You are on page 1of 4

1.

Anopheles
Nyamuk Anopheles sp adalah nyamuk vektor penyakit malaria Spesies
Anopheles yang menjadi vektor utama malaria di dunia sekitar 70 spesies dari
total 424 spesies. Jumlah spesies yang menjadi vektor malaria semakin
bertambah dengan penemuan spesies baru melalui kegiatan identifikasi dan
penelitian bionomik (WHO, 2011). Nyamuk Anopheles yang berperan
sebagai vektor malaria pada manusia di Asia Tenggara pada umumnya
merupakan cryptic species (sibling species/ isomorphic species) dan
dimasukkan dalam takson spesies komplek. Anggota spesies komplek
tersebut memiliki morfologi yang mirip satu sama lain sehingga seringkali
keliru dalam identifikasi. Anggota spesies komplek berkerabat dekat secara
genetik, namun terisolasi secara reproduktif. Karakter dan bionomik spesies
berbeda, oleh karena itu berpengaruh secara langsung pada epidemiologi dan
pengendalian. Perbedaan karakter dan bionomik tersebut meliputi kapasitas
vektorial, resistensi terhadap insektisida, 3 preferensi inang sumber darah,
periodisitas dan tempat istirahat. Sehingga proses identifikasi spesies nyamuk
Anopheles merupakan langkah yang sangat penting untuk lebih mengenal
karekteristik-karakteristik yang dimiliki oleh berbagai jenis nyamuk
Anopheles (Permana, 2013).
Malaria disebabkan oleh protozoa parasit dari genus plasmodium,
terdapat empat spesies plasmodium yang menjadi parasit pada manusia, yaitu
: Plasmodium (P) vivax, P. malariae, P. falciparum dan P. Ovale. Proses daur
hidup keempat plasmodium ini pada umumnya sama yang terdiri atas dua
fase, yaitu fase seksual (sporogoni) dalam badan nyamuk Anopheles betina
dan fase aseksual (skizogoni) dalam tubuh manusia. Siklus hidup seksual
plasmodium pada tubuh nyamuk apabila nyamuk anopheles betina menghisap
darah penderita malaria (mengandung gametosit), didalam tubuh anopheles
betina maka gamet jantan akan membuahi gamet betina menjadi zigot yang
nantinya akan berkembang menjadi ookinet kemudian menembus dinding
lambung nyamuk. Pada dinding luar lambung nyamuk ookinet akan menjadi
ookista. Pada Inti ookista akan membelah dan masing-masing inti diliputi
oleh protoplasma dan mempunyai bentuk memanjang (10-15 mikron) disebut
sporozoit, kemudian ookista akan pecah dan ribuan sporozoit dibebaskan dan
kemudian memasuki kelenjar liur. Sporozoit ini bersifat infektif dan akan
menjadi sumber baru penularan malaria yang akan ditularkan kemanusia
(Mirza, 2013).
Siklus hidup aseksual plasmodium dimulai dari tubuh nyamuk betina
yang telah mengandung sporozoit, nyamuk tersebut akan menghisap darah
manusia sehat. Pada saat nyamuk betina menghisap darah maka terjadi
transmisi patogen yaitu sporozoit yang terdapat pada kelenjar liur akan
berpindah kedalam aliran darah melalui proboscis . Sporozoit kemudian
menuju hati dan masuk kedalam sel hati dan menjadi tropozoit hati.
Kemudian tropozoit hati akan berkembang menjadi skizon hati (skizogoni pra
eritrosit) yang terdiri dari 10.000–30.000 merozoit hati. Siklus ini dikatakan
siklus ekso-eritrositer yang berlangsung selama kurang lebih dua minggu.
Pada P. vivax dan P. Ovale sebagian tropozoit hati tidak langsung
berkembang menjadi skizon, namun menjadi hipnozoit (bentuk dorman).
Hipnozoit dapat tinggal di dalam sel hati selama berbulan-bulan hingga
bertahun-tahun. Skizon akan pecah dan melepaskan merozoit yang akan
masuk ke peredaran darah dan meninfeksi sel darah merah. Selanjutnya
merozoit akan berubah bentuk menjadi tropozoit dan berkembang menjadi
skizon (terdapat 8-30merozoit, tergantung spesiesnya). Proses perkembangan
secara aseksual ini disebut dengan skizogoni. Eritrosit yang telah terinfeksi
akan pecah menyebabkan merozoitkeluar dan akan menginfeksi sel darah
merah lainnya, siklus ini disebut siklus eritrositer yang terjadi pada eritrosit
(sel darah merah). Sebagian merozoit yang menginfeksi eritrosit akan
membentuk stadium seksual yaitu bentuk gametosit yang dapat dibedakan
sebagai gametosit jantan (mikro gametosit) dan gametosit betina (makro
gametosit). Setelah ditemukan bahwa vektor penyakit malaria merupakan
nyamuk genus Anopheles dilakukan lagi klasifikasi nyamuk Anopheles yang
menjadi vektor malaria, dikarenakan tidak semuwa genus dari Anopheles
mampu menjadi vektor malaria pada suatu daerah (Ahmad, 2011).
Tubuh nyamuk dewasa terdiri atas tiga bagian utama yaitu kepala
(caput), dada (thorax) dan perut (abdomen). Pada bagian kepala terdapat dua
mata majemuk yang besar, dua antenna dan mulut. Antenna pada nyamuk
terdiri atas 15 segmen, yang masing-masing mempunyai sekelompok rambut,
dari rambut inilah dapat dibedakan antara nyamuk jantan dan nyamuk betina
apabila nyamuk betina nyamuk jantan rambut pada bagian antenanya terlihat
lebih tebal jika dibandingkan dengan antena pada nyamuk betina. Mulut
terdiri atas proboscis berfungsi untuk menusuk menghisap, bagian mulut
lainnya tertutup labium kecuali palpus maxilaris yang terdapat stylet
didalamnya. Pada bagian proboscis juga berguna membedakan antara genus
Toxorhynchitus dengan Anopheles, dengan perbedaan proboscis runcing dan
melengkung kebawah pada genus Toxorhynchitus, dan prosboscis tidak
runcing dan lurus pada genus Anopheles. Thoraks terdiri atas 3 bagaian yaitu,
prothorax, mesothorax, dan metathorax, yang masing-masing memiliki alat
lokomotor berupa sepasang kaki. Dan bagian mesothorax merupakan bagian
yang paling besar dan memiliki otototot yang kuat karena terdapat sepasang
sayap. Pada bagian metathorax bagian post dorsal terdapat scutellum yang
menjadi penentu identifikasi. Pada laboraturium referensi scutellum
digunakan untuk membedakan genus Toxorhynchitus, Anopheles (memiliki
scutellum 3 lobi) dengan genus Armigeres, Mansonia, Culex, Aedes yang
memiliki 1 lobi pada scutellum. Kaki dan sayap pada nyamuk merupakan
organ yang sangat penting diidentifikasi dan merupakan kunci identifikasi
menuju spesies pada genus Anopheles yaitu dengan melihat perbedaan pada
kakinya. Abdomen terdiri atas 8 segmen yang tampak jelas dan segmen ke-9
dan 10 bentuknya berubah menjadi alat kelamin. Masing-masing segmen
terdiri atas lempeng atas atau dorsal yang disebut tergit dan lempeng bawah
atau ventral disebut strenit. Tergit dan sternit masing-masing segmen
berhubungan melalui membrane pleura dan segmen depan berhubungan
melalui membrane pleura depan dihubungkan dengan segmen belakangnya
oleh membrane intersegment (selaput antar segmen). Pada bagian kelamin
banyak dijadikan perbandingan untuk identifikasi seperti contoh spermatheca
pada nyamuk betina dapat membedakan antara sibling spesies (Mirza, 2013).
Daftar Pustaka

Ahmad, Rohani . Ali, Wan. Nor, Zurainee M., Ismail, Zamree., Hadi, Azahari A.,
Ibrahim, Mohd N and Lim, Lee H. 2011. Mapping of mosquito breeding
sites in malaria endemic areas in Pos Lenjang, Kuala Lipis, Pahang,
Malaysia. Malaria Journal . 10:361

Nuryadi, Mirza. 2013. Identifikasi Morfologi : Spesies Vektor Malaria Di


B2p2vrp Salatiga. Jember : Universitas Jember.

Permana, D.H,. 2012. Variasi Sekuen Anopheles balabacensis Baisas (diptera :


culicidae) berdasarkan Segmen ITS2 DNA Ribosom dan Gen COI DNA
Mitokondria di Purworejo : Tesis S-2. Program Pascasarjana, Fakultas
Kedokteran, Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta. Takano,

World Health Organization. World Malaria Report 2011; Geneva; WHO; 2011