You are on page 1of 40

MAKALAH

ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS


ASUHAN INTRANATAL DAN ASUHAN BAYI BARU LAHIR DAN
NEONATUS

Dosen Pembimbing :
Diah Eka Nugraheni, M.Keb

Oleh :
Kelompok III
Leki Meika
Luky Febriani
Mareta Yolanda Caes S
Mutia Putri
Nadhyifa
Nur Fitriyani
Nurma Sela
Orin Yesvika Putri S
Popi Andini
Rahayu Widianti
Rigita Tiya Nora Nika

POLTEKKES KEMENKES BENGKULU


TAHUN AKADEMIK 2018/2019

1
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha


Esa, karena berkat rahmat, ridho dan hidayah-Nya lah sehingga saya dapat
menyelesaikan makalah mata kuliah Asuhan Kebidanan Komunitas dengan
judul Asuhan Intranatal Dan Asuhan Bayi Baru Lahir Dan Neonatus.

Tak lupa pula, sholawat beriring salam saya kirimkan kepada junjungan
Nabi Besar Muhammad SAW, yang telah membawa kita semua ke zaman yang
terang benderang seperti sekarang.

Saya juga mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang


telah membantu saya dalam penyelesaian makalah ini. Terutama kepada dosen
pembimbing saya, Diah Eka Nugraheni, M.Keb.

Saya menyadari bahwa memang makalah ini belum sempurna


seutuhnya. Untuk itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca
guna untuk perbaikan di masa yang akan datang.

Terakhir pesan dari saya semoga makalah ini dapat dipahami dan
selanjutnya dapat dimanfaatkan dibidang pendidikan dan dunia kerja, serta
bermanfaat untuk pembangunan kesehatan bangsa ini.

Bengkulu, Oktober 2018

Penuli

2
DAFTAR ISI

Judul .................................................................................................................... i
Kata Pengantar .................................................................................................... ii
Daftar Isi.............................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................................... 2
B. Rumusan Masalah .......................................................................................... 3
C. Tujuan ............................................................................................................. 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Asuhan Intranatal. ..........................................................................................5
B. Asuhan Bayi Baru Lahir dan Neonatus ..........................................................13
C. Pelayanan Kesehatan Pada Bayi .....................................................................20
D.Perawatan Kesehatan Bayi ..............................................................................22
E. Perawatan Kesehatan Anak Balita ..................................................................25
F. Pemantauan Tumbuh Kembang Bayi/ Balita Deteksi Dini ..........................29
G.Imunisasi .........................................................................................................31

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan .................................................................................................... 36
B. Saran ............................................................................................................... 36

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 38

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pemahaman tentang persalinan sebagai multifaktor akan
memberikan dasar terhadap pendekatan yang berpusat pada ibu dalam
menejemen asuhan intranatal. Menejemen asuhan intranatal di komunitas
merupakan suatu pendekatan yang terpusat kepada individu dimasyarakat
yang membutuhkan kemampuan analisis tinggi dan cepat terutama yang
berhubungan dengan aspek sosial, nilai-nilai dan budaya setempat. Dengan
memberikan asuhan intranatal yang tepat dan sesuai standar, diharapkan
dapat membantu menurunkan angka kematian ibu dan bayi akibat
perdarahan pada saat persalinan.
Kesehatan ibu dan anak adalah pangkal kesehatan dan
kesejahteraan bangsa. Ibu sehat akan melahirkan anak yang sehat, menuju
keluarga sehat dan bahagia. Mengingat anak – anak merupakan salah satu
aset bangsa maka masalah kesehatan anak memerlukan prioritas masih
cukup tinggi. Sekitar 37,3 juta penduduk di Indonesia hidup di bawah
garis kemiskinan, setengah dari total rumah tangga mengkonsumsi
makanan kurang dari kebutuhan sehari-hari, lima juta balita berstatus gizi
kurang, lebih dari 100 juta penduduk beresiko terhadap berbagai masalah
kurang gizi. Dalam hal kematian, Indonesia mempunyai komitmen untuk
mencapai sasaran Millenium Development Goals (MDG’s) untuk
mengurangi jumlah penduduk yang miskin dan kelaparan serta
menurunkan angka kematian balita menjadi tinggal setengah dari keadaan
pada tahun 2000 (Syarief,Hidayat.2004). Sumber daya manusia terbukti
sangat menentukan kemajuan dan keberhasilan pembangunan suatu
Negara. Terbentuknya sumber daya manusia yang berkualitas, yaitu
sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan produktif.. Pada bayi dan
balita, kekurangan gizi dapat mengakibatnya terganggunya pertumbuhan
dan perkembangan fisik, mental dan spiritual. Bahkan pada bayi,
gangguan tersebut dapat bersifat permanen dan sangat sulit untuk

4
diperbaiki. Dengan demikian akan mengakibatkan rendahnya kualitas
sumber daya manusia. Negara dan bangsa juga akan menderita bila ibu,
anak dan keluarga serta masyarkat tidak sehat. Sebab kematian bayi sangat
erat hubungannya dengan tingkat sosial ekonomi, keadaan gizi dan
pelayanan kesehatan.
Berdasarkan uraian diatas penulis mengambil pokok pembahasan
tentang peran seorang Bidan sebagai tenaga kesehatan di komunitas dalam
melakukan Pelayanan Kesehatan pada Bayi dan Balita.

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja yang termasuk standar pelayanan kebidanan ?
2. Bagaimana pertolongan persalinan dirumah ?
3. Apa saja persiapan bidan untuk persalinan dirumah ?
4. Bagaimana persiapan rumah dan lingkungan ?
5. Apa saya persiapan alat dan bidan kit ?
6. Bagaimana persiapan ibu dan keluarga ?
7. Bagaimana menajemen ibu intranatal ?
8. Kapan jadwal kunjungan untuk asuan BBL dan neonatus ?
9. Bagaimana menajemen pada BBL dan neonatus ?
10. Bagaimana pelayanan kesehatan pada bayi dan balita ?
11. Bagaimana perawatan kesehatan bayi ?
12. Bagaimana perawatan kesehatan anak balita ?
13. Bagaimana pemantauan tumbuh kembang anak bayi dan balita/deteksi
dini ?
14. Apa yang dimaksud dengan imunisasi ?

C. Tujuan
1. Menjelaskan standar pelayanan kebidanan
2. Menjelaskan pertolongan persalinan dirumah
3. Mendeskripsikan persiapan bidan untuk persalinan dirumah
4. Menjelaskan persiapan rumah dan lingkungan
5. Mendeskripsikan persiapan alat dan bidan kit

5
6. Menjelaskan persiapan ibu dan keluarga
7. Menjelaskan menajemen ibu intranatal
8. Menjelaskan kunjungan untuk asuan BBL dan neonatus
9. Menjelaskan menajemen pada BBL dan neonatus
10. Menjelaskan pelayanan kesehatan pada bayi dan balita
11. Menjelaskan perawatan kesehatan bayi
12. Menjelaskan perawatan kesehatan anak balita
13. Menjelaskan pemantauan tumbuh kembang anak bayi dan
balita/deteksi dini
14. Menjelaskan yang dimaksud dengan imunisasi

6
BAB II
PEMBAHASAN

A. Asuhan Intranatal
Asuhan Intranatal adalah proses pemberian asuhan pada ibu
bersalin atau melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan
yang aman dan dilakukan oleh tenaga kesehatan kompeten, yaitu dokter
spesialis kebidanan, dokter umum dan bidan.
1. Standar Pelayanan Kebidanan
a. Asuhan saat Persalinan
Bidan menilai secara tepat bahwa persalinan sudah mulai,
kemudian memberikan asuhan dan pemantauan yang memadai
dengan memperhatikan kebutuhan klien, selama proses persalinan
berlangsung.
b. Persalinan yang Aman
Bidan melakukan pertolongan persalinan yang aman, dengan sikap
sopan dan penghargaan terhadap klien serta memperhatikan tradisi
setempat.
c. Pengeluaran Plasenta dengan Penegangan Tali Pusat
Bidan melakukan penegangan tali pusat dengan benar untuk
membantu pengeluaran plasenta dan selaput ketuban secara
lengkap.
d. Penanganan Kala II dengan Gawat Janin melalui Episiotomi
Bidan mengenali secara tepat tanda-tanda gawat janin pada kala II
yang lama dan segera melakukan episiotomi dengan aman untuk
memperlancar persalinan, diikuti dengan penjahitan perineum.
2. Pertolongan Persalinan di Rumah:
a. Persiapan Bidan Untuk Persalinan di Rumah
Sampai saat ini belum ada pendidikan khusus untuk
menghasilkan tenaga bidan yang bekerja dikomunitas. Di
Indonesia pendidikan bidan yang ada sekarang diarahkan untuk
menghasilkan bidan yang mampu bekerja di desa. Bidan yang

7
bekerja di desa, puskesmas, maupun puskesmas pembantu dilihat
dari tugas-tugasnya berfungsi sebagai bidan komunitas.
Persiapan bidan dalam memberikan asuhan intranatal
dikomunitas adalah harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya
terutama dari segi kompetensi, sehingga dapat memberikan
pelayanan persalinan yang bersih dan aman serta tau saat yang
tepat untuk merujuk kasus-kasus kegawatdaruratan. Dengan
demikian bisa menyelamatkan ibu dan bayi dan menurunkan AKI.
Persiapan bidan meliputi:
1) Menilai secara tepat bahwa persalinan sudah dimulai,
kemudian memberikan asuhan dan pemantauan yang memadai
dengan memperhatikan kebutuhan ibu selama proses
persalinan.
2) Mempersiapkan ruangan yang hangat dan bersih serta nyaman
untuk persalinan dan kelahiran bayi.
3) Persiapan perlengkapan, bahan-bahan dan obat-obatan yang
diperlukan dan pastikan kelengkapan jenis dan jumlah bahan-
bahan yang diperlukan serta dalam keadaan siap pakai pada
setiap persalinan dan kelahiran bayi.
4) Mempersiapkan rujukan bersama ibu dan keluarganya, karena
jika terlambat untuk merujuk ke fasilitas yang memadai akan
membahayakan keselamatan ibu dan bayinya, apabila terjadi
rujukan siapkan dan sertakan dokumentasi asuhan yang telah
diberikan.
5) Memberikan asuhan sayang ibu, seperti memberi dukungan
emosional, membantu pengaturan posisi ibu, memberikan
cairan dan nutrisi, memberikan keleluasaan untuk
menggunakan kamar mandi secara teratur, serta melalukan
pertolongan persalinan yang bersih dan aman dengan teknik
pencegahan infeksi.

8
b. Persiapan Ruangan dan Lingkungan
Ruangan atau lingkungan dimana proses persalinan akan
berlangsung harus memiliki:
1) Tersedia ruangan yang bersih dan layak.
2) Terdapat sumber air bersih, air panas dan air dingin.
3) Tersedianya penerangan yang baik, ranjang sebaiknya
diletakkan ditengah-tengah ruangan agar mudah didekati dari
kiri maupun kanan, dan cahaya sedapat mungkin tertuju pada
tempat persalinan.
4) Terdapat fasilitas telepon yang bisa diakses untuk
menghubungi ambulance jika diperlukan saat melakukan
rujukan atau tersedianya mobil yang bisa digunakan saat
diperlukan untuk merujuk. Persiapan untuk mencegah
terjadinya kehilangan panas tubuh berlebihan, perlu disiapkan
juga lingkungan yang sesuai bagi BBL dengan memastikan
bahwa ruangan bersih, hangat, pencahayaan yang cukup dan
bebas dari tiupan angin.
Pada intinya untuk persiapan rumah dan lingkungan dapat
dibedakan menjadi berikut:
1) Situasi dan kondisi
Situasi dan kondisi yang harus diketahui oleh keluarga,
yaitu:
a) Rumah cukup aman dan hangat
b) Tersedia ruangan untuk proses persalinan
c) Tersedia air mengalir
d) Terjamin kebersihannya
e) Tersedia sarana media dokumentasi
2) Rumah
Tugas bidan adalah mengecek rumah sebelum usia
kehamilan 37 minggu dan syarat rumah diantaranya:
a) Ruangan sebaiknya cukup luas
b) Adanya penerangan yang cukup

9
c) Tempat nyaman
d) Tempat tidur yang layak untuk proses persalinan
c. Persiapan Alat atau Bidan Kit
Perlengkapan yang harus disiapkan untuk melakukan
persalinan dirumah:
1) Persiapan Pertolongan Persalinan
a) Tensi meter
b) Stetoskop
c) Monoaural
d) Jam yang mempunyai detik
e) Termometer
f) Partus set
g) Heating set
h) Bahan habis pakai (injeksi oksitosin, lidokain, kapas, kassa,
detol atau lisol)
i) Set kegawatdaruratan
j) Bengkok
k) Tempat sampah basah, kering dan tajam
l) Alat-alat proteksi diri
2) Persiapan untuk Bayi
a) Handuk bayi
b) Tempat tidur bayi
c) Botol air panas untuk menghangatkan alas
d) Pakaian bayi
e) Selimut bayi
d. Persiapan Ibu dan Keluarga
Persalinan adalah saat yang menegangkan bahkan dapat
menjadi saat yang menyakitkan dan menakutkan bagi ibu. Upaya
untuk mengatasi gangguan emosional dan pengalaman yang
menegangkan dapat dilakukan dengan asuhan sayang ibu selama
proses persalinan. Adapun persiapan ibu dan keluarga diantaranya:
1) Waskom besar

10
2) Tempat atau ember tempat penyediaan air
3) Kendil atau kwali tempat untuk ari-ari
4) Tempat untuk cuci tangan (air mengalir), sabun, handuk kering
5) Dua kain panjang
6) BH menyusui
7) Pembalut
8) Handuk
9) Dua washlap
10) Perlengkapan pakaian bayi
11) Selimut bayi
12) Kain halus untuk mengeringkan dan membungkus bayi
13)
e. Manajemen Ibu Intranatal
Manajemen asuhan intranatal dirumah dibagi dalam empat
tahap sesuai dengan tahap yang ada dalam persalinan, yaitu kala
I,II,III,IV.
Dengan memberikan asuhan intranatal yang baik dan sesuia
dengan standar, maka bidan dapat memberikan pertolongan
persalinan yang memadai dan tepat waktu, meningkatkan cakupan
persalinan oleh tenaga kesehatan, dan menurunkan angka kejadian
sepsis puerpuralis pada ibu nifas, sehingga membantu menurunkan
angka kematian atau kesakitan ibu dan bayi.
1) Asuhan Persalinan Kala I
Pemberian asuhan persalinan kala I yang bertujuan
untuk memberikan pelayanan yang memadai dalam
pertolongan persalinan yang bersih dan aman. Adapun tugas
dan proses atau langkah-langkah yang harus dilalui dalam
memberikan asuhan persalinan kala I meliputi :
a) Melakukan penilaian secara tepat kapan persalinan dimulai.
b) Mampu memberikan asuhan yang memadai dengan
memperhatikan kebutuhan ibu
c) Terampil dalam melakukan pertolongan persalinan

11
d) Menghargai hak dan pribadi ibu serta tradisi setempat
e) Mengizinkan adanya pendamping
Sebelum bidan melakukan menajemen asuhan kala I,
bidan perlu mengingat konsep asuhan sayang ib, rujuk apabila
partograf melewati garis waspada atau ada kejadian-kejadian
penting lain, serta lakukan observasi ketat apabila didapat
penyimpangan dalam partograf.
Langkah-langkah asuhan intranatal kala I meliputi:
a) Mengizinkan ibu memilih pendamping persalinan
b) Bidan harus segera dating kerumah ibu apabila dipanggil
c) Memperhatikan proses pencegahan infeksi
d) Melakukan anamnesis secara lengkap tentang kehamilan
ibu
e) Melakukan pemeriksaan panggul secara lengkap
f) Melakukan pemeriksaan dalam sesuai dengan kebutuhan
atau indikasi
g) Melakukan pemantauan kemajuan persalinan dengan
menggunakan partograf
h) Dokumnetasi secara lengkap semua kejadian dalam lembar
observasi dan partograf
i) Berikan dukungan moral pada ibu, suami, dan keluarga
j) Libatkan keluarga secara aktif dalam proses persalinan
k) Jelaskan proses persalinan yang berlangsung dan beritahu
setiap kemajuan
l) Lakukan manajeman nyeri nonfarmakologi (masase
punggung, relaksai, dan lain-lain)
m) Lakukan persiapan untuk pertolongan persalinan
2) Asuhan Persalinan Kala II
Manajeman asuhan persalinan kala II bertujuan untuk
memastikan proses persalinan aman, baik untuk ibu maupun
bayi. Tugas yang harus dikerjakan bidan dalam asuhan
persalinan kala II adalah sebagai berikut:

12
a) Melakukan pertolongan persalinan bersih dan aman
b) Menghargai hak ibu sebagai pribadi
c) Menghargai tradisi setempat
d) Mengizinkan ibu untuk memilih pendamping persalinan
Langkah-langkah asuhan intranatal kala II yaitu:
a) Berikan pendampingan dan hargai ibu dalam proses
persalinan
b) Memastikan tersedianya ruangan dan peralatan yang
dibutuhkan
c) Cuci tangan dengan air mengalir sebelum dan sesudah
melakukan tindakan
d) Bantu ibu memilih posisi yang diinginkan
e) Kosongkan kandung kemih setiap 2 jam sekali
f) Anjurkan ibu mengejan hanya jika ada dorongan ingin
mengejan
g) Berikan pujian kepada ibu
h) Berikan minuman yang mengandung gula pada saat tidak
ada his
i) Lakukan observasi ketat DJJ setiap tidak ada his apabila
terjadi gawat janin percepat persalinan dengan melakukan
episiotomi
j) Hindari peregangan vagina secara manual
k) Lakukan pertolongan persalinan sesuai dengan standar
normal (APN)
l) Apabila rectum ibu mengeluarkan feses bersihkan dengan
menggunakan kain bersih
m) Lakukan inisiasi menyusui dini
n) Berikan injeksi vitamin K pada paha bayi
o) Berikan salap mata pada bayi
p) Dokumentasi secara lengkap semua temuan
3) Asuhan Persalinan Kala III

13
Asuhan persalinan kala III merupakan hal penting,
mengingat salah satu penyebab kematian ibu adalah
perdarahan. Oleh karena itu, dalam asuhan kala III ada
beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu bidan sebagai
penolong persalinan harus terlatih dan terampil melakukan
manajemen aktif kala III untuk pencegahan infeksi, tersedianya
obat-obatan dan metode efektif penyimpanan, serta sistem
rujukan kegawatdaruratan obstetric yang efektif.
Asuhan persalinan kala III diberikan dengan tujuan
untuk membantu pengeluaran plasenta dan selaput janin secara
lengkap, mengurangi kejadian perdarahan pasca persalinan,
memperpendek kala III, mencegah terjadinya komplikasi dan
mencegah terjadinya retensio plasenta. Asuhan intranatal kala
III meliputi:
a) Penyimpanan oksitosin harus dalam lemari es pada suhu 2-
8oC dan hindarkan dari paparan cahaya langsung
b) Tidak dianjurkan untuk memberikan ergometrin atau
metergin sebelum bayi lahir
c) Tanda-tanda pelepasan plasenta adalah fundus naik dan
berkontraksi dengan baik, keluarnya darah dari vagina,
serta tali pusat memanjang
d) Pada saat melahirkan plasenta, jangan mendorong fundus
dan menarik tali pusat secara berlebihan
e) Lakukan peregangan tali pusat secara hati-hati
f) Hentikan peregangan tali pusat apabila ibu mengeluh nyeri
atau tali pusat tertahan
g) Apabila merasa tidak yakin plasenta dapat dilahirkan
dengan lengkap ikuti prosedur tetap pelaksanaan plasenta
rest (manual plasenta), bila perlu dirujuk
4) Asuhan Persalinan Kala IV
Asuhan persalinan kala IV merupakan asuhan yang
mencakup pada pengawasan sampai 2 jam setelah plasenta

14
lahir. Pada kala ini tidak menutup kemungkinan terjadinya
perdarahan dan Antonia uteri. Kehilangan darah biasanya
dikarenakan pelepasan plasenta atau robekan serviks dan
perineum. Jumlah darah yang keluar harus diukur (1 bengkong
= ± 500cc), apabila jumlah darah lebih dari 500cc harus dicari
penyebabnya. Hal-hal yang harus diperhatikan pada asuhan
persalinan kala IV yaitu:
a) Kontraksi uterus
b) Perdarahan
c) Kandung kemih
d) Adanya luka
e) Keadaan plasenta dan selaputnya harus lengkap
f) Tanda-tanda vital
g) Keadaan bayi

B. Asuhan Bayi Baru Lahir dan Neonatus


1. Jadwal Kunjungan
a. Pengertian Kunjungan Neonatal
Kunjungan neonatal adalah kontak neonatal dengan tenaga
kesehatan minimal 3 kali untuk mendapatkan pelayanan dan
pemeriksaan kesehatan neonatal, baik dalam maupun diluar gedung
Puskesmas, termasuk bidan di Desa, Polindes dan kunjungan ke
rumah.
Kunjungan neonatal adalah kontak neonatus dengan tenaga
kesehatan minimal 3 kali. Kunjungan pertama kali pada 2-48 jam .
Kunjungan kedua kali pada hari ketiga sampai hari ketujuh.
Kunjungan ketiga kali pada hari kedelapan sampai dua puluh
delapan hari.

15
b. Tujuan Kujungan Neonatal
Kunjungan neonatal bertujuan untuk meningkatkan akses
neonatus terhadap pelayanan kesehatan dasar, mengetahui sedini
mungkin biar terdapat kelainan pada bayi atau mengalami masalah.
c. Kategori Kunjungan Neonatal
Kunjungan neonatal terbagi dalam 3 kategori, yaitu:
1) Kunjungan Neonatal ke satu (KN I)
Kunjungan neonatal yang kesatu (KN I) adalah
kunjungan neonatal pertama kali yaitu 2-48 jam. Yang
membahas tentang pemeriksaan suhu per rektal, atresia ani,
konseling pencegahan hipotermi.
2) Kunjungan Neonatal ke dua (KN II)
Kunjungan neonatal yang kedua adalah kunjungan
neonatal yang kedua kali yaitu pada hari ketiga sampai ketujuh.
Yang membahas tentang pemeriksaan tali pusat, pemberian
ASI 15x/24 jam.
3) Kujungan Neonatal ketiga (KN III)
Kunjungan neonatal yang ketiga adalah kunjungan neonatal
yang ketiga kali yaitu pada hari kedelapan sampai dua puluh
delapan hari. Yang membahas tentang pemberian imunisasi
BCG, dan pemanfaatan buku KIA.
d. Cakupan Kunjungan Neonatal
Cakupan kunjungan neonatal adalah cakupan neonatus
yang mendapatkan pelayanan sesuai standar sedikitnya 3 kali, yaitu
1 kali pada 2-48 jam, 1 kali pada hari ke 3-7 dan 1 kali pada hari ke
8-28 setelah lahir disuatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

2. Manajemen pada Bayi Baru Lahir dan Neonatus


a. Pengkajian segera BBL
1) Pemeriksaan Awal
a) Nilai kondisi bayi :
(1) Apakah bayi menangis kuat/bernafas tanpa kesulitan?

16
(2) Apakah bayi bergerak dengan aktif/lemas?
(3) Apakah warna merah muda, pucat/biru?
b) Jenis kelamin
c) Kelainan kongentital
d) Tali pusat
2) Pemeriksaan lengkap
a) Semua bayi harus diperiksa lengkap beberapa jam
kemudian, setelah membiarkan bayi beberapa waktu untuk
pulih karena kelahiran.Bayi secara keseluruhan. Bayi
normal berbaring dengan posisi fleksi (menekuk). la
mungkin meregang atau menguap. Warnanya merah
muda. la menangis. Pernapasannya teratur. la memberikan
respon terkejut yang normal jika tiba-tiba diberi sentakan
(ia akan melemparkan tangannya ke arah depan luar
seperti hendak meraih seseorang). Ini disebut refleks
Moro.
b) Kepala
(1) Ukurlah lingkar kepala. Ukuran kepala yang tidak
normal besarnya disebut hidrosefalus. Ukuran kepala
yang terlalu kecil disebut mikrosefalus. Lingkar kepala
rata-rata adalah 33 cm.
(2) Rabalah fontanela anterior – seharusnya tidak menonjol
(membengkak).
(3) Lihatlah adanya celah bibir (seperti bibir kelinci) atau
celah palatum.
c) Punggung
Spina bifida merupakan kelainan tulang belakang
pada bayi. Tidak didapatkan tulang dan kadang-kadang
tidak ada kulit yang menutupi sumsum tulang belakang
bayi.

17
d) Anus
Periksalah apakah anus terbuka dan mekonium
dapat keluar. Ini untuk meyakinkan tidak adanya anus
imper-forata.
e) Anggota tubuh
Asuhan bayi baru lahir adalah asuhan yang
diberikan pada bayi baru lahir selama satu jam pertama
setelah kelahiran. Sebagian besar BBL akan menunjukkan
usaha pernafasan spontan dengan sedikit bantuan/gangguan
oleh karena itu penting diperhatikan dalam memberikan
asuhan SEGERA, yaitu jaga bayi tetap kering & hangat,
kotak antara kulit bayi dengan kulit ibu sesegera mungkin.
3) Membersihkan jalan nafas
a) Sambil menilai pernafasan secara cepat, letakkan bayi
dengan handuk di atas perut ibu
b) Bersihkan darah/lendir dari wajah bayi dengan kain bersih
dan kering/ kassa
c) Periksa ulang pernafasan
d) Bayi akan segera menagis dalam waktu 30 detik pertama
setelah lahir.
Jika tidak dapat menangis spontan dilakukan :
a) Letakkkan bayi pada posisi terlentang di tempat yang
keras dan hangat.
b) Gulung sepotong kain dan letakkan di bawah bahu
sehingga leher bayi ekstensi.
c) Bersihkan hidung, rongga mulut, dan tenggorokan bayi
dengan jari tangan yang dibungkus kassa steril.
d) Tepuk telapak kaki by sebanyak 2-3x / gosok kulit bayi
dengan kain kering dan kasar.

18
4) Perawatan tali pusat
Setelah plasenta lahir dan kondisi ibu stabil, ikat atau
jepit tali pusat.Caranya :
a) Celupkan tangan yang masih menggunakan sarung tangan
ke dalam klorin 0,5% untuk membersihkan darah &
sekresi tubuh lainnya.
b) bilas tangan dengan air matang /DTT
c) keringkan tangan (bersarung tangan)
d) letakkan bayi yang terbungkus diatas permukaan yang
bersih dan hangat.
e) Ikat ujung tali pusat sekitar 1 cm dari pusat dengan
menggunakan benang DTT. Lakukan simpul kunci/
jepitkan
f) Jika menggunakan benang tali pusat, lingkarkan benang
sekeliling ujung tali pusat & lakukan pengikatan kedua
dengan simpul kunci dibagian TP pd sisi yang berlawanan.
g) Lepaskan klem penjepit & letakkan di dalam larutan klorin
0,5%
5) Mempertahankan suhu tubuh, Dengan cara :
a) Keringkan bayi secara seksama
b) Selimuti bayi dengan selimut/kain bersih, kering 8 hangat
c) Tutup bagian kepala bayi
d) Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusukan bayinya
e) Lakukan penimbangan setelah bayi mengenakan pakaian
f) Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat.
g) Pencegahan infeksi
h) Memberikan obat tetes mata/salep
i) diberikan 1 jam pertama bayi lahir ryaitu ; eritromysin
0,5%/ tetrasiklin 1%.
j) Yang biasa dipakai adalah larutan perak nitrat/ neosporin 8
langsung diteteskan pd mata bayi segera setelah bayi lahir.

19
6) BBL sangat rentan terjadi infeksi, sehingga perlu diperhatikan
hal-hal dalam perawatannya.
a) Cuci tangan sebelum 8 setelah kontak dengan bayi
b) Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang
blm dimandikan
c) Pastikan semua peralatan (gunting, benang tali pusat) telah
di DTT, jika menggunakan bola karet penghisap, pastikan
dalam keadaan bersih
d) Pastikan semua pakaian, handuk, selimut serta kain yang
digunakan untuk bayi dalam keadaan bersih
e) Pastikan timbangan, pipa pengukur, termometer, stetoskop
dan benda2 lainnya akan bersentuhan dengan bayi dalam
keadaan bersih (dekontaminasi setelah digunakan)
b. Asuhan bayi baru lahir 1-24 jam pertama kelahiran
Tujuannya adalah untuk Mengetahui aktivitas bayi
normal/tidak dan identifikasi masalah kesehatan BBL yang
memerlukan perhatian keluarga 8 penolong persalinan serta tindak
lanjut petugas kesehatan.
1) Pemantauan 2 jam pertama meliputi :
a) Kemampuan menghisap (kuat/lemah)
b) Bayi tampak aktif/lunglai
c) Bayi kemerahan /biru
d) Bayi kecil masa kehamilan/KB
e) Gangguan pernafasan
f) Hipotermia
g) Infeksi
h) Cacat bawaan/trauma tahir
2) Jika tidak ada masalah
a) Lanjutkan pengamatan pernafasan, warna dan aktivitasnya
b) Pertahankan suhu tubuh bayi dengan cara :
(1) Hindari memandikan min. 6 jam/min suhu 36,5 C

20
(2) Bungkus bayi dengan kain yang kering & hangat,
kepala bayi harus tertutup
c) Lakukan pemeriksaan fisik
(1) Gunakan tempat yang hangat dan bersih
(2) Cuci tangan sebelum dan sesudah pemeriksaan,
gunakan sarung tangan dan bertindak lembut
(3) LIHAT, DENGAR, dan RASAkan
(4) Rekam /catat hasil pengamatan
(5) jika ditemukan faktor risiko/masalah segera Cari
bantuan lebih lanjut
d) Pemberian vitamin K
(1) Untuk mencegah terjadinya perdarahan karena
defisiensi vit. K
(2) Bayi cukup bulan/normal 1 mg/hari peroral selama 3
hari
(3) Bayi berisiko 0,5mg – 1mg perperenteral/ IM
(4) Ajarkan pada orang tua cara merawat bayi, meliputi :
c. Pemberian nutrisi
1) Berikan asi sesering keinginan bayi atau kebutuhan ibu (jika
payudara ibu penuh)
2) Frekuensi menyusui setiap 2-3 jam
3) Pastikan bayi mendapat cukup colostrum seiama 24 jam.
4) Colostrum memberikan zat perlindungan terhadap infeksi dan
membantu pengeluaran mekonium.serta
5) Berikan ASI saja sampai umur 6 bulan.
d. Mempertahankan kehangatan tubuh bayi
1) Suhu ruangan setidaknya 18-21°C
2) Jika bayi kedinginan, harus didekap erat ke tubuh ibu
3) Jangan menggunakan alat penghangat buatan di tempat tidur
(misalnya botol berisi air panas)

21
e. Mencegah infeksi
1) Cuci tangan sebelum memegang bayi dan setelah
menggunakan toilet untuk BAK/BAB
2) Jaga tali pusat bayi dalam keadaan bersih, selalu dan letakkan
popok di bawah tali pusat. Jika tali pusat kotor cuci dengan air
bersih dan sabun. Laporkan segera ke bidan jika timbul
perdarahan, pembengkakan, keluar cairan, tampak merah atau
bau busuk.
3) Ibu menjaga kebersihan bayi dan dirinya terutama payudara
dengan mandi setiap hari
4) Muka, pantat, dan tali pusat dibersihkan dengan air bersih,
hangat, dan sabun setiap hari.
5) Jaga bayi dari orang-orang yang menderita infeksi dan pastikan
setiap orang yang memegang bayi selalu cuci tangan tertebih
dahulu

3. Pelayanan Kesehatan Pada Bayi


a. Pelayanan Kesehatan Pada Bayi
Pelayanan kesehatan bayi adalah pelayanan kesehatan
sesuai standar yang diberikan oleh tenaga kesehatan kepada bayi
sedikitnya 4 kali kunjungan selama periode 29 hari sampai dengan
11 bulan setelah lahir. Pada pelayanan kesehatan ini dilakukan
kunjungan bayi yang bertujuan untuk mengetahui sedini mungkin
bila terdapat kelainan pada bayi sehingga cepat mendapatkan
pertolongan, pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit
melalui pemantauan pertumbuhan, imunisasi serta peningkatan
kualitas hidup bayi dengan stimulasi tumbuh kembang. Pelayanan
kesehatan tersebut meliputi :
1) Stimulasi deteksi dini tumbuh kembang bayi
2) Pemberian imunisasi dasar lengkap

22
3) Penyuluhan kesehatan kepada keluarga khusunya ibu tentang
pemberian konseling ASI esklusif, pemberian makanan
pendamping ASI, tanda-tanda bayi sehat dan sakit.
4) Penanganan dan rujukan kasus bila diperlukan.
b. Pelayanan Kesehatan Pada Anak Balita
1) Pemantauan pertumbuhan balita dengan KMS (Kartu Menuju
Sehat)
KMS (Kartu Menuju Sehat) untuk balita adalah alat
yang digunakan untuk memantau kesehatan dan pertumbuhan
anak. KMS berisi catatan penting tentang pertumbuhan,
perkembangan anak, imunisasi, penanggulangan diare,
pemberian kapsul vitamin A, kondisin kesehatan anak,
pemberian ASI ekslusif dan makanan pendamping ASI,
pemberian makanan anak dan rujukan ke Puskemas/Rumah
Sakit.
2) Pemberian Kapsul Vitamin A
Pemberian kapsul vitamin A diberikan pada bayi dan
balita yang diberikan sebanyak 2 kali dalam setahun.
a) Kapsul vitamin A biru memiliki kandungan 100.000 IU
diberikan pada bayi yang berusia 6-11 bulan satu kali
dalam setahun.
b) Kaspul vitamin A merah memiliki kandungan 200.000 IU
diberikan pada balita dua kelompok ; anak berumur 12-59
bulan, serta ibu yang sedang masa nifas (0-42 hari setelah
melahirkan).
3) Manajemen Terpadu Balita Sehat (MTBS)
Manajemen Terpadu Balita Sehat (MTBS) adalah suatu
pendekatan yang terintegrasi atau terpadu dalam tatalaksana
balita sakit dengan fokus kepada kesehatan anak usia 0-59
bulan balita secara menyeluruh.
Kegiatan MTBS merupakan upaya pelayanan
kesehatan yang ditujukan untuk menurunkan angka kesakitan

23
dan kematian sekaligus meningkatkan kualitan pelayanan
kesehatan di unit rawat jalan kesehatan dasar.
4) Konseling pada keluarga balita
Konseling yang diberikan adalah :
a) Pemberian makanan bergizi pada bayi dan balita
b) Pemberian makanan bayi
c) Mengatur makanan anak usia 1-5 tahun
d) Pemeriksaan rutin berkala terhadap bayi dan balita
e) Peningkatan kesehatan pola tidur, bermain, peningkatan
pendidikan seksual dimulai sejak balita (sejak anak
mengenal identitasnya sebagai laki-laki atau perempuan).
5) Pelayanan Imunisasi
Imunisasi adalah upaya pencegahan penyakit infeksi
dengan menyuntikkan vaksin kepada anak sebelum anak
terinfeksi. Imunisasi bermanfaat untuk memberikan kekebalan
pada bayi dana anak sehingga tidak mudah tertular penyakit.
Imunisasi dapat diperoleh di Posyandu, Puskesmas, Puskesmas
Pembantu, Puskesmas Keliling, Praktek dokter atau Bidan, dan
di Rumah Sakit.

4. Perawatan Kesehatan Bayi


a. Mengukur suhu per anus
Sangat sedikit bayi dapat melewati bayi tanpa masa
demam, yang biasanya merupakan tanda infeksi. Demam
mengindikasikan bahwa sistem kekebalan tubuh secara aktif
melawan virus atau bakteri, jadi dalam hal ini demam merupakan
tanda positif bahwa tubuh sedang melindungi dirinya sendir .
Tetapi jika suhu tubuh meningkat dengan sangat cepat (lebih dari
40’c, meningkat lebih dari beberapa derajat dalam sejam) munkin
terjadi kejang.
Cara terbaik untuk mengukur demam pada bayi adalah per
anus. Sekali anda tahu bagaiman mengambil suhu per anus, hal

24
tersebut adalah sedrhana tetapi yang palinng baik adalah
mempelajari prosedur tersebut lebih dulu sehingga anda tidak
nervous ketika pertama kali anak anda sakit., anda harus sedikit
mempunyai thermometer anus dengan ujung yang pendek dan
bulat, 2 buah malah baik, karena thermometer dapat pecah.
Membaca thermometer memerlukan sedikit latihan .
caranya adalah sebagai berikut:
1) Goyang goyang kolom air raksa sampai suhu terbaca dibawah
35’c . untuk melakukan ini, pegang ujung berlawanan dan
ujung tumpul dengan kuat diantara jari jari anda dan
goyangkan kebawah (jauh dari atas meja atau objek lain).
2) Olesi ujung tumpul dengan alcohol atau sabun dair dan bilas
dengan air bersih
3) Tempatkan sejumlah kecil pelumas seperti jelly petroleum
pada ujung tersebut
4) Tempatkan bayi anda telungkup pada permukaan yang keras ,
jika dia adalah bayi yang sangat kecil anda dapat
membaringkan dia di pangkuan anda, tetapi jika bayi lebih
besar, anda dapat menelungkupkan pada meja ganti atau pada
lantai.
5) Tekan telapak dari satu tangan pada punggung bayi tepat diatas
bokong , jika dia mencoba berguling tambah tekanan agar bayi
tidak bergerak
6) Dengan tangan anda yang lain, sisipkan thermometer kedalam
anus. Pegang thermometer diantara jari kedua dan ketiga
dengan tangan menungkup dibagian bawah. Tahan ditempat
selama 2 menit sebelum mencabutnya dan membacanya.
7) Pembacaan per anus dengan suhu terbesar 38’c
mengidikasikan adanya demam. Jika anda berpikir suhu
tersebut tidak terlalu tinggi karena anak anda secara fisik aktif
atau pakaiannya terlalu panas, lakukan kembali pengambilan
suhu tersebut dalam waktu 30 menit.

25
b. Mengunjungi Dokter Anak
Kedua orang tua harus hadir kunjungan awal. Pertemuan ini
memberikan kepada anda dan dokter kesempatan saling mengenal
dan bertukar pikiran. Jangan membatasi diri anda terhadap
pertanyaan medis, doktyer anak juga ahli dalam masalah perawatan
anak secara umum dan merupakan sumber yang sangat berharga
bila anda mencari tenaga pengasuh, atau hal hal lain. Banyak
dokter anak memberikan kertas informasi yang mencakup
kekhawatiran umum, tetapi adalah gagasan yang baik untuk
membuat terlebih dahulu daftar pertanyaan sebelum berkunjung ke
dokter sehingga anda tidak lupa dengan pertanyaan pertanyaan
penting. Tujuan dari pemeriksaan awal ini adalah untuk
memastikan bahwa anak tumbuh dengan sehat dan berkembang
sewajarnya dan tidak ada ketidaknormalan yang serius. Secara
khusus dokter akan memeriksa hal hal sebagai berikut :
1) Pertumbuhan : mengukur dan menimbang bayi
2) Kepala : mengukur lingkar kepala bayi, menjelang 4 bulan.
Titik lunak belakang harus menutup
3) Telinga : memeriksa bagian belakang anak dengan stetoskop,
memeriksa saluran telinga untuk mencurigai adanya infeksi
dan memberi tes pendengaran
4) Mata: Dokter akan menggunakan objek terang atau lampu
senter untuk menangkap perhatian bayi dan melacak
pergerakan mata
5) Mulut : memeriksa perkembangan gigi
6) Jantung dan paru : Memeriksa bagian belakang dada untuk
mendengsrksn jantung dan paru bayi, pemeriksaan ini untuk
mendengar ritme yang abnormal
7) Perut : Menekan pelan pada bagian perut bayi untuk
memastikan tidak ada organ tubuh yang membesar dan tidak
ada benjolan dan nyeri tekan

26
8) Alat kelamin : alat kelamin diperiksa setiap kunjungan untuk
melihat ada benjolan yang tidak biasa nyeri tekan atau infeksi

5. Perawatan Kesehatan anak Balita


a. Pemantauan pertumbuhan balita dengan KMS
KMS (Kartu Menuju Sehat) untuk balita adalah alat yang
sederhana dan murah, yang dapat digunakan untuk memantau
kesehatan dan pertumbuhan anak. Oleh karenanya KMS harus
disimpan oleh ibu balita di rumah, dan harus selalu dibawa setiap
kali mengunjungi posyandu atau fasilitas pelayanan kesehatan,
termasuk bidan dan dokter.
KMS-Balita menjadi alat yang sangat bermanfaat bagi ibu
dan keluarga untuk memantau tumbuh kembang anak, agar tidak
terjadi kesalahan atau ketidak seimbangan pemberian makan pada
anak.
KMS juga dapat dipakai sebagai bahan penunjang bagi
petugas kesehatan untuk menentukan jenis tindakan yang tepat
sesuai dengan kondisi kesehatan dan gizi anak untuk
mempertahankan, meningkatkan atau memulihkan kesehatan- nya.
KMS berisi catatan penting tentang pertumbuhan,
perkembangan anak, imunisasi, penanggulangan diare, pemberian
kapsul vitamin A, kondisi kesehatan anak, pemberian ASI eksklusif
dan Makanan Pendamping ASI, pemberian makanan anak dan
rujukan ke Puskesmas/ Rumah Sakit.
KMS juga berisi pesan-pesan penyuluhan kesehatan dan
gizi bagi orang tua balita tenta ng kesehatan anaknya (Depkes RI,
2000).
Manfaat KMS adalah :
1) Sebagai media untuk mencatat dan memantau riwayat
kesehatan balita secara lengkap, meliputi : pertumbuhan,
perkembangan, pelaksanaan imunisasi, penanggulangan diare,

27
pemberian kapsul vitamin A, kondisi kesehatan pemberian ASI
eksklusif, dan Makanan Pendamping ASI.
2) Sebagai media edukasi bagi orang tua balita tentang kesehatan
anak
3) Sebagai sarana komunikasi yang dapat digunakan oleh petugas
untuk menentukan penyuluhan dan tindakan pelayanan
kesehatan dan gizi.
b. Pemberian Kapsul Vitamin A
Vitamin A adalah salah satu zat gizi dari golongan vitamin
yang sangat diperlukan oleh tubuh yang berguna untuk kesehatan
mata ( agar dapat melihat dengan baik ) dan untuk kesehatan tubuh
yaitu meningkatkan daya tahan tubuh, jaringan epitel, untuk
melawan penyakit misalnya campak, diare dan infeksi lain.
Upaya perbaikan gizi masyarakat dilakukan pada beberapa
sasaran yang diperkirakan banyak mengalami kekurangan terhadap
Vitamin A, yang dilakukan melalui pemberian kapsul vitamin A
dosis tinggi pada bayi dan balita yang diberikan sebanyak 2 kali
dalam satu tahun. (Depkes RI, 2007)
Vitamin A terdiri dari 2 jenis :
1) Kapsul vitamin A biru ( 100.000 IU ) diberikan pada bayi yang
berusia 6-11 bulan satu kali dalam satu tahun
2) Kapsul vitamin A merah ( 200.000 IU ) diberikan kepada
balita
Kekurangan vitamin A disebut juga dengan xeroftalmia (
mata kering ). Hal ini dapat terjadi karena serapan vitamin A pada
mata mengalami pengurangan sehingga terjadi kekeringan pada
selaput lendir atau konjungtiva dan selaput bening ( kornea mata ).
Pemberian vitamin A termasuk dalam program Bina Gizi
yang dilaksanakan oleh Departemen Kesehatan setiap 6 bulan
yaitu bulan Februari dan Agustus, anak-anak balita diberikan
vitamin A secara gratis dengan target pemberian 80 % dari seluruh
balita. Dengan demikian diharapkan balita akan terlindungi dari

28
kekurangan vitamin A terutama bagi balita dari keluarga
menengah kebawah.
c. Pelayanan Posyandu
Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan
Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan
diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam
penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna memberdayakan
masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam
memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat
penurunan angka kematian ibu dan bayi.
Adapun jenis pelayanan yang diselenggarakan Posyandu
untuk balita mencakup :
1) Penimbangan berat badan
2) Penentuan status pertumbuhan
3) Penyuluhan
4) Jika ada tenaga kesehatan Puskesmas dilakukan pemeriksaan
kesehatan, imunisasi dan deteksi dini tumbuh kembang,
apabila ditemukan kelainan, segera ditunjuk ke Puskesmas.
d. Manajemen Terpadu Balita Sakit
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) atau Integrated
Management of Childhood Illness (IMCI) adalah suatu pendekatan
yang terintegrasi/terpadu dalam tatalaksana balita sakit dengan
fokus kepada kesehatan anak usia 0-59 bulan (balita) secara
menyeluruh. MTBS bukan merupakan suatu program kesehatan
tetapi suatu pendekatan/cara menatalaksana balita sakit. Kegiatan
MTBS merupakan upaya pelayanan kesehatan yang ditujukan
untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian sekaligus
meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di unit rawat jalan
kesehatan dasar (Puskesmas dan jaringannya termasuk Pustu,
Polindes, Poskesdes, dll).
Bila dilaksanakan dengan baik, pendekatan MTBS
tergolong lengkap untuk mengantisipasi penyakit-penyakit yang

29
sering menyebabkan kematian bayi dan balita di Indonesia.
Dikatakan lengkap karena meliputi upaya preventif (pencegahan
penyakit), perbaikan gizi, upaya promotif (berupa konseling) dan
upaya kuratif (pengobatan) terhadap penyakit-penyakit dan
masalah yang sering terjadi pada balita. Badan Kesehatan Dunia
WHO telah mengakui bahwa pendekatan MTBS sangat cocok
diterapkan negara-negara berkembang dalam upaya menurunkan
angka kematian, kesakitan dan kecacatan pada bayi dan balita.
Kegiatan MTBS memliliki 3 komponen khas yang
menguntungkan, yaitu:
1) Meningkatkan ketrampilan petugas kesehatan dalam
tatalaksana kasus balita sakit (selain dokter, petugas kesehatan
non-dokter dapat pula memeriksa dan menangani pasien
asalkan sudah dilatih).
2) Memperbaiki sistem kesehatan (perwujudan terintegrasinya
banyak program kesehatan dalam 1 kali pemeriksaan MTBS).
3) Memperbaiki praktek keluarga dan masyarakat dalam
perawatan di rumah dan upaya pencarian pertolongan kasus
balita sakit (meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam
pelayanan kesehatan).
e. Pelayanan Immunisasi
Imunisasi adalah upaya pencegahan penyakit infeksi
dengan menyuntikkan vaksin kepada anak sebelum anak terinfeksi.
Anak yang diberi imunisasi akan terlindung dari infeksi penyakit-
penyakit: sebagai berikut: TBC, Difteri, Tetanus, Pertusis (batuk
rejan), Polio, Campak dan Hepatitis B. Dengan imunisasi, anak
akan terhindar dari penyakit-penyakit, terhindar dari cacat,
misalnya lumpuh karena Polio, bahkan dapat terhindar dari
kematian.
Imunisasi bermanfaat untuk memberikan kekebalan pada
bayi dan anak sehingga tidak mudah tertular penyakit:TBC,
tetanus, difteri, pertusis (batuk rejan), polio, campak dan hepatitis.

30
Imunisasi dapat diperoleh di Posyandu, Puskesmas,
Puskesmas Pembantu, Puskesmas Keliling, Praktek dokter atau
bidan, dan di Rumah sakit.

6. Pemantauan Tumbuh Kembang Bayi/Balita Deteksi Dini


Stimulasi tumbuh kembang adalah prangsanagan dan pelatihan
terhadap anak misalnya latihan kemampuan motoric, kemamapuan
bahasa dan koknitif, bersosialisasi, dan kemadirian sehingga anak
mencapai kemampuan yang optimal.
Tujuan skrining / pemeriksaan perkembangan anak
menggunakan KPSP adalah untuk mengetahui perkembangan anak
normal atau ada penyimpangan. Jadwal skrining / pemeriksaan KPSP
adalah pada umur 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24, 30, 36, 42, 48, 54, 60, 66
dan 72 bulan. Jika anak belum mencapai umur skrining tersebut, minta
ibu datang kembali pada umur skrining yang terdekat untuk
pemeriksaan rutin.
Misalnya bayi umur 7 bulan, diminta datang kembali untuk
skrining pada umur 9 bulan.
Apabila orang tua datang dengan keluhan anaknya mempunyai
masalah tumbuh kembang sedangkan umur anak bukan umur skrining
maka pemeriksaan menggunakan KPSP untuk umur skrining terdekat
yang lebih muda.
a. Instrument penilaian
1) Formulir KPSP menurut umur, berisi 9-10
pertanyaan tentang kemampuan perkembangan yang
telah dicapai anak. Sasaran KPSP anak umur 0-72 bulan.
2) KPSP dipergunakan untuk anak laki-laki maupun
perempuan.
3) Alat Bantu pemeriksaan berupa : pensil, kertas, bola
sebesar bola tennis, kerincingan, kubus berukuran sisi
2,5 cm sebanyak 6 buah, kismis, kacang tanah,
potongan biscuit kecil berukuran 0,5-1 cm.

31
b. Cara menggunakan KPSP
1) Pada waktu pemeriksaan / skrining, anak harus dibawa.
2) Tentukan umur anak dengan menanyakan tanggal, bulan
dan tahun anak lahir. Bila umur anak lebih dari 16 hari
dibulatkan menjadi 1 bulan.
Contoh : bayi umur 3 bulan 16 hari, dibulatkan menjadi
4 bulan. Bila umur bayi 3 bulan 15 hari dibulatkan
menjadi 3 bulan.
3) Setelah menentukan umur anak, pilih KPSP yang sesuai
dengan umur anak.
4) KPSP terdiri dari 2 macam pertanyaan, yaitu:
a) Pertanyaan yang dijawab oleh ibu/pengasuh anak,
contoh: “Dapatkah bayi makan kue sendiri?”
b) Perintahkan kepada ibu/pengasuh anak atau
petugas untuk melaksanakan tugas yang tertulis
pada KPSP. Contoh: “Pada posisi bayi anda
telentang, tariklah bayi anda pada pergelangan
tangannya secara perlahan-lahan ke posisi duduk.”
5) Jelaskan kepada orangtua agar tidak ragu-ragu atau
takut menjawab, oleh karena itu pastikan
ibu/pengasuh anak mengerti apa yang ditanyakan
kepadanya.\
6) Tanyakan pertanyaan tersebut secara berurutan,
satu persatu. Setiap pertanyaan hanya ada 1
jawaban, Ya atau Tidak. Catat jawaban tersebut pada
formulir.
7) Ajukan pertanyaan yang berikutnya setelah
ibu/pengasuh anak menjawab pertanyaan.
8) Teliti kembali apakah semua pertanyaan telah
dijawab.

32
Interpretasi hasil KPSP :
Hitunglah berapa jawaban Ya.
a) Jawaban Ya : Bila ibu/pengasuh anak menjawab: anak
bisa atau pernah atau sering atau kadang-kadang
melakukannya.
Jawaban Tidak : Bila ibu/pengasuh anak menjawab: anak
belum pernah melakukan atau tidak pernah atau
ibu/pengasuh anak tidak tahu.
b) Jumlah jawaban Ya
9 atau 10, perkembangan anak sesuai dengan tahap
perkembangannya (S)
7 atau 8, perkembangan anak meragukan (M)
6 atau kurang, kemungkinan ada penyimpangan (P)
c) Untuk jawaban “Tidak”, perlu dirinci jumlah jawaban
tidak menurut jenis keterlambatan (gerak kasar, gerak
halus, bicara dan bahasa, sosialisasi dan kemandirian).
7. Imunisasi
a. Pengertian
Imunisasi adalah suatu upaya untuk mendapatkan kekebalan
terhadap suatu penyakit dengan cara memasukkan kuman atau
produk kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan ke dalam
tubuh dan diharapkan tubuh dapat menghasilkan zat anti yang pada
saatnya digunakan tubuh untuk melawan kuman atau bibit penyakit
yang menyerang tubuh ( Sudarmanto Y. Agus, 1997).
Imunisasi pada bayi dan balita bertujuan untuk mencegah
penyakit pada bayi dan balita yang pada akhirnya akan
menghilangkan penyakit tersebut.
b. Jenis Imunisasi
1) Imunisasi Aktif
Tubuh akan membuat sendiri zat anti setelah adanya
rangasangan antingen dari luar tubuh, rangsangan virus yang

33
telah dilemahkan seperti pada imunisasi polio atau imunisasi
campak.
2) Imunisasi Pasif
Tubuh anak tidak membuat zat antibody sendiri, tetapi
kekebalan tersebut diperoleh dari luar dengan cara penyuntikan
bahan/ serum yang telah mengandung zat anti, atau anak
tersebut mendapat zat anti dari ibunya semasa dalam
kandungan, setelah memperoleh penolakan zat penolak,
prosesnya cepat, tetapi tidak bertahan lama.
c. Jadwal Imunisasi
1) BCG ( Bacillus Calmette- Geurin).
Pemberian Imunisasi BCG dilakukan pada bayi baru
lahir dan dianjurkana paling lambat diberikan sebelum bayi
berusia 3 bulan. Bagi bayi yang akan diberikan imunisasi BCG
setelah usia 3 bulan, harus dilakukan tes tuberculin terlebih
dulu. Tes Tuberkulin dilakukan dengan cara menyuntik protein
kuman TB (antingen) pada lapisan kulit lengan atas. Kulit akan
bereaksi terhadap antingen, bila sudah pernah terapapar kuman
TB. Reaksi tersebut berupa benjolan merah pada kulit di area
penyuntikan.
2) Hepatitis B
Hepatitis B diberikan sedini mungkin setelah lahir.
Pemberian imunisasi hepatitis B harus berdasarkan HbsAg ibu
pada saat melahirkan. Bayi yang lahir dari ibu status HbsAg
yang tidak diketahui akan diberikan vaksin recombinan atau
vaksin plasma derivate 10µg, intra muscular, dalam 12 jam
setelah lahir. Dosis kedua diberikan pada usia 1-2 bulan dan
dosis ketiga pada usia 6 bulan. Jika pada pemeriksaan
selanjutnya diketahui HbsAg – ibu positif, segera berikan 0,5
ml HBIG (sebelum 1 minggu).
Untuk bayi yang lahir dari ibu dengan HbsAg postif,
dalam jangka waktu 12 jam setelah lahir, secara bersamaan,

34
diberikan 0,5 ml HBIG dan vaksin rekombinan per IM, disisi
tubuh yang berlainan. Dosis kedua diberikan 1-2 bulan
sesudahnya dan dosis ketiga diberikan pada usia 6 bulan
3) DPT
Imunisasi DPT dasar diberikan 3 kali sejak usia 2 bulan
dengan interval 4-6 minggu. DPT 1 diberikan pada usia 2-4
bulan, DPT 2 pada usia 3-4 bulan, DPT 3 diberikan pada usia
4-6 bulan. Imunisasi selanjutnya (DPT 4) diberikan 1 tahun
detelah DPT 3, yaitu usia 18-24 bulan, dan DPT 5 pada saat
masuk sekolah usia 5-7 tahun.
4) Tetanus
Program eliminasi tetanus neonatorum (ETN) melalui
imunisasi DPT, DT atau TT dilaksanakan berdasarkan
perkiraan lama waktu perlindungan.
Imunisasi DPT 3 kali akan memberi imunitas 1-3 tahun
dengan 3 dosis toksoid tetanus pada bayi dihitung setara
dengan 2 dosis toksoid pada anak yang lebih besar dan dewasa.
Ulangan DPT pada usia 18-24 bulan (DPT 4) akan
memperpanjang imunitas hingga 5 tahun, yaitu sampai usia 6-7
tahun; 4 dosis toksoid tetanus pada bayi dan anak dihitung
setara dengan 3 dosis toksoid pada dewasa. Toksoid tetanus
kelima(DPT 5) diberikan pada usia sekolah yang akan
memperpanjang imunitas hingga 10 tahun sampai usia 17-18
tahun; 5 dosis toksoid tetanus anak dihitung setara dengan 4
dosis toksoid dewasa.
5) Polio
Untuk imunisasi dasar (polio 1,2,3) vaksin diberikan 2
tetes per oral dengan interval tidak kurang 4 minggu. Polio 0
diberikan pada saat bayi akan dipulangkan dari rumah bersalin/
rumah sakit. Imunisais polio ulangan diberikan satu tahun
sejak imunisasi polio 4, sealnjutnya saat masuk sekolah (5-6
tahun).

35
6) Campak
Vaksin Campak diberikan pada usia 9 bulan dalam satu
dosis 0,5 l yang diinjeksikan diarea subkutan dalam.
Dianjurkan untuk memberikan imunisasi campak ulang pada
saat anak masuk sekolah dasar (5-6 tahun).
7) MMR
Vaksin MMR diberikan pada usia 15-18 bulan, dalam 1
kali dosis 0,5 ml persubkutan. Jika seorang anak telah
mendapatkan imunisasi MMR pada usia 12-18 bulan,
imunisasi campaka pada usia 5-6 tahun tidak perlu diberikan
lagi. MMR ulangan diberikan pada usia 10-12 tahun atau 12-
18 tahun.
8) HIB ( H.Influenzae type B )
Imunisasi dasar untuk Act Hib diberikan pada usia 2,4,
dan 6 bulan, sedangkan Pedvax Hib diberikan pada usia 2 dan
4 bulan dosis ke3 6 bulan tidak diperlukan. Vaksinasi ulangan
vaksin HIB diberikan pada usia 18 bulan. Jika anak datang
pada usia 1-5 tahun, vaksin HIB hanya diberikan 1 kali. Satu
dosis vaksin Hib berisi 0,5 ml dan diberikan per
intramuskular.
9) Demam Tifoid
Di Indonesia tersedia 2 jenis vaksin demam tifoid, yaitu
vaksin polisakadarida injeksi dan oral. Polisakarida injeksi
adalah vaksi kapsular Vi polysaccharide, yaitu Typhium Vi
(Aventis Pasteur) yang diberikan pada usia >2 tahun.
Vaksinasi ulangan dilakukan setiap 3 tahun. Tifoid oral
diberikan pada usia > 6 tahun, dikemas dalam 3 dosis dengan
interval sehari ( hari 1,3, dan 5). Vaksinasi ulangan dilakukan
setiap 3-5 tahun.
10) Hepatitis A
Vaksin hepatitis A yang telah beredar ialah:

36
a) Dosis Havrix. Vaksin dengan dosis 360 U diberikan 3 kali
dengan interval 4 minggu antara injeksi 1 dan 2. Untuk
mendapatkan perlindungan jangka panajng (10 tahun),
maka dosis ketiga diberikan 6 bulan setelah injeksi
pertama. Jika menggunakan dosis 720 U, vaksinasi cukup
diberikan dua kali dengan intreval 6 bulan.
b) Dosis Avaxim. Dosis 0,5 ml berisi 160 unit diberikan per
intramuskular, dan vaksinasi ulangan dilakukan 6 bulan
kemudian. Vaksin diberikan per intramuskular di daerah
deltoid.
11) Varisela
Imunisasi varisela diberikan pada usia 10-12 tahun.
Vaksin yang telah beredar adalah varilix dosis 0,5 ml,
subkutan, satu kali pemberian. Namun jika orang tua
menghendaki, vaksin dapat diberikan setelah anak usia > 1
tahun dan diulang 10 tahun kemudian untuk memberi
perlindungan di masa dewasa. Jika vaksin diberikan pada usia
>13 tahun, imunisasi diberikan 2 kali dengan jarak 4-8
minggu.

37
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Dengan memberikan asuhan intranatal yang tepat dan sesuai
dengan standar, diharapkan dapat menurunkan angka kematian ibu dan
bayi
Pendekatan yang membutuhkan kemampuan analisis yang
berhubungan dengan aspek sosial, nilai-nilai dan budaya setempat.
Adapun tujuan dari asuhan intranatal dalam kebidanan komunitas yaitu :
1. Memastikan persalinan yang telah direncanakan
2. Memastikan persiapan persalinan bersih, aman, dan dalam suasana
yang menyenangkan
3. Mempersiapkan transportasi, serta biaya rujukan apabila diperlukan.
Manajemen asuhan intranatal dirumah dibagi dalam empat tahap
sesuai dengan tahap yang ada dalam persalinan. Yaitu kala I,II,III,IV.
Dengan memberikan asuhan intranatal yang baik dan sesuai standar, bidan
dapat memberikan pertolongan persalinan yang memadai dan tepat waktu,
meningkatkan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan, dan menurunkan
angka kejadian sepsis puerpuralis pada ibu nifas, sehingga membantu
angka kematian ataupun kesakitan ibu dan bayi.
Salah satu faktor penyumbang dari Angka kematian bayi dan
Angka kematian balita yaitu dari segi pencapaian pelayanan kesehatan.
Sehingga dengan adanya bidan di komunitas dekat dengan masyarakat
diharapkan dapat menekan dan menurunkan angka kematian tersebut.
Bidan di masyarakat harus mampu menjalankan fungsi-fungsi primer
pelayanan kebidanan.
Dari skrining/deteksi dini sampai dengan rujukan apabila
diperlukan. Hal ini dilakukan pada seluruh sasaran asuhan kebidanan salah
satunya yaitu bayi dan balita. Peran seorang Bidan di Komunitas meliputi
upaya Pencegahan dengan Kegiatan imunisasi pada bayi harus
dipertahankan atau ditingkatkan cakupannya sehingga mencapai Universal

38
Child Immunization (UCI) sampai di tingkat desa. Peningkatan
pelaksanaan ASI eksklusif dan peningkatan status gizi serta peningkatan
deteksi dan stimulasi dini tumbuh kembang jadi modal awal untuk sehat.

B. Saran
Dengan dibuatnya makalah mengenai Asuhan Intranatal serta
asuhan BBL dan neonatus dalam kebidanan komunitas. penulis berharap
makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Penulis juga berharap para
pembaca memberi masukan serta sarannya untuk kesempurnaan makalah
selanjutnya.

39
DAFTAR PUSTAKA

Yulifah Rita, Tri johan Agus Yuswanto.2011.Asuhan Kebidana


Komunitas.Jakarta : Salemba Medikan
Dewi Pudiastuti Ratna,2011.Buku ajar Kebidanan Komunitas.Yogyakarta :
Nuha Medika
Marmi.2012.Intranatal Care Asuhan Kebidanan Pada
Persalinan.Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Handajani, Dwi Sutjiati. 2009. Kebidanan Komunitas. Jakarta : EGC
Meilani, Niken. 2009. Kebidanan Komunitas. Yogyakarta : Fitramaya
Pudiastuti, Ratna Dewi. 2011. Buku Ajar Kebidanan Komunitas.
Yogyakarta : Nuha Medika
Hikmawati, Isna M.Kes. 2011. Promosi kesehatan untuk kebidanan. Nuha
medika. Yogjakarta

40