You are on page 1of 12

EVIDENCE BASED NURSING

Penerapan balutan oklusi hidrokoloid dalam penyembuhan luka ulkus diabetik


pada pasien diabetes militus di RST dr soedjono magelang.

Oleh :

Agung Jabbar S

P1337420714036

JURUSAN KEPERAWATAN

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG

TAHUN 2017
A. Latar belakang

Di zaman yang sudah sangat modern ini dengan semua kecanggihan


teknologi yang semakin maju dan mudahnya mengakses suatu informasi
masyarakat sudah tidak asing lagi dengan istilah diabetes militis, dalam jurnal
(Kesehatan & Jember, 2016) luh titi handayani mengemukakan Saat ini
diabetes mellitus (DM) telah menjadi penyakit epidemik, ini dibuktikan dalam
10 tahun terakhir terjadi peningkatan kasus 2 sampai 3 kalilipat, hal ini
disebabkan oleh pertambahan usia, berat badan, dan gaya hidup. Indonesia
sendiri menempati urutan ke 4 angka kejadian DM di dunia setelah negara
India, Cina dan Amerika Serikat.
Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit kronis yang paling
banyak dialami oleh penduduk di dunia. Penyakit DM menempati urutan ke-4
penyebab kematian dinegara berkembang, di Indonesia sendiri, data yang di
kemukakan oleh WHO diabetes militus berada di urutan ke enam sebagai penyakit
penyebab kematian dengan prevalensi 6% dari total populasi dengan jumlah
258.000.000, kematian yang di akibatkan oleh diabetes mellitus pada populasi yang
berusia 30-69 tahun berjumlah 48,300 jiwa dan usia 70+ 51,100 jiwa jumlah total
99.400 jiwa (WHO, 2016).
Diabetes Mellitus (DM) adalah suatu penyakit gangguan metabolisme
karbohidrat yang kronis, yang dapat menimbulkan komplikasi yang bersifat
kronis. penyakit ini juga sering di juluki dengan istilah silent killer karena
gejala gejala awal pada penyakit ini bersifat ringan sehingga berjalan tanpa
terdeteksi. Menurut (luh titi handayani, 2016) mengatakan diabetes militus
merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai dengan kenaikan
kadar glukosa dalam darah atau biasa disebut hiperglikemia, secara klinis
terdapat dua tipe diabetes, yaitu tipe I dan tipe 2, DM tipe I disebabkan karena
kurangnya insulin secara penuh akibat proses autoimun sedangkan DM tipe II
yang pada umumnya memiliki latar belakang kelainan, di awali dengan
resistensi insulin, dari kedua tipe ini yang menjadi kasus terbanyak adalah DM
tipe II (American council on exercise 2001 dalam smeltzer, 2008) mengatakan
hampir 90-95% dari keseluruhan kasus DM yang di temukan adalah DM tipe
II, seiring meningkatnya kondisi hiperglikemia yang lama pada pasien
Diabetes Militus menyebabkan arteroskelosis, penebalan membrane basalis
dan perubahan pada saraf perifer. Ini akan memudahkan terjadinya luka kaki
diabetik,
Rata-rata masyarakat yang mengalami diabetes militus mengunjungi
pusat pelayanan kesehatan sudah pada fase kronis,karena paradigma yang ada
masih berorientasi di fase kuratif, kebanyakan pada kasus sudah terjadi ulcus
diabetik dan ini menjadikan alasan utama mengapa penderita DM menjalani
perawatan.
Menurut (luh titi handayani 2016), Ulkus diabetes adalah suatu luka
terbuka pada lapisan kulit sampai ke dalam dermis, yang biasanya terjadi di
telapak kaki. Komplikasi ulkus diabetic bisa dikatakan menjadi penyebab
tersering dilakukanya yang terjadi karena kejadian non traumatic, dalam
penelitianya (sunaryo tri 2014) mengatakan risiko amputasi 15-40 kali lebih
sering pada penderita DM di bandingkan dengan non-DM.
Dalam hasil penelitianya yang di lakukan (rini tri hastuti 2007)
mengatakan Faktor risiko ulkus diabetika adalah lama DM ≥ 10 tahun, kadar
kolesterol ≥ 200 mg/dl, kadar HDL ≤ 45 mg/dl, ketidakpatuhan diet DM,
kurangnya latihan fisik, perawatan kaki tidak teratur dan penggunaan alas kaki
tidak tepat dengan memberikan sumbangan terhadap ulkus diabetika sebesar 99,9
%.), Luka kaki diabetes disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu neuropati, trauma,
deformitas kaki, tekanan tinggi pada telapak kaki dan penyakit vaskuler perifer.
Pemeriksaan dan klasifikasi ulkus diabetes yang menyeluruh dan sistematik dapat
membantu memberikan dan arahan perawatan yang adekuat.
Dasar dari perawatan ulkus diabetes meliputi 3 hal yaitu
debridement,offloading, dan kontrol infeksi (Kruse, 2006). Ulkus kaki pada pasien
diabetes harus mendapatkan perawatan karena ada beberapa alasan, misalnya
untuk mengurangi resiko infeksi dan amputasi, memperbaiki fungsi dan kualitas
hidup, dan mengurangi biaya pemeliharaan kesehatan. Tujuan utama perawatan
ulkus diabetes sesegera mungkin didapatkan kesembuhan dan pencegahan
kekambuhan setelah proses penyembuhan.
Debridement menjadi momok penting dalam proses penyembuhan
ulcus diabetik karena dalam prosesnya akan sangat mempengaruhi cepat atau
lambatnya penyembuhan luka. Hal ini juga yang mulai banyak di teliti oleh
para peneliti, menurut (Novriansyah, n.d.2008) dalam tesisinya mengatakan
proses penyembuhan luka pada umunya dibagi atas beberapa fase yang
masing-masing saling berkaitan mulai dari fase inflamasi
(eksudatif),proliferasi,sampai fase maturase, fase-fase ini sangat di pengaruhi
oleh faktor-faktor di antaranya, perawatan luka, jenis balutan dan yang
digunakan.
Sekarang ini perawatan luka sendiri lebih terfokus pada lingkungan
luka yang lembab, karena pada managemen luka yang lama atau sering di
sebut juga metode konfensional hanya membersihkan luka dengan normal
salin atau larutan NaCL 0,9% dan di tambah dengan iodine
providine,kemudian di tutup dengan kasa kering. Biasanya yang terjadi saat
akan melakukan perawatan luka selanjutnya kasa yang kemarin akan
menempel karena normal salin atau NaCL 0,9% menguap dan menjadikan
kasa kering dan menjadikan kassa akan menpel pada luka yang menyebabkan
rasa sakit pada klien, di samping itu sel-sel yang baru tumbuh akan rusak.(titi
handayani luh, 2016)

Hal ini yang dirasa kurang efektif karena proses penyembuhan luka
akan berlangsung lama, proses granulasi sel-sel baru terhambat dengan
kerusakan yang terjadi diakibatkan salah satunya adalah menempelnya kasa
balutan pada luka, ini juga menjadi dasar para peneliti berusaha mencari solusi
bagaimana agar perawatan luka tidak merusak jaringan yang sedang tumbuh,
bisa berlangsung lebih cepat dan tidak menimbukan rasa sakit pada klien.

Perawatan luka modern merupakan sebuah solusi yang dapat


ditawarkan ,perawatan luka modern berfokus pada kondisi luka yang moisture
balance, hal ini di karenakan dalam posisi lembab proses penyembuhan luka
akan berlangusng jauh lebih cepat. Seperti yang di sampaikan (lut titi
handayani 2016) dalam penelitiannya bahwa metode perawtan luka moisture
balance (metode perawatan luka modern) lebih efektif dibandingkan metode
konvensional,dalam penelitianya beliau menggunakan metode studi meta
analisi dan di dalamnya penulis menemukan 7 penelitian yang mendukung
hasil dari penelitian ini,salah satunya berjudul, Efektifitas Penyembuhan Luka
Menggunakan Nacl 0,9% Dan Hydrogel Pada Ulkus Diabetes Mellitus dan hasil
penelitianya adalah Dari hasil analisis menggunakan mann whitney dengan taraf
alpha = 0,05 didapatkan p = 0,00 dengan mean rank 3:1 yang artinya hydrogel
tiga kali lebih efektif dibandingkan NaCl 0,9% dalam penyembuhan ulkus diabet.
Penelitian lainnya lebih terperinci dalam pemilihan balutan yang di gunakan
dalam metode perawatan luka modern, Pengaruh Perawatan Luka Teknik
Balutan Wet-Dry Dan Moist Wound Healing Dengan Hydrocoloid Dressing Pada
Penyembuhan Ulkus Diabetik, dan di dapatkan hasil terdapat perbedaan yang
signifikan pada proses penyembuhan luka dengan menggunakan teknik moist
healing dengan wet-dry. Kesimpulan dari penelitian ini perawatan luka pada
ulkus diabetik dengan teknik moist healing lebih cepat proses penyembuhannya.
Sebelum dilakukan pada manusia penelitian ini pernah di lakukan pada hewan
percobaan, (Novriansyah, n.d.2008) dalam penelitianya menggunakan tikus
wistar dengan total sample 24 tikus, dan hasil dari penelitianya adalah Penutup
okludi hifrokoloid lebih baik di banding kasa konvensional terbukti kepadatan
kolagen yang lebih padat, Tingkat rata-rata penuapan oksigen dan uap air (MVTR)
yang rendah pada balutan luka akan meningkatkan pertumbuhan kepadatan kolagen.
Untuk itu diperlukan pemilihan metode perawatan luka yang tepat
untuk mengoptimal-kan proses penyembuhan luka dan Dari beberapa
penelitian di atas penulis ingin mencoba memperkenalkan dan menerapkan
metode perawatan luka modern dengan balutan oklusi hidrokoloid di rumah
sakit tentara RST dr soedjono ini, karena pengamatan yang penulis lakukan
selama melaksanakan praktik klinik di rumah sakit ini, penulis menemukan
bahwa di rumah sakit ini masih menggunakan metode perawatan luka
konvensional. Dan seperti tertulis di atas bahwa perawatan luka konvensional
dirasa kurang efektif apa bila di gunakan pada klien dengan ulkus
diabetikum.hal ini penulis tekankan guna meningkatan kenyamanan pasien
dan meningkatkan mutu pelayanan di rumah sakit ini.

B. Rumusan masalah
Berdasarkan uraian di atas dapat di rumuskan latar belakang masalah
sebagai berikut :
Bagaimanakah menerapkan metode perawatan luka modern dengan
balutan oklusi hidrokoloid dapat di terapkan di rumah sakit RST dr
soedjono Magelang.
C. Tujuan
1. Tujuan umum
Menerapkan metode perawatan luka modern dengan balutan oklusi
hidrokoloid di Rumah Sakit Tentara dr soedjono Magelang.
2. Tujuan khususl
Memasukan balutan oklusi hidrokoloid kedalam bagian dari standar
operational prosedur yang ada di Rumah Sakit Tentara dr soedjono
Magelang.
A. telaah kritis hasil penelitian.

Luka adalah rusaknya struktur dan fungsi anatomis kulit normal akibat
proses patalogis yang berasal dari internal dan eksternal dan mengenai organ
tertentu (Potter & Perry, 2006) dalam (Sinaga 2012).

Penyembuhan luka adalah suatu kualitas dari kehidupan jaringan. Hal


ini juga berhubungan dengan regenerasi jaringan. Proses penyembuhan dapat
terjadi secara normal tanpa bantuan, walaupun beberapa bahan perawatan
dapat membantu untuk mendukung proses penyembuhan.(Subhannur
Rahman, 2016).

sedangkan menurut (luh titi handayani 2016) mengatakan


Penyembuhan luka terkait dengan regenerasi sel sampai fungsi organ tubuh
kembali pulih, ditunjukkan dengan tanda-tanda dan respon yang berurutan
dimana sel secara bersama-sama berinteraksi, melakukan tugas dan berfungsi
secara normal. Idealnya luka yang sembuh kembali normal secara struktur
anatomi, fungsi dan penampilan.

Sedangkan menurut (Novriansyah, n.d.2008) dalam tesisinya


mengatakan proses penyembuhan luka pada umunya dibagi atas beberapa fase
yang masing-masing saling berkaitan mulai dari fase inflamasi
(eksudatif),proliferasi,sampai fase maturasi.

Survei yang penulis lakukan sendiri di 2 rumah sakit tipe B daerah


karesidenan kedu, di dapati perawtan luka pada pasein luka maupun luka
diabetikum masih menggunakan perawatan luka konvensional.

Sekarang ini perawatan luka sendiri lebih terfokus pada lingkungan


luka yang lembab, karena pada managemen luka yang lama atau sering di
sebut juga metode konfensional hanya membersihkan luka dengan normal
salin atau larutan NaCL 0,9% dan di tambah dengan iodine
providine,kemudian di tutup dengan kasa kering. Biasanya yang terjadi saat
akan melakukan perawatan luka selanjutnya kasa yang kemarin akan
menempel karena normal salin atau NaCL 0,9% menguap dan menjadikan
kasa kering dan menjadikan kassa akan menpel pada luka yang menyebabkan
rasa sakit pada klien, di samping itu sel-sel yang baru tumbuh akan rusak.(titi
handayani luh, 2016)

Hal ini dirasa kurang efektif karena proses penyembuhan luka akan
berlangsung lama, proses granulasi sel-sel baru terhambat dengan kerusakan
yang terjadi diakibatkan salah satunya adalah menempelnya kasa balutan pada
luka.

Untuk itu diperlukan pemilihan metode balutan luka yang tepat untuk
mengoptimal-kan proses penyembuhan luka. Saat ini, teknik perawatan luka
telah banyak mangalami perkembangan, dimana perawatan luka sudah
menggunakan balutan modern salah satunya oklusi hidrokoloid.

1. penyembuhan luka
a. Faktor sistemik
1) Nutrisi, merupakan pengaruh yang cukup menonjol, kekurangan
vitamin c dan protein akan mempengaruhi sintesis kolagen serta
memperlama penyembuhan luka.
2) Status metabolik. Seperti diabetes militus
3) Status sirkulasi darah
4) Status imunitas, gangguan dan defisiensi sistem imun menyebabkan
luka mudah terinfeksi dan mengganggu penyembuhan luka.
5) Hormonal, hormone glukokortikoid mempunyai pengaruh sebagai
anti inflamasi, dapat mempengaruhi proses inflamasi dan proliferasi,
sehingga dapat mempengaruhi sintesis kolagen
6) Psikososial.
b. Faktor local
1) Infeksi akut
2) Faktor mekanik, misalnya mobilisasi awal, pergerakan diatas luka
akan memperlambat proses penyembuhan luka,perlekatan dan
pembalutan.
3) Benda asing, misalnya benang jahit yang tidak terabsosbsi,
kotoran, pecahan tulang.
4) Macam, ukuran, dan lokasi tulang.
5) Oksigenasi, merupakan faktor terpenting yang berpengaruh pada
kecepatan penyembuhan luka.
3. Penutup luka
Penutup luka berfungsi sampai proses penyembuhan terjadi dan
robekan pada luka kulit menutup. Beberapa fungsi penutup luka di
antaranya :
a. Melindungi terhadap pengaruh mekanik (kotoran,tekanan,gesekan)
melindungi terhadap kontaminasi dan iritasi kimia.
b. Melindungi infeksi sekunder.
c. Melindungi kekeringan dan hilangnya cairan tubuh.
d. Melindungi terjadinya penguapan.
Penutup luka juga dapat mempengaruhi proses penyembuhan
luka melalui aktifitas pembersihan luka, menciptakan suasana atau
iklim di sekitar luka yang meningkatkan penyembuhan luka dan
penutup luka juga akan menjaga selalu dalam keadaan istirahat.
1) Fungsi pada fase pembersihan (eksudasi)
Eksudat yangberkumpul pada luka akan mengganggu
proses penyembuhan luka baik secara mekanis maupun
biologis, disamping itu resiko untuk terjadinya infeksi juga
akan bertambah. Adanya penutupan luka akan mendukung
dan mempercepat pembersihan luka dan membantu mencegah
terjadinya infeksi oleh mikroorganisme pathogen yang ada.
2) Fungsi pada fase proliferasi (granulasi)
Kelembaban lingkungan sekitar luka yang seimbang
berperan dalam mikrosirkulasi luka dan sangat di perlukan
dalam pembentukan jaringan granulasi. Proses penyembuhan
luka terganggu karena luka yang kering maupun luka yang
sangat basah. Pengaturan keseimbangan kelembaban luka
tersebut dapat terjadi bila penutup luka bersifat mengarbsobsi
seksresi cairan luka yang berlebih dan mencegah luka menjadi
kering. Menjaga jaringan granulasi yang terbentuk terhadap
trauma lebih lanjut merupakan hal yang sangat penting pula
dalam fase ini, sehingga penutup luka seharusnya atraumatik
dan tidak melekat dengan luka. Jaringan granulasi akan rusak
karena terangkat nya sel-sel pada saat penggantian pembalut
luka hal ini akan menyebabkan proses penyembuhan luka
kembali pada fase inflamasi.terbentuknya jaringan granulasi
dilain pihak juga akan melindungi luka terhadap infeksi.
3) Fungsi pada fase maturase.
Jaringan granulasi yang mature dan permukaan luka
yang selalu lembab di butuhkan untuk mencapai akhir dari
proses epitalisasi. Pembalutan luka sebaiknyanselalu menjaga
luka dalam keadaan kelembaban yang seimbang. Secret yang
berlebihan pada luka menyenbabkan sel epitel yang terbentik
akan ikut terbuang bersama secret itu, jika luka terlalu kering
menyebabkan terbentuk krusta, yang mana akan mengganggu
terjadinya proses repitalisasi karena untuk melewati krusta
tersebut oleh sel epitel di butuhkan waktu dan energy.
4. Metode menutup luka
B. Praktik evidence based nursing
1. Rencana penerapan
Penerapan perawatan luka modern ini akan di lakukan dengan tiga tahap.
a. Memberikan penyuluhan tenang penerapan perawatan luka modern
dengan balutan oklusi hidrokloid pada pejabat atau pengelola rumah
sakit.
b. Melakukan uji coba pada satu bangsal selama 3 bulan tenang ke
efektifan penggunaan metode perawatan luka modern dengan balutan
oklusi hidrokoloid.
c. Mengevaluasi hasil penerapan metode perawtan luka modern dengan
balutan oklusi hidrokoloid. Efektif atau tidak, dan mengalami
kesulitan tidak dalam segi penggunaan dan administrasi rumah sakit.
d. Pemberikan penyuluhan dan workshop pada perawat di bangsal
penyakit dalam, prei operatif, dan perawat bedah. Khususnya para
ketua bangsal dan katim di ruangan.
2. Kemungkinan hambatan dan pemecahan masalah.
a. Sumber daya perawat yang belum menguasai.
b. Biaya yang cukup mahal.
c. Belum terklaim oleh jaminan kesehatan nasional.
3. Hasil yang di harapkan
DAFTAR PUSTAKA pematangsiantar.

Subhannur Rahman, D. R. (2016).


EFEKTIVITAS PENGGUNAAN
Kesehatan, F. I., & Jember, U. M.
MADU CAMPURAN
(2016). STUDI META
TERHADAP PROSES
ANALISIS PERAWATAN
PENYEMBUHAN LUKA DI
LUKA KAKI DIABETES
POLI KAKI DIABETIK
DENGAN MODERN
RUMAH SAKIT UMUM
DRESSING Luh Titi
DAERAH ULIN
Handayani*. STUDI META
BANJARMASIN TAHUN 2016,
ANALISIS PERAWATAN LUKA
7(2), 301–319.
KAKI DIABETES DENGAN,
6(2), 149–159. WHO. (2016). Proportional mortality
(% of total deaths, all ages)*,
Novriansyah, R. (n.d.). PENUTUP
2016.
OKLUSIF HIDROKOLOID
SELAMA 2 DAN 14 HARI The
Difference of Collagen Density
Around Wistar Mice Wound
Incision Dressing with
Conventional Gauze and
Occlusive PROGRAM PASCA
SARJANA PROGRAM
PENDIDIKAN DOKTER
SPESIALIS I.

Sinaga, M., & Tarigan, R. (2012).


Penggunaan bahan pada
perawatan luka di rsud dr.
djasamen saragih