You are on page 1of 84

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembanguna Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD) adalah serangkaian kegiatan
pembangunan masyarakat yang berazaskan kegotongroyongan. Masyarakat bukan
saja sebagai onjek tetapi juga sebagai subjek pembangunan kesehatan (Nasrul
Efendi, 2007).
PKMD merupakan serangkaian bentuk operasional dari “Primary Health Care”
yang mempunyai delapan upaya kesehatan dasar meliputi pendidikan mengenai
masalah kesehatan dan cara pencegahan penyakit serta pengendaliannya,
peningkatan persediaan makanan dan perbaikan gizi, pengadaan air bersih dan
sanitasi dasar yang memadai, kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga berencana,
imunisasi terhadap penyakit infeksi yang utama, pencegahan dan penanggulangan
penyakit endemis setempat, pengobatan penyakit umum dan luka-luka, penyediaan
obat esensial bagi masyarakat (Nasrul Effendi, 2007)
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mamba’ul ‘Ulum Surakarta menyelenggarakan
program pendidikan DIII Kebidanan untuk menghasilkan tenaga Ahli Madya
kebidanan yang profesional, sehingga perlu dilaksanakan kegiatan – kegiatan
pembelajaran (teori di kelas), seminar, praktik laboratorium dan praktik klinik
kebidanan. Kegiatan pembelajaran tersebut dirancang untuk mencapai kompetensi
yang harus dimiliki oleh lulusan. Lulusan prodi DIII Kebidanan STIKES Mamba’ul
‘Ulum Surakarta diharapkan dapat menguasai seperangkat kompetensi bidan yang
telah ditetapkan sehingga mampu menjadi pelopor pemberi pelayanan kesehatan
primer pada komunitas / masyarakat. Sebagaimana kompetensi bidan yang bermutu
tinggi dan komprehensif pada keluarga, kelompok dan masyarakat sesuai dengan
budaya setempat. Praktik kebidanan komunitas ini akan membangkitkan peran serta
masyarakat, sehingga masyarakat dapat menangani masalaha kesehatannya. Peran
serta masyarakat tersebut diharapkan diperoleh suatu prioritas masalah dan mencari
alternatif pemecahan masalah secara bersama – sama anatara mahasiswa dan
masyarakat.(Buku Panduan Komunitas, 2018)

1
2

Mahasiswa STIKES Mamba’ul ‘Ulum Surakarta melakukan prakik kebidanan


komunitas di kelurahan Mojosongo RW XII. Di RW XII terdiri dari 9 RT yaitu RT
01, 02, 03, 04, 05, 06, 07, 08, dan 09 akan tetapi hanya 8 RT yang akan digunakan
sebagai lahan praktik komunitas yaitu RT 01 sampai RT 08. RT 09 tidak digunakan
karena merupakan wilayah perumahan. Mahasiswa melakukan praktik di kelurahan
Mojosongo RW XII berkaitan dengan kerja sama STIKES Mamba’ul ‘Ulum
Surakarta dengan kelurahan Mojosongo guna untuk menyehatkan dan
mensejahterakan masyarakat serta mencegah kematian ibu dan kematian bayi di RW
XII agat tidak terulang kembali.(Studi Dokumentasi Puskesmas Sibela)
Di RW XII mahasiswa mendapatkan tugas wilayah Genengan RT 03 jumlah
penduduknya adalah 70 jiwa, yang terdiri dari laki – laki 33 jiwa (47,14%)
perempuan 37 jiwa (52,86). Di RT 03 RW XII rumah yang di kaji 20 KK yang
terdiri dari KK laki – laki 19 KK 95% dan KK perempuan 1 KK (1%). Penduduk di
RT 03 mayoritas bermata pencaharian sebagai pegawai swasta. Penghasilan rata –
rata penduduk yaitu ± Rp. 1.507.500,-/bulan. (Data Tabulasi RT 03, 2018)
Komposisi penduduk menurut golongan umur dan jenis kelamin di RT 03 di
dominasi oleh usia 26-45 tahun sebesar laki – laki 16 jiwa (22.85%) perempuan 12
jiwa (17.14 %). Rata – rata pendidikan kepala keluarga di RT 03 tamat SMA (45%)
dan rata – rata pendidikan tingkat penduduk yaitu tamat SMA (34.29%). Fasilitas
peribadatan di RT 03 yaitu masjid atau mushola. Rata – rata pemeluk agama di RT
03 yaitu beragama islam. Fasilitas perekonomian di RT 03 terdiri dari beberapa
warung dan toko, sarana transportasi warga di RT 03 antara lain sepeda, sepeda
motor, dan mobil. Sarana komunikasi di RT 03 rata – rata cukup baik terdiri dari
hendphone, TV, dan radio. Bangunan rumah di RT 03 ini sudah permanen semua,
semua warga di RT 03 sudah mempunyai jamban sendiri sehingga perilaku
kesehatan tentang BAB sudah tidak sembarangan, sudah terealisasi dan menjadi
kebiasaan yang baik dan mendapat nilai positif. Sumber air dari sumur dalam,
sumur gali pompa listrik maupun PDAM. (Data Tabulasi RT 03, 2018)
Sedangkan kondisi kesehatan di RT 03 rata – rata cukup. Hal ini di dukung oleh
adanya perilaku hidup bersih dan sehat dengan status kesehatan sehat utama,
fasilitas pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau. Namun masih ada sebagian
masyarakat yang kurang sadar akan kesehatan keluarga, terutama tentang SADARI,
3

Program KB dan IVA test atau Pap Smear. Kurangnya pengatahuan masyarakat
tentang SADARI sehingga masyarakt tidak mengatahui bahwa SADARI dapat
mendeteksi kanker dini pada payudara. Pemeriksaan IVA Test digunakan untuk
mendeteksi dini kanker serviks yang menjadi masalah besar bagi wanita Indonesia
Program KB dapat menunda bagi pasangan usia subur yang belum ingin mempunyai
anak, menjarangkan untuk PUS yang masih mempunyai bayi dan balita, dan
mengakhiri bagi PUS yang sudah tidak menginginkan keturunan lagi.
Di RT 03 terdapat 19 pasangan usia subur. Dari 19 PUS hanya 13 pasangan usia
subur yang mengikuti program keluarga berencana (KB) dengan KB Kondom 1
PUS (7.63%), yang mengikuti KB pil 2 PUS (15.38%), yang mengikuti KB suntik 8
PUS (53.34%), yang mengikuti KB AKDR 3 PUS (15.38 %), yang mengikuti
MOW 1 PUS (7.69%) dan yang tidak mengikuti program KB yaitu 5 PUS ( 3 Ibu
hamil dan 2 PUS program hamil). Alasan 6 PUS yang tidak menggunkan KB karena
3 PUS sedang hamil dan 1 PUS melakukan Program hamil dan 1 PUS masih
menyusui ASI Esklusif. (Data Tabulasi RT 03, 2018)
Dari data diatas mahasiswa tertarik untuk memilih keluarga Tn. S karena Istri
Keluarga Tn. S tidak melakukan SADARI, tidak ber KB dan tidak melakukan IVA
test atau Pap Smear. Tn. S sudah memiliki 2 orang anak, anak yang pertama
berumur 6 tahun sedangkan anak yang kedua berumur 3 bulan sehingga dalam
keluarga Tn. S merupakan dalam tahap fase menjarangkan karena Tn. S masih
merencanakan untuk mempunyai anak kembali. Dalam hal ini pada keluarga Tn. S
yang ada di RT 03 RW XII Genengan diharapkan menggunkan alat kontrasepsi
yang lebih aman, nyaman dan membuat haromis dalam keluarga. (Data Tabulasi RT
03, 2018)
Berdasarkan data diatas maka penulis tertarik untuk memberikan asuhan
kebidanan komunitas dengan judul “Asuhan Kebidanan Komunitas Pada Keluarga
Tn. S di Genengan RT 03 RW XII Mojosongo Jebres Surakarta”.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan keluarga dengan
menekankan pada peningkatan peran serta keluarga dalam melakukan upaya
4

pencehagan, peningkatan dan mempertahankan kesehatan pada keluarga Tn. S


RT 03 RW XII Genengan Kelurahan Mojosongo Kecamatan Jebres Kota
Surakarta.
2. Tujuan Khusus
a. Dapat melakukan pengkajian pada keluarga Tn. S di RT 03 RW XII
Genengan Mojosongo Jebres Surakarta
b. Dapat melakukan analisa data pada keluarga Tn. S di RT 03 RW XII
Genengan Mojosongo Jebres Surakarta
c. Dapat merumuskan masalah yang terdapat pada keluarga Tn. S di RT 03 RW
XII Genengan Mojosongo Jebres Surakarta
d. Dapat membuat prioritas masalah yang terdapat pada keluarga Tn. S di RT
03 RW XII Genengan Mojosongo Jebres Surakarta
e. Dapat merencanakan asuhan pada keluarga Tn. S di RT 03 RW XII
Genengan Mojosongo Jebres Surakarta
f. Dapat melaksanakan asuhan pada keluarga Tn. S di RT 03 RW XII
Genengan Mojosongo Jebres Surakarta
g. Dapat melakukan evaluasi pada keluarga Tn. S di RT 03 RW XII Genengan
Mojosongo Jebres Surakarta

C. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
Mahasiswa dapat menerapkan manajemen asuhan kebidanan di keluarga Tn.
S di RT 03 RW XII Genengan Mojosongo Jebres Surakarta sesuai dengan teori
yang didapatkan di Prodi DIII Kebidanan STIKES Mamba’ul ‘Ulum Surakarta.
2. Bagi Masyarakat
Masyarakat dapat mengerti dan memahami tentang pentingnya memelihara
kesehatan. Sehingga dapat melakukan upaya pencegahan peningkatan dan
mempertahankan kesehatan.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Membantu institusi pendidikan dalam menerapkan sistem pembelajaran
praktek kerja lapangan secara nyata kepada mahasiswa sehingga dapat
menghasilkan tenaga ahli madya yang profesional.
5

4. Bagi Profesi Bidan


Bidan dapat meningkatkan profesionalisme bidan dalam Asuhan Kebidanan
Komunitas khususnya Asuhan Kebidanan pada keluarga. Membantu
menjalankan dan mengevaluasi program bidan yang lalu serta yang akan datang.

D. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan sebagai berikut :
BAB I : Pendahuluan yang meliputi : latar belakang, tujuan, manfaat dan
sistematika penulisan.
BAB II : Tinjauan teori yang terdiri dari teori keluarga, teori manajemen asuhan
kebidanan komunitas pada keluarga, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat,
Indikator Keluarga Sehat, tinjauan teori masalah/kasus yang dikaji, dan
skala prioritas masalah.
BAB III : Penerapan Asuhan Kebidanan Komunitas meliputi : pengkajian,
analisa data, perumusan masalah, prioritas masalah, perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi.
BAB IV : Pembahasan kasus komunitas meliputi : pengkajian, analisa data,
perumusan masalah, prioritas masalah, perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi.
BAB V : Penutup meliputi : simpulan dan saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
6

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Teori Keluarga
1. Definisi keluarga
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala
keluarga dan beberapa orang berkumpuln dan tinggal disuatu tempat dibawah
satu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Effendy, 2003:32)
Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah
tangga karena adanya hubungan darah, mempunyai peran masing-masing dan
menciptakan serta mempertahankan suatu budaya (Sudiharto, 2007).
Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena
hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup
dalam satu rumah tangga berinteraksi satu sama lain dan didalamnya perannya
masing-masing menciptakan serta pempertahankan kebudayaan.
Dari uraian diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa keluarga adalah :
a. Unit terkecil masyarakat
b. Terdiri atas dua tau lebih
c. Adanya ikatan perkawinan dan pertalian darah
d. Hidup dalam satu rumah tangga
e. Dibawah asuhan seorang kepala rumah tangga
f. Berinteraksi sesama anggota keluarga
g. Setiap anggota keluarga mempunyai peran masing-masing
h. Menciptakan dan mempertahankan suatu kebudayaan.
i. (Effendy Nasrul, 2003 hal 33)
2. Tipe/Bentu Keluarga (Effendy Nasrul, 2003)
a. Keluarga Inti (nuclear family) adalah keluarga yang dibentuk karena ikatan
perkawinan yang direncanakan yang terdiri dari suami, istri, dan anak-anak
karena kelahiran (naruran) maupun adopsi.
b. Keluarga asal (family of origin) merupakan satu unit keluarga tempat asal
sseorang dilahirkan.

6
7

c. Keluarga besar (extanded family) adalah keluarga ini ditambah keluarga lain
karena hubungan darah.
d. Keluarga berantai (sosial family) adalah keluarga yang terdiri wanita dan
pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan keluarga inti.
e. Keluarga duda atau janda adalah keluarga yang terbentuk karena perceraian
atau kematian pasangan yang dicintainya.
f. Keluarga komposit (composite family) adalah keluarga dari perkawinan
poligami dan hidup bersama.
g. Keluarga kohabitasi (cohabitation) adalah dua orang yang menjadi satu
keluarga tanpa adanya pernikahan, bisa memiliki anak atau tidak.
h. Keluarga inces (incest family) anak perempuan menikah dengan ayah
kandungnya atau ayah menikah dengan anak tirinya.
i. Keluarga tradisional dan non tradisional dibedakan berdasarkan ikatan
perkawinan. Keluarga tradisional diikat oleh perkawinan sedangkan keluarga
non tradisional tidak diikat oleh perkawinan.
3. Struktur Keluarga (Effendy Nasrul, 2003)
a. Patrilinean adalah keluarga sedarah yang yang terdiri dari anak keluarga
sedarah dalam beberapa generasi, hubungan tersebut disusun melalui jalur
garis ayah.
b. Matrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak keluarga sedarah
dalam beberapa generasi, hubungan tersebut disusun melalui jalur garis ibu.
c. Patrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah
suami.
d. Matrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga
sedarah ibu.
e. Keluarga kawinan adalah suami istri tinggal bersama sanak keluarga karena
ada hubungan.
4. Ciri-Ciri Struktur Keluarga (Effendy Nasrul, 2003)
a. Terorganisasi adalah setiap anggota keluarga saling ketergantungan antara
anggota keluarga.
8

b. Ada batasan yaitu setiap anggota memiliki kebebasan tetapi mereka juga
mempunyai keterbatasan dalam menjalankan fungsi dan tugasnya masing-
masing.
c. Ada perbedaan dan kekhususan yaitu setiap keluarga mempunyai peranan
dan fungsi masing-masing.
5. Pemegang Kekuasaan Dalam Keluarga
a. Patriakal yaitu dominan yang memegang kekuasaan dalam keluarga adalah
ayah.
b. Matriakal yaitu dominan dan memegang kekuasaan dalam keluarga adalah
ibu.
c. Equaritarum yaitu dominan dan memegang kekuasaan dalam keluarga
adalah ayah dan ibu.
6. Peran Keluarga
Menurut Effendy (2003:34) berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga
adalah sebagai berikut :
a. Peran ayah yaitu pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa
aman, kepala rumah tangga, dan sebagai kelompok sosialnya serta sebagai
anggota masyarakat dan lingkungannya.
b. Peran ibu yaitu mengurus rumah tanga sebagai pengasuh dan pendidik bagi
anak-anaknya. Pelindung dan salah satu dari peranan sosial serta anggota
masyarakat dan lingkungannya.
c. Anak-anak melakukan peranan psikososial sesuai dengan tingkat
perkembangan baik fisik, sosial dan spiritual.
7. Fungsi Keluarga
Menurut Effendy (2003:37) ada beberapa fungsi yang dapat dijalankan keluarga
sebagai berikut :
a. Fungsi biologis yaitu untuk meneruskan keturunan, memelihara dan
membersihkan anak, memenuhi kebutuhan gizi keluarga, memelihara dan
merawat anggota keluarga.
b. Fungsi psikologis yaitu memberikan kasih sayang dan rasa nyaman,
memberikan perhatian diantara anggota keluarga, membina pendewasaan
kepribadian keluarga.
9

c. Fungsi sosialisasi adalah membina sosialisasi pada anak, membentuk norma-


norma tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan anak, meneruskan
nilai-nilai budaya keluarga.
d. Fungsi ekonomi yaitu memberi sumber-sumber penghasilan untuk
memenuhi kebutuhan keluarga, pengaturan penggunaan penghasilan
keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga, menabung untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan keluarga di masa mendatang misalnya pendidikan
anak-anak.
e. Fungsi pendidikan yaitu mendaftarkan anak sekolah untuk memberikan
pengetahuan keterampilan dan membentuk anak sesuai bakat dan minat yang
dimilikinya, mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan
datang, dan memenuhi perannya sesuai dengan orang dewasa mendidik anak
sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangan.
8. Tugas-Tugas Keluarga (Effendy Nasrul, 2003)
a. Pemeliharaan fisik keluarga dan anggotanya.
b. Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga.
c. Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan kedudukannya.
d. Sosialisasi antar anggota keluarga.
e. Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga.
f. Penempatan anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih luas.
g. Membangkitkan dorongan dan semangat para anggotanya.
9. Ciri-Ciri Keluarga(Effendy Nasrul, 2003)
a. Diikat tali perkawinan.
b. Ada hubungan darah.
c. Ada ikatan batin.
d. Adatanggung jawab masing-masing anggota.
e. Ada pengambil keputusan.
f. Kerjasama anggota keluarga.
g. Komunikasi interaksi antar anggota.
h. Tinggal satu rumah.
10

B. Teori Manajemen Asuhan Kebidanan Komunitas Pada Keluarga


1. Manajemen Asuhan Kebidanan Komunitas Pada Keluarga
a. Pengertian Manajemen kebidanan
Manajemen kebidanan adalah metode dan pendekatan pemecahan
masalah kesehatan ibu dan anak yang khusus dilakukan oleh bidan dalam
memberikan asuhan kebidanan kepada individu, keluarga dan masyarakat.
(Depkes RI, 2007 : 15)
b. Pengertian Asuhan Kebidanan
Asuhan kebidanan adalah bantuan yang diberikan oleh bidan kepada
individu ibu dan anak balita. (Depkes RI, 2007 : 15)
c. Proses penerapan manajemen kebidanan melalui proses yang berurutan
yaitu:
1) Pengkajian
Pengkajian adalah sekumpulan tindakan yang digunakan oleh bidan
untuk mengukur keadaan klien (keluarga) dengan memakai norma-
norma kesehatan keluarga maupun sosial yang merupakan system yang
terintegrasi dan kesanggupan keluarga untuk mengatasinya. Dasar
pemikiran dari pengkajian adalah suatu perbandingan, suatu ukuran atau
suatu penilaian mengenai keadaan keluarga dengan menggunakan
norma-norma yang diambil dari kepercayaan, nilai-nilai, prinsip-prinsip,
aturan-aturan dan harapan-harapan, teori, konsep yang berkaitan dengan
permasalahan yang dihadapi oleh keluarga. (Effendy, 2003:46)
Pengkajian adalah tahapan dimana seorang bidan mengambil
informasi secara terus menerus terhadap anggota keluarga yang
dibinanya. Secara garis besar data besar yang dipergunakan mengkaji
status keluarga adlah :
a) Struktur dan karakteristik keluarga
b) Sosial, ekonomi, budaya
c) Faktor lingkungan
d) Riwayat kesehatan dan medis sari setiap keluarga
e) Psikologi keluarga
11

2) Analisa Data
Menurut Effendy (2003:48) Dalam menganalisa data ada 3 norma
yang perlu diperhatikan dalam melihat perkembangan kesehatan
keluarga yaitu:
a) Keadaan kesehatan yang normal dari setiap anggota keluarga
meliputi :
(i) Keadaan kesehatan fisik, mental, sosial anggota keluarga.
(ii) Keadaan pertumbuhan dan perkembangan anggota keluarga.
(iii)Keadaan gizi anggota keluarga.
(iv) Status imunisasi keluarga.
(v) Kehamilan dan keluarga berencana.
b) Keadaan rumah dan sanitasi lingkungan meliputi :
(i) Rumah meliputi : ventilasi, penerangan, kebersihan, konstruksi,
luas rumah dibandingkan dengan jumlah anggota keluarga dan
sebagainya.
(ii) Sumber Air Minum
Jarak antara sumber air minum dengan jamban harus >10 meter.
(iii)Jamban Keluarga
Jamban keluarga yang dianjurkan adalah leher angsa.
(iv) Tempat Pembuangan Air Limbah
Tempat Pembuangan Air Limbah yang baik adalah leher angsa
dengan tertutup dan pembuangannya dibuatkan kolam / lubang
supaya tingkat pencemarannya baik.
(v) Pemanfaatan pekarangan yang ada dan sebagainya.
c) Karakteristik keluarga
(i) Sifat – sifat keluarga .
Anggota keluarga yang berpengaruh dalam mengambil
keputusan.
(ii) Dinamika dalam keluarga.
Tata aturan yang ditegakkan dalam keluarga sehingga masing-
masing anggota keluarga mempunyai hak dan kewajiban masing-
masing.
12

(iii)Komunikasi dalam keluarga.


Komunikasi antar anggota keluarga menggunakan bahasa yang
sudah menjadi kebiasaan.
(iv) Interaksi antar anggota keluarga.
Interaksi antar anggota keluarga secara langsung maupun tidak
langsung ada hambatan atau tidak.
(v) Kesanggupan keluarga dalam membawa perkembangan anggota
keluarga
(vi) Kebiasaan dan nilai-nilai yang berlaku dalam keluarga sebagai
pedoman dalam melakukan tindakan.
3) Perumusan Masalah
Rumusan masalah kesehatan keluarga dapat menggambarkan
kesehatan dan status kesehatan keluarga, karena merupakan hasil
pemikiran dan pertimbangan yang mendalam tentang situasi kesehatan,
lingkungan, norma, nilai, kultur yang dianut oleh keluarga tersebut.
Perumusan masalah kesehatan dan kebidanan keluarga yang diambil
berdasarkan analisa konsep, prinsip, teori dan standar yang dapat
dijadikan acuan dalam menganalisa sebelum mengambil keputusan
tentang masalah kesehatan dan keperawatan keluarga. Disamping
melalui diskusi-diskusi diantara bidan dengan mempertimbangkan situasi
dan sumber daya yang ada pada keluarga.(Effendy, 2003 : 98)
4) Prioritas
Setelah menentukan masalah atau diagnose kebidanan langkah
selanjutnya adalah menentukan prioritas masalah kesehatan dan
kebidanan (Effendy, 2003:52). Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam
prioritas masalah adalah sebagai berikut :
a) Tidak mungkin masalah – masalah kesehatan dan kebidanan yang
ditemukan dalam keluarga dapat diatasi sekaligus.
b) Perlu mempertimbangkan masalah – masalah yang dapat mengancam
kehidupan keluarga seperti masalah penyakit.
c) Perlu mempertimbangkan respon dan perhatian keluarga terhadap
asuhan kebidanan yang akan diberikan.
13

d) Keterlibatan keluarga dalam memecahkan masalah yang mereka


hadapi.
e) Sumber daya keluarga yang dapat menunjang pemecahan masalah
kesehatan.
f) Pengetahuan dan kebudayaan keluarga.
Data – data yang telah diuraikan dirumuskan masalah diambil
permasalahan yang paling penting untuk segera dilakukan perencanaan
poin selanjutnya.
Tabel 2.1 Skala Prioritas Dalam Rangka Menyusun Masalah Kesehatan Keluarga
KRITERIA BOBOT
1. Sifat Masalah 1
Ancaman kesehatan 2
Tidak / kurang sehat 3
Krisis 1
2. kemungkinan masalah dapat diubah 2
Dengan mudah 2
Hanya sebagian 1
Tidak dapat 0
3. Potensi maslah untuk dirubah 1
Tinggi 3
Cukup 2
Rendah 1
4. Menonjolnya masalah 1
Masalah berat harus ditangani 2
Masalah yang tidak perlu segera ditangani 1
Masalah tidak dirasakan 0
14

Skoring :
a. Tentukan skor untuk setiap kriteria.
b. Skor dibagi angka tertinggi dan dikalikan dengan bobot.
Rumus :
Skor
x bobot
Angka tertinggi
c. Jumlahkan skor untuk semua kriteria. Skor tertinggi adalah 5 dan sama
untuk seluruh bobot.
Kemudian baru diberikan kepada hal – hal yang mengancam kesehatan
keluarga dan selanjutnya kepada situasi krisis dalam keluarga dimana terjadi
situasi dalam keluarga menuntut penyesuaian dalam keluarga.
(Effendy, 2003 : 97)
a) Kemungkinan masalah dapat diubah
faktor – faktor yang mempengaruhi masalah dapat diubah adalah :
(i) Pengetahuan teknologi dan tindakan – tindakan untuk menangani
masalah.
(ii) Sumber daya keluarga diantaranya keuangan, tenaga, sarana, dan
pra sarana.
(iii)Sumber daya perawatan diantaranya adlah pengetahuan
keterampilan dan waktu.
(iv) Sumber daya masyarakat dapat dalam bentuk fasilitas organisasi
seperti posyandu, DUKM, polindes, dan sebagainya.
b) Potensi masalah untuk dicegah : hal – hal yang perlu diperhatikan
dalam melihat potensi pencegahan masalah adalah :
c) Kepelikan / kesulitan masalah,hal ini berkaitan dengan beratnya
penyakit atau masalah yang menunjukkan kepada prognosa dan
beratnya masalah.
d) Lamanya masalah, berhubungan dengan jangka waktu terjadinya
maslaah. Lamanya masalah berhubungan erat dengan beratnya
masalah yang menimpa keluarga dan potensi masalah yang menimpa
keluarga dan potensi masalah yang dicegah.
15

e) Tindakan yang sudah dan sedang dijalankan adalah tindakan untuk


mencegah dan memperbaiki maslah dalam rangka meningkatkan
status kesehatan keluarga.
f) Adanya kelompok resiko tinggi dalam keluarga atau kelompokyang
sangat peka menambah potensi untuk mencegah masalah.
Dalam tipologi masalah kesehatan keluarga tiga kelompok besar yaitu :
1) Ancaman kesehatan adalah keadaan-keadaan yang dapat memungknkan
terjadinya penyakit, kecelakaan dan kegagalan dalam mencapai potensi
kesehatan. Yang termasuk ancaman kesehatan adalah :
a) Penyakit keturunan seperti asma, bronchiale, DM, dan lain-lain
b) Penyakit menular seperti TBS, Gonore, HIV-AIDS dan lain – lain
c) Jumlah anggota keluarga terlalu besar sehingga tidak sesuai dengan
kemampuan sumber daya keluarga
d) Resiko terjadi kecelakaan dalam kelaurga
e) Kekurangan atau kelebihan gizi dari masing – masing anggota
keluarga
f) Keadaan – keadaan yang menimbulkan stress ( hubungan kerja yang
kurang harmonis)
g) Sanitasi lingkungan buruk (sumber air yang tidak memenuhi syarat
dan lain-lain)
h) Kebiasaan – kebiasaan yang merugikan kesehatan (merokok,
minuman keras dan lain – lain
i) Sifat kebribadian yang melekat (pemarah)
j) Riwayat persalinan yang sulit
k) Memainkan peran yang tidak sesuai, misalnya: anak wanita
memainkan peran ayah karena ditinggal meninggal ibu
l) Imunisasi anak tidak lengkap
2) Kurang atau tidak sehat adalah kegagalan dalam memantapkan kesehatan
yang dimaksud adalah :
a) Keadaan sakit (sebelum atau sesudah didiagnosa)
b) Kegagalan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak yang tidak
sesuai dengan pertumbuhan normal.
16

3) Situasi krisis adalah saat-saat yang banyak menuntut keluarga dalam


menyesuaikan diri termasuk juga dalam hal sumber daya keluarga. Yang
dimaksud adalah :
a) Perkawinan
b) Kehamilan
c) Persalinan
d) Masa nifas
e) Menjadi orang tua
f) Penambahan anggota keluarga
g) Abortus
h) Kematian anggota keluarga
i) Pindah rumah
(Effendy, 2003:49)
2) Perencanaan
Apabila masalah kesehatan ataupun masalah kebidanan telah
teridentifikasi, maka langkah selanjutnya adlah menusun rencana
kebidanan sesuai urutan prioritas masalahnya. Rencana kebidanan
keluarga merupakan kumpulan tindakan yang direncanakan oleh bidan
untuk dilaksankan dalam menyelesaikan atau mengatasi masalah
kesehatan/masalah kebidanan yang telah diidentifikasi. Rencana
kebidanan yang berkualitas akan menjamin keberhasilan dalam mencapai
tujuan serta penyelesaian masalah (Mubarak 2006 : 294)
3) Pelaksanaan
Pelaksanaan merupakan salah satu tahap dari proses kebidanan
keluarga dimana bidan mendapatkan kesempatan untuk membangkitkan
minat keluarga untuk mengadakan perbaikan kearah perilaku hidup
sehat. Adanya kesulitan kebingungan, ketidakmampuan yang dihadapi
keluarga, hal tersebut harus menjadikan perhatian sehingga bidan
diharapkan dapat memberikan kekuatan dan membantu mengembangkan
potensi-potensi yang ada sehingga keluarga dapat mempunyai
kepercayaan diri dan mandiri dalam menyelesaikan masalah.
(Mubarak, 2006 : 297)
17

4) Evaluasi
Evaluasi adalah tahap yang menentukan apakah tujuan tercapai.
Evaluasi selalu berkaitan dengan tujuan. Apabila dalam penilaian tujuan
tidak tercapai maka perlu dicari penyebabnya. Hal ini dpat terjadi karena
beberpa faktor :
a) Tujuan tidak realistis
b) Tindakan kebidanan yang tidak tepat
c) Ada faktor lingkungan yang tidak dapat diatasi.
(Mubarok, 2006:297)
2. Materi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
a. Pengertian PHBS
Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah suatu upaya peningkatan
pengetahuan kesadaran, kemampuan dan kemauan untuk hidup bersih dan
sehat bagi pribadi, keluarga dan masyarakat umum dan minimal dapat
memberikan dampak yang bermakana terhadapa kesehatan dan
meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya dalam peningkatan
derajat kesehatan, status gizi pola hidup dan pemanfaatan sarana kesehatan
lingkungan agar tercapai derajat kesehatan yang optimal. (Effendy, Nasrul.
2010). Pelaksanaan PHBS dapat dilakukan setiap kegiatan seperti :
1) Rumah tangga
2) Sekolah / pesantren
3) Tempat – tempat kerja (institusi / sarana kesehatan)
4) Tempat – tempat umum
5) Organisasi atau lembaga kemasyarakatan
b. Cara – cara berperilaku hidup bersih dan sehat
1) Air Bersih
a) Lingkungan / tempat pengambilan air bersih seperti sumur gali, SPT,
dll harus selalu dibersihkan. Lantainya disikat agar tidak kotor dan
licin, berlumut sehingga tidak mencemari air sumur. Alat untuk
mengambil air seperti ember, perlengkapan timba atau gayung harus
diletakkan ditempat yang benar, jangan diletakkan sembarangan
seperti tergeletak dilantai sumur dsb. Agar air yang diambil tidak
18

tercemar oleh kotoran yang mungkin menempel / terbawa ember atau


gayung.
b) Biasakan minum air bersih yang sudah dimasak. Minum air yang
tidak dimasak dapat menyebabkan sakit perut seperti diare/mencret,
karena kuman penyebab penyakit diare biasanya masih terdapat pada
air yang belum dimasak.
c) Menutup tempat-tempat penyimpanan air bersih, tempat
penyimpanan bahan makan dan makanan siap saji agar terhindar dari
binatang penyebar penyakit seperti lalat, kecoa, nyamuk, dan tikus.
2) Buang Air Besar (BAB)
a) Jangan buang air besar (BAB) disembarang tempat karena kotoran
atau tinja manusia yang dibuang sembarangan dapat mencemari
lingkungan, biasakan buang air besar di WC / Jamban. Bagi bayi atau
orang sakit kotorannya juga dibuang di WC/Jamban
b) Jamban atau WC tidak boleh kotor, harus sering dibersihkan
sehingga tidak menjadi sarang serangga penyebar penyakit seperti
nyamuk, lalat, lipas dan kecoa. Tidak menimbulkan bau yang tidak
sedap, jamban setidaknya dibuat cukup lubang angin, terang, lantai
jamban tidak licin sehingga tidak menimbulkan kecelakaan.
c) Selesai buang air besar harus disiram sampai jamban bersih betul,
lubang ditutup kembali agar tidak berbau dan tidak dimasuki kecoa.
d) Setelah buang air besar, biasakan cuci tangan pakai sabun dan air
mengalir sampai bersih.
3) Sampah
a) Jangan membuang sampah disungai buanglah sampah pada
tempatnya seperti dilubang galian sampah (Tanah yang digali), kotak
sampah, drum/tong sampah, keranjang sampah, bak sampah.
b) Sampah yang dibuang ketempat sampah yang dilengkapi dengan
tutup harus segera ditutup kembali setiap membuang sampah.
Sampah yang dibuang dilubang galian sampah jangan sampai
berserakan. Sampah harus sering dibakar agar tidak menumpuk dan
19

menimbulkan bau karena sampah yang tidak diurus dengan baik akan
menjadi tempat perindukan binatang penyebar penyakit.
c) Halaman / pekarangan rumah harus sering dibersihkan dari sampah,
karena sampah yang berserakan disekitar rumah dapat mengganggu
pemandangan, menimbulkan bau yang tidak sedap, dapt
menimbulkan kecelakaan, dapat menyumbat saluran air dan
berakibat banjir
4) Personal Hygiene (kebersihan diri )
a) Mandi 2x sehari setiap hari menggunakan sabun dan air besih.
Mandi dengan air kotor seperti mandi si sungai yang telah tercemar
kotoran atau sampah dapat menimbulkan penyakit.
b) Pakaian diganti setiap hari sekali dan hindari tukar menukar
pakaianyang belum dicuci dengan orang lain.
c) Jangan membiasakan pakaian kotor ditumpuk atau atau dibiarkan
lama digantungan karena nyamuk sangat suka bersarang di benda –
benda kotor yang ditelakkan digantungan, cucilah segera pakaian
kotor sampai bersih dengan sabun dan bilas dengan air bersih.
d) Menggosok gigi dengan air bersih / matang setiap habis makan dan
pada waktu akan tidur.
e) Mencuci rambut paling sedikit 2x seminggu atau setiap kali rambut
kotor dengan sabun atau shampo pencuci rambut dan air bersih.
f) Biasakan cuci tangan pakai sabun dan air bersih sebelum makan agar
terhindar dari sakit perut dan kecacingan, karena telur cacing yang
mungkin ada dalam tangan atau kuku yang kotor ikut tertelan dan
masuk ke dalam tubuh.
g) Kuku tangan dan kaki harus sering dibersihkan dan biasakan untuk
beralas kaki.
5) Makanan
a) Sayuran yang akan dimasak atau sayuran yang akan dimakan mentah
(lalapan) harus dicuci yang bersih/matang agar terbebas dari kotoran,
telur cacing atau zat-zat penyemprot hama yang mungkin masih
melekat pada sayuran.
20

b) Biasakan mencuci tangan dengan sabun sebelum mengolah dan


menyajikan makanan dan minuman setelah memegang benda-benda
yang kotor.
c) Alat makan dan alat masak harus selalu bersih dan jangan
menggunakan lap kotor untuk membersihkan barang yang akan
dipakai (terutama peralatan makan)
d) Jangan meletakkan makanan dan minuman matang disembarang
tempat.
e) Biasakan menyimpan makanan dalam keadaan tertutup.
f) Tidak mencuci peralatan makan ataupun bahan makanan yang akan
dimasak disungai.
g) Simpanlah alat masak/makan di tempat yang bersih ada tempat yang
dilindungi dari pencemaran.
3. Indikator Keluarga Sehat
a. Program Gizi, Kesehatan, Ibu dan Anak
1) Keluarga mengikuti program Kb atau Keluarga Berencana
Yaitu apabila didalam keluarga baik suami atau istri atau bahkan
keduanya terdaftar sebagai peserta Keluarga berencana (KB) atau
memakai alat kontrasepsi. Faktor pendukung :
a) Adanya pelayanan KB sampai dengan tingkat desa atau kelurahan
b) Adanya promosi atau penyuluhan KB oleh NAKES atau di fasilitas
kesehatan.
c) Adanya promosi KB yang dilakukan oleh para pemuka agama.
d) Adanya pendidikan kespro atau KB di SMA dan juga Perguruan
Tinggi
e) Adanya contoh atau panutan ber KB dari PNS, POLRI, TNI atau para
pejabat lainnya.
f) Adanya kampanye KB nasional
g) Adanya pelayanan KB dan medis hingga ke puskesmas.
21

2) Ibu melakukan proses persalinan di fasilitas kesehatan


Jika di keluarga ada seorang ibu pasca bersalin yaitu usia bayi 0 – 12
bulan, maka persalinan ibu tersebut dilakukan di puskesmas, klinik, atau
rumah sakit. Faktor pendukung :
a) Adanya pelayanan bersalin yang berkualitas di puskesmas
b) Adanya rumah tunggu kelahiran serta adanya alat transportasi seperti
ambulance di semua tempat yang memerlukan.
c) Adanya senam bumil dan pelayanan ANC di puskesmas
d) Adanya promosi dan penyuluhan oleh NAKES atau kader PKK
mengenai persalinan di faskes.
3) Bayi mendapat imunisasi dasar lengkap
Jika di keluarga terdapat anak (usia 1-2 tahun) telah mendapatkan
imunisasi HB 0, BCG, Penta 1, penta 2, penta 3, polio 1, polio 2, polio 3,
polio 4, IPV, MR, penta booster, MR booster. Faktor pendukung :
a) Adanya pelayanan imunisasi dasar di pusat kesehatan masyarakat
dan FKTP lain.
b) Adanya promosi dan pengenalan oleh NAKES atau di faskes
mengenai imunisasi dasar.
c) Adanya promosi yang dilakukan oleh para pemuka agama kader
PKK atau kader imunisasi dasar.
d) Adanya kampanye nasional tentang imunisasi.
4) Bayi diberi ASI esklusif selama 6 bulan
Jika dikeluarga terdapat bayi usia >6-18 bulan, bayi tersebut selama 6
bulan pertama (usia 0-6 bulan) hanya di beri air susu ibu (ASI) saja atau
ASI esklusif. Faktor pendukung :
a) Adanya pelayanan konsultasi ASI di puskesmas atau FKTP
b) Adanya ruang khusus menyusui ditempat – tempat umum
c) Promosi yang dillakukan NAKES, kader PKK atau di faskes
mengenai ASI esklusif.
d) Adanya kampanye nasional tentang pemberian ASI
22

5) Pertumbuhan balita di pantau tiap bulan


Jika di keluarga ada seorang balita maka balita tersebut setiap dilakukan
penimbangan berat badan untuk dicatat di posyandu. Faktor pendukung :
a) Posyandu yang dapat berfungsi secara baik minimal sebulan sekali.
b) Supervisi serta bimbingan dari puskesmas ke posyandu
c) Adanya pemantauan pertumbuhan anak – anak playgroup dan TK
d) Promosi yang dilakukan oleh NAKES dan kader PKK mengenai
pemantauan pertumbuhan balita.
b. Pengendalian Penyakit Menular dan Tidak Menular
1) Penderita Tuberkulosis atau TB paru berobat sesuai standar
Jika di keluarga terdapat anggota keluarga usia >15 tahun menderita
batuk sudah 2 minggu berturut – turut belum sembuh atau didiagnosis
sebagai penderita tuberkulosis (TB) paru, penderita tersebut berobat
sesuai dengan petunjuk dokter / petugas kesehatan. Faktor pendukung :
a) Adanya pelayanan terhadap TB paru di puskesmas atau di Rumah
Sakit.
b) Adanya PMO atau pengawas menelan obat di rumah atau di tempat
kerja.
c) Promosi oleh NAKES, kader PKK di faskes atau ditempat – tempat
umum mengenai pengobatan TB paru.
2) Penderita Hipertensi Berobat Teratur
Jika di keluarga terdapat anggota keluarga usia >15 tahun yang berdasar
pengukuran adalah penderita tekanan darah tinggi (hipertensi) ia berobat
sesuai dengan petunjuk dokter/petugas kesehatan. Faktor pendukung :
a) Adanya pelayanan terpadu di PTM di FKTP
b) Adanya posbindu PTM di setiap desa atau kelurahan
c) Ada sistem pengawasan menelan obat yang teratur dari kader
kesehatan.
d) Adanya pelayanan konsultasi berhenti merokok baik dipuskesmas
atau di rumah sakit.
e) Adanya kegiatan aktivitas fisik seperti senam atau olahraga di
masyarakat.
23

f) Adanya pebatasan bahan tambahan makanan dan kandungan garam


dalam makanan
g) Adanay pengenalan atau promosi mengenai pengobatan hipetensi.
c. Perilaku Sehat
1) Tidak Ada Anggota Keluarga Yang Merokok
Jika ada seorang anggota keluarga yang sering atau kadang – kadang
menghisap rokok atau produk lain dari tembaka. Atau bisa juga anggota
keluarga yang merokok sudah berhenti merokok. Faktor pendukung :
a) Adanya layanan konsultasi berhenti merokok baik di puskesmas atau
rumah sakit
b) Adanya pembatasan iklan rokok dalam bentuk apapun
c) Adanya melarang merokok diberbagai kawasan seperti perkantoran,
sekolah dan tempat – tempat umum
d) Adanya batasan usia untuk pembeli rokok
e) Dilakukan kenaikan cukai rokok
f) Serta adanya kampanye nasional mengenai bahaya merokok
2) Sekeluarga menjadi anggota JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) atau
asuransi kesehatan
Yaitu apabila seluruh anggota keluarga sudah mempunyai kartu
keanggotaan BPJS (Badan Penyelenggara aminan Sosial) kesehatan dan
atau kartu anggota asuransi kesehatan lainnya. Faktor pendukung :
a) Adanya kemudahan dalam mengurus JKN
b) Adanya layanan JKN di FKTP atau rumah sakit yang bermutu
c) Adanya kampanye nasional tentang JKN
d. Rumah atau Lingkungan Sehat
1) Keluarga Mempunyai Akses Terhadap Air Bersih
Jika keluarga memiliki aksesair PDAM , sumur pompa, sumur gali atau
mata air terlindung untuk keperluan sehari – hari. Faktor pendukung :
a) Adanya sarana air bersih di pedesaan atau sekolah
b) Adanya promosi mengenai pentingnya air bersih yang dilakukan oleh
NAKES, kader PKK di fasilitas kesehatan.
24

2) Keluarga Mempunyai Akses atau Menggunakan Jamban Sehat


Jika keluarga memiliki atau menggnakan sarana untuk membuang air
besar (kakus) berupa kloset atau leher angsa atau plengsengan. Faktor
pendukung :
a) Adanya jamban sehat disetiap rumah atau keluarga, sekolah dan
perguruan tinggi
b) Adanya promosi dan pengenalan mengenai pentingnya jamban sehat
yang dilakukan oleh NAKES atau kader kesehatan di faskes.
e. Kesehatan Jiwa
1) Gangguan Jiwa Berat Tidak Ditelantarkan
Jika di keluarga terdapat anggota keluarga yang menderita gangguan
jiwa berat penderita tersebut diobati atau ditenlantarkan atau dipasung.
Faktor pendukung :
a) Adanya pelayanan terpadu di PTM di FKTP
b) Adanya promosi yang dilakukan oleh NAKES mengenai pengobatan
dan juga bagaimana memperlakukan penderita gangguan jiwa baik di
faskes atau di tempat – tempat kerja.
12 indikator keluarga sehat diatas merupakan indikator ketuarga
sehat untuk tingkat nasional, yang bisa digunakan sekaligus sebagai
indikator PHBS tatanan sebuah rumah tangga. Ke 12 indikator keluarga
sehat tersebut juga masih bisa ditambahkan dengan indikator lokal
sesuai dengan kebutuhan masing – masing daerah.
Seperti misalnya : bebas jentik nyamuk untuk daerah endemis DBD
atau demam berdarah, untuk daerah endemis malaria tempat tidurnya
menggunakan kelambu, stimulasi perkembangan balita atau indikator –
indikator lainnya. Dari 12 indikator keluarga sehat yang telah disebutkan
ada 4 indikator yang sasarannya akan terus berganti atau berubah – ubah
yaitu :
1. Ibu melakukan proses persalinan di fasilitas kesehatan
2. Bayi mendapat imunisasi dasar lengkap
3. Bayi diberi ASI esklusif selama 6 bulan
4. Pertumbuhan balita dipantau tiap bulan
25

Sehingga setiap tahunnya akan selalu dimulai dari nol. Walaupun


sudah memiliki cakupan yang tinggi namun ke 4 indikator tersebut akan
tetap menjadi prioritas utama. Itulah 12 indikator keluarga sehat yang
wajib anda ketahui semoga bisa menginspirasi anda untuk menjadikan
keluarga anda menjadi sebuah keluarga yang sehat dan sejahtera.

C. Teori Masalah Kasus Yang Dikaji


1. Materi SADARI
a. Pengerian SADARI
SADARI (Periksa Payudara Sendiri) adalah pemeriksaan payudara yang
dilakukan oleh diri sendiri untuk mengetahui / menemukan secara dini
kelainan yang ada pada payudara. (Mochtar,2007)
b. Manfaat SADARI
1) Dapat mendeteksi adanya tumor dalam ukuran kecil
2) Dapat mendeteksi adanya kanker payudara stadium dini
3) Dapat menurunkan angka kematian wanita akibat kanker payudara
4) Dapat mencegah kanker payudara
c. Kapan SADARI dilakukan
1) Seawal mungkin setelah remaja putri berumur 20 tahun
2) Sehari setelah menstruasi berakhir dan dapat dilakukan sebulan sekali
3) Bagi ibu yang menopouse tiap hari pertama tiap bulannya
4) Sepanjang hanya karena semakin tua semakin beresiko
d. Metode SADARI
Pemeriksaan payudara dapat dilakukan dengan melihat perubahan di
hadapan cermin dan melihat perubahan bentuk payudara dengan cara
berbaring.
1) Tahap Pertama
Posisi : berdiri tegak di depan cermin kedua tangan lurus kebawah di
samping badan.
Tujuan :
a) Melihat perubahan bentuk dan besarnya payudara
b) Melihat perubahan putting susu
26

c) Melihat kulit payudara


2) Tahap Kedua
Posisi : berdiri di depan cermin dengan kedua tangan diangkat lurus
keatas.
Tujuan :
a) Melihat retraksi kulit atau tarikan pada permukaan kulit
b) Melihat adanya kerutan pada payudara
3) Tahap Ketiga
Posisi : berdiri tegak didepan cermin dengan tangan disamping kanan
dan kiri. Miringkan badan ke kanan atau kekiri untuk melihat perubahan
pada payudara.
4) Tahap Keempat
Posisi : berdiri di depan cermin dengan berkacak pinggang / tangan
menekan pinggul.
e. Pemeriksaan Payudara
1) Tahap Pertama (Tahap Persiapan)
Posisi : berbaring menghadap kekiri dengan menekuk kedua lutut.
Langkah (Dimulai Dari payudara Kanan)
a) Letakkan bantal atau handuk mandi yang telah dilipat dibawah baju
sebelah kanan untuk menaikkan bagian yang yang akan diperiksa
b) Letakkan tangan di atas kepala
c) Gunakan tangan kiri untuk memeriksa payudara kanan dengan jari –
jari tangan kiri memeriksa sembarang benjolan atau penebalan.
d) Periksa payudara dengan menggunakan vertical Stip dan Circular
2) Tahap Kedua, Pemeriksaan Payudara dengan Vertical Strip
Langkah : memeriksa seluruh bagian payudara dengan cara vertical (dari
atas kebawah dan sebaliknya) dari tulang selangka di bagian atas sampai
ke bra – line bagian bawah. Pemeriksaan dimulai dari garis tengah kedua
payudara sampai bagian ketiak menggunakan tangan kiri dengan sedikit
menekan.
27

3) Tahap Ketiga
Tahap ketiga, Pemeriksaan Payudara dengan Cara Memutar
Langkah :
a) Dimulai dari bagian atas payudara buat putaran yang besar
b) Bergerak mengelilingi payudara dengan memperhatikan ada /
tidaknya benjolan
c) Buatlah sekurang – kurangnya tiga putaran kecil sampai ke putting
payudara
d) Dilakukan sebanyak 2 kali putaran pertama dengan tekanan ringan
dan putaran kedua dengan tekanan kuat
4) Tahap Keempat
Tahap keempat, Pemeriksaan Cairan d Putting Payudara
Langkah : menggunakan kedua tangan tekan payudara untuk melihat
adanya cairan abnormal dari putting payudara
5) Tahap Kelima
Posisi : tangan lurus disamping
Langkah : meraba bagian ketiak ada/tidaknya benjolan abnormal
(Setiatai : 2010)

2. Materi Keluarga Berencana


a. Pengertian Keluarga Berencana (KB)
Keluarga berencana (KB) adalah suatu upaya manusia untuk mengatur
secara sengaja kehamilan dalam keluarga secara tidak melawan hukum dan
moral pancasila untuk kesejahteraan keluarga. Enjang (Ritonga, 2003 : 87)
Keluarga berencana adalah metode medis yang dicanangkan oleh
pemerintah untuk menurunkan angka kelahiran. (Manuaba, 1998)
Keluarga berencana merupakan bagian dari pelayanan kesehatan
reproduksi untuk pengaturan kehamilan dan merupakan hak setiap individu
sebagai makhluk seksual (Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, 2003).
28

b. Tujuan Keluarga Berencana (KB)


1) Tujuan Umum
a) Membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan sosial ekonomi
suatu keluarga dengan cara pengaturan kelahiran anak, agar diperoleh
suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi
kebutuhan hidupnya.
b) Mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera yng menjadi dasar bagi
terwujudnya masyarkat yang sejahtera melalui pengendalian
kelahiran dan pertumbuhan penduduk indonesia.
2) Tujuan Khusus
a) Pengaturan kelahiran
b) Pendewasaan usia perkawinan
c) Peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga
d) Mencegah kehamilan karena lasan pribadi
e) Menjarangkan kehamilan
f) Membatasi jumlah anak
c. Manfaat Keluarga Berencana (KB)
Dengan mengikuti program KB sesuai anjuran pemerintah, para
akseptor akan mendpatkan tiga manfaat utama optimal, baik untuk ibu, anak
dan keluarga antara lain :
1) Manfaat Untuk Ibu
a) Mencegah kehamilan yang tidak diinginkan
b) Mencegah setidaknya 1 dari 4 kematian ibu
c) Menjaga kesehatan ibu
d) Merencanakan kehamilan lebih terprogram
2) Manfaat Untuk Anak
a) Mengurangi resiko kematian bayi
b) Meningkatkan kesehatan bayi
c) Mencegah bayi kekurangan gizi
d) Tumbuh kembang bayi lebih terjamin
e) Kebutuhan ASI Esklusif selama 6 bulan relatif dapat terpenuhi
f) Mendapatkan kualitas kasih sayang yang lebih maksimal.
29

3) Manfaat Untuk Keluarga


a) Meningkatkan kesejahteraan keluarga
b) Harmonisasi keluarga lebih terjaga
d. Pertimbangan Pemakaian Alat Kontrasepsi
1) Usia ibu < 20 tahun : kontrasepsi yang reversibilitasnya tinggi atau
kembali ke keseuburan tinggi.
2) Usia ibu > 35 tahun : Kontrasepsi efektif atau kegagalan rendah dan
reversibel atau inversibel
3) Usia reproduksi sehat : efektif, reversibel dan tidak mengganggu ASI
e. Jenis – Jenis KB
Ada berbagai macam alat kontrasepsi di Indonesia. Terdiri dari KB
hormonal, non hormonal, alamiah, dan non kontrasepsi mantap.
1) KB Hormonal
Efek samping dari metode kontrasepsi hormonal ini adalah :
a) Menstruasi menjadi tidak teratur atau tidak menstruasi sama sekali
(kecuali pil)
b) Kenaikan berat badan
c) Muncul flek hitam pada wajah
d) Mual pusing atau muntah
Cara kerja :
a) Menekan ovulasi
b) Mencegah implantasi
c) Mengentalkan lendir serviks sehingga sulit dilalui oleh sperma
d) Pergerakan tuba terganggu, sehingga transportasi telur juga
terganggu
Macam – Macam KB Hormonal
(i) KB Pil
(1) Pengertian
Pil adalah obat pencegah kehamilan yang diminum. Pil
telah diperkenalkan sejak 1960. Pil diperuntukkan bagi
wanita yan tidak hamil dan menginginkan pencegah
kehamilan sementara yang paling efektif bila diminum secara
30

teatur. Minum pil dapat dimulai segera sesudah terjadinya


keguguran, setelah menstruasi, atau pada masa post partum
bagi ibu yang tidak menyusui bayinya. Jika seorang ibu ingin
menyusui maka hendaknya penggunaan pil ditundah sampai 6
bulan setelah kelahiran anak ( atau selama masih menyusui)
dan disarankan menggunakan cara pencegah kehamilan yang
lain.
(2) Jenis – Jenis KB Pil
(a) Pil Gabungan atau Kombinasi
Tiap pil mengandung 2 hormon sintetis yaitu hormon
estrogen dan progestin. Pil gabungan mengambil manfaat
dari cara kerja kedua hormon yang mencegah kehamilan
dan hampir 100% efektif bila diminum secara teratur.
(a) Aktif dan reversibel
(b) Harus diminum setiap hari
(c) Efek samping yang serius jarang terjadi
(d) Efek samping yang sering timbul yaitu mual dan
bercak perdarahan atau spotting
(e) Tidak dianjurkan pada wanita yang sedang menyusui
(f) Dapat digunakan segabai alat kontrasepsi darurat
Jenis – jenis pil oral kombinasi yaitu :
(a) Monofasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet
mengandung hormon asktif estrogen atau progestin
dalam dosisi yang sama dengan 7 tablet tanpa hormon
aktif
(b) Bifasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet
mengandung hormon aktif estrogen atau progestin
dengan dua dosis yang berbeda dengan 7 tablet tanpa
hormon aktif
(c) Trifasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet
mengandung hormon aktif estrogen atau progrestin
31

dengan tiga dosisi yang berbeda dengan 7 tablet tanpa


hormon aktif
Kelebihan pil oral kombinasi yaitu :
(a) Memiliki efektifitas yang tinggi
(b) Resiko terhadap kesehatan sangat kecil
(c) Tidak mengganggu hubungan seksual
(d) Siklus haid teratur, tidak terjadi nyeri haid
(e) Dapat digunakan jangka panjang selama wanita itu
ingin menggunaknanya
(f) Mudah diberhentikan setiap saat dan kesuburan akan
kembali setelah diberhentikan
(g) Untuk kontrasepsi darurat
Kekurangan pil oral kombinasi yaitu :
(a) Mahal dan membosankan karena harus menggunakan
setiap hari
(b) Mual terutama pada 3 bulan pertama
(c) Perdarahan bercak atau spotting terutama 3 bulan
pertama
(d) Nyeri payudara, BB mengalami kenaikan, tidak untuk
wanita menyusui
(e) Meningkatkan Tekanan Darah
(b) Pil Khusus – Progrestin (Pil Mini)
Pil ini mengandung dosis kecil bahan progrestin
sintetis dan memiliki sifat pencegah kehamilan, terutama
dengan mengubah mukosa dari leher rahim (mengubah
sekresi pada leher rahim) sehinga mempersulit
pengangkutan sperma. Selain itu juga mengubah
lingkungan endometrium (lapisan dalam rahim) sehingga
menghambat proses perlekatan telur yang telah dibuahi.
32

(3) Kontra Indikasi Pemakaian Pil


Kontrasepsi pil tidak boleh diberikan ada wanita yang
menderita hepatitis, radang pembuluh darah, kanker payudara
tau kanker kandungan, hipertensi, gangguan jantung, varices,
perdarahan abnormal melalui vagina, kencing manis,
pembesaran kelenjar gondok (struma), Penderita sesak napas,
eksim dan migraine (sakit kepala yang berat pada sebelah
kepala).
(4) Efek Samping Pemakaian Pil
Pemakaian pil dapat menimbulkan efek samping berupa
perdarahan diluar haid, rasa mual, bercak hitam dipipi
(hiperpigmentasi), jerawat, penyakit jamur pada liang vagina
(candidiasis), nyeri kepala, dan penambahan berat badan.
(5) Cara Pemakaian Pil KB
(a) Untuk mereka yang baru pertama kali menggunkan pil
KB mulai minum pil saat haid yaitu mulai dihari kelima
haid atau paling baik hari pertama haid. Bila dimulai pada
saat haid sudah berhenti jika hendak melakukan hubungan
intim gunakan kondom selama 7 hari pertama minum pil
untuk mencegah terjadinya kehamilan.
(b) Untuk mencegah minum pil minumlah pil KB secara
teratur setiap harinya pada jam yang sama. Disarankan
untuk minum pil pada malam hari (sebelum tidur atau
setelah makan malam).
(c) Jika lupa minum 1 pil KB, minum segera saat teringat dan
minum pil dosisi hari itu di saat waktu rutin biasanya. Jika
lupa 1 hari (24 jam) maka masih dapat diminum 2 tablet
langsung pada saatnya minum pil. Namun jika lupa lebih
dari 1 hari buang pil yang terlupa dan lanjutkan minum pil
sesuai harinya. Namun karena efektifitas berkurang perlu
dikombinasikan dengan kontrasepsi kondom saat
berhubungan intim (Hanafi Hartono, 2002)
33

Contoh : biasanya minum pil KB pada jam 9 malam


i. Tanggal 1 lupa minum pil KB baru teringat pada jam
10 pagi pada tanggal 2 maka segera minum pil KB
yang terlupa. Jam 9 malam tanggal 2 minum pil KB
seperti biasa.
ii. Tanggal 1 lupa minum pil KB baru teringat jam 9
malam tanggal 2 maka minum kedua pil sekaligus.
iii. Tanggal 1 dan tanggal 2 lupa minum pil KB baru
teringat di tanggal 3 maka buang kedua pil, dan jam 9
malam tanggal 3 tetap minum pil KB sesuai harinya.
Dan bila hendak melakukan hubungan intim 7 hari
kedepan gunakan kondom agar tidak terjadi
kehamilan.
(d) Untuk pil KB dengan isi 21 pil, setelah pil terakhir
diminum maka 7 hari kedepan libur / tidak minum pil.
Saat libur inilah diperkirakan akan terjadi haid yang
biasanya timbul 2-3 hari setelah pil habis. Setelah libur 7
hari baik haid sudah selesai atau belum minum lahi pil
KB dari blester yang baru. Jika lupa tidak minum pil dan
langsung melanjutkan blister yang baru maka haid tidak
akan terjadi. Hal ini karena efek lanjutan hormon estrogen
dan progresteron pada pil KB. Hentikan pil KB maka
dalam beberapa hari akan terjadi haid.
(e) Untuk pil KB dengan isi 28 pil, 7 buah pil yang beda
ukuran dan warnanya dari 21 pil lainnnya, sebenarnya
tidak mengandung hormon dan hanya tepung saja
(plasebo) sehingga tidak memiliki efek pengobatan. Saat
minum pil plasebo inilah diperkirakan haid akan terjadi.
Tujuan disediakan pil plasebo hanyalah sebagai pengingat
saja supaya tidak lupa tinggal menyambung dengan pil
berikutnya.
34

(f) Untuk ibu menyususi tersedia mini pil (hanya


mengandung progesteron tidak mengandung estrogen). Pil
ini mempunyai efek seperti suntik KB karena tidak
mengandung estrogen sehingga tidak mengganggu
kualitas maupun kuantitas ASI.
Untuk ibu pasca melahirkan maka pemakaian pil KB
dimualai saat:
i. Ibu telah berhenti emnyusui atau 6 bulan setelah
melahirkan
ii. 3-6 minggu pasca brsalin untuk ibu yang tidak
menyusui
iii. Bila telah lebih dari 42 hari (6 minggu) pasca bersalin
dan tidak menyusui, yakinkan dulu bahwa tidak hamil
baru minum pil KB.
Untuk pemakaian pil KB setelah keguguran :
(a) Mulai pada 7 hari pertama keguguran
(b) Setiap saat asal yakin tidak hamil dan ber KB ganda
selama 7 hari pertama.
(ii) KB Suntik
(1) Pengertian
Kontrasepsi suntukan adalah cara untuk mencegah
terjadinya kehamilan dengan melalui suntikan hormonal.
Kontrasepsi hormonal jenis KB suntik ini di Indonesia
semakin banyak dipakai karena kerjanya yang efektif,
pemakaiannya yang praktis, harganya relatif murah dan aman.
Sebelum di suntik kesehatan ibu harus diperiksa terlebih
dahulu untuk memastikan kecocokannya. Suntikkan diberikan
saat ibu dalam keadaan tidak hamil.
(2) Suntik Progrestin
Merupakan metode kontrasepsi yang efektif, anam dan
dapat dipakai oleh semua PUS kembalinya ke kesuburan
35

lebih lambat (4 bulan) cocok untuk masa laktasi karena tidak


mempengaruhi ASI
(3) jenis – jenis suntik progrestin
(a) DMPA mengandung 150 mg DMPA yang diberikan
setiap 3 bulan dengan cara disuntikkan IM
(b) Depo Noristerat yang mengandung 200 mg noretrindron
Enantant dengan cara disuntikkan IM
(4) Kelebihan suntik progrestin
(a) Sangat efektif untuk pencegahan kehamilan jangka
panjang
(b) Tidak mempengarhi hubungan suami istri
(c) Tidak mengandung estrogen sehingga tidak berdampak
pada penyakit jantung
(d) Tidak berpengaruh terhadap ASI
(5) Kekurangan suntik progrestin
(a) Sering ditemukan gangguan haid seperti spotting siklus
memanjang dan memendek
(b) Klien bergantung pelayanan kesehatan dan tidak dapat
dihentikan sewaktu – waktu
(c) Peningkatan BB dan terlambatnya kembali ke kesuburan
setelah penghentian pemakaian
(6) Suntik Kombinasi
Merupakan jenis suntikan yang terdiri atas 25 mg Depo.
Medroksiprogesteron Asetat 5 mg Estradiol sipionat yang
diberikan inj IM 1 bulan sekali.
(7) Kelebihan suntik kombinasi
(a) Resiko terhadap kesehatan kecil, tidak mempengaruhi
hubungan suami istri
(b) Tidak diperlukan pemeriksaan dalam dan metode jangka
panjang
(c) Efek samping yang kecil
(d) Klien tidak perlu menyipan obat suntik
36

(8) Kekurangan suntik kombinasi


(a) Terjadi perubahan pola haid, spotting
(b) Mual, sakit kepala, nyeri payudara ringan
(c) Ketergantungan terhadap pelayanan kesehatan
(d) Peningkatan BB dan terlambatnya kembali kesuburannya

(iii)Implant atau AKBK


(1) Pengertian
Alat kontrasepsi yang dipasang dibawa kulit lengan atas
sebelah dalam berbentuk kapsul silastik (lentur) dalam setiap
batang mengandung hormon levonogestrel yang dapat
mencegah terjadinya kehamilan. Efektif 5 tahun untuk
norplant (terdiri dari 6 batang), 3 tahun untuk
indoplant/implano, klien merasa nyaman, dapat dipakai oleh
semua ibu reproduksi, pemasangan dan pencabutan
memerlukan pelatihan, kesuburan akan kembali setelah
dicabut, efek samping utama berupa perdarahan tidak teratur,
bercak/amenora, dan aman dipakai saat menyusui
(BKKBN,2006).
(2) Jenis Implant
Jenis – jenis implant menurut Saifuddin (2006) adalah
sebagai berikut :
(a) Norplant terdiri dari 6 batang silastik lembut berongga
dengan panjang 3-4 cm dengan diameter 2,4 mm yang
berisi dengan 36 mg levonogestrel dan lama kerjanya 5
tahun.
(b) Implanon terdiri dari 1 batang putih lentur dengan
panjang kira-kira 40 mm dan diameter 2 mm yang berisi
dengan 68 mg 3 ketodesogestrel dan lama kerjanya 3
tahun.
(c) Jadena dan indoplant terdiri dari 2 batang yang berisi
dengan 75 mg levonogestrel dengan lama kerja 3 tahun.
37

(3) Pemasangan implant menurut Saifuddin (2006) dapat


dilakukan pada :
(a) Perempuan yang telah memiliki anak atau belum
(b) Perempuan yang usia reproduksi (20-30 tahun)
(c) Perempuan yang menghendaki kontrasepsi yang memiliki
efektifitas tinggi dan menghendaki pencegahan kehamilan
jangka panjang.
(d) Perempuan pasca persalinan
(e) Perempuan pasca keguguran
(f) Perempuan yang tidak menginginkan anak lagi atu
menolak sterilisasi
(g) Perempuan yang tidak boleh menggunakan kontrasepsi
hormonal yang mengandung estrogen
(h) Perempuan yang sering lupa minum pil
(4) Kontra Indikasi
Menurut Saifuddin (2006) menjelaskan bahwa kontra Indikasi
implant adalah sebagai berikut :
(a) Perempuan hamil atau diduga hamil
(b) Perempuan dengan perdarahan pervaginam yang belum
jelas penyebabnya
(c) Perempuan yang tidak dapat menerima perubahan pola
haid yang terjadi
(d) Perempuan dengan mioma uterus dan kanker payudara
(e) Perempuan dengan benjolan / kanker payudara atau
riwayat kanker payudara.
(5) Keuntungan Implant
(a) Daya guna tinggi, perlindungan jangka panjang (5 tahun),
pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah
pencabutan
(b) Tidak memerlukan pemeriksaan dalan, bebas dari
pengaruh estrogen, tidak mengganggu coitus dan tidak
mempengaruhi ASI
38

(c) Klien kontrol ke klinik jika ada keluhan dan dapat


dilakukan pencabutan setiap saat sesuai dengan kebutuhan
(6) Kekurangan Implant
(a) Perubahan pola haid
(b) Nyeri kepala dan nyeri dada
(c) Peningkatan / penurunan BB
(d) Memerlukan pembedahan minor untuk pemasangan dan
pelepasan
2) KB Non Hormonal
a) IUD atau Alat Kontrasepsi Dalam Rahim
(i) Pengertian
IUD adalah alat kecil terdiri dari bahan plastik yang lentur
yang dimasukan ke dalam rongga rahim yang harus di ganti jika
sudah digunakan selama periode tertentu. IUD merupakan cara
kontrasepsi jangka panjang. Nama populernya adalah spiral.
(ii) Jenis – Jenis IUD di Indonesia
(1) Copper – T
IUD berbentuk T terbuat dari bahan polyethelene dimana
pada bagian vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga halus.
Lilitan kawat tembaga halus ini mempunyai efek
antifertilisasi (anti pembuahan) yang cukup baik IUD bentuk
T yang baru. IUD ini melepaskan levonogestrel dengan
konsentrasi yang rendah selama minimal 5 tahun. Dari hasil
penelitian menunjukkan efektifitas yang tinggi dalam
mencegah kehamilan yang tidak direncanakan maupun
perdarahan menstruasi. Kerugian metode ini adlah tambahan
terjadinya efek samping hormonal dan amenorhea.
(2) Copper – 7
IUD ini berbentuk angka 7 dengan maksud untuk
memudahkan pemasangan. Jenis ini mempunyai ukuran
diameter batang vertikal 32 mm dan ditambahkan gulungan
kawat tembaga (Cu) yang mempunyai luas permukaan 200
39

mm2 fungsinya sama halnya dengan liltan tembaga halus


pada jenis Copper-T.
(iii)Efektifitas
IUD sangat efektif (efektifitasnya 92-94%) dan tidak perlu
diingat setap hari seperti halnya pil. Tipe multiload dapat dipakai
sampai 4 tahun, nova T dan copper T 200 (CuT-200) dapat
dipakai 3-5 tahun, Cu T 380A dapat untuk 8 bulan. Kegagalan
rata-rata 0,8 kehamilan per 100 pemakai wanita pada tahun
pertama pemakaian.
(iv) Cara Kerja
(1) Menghambat kemampuan sperma masuk tuba fallopi
(2) Mencegah implementasi telur dalam uterus
(3) Mencegah sperma dan ovum bertemu
(v) Keuntungan IUD
(1) Tidak mempengaruhi hubungan seksual
(2) Meningkatkan kenyamanna hubungan seksual
(3) Tidak mempengaruhi ASI
(4) Metode jangka panjang
(5) Dapat digunakan sampai menopouse
(vi) Efek Samping Penggunaan IUD
(1) Menstruasi menjadi lebih lama dan banyak
(2) Perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama)
(3) Perdarahan irreguler (spotting) di antara menstruasi
(4) Saat haid lebih sakit
b) Kondom
(i) Pengertian
Kondom adalah sarung yang terbuat dari karet yang biasanya
disebut lateks, vinil atau plastik atau bahan alami dari produksi
hewani yang dipakai pada penis pria saat berhubungan seksual.
40

(ii) Efektifitas
Efektifitas pemakaian kondom akan tinggi apabila digunakan
secara benar. Angka kegagalannya yaitu 2-12 kehamilan per 100
perempuan per tahun.
(iii)Cara kerja
(1) Sebagai alat kontrasepsi
(2) Menghalangi bertemunya sperma dan sel telur
(3) Mencegah penularan mikroorganisme dari satu pasangan ke
pasangan yang lain
(iv) Keuntungan kondom
(1) Tidak mengganggu produksi ASI
(2) Mencegah PMS
(3) Mencegah ejakulasi dini
(4) Mencegah terjadinya kanker serviks
(5) Mencegah imunoinfertilitas
(6) Murah dan dapat dibeli secara umum
(7) Memberi drongan suami untuk ber KB
(v) Kerugian penggunaan kondom pria
(1) Efektifitas tidak terlalu tinggi
(2) Carapenggunaan sangat mempengaruhi keberhasilan
kontrasepsi
(3) Pada beberapa pria dapat menyebabkan kesulitan untuk
mempertahankan ereksi
(4) Harus selalu tersedia setiap kali berhubungan seksual
(vi) Efek Samping
(1) Kondom rusak atau bocor sebelum berhubungan
(2) Alergi
(3) Mengurangi kenikmatan hubungan seksual
(vii) Cara penggunaan
Dibawah ini adalah cara pemakaian kondom pria yaitu :
(1) Tahap 1
41

Kondom dipasang saat penis ereksi dan sebelum melakukan


hubungan badan
(2) Tahap 2
Buka kemasan kondom secara hati-hati dari tepi dan arah
robekan ke arah tengah. Jangan menggunakan gigi , benda
tajam saat membuka kemasan.
(3) Tahap 3
Tekan ujung kondom dengan jari dan jempol untuk
menghindari udara masuk ke dalam kondom. Pastikan
gulungan kondom berasa disisi luar.
(4) Tahap 4
Buka gulungan kondom secara perlahan ke arah pangkal
penis, sambil menekan ujung kondom. Pastikan posisi
kondom tidak berubah selama coitus. Jika kondom
menggulung tarik kembali gulungan ke pangkal penis.
(5) Tahap 5
Setelah ejakulasi lepas kondom saat penis masih ereksi.
Hindari kontak penis dan kondom dari pasangan anda.
(6) Tahap 6
Buang dan bungkus kondom bekas pakai ke tempat yang
aman (Notoatmojo, 2010)
c) KB Yang Tanpa Memakai Alat Apapun (Alamiah)
(i) Coitus Iteruptus (Senggama Terputus)
Coitus Iteruptus (Senggama Terputus) adalah metode
kontrasepsi dimana senggama diakhiri sebelum terjadi ejakulasi
intravaginal. Ejakulasi terjadi jauh dari genetalia eksterna wanita.
Cara kerja : alat kelamin (penis) dikeluarkan sebelum ejakulasi
sehingga sperma tidak masuk kedalam vagina. Dengan demikian
tidak ada pertemuan antara apermatozoa dengan ovum sehingga
kehamilan dapat dicegah.
(1) Efektif bila dilaksanakan dengan benar
(2) Tidak mengganggu produksi ASI
42

(3) Dapat digunakan sebagai pendukung metode KB lainnya


(4) Tidak ada efek samping
(5) Tidak memerlukan alat
d) KB Kalender
Metode kalender dengan tidak melakukan senggama pada masa
subur efektifitasnya 75% - 80% pengertian antar pasangan harus
ditekankan. Faktor kegagalan karena salah menghitung masa subur
dan siklus haid yang tidak teratur masa subur siklus terpanjang
dikurangi 11 dan siklus terpendek dikurangi 18. Cara ini kurang
dianjurkan karena sukar dilaksanakan dan membutuhkan waktu lama
untuk “puasa”. Selain itu kadang istri juga kurang terampil dalam
menghitung siklus haidnya setiap bulan.
e) KB MAL (Metode Amenorrea Laktasi)
Merupakan kontrasepsi yang mengandalkan pemberian ASI
secara esklusif. MAL dapat dipakai sebagai kontrasepsi bila :
menyusui secara penuh, lebih efektif jika pemberian belum haid, usia
bayi kurang dari 6 bulan. Efektifnya sampai 6 bulan dan harus
dilanjutkan dengan pemakaian metode kontrasepsi lainnya. Cara
kerjanya yaitu menunda, menhambat atau menekan ovulasi.
(i) Keuntungan MAL
(1) Efektifitas tinggi (98%) pada 6 bulan pertama setelah
melahirkan
(2) Segera efektif
(3) Tidak mengganggu senggama
(4) Tidak ada efek samping secara sistemik
(5) Tidak perlu perawatan medis
(6) Tidak perlu obat atau alat dan tanpa biaya
(ii) Kerugian MAL
(1) Tidak bisa digunakan bila klien bekerja / berpisah dengan
bayinya lebih dari jam
(2) Tidak bisa mencegah dari PMS (Penyakit Menular Seksual)
43

(iii)Keterbatasan MAL
(1) Perlu persiapan sejak perawatan kehamilan agar segera
menyusi dalam 30 menit pasca persalinan
(2) Mungkin sulit dilakukan karena kondisi sosial
(3) Efektifitasnya tinggi hanya sampai kembalinya haid atau
sampai dengan 6 bulan
(4) Tidak melindungi terhadap infeksi menular seksual termasuk
hepatitis B (HBV) dan HIV/AIDS
(5) Yang dapat menggunakan MAL adalah ibu yang menyusui
secara eskusif, bayinya berusia kurang dari 6 bulan dan belum
mendapat haid setelah melahirkan
f) Kontrasepsi Mantap
(i) Tubektomi (MOW)
Tubektomi adalah tindakan pada kedua saluran telur wanita
yang mengakibatkan wanita tersebut tidak akan mendapatkan
keturunan lagi. Tubektomi adalah pengikatan atau pemotongan
tuba fallopi kiri dan kanan pada wanita untuk mencegah transport
ovum dari ovarium melalui tuba kearah uterus dilakukan dengan
cara operasi. Efektifitas tinggi. Reversibilitas rendah disebut
kontrasepsi mantap.
(ii) Vasektomi (MOP)
Sterilisasi bisa dilakukan juga pada pria yaitu vasektomi.
Vasektomi adalah pengikatan atau pemotogan vas deferens kiri dan
kanan pada pria untuk mencegah transport spermatozoa dari testis,
dilakukan dengan cara operasi kecil atau minor surgery. Efektifitas
tinggi reversibilitas rendah disebut kontrasepsi mantap.
Dengan demikian jika salah satu pasangan telah mengalami
sterilisasi maka tidak diperlukan lagi alat-alat kontrasepsi yang
konvensional. Cara kontrasepsi ini baik sekali karena kemungkinan
untuk menjadi hamil kecil sekali.faktor yang paling penting dalam
pelaksanaan sterilisasi adalah kesukarelaan dari akseptor. Dengan
demikian sterilisasi tidak boleh dilakukan kepada wnaita yang belum
44

atau tidak menikah, pasangan yang tidak harmonis atau hubungan


perkawinan yang sewaktu-waktu terancam perceraian, dan pasangan
yang masih ragu menerima sterilisasi. Yang harus dijadikan patokan
untuk mengambil keputusan untuk sterilisasi adalah jumlah anak dan
usia istri. Misalnya, untuk usia istri 20-30 tahun jumlah anak yang
hidup harus 3 atau lebih.
g) Diafragma
Diafragma yaitu kap berbentuk lingkaran cembung terbuat dari
lateks (Karet) yang di insersikan ke dalam vagina dan menutup
serviks.
(i) Jenis kontrasepsi diafragma
(1) Flat Spring (flat metal band)
(2) Coil spring (coiled wire)
(3) Arching Spring
(ii) Cara kerja kontrasepsi diafragma
Menahan sperma supaya tidak mendapatkan susukan
mencapai saluran alat reproduksi episode atas (uterus dan tuba
falopi) dan sebagai alat tempat spermisida.
(iii)Manfaat kontrasepsi diafragma
(1) Efektif bila digunakan dengan benar
(2) Tidak mengganggu produksi ASI
(3) Tidak mengganggu korelasi seksual alasannya yaitu sudah
terpasang hingga 6 jam sebelumnya
(4) Tidak mengganggu kesehatan klien
(5) Tidak mengganggu kesehatan sistemik
h) Spermisida
Spermisida yaitu materi kimia (biasanya non oksinol-9) digunkan
untuk menon-aktifkan atau membunuh sperma
(i) Jenis kontrasepsi spermisida
(1) Aerosol
(2) Tablet vaginal, suppositoria atau dissolvablefilm
(3) Krim
45

(ii) Cara kerja kontrasepsi spermisida


Menyebabkan sel membran sperma terpecah, memperlambat
gerakan sperma dan menurunkan kemampuan pembuahan telur
i) Metode Suhu Basal (Termal)
(i) Dasar
Peninggian suhu badan basal 0,2 – 0,5 0C pada waktu
ovulasi. Peninggian suhu badan basal mulai 1-2 hari setelah
ovulasi dan disebabkan oleh peninggian kadar hormon
progesteron.
(ii) Teknik metode suhu basal
(1) Umumnya menggunakan termometer khusus dengan kaliprasi
yang diperbesar (basal termometer) meskipun termometer
biasa dapat juga dipakai.
(2) Waktu pengukuran harus pada saat yang sama setiap pagi dan
setelah tidur nyenyak setidaknya 3-5 jam serta masih dalam
keadaan istirahat mutlak.
(iii)Faktor – faktor yang mempengaruhi suhu badan basal
(1) Influenza atau infeksi traktus respiratorius lain
(2) Infeksi/penyakit-penyakit lain yang meninggikan suhu badan
(3) Inflamasi lokal lidah, mulut atau daerah anus
(4) Faktor – faktor situsional seperti mimpi buruk, jrt lag,
mengganti popok bayi pukul 6 pagi
(5) Jam tidur yang irreguler
(6) Pemakaian minuman panas atau dingin sebelum pengambilan
suhu badan basal
(iv) Efektifitas metode suhu basal
(1) Angka kegagalan : 0,3 – 6,6 kehamilan pada 100 wanita per
tahun
(2) Kerugian utama metode suhu basal ialah bahwa abstinens
sudah harus dilakukan pada masa pra ovulasi.
46

D. Skala Prioritas Dalam Menentukan Masalah Kesehatan Keluarga


KRITERIA BOBOT
1. Sifat Masalah 1
Ancaman kesehatan 2
Tidak / kurang sehat 3
Krisis 1
2. kemungkinan masalah dapat diubah 2
Dengan mudah 2
Hanya sebagian 1
Tidak dapat 0
3. Potensi maslah untuk dirubah 1
Tinggi 3
Cukup 2
Rendah 1
4. Menonjolnya masalah 1
Masalah berat harus ditangani 2
Masalah yang tidak perlu segera ditangani 1
Masalah tidak dirasakan 0

Skoring :
Tentukan skor untuk setiap kriteria.
Skor dibagi angka tertinggi dan dikalikan dengan bobot.
Rumus :
Skor
x bobot
Angka tertinggi
Jumlahkan skor untuk semua kriteria.
Skor tertinggi adalah 5 dan sama untuk seluruh bobot.(Effendy, 1998)
Dalam tipologi masalah kesehatan keluarga tiga kelompok besar yaitu :
1. Ancaman kesehatan adalah keadaan-keadaan yang dapat memungknkan
terjadinya penyakit, kecelakaan dan kegagalan dalam mencapai potensi
kesehatan. Yang termasuk ancaman kesehatan adalah :
47

a. Penyakit keturunan seperti asma, bronchiale, DM, dan lain-lain


b. Penyakit menular seperti TBS, Gonore, HIV-AIDS dan lain – lain
c. Jumlah anggota keluarga terlalu besar sehingga tidak sesuai dengan
kemampuan sumber daya keluarga
d. Resiko terjadi kecelakaan dalam kelaurga
e. Kekurangan atau kelebihan gizi dari masing – masing anggota keluarga
f. Keadaan – keadaan yang menimbulkan stress ( hubungan kerja yang kurang
harmonis)
g. Sanitasi lingkungan buruk (sumber air yang tidak memenuhi syarat dan lain-
lain)
h. Kebiasaan – kebiasaan yang merugikan kesehatan (merokok, minuman keras
dan lain – lain
i. Sifat kebribadian yang melekat (pemarah)
j. Riwayat persalinan yang sulit
k. Memainkan peran yang tidak sesuai, misalnya: anak wanita memainkan
peran ayah karena ditinggal meninggal ibu
l. Imunisasi anak tidak lengkap
2. Kurang atau tidak sehat adalah kegagalan dalam memantapkan kesehatan yang
dimaksud adalah :
a. Keadaan sakit (sebelum atau sesudah didiagnosa)
b. Kegagalan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak yang tidak sesuai
dengan pertumbuhan normal.
3. Situasi krisis adalah saat-saat yang banyak menuntut keluarga dalam
menyesuaikan diri termasuk juga dalam hal sumber daya keluarga. Yang
dimaksud adalah :
a. Perkawinan
b. Kehamilan
c. Persalinan
d. Masa nifas
e. Menjadi orang tua
f. Penambahan anggota keluarga
g. Abortus
48

h. Kematian anggota keluarga


i. Pindah rumah
(Effendy, 2003:49)
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penentuan prioritas yaitu sebagai berikut :
a. Sifat Masalah
Bobot yang lebih berat diberikan pada tidak / kurang sehat karena
memerlukan tindakan segera dan biasanya disadari dan dirasakan oleh
keluarga
b. Kemungkinan Masalah Dapat Diubah
1) Pengetahuan yang ada sekarang, teknologi dan tindakan untuk
menangani masalah
2) Sumber daya keluarga : dalam bentuk fisik, keuangan, dan tenaga
3) Sumber daya Perawat : dalam bentuk pengetahuan, keterampilan dan
waktu
4) Sumber daya masyarakat : dalam bentuk fasilitas, organisasi dalam
masyarakat, dan sokongan masyarakat.
c. Potensi masalah dapat dicegah
1) Kepelikan dari masalah yang berhubungan dengan penyakit atau
masalah
2) Lamanya maslaah yang berhubungan dengan jangka waktu masalah itu
ada
3) Tindakan yang dijalankan adalah tindakan – tindakan yang tepat dalam
memperbaiki masalah
4) Adanya kelompok “highrisk” atau kelompok yang sangat peka
menambah potensi untuk mencegah masalah.
d. Menonjolnya Masalah
Bidan perlu menilai persepsi atau bagaimana keluarga melihat masalah
kesehatan tersebut. Nilai skore yang tinggi yang terlebih dahulu dilakukan
intervensi keperawatan keluarga.
49

BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDNAN KOMUNITAS KELUARGA Tn. S DI DESA GENENGAN


RT 03 RW XII MOJOSONGO JEBRES SURAKARTA

Asuhan kebidanan dilaksanakan pada keluarga Tn. S mulai tanggal 12


November 2018 – 07 Desember 2018
A. PENGKAJIAN
Tanggal 29 November 2018, jam 10.00 WIB
1. STRUKTUR DAN SIFAT KELUARGA
a. Biodata
Nama kepala keluarga : Tn. S
Umur : 39 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Swasta
Pendapatan : + Rp 2.500.000
Suku/Bangsa : Jawa / Indonesia
Alamat : RT.03 RW. XII Genengan Mojosongo, Jebres,
Surakarta
b. Susunan Keluarga
No Nama Hub L/P Umur Pendidikan Agama pekerjaan
keluarga keluarga
1 Tn. S KK L 39 th SMA Islam Swasta
2 Ny. B Istri P 32 th SMA Islam IRT
3 An. A Anak P 5 th TK Islam Pelajar
4 An. H Anak P 3 bln Belum Islam Tidak
sekolah Bekerja

49
50

c. Tipe Keluarga
Tipe keluarga ini adalah keluarga inti dimana anggota keluarga terdiri
dari kepala keluarga, ibu dan kedua anak.
d. Sifat Keluarga
Keluarga yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan adalah suami,
akan tetapi istri juga ikut andil dalam pengambilan keputusan.
e. Kebiasaan sehari – hari
1) Waktu makan dan minum keluarga
Waktu makan dalam keuarga Tn. S teratur yaitu 3x sehari porsi 1
piring nasi dengan lauk pauk dan sayur. Kemudian untuk cara
pengolahan makanan dalam kelaurga memenuhi syarat dan keluarga
Tn.S menggunakan garam yang beryodium. Menu makanan keluarga
dalam seminggu bervariasi contohnya menu pagi hari (nasi, sayur
bayam, tempe dan teh hangat) menu malam hari (nasi, telur dadar, oseng
buncis dan air putih atau susu kadang – kadang) cara penyajian makanan
disajikan dalam keadaan hangat ditempat makan dan disimpan di meja
makan dengan tutup saji. Kebiasaan minum air putih dan air teh atau
susu kadang – kadang dengan jumlah ±800 cc (8-9 gelas). Dalam
keluarga Tn. S tidak ada pantangan makanan apapun. Keluarga selalu
mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan sabun sebelum
makan dan sesudah makan.
2) Kebiasaan istirahat keluarga dan tidur keluarga
Kebiasaan tidur keluarga cukup dan teratur yaitu siang ±1-2 jam
dan pada saat malam hari ±8 jam. Kualitas tidur keluarga Tn. S cukup.
3) Sarana Hiburan Keluarga
Sarana hiburan keluarga Tn. S yaitu TV. Untuk frekuensi rekreasi
dalam keluarga sebulan sekali ke taman rekreasi.
4) Kebiasaan Eliminasi Keluarga
Kebiasaan eliminasi keluarga rata-rata sama yaitu BAB 1x sehari di
toilet sendiri di waktu pagi hari dan BAK ±4-5 kali di toilet sendiri
biasanya waktu pagi, siang dan malam hari.
51

5) Hygiene Perorangan dalam Keluarga


Kebiasaan mandi keluarga Tn. S sehari 2x menggunakan sabun
menggosok gigi 3x sehari, keramas 2 hari sekali dengan menggunkan
shampo. Kebiasaan keluarga Tn. S menggunakan alas kaki saat keluar
rumah.
6) Perawatan personal hygiene keluarga
Pembersihan organ vital setelah BAB atau BAK menggunakan air
dan kadang – kadang menggunakan sabun. Keluarga Tn. S khusus
anggota yang berjenis kelamin perempuan menggunakan celana dalam
dari katun dan berwarna putih. Tidak ada gangguan menstruasi dan ibu
tidak mengalami keputihan.
2. FAKTOR EKONOMI, SOSIAL, DAN BUDAYA
a. Penghasilan dan Pengeluaran
1) Penghasilan keluarga Tn. S sebagai pekerja adalah ± Rp. 2.500.000,-
/bulan. Penghasilan sebesar itu digunakan untuk kebutuhan sehari – hari.
Keperluan keluarga semuanya diataur dan menjadi tanggung jawab istri
Tn. S.
2) Pengeluaraga dalam satu bulan keluarga Tn. S sebanyak ±Rp.
1.500.000,-/bulan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari –
hari.
b. Kegiatan Sosial dan Kemasyarakatan
1) Kedudukan kepala keluarga (KK) dalam kemasyarakatan : Tn. S
kedudukannya dalam kemasyaraktan sebagai warga biasa.
2) Partisipasi keluarga (kegiatan kemasyarakatan) : Tn. S dalam kegiatan
kemasyarakatan cukup aktif setiap kerja bakti 1 bulan sekali.
3) Hubungan anggota keluarga dengan masyarkat : hubungan anggota
keluarga Tn. S dengan masyarakat cukup harmonis karena seringnya
komunikasi dan interaksi anatar tetangga.
c. Kebiasaan dalam keluarga berkaitan dengan budaya
Dalam keluarga Tn. S masih mengikuti adat istiadat setempat seperti 7
bulanan saat hamil anak pertama.
52

d. Kebiasaan Keluarga Yang Menrugikan


Dalam Keluarga Tn. S ada kebiasaan yang merugikan yaitu merokok.
3. FAKTOR RUMAH DAN LINGKUNGAN
a. Rumah
Status kepemilikan rumah Tn. S adalah rumah kepemilikan sendiri,
dengan luas 12 x 7 m2 dinding rumah permanen sudah di plaster semen
lantai sudah keramik, atap genting penerangan dari listrik. Keadaan ventilsi
rumah cukup (angin-angin, jendela, pintu) selalu dalam keadaan terbuka
serta keadaan rumah cukup bersih. Rumah terdiri dari 3 kamar tidur, 1
gudang, 1 dapur, 1 kamr mandi, dan 1 ruang tamu serta ruang TV.
b. Perabotan Rumah
Alat masak yang digunakan yaitu kompor gas, tempat penyimpanan alat
dapur yaitu rak dan lemari, ventilasi dapur cukup kan kebersihan dapur
cukup.
c. Sasaran Pembuangan Sampah
Sampah dibuang di depan rumah dan diambil oleh petugas kebersihan.
d. Sumber Air
Untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari keluarga Tn. S menggunakan
sumber air PDAM. Keadaan airnya jernih, tidak berbau, tidak berasa dan
pencemaran airnya rendah.
e. Penampungan Air Minum
Tempat penampungan air minum keluarga Tn. S menggunakan galon
dengan kondisi penampungan air minum tertutup.
f. Jamban Keluarga
Keluarga Tn. S memiliki jamban sendiri jenis leher angsa terletak di
dalam rumah. Tidak berbau dan kebersihan jamban cukup.
g. Tempat Pembuangan Air Limbah
Jenis limbah yaitu limbah rumah tangga, saluran limbah tertutup, jarak
limbah dengan sumur <10 cm terletak dibelakang rumah ada vektor tidak
berbau dan kebersihan cukup.
53

h. Halaman
Tidak memiliki halam rumah karena depan rumah langsung jalan/gang
i. Kandang Ternak
Tidak mempunyai kandang ternak
j. Kamar Mandi
Terletak di dalam rumah, milik sendiri ada bak mandi yang terbuat dari
semen kebersihan dan keadaan bak mandi cukup.
k. Lingkungan Rumah
Lingkungan rumah berada di tengah perkampungan jarak dari tetangga
dekat dan suasana tenang.
l. Fasilitas Transportasi Keluarga
Keluarga menggunakan sarana transportasi berupa sepeda motor dan
mobil
4. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA
a. Riwayat kesehatan keluarga yang lalu
Dalam keluarga Tn. S tidak ada yang menderita penyakit menular
(TBC), menahun (Jantung), tidak ada yang menderita penyakit menurun
(Hipertensi) Diabetes Militus, HIV/AIDS, Obesitas, Kanker Payudara dan
kanker serviks serta tidak ada yang menderita penyakit yang memerlukan
pengobatan khusus (Tetanus).
b. Riwayat kesehatan keluarga sekarang
Saat ini, dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular
(TBC), menahun (Jantung), dan menderita penyakit menurun (Hipertensi),
Diabetes Militus, HIV/AIDS, Obesitas, Kanker Payudara dan kanker serviks.
c. Kebiasaan memeriksakan diri
Dalam keluarga Tn. S kebiasaan memeriksakan 2 bulan sekali atau pada
saat sakit di Rumah Sakit dr. Oen Kandang Sapi
d. Kesehatan LANSIA
Dalam keluarga Tn. S tidak terdapat LANSIA.
e. Riwayat kesehatan mental-psikososial-spiritual
Anggota keluarga Tn. S tidak ada yang pernah dirawat di RS. Jiwa dan
tidak ada yang mengkonsumsi obat terlarang atau NAPZA.
54

f. Riwayat spiritual anggota keluarga


Keluarga Tn. S menjalankan ibadah sholat 5 waktu dengan tekun.
g. Dana sehat / JKN
Keluarga Tn.S mengetahui tentang dana sehat / JKN yaitu digunakan
untuk berobat di rumah sakit yang syarat – syaratnya meliputi fotocopy KK
dan fotocopy KTP serta surat pengantar dari kelurahan. Keluarga Tn. S
sudah mengikuti BPJS kesehatan dari perusahan tempatnya bekerja
h. Usaha pemeliharaan kesehatan mandiri
Keluarga Tn. S tidak mempunyai apotik hidup tetapi mempunyai
penyediaan obat seperti obat penurun panas, obat batuk dan P3K.
i. Keadaan kesehatan keluarga saat kunjungan
Keluarga Tn. S saat kunjungan tidak ada yang sakit
j. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas
Ibu hamil 2x dan melahirkan ditolong oleh dokter dan bidan. Selama
kehamilan terakhir ibu tidak merasakan keluhan dan tidak menderita
penyakit apapun. Selama nifas ibu juga tidak merasakan keluhan yang
serius.
k. Riwayat keluarga berencana
Istri Tn. S yaitu Ny. B menggunakan KB sederhana selama ini.
l. Riwayat kesehatan anggota keluarga
Keluarga Tn. S selama 6 bulan terakhir tidak ada yang menderita
penyakit menular, menahun, dan menurun.
5. PERSEPSI DAN TANGGAPAN KELUARGA TERHADAP MASALAH
a. Persepsi Keluarga Terhadap Masalah
Keluarga Tn. S mengatakan jika ada masalah harus ditanggapi dengan
sabar dan kepala dingin
b. Tanggapan Keluarga Terhadap Masalah
Keluarga Tn. S dalam menggapi masalah harus diselesaikan dengan cara
musyawarah dan tidak dalam keadaan emosi
6. DATA KESEHATAN IBU DAN ANAK
a. Keluarga berencana
1) Pasangan PUS : ada
55

2) Ikut serta KB : Tidak ikut serta KB yang mengunakan alat atau obat
karena takut efek samping yang ditimbulkan dari penggunaan KB
b. Pemeriksaan bayi balita
1) Mempunyai bayi : Ny. B mengatakan mempunyai 1 bayi yaitu
umur 3 bulan, ibu juga mempunyai buku KIA/KMS, ibu tidak
melakukan penimbangan rutin di poyandu tetapi ibu selalu melakukan
pemeriksaan rutin sebulan sekali ke Rumah Sakit dr. Oen Kandang Sapi,
berat badan bayinya selalu mengalami kenaikan setiap bulannya, status
imunisasi bayi Ny.B sampai pada Penta 2 dan polio 3, hasil pemeriksaan
fisik bayi BB/TB normal atau sesuai. Bayi dapat mendengar dan melihat
dengan baik. Bayi masih diberi ASI secara esklusif oleh Ny.B.
Perkembangan bayi sesuai dengan umurnya.

B. ANALISA DATA
Berdasarkan data diatas keadaan kesehatan fisik, mental, sosial, anggota
keluarga baik, keadaan pertumbuhan dan perkembangan anggota keluarga normal.
Keadaan gizi anggota keluarga baik. Dalam keluarga Tn. S mempunyai kebiasaan
merugikan yaitu merokok. Keadaan lingkungan dan sanitasi lingkungan Tn. S
cukup. Type keluarga Tn S merupakan keluraga inti dan yang dominan pengambil
keputusan adalah Tn. S. Kebiasaan hidup sehari-sehari seperti kebiasaan tidur
keluarga teratur ±8 jam/hari. Makan 3x sehari teratur dengan makanan pokok nasi
dengan sayuran hijau dan lauk pauk. Pada keluarga Tn. S tidak ada pantangan
terhadap makanan apapun. Kebiasaan minum air putih, teh hangat dan susu ±8-9
gelas / hari. Pada keluarga Tn. S menggunakan air bersih untuk minum (sudah
dimasak sampai mendidih), memasak, mandi dan mencuci.
Keluarga Tn. S ada kebiasaan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan,
BAB dan BAK menggunakan air mengalir dan sabun. Anggota keluarga Tn. S
mandi 2x sehari, gosok gigi 3x sehari, keramas 2 hari sekali, BAK ±4-5x sehari,
BAB 1x sehari. Sarana hiburan keluarga Tn. S adalah TV dan rekreasi sebulan
sekali ke taman rekreasi. Status ekonomi sosial keluarga Tn. S adalah cukup.
Status kepemilikan rumah Tn. S milik sendiri dengan luas 12 x 7 m2,Bangunan
rumah permanen lantai keramik, ventilasi rumah cukup (angin – angin, jendela,
56

pintu) yang selalu terbuka kebersihan rumah cukup. Keluarga Tn. S sudah
mempunyai kamar mandi dan toilet sendiri Pembuangan sampah dibuang ditempat
sampah dan diambil oleh petugas kebersihan. Dirumah tersebut terdapat 3 kamar
tidur. Ruang tamu dan ruang TV terdapat dibagian depan dan ruang dapur, gudang,
kamar mandi di bagian belakang.
Masalah yang timbul dalam keluarga Tn. S adalah tidak ber KB, tidak
melakukan SADARI dan kurangnya pengetahuan tentang IVA Test. Kurangnya
pengatahuan keluarga tentang SADARI sehingga masyarakt tidak mengatahui
bahwa SADARI dapat mendeteksi kanker dini pada payudara yang menjadi
pembunuh utama wanita di indonesia. Pemeriksaan IVA Test digunakan untuk
mendeteksi dini kanker serviks yang menjadi masalah besar bagi wanita Indonesia.
Program KB dapat menjarangkan untuk PUS yang masih mempunyai bayi dan
balita karena keluaraga Tn. S masih merencanakan untuk memiliki anak lagi.
Untuk itu intervensi mahasiswa kebidanan STIKES Mamba’ul ‘Ulum Surakarta
memberikan penyuluhan pentingnya mengikuti KB, pentingnya SADARI, serta
membangkitkan motivasi Ny.B untuk menggunakan alat kontrasepsi yang lebih
aman dengan angka kegagalan rendah, melakukan SADARI dan mau melakukan
pemeriksaan IVA test. Bila respon keluarga terhadap upaya ini positif maka langkah
selanjutnya adalah mengadakan intervensi riil sesuai permasalahan dengan
melibatkan keluarga secara aktif mulai dari perencanaan penanggulangan masalah
sampai pelaksanaan tindakan dirumah. Diharapkan membawa hasil yang nyata dan
dirasakan manfaatnya oleh keluarga dalam meningkatkan kemampuan memelihara
diri serta timbulnya kemandirian keluarga dalam pemeliharaan kesehatan.

C. RUMUSAN MASALAH
Adapun masalah – masalah yang ditemukan pada keluarga Tn. S adalah :
1. Kurangnya kesadaran untuk ber KB
2. Tidak melakukan SADARI
3. Tidak melakukan IVA test
57

D. PRIORITAS MASALAH
Dari perumusan masalah yang telah ditemukan diatas maka untuk mengatasi maslah
tersebut secara keseluruhan tidaklah mungkin, oleh karena itu perlu di prioritaskan
masalah kesehatan dengan melakukan scoring.
1. Kurangnya kesadaran untuk ber KB (Hasil Scoring 3 1/6)

E. PERENCANAAN
Perencanaan yang dilakukan untuk mengatasi masalah kesehatan yang dialami oleh
keluarga Tn. S meliputi :
1. Sampaikan masalah yang sedang dialami oleh keluarga Tn. S pada tanggal 29
November 2018
2. Berikan Penyuluhan tentang KB pada tanggal 29 November 2018
3. Lakukan kunjungan ulang untuk evaluasi dari penyuluhan yang telah dilakukan
pada tanggal 04 Desember 2018

F. PELAKSANAAN
1. Menyampaikan masalah yang sedang dialami oleh keluarga Tn. S pada tanggal
29 November 2018
2. Memberikan Penyuluhan tentang KB pada tanggal 29 November 2018
3. Malakukan evaluasi pada tanggal 04 Desember 2018 untuk mengetahui hasil
dari penyuluhan yang telah diberikan.

G. EVALUASI
Setelah melakukan pengkajian dan penyuluhan didapatkan hasil :
1. Sudah disampaikan permasalahan yang sedang dialami oleh Tn. S.
2. Istri Tn. S sudah mengatahui macam – macam KB dan cara penggunaanya.
3. Istri Tn. S sudah menetapkan pilihan untuk memakai Alat kontrasepsi Kondom
dan sudah menggunakannya.
58

BAB IV
PEMBAHASAN KASUS

A. PENGKAJIAN
Pengkajian adalah sekumpulan tindakan yang digunakan oleh bidan untuk
mengukur keadaan klien (keluarga) dengan memakai norma – norma kesehatan
keluarga maupun sosial, yang merupakan sistem yang terintegrasi dan kesanggupan
keluarga untuk mengatasinya. Dasar pemikiran dari pengkajian adalah suatu
perbandingan, suatu ukuran atau suatu penilaian mengenai keadaan keluarga dengan
menggunkan norma – nomra yang di ambil dari kepercayaan, nilai-nilai, prinsip-
prinsi, aturan-aturan, harapan-harapan, teori konsep yang berkaitan dengan
permasalahan yang dihadapi oleh keluarga. (Effendy, 2010:46)
Dalam melakukan pengkajian kepada keluarga Tn. S ada respon baik dalam
keluarga dalam menerima penulis saat datang kerumah. Tetapi juga ada kendala
salah satunya kurangnya keterbukaan keluarga Tn. S dalam memberikan informasi
seperti penghasilan yang diperoleh sebagai pekerja swasta. Oleh karena itu pada
waktu pengkajian menggunakan kegiatan pendekatan dengan wawancara mendalam
dan observasi.
Pengkajian data yang telah di dapatkan data subyektifnya yaitu data keluarga
Tn. S termasuk keluarga inti yang terdiri dari suami istri dan 2 anak. Kebiasaan
makan, penggunaan air dalam keluarga baik. Kebiasaan tidur keluarga cukup dan
teratur. Penghasilan Tn. S sebagai karyawan swasta adalah ± Rp. 2.500.000,-/bulan.
Penghasilan sebesar itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari. Tn. S
mengatakan status kepemilikan rumah adalah milik sendiri. (Data Tabulasi RT 03,
2018)
Pengkajian data yang telah didapatkan data data obyektifnya yaitu keadaan
rumah cukup bersih. Ventilasi rumah Tn. S cukup terdapat 3 kamar tidur, 1 gudang,
1 dapur, 1 kamar mandi (di bagian belakang), 1 ruang tamu dan ruang TV di bagian
depan. Tempat pembuangan sampah ada dihalaman depan dan akan di ambil oleh
petugas kebersihan. (Data Tabulasi RT 03, 2018)
Istri Tn. S menggunakan KB sederhana yaitu kondom selama ±5 tahun setelah
persalinan anak pertama. Sekarang istri Tn. S belum menggunakan KB apapun

58
59

karena masih menyusui bayi yang berumur 3 bulan. Istri Tn S juga tidak pernah
melakukan SADARI dan IVA test karena kurangnya pengetahuan tentang SADARI
dan IVA test.

B. ANALISA DATA
Dalam menganalisa data ada 3 norma yang perlu diperhatikan dalam melihat
perkembangan kesehatan keluarga yaitu keadaan kesehatan yang normal dari setiap
anggota keluarga, keadaan rumah, sanitasi lingkungan dan karakteristik keluarga.
(Effendy, 2010:48)
Pada langkah ini muncul permasalahan yaitu kurangnya kesadaran ber KB.
Kurangnya kesadaran melakukan SADARI dan kurangnya pengetahuan melakukan
pemeriksaan IVA Test. Kurangnya pengatahuan keluarga tentang SADARI
sehingga masyarakt tidak mengatahui bahwa SADARI dapat mendeteksi kanker dini
pada payudara yang menjadi pembunuh utama wanita di indonesia. Pemeriksaan
IVA Test digunakan untuk mendeteksi dini kanker serviks yang menjadi masalah
besar bagi wanita Indonesia. Program KB dapat menjarangkan untuk PUS yang
masih mempunyai bayi dan balita karena keluaraga Tn. S masih merencanakan
untuk memiliki anak lagi.

C. PERUMUSAN MASALAH
Rumusan maslah kesehatan keluarga dapat menggambarkan kesehatan dan
status kesehatan keluarga, karena merupakan hasil pemikiran dan pertimbangan
yang mendalam tentang situasi kesehatan, lingkungan, norma, nilai, kultur yang
dianut oleh keluarga tersebut. (Effendy, 2010:98)
Dalam perumusan masalah penulis memerlukan analisa data yang tepat agar
diperoleh perumusan yang sesuai dengan maslah kesehatan yang ada di keluarga Tn.
S oleh karena itu penulis harus memerlukan pemikiran yang sistematis agar
perumusan masalah kesehatan yang ada di Tn. S. Hasil perumusan masalah yang
ada pada keluarga Tn. S adalah :
1. PUS tidak ber KB.
2. Ny. B belum mengetahui pentingnya SADARI dan cara melakukannya.
3. Ny. B belum mengetahui pentingnya melakukan pemeriksaan IVA test.
60

D. PRIORITAS MASALAH
Setelah menentukan masalah atau diagnosa kebidanan langkah selanjurnya adlah
menentukan prioritas masalah kesehatan dan kebidanan. Hal – hal yang perlu
diperhatikan dalam prioritas masalah adalah tidak mungkin maslah – masalah
kesehatan dan kebidanan yang ditemukan dalam keluarga dapat diatasi sekaligus,
perlu mempertimbangkan masalah – masalah kesehatan dan kebidanan yang
ditemukan dalam keluarga dapat diatasi sekaligus, perlu mempertimbangkan
masalah – masalah yang dapat mengancam kehidupan keluarga seperti masalah
penyakit. Perlu mempertimbangkan respon dan perhatian keluarga terhadap asuhan
kebidanan yang akan diberikan, keterlibatan keluarga dalam memecahkan masalah
yang mereka hadapi, sumber daya keluarga yang dapat menunjang pemecahan
masalah kesehatan, pengetahuan, dan kebudayaan keluarga. (Effendy, 2010:52)
Setelah ditemukan rumusan masalah pada keluarga Tn. S maka di dapatkan
prioritas masalah yang dapat diketahui melalui scoring. dalam memprioritaskan
masalah terdapat kesulitan yaitu hasil scoring antara masalah yang satu dengan
masalah yang lainnya hampir sama dan banyaknya masalah yang ada menimbulkan
kebingungan dalam pengambilan masalah yang di prioritaskan atau di utamakan.
Dalam memberikan asuhan komunitas pada keluarga Tn. S didapatkan hasil yang
sesuai tujuan karena di dukung oleh pengetahuan yang di dapat dari pendidikan
yang tinggi. Dalam perumusan masalah yang yang ditemukan diatas makan untuk
mengatasi masalah tersebut secara keseluruhan tidaklah mungkin, oleh karena itu
perlu di prioritaskan masalah kesehatan dengan melakukan scoring. yang menjadi
prioritas masalah dalam keluarga Tn. S yaitu Pasangan usia subur yang tidak ber
KB.

E. PERENCANAAN
Apabila masalah kesehatan ataupun masalah kebidanan telah teridentifikasi,
maka langkah selanjutnya adalah menyusun rencana kebidanan sesuai urutan
prioritas masalahnya. Rencana kebidanan keluarga adalah kumpulan tindakan yang
direncanakan oleh bidan untuk dilaksanakan dalam menyelesaikan atau mengatasi
masalah kesehatan atau masalah kebidanan yang telah teridentifikasi. Rencana
61

kebidanan yang berkualitas menjamin keberhasilan dalam mencapai tujuan serta


penyelesaian masalah. (Mubarak, 2011:294)
Perencanaan merupakan faktor yang penting untuk memberikan asuhan yang
dibutuhkan oleh keluarga Tn. S oleh karena itu penulis harus dapat merencanakan
asuhan yang tepat agar dapat menyelesaikan maslah pada keluarga Tn. S.
Perencanaan yang penulis lakukan adalah Sampaikan masalah yang sedang dialami
oleh keluarga Tn. S n. S RT 03 RW XII Genenga, Mojosongo, Jebres, Surakarta
pada tanggal 29 November 2018. Berikan Penyuluhan tentang KB Pengertian,
Keuntungan, Kerugian, Cara Penggunaan, Macam – macam alat kontrasepsi pada
tanggal 29 November 2018. Lakukan kunjungan ulang untuk evaluasi dari
penyuluhan yang telah dilakukan pada tanggal 04 Desember 2018

F. PELAKSANAAN
Pelaksanaan merupakan salah satu tahap dari proses kebidanan keluarga dimana
bidan mendapatkan kesempatan untuk membangkitkan minat keluarga untuk
mengadakan perbaikan kearah perilaku hidup bersih dan sehat. Adanya kesulitan,
kebingungan, ketidakmampuan yang dihadapi keluarga hal tersebut harus
menjadikan perhatian sehingga bidan diharapkan dapat memberikan kekuatan dan
membantu membangkitkan potensi – potensi yang ada sehingga keluarga dapat
mempunyai kepercayaan diri dan mandiri dalam menyelesaikan masalah. (Mubarok,
2011 : 297)
Setelah penulis membuat perencanaan, maka penulis melaksanakan yang telah
di buat sesuai rencana yaitu melakukan menyampaikan masalah yang sedang terjadi
pada keluarga Tn. S RT 03 RW XII Genenga, Mojosongo, Jebres, Surakarta pada
tanggal 29 November 2018. Memberikan Penyuluhan tentang KB, Pengertian,
Keuntungan, Kerugian, Cara Penggunaan, Macam – macam alat kontrasepsi pada
tanggal 29 November 2018. Melakukan kunjungan ulang untuk evaluasi dari
penyuluhan yang telah dilakukan pada tanggal 04 Desember 2018.
62

G. EVALUASI
Evaluasi adalah untuk mengetahui ketepatan dan kesempurnaan antara hasil yang di
capai dengan tujuan yang ditetapkan sebelumnya, evaluasi dilakukan berdasarkan
rencana tindakan dan evaluasi yang ditetapkan sebelumnya. Hasil yang di dapat
adalah :
1. Hasil
a. Sudah dilakukan kunjungan ke rumah Tn. S pada tanggal 29 November 2018
dan telah mendapatkan data – data dari keluarga Tn. S RT 03 RW XII
Genenga, Mojosongo, Jebres, Surakarta
b. Istri Tn. S sudah mengatahui macam – macam KB dan cara penggunaanya.
c. Istri Tn. S sudah menetapkan pilihan untuk memakai Alat kontrasepsi
Kondom dan sudah menggunakannya.
63

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah melakukan pengkajian kepada keluarga Tn. S di RT 03 RW XII dukuh
Genengan Mojosongo Jebres Surakarta diharapkan keluarga Tn. S :
1. Sudah dilakukan pengkajian data keluarga Tn. S dengan metode wawancara di
Rt 03 Rw XII Genengan Mojosongo Jebres Surakarta
2. Dari hasil analisa data yaitu didapatkan hasil istri Tn. S tidak ber KB, tidak
melakukan SADARI, belum pernah melakukan IVA test.
3. Rumusan masalah yang ada di kelaurga Tn. S adalah istri Tn. S tidak ber KB,
tidak melakukan SADARI, belum pernah melakukan IVA test.
4. Prioritas masalah yang terdapat pada keluarga Tn. S adalahak tidak
menggunakan KB atau tidak ber KB dengan hasil skoring 31/6
5. Dari masalah kesehatan yang terdapat di keluarga Tn. S melakukan perencanaan
kegiatan meliputi sampaikan masalah yang sedang terjadi kepada keluarga tn. S
di RT 03 RW XII Genengan Mojosongo Jebres Surakarta, berikan penyuluhan
tentang KB, Pengertian, Keuntungan, Kerugian, Cara Penggunaan, Macam –
macam alat kontrasepsi, dan lakukan kunjungan ulang untuk evaluasi dari
penyuluhan yang telah dilakukan.
6. Pelaksanaan yang telah dilakukan adalah melakukan kunjungan rumah dengan
melakukan pendataan terhadap keluarga Tn. S RT 03 RW XII Genenga,
Mojosongo, Jebres, Surakarta, Memberikan Penyuluhan tentang KB, Pengertian,
Keuntungan, Kerugian, Cara Penggunaan, Macam – macam alat kontrasepsi,
Melakukan kunjungan ulang untuk evaluasi dari penyuluhan yang telah
dilakukan.

B. Saran
Untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan terhadap masalah ini diharapkan :
1. Bagi Mahasiswa

63
64

Diharapkan mahasiswa dengan keterbatasan waktu, biaya dan kurangnya


pengetahuan masyarakat dapat melakukan asuhan kebidanan pada komunitas
semaksimal mungkin.
2. Bagi Masyarakat
Masyarakat diharapkan agar lebih memperhatikan masalah kesehatan yang ada
di lingkungannya dan merubah perilaku buruk yang dapat mengganggu
kesehatan karena jika masalah kesehatan tidak segera diatasi atau berakibat
buruk bagi lingkungan dan kesehatan.
3. Bagi Istitusi Pendidikan
Dengan dilakukan PKMD di RT 03 RW XII Genengan Mojosongo Jebres
Surakarta didapatkan masalah kesehatan yang cukup komplek dan memberikan
pengalaman. Selain itu dengan dilakukan PKMD ini diharapkan institusi
pendidikan lebih cermat dalam pembagian tugas mahasiswa dan
memaksimalkan pendampingan mahasiswa.
4. Bagi Profesi Bidan
Sebagai acuan dalam perencanaan kegiatan di masa yang akan datang. Hasil
kegiatan PKMD diharapkan menjadi asuhan perencanaan kesehatan yang akan
datang.
DAFTAR PUSTAKA

Data Tabulasi RT 03 RW XII PKMD di Genengan Mojosongo Jebres Surakarta

Depkes RI. 2007. Pengantar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : EGC

Effendy, Nasrul. 2003. Perawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : EGC

Effendy, N. 2007. Perawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : EGC

Effendy, Nasrul. 2010. Perawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : EGC

Mochtar. 2007. Sinopsis Obstetri 2 Jilid 1. Jakarta : EGC

Mubarak, W. 2011. Ilmu Keperawatan Komunitas 2. Jakarta : Sagung Seto

Studi Dokumentasi Laporan Tabulasi Puskesmas Sibela

65
Lampiran 1

GENOGRAM

Keterangan :

: Laki – Laki

: Perempuan

: Menikah

: Garis Keturunan

Tn.S Ny. B
SSS

An. A An. H

66
Lampiran 2

DENAH RUMAH

Kamar Tidur Dapur Kamar


Mandi

Kamar Tidur Ruang Tamu dan Ruang TV

12 m
Kamar Tidur

Kamar Tidur

7m

Keterangan :

: Pintu

: Jendela

: Teras

67
Lampiran 3
SKORINNG
KELUARGA BERENCANA
Kriteria Nilai Perhitungan Score Pembenaran
Masyarakat menganggap
1. Sifat masalah 1 1/3 x 1 1 bahwa jika tidak KB bukan
ancaman kesehatan
- Ancaman kesehatan 2
- Kurang atau Tidak
3
Sehat
- Krisis 4

Ada kemauan masyarakat


2. Kemungkinan Masalah
2 1/2x1 1 dalam menggunakan alat
Dapat Diubah
kontrasepsi
- Dengan Mudah 2
- Hanya Sebagian 1
- Tidak Dapat 0

Potensi masalah mudah


dirubah dengan penyuluhan
3. Potensi Masalah Untuk
1 2/3 x 1 2/3 karena ibu akan segera ber
Di Ubah
KB kalau bayinya sudah
tidak diberikan ASI Esklusif
- Tinggi 3
- Cukup 2
- Rendah 1

Merupakan masalah yang


tidak perlu segera ditangani
4. Menonjolnya Masalah 1 1/2x1 ½
karena ibu masih menyusui
secara esklusif
- Masalah berat harus
2
segera ditangani
- Masalah yang tidak
perlu segera 1
ditangani
- Masalah tidak
0
dirasakan
Jumlah 3 1/6

68
SKORINNG
TIDAK MELAKUKAN PEMERIKSAAN PAYUDARA SENDIRI
Kriteria Nilai Perhitungan Score Pembenaran
Masyarakat khususnya
perempuan kurang tahu
5. Sifat masalah 1 3/3 x 1 1
tentang pentingnya
SADARI
- Ancaman kesehatan 2
- Kurang atau Tidak
3
Sehat
- Krisis 4

Masyarakat Khususnya
6. Kemungkinan Masalah Perempuan Hanya Sebagian
2 1/2x1 1
Dapat Diubah yang Bersedia melakukan
SADARI setelah menstruasi
- Dengan Mudah 2
- Hanya Sebagian 1
- Tidak Dapat 0

Masyarakat khususnya
7. Potensi Masalah Untuk perempuan bersedia
1 2/3 x 1 2/3
Di Ubah melakukan SADARI setelah
menstruasi
- Tinggi 3
- Cukup 2
- Rendah 1

Masyarakat kususnya
8. Menonjolnya Masalah 1 0/2x1 0 perempuan tidak menyadari
pentingnya SADARI
- Masalah berat harus
2
segera ditangani
- Masalah yang tidak
perlu segera 1
ditangani
- Masalah tidak
0
dirasakan
Jumlah 2 2/3

69
SKORINNG
TIDAK MELAKUKAN PEMERIKSAAN IVA TEST
Kriteria Nilai Perhitungan Score Pembenaran
Merupakan Hal Yang
Kurang Sehat Karena Itu
9. Sifat masalah 1 3/3 x 1 1
perlu dilakukan asuhan
tentang IVA Test
- Ancaman kesehatan 2
- Kurang atau Tidak
3
Sehat
- Krisis 4

Dengan asuhan yang


diberikan masalah hanya
10. Kemungkinan Masalah sebagian yang dapat diubah
2 1/2x1 1
Dapat Diubah karena kurangnya
pengetahuan pentingnya
IVA test
- Dengan Mudah 2
- Hanya Sebagian 1
- Tidak Dapat 0

Potensi maslah untuk


11. Potensi Masalah Untuk diubah rendah karena
1 1/3 x 1 1/3
Di Ubah masyarakat takut dan tidak
tahu manfaatnya
- Tinggi 3
- Cukup 2
- Rendah 1

Masalah tidak dirasakan


12. Menonjolnya Masalah 1 0/2x1 0 karena ibu tidak ada keluhan
apapun.
- Masalah berat harus
2
segera ditangani
- Masalah yang tidak
perlu segera 1
ditangani
- Masalah tidak
0
dirasakan
Jumlah 2 1/3

70
Lampiran 4

RENCANA KEGIATAN (POA)

Masalah
No Tujuan Kegiatan Rencana Kegiatan
Kebidanan
1 Pasangan Usia Agar ibu dapat Tanggal 29 November
Subur tidak menentukan jenis KB
2018 jam 10.00 WIB di
melakukan KB dan dapat mengatur
jarak kehamilan rumah Tn. S RT 03 RW
selanjutnya
XII Genengan Mojosongo
Jebres Surakarta.
Menyampaikan masalah
yang sedang terjadi pada
keluarga Tn, S.
Memberikan penyuluhan
tentang KB, Pengertian,
Keuntungan, Kerugian,
Cara Penggunaan, Macam
– macam alat kontrasepsi.
Dan melakukan kunjungan
ulang untuk evaluasi dari
penyuluhan yang telah
dilakukan pada tanggal 04
Desember 2018

71
Lampiran 5

PELAKSANAAN KEGAIATAN DAN EVALUASI

Masalah Tujuan Evaluasi


No Rencana Kegiatan Pelaksanaan Kegiatan
Kebidanan Kegiatan Kegiatan
1 Pasangan Agar ibu Tanggal 29 Tanggal 29 November Tanggal 04
Usia Subur dapat November 2018 2018 jam 10.00 WIB Desember 2018
tidak menentukan jam 10.00 WIB di ri rumah Tn. S RT 03 jam 09.00 WIB
melakukan jenis KB rumah Tn. S RT RW XII Genengan sudah dilakukan
KB dan dapat 03 RW XII Mojosongo Jebres kunjungan ulang /
mengatur Genengan Surakarta. evaluasi. Istri Tn.
jarak Mojosongo Jebres Menyampaikan S sudah
kehamilan Surakarta. masalah yang sedang menentukan
selanjutnya Sampaikan terjadi pada keluarga pilihan untuk
masalah yang Tn, S. Memberikan memakai KB
sedang terjadi pada penyuluhan tentang yaitu kondom dan
keluarga Tn, S. KB, Pengertian, sudah
Berikan Keuntungan, menggunakannya.
penyuluhan Kerugian, Cara
tentang KB, Penggunaan, Macam
Pengertian, – macam alat
Keuntungan, kontrasepsi.
Kerugian, Cara melakukan kunjungan
Penggunaan, ulang untuk evaluasi
Macam – macam dari penyuluhan yang
alat kontrasepsi. telah dilakukan pada
Dan Lakukan tanggal 04 Desember
kunjungan ulang 2018
untuk evaluasi dari
penyuluhan yang
telah dilakukan
pada tanggal 04
Desember 2018

72
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
KELUARGA BERENCANA

A. Topik : Kebidanan Komunitas


B. Sub Topik : Jenis – Jenis Alat Kontrasepsi beserta penjelasannya
C. Hari/Tanggal : Kamis, 29 November 2018
D. Waktu : 30 menit
E. Penyuluh : Ganartia Aprilia Putri Utami
F. Sasaran : Keluarga Tn. S RT 03 RW XII Desa Genengan Mojosongo
Jebres Surakarta
G. Tujuan Umum : Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan tentang penggunaan alat
kontrasepsi, keluarga diharapkan memahami tentang berbagai macam alat kontasepsi dan
menerapkan dalam kehidupannya
H. Tujuan Khusus :
1. Keluarga Tn. S mengerti tentang pengertian KB
2. Keluarga Tn. S mengerti tentang manfaat KB
3. Keluarga Tn. S mengerti tentang macam – macam metode KB
I. Materi : Terlampir
J. Metode : Ceramah dan diskusi
K. Media : Lifleat
L. Kegiatan :
No Acara Materi
1 Pembukaan ( 5 Membuka dengan mengucapkan salam dan menjelaskan
menit) tujuan diadakannya penyuluhan serta menyampaikan
waktu yang diperlukan dan materi yang akan
disampaikan
2 Penyampaian Isi materi penyuluhan :
Materi (15 Menjelaskan pada klien mengenai jenis – jenis alat
menit) kontrasepsi, yaitu : Metode Laktasi, Kondom, Pil KB,
KB Suntik, Implan / Susuk, IUD / Spiral, Steril
Menjelaskan tentang efek samping masing – masing alat
kontrasepsi, yaitu :

73
MAL
Efek sampingnya tidak ada efek sampingnya,
hanya saja harus teratur haidnya
Kondom
Efek sampingnya saat hubungan seksual
terganggu, bisa alergi dengan bahan dasar
kondom
Pil KB
Efek sampingnya mual muntah, pusing, flek
– flek, terjadinya penurunan berat badan.
KB suntik
Efek sampingnya penambahan / penurunan
berat badan, tidak mendapatkan menstruasi,
terjadinya spoting.
Implan
Efek sampingnya penambahan / penurunan
berat badan, tidak mendapatkan menstruasi,
terjadinya spoting.
Spiral/IUD
Efek Sampingnya mengganggu hubungan
seksual, terjadi gangguan siklus haid.
Steril
Efek Sampingnya mempercepat tua/
membuat kulit cepat menua
Menjelaskan indikasi dan kontra indikasi tiap alat
kontrasepsi :
Pada dasarnya, indikasi untuk semua alat
kontrasepsi adalah pasangan usia subur, sehat,
tidak memiliki PMS, tidak ada PRP dan bersedia
untuk KB. Dan Kontraindikasinya adalah wanita
hamil, wanita dengan PMS, wanita dengan PRP
dan wanita dengan riwayat kanker.

74
3 Evaluasi (10 Klien mengerti apa yang telah disampaikan. Dan akan
menit) mencoba untuk memilah alat kontrasepsi yang cocok
dengan klien.
4 Penutup (5 Penyuluh mengucapkan terima kasih dan
menit) menyampaikan salam penutup.

M. Evaluasi :
1. Ibu sudah mengetahui pengertian KB
2. Ibu sudah mengetahui Macam – macam metode KB
3. Ibu sudah mengetahui keuntungan dan kerugian setiap metode KB

75
MATERI KB

A. Keluarga Berencana (KB)


1. Pengertian
Menurut Entjang (Ritonga,2003:87) Keluarga Berencana adalah suatu upaya
manusia untuk mengatur secara sengaja kehamilan dalam keluarga secara tidak
melawan hukum dan moral Pancasila untuk kesejahteraan keluarga.
Keluarga Berencana adalah metode medis yang dicanangkan oleh
pemerintah untuk menurunkan angka kelahiran (Manuaba,1998)
KN merupakan bagian dari pelayanan kesehatan reproduksi untuk
pengaturan kehamilan dan merupakan hak setiap individu sebagai mahkluk
seksual ( Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, 2003)
2. Tujuan keluarga berencana.
a. Menurunkan angka kelahiran.
b. Menunda atau menjarangkan kehamilan.
c. Membentuk keluarga kecil bahagia sejahtera.
d. Menciptakan hubungan harmonis suami istri.
3. Manfaat keluarga berencana.
a. Mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan.
b. Mengatur jarak diantara kelahiran.
c. Menentukan jumlah anak dalam keluarga.
d. Meningkatkan sosial ekonomi keluarga.
e. Syarat – syarat alat kontrasepsi / KB yang baik.
f. Aman pemakaiannya dan dapat dipercaya.
g. Cara penggunaannya sederhana.
h. Lama kerjanya dapat diatur menurut keinginan.
i. Murah dan terjangkau oleh masyarakat.
j. Efek samping yang merugikan sangat kecil.
k. Tidak mengganggu hubungan suami istri.
l. Tidak memerlukan bantuan medik / kontrol yang ketat selama pemakaian.
4. Jenis-jenis KB
a. KB PIL

76
1) Pengertian
Pil adalah obat pencegah kehamilan yang diminum.Pil telah
diperkenalkan sejak 1960. Pil diperuntukkan bagi wanita yang tidak
hamil dan menginginkan cara pencegah kehamilan sementara yang
paling efektif bila diminum secara teratur. Minum pil dapat dimulai
segera sesudah terjadinya keguguran, setelah menstruasi, atau pada masa
post-partum bagi para ibu yang tidak menyusui bayinya. Jika seorang ibu
ingin menyusui, maka hendaknya penggunaan pil ditunda sampai 6 bulan
sesudah kelahiran anak (atau selama masih menyusui) dan disarankan
menggunakan cara pencegah kehamilan yang lain
2) Jenis-jenis KB Pil
a) Pil gabungan atau kombinasi
Tiap pil mengandung dua hormon sintetis, yaitu hormon estrogen
dan progestin. Pil gabungan mengambil manfaat dari cara kerja
kedua hormon yang mencegah kehamilan, dan hampir 100% efektif
bila diminum secara teratur.
b) Pil khusus – Progestin (pil mini)
Pil ini mengandung dosis kecil bahan progestin sintetis dan
memiliki sifat pencegah kehamilan, terutama dengan mengubah
mukosa dari leher rahim (merubah sekresi pada leher rahim)
sehingga mempersulit pengangkutan sperma.Selain itu, juga
mengubah lingkungan endometrium (lapisan dalam rahim) sehingga
menghambat perletakan telur yang telah dibuahi.
3) Kontra indikasi Pemakaian Pil
Kontrasepsi pil tidak boleh diberikan pada wanita yang menderita
hepatitis, radang pembuluh darah, kanker payudara atau kanker
kandungan, hipertensi, gangguan jantung, varises, perdarahan abnormal
melalui vagina, kencing manis, pembesaran kelenjar gondok (struma),
penderita sesak napas, eksim, dan migraine (sakit kepala yang berat pada
sebelah kepala).

77
4) Efek Samping Pemakaian Pil
Pemakaian pil dapat menimbulkan efek samping berupa perdarahan
di luar haid, rasa mual, bercak hitam di pipi (hiperpigmentasi), jerawat,
penyakit jamur pada liang vagina (candidiasis), nyeri kepala, dan
penambahan berat badan.
5) Cara Pemakaian Pil KB :
a) Untuk mereka yang baru pertama kali menggunakan pil KB, mulai
minum pil saat haid yaitu mulai di hari ke lima haid atau paling baik
di hari pertama haid. Bila dimulai pada saat haid sudah berhenti, jika
hendak melakukan hubungan intim, gunakan kondom selama 7 hari
pertama menelan pil untuk mencegah terjadinya kehamilan.
b) Untuk mencegah lupa minum pil, minumlah pil KB secara teratur
setiap harinya pada jam yang sama, disarankan untuk menelan pil
pada malam hari (sebelum tidur atau setelah makan malam).
c) Jika lupa minum satu pil KB( aktif bukan placebonya ) minum segera
saat teringat dan minum pil dosis hari itu di saat waktu rutin
biasanya. Jika lupa 1 hari (24 jam) maka masih dapat diminum 2
tablet langsung pada saatnya minum pil. Namun jika lupa lebih dari 1
hari, buang pil yang terlupa dan lanjutkan minum pil sesuai harinya,
namun karena efektifitas berkurang, perlu dikombinasikan dengan
kontrasepsi kondom saat berhubungan intim. (Hanafi Hartanto,2002)
Contoh : Biasa minum pil KBsetiap jam 9 malam
i) Tanggal 1 lupa minum pil KB, baru teringat jam 10 pagi di
tanggal 2, maka segera minum pil KB yang terlupa. Jam 9 malam
tanggal 2, minum pil KB seperti biasa.
ii) Tanggal 1 lupa minum pil KB, baru teringat jam 9 malam tanggal
2, maka minum ke dua pil sekaligus.
iii) Tanggal 1 dan tanggal 2 lupa minum pil KB, baru teringat di
tanggal 3 maka buang ke dua pil, dan jam 9 malam tanggal 3
tetap minum pil KB sesuai harinya, dan bila hendak melakukan
hubungan intim 7 hari ke depan gunakan kondom agar tidak
terjadi kehamilan.

78
d) Untuk pil KB dengan isi 21 pil, setelah pil terakhir dimakan, maka 7
hari kedepan libur/ tidak makan pil. Saat libur inilah diperkirakan
akan terjadi haid, yang biasanya timbul 2-3 hari setelah pil habis.
Setelah libur 7 hari, baik haid sudah selesai ataupun belum, minum
kembali pil KB dari blister yang baru. Jika lupa tidak berhenti minum
pil dan langsung melanjutkan blister yang baru maka haid tidak akan
terjadi. Hal ini karena efek lanjutan hormon estrogen dan progesteron
pada pil KB. Hentikan pil KB maka dalam beberapa hari akan terjadi
haid.
e) Untuk pil KB dengan isi 28 pil, 7 buah pil yang beda ukuran dan
warnanya dari 21 pil lainnya, sebenarnya tidak mengandung hormon
melainkan hanya tepung saja ( plasebo ) sehingga tidak memiliki
efek pengobatan. Saat minum pil plasebo inilah haid diperkirakan
akan terjadi. Tujuan disediakan pil plasebo hanyalah sebagai
pengingat saja supaya tidak lupa, tinggal menyambung dengan pil
berikutnya.
f) Untuk ibu menyusui tersedia minipil ( hanya mengandung
progesteron, tidak mengandung estrogen). Pil ini mempunyai efek
seperti suntikan KB karena tidak mengendung estrogen, sehingga
tidak mengganggu kualitas maupun kuantitas ASI, contohnya :
Excluton.
i) Untuk ibu pasca melahirkan, maka pemakaian pil KB dimulai
saat :
(1) Ibu telah berhenti menyusui atau 6 bulan setelah melahirkan
(mana yang lebih dulu)
(2) 3 - 6 minggu pasca salin untuk ibu yang tidak menyusui
(3) Bila telah lebih dari 42 hari (6 minggu) pasca salin dan tidak
menyusui, yakinkan dulu bahwa tidak hamil,
baru mulai minum pil KB
ii) Untuk pemakaian pil KB setelah keguguran :
(1) Mulai pada 7 hari pertama keguguran

79
(2) Setiap saat asal yakin tidak hamil dan berKB ganda (kondom
atau spermisida) selama 7 hari pertama.
b. Kb Suntik
1) Pengertian
Kontrasepsi suntikan adalah cara untuk mencegah terjadinya
kehamilan dengan melalui suntikan hormonal. Kontrasepsi hormonal
jenis KB suntikan ini di Indonesia semakin banyak dipakai karena
kerjanya yang efektif, pemakaiannya yang praktis, harganya relatif
murah dan aman.Sebelum disuntik, kesehatan ibu harus diperiksa dulu
untuk memastikan kecocokannya.Suntikan diberikan saat ibu dalam
keadaan tidak hamil. Umumnya pemakai suntikan KB mempunyai
memakai suntikan KB, termasuk penggunaan cara KB hormonal selama
maksimal 5 tahun.
2) Jenis-jenis KB suntik
Jenis-jenis alat KB suntik yang sering digunakan di Indonesia antara
lain:
a) Suntik 1 bulan adalah suntikan kombinasi yang dilakukan setiap 1
bulan sekali dengan dosis 25 mg depomedroxy progesterone aserat
dan 5 mg estradiol cyplonate. Komposisi : tiap ml suspensi dalam air
mengandung :Medroxy progesterone acetate 50 mg, Estradiol
cypionate 10 mg.
b) Suntik 3 bulan (Depo Provera) Adalah medroxy progesterone yang di
gunakan untuk tujuan kontrasepsi parenteral, mempunyai efek
progesterone yang kuat dan sangat efektif.
c. Implant atau AKDR
1) Pengertian Implant
Alat kontrasepsi yang disusupkan dibawah kulit lengan atas
sebelah dalam berbentuk kapsul silastik (lentur) panjangnya sedikit lebih
pendek dan pada batang korek api dan dalam setiap batang mengandung
hormon levonorgestrel yang dapat mencegah terjadinya kehamilan
(BKKBN, 2006).

80
2) Jenis Implant
Jenis-jenis implant menurut Saifuddin (2006) adalah sebagai berikut :
a) Norplant terdiri dari 6 batang silastik lembut berongga dengan
panjang 3,4 cm dengan diameter 2,4 mm, yang berisi dengan 36 mg
levonorgestrel dan lama kerjanya 5 tahun.
b) Implanon terdiri dari 1 batang putih lentur dengan panjang kira-kira
40 mm, dan diameter 2 mm, yang berisi dengan 68 mg 3
ketodesogestrel dan lama kerjanya 3 tahun.
c) Jadena dan Indoplant terdiri dari 2 batang yang berisi dengan 75 mg
levonorgestrel dengan lama kerja 3 tahun.
3) Pemasangan implant menurut Saifuddin (2006) dapat dilakukan pada :
a) Perempuan yang telah memilih anak ataupun yang belum.
b) Perempuan pada usia reproduksi (20–30 tahun).
c) Perempuan yang menghendaki kontrasepsi yang memiliki efektifitas
tinggi dan menghendaki pencegahan kehamilan jangka panjang
d) Perempuan menyusui dan membutuhkan kontrasepsi
e) Perempuan pasca persalinan.
f) Perempuan pasca keguguran.
g) Perempuan yang tidak menginginkan anak lagi, menolak sterilisasi.
h) Perempuan yang tidak boleh menggunakan kontrasepsi hormonal
yang mengandung estrogen.
i) Perempuan yang sering lupa menggunakan pil.
4) Kontraindikasi
Menurut Saifuddin (2006) menjelaskan bahwa kontra indikasi implant
adalah sebagai berikut :
a) Perempuan hamil atau diduga hamil.
b) Perempuan dengan perdarahan pervaginaan yang belum jelas
penyababnya.
c) Perempuan yang tidak dapat menerima perubahan pola haid yang
terjadi.
d) Perempuan dengan mioma uterus dan kanker payudara.

81
e) Perempuan dengan benjolan/kanker payudara atau riwayat kanker
payudara.
d. IUD
1) Pengertian
IUD adalah alat kecil terdiri dari bahan plastik yang lentur yang
dimasukkan ke dalam rongga rahim, yang harus diganti jika sudah
digunakan selama periode tertentu. IUD merupakan cara kontrasepsi
jangka panjang. Nama populernya adalah spiral.
2) Jenis-jenis IUD di Indonesia
a) Copper-T
IUD berbentuk T, terbuat dari bahan polyethelene di mana pada
bagian vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga halus.Lilitan kawat
tembaga halus ini mempunyai efek antifertilisasi (anti pembuahan)
yang cukup baik.IUD bentuk T yang baru. IUD ini melepaskan
lenovorgegestrel dengan konsentrasi yang rendah selama minimal
lima tahun. Dari hasil penelitian menunjukkan efektivitas yang tinggi
dalam mencegah kehamilan yang tidak direncanakan maupun
perdarahan menstruasi.Kerugian metode ini adalah tambahan
terjadinya efek samping hormonal dan amenorhea.
b) Copper-7
IUD ini berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan
pemasangan. Jenis ini mempunyai ukuran diameter batang vertikal
32 mm dan ditambahkan gulungan kawat tembaga (Cu) yang
mempunyai luas permukaan 200 mm2, fungsinya sama seperti halnya
lilitan tembaga halus pada jenis Copper-T.
3) Efektifitas
IUD sangat efektif, (efektivitasnya 92-94%) dan tidak perlu diingat
setiap hari seperti halnya pil. Tipe Multiload dapat dipakai sampai 4
tahun; Nova T dan Copper T 200 (CuT-200) dapat dipakai 3-5 tahun; Cu
T 380A dapat untuk 8 tahun . Kegagalan rata-rata 0.8 kehamilan per 100
pemakai wanita pada tahun pertama pemakaian.

82
e. Kontrasepsi Mantap
Tubektomi adalah tindakan pada kedua saluran telur wanita yang
mengakibatkan wanita tersebut tidak akan mendapatkan keturunan lagi.
Sterilisasi bisa dilakukan juga pada pria, yaitu vasektomi. Dengan demikian,
jika salah satu pasangan telah mengalami sterilisasi, maka tidak diperlukan
lagi alat-alat kontrasepsi yang konvensional. Cara kontrasepsi ini baik sekali,
karena kemungkinan untuk menjadi hamil kecil sekali. Faktor yang paling
penting dalam pelaksanaan sterilisasi adalah kesukarelaan dari akseptor.
Dengan demikian, sterilisasi tidak boleh dilakukan kepada wanita yang
belum/tidak menikah, pasangan yang tidak harmonis atau hubungan
perkawinan yang sewaktu-waktu terancam perceraian, dan pasangan yang
masih ragu menerima sterilisasi. Yang harus dijadikan patokan untuk
mengambil keputusan untuk sterilisasi adalah jumlah anak dan usia istri.
Misalnya, untuk usia istri 25–30 tahun, jumlah anak yang hidup harus 3 atau
lebih.

83
DOKUMENTASI

84