You are on page 1of 5

Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan nyeri dank ram pada kaki.

Tujuan: dalam waktu 3x24 jam aktivitas klien mengalami peningkatan.


Criteria: klien tidak mengeluh pusing, alat dan sarana untuk memenuhi aktivitas tersedia dan
mudah klien jangkau, TTV dalam batas normal, CRT < 3 detik, urin > 600 ml/hari.
Intervensi Rasional
Catat frekuensi dan irama jantung serta Respon klien terhadap aktivitas dapat
perubahan tekanan darah selama sesudah mengindikasikan respon nyeri yang parah.
aktivitas.
Tingkatkan istirahat, batasi aktivitas dan Menurunkan kerja kebutuhan oksigen jaringan.
berikan aktivitas senggang yang tidak berat.
Jelaskan pola penigkatan bertahap dari tingkat Aktivitas yang maju memberikan control
aktivitas, contoh: bangun dari kursi roda bila jantung, meningkatkan regangan dan
tak ada nyeri, ambulasi dan istirahat selama 1 mencegah aktivitas berlebihan.
jam setelah makan.

Cemas yang berhubungan dengan rasa takut akan kematian, ancaman, atau perubahan kesehatan.
Tujuan: dalam waktu 1x24 jam kecemasan klien berkurang
Intervensi Rasional
Bantu klien mengekpresikan perasan marah, Cemas berkelanjutan memberikan dampak
kehilangan dan takut. serangan jantung selanjutnya.
Kaji tanda verbal dan non verbal kecemasan, Reaksi verbal/non verbal dapat menunjukan
damping klien dan lakukan tindakan bila rasa agitasi, marah dan gelisah.
kliden menunjukan periaku merusak.
Hindari konfrontasi. Konfrontasi dapat meningkatkan rasa marah,
menurunkan kerja sama, dan mungkin
memperlambat penyembuhan.
Mulai melakukan tindakan untuk mengurangi Mengurangi rangsangan eksternal yang tidak
kecemasan, beri lingkungan yang tenang dan perlu.
suasana penuh istirahat.
Tingkatkan control sensasi klien. Control sensasi klien (dalam menurunkan
ketakutan) dengan cara memberikan informasi
tentang keadaan klien, ,enekankan pada
penghargaan terhadap sumber koping
(pertahanan diri) yang positif, membantu
latihan relaksasi, dan teknik pengalihan, serta
memberikan respons balik yang positif.
Orientasikan klien terhadap prosedur rutin dan Orientasi dapat menurunkan kecemasan.
aktivitas yang diharapkan.
Beri kesempatan pada klien untuk Dapat menghilangkan ketegagan terhadap
mengungkapkan ansietasnya. kekhawatiran yang tidak diekspresikan.
Beri privasi untuk klien dan orang terdekat. Member waktu untuk mengekspresikan
perasaan, menghilangkan cemas, dan perilaku
adaptasi. Adanya keluarga dan teman-teman
yang dipilih klien melayani aktivitas dan
pengalihan (misalnya, membaca) akan
menurunkan perasaan terisolasi.
Kolaborasi: berikan anticemas sesuai indikasi, Meningkatkan relaksasi dan menurunkan
contoh diazepam. kecemasan.

Proses Perawatan Klien Vena Varikosa (Varises)

Varises adalah suatu keadaa ketika terjadi dilatasi abnormal pada vena superficial dengan
manifestasi vena menjadi panjang dan berkelok-kelok yang disebabkan oleh katup vena yang
tidak kompeten. Biasanya kondisi ini terjadi pada eketremitas bawah dan vena safena atau badan
bawah, namun sebenarnya dapat terjadi dimana pun.

Etiologi

Penyebab varises primer adalah kelemahan structural pada dinding pembuluh darah yang
diturunkan. . dilatasi dapat disertai dangguang katup vena, karena daun katup tidak mampu
menutup dan menahan aliran refluks. Varises primer cenderung terjadi pada vena permukaan
karena kurangnya dukungan dari luar atau kurangnya resistensi jaringan subkutan.
Patofisiologi

Varises sekunder disebabkan oleh gangguang patologi system vena dalam, yang timbul kongnital
atau didapat sejak lahir. Hal ini menyebabkan dilatasi vena permukaan, penghubung atau
kolateral. Jika katup vena penghubung (penyembung) tidak berfungsi dengan baik, maka
peningkatan sirkuit vena dalam akan menyebabkan aliran balik darah ke dalam vena
penghubung. Darah vena akan dialirkan ke vena permukaan dari vena dalam. Hal ini merupakan
factor predisposisi timbulnya varises sekunder pada vena permukaan. Pada keadaan ini, vena
permukaan berfungsi sebagai pembuluh kolateral untuk system vena dalam.

Anamnesis

Anamnesis mengenai factor predidposisi memiliki kecenderungan keturunan dari generasi ke


generasi terdahulu. Pengkajian difokuskan mengenai pekerjaan dan kebiasaan dengan factor
yang meningkatkan tekanan hidrostatik dan volume darah pada tungkai, misalnya berdiri terlalu
lama atau kehamilan. Varises primer sering menimbulakn nyeri tumpul yang ringan pada
tungkai, terutama menjelang malam. Rasa tidak nyaman karena varises sekunder cenderung lebih
berat. Diagnosis varises vena mudah dilakukan dan didasarkan pada observasi dan palpasi vena
yang berdilatasi. Tromboflebitis permukaan atau perdarahan dengan ekimosis dapat terjadi.
Komplikasi tidak lazim terjadi, namun varises sekunder dapat menyebabkan terjadinya edema,
dermatitis statis, atau ulserasi. Apabila terjadi obstruksi vena dalam pada varises, klien akan
menunjukan tanda dan gejala insufisiensi vena kronis, seperti: edema, nyeri, pigmentasi, dan
ulserasi. Terjadi peningkatan kepekaan terhadap cedera dan infeksi.

Pemeriksaan diagnostik

1. Uji brodie-tredelenburg
Uji ini memperlihtakan aliran balik darah melalui katup inkompeten vena superficial dan
cabang-cabang yang berhubungan dengan vena dalam tungkai. Klien diminta berbaring,
tungkai yang terkena ditinggikan untuk mengosongkan vena. Pasang torniket karet lunak
di sekeliling tungkai atas untuk menyumbat vena dank lien diminta berdiri. Apabila katup
vena komunikans inkompeten, maka darah akan mengalir dari vena dalam ke vena
superficial. Apabila saat torniket dilepas darah mengalir dengan cepat dari atas ke vena
superficial, artinya bahwa katup vena superficial juga inkompeten. Uji ini dilakukan
untuk menentukan jenis penanganan yang direkomendasikan untuk varises.
2. Uji perthes
Suatu prosedur diagnostic yang dengan mudah menunjukan apakah system vena dalan
dan vena komunikasns semuanya kompeten. Sebuah torniket dipasang tepat di bawah
lutut, kliedn diminta untuk berjalan-jalan. Apabila varises menghilang, artinya system
vena dalam dan pembuluh komunikans kompeten. Apabila pembuluh darah tidak mampu
mengosongkan diri, namun justru mengalami distensi saat berjalan, artinya terjadi
inkompetensi atau obstruksi.
Uji diagnostic tambahan untuk mengetahui adanya varises adalah Doppler flow meter,
venografi, dan pletismografi. Doppler flow meter dappat mendeteksi adanya aliran balik
di vena superficial dengan inkompetensi katup setelah penekanan tungkai. Venografi
meliputi penguntikan media kontras radiografi ke dalam vena tungkai sehingga anatomi
vena dapat ditampilkan melalui penelitian sinar X oada berbagai gerakan tungkai.
Pletismografi mengukur perbahan dalam volune darah vena.

Pengkajian Penatalaksanaan Medis


Pengobatan
Pada varises kecil yang asimtomatik dapat dipertimbangkan suntikan dengan obat
sklerotik. Akan tetapi skleroterapi saat ini hanya memiliki peranan kecil.
Operasi
Dapat diindikasikan untuk memperbaiki penampilan tungkai bawah,menghilangkan rasa
tidak nyaman, atau menghindari tromboflebitis permukaan rekuren. Pada operasi
biasanya dilakukan ligasi dan pemotongan vena safena magna dan parva. Gejala yang
mungkin terjadi adalah tegang, kram otot, kelelehan otot tungkai bawah. Edema tumit
dan terasa berat tungkai dapat pula terjadi. Kram sering terjadi di malam hari.
Analgesic
Berguna dalam memberikan rasa nyaman bagi klien untuk ekstremotas yang terjena
dengan lebih nyaman. Nalutan diinspeksi akan adanya perdarahan, khususnya di
selangkangan dimana risiko perdarahan paling tinggi.perasaan hipersensitif terhadap
rabaan pada ekstremitas yang baru dioperasi menunjukan adanya cedera saraf sementara
atau permanen akibat pembedahan. Vena safena dan saraf berjalan berdampingan di
sepanjang tungkai. Klien memerlukan stoking elastic dalam jangka panjang setelah
pemu;angan. Harus dibuat rencana untuk menyediakan stoking dan perban elastic
secukupnya, serta latihan tungkai.
Skleroterapi
Pada skleroterapi disuntikan bahan kimia iritatif, seperti 0,5% natrium tetradecyl sulfat
(sofradecol) ke dalam vena yang akan mengiritasi endotel vena serta menyebabkan
flebitis dan fibrosis local. Akibatnya terjadi obliterasi lumen vena meluruh. Skleroterapi
lebih bersifat paliatif daripada kuratif. Setelah penyuntikan bahan sklerosing, kemudian
dipasang balut elastic pada tungkai. Balutan ini dipertahankan sekitar 5 hari. Setelah itu,
diganti menjadi stoking elastis 5 minggu kemudian. Berjalan-jalan sangat penting untuk
memelihara aliran darah tungkai.
Apabila klien merasakan rasa terbakar pada tungkai yang disuntik dalam 1 atau 2 hari,
maka untuk mengjilangkannya cukup diberi analgetik ringan atau klien diminta utuk
berjalan-jalan. Balutan pertama harus dibuka oleh petigas kesehatan.
Diagnosis keperawatan
1. Nyeri yang berhubungan dengan adanya statis vena sekunder karena adanya varises pada
ekstremitas.
2. Gangguan gambaran diri yang berhubungan dengan perubahan pada ekstremitas
pembesaran pembuluh darah vena pada ekstremitas.
Intervensi keperawatan
Penurunan sensasi nyeri dan gambaran diri efektif adalah sebagai berikut:
1. Angkat kaki dan pasang stoking
2. Hindari aktivitas berdiri lama
3. Anjurkan aktivitas rutin
Klien dianjurkan untuk berjalan sejauh 1 atau 2 mil bila tidak ada kontraindikasi.
Berjalan menaiki tangga sangat berguna untuk memperbaiki sirkulasi. Berenang juga
merupakan latihan yang bagus untuk tungkai.
4. Pantau berat badan klien