You are on page 1of 23

“ARTHROPODA”

Disusun oleh:

1. Dina Lestari Putri 16330093


2. Rizal Adhitya 16330101

Kelas: FARMASI C
Mata Kuliah: Mikrobiologi dan Virologi
Dosen: Sister Sianturi, S. Si.,M. Si.

PROGRAM STUDI FARMASI S1


FAKULTAS FARMASI
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita senantiasa ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena curahan
rahmat serta karunianya lah kami akhirnya sampai pada tahap menyelesaikan makalah ini.

Kami sekaligus pula menyampaikan rasa terimakasih yang sebanyak-banyaknya untuk


Ibu Sister Sianturi, S. Si.,M Si. selaku dosen mata kuliah Mikrobiologi dan Virologi Jurusan
Farmasi yang telah menyerahkan kepercayaan kepada kami guna menyelesaikan makalah ini.

Kami sungguh-sungguh berharap sekali makalah ini bisa berguna pada tujuan untuk
meningkatkan pengetahuan sekaligus wawasan terkait materi ”ARTHROPODA”
Kami juga sadar bahwa pada makalah ini tetap ditemukan banyak kekurangan serta jauh
dari kesempurnaan. Dengan demikian, kami benar benar menantinya adanya kritik dan saran
untuk perbaikan makalah yang hendak kami tulis di masa yang selanjutnya, menyadari tidak ada
suatu hal yang sempurna tanpa disertai saran yang konstruktif.

Kami berharap makalah sederhana ini bisa dimengerti oleh setiap pihak terutama untuk
para pembaca. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada perkataan yang tidak berkenan
di hati.

Jakarta, 24 Desember 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Cover ......................................................................................................................................
Kata Pengantar .......................................................................................................................
Daftar Isi ................................................................................................................................
Bab I Pendahuluan .................................................................................................................
1.1 Latar Belakang ...........................................................................................................
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................................
1.3 Tujuan Penulisan ........................................................................................................
Bab II Pembahasan ................................................................................................................
2.1 Pengertian Arhtropoda ...............................................................................................
2.2 Klasifikasi dan ciri ciri Arthropoda ...........................................................................
2.3 Crustacea ....................................................................................................................
2.4 Arachnida ...................................................................................................................
2.5 Myriapoda ..................................................................................................................
2.6 Insecta ........................................................................................................................

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Parasitologi adalah ilmu yang mengkaji mengenai sesuatu yang menyebabakan penyakit
atau infeksi oleh parasit, baik jenis parasit atau cara menginfeksi kepada induk semang atau
hospes Parasitme adalah hubungan interaksi antar dua individu dimana salah satu pihak
dirugikan yaitu inangnya, dan pihak lain diuntungkan. Parasit adalah organisme yang hidup pada
atau di dalam tubuh beberapa organisme lain. Parasit bisa menjadi hewan atau tumbuhan yaitu
virus, bakteri, jamur, protozoa, cacing dan arthropoda. Parasit terdiri dari dua macam yaitu,
endoparasit dan ektoparasit. Endoparasit adalah parasit yang hidup di dalam tubuh inangnya.
Contohnya protozoa. Sedang ektoparasit yaitu parasit yang hidup di bagian luar inangnya.
Contohnya insekta.Parasitologi mempelajari parasit, inangnya, dan hubungan diantara keduanya.
Sebagai salah satu bidang studi biologi, cakupan parasitologi tak ditentukan oleh organisme atau
lingkungan terkait, namun dengan cara hidupnya, yang berarti bidang ini bersintesis dengan
bidang lain, dan menggunakan teknik seperti biologi sel, bioinformatika, biokimia, biologi
molekuler, imunologi,genetika, evolusi dan ekologi.

Arthropoda adalah filum yang paling besar dalam dunia hewan dan mencakup serangga,
laba-laba, udang, lipan dan hewan sejenis lainnya. Arthropoda adalah nama lain hewan berbuku-
buku. Hewan-hewan yang termasuk filum moluska memiliki tubuh lunak, tidak bersegmen
dengan bagian anterior kepala. Keadaan tubuh yang lunak itu merupakan dasar pemberian nama
filum ini
Tubuh utama molluska diselubingi oleh lipatan kulit yang disebut pallium, dan ruangan
diantara tubuh utama dengan pallium yang disebut cavtum pallil.
Hewan ini memiliki coelem yang sempit. Sebagian besar moluska hidup di laut tetapi
banyak juga yang hidup di air tawar bahkan beberapa hidup di darat sampai ketinggian 6.000 m.
Filum ini dibagi menjadi 5 kelas diantaranya: kelas Chilopoda, kelas Diplopoda, kelas Crustacea,
kelas Arachnida, dan kelas Insecta.

1
Arthropoda biasa ditemukan di laut, air tawar, darat, dan lingkungan udara, termasuk
berbagai bentuk simbiosis dan parasit. Hampir dari 90% dari seluruh jenis hewan yang diketahui
orang adalah arthropoda.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apakah pengertian arthropoda itu?


2. Bagaimana klasifikasi arthropoda itu?
3. Apa sajakah kelas arthropoda?
4. Apa sajakah perbedaan kelas arthropoda?

1.3 TUJUAN PENULISAN

1. Untuk mengetahui pengertian arthropoda


2. Untuk mengetahui klasifikasi arthropoda
3. Untuk mengetahui kelas arthropoda
4. Untuk mengetahui perbedaan kelas arthropoda

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Arhtropoda
Arthropoda adalah filum yang paling besar dalam dunia hewan dan tumbuhan, laba-laba,
udang, lipan, dan hewan sejenis lainnya. Arthropoda biasa ditemukan di laut, udara tawar, darat,
dan lingkungan udara, termasuk berbagai bentuk simbiosis dan parasit. Kata Arthropoda berasal
dari bahasa Yunani ἄρθρον árthron, "ruas, buku, atau segmen", dan πούς pous (podos), "kaki",
yang jika disatukan berarti "kaki berbuku-buku". Arthropoda juga dikenal dengan nama hewan
berbuku-buku.
Karakteristik yang membedakan arthropoda dengan filum yang lain yaitu: tubuh
bersegmen, segmen biasanya bersatu menjadi dua atau tiga daerah yang jelas, anggota tubuh
bersegmen berpasangan (asal penamaan Arthropoda), simetri bilateral, eksoskeleton berkitin.
Secara berkala mengalir dan diperbaharui sebagai pertumbuhan hewan, kanal alimentari seperti
pipa dengan mulut dan anus, sistem sirkulasi terbuka, hanya pembuluh darah yang biasanya
berwujud sebuah struktur dorsal seperti pipa menuju kanal alimentar dengan bukaan lateral di
daerah abdomen, rongga tubuh; sebuah rongga darah atau hemosol dan selom tereduksi.
Sistem saraf mereka seperti tangga tali, terdiri atas sebuah ganglion anterior atau otak
yang berlokasi di atas kanal alimentari, sepasang penghubung yang menyalurkan dari otak ke
sekitar kanal alimentari dan tali saraf ganglion yang berlokasi di bawah kanal alimentary,
ekskresi biasanya oleh tubulus malphigi. Tabung kosong yang masuk kanal alimentari dan
material hasil ekskresi melintas keluar lewat anus, respirasi dengan insang atau trakhea dan
spirakel, tidak ada silia atau nefridia.
Penglihatan mereka bergantung pada berbagai variasi kombinasi mata majemuk dan
ocelli (mata tunggal) yang berbentuk mangkuk pigmen: pada kebanyakan spesies ocelli hanya
dapat mendeteksi arah dari sumber cahaya, dan mata majemuk adalah sumber informasi utama,
tetapi mata utama pada laba-laba adalah ocelli yang dapat membentuk bayangan dan dalam
beberapa kasus, dapat berputar untuk melacak mangsa. Arthopoda juga memiliki berbagai sensor
kimia dan mekanik, sebagian besar didasarkan pada modifikasi dari banyak setae (bulu) yang
keluar melalui kutikula mereka. Metode repoduksi Artropoda beragam; semua spesies darat
menggunakan pembuahan dalam, tetapi sering dilakukan dengan cara pemindahan sperma tidak
langsung. Spesies air menggunakan pembuahan dalam atau pembuahan luar. Hampir semua

3
artropoda bertelur, tetapi kalajengking melahirkan setelah telurnya menetas di dalam tubuh
induknya.

2.2 Klasifikasi dan Ciri-ciri Artropoda

Arthropoda umumnya diklasifikasikan dalam lima upafilum, yang salah satunya telah
punah:

1. Trilobitomorpha adalah upafilum yang terdiri atas banyak spesies laut yang telah punah.

2. Chelicerata meliputi laba-laba, tungau, kalajengking, dan organisme lain yang terkait.
Karakteristik mereka adalah memiliki kalisera, yaitu tambahan di atas/di depan mulut. Kalisera
pada kalajengking tampak seperti cakar kecil yang digunakan untuk makan, tetapi kalisera pada
laba-laba telah berkembang menjadi taring yang menyuntikkan racun.

3. Myriapoda meliputi kaki seribu, lipan, dan kerabatnya. Mereka memiliki banyak segmen
tubuh, setiap segmen memiliki satu atau dua pasang kaki. Mereka kadang-kadang
dikelompokkan dengan hexapoda.

4. Krustasea umumnya adalah hewan air (kecuali kutu kayu) dan karakteristiknya adalah
memiliki tambahan biramous. Termasuk dalam Crustacea adalah lobster, kepiting, teritip, udang,
dan banyak lainnya.

5. Hexapoda meliputi serangga dan tiga ordo kecil hewan mirip serangga dengan enam kaki
toraks. Mereka kadang-kadang dikelompokkan dengan myriapoda, dalam sebuah kelompok yang
dinamakan Uniramia, meskipun bukti genetik lebih cenderung mendukung pengelompokan yang
lebih dekat antara hexapoda dan crustace.

4
Arthropoda dalam dunia hewan merupakan filum yang terbesar di dunia. Empat dari lima
bagian spesies hewan adalah arthropoda, dengan jumlah di atas satu juta spesies modern yang
ditemukan dan rekor fosil yang mencapai awal Cambrian. Jumlah spesiesnya yaitu sekitar
900.000 spesies dengan beragam variasi. Jumlah ini kira-kira 80% dari spesies hewan yang
diketahui sekarang. Arthropoda dapat hidup di air tawar, laut, tanah, dan praktis semua
permukaan bumi dipenuhi oleh spesies ini. Arthropoda dianggap berkerabat dekat dengan
Annelida, contohnya adalah Peripetus di Afrika Selatan.
Arthropoda mungkin satu-satunya yang dapat hidup di Antartika dan liang-liang batu
terjal di pegunungan yang tinggi. Semua anggota filum ini mempunyai tubuh beruas-ruas dan
kerangka luar yang tersusun dari kitin. Rongga tubuh utama disebut hemocoel. Hemocoel terdiri
dari sejumlah ruangan kecil yang dipompa oleh jantung. Jantung terletak pada sisi dorsal dari
tubuhnya.

Perbedaan Empat Kelas Antropoda :


Ciri – cirri Crustacea Arachnida Myriapoda Insecta
Chilopoda Diplopoda
Pembagian Kepala dada Sefalothoraks Kepala dan Kepala dan Kepala,
Tubuh (sefalothoraks) dan abdomen abdomen abdomen, dada dan
dan abdomen (perut) yang bentuknya perut
gepeng silindris
Jumlah Sepasang pada Tiga pasang Tiap ruas Tiap ruas 3 pasang
kaki setiap ruas (5 pada dada terdapat terdapat dua
pasang pada dada) sepasang pasang kaki
kaki
Sayap Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Ada 1 atau
2 pasang
Jumlah 2 pasang Tidak ada 1 pasang 1 pasang 1 pasang
antenna
Alat Insang dan Paru – paru Trakea Trakea Trakea
respirasi permukaan tubuh buku
Habitat Air tawar dan laut Darat Darat Darat Darat

5
Berdasarkan ciri-ciri yang dimilikinya, Arthropoda dikelompokkan menjadi 4 kelas, yaitu:

2.3 Crustacea (golongan udang).

Crustacea adalah hewan ukuatik yang hidup di air laut, air tawar,dan tempat yang
lembab. Ukurannya bervariasi, dari mikroskopis (penyusun zooplankton) hingga yang berukuran
besar seperti kepiting.

Setiap anggota Crustacea subphylum (Arthropoda phylum), kelompok hewan


invertebrata yang terdiri dari beberapa spesies 45.000 didistribusikan di seluruh dunia, pada
umumnya hidup di air (akuatik), ada yang hidup di laut, air tawar, dan di tempat yang lembab.
Crustacea yang hidup di laut sebagian besar merupakan zooplankton. Ukuran tubuh bervariasi,
ada yang kecil (plankton) sampai dengan ukuran yang besar, seperti kepiting dan udang.
Anggota Crustacea antara lain meliputi udang, teritip, dan lobster. Beberapa larva dari
beberapa spesies anggota kelas ini tingga di dalam liang, sedangkan yang lain bersifat pelagic,
bahkan ada yang menghuni laut dalam. Sebagian besar hidup bebas dan ada yang hidup dalam
kelompok-kelompok besar.
A. Morfologi dan Anatomi
Permukaan tubuh crustacea dilindungi kutikula yang tersusun dari zat kitin yang
ditambah dengan garam-garam mineral dan bersifat sangat keras. Tubuhnya dibedakan menjadi
cefalotorak dan abdomen yang terdiri dari segmen-segmen (kepala 5, torak 8, dan abdomen 6)
masing-masing dengan satu pasang anggota tubuh yang terdiri atas ruas-ruas. Setiap segmen
tubuh dibedakan atas tergum (bagian dorsal), sternum (bagian ventral), pleura (lateral tubuh).
Cefalotorak terdiri atas 13 segmen yang terlindung oleh karapak. Ujung anterior karapak
merupakan rostrum. Antena dan antenula merupakan struktur indera. Kaki jalan berfungsi untuk
bergerak, memegang makanan, dan membersihkan tubuhnya. Kaki renang sebagai alat renang,
respirasi, dan pembawa telur pada hewan betina.
B. Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan terdiri atas mulut, esophagus, lambung, usus, dan anus. Lambung
dibedakan atas dua bagian yaitu bagian yang besar (anterior) disebut kamar kardiaka dan yang
kecil adalah pylorus. Usus merupakan tabung kecil yang mengarah ke arah posterior tubuh dan
bermuara pada anus yang terletak pada permukaan ventral telson. Di dalam usus terjadi
penyerapan zat-zat makanan oleh dinding usus.Makanan udang pada prinsipnya adalah hewan-

6
hewan yang masih hidup antara lain, siput, berudu, larva insekta, dan ikan-ikan kecil. Namun
udang juga memakan material organik yang membusuk.
C. Sistem Sirkulasi
Alat peredaran terdiri atas darah dan pembuluh darah. Darah terdiri atas cairan darah
yang hampir tidak berwarna dan corpuscula darah atau amoebocyt yang berupa sel-sel ameboid.
Fungsi darah yaitu mengangkut material makanan dari satu bagian tubuh ke bagian yang lain,
mengangkut oksigen dari insang menuju jaringan-jaringan tubuh, mengangkut CO2 menuju ke
insangdan mengangkut urea menuju alat ekskresi.

D. Sistem Respirasi
Diantara bagian lateral karapak dan dinding badan terdapat rongga-rongga atau kamar-
kamar yang berisi insang dan bagian ventral kamar tersebut terbuka. Insang merupakan
penjuluran dinding badan yang berbentuk bulu dan mengandung pembuluh darah. Skafognatit
(bagian berbentuk sadel) dari maxilla II bergerak ke depan dan ke belakang menarik air yang
kaya oksigen menuju ke filamen insang.
E. Sistem Ekskresi
Alat ekskresi berupa sepasang bangunan yang lebar, disebut “kelenjar hijau” terletak di
bagian bawah kepala, anterior esophagus. Setiap kelenjar terdiri atas bagian glanduler berwarna
hijau, vesica urinaria, terbentuk dari dilatasi dinding yang tipis dan saluran yang bermuara keluar
melalui suatu pori terletak di bagian ventral pada segmen basal antena. Fungsi kelenjar hijau
adalah membuang sisa metabolisme tubuh.
F. Sistem Saraf
Sistem saraf udang mirip cacing tanah, tetapi relative lebih besar. Sistem saraf terdiri atas
ganglion supraesofageal (otak) yang bercabang ke saraf-saraf mata, antenula, dan antenna.
Sepasang saraf penghubung yang berhubungan dengan ganglion subesophageal yang terletak di
belakang mulut bagian ventral.
G. Sistem Reproduksi
Udang bersifat diesius, yang betina memiliki abdomen yang lebih besar di bandingkan
yang jantan. Alat reproduksi udang jantan terdiri atas sepasang testis, sepasang vas deferens, dan
sepasang vesikula seminalis. Alat reproduksi udang betina terdiri atas sepasang ovari dan
sepasang oviduk.

7
Pembuahan terjadi di luar tubuh. Ketika musim reproduksi udang jantan dan udang betina
mengadakan kopulasi. Pada saat kopulasi spermatozoa akan di tampung dalam penampung
sperma, kemudian kedua hewan berpisah. Beberapa hari kemudian, udang betina membersihkan
daerah abdomennya dengan menggunakan kaki renagnya. Kemudian udang betina membalikkan
tubuhnya, melipat tubuh dan keluarlah sekresi berupa lendir yang menyelaputi kaki renang.
Ovum akan keluar dari oviduk sekitar 200-400 buah dan akan dibuahi oleh spermatozoa yang
keluar dari kantong penampung spermatozoa. Telur tetap melekat pada kaki renang sampai
menetas.

Klasifikasi Crustacea
Berdasarkan ukuran tubuhnya Crustacea dikelompokkan sebagai berikut:
1. Entomostraca (udang tingkat rendah)
Kelompok Entomostraca umumnya merupakan penyusun zooplankton, adalah melayang-
layang di dalam air dan merupakan makanan ikan. Adapun pembagian ordo yang termasuk
Entomostraca antara lain:

A. Branciopoda
Contoh:Daphnia pulex dan Asellus aquaticus
Hewan ini sering disebut kutu air dan merupakan salah satu penyusun zooplankton. Pembiakan
berlangsung secara parthenogenesis.
B. Ostracoda
Contoh: Cypris candida.
Hidup di air tawar dan laut sebagai plankton,tubuh kecil dan dapat bergerak dengan antena.
C. Copecoda
Contoh: Argulus incidus,Cyclops.
Hidup di air laut dan tawar dan merupakan plankton dan parasit segmentasi tubuhnya jelas.
D. Cirripedia
Contoh: Lepas atau Bernakel, Sacculina. Tubuh dengan kepala dan dada ditutupi karapaks
berbentuk cakram dan hidup di laut melekat pada batu atau benda lain. Cirripedia ada yang
bersifat parasit. Cara hidup Cirripedia beraneka ragam. Salah satu diantaranya adalah Bernakel

8
yang terdapat pada dasar kapal, perahu dan tiang-tiang yang terpancang di laut atau mengapung
di laut.
2. Malakostraca (udang tingkat tinggi)
Hewan ini kebanyakan hidup di laut, adapula yang hidup di air tawar. Tubuhnya terdiri
atas sefalotoraks yaitu kepala dan dada yang bersatu serta perut (abdomen). Malakostraca dibagi
menjadi 3 ordo, yaitu Isopoda, Stomatopoda dan Decapoda.
A. Isopoda
Tubuh pipih, dorsiventral, berkaki sama.
Contoh: Onicus asellus (kutu perahu) dan Limnoria lignorum. Keduanya adalah pengerek kayu.
B. Stomatopoda
Contoh: Squilla empusa (udang belalang). Hidup di laut, bentuk tubuh mirip belalang sembah
dan mempunyai warna yang mencolok. Belakang kepala mempunyai karapaks. Kepala
dilengkapi dengan dua segmen anterior yang dapat bergerak, mata dan antena.
C. Decapoda (si kaki sepuluh)
Yang termasuk ordo ini adalah udang dan ketam. Hewan ini mempunyai sepuluh kaki dan
merupakan kelompok udang yang sangat penting peranannya bagi kehidupan manusia. Decapoda
banyak digunakan sebagai sumber makanan yang kaya dengan protein. Contohnya adalah udang,
kepiting, ketam dan rajungan. Kepala – dada menjadi satu (cephalothorax) yang ditutupi oleh
karapaks. Tubuh mempunyai 5 pasang kaki atau sepuluh kaki sehingga disebut juga hewan si
kaki sepuluh. Hidup di air tawar, dan beberapa yang hidup di laut. Beberapa contoh Decapoda
berikut uraiannya, yaitu:
A. Udang
 Penacus setiferus (udang windu), hidup di air payau, enak dimakan dan banyak
dibudidayakan.
 Macrobrachium rasenbengi (udang galah), enak dimakan, hidup di air tawar dan payau.
 Cambarus virilis (udang air tawar)
 Panulirus versicolor (udang karang), hidup di air laut dan tidak memiliki kaki catut.
 Palaemon carcinus (udang sotong)
B. Ketam:
 Portunus sexdentatus (kepiting)
 Neptunus peligicus (rajungan) / Pagurus sp.

9
 Parathelpusa maculata (yuyu)
 Scylla serrata (kepiting)
 Birgus latro (ketam kenari)

2.4 Arachnida (golongan kalajengking dan laba-laba).

Arachnida adalah kelas hewan invertebrata Arthropoda dalam subfilum Chelicerata. Istilah
arachnid berasal dari bahasa Yunani άράχνη atau arachne, berarti laba-laba, dan juga merujuk
pada figur mitologi Yunani, Arachne. Di dalamnya termasuk hewan seperti laba-laba,
kalajengking, serta ketonggeng.
Arachnida pada umumnya berhabitat di darat. Tubuh bersegmen terdiri atas sefalotoraks
serta abdomen yang tak beruas. Di bagian sefalotoraks terdapat organ-organ berikut ini :
1. Empat pasang kaki.
2. Delapan buah mata sederhana di bagian depan.
3. Satu pasang klisera (taring pisau mengandung racun berbentuk gunting atau catut untuk
melumpuhkan mangsa).
4. Sepasang pedipalpus yang berfungsi sebagai indra, tangan, maupun alat untuk
melakukan kopulasi.
5. Suatu organ di depan anus yang menghasilkan sutra disebut spineret; terdapat pada
beberapa jenis Arachnida.
Arachnida bermanfaat untuk pengendalian ppopulasi serangga, terutama serangga hama.
Akan tetapi, hewan-hewan Arachnida lebih banyak merugikan manusia, misalnya Sarcoptes
scabei menyebabkan gatal atau kudis pada manusia, Psoroptes equi menyebabkan kudis pada
ternak domba, kelinci, dan kuda, Otodectes cynotis menyerang anjing dan kucing, dan
Dermacentor variabilis sebagai vektor demam Rocky Mountain.
Arachnida terdiri dari beberapa ordo, yaitu :
a. Scorpiones
Spesies yang termasuk scorpiones mencakup segala macam kala, antara lain
kalajengking, kala buku, dan kala laba-laba. Tubuh Scorpiones dibagi mrenjadi dua,
yaitu sefalotoraks (disebut juga prosoma) dan bagian perut (opithosoma). Pedipalpusnya
berbentuk seperti capit besar, sedangkan kelisera-keliseranya kecil. Segmen terakhir

10
bagian posterior atau ekor mempunyai alat penyengat. Ekor biasanya melengkung di atas
punggung dan berfungsi untuk melumpuhkan mangsa.
Contoh: Centruroides exilicauda
Kalajengking berbahaya di Afrika Utara dan Timur tengah adalah genus
Androctonus,Buthus Hottentotta,(Leiurus),Amerika Selatan (Tityus),India (Mesobuthus)
dan Mexico (Centruroides).
b. Araneae
Ordo ini mencakup berbagai jenis laba-laba. Tubuhnya terdiri dari dua segmen, delapan
kaki, dan tidak memiliki sayap serta bagian mulut untuk mengunyah. Semua laba-laba
menghasilkan sutra, yaitu lembaran protein kuat yang dikeluarkan melalui spineret,
biasanya terdapat di bagian ujung abdomen. Pada laba-laba penjaring, terdapat alat untuk
membuat jaring pada bagian tengah perut. Dalam jaringnya, laba-laba tidak terperangkap
karena laba-laba mempunyai kelenjar minyak anti rekat di kakinya.
c. Acarina
Acarina mencakup caplak dan tungau. Ciri khas acarina ialah tubuhnya tidak berbuku-
buku.
Contoh:
 Caplak
 Psoroptes equil
 Ododectes cynotis
 Dermacentor anadersoni
 Sarcoptes scabiei

2.5 Myriapoda (golongan luwing).

Myriapoda adalah gabungan dari kelas Chilopoda dan Diplopoda dengan tubuh beruas-ruas
dan setiap ruas mempunyai satu pasang atau dua pasang kaki. Tubuh dapat dibagi menjadi dua
bagian yaitu kepala dan abdomen (perut). Hewan ini banyak dijumpai di daerah tropis dengan
habitat di darat terutama tempat yang banyak mengandung sampah, misal kebun dan di bawah
batu-batuan.
Tubuh terdiri atas kepala (cephalo) dan perut (abdomen) tanpa dada (toraks), dan beruas-
ruas, terdiri atas ± 10 hingga 200 segmen. Dibagian kepala terdapat satu pasang antena sebagai

11
alat peraba dan sepasang mata tunggal (ocellus). Penambahan jumlah segmen terjadi pada tiap
pergantian kulit.
Alat gerak pada kelompok hewan Chilopoda adalah satu pasang kaki di tiap segmen perut
kaki, sedangkan pada Diplopoda terdapat dua pasang kaki pada tiap segmen perut, kecuali
segmen terakhirnya. Eksoskeleton terdiri dari kulit keras dari zat kitin yang berfungsi melindungi
alat-alat dalam, tempat melekatnya otot dan memberi bentuk tubuh. Zat kitin tidak larut dalam
air, alkohol, alkalis, asam maupun getah pencernaan hewan lain. Kulit kitin yang tipis terletak
pada perbatasan antara dua segmen, yaitu di bawah kulit kitin yang tebal. Dengan adanya kulit
kitin yang tipis inilah maka hewan ini dapat bergerak leluasa. Kulit kitin ini mengalami eksdisis.
Myriapoda dapat dikatakan tidak memberi keuntungan bagi manusia, bahkan ada beberapa yang
dianggap mengganggu meski tidak membahayakan. Namun Myriapoda ternyata mempunyai
andil dalam memecah bahan-bahan organik atau serasah untuk membentuk humus. Serasah ialah
lapisan daun dan ranting-ranting di dasar hutan atau kebun. Proses penghancuran serasah tidak
langsung ditangani mikroorganisme, karena mikroorganisme justru menguraikan kotoran hewan-
hewan.

Sistem Organ Keterangan


Sistem pencernaan Saluran pencernaannya lengkap dan mempunyai kelenjar ludah.
Chilopoda bersifat karnivor dengan gigi beracun pada segmen
pertama, sedangkan Diplopoda bersifat herbivor, pemakan
sampah dan daun-daunan.
Sistem respirasi Organ pernapasan berupa satu pasang trakea berspirakel yang
terletak di kanan kiri setiap ruas, kecuali pada Diplopoda terdapat
dua pasang di tiap ruasnya.
Sistem peredaran darah Sistem peredaran darahnya bersifat terbuka. Organ transportasi
berupa jantung yang panjang dan terletak memanjang di bagian
punggung tubuh. Pada Chilopoda terdapat sepasang ostium di tiap
segmen, sedangkan pada Diplopoda terdapat dua pasang ostium di
tiap segmen. Darah tidak berwarna merah karena tidak
mengandung hemoglobin (Hb), melainkan hemosianin yang larut
dalam plasma. Dari jantung darah dipompa ke dalam arteri ke tiap

12
segmen, dan kembali ke jantung lewat hemosoel (rongga tubuh
yang mengambil bagian dalam peredaran darah).
Sistem ekskresi Organ ekskresi berupa dua pasang pembuluh Malpighi yang
bertugas mengeluarkan cairan yang mengandung unsur Nitrogen
(N).
Sistem syaraf Sistem syarafnya disebut syaraf tangga tali dengan alat penerima
rangsang berupa satu pasang mata tunggal dan satu pasang antena
sebagai alat peraba.
Sistem reproduksi Reproduksi secara seksual, yaitu dengan pertemuan ovum dan
sperma (fertilisasi internal). Myriapoda ada yang vivipar dan ada
yang ovipar.

Dalam penggolongannya Myriapoda merupakan gabungan dari dua subkelas, yakni:


A. Chilopoda
Contoh: kelabang : Lithobius forticatus dan Scolopendra morsitans.
Ciri-ciri :
 Tubuh agak gepeng, terdiri atas kepala dan badan yang beruas-ruas (15 –173 ruas). Tiap
ruas memiliki satu pasang kaki, kecuali ruas (segmen) di belakang kepala dan dua
segmen terakhirnya. Pada segmen di belakang kepala terdapat satu pasang “taring bisa”
(maksiliped) yang berfungsi untuk membunuh mangsanya. Pada kepala terdapat sepasang
antena panjang yang terdiri atas 12 segmen, dua kelompok mata tunggal dan mulut.
Hewan ini memangsa hewan kecil berupa insecta, mollusca, cacing dan binatang kecil
lainnya, sehingga bersifat karnivora.
 Alat pencernaan makanannya sudah sempurna artinya dari mulut sampai anus. Alat
eksresi berupa dua buah saluran malphigi.
 Respirasi (pernafasan) dengan trakea yang bercabang-cabang dengan lubang yang
terbuka hampir pada setiap ruas.
 Habitat (tempat hidup) di bawah batu-batuan/timbunan tumbuhan yang telah membusuk.
Kelas ini sering disebut Sentipede.

13
B. Diplopoda
Contoh: kaki seribu (Julus nomerensis) dan Polydesmuscollaris sp.
Ciri-ciri :
Tubuh berbentuk silindris dan beruas-ruas (25 – 100 segmen) terdiri atas kepala dan badan.
Setiap segmen (ruas) mempunyai dua pasang kaki, dan tidak mempunyai “taring bisa”
(maksiliped). Pada ruas ke tujuh, satu atau kedua kaki mengalami modifikasi sebagai organ
kopulasi.
 Pada kepala terdapat sepasang antena yang pendek, dua kelompok mata tunggal.
 Hidup di tempat yang lembab dan gelap dan banyak mengandung tumbuhan yang
telah membusuk.
 Respirasi dengan trakea yang tidak bercabang.
 Alat respirasi dua buah saluran Malpighi

2.6 Insecta (serangga).

Serangga (disebut pula Insecta) adalah kelompok utama dari hewan beruas (Arthropoda)
yang bertungkai enam (tiga pasang); karena itulah mereka disebut pula Hexapoda (dari bahasa
Yunani yang berarti "berkaki enam"). Serangga merupakan hewan beruas dengan tingkat
adaptasi yang sangat tinggi. Ukuran serangga relatif kecil dan pertama kali sukses berkolonisasi
di bumi.
Tubuh Insecta beruas-ruas, terdiri atas segmen kepala, dada, dan perut. Kepala Insecta terdiri
atas satu segmen yang sebenarnya merupakan persatuan dari enam segmen. Pada bagian terdapat
:
1. Sepasang mata faset (majemuk) yaitu mata yang memiliki beberapa omatidium (mata
tunggal).
2. Sepasang antena/alat peraba.
3. Tiga pasang mulut, yaitu rahang muka, rahang tengah, dan rahang belakang.
Dada (toraks) terdiri dari tiga segmen, yaitu protoraks, mesotoraks, dan metatoraks. Pada
bagian dada terdapat tiga pasang kaki yang beruas-ruas. Pada beberapa Insecta, di bagian
kakinya terdapat keranjang serbuk sari. Pada umumnya Insecta mempunyai dua pasang sayap.

14
Bagian perut terdiri atas kurang lebih 11 ruas. Ruas belakang (bagian posterior) berfungsi
sebagai alat reproduksi. Dalam kehidupan Insecta dikenal adanya perubahan bentuk
(metamorfosis).

Menurut metamorfosisnya, Insecta dapat dikelompokkan dalam beberapa kelompok, seperti :


1. Tanpa metamorfosis
Kelompok hewan ini bentuk dan kehidupan larvanya merupakan miniatur dari bentuk
dan kehidupan hewan dewasa.
2. Metamorfosis tidak sempurna
Pada kelompok hewan ini, telur menetas menjadi larva yang mirip dengan hewan
dewasanya tetapi tidak memiliki sayap serta struktur reproduksi. Larva akan mengalami
beberapa kali ganti kulit sebelum menjadi dewasa.
3. Metamorfosis sempurna
Kelompok hewan ini mengalami empat tahap dalam siklus hidupnya, yaitu telur, larva,
pupa, dan imago (hewan dewasa). Larvanya tidak mirip dengan hewan dewasanya. Pada
tahap pupa, hewan akan membentuk kepompong untuk melindungi dirinya selama
pembentukan tubuh dewasa. Hewan dewasa memiliki struktur reproduksi dan sayap.
Beberapa Insecta bersifat menguntungkan, antara lain untuk dimakan, misalnya laron, untuk
obat-obatan tradisional, misalnya madu, untuk bahan pakaian sutera, misalnya kepompong
Bombyx mori, membantu proses penyerbukan berbagai macam tumbuhan, di bidang ekologi,
Insecta merupakan bagian dari rantai makanan yang sangat penting dari berbagai konsumen, dan
berbagai Insecta tanah berperan dalam penggemburan tanah.
Insecta dibagi menjadi beberapa ordo, misalnya :
A. Thysanura
Anggota Apterygota ini dianggap serangga yang paling primitif. Batas antara kepala,
dada, dan perutnya tidak jelas. Thysanura muda maupun tua mempunyai struktur sama,
tumbuh semakin besar dengan lambat dan selama masa hidupnya selalu berganti kulit
(ekdisis).
Contoh:
 Tricholepidion gertschi
 Lepisma saccharina

15
 Allonicoletia tendeiroi

B. Isoptera
Hewan ini memiliki dua pasang sayap asli yang tipis dan berukuran sama. Contohnya
adalah rayap (laron) dan capung.
Contoh:
 Amitermes beaumonti
 Coptotermes formosanus
 Incisitermes minor
C. Hemiptera
Tipe mulut hemiptera adalah menusuk dan mengisap. Hewan ini bersayap dua pasang
atau tidak bersayap. Beberapa jenis dalam kelompok hewan ini memiliki kemampuan
menghasilkan bunyi. Sebagian spesies bersifat predator dan sebagian lain menghisap
darah manusia.
Contoh:
 Leptocorisa acuta (Walang Sangit)
 Acanthosoma haemorrhoidale
 Chamaesyce celastroides
 Pyrrhocoris apterus
D. Orthoptera
Orthoptera (serangga bersayap lurus) bersayap dua pasang. Sayap depan lebih tebal,
lebih sempit, dan lebih kuat daripada sayap belakangnya. Sayap digunakan sebagai
penggerak pada waktu terbang, setelah meloncat dengan tungkai belakangnya yang lebih
besar dan kuat.
Contoh:
 Microcentrum rhombifolium (Belalang Daun)
 Gryllus mitratus (Jangkrik)
 Anamesacris zolotarevskyi

16
E. Lepidoptera
Lepidoptera (serangga bersayap sisik) bersayap dua pasang dan tertutup sisik yang
membentuk pola warna. Mulut larvanya mempunyai pengunyah. Pada hewan dewasa,
mulut pengispnya panjang dan berongga untuk mengisap madu dari berjenis-jenis
tumbuhan. Lepidoptera mencakup kupu-kupu dan ngengat.
Contoh:
 Bombyx mori (Kupu-kupu Sutra)
 Acanthopteroctetes bimaculata
 Striglina augescere
 Papilio blumei
H. Siphonaptera
Siphonaptera (serangga jenis kutu) tidak bersayap. Tubuh berbentuk pipih lateral, yaitu
jarak tubuh dari kiri ke kanan kecil sekali dibandingkan jarak dari sisi ventral ke
dorsalnya.Hidup sebagai parasit pada hewan,. Berkaki pendek, namun kuat untuk
meloncat, sehingga sesuai untuk melekat pada burung ataupun hewan inangnya. Mulut
bertipe menusuk dan mengisap. Memiliki mata tunggal (oselus).
Contoh:
 Ancistropsylla siamensis
 Baculomeris altmani
 Callopsylla changduensis

I. Diptera
Diptera meliputi 80.000 jenis termasuk nyamuk dan lalat. Hewan ini bersayap satu
pasang atau dua pasang. Sayap belakang mengalami penyusutan menjadi alat indra
khusus untuk keseimbangan tubuh yang disebut halter.
Contoh:
 Adia dejeanii
 Brevicosta africana
 Musca domestica (Lalat Rumah)

17
J. Coleoptera
Coleoptera (serangga bersayap perisai) bersayap dua sayang. Sayap depan tebal,
permukaannya halus serta mengandung zat tanduk, disebut elitra. Sayap belakang tipis
berupa selaput. Bila sedang hinggap, sayap selaput terlipat di bawah perisai sayap elitra.
Serangga ini memiliki tipe mulut pengunyah.
Contoh:
 Calosoma scrutator
 Byrrhodes intermedius
 Caenocara scymnoides
K. Hymenoptera
Hymenoptera (serangga bersayap selaput) bersayap dua pasang, sayap belakang lebih
tipis dan lebih kecil daripada sayap depan. Serangga ini hidup berkoloni dan mempunyai
seekor ratu. Hewan ini mempunyai alat indra yang lebih berkembang daripada serangga
lainnya. Beberapa Hymenoptera mempunyai ligula (lidah) panjang dan lentur. Rambut-
rambut pada ligula berfungsi sebagai peraba, perasa, maupun pengumpul nektar.
Contoh:
 Apis indica (Lebah Madu)
 Trachelus labidus
 Janus abbreviatus

L. Neuroptera
Neuroptera (serangga bersayap jala) biasanya membuat perangkap atau liang berbentuk
kerucut dengn kedalaman sekitar 1,5 hingga 2,5 cm di permukaan tanah. Pada masa
pupa, hewan ini tinggal di dalam kepompong liat di dalam pasir. Hewan dewasa
bersayap dua pasang, tipis, dan bannyak urat yang membentuk gambaran mata jaring
serupa dengan capung.
Contoh:
 Abascalaphus nigripes
 Acmonotus incusifer
 Campylophlebia magnifica

18
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Parasitologi adalah ilmu yang mengkaji mengenai sesuatu yang menyebabakan
penyakit atau infeksi oleh parasit, baik jenis parasit atau cara menginfeksi kepada induk
semang atau hospes Parasitme adalah hubungan interaksi antar dua individu dimana
salah satu pihak dirugikan yaitu inangnya, dan pihak lain diuntungkan.
2. Parasit adalah organisme yang hidup pada atau di dalam tubuh beberapa organisme
lain. Parasit bisa menjadi hewan atau tumbuhan yaitu virus, bakteri, jamur, protozoa,
cacing dan arthropoda.
3. Arthropoda adalah filum yang paling besar dalam dunia hewan dan tumbuhan, laba-
laba, udang, lipan, dan hewan sejenis lainnya. Arthropoda biasa ditemukan di laut,
udara tawar, darat, dan lingkungan udara, termasuk berbagai bentuk simbiosis dan
parasit.
4. Filum Arthopoda dibagi menjadi empat subfilum yaitu Trilobita, Chelicerata,
Myriapoda,Crustacea dan Hexapoda.

19
DAFTAR PUSTAKA

 Radiopoetro, 1996. Zoologi. Penerbit Erlangga. Jakarta


 Rusyan, adun.2011.Zoologi invertebrate (teori dan praktik). Alfeta. Bandung.
 Slamet Adeng dan Madang Kodri.2008.Zoologi Vertebrata.laboratorium biologi program
studi pendidikan biologi FKIP UNSRI. Indralaya
 Diana. 2008. Phylum Arthropoda.(http://gurungeblog.wordpress.com/2008/11/
12/phylum-arthropoda/).
 Shelley, Rowland M. Centipedes and Millipedes with Emphasis onNorth America Fauna.
(http://www.emporia.edu/ksn/v45n3-march1999/).
 Yeti, Theresia. 2011. Heterometrus spinifes (Kalajengking). (http://kacandewe.
blogspot.com/2011/08/heterometrus-spinifes-kalajengking.html).

20