You are on page 1of 3

PROFILAKSIS PASCA PAJANAN

HIV/AIDS
DI TEMPAT KERJA
No.
:
Dokumen
SOP No. Revisi :-
Tanggal
: 10 April 2017
Terbit

Halaman :1–2

UPT PUSKESMAS dr. Muhammad Anton


SALE A.P.
NIP.
198111042009031004

PENGERTIAN Terapi antiretroviral (ARV) dapat pula digunakan untuk


Pencegahan Pasca Pajanan (PPP atau PEP = post exposure
prophylaxis), terutama untuk kasus pajanan di tempat kerja
(Occupational exposure). Risiko penularan HIV melalui tusuk jarum
suntik adalah kurang dari 1%. PPP dapat juga dipergunakan dalam
beberapa kasus seksual yang khusus misal perkosaan atau
keadaan pecah kondom pada pasangan suami istri.

TUJUAN 1. Mencegah terjadinya infeksi pasca pajanan.


2. Mengurangi risiko penularan HIV/AIDS di tempat kerja pada
petugas kesehatan dengan mematuhi protokol kewaspadaan
universal.
3. Membantu pemahaman tentang adanya risiko terpajan dengan
HIV/AIDS di tempat kerja.
4. Meningkatkan motivasi petugas kesehatan untuk tetap bekerja
dengan orang yang terinfeksi HIV/AIDS.
1. Surat Keputusan Kepala Puskesmas Sale
KEBIJAKAN
Nomor : /KAPUS/03/2017 Tentang Tim HIV.
2. PERMENKES No 21 Tahun 2013 Tentang Penanggulangan
HIV/AIDS.
3. Peraturan Presiden No.75 Tahun 2006 mengamanatkan
perlunya peningkatan upaya penanggulangan HIV/AIDS di
seluruh Indonesia.

PROSEDUR LANGKAH DASAR TATALAKSANA KLINIS PPP HIV PADA KASUS


KECELAKAAN KERJA :
 Bila tertusuk jarum segera bilas dengan air mengalir dan
sabun/cairan antiseptik sampai bersih.
 Bila darah/cairan tubuh mengenai kulit yang utuh tanpa
luka atau tusukan, cuci dengan sabun dan air mengalir.
 Bila darah/cairan tubuh mengenai mulut, ludahkan dan
kumur-kumur dengan air beberapa kali.
 Bila terpecik pada mata, cucilah mata dengan air mengalir
(irigasi) atau garam fisiologis, dengan posisi kepala miring ke
arah mata yang terpercik.
PROSEDUR  Bila darah memercik ke hidung, hembuskan keluar dan
bersihkan dengan air.
 Bagian tubuh yang tertusuk tidak boleh ditekan dan dihisap
dengan mulut
 Setiap pajanan dicatat dan dilaporkan kepada yang
berwenang yaitu atasan langsung dan Komite PPI atau K3.
Memulai PPP sebaiknya secepatnya
 Hubungi Klinik VCT/PDP Ext 524 (Jam Kerja),
 Di IGD (di luar jam kerja).
 Hubungi Tim VCT atau dokter CST; dr.Dhani Redhono,
SpPD Ponsel. 08122932442 atau
 Petugas VCT/CST Adi Wibowo,SKep.Ns Ponsel.
081393258077
Rekomendasi PPP HIV berdasarkan jenis pajanan
Jenis pajanan Sumber pajanan HIV Sumber pajanan tidak
positif diketahui status HIVnya

Per kutaneus: Tawarkan paduan 2- Pertimbangkan prevalensi


Lebih berata obat ARVb populasi atau
subkelompok
Per kutaneus: Tawarkan paduan 2- Jangan tawarkan PPP
Kurang beratc obat ARVb
Seksual Tawarkan paduan 2- Pertimbangkan prevalensi
obat ARVb populasi atau sub
kelompok
Percikand: Tawarkan paduan 2- Pertimbangkan prevalensi
Lebih berate obat ARVb populasi atau
subkelompok

Percikan: PPP tidak Jangan tawarkan PPP


Kurang beratf dianjurkan, tetapi
paduan 2-obat ARV
dapat diberikan
berdasarkan
permintaan
a
Meliputi lesi akibat jarum berlubang besar, tusukan yang dalam
dan kontak dengan darah yang kelihatan pada alat tersebut atau
jarum yang digunakan di arteri atau vena.
b
Jika sumber pajanan HIV positif resisten terhadap terapi
antiretroviral atau jika prevalensi resistensi ARV di masyarakat
lebih dari 15%, paduan 3-obat (2 NRTI ditambah 1 PI) harus
ditawarkan. (Perlu diketahui, sampai saat ini prevalensi
resistensi ARV di masyarakat di Indonesia masih <5%)
c
Meliputi lesi dengan jarum berlubang kecil atau jarum padat dan
lesi superfisial.
d
Meliputi pajanan pada membran mukosa non-genital atau kulit
yang tidak utuh.

e
PROSEDUR Meliputi pajanan terhadap darah atau semen yang berjumlah
banyak.
f
Meliputi pajanan terhadap sedikit darah atau semen atau cairan
yang kurang infeksius (seperti cairan serebrospinal)

Beberapa hal tentang PPP :


 Waktu yang terbaik adalah diberikan sebelum 4 jam dan
maksimal dalam 48-72 jam setelah kejadian
 Paduan yang dianjurkan adalah Zidovudine 300 mg 2x/hr +
Lamivudine 150 mg 2x/hr atau Tenofovir 300 mg 1x/hr +
Lamivudine 150 mg 2x/hr
 Nevirapine (NVP) TIDAK digunakan untuk PPP
 Bila kejadian terpajan diluar jam kerja (ARV tersedia di apotek
IGD) untuk PPP diberikan secukupnya (sampai hari kerja)
kemudian petugas terpajan datang ke VCT/CST untuk tindak
lanjut.
 ARV untuk PEP diberikan selama 1 bulan
 Perlu dilakukan tes HIV sebelum memulai PPP
 ARV TIDAK diberikan untuk tujuan PPP jika tes HIV
menunjukkan hasil reaktif (karena berarti yang terpajan sudah
HIV positif sebelum kejadian)
 Perlu dilakukan pemantauan efek samping dari obat ARV yang
diminum
 Perlu dilakukan tes HIV pada bulan ketiga dan keenam setelah
pemberian PPP
 Pada kasus kecelakaan kerja pada petugas yang menderita
Hepatitis B maka PPP yang digunakan sebaiknya mengandung
TDF/3TC untuk mencegah terjadinya hepatic flare.

UNIT TERKAIT  Klinik KTS dan PDP


 Rekam Medis
 Instalasi Farmasi
 Unit Laboratorium
 Unit IGD
 Unit PPI

1. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan