You are on page 1of 95

i

SKRIPSI

PERAN KADER SIAGA BENCANA DALAM MITIGASI


BENCANA MASYARAKAT PESISIR DI KELURAHAN
LEMPUING KECAMATAN RATU AGUNG
KOTA BENGKULU
TAHUN 2017

Oleh :

SRI HARTONO

NPM : 152426046 SPP

PROGRAM STUDI NERS (AKADEMIK)


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
DEHASEN BENGKULU
TAHUN 2017

i
ii

SKRIPSI

PERAN KADER SIAGA BENCANA DALAM MITIGASI


BENCANA MASYARAKAT PESISIR DI KELURAHAN
LEMPUING KECAMATAN RATU AGUNG
KOTA BENGKULU
TAHUN 2017

Diajukan sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Keperawatan pada


Program Studi Ners (Akademik) STIKes Dehasen Bengkulu

Oleh :

SRI HARTONO

NPM : 152426046 SPP

PROGRAM STUDI NERS(AKADEMIK)


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
DEHASEN BENGKULU
TAHUN 2017

ii
ii

ii
iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Untuk sebuah kebaikan........ Optimis, Berjuang, dan Pantang menyerah,

karena Allah takan pernah menyia-nyiakan hambanya yang berusaha.

“Apapun yang bisa kamu lakukan, atau kamu bayangkan kamu bisa,

lakukanlah. Didalam keberanian tedapat kejeniusan, kekuatan dan

keajaiaban”. (Goethe)

Hiduplah seperti pohon kayu yang lebat buahnya ; hidup di tepi jalan

dan dilempari orang dengan batu, tetapi dibalas dengan buah (Abu

Bakar Sibli).

Jatuh itu biasa tetapi bangkit itu luar biasa, tidak masalah berapa kali

anda jatuh yang penting berapa kali anda bangkit setelah anda terjatuh,

sukses itu penting tapi bersyukur jauh lebih sukses (Spiritual Sinergi

Semesta)

“Kebesaran suatu persahabatan bukanlah terletak pada sambutan

tangan terbuka, senyuman atau suka cita akan persahabatan melainkan

inspirasi jiwa yang dirasakan saat menemukan orang yang dipercaya

dan mau mempercayainya” (Khalil Gibran)

Skripsi ini ku persembahkan untuk :

Allah SWT, yang telah memberi jalan petunjuk dan kemudahan untuk

menyelesaikan Skripsi ini serta memberi kekuatan dan ketabahan dalam

menjalani hidup.

iii
iv

Kedua orang tuaku yang tercinta (Sunarman dan Liti Luhida) yang

sudah memberikan dorongan dan do`a yang tak pernah putus. Betapa

kuingin mempersembahkan sesuatu yang mungkin membuat sedikit

merasa bangga atas semua perjuangan untuk hidup dan masa depanku.

Keluargaku, paman dan bibi serta Sepupu-spupu tercinta terimakasih

telah memberikan dukungan hingga aku bisa meraih apa yang aku

inginkan.

Pembimbingku (Ns. Murwati S.Kep M.Kes dan Ns. Fitriana S.Kep) dan

Pengujiku (Ns. Tita Septi Handayani M.Kes dan Ns. Hengki Tranado

S.Kep) yang tak henti-hentinya mengarahkan ku dan membimbing ku

dengan penuh kesabaran.

Saya ucapkan terima kasih khususnya kepada sahabat Yogi Saputra,

Asep Zulkarnaen, Hajri Oktiawan, Robi Septianto, Dwi Hidayatullah,

Taufik Hidayat, Sevin Hidayat, dan Hendri Pardian Kusuma.

Teman-teman seperjuangan STIKES Dehasen Bengkulu dan almamater

tercinta.

iv
v

v
vi

Program Studi Ners


Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dehasen Bengkulu
Skripsi, 02 Agustus 2017
ABSTRAK

Sri Hartono
Peran Kader Siaga Bencana dalam Mitigasi Bencana Masyarakat Pesisir
Kelurahan Lempuing Kecamatan Ratu Agung Kota Bengkulu Tahun 2017
(dibimbing oleh Murwati, Fitriani)
XIV+ 61 halaman + 4 bagan + 3 tabel + 9 Lampiran

Kader Siaga Bencana adalah masyarakat yang berfungsi untuk mencegah


gawat darurat dan bencana meliputi kesiagaan masyarakat, pencegahan dan mitigasi
atau penjinakan kejadian gawat darurat dan bencana, serta berfungsi pula untuk reaksi
cepat penanganannya di bidang kesehatan. Berdasarkan hasil studi Pendahuluan dari
kelurahan lempuing yang di lakukan pada 25 Desember 2016, di Kelurahan
Lempuing dari hasil wawancara di dapatkan data dari 7 orang Masyarakat 5 orang
mengatakan tidak tahu cara mengurangi dampak dari bencana, baik bencana alam,
bencana ulah manusia maupun gabungan dari keduanya. Sedangkan dua orang
lainnya bisa menjelaskan cara mengurangi dampak dari bencana, baik bencana alam,
bencana ulah manusia maupun gabungan dari keduanya.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Peran kader siaga bencana
dalam mitigasi bencana masyarakat pesisir di Kelurahan Lempuing Kecamatan Ratu
Agung Kota Bengkulu Tahun 2017
Metode penelitian yang di guanakan dalam penelitia ini adalah penelitian
secara deskriptif. Subjek penelitian berjumlah 36 orang dengan tehnik pengambilan
sampel Non-Probability sampling dengan jenis tekhnik qouta sampling,
menggunakan data sekunder dan data primer yang diolah secara univariat. Penelitian
ini dilaksanakan pada 18 - 22 Juli di Kelurahan Lempuing Kota Bengkulu.
Hasil penelitian ini menunjukan hampir besar dari kader sebanyak 26 orang
kader (72.2%) memiliki peran baik sedangkan sebagian kecil responden memiliki
peran kurang baik dalam mitigasi bencana yaitu 10 orang kader (27.8%)

Kata Kunci : Peran Kader, Mitigasi Bencana


Kepustakaan : 27 (2012-2017)

vi
vii

Nursing Study Program


College of Health Sciences Dehasen Bengkulu
Thesis, 2 August 2017

ABSTRACT

Sri Hartono
The Role of Disaster Prone Cadres in Coastal Disaster Mitigation of Lempuing
Village, Ratu Agung Sub-district of Bengkulu City 2017
(Supervised by Murwati, Fitriani)
XIV + 61 pages + 4 charts + 3 tables + 9 Attachments

Disaster Prone Cadres are communities that function to prevent emergency and
disaster emergency, including community preparedness, prevention and mitigation or
taming of emergency and disaster events, and also functions for quick reaction
handling in the field of health.
Based on the results of the previous study in Lempuing conducted on December
25, 2016, through interviews obtained from 7 people, 5 people said they did not know
how to reduce the impact of the disaster, whether natural disaster, human disaster or
combination of both.
While two others can explain how to reduce the impact of disasters, both
natural disasters, human-caused disasters or a combination of both.
The purpose of this research was to know the role of disaster alert cadres in
disaster mitigation coastal communities in Lempuing of Ratu Agung in Bengkulu Year
2017.
The research method used in this research was descriptive research. The
subjects of the research were 36 people with Non-Probability sampling technique by
using secondary data and primary data which were processed using univariate. This
research was conducted on 18 - 22 July in Lempuing Village of Bengkulu.
The result of this research shows that almost 26 cadres (72.2%) have good role,
while a small number of respondents have less good role in disaster mitigation that is
10 cadres (27.8%)

Keywords: Role of Cadres, Disaster Mitigation


References: 27 (2012-2017)

vii
viii

KATA PENGANTAR

Bismillahirohmanirohim, Alhamdulillahirobbilalamin. Puji syukur saya

panjatkan kehadirat ALLAH SWT, atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga

penulis dapat menyelesaikan penyusunan Skripsi dengan judul : “Peran Kader Siaga

Bencana dalam Mitigasi Bencana Masyarakat Pesisir Kelurahan Lempuing

Kecamatan Ratu Agung Kota Bengkulu Tahun 2017”.

Skripsi ini di susun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program

studi Ners STIKES Dehasen Bengkulu penulis menyadari tanpa bantuan dari

berbagai pihak, penulis tidak akan mampu menyelesaikan Skripsi ini, untuk itu

penulis menyampaikan hormat dan terima kasih atas semua bantuan dan

dukungannya selama pelaksanaan dan penyusunan Skripsi ini kepada:

1. Ibu Dr. Ida Samidah, S.Kp, M.Kes selaku Ketua STIKes Dehasen Bengkulu.

2. Ibu Ns. Berlian Kando Sianipar, S.Kp, M.Kes, selaku pembantu Ketua I STIKes

Dehasen Bengkulu.

3. Ibu Ns. Murwati, S.Kep, M.Kes, selaku Ketua Program Studi Ners Sekolah

Tinggi Ilmu Kesehatan Dehasen Bengkulu, yang sekaligus sebagai pembimbing 1

saya, Pada kesempatan ini secara khusus saya sampaikan ucapan terima kasih

yang tak terhingga, dimana ditengah kesibukan beliau, beliau masih bersedia

meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk membimbing saya dengan penuh

kesabaran dalam menyelesaikan Skripsi ini.

4. Ibu Ns. Fitriana, S.Kep, selaku pembimbing II saya yang telah membimbing saya

dengan baik dan di tengah kesibukan beliau, beliau masih meluangkan waktu dan,

viii
ix

tenaga untuk membimbing saya dengan penuh kesabaran sehingga Skripsi ini

dapat terselesaikan.

5. Bapak ibu Dosen beserta staf Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dehasen Bengkulu.

6. Tak lupa saya ucapkan terima kasih yang sangat tulus kepada kedua orang tua

saya yang telah memberikan dukungan, doa, motivasi, dan memberikan hampir

seluruh waktunya untuk kesuksesan saya. Terimalah persembahan saya ini

sebagai tanda ucapan terimah kasih atas apa yang telah kalian berikan, meskipun

nilai apa yang kalian berikan belum senilai apa yang saya berikan saat ini.

7. Teman-teman mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dehasen Bengkulu

yang banyak memberikan bantuan dan dorongan moril maupun materil kepada

saya, saya ucapkan terima kasih khususnya kepada sahabat-sahabat Yogi Saputra,

Asep Zulkarnaen, Hajri Oktiawan, Robi Septianto, Dwi Hidayatullah, Taufik

Hidayat, Sevin Hidayat, Rozi Efrianto, Ewan Akoni dan Hendri Pardian Kusuma.

8. Semua pihak yang telah banyak memberikan bantuan dalam menyelesaikan

Skripsi ini.

Kepada semua pihak yang telah membantu proses penyelesian Skripsi ini semoga

Allah SWT melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya dan membalas kebaikan yang

telah diberikan dengan pahala yang setimpal. Akhirnya semoga Skripsi ini

bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi perkembangan dunia keperawatan.

Bengkulu, Agustus 2017

Penulis

ix
x

DAFTAR ISI
HALAMAN
HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i
LEMBARAN PENGESAHAN ....................................................................... ii
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN........................................... iii
PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN.............................................. v
ABSTRAK................................................................................................ vi
ABSTRACT.............................................................................................. vii
KATA PENGANTAR....................................................................................... viii
DAFTAR ISI ................................................................................................... x
DAFTAR TABEL ............................................................................................. xiii
DAFTAR BAGAN ............................................................................................ xiv
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xv

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .......................................................................... 7
C. Tujuan Penelitian ........................................................................... 8
1. Tujuan umum ............................................................................. 8
2. Tujuan Khusus ........................................................................... 8
D. Manfaat Penelitian ......................................................................... 8
1. Manfaat Teoritis ......................................................................... 8
2. Manfaat praktisi.......................................................................... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Konsep Bencana.......................................................................................... 10

1. Definisi Bencana Alam.......................................................................... 10


2. Klasifikasi Bencana Alam .................................................................... 13

x
xi

3. Fase-fase Bencana.................................................................................. 14
4. Macam – macam Bencana Alam .......................................................... 15
B. Konsep Mitigasi........................................................................................... 20
1. Pengertian.............................................................................................. 20

2. Jenis-Jenis Mitigasi Bencana................................................................. 21


3. Tujuan Dilakukannya Mitigasi Bencana................................................ 25
4. Pertimbangan Dan Penyusunan Program Mitigasi Bencana................. 26
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi Mitigasi.......................................... 27
6. Langkah-Langkah Yang Dilakukan Dalam Mitigasi Bencana.............. 29
a. Bencana Abrasi................................................................................ 29
b. Bencana Gempa Bumi..................................................................... 30
c. Bencana Tsunami............................................................................. 31
d. Bencana Angin Siklon Tropis.......................................................... 33

C. Konsep Kader Siaga Bencana................................................................... 34


1. Pengertian Kader Siaga Bencana........................................................ 34
2. Tujuan Kader Siaga Bencana ............................................................. 35
3. Manfaat Kader Siaga Bencana............................................................ 35
4. Visi misi................................................................................................. 36
5. Tugas ..................................................................................................... 37
6. Janji........................................................................................................ 37
7. Manajemen Bencana.............................................................................. 38
8. Jalan Kelur Kader Menghadapi Kesulitan............................................. 39
D. Kerangka Teori............................................................................................ 40

BAB III KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL


DAN HIPOTESIS
A. Kerangka konsep ............................................................................ 41

xi
xii

B. Definisi Operasional ...................................................................... 42


BAB IV METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian ........................................................................... 44
B. Tempat dan Waktu penelitian......................................................... 45
C. Populasi dan Sampel ...................................................................... 45
1. Populasi....................................................................................... 45
2. Sampel ....................................................................................... 45
3. Kriteria Inklusi dan Eksklusi...................................................... 45
D. Instrumen Penelitian....................................................................... 47
E. Teknik Pengumpulan dan Pengelolaan Data Analisa 47
Data.................................................................................................
F. Etika Penelitian............................................................................... 51

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Penelitian ........................................................................... 53
1. Gambaran Lokasi Penelitian...................................................... 53
2. Jalannya Penelitian............................................................ 53
B. Pembahasan....................................................................... 56

BAB VI PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................... 60
B. Saran..................................................................................... 61

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xii
xiii

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Tabel Halaman

Tabel 3.1 Variabel Independen 42


Tabel 3.2 Variabel dependen 43
Tabel 5..1 Distribusi Frekuensi Peran Kader Siaga Bencana Dalam 55
Mitigasi Bencana di Masyarakat Pesisir Kelurahan
Lempuig Kecamatan Ratu Agung Kota Bengkulu Tahun
2017

xiii
xiv

DAFTAR BAGAN

Nomor Judul Bagan Halaman

Bagan 2.1 Manajemen Bencana 38


Bagan 2.2 Kerangka Teori 40
Bagan 3.1 Kerangka Konsep 41
Bagan 4.1 Desain Penelitian 44

xiv
xv

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul

1 Lembar Permohonan Menjadi Responden


2 Lembar Persetujuan Menjadi Responden
3 Kuisioner
4 Surat Pra Penelitian
5 Surat izin Penelitian
6 Surat selesai Penelitian
7 Master Tabel

xv
1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Undang-Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan

Bencana, menyebutkan bahwa bencana alam adalah peristiwa atau rangkaian

peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan

masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam antara lain berupa gempa

bumi,tsunami,gunung meletus, banjir, kekeringan, angina topan, dan tanah

longsor, maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban

jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak

psikologis. Kerugian yang disebabkan oleh bencana alam sangat besar, sehingga

dibutuhkan upaya penanggulangan bencana yang baik. Upaya penanggulangan

bencana dapat berupa kegiatan penanganan/tanggap darurat. Kegiatan

penanganan merupakan kegiatan yang dilakukan segera untuk menangani

dampak buruk yang ditimbulkan bencana, mencakup kegiatan penyelamatan

masyarakat terkena bencana, harta benda, evakuasi, serta pemulihan sarana

prasarana sehingga dampak bencana alam dapat diminimalkan.

Indonesia merupakan salah satu Negara yang sedang mencoba, untuk terus

berbenah diri guna menyambut persaingan pasar bebas. Namun, dalam usahanya

berbenah diri tersebut Indonesia yang letak geografisnya diapit oleh dua benua

dan dua samudra ini sering kali terhambat, bahkan kembali mengalami

penurunan akibat dampak langsung dari pasar bebas ataupun bencana yang

1
2

terjadi akibat fenomena alami, maupun yang disebabkan oleh keteledoran

perangkat pemerintahan dan masyarakatnya sendiri.

Dari dunia bencana alam antara tahun 2004 dan 2013 yang dilaporkan 41,2

% atau 1.690 kejadian terjadi di kawasan Asia-Pasifik. Di antara sub wilayah

AsiaPasifik, Asia Tenggara terutama Indonesia dan Filipina yang paling terpukul

oleh bencana alam yang menewaskan lebih dari 350.000 yang akibat dari 500

lebih insiden. (Sumber:www.ibnurusydy.com)

Ditilik dari letak geografisnya, Indonesia merupakan Negara kepulauan

yang rentan terhadap potensi bencana alam geologi, seperti: gempa bumi, tanah

longsor, banjir, angin topan, dan sebagainya. Hal ini dipertegas dengan bencana-

bencana alam yang sering kita temui sehari-hari. Banjir bandang di Lamongan

dan di bandung atau di banyak daerah saat musim hujan, Gempa bumi di Padang

dan sekitarnya, merupakan gambaran kecil dari kerentanan Indonesia terhadap

potensi terjadinya bencana alam geologi.

Fokus kajian pada penelitian ini adalah masyarakat pesisir. Wilayah pesisir,

laut dan pulau-pulau kecil merupakan kawasan yang sangat berpotensi terjadinya

bencana. Bencana yang paling banyak kita temui adalah kerusakan akibat gempa

bumi, tsunami, kekeringan (kekurangan air tawar), kelaparan, penyakit, dan

pengaruh ikutan yang terjadi akibat bencana alam seperti ledakan gunung berapi.

Beberapa bencana alam yang terjadi seluruh dunia dan memakan banyak

korban, diantaranya adalah gempa bumi China-Sichuan, 12 Mei 2008; Gempa


3

china ini berkuaatan 7,9 SR dan telah menewaskan 69,195 orang serta 18,392

orang hilang. Gempa darat atau gempa sesar ini diikuti oleh beberapa kali gempa

susulan atau aftershock. Bencana Alam Gempa bumi Haiti, 12 Januari 2010;

kekuatan gempa ini sebesar 7 SR dengan kedalaman 10 Km. Gempa Haiti 2010

tersebut menyebabkan bencana alam tsunami setinggi 3 meter dan membunuh

lebih 200.000 rakyat Haiti, 1,3 juta orang harus mengungsi, dan merusak ribuan

rumah. (Sumber:www.ibnurusydy.com)

Bencana Alam Gempa bumi Chili, 27 Februari 2010; Gempa yang

berkuatan 8,8 SR ini berpusat di 35.909° LS, 72.733°BB. Gempa bumi Chili ini

membunuh 523 orang meninggal 24 hilang dan 12.000 orang luka-luka.

Kerusakan bangunan berupa rumah sebanyak 370,000 unit, sekolah 4,013 unit,

dan rumah sakti 79 unit. Sampai dengan 16 April 2010, telah terjadi 21 gempa

bumi susulan dengan skala di atas 6 SR di sekitar sumber gempa tersebut.

Bencana Alam Gempa Bumi juga terjadi di Nepal, pada 25 April 2015; gempa

bumi dahsyat melanda negara Nepal dengan magnitudo 7,8 SR pada kedalaman

15 km. Gempa bumi ini menewaskan ribuan warga nepal dan meratakan

bangunan yang ada di sana. (Sumber:www.ibnurusydy.com)

Sementara itu beberapa bencana alam juga terjadi di di indonsia Pada tahun

2 September 2009 tercatat bencana yang terjadi adalah gempa Tasikmalaya yang

berkuatan 7,7 SR, gempa ini menimbulkan tsunami setinggi 3 meter, merupakan

tsunami kedua terparah setelah tsunami aceh 2004. Tsunami tersebut

membunuuh 668 orang dan 65 orang hilang. Tsunami akibat gempa tersebut
4

sampai ke darat sampai 400 meter dari bibir pantai.

(Sumber:www.ibnurusydy.com)

Gempa bumi Padang, 30 September 2009; Gempa Padang ini berkekuatan

7,6 SR, bencana alam gempa bumi ini telah menewaskan 1,115 orang dan

melukai 1,115 orang serta merusak sejumlah rumah dan bangunan publik.

Gempa ini juga memicu tanah longsor yang luar biasa sehingga ada desa yang

tertimbun tanah longsor. (Sumber:www.ibnurusydy.com)

pada 26 Oktober 2010 gempa bumi dengan kekuatan 7,7 SR terjadi di

Mentawai Sumatra Barat ini menimbulkan tsunami setinggi 2 meter dan

menyebabkan 286 orang dilaporkan tewas dan 252 orang lainnya dilaporkan

hilang. (Sumber:www.ibnurusydy.com)

Secara geografis Provinsi Bengkulu terletak pada posisi 101° 1′ - 103° 46′

BT dan 2° 16′ - 5° 13′ LS, membujur sejajar dengan Bukit Barisan dan

berhadapan langsung dengan Samudra Hindia dengan panjang garis pantai ± 525

km dan luas teritorial 48.075 Km2, memanjang dari perbatasan Provinsi

Sumatera Barat sampai ke perbatasan Provinsi Lampung (BPS, 2008). Posisi

Provinsi Bengkulu diapit oleh zona subduksi (penunjaman) antara lempeng

Hindia-Australia dan Euro-Asia di sebelah barat dan zona Sesar Sumatra di

sebelah timur, Sebagai dampaknya, Provinsi Bengkulu berada dalam wilayah

rawan gempabumi. Jumlah kejadian gempabumi cukup tinggi rata-rata 13 kali

per bulan untuk gempabumi berkekuatan di atas 4 SR, yg terbaru diantaranya 12


5

Januari 2017 5.2 SR, 02 Februari 2017 5.3 SR, 26 Februari 2017 5.2 SR, dan 02

April 2017 5.4 SR(BMKG Bengkulu, 2017).

Dari sisi kerapatan penduduk, berdasarkan sensus penduduk 2010, jumlah

penduduk Provinsi Bengkulu sebanyak 1.721.534 jiwa, dari jumlah tersebut

terkonsentrasi di wilayah pesisir sejumlah 926.456 jiwa, di tengah kota 532.651

jiwa dan di wilayah hulu sejumlah 262.427 orang. Nampak ada kecenderungan

kepadatan penduduk yang semakin rapat di wilayah hilir (wilayah pesisir).

Kerapatan jumlah penduduk yang semakin tinggi di wilayah pesisir merupakan

kekhawatiran tersendiri mengingat wilayah yang ditempatinya sebagian besar

rawan gempabumi dan rentan terhadap bahaya erosi (Carsadi, 2010).

Bencana dapat terjadi kapan saja dan dimana saja, baik yang berskala besar

maupun berskala kecil, yang dapat diakibatkan oleh alam maupun manusia yang

dapat terjadi ecara cepat maupun perlahan yang akan mengakibatkan kerugian

korban jiwa mati maupun cacat serta kerugian material lain, seperti rusaknya

sarana prasarana serta fasilitas umum. Dimana semua itu membutuhkan

penanganan lapangan yang cepat, tepat serta akurat. Untuk itu perlu diwaspadai

dan diantisipasi terkait langsung, masyarakat serta organsasi sosial agar

penanganan dapat dilakukan secara efektif menyeluruh.

Salah satu komponen yang diharapkan adalah peran siaga ners yang dapat

menjadi ujung tombak dalam penanganan bencana di lapangan adalah barisan

yang tergabung dalam Kader Siaga Bencana (KSB), yang diharapkan dapat

memberikan unsur pelayanan kesehatan pra rumah sakit maupun unsur pelayanan
6

rumah sakit secara cepat yang bertujuan mengurangi angka kematian dan angka

kecacatan akibat bencana.

Kader Siaga Bencana adalah masyarakat yang berfungsi untuk mencegah

gawat darurat dan bencana meliputi kesiagaan masyarakat, pencegahan dan

mitigasi atau penjinakan kejadian gawat darurat dan bencana, serta berfungsi

pula untuk reaksi cepat penanganannya di bidang kesehatan. Latar belakang dari

dibentuknya KSB antara lain adalah kenyataaan bahwa selama ini aktivitas

penanggulangan bencana oleh Departemen Kesehatan dilakukan oleh unit kerja

yang sudah ada sebagai salah satu dari sekian banyak tugas yang lain, sehhingga

tidak tertangani secara optimal. KSB diharapkan dapat melakukan tugas

khususnya di bidang penanggulangan bencana, dan dapat mendukung

pelaksanaan gawat darurat bencana secara mandiri..

Kader Siaga Bencana merupakan organisasi Safe Community yaitu keadaan

aman dan sehat yang tercipata oleh peran aktif masyarakat termasuk swasta,

profesi dan pemerintah yang bersinergi dalam penanggulangan kegawatdaruratan

dan bencana. Hakekat Safe Community adalah upaya oleh masyarakat, dari

masyarakat, dan untuk masyarakat didorong oleh pemerintah sebagai fasilitator

menuju terciptanya kondisi sehat dan aman.

Data yang didapatkan peneliti di Kelurahan Lempuing, Kecamatan Ratu

Agung, Kota Bengkulu, tercatat Jumlah penduduk sebanyak 5.030 orang dengan

jumlah KK sebanyak 1.152 KK, 18 RT dan3 RW. (Catatan dan Dokumentasi

Kelurahan Lempuing Tahun 2017).


7

Kelurahan Lempuing adalah salah satu wilayah yang rawan dengan

tsunami karena geografi terletak dekat dengan pantai, sehingga wilayah ini

merupakan wilayah yang rawan bencana alam terutama gempa bumi, tsunami

abrasi, dan angin topan.

Berdasarkan hasil studi Pendahuluan dari kelurahan lempuing yang di

lakukan pada 25 Desember 2016, di Kelurahan Lempuing dari hasil wawancara

di dapatkan data dari 7 orang Masyarakat 5 orang mengatakan tidak tahu cara

mengurangi dampak dari bencana, baik bencana alam, bencana ulah manusia

maupun gabungan dari keduanya. Sedangkan dua orang lainnya bisa menjelaskan

cara mengurangi dampak dari bencana, baik bencana alam, bencana ulah

manusia maupun gabungan dari keduanya.

Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti bermaksud mengadakan

penelitian di lapangan dengan judul “Peran kader siaga bencana dalam mitigasi

bencana masyarakat pesisir”.

B. Rumusn Masalah

Berdasarkan pernyataan pada latar belakang diatas masih tingginya

korban bencana alam di provinsi bengkulu. Adapun rumusan masalah yang di

dapat adalah “Bagaimana Peran kader siaga bencana dalam mitigasi bencana

masyarakat pesisir di Kelurahan Lempuing Kecamatan Ratu Agung Kota

Bengkulu Tahun 2017” ?


8

C. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Diketahui Peran kader siaga bencana dalam mitigasi bencana masyarakat

pesisir di Kelurahan Lempuing Kecamatan Ratu Agung Kota Bengkulu Tahun

2017

2. Tujuan khusus

Diketahui Peran kader siaga bencana dalam mitigasi bencana di Kelurahan

Lempuing Kecamatan Ratu Agung Kota Bengkulu Tahun 2017

D. Manfaat Penulisan

1. Manfaat teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan

Peran kader siaga bencana dalam mitigasi bencana masyarakat pesisir di

Kelurahan Lempuing Kecamatan Ratu Agung Kota Bengkulu serta dapat

digunakan sebagia acuan dalam penelitian selanjutnya.

2. Manfaat praktisi

1. Bidang Akademik.

Dapat memberikan masukan dan tambahan pengetahuan bagi

lingkungan akademik khususnya mahasiswa Ners tentang Peran Kader siaga

bencana dalam mitigasi bencana masyarakat pesisir Tahun 2017


9

2. Bagi Peneliti Selanjutnya

Sebagai bahan atau sumber data untuk peneliti berikutnya dan

mendorong bagi yang berkepentingan untuk melakukan penelitian

selanjutnya.

3. Klien/ Keluarga Klien

Dapat memperoleh pengetahuan tentang peran kader siaga bencana

dalam mitigasi bencana masyarakat pesisir dan pengalaman sekurang

kurangnya menolong diri sendiri atau keluarga jika terjadi penyakit bencana

alam di daerah sekitarnya.


10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

E. Konsep Bencana

1. Definisi Bencana Alam

Menurut Undang-Undang No. 24 Tahun 2007, bencana didefinisikan

sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu

kehidupan dan penghidupan masyarakat. Bencana dapat disebabkan oleh

faktor alam, faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan

timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda,

dan dampak psikologis. Bencana adalah peristiwa atau serangkaian peristiwa

yang menyebabkan gangguan serius pada masyarakat sehingga menyebabkan

korban jiwa serta kerugian yang meluas pada kehidupan manusia baik dari

segi materi, ekonomi maupun lingkungan dan melampaui kemampuan

masyarakat tersebut untuk mengatasi menggunakan sumber daya yang

dimiliki (IDEP, 2007). Berdasarkan penyebabnya, bencana dapat

dikatagorikan menjadi tiga, yaitu bencana alam, bencana sosial dan bencana

campuran.

Bencana alam adalah bencana yang disebabkan oleh kejadian –

kejadian alamiah, seperti gempa bumi, tsunami, gunung berapi, dan angin

topan. (IDEP, 2007) Menurut UU No. 24 Tahun 2007, bencana alam adalah

bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang

disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung

10
11

meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan longsor (UU No. 24

Tahun 2007).

Menurut Priambido (2009) bencana alam adalah bencana yang

disebabkan oleh perubahan kondisi alamiah alam semesta (angin : topan,

badai, putting beliuang; tanah : banjir, tsunami, kekeringan, perembesan air

tanah; api : kebakaran, letusan gunung api). Bencana alam juga didefenisikan

sebagai peristiwa yang terjadi akibat kerusakan atau ancaman ekosistem dan

terjadi kelebihan kapasitas yang terkena dampaknya. Dapat dijumpai

terputusnya alat penunjang kehidupan (lifeline) dan tidak berfungsinya

institusi medis (Zailani. Dkk, 2009)

Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia definisi bencana

adalah peristiwa/kejadian pada suatu daerah yang mengakibatkan kerusakan

ekologi, kerugian kehidupan manusia serta memburuknya kesehatan dan

pelayanan kesehatan yang bermakna sehingga memerlukan bantuan luar biasa

dari pihak luar.

Sedangkan definisi bencana (disaster) menurut WHO adalah setiap

kejadian yang menyebabkan kerusakan, gangguan ekologis, hilangnya nyawa

manusia atau memburuknya derajat kesehatan atau pelayanan kesehatan pada

skala tertentu yang memerlukan respon dari luar masyarakat atau wilayah

yang terkena.

Definisi konvensional dari frasa bencana alam ialah „bencana yang

ditimbulkan oleh alam‟. Penderitanya manusia, korbannya berupa harta benda


12

dan nyawa. Sekarang, pengertian bencana alam tidak selalu seperti itu. Ada

definisi tambahan untuk bencana alam, yaitu „bencana yang disebabkan oleh

manusia‟. Penderitanya (pada tahap pertama) justru alam, korbannya berupa

kerusakan ekosistem alam. Derita yang dialami oleh alam kemudian, pada

gilirannya, dialami pula oleh manusia.

Bencana alam adalah konsekwensi dari kombinasi aktivitas alami (suatu

peristiwa fisik, seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor) dan

aktivitas manusia. Karena ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya

manajemen keadaan darurat, sehingga menyebabkan kerugian dalam bidang

keuangan dan struktural, bahkan sampai kematian. Kerugian yang dihasilkan

tergantung pada kemampuan untuk mencegah atau menghindari bencana dan

daya tahan mereka. Pemahaman ini berhubungan dengan pernyataan:

"bencana muncul bila ancaman bahaya bertemu dengan ketidakberdayaan".

Dengan demikian, aktivitas alam yang berbahaya tidak akan menjadi bencana

alam di daerah tanpa ketidakberdayaan manusia, misalnya gempa bumi di

wilayah tak berpenghuni.

Konsekuensinya, pemakaian istilah "alam" juga ditentang karena

peristiwa tersebut bukan hanya bahaya atau malapetaka tanpa keterlibatan

manusia. Besarnya potensi kerugian juga tergantung pada bentuk bahayanya

sendiri, mulai dari kebakaran, yang mengancam bangunan individual, sampai

peristiwa tubrukan meteor besar yang berpotensi mengakhiri peradaban umat

manusia.
13

Namun demikian pada daerah yang memiliki tingkat bahaya tinggi

(hazard) serta memiliki kerentanan/kerawanan (vulnerability) yang juga tinggi

tidak akan memberi dampak yang hebat/luas jika manusia yang berada disana

memiliki ketahanan terhadap bencana (disaster resilience). Konsep ketahanan

bencana merupakan valuasi kemampuan sistem dan infrastruktur-infrastruktur

untuk mendeteksi, mencegah & menangani tantangan-tantangan serius yang

hadir. Dengan demikian meskipun daerah tersebut rawan bencana dengan

jumlah penduduk yang besar jika diimbangi dengan ketetahanan terhadap

bencana yang cukup.

2. Klasifikasi Bencana Alam

Klasifikasi bencana alam berdasarkan penyebabnya dibedakan menjadi

tiga jenis, yaitu :

a. Bencana Alam Geologis

Bencana alam ini disebabkan oleh gaya-gaya yang berasal dari

dalam bumi (gaya endogen). Yang termasuk dalam bencana alam geologis

adalah gempa bumi, letusan gunung berapi, dan tsunami.

b. Bencana Alam Klimatologis

Bencana alam klimatologis merupakan bencana alam yang

disebabkan oleh faktor angin dan hujan. Contoh bencana alam

klimatologis adalah banjir, badai, banjir bandang, angin puting beliung,

kekeringan, dan kebakaran alami hutan (bukan oleh manusia). Gerakan

tanah (longsor) termasuk juga bencana alam, walaupun pemicu utamanya


14

adalah faktor klimatologis (hujan), tetapi gejala awalnya dimulai dari

kondisi geologis (jenis dan karakteristik tanah serta batuan dan

sebagainya).

c. Bencana Alam Ekstra-Terestrial

Bencana alam ekstra-terestrial adalah bencana alam yang terjadi di

luar angkasa, contoh : hantaman/impact meteor. Bila hantaman benda-

benda langit mengenai permukaan bumi maka akan menimbulkan bencana

alam yang dahsyat bagi penduduk bumi.

3. Fase-fase Bencana

Menurut Barbara Santamaria Dalam Mundakir (2009), ada 3 fase dalam

terjadinya suatu bencana, yaitu fase preimpact, fase impact dan fase

postimpact.

a. Fase preimpact merupakan warning phase, tahap awal dari bencana.

Informasi didapat dari badan satelit dan meteorologi cuaca. Seharusnya

pada fase inilah segala persiapan dilakukan baik oleh pemerintah, lembaga,

dan warga masyarakat.

b. Fase impact merupakan fase terjadinya klimaks dari bencana. Inilah saat-

saat dimana manusia sekuat tenaga mencoba untuk bertahan hidup

(survive). Fase impact ini terus berlanjut hingga terjadi kerusakan dan

bantuan-bantuan darurat dilakukan.

c. Fase postimpact adalah saat dimulainya perbaikan dan penyembuhan dari

fase darurat, juga tahap dimana masyarakat mulai berusaha kembali pada
15

fungsi komunitas normal. Secara umum dalam fase postimpact ini para

korban akan mengalami tahap respon psikologis mulai penolakan, marah,

tawar-menawar, depresi hingga penerimaan.

4. Macam – macam Bencana Alam

a. Abrasi

a) Pengertian Abrasi

Abrasi merupakan istilah untuk menggambarkan pengikisan

daerah pantai yang terjadi karena gelombang dan arus laut destruktif.

Pengikisan yang demikian menyebabkan berkurangnya daerah pantai

mulai dari yang paling dekat dengan air laut karena menjadi sasaran

pertama pengikisan. Jika dibiarkan, abrasi akan terus menggerogoti

bagian pantai sehingga air laut akan menggenangi daerah-daerah yang

dulunya dijadikan tempat bermain pasir ataupun pemukiman penduduk

dan wilayah pertokoan di pinggir pantai.

b) Penyebab Abrasi

1) Arrasi bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari faktor alam

hingga faktor manusia. Fenomena-fenomena alam yang

menyebabkan abrasi di antaranya adalah pasang surut air laut,

angin di atas lautan yang menghasilkan gelombang serta arus laut

yang berkekuatan merusak. Sementara itu, faktor-faktor yang

menyebabkan abrasi dari ulah manusia di antaranya adalah

Ketidakseimbangan ekosistem laut misalnya terjadi akibat


16

eksploitasi besar-besaran terhadap kekayaan laut mulai dari ikan,

terumbu karang dan lain sebagainya sehingga arus dan gelombang

laut secara besar-besaran mengarah ke daerah pantai dan

berpotensi menyebabkan abrasi.

c) Masalah Kesehatan dan Kerugian yang Mungkin Timbul

1) Penyusutan area pantai

2) Rusaknya hutan bakau

3) Hilangnya tempat berkumpul ikan perairan pantai

b. Gempa Bumi

a) Pengetian Gempa Bumi

Gempa bumi adalah berguncangnya bumi yang disebabkan

oleh tumbukan antar lempeng bumi, patahan aktif, aktivitas gunung

api atau runtuhan batuan. Gempa bumi merupakan peristiwa pelepasan

energi yang menyebabkan dislokasi (pergeseran) pada bagian dalam

bumi secara tiba tiba. Priambodo (2009) mendefinisikan gempa bumi

sebagai getaran sesaat, bersifat tidak menerus, akibat terjadinya

pergeseran secara tiba-tiba pada kerak bumi. Pergeseran ini terjadi

karena adanya sumber kekuatan (force) sebagai penyebabnya.


17

b) Penyebab Gempa Bumi

Menurut Primbodo (2009) gempa bumi disebabkan oleh :

1) Aktivitas tektonik, merupakan proses alamiah bumi yang

disebabkan oleh pergerakan lempeng tektonik.

2) Aktivitas vulkanik, merupakan proses alamiah bumi yang

disebabkan oleh aktivitas gunung api.

c) Masalah kesehatan dan bahaya yang sering timbul

Menurut Sukandarrumidi (2010), beberapa masalah kesehatan

yang sering timbul mengikuti bahaya tektonik dan vulkanik adalah :

1) Keracunan makanan

2) Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

3) Gangguan pernapasan

4) Kematian dan luka

5) Penyakit psikis karna trauma

c. Tsunami

a) Defenisi Tsunami

Tsunami adalah ombak yang sangat besar yang menyapu

daratan akibat adanya gempa bumi di laut, tumbukan benda

besar/cepat di laut, angin ribut, dan lain sebagainya (Rahayu, 2009).

Menurut IDEP (2007) Tsunami adalah gelombang besar yang

diakibatkan oleh pergeseran bumi di dasar laut.


18

b) Penyebab Tsunami

Tsunami dapat terjadi jika terjadi gangguan yang menyebabkan

perpindahan sejumlah besar air, seperti letusan gunung api, gempa

bumi, longsor maupun meteor yang jatuh ke bumi. Namun 90%

tsunami di akibatkan oleh gempa bumi dibawah laut.

c) Masalah kesehatan yang mungkin timbul.

Zailani. dkk (2009) mengatakan Tsunami mengakibatkan

bangunan roboh. Reruntuhan bangunan yang menimpa manusia dapat

menyebabkan kecacatan dan kematian. Tsunami juga dapat

menimbulkan beberapa masalah kesehatan lainnya, antara lain :

1) Gangguan pernapasan

2) Keracunan makanan

3) Korban meninggal akibat tenggelam

d. Angin Siklon Tropis

a) Pengertian

Dalam meteorologi, siklon tropis (atau hurikan, angin puyuh,

badai tropis, taifun, atau angin ribut tergantung pada daerah dan

kekuatannya) adalah sebuah jenis sistem tekanan udara rendah yang

terbentuk secara umum di daerah tropis. Sementara angin sejenisnya

bisa bersifat sangat merusak atau destruktif tinggi, siklon tropis adalah

bagian penting dari sistem sirkulasi atmosfer, yang memindahkan

panas dari daerah khatulistiwa menuju garis lintang yang lebih tinggi.
19

Daerah pertumbuhan siklon tropis paling subur di dunia

adalah Samudra Hindia dan perairan barat Australia. Sebagaimana

dijelaskan Biro Meteorologi Australia, pertumbuhan siklon di kawasan

tersebut mencapai rerata 10 kali per tahun. Siklon tropis selain

menghancurkan daerah yang dilewati, juga menyebabkan banjir.

Australia telah mengembangkan peringatan dini untuk mengurangi

tingkat risiko ancaman siklon tropis sejak era 1960-an.

b) Penyebab

Badai tropis terjadi karena adanya perbedaan tekanan yang

ekstrim dalam sirkulasi udara (atmosfer), yang memindahkan panas

dari daerah katulistiwa menuju garis lintang yang lebih tinggi. Angin

paling kencang berpusar sampai radius ratusan kilometer di sekitar

daerah yang bertekanan sangat rendah.Setiap tahunnya badai tumbuh

di atas perairanluas di setiap samudera yang ada di permukaan bumi.

Ia bisa tumbuh ketika suhu muka laut berada di atas 27 oC dan bisa

dideteksi kemungkinan tumbuhnya sejak tiga hari sebelumnya. Karena

bertambahnya faktor kekasaran permukaan dan kehilangan sumber

kelembabannya, badai akan melemah ketika masuk ke daratan.


20

c) Kerugian yang mungkin timbul.

Karena ukurannya yang sangat besar serta angin kencang dan

gumpalan awan yang dimilikinya, siklon tropis menimbulkan dampak

yang sangat besar pada tempat-tempat yang dilaluinya. Dampak ini

bisa berupa angin kencang, hujan deras berjam-jam, bahkan berhari-

hari yang dapat mengakibatkan terjadinya banjir, gelombang tinggi,

dan gelombang badai (storm surge).

Siklon tropis di laut dapat menyebabkan gelombang tinggi,

hujan deras dan angin kencang, mengganggu pelayaran internasional

dan berpotensi untuk menenggalamkan kapal. Siklon tropis dapat

memutar air dan menimbulkan gelombang laut yang tinggi. Di daratan,

angin kencang dapat merusak atau menghancurkan kendaraan,

bangunan, jembatan dan benda-benda lain, mengubahnya menjadi

puing-puing beterbangan yang mematikan. Gelombang badai (storm

surge) atau peningkatan tinggi permukaan laut akibat siklon tropis

merupakan dampak yang paling buruk yang mencapai daratan.

F. Konsep Mitigasi

4. Pengertian

Mitigasi didefinisikan sebagai "Upaya yang ditujukan untuk

mengurangi dampak dari bencana baik bencana alam. bencana ulah manusia

maupun gabungan dari keduanya dalam suatu negara atau masyarakat."

Mitigasi bencana yang merupakan bagian dari manajemen penanganan


21

bencana, menjadi salah satu tugas Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah

dalam rangka pemberian rasa aman dan perlindungan dari ancaman bencana

yang mungkin dapat terjadi. Ada empat hal penting dalam rnitigasi bencana,

yaitu :

1) tersedia informasi dan peta kawasan rawan bencana untuk tiap jenis

bencana;

2) sosialisasi untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat

dalam menghadapi bencana, karena bermukim di daerah rawan bencana;

3) mengetahui apa yang perlu dilakukan dan dihindari, serta mengetahui cara

penyelamatan diri jika bencana timbul, dan

4) pengaturan dan penataan kawasan rawan bencana untuk mengurangi

ancarnan bencana.

Mitigasi pada prinsipnya harus dilakukan untuk segala jenis bencana,

baik yang termasuk ke dalam bencana alam (natural disaster) maupun

bencana sebagai akibat dari perbuatan manusia (man-made disaster).

5. Jenis-Jenis Mitigasi Bencana

Secara umum, dalam prakteknya mitigasi dapat dikelompokkan ke

dalam mitigasi struktural dan mitigasi non struktural. Mitigasi struktural

berhubungan dengan usaha-usaha pembangunan konstruksi fisik, sementara

mitigasi non struktural antara lain meliputi perencanaan tata guna lahan

disesuaikan dengan kerentanan wilayahnya dan memberlakukan peraturan

(law enforcement) pembangunan. Dalam kaitan itu pula, kebijakan nasional


22

harus lebih memberikan keleluasan secara substansial kepada daerah-daerah

untuk mengembangkan sistem mitigasi bencana yang dianggap paling tepat

dan paling efektif-efisien untuk daerahnya.

Dilihat dari potensi bencana yang ada, Indonesia merupakan negara

dengan potensi bahaya (hazard potency) yang sangat tinggi. Beberapa potensi

tersebut antara lain adalah gempabumi, tsunami, banjir, letusan gunung api,

tanah Iongsor, angin ribut, kebakaran hutan dan lahan, letusan gunung api.

Potensi bencana yang ada di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi

kelompok utama, yaitu potensi bahaya utama (main hazard) dan potensi

bahaya ikutan (collateral hazard). Potensi bahaya utama (main hazard

potency) ini dapat dilihat antara lain pada peta potensi bencana gempa di

Indonesia yang menunjukkan bahwa Indonesia adalah wilayah dengan zona -

zona gempa yang rawan, peta potensi bencana tanah longsor, peta potensi

bencana letusan gunung api, peta potensi bencana tsunami, peta potensi

bencana banjir, dan lain- lain.

Dari indikator-indikator di atas dapat disimpulkan bahwa Indonesia

memiliki potensi bahaya utama (main hazard potency) yang tinggi. Hal ini

tentunya sangat tidak menguntungkan bagi negara Indonesia. Di samping

tingginya potensi bahaya utama, Indonesia juga memiliki potensi bahaya

ikutan (collateral hazard potency) yang sangat tinggi. Hal ini dapat dilihat

dari beberapa indicator misalnya likuifaksi, persentase bangunan yang terbuat

dari kayu, kepadatan bangunan, dan kepadatan industri berbahaya. Potensi


23

bahaya ikutan (collateral hazard potency) ini sangat tinggi terutama di daerah

perkotaan yang memiliki kepadatan, persentase bangunan kayu (utamanya di

daerah pemukiman kumuh perkotaan), dan jumlah industri berbahaya, yang

tinggi. Dengan indikator di atas, perkotaan Indonesia merupakan wilayah

dengan potensi bencana yang sangat tinggi.

a) Mitigasi Struktural

Mitigasi strukural merupakan upaya untuk meminimalkan bencana

yang dilakukan melalui pembangunan berbagai prasarana fisik dan

menggunakan pendekatan teknologi, seperti pembuatan kanal khusus

untuk pencegahan banjir, alat pendeteksi aktivitas gunung berapi,

bangunan yang bersifat tahan gempa, ataupun Early Warning System yang

digunakan untuk memprediksi terjadinya gelombang tsunami. Mitigasi

struktural adalah upaya untuk mengurangi kerentanan (vulnerability)

terhadap bencana dengan cara rekayasa teknis bangunan tahan bencana.

Bangunan tahan bencana adalah bangunan dengan struktur yang

direncanakan sedemikian rupa sehingga bangunan tersebut mampu

bertahan atau mengalami kerusakan yang tidak membahayakan apabila

bencana yang bersangkutan terjadi. Rekayasa teknis adalah prosedur

perancangan struktur bangunan yang telah memperhitungkan karakteristik

aksi dari bencana.


24

b) Mitigasi Non-Struktural

1) Mitigasi non –struktural adalah upaya mengurangi dampak bencana

selain dari upaya tersebut diatas. Bisa dalam lingkup upaya pembuatan

kebijakan seperti pembuatan suatu peraturan. Undang-Undang

Penanggulangan Bencana (UU PB) adalah upaya non-struktural di

bidang kebijakan dari mitigasi ini. Contoh lainnya adalah pembuatan

tata ruang kota, capacity building masyarakat, bahkan sampai

menghidupkan berbagai aktivitas lain yang berguna bagi penguatan

kapasitas masyarakat, juga bagian dari mitigasi ini. Ini semua

dilakukan untuk, oleh dan di masyarakat yang hidup di sekitar daerah

rawan bencana.

2) Kebijakan non struktural meliputi legislasi, perencanaan wilayah, dan

asuransi. Kebijakan non struktural lebih berkaitan dengan kebijakan

yang bertujuan untuk menghindari risiko yang tidak perlu dan

merusak. Tentu, sebelum perlu dilakukan identifikasi risiko terlebih

dahulu. Penilaian risiko fisik meliputi proses identifikasi dan evaluasi

tentang kemungkinan terjadinya bencana dan dampak yang mungkin

ditimbulkannya.

3) Kebijakan mitigasi baik yang bersifat struktural maupun yang bersifat

non struktural harus saling mendukung antara satu dengan yang

lainnya. Pemanfaatan teknologi untuk memprediksi, mengantisipasi

dan mengurangi risiko terjadinya suatu bencana harus diimbangi


25

dengan penciptaan dan penegakan perangkat peraturan yang memadai

yang didukung oleh rencana tata ruang yang sesuai. Sering terjadinya

peristiwa banjir dan tanah longsor pada musim hujan dan kekeringan

di beberapa tempat di Indonesia pada musim kemarau sebagian besar

diakibatkan oleh lemahnya penegakan hukum dan pemanfaatan tata

ruang wilayah yang tidak sesuai dengan kondisi lingkungan sekitar.

Teknologi yang digunakan untuk memprediksi, mengantisipasi dan

mengurangi risiko terjadinya suatu bencana pun harus diusahakan agar

tidak mengganggu keseimbangan lingkungan di masa depan.

6. Tujuan Dilakukannya Mitigasi Bencana

Tujan dari strategi mitigasi adalah untuk mengurangi kerugian-

kerugian pada saat terjadinya bahaya di masa mendatang. Tujuan utama

adalah untuk mengurangi resiko kematian dan cedera terhadap penduduk.

Tujuan-tujuan sekunder mencakup pengurangan kerusakan dan kerugian-

kerugian ekonomi yang ditimbulkan terhadap infrastruktur sektor publik dan

mengurangi kerugian-kerugian ekonomi yang ditimbulkan terhadap

infrastruktur sector publik dan mengurangi kerugian-kerugian sector swasta

sejauh hal-hal itu mungkin mempengaruhii masyarakat secara keseluruhan.

Tujuan-tujuan ini mungkin mencakup dorongan bagi orang-orang untuk

melindungi diri mereka sejauh mungkin. Tujuan utama (ultimate goal) dari

Mitigasi Bencana adalah sebagai berikut :


26

a) Mengurangi resiko/dampak yang ditimbulkan oleh bencana khususnya

bagi penduduk, seperti korban jiwa (kematian), kerugian ekonomi

(economy costs) dan kerusakan sumber daya alam.

b) Sebagai landasan (pedoman) untuk perencanaan pembangunan.

c) Meningkatkan pengetahuan masyarakat (public awareness) dalam

menghadapi serta mengurangi dampak/resiko bencana, sehingga

masyarakat dapat hidup dan bekerja dengan aman (safe).

7. Pertimbangan Dan Penyusunan Program Mitigasi Bencana

Beberapa Pertimbangan Dalam Menyusun Program Mitigasi,

Khususnya Di Indonesia adalah :

1) Mitigasi bencana harus diintegrasikan dengan proses pembangunan

2) Fokus bukan hanya dalam mitigasi bencana tapi juga pendidikan, pangan,

tenaga kerja, perumahan dan kebutuhan dasar lainnya.

3) Sinkron terhadap kondisi sosial, budaya serta ekonomi setempat

4) Dalam sektor informal, ditekankan bagaimana meningkatkan kapasitas

masyarakat untuk membuat keputusan, menolong diri sendiri dan

membangun sendiri.

5) Menggunakan sumber daya dan daya lokal (sesuai prinsip desentralisasi)

6) Mempelajari pengembangan konstruksi rumah yang aman bagi golongan

masyarakat kurang mampu, dan pilihan subsidi biaya tambahan

membangun rumah.

7) Mempelajari teknik merombak (pola dan struktur) pemukiman.


27

8) Mempelajari tata guna lahan untuk melindungi masyarakat yang tinggal di

daerah yang rentan bencana dan kerugian, baik secara sosial, ekonomi,

maupun implikasi politik.

9) Mudah dimengerti dan diikuti oleh masyarakat.

8. Faktor – Faktor yang mempengaruhi mitigasi

Menurut santamaria (2014) faktor – faktor yang mempengaruhi mitigasi

adalah sebagai berikut :

a. Sikap

Adalah respon terhadap stimulus atau objek tertentu yang sudah

melibatkan faktor pendapat emosi yang bersangkutan (senang-tidak

senang, setuju-tidak setuju baik-tidak baik dan sebagainya). Dapa

dikatakan juga bahwa sikap itu melibatkan pikiran, perasaan, perhatian,

dan gejala kejiwaan yang lain. Newcomb adalah salah seorang ahli

psikologis sosial menyatakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau

kesediaan untuk bertindak, dan merupakan pelaksanaan motif tertentu.

Dalam kata lain uji sikap belum merupakan tindakan (reaksi terbuka) atau

aktifitas, akan tetapi merupakan perdisposisi perilaku (tindakan), atau

reaksi tertutup.
28

b. Pengetahuan

Adalah hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap

objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan

sebagainya). Dengan sendirinya pada waktu pengindraan sehingga

menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh inensitas

perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan

diperoleh melalui indra penglihatan (mata).

c. Kepercayaan

Adalah kemampuan seseorang untuk bertumpu pada orang lain dimana

kita memiliki keyakinan kepadanya. Kepercayaan merupakan kondisi

mental yang didasarkan oleh situasi seseorang dan konteks sosialnya.

d. Budaya

Adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh

sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya

terbentuk dari berbagai unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan

politik, adat istiadat, bahasa, prakasa, pakaian, bangunan dan karya seni.

e. Tokoh masyarakat

Adalah orang yang memiliki pengaruh kuat kepada warga masyarakat.

Pengaruh itu berupa dipatuhinya perintah atau anjuran mereka oleh orang-

orang disekitarnya. Seseorang yang menjadi tokoh masyarakat bisa

didapatkan dengan cara formal atau informal. Seseorang bisa memperoleh

status jabatan tokoh masyarakat bila memenuhi berbagai macam syarat


29

kualifikasi tertentu. Mereka memiliki kekuasaan dan wewenang tertentu

dalam lingkup wilayahnya

f. Leluhur

Leluhur adalah asal muasal kita sebagai manusia yang dalam

kamus bahasa Bali - Indonesia disebutkan leluhur berarti kawitan dimana

dalam siklus kehidupan. merupakan nama yang normalnya dikaitkan pada

orang tua maupun orang tua leluhur (seperti kakek nenek, canggah, dan

seterusnya). Menurut teori evolusi, spesies yang memiliki leluhur yang

sama disebut sebagai turunan bersama.

g. Kearifan lokal

segala bentuk kebijaksanaan yang didasari oleh nilai-nilai kebaikan

yang dipercaya, diterapkan dan senantiasa dijaga keberlangsungannya

dalam kurun waktu yang cukup lama (secara turun-temurun) oleh

sekelompok orang dalam lingkungan atau wilayah tertentu yang menjadi

tempat tinggal mereka.

9. Langkah-Langkah Yang Dilakukan Dalam Mitigasi Bencana

e. Abrasi

Secara lebih rinci upaya pengurangan bencana banjir antara lain:

1) Pengawasan penggunaan lahan dan perencanaan lokasi untuk

menempatkan fasilitas vital yang rentan terhadap abrasi pada daerah

yang aman.

2) Penanaman dan pemeliharaan pohon bakau.


30

3) Melestarikan terumbu karang

4) Melarang pertambangan pasir pantai

5) Pembangunan tembok laut sepanjang pantai yang rawan badai atau

tsunami akan sangat membantu untuk mengurangi bencana banjir.

6) Pembuatan tembok penahan dan tembok pemecah ombak untuk

mengurangi energi ombak jika terjadi badai atau tsunami untuk daerah

pantai.

7) Memperhatikan karakteristik geografi pantai dan bangunan pemecah

gelombang untuk daerah teluk.

f. Bencana Gempa Bumi

Secara lebih rinci upaya pengurangan bencana Gempa Bumi antara lain :

1) Memastikan bangunan harus dibangun dengan konstruksi tahan

getaran/gempa.

2) Mernastikan perkuatan bangunan dengan mengikuti standard kualitas

bangunan.

3) Pembangunan fasilitas umum dengan standard kualitas yang tinggi.

4) Memastikan kekuatan bangunan-bangunan vital yang telah aria.

5) Rencanakan penempatan pemukiman untuk mengurangi tingkat

kepadatan hunian di daerah rawan bencana.

6) Penerapan zonasi daerah rawan bencana dan pengaturan penggunaan

lahan.
31

7) Membangun rumah dengan konstruksi yang aman terhadap gempa

bumi.

8) Kewaspadaan terhadap resiko gempa bumi.

9) Selalu tahu apa yang harus dilakukan jika terjadi goncangan gempa

bumi.

10) Sumber api, barang-barang berbahaya lainnya harus ditempatkan pada

tempat yang aman dan stabil.

11) Ikut serta dalam pelatihan program upaya penyelamatan dan

kewaspadaan masyarakat terhadap gempa bumi.

12) Pembentukan kelompok aksi penyelamatan bencana dengan pelatihan

pemadaman kebakaran dan pertolongan pertama.

13) Persiapan alat pemadam kebakaran, peralatan penggatian, dan

peralatan perlindungan masyarakat lainnya.

14) Rencana kontingensi/kedaruratan untuk melatih anggota keluarga

dalarn menghadapi gempa bumi.

g. Bencana Tsunami

Secara lebih rinci upaya pengurangan bencananya antara lain:

1) Peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap bahaya tsunami.

2) Pendidikan kepada masyarakat tentang karakteristik dan pengenalan

bahaya tsunami.

3) Pembangunan tsunami Early Warning System.


32

4) Pembangunan tembok penahan tsunami pada garis pantai yang

beresiko.

5) Penanaman mangrove serta tanaman lainnya sepanjang garis pantai

meredam gaya air tsunami.

6) Pembangunan tempat-tempat evakuasi yang aman di sekitar daerah

pemukiman.

7) Tempat/ bangunan ini harus cukup tinggi dan mudah diakses untuk

menghidari ketinggian tsunami.

8) Pembangunan Sistem Peringatan Dini Tsunami, khususnya di

Indonesia.

9) Pembangunan rumah yang tahan terhadap bahaya tsunami.

10) Mengenali karaktenstik dan tanda-tanda bahaya tsunami di lokasi

sekitarnya.

11) Memahami cara penyelamatan jika terlihat tanda-tanda tsunami.

12) Meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi

tsunami.

13) Memberikan laporan sesegera mungkin jika mengetahui tandatanda

akan terjadinya tsunami kepada petugas yang berwenang Kepala Desa.

Polisi, Stasiun radio, SATLAK PB dan lain-lain.

14) Melengkapi diri dengan alat komunikasi.


33

h. Bencana Angin Siklon Tropis

Secara lebih rinci upaya pengurangan bencananya antara lain:

1) Mernastikan struktur bangunan yang memenuhi syarat teknis untuk

mampu bertahan terhadap gaya angin.

2) Penerapan aturan standar bangunan yang memperhitungkan beban

angin khususnya di daerah yang rawan angin topan.

3) Penempatan lokasi pembangunan fasilitas yang penting pada daerah

yang terlindung dari serangan angin topan.

4) Penghijauan di bagian atas arah angin untuk meredam gaya angin.

5) Pembangunan bangunan umum yang cukup luas yang dapat digunakan

sebagai tempat penampungan sementara bagi orang maupun barang

saat terjadi serangan angin topan.

6) Pembangunan rumah yang tahan angin.

7) Pengamanan/perkuatan bagian-bagian yang mudah diterbangkan angin

yang dapat membahayakan diri atau orang lain disekitarnya.

8) Meningkatkan kesiapsiagaan dalam mengliadapi angin topan,

mengetahui bagaimana cara penyelamatan diri.

9) Pengamanan barang-barang disekitar rumah agar terikat/dibangun

secara kuat sehingga tidak diterbangkan angin.

10) Mensosialisasikan kepada nelayan agar supaya menambatkan atau

mengikat kuat kapal-kapalnya.


34

C. Konsep Dasar Kader Siaga Bencana

1. Pengertian

Kader Siaga Bencana adalah masyarakat yang berfungsi untuk

mencegah gawat darurat dan bencana meliputi kesiagaan masyarakat,

pencegahan dan mitigasi atau penjinakan kejadian gawat darurat dan bencana,

serta berfungsi pula untuk reaksi cepat penanganannya di bidang kesehatan.

Latar belakang dari dibentuknya KSB antara lain adalah kenyataaan bahwa

selama ini aktivitas penanggulangan bencana oleh Departemen Kesehatan

dilakukan oleh unit kerja yang sudah ada sebagai salah satu dari sekian

banyak tugas yang lain, sehhingga tidak tertangani secara optimal. KSB

diharapkan dapat melakukan tugas khususnya di bidang penanggulangan

bencana, dan dapat mendukung pelaksanaan gawat darurat bencana secara

mandiri.

Kader Siaga Bencana merupakan organisasi Safe Community yaitu

keadaan aman dan sehat yang tercipata oleh peran aktif masyarakat termasuk

swasta, profesi dan pemerintah yang bersinergi dalam penanggulangan

kegawatdaruratan dan bencana. Hakekat Safe Community adalah upaya oleh

masyarakat, dari masyarakat, dan untuk masyarakat didorong oleh pemerintah

sebagai fasilitator menuju terciptanya kondisi sehat dan aman.

Kader Siaga Bencana adalah Masyarakat yang dibentuk untuk reaksi

cepat penanganan di bidang bencana, Kader Siaga Bencana sebagai tim siaga
35

bencana yang dibentuk oleh STIkes Dehasen melalui pelatihan itensif oleh

Brigade Siaga Bencana STIkes Dehasen Bengkulu.

2. Tujuan

Tujuan dari pemebentukan Kader Siaga Bencana adalah sebagai

berikut :

a. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pelaksanaan Sistem

Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) melalui pendidikan

dan pelatihan (pemberdayaan masyarakat)

b. Dihasilkan komitmen kesepakatan dalam bentuk koordinasi dengan

berbagai pihak yang terkait untuk mendorong penanggulangan gawat

darurat dan bencana melalui peran KSB dan sosialisasi KSB yang harus

dilaksanakan secara serempak dan bertanggung jawab oleh segenap

lapisan

c. Sebagai upaya menyamakanpola pikir dan pola tindak penaggulangan

kegawatdaruratan dalam satu wadah pelatihan khusus mengenal KSB

3. Manfaat

Manfaat yang ingin dimunculkan dari program ini antara lain:

a. Melalui program siaga bencana ini pengetahuan, sikap, dan keterampilan

sasaran dibidang pengurangan risiko bencana akan ditingkatkan, baik

melalui pelatihan maupun kegiatan lainnya.

b. Masyarakat dapat memberikan kontribusinya untuk membangun kemajuan

terutama dalam upaya pengurangan risiko bencana.


36

c. Adanya perubahan prilaku komponen sumber daya manusia di masyarakat

terhadap isu pengurangan risiko bencana

d. memiliki kapasitas untuk berkontribusi dalam perubahan prilaku

masyarakat dalam kesiapsiagaan, pengurangan risiko bencana, dan

tanggap darurat bencana.

4. Visi misi

a. Visi

Menjadi lembaga model pengelolaan kebencanaan dalam bidang

penguatan kapasitas Masyarakat dan pengurangan risiko bencana dan

bantuan darurat.

b. Misi

1) Melakukan capability building di bidang disaster kepada Masyarakat

2) Meningkatkan peran serta masyarakat dalam kebencanaan melalui

jaringan kerelawanan

3) Memobilisasi sumber daya manusia dan jaringan dalam upaya

kesiapsiagaan bencana

4) Melakukan kajian dan menjadi rujukan manajemen bencana

5) Membangun paradigma disaster self survival (penyelamatan mandiri)

6) Meningkatkan fungsi Tim Respon

7) Membangun upaya pemenuhan kebutuhan dasar dan pemulihan pasca

bencana
37

5. Tugas

a. Menangani penderita/korban akibat kejadian bencana dengan cecepat,

tepat, cermat

b. Membantu mengatasi dan memulihkan dampak bencana

c. Membantu kesiapan masyarakat dalam melakukan penyiapan dan mitigasi

bencana

d. Menciptakan kondisi yang mendukung agar masyarakat mau

memanfaatkan tim KSB secara efisien dan efektif

6. Janji

Dengan pertolongan Allah SWT, saya berjanji dan sanggup untuk :

a. Melaksanakan segala hak dan kewajiban saya sebagai anggota Kader Siaga

Bencana.

b. Menjunjung tinggi nama baik organisasi.

c. Membuktikan dan mengembangkan segala ilmu pengetahuan yang telah di

peroleh dari organisasi untuk kemanusiaan


38

7. Manajemen Bencana

Sesuai dengan pemaparan terkait dengan bencana di atas, maka

dibutuhkan suatu manajemen yang tepat, dinamis, terpadu, dan berkelanjutan

terkait dengan penanggulangan bencana. Adapun demikian, untuk lebih

jelasnya digambarkan sebagai berikut:

Mitigasi Kesiapan Bencana Bencana Terjadi

Penyelamatan dan Bencana

Rekonstruksi dan
Penataan Kembali

Rehabilitasi

Bagan 2.1 Alur Manajemen Bencana

Keterangan:

1. Mitigasi adalah proses pengumpulan dan analisa data bencana sebagai upaya

untuk meminimalisir kerentanan dan bahaya terhadap negara.

2. Kesiapan Bencana adalah upaya memprediksi ataupun pemantauan fenomena

alam yang terjadi, guna persiapan tanda bahaya, berkaitan dengan sistem

evakuasi, serta sosialisasi kepada masyarakat.


39

8. Jalan Keluar Kader siaga Bencana Menjumpai Kesulitan

Jika kader sedang kesulitan dalam melaksanakan tugasnya, kader

dapat menghubungi: bidan desa, petugas LKMD, RT, RW, kepala desa

(lurah), tokoh masyarakat, tim penggerak PKK (Depkes RI, 1999) dalam

Mahdaniar (2014).
40

D. Kerangka Teori

Kerangka teori merupakan ringkasan dalam untuk skematis dari

hubungan antar varibel yaitu variabel bebas, variabel terikat, dan variabel luar

(Notoadmojo, 2010)

Peran Kader Siaga Bencana Dalam Dalam Mitigasi Bencana


Masyarakat Pesisir Di Kelurahan Lempuing Kecamatan Ratu Agung
Bengkulu Tahun 2017

Mitigasi
Peran Kader Mitigasi Struktural
Siaga Bencana Bencana
Mitigasi Non
Struktural

Bagan 2.2 Kerangka Teori


BAB III
Kerangka Konsep Penelitian, Defenisi Operasional dan Hipotesis
A. Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian merupakan bagan atau skema yang

mernerangkan tentang hubungan antar konsep-konsep yang berhubungan dengan

variabel yang akan diteliti, kerangka konsep setidaknya berisi tentang faktor

penyebab atau resiko timbulnya masalah yang akan diteliti (Sulityaningsih, 2011).

Berdasarkan latar belakang dan tinjauan pustaka, dapat diambil kesimpulan

suatu rumusan keangka konsep sebagai berikut :

Variabel Independen Variabel Devenden

Peran Kader Mitigasi Bencana

Bagan 3.1 Kerangka Konsep

41
42

B. Defenisi Operasional

Defenisi operasional, alat ukur, hasil ukur, dan skala ukur dari masing-

masing variabel yang akan diteliti pada tabel di bawah ini.

Tabel. 3.1 Variabel Independen

N Variabel Defenisi Opera Alat Hasil Ukur Skala


o Sional Ukur
1 Peran Kader seperangkat tingkah Kuisi 0. Kurang Ordinal
laku yang diharapkan oner baik bila
dimiliki oleh Kader < Nilai
yang berkedudukan mean
dalam masyarakat pada 1. Baik
saat berinteraksi bila ≥
dengan klien yang di Nilai
sertai kecenderungan mean
untuk bertindak
meliputi :
- Respon Kader
- Perilaku Kader
- Hubungan antar
Manusia
43

Tabel 3.2 Variabel Dependen


No Variabel Defenisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala

Mitigasi Upaya yang ditujukan Kuesioner Perbandinga Ordinal


untuk mengurangi n antara
dampak dari bencana skor
alam harapan
dengan
kenyataan
0.Kurang
Baik bila <
Nilai Mean
1.Baik bila
≥ Nilai
Mean
BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian

Metode penelitian yang di guanakan dalam penelitia ini adalah penelitian

secara deskriptif hanya untuk mengidentifikasi kinerja kader siaga bencana di

kelurahan Lempuing Kecamatan Ratu Agung (Hidayat, 2012)

Rancangan Penelitian secara singkat dapat dilihat pada bagan 4.1 dibawah

ini:

Baik
Peran Kader Siaga Mitigasi Bencana
Bencana masyarakat pesisir
Kurang Baik

B.
Variabel Independen Variabel Dependen

Bagan 4.1 Kerangka Konsep

44
45

C. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Lempuing, Kecamatan Ratu Agung,

Kota Bengkulu. Penelitian dilakukan pada 18 juli – 29 Juli 2017.

D. Populasi dan Sampel dan kriteria inkusi

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Jumlah populasi

pasien adalah data primer yang diambil bulan Januari 2017 sebanyak 5.030

orang dengan jumlah KK sebanyak 1.152 KK, sampel penelitian di ambil

adalah Klien yang tinggal menetap di Kelurahan Lempuing, Kecamatan Ratu

Agung, Kota Bengkulu.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian dari populasi yang mewakili suatu populasi yang

merupakan bagian dari populasi terjangkau (Suryono,2011). Sampel terdiri

dari 2 kriteria yaitu :

a. Kriteria inklusi

Kriteria inklusi adalah kriteria yang dijadikan karakteristik umum subjek

penelitian pada populasi target atau populasi aktual, sehingga subjek dapat

diikutkan dalam penelitian.

1. Bersedia menjadi responden

2. Laki-Laki atau Perempuan Berusia > 20 tahun

3. Sehat Jasmani dan Rohani

4. Kader Siaga Bencana


46

5. Kader yang tinggal di Kelurahan Lempuing, Kecamatan Ratu Agung,

Kota Bengkulu.

b. Kriteria Eksklusi

Kriteria eksklusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan subjek yang

tidak memenuhi kriteria inklusi dari studi karena berbagai sebab antara

lain :

1. Kader yang menolak untuk menjadi responden dan tidak bersedia

mengikuti seluruh kegiatan penelitian.

2. Warga yang tinggal di lempuing tetapi bukan domisili asli lempuing

atau tidak akan menetap di Lempuing (anak kos)

3. Sulit ditemui

4. Kader yang tidak ada di Kelurahan Lempuing, Kecamatan Ratu

Agung, Kota Bengkulu saat penelitian.

Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah

tekhnik Total sampling dengan tekhnik qouta sampling, yaitu tekhnik untuk

menentukan sample dari populasi yang mempunyai ciri-ciri atau kriteria

tertentu sampai jumlah (Kouta) yang di inginkan (Hidayat, 2012) sampel

dalam penelitian ini berjumlah 36 responden yang di ambil per 2 orang dari

18 RT.
47

E. Instrument Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti

dalam pengumpulan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik

dalam arti lebih cepat, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah diolah

(Arikunto, 2010). Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Kuesioner

digunakan untuk mengetahui Peran Kader sebelum dan setelah dilakukan

Pelatihan kader siaga bencana.

Kuesioner yang digunakan terdiri dari 12 pertanyaan, dimana setiap 1

bagian terdiri dari 2 soal/pertanyaan (soal a dan b), bentuk pertanyaan tertutup

dengan menyediakan dua alternatif jawaban dan responden harus mengisi dua

jawaban ketentuan benar atau salah yang sesuai dengan pendapatnya, bobot nilai

untuk jawaban benar : 1, salah: 0, semua terdiri dari 12 pertanyaan. menyediakan

beberapa alternatif jawaban (iya/Tidak, Pernah/Tidak Pernah). Kuisioner yang

telah diisi oleh responden kemudian hasil data dikumpulkan dan diolah melalui

komputerisasi.

F. Teknik Pengumpulan dan Pengelolaan Data

1. Sumber Data

a. Data Primer

Data primer adalah data yang langsung didapat dari responden

(Notoatmodjo, 2010). Dalam penelitian ini data primer tentang peran

kader brigade siaga bencana dalam mitgasi bencana masyarakat pesisir


48

didapatkan melalui kuisioner untuk menilai Peran Kader masyarakat

pesisir dalam mitigasi bencana kader siaga bencana masyarakat pesisir.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang sudah ada atau data yang

diperoleh dalam bentuk jadi yang dikumpulkan dan diolah pihak

(Notoatmodjo, 2010). Dalam penelitian ini data jumlah masyarakat pesisir

Lempuing didapat dari kantor Kelurahan Lempuing, dengan jumlah 5.035

penduduk, terdiri dari laki-laki berjumlah 2.558 orang, perempuan

berjumlah 2.477 orang. Ada 3 RW dan 18 RT yang terdiri dari 1.152 KK.

2. Cara Pengumpulan Data

Cara pengumpulan data terdiri dari dua yaitu tahap persiapan dan

tahap pelaksanaan. Pada tahap persiapan meliputi pengajuan judul skripsi,

konsul judul, studi pustaka dan melakukan survei awal atau pra penelitian.

Peneliti melakukan pra penelitian dengan mengirimkan surat pra penelitin ke

kantor Kelurahan Lempuing Kecamatan Ratu Agung Kota Bengkulu untuk

mendapatkan data jumlah penduduk, RT, RW dan KK warga Lempuing

serta mendapat persetujuan dari instansi Kelurahan untuk dapat melakukan

penelitian di daerah tersebut. Pada tahap pelaksanaan yaitu dengan membuat

proposal dan melakukan bimbingan, perbaikan proposal, dan ujian proposal,

kemudian setelah ujian proposal peneliti melakukan revisi proposal ke

Pembimbing I, Pembimbing II, Penguji I dan Penguji II. Peneliti melakukan

penelitian dengan mengajukan surat penelitian ke KP2T Provinsi Bengkulu


49

kemudian ke Kelurahan Lempuing atau instansi terkait lainya untuk

melaksanakan penelitian.

3. Teknik Pengelolaan Data

Data yang terkumpul diolah dengan sistem computerisasi melalui beberapa

tahap :

a. Pemeriksaan Data (Editing)

Merupakan kegiatan untuk melakukan pengecekan isian lembar ceklis

yang mencangkup kelengkapan, kejelasan, relevansi dan konsistensi

jawaban. Hal ini di kerjakan dengan melihat tiap lembar kuesioner.

b. Pengkodean Data ( Coding)

Data yang telah di peroleh di beri kode untuk memudahkan pengolahan

data yang di peroleh.

c. Memasukkan Data (Inputing)

Setelah data di kumpulkan kemudian di proses dengan komputer

untuk di analisis.

d. Pengecekan dan Pembersihan data (Checking dan cleaning data)

Pembersihan data di lakuakan untuk mengkoreksi jika ada kesalahan

pengolahan data sehingga dapat perbaiki.

4. Analisis Data

Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan bantuan

komputer dengan perangkat lunak selanjutnya akan disajikan langkah-

langkah analisis yang akan dilakukan adalah sebagai berikut :


50

a. Analisis univariat

Analisis univariat dilakukan dengan maksud untuk menggambarkan

distribusi frekuensi dari masing-masing variabel yang diteliti baik variabel

independen maupun variabel dependen. Dengan menggunakan rumus

perhitungan persentase (%).

F
P = x 100 %
n

Keterangan :

P = jumlah persentase yang dicari.

F = jumlah frekuensi dari masing-masing variabel.

N = Jumlah responden.

Dari rumus diatas kualitas proporsi di dapat dalam bentuk

persentase yang dapat diinterprestasikan dengan menggunakan skala :

0% = Tidak satupun dari responden

1% - 25% = Sebagian kecil dari responden

26% - 49% = Hampir sebagian dari responden

50% = Setengah dari responden

51% - 75% = Sebagian besar dari responden

76% - 99% = Hampir seluruh responden

100% = Seluruh responden


51

5. Etika Penelitian
a. Alur Penelitian

Sebelum melakukan penelitian, terlebih dahulu peneliti meminta

surat keterangan izin penelitian dari pihak kampus SETIKES DEHASEN

kepada dinas kesehatan untuk disetujui. Dan kemudian peneliti meminta

surat izin penelitian kepada dinas kesehatan untuk meneliti di puskesmas

yang akan dituju. Bersamaan dengan itu, peneliti mengajukan proposal

penelitian kepada pihak kampus STIKES DEHASEN dan di periksa

kebenarannya oleh dosen pembimbing serta nantinya sebelum

melakukan penelitian, skripsi ini akan di uji kebenarannya oleh dosen

penguji kemudian barulah peneliti melakukan penelitian.

b. Etika Pengumpulan Data

Sebelum melakukan pengumpulan data, peneliti terlebih dahulu

mengajukan permohonan izin kepada instansi dinas kesehatan, kepada

kantor kelurahan Lempuing Ratu Agung, dengan membawa surat

pengantar dari pendidikan STIKES DEHASEN Bengkulu, selanjutnya

menjelaskan maksud dan tujuan kepada responden dan meminta

persetujuan baru kemudian melakukan penelitian dengan lebih

menekankan pada masalah etika yang meliputi :

a. Informed Consent (Lembar Persetujuan)

Sebelum lembar persetujuan diberikan pada subyek penelitian,

peneliti menjelaskan maksud dan tujuan yang akan dilakukan serta


52

dampak yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengumpulan data.

Jika responden bersedia, maka ia harus menandatangani surat

persetujuan menjadi responden. Jika ia menolak, maka peneliti tidak

akan memaksa dan tetap menghargai.

b. Anonomity (Tanpa Nama)

Untuk menjaga kerahasiaan subyek peneliti, peneliti tidak akan

mencantumkan namanya pada lembar pengumpulan data/koesioner,

cukup dengan memberikan kode tertentu.

c. Confidently (Kerahasiaan)

Penelitian tidak akan menyebar luaskan informasi yang

diberikan oleh responden dan kerahasiaanya akan dijamin oleh

peneliti.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Gambaran Lokasi Penelitian

Lempuing adalah salah satu kelurahan di Kecamatan Ratu Agung,

Kota Bengkulu tercatat Jumlah penduduk sebanyak 5.030 orang dengan

jumlah KK sebanyak 1.152 KK, RW dan 18 RT.

Dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

 Sebelah Utara : Kebun Kenanga

 Sebelah Selatan : Pantai Panjang

 Sebelah Barat : Pantai Panjang

 Sebelah Timur : Nusa indah

2. Jalannya Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Distribusi Frekuensi Peran

Kader Siaga Bencana Dalam Mitigasi Bencana Masyarakat Pesisir di

Kelurahan Lempuing Kecamatan Ratu Agung Kota Bengkulu Tahun 2017

dari Tanggal 18 Juli sampai dengan 29 Juli 2017. Objek dalam penelitian ini

adalah kader siaga bencana di Kelurahan Lempuing. Pengambilan sampel

dalam penelitian ini menggunakan tekhnik qouta sampling, yaitu tekhnik

untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri atau

kriteria tertentu sampai jumlah (Kouta) yang di inginkan (Hidayat, 2012)

53
54

sampel dalam penelitian ini berjumlah 36 responden yang di ambil per 2

orang dari 18 RT.

Proses penelitian dimulai pada tanggal 13 Juli 2017 mengambil surat

rekomendasi dari akademik yang ditujukan ke KP2T Provinsi, didapatkan

surat rekomendasi penelitian yang dikeluarkan oleh KP2T Provinsi,

mengambil surat rekomendasi dari KP2T Provinsi ditujukan ke KP2T Kota,

pada tanggal 17 Juli 2017 mengambil surat rekomendasi dari KP2T Kota

ditujukan ke Kelurahan Lempuing Kecamatan Ratu Agung Kota Bengkulu,

peneliti memulai penelitian di Kelurahan Lempuing pada tanggal 18 juli

melakukan pelatihan dan pembentukan Kader Siaga Bencana, pada tanggal

22 sampai 29 Juli 2017 peneliti datang ke rumah-rumah kader yang sesuai

dengan kriteria sampel yang diinginkan untuk memenuhi sampel , setelah di

dapat sampel yg diinginkan, peneliti menyiapkan permohonan menjadi

responden, lembar informed concent dan kuesioner dan setelah itu sampel

mengisi satu persatu pertanyaan yang ada didalam lembar kuesioner.

Kemudian data yang sudah didapatkan dilakukan Proses pengolahan data

dimulai dari proses Editing yaitu melihat apakah isi jawaban atau data yang

diolah tersebut sudah tersedia lengkap dan apakah sudah relevan dengan

tujuan penelitian. Coding yaitu kode pada setiap jawaban. Tabulating yaitu

mentabulasi data berdasarkan kelompok data yang telah ditentukan ke dalam

master tabel. Entry yaitu memasukan data yang sudah dilakukan editing dan

coding tersebut ke dalam komputer yaitu untuk memastikan apakah semua


55

data siap dianalisis. Cleaning yaitu untuk memastikan apakah semua data

sudah siap dianalisis.

Penelitian ini menggunakan Kuesioner tunggal di gunakan untuk

mengetahui Distribusi Frekuensi Peran Kader Siaga Bencana di Kelurahan

Lempuing. Berdasarkan hasil univariat pada penelitian ini dapat dilihat data

mengenai Peran Kader Siaga Bencana Dalam Mitigasi Bencana Masyarakat

Pesisir Di Kelurahan Lempuing Kecamatan Ratu Agung Kota Bengkulu

Tahun 2017, yaitu :

Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Peran Kader Siaga Bencana Dalam Mitigasi Bencana di
Masyarakat Pesisir Kelurahan Lempuig Kecamatan Ratu Agung Kota
Bengkulu Tahun 2017

Peran Kader Frekuensi persentase%


Kurang Baik 10 27.8
Baik 26 72.2
Total 36 100

Berdasarkan Tabel 5.1 dapat dijelaskan bahwa Sebagian besar

Responden 26 orang Kader Siaga Bencana (72,2%) memiliki Peran baik

mengenai Mitigasi Bencana di Kelurahan Lemping Masyarakat Pesisir,

sedangkan sebagian kecil Responden 10 orang (27.8%) kader siaga bencana

memiliki Peran Kurang Baik mengenai Mitigasi Bencana di Kelurahan

Lempuing Kecamatan Ratu Agung Kota Bengkulu.


56

B. Pembahasan

Peran Kader dalam pelaksanaan mitigasi bencana angat penting, mitigasi

bencana sangat tergantung dari peran kader dalam melaksanakan kegiatan

Mitigasi bencana. Semakin Baik peran seorang kader maka semakin baik pula

mitigasi bencananya.

Mubarak (2009), Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan

oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu sistem

yang di pengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan

bersifat stabil pada situasi sosial tertentu sehingga dapat memberikan motivasi

yang dapat mempengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu.

Hasil analisis data penelitian ini terlihat bahwa Sebagian besar dari kader

sebanyak 26 kader (72.2%) memiliki Peran Baik mengenai mitigasi

bencanasedangkan sebagian kecil Responden memiliki Peran Kurang Baik yaitu

10 orang kader (27.8%). Dengan kata lain kader yang tinggal diwilayah

kelurahan lempuing sebagian besar memiliki peran yang baik dalam mitigasi

bencana.

Umur adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai

berulang tahun. Menurut Hurlock (1998) yang dikutip oleh Yolanda (2014)

bahwa semakin cukup umur seseorang maka perilaku seseorang lebih matang

dalam bekerja. Semakin cukup umur tingkat kematangan dan kekuatan seseorang

akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja, dari segi kepercayaan masyarakat

seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya daripada orang yang belum
57

cukup tinggi kedewasaannya. Hal ini sebagai akibat dari pengalaman dan

kematangan jiwanya,

Menurut Sukiarko (2007) dikutip oleh Yolanda (2014), melakukan suatu

tindakan atau pekerjaan umur mempengaruhi produktivitas, umumnya umur yang

masih muda dan baru menginjak dewasa memiliki tingkat kinerja yang baik dan

optimal dibandingkan dengan tenaga kerja yang usianya sudah dewasa.

Kelemahan umur yang masih muda diantaranya masih labil dalam membuat

suatu keputusan, lebih tidak peduli dengan lingkungan sekitar, tingkat emosi

yang tinggi dan tidak sabar dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, Kader Siaga

Bencana di kelurahan Lempuing memeiliki rata-rata usia yang Produktif

sebanyak 35 orang. Hal ini yang menyebabkan Peran Kader Siaga Bencana Baik,

karena di usia produktif memudahkan seseorang untuk menangkap materi dan

pelatihan yang di berikan.

Notoatmodjo (2003) dikutip oleh Yolanda (2012), menjelaskan bahwa

menurut teori Green, salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan

seseorang yaitu faktor predisposisi. Green (1980) mengemukakan bahwa latar

belakang pendidikan merupakan faktor mendasar yang memotivasi terhadap

perilaku atau yang member referensi dalam pengalaman belajar seseorang. Hal

ini juga didukung oleh perubahan perilaku individu dalam kehidupan nyata

melalui tahapan pengetahuan.

Menurut Soeitoe (2000) dikutip oleh Yolanda (2012), pada mulanya

pendidikan dinyatakan sebagai suatu proses tunggal yang meliputi latihan, akal
58

budi, pembentukan watak dan penyerahan kebudayaan. Pada tahap berikutnya

akal budi dianalisa menjadi kemampuan yang terpisah dan efektivitas pendidikan

dan pengajaran tergantung dari keadaan dan kemampuan itu. Perubahan-

perubahan yang ingin dicapai melalui proses pendidikan pada dasarnya adalah

perubahan pola tingkah laku yang diinginkan. Makin tinggi tingkat pendidikan

seseorang, makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula

pengetahuan yang dimiliki sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat

perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan.

Makin tinggi tingkat pendidikan kader makin banyak pula yang diketahui kader

tentang Mitigasi Bencana sehingga kader mampu melakukan deteksi dini

perkembangan dengan baik.

Menurut Notoadmodjo (2003) dikutip oleh Yolanda (2014), pendidikan

diperlukan untuk mendapatkan informasi misalnya hal-hal yang menunjang

kesehatan sehingga dapat meningkatkankualitas hidup. Pendidikan dapat

mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup

terutama dalam memotivasi untuk sikap berperan serta dalam pembangunan.

Kader Siaga Bencana di kelurahan Lempuing memeiliki Pendidikan Tinggi 9

orang, Menengah 26 orang, dan dasar 1 orang, hal ini yang menyebabkan Peran

Kader Siaga Bencana Baik, karena Pendidikan menengah dan tinggi

memudahkan seseorang untuk menangkap materi dan pelatihan yang di berikan

dan menerapkan dalam kehidupan Sehari-hari.


59

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh

Ontonhie (2014) yang meneliti dengan judul “Hubungan Peran Serta Kader

Posyandu dengan Status Gizi Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Manganitu

Kabupaten Kepulauan Sangihe” yang hasil penelitiannya didapatkan bahwa

sebagian besar kader (86,9%) sudah melaksanakan tugasnya dengan baik sebagai

seorang kader dalam melaksanakan kegiatan posyandu baik sebagai motivator,

administrator sekaligus sebagai edukator. Peranan kader sangat penting karena

kader bertanggung jawab dalam pelaksanaan program posyandu. Bila kader tidak

aktif maka pelaksanaan posyandu juga akan menjadi tidak lancar dan akibatnya

status gizi bayi dan balita (bawah lima tahun) tidak dapat dideteksi secara dini

dengan jelas (Isaura, 2011). Begitu juga dengan peran kader dalam mitigasi

bencana, peran kader sangat pemting karena kader adalah ujung tombak dalam

penanganan bencana di lapangan, meliputi kesiagaan masyarakat, pencegahan,

dan mitigasi bencana. Bila peran kader siaga kurang baik maka pelaksanaan

mitigasi bencana juga akan menjadi kurang baik dan akibatnya masyarakat

menjadi kurang siap dalam menghadapi bencana alam.


BAB VI

PENUTUP
A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian peran kader siaga bencana dalam mitigasi

bencana masyarakat pesisir di Kelurahan Lempuing Kecamatan Ratu Agung

Kota Bengkulu. Terhadap 36 orang responden dapat disimpulkan Sebagian besar

dari kader sebanyak 26 orng kader (72.2%) memiliki peran baik sedangkan

sebagian kecil responden memiliki peran kurang baik dalam mitigasi bencana

yaitu 10 orang kader (27.8%).

B. Saran

a. Bidang Akademik.

Dapat memberikan masukan dan tambahan pengetahuan bagi

lingkungan akademik khususnya mahasiswa Ners tentang Peran Kader siaga

bencana dalam mitigasi bencana masyarakat pesisir Tahun 2017

b. Bagi Peneliti Selanjutnya

Sebagai bahan atau sumber data untuk peneliti berikutnya dan

mendorong bagi yang berkepentingan untuk melakukan penelitian

selanjutnya.

60
61

c. Klien/ Keluarga Klien

Dapat memperoleh pengetahuan tentang peran kader siaga bencana

dalam mitigasi bencana masyarakat pesisir dan pengalaman sekurang

kurangnya menolong diri sendiri atau keluarga jika terjadi penyakit bencana

alam di daerah sekitarnya.

63
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Latief 2015 Peran Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana
Alam Di Kota Palopo

Adhitya Irvan Pristanto. 2010. Upaya Peningkatan Pemahaman Masyarakat Tentang


Mitigasi Bencana Gempa Bumi Di Desa Tirtomartani Kecamatan Kalasan
Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Amin Fatah. 2014. Mitigasi Dampak Abrasi Air Laut Pada Masyarakat Petani
Tambak Di Kelurahan Mangunharjo Kecamatan Tugu Kota Semarang

Amni Zarkasyi Rahman. 2015. Kajian Mitigasi Bencana Tanah Longsor Di


Kabupaten Banjarnegara. Banjarnegara Gema Publica

A.Rusilowati1, Supriyadi, A. Binadja2, S.E.S. Mulyani. 2012. Mitigasi Bencana


Alam Berbasis Pembelajaran Bervisi Science Environment Technology And
Society

Arikunto. 2010. Prosedur Penelitian Renika Cipta Jakarta

BNPB. (2011). Definisi Bencana.


http://www.bnpb.go.id/website/asp/content.asp?id=30. Diakses tanggal 28
Desember 2016 pukul 18.00 WIB.

_______. (2012). Potensi Ancaman Bencana. http://bnpb.go.id. Diakses tanggal 28


Desember 2016 pukul 20.00 WIB.
_______. (2014). Data & Informasi Bencana Indonesia. (Online),
(http://dibi.bnpb.go.id. Diakses tanggal 29 Desember 2016 )
BPBD Provinsi Bengkulu. (2015). http://geospasial.bnpb.go.id/2010/06/16/ peta-
indeks-risiko-bencanagempabumi-provinsi-bengkulu) , diakses pada tanggal 2
Januari 2017 pukul 20.45 WIB.
Damayanti Wardyaningrum. 2014. Perubahan Komunikasi Masyarakat Dalam
Inovasi Mitigasi Bencana Di Wilayah Rawan Bencana Gunung Merapi

Dokumentasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bengkulu.


(2015). Manajemen Penanggulangan Bencana Saat Tanggap Darurat.
Bengkulu.
Firman Nur Arif. 2015.Analisis Kerawanan Tanah Longsor Untuk Menentukan
Upaya Mitigasi Bencana Di Kecamatan Kemiri Kabupaten Purworejo

63
http://www.ibnurusydy.com/bencana-alam-gempa-bumi-terdahsyat-di-abad-ke-
21/#ixzz2vpd6quOY

Karnawati, D. 2004. Bencana Gerakan Massa Tanah/ Batuan Di Indonesia;


Evaluasi Dan Rekomendasi, Dalam Permasalahan, Kebijakan Dan
Penanggulangan Bencana Tanah Longsor Di Indonesia. P3-Tpslk Bppt Dan
Hsf. Jakarta.

Notoatmodjo. 2010 Metode Peneitian Kesehatan. Rineka Cipta Jakatra

Saryono. 2010. Kumpulan Instrumen Penelitian Kesehatan. Yogyakarta. Nuha


Medika

Nurjannah, Dkk. 2012. Manajemen Bencana. Bandung: Alfabeta.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2006 Tentang Pedoman Umum
Mitigasi Bencana

Ramli, Soehatman. 2010. Manajemen Bencana. Jakarta: Dian Rakyat.

Rizky Rahadian Ramdhany, Afra Dn Makalew 2016 Perencanaan Lanskap


Pantai Pangandaran Berbasis Mitigasi Bencana Tsunami Ciamis

Sutikno. 1997. Pendekatan Geomorfologi Untuk Mitigasi Bencana Alam Akibat


Gerakan Massa Tanah/ Batuan Proceeding Seminar Nasional Mitigasi
Bencana Alam Ugm, 16-17 September 1994: U53- U65. Yogyakarta:
Bada Penerbit Fakultas Geografi Ugm.

Smith, K. 2001. Environmental Hazards :Assessing Risk And Reducing Disaster.


Routledge. London. Undp-Undro. 1991. Mitigation Strategies In Disaster
Mitigation Un Disaster Management Training Program.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24. (2007). Tentang Penanggulangan


Bencana. Departement Dalam Nergeri: Jakarta.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27. (2007). Tentang Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Departement Dalam Nergeri: Jakarta.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2014. Tentang Keperawatan.
Widhy Setyowati 2009 Strategi Manajemen Sebagai Faktor Mitigasi Terhadap
Penerimaan Opini Going Concern

63
Lampiran

63
PERNYATAAN KESEDIAAN MENJADI SUBYEK PENELITIAN
(INFORMED CONCENT)

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:


Nama :
Umur :
Alamat :
1. Setelah memperoleh informasi mengenai tujuan penelitian yang berjudul
“Peran Kader Siaga Bencana dalam Mitigasi Bencana Masyarakat
Pesisir Tahun 2017”
2. Setelah saya memahami penjelasan tersebut, dengan penuh kesadaran dan
tanpa paksaan dari siapapun bersedia ikut serta dalam penelitian ini dengan
kondisi :
a. Data yang diperoleh dari penelitian ini akan dijaga kerahasiaannya dan
hanya dipergunakan untuk kepentingan ilmiah.
b. Apabila saya inginkan, saya boleh memutuskan untuk keluar/tidak
berpatisipasi lagi dalam penelitian ini tanpa harus menyampaikan alasan
apapun.
Demikian pernyataan ini saya buat untuk dapat dipergunakan sebagaimana
mestinya.

Bengkulu, ...............2017
Yang membuat pernyataan

( )

63
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN DEHASEN BENGKULU
PROGRAM STUDI NERS
TAHUN 2017

PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN


Dengan Hormat,
Saya yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : Sri Hartono
NIM : 152426046 SPP
Program Studi : Ners
Sehubungan dengan penelitian yang akan dilakukan dengan judul “Peran
Kader Siaga Bencana dalam Mitigasi Bencana Masyarakat Pesisir Tahun 2017”
maka dengan segala kerendahan hati, saya mengharapkan kesediaan
bapak/Ibu/saudara/i untuk meluangkan waktu berpatisipasi dalam menjawab
pertanyaan yang diajukan peneliti pada lembar kuesioner.
Saya menjamin kerahasiaan identitas diri Bapak/Ibu/saudara/i, karena
penelitian ini hanya digunakan untuk kepentingan akademik. Setelah mendapat
penjelasan, maka Bapak/Ibu/Saudara/i menyatakan bersedia/tidak bersedia (coret
salah satu) dilakukan wawancara.
Atas kesediaan dan partisipasi Bapak/Ibu/Saudra/i untuk menjadi responden
dan subyek penelitian ini, merupakan suatu penghargaan bagi peneliti dan saya
ucapkan terima kasih.
Bengkulu, 2017
Peneliti,

( Sri Hartono )

63
KUESIONER PENELITIAN
IDENTITAS RESPONDEN
 Nama :
 Usia :
 Jenis kelamin :
 Alamat :
 Pekerjaan :
Petunjuk pengisian
Jawablah sesuai dengan pertanyaan yang ada, dimana setiap 1 bagian
terdiri dari 2 soal/pertanyaan, Checklist (√) jawaban yang anda anggap benar.
Kriteria:
1. Mampu melakukan tindakan
2. Mampu menjelaskan tindakan
Keterangan pilihan jawaban setiap 1 bagian
 Baik (B) : Dapat menjawab 2 soal/pertanyaan
 Tidak Baik (TB) : tidak dapat menjawab < 2 soal/pertanyaan
Peran Kader Siaga Bencana (Kader) Dalam mitigasi Bencana
1 a. Apakah Bapak/Ibu pernah melakukan pemetaan daerah Pernah
d
rawan bencana diwilayah anda bertempat tinggal?
TidakPernah d
b. Apakah pemetaan yang dilakukan disemua wilayah RW Iya d
dan RT kelurahan Lempuing?
Tidak d
2 a. Apakah di lingkungan atau kelurahan dimana bapak/ Ibu Iya d
bertempat tinggal ini telah tersedia Sarana Komunikasi
Tidak d
pendukung system peringatan dini (Handphone, Radio,
Kentongan, Speaker, dll) sederhana, untuk
mengantisipasi risiko bencana secara lengkap?

b. Apa sarana komunikasi yang telah Bapak/Ibu siapkan Iya d


masih dalam kondisi baik dan siap pakai?
Tidak d

63
3 a. Apakah anda terlibat aktif dalam pembangunan sarana Iya d
mitigasi struktural dalam rangka pengurangan risiko
bencana yang ada di kelurahan lempuing? Tidak d
b. a. Apakah anda ikut serta dalam penanaman hutan Iya d
mangrove? Tidak d
b. Apakah anda ikut serta dalam pembangunan Iya
d
pemecah gelombang? Tidak d
c. Apakah anda Memperkuat desain bangunan rumah Iya
d
anda? Tidak d
d. Apakah anda ikut serta dalam perlindungan Iya
d
terumbukarang? Tidak d

4 a. Apakah Bapak/Ibu pernah memantau sistem peringatan Pernah


d
dini untuk bencana
Tidak pernah d
b. a. Apakah sirine yang ada di kelurahan lempuing masih Iya d
dalam kondisi baik? Tidak d
b. Apakah kentongan yang ada di kelurahan lempuing Iya
d
masih dalam kondisi baik? Tidak d
c. Apakah Tsunami Bouy yang ada di kelurahan Iya
d
lempuing masih dalam kondisi baik? Tidak d
d. Apakah speaker yang ada di kelurahan lempuing Iya
d
masih dalam kondisi baik? Tidak d
5 a. Apakah Bapak/Ibu pernah melakukan penyuluhan Pernah d
kesehatan kepada masyarakat mengenai Mitigasi
bencana? Tidak Pernah d
b. Apakah Penyuluhan yang bapak/ibu lakukan tersebut Iya
d
disemua wilayah RW dan RT kelurahan Lempuing? Tidak
d
6 a. Apakah Bapak/ibu memiliki peralatan penyelamatan dan Iya d
evakuasi sederhana seperti pelampung, rakit sederhana,
Tidak
dll untuk mengantisipasi risiko bencana? d

63
b. a. Apakah Bapak/ibu memiliki pelampung untuk Iya
mengantisipasi risiko bencana? Tidak d
b. Apakah Bapak/ibu memiliki rakit sederhana untuk Iya d
mengantisipasi risiko bencana? Tidak d

c. Apakah Bapak/ibu memiliki tenda untuk


Iya d
mengantisipasi risiko bencana? Tidak d
7 a. Apakah Bapak/Ibu pernah melakukan pelatihan mitigasi Pernah
d
bencana kepada masyarakat agar siapsiaga menghadapi
Tidak Pernah d
bencana?
d
b. Apakah pelatihan yang bapak/ibu lakukan tersebut Iya
diikuti oleh seluruh RW dan RT kelurahan Lempuing? Tidak d
8 a. Apakah Bapak/Ibu pernah melakukan perencanaan Pernah
d
dalam penyiapan obat dan perbekalan kesehatan untuk
TidakPernah d
menghadapi bencana?
b. Apakah dirumah bapak/Ibu telah tersedia oralit, P3K, Iya
d
bidai, Gips, dan antibiotik sebagai perbekalan kesehatan Tidak d
untuk menghadapi bencana?

9 a. Apakah Bapak/Ibu pernah mengikuti pelatihan mengenai Pernah


d
mitigasi bencana?
TidakPernah d
b. Apakah pelatihan yang Bapak/Ibu ikuti tersebut sudah Iya d
sangat membantu dalam kesiapsiagaan menghadapi Tidak d
bencana?

10 a. Apakah bapak/ Ibu telah menyediakan Sarana Evakuasi Iya d


apabila terjadi bencana seperti kendaraan
Tidak d
(truk/ambulance, tandu, perahu penyelamat dll) di
lingkungan atau kelurahan dimana anda bertempat
tinggal ini?
b. a. Apakah di wilayah bapak/ Ibu bertempat tinggal Iya d
telah menyediakan Ambulance sebagai Sarana Tidak d
Evakuasi apabila terjadi bencana ?

63
b. Apakah di wilayah bapak/ Ibu bertempat tinggal Iya
telah menyediakan Perahu Penyelamat sebagai Tidak d
d
Sarana Evakuasi apabila terjadi bencana ?
Iya d
c. Apakah di wilayah bapak/ Ibu bertempat tinggal
Tidak d
telah menyediakan truk sebagai Sarana Evakuasi
apabila terjadi bencana ?
11 a. Apakah Bapak/ibu telah mempersiapkan : tabungan, Iya d
asuransi jiwa/harta/benda, tanah/rumah di tempat lain,
dll, untuk kewaspadaan keluarga terhadap kemungkinan Tidak d
terjadinya bencana
b. a. Apakah Bapak/ibu telah mempersiapkan Iya d
tanah/rumah di temat lain untuk kewaspadaan Tidak d
keluarga terhadap kemungkinan terjadinya bencana
b. Apakah Bapak/ibu telah mempersiapkan asuransi Iya d
jiwa kewaspadaan keluarga terhadap kemungkinan Tidak d
terjadinya bencana
c. Apakah Bapak/ibu telah mempersiapkan Tabungan Iya
d
untuk kewaspadaan keluarga terhadap kemungkinan Tidak d
terjadinya bencana
12 a. Apakah bapak/ Ibu atau salah satu dari anggota keluarga Iya d
ini pernah mengikuti kegiatan simulasi tanggap darurat
Tidak d
bencana?
b. a. Apakah bapak/ibu pernah mengikuti kegiatan Iya d
simulasi tanggap darurat bencana? Tidak d
b. Apakah istri/suami bapak/ibu pernah mengikuti Iya
d
kegiatan simulasi tanggap darurat bencana Bapak Tidak d
c. Apakah anak bapak/ibu pernah mengikuti Iya
d
kegiatan simulasi tanggap darurat bencana? Tidak
d

63
63
63
63
63
63
63
63
63
63