You are on page 1of 5

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pembangunan Proyek Percepatan Pembangkit Tenaga Listrik berbahan bakar batubara
berdasarkan pada Peraturan Presiden RI Nomor 71 Tahun 2006 tanggal 05 Juli 2006 tentang
penugasan kepada PT. PLN (Persero) untuk melakukan Percepatan Pembangunan Pembangkit
Tenaga Listrik yang menggunakan batubara. Perpres ini menjadi dasar bagi pembangunan 10
PLTU di Jawa dan 25 PLTU di Luar Jawa Bali atau yang dikenal dengan nama Proyek
Percepatan PLTU 10.000 MW. Pembangunan proyek

proyek PLTU tersebut guna mengejar pasokan tenaga listrik yang akan mengalami defisit
sampai beberapa tahun

mendatang, serta menunjang program diversifikasi energi untuk pembangkit tenaga listrik ke non
bahan bakar minyak (BBM) dengan memanfaatkan batubara berkalori rendah (4200 kcal/kg).
Dengan mulai beroperasinya PLTU Rembang yang berada di Desa Sluke Rembang pada bulan
September 2011 ikut mendukung tercapainya percepatan proyek 10.000 MW. PLTU Rembang
terdiri dari 2 buah generator 300 MW yang berperan menyuplai daya pada jaringan transmisi
150 kV untuk mencukupi kebutuhan pelanggan, khusus nya di sistem Jawa Tengah (Pati dan
Rembang) maka memerlukan keandalan sistem kelistrikan serta kontinuitas dari operasi
pembangkit. Salah satu metoda yang dilakukan untuk memperoleh keandalan sistem adalah
performa sistem proteksi dengan koordinasi relay

relay pengamannya. Oleh sebab itu untuk meningkatkan perfoma sistem proteksi perlu
dilakukan analisis terhadap setelan dan koordinasi relay yang ada khususnya relay pengaman
arus lebih. Analisis ini dapat dilakukan dengan menggambarkan kurva karakteristik relay
pengaman arus lebih. Dengan menganalisis hal ini, diharapkan akan dapat mencegah atau
membatasi kerusakan jaringan beserta peralatannya ketika terjadi ganguan dan juga mencegah
putusnya suplai daya listrik pada daerah yang tidak ada gangguan
1.2 Maksud Dan Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk : 1.

Mengetahui koordinasi relay sistem pengaman yang terpasang pada jaringan tenaga listrik pada
transformator auxiliary yang ada pada PLTU Rembang. 2.

Mendapatkan setting relay yang ideal untuk sistem pengamanan dalam jaringan tenaga listrik di
PLTU Rembang
1.3 Perumusan Masalah
Permasalahan yang akan dibahas didalam tugas akhir ini adalah : 1.

Bagaimana respon sistem pengamanan kelistrikan pada PLTU Rembang ketika terjadi gangguan
sehingga dapat mengisolasi gangguan segera sehingga tidak menimbulkan dampak yang lebih
luas.

2.
Menentukan nilai setting relay yang ideal dalam sistem pengamanan kelistrikan pada PLTU
Rembang.
1.4 Batasan Masalah
1. Studi analisa koordinasi relay pengaman hanya difokuskan pada relay arus lebih ( Over
current relay ) dan relay ganguan tanah ( ground fault relay ). 2. Studi analisa dilakukan pada
jaringan distribusi untuk pemakaian sendiri pada PLTU Rembang.
1.5 Sasaran
Dapat mengetahui dan mendapatkan setting relay arus lebih dan relay gangguan tanah yang
sesuai pada sistem pengaman jaringan tenaga listrik pada penggunaan sendiri.

2.

Menentukan nilai setting relay yang ideal dalam sistem pengamanan kelistrikan pada PLTU
Rembang.
1.4 Batasan Masalah
1. Studi analisa koordinasi relay pengaman hanya difokuskan pada relay arus lebih ( Over
current relay ) dan relay ganguan tanah ( ground fault relay ). 2. Studi analisa dilakukan pada
jaringan distribusi untuk pemakaian sendiri pada PLTU Rembang.
1.5 Sasaran
Dapat mengetahui dan mendapatkan setting relay arus lebih dan relay gangguan tanah yang
sesuai pada sistem pengaman jaringan tenaga listrik pada penggunaan sendiri.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1

Gangguan Hubung Singkat


Pada sistem tenaga listrik tidak terlepas dari terjadinya berbagai macam ganguan. Pada sistem
tenaga listrik, gangguan (fault)yang terjadi dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1.

Gangguan listrik Jenis gangguan ini adalah gangguan listrik yang timbul dan terjadi pada bagian

bagian listrik. 2.

Gangguan mekanis Jenis gangguan ini terjadi dikarenakan adanya kerusakan secara fisik dari
peralatan.

3.

Gangguan sistem Jenis gangguan ini terjadi berhubungan dengan kondisi parameter pada sistem.
Bila ditinjau dari segi lamanya gangguan, jenis gangguan dapat dikelompokkan menjadi dua
macam yaitu: 1.

Gangguan temporer. 2.

Gangguan permanen.
2.2 Relay Arus Lebih ( Overcurrent Relay )
Relay arus lebih merupakan suatu jenis relay yang bekerja berdasarkan besarnya arus masukan,
dan apabila besarnya arus masukan melebihi suatu harga tertentu yang dapat diatur (Ip) maka
relay arus lebih bekerja. Dimana Ip merupakan arus kerja yang dinyatakan menurut gulungan
sekunder dari trafo arus (CT). Bila suatu gangguan terjadi di dalam daerah perlindungan rele,
besarnya arus gangguan ( If ) yang juga dinyatakan terhadap gulungan sekunder CT juga. Relay
akan bekerja apabila memenuhi keadaan sebagai berikut If > Ip relay bekerja (trip) If < Ip tidak
bekerja (blok)
2.3

Setting Relay Pengaman


1.

SettingArus Pada dasarnya batas penyetelan relay arus lebih adalah relay tidak boleh bekerja
pada saat beban maksimum. Arus settingnya harus lebih besar dari arus beban maksimumnya. 2.

Setting Waktu Penyetelan waktu kerja relay terutama dipertimbangkan terhadap kecepatan dan
selektivitas kerja dari rele, sehingga relay tidak salah operasi, yang dapat menyebabkan tujuan
pengaman tidak berarti.
2.4

Relay Gangguan ke Tanah (Ground Fault Relay )


Gangguan yang sering terjadi di sistem tenaga listrik ialah gangguan fasa ke tanah. Oleh karena
itu perlu dipasang relay pengaman untuk mengamankan sistem dari terjadinya gangguan
tersebut. Relay yang berfungsi untuk mengamankannya ialah Groud Fault Relay

(GFR). Relay ini dilengkapi zero sequence current filter. Relay gangguan ketanah dapat
digunakan pada sistem yang mampu membatasi arus gangguan ketanah. Misalnya sistem dengan
pentanahan resistansi dimana impedansi yang rendah mampu mengurangi arus gangguan
ketanah. Rangesetting dari relay ini misal 20% - 80% dari rating arusnya atau bahkan lebih
rendah, referensi lain menggunakan 10% - 50% [2].Pengaman ini akan aktif jika arus sisa
Iresidu = Ia+Ib+Ic yang mengalir naik melebihi setting arus. Gambar 1. Residual CT Gambar 2.
Zero CT

Penelitian Terdahulu
1.

pada tahun 2014 LUTHFAN BAGUS SAPUTRA dalam kesimpulan tugas akhirnya
yang berjudul “STUDI EVALUASI SETING
RELAY PROTEKSI HUBUNG SINGKAT TRANSFORMATOR 21 KV/ 512,5 KV
TERHADAP GANGGUAN
HUBUNG SINGKAT 3 FASA DI PT. YTL” mengatakan Seting waktu
relay proteksi hubung singkat pada unit 5 dan 6 di PT. YTL kurang tepat. Karena relay ini akan
menyuruh circuit breaker untuk membuka jika waktu gangguan hubung singkat (tF) sama dengan
3 detik dan ini tidak sesuai dengan batas kemampuan transformator untuk menahan lamanya
waktu gangguan hubung singkat (tF) yaitu maksimal selama 2 detik. Agar sesuai dengan batas
kemampuan transformator menahan gangguan hubung singkat, maka seting waktu relay tersebut
yang tepat adalah 2 detik.

2.

Pada tahun 2009 irfan affandi dalam kesimpulan tugas akhirnya yang berjudul “
ANALISA SETTING RELAY ARUS LEBIH DAN RELAY GANGGUAN TANAH PADA
PENYULANGAN SADEWA DI CAWING
”. Menyatakan dari hasil
perhitungan dapat dilihat bahwa besarnya arus gangguan hubung singkat dipengaruhi oleh jarak
titik gangguan, semakin jauh jarak titik gangguan maka semakin kecil arus gangguan hubung
singkatnya, begitu pula sebaliknya. Bab iii metedologi penelitian a.

studi literatur penelitian dimulai dengan studi literatur mengenai topik terkait. Topic terkait yang
dimaksud antaranya mengenai teory dasar perhitungan arus hubung singkat, teori dasar untuk
setting relay arus lebih dan relay gangguan tanah dan juga teori

teori yang pernah dipakai pada penelitian penelitian terdahulu. Studi literatur ini dilakukan
antara lain dengan membaca buku, membaca jurnal, membaca hasil penelitian yang sejenis atau
berkaitan, mencari di internet, dan berdiskusi dengan pembimbing atau teman. b.

pengumpulan data

setelah mendalami dan mengerti teori- teori yang berkaitan dengan penelpitian, langkah
selanjutnya adalah pengumpilan data yang diperlukan untuk proses analisa, seerti data peralatan-
peralatan listrik yang ada pada sistem kelistrikan serta gambar diagram line dari sistem
kelistrikannya. Pengumpulan data diperoleh dari perusahaan yang bersangkutan dengan
penelitian ini. c.

pengolahan data pada tahap ini penulis melakukan perhitungan- perhitungan mulai dari : 1.
perhitungan dasar arus listrik
ZV I

Dimana :
Ι=a
rus yang mengalir pada hambatan V =tegangan sumber Z = impedansi jaringan 2.

perhitungan gangguan 3 fasa


13
Z E I
phhs

3.

perhitungan arus hubung singkat 2 fasa

212
3
Z Z E I
phhs

4.

perhitungan arus hubung singkat 1 fasa

http://www.academia.edu/8591428/PROPOSAL_TUGAS_AKHIR_STUDI_ANALISIS_BEBA
N_LISTRIK