You are on page 1of 29

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN OSTEOPOROSIS

KELOMPOK 8 :
1. SEKAR NIRWANA (1611010059)
2. ARUM FAIDAH NURDIANA (1611010060)
3. KEVIN DIMAS SATRIA (1611010061)

KEPERAWATAN D3 KELAS B
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2018
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dengan meningkatnya usia harapan hidup, maka berbagai penyakit
degeneratif dan metabolik, termasuk osteoporosis akan menjadi problem
muskolokeletal yang memerlukan perhatian khusus, terutama dinegara
berkembang, termasuk Indonesia. Pada tahun 1990, ternyata jumlah penduduk
yang berusia 55 tahun atau lebih mencapai 9,2%, meningkat 50% dibandingkan
survey tahun 1971. Dengan demikian, kasus osteoporosis dengan berbagai
akibatnya, terutama fraktur diperkirakan juga akan meningkat ( Sodoyo, 2009 ).
Osteoporosis adalah kondisi atau penyakit dimana tulang menjadi rapuh dan
mudah retak atau patah. Osteoporosis sering menyerang mereka yang telah berusia lanjut
dan kondisi ini lebih sering dijumpai pada wanita daripada laki-laki. Menurut data World
Health Organisation (WHO), menunjukan bahwa 1 dari 3 wanita atau sebanyak 67%
wanita akan mengalami osteoporosis. Kemungkinan bagi laki-laki juga relatif besar bagi
yang telah berusia tua, perokok, peminum minuman keras dan bagi yang jarang
melakukan olah raga (Yosri, 2001).
Menurut Ganong (2003), perempuan dewasa memiliki massa tulang yang lebih
sedikit daripada pria dewasa, dan setelah menopause mereka mulai kehilangan tulang
lebih cepat daripada pria. Akibatnya perempuan lebih rentang menderita ospteoporosis
serius. Penyebab utama berkurangnya tulang setelah menopause adalah defesiensi
hormone estrogen. Pada osteoporosis, matriks dan mineral tulang hilang, hingga massa
dan kekuatan tulang, dengan peningkatan fraktur.
Osteoporosis sering menimbulkan fraktur kompresi pada vertebra torakalis.
Terdapat penyempitan diskus vertebra, apabila penyebaran berlanjut keseluruh korpus
vertebra akan menimbulkan kompresi vertebra dan terjadi gibus. Fraktur kolum femur
sering terjadi pada usia di atas 60 tahun dan lebih sering pada perempuan, yang
disebabkan oleh penuaan dan osteoporosis pascamenopause.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Setelah membaca makalah ini diharapkan dapat memahamitentang konsep
osteoporosis serta bagaimana proses keperawatan pada penyakit tersebut dan mampu
menerapkannya dalam memberikan pelayanan kesehatan nyata
2. Tujuan Khusus
Meningkatkan pengetahuan mengenai pengertian, etiologi, patofisiologi, pemeriksaan
diagnostik, dan penatalaksanaan Keperawatan pada klien osteoporosis. Meningkatkan
pengetahuan mengenai asuhan keperawatan padaklien osteoporosis
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian
Osteoporosis adalah suatu kondisi berkurangnya massa tulang secara nyata yang
berakibat pada rendahnya kepadatan tulang, sehingga tulang menjadi keropos dan rapuh.
“Osto” berarti tulang, sedangkan “porosis” berarti keropos. Tulang yang mudah patah
akibat Osteoporosis adalah tulang belakang, tulang paha, dan tulang pergelangan tangan
(Endang Purwoastuti : 2009) .
Osteoporosis yang dikenal dengan keropos tulang menurut WHO adalah penyakit
skeletal sistemik dengan karakteristik massa tulang yang rendah dan perubahan
mikroarsitektur dari jaringan tulang dengan akibat meningkatnya fragilitas tulang dan
meningkatnya kerentanan terhadap tulang patah. Osteoporosis adalah kelainan dimana
terjadi penurunan massa tulang total (Lukman, Nurma Ningsih : 2009).
Osteoporosis adalah kelainan di mana terjadi penurunan massa tulang total.
Terdapat perubahan pergantian tulang homeostasis normal, kecepatan resorpsi tulang
lebih besar dari kecepatan pembentukan tulang, pengakibatkan penurunan masa tulang
total. Tulang secara progresif menjadi porus, rapuh dan mudah patah; tulang menjadi
mudah fraktur dengan stres yang tidak akan menimbulkan pengaruh pada tulang normal
(Brunner&Suddarth, 2000).

B. Klasifikasi
Klasifikasi osteoporosis dibagi ke dalam dua kelompok yaitu osteoporosis primer
dan osteoporosis sekunder. Osteoporosis primer terdapat pada wanita postmenopause
(postmenopause osteoporosis) dan pada laki-laki lanjut usia (senile osteoporosis).
Penyebab osteoporosis belum diketahui dengan pasti. Sedangkan osteoporosis sekunder
disebabkan oleh penyakit yang berhubungan dengan Kelainan endokrin misalnya
Chusing’s disease, hipertiriodisme, hiperparatiriodisme, hipogonadisme, kelainan hepar,
gagal ginjal kronis, kurang gerak, kebiasaan minum alcohol, pemakaian obat-
obatan/kortikosteroid, kelebihan kafein, dan merokok (Lukman, Nurma Ningsih : 2009).
Djuwantoro (1996), membagi osteoporosis menjadi osteoporosis postmenopause
(Tipe I), Osteoporosis involutional (Tipe II), osteoporosis idiopatik, osteoporosis juvenil
dan osteoporosis sekunder.
1. Osteoporosis Postmenopause (Tipe I)
Merupakan bentuk yang paling sering ditemukan pada wanita kulit putih dan Asia.
Bentuk osteoporosis ini disebabkan oleh percepatan resopsi tulang yang berlebihan
dan lama setelah penurunan sekresi hormon estrogen pada masa menopause.
2. Osteoporosis involutional (Tipe II)
Terjadi pada usia diatas 75 tahun pada perempuan maupun laki-laki. Tipe ini
diakibatkan oleh ketidakseimbangan yang samar dan lama antara kecepatan resorpsi
tulang dengan kecepatan pembentukan tulang.
3. Osteoporosis idiopatik
Adalah tipe osteoporosis primer yang jarang terjadi pada wanita premenopouse dan
pada laki-laki yang berusi di bawah 75 tahun. Tipe ini tidak berkaitan dengan
penyebab sekunder atau faktor resiko yang mempermudah timbulnya penurunan
densitas tulang.
4. Osteoporosis juvenil
Merupakan bentuk yang paling jarang terjadi dan bentuk osteoporosis yang terjadi
pada anak-anak prepubertas.
5. Osteoporosis sekunder.
Penurunan densitas tulang yang cukup berat untuk menyebabkan fraktur atraumatik
akibat faktor ekstrinsik seperti kelebihan kortikosteroid, atraumatik reumatoid,
kelainan hati/ ginjal kronis, sindrom malabsorbsi, mastisitosis sistemik,
hipertiriodisme , varian status hipogonade dan lain-lain.

C. Etiologi
Osteoporosis postmenopouse terjadi karena kekurangan estrogen (hormon utama
pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang pada
wanita. Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia diantara 51-75 tahun, tetapi bisa
mulai muncul lebih cepat ataupun lebih lambat. Tidak semua wanita memiliki resiko
yang sama untuk menderita osteoporosis postmenopouse, pada wanita kulit putih dan
daerah timur lebih mudah menderita penyakit ini daripada wanita kulit hitam (Lukman,
Nurma Ningsih : 2009).
Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kasium
yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan diantara kecepatan hancurnya
tulang dan pembentukan tulang yang baru. Senilis yaitu keadaan penurunan masa tulang
yang hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia diatas 70
tahun dan dua kali lebih sering menyerang wanita. Wanita sering kali menderita
osteoporosis senilis dan postmenopouse (Lukman, Nurma Ningsih : 2009).
Kurang dari lima persen penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis
sekunder, yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obet-obatan. Penyakit
ini bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid,
paratiroid, dan adrenal) dan obat- obatan (misalnya kortikosteroid, barbiturat, anti-kejang,
hormon tiroid yang berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan dan kebiasaan
merokok bisa memperburuk keadaan ini (Lukman, Nurma Ningsih : 2009).
Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya
tidak diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa yang normal dan tidak
memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang (Lukman, Nurma Ningsih : 2009).
Faktor genetik juga berpengaruh terhadap timbulnya osteoporosis. Pada seseorang
dengan tulang yang kecil akan lebih mudah mendapat risiko fraktur daripada seseorang
dengan tulang yang besar. Sampai saat ini tidak ada ukuran universal yang dapat dipakai
sebagai ukuran tulang normal. Setiap individu memiliki ketentuan normal sesuai dengan
sifat genetiknya beban mekanis dan besar badannya. Apabila individu dengan tulang
besar, kemudian terjadi proses penurunan massa tulang (osteoporosis) sehubungan
dengan lanjutnya usia, maka individu tersebut relatif masih mempunyai tulang lebih
banyak daripada individu yang mempunyai tulang kecil pada usia yang sama (Lukman,
Nurma Ningsih : 2009).
D. Tanda dan Gejala
Osteoporosis merupakan penyakit tersembunyi, maksudnya penyakit ini muncul
terkadang tanpa gejala dan terdeteksi. Penyakit ini seringkali baru diketahui ketika
timbul gejala nyeri karena patah tulang anggota gerak hanya karena penyebab yang
sepele, seperti jatuh. Biasanya, bagian yang sering patah adalah tulang pangkal
paha, tulang belakang, dan pergelangan tangan. Sebenarnya, ada tanda-tanda yang
perlu dicurigai bahwa hal itu merupakan ganguan karena osteoporosis, yaitu pegal, linu,
dan nyeri tulang, khususnya didaerah tulang pangkal paha, tulang belakang
dan pergelangan tangan, dan tumit. Osteoporosis juga menyebabkan tubuh
cenderung bungkuk. (Kasdu, 2002, hlm 46)
E. Anatomi dan Fisiologi

F. Patofisiologi
Genetik, nutrisi, gaya hidup (misal merokok, konsumsi kafein, dan alkohol), dan
aktivitas mempengaruhi puncak massa tulang. Kehilangan masa tulang mulai terjadi
setelah tercaipainya puncak massa tulang. Pada pria massa tulang lebih besar dan tidak
mengalami perubahan hormonal mendadak. Sedangkan pada perempuan, hilangnya
estrogen pada saat menopouse dan pada ooforektomi mengakibatkan percepatan resorpsi
tulang dan berlangsung terus selama tahun-tahun pasca menopouse (Lukman, Nurma
Ningsih : 2009).
Diet kalsium dan vitamin D yang sesuai harus mencukupi untuk mempertahankan
remodelling tulang selama bertahun-tahun mengakibatkan pengurangan massa tulang dan
fungsi tubuh. Asupan kasium dan vitamin D yang tidak mencukupi selama bertahun-
tahun mengakibatkan pengurangan massa tulang dan pertumbuhan osteoporosis. Asupan
harian kalsium yang dianjurkan (RDA : recommended daily allowance) meningkat pada
usia 11 – 24 tahun (adolsen dan dewasa muda) hingga 1200 mg per hari, untuk
memaksimalakan puncak massa tulang. RDA untuk orang dewasa tetap 800 mg, tetapi
pada perempuan pasca menoupose 1000-1500 mg per hari. Sedangkan pada lansia
dianjurkan mengkonsumsi kalsium dalam jumlah tidak terbatas. Karena penyerapan
kalsium kurang efisisien dan cepat diekskresikan melalui ginjal (Smeltzer, 2002).
Demikian pula, bahan katabolik endogen (diproduksi oleh tubuh) dan eksogen
dapat menyebabkan osteoporosis. Penggunaan kortikosteroid yang lama, sindron
Cushing, hipertiriodisme dan hiperparatiriodisme menyebabkan kehilangan massa tulang.
Obat- obatan seperti isoniazid, heparin tetrasiklin, antasida yang mengandung
alumunium, furosemid, antikonvulsan, kortikosteroid dan suplemen tiroid mempengaruhi
penggunaan tubuh dan metabolisme kalsium.
Imobilitas juga mempengaruhi terjadinya osteoporosis. Ketika diimobilisasi
dengan gips, paralisis atau inaktivitas umum, tulang akan diresorpsi lebih cepat dari
pembentukannya sehingga terjadi osteoporosis.

G. Pemeriksaan Diagnostik
Sebenarnya langkah terbaik dalam penanganan osteoporosis adalah pencegahan
karena bila sudah terkena susah, bahkan tidak dapat dipulihkan. Seyogyanya, sedini
mungkin dilakukan diagnosis untuk mendeteksi keadaan massa tulang sebelum terjadi
akibat yang lebih fatal seperti terjadinya patah tulang . penilaian langsung tulang untuk
mengetahui ada tidaknya osteoporosis dapat dilakukan dengan berbagai cara , yaitu
sebagai berikut :
1. Pemeriksaan radiologic
Saat ini, sing dkk telah mengembangkan indeks sing untuk mengukur ketebalan
colum femaris dan komponen-komponen trabekulasinya secara radiologic . caranya
dengan menganalisis komponen-komponen yang berkolerasi cukup tepat dengan
adanya osteoporosis. Namun hasil pengukuran pengukuran ini masih sangat lemah
untuk mendiagnosis adanya osteoporosis. Pada pemeriksaan radiologic ini
digunakan X-ray konvensional sehingga osteoporosis baru akan terlihat apabila
massa tulang sudah berkurang hingga 30% atau lebih.
2. Pemeriksaan radioisotope
Pemeriksaan ini menggunakan sinar foton radionuklida yang dapat mendeteksi
densitas tulang dan ketebalan korteks tulang. Ada dua jenis pemeriksaan yaitu : single
photon absorptiometry dan dual photon absorptiometry.
a. Single photon absorptiometry (SPA) sinar photon bersumber dari 1-125 dengan
dosis 200 mci yang diperiksa.
b. Dual photon absorptiometry (DPA) sinar photon bersumber dari nuklida GA-
135 sebanyak 1,5 Cl yang mempunyai energy (44 kev dan 100 kev).
Pemeriksaan ini digunakan untuk mengukur vertebra dan colum femoris.
3. Pemeriksaan Quantitative
Computerized Tamography (QCT). Quantitative computerized tomography (QCT)
merupakan salah satu cara yang dipakai untuk mengukur mineral tulang karena dapat
menilai secara volumetric trabekulasi tulang radius , tibia, dan vertebra. keuntungan
QCT adalah tidak dipengaruhi oleh korteks dan artefak kalsifikasi osteosit dan
kalsifikasi aorta, serta tidak perlu diperhitungkan dengan berat badan dan tinggi
badan. Kerugiannya adalah paparan radiasinya yang jauh lebih tinggi dibandingkan
dengan jenis pemeriksaan lainnya.
4. Magnetic resonance imaging (MRI)
Cara ini dapat mengukur struktur trabekuler tulang dan kepadatannya. Alat tersebut
tidak memakai radiasi, melainkan hanya dengan lapangan magnet yang sangat kuat.
Sayangnya pemeriksaan ini mahal dan membutuhkan sarana yang banyak.
5. Quantitative Ultra Sound (QUS)
Cara ini menggunakan kecepatan gelombang suara ultra yang menembus tulang.
Kemudian dinilai atenuasi kekuatan dan daya tembus melalui tulang yang dinyatakan
sebagai pita lebar ultrasonic (ultrasound broad band ) dan kekuatan (stiffness).
Keuntungannya adalah mudah dibawah kemana-mana , tetapi kerugiannya adalah
tidak dapat mengetahui lokalisasi osteoporosis secara tepat.
6. Densitometer (X-ray absorptiometry)
Menggunakan radiasi sinar X yang sangat rendah. Ada dua jenis X-ray
absorptiometry yaitu SXA (Single X-ray absorptiometry) yang juga disebut scan
tulang. Pengukuran dilakukan pada tulang yang kemungkinan mudah patah, seperti
tulang belakang, pinggul, dan pergelangan tangan atau seluruh rangka tubuh.
Nilai massa tulang yang didapat dari pengukuran ini disebut kerapatan mineral tulang
(BMD= bone mineral density). Pengukuran ini tidak menimbulkan rasa sakit, mudah
dilakukan, hasil pemeriksaan diperoleh dalam waktu singkat, dan relative aman.
Walaupun menggunakan sinar X, tingkat radiasinya sangat kecil , seingkali lebih
kecil dari radiasi alamiah. Oleh karenanya, pengukuran dapat dilakukan pada anak-
anak dan ibu hamil, serta dapat pula di ulang bila diperlukan.

H. Penatalaksanaan
Pengobatan osteoporosis yang telah lama digunakan yaitu terapi medis yang lebih
menekankan pada pengurangan atau meredakan rasa sakit akibat patah tualng. Selain itu,
juga dilakukan terapi hormone pengganti (THP) atau hormone replacement therapy
(HRT) yaitu menggunakan estrogen dan progresteron. Terapi lainnya yaitu terapi non
hormonal antara lain suplemen kalsium dan vitamin D.
1. Terapi medis
Sebenarnya belum ada terapi yang secara khusus dapat mengembalikan efek dari
osteoporosis. Hal yang dapat dilakukan adalah upaya-upaya untuk menekan atau
memperlambat menurunnya massa tulang serta mengurangi rasa sakit.
a. Obat pereda sakit
Pada tahap awal setelah terjadinya patah tulang, biasanya diperlukan obat pereda
sakit yang kuat, seperti turunan morfin. Namun, obat tersebut memberikan efek
samping seperti mengantuk, sembelit dan linglung. Bagi yang mengalami rasa
sakit yang sangat dan tidak dapat diredakan dengan obat pereda sakit, dapat
diberikan suntikan hormone kalsitonin.
Bila rasa sakit mulai mereda, tablet pereda rasa sakit seperti paracetamol atau
codein ataupun kombinasi keduanya seperti co-dydramol, co- codramol, atau co-
proxamol bagi banyak pasien cukup memadai untuk menghilangkan rasa sakit
sehingga pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari.
2. Terapi hormone pada wanita
Osteoporosis memang tidak dapat disembuhkan, semua upaya pengobatan hanya
dimaksudkan untuk mencegah kehilangan massa tulang yang lebih besar. Namun,
demikian, pengobatan masih perlu dilakukan pada kasus osteoporosis berat untuk
mencegah terjadinya patah tulang. Obat-obat untuk mencegah penurunan massa
tulang biasanya bekerja lambat dan efeknya kurang terasa sehingga banyak pasien
penderita osteoporosis merasa putus asa dan menghentikan pengobatan. Hal tersebut
sangat tidak baik karena pengobatan jangka panjang diperlukan untuk dapat secara
maksimal menekan laju penurunan massa tulang dan patah tulang.
Terapi hormone pada wanita diberikan pada masa pramenopause. Lamanya
pemberian terapi hormone sulit ditentukan. Yang jelas jika ingin terhindar dari
osteoporosis, terapi hormone dapat terus dilakukan. Sebagian dokter menganjurkan
untuk dilakukan terapi hormone seumur hidup semenjak menopause pada wanita
yang mengalami osteoporosis. Namun, sebagian juga berpendapat bahwa penggunaan
terapi hormone sebaiknya dihentikan setelah penggunaan selama 5-10 tahun untuk
menghindari kemungkinan terjadinya kanker.
a. Hormone Replacement Theraphy (HRT)
Hormone Replacement Theraphy (HRT) atau terapi hormone pengganti (THP)
menggunakan hormone estrogen atau kombinasi estrogen dan progesterone.
Hormone-hormon tersebut sebenarnya secara alamiah diproduksi oleh indung
telur, tetapi produksinya semakin menurun selama menopause sehingga perlu
dilakukan HRT.
Penggunaan estrogen memang efektif dalam upaya pengobatan dan pencegahan
osteoporosis. Namun, tidak terlepas dari kemungkinan terjadinya efek samping
berupa munculnya kanker endometrium (dinding rahim). Dengan adanya
hormone tersebut akan merangsang pertumbuhan sel-sel di dinding rahim yang
apabila pertumbuhannya terlalu pesat dapat berkembang menjadi kanker ganas.
Oleh karena itu, penggunaan estrogen biasanya di kombinasikan dengan
progesterone untuk mengurangi resiko tersebut.
Efek lain yang juga dapat timbul dalam pemberian terapi hormone, diantaranya
adalah pembesaran payudara, kembung, retensi cairan, mual, muntah, sakit
kepala, gangguan pencernaan, dan gangguan emosi. Namun, demikian, efek
tersebut biasanya hanya terjadi pada awal terapi dan kondisi berangsur membaik
dengan sendirinya. Dapat juga dilakukan pemberian hormone estrogen dan
progesterone secara bertahap, dosis kecil diberikan pada awal terapi dilihat dulu
reaksinya terhadap tubuh. Bila dosis dapat diterima tubuh, dosis kemudian
dinaikkan secara bertahap.
b. Kalsitonin
Selain hormone estrogen dan progesterone, hormone lain yang biasa digunakan
dalam pencegahan dan pengobatan osteoporosis adalah kalsitonin. Kalsitonin
turut menjaga kestabilan struktur tulang dengan mengaktifkan kerja sel osteoblast
dan menekan kinerja sel osteoclast.
Kalsitonin juga berperan dalam mengurangi rasa sakit yang mungkin timbul pada
keadaan patah tulang. Hormone ini secara normal dihasilkan oleh kelenjar tiroid
yang memiliki sifat meredakan rasa sakit yang cukup ampuh. Kalsitonin biasanya
diberikan dalam bentuk suntikan yang diberikan setiap hari atau dua hari sekali
selama dua atau tiga minggu. Hormone ini juga dapat menimbulkan efek samping
berupa rasa mual dan muka merah, mungkin pula terjadi muntah dan diare serta
rasa sakit pada bekas suntikan.
c. Testosterone
Testosterone adalah hormone yang biasa dihasilkan oleh tubuh pria. Penggunaan
hormone testosterone pada wanita dengan osteoporosis pasca menopause mampu
menghambat kehilangan massa tulang. Namun, dapat muncul efek maskulinasi
seperti penambahan rambut secara berlebihan di dada, kaki, tangan, timbulnya
jerawat dimuka dan pembesaran suara seperti yang biasa terjadi pada pria.
3. Terapi non-hormonal
Terapi hormone selama ini memang dianggap sebagai jalan yang paling baik
untuk mengobati osteoporosis. Namun, karena banyaknya efek samping yang dapat
ditimbulkan dan tidak dapat diterapkan pada semua pasien osteoporosis, maka
sekarang mulai dikembangkan terapi non-hormonal.
a. Bisfosfonat
Bisfosfonat merupakan golongan obat sintetis yang saat ini sangat dikenal dalam
pengobatan osteoporosis non-hormonal. Efek utama dari obat ini adalah
menonaktifkan sel-sel penghancur tulang (osteoclast) sehingga penurunan massa
tulang dapat dihindari. Obat-obat yang termasuk golongan bisfosfonat adalah
etidronat dan alendronat.
b. Etidronat
Etidronat adalah obat golongan bisfosfonat pertama yang biasa digunakan dalam
pengobatan osteoporosis. Obat ini diberikan dalam bentuk tablet dengan dosis
satu kali sehari selama dua minggu. Penggunaan obat ini harus dikombinasikan
dengan konsumsi suplemen kalsium. Namun, perlu diperhatikan agar konsumsi
suplemen kalsium harus dihindari dalam waktu dua jam sebelum dan sesudah
mengkonsumsi etidronat karena dapat mengganggu penyerapannya. Kadang kala
konsumsi etidronat memberikan efek samping,tetapi relative kecil. Misalnya
timbul mual, diare, ruam kulit dan lain-lain.
c. Alendronat
Alendornat mempunyai fungsi dan peran yang serupa dengan etidronat,
perbedaannya adalah pada penggunaannya tidak perlu dikombinasikan dengan
konsumsi suplemen kalsium, tetapi bila asupan kalsium masih rendah, pemberian
kalsium tetap dianjurkan. Efek samping yang mungkin ditimbulkan pada
konsumsi alendronat adalah timbulnya diare, rasa sakit dan kembung pada perut,
serta gangguan pada tenggorokan.
4. Terapi alamiah
Terapi alamiah adalah terapi yang diterapkan untuk mengobati osteoporosis tanpa
menggunakan obat-obatan atau hormone. Terapi ini berhubungan dengan gaya hidup
dan pola konsumsi. Beberapa pencegahan yang dapat diberikan yaitu dengan
berolahraga secara teratur, hindari merokok, hindari minuman beralkohol dan
menjaga pola makan yang baik.
BAB III
ASKEP
Kasus
Ny. S umur 58 tahun datang ke RSI Nurhidayah dengan keluhan ngilu yang sering
dirasakannya pada lutut sejak 3 bulan yang lalu, rasa ngilu itu sudah dirasakan sejak beberapa
tahun yang lalu, namun Ny. S tidak memperdulikannya. Ketika memeriksakan diri ke dokter Ny.
S dianjurkan untuk tes darah dan rongent kaki. Hasil rongent menunjukkan bahwa Ny. S
menderita osteoporosis diperkuat lagi dengan hasil BMD T-score -3. Klien mengalami
menopause sejak 6 tahun yang lalu. Menurut klien dirinya tidak suka minum susu sejak usia
muda dan tidak menyukai makanan laut. Klien beranggapan bahwa keluhan yang dirasakannya
karena usianya yang bertambah tua. Riwayat kesehatan sebelumnya diketahui bahwa klien tidak
pernah mengalami penyakit seperti DM dan hipertensi dan tidak pernah dirawat di RS. Pola
aktifitas diketahui klien banyak beraktifitas duduk karena dulu dirinya bekerja sebagai staf
administrasi dan tidak suka olahraga karena tidak sempat. Pemeriksaan TB 165 cm, BB 76 kg
(BB sebelumnya 77 kg). TD : 130/90 mmHg, N :80x/menit, S: 36,50c, RR : 20x/mnt.

A. Pengkajian
1. Biodata
Pasien
Nama : Ny. S
Usia : 58 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Swasta
Status Pernikahan : Menikah
Alamat : panggang jln kenangan no 1945
Diagnosa Medis : Osteoporosis
Waktu/Tgl Masuk RS : 6 November 2017 jam 21.28
Penanggung Jawab
Nama : Ny. I
Usia : 41 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Status pernikahan : Menikah
Alamat : panggang jln kenangan no 1945
Hubungan dengan klien : Adik klien
2. Keluhan Utama
Pasien mengeluh ngilu kaki kanan
3. Riwayat Kesehatan :
a. Riwayat penyakit sekarang
Ny. S umur 58 tahun datang ke RSI Nurhidayah dengan keluhan ngilu yang sering
dirasakannya pada lutut sejak 3 bulan yang lalu, rasa ngilu itu sudah dirasakan sejak
beberapa tahun yang lalu, namun Ny. S tidak memperdulikannya. Ketika
memeriksakan diri ke dokter Ny. S dianjurkan untuk tes darah dan rongent kaki. Hasil
rongent menunjukkan bahwa Ny. S menderita osteoporosis
Hasil TTV klien:
TD : 130/90 mmHg
N :80x/menit
S: 36,50c
RR : 20x/mnt
b. Riwayat penyakit dahulu
Riwayat kesehatan sebelumnya diketahui bahwa klien tidak pernah mengalami
penyakit seperti DM dan hipertensi dan tidak pernah dirawat di RS sebelumnya.
c. Riwayat penyakit keluarga
Pasien mengatakan bahwa tidak ada riwayat pentakit keluarga seperti yang dialami
pasien sekarang
4. Pengkajian Kebutuhan Dasar Klien
a. Aktifitas dan Latihan
Klien mengatakan tidak bisa mandi sendiri dan tidak bisa melakukan aktivitas sendiri
karena merasa ngilu. ADL dibantu oleh keluarga
b. Tidur dan istirahat
Sebelum sakit : pasien sebelum sakit bisa tidur 8 jam pada malam hari dan 2 jam
pada siang hari.
Selama sakit : pasien hanya dapat tidur 5 jam pada malam hari dan 2 jam pada siang
hari

c. Kenyamanan dan Nyei


P : pasien mengatakan nyerinya bertambah ketika berjalan
Q : pasien mengatakan nyerinya terasa seperti ditusuk-tusuk.
R : kaki kanan bagian lutut
S : skala nyeri 8
T : pasien mengatakan nyerinya terus menerus
d. Nutrisi
Pada saat dikaji pasien mengatakan tidak mengalami penurunan nafsu makan. Pasien
mengatakan tidak ada pantangan terhadap makanan tertentu pasien makan di bantu
oleh keluarganya.
Jenis makanan yang di konsumsi adalah nasi, ikan, dan sayur
e. Cairan , Elektrolit dan Asam Basa
Pasien mengatakan bisa minum atau mampu menghabiskan 4 gelas air minum dan
pasien tidak mengalami dehidrasi.
f. Oksigenasi
Pasien tidak menggunakan alat bantu bernapas. Pasien tidak mengeluh batuk.
g. Eliminasi Fekal/ Bowel
Klien mengatakan BABnya di bantu oleh keluarganya, saat dikaji oleh perawat BAB
klien padat dan berwarna coklat dan berbau kas
h. Eliminasi Urine
Pasien mengatakan bisa berkemih 2-3x/hari, pasien tidak menggunakan kateter,
pasien bisa BAK dengan di bantu oleh keluarganya
i. Sensori, Persepsi dan Kognitif
Pasien tidak menggunakan alat bantu pendengaran, dan pasien tidak mengalami
gangguan penglihatan, penciuman,pengecapan maupun sensasi taktil.
5. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
Kesadaran : compos mentis.
TD : 130/90 mmHg N :80x/menit S: 36,50c RR : 20x/mnt
b. Kepala
Bentuk kepala simetris, tidak terdapat kemerahan
Mata simetris, konjungtiva anemis, hidung simetris tidak menggunakan pernapasan
cuping hidung,
c. Leher
Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid dan tidak ada peningkatan JVP, tidak ada
nyeri telan.
d. Dada
Bentuk dada simetris
Pulmo : Inspeksi : bentuk pengembangan paru simetris
Palpasi : premitus taktil kiri dan kanan sama
Perkusi : sonor
Auskultasi : vesikuler
Cor : Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : iktus kordis teraba pada mid clavicula SIC 5
Perkusi : pekak/redup
Auskultasi : tidak ada suara jantung tambahan
e. Abdomen
Inspeksi : tidak terdapat kemerahan
Auskultasi : suara pristaltik usus 7x/ mnit
Palpasi : tidak terdapat nyeri tekan
Perkusi : timpani
f. Ekstremitas :
Atas : ROM ka/ki : 5/5
Capilary refil : 2 detik
Akral : hangat
Bawah :
ROM ka/ki : 4/5
Capilary refil : 2 detik
Akral : hangat

6. Pemeriksaan Penunjang
a. Hasil Pemeriksaan laboratorium
Jam/Tgl : 07.15/ 7 November 2017
Parameter Hasil Satuan Nilai normal interpretas

Darah Lengkap :

N,

Hb 14 gr% 14-16 Normal

AL (angka 11 ribu/ul 4-11 Normal


leukosit)

AE (angka 4,76 juta/ul 4,5-5,5 Normal


eritrosit)

AT (angka 350 ribu/ul 150-450 Normal


trombosit)

HMT 42,4 % 42-52 Normal

Albumin 2,74 mg/dl 3,5-5,5 Normal

Natrium 137,2 mmol/l 135-148 Normal

Kalium 4,32 mmol/l 3,5-5,3 Normal

Klorida 102,0 mmol/l 98-107 Normal

Glukosa Sewaktu 95 gr/dl <105 Normal

b. Foto polos sendi (roentgen) :

c. Pemeriksaan cairan sendi : Dijumpai peningkatan kekentalan cairan sendi.

d. Pemeriksaan BMD (Bone Mineral Density) : T- score - 3 ( Penyusutan massa tulang)

7. Terapi Medis
Terapi cairan :
a. Oksigen Canul 4
b. Infus RL 20 tpm
c. Ketorolac
d. Ranitidin
e. Ondon

B. ANALISA DATA

Nama klien : Ny.S No.Rekam Medis : 11130048


Umur : 58 thn Diagnosa Medis : Osteoporosis
Ruang Rawat : Mawar Alamat : Panggang
Tgl/JM DATA FOKUS ETIOLOGI PROBLEM

DS : klien mengatakan ngilu pada lutut dan Agen cidera Biologis Nyeri akut
kaki kanan

P: klien mengatakan nyerinya bertambah saat


berjalan

Q: seperti ditusuk-tusuk

R : kaki kanan dan lutut

S:8

T : terus menerus

DO : klien tampak menahan nyeri dan skalanya


8

DS : klien mengatakan sulit untuk beraktivitas Gangguan muskuloskeletal Hambatan imobilitas Fisik
dan klien mengatakan selalu di bantu untuk
memenuhi ADLnya oleh keluarganya

DO : klien tampak sulit untuk beraktivitas dan


selalu dibantu oleh keluarganya dalam
memenuhi ADL

DS : klien mengatakan bahwa klien sering Faktor internal fisik Resiko cidera
merasa ngilu pada bagian lutut dan kaki kanan

DO : terlihat klien memegang bagian sendi kaki


yang ngilu.

Hasil pemeriksaan BMD : T- score -3


Prioritas diagnosa
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis
2. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan muskuloskeletal
3. Resiko cidera berhubungan dengan faktor internal fisik
C. Intervensi
1. Nyeri Akut berhubungan dengan agen cidera biologis
NO Masalah Keperawatan NOC NIC

Nyeri akut NOC NIC

1. Pain Level, Pain Management

Definisi : Pengalaman sensori dan2. Pain control 1. Lakukan pengkajian nyeri secara
emosional yang tidak komprehensif termasuk lokasi,
menyenangkan yang muncul 3. Comfort level karakteristik, durasi frekuensi, kualitas
akibat kerusakan jaringan yang dan faktor presipitasi
aktual atau potensial atau
digambarkan dalam hal kerusakan 2. Observasi reaksi nonverbal dan
Kriteria Hasil :
sedemikian rupa (International ketidaknyamanan
Association for the study of Pain): 1. Mampu mengontrol nyeri
3. Gunakan teknik komunikasi terapeutik
awitan yang tiba-tiba atau lambat (tahu penyebab nyeri,
untuk mengetahui pengalaman nyeri
dan intensitas ringan hingga berat mampu menggunakan
pasien
dengan akhir yang dapat tehnik nonfarmakologi
diantisipasi atau diprediksi dan untuk mengurangi nyeri, 4. Kaji kultur yang mempengaruhi respon
berlangsung <6 bulan.="" mencari bantuan) nyeri
span="">
2. Melaporkan bahwa nyeri 5. Evaluasi pengalaman nyeri masa
berkurang dengan lampau
menggunakan manajemen
Batasan Karakteristik : nyeri 6. Evaluasi bersama pasien dan tim
kesehatan lain tentang ketidakefektifan
1. Perubahan selera makan 3. Mampu mengenali nyeri kontrol nyeri masa Iampau
(skala, intensitas, frekuensi
2. Perubahan tekanan darah
dan tanda nyeri) 7. Bantu pasierl dan keluarga untuk
3. Perubahan frekwensi jantung mencari dan menemukan dukungan
4. Menyatakan rasa nyaman
4. Perubahan frekwensi setelah nyeri berkurang 8. Kontrol lingkungan yang dapat
pernapasan mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan dan kebisingan
5. Laporan isyarat
9. Kurangi faktor presipitasi nyeri
6. Diaforesis
10. Pilih dan lakukan penanganan nyeri
7. Perilaku distraksi (farmakologi, non farmakologi dan
(mis,berjaIan mondar-mandir inter personal)
mencari orang lain dan atau
aktivitas lain, aktivitas yang 11. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
berulang) menentukan intervensi

8. Mengekspresikan perilaku 12. Ajarkan tentang teknik non


(mis, gelisah, merengek, farmakologi
menangis)
13. Berikan anaIgetik untuk mengurangi
9. Masker wajah (mis, mata nyeri
kurang bercahaya, tampak
kacau, gerakan mata 14. Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
berpencar atau tetap pada
satu fokus meringis) 15. Tingkatkan istirahat

10. Sikap melindungi area nyeri 16. Kolaborasikan dengan dokter jika ada
keluhan dan tindakan nyeri tidak
11. Fokus menyempit (mis, berhasil
gangguan persepsi nyeri,
hambatan proses berfikir, 17. Monitor penerimaan pasien tentang
penurunan interaksi dengan manajemen nyeri
orang dan lingkungan)
Analgesic Administration
12. Indikasi nyeri yang dapat
1. Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas,
diamati
dan derajat nyeri sebelum pemberian
13. Perubahan posisi untuk obat
menghindari nyeri
2. Cek instruksi dokter tentang jenis obat,
14. Sikap tubuh melindungi dosis, dan frekuensi

15. Dilatasi pupil 3. Cek riwayat alergi

16. Melaporkan nyeri secara 4. Pilih analgesik yang diperlukan atau


verbal kombinasi dari analgesik ketika
pemberian lebih dari satu
17. Gangguan tidur
5. Tentukan pilihan analgesik tergantung
tipe dan beratnya nyeri

Faktor Yang Berhubungan : 6. Tentukan analgesik pilihan, rute


pemberian, dan dosis optimal
Agen cedera (mis, biologis, zat
kimia, fisik, psikologis) 7. Pilih rute pemberian secara IV, IM
untuk pengobatan nyeri secara teratur

8. Monitor vital sign sebelum dan


sesudah pemberian analgesik pertama
kali

9. Berikan analgesik tepat waktu


terutama saat nyeri hebat

10. Evaluasi efektivitas analgesik, tanda


dan gejala

2. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan muskuloskeletal


Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Hambatan mobilitas fisik NOC NIC

Definisi : Keterbatasan pada 1. Joint Movement : Active Exercise therapy : ambulation


pergerakan fisik tubuh atau satu
atau lebih 2. Mobility level 1. Monitoring vital sign
sebelum/sesudah latihan dan
ekstremitas secara mandiri dan 3. Self care : ADLs lihat respon pasien saat latihan
terarah.
4. Transfer performance 2. Konsultasikan dengan terapi
Batasan Karakteristik : fisik tentang rencana ambulasi
sesuai dengan kebutuhan
1. Penurunan waktu reaksi
Kriteria Hasil: 3. Bantu klien untuk menggunakan
2. Kesulitan membolak-balik tongkat saat berjalan dan cegah
1. Klien meningkat dalam
posisi terhadap cedera
aktivitas fisik
3. Melakukan aktivitas lain 4. Ajarkan pasien atau tenaga
2. Mengerti tujuan dan
sebagai pengganti kesehatan lain tentang teknik
peningkatan mobilitas
pergerakan ambulasi
(mis.,meningkatkan 3. Memverbalisasikan perasaan
perhatian pada aktivitas 5. Kaji kemampuan pasien dalam
dalam meningkatkan
orang lain, mengendalikan mobilisasi
kekuatan dan kemampuan
perilaku, focus pada berpindah 6. Latih pasien dalam pemenuhan
ketunadayaan/aktivitas
kebutuhan ADLs secara mandiri
sebelum sakit) 4. Memperagakan penggunaan
sesuai kemampuan
alat
4. Dispnea setelah beraktivitas
7. Dampingi dan Bantu pasien saat
5. · Bantu untuk
5. Perubahan cara berjalan mobilisasi (walker) mobilisasi dan bantu penuhi
kebutuhan ADLs pasien.
6. Gerakan bergetar
8. Berikan alat bantu jika klien
7. Keterbatasan kemampuan memerlukan.
melakukan keterampilan
motorik halus 9. Ajarkan pasien bagaimana
merubah posisi dan berikan
8. Keterbatasan kemampuan bantuan jika diperlukan.
melakukan keterampilan
motorik kasar

9. Keterbatasan rentang
pergerakan sendi

10. Tremor akibat pergerakan

11. Ketidakstabilan postur

12. Pergerakan lambat

13. Pergerakan tidak


terkoordinasi

Faktor Yang Berhubungan :

1. Intoleransi aktivitas

2. Perubahan metabolisme
selular

3. Ansietas

4. Indeks masa tubuh diatas


perentil ke 75 sesuai usia

5. Gangguan kognitif

6. Konstraktur

7. Kepercayaan budaya tentang


aktivitas sesuai usia

8. Fisik tidak bugar

9. Penurunan ketahanan tubuh

10. Penurunan kendali otot

11. Penurunan massa otot

12. Malnutrisi

13. Gangguan muskuloskeletal

14. Gangguan neuromuskular,


Nyeri

15. Agens obat

16. Penurunan kekuatan otot

17. Kurang pengetahuan tentang


aktvitas fisik

18. Keadaan mood depresif

19. Keterlambatan
perkembangan

20. Ketidaknyamanan

21. Disuse, Kaku sendi

22. Kurang dukungan


Iingkungan (mis, fisik atau
sosiaI)

23. Keterbatasan ketahanan


kardiovaskular

24. Kerusakan integritas struktur


tulang

25. Program pembatasan gerak

26. Keengganan memulai


pergerakan

27. Gaya hidup monoton

28. Gangguan sensori perseptual

3. Resiko cidera berhubungan dengan faktor internal fisik


Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan

Risiko cidera NOC NIC

1. Risk Kontrol Environment Management (Manajemen


lingkungan)
Definisi : Beresiko mengalami
cedera sebagai akibat kondisi 1. Sediakan Iingkungan yang aman
lingkungan yang berinteraksi Kriteria Hasil : untuk pasien
dengan sumber adaptif dan
2. Identifikasi kebutuhan keamanan
sumber defensif individu 1. Klien terbebas dari cedera pasien, sesuai dengan kondisi fisik dan
fungsi kognitif pasien dan riwayat
2. Klien mampu menjelaskan penyakit terdahulu pasien
cara/metode untuk mencegah
Faktor Resiko : injury/cedera 3. Menghindarkan lingkungan yang
berbahaya (misalnya memindahkan
Eksternal 3. Klien mampu menjelaskan perabotan)
faktor resiko dari
1. Biologis (mis, tingkat
lingkungan/perilaku personal 4. Memasang side rail tempat tidur
imunisasi komunitas,
mikroorganisme) 4. Mampu memodifikasi gaya 5. Menyediakan tempat tidur yang
hidup untuk mencegah injury nyaman dan bersih
2. Zat kimia (mis, racun,
polutan, obat, agenens 5. Menggunakan fasilitas 6. Menempatkan saklar lampu ditempat
farmasi, alkohol, nikotin, kesehatan yang ada yang mudah dijangkau pasien.
pengawet, kosmetik,
pewarna) 6. · Mampu mengenali 7. Membatasi pengunjung
perubahan status kesehatan
3. Manusia (mis, agens 8. Menganjurkan keluarga untuk
nosokomial, pola menemani pasien.
ketegangan, atau faktor
kognitif, afektif, dan 9. Mengontrol lingkungan dari
psikomotor) kebisingan

4. Cara pemindahan/transpor 10. Memindahkan barang-barang yang


dapat membahayakan
5. Nutrisi (mis, desain, struktur,
dan pengaturan komunitas, 11. Berikan penjelasan pada pasien dan
bangunan, dan/atau keluarga atau pengunjung adanya
perubahan status kesehatan dan
peralatan)
penyebab penyakit.

Internal

1. Profil darah yang abnormal


(mis, leukositosis /
leukopenia, gangguan faktor
Koagulasi, trombositopenia,
sel sabit, talasemia,
penurunan hemoglobin)

2. Disfungsi biokimia

3. Usia perkembangan
(fisiologis, psikososial)

4. Disfungsi efektor

5. Disfungsi imun-autoimun

6. Disfungsi integratif

7. Malnutrisi

8. Fisik (mis, integritas kulit


tidak utuh, gangguan
mobilitas)

9. Psikologis (orientasi afektif)

10. Disfungsi sensorik


11. Hipoksia jaringan

D. Implementasi
No Diagnosa Keperawatan Implementasi

1 Nyeri akut berhubungan


dengan agen cidera
biologis
O

C
BAB IV
PEMBAHASAN

Bab ini berisi laporan pengelolaan dan pembahasan pada kasus Osteoporosis Ny. S di Ruang
Mawar RSI Nurhidayah yang dilakukan dengan pendekatan proses keperawatan yaitu tahap
pengkajian, analisa data, prioritas diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi
keperawatan, dan evaluasi keperawatan yang dilakukan selama 3 hari yaitu tanggal 7 - 9
November 2017.
A. HASIL LAPORAN KASUS
1. Biodata Klien (Biographic Information)
Pengkajian yang dilakukan oleh penulis pada tanggal 7 November 2017 di Ruangan
Mawar RSI Nurhidayah , diperoleh data yang bersumber dari pasien yaitu pasien
bernama Ny. S, Umur 58 tahun, berjenis kelamin perempuan, suku jawa, beragama
islam, pekerjaan swasta, pendidikan SMA, alamat panggang jln kenangan no 1945,
pasien masuk RS pada tanggal 6 November 2017, dengan diagnosa medis Osteoporosis.
Penanggung jawab pasien bernama Ny I, berusia 41 tahun, berjenis kelamin
Perempuan, suku jawa, beragama islam, pekerjaan ibu rumah tangga , pendidikan
SMA, alamat panggang jln kenangan no 1945, hubungan dengan pasien Adik pasien.
2. Pengkajian
a. Riwayat kesehatan
Pengkajian meliputi keluhan utama pasien mengatakan ngilu kaki kanan.
Riwayat penyakit sekarang pasien datang ke RSI Nurhidayah dengan keluhan
ngilu yang sering dirasakannya pada lutut sejak 3 bulan yang lalu, rasa ngilu itu
sudah dirasakan sejak beberapa tahun yang lalu, namun Ny. S tidak
memperdulikannya. Ketika memeriksakan diri ke dokter Ny. S dianjurkan untuk
tes darah dan rongent kaki. Hasil rongent menunjukkan bahwa Ny. S menderita
osteoporosis dan hasil tanda-tanda vital tekanan darah: 130/90 mmHg , nadi: 80
x/menit, respirasi : 20 x/menit, ,suhu : 36,5oc.
Riwayat penyakit dahulu pasien mengatakan belum pernah dirawat di RS
sebelumnya dan memeriksakan diri ke puskesmas terdekat. Riwayat Penyakit
keluarga pasien mengatakan Pasien mengatakan bahwa tidak ada riwayat pentakit
keluarga seperti yang dialami pasien sekarang.

b. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan vital sign yaitu tekanan darah 130/90 mmhg, suhu 36,5oc, nadi
80x/menit, pernapasan 20 x/menit. Kesadaran GCS 15 (E4,M6,V5). Keadaan
umum Keadaan umum kesadaran : compos mentis.TD:130/90mmHg, N :
80x/menit, S: 36,50c, RR : 20x/mnt. Kepala bentuk kepala simetris, tidak terdapat
kemerahan, mata simetris, konjungtiva anemis, hidung simetris tidak
menggunakan pernapasan cuping hidung, leher tidak ada pembesaran kelenjar
thyroid dan tidak ada peningkatan JVP, tidak ada nyeri telan. Dada bentuk dada
simetris, pulmo :Inspeksi : bentuk pengembangan paru simetris, Palpasi: premitus
taktil kiri dan kanan sama, perkusi: sonor, Auskultasi: vesikuler. Cor : inspeksi:
iktus kordis tidak terlihat, palpasi : iktus kordis teraba pada mid clavicula SIC 5,
perkusi: pekak/redup, Auskultasi: tidak ada suara jantung tambahan. Abdomen,
Inspeksi: tidak terdapat kemerahan, Auskultasi: suara pristaltik usus 7x/ mnit,
palpasi: tidak terdapat nyeri tekan, perkusi: timpani. Ekstremitas : Atas : ROM
ka/ki : 5/5, Capilary refil : 2 detik, Akral : hangat, Bawah : ROM ka/ki : 4/5,
Capilary refil : 2 detik Akral : hangat.

c. Data Penunjang
Pada Ny. S dilakukan pemeriksaan darah lengkap pada tanggal 07 November
2017, dengan hasil hemoglobin 14 gr%, AL (angka leukosit) 11 ribu/ul, AE
(angka eritrosit) 4,76 juta/ul, AT (angka trombosit) 350 ribu/ul, HMT 42,4 %,
Albumin 2,74 mg/dl, Natrium 137,2 mmol/l, Kalium 4,32 mmol/l, Klorida 102,0
mmol/l, Glukosa Sewaktu 95 gr/dl.

d. Program terapi
Diberikan Terapi oksigen 3 l/m, infus RL 20tpm untuk menambah cairan
dalam tubuh, diberikan terapi injeksi keterolak 30mg/12jm, ranitidin 50mg/8jm,
Ondan .

3. Analisa Data
Berdasarkan hasil pengkajian yang diperoleh bahwa keluhan utama Ny.S
adalah ngilu kaki kanan. Selama pasien dikaji didapatkan data subyektif bahwa
Ny. S mengatakan ngilu pada lutut dan kaki kanan, P: klien mengatakan nyerinya
bertambah saat berjalan, Q: seperti ditusuk-tusuk, R : kaki kanan dan lutut, S : 8,
T : terus menerus. Data obyektif yang didapatkan bahwa Ny.S klien tampak
menahan nyeri dan skalanya 8. Dari data-data yang di dapatkan dapat disimpulkan
bahwa diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Nyeri akut berhubungan dengan
agen cidera biologis.

4. Diagnosa Keperawatan
Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis

5. Intervensi Keperawatan
BAB V
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA