You are on page 1of 14

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

PERCOBAAN III
ENZIM GLUKOAMILASE II

OLEH

NAMA : S U PR IAD I

STAMBUK : A1C4 05 031

KELOMPOK : III

ASISTEN PEMBIMBING : MIRNAWATI, S.Pd

LABORATORIUM PENGEMBANGAN UNIT KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2008
ENZIM GLUKOAMILASE II

I. A. Tujuan Percobaan

1. Mengetahui pengaruh suhu terhadap aktivitas enzim glukoamilase.

2. Mengetahui pengaruh pH terhadap aktivitas enzim glukoamilase.

B. Prinsip Percobaan

Prinsip percobaan kali ini penentuan produk yang terbentuk oleh

kerja enzim glukoamilase serta pengaruh konsentrasi substrat terhadap

aktivitas enzim berdasarkan pada variasi konsentrasi substrat dan variasi

perbandingan jumlah enzim.

II. Teori

Enzim adalah suatu protein yang mempunyai struktur tiga dimensi

tertentu yang mampu mengkatalisis reaksi biologi (aktifitas biokatalik). Enzim

menaikkan laju reaksi karena dengan adanya enzim, maka reaksi yang terjadi

akan mempunyai energi aktifitas lebih rendah dari reaksi biasanya. Hal ini dapat

disebabkan oleh energy bebas satu atau lebih reaksi antara yang tidak stabil dan

lebih rendah (Anwar, 1994).

Penggunaan mikroba sebagai penghasil enzim memiliki beberapa

keuntungan, yaitu diantaranya biaya produksi relatif murah, dapat diproduksi

dalam waktu singkat sesuai dengan permintaan, mempunyai kecepatan tumbuh

yang tinggi serta mudah dikontrol.


Fungsi enzim pada umunya dapat merombak sesuatu zat dapat bentuk

yang lebih kecil untuk kemudian diuraikan menjadi zat-zat yang siap diresorpsi

dan dapat dialirkan lagi untuk membentuk zat-zat semual yang diperlukan untuk

keperluan organ itu sendiri, lainnya hanya diuraikan dalam pencernaan

(metabolisme).

Aktivitas enzim tergantung pada macamnya substrat dan kadarnya

(konsentrasi), temperature, konsentrasi ion hidrogen (H +), dan banyaknya dan

susunan cairan yang ditambahkan(Kurnawidjaja, 1993).

Pengetahuan tentang katalis telah dirintis oleh Berzelius pada tahun

1837. Ia mengusulkan nama “katalis” untuk zat-zat yang dapat mempercepat

reaksi tetapi zat itu sendiri tidak ikut bereaksi. Proses kimia yang terjadi dengan

pertolongan enzim telah dikenal sejak zaman dahulu misalnya pembuatan

anggur dengan cara fermentasi atau peragian. Dahulu proses fermentasi

dianggap hanya terjadi dengan adanya sel yang mengandung enzim. Pasteur

adalah salah seorang yang banyak bekerja dalam fermentasi ini. Anggapan

tersebut berubah setelah Buchner membuktikan bahwa cairan yang berasal dari

ragi tanpa adanya sel hidup dapat menyebabkan terjadinya fermentasi gula

menjadi alkohol dan karbondioksida. Hingga sekarang kata enzim yang berarti

di dalam ragi tetapi dipakai untuk nama katalis dalam proses biokimia

(Poedjiadi, 1994).

Karena reaksi kimia sangat dipengaruhi oleh suhu, maka reaksi yang

dikatalisis oleh enzim juga peka terhadap suhu. Enzim sebagai protein akan
mengalami denaturasi jika suhunya dinaikkan. Akibatnya daya kerja enzim

menurun, mungkin sampai suhu 45oC efek predominannya masih

memperlihatkan kenaikan aktifitas sebagaimana dugaan dalam teori kinetik.

Tetapi lebih dari 45oC efek yang berlawanan yaitu denaturasi termal lebih

menonjol dan menjelang suhu 55oC fungsi katalik enzim menjadi punah. Dua

macam pengaruh suhu terhadap reaksi enzim disajikan pada :

V Ket :
b V = kecepatan reaksi
axb T = Suhu
a a = Bertambahnya kecepatan
b = denaturasi termis
axb = suhu optimum
pH juga sangat berpengaruh terhadap aktifitas enzim, karena sifat ionik

gugus karboksil dan gugus amino mudah dipengaruhi oleh pH. Hal ini
T
menyebankan daerah katalitik dan konformasi enzim menjadi berubah. Selain itu

perubahan ph juga menyebabkan denaturasi enzim dan mengakibatkan

hilangnya aktifitas enzim. Kurva pengaruh pH ini berupa lonceng dengan sebuah

plateau kecil. Plateau ini sering disebut pH optimum enzim. Dalam mempelajari

suatu enzim, pH optimum ini perlu dicari terlebih dahulu dengan memakai

buffer yang cocok.

Didalam sel dan lingkungan sel sekelilingnya, pH dalam keadaan normal

harus tetap sebab adanya perubahan akan menyebabkan pergeseran aktifitas


enzim. Hal ini akan mempengaruhi dan mengacaukan system katabolik dan

anabolik dalam sel dan jaringan.

V pH optimum

pH

(Girindra, 1993)

Glukoamilase (amiloglukosidase) telah diisolasi dari Aspergillus oryzae

dan Sacharomycopsis fibuligera. Enzim ini merupakan enzim yang dapat

memecah polisakarida (pati, glikogen, dan lain-lain) pada ikatan α-1,4 dan β-1,6

dan menghasilkan glukosa. Glukosa yang dihasilkan dapat diukur dengan cara

penentuan gula pereduksi dengan metode Smogy–Nelson, Luff crhroll.

Penggunaan enzim glukoamilase sebagai katalisator reaksi-reaksi biologi dalam

bidang pangan dan nonpangan telah memberikan manfaat dan keuntungan bagi

manusia. Glukoamilase banyak digunakan dalam industri gula cair dan beer.

Daya hidrolitik suatu enzim dapat bervariasi walaupun enzim tersebut

berbeda, hal ini sangat dipengaruhi oleh sumber (mikroorganisme) dan substrat

yang digunakan, sedangkan kondisi optimumnya dipengaruhi oleh jenis media

uji yang digunakan (Kombong, 2004).

Beberapa enzim memerlukan suatu ko-faktor yang bukan protein dan

biasanya agak longgar berikatan dengan enzim. Ko-faktor itu disebut gugus
prostetik. Banyak juga enzim yang memerlukan ko-faktor logam seperti Mn 2+,

Fe2+, Mg2+ dan lain-lain. Beberapa enzim mempunyai aktifitas diantaranya

spesifik untuk D dan L isomer optic. Enzim L-asam amino oksidasi hanya pada

L-asam amino oksidasi tidak berekasi terhadap isomer D-asam amino. Didalam

proses isolasi kadang-kadang ko-faktor yang berikatan longgar pada enzim

terlepas sehingga menyebabkan aktifitas enzim menurun atau bahkan hilang.

Bagian protein dari enzim disebut apoenzim, sedangkan enzim keseluruhannya

disebut haloenzim (Simanjuntak, 2003)

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim diantaranya

adalah pengaruh konsentrasi substrat pengaruh suhu, pengaruh pH dan

parameter Km & Vm. Enzim adalah suatu protein yang mempunyai struktur tiga

dimensi tertentu yang mampu mengkatalis reaksi biologic (aktivitas biokatalik).

Enzim manaikkan laju reaksi karena dengan adanya enzim, maka reaksi yang

terjadi akan mempunyai energy aktivitas lebih rendah dari reaksi biasanya; hal

ini dapat disebabkan oleh energy bebas satu atau lebih antara yang tidak stabil

dan lebih stabil (Wirahadikusuma, 1989).


III. Metodologi Praktikum
a. Alat dan Bahan
- Tabung reaksi - Labu semprot
- Pipet volume 5 mL - Karet isap
- Pipet skala 10 mL - Pipet tetes
- Gelas kimia 800 mL - Batang pengaduk
- Gelas kimia 50 mL - Pemanas
- Rak tabung reaksi - Spektrometer
- Reagen Arsenomobihibrad - Inkubator
b. Prosedur Kerja
1. Pengaruh Suhu (Untuk Suhu 20oC)

Larutan Tepung
(20 ppm)

dimasukkan dalam tabung reaksi

Tabung I Tabung II Tabung III


ditambahkan 1 ditambahkan 1 ditambahkan 1
mL enzim mL enzim mL enzim

Larutan Larutan Larutan

di inkubasi pada suhu 20oC


diambil masing-masing 1 mL
ditambahkan 1 mL larutan Nelson
dipanaskan selama 20 menit

Larutan hijau
ditambahkan arsenomolibrat
ditambahkan 7 mL aquades
diukur absorbansinya

absorbans
 Untuk Suhu 40oC & 60oC sama dengan diatas
2. Pengaruh pH
 pH 4,5

Larutan Tepung
(20 ppm)

dimasukkan dalam tabung reaksi

Tabung I Tabung II Tabung III


ditambahkan 1 ditambahkan 1 ditambahkan 1
mL enzim mL enzim mL enzim
ditambahkan ditambahkan ditambahkan
buffer 4,5 buffer 4,5 buffer 4,5

Larutan Larutan Larutan

di inkubasi selama 15 menit


diambil masing-masing 1 mL
dipanaskan selama 20 menit

Larutan hijau
ditambahkan arsenomolibrat
ditambahkan 7 mL aquades
diukur absorbansinya

absorbans
C. Pembahasan
Enzim adalah suatu protein yang mempunyai struktur tiga dimensi

tertentu yang mampu mengkatalisis reaksi biologi (aktifitas biokatalik). Enzim

menaikkan laju reaksi karena dengan adanya enzim, maka reaksi yang terjadi

akan mempunyai energi aktifitas lebih rendah dari reaksi biasanya. Hal ini

dapat disebabkan oleh energy bebas satu atau lebih reaksi antara yang tidak

stabil dan lebih rendah

Suatu reaksi kimia, khususnya antara senyawa organik yang dilakukan

dalam laboratorium memerlukan suatu kondisi yang ditentukan oleh beberapa

faktor seperti suhu, tekanan, waktu dan lain-lainnya. Reaksi atau proses kimia

yang berlangsung dengan baik dalam tubuh kita ini dimungkinkan karena

adanya katalis yang disebut enzim.

Pada percobaan ini yang bertujuan untuk menentuan jumlah produk yang

terbentuk oleh kerja enzim amilase dan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi

substrat terhadap aktivitas enzim glukoamilase. Kerja enzim dinyatakan dalam

bentuk aktivitas, dimana aktivitas enzim adalah kemampuan suatu enzim untuk

mengubah substrat.

Untuk percobaan ini, aktivitas enzim glukoamilase ditentukan dengan

substrat. Kontak ini terjadi pada suatu tempat atau bagian enzim yang disebut

bagian aktif. Pada konsentrasi rendah bagian enzim yang aktif ini hanya

menampung sedikit substrat. Bila konsentrasi substrat yang diperbesar makin

banyak substrat yang berhubungan dengan enzim pada bagian aktif enzim
tersebut. Dengan demikian konsentrasi enzim-substrat makin besar. Hal ini

menyebabkan makin besarnya kecepatan reaksi dan semakin besar pula produk

yang dihasilkannya alam bentuk kompleks enzim substrat. Pada suatu batas

konsentrasi substrat tertentu semua bagian aktif telah dipenuhi oleh substrat

atau telah jenuh dengan substrat.

Pada perlakuan yang pertama yaitu penentuan jumlah produk yang

terbentuk oleh kerja enzim glukoamilase terhadap substrat dalam hal ini tepung

beras dengan cara memvariasikan dua variabel, yaitu konsentrasi dan

perbandingan sustrat-enzim. Untuk variasi konsentrasi dilakukan pada

substrat, yaitu dimulai dari konsentrasi 2,5%, 5%, 10%, 20%, dan 40%. Serta

variasi perbandingan substrat-enzim adalah 1:1, 1:2, dan 1:3.

Berdasarkan teori bahwa semakin banyak jumlah enzim maka produk

yang dihasilkanpun akan semakin meningkat, dalam artian dua variabel ini

dapat dikatakan berbanding lurus. Namun ada kalanya pula suatu keadaan

dimana pada saatkonsentrasi enzim jauh melebihi konsentrasi dari substrat

maka reaksi akan mengalami kejenuhan dan hingga pada suatu titik enzim tidak

lagi memiliki pasangan dan pada akhirnya pada kondisi ini produk dan

kecepatan reaksi relatif konstan dan tidak bisa bertambah lagi.

Hal ini juga berlaku pada variasi konsentrasi substrat terhadap enzim.

Sehingga pada akhirnya dapat dikatakan bahwa kecepatan dan produk reaksi

tidak bergantung pada konsentrasi substrak atau enzim melainkan bergantung

pada konsentrasi enzimsubstrat (ES).


Menurut Leoner Michelis dan Maude Menten bahwa kecepatan reaksi

tergantung pada konsentrasi kompleks enzim-substrat (ES), sebab apabila

tergantung pada konsentrasi substrat (S), maka penambahan konsentrasi

substrat akan menghasilkan pertambahan kecepatan reaksi yang apabila

digambarkan akan merupakan garis lurus. Jadi secara umum reaksi dengan

enzim dituliskan sebagai berikut :

K1 K3

E + S Es E + P.

Dan berdasarkan percobaan terbukti bahwa, titik optimum pada percobaan ini

diperoleh pada saat konsentrasi 5% dari konsentrasi maksimumnya adalah 40%

dan pada perbandingan antara substrat-enzim 1:1 dari perbandingan maksimum

substrat-enzim adalah 1:3.

Hal ini menunjukkan bahwa pada keadaan ini jumlah enzim dan

substrat tepat bereaksi habis dan jika ditambah terus konsentrasi dari salah

satunya maka tidak akan merubah atau bertambah lebih besar lagi produk dan

kecepatan reaksi yang ada. Dan semua ini terbukti pada saat konsentrasi terus

dinaikkan hingga pada kedua variabel mancapai maksimim dengan hasil

konsentrasi substrat dari sisa reaksi masih bayak yang tersisa. Meskipun dalam

percobaan ini bukan hanya faktor variasi konsentrasi saja yang dapat

mempengaruhi aktivitas enzim terhadap substrat.


Namun menurut Kurnawidjaja, 1993, masih ada faktor lain seperti

macamnya substrat dan kadarnya (konsentrasi), temperatur, konsentrasi ion

hidrogen (H+) dan banyaknya dan susunan cairan yang ditambahkan. Selain itu

masih ada faktor koreksi yang tidak kalah pentingnya, sebeb faktor ini hampir

disemua percobaan selalu terjadi, yaitu faktor kesalahan, baik itu kesalahan

personal ataupun kesalahan instrumen. Hal ini tidak dapat dihindari tetapi

hanya dapat diminimalisir dengan cara lebih berhati-hati dalam melakakukan

perlakukan-perlakuan.
V. Simpulan
Berdasarkan hasil percobaan dan pembahasan, maka dapat disimpulkan
bahwa :
a. Produk optimum yang terbentuk dari kerja enzim terjadi pada konsentrasi
substrat 5% degan perbandingan substrat-enzim sebesar 1:1.
b. Semakin besar konsentrasi substrat (tepung beras) maka produk yang
dihasilkan akan semakin besar, dan akan maksimum pada saat jumlah
substrat tepat sama dengan jumlah enzim yang dibutuhkan.
DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Chairil. 1994. Pengantar Praktikum Kimia Organik. DEPDIKBUD :


Yogyakarta

Girindra, Aisjah. 1993. Biokimia I. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta

Kombong, H. 2004. Evaluasi Daya Hidrolitik Enzim Glukoamilase Dari Filtrat


Kultur Aspergillus niger. Vol 5 No. 1. Jurusan Kimia FMIPA Unhalu :
Kendari

Poedjadi, A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. UI Press. Jakarta.

Simanjuntak, 2003. Biokimia. FMIPA Universitas Suimatra Utara

Wirahadikusuma, 1989. Biokkimia Enzim dan Asam Nukleat. ITB : Bandung