahwa ayat-ayat yang mulia menjelaskan akan akhlak Dzul Qornain yang mulia
seperti keberanian, kesucian, keadilan, semangat dalam menebarkan keamanan dan
kebaikan kepada orang yang berbuat kebaikan dan mengganjar orang-orang yang berbuat
kezhaliman.

14. Perhatian pada persatuan kepada orang yang memiliki pengaruh di tengah umat.
Sebagaimana yang dilakukan oleh Dzul Qornain, bahwa beliau selalu berusaha menyatukan
kata di tengah umat dan membaurkan umat yang beragam sehingga mengikat mereka
dengan manhaj robbani dan syariat samawi[6].

Dengan demikian kita mendapatkan pelarajan dan ibrah serta hikmah yang berharga dari
kisah-kisah Al-Qur’an, khususnya kisah tentang Dzul Qornain. Dan kisah ini menutup
pembahasan tentang tema mendirikan daulah, dan akan kita lanjutkan pada pembahasan
yang lainnay insya Allah; Syarat-syarat Tamkin dan sebab-sebabnya.

__________________________________________________________

[1]. Lihat: Majmu Fatawa, Jil. 17, hal. 22

[2]. Lihat: Dzul Qornain; Al-Qoid Al-Fatih, Muhammad Khairu Ramadhan, hal. 390

[3]. Al-Islam Wal Hadloroh, lin nadwah al-’alamiyah lis syabab, jil. 1, hal 490
[4]. Ibid

[5]. Ibid. hal. 491

[6]. Lihat: Tafsir Al-Imam Al-Qasimi, jil. 11, hal. 87-90

Serial Fiqh Kemenangan dan Kejayaan Dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah (6):
Mendirikan Daulah; Kisah Nabi Sulaiman AS

Nabi Sulaiman menerima kepemimpinan dari ayahnya nabi Daud AS, negara yang kuat dan
yang terbangun diatas dasar Iman dan tauhid serta taqwa kepada Allah, sebagaimana nabi
Sulaiman diberikan karunia oleh Allah kerajaan yang luas dan pasukan yang banyak dari
berbagai jenis makhluk; manusia, jin dan binatang, dan kekuatan yang besar yang tidak
diberikan kepada yang lainnya, namun sebelumnya beliau diberikan karunia yang lebih besar
dan lebih mulia dari itu semua. Allah memberikan kepadanya sosok yang unik dan istimewa
dalam sejarah hidup manusia; karena Allah telah memberikan kepadanya kenabian, ilmu dan
hikmah seperti halnya yang diberikan kepada bapaknya sebelumnya. Allah berfirman:

“Dan Sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya
mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkan Kami dari kebanyakan hamba-
hambanya yang beriman”. Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan Dia berkata: “Hai
manusia, Kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan Kami diberi segala sesuatu.
Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata”. (An-Naml:15-16)

Nabi Sulaiman tidak hanya mewarisi harta, rumah dan tahta orang tuanya, namun juga
mewarisi ilmu dan hikmah, mewarisi kenabian dan kepemimpinan, dan bahkan Allah
memberikan kepadanya nikmat yang berlimpah dan karunia yang khusus kepadanya yang
tidak diberikan kepada orang lain setelahnya. Sebagaimana Nabi Sulaiman meminta kepada
Allah kenikmatan khusus yang tidak diberikan kepada lainnya;

“Ia berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang
tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, Sesungguhnya Engkaulah yang Maha
Pemberi”. (Shaad:35)

Maksudnya adalah berikanlah kepadaku kerajaan yang tidak akan terjadi lagi pada seseorang
setelahnya. [1].

Kita akan melewati apa yang diceritakan Al-Qur’an tentang Sulaiman AS, lembaran-lembaran
yang bersinar akan masa keemasan bani Israil selama mereka berada dalam agama yang
benar dan petunjuk Allah SWT.

Al-Qur’an menceritakan, bahwa nabi Sulaiman mendirikan kerajaannya diatas dasar-dasar


keimanan dan Islam (tunduk) kepada-Nya, karena itu Nabi Sulaiman menganggap
kerajaannya lebih mewah dan megah dari kerajaan ratu Balqis. Kerajaan yang tidak bisa
dikalahkan; baik secara luas dan panjangnya serta ketinggiannya sekalipun, namun,
disamping itu semua, Nabi Sulaiman mendirikan kerajaannya dengan ilmu dan iman. Allah
berfirman:
“Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan Kami adalah orang-orang yang berserah
diri”. Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan
keislamannya), karena Sesungguhnya Dia dahulunya Termasuk orang-orang yang kafir”. (An-
Naml:42-43)

Dapat kita perhatikan apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa kerjaaan Sulaiman hidup
dengan begitu semangat dan penuh dengan harakah, Nabi tegak dengan menunaikan
kewajiban ubudiyah disamping kewajiban menunaikan tugas kerajaan dan tanggungjawab
sebagai pemimpin serta tanggungjawab memakmurkan dunia yang sesuai dengan kataatan
kepada Allah, bumi seluruhnya tunduk kepadanya, dan kemakmuranpun datang, sehingga
tidak terjadi di dalamnya pembangkangan yang dilakukan oleh pasukan dan rakyatnya, oleh
karena pemerintahan dan kerajaannya didirikan dengan ilmu dan hikmah.

Ayat-ayat yang mulia menjelaskan akan karakter dan sifat-sifat nabi Sulaiman yang bijaksana,
yaitu karakter dan sifat sikap yang bertanggungjawab terhadap berbagai urusan dunia,
termasuk urusan pada makhluk-makhluk lainnya. Karena itu apakah ada tanggungjawab yang
besar itu yang hampir tergambar pada masa kini? apakah ada setelah Nabi Sulaiman yang
berada dalam manhaj dan nilai-nilai luhur dalam menjalankan pemerintahan? dan apakah
ada cara yang paling sukses dalam urusan manajemen selain nabi Sulaiman?. Tidak ada.
Bahkan Nabi Sulaiman memanaj urusan kerajaan yang besar dan megah tersebut secara
professional sendirian bersama keluarganya dan dalam rumah yang kecil.

Dari kisah yang terdapat dalam Al-Qur’an; kisah tentang nabi Sulaiman dapat kita ambil
pelarajan dan ibrah bagaimana menjaga dan memelihara serta melestarikan kerajaan iman,
dan apa tugas-tugas yang dilakukan dalam kehidupannya dan apa saja sarana kekuatannya.

Sesungguhnya kisah Nabi Sulaiman disebutkan dalam Al-Qur’an dalam tiga tempat; dalam
surat An-Naml, surat Shaad dan surat Saba’. Dan dalam surat An-Naml mengkisahkan tentang
periode kehidupan nabi Sulaiman AS; kisah tentang dirinya bersama burung Hud-Hud dan
ratu Balqis, sebagai pendahuluan terhadap apa yang akan dilakukan Nabi Sulaiman dari ilmu
yang diberikan Allah kepadanya sehingga dapat berbicara dengan burung dan memahami
bahasa binatang, karunia dari berbagai karunia, rasa syukurnya kepada Allah terhadap
karunia yang nyata dihadapannya, kemudian peristiwa rombongan yang dipimpinnya
bersama Jin dan Manusia, burung dan peringatan ratu semut terhadap kaumnya khawatir
terinjak oleh rombongan tersebut, dan pemahaman Sulaiman terhadap ungkapan ratu
semut, can rasa syukurnya beliau kepada Allah terhadap karunia tersebut, dan beliau
memahami bahwa nikmat tersebut adalah sebagai ujian, dan meminta kepada Tuhannya
untuk bisa menyatukan rasa syukurnya dengan ketaatan kepada-Nya dan beliua berhasil
menjalani ujian ini.

Ayat-ayat Al-Quran mengisyaratkan akan awal dari tamkin (kejayaan), fenomena-fenomea


tamkin dan bagaimana kiat memelihara tamkin tersebut serta sifat dan karakteristik
pemimpin robbani yang mampu memegang kerajaannya.

Awal dari tamkin

Adapun awal dari tamkin yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah ayat Allah: “Dan Sungguh,
Kami telah memberikan kepada Daud karunia”. Sebelum ayat ini berakhir, hadir kesyukuran
nabi Daud dan nabi Sulaiman atas nikmat ini, memaklumatkan akan nilai-nilainya dan
kemampuannya yang besar, sehingga menampakkan ketinggian ilmu dan kebesaran anugrah
dari Allah terhadap hamba-Nya, dan karunia yang banyak terhadap hamba-Nya yang
beriman.

Dan tidak disebutkan disini jenis ilmu dan ketentuannya; karena jenis ilmu merupakan tujuan
yang ingin dimunculkan dan ditampakkan, dan untuk mengisyaratkan bahwa ilmu seluruhnya
adalah merupakan karunia dari Allah, dan sesungguhnya bagi orang berilmu selayaknya
menyadari akan sumber ilmu yang dimiliki, menghadap kepada Allah dengan memberikan
pujian atas-Nya, menggunakan ilmu kepada sesuatu yang diridhai Allah yang telah
memberikan karunia dan anugrah ilmu kepadanya; karena sumber ilmu itu tidak bisa
dipungkiri adanya yaitu Allah SWT, bahkan tidak boleh dilupakan akan Pemberinya, dan
menyadari bahwa hal tersebut merupakan bagian kecil dari anugrah dan karunia-Nya.
Apalagi setelah melihat kenikmatan yang diberikan kepada nabi Daud dan nabi Sulaiman,
serta pujian keduanya terhadap karunia tersebut dan kesadaran keduanya akan
kemampuannya, dan kapasitas yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman;

“Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan Dia berkata: “Hai manusia, Kami telah diberi
pengertian tentang suara burung dan Kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini
benar-benar suatu kurnia yang nyata”.(An-Naml:16)

A. Fenomena-fenomena tamkin dalam kerajaan nabi Sulaiman

Sesungguhnya Allah telah memberikan anugrah kepada hamba-Nya; nabi Daud AS, dalam
bentuk kenabian dan kerajaan, dan kemudian nabi Sulaiman mewarisinya dan diberikan
tamkin kepadanya berupa kerajaan dan negara, dan juga diberikan karunia dari berbagai
kenikmatan dalam bentuk kerajaan dan kekuasaan yang tidak pernah diberikan kepada
seorangpun setelahnya untuk bisa mencapai tingkatan sepereti yang telah dicapai olehnya.

Allah berfirman:

“Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama
dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan
sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. dan sebahagian dari jin ada yang
bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. dan siapa yang
menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka
yang apinya menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakiNya
dari gedung-gedung yang Tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya)
seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah Hai keluarga Daud
untuk bersyukur (kepada Allah). dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima
kasih”. (Saba’:12-13)

Dan dari ayat-ayat tersebut diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa diantara fenomena-
fenoma tamkin yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman adalah sebagai berikut:

1. Allah mewariskan kepadanya kerajaan dari bapaknya dan juga Allah memberikan
kepadanya kenabian, sehingga menjadi satu kesatuan dalam dua bentuk: kenabian dan
kerajaan.

2. Allah memberikan kepadanya ilmu untuk bisa berbicara kepada hewan; seperti burung dan
semut. Sebagaimana Allah berfirman:
”Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan Dia berkata: “Hai manusia, Kami telah diberi
pengertian tentang suara burung dan Kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini
benar-benar suatu kurnia yang nyata”.

Dan Allah berfirman:

“Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-
semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan
tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”; Maka Dia tersenyum dengan tertawa
karena (mendengar) Perkataan semut itu. dan Dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham
untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada
dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan
masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.
(An-Naml:18-19)

Allah menganugrahkan kepadanya al-hikmah pada usia muda, seperti yang telah kami
ceritakan dari sebagian kisah yang terjadi dalam menetapkan hukum.

Allah berfirman:

“Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan
mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan
kaumnya. dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, Maka
Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan
kepada masing-masing mereka telah Kami berikan Hikmah dan ilmu”. (Al-Anbiya:77-78)

Allah juga menundukkan untuknya angin sehingga angin tersebut bisa membawanya ke
berbagai penjuru dunia. Berjalan mengelilingi dunia walau menempuh perjalanan yang
sangat jauh dan panjang. Allah berfirman:

“Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama
dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan
sebulan (pula)”. (Saba’:12)

Maknanya adalah bahwa nabi Sulaiman melakukan perjalanan di waktu pagi sama dengan
perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula),
sesuai dengan kebutuhan yang dapat ditempuh dari perjalanan pagi dan sore, yang dapat
dilakukan oleh nabi Sulaiman dan diwujudkan sesuai dengan perintah Allah”. [2]

3. Allah juga menundukkan baginya Jin dan syaitan, sehingga mereka mampu tenggelam ke
dasar lautan untuk mengeluarkan permata dan intan, mereka melakukan pekerjaan untuknya
yang tidak mampu dilakukan oleh manusia seperti membangun istana yang tinggi dan
mihrab di tempat-tempat ibadah, patung dan gambar-gambar dari timah, kayu dan lain-
lainnya, lembah (danau) yang berisi air yang jernih. Dan Jin juga membuatkan untuk nabi
Sulaiman pinggan besar untuk makan seperti lubang besar, dan membuatkan untuknya
lampu yang besar dan tinggi untuk memasak karena kebesarannya.

Allah berfirman:
“Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama
dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan
sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. dan sebahagian dari jin ada yang
bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. dan siapa yang
menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka
yang apinya menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakiNya
dari gedung-gedung yang Tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya)
seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah Hai keluarga Daud
untuk bersyukur (kepada Allah). dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima
kasih”. (Saba:12-13)

4. Allah juga memberikan kemampuan kepadanya membuat cairan tembaga baginya,


sehingga tembaga tersebut cair seperti air dan membentuknya sekehendaknya.

Allah berfirman:

“Dan Kami alirkan cairan tembaga baginya”. (Saba:12)

Dan pada saat itu tembaga merupakan unsur kemajuan suatu peradaban, materi kemajuan
suatu negara, fenomena kemegahan dan kebesaran dalam suatu kerajaan, sarana konstrukti
dan pembangunan, sehingga nabi Sulaiman menjadi raja yang besar yang berusaha
memakmurkan dunia untuk ketaatan kepada Allah dan semua penduduk bumi tunduk
kepadanya. Beliau hadir untuk memakmurkan bumi yang saat itu nabi Sulaiman tidak yang
melaukan tandingan dalam kepemimpinan dan memiliki kerajaan[3].

Bahwa pasukan nabi Sulaiman terdiri dari manusia, jin dan burung (binatang), dan beliau
memberikan tugas dan berbagai urusan negara kepada mereka, jika beliau keluar, maka
semuanya ikut keluar bergerombol dengannya, ada bertugas melindunginya dan berkhidmah
dari berbagai penjuru. Manusia dan jin berjalan bersamanya dalam satu kelompok,
sedangkan pasukan burung menjadi payung menaungi mereka dengan sayapnya dari panas
dan matahari [4].

Inilah beberapa bagian fenomena tamkin pada masa pemerintahan Nabi Sulaiman, dan
tampak anugrah Allah baginya. Seperti dalam firman Allah:

“Inilah anugerah kami; Maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu
sendiri) dengan tiada pertanggungan jawab”. (Saba:39)

Kemudian ditambah dengan anugrah lainnya berupa ganjaran di dunia dan sebaik-baik
tempat kembali di akhirat kelak.

“Dan Sesungguhnya Dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat
kembali yang baik”. (Shad:40)

B. Pemahaman Nabi Sulaiman dalam menata negara

Bahwa kisah-kisah dalam Al-Qur’an tentang Nabi Sulaiman menunjukkan akan kepiawan dan
profesionalismenya dalam menata negara dan memelihara kejayaan. Dan diantara
pemahaman beliau dalam menata negara adalah sebagai berikut:
1. Seringnya melakukan inspeksi terhadap bawahan, memantau berbagai urusan negara
guna mendapatkan dan melihat sisi-sisi kerusakan yang terjadi terhadap anggota dan
jamaahnya; seperti yang terjadi antara beliau dengan burung Hud-hud, saat beliau
kehilangan seekor burung, yang menunjukkan akan perhatian beliau terhadap pasukannya
khususnya kaum yang lemah [5].

Tentunya seorang pemimpin membutuhkan banyak team, alat dan perangkat yang
mampu melaksanakan tugas-tugas besar tersebut, bahwa Sulaiman as memiliki perhatian
dengan melakukan inspeksi pasukan terhadap para pengawalnya khususnya jika terjadi
sesuatu terhadap kondisi mereka, maka ketika nabi Sulaiman as tidak melihat burung Hud-
Hud beliau langsung bertanya: “Kenapa saya tidak melihat burung Hud-Hud” (An-Naml:20),
maksudnya apakah dia absen (tanpa izin)? Seakan beliau bertanya kebenaran yang terlintas
dalam dirinya [6]. Kemudian dia berkata: “Apakah dia termasuk orang yang lalai” (An-
Naml:20), pertanyaan lain yang menerangkan akan ketegasan pertanyaan tersebut setelah
melakukan pemantauan, maka dari itu nabi Sulaiman berusaha memahami apa yang terjadi
dari absennya bukan karena kasih sayang saja namun karena ketegasan beliau jika absennya
bukan karena ada udzur [7].

2. Setiap negara pasti memiliki undang-undang sehingga dapat memanaj berbagai urusan
dengan cara menghukum orang yang melakukan kesalahan dan memberi pujian bagi orang
yang melakukan kebaikan, dan dalam melakukan tindakan hukuman juga harus
memperhatikan jenjangnya dan tingkatan kesalahan yaitu melihat batasan kesalahan dan
besarnya dosa, dan ini merupakan bentuk keadilan. Karena itulah nabi Sulaiman tidak
memutuskan langsung hukuman dalam bentuk azab terhadap burung Hud-hud,
ketika melakukan kesalahan, nabi beliau memperhatikan besarnya kesalahan :

“Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar
menyembelihnya kecuali jika benar-benar Dia datang kepadaku dengan alasan yang terang”.
(An-Naml:21)

Para ulama menjadikan dalil pada ayat ini bahwa hukuman sesuai dengan batas dosa yang
dilakukan, berawal dari yang keras kepada yang lebih keras sesuai dengan kebutuhan dalam
melakukan perbaikan suatu kesalahan.

3. Negara Islam juga memiliki perhatian terhadap perangkat keamanan dan berusaha untuk
memiliki perhatian terhadap berita dan informasi sehingga dapat diberdayakan (difungsikan)
untuk kemaslahatan agama, aqidah tauhid, penyebaran prinsip-prinsip yang mulia, tujuan
dan misi yang agung dan akhlak yang terpuji, dan berusaha untuk menanamkan kecintaan
terhadap jihad kepada rakyatnya melalui sarana informasi dan sarana tarbiyah,
menggerakkan jiwa pada kondisi-kondisi yang sesuai untuk mendirikan agama dan
menegakkan kalimat Allah. Dan demikianlah yang dilakukan oleh nabi Sulaiman –seperti yang
diungkapkan oleh Imam Al-Qurtubi-: “Bahwa berita yang dibawa Hud-Hud menjadi suatu
kebenaran akan alasan ketidak hadirannya, karena membawa berita yang berhubungan
dengan jihad, dan nabi Sulaiman juga mengarahkan kepadanya untuk cinta pada jihad” [8].

4. Bahwa seorang pemimpin pada negara muslim juga harus memiliki perhatian terhadap
pembelaan dakwah yang menyeru pada atuhid, dan berusaha semampunya untuk
disampaikan kepada setiap yang mukallaf, karena nabi Sulaiman ketika mendengar akan
berita suatu kaum yang musyrik, beliau bersegera mengirimkan surat kepada mereka, yang
dimulai dengan hujjah dan alasannya:

“Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian
berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan” (An-Naml:28).

Al-Qurtubi berkata: “Pada ayat diatas merupakan petunjuk bahwa mengirim surat atau buku
kepada orang-orang musyrik untuk menyampaikan dakwah dan mengajak mereka kepada
Islam. Sebagaimana pula yang dilakukan nabi Muhammad saw dengan mengirimkan surat
kepada kisra dan kaisar dan kepada para pemimpin kafir lainnya [9].

Dan yang terpenting adalah memberikan penjabaran, bahwa dengan keagungan dan
kemuliaan Islam dan iman, serta dengan kewibawaan Al-Qur’an, tidak boleh merasa rendah
diri dan hina, dan tidak memaksa manusia untuk menerima seruan tersebut, meninggalkan
silang pendapat terhadap apa yang dimurkai Allah.

Dan apa yang dilakukan oleh nabi Sulaiman dalam mengirim surat kepada Ratu Saba yang
diawali dengan rahmat dan kemuliaan, dan pada akhir surat seruan untuk menerima ajakan
kembali kepada Allah dan berserah diri kepada-Nya: “Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman
dan Sesungguhnya (isi)nya:

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.Bahwa
janganlah kamu sekalian Berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai
orang-orang yang berserah diri”. (An-Naml: 30-31)

Karena itu negara Islam harus juga memiliki perhatian dalam penggunaan nama Allah,
bangga dengan menyebut asma-Nya dalam pertemuan-pertemuan, acara-acara dan tulisan-
tulisan/surat-surat, karena hal tersebut merupakan izzah dan syiar bagi orang-orang yang
beriman, dan bertujuan mensucikan nama-Nya yang suci dari hal-hal yang tidak layak
baginya, dan memeliharanya dari kejahilan orang-orang yang jahil; sebagaimana Nabi
Sulaiman mengawali suratnya dengan menyebut nama-Nya karena takut, kalau ratu Saba
menyebut nama lain yang tidak layak sehingga nama yang disebutkan di dalam surat tersebut
untuk menjaga kesucian nama Allah [10].

Sebagaimana negara Islam ketika membuat surat untuk berdakwah dengan cara sungguh-
sungguh dalam mengajak manusia kepada Islam dan memperhatikan akan keunivesalan
agama Islam serta berusaha mempersingkat surat tanpa bertele-tele dan panjang lebar.
Sebagaimana surat yang dibuat oleh nabi Sulaiman kepada ratu Balqis :

“Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan Sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut
nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian
Berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah
diri”. (An-Naml:30-31)

Kenapa demikian? Karena yang dituntut dari manusia adalah ilmu dan kerja, dan ilmu harus
lebih di dahulukan daripada kerja. Maka dari itu ungkapan : “Bismillahirrahmanirrahim”,
mencakup pada penetapan Dzat yang mencipta dan sifat-sifat Allah swt. yang Rahman dan
Rahim. Sedangkan ungkapan “Janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku”,
merupakan larangan untuk tunduk kepada selain Allah, hanya karena mengikuti dan taat
kepada hawa nafsu. Sedangkan ungkapan yang ketiga : “Dan datanglah kepadaku sebagai
orang-orang yang berserah diri”, terdapat di dalamnya ajakan untuk beriman dengan hati
dan berislam dengan raga [11].

Dan bagi para daiyah juga harus merasa tinggi dihadapan para pecinta dunia, sehingga ketika
berhadapan dengan para penyuap dalam agama atau orang-orang yang suka menggadaikan
prinsip-prinsip, maka jadikanlah syi’ar yang diungkapkan oleh nabi Sulaiman sebagai
pegangan: “Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata:

“Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? Maka apa yang diberikan Allah
kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa
bangga dengan hadiahmu”. (An-Naml:36)

Dan ketika Ratu Saba mengirim utusan untuk menghadap nabi Sulaiman dan membawakan
untuknya harta yang banyak untuk mengujinya besarnya kecintaan dirinya terhadap agama,
maka tampak bahwa dirinya tidak tertarik pada harta tersebut, bahkan beliau memberikan
jawaban kepada orang-orang yang datang kepadanya bahwa Allah telah menganugrahkan
kepadanya agama yang merupakan kebahagiaan tertinggi, dan memberikan kenikmatan
dunia yang tidak ada bandingannya, maka bagaimana mungkin dirinya cenderung dan
menerima pada harta yang sedikit tersebut?! Dan menegaskan bahwa mereka adalah orang-
orang yang senang dan bangga terhadap hadiah tersebut dan menyangka bahwa dengan
harta tersebut dapat membuat mereka bahagia, karena itu nabi Sulaiman tidak menerimanya
kecuali dengan Islam atau pedang (jihad) [12].

5. Kemampuan mengambil keputusan yang benar pada kondisi dan tempat yang cocok, dan
tidak memiliki keraguan dalam menentukan suatu keputusan yang sulit untuk menguasai
keadaan yang kritis. Karena itu ketika nabi Sulaiman mendapatkan berita bahwa ada suatu
kaum yang masih berada dalam kemusyrikan, beliau bersegera mengajaknya untuk kembali
pada kebenaran. Beliau berkata kepada utusan yang membawa hadiah:

“Kembalilah kepada mereka sungguh Kami akan mendatangi mereka dengan balatentara
yang mereka tidak Kuasa melawannya, dan pasti Kami akan mengusir mereka dari negeri itu
(Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina”. (An-
Naml:37)

Dan tidak dilarang menggunakan sikap yang tegas dihadapan para pembangkang,
menggunakan kekuatan yang besar guna membuat gentar orang-orang yang menghalangi
dakwah, karena jika tidak demikian itu kadang tidak bermanfaat kepada yang lainnya dalam
menyelamatkan kaum dari kemusyrikan. Bahwa diantara di dalam jiwa manusia terdapat
sesuatu yang tidak bisa dilunakkan kecuali dibawah ancaman pedang dan tentara kuda. Dan
cara ini juga yang menyebabkan masuknya ratu Balqis kepada Islam dan ketundukan dirinya
dan tentaranya kepada nabi Sulaiman as.

Dan tidak dilarang juga menggunakan strategi yang cerdas dan cemerlang, ketelitian dalam
membuat strategi untuk membuat gentar hati-hati dan jiwa-jiwa mad’u kepada agama Islam
dan memanfaatkan berbagai kenikmatan dan anugrah Allah sebagai dalil akan ke-Esaan
Allah. Mengajak manusia dengan trik yang disenangi oleh hati orang-orang awam dan
menjamu orang-orang khusus darinya. Karena nabi Sulaiman ketika sampai kepadanya berita
akan datangnya ratu Saba dalam jumlah yang banyak, maka beliau ingin memperlihatkan
kebesaran yang telah diberikan dan dianugrahkan Allah kepadanya dari kekuatan yang
dimiliki oleh ratu Saba sehingga beliau meminta dipindahkan singgasana ratu Saba yang
ditinggalkan di negeri Saba saat ingin bertemu Nabi Sulaiman [13].

Negara Islam juga harus bisa memanfaatkan keahlian, pengalaman dan kemampuan khusus
dalam melakukan pemantauan, dan meletakkan seseorang pada jabatan dan tempat yang
cocok. Bahwa kerajaan Sulaiman terdapat di dalamnya tentara dari manusia dan jin serta
tentara lainnya yang dapat menunaikan tugasnya. Namun Sulaiman mampu
menempatkannya secara proporsional. Karena itu beliau memerintahkan secara
khsusus berbagai urusan yang ada di bawah kerajaan dan meminta bantuan para pasukan
yang terpercaya dari jin yang kuat, untuk melakukan tugas-tugas khusus; yang hal tersebut
merupakan bagian dari ilmu dan hikmah [14].

C. Sifat-sifat menonjol nabi Sulaiman sebagai pemimpin negara

Bahwa ayat-ayat yang menjelaskan tentang sifat-sifat nabi Sulaiman sebagai raja dan
pemimpin serta pembawa kejayaan di muka bumi, merupakan isyarat dari Allah akan sifat-
sifat kepemimpinan yang dituntut untuk menjadi penjaga kejayaan syariat Allah:

1. Memiliki hati yang tegas: hal tersebut tampak pada pemimpin jika memiliki keyakinan
bahwa ada kekurangan atau kemalasan salah satu anggota untuk hadir saat diminta, atau
terlambat saat bekerja: “Sungguh saya akan mengazabnya dengan azab yang pedih atau
saya akan sembelih dia”. (An-Naml:21). Bahwa yang demikian merupakan ketegasan ketika
diketahui bahwa burung Hud-Hud gaib (tidak hadir), lalu mengancamnya dihadapan khalayak
ramai akibat ketidakhadirannya, sehingga tidak menjadikan ketidakhadiran Hud-Hud –jika
tidak dilakukan tegas- akan menjadi preseden buruk pada pasukan lainnya pada waktu yang
akan datang [15].

2. Perlahan dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan atau menerapkan hukum,
karena boleh jadi ketidak hadiran personil (individu) memiliki alasan, atau ada dalil yang
syar’i sehingga dirinya dapat terhindar dari dosa dan hukuman. Karena itu nabi Sulaiman
berkata setelahnya: “Atau dirinya dirinya datang kepadaku dengan alasan yang nyata”. (An-
Naml:21) yakni “dengan memberikan alasan syar’i akan ketidak hadirannya” [16]. Dan hal ini
yang selayaknya dilakukan oleh seorang hakim dan pemimpin jika ingin berlaku adil. Dan
Nabi Sulaiman sebagai pemimpin yang dikenal dengan sifat adilnya terhadap rakyat dan
pasukannya hingga kepada seekor semut sekalipun, tidak melakukan
kezhaliman kepada burung Hud-Hud, atau yang ada dibawahnya atau diatasnya kecuali
diperlakukan secara adil dan tidak tergesa-gesa dalam memutuskan hukum terhadap suatu
kesalahan dan bahkan tidak segera menghukumnya sebelum mendengar alasan darinya.

3. Lapang dada dalam mendengar alasan dari orang yang memberikan alasan atau alasan
para pelaku kesalahan, dan nabi Sulaiman berdiam diri dan menyimak untuk mendengar
alasan yang disampaikan burung Hud-hud hingga selesai alasan yang disampaikan, sekalipun
terdapat di dalamnya akibat yang akan diberikan “Maka tidak lama kemudian (datanglah
hud-hud), lalu ia berkata:

“Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu
dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang
wanita yang memerintah mereka, dan Dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai
singgasana yang besar. Aku mendapati Dia dan kaumnya menyembah matahari, selain
Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan
mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk,
Agar mereka tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan
di bumi dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.
Allah, tiada Tuhan yang disembah kecuali Dia, Tuhan yang mempunyai ‘Arsy yang besar”.(An-
Naml:22-27).

Semua alasan tersebut tidak berusaha dicut (dipotong) oleh nabi Sulaiman, tidak didustakan,
bahkan tidak disikapi dengan keras sehingga selesai menyampaikan alasan yang merupakan
alasan kejadian baru dan besar bagi Sulaiman.

4. Menerima alasan bagi siapa saja yang menyampaikan alasan dengan jelas dan
menyerahkan semua kebenarannya kepada Allah swt, karena itu nabi Sulaiman berdiam tidak
mengambil tindakan dan berpindah untuk berhati-hati menerima berita tersebut. Imam Al-
Qurtubi berkata: “Hal ini merupakan petunjuk bahwa imam harus menerima alasan anak
buahnya, dan memberikan hukuman sesuai dengan kondisi konkritnya ketimbang alasan
yang tersimpan, karena nabi Sulaiman tidak menghukum Hud-Hud sehingga menyampaikan
alasan kepadanya [17].

5. Berhati-hati dalam mensikapi berita yang dibawa; inilah yang diceritakan oleh Hud-Hud,
yang merupakan bukan perkara sepele dan tidak mudah diterima begitu saja, dan Hud-Hud
juga tidak berani mengarang cerita yang panjang ini, karena dia mengetahui bahwa Nabi
Sulaiman merupakan pemimpin, dan memiliki kemampuan mencari ketegasan akan
kebenaran berita yang disampaikan, karena itu pula nabi Sulaiman tidak menerima langsung
alasan tersebut sebagaimana pula tidak bersegera mendustakannya. Namun beliau berkata:
“Akan kita tunggu”, yaitu meneliti dan mencari kebenarannya [18].
“Akan kita lihat apakah yang kamu bawa adalah benar atau merupakan kedustaan belaka”
maksudnya adalah apakah berita yang kamu bawa itu benar atau dusta, hanya untuk
menghindar dari ancaman hukuman? [19].

Tidak terpedaya dengan hawa nafsu, banyaknya pasukan dan luasnya kekuasaan, namun
hanya bersandarkan diri kepada Allah terhadap berbagai kenikmatan yang Allah anugrahkan,
dan selalu memperbaiki rasa syukur terhadap nikmat tersebut. Dan Nabi Sulaiman ketika
meminta memindahkan singgasana ratu Balqis yang akhirnya mampu dilakukan oleh
pasukannya dan tampak dihadapannya apa yang dimintanya, maka beliau bersegera
memerintahkan untuk menata diri kembali guna taat kepada Allah dan takut kepada-Nya
serta tunduk dan patuh kepada Allah, Tuhan semeseta alam. “Maka ketika beliau melihat –
singgasananya- hadir dihadapannya” beliau berkata: “Ini adalah bagian dari karunia
Tuhanku”, maksudnya bahwa kemenangan dan kejayaan ini merupakan karunia dari Allah
untuk mengujiku apakah aku bersyukut atau kufur terhadapnya, karena bagi siapa yang
bersyukur maka tidak akan kembali manfaat syukur tersebut kecuali terhadap dirinya sendiri,
sehingga akan disempurnakan, dilestarikan dan mendapatkan tambahan. Adapun bagi siapa
yang ingkar maka Allah Maha Kaya, Maha Dermawan yang tidak pernah mencegah karunia
dan anugrah kepada siapapun [20].

7. Tawadhu merupakan puncak kemuliaan dan kejayaan: bahwa nabi Sulaiman selalu
tawadhu sehingga diceritakan bahwa beliau berjalan kaki sambil menundukkan kepalanya
karena khusyu’ kepada Allah, dan disaat melakukan perjalanan bersama pasukannya dari
bangsa jin, manusia dan burung, beliau melintasi lembah semut, dan karena beliau selalu
menundukkan kepalanya ke bawah; beliau melihat semut, lalu beliau memperhatikan
dengan seksama, dan mendengar teriakan raja semut, dan karena beliau mengetahui bahasa
burung dan binatang lainnya maka beliau berusaha memahami apa yang terjadi terhadap
semut, sehingga beliau menyadari bahwa bangsa semut sedang kocar-kacir dan ketakutan
terhadap pasukan nabi Sulaiman yang akan melintas di tengah mereka. Dan nabi Sulaiman
mendengarnya dan memahaminya”.

“Berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar


kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”. (An-
Naml:18).

Semut adalah makhluk kecil di dalam kerajaan yang begitu besar, yang sedang bekerja seperti
saudara yang lainnya mencari rizki, dan menasihati yang lainnya untuk membuka jalan
dihadapan kendaraan raja yang adil, sehingga terjadi kezhaliman yang tidak disengaja oleh
mereka. Imam Al-Qurtubi berkata: ”Perhatian seorang mukmin, yaitu keadilan nabi Sulaiman
dan karunianya, dan keutamaan pasukannya yang tidak menginjak-injak pasukan semut dan
yang diatasnya sekalipun kecuali karena mereka tidak menyadari dan tidak merasakannya
[21].

Bahwa semut tersebut bukan apa-apa kecuali hanya bagian dari bangsa yang dilindungi oleh
nabi Sulaiman dalam kerajaannya yang tergabung di dalamnya bangsa jin, manusia dan
binatang yang beragam seperti burung dan semut serta yang lainnya.

Nabi Sulaiman mendengar ucapannya dan memahami pengaduannya, sehingga beliau


mendengar ucapan tersebut dan trenyuh hatinya terhadap bentuk semut yang kecil, dan
pada akhirnya beliau memerintahkan kepada pasukannya untuk berhenti, dan beliau
bersyukur kepada Allah yang telah mengajarkan kepadanya bahasa makhluk-makhluk
lainnya, sehingga beliau mampu menguasai dan berbuat adil kepadanya. Dan sifat
keadilannya begitu dikenal oleh seluruh makhluknya, sampai kepada semut yang meminta
maaf lebih dahulu jika mereka terinjak-injak oleh pasukan nabi Sulaiman oleh karena tidak
disengaja dan tidak terasa oleh mereka [22].

“Maka Dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) Perkataan semut itu. dan Dia
berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang telah
Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan
amal saleh yang Engkau ridhai “. (An-Naml:19)

Nabi Sulaiman menyadari bahwa dirinya – disisi Allah- membutuhkan akan rahmat, kasih
sayang dan kelembutan melebihi kebutuhan semut darinya. Karena itu beliau berkata:

“Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang


saleh”. (An-Naml:19)

___________________________________

[1]. Ibnu Katsir, 4/40

[2]. Fi Dzilal Al-Qur’an, 5/2898

[3]. Lihat: Al-Hukm wat tahakum fi khitab al-wahyu, 2/587


[4]. Lihat: Dakwatu Sulaiman As. hal. 55-56

[5]. Lihat: Tafsir Al-Qurtubi, 13/177

[6]. Tafsir Ar-Rozi, 24/189

[7]. Lihat: Al-Hukm wat tahakum fi khitab al-wahyu, 2/593

[8]. Tafsir Al-Qurtubi, 13/189

[9]. Ibid. 13/190

[10]. Ibid. 2/594

[11]. Lihat: Ruhul Ma’ani, 24/195

[12]. Lihat: Al-Hukm wat tahakum fi khitab al-wahyu, 2/598

[13]. Ibid. 2/593

[14]. Tafsir Ruhul Ma’ani, 9/193

[15]. Lihat: Fi zhilal Al-Qur’an, 5/2638

[16]. Tafsir Al-Qurtubi, 13/180

[17]. Ibid. 13/184

[18]. Tafsir Ar-Razi, 24/193

[19]. Tafsir Ibnu Katsir, 3/349

[20]. Lihat: Al-Hukm wat tahakum fi khitab al-wahyu, 2/600

[21]. Tafsir Al-Qurtubi, 13/170

[22]. Lihat: Al-Hukm wat tahakum fi khitab al-wahyu, 2/589

Serial Fiqh Kemenangan dan Kejayaan Dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah (6):
Mendirikan Daulah; Kisah Nabi Daud AS

Diantara macam-macam tamkin (kejayaan) yang disebutkan dalam Al-Quran Al-Karim adalah
tercapainya para ahlu tauhid dan iman yang shahih menuju singgasana pemerintahan
(kekuasaan) dan menguasai berbagai urusan negara. Al-Quran Al-Karim telah banyak
menceritakan contoh-contoh para pemimpin negara dan berhasil membimbing umat dengan
syariat Allah, seperti nabi Daud as, nabi Sulaiman as, seorang pemimpin yang beriman dan
seorang penakluk yang shalih, seorang pemimpin yang adil (Dzul Qornain), dan menjadikan
mereka semua sebagai tauladan dan contoh yang menakjubkan bagi para ahlul iman
sepanjang masa dan sejarahnya, sesuai dengan perputaran waktu dan zaman. Dan Al-Quran
juga menjabarkan akan fenomena dan sisi-sisi penting dari usaha dan jihad yang mulia yang
mereka lakukan yang bertujuan mencapai at-tamkin terhadap nilai-nilai yang mulia, prinsip-
prinsip yang tinggi, budi pekerti yang luhur, akhlak yang terpuji yang terpancar dari
keimanan kepada Allah dan hari akhir, jauh dari ambisi nasionalisme, fanatisme kesukuan,
perseteruan rasial, pentahbisan tanah dan pemimpin.

Bukanlah penaklukan dan kerja yang mulia mereka lakukan hanya bertujuan untuk meraih
kepemimpin militer atau ghanimah perekonomian, perluasan kekuasaan atau ambigu
apharteidisme yang membangkitkan cinta kekuasaan dan ambisi jabatan. Namun mereka
terjun ke dalam perang dan memimpin pasukan hanya bertujuan untuk kemuliaan manusia
dan membersihkan mereka dari kemusyrikan, auham (angan-angan) dan penyimpangan
terhadap agama, menghilangkan manusia dari kezhaliman dan menegakkan keadilan, serta
mengajak manusia kepada aqidah yang benar, manhaj yang bersih dan tashawwur
(pandangan) yang robbani.

Begitupun yang dilakukan nabi saw dan para khulafa setelahnya manjadi bagian dari
contoh yang berhasil melakukan misi yang mulia diatas, dan untuk itu kita akan coba
menjabarkan fasal ini beberapa karakteristiknya, sebagaimana kita akan coba memunculkan
sejarah Islam klasik dan kontemporer untuk memberikan beberapa contoh nyata –dengan
izin Allah- untuk mengambil darinya pelajaran dan ibrahnya.

1. Tamkin Allah terhadap nabi Daud as dan nabi Sulaiman as

a. Nabi Daud as

Masa emas bani Israil dimulai dengan munculnya nabi Daud as dalam perang; saat Allah
memuliakannya dengan berhasil membunuh Jalut, dan Al-Quran menjelaskan bahwa Daud
adalah seorang mujahid dalam tubuh pasukan Thalut, dan merupakan salah seorang yang
berhasil selamat dalam ujian yang berat yang ditetapkan oleh pemimpin pasukan pada suatu
lembah, sehingga sebagian mereka ada yang jatuh dan sebagian lainnya ada yang selamat.

Nabi Daud telah berhasil mengangkat bendera kemenangan dan syariat dalam
mengembalikan tamkin bagi Bani Israil setelah berhasil membunuh Jalut, dan saat itu beliau
masih muda namun berhasil mendapatkan kemenangan, sehingga terpatri dalam hatinya
suatu kecintaan, terpancar baginya sendi-sendi keikhlasan, sehingga waktu pagi hingga sore
menjadi bahan pembicaraan pada kalangan bani Israil. Terdapat dalam jiwanya kehormatan,
kecintaan dan kemuliaan. Sehingga sejak saat itu mulai tampak cahaya kemenangan dari
langit, berpindah dari satu keberhasilan menuju keberhasilan lainnya, dari kemenangan
diiringi dengan kemenangan lainnya, sehingga akhirnya menduduki kekuasaan dan memiliki
kerajaan dan tampil sebagai model hukum pada zamannya secara adil dan bijaksana. Beliau
adalah sosok yang selalu bertaubat dan kembali kepada Tuhannya dengan ketaatan, ibadah,
dzikir dan istighfar.

Adapun manhaj taghyir pada masa nabi Daud AS adalah merupakan shira’ (pertempuran)
dengan menggunakan senjata antara pembawa kekuatan kebaikan dan kejahatan, antara
iman dengan kekufuran, antara petunjuk dan kesesatan. Sehingga dengan izin Allah dan
secara realita, kebatilah menjadi hancur dan Bani Israil -saat itu- berhasil meraih kemuliaan
dan kekuatan mereka.

Namun yang harus diingat adalah bahwa nabi Daud selain menggunakan kekuatan dalam
memperkokoh kekuasaannya. Disisi lain, dan ini yang menjadi inti kelanggengan suatu
kekuasaan nabi Daud as dan umat setelahnya adalah adanya tasbih, dzikir dan ketaatan yang
dilakukan oleh nabi Daud As.

Bahwa nabi Daud selalu bertasbih pagi dan sore, sehingga gunungpun ikut berdzikir
bersamanya mengiringi dzikir yang selalu dilantunkan oleh beliau, sebagaimana juga burung.
Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama Dia (Daud) di


waktu petang dan pagi”

Karena itu Allah SWT menganugrahkan kepadanya nikmat terbesar, seperti yang disebutkan
dalam Al-Qur’an. Allah berfirman:

“Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan
dalam menyelesaikan perselisihan”. (Shaad:20)

Maksudnya adalah bahwa Kami (Allah) telah memberikan kepadanya kerajaan yang
sempurna dari seluruh kerajaan yang besar, karena itu musuh-musuhnya tidak mampu
mengalahkannya karena beliau memiliki prajurit yang banyak dan penjagaan yang ketat. Dan
seperti yang banyak diceritakan bahwa beliau memiliki ribuan pasukan yang saling
bergantian dalam menjaga benteng, sehingga tidak bisa dipecahkan dan dikalahkan dalam
berbagai peperangan apapun, sebagaimana juga -tentunya- adanya pertolongan dari Allah
dan dukungan-Nya [1]. Allah berfirman:

“Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Daud yang
mempunyai kekuatan; Sesungguhnya Dia Amat taat (kepada Tuhan)”. Shaad:17)

Bagi para pemerhati tentang kisah nabi Daud AS dalam Al-Qur’an Al-Karim, maka akan
mendapati sifat-sifat yang mulia yang dimiliki oleh nabi Daud sehingga dapat dijadikan
tauladan oleh orang yang beriman –terutama bagi seorang pemimpin- dalam rangka
mewujudkan kesempurnaan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Adapun diantara sifat yang dimiliki nabi Daud adalah:

1. Sabar; karena itu pula Allah memerintahkan kepada nabi Muhammad saw untuk bersabar
seperti yang dilakukan oleh nabi Daud; yaitu kesabaran dalam menunaikan ketaatan kepada
Allah.

2. Ubudiyah; bahwa Allah telah mensifati nabi Daud dengan firman-Nya “Abdana”, dan sifat
ubudiyah kepada Allah merupakan misi paling mulia, sebagaimana Allah juga mensifati nabi
Muhammad pada saat akan di mi’rajkan dengan “Abdahu”. Allah berfirman: “Maha Suci Allah
yang telah memperjalankan hamba-Nya”. (Al-Isra:1)

Dan nabi saw saat menceritakan kisah tentang nabi Daud, pertama kali yang dijelaskan
adalah tentang kemuliaannya dan kesungguhannya dalam beribadah. Nabi bersabda:

“Sesungguhnya puasa yang paling dicintai oleh Allah adalah puasa nabi Daud, dan shalat
yang paling dicintai oleh Allah adalah shalatnya nabi Daud, beliau tidur pertengahan malam,
dan bangun disepertiga mala, dan tidur di seperenamnya, sebagaimana beliau berpuasa
satu hari dan berbuka pada satu hari lainnya”. (Muslim)
3. Kemampuannya dalam menunaikan ketaatan kepada Allah dan berhati-heti terhadap
perbuatan maksiat. Seperti dalam firman-Nya : “Memiliki kekuatan”

4. Mengembalikan seluruh urusannya kepada Allah melalui ketaatan. Seperti dalam firman
Allah: “Bahwa sesungguhnya dia (Daud) selalu kembali”, yaitu bersifat kuat dalam taat
kepada Allah. Dan kata “kembali” merupakan petunjuk akan kesempurnaan ma’rifah beliau
kepada Allah, sehingga menjadikan dirinya giat dalam beribadah diatas manhaj robbani yang
lurus.

5. Bertasbihnya gunung dan burung bersamanya; “Sesungguhnya Kami menundukkan


gunung-gunung untuk bertasbih bersama Dia (Daud) di waktu petang dan pagi. Dan (kami
tundukkan pula) burung-burung dalam Keadaan terkumpul. masing-masingnya Amat taat
kepada Allah”. (Shaad:18-19)

Maksudnya adalah bahwa gunung-gunung ikut tunduk dan bertasbih bersamanya, mulai
terbit matahari hingga penghujung petang, sebagaimana Allah berfirman: “(kami berfirman):
“Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”.
(Saba:10)

Ibnu Katsir berkata: “Begitupun burung bertasbih dengan tasbihnya beliau, dan kembali
dengan kembalinya beliau, burung bertasbih di udara, sehingga beliau mendengarnya sedang
beliau asyik mengikuti bacaan kitab Zabur, dan gunung-gunung yang kokoh juga bertasbih
bersamanya” [2].

6. Kekohoan singgasana “dan Kami kokohkan kerajaannya”, maksudnya; Kami kokohkan


kerajaannya dengan pasukan dan pengawal, dan Kami jadikan kerajaannya begitu sempurna
dengan berbagai peralatan yang dibutuhkan oleh raja lainnya.

7. Hikmah (kebijaksanaan); “Dan Kami berikan kepadanya Hikmah”, maksudnya adalah Kami
berikan kepadanya pemahaman, kecerdasan, akal, ilmu, keadilan, profesionalitas kerja dan
hukum yang benar.

8. Mampu memberikan solusi yang baik dalam berbagai pertikaian “dan mampu
menyelesaikan perselisihan”. Maksudnya adalah Kami telah memberikan kepadanya
kepandaian dalam menyelesaikan perselisihan dalam suatu urusan dan keputusan hukum
dengan membenarkan yang hak dan membatilkan yang batil, memberikan perjelasan secara
singkat dan tepat melalui ucapan yang sedikit namun memiliki makna yang banyak” [3].

Dan secara thabi’i dalam sunah Allah, nabi Daud tetap berhadapan dengan berbagai ujian
dan cobaan serta fitnah, namun Allah selalu melindungi beliau, membimbing langkah-
langkahnya, dan tangan Allah selalu bersamanya dengan menyingkap kelemahannya dan
kesalahannya, dan melindunginya dari jalan yang berbahaya dan mengajarinya cara
melakukan antisipasi dan penanggulangan. Allah berfirman:

“Dan Adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka
memanjat pagar? Ketika mereka masuk (menemui) Daud lalu ia terkejut karena kedatangan)
mereka. mereka berkata: “Janganlah kamu merasa takut; (Kami) adalah dua orang yang
berperkara yang salah seorang dari Kami berbuat zalim kepada yang lain; Maka berilah
keputusan antara Kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan
tunjukilah Kami ke jalan yang lurus. Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh
sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka Dia berkata:
“Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan Dia mengalahkan aku dalam perdebatan”. Daud
berkata: “Sesungguhnya Dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu
untuk ditambahkan kepada kambingnya. dan Sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang
yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan Amat sedikitlah mereka
ini”. dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; Maka ia meminta ampun kepada
Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat”. (Shaad:21-24)

Adapun penjelasan fitnah ini bahwa nabi Daud adalah seorang raja, dan beliau
mengkhususkan sebagian waktunya untuk urusan kerajaan, dan untuk penentuan hukum
diantara manusia, waktu lainnya untuk berkhalwat dan ibadah kepada Allah, melantunkan
anasyid ibadah dan bertasbih kepada Allah dalam mihrab khusus, dan jika beliau berada di
dalam mihrab untuk beribadah dan khalwat, beliau tidak akan masuk sampai umat
seluruhnya keluar darinya.

Dan pada suatu saat beliau dikagetkan dengan dua orang yang masih berada di dalam
mihrab yang tertutup, sehingga kedua orang tersebut terkejut. Keduanya berkata: kami
sedang berselisih, dan terjadi kedzaliman diantara kami, sehingga kami datang untuk
meminta keputusan darimu, dan kami meminta hukum kepada yang benar da keadilan, jauh
dari kesalahan dan menunjukkan kami pada kebenaran. Maka salah seorang diantara
keduanya menjelaskan inti permasalahannya bahwa saudaranya telah melakukan kezhaliman
yang sangat jelas, maka nabi Daud pun terdorong hatinya untuk memutuskan hukum tanpa
mendengar alasan dari yang lainnya. Dan setelah selesai dari menentukan hukum ditegaskan
bahwa hukum tersebut tidak berlaku permanen, bisa saja orang yang pertama tadi adalah
orang yang melakukan kezhaliman. Maka nabipun yakin bahwa peristiwa tersebut
merupakan ujian dari Allah sehingga dia kembali pada tabiatnya yang semula dan memohon
ampun kepada Allah, ruku dan bersujud kepada-Nya [4]. Dan sebagian ahli tafsir
menyebutkan bahwa peristiwa tersebut merupakan kisah israiliyat yang dinisbatkan kepada
nabi Daud sehingga menafikan kema’shumannya.

Sementara itu para ahli sunnah sepakat bahwa para nabi seluruhnya adalah ma’shum dari
dosa besar [5].

Dan syaikh Sa’di menyebutkan beberapa faidah agung dan hikmah yang banyak dari kisah
nabi Daud AS.

1. Perlindungan Allah terhadap para nabi dan orang-orang pilihan-Nya, ketika terjadi di
tengah mereka kesalahan berupa fitnah yang ditujukan kepada mereka, dan ujian yang dapat
menghilangkan kehati-hatian, dan kembali kepada kesempurnaan seperti sedia kala
sebagaimana yang terjadi pada diri nabi Daud.

2. Bahwa para nabi adalah ma’shum dari kesalahan terhadap apa yang Allah bebankan
kepada mereka untuk menyampaikan risalah, karena maksud dari risalah tidak akan sampai
kecuali dengan adanya kema’shuman.

3. Bahwa nabi Daud, pada keseluruhan hidupnya selalu komitmen dengan ibadah, hidupnya
diserahkan untuk berkhidmah kepada Rabbnya.
4. Selayaknya menggunakan etika ketika masuk dan menghadap pejabat dan yang lainnya,
karena kedua orang yang berselisih saat masuk menghadap nabi Daud pada kondisi yang
bukan biasa, dan bukan dari pintu yang sebenarnya sehinnga membuat dirinya terkejut dan
melihatnya bukan dengan pandangan yang layak.

5. Bahwa tidak dilarang seorang hakim memutuskan hukum dengan benar tanpa adanya
etika orang yang mengadu dalam suatu permasalahan dan perbuatan yang tidak layak
(sopan).

6. Sempurnanya kelembutan hati nabi Daud, karena beliau tidak marah terhadap dua orang
yang berselisih dan tidak memiliki etika, yaitu saat keduanya datang tanpa seizinnya lebih
dahulu, padahal beliau adalah seorang raja, namun beliau tidak membentak dan
mencelanya.

7. Dibolehkan seseorang yang dizhalimi mengatakan kepada orang yang menzhaliminya :


”Engkau telah zhalim kepadanya”, atau wahai yang zhalim kepada saya. Seperti firman Allah:
“Dua orang yang berselisih saling mengungkapkan kezhalimannya”.

8. Bahwa orang yang diberi nasihat sekalipun usianya sudah lanjut, memiliki ilmu dan
kedudukan, jika diberi nasihat oleh seseorang tidak boleh marah dan kesal, namun
hendaknya menghormati dan menghargainya.

9. Bahwa bercampur dengan kerabat dan sahabat, dan interaksi dengan harta dunia dapat
mengakibatkan terjadinya permusuhan, terjadi saling curiga dan zhalim, dan hal tersebut
tidak bisa mengembalikan mereka pada kebenaran kecuali dengan taqwa dan sabar terhadap
berbagai perkara dan diirigi dengan iman dan amal shalih.

10. Bahwa istighfar dan ibadah khususnya shalat dapat menghapus dosa dan kesalahan,
karena Allah mengurutkan ampunan terhadap dosa nabi Daud melalui istighfar dan sujudnya
(shalatnya) [6].

11. Amanah Khilafah yang diberikan Allah kepada nabi Daud. Allah berfirman:

“Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka
berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti
hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang
yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari
perhitungan”.

12. Allah berbicara dengan nabi Daud dengan mengangkatnya sebagai pemimpin diantara
manusia di muka bumi ini, sehingga beliau mempunyai jabatan dan kekuasaan, dan manusia
wajib untuk mendengar dan taat kepadanya, kemudian Allah menjelaskan kaidah-kaidah
dalam meraih kekuasaan sebagai pelajaran bagi seluruh manusia;

1. Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia; Maksudnya adalah putuskanlah


suatu hukum diantara manusia dengan adil yang dengannya mampu menegakkan langit dan
kitab, dan ini merupakan kaidah utama dan sangat penting dalam suatu pemerintahan.

2. dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu; maksudnya adalah dalam memutuskan suatu
hukum jangan cenderung pada hawa nafsu atau oleh sebab adanya ketamakan duniawi,
karena mengikuti hawa nafsu dapat menggelincirkan dan menjerumuskan manusia kepada
neraka. Karena itu Allah berfirman setelah “Sehingga kamu akan sesat dari jalan Allah”,
maksudnya karena mengikuti hawa nafsu menyebakan diri terjerumus pada kesesatan dan
penyimpangan dari kebenaran dan berakibat pada kehinaan. Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat,
karena mereka melupakan hari perhitungan”.

Maksudnya adalah bahwa orang yang menyimpang dari jalan kebenaran dan keadilan akan
mendapatkan azab yang pedih pada hari kiamat dan hari hisab, oleh karena kealpaan mereka
terhadap kondisi yang menakutkan pada hari tersebut, dan apa yang terdapat di dalamnya
hisab yang pedih dan detail terhadap setiap insan, dan juga, oleh karena mereka
meninggalkan pekerjaan untuk berlaku adil dalam hukum.

Dan pelajaran pada tema ini adalah wasiat Allah kepada para pemimpin dan penguasa untuk
berhukum diantara manusia dengan cara yang benar dan tidak menyimpang darinya
sehingga tersesat dari jalan Allah, dan Allah telah memberikan ancaman bagi siapa yang
tersesat dari jalan-Nya dan lupa akan adanya hari hisab dengan ancaman yang pasti (azab
yang pedih) dan hisab yang mengerikan [7].

Ayat mulia diatas menjelaskan bahwa hukum diantara manusia merupakan bagian dari
agama yang telah dilakukan oleh para utusan Allah, dan merupakan ciri bagi setiap
makhluknya, dan bahwasannya kewajiban dan tugas seorang penegak hukum adalah
memutuskan hukum dengan cara yang benar dan menjauhi dari hawa nafsu. Dan berhukum
dengan cara yang benar menuntut adanya ilmu tehadap perkara-perkara
syar’iyyah, memahami gambaran permasalahan hukum secara detail, dan memahami
bagaimana memasukkannya ke dalam hukum syar’i. karena seorang yang tidak memahami
akan salah satu permasalahan tidak mampu memberikan kebenaran terhadap suatu hukum,
dan tidak berhak menjadi seorang hakim (pemimpin). Dan juga menjelaskan bahwa seorang
pemimpin harus berhati-hati dari hawa nafsu, dan harus bisa menjaga jarak darinya, karena
setiap jiwa tidak bisa lepas darinya; bahwa hendaknya seorang pemimpin harus bersungguh-
sungguh memerangi hawa nafsu tersebut sehingga kebenaran yang diinginkan dapat tercapai
[8].

Anugrah dari Allah berupa keberkahan, penaklukan dan ilham.

Bahwa nabi Daud memiliki banyak anak, namun Allah SWT memberikan kekhususan
kepadanya seorang anak yang salih; seorang yang kelak menjadi nabi dan raja; yaitu
Sulaiman AS, dan dalam kitab-Nya Allah memujinya karena sebagai seorang hamba yang
selalu bertaubat kepada Allah, taat beribadah dan mohon ampun dalam berbagai kegiatan
dan aktivitasnya. Dan diantara keutamaan yang Allah berikan kepada hamba-Nya; nabi Daud
as adalah dibarikan karunia nabi Sulaiman yang menjadi pewaris kerajaan dan kenabian.

Allah berfirman:

“Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, Dia adalah sebaik- baik hamba.
Sesungguhnya Dia Amat taat (kepada Tuhannya)”. (Shaad:30)

Allah telah memberikan kemuliaan kepada nabi Sulaiman berupa kerajaan dan kenabian
serta pemahaman yang mendalam, pendapat yang tajam dan akal yang cerdas.
Adapun yang menunjukkan kemuliaan tersebut adalah firman Allah:

“Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan
mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan
kaumnya. dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu. Maka
Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan
kepada masing-masing mereka telah Kami berikan Hikmah dan ilmu dan telah Kami
tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. dan
kamilah yang melakukannya.

Menurut riwayat Ibnu Abbas; bahwa sekelompok kambing telah merusak tanaman di waktu
malam. Maka yang Empunya tanaman mengadukan hal ini kepada Nabi Daud a.s. Nabi Daud
memutuskan bahwa kambing-kambing itu harus diserahkan kepada yang Empunya tanaman
sebagai ganti tanam-tanaman yang rusak. tetapi Nabi Sulaiman a.s. memutuskan supaya
kambing-kambing itu diserahkan Sementara kepada yang Empunya tanaman untuk diambil
manfaatnya. dan orang yang Empunya kambing diharuskan mengganti tanaman itu dengan
tanam-tanaman yang baru. apabila tanaman yang baru telah dapat diambil hasilnya, mereka
yang mepunyai kambing itu boleh mengambil kambingnya kembali. putusan Nabi Sulaiman
a.s. ini adalah keputusan yang tepat [9].

Para ulama mengambil intisari dari dua ayat diatas beberapa masalah penting, diantaranya
adalah:

1. Dibolehkannya seorang hakim menarik kembali hukum yang telah diputuskan, jika tampak
ada keputusan lain yang lebih tepat, karena nabi Daud telah menarik kembali keputusannya
dan mengikuti apa yang telah diputuskan oleh nabi Sulaiman.

2. Para Fuqaha berpendapat bahwa kebenaran hanya ada satu dalam silang pendapat para
mujtahidin, bukan berarti semuanya benar atau tepat. Seperti dalam dalil disebutkan “Maka
Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat)”
dikhususkannya kepada Sulaiman pemahaman, karena jika semuanya benar maka
pengkhususan terhadap pemahaman ini tidaklah tepat [10].

Kecerdasan nabi Daud dalam membuat senjat

Allah berfirman:

“Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara
kamu dalam peperanganmu; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah)”. (Al-
Anbiya:80)

Nabi Daud -pada saat itu- merupakan orang yang pertama kali menggunakan dan membuat
tameng berupa baju besi, dan mengajarkannya kepada umat manusia, karena itu beliau
adalah merupakan orang yang pertama kali menciptakan dan membuat baju besi untuk
dijadikan tameng dalam perang. Hal tersebut menjadi sebuah nikmat bagi seluruh pasukan
perang hingga saat ini dan akan datang, sehingga Allah memerintahkan umat untuk
bersyukur terhadap nikmat tersebut.
Karena itu Allah berfirman: “Maka apakah kalian mau bersyukur” maksudnya atas
kemudahan adanya nikmat membuat baju besi untuk kalian, dan hendaknya mentaati
Rasululah terhadap apa yang diperintahkan olehnya.

Ayat diatas menunjukkan dibolehkannya menggunakan peralatan dan berbagai saranan


sebagai sebab, karena hal tersebut merupakan sunnatullah dalam ciptaan Allah; yaitu
kesaksian untuk para pekerja, orang yang memiliki keahlian dan industry bahwa pekerjaan
merupakan kemuliaan, memiliki keahlian merupakan kehormatan. Dan ayat diatas
menunjukkan motivasi kepada orang-orang yang beriman untuk bekerja, berkreasi
dan membuat berbagai sarana yang dapat digunakan sebagai sebab-sebab
kemenangan terhadap musuh, memerangi kerusakan dengan mempersiapkan pasukan
dengan membekali nilai-nilai keimanan dan ajaran-ajaran dari yang Maha Rahman serta
syariat agama.

Allah SWT berfirman:

“Dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan
ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya aku melihat apa
yang kamu kerjakan”. (Saba’:10-11)

Hal tersebut merupakan anugrah Allah diatas anugrah lainnya yang berupa kerajaan dan
kekuasaan, diiringi dengan kenabian dan keikhlasan, sesungguhnya Allah memberikan nikmat
atas hamba-Nya nabi Daud dengan melunakkan besi baginya atau mengajarkannya
bagaimana melunakkan besi yang merupakan sarana memakmurkan bumi, pembangunan
dan industri, dan tentunya urgensi besi sangat penting sekali dalam pembangunan
peradaban dan pembangunan negara dalam menuju kemenangan.

DR. Imaduddin Khalil berkata:”Dalam surat Al-Hadid kita sering membaca ayat ini:

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang
nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al kitab dan neraca (keadilan) supaya
manusia dapat melaksanakan keadilan. dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat
kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan
besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-
Nya Padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa”. (Al-
Hadiid:25)

Apakah ada banyak dalil yang menunjukkan hubungan muslim dengan negerinya dari nama
surat yang lengkap; nama besi dan memiliki urgensi yang penting? Apakah ada sarana lain
untuk memberikan kepuasan dalam melakukan perbaikan peradaban, kreasi dan
pembangunan, yang dibawa oleh Islam untuk menjadikannya sebagai bagian yang asasi dari
akhlak dan prilakunya di dalam jantung dunia. Dari ayat ini menjelaskan akan pentingnya besi
sebagai nikmat terbesar yang diturunkan Allah kepada hamba-Nya, dan menjelaskan
kepadanya masalah dalam dua sisi yang selalu bersinggungan dengan besi; (besi yang
padanya terdapat kekuatan yang hebat) yaitu dengan menggunakan besi sebagai senjata
utama dan persiapan pasukan, dan; (berbagai manfaat bagi manusia), yang dapat dirasakan
oleh manusia dari besi dalam berbagai aktivitas dan pembangunan dan (perdamaian) ?
apakah ada banyak kebutuhan untuk menegaskan akan urgensi yang lebih terhadap besi
dalam perjalanan masa, dalam permasalahan damai dan perang, dan hal tersebut selalu
terjadi dalam sejarah kita sebagai salah satu wasilah dari wasilah-wasilah penting lainnya
dalam berbagai medan kekuatan negara baik dalam keadaan damai dan perang?

Bahwa negara kontemporer yang memiliki besi akan mampu menggetarkan musuh-
musuhnya karena dengannya dapat dibuat senjata yang berat… dan mampu –juga-
melakukan langkah lebih banyak dan luas agar mampu bersaing dengan negara-negara
industry-industri besar yang berasal dari besi yang dapat dibuat dan digunakan sebagai tiang-
tiang yang kuat dan kokoh [11].

Sesungguhnay Allah menganugrahkan besi kepada Daud dan mengajarkan kepadanya


bagaimana melunakkannya, karena faidah besi dapat terwujud dengan adanya kemampuan
melunakkan dan membentuknya, dan hal tersebut –tentunya- dapat membantu
pembangunan peradaban yang besar yang menyatukan antara manhaj Robbani dan
pembangunan industry.. etc.

Dan jika kita renungkan kembali dalam ayat tentang besi maka akan kita dapatkan intervensi
yang mendalam dan hubungan yang kuat antara ayat tentang besi, dan hadirnya para utusan
dan turunnya kitab bersama mereka, membangun keseimbangan yang detail untuk
menebarkan keadilan di tengah umat manusia, dan antara diturunkannya besi yang terdapat
di dalamnya sumber kekuatan, kemudian penegasan bahwa itu semua datang “agar supaya
Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya dan Allah Maha
kuat dan perkasa”.

Bahwa seorang muslim Robbani tidak akan mampu memberikan perlindungan setelah
kekuatan dari Allah kecuali melalui tangan yang beriman, yang memahami bagaimana
mencari besi, membentuk dan mempegunakannya secara baik untuk dapat melindungi
akidah dan kemajuan peradaban melalui agama Islam, dan mewujudkan kemenangan bagi
orang-orang yang beriman, serta menghadirikan daulah Islam yang menerapkan hukum
syariat Allah. Karena itu Allah berfirman: “Dan Kami lembutkan untuknya besi”, sehingga
terdapat di dalamnya akan pentingnya besi dan bagaimana memfungsikannya untuk
kepentingan Islam.

__________________________________

[1]. Lihat: Tafsir Al-Qurtubi; jil. 15, hal. 162

[2]. Tafsir Ibnu Katsir; jil. 4, hal. 29

[3]. Lihat: Tafsir Al-Munir, Wahbah Zuhaili; jil. 23, hal. 182-185

[4]. Lihat: Qishash Ar-Rahman fi Zhilal Al-Qur’an; jil. 4 hal, 35-36

[5]. Lihat: Tafsri Al-Munir; jil. 23, hal. 190

[6]. Lihat: Tafsir Al-Sa’di yang diringkas pada satu jilid, hal. 559-560

[7]. Lihat: Tafsir Al-Munir; jil. 23, hal. 188

[8]. Lihat: Tafsir Al-Sa’di yang diringkas pada satu jilid, hal. 560
[9]. Lihat: Tafsir Al-Munir; jil. 17, hal. 106

[10]. Ibid. hal. 105

[11]. Tafsir Al-Islami li Tarikh, hal. 221-222

Serial Fiqh Kemenangan dan Kejayaan Dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah (7): Syarat-
syarat Tamkin dan Sebab-sebabnya (1)

Bahwa khilafah di muka bumi dan tamkin (kejayaan) pada agama Allah dan mengganti rasa
takut dengan ketenangan dan keamanan adalah merupakan janji dari Allah SWT pada saat
umat Islam mampu mewujudkan syarat-syaratnya. Dan Al-Quran telah menegaskan
dengan jelas akan syarat-syarat tamkin dan keharusan menjaganya sepanjang masa.

Allah SWT berfirman:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan
mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka
berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka
berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya
untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka
dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada
mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah
(janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik. Dan dirikanlah sembahyang,
tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat”. (An-Nuur:55-56)

Al-Qur’an Al-Karim telah menegaskan bahwa diantara syarat-syarat tamkin adalah Iman
dengan seluruh makna dan rukun-rukunya, aktif dalam melakukan amal shalih dengan
berbagai macam dan bentuknya, semangat dalam melakukan amal kebajikan dan ragam
perbaikan, mewujudkan hakikat ubudiyah secara integral dan menyeluruh, memerangi
kemusyrikan dengan berbagai macam bentuk dan ragamnya. Sedangkan keharusan untuk
menjaga tamkin tersebut adalah dengan mendirikan shalat, membayar zakat dan mentaati
Rasulullah saw.

Adapun yang berhubungan dengan sebab-sebab tamkin, Allah telah memerintahkan untuk
melakukan persiapan yang menyeluruh seperti dalam firman Allah :

‫أوُّأأععددوُّا لأههمم مماَّ امستأطأمعهتم ممنِّ قهموةة أوُّعمنِّ مربأاَّعط املأخميعل‬

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari
kuda-kuda yang ditambat”. (Al-Anfal:60)

Melakukan persiapan pada hakikatnya merupakan upaya mengambil sebab-sebab, karena itu
yang diminta untuk melakukan persiapan seperti dalam pemahaman ayat diatas adalah
secara menyeluruh; karena kalimat Quwwah (kekuatan) diatas disebutkan dalam bentuk
perintah dengan shighat nakirah (bentuk umum), sehingga mencakup berbagai kekuatan;
kekuatan aqidah dan iman, kekuatan barisan dan pasukan, dan kekuatan senjata dan logistik.

Ayat diatas juga memberikan isyarat kepada umat Islam; untuk membuka wawasan agar
melakukan persiapan secara menyeluruh; persiapan materil maupun inmateril, jiwa maupun
harta, zhahir maupun bathin, ilmu dan fiqh; pada tingkatan individu maupun jamaah. Begitu
pula masuk pada persiapan tarbawi, suluki (prilaku) dan persiapan mali (harta),
telekomunikasi, politik, keamanan dan militer serta persiapan-persiapan lainnya.

Dan pada pembahasan ini kami akan menjelaskan syarat-syarat tamkin dalam fasal (bagian)
tersendiri, dan menjelaskan sebab-sebabnya dalam fasal (bagian) yang lainnya -insya Allah-.
Sehingga umat Islam dapat mengambil manfaat dalam mengintegrasikan harakah dan
berusaha menegakkan syariat Allah di muka bumi ini.

Fasal Pertama

Syarat-Syarat Tamkin

Pembahasan Pertama:

Iman kepada Allah dan beramal shalih

Bahwa Allah telah menjelaskan kepada hambanya akan hakikat iman yang dengannya Allah
menerima segala perbuatan dan dapat mewujudkan janji-janji Allah berupa kemenangan
baik di dunia maupun di akhirat.

Dan diantara syarat untuk mendapatkan dan menjadi khalifah di muka bumi adalah
mewujudkan keimanan dengan berbagai nilai-nilai yang terdapat di dalamnya dan komitmen
dengan syarat-syaratnya serta menghindar dari hal-hal yang bertentangan dengannya.

Al-Qur’an al-karim dan sunnah nabawiyah telah menjejaskan secara rinci tentang makna
iman, rukun-rukun, syarat-syarat dan tuntutan-tuntutan yang terdapat di dalamnya.

Dan para ulama ahlul hadits dalam perjelasan-penjelasan mereka juga telah menegaskan
akan hakikat iman. Mereka berkata: Bahwa iman adalah perbuatan yang dibenarkan dalam
hati, diucapkan pada lisah -dengan mengucapkan dua kalimat syahadat-, dan diamalkan
dalam perbuatan. Atau iman adalah keyakinan, ucapan dan perbuatan. Tiga hakikat tersebut
harus selalu beriringan dan menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Beberapa ucapan para ulama juga banyak menegaskan akan hakikat keimanan, dan mereka
mengambil dalil dari berbagai ayat-ayat Qur’an dan sunnah nabawiyah akan keabsahan
hakikat iman tersebut [1].

Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595]
gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka
(karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang
mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada
mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya”. (Al-Anfal:2-4)

Ayat diatas telah menyatukan –yang menjabarkan sifat dan karakteristik orang-orang
beriman- antara kerja hati dan kerja tubuh (perbuatan), dan menganggap bahwa itu semua
merupakan bagian dari keimanan. Dan disandingkannya kata iman dengan sebutan
pembatasan “innama” , terhadap orang-orang beriman dengan sifat-sifatnya secara
bersamaan, “Merekalah orang memiliki iman yang sebenar-benarnya” sedangkan amal
perbuatan dalam sifat-sifat ini adalah mendirikan shalat dan berinfaq di jalan Allah.

Dalam ayat lain juga disebutkan firman Allah:

“Sesungguhnya orang yang benar benar percaya kepada ayat ayat Kami adalah mereka
yang apabila diperingatkan dengan ayat ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih
dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong”. (As-Sajadah:15),

Bahwa sujudnya orang-orang beriman pada saat mereka berdzikir dengan ayat-ayat Allah
merupakan ibadah amaliyah badaniyah, dan tasbih mereka dengan memuji Allah merupakan
ibadah amaliyah lisaniyah, sementara ketidak sombongan mereka merupakan ibadah
amaliyah sulukiyah akhlakiyah qolbiyah.. dan itu semua merupakan ciri yang terdapat dalam
hakikat keimanan.

Dalam ayat lainnya Allah juga berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan
menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran
terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (Al-Baqoroh:277).

Bahwa diantara hakikat keimanan seperti yang termaktub pada ayat diatas adalah amal
shalih secara umum, dan disebutkan secara bersamaan dalam berdzikir; shalat dan zakat,
yang merupakan ciri keimanan dalam amali.

Bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang menghubungkan antara iman dan amal shalih dan
menjadikan keduanya satu kesatuan dari hakikat keimanan dan bagian dari sifat dan karakter
orang-orang beriman ada banyak. Diantaranya adalah :

Firman Allah SWT:

“Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, Maka mereka itu akan masuk
syurga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun”. (Maryam:60)

Dan firman Allah SWT:

“Tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka Itulah yang
memperoleh Balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan
mereka aman sentosa di tempat-tempat yang Tinggi (dalam syurga)”. (Saba:37)

Dan firman Allah SWT:

“Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-
nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik”. (Al-
Kahfi:30)

Al-Qur’an dalam berbagai ayat-ayatnya, menyebutkan lafadz Iman disamakan dengan amal
(perbuatan), seperti firman Allah:
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan
agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi
saksi atas (perbuatan) kamu. dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu
(sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan
siapa yang membelot. dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa Amat berat, kecuali bagi
orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan
imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia”. (Al-
Baqoroh:143)

Yang dimaksud dengan iman disini adalah shalat. Dan para mufassirin berpendapat akan
makna tersebut, bahkan para sahabat juga memahami demikian, sebagaimana juga sesuai
dengan riwayat tentang asbabbun nuzulnya.

Imam para mufassirin, Ibnu Jarir dalam sanadnya dari Qatadah meriwayatkan, dia berkata:
“Bahwa dalam penentuan qiblat terdapat ujian dan penetralisiran, ketika kaum Anshar
menunaikan shalat menghadap baitul Maqdis dua tahun sebelum datang larangan dari Nabi
saw, dan Nabipun shalat setelah kedatangannya di Madinah dengan berhijrah menghadap
Baitul Maqdis selama 17 bulan.

Kemudian setelah itu Allah SWT memerintahkan kepada nabi dan para sahabatnya untuk
menghadap Ka’bah, di Baitul haram (Mekkah). Dan pada kesempatan itulah orang-orang
munafik dan Yahudi berkata: mengapa mereka merubah arah qiblat yang sebelumnya
mereka lakukan, sungguh ada seseorang -Muhammad- telah rindu dengan tempat
kelahirannya. Allah berfirman:

“Katakanlah –wahai Muhammad- hanya milik Allah arah timur dan barat, dan Allah
memberikan petunjuk ke jalan yang lurus kepada siapa saja yang di Kehendaki”. (Al-
Baqoroh:142)

Beberapa orang –dari kalangan umat Islam- berkata –ketika arah qiblat dirubah menjuju
baitul haram-: “bagaimana dengan amal-amal kita yang sebelumnya kita lakukan
-shalat- mengarah pada qiblat pertama? Maka turunlah ayat Allah:

“Allah SWT sama sekali tidak akan menyia-nyiakan iman kalian”. (Al-Baqoroh:143).

Kemudian imam Thobari menyebutkan sebelas riwayat dari para sahabat dan tabiin bahwa
makna iman pada ayat shalat adalah jawaban atas pertanyaan terhadap sebagian sahabat
akan balasan shalat yang telah mereka lakukan menghadap baitul maqdis, dan pertanyaan
orang lain diantara mereka akan balasan shalat yang dilakukan oleh saudara mereka yang
telah meninggal dunia menghadap baitul maqdis sebelum dirubah menghadap ka’bah [2].

Adapun makna firman Allah:

“Allah SWT sama sekali tidak akan menyia-nyiakan iman kalian”. (Al-Baqoroh:143).

Seperti yang disebutkan dalam riwayat bahwa imanakum maknanya adalah shalat; bahwa
Allah sama sekali tidak menyia-nyiakan iman kepada Rasulullah saw dengan shalat kalian
menghadap baitul maqdis atas perintah-Nya, karena yang demkian kalian telah beriman dan
mempercayai utusan-Ku dan mentaatinya untuk-Ku [3].
Dan imam At-Thobari telah menegaskan adanya ikatan antara iman dengan shalat dan
menjelaskan adanya keimanan dalam menunaikan shalat dan menghadap ke Baitul Maqdis
lalu setelah itu menghadap Ka’bah. Dari penegasan ini terdapat isyarat yang lembut, ikatan
yang disebutkan olehnya sangat mengagumkan, menunjukkan akan kapasitasnya yang
mumpuni dalam tafsir dan bahasa serta yang lainnya [4].

Dan diantara ayat-ayat tentang iman yang sesuai dengan amal adalah firman Allah:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka


diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-
sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan”. (Yunus:9)

Sebagian para mufassirin berpendapat bahwa makna iman disini adalah amal perbuatan
yang mereka lakukan di dunia.. dan imam At-Thobari menyebutkan beberapa ungkapan dari
para tabiin akan makna tersebut, seperti imam Ibnu Juraij berkata: “Allah SWT memberikan
hidayah dengan iman, dia berkata: yaitu perbuatan dalam bentuk kebaikan dan wangi yang
semerbak, yang akan diberikan kepada pelakunya dan diberikan kabar gembira dengan
segala kebaikan, sehingga dia berkata kepadanya: “Siapakah kamu?” maka dia berkata: “Aku
adalah perbuatanmu”. Maka jadilah ia sebagai cahaya yang menerangi alam kuburnya hingga
dirinya dimasukkan ke dalam surga. itulah makna firman Allah: “Allah memberikan petunjuk
oleh karena keimanan mereka”. Adapun orang-kafir akan ditampakkan perbuatannya dalam
bentuk yang buruk dan bau yang busuk dan tidak sedap, yang selalu menemaninya dan
mengirinya sehingga dirinya dilemparkan ke dalam neraka” [5].

Dalam ayat-ayat lainnya juga disebutkan akan makna iman dengan amal shalih. Seperti yang
disebutkan oleh imam Bukhari dalam kitab shahihnya.

Diantaranya firman Allah :

“Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): “Tuhanku tidak mengindahkan kamu,


melainkan kalau ada ibadatmu”. (Al-Furqan:77)

Imam Bukhari berkata: makna “Du’a ukum adalah imanukum (iman kalian).. dan makna doa
dalam bahasa adalah shalat”. Imam Ibnu Abbas juga menyatakan bahwa makna ayat diatas
adalah iman, beliau berkata: Laula du’aukum adalah iman kalian” [6].

Dan diantara ayat lainnya juga disebutkan bahwa Allah berfirman:

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan
tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-
malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya,
anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-
orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan
menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-
orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah
orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa”. (Al-
Baqoroh:177)

Ayat tersebut menjelaskan akan tipe orang beriman yaitu tashdiq dan iman, dan menjadikan
perbuatan baik bagian dari iman. alasannya adalah seperti yang ditafsirkan oleh Rasulullah
saw, diriwayatkan oleh Abdurrazaq dan yang lainnya dari Abu Dzar bahwa beliau bertanya
kepada Rasulullah saw tentang iman, maka beliau membaca ayat ini: “Bukanlah
menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan….” Dan semua perawi
haditsnya adalah tsiqoh [7].

Dan diantara kecerdasan imam Bukhari –sosok yang memiliki pemahaman dalam hadits dan
tafsir- bahwa beliau menjadikan ayat ini dan apa-apa yang di dalamnya merupakan cirri-ciri
kebaikan adalah bagian dari keimanan, dan beliau menggabungkan dalam bab yang disebut
dengan “Bab yang berkaitan dengan Iman” dan beliau mengkaitkannya dengan 10 ayat
pertama dari surat Al-Mu’minun yang berbicara tentang sifat-sifat orang beriman, bersamaan
dengan hadits yang menegaskan bahwa iman memiliki 60 an cabang [8].

Dan dari ayat-ayat ini: tiga ayat yang disebutkan oleh imam Bukhari dalam shahihnya
tergabung dalam bab: “Bahwa siapa yang berkata bahwa iman adalah al-amal”, yaitu firman
Allah:

“Dan Itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu
kerjakan”. (Az-Zukhruf:72)

Imam Ibnu Hajar dalam kitab al-fath berkata: para mufassirin berpendapat bahwa firman
Allah: “Apa yang kamu kerjakan” adalah yang kamu imani.

Adapun ayat kedua adalah:

“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah
mereka kerjakan dahulu”. (Al-Hijr:92-93)

Imam Bukhari berkata tentang makna “La ilaha IllaLLah”. Imam Ibnu Hajar dalam syarahnya
berkata: “Masuk di dalanya orang Islam dan orang kafir, karena orang kafir diperintahkan
juga untuk bertauhid, berbeda dengan sebagian perbuatan yang di dalamnya terdapat
perkhilafan… yang akan ditanya –sebagaimana yang disepakati- adalah masalah tauhid, dan
ini adalah petunjuk khusus, dan petunjuk ayat pada masalah iman lebih utama ketimbang
perbuatan yang masih menjadi perbedaan pendapat [9].

Dari ayat-ayat diatas memberikan penjelasan kepada kita bahwa iman dalam Al-Qur’an
mencakup pada keyakinan, ucapan dan perbuatan, karena itulah apa yang telah diungkapkan
Al-Qur’an harus diikuti dan menjadi petunjuk bagi setiap pendapat dan ucapan serta menjadi
standar dalam mengambil dalil dan intisari, dan juga bagi para pemerhati dan pembahas
tanpa ada keputusan-keputusan lainnya. Karena apa yang telah ditetapkan Al-Qur’an harus
diterima, dan apa yang dijabarkan olehnya harus diambil, apa yang diucapkan maka orang-
orang beriman harus juga mengikutinya.

______________________________________________________

[1]. Lihat: Fi Dzilal Al-iman, Al-Khalidi, hal. 23

[2]. Lihat. Tafsir At-Thobari, jil. 3, hal. 167-169

[3]. Ibid. jil. 3, hal. 169


[4]. Fi Dzilal Al-Iman, hal. 26

[5]. Tafsir At-Thobari, jil. 15, hal. 28

[6]. Shahih Bukhari, kitab al-iman, bab duaukum imanukum, 1/9

[7]. Fathul Bari, kitab al-iman, bab Umurul Iman, 1/74

[8]. Ibid

[9]. Ibid, 1/110